Tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

ILMUWAN identik dengan seseorang yang memiliki keahlian di bidang tertentu, yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Tidak sedikit rupanya, orang-orang yang bergelut dengan ilmu pengetahuan, kemudian mendapatkan hidayah untuk bisa menerima kebenaran Alquran. Berikut ini beberapa ilmuwan yang akhirnya memeluk Islam gara-gara penelitian ilmiah yang mereka lakukan. Maurice Bucaille kemudian menjadi pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian tentang mumi.

Hasil penelitian menemukan hal yang mengejutkan bahwa sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh mumi adalah petunjuk bahwa Firaun meninggal karena tenggelam. Jasadnya yang baru dikeluarkan dari laut kemudian segera dibalsem untuk diawetkan. Namun hal ini tetap mengganjal logika sang profesor. Bagaimana jasad mumi yang sudah tenggelam lama di dalam laut ini masih lebih baik kondisinya dibanding mumi-mumi lainnya?

Hal tersebut mulai sesuai dengan penggambaran kematian Firaun di Tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah bahwa dia mati karena ditelan ombak.

Bucaille kemudian merilis laporannya yang berjudul "Les momies des Pharaons et la midecine" (Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern).

Ia lalu mendengar bahwa Alquran sebenarnya telah mengisahkan cerita tenggelamnya Firaun. Kabarnya, setelah mencari riwayat di berbagai kitab termasuk Taurat dan Injil, Bucaille beralih ke Islam. Baca juga: Pasangan ini Menikah dengan Mas Kawin Burung Love Bird! Ia menemui sejumlah ilmuwan autopsi Muslim dan diberitahu mengenai salah satu ayat Alquran. "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami," bunyi Surah Yunus Ayat 92.

Ayat tersebut telah menyentuh hati Bucaille hingga ia menjadi seorang mualaf. Jacques Yves Costeau seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Prancis, Jacques-Yves Cousteau melakukan eksplorasi bawah laut. Tetiba ia menemukan beberapa kumpulan mata air tawar yang tidak bercampur dengan air laut. Seolah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Lalu, suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim dan menceritakan fenomena itu. Profesor itu teringat pada ayat Alquran tentang bertemunya dua lautan pada surat Ar Rahman Ayat 19-20.

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing," bunyi Surah Ar Rahman Ayat 19-20. Mendengar ayat-ayat Alquran itu, Costeau kagum dan dikatakan ia memeluk Islam. Sekadar informasi, Jacques-Yves Cousteau lahir di Prancis pada 11 Juni 1910 dan meninggal dunia di Paris pada 25 Juni 1997. Baca juga: 10 Selebritis Dunia Penyuka Sepatu Sneakers 'Murahan' Fidelma O’Leary Fidelma merupakan ahli neurologi yang berasal dari Negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

Ia mendapatkan hidayah ketika meneliti saraf otak manusia. Saat ia melakukan penelitian, ia menemukan bahwa beberapa urat saraf di otak manusia tidak dimasuki oleh darah.

Padahal, setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah yang cukup untuk bisa berfungsi secara normal. Ia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak, kecuali ketika seseorang melakukan gerakan sujud dalam salat seperti yang dilakukan umat Muslim.

Ini menunjukkan bahwa bila seseorang tidak melakukan salat, maka otak tidak dapat menerima darah yang cukup untuk bisa berfungsi secara normal. Profesor William Majalah sains, Journal of Plant Molecular Biologies mengungkap hasil penelitian yang dilakukan tim ilmuwan Amerika Serikat. Tim meneliti suara halus yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia.

Suara itu keluar dari tumbuhan dan peneliti merekamnya dengan alat perekam canggih. Dari alat perekam itu, getaran ultrasonik diubah menjadi gelombang elektrik optik yang dapat dipantau di monitor.

Para ilmuwan ini kabarnya membawa hasil penemuan mereka ke hadapan tim peneliti Inggris di mana salah seorangnya adalah peneliti muslim. Mengejutkan, getaran halus ultrasonik yang tertransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafadz Allah. Ilmuwan lalu kagum dengan apa yang mereka saksikan.

Peneliti muslim lalu memberikan hadiah berupa mushaf Alquran dan terjemahanya kepada Profesor William, salah satu anggota tim peneliti Inggris. Pada suatu kesempatan, sang profesor mengatakan bahwa dalam hidupnya, ia belum pernah menemukan fenomena semacam ini. "Dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya.

Akan tetapi, satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Alquran. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain," ungkap William. Ilustrasi. (Beritalangitan.com) – Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang menjunjung tinggi kedamaian dan nilai-nilai kemanusiaan tak dapat dibantah lagi.

Sejak zaman Nabi Muhammad saw. Banyak orang yang membenci Islam kemudian berbondong-bondong masuk Islam, sebagaimana dijelaskan dalam Alquran, “ Wa ra-aytann naasa yadkhuluuna fii diinillaahi afwajan” Kamu telah melihat manusia berbondong-bondong masuk (meyakini ) agama Allah (Islam).

Para pembenci ajaran Islam saat itu, seperti Umar ra, Hamzah, dan Abu Sufyan justru berbalik mati-matian membela Islam. Di abad sekarang pembembenci Islam tak pernah habis. Mereka terus berupaya menjelek-jelekkan Islam, mencerca, mengghina, menyudutkan, bahkan memprovokasi orang lain agar membenci Islam. Akan tetapi, lagi-lagi Islam membuktikan kebenarannya. Para pembenci Islam itu mendadak luluh dan berbalik memeluk Islam.

Seperti ditulis merdeka.com, inilah lima pembenci Islam yang menjadi pemeluk Islam dan taat menjalankan ajarannya. • Daniel Streich Daniel Streich merupakan anggota Partai Rakyat Swiss (SVP) yang sangat membenci Islam dan menentang keras pembangunan masjid di negaranya selama kurun 1990-an.

Situs islamicbulettin.com, seperti dikutip merdeka.com, melaporkan Streich adalah penganut Kristen taat dan pernah bercita-cita menjadi pastor. Memasuki usia remaja, niatnya berubah dan mulai gemar berpolitik, kemudian bergabung dengan partai ternama di Swiss. SVP bukan partai sembarangan. Di dalamnya terdiri dari cendekia, ilmuwan, pelajar, dan pegiat bukan dari kalangan muslim. Partai ini menjadi penentang nomor wahid penyebaran Islam di Swiss dan Streich orang paling vokal menyerukan penutupan masjid di seantero Negeri Cokelat ini.

Dalam usahanya menyingkirkan Islam dari Swiss, lelaki ini malah mempelajari Alquran dan Islam. Ia berharap dengan memahami ajaran Nabi Muhammad itu, dia mampu meruntuhkan iman kaum muslim. Akan tetapi apa yang terjadi?

Streich malah terpesona dan jatuh cinta pada Islam. Tahun 2010 dia memutuskan untuk bersyahadat dan mmeluk ajaran Islam. “Banyak perbedaan saya dapatkan ketika mempelajari Islam. Agama ini memberikan saya jawaban logis atas pertanyaan hidup penting dan tidak saya temukan di agama saya,” katanya. • Arnoud Van Doorn Pria berusia 46 tahun berkebangsaan belanda ini seorang produser yang memproduksi film ‘Fitna’ (2008) yang habis-habisan menghina Nabi Muhammad saw.

Anehnya, lima tahun kemudian, pegiat anti-Islam menyatakan masuk Islam. Dia bahkan ber ibadah haji sembilan bulan setelah tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah dua kalimat syahadat. Dia mengaku mendapat ketenangan setelah menjadi seorang muslim. Kabar tentang Doorn yang menjadi muallaf menjadi head line media-media Barat kala itu. Doorn adalah mantan wakil ketua Partai Tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah Belanda (PVV) pimpinan Geert Wilders, politisi Belanda terkenal dengan gerakan anti-Islam.

Seperti halnya Daniel Streich, Doom pun mempelajari Islam untuk meruntuhkan akidah muslimin, akan tetapi dia malah tertarik untuk menjadi penganut Islam. Dia bersyahadat di akun Twitter miliknya dengan menggunakan bahasa Arab dan mengejutkan semua orang.

Doorn merupakan sosok yang sopan dan lembut. Dia percaya bahwa Islamofobia atau diskriminasi terhadap Islam dan kaum muslim di Eropa berasal dari media-media Barat dan upaya pemerintah untuk memperlihatkan citra Islam yang gelap. Doorm mengatakan, jika orang-orang di Eropa mengetahui betapa indah dan bijaksananya Islam, maka mereka semua pasti akan menjadi mualaf. “Semakin saya membaca juga Alquran, saya semakin yakin bahwa Islam adalah agama yang benar-benar indah dan bijaksana,” kata Doorn saat diwawancarai kantor berita Ma’an (MNA).

• Yusuf Estes Yusuf Estes adalah seorang mualaf asal Amerika Serikat. Bahkan bisa dibilang dia dulunya termasuk dalam orang-orang yang mengidap islamophobia. Estes lahir dari keluarga Kristen yang taat di Midwest, Amerika Serikat.

Keluarganya secara turun-temurun membangun gereja dan sekolah di AS. Keingintahuannya yang besar terkait ajaran Kristen membuatnya ingin mengunjungi gereja-gereja lain. Ia datangi gereja Metodis, Episkopal. Nazareth, Agape, Presbyterian dan lainnya. Tak hanya itu, Estes juga mempelajari agama lain seperti Hindu, Yahudi, dan Buddha. Tapi tak sekalipun dia peduli pada ajaran Islam. Estes sempat meyakini muslim adalah penyembah kubus di tengah padang pasir yang senang kekerasan.

Pada 1991, Estes merintis usaha yang kemudian mengantarkannya berkunjung ke luar negeri. Negara pertama yang ia kunjungi adalah Mesir. Di negeri Piramida, Estes bertemu dengan seorang pria Muslim. Satu hal yang ada di pikiran Estes tentang Muslim, teroris.

Estes tidak percaya ia harus berhubungan dengan sosok yang begitu ia benci. Betapa terkejutnya Estes, ketika mereka berbincang, ternyata pria muslim itu mengaku percaya pada kebenaran Injil serta menghormati Yesus, atau dalam Islam, disebut Nabi Isa. Mereka terlibat percakapan intim, kemudian akhirnya membawa Estes mengunjungi masjid. Akhirnya dia justru memeluk Islam diikuti oleh istri, anak-anak, ayah serta mertuanya.

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

Estes kemudian mendalami agama di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara regular tampil di PeaceTV, Huda TV, demikian pula IslamChannel yang bermarkas di Inggris. • Terry Holdbrooks Jr Terry Holdbrooks Jr adalah anggota polisi militer AS Terry Holdbrooks Jr dan pernah menjadi penjaga penjara Guantanamo. Di penjara inilah militer AS menahan tokoh Al Qaidah dan Taliban yang dianggap paling berbahaya.

Holdbrooks bertugas di tempat paling mengerikan di muka bumi ini sepanjang kurun 2002 hingga 2003. Nurani Holdbrooks terusik saat melihat para tawanan itu diperlakukan seperti binatang.

Salah satu siksaan yang sering dilakukan untuk membuat stres adalah memaksa tahanan tidur di lantai dengan suhu dingin, lalu lantai tersebut dibanjiri air dingin. Darah menstruasi para penjaga wanita juga kerap diusapkan ke wajah para tahanan. Menurut Holdbrooks, para penjaga dicekoki bahwa yang ditahan di situ adalah orang-orang paling buruk di dunia.

Mereka adalah orang yang memusuhi AS dan antidemokrasi. Kendati begitu, Holdbrooks melihat fakta menarik. Walau disiksa seberat apapun, para tahanan ini tetap tegar. Di sel mereka tetap tersenyum dan berdoa lima waktu sehari. Para tahanan mengaku tak pernah takut menghadapi apapun karena mereka merasa ada Tuhan yang selalu menjaga mereka. Pemuda ini mulai penasaran. Dia mempelajari Islam dan membaca-baca Alquran. Dia juga mulai membanding-bandingkan Islam dengan kepercayaan lain.

Hatinya mulai terbuka. Sejak 2005, Holdbrooks berkomitmen masuk Islam “Al Quran adalah buku yang paling mudah dimengerti di dunia. Isinya simpel. Dia menjadi pembimbing untuk hidup,” kata Holdbrooks. Dia perlahan mengamalkan semua ajaran Islam.

Dia memulai hidup baru dengan meninggalkan rokok dan minuman keras. Holdbrooks juga rutin salat lima waktu. Holdbrooks mulai menyuarakan apa yang terjadi di Guantanamo. Dia ingin dunia tahu soal kekejaman yang dilakukan AS pada musuh mereka. • Ibrahim Killington Tragedi serangan teroris 11 September 2001 telah memberikan andil besar atas tumbuhnya Islamophobia di dunia Barat, utamanya Amerika Serikat. Akan tetapi, peristiwa itu juga memberikan hidayah bagi sebagian besar orang.

Inilah yang terjadi terhadap Ibrahim Killington. Saat tragedi itu berlangsung, dia menganggap Muslim sebagai penjahat kemanusiaan dan berniat untuk memerangi Islam. Namun, di tengah upaya untuk bergabung dengan tentara AS, dia malah mendapatkan hidayah dari sebuah siaran radio. Pikirannya pun tertarik untuk mempelajari Islam lebih jauh dari apa yang dipahaminya. Sejak itu, ia terus mendalami Islam dan akhirnya memeluk agama ini. Masa lalunya yang hanya untuk mabuk-mabukan dan bersenang-senang tak lagi dilakoninya, aktivitasnya kini hanya untuk beribadah di masjid.

(aw/kj) Sumber : galamedianews.com
tirto.id - Islam masuk ke Indonesia diyakini melalui perantaraan para pedagang muslim yang pelayarannya melintasi berbagai pulau di Nusantara. Mereka berasal dari berbagai wilayah, tak hanya Arab. Pada abad 5 masehi, perdagangan dan pelayaran antarbenua sudah ramai. Para pedagang muslim yang singgah di Indonesia tidak hanya berdagang semata, tetapi juga turut mendakwahkan ajaran Islam. Meski begitu, sejarah tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah masuknya Islam ke nusantara begitu kompleks sehingga memunculkan banyak teori.

Sejumlah teori itu memuat penjelasan dari mana Islam masuk ke Indonesia. Baca juga: • Sejarah Masjid Indrapuri Aceh Besar: Berdiri di Atas Fondasi Candi • Masjid Wapauwe Kaitetu: Saksi Sejarah Islam di Tanah Maluku Setidaknya ada 6 teori yang muncul.

Keenamnya masing-masing mengidentifikasi asal pendakwah yang merintis penyebaran Islam ke Indonesia. Siapa saja tokoh yang mencetuskan 6 teori tersebut? Berikut ini penjelasan mengenai 6 teori itu dan tokoh-tokoh ahli pendukungnya. 1. Teori Persia Salah satu teori menyebutkan bahwa Islam masuk Indonesia dibawa oleh orang-orang dari Persia, termasuk pengikut Syiah, pada awalnya. Teori ini dinamakan Teori Persia.

Mengutip Modul Sejarah Indonesia Kelas X terbitan dari Kemdikbud, pencetus dan pendukung Teori Persia adalah Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat. Keduanya meyakini orang-orang Persia sudah masuk Indonesia di abad 7 masehi. Bukti pendukung sebagai penguat teori ini adalah: • Adanya tradisi peringatan 10 Muharam atau Hari Asyura di sejumlah daerah. Di Sumatera Barat peringatan ini dinamakan Tabuik (Tabut)m dan di Jawa ada pembuatan bubur Syuro.

• Memiliki kesamaan ajaran sufi • Pemakaian istilah persia dalam mengeja huruf arab • Adanya kesamaan pada seni kaligrafi di beberapa batu nisan • Islam aliran Syiah khas Iran marak di awal masuknya Islam di Indonesia • Terdapat perkampungan Leren (Leran) di Giri, daerah Gresik, Jawa Timur. Pada mulanya, Teori Persia diterima sebagian ahli sejarah.

Namun, teori ini mempunyai kelemahan yaitu di abad 7 masehi, kekuasaan Islam di Timur Tengah masih dipegang Dinasti Umayyah yang menguasai Damaskus, Baghdad, dan Jazirah Arab. Fakta tersebut menyanggah bahwa tidak mungkin pemuka Persia bisa menyokong dakwah Islam ke Nusantara secara besar-besaran.

2. Teori Gujarat Teori Gujarat menyatakan masuknya Islam ke nusantara berasal dari kedatangan kaum saudagar dari Gujarat (India) lewat Selat Malaka. Mereka melakukan kontak dengan masyarakat lokal di bagian barat Nusantara yang kemudian memunculkan Kesultanan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara. Bukti yang ditemukan salah satunya makam Malik As-Saleh (marah Situ) dengan angka 1297.

Dia adalah pendiri Kesultanan Samudera Pasai di Aceh. Ada kemiripan antara nisan makam itu dengan corak batu nisan di Gujarat. Bukti lain dengan alasan serupa yaitu ditemukan pada nisan milik pendakwah Walisongo, Maulana Malik Ibrahim (wafat 1419), dan nisan di pesisir utara Sumatera bertulis 17 Dzulhijjah 831 H atau 27 September 1428.

Para tokoh pendukung teori Gujarat adalah G.W.J Drewes yang dikembangkan Snouck Hurgronje, J. Pijnapel, W.F. Stutterheim, J.P. Moquette, dan Sucipto Wirjosuparto. 3. Teori Cina Menurut Teori Cina, Islam masuk nusantara bersamaan dengan migrasi orang-orang Cina menuju Asia Tenggara pada abad 9 masehi.

Mereka banyak yang masuk ke wilayah Sumatera, terutama bagian selatan Palembang, di tahun 879. Sementara itu, Islam di Cina sudah berkembang sejak masa Dinasti Tang (618-905 masehi) yang dirintis oleh Saad bin Abi Waqqash pada masa Kekhalifahan Utsman bin Affan. Karena itu, ketika terjadi migrasi penduduk dari Cina ke Asia Tenggara pada Abad 9, banyak muslim dari daratan itu turut bermukim di nusantara dan menyebarkan agama Islam.

Bukti pendukungnya antara lain banyak orang Islam keturunan Cina yang memiliki pengaruh besar di Kesultanan Demak. Bukti lainnya, Raden Patah, pendiri kesultanan tersebut, merupakan putra dari seorang muslimah asli Cina. Raden Patah memiliki nama Cina, Jin Bun.

Selain itu, ada masjid tua beraksitektur China di Jawa. Teori China ini didukung oleh sejumlah ahli, di antaranya Slamet Mulyana dan Sumanto Al Qurtuby. 4. Teori Arab Pendukung Teori Arab adalah J.C. van Leur, Anthony H. Johns, T.W. Arnold, hingga Abdul Malik Karim Amrullah atau Buya Hamka.

Dalam teori ini dikemukakan bahwa Islam masuk Nusantara dibawa orang-orang Timur Tengah. Penyebarannya sudah terjadi sejak abad 7 Masehi. Bukti pendukung teori Arab yang dijelaskan Buya Hamka dalam buku Sejarah Umat Islam (1997) yaitu, ditemukannya naskah kuno yang menyebut bang Arab telah bermukim di sekitar Pantai Barat Sumatera pada tahun 625 M. Selain itu, ditemukan pula nisan kuno bertuliskan Syekh Rukunuddin di tempat itu bertahun 672 M. Sementara itu, T.W. Arnold memberi dukungan atas bukti dari Buya Hamka.

Arnold mengatakan jika kaum saudagar Arab cukup dominan untuk melakukan perdagangan di Nusantara. 5. Teori India Teori ini dikemukakan oleh Thomas W. Arnold dan Marrison yang menemukan bukti bahwa Islam pertama kali masuk Indonesia melalui Coromandel dan Malabar tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah.

Teori ini muncul untuk membantah anggapan bahwa Gujarat menjadi sumber penyebaran Islam ke nusantara. Alasannya, Gujarat belum menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan wilayah Timur Tengah dengan kepulauan Nusantara. Marrison berpendapat bahwa meskipun batu-batu nisan yang ditemukan di tempat-tempat tertentu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat atau Bengal, itu tidak lantas berarti Islam juga datang berasal dari tempat batu nisan itu diproduksi.

Dia mencatat, saat sultan pertama Samudera Pasai wafat tahun 1297 M, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Baru setahun kemudian (699/1298) Cambay, Gujarat dikuasai penguasa muslim. Maka, dia mendukung teori bahwa Islam di Nusantara tidak dari Gujarat, melainkan dibawa oleh pendakwah Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad ke-13.

6. Teori Bangladesh Dikenal pula dengan teori Benggali, teori Bangladesh dikemukakan oleh S. Q. Fatimi. Teori tersebut menunjukkan sejumlah bukti bahwa Islam masuk ke Nusantara dari Benggali. Alasannya, banyak tokoh terkemuka di Samudera Pasai adalah orang-orang keturunan Benggali. Di teori ini, Islam diyakini mulau berkembang di Nusantara sejak abad ke-11 M. Fatimi menilai anggapat yang mengaitkan seluruh batu nisan di Pasai, termasuk makam Maulana Malik al-Saleh, dengan Gujarat adalah keliru.

Penelitiannya menyimpulkan bahwa bentuk dan gaya batu nisan Malik al-Saleh berbeda sepenuhnya dengan batu nisan di Gujarat maupun daerah lain di Indonesia. Batu-batu nisan itu justru lebih mirip dengan batu nisan di kawasan Benggali. Namun, teori ini mengabaikan fakta bahwa ada perbedaan mazhab fikih yang dianut kaum muslim Nusantara (Syafi’i) dan umat Islam di Bengal (Hanafi). Makkah sudah takluk.

Penduduknya sedang menanti keputusan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mulailah hati para pemimpin Quraisy merenungkan Islam. Perlahan-lahan, Islam mulai menembus jantung hati mereka. Islamnya Abu Sufyan bin al-Harits Di Abwa sebelum memasuki Makkah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertemu dengan Abdullah bin Abi Umayyah dan Abu Sufyan bin al-Harits.

Akan tetapi, beliau berpaling dari mereka berdua mengingat betapa hebatnya permusuhan dan kejahatan mereka terhadap beliau dan kaum muslimin. Ummu Salamah radhiallahu anha berkata kepada beliau, “Janganlah sampai putra paman dan bibi Anda menjadi orang yang paling celaka karena Anda.” Sementara itu, Ali bin Abi Thalib radhiallahu anhu berkata kepada Abu Sufyan, “Datangilah Rasulullah shallallahu alaihi tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah sallam dari depan.

Berkatalah kepada beliau seperti perkataan saudara-saudara Nabi Yusuf alaihis salam, قَالُواْ تَٱللَّهِ لَقَدۡ ءَاثَرَكَ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا وَإِن كُنَّا لَخَٰطِ‍ِٔينَ “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (Yusuf: 91) Sebab, beliau tidak suka ada yang lebih baik perkataannya daripada beliau.” Abu Sufyan melakukan hal itu. Lantas Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata (membacakan ayat 92), لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf: 92) Baca juga: Kisah Nabi Yusuf dan Nabi Ya’qub Setelah itu Abu Sufyan melantunkan syairnya, “Demi umurmu, sungguh ketika aku membawa bendera Agar prajurit Latta mengalahkan tentara Muhammad Bagai orang Mudlij yang kebingungan diselimuti kegelapan malam Inilah waktuku ketika hidayah datang lalu aku menyambutnya Aku diberi hidayah oleh Haadi (Sang Pemberi hidayah) bukan diriku, dan aku ditunjuki Kepada Allah, oleh dia yang dahulu kuusir dengan sebenar-benarnya” Mendengar ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menepuk dadanya sambil berkata, “Engkaulah yang telah mengusirku dengan sebenar-benarnya.” Baca juga: Hijrah ke Madinah Sejak saat itu baiklah Islamnya.

Bahkan, dikisahkan bahwa dia belum pernah mengangkat kepala menatap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam karena merasa malu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pun mencintai beliau dan mempersaksikannya akan masuk surga.

Kata beliau, “Saya harap dia menjadi pengganti Hamzah.” Ketika wafatnya, Abu Sufyan berkata kepada keluarganya, “Janganlah kalian tangisi aku. Sebab, demi Allah, aku tidak pernah berbuat dosa sejak aku masuk Islam.” Demikianlah ketika tauhid itu tertanam kokoh di dalam hati seseorang.

Apalagi apabila diikrarkan dengan penuh keyakinan dan kejujuran yang sempurna, niscaya tidak mungkin orang yang mengucapkan kalimat tauhid itu mudah untuk terjatuh dalam perbuatan dosa atau terus-menerus berbuat dosa. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai Abu Sufyan bin al-Harits, sepupu dan saudara sesusuan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Islamnya Suhail bin Amr Suhail bin Amr adalah salah seorang pemuka dan orator ulung bangsa Quraisy. Dialah yang selama ini menghasut orang-orang agar menyerang dan memerangi kaum muslimin dengan segenap kekuatan.

Pedasnya ucapan Suhail benar-benar menyakiti kaum muslimin. Sampai-sampai Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu, ketika melihatnya tertawan dalam Perang Badr meminta izin kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Biarkan saya patahkan dua gigi serinya, agar dia tidak dapat lagi berpidato menyerang kita (dengan ucapannya).” Akan tetapi, Nabi shallallahu alaihi wa sallam hanya mengatakan, “Biarlah.

Mungkin suatu ketika gigi itu akan membuatmu senang.” Akhirnya, Suhail tetap dibiarkan hidup memerangi Islam dan kaum muslimin dengan dua senjata, pedang dan lisannya. Tibalah peristiwa Hudaibiyah. Tatkala Suhail bin Amr datang sebagai delegasi Quraisy, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata dengan optimis, “Sungguh, urusan kalian benar-benar telah menjadi mudah.

Mereka sungguh-sungguh ingin berdamai ketika mengutus orang ini.” Sebelumnya, Quraisy sudah menyatakan kepada Suhail, “Datangi Muhammad ( shallallahu alaihi wa sallam), ajaklah dia berdamai. Hendaklah dia kembali tahun ini. Jangan sampai bangsa Arab beranggapan kalau dia masuk tahun ini, kita telah dikalahkan Muhammad ( shallallahu alaihi wa sallam).” Dibuatlah perjanjian sebagaimana disebutkan dalam kisah Hudaibiyah beberapa edisi lalu.

Suhail tetap menampakkan sikap permusuhannya terhadap Islam sampai terjadinya Fathu Makkah. Baca juga: Perjanjian Hudaibiyah (bagian dua) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memasuki Baitullah, lalu keluar dan bertelekan di pintu Ka’bah seraya berkata, “Apa tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah akan kalian katakan?” Berkatalah Suhail bin Amr, “Kami hanya mengatakan yang baik, dan menyangka sesuatu yang baik.

(Anda) adalah saudara yang mulia, putra saudara yang mulia, dan Anda menang.” Kata beliau, “Saya hanya katakan kepada kalian sebagaimana ucapan Nabi Yusuf kepada para saudaranya (sebagaimana firman-Nya), لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ ‘Tiada celaan atas kalian pada hari ini.’ Pergilah. Kalian semua bebas.” Mendengar ini, luluhlah hati Suhail dan orang-orang yang bersamanya, dalam keadaan malu dan segan melihat pekerti agung Nabi shallallahu alaihi wa sallam dan kasih sayangnya yang membuat akal manusia terbang keheranan.

Lidah pun kelu, tak mampu berucap sepatah kata pun. Mulailah bersemi rasa cinta di dalam hati Suhail kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Tumbuh pula kecondongannya kepada Islam. Dia pun datang kepada putranya, Abu Jandal (yang telah muslim, -red.), agar memintakan jaminan keamanan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberinya jaminan keamanan. Setelah itu, Suhail ikut berangkat menuju Hunain bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan masih musyrik, sampai dia masuk Islam di Ji’ranah.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberinya waktu itu seratus ekor unta dari ghanimah Hunain. Semakin bertambah rasa takluk dan malu dalam hati Suhail. Baca juga: Perang Hunain (bagian satu) Tak lama, Islam mulai tumbuh mekar dalam hati Suhail. Dia berusaha sekuat tenaga mengganti apa-apa yang pernah hilang darinya.

Hatinya setiap saat merasa teriris-iris ketika mengingat betapa jauhnya dia selama ini dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Keras kepala, kesombongan, dan peperangan sungguh-sungguh telah membuat mereka buta. Setelah tabir itu tersingkap, tampaklah hakikat iman di depan mata mereka, bahkan diresapi oleh hati-hati mereka. Beberapa sahabat dan orang-orang yang datang sesudah mereka mempersaksikan, “Tidak ada seorang pun pembesar Quraisy yang belakangan masuk Islam, lalu masuk Islam ketika Fathu Makkah, yang lebih banyak shalatnya, puasanya, dan sedekahnya daripada Suhail.

Bahkan, tidak ada yang lebih bersemangat terhadap hal-hal yang mendukung kepada akhirat dibandingkan dengan Suhail bin Amr.” Bahkan diceritakan, warna kulitnya berubah dan dia sering menangis ketika membaca Al-Qur’an. Pernah terlihat, dia selalu menemui Muadz bin Jabal radhiallahu anhu yang ditugasi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajari penduduk Makkah tentang syariat Islam.

Ada yang berkata kepadanya, “Kamu mendatangi Muadz? Mengapa engkau tidak mendatangi salah seorang dari Quraisy untuk mengajarimu?” Suhail menukas, “Inilah yang telah mereka melakukan sehingga mengalahkan kami. Demi umurku, aku selalu mendatanginya. Islam telah menghinakan sikap-sikap jahiliah. Dengan Islam ini, Allah mengangkat suatu kaum yang sama sekali tidak terkenal pada masa jahiliah. Duhai kiranya kami bersama mereka, dan kami juga mendahului.” Itulah keikhlasan.

Itulah keimanan, ketika menghunjam di dalam hati. Sebab, hakikat ikhlas adalah terdorongnya hati kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan bertobat dari segala dosa dengan tobat nasuha. Baca juga: Sebab-Sebab Penghapus Dosa Suhail terus melangkah. Menelusuri jalannya menuju surga ar-Rahman, untuk menebus apa yang luput darinya.

Dialah yang mengucapkan kata-kata yang terkenal ini, “Demi Allah. Saya tidak akan biarkan satu tempat pun yang di situ saya berada bersama kaum musyrikin melainkan saya berada di sana bersama kaum muslimin seperti itu juga.

Tidak ada satu pun nafkah yang dahulu saya serahkan bersama kaum musryikin melainkan saya infakkan pula kepada kaum muslimin yang serupa dengannya. Mudah-mudahan urusanku dapat menyusul satu sama lainnya.” Setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam wafat, beberapa kabilah mulai murtad dari Islam. Bahkan, penduduk Makkah mulai goyah. Bangkitlah Suhail mengingatkan bangsanya, “Wahai penduduk Makkah. Kalian adalah manusia yang paling akhir masuk ke dalam agama Muhammad ( shallallahu alaihi wa sallam), maka janganlah kalian menjadi orang pertama yang keluar darinya….” Kemudian dia melanjutkan, “Siapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad ( shallallahu alaihi wa sallam) sudah wafat.

Siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Mahahidup, tidak akan pernah mati.” Mungkin inilah rahasianya, mengapa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dahulu melarang Umar bin al-Khaththab radhiallahu anhu mematahkan gigi seri Suhail.

Dikisahkan, Umar pun tersenyum mendengar berita pembelaan Suhail radhiallahu anhu terhadap Islam ini. Baca juga: Nabi Muhammad Wafat Suhail tetap teguh di atas kebaikan dan keimanan. Bertambah banyak shalat dan puasa serta sedekahnya.

Dia senantiasa menangis ketika membaca Kitab Allah subhanahu wa ta’ala. Bahkan, dia sengaja berangkat menuju negeri Syam sebagai mujahid, memerangi musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala. Ketika di Yarmuk, tempat ia bertugas sebagai amir (gubernur) negeri Kurdus, dia tetap berjaga di perbatasan muslimin, sambil mengingat hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, مَقَامُ أَحَدِكُم فِى سَبِيْلِ اللهِ سَاعَةً مِنْ عُمْرِهِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ عُمْرَهُ فِى أَهْلِهِ “Posisi salah seorang dari kamu di jalan Allah satu saat saja dari usianya, lebih baik dari amalannya seumur hidup ketika dia bersama keluarganya.” Kata Suhail, “Saya akan tetap berjaga di perbatasan ( ribath) sampai mati dan tidak akan kembali lagi ke Makkah.” Suhail tetap berada di posnya sampai meninggal dunia karena wabah penyakit tha’un [1].

Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, الطَّاعُونُ شَهَادَةٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ “Wabah tha’un adalah syahadah setiap muslim.” Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai Suhail bin Amr. Islamnya al-Harits bin Hisyam Adapun al-Harits bin Hisyam, dia tetap memerangi kaum muslimin sampai Fathu Makkah.

Ketika tahu bahwa dia termasuk orang pertama yang dicari (untuk dibunuh), maka dia meminta jaminan keamanan kepada Ummu Hani’ bintu Abi Thalib, lalu Ummu Hani’ melindunginya. Akan tetapi, saudaranya (Ali, Ja’far, atau Aqil) ingin membunuhnya. Ummu Hani’ segera mengadukan hal ini kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam sambil berkata, “Si Fulan—saudaranya—menganggap aku tidak berhak memberi jaminan.” Kata Nabi shallallahu alaihi wa sallam, “Kami melindungi orang yang engkau lindungi, wahai Ummu Hani’.” Al-Harits bin Hisyam semakin jengkel melihat kekalahan Quraisy.

Dia berkata, “Duhai kiranya aku mati sebelum kejadian ini dan tidak menyaksikan peristiwa ini.” Ketika dikatakan kepadanya, “Tidakkah kau lihat apa yang diperbuat oleh Muhammad ( shallallahu alaihi wa sallam)? Dia menghancurkan sembahan-sembahan itu?!” Kata al-Harits, “Kalau Allah tidak suka, pasti Dia akan mengubahnya.” Setelah mereka dibebaskan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, hati para pembesar Quraisy mulai merenungkan Islam. Al-Harits termasuk yang masuk Islam saat itu. Kemudian setelah usai Perang Hunain, Nabi shallallahu alaihi wa sallam membujuk hati tokoh-tokoh Quraisy tersebut dengan memberi mereka seratus ekor unta.

Hal ini semakin menghancurkan duri-duri permusuhan dan sikap keras kepala mereka. Perlahan tetapi pasti, Islam mulai merambah hati-hati yang mulai tunduk dan melembut itu.

Akhirnya bersemilah Islam di dada Al-Harits bin Hisyam, bahkan sangat baik Islamnya. Baca juga: Perang Hunain (bagian tiga) Pada masa pemerintahan Umar, al-Harits berangkat pindah menuju negeri Syam, sebagai mujahid. Hingga terjadilah peristiwa bersejarah di Yarmuk. Ketika itu Ikrimah bin Abi Jahl radhiallahu anhu berkata, “Siapa yang mau berbaiat untuk mati?” Berbaiatlah empat ratus orang untuk mati syahid di jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka menerobos jantung pertahanan musuh, hingga gugur satu per satu di permukaan bumi, sementara arwah mereka menuju langit tinggi. Di antara mereka ada al-Harits bin Hisyam. Yarmuk menjadi saksi bisu bagaimana tentara tauhid membela agama Allah subhanahu wa ta’ala, meninggikan kalimat-Nya.

Jumlah yang tidak seimbang tidak membuat gentar hati-hati yang sudah terisi kokoh dengan kalimat tauhid. Memang, mereka bukan berperang karena jumlah dan kekuatan fisik. Pasukan salibis dipukul mundur oleh para pembela panji tauhid dengan kekalahan yang sangat memalukan dan menimbulkan dendam hingga berabad-abad lamanya.

Sejarah mencatat sikap kepribadian al-Harits yang agung ketika dia mendahulukan kepentingan orang lain sebelum beliau mati sebagai syahid. Ketika datang seorang prajurit muslim hendak memberinya minum—pada saat-saat kritisnya—dia mendengar erangan saudaranya, Ikrimah.

Dia pun meminta agar air itu dibawa kepada Ikrimah. Prajurit itu membawakan air untuk diminumkan kepada Ikrimah. Akan tetapi, Ikrimah mendengar pula erangan Ayyasy bin Rabi’ah. Dia pun mengisyaratkan agar air dibawa kepada Ayyasy. Namun, ketika mereka sampai di tempat Ayyasy, ternyata dia sudah gugur sebagai syahid. Prajurit itu kembali kepada Ikrimah, ternyata Ikrimah pun telah wafat. Lalu mereka kembali kepada al-Harits, ternyata dia juga telah wafat. Baca juga: Mengutamakan Orang Lain Atas Diri Sendiri Benarlah kata mereka (para thulaqa ini, orang-orang yang dibebaskan/baru masuk Islam pada Fathu Makkah), “Kalau di dunia kita dikalahkan oleh mereka (sahabat yang lebih dahulu masuk Islam), maka di akhirat kita bergabung bersama mereka.” Itu bukan ucapan belaka.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka.

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

Islamnya Shafwan bin Umayyah Shafwan yang diamuk dendam kesumat karena kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf, seakan tak pernah tidur memikirkan bagaimana membalaskan dendam tersebut. Permusuhan dan kebenciannya kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam membawanya kepada kesepakatan bersama Umair bin Wahb. Suatu hari dia bersama Umair berbincang-bincang tentang korban Perang Badr.

Shafwan berkata, “Demi Allah, hidup ini tidak menyenangkan sepeninggal mereka.” Kata Umair, “Betul, demi Allah. Kalau bukan karena utang yang tak mampu kulunasi dan keluarga yang akan jadi tanggungan sepeninggalku, pasti aku datangi Muhammad ( shallallahu alaihi wa sallam) untuk membunuhnya.” Kemudian dia melanjutkan, “Aku katakan bahwa aku datang untuk menebus putraku yang ditawan oleh kalian.” Mendengar ini, Shafwan segera menukas, “Utangmu menjadi tanggunganku.

Aku yang akan melunasinya. Keluargamu hidup bersama keluargaku, selama mereka masih hidup.” Kata Umair, “Kalau begitu, rahasiakan hal ini.” Setelah Umair tiba di depan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, beliau berkata tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah, “Berita apa yang kau bawa, hai Umair?” “Aku ingin menebus tawanan kalian ini,” katanya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya pula, “Lantas untuk apa pedang di lehermu?” Kata Umair, “Semoga Allah membuatnya buruk.

Apakah dia berguna bagi kami?” Rasul shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Jujurlah, wahai Umair. Apa yang mendorongmu datang?” “Tidak ada lain, selain urusan tawanan,” katanya.

Baca juga: Perang Badr Kubra (bagian satu) Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Bukan, kamu dan Shafwan bin Umayyah duduk di Hijr (Ismail) lalu kalian menyebut-nyebut korban Badr dari Quraisy.

Lalu kau mengatakan, ‘Kalau bukan karena utangku dan keluarga yang jadi tanggungan, pasti aku datangi Muhammad ( shallallahu alaihi wa sallam) untuk membunuhnya.’ Lalu Shafwan memberi jaminan untukmu akan melunasi utangmu dan menanggung keluargamu kalau engkau dapat membunuhku untuknya. Allah adalah Penghalang antara engkau dan keinginanmu.” Saat itu juga, Umair berseru, “Aku bersaksi tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.

Tidak ada yang mengetahui pembicaraan ini selain aku dan Shafwan. Demi Allah, tidak ada yang menyampaikannya kepadamu kecuali Allah. Segala puji bagi Allah yang telah memberiku hidayah kepada Islam.” Lalu Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat agar mengajarinya agama dan Al-Qur’an serta membebaskan tawanannya (putra Umair). Sementara itu, di kota Makkah, berhari-hari Shafwan menunggu kedatangan Umair.

Dia menghibur bangsa Quraisy bahwa sudah ada orang yang siap membunuh Muhammad ( shallallahu tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah wa sallam). Tinggal menunggu beritanya. Meletuslah peristiwa Fathu Makkah, Umair datang bersama tentara Allah subhanahu wa ta’ala lainnya. Dia mencari Shafwan, mengajaknya masuk Islam. Namun, Shafwan lebih memilih lari meninggalkan Makkah. Shafwan menuju Jeddah bermaksud menaiki sebuah kapal lantas berlayar ke Yaman.

Umair mengetahuinya. Dia pun datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, sesungguhnya Shafwan adalah pemuka kaumnya. Dia telah pergi karena takut kepadamu. Dia ingin menceburkan dirinya ke laut. Berilah dia jaminan keamanan.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Dia aman.” Kata Umair pula, “Wahai Rasulullah, berilah aku tanda agar dia tahu sebagai jaminanmu.” Baca juga: Sepenggal Catatan Tentang Terorisme Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberinya sorban yang beliau pakai ketika memasuki Makkah.

Umair bergegas mengejar Shafwan. Setelah bertemu, dia berkata, “Hai Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Ingatlah Allah, ingatlah Allah terhadap dirimu! Janganlah engkau membinasakan dirimu sendiri.

Aku membawa jaminan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” Akan tetapi, Shafwan membalas, “Sial kamu. Pergilah, jangan bicara lagi denganku.” Umair membujuknya, “Wahai Shafwan, bapak ibuku tebusanmu. Sesungguhnya Rasulullah adalah orang yang paling utama, paling berbakti, paling santun, dan paling baik. Kemuliaannya adalah kemuliaanmu juga, kejayaannya adalah kejayaanmu juga.” Kata Shafwan, “Aku mengkhawatirkan diriku.” Umair menjawab, “Beliau lebih santun dan lebih pemurah dari itu.” Akhirnya Shafwan kembali bersamanya dan berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Shafwan berkata kepada beliau, “Sesungguhnya dia ini mengatakan engkau memberiku jaminan.” Kata Rasul ( shallallahu alaihi wa sallam), “Betul.” Kata Shafwan, “Beri aku waktu berpikir dua bulan.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Engkau boleh memilih selama empat bulan.” Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menyiapkan pasukan menuju Hawazin untuk memerangi mereka, disebutkan kepada beliau bahwa Shafwan memiliki persenjataan lengkap.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menemuinya—yang ketika itu masih musyrik. Kata beliau, “Pinjami kami senjatamu untuk memerangi musuh besok.” Kata Shafwan, “Apakah ini perampokan, wahai Muhammad?” Beliau menjawab, “Bukan, ini pinjaman yang ada jaminan sampai kami kembalikan kepadamu.” “Kalau begitu, tidak mengapa,” katanya.

Baca juga: Adab Utang Piutang Ternyata sesudah itu, sebagian senjata itu ada yang rusak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Kalau kamu mau, kami jadikan sebagai utang kepadamu.” “Tidak perlu,” katanya.

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

Usai perang, kaum muslimin memperoleh rampasan yang sangat berlimpah. Shafwan mulai melihat lembah itu dipenuhi binatang ternak. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meliriknya, lalu berkata, “Apakah lembah (yang dipenuhi ternak) itu menakjubkanmu?” “Ya,” kata Shafwan.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “ Itu semua untukmu.” Segera saja Shafwan mengambil semua yang ada di lembah itu. Dia berkata, “Tidak mungkin ada seorang pun senang berbuat (memberi) dengan pemberian seperti ini kecuali seorang nabi. Aku bersaksi tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Dia pun masuk Islam di tempat itu juga.

Shafwan tetap tinggal di Makkah sebagai muslim sesudah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kembali ke Madinah.

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

Lalu ada yang berkata kepadanya, “Tidak ada Islam bagi mereka yang tidak hijrah.” Shafwan pun berangkat menuju Madinah dan singgah di rumah Abbas.

Hal ini disampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau berkata, “Dia orang Quraisy yang paling baik terhadap Quraisy.

Kembalilah ke Makkah karena tidak hijrah sesudah Fathu Makkah. Lagi pula siapa yang mengawasi pengairan Makkah?!” Akhirnya dia kembali ke Makkah. Di Makkah, Shafwan dikenal sebagai salah seorang dermawan yang suka memberi makan, bahkan dijuluki sebagai Pemuka Makkah. Baik pula Islamnya. Dahulu dia gunakan lisannya yang fasih menyakiti kaum muslimin, maka hari ini, dia gunakan kefasihannya untuk menolong agama Allah subhanahu wa ta’ala.

Beliau tetap hidup dalam Islam sebagai orang dermawan yang terpuji. Tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah Allah subhanahu wa ta’ala meridhainya. Islamnya Ikrimah bin Abi Jahl Setelah pasukan kecilnya dihancurkan oleh pasukan Khalid bin al-Walid radhiallahu anhu, ketakutan menyelinap di hati Ikrimah.

Dia tahu, dia dan ayahnya adalah orang yang paling sengit memusuhi Islam dan muslimin. Ikrimah tahu apa yang diterimanya jika dia tetap di Makkah. Akhirnya, dia melarikan diri hingga sampai di tepi laut. Ketika sudah berada di atas kapal, mereka diterjang badai. Mulailah penumpang berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mentauhidkannya, dan berkata, “Sesungguhnya tempat ini tidak ada yang berguna kecuali Allah subhanahu wa ta’ala.” Kata Ikrimah, “Apa yang harus kuucapkan?” “Ucapkanlah la ilaha illallah,” kata nakhoda kapal.

“Justru aku melarikan diri dari kalimat ini,” katanya. Kemudian sampailah Ummu Hakim (istrinya) yang menyusulnya ke pantai itu, lalu berkata, “Hai putra pamanku. Aku datang dari orang yang paling suka menyambung tali kasih sayang, paling berbakti, dan paling baik.

Janganlah kau rusak dirimu.” Ikrimah berhenti hingga Ummu Hakim mendekat dan berkata, “Aku sudah memintakan jaminan keamanan untukmu kepada Muhammad, Rasulullah.” Ikrimah seperti tak yakin mendengarnya, “Engkau? Engkau melakukannya?” “Ya. Aku sudah bicarakan dengan beliau, lalu beliau memberi jaminan keamanan,” kata Ummu Hakim. Ikrimah pun kembali bersama Ummu Hakim.

Ikrimah bertanya, “Apa tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah dilakukan budakmu kepadamu?” Ummu Hakim menceritakan bagaimana dia dirayu oleh budak tersebut. Mendengar ini Ikrimah pun membunuh budak itu. Di perjalanan, Ikrimah membujuk Ummu Hakim melayaninya, tetapi ditolak oleh Ummu Hakim.

Katanya, “Sesungguhnya kamu kafir, sedangkan aku seorang wanita muslimah.” Kata Ikrimah, “Sesuatu yang menghalangimu ini betul-betul urusan yang sangat besar.” Baca juga: Ummu Hakim bintu al-Harits Setibanya di Makkah, Ikrimah dan Ummu Hakim segera menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Begitu melihatnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyambut dan mengucapkan selamat datang kepadanya. Ikrimah berdiri di hadapan beliau sementara istrinya menutupi mukanya dengan sehelai cadar. Dia pun berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya wanita ini menerangkan bahwa engkau memberiku jaminan keamanan?” Kata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Dia benar, dan engkau aman.” Lalu dia pun berkata, “Kepada apa engkau mengajakku, wahai Muhammad?” Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Aku mengajakmu agar bersaksi tidak ada sembahan yang haq kecuali Allah dan aku adalah Rasul Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan berbuat (kebaikan), ….” dan seterusnya.

Beliau pun menyebutkan beberapa perilaku Islam. Ikrimah berkata, “Demi Allah. Tidaklah engkau mengajak kami melainkan kepada yang haq dan urusan yang baik lagi indah.” Baca juga: Menyelami Samudra Keindahan Islam Kemudian Ikrimah melanjutkan, “Sungguh, aku bersaksi tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” Mendengar ini, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sangat gembira.

Kemudian beliau berkata setelah menerangkan apa yang harus dilakukan Ikrimah, “Tidaklah seorang pun yang memintaku sesuatu pada hari ini melainkan pasti aku beri.” Ikrimah tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia berkata, “Kalau begitu, saya memintamu agar memintakan ampunan kepada Allah untukku atas segala permusuhanku terhadapmu atau semua ucapan yang kuucapkan di depan atau di belakangmu.” Kata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Ya Allah, ampunilah dia atas semua permusuhannya dan upayanya memadamkan cahaya (agama)-Mu.

Ampunilah dia atas perbuatannya terhadap pribadiku, di depan atau di belakangku.” Ikrimah pun berkata, “Aku ridha, wahai Rasulullah. Tidak aku biarkan nafkah yang dahulu kuberikan melawan Islam, melainkan aku infakkan berkali lipat di jalan Allah. Tidak pula peperangan yang dahulu kuikuti menghalangi manusia dari jalan Allah, melainkan aku akan terjun berkali lipat di jalan Allah.” Setelah Ikrimah masuk Islam, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengembalikan istrinya (Ummu Hakim, red.) kepada Ikrimah dengan pernikahan yang pertama.

Islam mulai merambah dalam hati Ikrimah. Muhajir yang kehausan ini betul-betul merasakan telaga bening Islam. Sikap Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang begitu hangat menyambut kehadirannya membuatnya malu saat teringat begitu sengit dendam dan permusuhan dia serta ayahnya terhadap Islam dan kaum muslimin, terlebih pribadi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

Lihatlah apa yang dimintanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Bukan dunia. Dia hanya minta agar Allah subhanahu wa ta’ala mengampuninya. Baca juga: Mengutamakan Akhirat di Atas Dunia Sejarah telah membuktikan kejujurannya memeluk Islam, keuletannya menebus dan mengubur masa lalunya yang hitam. Yarmuk, salah satu daerah di negeri Syam menceritakan bagaimana singa-singa Allah subhanahu wa ta’ala menerkam musuh-musuh mereka. Kekuatan dan perlengkapan musuh yang begitu dahsyat, ternyata tidak meluluhkan tekad mereka; menang atau mati syahid.

Ketika Ikrimah sudah bersiap menembus pasukan musuh, Khalid bin al-Walid, saudara sepupunya, berkata, “Jangan lakukan.

Kematianmu sangat merugikan kaum muslimin.” Kata Ikrimah, “Biarlah, hai Khalid, karena kau telah pernah ikut bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.

Apalagi ayahku sangat hebat memusuhi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” Ikrimah menerobos ke tengah-tengah pasukan musuh yang berjumlah puluhan ribu orang bersama beberapa ratus prajurit muslim lainnya.

Diceritakan, bahwa dia pernah berkata ketika Perang Yarmuk, “Aku dahulu memerangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam di setiap medan pertempuran. Hari ini, apakah aku akan lari dari kalian (yakni pasukan lawan, -red.)?” Lalu dia berseru, “Siapa yang mau berbaiat untuk mati?” Berbaiatlah al-Harits bin Hisyam, Dhirar bin al-Azwar bersama empat ratus prajurit muslim lainnya.

Mereka pun maju menggempur musuh di depan kemah Khalid sampai satu demi satu mereka jatuh berguguran sebagai syuhada.

Baca juga: Jangan Gampang Memvonis Mati Syahid Kata az-Zuhri, “Waktu itu, Ikrimah tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah orang yang paling hebat ujiannya. Luka sudah memenuhi wajah dan dadanya sampai ada yang mengatakan kepadanya, ‘Bertakwalah engkau kepada Allah, kasihanilah dirimu’.” Akan tetapi, Ikrimah menukas, “Dahulu aku berjihad dengan diriku demi Latta dan Uzza.

Bahkan, aku serahkan jiwaku untuk mereka. Lantas, sekarang, apakah harus aku biarkan jiwaku ini tetap utuh karena (membela) Allah dan Rasul-Nya? Tidak. Demi Allah, selamanya tidak.” Hal itu tidaklah menambahi apa pun selain beliau semakin berani menyerang hingga gugur sebagai syahid. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai Ikrimah. Catatan Kaki [1] Suatu penyakit menular, berupa bengkak yang asalnya menjangkiti tikus. Penyakit ini lalu menyebar kepada tikus lain melalui kutu hingga akhirnya menjangkiti manusia.

( al-Mu’jamul Wasith, -ed.) Ditulis oleh Ustadz Abu Muhammad Harits
TRIBUNNEWS.COM - Berikut ini berbagai teori tentang proses masuknya agama Islam ke Indonesia, mulai dari bukti-bukti teori hingga kelemahan dari teori. Masuknya Islam di Indonesia pada abad ke V tidak bisa dilepaskan dari sejarah perdagangan dan pelayaran antar benua yang berlangsung pada masa itu. Kendati demikian, para ahli masih bersilang pendapat tentang bagaimana proses masuknya budaya dan agama Islam tersebut hingga bisa mengalahkan kebudayaan dan agama yang telah ada sebelumnya, yakni Hindu dan Budha.

Baca juga: Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia Menurut Pendapat Para Ahli Sejarah Baca juga: Kehidupan Masyarakat Indonesia Pada Masa Islam dari Bidang Politik hingga Aristektur Mengutip dari Buku Modul pembelajaran SMA Sejarah Indonesia kelas X yang disusun oleh Mariana, M.Pd, berikut ini teori masuknya islam ke Indonesia.

Teori Masuknya Islam ke Indonesia 1. Teori Gujarat Tokoh yang mendukung teori ini adalah para ilmuwan Belanda seperti Pijnappel dan Moqette yang mengatakan bahwa yang membawa agama Islam ke Indonesia ialah orang-orang Arab yang sudah lama tinggal di Gujarat (India).

Menurut mereka, Islam masuk ke Indonesia sejak awal abad ke 13 Masehi bersama dengan hubungan dagang yang terjalin antara masyarakat Nusantara dengan para pedagang Gujarat yang datang, dengan jalur Indonesia-Cambay- Timur Tengah- Eropa. Snouck Hurgronje yang juga sebagai ilmuwan Belanda berpendapat bahwa hubungan dagang Indonesia dengan orang-orang Gujarat telah berlangsung lebih awal dibanding dengan orang-orang Arab.

Teori masuknya Islam di Indonesia yang dicetuskan Hurgronje dan Pijnapel ini didukung oleh beberapa bukti : a. Batu nisan Sultan Samudera Pasai Malik As-Saleh (1297) dan batu nisan Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik memiliki kesamaan dengan batu nisan yang berada di Cambay.

b. Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran Islam.

Kelemahan Teori Gujarat Kelemahan teori Gujarat ditunjukan pada 2 sangkalan, pertama masyarakat Samudra Pasai menganut mazhab Syafii, sementara masyarakat Gujarat lebih banyak menganut mazhab Hanafi. Kedua, saat islamisasi Samudra Pasai, Gujarat masih merupakan Kerajaan Hindu. 2. Teori Persia Umar Amir Husen dan Hoesein Djajadiningrat sebagai pencetus sekaligus pendukung teori Tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah menyatakan bahwa Islam yang masuk di Indonesia pada abad ke 7 Masehi adalah Islam yang dibawa kaum Syiah, Persia.

Teori ini didukung adanya beberapa bukti pembenaran di antaranya a. Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah cucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran.

b. Di Sumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut, sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro. c. Kesamaan ajaran Sufi d. Penggunaan istilah persia untuk mengeja huruf Arab e. Kesamaan seni kaligrafi pada beberapa batu nisan f. Bukti maraknya aliran Islam Syiah khas Iran pada awal masuknya Islam di Indonesia.

g. Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Dengan banyaknya bukti pendukung yang dimiliki, teori ini sempat diterima sebagai teori masuknya Islam di Indonesia yang paling benar oleh sebagian ahli sejarah, akan tetapi setelah ditelisik, ternyata teori persia juga memiliki kelemahan. Kelemahan teori Persia ialah apabila dikatakan bahwa Islam masuk pada abad ke 7, maka kekuasaan Islam di Timur Tengah masih dalam genggaman Khalifah Umayyah yang berada di Damaskus, Baghdad, Mekkah, dan Madinah.

Jadi tidak memungkinkan bagi ulama Persia untuk menyokong penyebaran Islam secara besar-besaran ke Nusantara. 3. Teori Makkah Teori Arab atau Teori Makkah menyatakan bahwa proses masuknya Islam di Indonesia berlangsung saat abad ke-7 Masehi.

Islam dibawa para musafir Arab(Mesir) yang memiliki semangat untuk menyebarkan Islam ke seluruh belahan dunia. Tokoh yang mendukung teori Makkah adalah Van Leur, Anthony H. Johns, T.W Arnold, Buya Hamka, Naquib al-Attas, Keyzer, M. Yunus Jamil, dan Crawfurd. Teori masuknya Islam di Indonesia ini didukung beberapa 3 bukti utama, yaitu: a. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab), dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4.

Hal ini juga sesuai dengan berita Cina. b. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah, sedangkan Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.

c. Adanya penggunaan gelar Al Malik pada raja-raja Samudera Pasai yang hanya lazim ditemui pada budaya Islam di Mesir. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke-7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

Hingga kini, teori Arab dianggap sebagai teori yang paling kuat, kelemahan teori arab hanya terletak pada kurangnya fakta dan bukti yang menjelaskan peran Bangsa Arab dalam proses penyebaran Islam di Indonesia. 4. Teori India Teori India dikemukakan oleh Thomas W. Arnold dan Orrison, menurut teori ini Islam datang ke Indonesia melalui Coromandel dan Malabar (India).

Dasar teori ini adalah ketidakmungkinan Gujarat menjadi sumber penyebaran Islam ketika itu. Alasannya, Gujarat belum menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan antara wilayah Timur Tengah dengan wilayah Nusantara. Pendapat bahwa Gujarat sebagai tempat asal Islam di Nusantara mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu, kelemahan itu ditemukan oleh Marrison.

Ia berpendapat bahwa meskipun batu-batu nisan yang ditemukan di tempat-tempat tertentu di Nusantara boleh jadi berasal dari Gujarat, atau dari Bengal, itu tidak lantas berarti Islam juga datang berasal dari tempat batu nisan itu diproduksi. Marrison mematahkan teori Gujarat ini dengan menunjuk pada kenyataan bahwa pada masa Islamisasi Samudera Pasai, yang raja pertamanya wafat tahun 1297 M, Gujarat masih merupakan kerajaan Hindu. Baru setahun kemudian tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah Cambay, Gujarat ditaklukkan kekuasaan muslim.

Jika Gujarat adalah pusat Islam, yang dari tempat itu para penyebar Islam datang ke Nusantara, maka pastilah Islam telah mapan dan berkembang di Gujarat sebelum kematian Malik al-Saleh, yakni sebelum tahun 698/1297. Marrison selanjutnya mencatat, meski lasykar muslim menyerang Gujarat beberapa kali raja Hindu di sana mampu mempertahankan kekuasaannya hingga 698/1297. Mempertimbangkan semua ini, Marrison mengemukakan pendapatnya bahwa Islam di Nusantara bukan berasal dari Gujarat, melainkan dibawa oleh para penyebar Muslim dari pantai Coromandel pada akhir abad ke-13.

Baca juga: Sejarah Majalengka di Relief Sepanjang 30 Meter, dari Masa Kerajaan Talaga hingga Zaman Kolonial 5. Teori Bangladesh Teori Bangladesh dikenal juga dengan nama teori Benggali, teori ini dikemukakan oleh S.

Q. Fatimi. Teori Bangladesh mengemukakan bahwa Islam datang di Nusantara berasal dari Benggali. Teori ini didasarkan atas tokoh-tokoh terkemuka di Pasai adalah orang-orang keturunan dari Benggali. Menurut beberapa pendapat berdasarkan teori Benggali berarti Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-11 M. S. Q. Fatimi berpendapat bahwa mengaitkan seluruh batu nisan yang ada di Pasai, termasuk batu nisan Maulana Malik al-Saleh, dengan Gujarat adalah keliru.

Menurut penelitiannya, bentuk dan gaya batu nisan Malik al-Saleh berbeda sepenuhnya dengan batu nisan yang terdapat di Gujarat dan batu-batu nisan lain yang ditemukan Nusantara. Fatimi berpendapat bentuk dan gaya batu nisan itu justru mirip dengan batu nisan yang terdapat di Bengal. Oleh karenanya, seluruh batu nisan itu hampir dipastikan berasal dari Bengal. Dalam kaitan dengan data artefak ini, Fatimi mengkritik para ahli yang mengabaikan batu nisan Siti Fatimah bertanggal475/1082 yang ditemukan di Leran, Jawa Timur.

Teori bahwa Islam di Nusantara berasal dari Bengal bisa dipersoalkan lebih lanjut termasuk berkenaan dengan adanya perbedaan madzhab yang dianut kaum muslim Nusantara (Syafi’i) dan mazhab yang dipegang oleh kaum muslimin Bengal (Hanafi). 6. Teori Cina Teori China yang dicetuskan oleh Slamet Mulyana dan Sumanto Al Qurtuby menyebutkan bahwa, Islam masuk ke Indonesia karena dibawa perantau Muslim China yang datang ke Nusantara.

Teori ini didasari pada beberapa bukti,yaitu: a. Fakta adanya perpindahan orang-orang muslim China dari Canton ke Asia Tenggara, khususnya Palembang pada abad ke 879 M b. Adanya masjid tua beraksitektur China di Jawa c. Raja pertama Demak yang berasal dari keturunan China (Raden Patah) d.

Gelar raja-raja demak yang ditulis menggunakan istilah China e. Catatan China yang menyatakan bahwa pelabuhan-pelabuhan di Nusantara pertama kali diduduki oleh para pedagang China Pada dasarnya semua teori tersebut masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masingmasing teori tersebut. Menurut Azyumardi Azra, sesungguhnya kedatangan Islam ke Indonesia datang dalam kompleksitas, artinya tidak berasal dari satu tempat, peran kelompok tunggal, dan tidak dalam waktu yang bersamaan.

(Tribunnews.com/Kristina Wulandari) Baca juga artikel lainnya terkait Materi Sekolah
• l • b • s Pemeluk Islam pertama ( bahasa Arab: السَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ, translit.

al-sabiqun al-awwalun‎) adalah orang-orang terdahulu yang pertama kali masuk/memeluk Islam. Mereka dari golongan kaum Muhajirin dan Anshar, [1] mereka semua sewaktu masuk Islam berada di kota Mekkah, sekitar tahun 610 Masehi pada abad ke-7.

[2] Pada masa penyebaran Islam awal, para sahabat nabi di mana jumlahnya sangat sedikit dan golongan as-sabiqun al-awwalun yang rata-ratanya adalah orang miskin dan lemah. Daftar isi • 1 Etimologi • 2 Kerasulan Nabi Muhammad • 2.1 Awal kerasulan • 2.2 Pendakwahan • 2.2.1 Sirriyyah (rahasia) • 2.2.2 Terbuka • 2.2.3 Madrasah Pertama • 2.3 Daftar as-sabiqun al-awwalun • 2.4 Profesi • 2.5 Tugas • 3 Surga Bagi As-Sabiqun al-Awwalun • 4 Kedatangan Islam secara asing dan akan kembali asing • 5 Lihat pula • 6 Catatan kaki • 7 Referensi Etimologi [ sunting - sunting sumber ] Akar kalimat as-sabiqun dalam bahasa Arab berakar dari huruf S-B-Q ( س-ب-ق Sin-Ba-Qaf), sabaqa ( سبق) sebuah kata kerja yang artinya "mendahulukan", "pergi sebelum", "lebih dahulu", "melampaui", juga berarti "sudah" atau "sebelum"; "aksi pendahulu", "bergerak sebelumnya" dan sebagainya, contoh: “ .dan ( malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang.(An-Nazi'at, 79:4) ” yang artinya melewati atau melampaui.

Sabaqa: berpacu (kata kerja). Sabiq: bertindak. [3] Kemudian kalimat al-awwalun terdiri dari huruf A-W-L ( ء-و-ل Hamzah-Wau-Lam), awwal ( أول) sebuah kata yang artinya "pertama" atau "awal", kemudian kata ini diserap kedalam bahasa Indonesia, yang memiliki makna yang sama pula. Kerasulan Nabi Muhammad [ sunting - sunting sumber ] Awal kerasulan [ sunting - sunting sumber ] Nabi Muhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat terbelakang yang senang dengan kekerasan, pertempuran dan penyembahan berhala.

Ia sering menyendiri ke Gua Hira', sebuah gua bukit dekat Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur karena bertentangan sikap dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut.

Di sinilah ia sering berpikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

Pada suatu malam, ketika Nabi Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira', Malaikat Jibril mendatanginya. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Ia diminta membaca. Ia menjawab, "Saya tidak bisa membaca". Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Nabi Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata: “ Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq 96: 1-5) ” Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu ia berusia 40 tahun. Wahyu turun kepadanya secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun.

Wahyu tersebut telah diturunkan menurut urutan yang diberikan Muhammad, dan dikumpulkan dalam kitab bernama al-mushaf yang juga dinamakan al-Quran (bacaan).

Pendakwahan [ sunting - sunting sumber ] Sirriyyah (rahasia) [ sunting - sunting sumber ] Selama tiga tahun pertama, Nabi Muhammad hanya menyebarkan agama terbatas kepada teman-teman dekat dan kerabatnya, pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu ishaq dan Al-Waqidi.

Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad adalah para anggota keluarganya, tetapi tidak semua orang terdekatnya mau menerima dakwah ini. Sebagai contoh Abu Thalib yang tidak meyakini ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

Begitu pula dengan salah satu pamannya yang bernama Abu Lahab, bahkan menjadi penentang keras dakwah Muhammad. Nabi Muhammad menjadi nabi dan berdakwah pada kisaran tahun 610 - 614 Masehi. Setelah adanya wahyu, surat Al-Muddatstsir: 1-7, yang artinya: “ Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak, dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah.

(Al-Mudatsir 74: 1-7) ” Dengan turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah berdakwah. Mula-mula ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga, sahabat, pengasuh dan budaknya. Orang pertama yang menyambut dakwahnya adalah Khadijah, istrinya.

Dialah yang pertama kali masuk Islam. Menyusul setelah itu adalah Ali bin Abi Thalib, saudara sepupunya yang kala itu baru berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki pertama yang masuk Islam.

Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin Haritsah, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi Muhammad sejak ibunya masih hidup. Setelah mereka, lalu masuk yang lainnya.

Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqas, dan Thalhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah rahasia ini, belasan orang telah masuk Islam.

Sedangkan menurut sejarah Islam, putri Abu Bakar yaitu Aisyah adalah orang ke 21 atau 22 yang masuk Islam. [4] Terbuka [ sunting - sunting sumber ] Dakwah secara sirriyyah ini dilakukan selama kurang lebih 3 tahun dan setelah orang Islam berjumlah 40 orang, [5] maka turunlah ayat “ .dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (Asy-Syu’ara, 26:214) ” “ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.

Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu). (Al-Hijr ayat 15:94-95) ” Nabi Muhammad mulai terbuka menjalankan dakwah secara terang-terangan.

Mula-mula ia mengundang kerabat karibnya bangsa Quraisy dalam sebuah jamuan. Pada kesempatan itu ia menyampaikan ajarannya.

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

Namun ternyata hanya sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya adalah Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil. Mereka sangat membenci ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Sebelum kelahiran Nabi Muhammad, orang-orang Arab Quraisy adalah para penyembah berhala.

Mereka suka membunuh anak laki-Iaki dan menanam hidup-hidup anak perempuan. Mereka mudah membunuh sebagian yang lain hanya karena hal-hal yang sepele. Oleh karena itu ketika Muhammad mengajak mereka untuk menyembah Allah yang Esa, meninggalkan kepercayaan mereka, mereka marah besar. Mereka yang semula cinta kepadanya berubah menjadi kebencian dan kemarahan. Sedangkan mereka yang semula membenarkan Muhammad, telah berubah menjadi orang-orang yang mendustakannya.

Madrasah Pertama [ sunting - sunting sumber ] Nabi Muhammad mulai merasa perlu mencari sebuah tempat bagi para pemeluk Islam tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah berkumpul bersama. Di tempat itu akan diajarkan kepada mereka tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah prinsip-prinsip Islam, membacakan ayat-ayat Al-Qur'an, menerangkan makna dan kandungannya, menjelaskan hukum-hukumnya dan mengajak mereka untuk melaksanakan dan mempraktikkannya.

Pada akhirnya Muhammad memilih sebuah rumah di bukit Shafa milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Semua kegiatan itu dilakukan secara rahasia tanpa sepengetahuan siapa pun dari kalangan orang-orang kafir. Rumah Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam ini merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam, [6] tempat ilmu pengetahuan dan amal saleh diajarkan secara terpadu oleh sang guru pertama, yaitu Nabi Muhammad.

Ia sendiri yang mengajar dan mengawasi proses pendidikan disana. Daftar as-sabiqun al-awwalun [ sunting - sunting sumber ] Ibnu Hisyam pernah menulis 40 nama as-sabiqun al-awwalun. Ia menulis Khadijah dalam nomor urut pertama, Asma' di nomor urut 18, dan Aisyah di nomor urut 19. Umar bin Khattab berada jauh di bawah Aisyah. [7] Yang termasuk as-sabiqun al-awwalun adalah sebagai berikut: • Khadijah binti Khuwailid • Zaid bin Haritsah • Ali bin Abi Thalib • Abu Bakar Al-Shiddiq • Bilal bin Rabah • Ummu Aiman • Hamzah bin Abdul Muthalib • Abbas bin Abdul Muthalib • Abdullah bin Abdul-Asad • Ubay bin Ka'ab • Abdullah bin Rawahah • Abdullah bin Mas'ud • Mus'ab bin Umair • Mua'dz bin Jabal • Aisyah • Umar bin Khattab • Utsman bin Affan • Arwa' binti Kuraiz • Zubair bin Awwam bin Khuwailid • Abdurrahman bin Auf • Sa'ad bin Abi Waqqas • Thalhah bin Ubaidillah • Abdullah bin Zubair • Miqdad bin Aswad • Utsman bin Mazh'un • Sa'id bin Zaid • Abu Ubaidah bin al-Jarrah • Waraqah bin Naufal • Abu Dzar Al-Ghiffari • Umar bin Anbasah • Sa’id bin Al-Ash • Abu Salamah bin Abdul Asad • Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam • Yasir bin Amir • Ammar bin Yasir • Sumayyah binti Khayyat • Amir bin Fuhairah • Ja'far bin Abi Thalib • Khabbab bin 'Art • Ubaidah bin Harits • Ummu al-Fadl Lubaba • Shafiyyah binti Abdul Muthalib • Asma' binti Abu Bakar • Fatimah bin Khattab • Suhayb Ar-Rummi • Qudamah bin Mazh'un Khadijah, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Al-Shiddiq, Ummu Aiman, dan Bilal bin Rabah, merekalah orang yang pertama kalinya mengucap kalimat dua syahadat, lalu menyebar ke yang lainnya.

Kesemuanya berasal dari kabilah Quraisy, kecuali Bilal bin Rabah. Daftar di atas tersebut, tidaklah sesuai dengan kronologis urutan sejarah aslinya, dikarenakan penyebaran Islam ini awalnya secara rahasia, maka terlalu sulit untuk mencari siapa saja yang terlebih dahulu memeluk Islam, setelah lima besar pemeluk Islam.

Profesi [ sunting - sunting sumber ] Pada awalnya golongan ini hanya terdiri dari kaum miskin dan lemah, kemudian setelah menempuh waktu semakin bertambah dan masuk beberapa orang dari lapisan golongan masyarakat, yang terdiri dari pemuka adat, pemimpin suku, panglima perang, ibu rumah tangga, anak-anak, majikan, saudagar, pengusaha, pedagang, petani, peternak binatang, pelayan rumah tangga, orang merdeka, budak.

Para budak banyak yang tertarik dengan prinsip yang diajarkan oleh Islam, yaitu tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah, Rasulullah mempersaudarakan sebagian muslim dari golongan aristokrat Quraisy dengan sekelompok muslim lain yang dari golongan budak.

Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, kuat maupun lemah, merdeka maupun budak, Arab maupun non-Arab, semua setara. Menurut kacamata Islam, Allah tidak pernah melihat umat-Nya berdasarkan profesi/ pangkat dan jabatan seseorang, yang Allah nilai hanya iman dan taqwa hamba-Nya. Tugas [ sunting - sunting sumber ] As-Sabiqun al-Awwalun yang Salaf, memiliki beberapa tugas penting yang harus diemban mereka.

Tugas itu meliputi: • Ber tauhid (mengesakan Allah), • Beriman kepada para malaikat, rasul, kitab-kitab Allah, takdir • Menegakkan salat, • Menunaikan zakat, • Melakukan keadilan, • Melakukan amal kebaikan, • Meninggalkan kekejian, • Meninggalkan kemungkaran, • Meninggalkan ke zaliman, • meninggalkan penyembahan berhala, • Berhala harus dihancurkan, • Melarang ke musyrikan, • Darah tidak ditumpahkan, • Tidak ada jiwa yang harus dibunuh kecuali karena kebenaran, • Jalan-jalan tetap aman, • Tali silaturahmi terus dijalin, • Menjunjung tinggi kesetaraan/ kemerdekaan manusia, • Mencegah keburukan, • Mempertahanan bela agama, • Menyebarkan secara diam-diam agama yang dibawa oleh Muhammad.

Surga Bagi As-Sabiqun al-Awwalun [ sunting - sunting sumber ] Menurut kepercayaan Islam, As-Sabiqun al-Awwalun akan mempunyai tempat tinggal yang mulia, Surga Jannatun Na'im.

“ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.

Itulah kemenangan yang besar (At-Taubah ayat 9:100) ” Diperkuat oleh dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang tiga masa yang mendapatkan kemulian dan keutamaan muslim dan lain-lainnya, dimana Nabi Muhammad bersabda, “ Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” [8] Kedatangan Islam secara asing dan akan kembali asing [ sunting - sunting sumber ] Menurut beberapa hadits yang shahih, agama Islam dikatakan pertama kali muncul dalam keadaan terasing, kemudian akan kembali menjadi asing sebagaimana semula ajaran Islam itu datang.

Sementara itu orang di sekelilingnya telah menjadi rusak secara aqidah dan mereka akan memusuhi ajaran Islam itu sendiri. [9] [10] [11] Lihat pula [ sunting - sunting sumber ] • Ahlul Bait • Sahabat Nabi • Tabi'in • Khalifah • Khulafaur Rasyidin • Salaf • Sunni Catatan kaki [ sunting - sunting sumber ] • ^ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya.

Mereka kekal di dalamnya.

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah 9:100) • ^ Nabi Muhammad ﷺ berdakwah yaitu pada tahun 615 Masehi. • ^ "Arti dari Sabiqun disitus web Sabiqun.net" (PDF). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2009-12-22. Diakses tanggal 2008-12-12. • ^ Aisyah masuk Islam.

• ^ Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/245-262. • ^ Khadijah Ummul Mu'minin Nazharat Fi isyraqi Fajril Islam, Abdul Mun'im Muhammad, hal. 96 dan 155. • ^ Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/245-262. • ^ Hadits sahih Imam Bukhari. • ^ Nabi Muhammad ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba')." (Hadits shahih riwayat Muslim).

tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah

• ^ "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka." (Hadits shahih riwayat Ahmad).

• ^ "Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). Yaitu mereka yang mengadakan perbaikan (ishlah) ketika manusia rusak." (Hadits shahih riwayat Abu Amr Ad-Dani dan Al-Ajurry).

Referensi [ sunting - sunting sumber ] • Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/245-262. • Ibnu Hisyam, Jilid I m/s 65. • As-Seerat un-Nabawiyyah, Jilid I, m/s 452, daftar urut yang sama di tulis Ibnu Ishaq.

• Khadijah Ummul Mu'minin Nazharat Fi isyraqi Fajril Islam, Al Haiah Al Mishriyah Press, karya Abdul Mun'im Muhammad (1994) • Kitab-Al-Raudh Al-Aif, karya Ibnu Suhaili. • Muhammad The Final Messenger, karya Dr.

Majid Ali Khan • Hadits keterasingan Islam di kajian Salafy. • Kelebihan Qiyamullail pada masa awal kedatangan Islam Diarsipkan 2011-09-15 di Wayback Machine. • (Inggris) Asma' Bint Abi Bakr is one of As-Sabiqun al-Awwalun Diarsipkan 2007-10-31 di Wayback Machine.

• (Inggris) History of Islam Abbad bin Bisyr · Abbas bin Abdul-Muththalib · Abdullah bin Abbas · Abdullah bin Abdul-Asad · Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi · Abdullah bin Ja'far · Abdullah bin Mas'ud · Abdullah bin Rawahah · Abdullah bin Salam · Abdullah bin Ubay · Abdullah bin Umar · Abdullah bin Ummi-Maktum · Abdullah bin Zubair · Abdurrahman bin Abi Bakar · Abdurrahman bin Auf · Abu Ayyub al-Anshari · Abu Bakar · Abu Dujanah · Abu Dzar Al-Ghifari · Abu Hudzaifah bin al-Mughirah · Abu Hurairah · Abu Lubabah bin Abdul-Mundzir · Abu Martsad al-Ghanawi · Abu Musa Al-Asy'ari · Abu Qatadah · Abu Sufyan · Abu Sufyan bin Harits · Abu Thalhah al-Anshari · Abu Ubaidah bin al-Jarrah · Abu al-Aas bin al-Rabi' · Abu Darda · Abu Hudzaifah bin Utbah · Abu Sa'id al-Khudri · Attab bin Usaid · Al-Ala'a Al-Hadrami · Al-Barra' bin Malik · Al-Harits bin Hisyam · Al-Nahdiah · Ali bin Abi Thalib · Amir bin Abi Waqqas · Amir bin Fuhairah · Amru bin al-Jamuh · Amru bin Tsabit · Ammar bin Yasir · Amru bin Ash · An-Nu'man bin Muqarrin · An-Nu'man bin Malik · Anas bin Malik · Aqil bin Abu Thalib · Arfajah al-Bariqi · Aus bin As-Shamit · Basyir bin Sa'ad · Bilal bin Rabah · Bilal bin al-Harits · Al-Fadhl bin al-Abbas · Fatimah binti Asad · Fatimah binti Hizam · Fairuz ad-Dailami · Ghaurats bin Harits · Habibah binti Ubaidillah · Hakim bin Hazm · Halimah As-Sa'diyah · Hamzah bin Abdul-Muththalib · Hanzhalah bin Abi Amir · Haritsah binti al-Muammil · Hasan bin Ali · Hatib bin Abi Baitah · Hisyam bin al-Ash · Hudzaifah bin al-Yaman · Hujr bin Adi · Husain bin Ali · Ikrimah bin Abu Jahal · Ja'far bin Abi Thalib · Jarir bin Abdullah al-Bajali · Julaybib · Khabbab bin al-Arat · Khadijah binti Khuwailid · Khalid bin Sa`id · Khalid bin Walid · Khawlah binti Tsa'labah · Khubaib bin Adi · Khunais bin Hudzafah · Khuzaimah bin Tsabit · Khawlah binti Hakim · Layla binti al-Minhal · Lubabah binti al-Harith · Lubaynah tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah Malik bin Nuwairah · Marwan bin al-Hakam · Miqdad bin Amr · Mua'dz bin Jabal · Muawiyah bin Abu Sufyan · Muhammad bin Maslamah · Mughirah bin Syu'bah · Mush'ab bin Umair · Qatadah bin an-Nu'man · Qudamah bin Mazh'un · Rabi'ah bin Umayah · Rabi'ah bin Harits · Rukanah al-Mutthalibi · Sa'ad bin ar-Rabi' · Sa'ad bin Abi Waqqas · Sa'ad bin Mu'adz · Sa'ad bin 'Ubadah · Saffiyah binti Abdul-Muththalib · Sa’id bin Al-Ash · Said bin Amir al-Jumahi · Said bin Zayd · Salim Maula Abi Hudzaifah · Salman al-Farisi · Shuhaib ar-Rumi · Sumayyah binti Khayyat · Syaibah bin 'Utsman · Tamim ad-Dari · Thalhah bin Ubaidillah · Thalib bin Abu Thalib · Tsuwaibah · Ubadah bin ash-Shamit · Ubadah bin Al-Khasykhasy · Ubaidah bin al-Harits · Ubay bin Ka'ab · Umamah binti Zainab · Umar bin Khattab · Ummi Hani · Tokoh penentang islam yang akhirnya masuk islam adalah Kultsum binti Ali · Ummi Kultsum binti Jarwila Khuzima · Ummi Syarik · Ummi Ubays · Uqbah bin Amir · Urwah bin Mas'ud · Usamah bin Zaid · Usaid bin Hudhair · Utbah bin Ghazwan · Utsman bin Affan · Utsman bin Mazh'un · Utsman bin Hunaif · Wahab bin Umair · Wahab bin Sa'ad · Wahsyi bin Harb · Waraqah bin Naufal · Yazid bin Abu Sufyan · Zaid bin Arqam · Zaid bin Haritsah · Zaid bin Tsabit · Zainab binti Ali · Zubair bin Awwam · Zunirah al-Rumiyah • Halaman ini terakhir diubah pada 14 Maret 2022, pukul 20.36.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

Penasehat Khusus Presiden Amerika Masuk Islam




2022 charcuterie-iller.com