Tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

Tolong jawab yang benar ya kak :) tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah a. menjaga alam adalah tanda ketaatan kepada tuhan b. menjaga alam adalah tanda orang berwibawa c. menjaga alam adalah tanda orang patut d. menjaga alam adalah tanda orang kaya e.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

menjaga alam adalah tanda orang baik Pendahuluan Kearifan lokal merupakan sebuah sistem dalam tatanan kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi, serta lingkungan yang hidup di tengah- tengah masyarakat lokal. Ciri yang melekat dalam kearifan tradisional adalah sifatnya yang dinamis, berkelanjutan dan dapat diterima oleh komunitasnya. Dalam komunitas masyarakat lokal, kearifan tradisional mewujud dalam bentuk seperangkat aturan, pengetahuan, dan juga keterampilan serta tata nilai dan etika yang mengatur tatanan sosial komunitas yang terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi.

Mereka yang muncul dari komunitas lokal inilah yang hidup, tumbuh, dan bergelut dengan problem sosial, politik, budaya, ekonomi, dan lingkungan, mempelajari kegagalan- kegagalan sampai menemukan solusi praktis untuk komunitasnya. Ilmu yang mereka dapat menjadi milik bersama komunitasnya tanpa diperdagangkan.

Posisi kearifan lokal saat ini berada dalam posisi yang lemah. Arus kapitalisme lebih mendominasi dalam sendi-sendi kehidupan komunitas masyarakat. Dalam pandangan kapitalisme, analisis untung dan rugi lebih dominan dan lebih penting daripada dari mana sumber pengetahuan tersebut berasal. Berapa banyak karya komunitas lokal kita yang hilang oleh arus perdagangan kapitalisme yang sangat tidak berpihak pada komunitas lokal itu sendiri. Dengan perkembangan zaman dan kemajuan peradaban umat manusia yang saat ini memasuki milenium ketiga telah menyebabkan terjadinya proses penghancuran kearifan tradisional yang ditandai dengan perubahan tatanan sosial, kurangnya nilai humanis, kemiskinan moral, sifat ketergantungan atau berkurangnya kemandirian masyarakat dan terdegradasinya sumberdaya alam dan lingkungan yang merupakan pendukung kehidupan manusia.

Hal ini juga dipengaruhi oleh sikap masyarakat Indonesia yang belum mampu menjaga budaya, moral, dan sikap terhadap lingkungan sekitar mereka. Hal tersebut disebabkan, antara lain oleh tidak adanya penghargaan dan pengakuan terhadap nilai-nilai kearifan tradisional, adanya kecenderungan globalisasi dunia yang dapat menembus batas-batas negara sampai ke level komunitas suatu kampung.

Keberadaan komunitas masyarakat adat di Riau dari hari ke hari semakin memprihatinkan. Komunitas masyarakat ini adalah komunitas masyarakat yang sangat lemah dan rentan terhadap perubahan. Masyarakat adat sangat menggantungkan hidupnya pada hutan, sebagai tempat memenuhi Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan (The Lokal Wisdom in Environmental Sustainable) Abstract Local Wisdom I n Environmental Preservation Environmental issues from day to day more complex and the environmental crisis.

One of the causes of the crisis is the perception and behavior of humans who pursue economic interests and pragmatic life style. Currently there is a shift i n the way people think of the i mportance of vi rtue or wisdom to the values of the all material ism, pragmatic and capitalism.

In Indonesian society, especially Riau ter ms with the val ues of local wisdom in governance and environmental conservation. This can be seen in the expression of proverb indigenous, teaching point, hymes, poems, myth etc. maintain Behavior of environmental wisdom can also be seen in the socio-cultural system and the use of technology. But it is unfor tunate local knowledge, especially in environmental conservation has been almost eroded from the community caused by pragmatic interests. The consequences of this erosion of local knowledge makes envi ronmental degradation and a ver y dangerous crisis sur vival of mankind on this ear th.

Therefore it is very overlooked revital ize i ndigenous valuesas a fundamental step to meet the challenges of the environmental crisi s, change thinking and behavior to preserve human and environmental sustainability for the safety and harmony of mankind on earth. Keywords : local wisdomenvironment, and human Husni Thamrin: Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan (The Lokal Wisdom in Environmental Sustainable) kebutuhan hidup mereka.

Masyarakat ini tidak terlepas kehidupannya sebagai petani ladang berpindah di hutan. Karena di hutanlah sesungguhnya mereka dapat mempertahankan dirinya, kerena sumberdaya alam lainnya seperti air dan tanah untuk keberlangsungan hidup mereka.

Dewasa ini, hutan sebagai tempat mereka hidup hampir dikatakan tidak ada lagi. Karena hutan telah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan para konglomerat dan eksploitasi minyak di atas pemukiman mereka. Hilangnya hutan ini telah terjadi perubahan lingkungan yang sangat hutan sebagai tempat mereka hidup saat ini sudah sangat terbatas.

Masyarakat ini sekarang hidup dalam keadaan marjinal, juga diakibat kebijakan pemerintah yang sentralisasi, sebagai konsekuensi kebijakan sentralisasi ini tidak memperhatikan kearifan lokal, sistem pemerintahan lokal (perbatinan), dan tidak mengakui keberadaan hak tanah adat.

Terjadinya marjinalisasi masyarat adat ini juga diakibatkatlah tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah pengelolaan lingkungan hidup yang menggunakan paradigma antroposentr isme yang selalu mementingkan kepentingan eksploitasi ekonomi masyarakat adat dan tidak memperhatikan keberlanjutan dan harmonisasi lingkungan.

Paradigma The deep ecologi memang diakui oleh beberapa ilmuwan sebagai alternatif untuk mengantisipasi krisis paradigma antroposentris.

Namun demikian, paradigma deep ecologi dalam pandangan penulis tidak begitu dinamis dalam memahami perubahan kebudayaan masyarakat adat, karena paradigma ini sangat menentang modernisasi dan mempertahan tradisionalisme.

Ketradisionalisme masyarakat adat ini juga suatu masalah, untuk itu perlu ditemukan konsep baru sebagai jalan keluar untuk memecahkan persoalan masyarakat adat khususnya, masyarakat sejenis lain umumnya. Krisis Lingkungan: Tantangan dan Respon Dalam buku berjudul “ The Song of the Earth”Jonathan Bate melukiskan bahwa pada permulaan millennium ketiga era Masehi ini, kondisi alam amat kritis ( parlous ). Persembahan doa yang dipanjatkan dewasa ini dan bayangan bencana-bencana di masa mendatang telah begitu akrab dengan kehidupan manusia.

Amatan Bate tentang krisis lingkungan di atas menegaskan sebuah krisis yang menandai krisis- krisis lingkungan modern. Bate dalam kutipan di atas tidak menyebut bencana-bencana yang ditimbulkan oleh polusi teknologi transportasi, teknologi industri, dan teknologi energi.

Bencana Chernobil di Rusia, munculnya jenis penyakit baru inai-inai dan minamata di Jepang, hujan asam yang merusak hutan dan danau-danau adalah krisis lingkungan lain yang telah menyentakkan decak takut masyarakat internasional. “ Apakah kita telah mulai ber jalan ke arah yang salah”Tanya Bate mengomentari krisis lingkungan yang kian memburuk itu.

Secara genetik, krisis lingkungan mencakup air, tanaman, binatang, tanah, dan udara. Hal-hal yang telah disebut itu mengalami krisis karena tercemar oleh tiga teknologi utama, yaitu: teknologi industri, teknologi tranportasi, dan teknologi energi, di samping tentu saja kecerobohan manusia di alam pengelolaan terhadap sumber daya alam itu.

Selain itu, krisis lingkungan juga disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang pesat akan diikuti oleh permintaan terhadap ketersediaan sumberdaya alam (SDA).

Apalagi bila degradasi SDA dan percemaran yang terjadi jauh lebih tinggi dibandingkan laju upaya perbaikannya (Hadi S. Alikodra, 2009: 6). Akibat dari percemaran itu telah banyak diungkap dan semuanya mengarah pada degradasi lingkungan yang ujung- ujungnya penghancuran terhadap diri manusia itu sendiri. Dalam ungkapan Jonathan Bate, “ After all, if we destroy the earth we wi ll destroy ourselves (di atas semua itu, jika kita hancurkan bumi atau lingkungan berarti kita hancurkan diri kita sendiri.

Parahnya krisis lingkungan (tanah, tanaman, air, udara) dari polusi industri, menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Data dari laporan Asesmen Keempat IPCC ( Intergovermental Panel on Climate Change ) tahun 2007 tentang peningkatan emisi gas rumah kaca global ( global greenhouse gas emission ) menunjukkan adanya peningkatan sejak masa pra- industri sebesar 70% antara 1970 dan 2004.

Perlu diketahui, kawasan hutan global adalah 3952 juta ha, yang menempati sekitar 30 persen luas daratan di bumi (FAO, 2006). Antara tahun 2000 dan 2005, penggundulan hutan terus berlanjut pada kisaran 12,9 juta/tahun. Deforestrasi sebagian besar disebabkan karena pengalihan hutan menjadi pertanian, tetapi juga karena perluasan permukiman, pembangunan infrastruktur, dan praktik-praktik penebangan liar yang tidak berkelanjutan (FAO, 2006, MEA, 2005) (http:// www.ipcc.ch/pdf/asessment-report/ar4/wg3/ar4- Kutubkhanah, Vol.

16 No. 1 Januari – Juni 2013 wg3. chapter9.pdf, accessed 12 Februari 2009: yang memicu penyakit, penggundulan hutan yang 544). mengancam banjir dan longsor, teknologisasi dan industrialisasi yang memicu pemanasan global, dan Secara ilmiah, hutan memiliki fungsi yang amat lain-lain.

Ancaman kepunahan ras manusia disinyalir penting yang meminjam ungkapan Tom Gardner dan Capra bukanlah sebuah hipotesis, tetapi sebuah Robert Engelman disebut sebagai ‘ the environmental pernyataan yang masuk akal. Al Gore misalnya, val ue of forest’(http://www.populationaction.

menyebutkan sejarah kepunahan peradaban manusia Org/publications/Reports/Forest Futures text only akibat perubahan iklim, yang dipicu oleh krisis version, pdf: 19). Selanjutnya Gardner dan Engelmen lingkungan. menyebut fungsi hutan sebagai melindungi dan menjaga ekosistem baik pada tingkat tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah, regional, Al Gore menunjukkan peradaban-peradaban maupun global.

Fungsi lainya adalah sebagai yang punah seperti peradaban Maya (sekarang produktivitas komoditas, menjaga keanekaragaman Yucatan, Meksiko) pada 950 M yang diduga salah hayati ( biodiversity ), dan menyerap karbon dioksida satunya akibat hilangnya kesuburan tanah, krisis air, yang terperangkap dalam atmosfer. Penyusutan hutan dan penggudulan hutan. Juga bencana yang menimpa secara besar-besaran, karena itu, dapat menyebabkan bangsa Cina berupa banjir berulang-ulang di sungai lingkungan rentan terhadap bencana.

kuning pada 1332 yang menewaskan tujuh juta manusia oleh perubahan iklim. Perlu ditambahkan, dalam Namun harus ditegaskan bahwa krisis lingkungan tradisi agama-agama semitik ( abrahamic religi i on ) bukanlah berdiri sendiri. Krisis lingkungan adalah mengenal kisah banjir bandang Nabi Nuh ingkar dan akibat dari krisis moral dan spiritual manusia karena zalim (QS. al-Ankabut/29: 14). Gambaran kepunahan itu, krisis lingkungan mencakup pula krisis manusia peradaban dalam sejarah sangat mungkin terulang di zaman kini.

Cakupan krisisnyapun bisa lebih luas dan pandangan hidupnya (Sardar, 1985: 218). Karena dalam karena teknologi dapat memperbesar jangkauan manusia adalah bagian terdepan dari lingkungan, kehancuran jika umat manusia yang menopangnya maka krisis yang menimpa spiritual dan moral manusia tidak melakukan usaha-usaha pencegahannya.

lebih berbahaya. Manusia menjadi penghancur Kesadaran interdependensi dari seluruh umat dapat dan sekaligus penjaga lingkungan tergantung dari mengerem laju krisis lingkungan yang membawa nilai-nilai yang dianutnya. Dari krisis manusia bisa kepunahan lingkungan bumi. Komponen-komponen membawa kepada krisis-krisis lingkungan dengan lingkungan seperti manusia, binatang, tanaman atau seluruh komponenya.

Krisis lingkungan, karena itu, hutan, air, tanah, dan udara adalah sebuah holon bersifat interdependensi. yang saling bergantung dan saling memiliki. Krisis Interdependensi tersebut menunjukkan sebuah lingkungan sebagai cermin krisis spiritual, moral, problem komplek yang menuntut tindakan global dan kearifan lokal memerlukan suatu kearifan local baik dengan pemecahan teknis maupun non-teknis Melayu yang merupakan pondassi dasar dari pikiran- pikiran global secara komprehensif-holistik untuk kearifan lokal, kearifan agama,dan kearifan tradisi- memberi kontribusi di tengah dagradasi lingkungan tradisi besar dunia).

Elemen-elemen pikiran manusia, yang semakin hebat. dan itu memerlukan pemecahan, terutama sekali, from within disamping from without. Sumber-sumber Kearifan lokal M elayu Riau Pelestarian daya alam, seperti air (air darat dan air laut), tanaman Lingkungan Hidup atau hutan, binatang, tanah, dan udara nasibnya sangat tergantung pada moralitas manusia sebagai Kosmologis. Dalam kata-kata Fritjof Capra Kosmologis Melayu tradisional dapat bersumber (1997: 3), ” untuk per tama kalinya kita dihadapkan dari dukun, bomo, pawang, kemantan, guru pada ancaman kepunahan ras manusia nyata dan silat, tokoh adat, para raja dan sultan (mengenai semua bentuk kehidupan di planet ini.” kerajaan dan hubungan keluar negeri), serta ulama Pernyataan Capra bisa diurai maknanya kepada (memelihara umat dengan ajaran dan nilai Islam).

realitas nyata bahwa semua ancaman itu begitu Mereka mempunyai peranan masing-masing dalam dekat di sekitar manusia melalui pencemaran udara masalah melestarikan lingkungan hidup. yang mengancam kesehatan paru-paru, polusi air Husni Thamrin: Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan (The Lokal Wisdom in Environmental Sustainable) Dari nilai dan ajaran Islam, orang Melayu Orang tua-tua masa silam sangat menyadari mengetahui bahwa tiap manusia dikawal atau diawasi pentingnya pemeliharaan dan pemanfaatan alam oleh Malaikat.

Dukun Melayu membuat analogi sekitar secara seimbang. Ketentuan adat yang mereka bahwa tiap makhluk hidup tentu juga ada penjaganya, pakai memilki sanksi hukum yang berat terhadap makhluk hidup berupa binatang liar dan burung perusak alam. Sebab, perusak alam bukan saja dikawal oleh makhluk halus bernama sikodi, makhluk merusak sumber ekonomi, tetapi juga membinasakan hidup berupa pohon di hutan belantara dihuni oleh sumber berbagai kegiatan budaya, pengobatan, dan orang bunian. Dari pandangan tradisional serupa ini, lain-lain, yang amat diperlukan oleh masyarakat.

tidak ada warga yang berani begitu saja mengambil Dalam adat dikenal beberapa pembagian alam, terutama pembagian hutan tanah. Ada alam yang memerlukannya, mereka terpaksa meminta bantuan boleh dimiliki pribadi, ada yang diperuntukkan bagi para dukun sehingga merasa aman mengambilnya.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

satu suku dan kaum, ada juga yang diperuntukkan bagi Orang Melayu tradisional yang hakikatnya hidup kerajaan, negeri, masyarakat luas, dan sebagainya. sebagai nelayan dan petani sangat bersebati dengan Hutan dan tanah ditentukan pula pemanfatannya alam lingkungannya. Alam bukan saja dijadikan menurut adat, ada pemanfaatan untuk kepentingan alat mencari nafkah, tetapi juga berkaitan dengan pribadi dan ada pemanfaatan untuk kepentingan kebudayaan dan kepercayaannya. Orang tua-tua bersama. Hal ini tercermin dari hutan yang dilindungi Melayu mengatakan, bahwa kehidupan mereka yang disebut “ rimba larangan”“ rimba kepungan”sangat bergantung kepada alam.

Alam menjadi atau “ kepungan sialang”dan lain sebagainya. sumber nafkah dan juga menjadi sumber unsur-unsur Dari sisi lain, masyarakat melayu mengenal budayanya. Dalam ungkapan dikatakan: pula hutan tanah yang menjadi milik persukuan Kalau tidak ada laut,hampalah perut atau kaum masyarakat tertentu yang lazim disebut Bila tak ada hutan,binasalah badan ” tanah wilayat” (tanah ulayat) dan sejenisnya yang Dalam ungkapan lain dikatakan: secara umum disebut “ tanah adat”.

Pada masa dulu, pemilikan, penguasaan, dan pemanfaatan hutan tanah Kalau binasa hutan yang lebat, yang tergolong tanah adat dikukuhkan oleh raja Rusak lembaga hilanglah adat melalui surat keputusan. Ungkapan-ungkapan di atas secara jelas Setelah Indonesia merdeka, hampir seluruh hak menunjukkan bersebatinya hubungan antara orang atas tanah adat tidak lagi diakui, sehingga pemilikan, Melayu dengan alam sekitarnya.

Kebenaran isi pemanfaatan, dan penguasaanya tidak lagi dapat ungkapan ini secara jelas dapat dilihat dalam kehidupan diatur oleh adat. Akibatnya, terjadi perusakan hutan mereka sehari-hari. Secara tradisional, mereka secara di mana-mana.

Masyarakat tempatan yang secara turun temurun hidup dari hasil laut dan hasil hutan turun temurun merasa menguasai dan memiliki atau mengolah tanah. Secara turun temurun pula hutan tanah itu tidak dapat berbuat apa-apa, karena mereka memanfaatkan hasil hutan untuk berbagai mereka tidak lagi diakui sebagai pemiliknya. Hal ini keperluan, membuat bangunan, membuat alat dan menyebabkan banyak terjadinya sengketa tanah yang kelengkapan rumah tangga, alat dan kelengkapan timbul setelah adanya bangunan atau perkebunan di nelayan, alat berburu, alat bertani, dan sebagainya, kawasan itu, ketika hutan tanah itu diperjualbelikan termasuk untuk ramuan obat tradisionalnya.

atau dipindahkan hak kepemilikan, penguasaan, dan Menyadari eratnya kaitan antara kehidupan pemanfaatan ke pihak lain. manusia dengan alam, menyebabkan orang Melayu Petuah amanah Melayu yang amat memperhatikan berupaya memelihara serta menjaga kelestarian dan kelestarian dan keseimbangan alam lingkungan keseimbangan alam lingkungannya.

Dalam adat banyak berisi tunjuk ajar pantang larang dan acuan istiadat ditetapkan “ pantang larang” yang berkaitan masyarakat agar tidak sampai merusak alamnya, dengan pemeliharaan serta pemanfaatan alam, mulai antara lain (Effendi, 2004). dari hutan, tanah, laut dan selat, tokong dan pulau, suak dan sungai, tasik dan danau, sampai kepada tanda orang memegang adat kawasan yang menjadi kampung halaman, dusun, alam dijaga, petuah diingat ladang, kebun, dan sebagainya.

tanda orang memegang amanah pantang merusak hutan dan tanah Kutubkhanah, Vol. 16 No. 1 Januari – Juni 2013 tanda orang memegang amanat terhadap alam berhemat cermat tanda orang berpikir panjang merusak alam ia berpantang tanda orang berakal senonoh, menjaga alam hatinya kokoh tanda orang berbudi pekerti, merusak alam ia jauhi tanda orang berpikir luas, memanfaatkan hutan ianya awas tanda orang berakal budi, merusak hutan ia tak sudi tanda ingat keanak cucu, merusak hutan hatinya malu tanda ingat kehari tua, laut dijaga, bumi dipelihara tanda ingat kehari kemudian, taat menjaga laut dan hutan tanda ingat kepada Tuhan, menjaga alam ia utamakan tanda ingat hidup kan mati, memanfaatkan alam berhati-hati tanda ingat adat lembaga, laut di kungkung hutan dijaga tanda ingat ke masa datang, merusak alam ia berpantang siapa mengenang anak cucunya, bumi yang kaya takkan dirusaknya siapa sadar dirinya khlifah, terhadap alam takkan menyalah apa tanda hidup beriman, tahu menjaga kampung halaman apa tanda hidup berilmu, memelihara alam ianya tahu apa tanda hidup terpuji, alam sekitar ia santuni apa tanda hidup berakal, memelihara alam menjadi bekal apa tanda hidup bermanfaat, mengunakan alam berhemat-hemat apa tanda hidup menenggang, menjaga alam mengikut undang adat hidup orang beriman, tahu menjaga laut dan hutan tahu menjaga kayu dan kayan tahu menjaga binatang hutan tebasnya tidak menghabiskan terbangnya tidak memusnahkan bakarnya tidak membinasakan adat hidup memegang adat, tahu menjaga laut dan selat tahu menjaga rimba yang lebat tahu menjaga tanah wilayat tahu menjaga semut dan ulat tahu menjaga togok dan belat tahu menebas memegang adat tahu menebang memegang amanat tahu berladang menurut undang tahu berkebun menurut kanun beramu tidak merusak kayu berotan tidak merusak hutan bergetah tidak merusak rimba berumah tidak merusak tanah berkebun tidak merusak dusun berkampung tidak merusak gunung berladang tidak merusak padang adat hidup memegang amanah, tahu menjaga hutan dan tanah tahu menjaga bukit dan lembah berladang tidak merusak tanah berkebun tidak merusak rimba Orang tua-tua dalam petuah amanahnya secara jelas menunjukkan manfaat pelestarian dan menunjukkan pula keburukan merusak alam.

Dalam ungkapan dikatakan: kalau hidup hendak selamat, peliharalah laut beserta selat peliharalah tanah berhutan lebat di situ terkandung rezeki dan rahmat di situ terkandung tamsil ibarat di situ terkandung aneka nikmat di situ terkandung beragam manfaat di situ terkandung pertuah adat kalu terpelihara hutan dan tanah banyak manfaat besar faedah bila tersesak panjanglah langkah bila sempit lari ketanah kalau terpelihara alam lingkungan, banyak manfaat dapat dirasakan: ada kayu untuk beramu ada tumbuhan untuk ramuan ada hewan untuk buruan ada getah membawa faedah ada buah membawa berkah ada rotan penambah penghasilan Husni Thamrin: Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan (The Lokal Wisdom in Environmental Sustainable) kalau terpelihara alam sekitar, manfaatnya banyak faedahnya besar di situ dapat tempat bersandar di situ dapat tempat berlegar di situ dapat membuang lapar di situ adat dapat didengar di situ kecil menjadi besar di situ sempit menjadi lebar apabila rusak alam sekitar, sempit tidak dapat berlegar goyah tidak dapat bersandar panas tidak dapat mengekas hujan tidak dapat berjalan teduh tidak dapat berkayuh apabila alm sudah binasa, balak turun celaka tiba hidup melarat terlunta-lunta pergi kelaut malang menimpa pergi kedarat miskin dan papa apabila alam menjadi rusak, turun temurun hidup kan kemak pergi kelaut ditelan ombak pergi kedarat kepala tersundak hidup susah dadapun sesak periuk terjerang nasi tak masak apabila alam menjadi punah, hidup dan mati tak kan semenggah siang dan malam ditimpa musibah pikiran kusut hati gelabah apabila rusak alam lingkungan, di situlah punca segala kemalangan musibah datang berganti-gantian celaka melanda tak berkesudahan apabila rusak alam lingkungan, hidup sengsara binasalah badan cacat dan cela jadi langganan hidup dan mati jadi sesalan apabila alam porak poranda, di situlah timbul silang sengketa aib datang malu menimpa anak cucu hidup merana siapa suka merusak alam, akalnya busuk hatinya lebam siapa suka membinasakan alam, akal menyalah hatipun hitam siapa suka merusak lingkungan, tanda hatinya sudah menyetan siapa merusak hutan dan tanah, akalnya bengkok hatinya serakah siapa merusak laut dan sungai, itulah tanda buruk perangai siapa merusak tokong dan pulau, samalah ia seperti kerbau siapa merusak rimba larangan, tanda tak ingat hari kemudian siapa merusak danau dan tasik, tanda hatinya sudah fasik siapa merusak teluk dan tanjung, tanda batinnya culas dan lancung siapa merusak lembah dan bukit, tanda hatinya mengidap penyakit siapa merusak kampung halaman, tanda hidupnya tidak beriman siapa merusak dusun dan ladang, samalah ia dengan binatang siapa merusak alam sekitar, samalah dosanya berbuat makar siapa merusak kayu kayan, hati berlumut akal menyeman tanda orang tidak berbudi, hutan dan tanah ia habisi tanda orang tidak beriman, alam sekitar ia rusakkan tanda orang tidak berakhlak, sungai di kotori hutan dirusak tanda orang tidak berakal, hutan diramba tanah dijual tanda orang tidak bermarwah, hidup merusak hutan dan tanah tanda orang tidak beradat, laut dirusak hutan dibabat tanda orang tidak amanah, merusak alam karena serakah tanda orang hati berbulu, merusak alam ia tak malu tanda orang berhati kejam, kerjanya selalu merusak alam tanda orang berhati busuk, merusak alam ia kemaruk tanda orang tak mensyukuri nikmat, memanfaatkan alam tak tahu hemat tanda orang tak tahu diri, merusak alam setiap hari Contoh ungkapan di atas secara nyata menunjuk- kan betapa buruknya pandangan orang Melayu terhadap siapa saja yang merusak alam lingkungan, mencemarkan kelestarian dan tanpa memikirkan akibatnya bagi kehidupan masa kini dan anak cucunya tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah kemudian hari.

Manusia dengan makhluk sosial memiliki kebudayaan secara unik. Bentuk kebudayaan dapat Kutubkhanah, Vol. 16 No. 1 Januari – Juni 2013 berubah, disintesakan, menonjol dan juga dapat punah. tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah mengikat bersama dengan struktur dari setiap Keadaan ini terjadi disebabkan manusia dihadapkan masyarakat. Penghargaan dan hukuman didasari pada peraturan-peraturan yang ada dalam kehidupan. pada nilai yang umumnya dipegang orang-orang Apabila manusia-manusia ini berkelompok dan hidup yang mencapai status yang tinggi akan melakukan serta bekerja bersama akan membentuk masyarakat.

hal-hal tersebut berkaitan dengan sistem tingkatan Pandangan hidup yang digunakan masyarakat adalah kebudayaan, dan nilai-nilai ini diekspresikan dengan kebudayaan. Hal ini berarti kebudayaan mengikat cara-cara simbolik melalui makanan, pakaian, bahasa, masyarakat tertentu secara bersama termasuk dalam perilaku, di mana semuanya itu membawa pesan hal perilaku dan moral, alat-alat yang digunakan, serta implisit mengenai sesuai yang baik dan buruk.

Hal teknik-teknik yang dilakukan dalam melaksanakan yang mudah menyebar dari nilai memberikan setiap kehidupan sehari-hari. orang rasa memiliki, rasa menjadi anggota masyarakat setempat, perasaan untuk bergabung dengan manusia Manusia memiliki kesamaan dalam sifat-sifat tertentu di manapun dan kapanpun.

Salah satu lain yang bertanggung jawab terhadap kehidupan yang baik. Tetapi sifat dasar dari moral setiap kebudayaan karakter manusia yang bersifat unik adalah kapasitas memiliki dua segi, yaitu dari satu segi memfasilitasi manusia dalam penalaran konseptual. Kapasitas manusia untuk berpikir dan mengkomunikasikan adaptasi dan kelangsungan hidup dan segi yang lain penalaran membuat manusia berbeda dari makhluk hidup lain.

Kelanggengan tradisi dan penggunaan Kehidupan manusia tergantung pada adat alat-alat tergantung pada anggota masyarakat dengan kebudayaan yang membutuhkan setiap indivudu kebudayaannya yang memiliki kapasitas penalaran menjadi spesialis, terikat pada beberapa nilai dan konseptual tersebut.

Karakter manusia yang memiliki memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari kesamaan adalah keluarga sebagai sifat umum masyarakat tunggal, spesialisasi ini mengarah manusia secara biologis.

pada perbedaan yang berakibat pada banyaknya Relativisme kebudayaan terletak pada premis kebudayaan yang berlawanan. Sumber daya terbesar kita untuk beradaptasi dengan lingkungan yang yang memungkinkan untuk terpencil dan bebas dari pembuatan pertimbangan nilai.

Doktrin ini berbeda (kapasitas untuk menciptakan kebudayaan yang berbeda) telah menjadi sumber bahaya yang berdasarkan empat proposisi yang saling berhubungan terbesar. Perbedaan dibutuhkan untuk kehidupan seperti berikut: dalam celah ekologi dari bumi, tetapi dapat merusak 1.

Sistem nilai kearifan lokal orang Melayu Riau pada saat seluruh orang tiba-tiba menemukan bahwa dalam pelestarian lingkungan merupakan akibat mereka berada pada celah yang sama. Banyak spesies dari pengalamannya, misalnya apa yang telah yang menjadi punah karena ketidakmampuan mereka dipelajari. beradaptasi dengan lingkungan alam yang berubah 2.

Nilai-nilai kearifan lokal orang Melayu dalam dan kebudayaan yang merupakan alat kehidupan pelestarian lingkungan merupakan manifestasi yang memungkinkan kita memenuhi kondisi alami individu dari masyarakat Melayu yang muncul dari tradisinya.

dengan lingkungan manusia yang berubah. 3. Nilai bersifat relatif sesuai dengan masyarakat Banyak perilaku yang termasuk interaksi dengan dimana nilai itu terjadi. lingkungan adalah perilaku yang dipelajari menjadi bagian pelajaran baru dari respon kelompok manusia 4. Tidak ada nilai yang bersifat universal, tetapi kita tertentu, atau disebut kebudayaan. Banyak penelitian harus menghargai nilai dari setiap kebudayaan mengenai hubungan antara perilaku kebudayaan dan dunia.

fenomena lingkungan yang telah dilakukan untuk Relativisme kebudayaan telah memungkinkan menjadikan perilaku kebudayaan dapat dipahami masyarakat yang tidak terinformasi untuk memahami segala sesuatu yang muncul sebagai perilaku yang aneh perilaku itu berkembang (Vayda, A P. 1969: 1). dan tidak bermoral (Spradley and McCurdy, 1987: 6). Setiap sistem sosial memiliki susunan moral, nilai yang terbentuk bertindak sebagai sebuah campuran merupakan sumber dasar dan karenanya pantas untuk Husni Thamrin: Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan (The Lokal Wisdom in Environmental Sustainable) mendapatkan perhatian yang sama besar dengan Ada yang hidup belit membelit idiologi, penelitian manusia, praktik kebudayaan, Ada yang hidup himpit menghimpit sejarah masa lalu, kategori bahasa, pola motivasi, Ada yang hidup jalar menjalar struktur kepribadian, dan faktor-faktor lain yang Ada yang hidup tumpang menumpang serupa yang ingin ditekan oleh ahli antropologi dan Ada yang menumpang sampai mati Ada yang hidup melata tanah ahli sosial lainnya dalam usaha membuat perilaku Ada yang hidup menjadi pucuk kebudayaan dapat dipahami.

Demikian itu laku manusia Dua cara utama dalam menghubungkan perilaku Dari dahulu sampai sekarang kebudayaan Melayu Riau dan fenomena lingkungan (Thamrin, 2010). dapat dibedakan: (1) menunjukkan bahwa elemen- elemen perilaku kebudayaan berfungsi sebagai bagian Setiap masyarakat merupakan wadah dari kebudayaan, yaitu suatu sistem yang menarik dari sistem yang juga meliputi fenomena lingkungan. Pendekatan pertama ini menjadikan praktik kebudayaan perikelakuan dari semua orang atau anggotanya ke arah suatu inti dari sistem yang bersangkutan dapat dipahami dengan cara menunjukan bagaimana (Djajadiningrat, 2001: 101-102).

Semua makhluk sesuatu bekerja. Pendekatan ini terutama tertarik pada hidup, termasuk manusia mempunyai pola tingkah laku deskripsi atau analisis sistemik. (2) menunjukkan yang sebagian ditentukan oleh hereditas, tetapi hanya bahwa fenomena lingkungan bertanggung jawab manusia yang mengembangkan pola-pola tingkah timbul dan berkembangnya perilaku kebudayaan. laku sosial yang dikukuhkan melalui kebudayaan.

Pendekatan kedua ini menjadikan praktik kebudayaan Pola tingkah laku manusia didasarkan pada pengaruh dapat dipahami dengan cara mencoba menjawab biologis, sosial dan kultural. Keberadaan kebudayaan pertanyaan mengenai evolusi kebudayaan tersebut. membawa implikasi lingkungan sosial di mana Pendekatan ini lebih menfokuskan pada asal mula manusia dengan potensi bawaannya untuk bertingkah dan perkembangan. laku didorong untuk belajar bertingkah laku dengan Kebudayaan muncul bila ada masyarakat, cara-cara sebagai manusia.

sebaliknya tidak ada masyarakat tanpa budaya, di mana setiap kebudayaan yang hidup dalam suatu Aspek yang penting dari proses pembudayaan adalah pewarisan nilai-nilai dan norma-norma.

Nilai- masyarakat dapat berwujud sebagai masyarakat nilai adalah sesuatu yang diakui orang berdasarkan desa, sebagai masyarakat kota, sebagai kelompok perasaan sebagai sesuatu yang tersusun rapi. Berkaitan kekerabatan, atau kelompok adat yang lain, biasa dengan ini dapat dilihat dalam ungkapan kearifan menampilkan suatu corak khas, terutama yang terlihat lingkungan orang Melayu sebagai berikut: orang luar, bukan warga masyarakat yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1990: 263).

Demikian pula halnya Ungkapan Adat tentang “ Tanah Peladangan” dengan adat Melayu yang merupakan kebudayaan “ Ada apa dengan tanah peladangan Melayu, karena ada masyarakat Melayu yang Tempat berladang sepanjang buat merupakan unsur pendukungnya.

Tempat menanam padi beragam Kebudayaan Melayu sarat dengan nilai-nilai Tempat berpindah berganti musim Walau berpindah disitu juga kearifan lingkungan ini dapat dilihat pada ungkapan Walau beralih kesana juga tentang pemeliharaan hutan sebagai teladan sebagai Beralih tidak merusak rimba berikut: Berpindah tidak merusak alam Bersalin tidak merusak sungai Berganti tidak merusak gunung Tilik dan simak kayu di rimba Ladang dibuat menuruti adat Ada yang lurus ada yang bengkok Ada disebut adat berbanjar Ada yang condong ada yang tegak Ada disebut adat bersolang Ada yang berbongkol ada yang licin Ada disebut adat bertobo Ada yang berduri ada yang tidak Ada disebut adat bepiari Ada yang gatal ada yang miang Ada disebut adat betayan Ada yang hidup tindih menindih Ada disebut adat membenih Ada yang hidup pilin berpilin Ada disebut adat membakar (Thamrin, 2010).

Kutubkhanah, Vol. 16 No. 1 Januari – Juni 2013 Orang Melayu dapat berbuat terhadap nilai otentik terhadap masalah-masalah lingkungan kearifan lingkungan dengan jalan memikirkan, berikut pengelolaannya untuk sebaik mungkin mengakui, menghargai, dan mendorongnya. Nilai manfaat dan keseimbangannya. Selanjutnya, budaya orang Melayu adalah konsepsi buatan manusia karya ini bisa memperkaya argumen konservasi mengenai apa yang diinginkan dalam pengalaman lingkungan dari sisi relasinya tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah pola-pola manusia Melayu.

Nilai merupakan sesuatu yang luas kerja sama antara Islam dengan pihak-pihak menarik bagi kita, sesuatu yang kita cari, sesuatu lain dalam perawatan dan pelestarian lingkungan.

yang menyenangkan, sesuatu yang di sukai dan diinginkan, singkatnya sesuatu yang baik (Bertens, Sumber-sumber syari’ ah cukup mampu mendasari 2001: 139). Nilai-nilai itu sangat penting artinya sikap-sikap etis manusia dalam interaksinya dengan bagi kestabilan suatu masyarakat, di mana yang alam. Sikap-sikap etis tersebut, menurut Ozdemir, terpenting dari nilai tersebut adalah solidaritas dan merupakan sikap dasar yang diajarkan Tuhan kepada nilai kekuasaan.

Sedangkan yang dimaksud dengan manusia sebagai khalifah-Nya. Kegagalan dalam norma adalah aturan atau kaedah yang kita pakai menjalankan tugas-tugas etis semacam ini akan sebagai tolak ukur untuk menilai sesuatu (Bertens, menentukan fungsi dan posisi manusia sebagai wakil 2001: 148). Norma merupakan patokan perilaku dari Tuhan itu. Dalam perspektif Ozdemir, fungsi khalifah semua anggota masyarakat, yang mengatur interaksi dalam Islam merupakan suatu konsep utama yang antar individu yang berisi dua komponen penting: (1) dapat menentukan baik-buruknya lingkungan di kesepakatan antara kelompok anggota masyarakat muka bumi.

tentang tingkah laku yang dijalankan atau tidak boleh Karya-karya tentang Islam dan konservasi dijalankan. (2) mekanisme pelaksanaan kesepakatan lingkungan serta varianya dalam perspektif tersebut.

Norma-norma perilaku dibedakan dalam environmentalism belum banyak dilakukan. Banyak cara-cara berbuat dari orang biasa (Folkway), seperti: menepati janji, memberikan sesuatu dengan tangan maupun yang sudah punah, dan terutama sekali, dari kanan.

Folkway dipandang tidak begitu penting dan lima mazhab utama sebenarnya telah menyinggung hukumnya pun ringan andaikan dilanggar. Berbeda komponen-komponen lingkungan seperti thahar ah, halnya dengan mores yang dipandang sangat penting konsep hima, ihya al-mawat, al-dharuriyyat al- dan pelanggarannya mendapat hukuman. khams, dan lain-lain dalam susunan kitab Fikih serta nya, namun hal itu hanya dikemukakan sebagai konsep etika Islam secara generik dan belum Dalam studi keagamaan, ekologi memasuki suatu menyajikan rumusan aplikatif konservasi lingkungan.

konsep sentral, yakni sebagai gerakan pelestarian I slam dan Pelestarian Lingkungan Harus diakui bahwa percikan-percikan kearifan dan perlindungan alam. Ekologi juga sebagai suatu lingkungan, dalam arti gagasan-gagasan yang perspektif dan metode dalam studi agama.

Makna mendukung tindakan konservasi lingkungan, dari religius ecological conser vatism adalah suatu khazanah Islam dapat ditemukan dalam tradisi teologi, gerakan di kalangan kelompok keagamaan dan tasawuf, dan konsep etika Islam yang ditulis oleh para di kalangan para pemikir serta intelektual agama, intelektual Muslim di abad-abad ke-10 (Ibnu ‘ Arabi, seputar pemanfaatan alam dalam peradaban 1972; Chittick, 1990; Murata, 1996).

Tradisi kearifan modern. Ia juga mengajak bertanggung jawab atas linkungan itu kemudian diberi penjelasan ekologis penjagaan dan perawatan keseimbangan alam, oleh pemikir Islam kontemporer, yang terdepan di dengan mengembangkan pelbagai tafsiran di dalam antaranya adalah Seyyed Hossein Nasr dan Ziauddin Sardar.

Dua nama ini telah berkontribusi besar pada beberapa karya teologis.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

Islam mengulas sisi-sisi peningkatan kesadaran dunia Islam akan krisis-krisis kearifan lingkungan sebagaimana ditunjukkan dari lingkungan. Hossein Nasr, misalnya, menulis tema- perhatian al-Qur’ an pada masalah air (Faruqui tema Islam dan lingkungan sejak 1960-an melalui et.al. 2001) menyayangi binatang (http://www.

karya An Introduction to Islamic Cosmological Readingislam. com/servlet/satellite?c=article Doctrines dan Man and Nature: Spiritual Crisisi of C& cid, diakses pada 20 September 2008), merawat Moder n Man (1978).

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

Meski Nasr dipengaruhi oleh kebersihan dalam arti luas, dan lain sebagainya. karya-karya Barat yang memekikkan keprihatinan Islam justru telah mengawali suatu kepedulian pada degradasi lingkungan seperti dilakukan oleh Husni Thamrin: Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan (The Lokal Wisdom in Environmental Sustainable) David Henry Thoreau (1817-1862).

Sejak awal abad Pengayaan-pengayaan kearifan etis dari karya- ke-19, namun Nasr menampilkan gagasan otentiknya karya di atas dapat melengkapi bahan baku-bahan yang sangat kritis pada peradaban barat yang terlalu baku konservasi lingkungan dari perspektif syari’ ah. antroposentris. Menyusul Nasr adalah Ziauddin Ini relevan dengan sifat pemahaman syari’ ah Sardar (1985)yang mengusung tema-tema Islam dan lingkungan dalam perspektif ekologi modern. tuntutan aktual masyarakat (Tahqiqul Mashalihal Penting dikemukakan bahwa pemakaian istilah ibad) sebagaimana dikemukakan al-Mahmasani.

Watak dinamis pemahaman syari’ ah semacam konservasi lingkungan berbasis syari’ ah dalam studi ini adalah mencakup karya teologi lingkungan Islam ini memungkinkannya melakukan eksplorasi dan meningkatkan kapasitasnya dalam dunia yang sedang terancam kepunahannya oleh krisis-krisis lingkungan.

Kerangka pemahaman terhadap Syari’ ah semacam makna ini dilakukan untuk mengintegrasikan potensi ini juga dapat menemukan relevansinya dengan nafas kearifan lingkungan yang berasal dari syari’ ah, yakni: al-Qur’ an, hadits, dan interpretasi dari keduanya gerakan environmentalisme global. yang wujudnya adalah teologi, tasawuf, akhlak, dan Karena itu, membangun konservasi lingkungan al-Fiqh al- sebagai tujuan tertinggi syari’ ah ke dalam kerangka- Akbar- nya Abu Hanifah (w.

150H/767 M) yang yang kerangka yang lebih tegas dan melekat dalam di dalamnya membahas masalah-masalah dogma, konteks global telah menjadi sesuatu yang sangat teologi, dan juga hukum Islam (cf. Rahman, 1997: urgen. Sejumlah ulama dari intelektual seperti Yusuf 142-143). Jadi, konservasi lingkungan sebagai Qardhawi, Musthafa Abu-Sway, Mawi Y.

Izz Deen, tujuan tertinggi syari’ ah dalam konteks studi ini di samping nama-nama yang disebut terdahulu adalah adalah keseluruhan konsep kearifan dan etika merupakan nama-nama penting yang meretas lingkungan Islam yang bersumber dari syari’ ah.

Yang dibicarakan bukan berfokus pada ahkam, tapi lebih khazanah kearifan lingkungan yang berkontribusi pada keseluruhan konsep etis syari’ ah. pada konservasi lingkungan dari sisi ajaran agama Islam. Selanjutnya, studi-studi tentang Islam dan konservasi lingkungan juga dilakukan oleh non- Jadi, narasi-narasi besar Islam dan lingkungan muslim yang semuanya itu memperkuat basis di atas dapat menjadi basis rekonstruksi pemahaman konservasi lingkungan berbasis syari’ ah di dunia syari’ ah dalam upaya Islam merespons dan ikut ambil Islam kontemporer.

Nama-nama yang terpenting bagian di dalam gerakan global konservasi lingkungan antara lain adalah Richard C. Foltz, Mary Evelyn dan langkah-langkah antisipasinya.

Tugas generasi Tucker & Jhon Grim (1994), Audrey R. Chapman selanjutnya adalah mengembangkan, memperbesar (2000), dan L. Kaven Afrasiabi (2002). Mereka kapasitas, dan mengimplementasikan baik di tingkat lokal, regional, maupun internasional. Baik dalam Islam yang dianggap mampu menjadi instrumen kerangka perbaikan mutu lingkungan internal atau konservasi lingkungan serta menjadi respons Islam dosmetik umat Islam.

atas krisis lingkungan dalam arti yang luas. Dalam Dari kerangka pemikiran tersebut di atas dapat karya-karya mereka terungkap sebuah keyakinan ditegaskan bahwa penelitian tentang argumen bahwa konsep etis lingkungan Islam itu dapat menjadi konservasi lingkungan sebagai tujuan tertinggi basis tindakan tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah terhadap alam di tengah syari’ ah memiliki basis teoretik dan ilmiah.

Selain tumpulnya hukum dan konvensi-konvensi sekuler itu, studi ini bukan merupakan suatu duplikasi atau yang ada. Karya-karya mereka, tentu saja, sangat repetisi dari berbagai studi yang sudah ada, tetapi berguna untuk memperkuat basis intelektual dan tetapi berusaha memberikan penekanan yang lebih spiritual Muslim di dalam mengeksplorasi konsep- besar pada urgensi konservasi lingkungan di dalam konsep konservasi lingkungan berbasis syari’ ah kerangka ajaran syari’ ah.

dalam sorotan kerjasama global mengatasi krisis lingkungan. Dengan demikian, karya-karya tersebut Kearifan Sistem Budaya M elayu Riau baik dari kalangan Muslim sendiri maupun non- Muslim dapat menjadi basis teoretik kajian dalam Sistem budaya masyarakat Melayu di Riau kajian ini.

mempunyai muatan yang baik untuk mengelola Kutubkhanah, Vol. 16 No. 1 Januari – Juni 2013 lingkungan dengan gaya yang harmonis. Dalam sistem Kalau hidup hendak selamat budaya orang Melayu di Riau bisa terbaca dengan Peliharalah laut dengan selat jelas bagaimana nilai-nilai budaya mereka memberi Peliharalah tanah berhutan lebat pedoman dan arah agar lingkungan terpelihara.

Disitulah terkandung rezki dan rahmat Semuanya terkandung dalam berbagai aspek budaya Disitulah terkandung tamsil ibarat mereka, baik secara lisan maupun dalam tindakan Disitulah terkandung aneka nikmat perbuatan yang nyata.

Pesan utama ini kemudian dirangkai oleh Perhatikan perumpamaan Melayu yang berbunyi orang arif tersebut dengan tanda-tanda orang yang “ bagaikan aur dengan tebing”.

Perumpamaan itu menghargai alam lingkungan, sebagai insan yang melukiskan betapa eratnya kesatuan aur dengan tahu bersyukur kepada Tuhan. tebing. Aur memerlukan tebing tempat tumbuh, tetapi Tanda orang memegang adat tebing jadi selamat (tidak runtuh) karena ada aur.

Oleh Alam dijaga betul diingat karena itulah ungkapan ini dipakai untuk memberi Tanda orang memegang amanah pelajaran metaforik kepada pasangan suami-istri yang Pantang merusak hutan dan tanah akan memasuki kehidupan berumah-tangga. Hidup Tanda orang berpikir panjang yang indah adalah hidup yang saling memerlukan dan Merusak alam ia berpantang saling menguntungkan dalam tatanan yang harmonis.

Tanda orang berakal senonoh Menjaga alam hatinya kokoh Dari perumpamaan itu dapat diketahui bahwa Tanda orang berbudi pekerti orang Melayu mempunyai kebiasaan yang baik Merusak alam ia jauhi dalam menjaga tebing sungai.

Mereka telah lama Tanda ingat ke anak-cucu menyadari betapa besar bahayanya kalau tebing Merusak hutan hatinya malu sungai itu runtuh. Dari pengalaman untuk menahan Tanda ingat kehari tua tebing sungai tidak runtuh, aur ditanam di tebing Laut dijaga bumi dipelihara sungai itu.

urat-urat aur yang halus dan lentur akan Tanda ingat ke hari kemudian Taat menjaga laut dan hutan dapat memegang dan menahan tanah tebing sehingga Tanda ingat kepada Tuhan selamat dari keruntuhan.

Menjaga alam ia utamakan Orang Melayu yang berladang di daerah daratan Tanda ingat hidupkan mati mempunyai kebiasaan menanam rumbia dan rumbai Memanfaatkan alam berhati-hati di tepi ladang mereka. Tanaman rumbia dan rumbai Tanda ingat adat lembaga laut dikungkung hutan di telah membuat ladang mereka mendapat cadangan jaga Siapa yang mengenang anak-cucunya simpanan air ketika tiba musim kemarau karena Bumi yang kaya takkan di rusaknya tanaman ini dapat menyimpan air.

Sementara itu, Siapa sadar dirinya khalifah rumbia dapat di jadikan barang anyaman, diantaranya Terhadap alam takkan menyalah dibuat jadi kembut untuk alat pengangkut padi. Pohon Apa tanda hidup berilmu pohon rumbia lebih banyak lagi kegunaannya.

Daun Memeliharanya alam ianya tahu rumbia dijadikan atap, sedangkan sagunya bisa diolah Apa tanda hidup terpuji menjadi bahan makanan kalau ladang mereka tidak Alam sekitar ia santuni selamat. Apa tanda hidup menenggang Menjaga alam mengikuti undang Cara tetua orang Melayu di Riau member kearifan kepada anak cucu dan kemenakannya, agar menjaga Orang Melayu di Riau yang telah mengambil dan memlihara alam lingkungan telah dikumpulkan Islam sebagai jalan hidupnya, melihat dengan arif bidal, gurindam, dan pantun oleh seorang budayawan betapa hubungan antara keimanan dengan alam.

anak jati Riau, Tenas Effendy (1994) dalam bukunya Sebagaimana al-Qur’ an mengatakan bahwa “ telah bertajuk Tunjuk Ajar Melayu. Untuk memelihara timbul kerusakan di daratan dan di lautan ol eh tingkah kekayaan alam lingkungan, cendekiawan Melayu laku perbuatan manusia”.

Keimanan seseorang zaman bahari berpesan kepada pewaris budaya itu tidak hanya sekedar yang tapak pada ketaatan Melayu, dalam rangkaian kata yang bersayap: melakukan syariat, tetapi juga harus terlukis dalam sikap dan perbuatan. Inilah yang menjalin budaya Husni Thamrin: Kearifan Lokal dalam Pelestarian Lingkungan (The Lokal Wisdom in Environmental Sustainable) Melayu dengan agama Islam, sehingga penampilan budaya Melayu berkadar Islam. Hidup hendaklah dikawal oleh agama, adat dan resam yang baik.

Adat bertumpu pada agama, bagaikan tiang berpijak pada sendirinya. Jika tidak begitu, hidup akan binasa, ibarat tiang tanpa sendi, akan lupuk dimakan karat. Agama memberi panduan hidup dan mati, adat mengawal agar hidup mulia sedangkan resam (tradisi) membuat hubungan harmonis dengan alam.

Maka, orang yang beriman, beradat dan beresam yang baik, akan memelihara hubungan dengan Tuhan, manusia dan alam sebab tidak ada satupun yang diciptakan Tuhan dengna sia- sia. Inilah jalan manusia menuju menjadi makhluk mulia, sebagaimamna tertulis dalam kata bersajak berikut ini.

Bagi orang Melayu manusia harus menyadari dia berada di muka bumi sebagai khalifah, yakni seorang yang bertindak sebagai pemelihara segala kekayaan Tuhan. Dia muncul bukan untuk mengharu-biru, demi ambisi dan nafsu serakahnya, tetapi bertindak fauna, sehingga mendapat sebesar-besar manfaat dari situ.

Kalau terpelihara hutan tanah Banyak manfaat besat faedah Bila tersesak panjanglah langkah Bila sempit lari ketanah Kalau terpelihara alam lingkungan Banyak manfaat dapat dirasakan Ada kayu untuk beramu Ada tumbuhan utnuk ramuan Ada hewan untuk buruan Ada getah membawa faedah Ada buah membawa berkah Ada rotan penambah penghasilan Kalau terpelihara alkam sekita Manfaatnya banyak, faedahnya besar Di situ dapat tempat bersandar Di situ dapat tempat berlegar Di situ dapat membuang lapar Di situ dapat di dengar Di situ kecil menjadi besar Di situ sempit menjadi lebar Ketika manusia tidak dikawal dengan agama, tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah dipandu dengan adat, dan tidak mempunyai tradisi yang baik, maka dia akan mendatangkan bencana.

Namun kemudian, kerusakan itu akan berbalik mengancam manusia itu sendiri. Ini yang akan mempercepat kiamat dari sudut pandang budaya manusia, meskipun kiamat yang sebenarnya adalah rahasia Allah semata. keadaan ini sudah disebut oleh pemuka adat Melayu: Apabila rusak alam sekitar Sempit tidak dapat berlegar Goyah tidak dapat bersandar Panas tidak dapat mengekas Hujan tidakdapat berjalan Teduh tidak dapat berkayuh Apabila alam sudah binasa Balak turun celaka tiba Hidup melarat terlunta-lunta Pergi ke laut malang menimpa Pergi ke darat miskin dan papa Apabila alam menjadi rusak Turun temurun hidupkan kemak Pergi ke laut di telan ombak Pergi kedarat kepala tersundak Hidup susah dadapun sesak Periuk terjerang nasi tak masak Kutubkhanah, Vol.

16 No. 1 Januari – Juni 2013 Apabila alam menjadi punah lembaga adat dan penerapan nilai-nilai kearifan Hidup dan mati takkan semenggah lingkungan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Siang dan malam ditimpa musibah Pikiran kusut hati gelebah Catatan: (Endnotes)
Hal itu semua tak luput dari tanda-tanda kebesaranNya. Meskipun segala fenomena alam di muka bumi ini atau hal-hal yang dirasa aneh yang kita temui, kita tidak bisa menganggap itu sebagai hal yang berlebihan.

Tetapi, justru segala kehadiran dari fenomena tersebut tak terkecuali menjadi peringatan bagi kita untuk mempertebal keyakinan serta keimanan kita kepada Allah SWT. Agar Anda lebih mengerti mengenai tanda-tanda kebesaran Allah yang dapat kita rasakan, berikut ini kami telah rangkum 8 tanda-tanda kebesaran Allah dalam Alquran, yang dilansir dari cerdika.com BACA JUGA: Penyebab Cuaca Panas di Indonesia Belakangan Ini, Berikut Penjelasannya Wisata Gunung Salak yang Wajib Diketahui, Unik dan Instagramable Ataupun bagaimana terbentuknya bahtera laut yang sangat luas di sekeliling kita?

Dan sungguh semua itu hal yang mudah bagi Allah, Allah Ta’ala telah berfirman : وَمِنْ آَيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal di tengah (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung.” (QS.

Asy Syura: 32). 2. Burung-burung di Langit BACA JUGA: Interaksi Manusia dan Lingkungan Hidup, Penting Diketahui 13 Kata-Kata Bijak dari Lagu Barat Tentang Cinta, Mimpi dan Kehidupan, Penuh Makna Tanda-tanda kebesaran Allah dalam Alquran yang berikutnya adalah adanya burung-burung yang beterbangan di langit dengan bebas. Apakah Anda pernah berpikir bahwa bagaimana seekor burung dapat dengan mudah terbang di angkasa dan tanpa ada satupun penopang di sekelilingnya?

Apakah hal itu semua berkat hewan ini memiliki sayap? Atau bisa jadi karena adanya kebesaran Allah? Dan sungguh jawabannya telah Allah jelaskan dalam firmanNya : أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلا اللَّهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ “Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang diangkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman.” (QS.

An Nahl: 79) Adanya Siang dan Malam serta Batasan Sungai dan Laut ©©shutterstock.com/leungchopan 3. Adanya Siang dan Malam Tanda-tanda kebesaran Allah dalam Alquran yang berikutnya adalah adanya siang dan malam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ﴾ BACA JUGA: 9 Penyebab Lidah Mati Rasa yang Wajib Diwaspadai, Salah Satunya Diabetes 6 Tempat Wisata Kota Malang Terpopuler, Wajib Dikunjungi “Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya ialah malam dan siang, matahari, dan bulan.

Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS.

Al-Fussilat]: 37) 4. Pembatas Antara Air Sungai dan Laut Tanda-tanda kebesaran Allah dalam Alquran yang selanjutnya adalah adanya pembatas antara air sungai dan laut. Bukankah kita dapat melihat air sungai dan air laut yang saling berdampingan ? Tidak ada yang melampaui satu sama lain, kecuali pada batas koridor yang telah ditetapkannya ? Sungguh Allah telah berfirman : ۞ وَهُوَ ٱلَّذِى مَرَجَ ٱلْبَحْرَيْنِ هَٰذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَٰذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَّحْجُورًا “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi” Mekkah dan Madinah yang Bersinar serta Azan di Luar Angkasa ©2020 REUTERS/Yasser Bakhsh 5.

Mekkah dan Madinah yang Bersinar di Luar Angkasa Tanda-tanda kebesaran Allah dalam Alquran yang berikutnya adalah Anda dapat melihat Mekkah dan Madinah yang bersinar apabila dilihat dari luar angkasa. Mekkah dan Madinah adalah dua kota suci yang tidak ada kota suci lainnya kecuali dua kota tersebut. Seorang Astronot India yang bernama Sunita Wiliam, memperlihatkan foto yang diambil dari satelit NASA atau badan antariksa Amerika, dan hasilnya kedua kota tersebut terlihat lebih terang bahkan lebih bersinar dibandingkan dengan kota-kota yang lainnya.

6. Astronaut yang Mendengar Suara Azan di Antariksa Tanda-tanda kebesaran Allah bukan hanya telah dicantumkan di dalam Alquran saja, tetapi dapat kita lihat dan rasakan langsung. Ada suatu peristiwa dimana seorang astronot muslim asal Malaysia bernama Sheikh Muszaphar Syukron mendengar suara Adzan di antariksa pada saat ia mengorbit di angkasa pada 10 Oktober 2007. Pada saat itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, hal ini terdengar mustahil karena kita tahu luar angkasa adalah ruang hampa yang kedap suara.

Tapi, sungguh tidak ada yang tidak mungkin apabila Ia telah berkehendak. Alquran yang Terbakar dan Kesempurnaan Anatomi Tubuh Manusia ©2013 Merdeka.com/Shutterstock/Lightspring 7.

Alqur’an Tertua yang Terjaga dari Kebakaran Ada sebuah kisah unik mengenai Al Quran tertua di Asia. Al-Quran yang terletak di kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menyimpan sebuah kisah yang mungkin menjadi salah satu bukti akan kebesaran Allah SWT.

Saat itu terjadi kebakaran hebat di sebuah rumah yang menjadi tempat penyimpanan Al Quran milik kesultanan Ternate ini. Namun anehnya, meski seluruh rumah beserta isinya hangus terbakar, kitab suci ini tidak terbakar. Hingga saat ini kitab suci Al Quran ini tetap terjaga dan tersimpan rapi. Kejadian ini menunjukkan tanda kebesaran Allah atas segala yang diinginkan-Nya, Jangankan Al qur’an, ketika ia telah berkehendak bahkan api yang ditakdirkan panas bisa menjadi sejuk sebagaimana Api yang tidak bisa membakar Nabi Ibrahim Alaihi Salam.

8. Kekuasaan Allah Pada Tubuh Manusia Tanda-tanda kekuasaan Allah juga dapat kita rasakan di dalam tubuh kita. Contohnya adalah kesempurnaan Allah dalam menciptakan manusia. Oleh sebab itu, manusia telah dianggap sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di antara yang lain.

Maka dari itu, sudah sebagai kewajiban kita sebagai umat manusia hendaknya memperkuat iman dan tawakal kita kepada Allah SWT. [raf] 1 Ingin Menurunkan Berat Badan di Atas Usia 40 Tahun? Ini Hal yang Bisa Anda Coba 2 Potret Nagita Slavina Ajak Najwa Shihab Makan Bareng, Tampil Berhijab Cantik Banget 3 Potret Ussy Sulistiawaty dan Andhika Pratama Pulang Kampung ke Malang, Seru Banget 4 Pria di Kukar Perkosa Anak Tiri yang Tengah Hamil 6 Tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah 5 5 Potret Lesti dan Rizky Billar Perdana Ajak Baby L Naik Motor di Kampung Halaman Selengkapnya Ditulis oleh: Doni K.

I. LANDASAN ALKITAB A. Kejadian 1:11-12 Berfirmanlah Allah: "Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi." Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. B. Kejadian 1:26-28 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. II. TUJUAN Mendorong kaum muda untuk menyadari tanggung jawab mereka sebagai anak-anak Allah, yang berkewajiban menjaga kelestarian alam dan yang menyadari berbagai dampak buruk yang ditimbulkan oleh pencemaran dan perusakan alam.

III. REFLEKSI Suatu kali pada hari Minggu, yaitu saat pelaksanaan ibadah di sebuah gereja, ada seorang pendeta yang mengajak seluruh jemaatnya untuk peduli terhadap kelestarian alam. Kepedulian itu harus diwujudkan dengan berpartisipasi dalam menyelamatkan keasrian bumi. Kebaktian yang diadakan pada hari itu memang telah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya oleh pendeta.

Tujuannya adalah untuk mengampanyekan perlindungan iklim dari pemanasan global. Adapun aksi yang dilakukan pendeta adalah dengan membagikan sebatang pohon kepada setiap keluarga yang hadir dan meminta mereka menanamnya di rumah masing-masing.

Dikatakan dalam khotbah dan renungan warta jemaat hari itu bahwa Tuhan telah menyerahkan bumi kepada manusia untuk ditaklukkan. Dalam Alkitab, kita melihat bahwa Tuhan berpesan kepada Adam untuk menaklukkan bumi beserta isinya. Memang, ayat yang berbicara secara langsung tentang perlindungan alam semesta agak sulit untuk ditemui. Meski demikian, masih terdapat satu prinsip yang tersurat dalam Alkitab, yaitu perintah Tuhan untuk menjaga ciptaan-Nya.

Alkitab mengatakan bahwa Tuhan memberikan perintah kepada manusia untuk memelihara dan merawat ciptaan-Nya. Inilah yang seharusnya menjadi dasar bagi manusia untuk tidak merusak alam ciptaan Tuhan. Dalam Kejadian 1:31, firman Tuhan mengatakan bahwa seluruh ciptaan itu adalah baik di mata Tuhan. Bahkan, Dia sendiri mengatakan tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah ciptaan-Nya begitu indah. Oleh sebab itu, Tuhan meminta manusia untuk menjaga seluruh ciptaan-Nya, yaitu alam, binatang, dan tumbuh-tumbuhan.

Akan tetapi, karena dosa dan keserakahan, manusia telah merusak alam ciptaan Tuhan, yaitu dengan mengeksploitasi alam secara luar biasa berlebihan. Akibatnya, terjadi bencana yang cukup mengerikan di bumi ini.

Selain itu, manusia juga telah menggunakan sumber daya secara tidak benar dan menimbulkan efek rumah kaca yang sangat besar. Maka, tidak heran jika terjadi pemanasan global yang kemudian memengaruhi perubahan iklim. Alam semesta telah diciptakan oleh Tuhan dengan begitu indah.

Dan, semuanya itu dilakukan-Nya untuk kebaikan manusia juga. • • • • Alam semesta telah diciptakan oleh Tuhan dengan begitu indah. Dan, semuanya itu dilakukan-Nya untuk kebaikan manusia juga. Sebab, tanpa alam semesta yang diciptakan Tuhan, manusia tentu tidak dapat hidup.

Lalu, jika alam semesta ini rusak, bagaimanakah dengan nasib umat manusia? Jika alam semesta rusak, keselamatan populasi manusia tentu akan terancam. Oleh sebab itu, sebagai warga bumi yang sekaligus anak-anak Tuhan, marilah kita berpartisipasi dalam menjaga kelestarian alam, mengingat bahwa bahaya besar dapat mengancam populasi manusia jika alam tidak dipelihara dengan baik.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

Dan, satu hal yang paling penting, kita harus ingat bahwa menjaga alam adalah kewajiban kita sebagai umat Tuhan. Sebab, Tuhan telah memercayakan seluruh ciptaan-Nya di bumi ini kepada kita, manusia. IV. DISKUSI 1. Kita pernah mendengar bahwa Kota Bandung memiliki suhu udara yang sangat dingin, tetapi sekarang sudah tidak lagi.

Ironisnya, hal ini terjadi tidak hanya di Kota Bandung saja, tetapi di seluruh dunia.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

Mengapa demikian? 2. Menurut Anda, ulah siapakah yang menyebabkan suhu di beberapa tempat, bahkan di seluruh dunia ini berubah? Apakah perubahan tersebut merupakan hal yang baik atau tidak? 3. Apakah yang dapat kita perbuat untuk mengembalikan keadaan seperti sebelumnya? 4. Jika tindakan itu tidak dimulai dari kita, lalu dari siapa lagi? V. APLIKASI 1. Kita sering kali tidak memerhatikan keseimbangan dan harmonisasi alam, yang kita pikirkan hanya rusak, eksploitasi dsb.

Sering kali, kita juga menyalahkan dosa, bukan? Akan tetapi, ingatlah bahwa dosa tidak berjalan sendiri! Kita juga sering berkata, "Saya tidak 'kok' karena saya tidak punya tambang ." Namun, bagaimana dengan sikap kita saat kita punya rumah?

Marilah kita belajar dan melakukannya dari sekarang, yaitu: - Menanam tumbuhan serta menjaga kelestariannya. - Membuang sampah pada tempatnya (Menjaga kebersihan lingkungan). - Memotivasi dan melatih diri untuk peduli pada lingkungan melalui aksi kita. 2. Kita tidak dapat beralasan bahwa dunia ini fana dan kehidupan kita adalah di surga tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah mulia nanti, sehingga kita menjadi acuh tak acuh terhadap alam semesta.

Apakah kita sudah membaca apa yang telah Tuhan firmankan? ( Mazmur 24:1 dan Mazmur 115:16) Milik siapakah bumi ini? - Bumi ini adalah milik Tuhan dan Ia telah memercayakan perawatannya kepada kita, maka marilah kita belajar untuk menjadi pekerja Tuhan sebagai perawat dan pelindung bumi ini.

- Marilah kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik bagi lingkungan sebagai ketaatan dan kasih kita kepada Tuhan. Sumber bacaan: • Togar Silaban.

"Perintah Tuhan untuk melestarikan lingkungan." Dalam http://togarsilaban.wordpress.com/2008/03/09/perintah-tuhan-untuk-melest. • Ev Paula Cohen. "Selamatkanlah Lingkungan Hidup." Dalam http://www.renunganyouth.com/2010/08/selamatkanlah-lingkungan-hidup.html • Alkitab. Dalam http://alkitab.mobi/tb/Kej/
Tenas Effendy (2006), mengatakan bahawa Tunjuk ajar Melayu mempunyai tiga (3) kategori hubungan penting untuk menuntun arah kehidupan manusia.

Pertama, hubungan manusia dengan Tuhan; kedua, hubungan manusia dengan manusia; ketiga, hubungan manusia dengan alam. Ajaran ini berpandukan ajaran Islam yang bersumberkan Al- Quran dan Hadis.

Untuk memahami ketiga-tiga aspek hubungan tersebut, kajian ini akan menganalisis satu persatu berdasarkan urutannya. Tunjuk ajar yang menuntun kehidupan manusia berdasarkan hubungannya dengan Allah, salah satunya dapat kita lihat daripada pantun di bawah ini: Apa tanda Melayu jati, dengan Islam ia bersebati Apa tanda Melayu bertuah hidup bertakwa kepada Allah Apa tanda Melayu berakal, di dalam Islam ia beramal Apa tanda Melayu pilihan, hidup matinya dalam beriman Apa tanda Melayu benar, kepada Islam ia bersandar (Tenas Effendy, 2006, ms.33-35) Pantun di atas menunjukkan bahawa dalam hubungan antara manusia dengan Allah, akal fikiran merupakan hal yang paling penting untuk memahami ajaran agama.

Akal sebagai sumber pengetahuan diyakini sebagai pemberian Allah sang pencipta alam semesta yang berfungsi untuk memahami dunia sekeliling dan juga keberadaan Allah. Dalam memahami keberadaan Allah melalui ajaran agama, akal digunakan untuk memahami kalam Allah dalam Al-Quran, kerana ia ialah petunjuk untuk memahami pelbagai hubungan yang terkait antara satu sama lain, terutama dengan manusia.

Pemahaman tersebut kemudian akan membawa kepada terbentuknya iman terhadap Islam. Iman diertikan bahawa sebagai manusia haruslah bersandar kepada Islam dalam pengertian Islam sebagai jalan untuk mencapai keselamatan yang mulia dan bermaruah. Jalan yang Islami tersebut adalah menghargai hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam semesta kerana semuanya itu ialah amanah ajaran agama. Dalam hal ini, amanah tersebut diwujudkan dalam bentuk pantun tunjuk ajar Melayu.

Hubungan antara manusia dengan manusia dalam tunjuk ajar Melayu, dapat dikategorikan menjadi dua aspek penting. Pertama, ialah hubungan dalam keluarga, dan kedua, ialah hubungan dalam kehidupan bermasyarakat. Contoh hubungan dalam keluarga dapat kita lihat daripada pantun yang berupa petua dan amanah daripada orang tua kepada orang muda (anak). Dalam tradisi budaya Melayu, petua dan amanah yang disampaikan daripada orang tua kepada anak agar anak tersebut menjadi manusia yang berperilaku yang baik terhadap sesama mereka.

Baik buruknya anak amat erat kaitannya dengan pendidikan MAHAWANGSA 3 (1): 95 - 107 (2016) 99 Yuhastina Sinaro dan Che Ibrahim Salleh daripada orang tua, keluarga dan masyarakatnya.

Contoh pantun tersebut adalah seperti yang berikut ini: Elok anak karena emak, baik anak karena bapak Adat menjadi orang tua, Wajib memberi petuah amanah Sebelum anak bertambah besar, Wajib diisi tunjuk ajar Kalau anak hendak jadi orang, Tunjuk ajarnya janganlah kurang (Tenas Effendy, 2006, ms.467) Pantun di atas bukan hanya menunjukkan hubungan antara orang tua dengan anak, namun juga terkandung pengetahuan yang bersifat turun temurun daripada satu generasi kepada generasi berikutnya.

Tradisi memberikan petua dan amanah ialah bahagian daripada budaya Melayu dalam menjaga nilai yang penting untuk kehidupan. Tradisi ini bertujuan untuk mewariskan nilai luhur kepada generasi penerus. Petua dan amanah ini lazimnya disampaikan secara langsung dengan membuka peluang untuk berdiskusi sehingga mengembangkan pemikiran generasi belia.

Ini menunjukkan bahawa budaya Melayu juga memiliki karakter terbuka, sehingga menerima soal jawab meskipun itu datang daripada kaum lebih muda. Petua dan amanah juga disampaikan oleh orang tua ketika anak akan pergi merantau sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat.

Meskipun petua dan amanah ini berupa nasihat orang tua kepada anak, yakni hubungan manusia dengan manusia, petua di bawah ini juga mengandung ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan alam. wahai anak dengarlah petuah kini dirimu besar panjang umpama burung dapat terbang umpama kayu sudah berbatang umpama ulat mengenal daun umpana serai sudah berumpun tapi walaupun begitu, banyak petuah yang belum tahu banyak amanah yang belum ditimba banyak amanah belum kau dapat banyak pengajar belum kau dengar banyak petunjuk belum kau sauk banyak kaji belum terisi maka sebelum engkau melangkah terimalah petuah dengan amanah supaya tidak tersalah langkah 100 MAHAWANGSA 3 (1): 95 - 107 (2016) Tunjuk Ajar Melayu sebagai Pandangan Dunia supaya tidak terlanjur lidah apalah petuah amanah hamba petuah amanah orang tua-tua yang berketurunan jadi pusaka yang dipakai nenek moyang kita yang mengandung syarak dan sunnah yang mengandung adat lembaga ada undang dengan hukumnya apa pula tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah larangnya petuah amanah jadikan bekal ke mana pergi jangan kau tingga; peganglah dengan hati yang pukal supaya kelak tidak menyesal petuah amanah hamba sampaikan melepaskan hutang meringankan beban supaya tidak jadi sesalan mana yang elok engkau kerjakan sebelum engkau melangkah pergi luruskan niat di dalam hati kebaikan juga engkau cari kepada Allah berserah diri (Tenas Effendy, 2006, ms.468-469) Pantun di atas pada baris pertama mengajarkan kepada anak tentang erti kedewasaan dan kemandirian dengan mengambil contoh kepada alam.

Hal ini juga bererti sang anak juga diajarkan untuk memperhatikan lingkungan alam. Alam dalam dunia Melayu, kerana ciptaan Allah, dipandang memiliki pesan kepada manusia. Oleh sebab itu, berhubungan dengan alam pun memerlukan pengetahuan yang mendalam untuk memahaminya.

Kemudian, pantun baris kedua dan ketiga menjelaskan bahawa meskipun alam sudah memberikan tanda, tetapi belum tentu orang memahaminya. Oleh sebab itu, perlu memiliki kepekaan rohaniah atau ilmu rohaniah untuk memahami alam.

Lebih lanjut, pada baris keempat dan kelima mengandung ajaran tentang hubungan manusia dengan manusia, khususnya belajar daripada orang yang telah berpengalaman dalam kehidupan, iaitu atuk, ayah dan ibu.

Ini juga bermakna, kita menghargai ilmu pengetahuan orang yang lebih berpengalaman dalam hidup. Baris ke enam sampai kesembilan mengandung ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhan untuk hidup di jalan yang diredai oleh Allah. Secara keseluruhan, pantun tersebut di atas memiliki kandungan yang berasaskan konsep habluminalam, habluminanas, dan habluminallah, yang bersumberkan Al-Quran.

Dalam konteks hubungan manusia dengan manusia yang merupakan bahagian daripada kehidupan bermasyarakat, pantun juga memberikan panduan tentang berbudi bahasa.

Adat Melayu mengutamakan perilaku berbudi bahasa, tidak mengira waktu, tempat, keturunan dan bangsa. Budi ialah perilaku yang baik, manakala bahasa ialah wahana yang indah, yang membawa perutusan yang indah pula (Muhammad Ariff Ahmad, 2007, ms.69). Keadaan ini MAHAWANGSA 3 (1): 95 - 107 (2016) 101 Yuhastina Sinaro dan Che Ibrahim Salleh dijelmakan dalam ungkapan ‘yang baik budi, yang indah bahasa’, ‘bahasa jiwa bangsa’, ‘bahasa menunjukkan bangsa’, dan sebagainya.

Nilai budi dan bahasa adalah setara, seperti kuku dengan isi, yang amat erat dan mesra. Budi merangkumi segala perilaku manusia, sedangkan bahasa bersifat unik lagi bitara, menyerlahkan elemen estetika dan ketuntasan jiwa bangsa.

Dari kaca mata Melayu, yang baik ialah sifat terpuji, dan yang indah ialah perhiasan sejati dan abadi. Kedua-duanya sama mulia dan suci murni. Apabila budi dan bahasa dibaurkan dan digembleng bersama, maka budi bahasa merupakan manifestasi peribadi insan Melayu. Fenomena ini dijelmakan dalam ungkapan ‘budi bahasa tak dijual beli’, yang bermaksud nilai atau harga budi dan bahasa tidak terpermanai (terlalu banyak, tidak terkira jumlahnya).

Tidak terkira oleh dacing dan kati. Sehingga dikatakan ‘hutang emas dapat dibayar, hutang budi dibawa mati’ atau ‘hancur badan dikandung tanah, budi yang baik dikenang juga’. Salah satu ciri orang Melayu adalah suka menanam budi dan membalas budi. Bahawa sebaik-baiknya manusia ialah manusia yang tahu berbudi dan tahu membalas budi. Budi tidak dapat dibalas seperti membayar hutang benda atau wang.

Jika seseorang telah termakan budi maka seumur hidup akan selamanya terhutang hingga akhirat. Mengikut Hashim Musa (2008, ms.2), seseorang yang berhati budi mulia ialah seorang budiman yang memiliki budi pekerti yang mulia, budi bahasa yang halus, budi bicara yang bernas, dan hati yang tinggi dan luhur, yang pemurah, penyayang dan suka berbakti, adalah sangat berguna dan bermanfaat kepada individu lain dan masyarakatnya. Oleh sebab itu, hutang budi haruslah diingat dan tidak baik jika dikhianati.

Pantun tersebut seperti berikut ini: Hutang emas dibayar emas Hutang budi dibawa mati Mati semut karena gula Mati Melayu karena budi Apa tandanya Melayu jati, Bertanam budi sebelum mati Termakan budi ianya mati Apa tanda Melayu jati, Hidup ikhlas menanam budi Apa tanda Melayu jati, Elok perangai mulai pekerti Sakit senang menanam budi Apa tanda Melayu jati, Hidupnya tahu membalas budi Apa tanda Melayu jati, membalas budi sampailah mati (Tenas Effendy, 2006, ms.188-189) Tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah tentang balas budi di atas, sesungguhnya bukanlah sekadar menuntun hubungan manusia dengan manusia semata, namun, kerana manusia ialah ciptaaan Allah, maka masalah balas budi juga secara automatik terkait dengan keberadaan Allah, bukan hanya 102 MAHAWANGSA 3 (1): 95 - 107 (2016) Tunjuk Ajar Melayu sebagai Pandangan Dunia manusia.

Perilaku membalas budi amat penting demi menyemai dan memupuk jati diri, sahsiah dan keperibadian dengan mengambil kira aspek budi pekerti dan adat sopan yang mulia, budi bahasa dan budi bicara yang santun, indah, bernas dan berwibawa, hati budi dan akal yang tinggi dan bijaksana (Rozita Che Rodi & Hashim Musa, 2014, ms.269).

Penegasan akan pentingnya hubungan dengan Allah tampak selalu ditegaskan dalam setiap pantun tunjuk ajar Melayu. Hati budi yang luhur dalam masyarakat Melayu mempunyai nilai dan citra yang tinggi. Nilai dan citra yang tinggi ini ditonjolkandalam ungkapan pantun berikut: wahai ananda ibu bermadah membalas budi janganlah lengah budi termakan hutang tak sudah balas olehmu karena Lillah wahai ananda intan dikarang bertanam budi janganlah kurang kalau termakan budinya orang balas olehmu pagi dan petang wahai ananda mustika ibu, membalas budi hendaklah tahu budi yang mulia tempat bertumpu perbuatan baik jadi amalmu wahai ananda perbanyaklah budi, tetapi jangan minta dipuji ikhlas dan rela dalam memberi supaya amalmu Allah ridhoi (Tenas Effendy, 2006, ms.396-399) Sementara itu, dalam konteks hubungan seorang individu dalam masyarakat, tunjuk ajar Melayu juga memberikan pengetahuan yang sangat demokratis.

Pengertian demokratis dalam hal ini haruslah diletakkan dalam pengertian musyawarah, muafakat, dan berunding untuk mengambil keputusan demi kepentingan bersama. Ini bererti, prinsip demokrasi dimiliki oleh bangsa Melayu yang berdasarkan ajaran agama Islam. Dalam beberapa hal dasar, demokrasi tersebut memiliki titik temu dengan prinsip demokrasi Barat yang sekarang ini menjadi asas berpolitik secara moden.

Meskipun demikian, ada perbedaan besar dan penting antara kedua-duanya. Perbedaannya ialah demokrasi Barat berpinsip pada prinsip “kalah dan menang” melalui pengambilan suara. Sementara itu, demokrasi dalam masyarakat Melayu lebih menunjukkan prinsip “menang dan menang” melalui proses musyawarah sehingga mewujudkan keputusan bersama. Ini juga bererti, masyarakat Melayu ialah masyarakat yang demokratis jauh sebelum demokrasi Barat digunakan sebagai asas untuk berpolitik.

Masyarakat Melayu juga bersifat ceria, luwes dan terbuka. Ertinya tidaklah serius dan emosional. Prinsip tersebut dapat kita hayati daripada pantun berikut ini: MAHAWANGSA 3 (1): 95 - 107 (2016) 103 Yuhastina Sinaro dan Che Ibrahim Salleh apa tanda Melayu bermarwah, dalam berunding ia berlembut lidah apa tanda Melayu bermarwah, dalam mufakat ia amanah apa tanda Melayu bermarwah, memegang teguh hasil musyawarah apa tanda Melayu berilmu adat musyawarah ianya tahu apa tanda Melayu berilmu, sebelum berbuat, mufakat dahulu (Tenas Effendy, 2006, ms.254-258) Prinsip yang demokratis itu bukanlah dimonopoli oleh generasi tua, namun juga menjadi petua bagi generasi muda.

Ini bererti, reproduksi nilai sosial tentang pentingnya musyawarah, muafakat dan berunding juga perlu untuk dilakukan oleh generasi muda sebagai penerus masyarakat dan nilai Melayu. Prinsip demokratis untuk generasi muda tersebut dapat kita lihat daripada pantun berikut ini: wahai ananda dengarka0,5s.259-261) Berdasarkan pantun di atas, tunjuk ajar Melayu mengajarkan bagaimana seseorang individu berpolitik secara benar dan bermaruah.

Berpolitik secara bermaruah adalah melaksanakan strategi secara benar dan halal, dengan tidak mencelakakan atau untuk mengalahkan pihak lain melalui cara yang tidak bermaruah seperti fitnah. Memfitnah pihak yang menjadi lawan politik sama sekali tidak dibenarkan dan merupakan perbuatan yang diharamkan. Ini ialah dasar berfikir “menang dan menang” dalam pengertian tidak menyakiti dan tidak merendahkan (mengalahkan) salah satu pihak dalam perbedaan politik.

Prinsip politik bangsa Melayu adalah berunding, bermuafakat dan bermusyawarah secara mulia bukan dengan cara pengambilan suara secara perseorangan. Ini bererti, kebersamaan bagi bangsa Melayu lebih penting dibandingkan dengan perseorangan.

Di sinilah letaknya perbedaan yang mendasar dengan prinsip berpolitik Barat yang berasaskan kepentingan perseorangan atas kebersamaan. Oleh sebab tujuannya adalah untuk kebersamaan, maka berpolitik dengan fitnah atau mengada-ada cerita tentulah bukan merupakan tunjuk ajar Melayu, kerana tunjuk ajar memberikan ajaran untuk berfikir secara benar dan jujur sehingga berkata dan bertindak pun juga secara benar dan jujur.

Kebenaran dan kejujuran tersebut bertujuan untuk tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah kemuliaan yang bermaruah bukan sekadar pemenuhan kepentingan yang bersifat perseorangan. Selain hubungan manusia dengan manusia dalam konteks keluarga dan masyarakat, tunjuk ajar Melayu juga mengajarkan bagaimana orang Melayu menghargai alam semesta yang berhubungan erat dengan kita, kerana menghargai alam semesta itu ertinya menjalankan cara kehidupan yang rahmatan lil alamin (kasih sayang untuk seisi alam) sesuai dengan ajaran Islam.

Hal ini penting kerana alam semesta juga menyediakan bahan yang penting untuk kehidupan manusia. Oleh sebab itu, sebagai orang Melayu, kita pun perlu dan wajib untuk menghargai alam. Keserakahan untuk menguasai alam sangatlah 104 MAHAWANGSA 3 (1): 95 - 107 (2016) Tunjuk Ajar Melayu sebagai Pandangan Dunia bertentangan dengan tunjuk ajar Melayu, kerana keserakahan untuk menguasai alam hanya akan menghasilkan bencana bukan sahaja bagi manusia itu sendiri, namun juga makhluk lain mahupun kerusakan bagi benda yang tidak bernyawa yang ada di sekitar manusia.

Tunjuk ajar yang menunjukkan pentingnya kita sebagai orang Melayu untuk menghargai alam semesta dapat kita hayati daripada pantun berikut ini: tanda orang memegang adat, alam dijaga, petuah diingat tanda orang memegang amanah, pantang merusak hutan dan tanah tanda orang berfikiran panjang, merusak alam ia berpantang tanda orang berbudi pekerti, merusak alam ia jauhi tanda ingat ke anak cucu, merusak hutan hatinya malu (Tenas Effendy, 2006, ms.664) Pantun di atas jelas sekali menunjukkan bahawa kita tidak boleh merusak hutan, kerana hutan merupakan manifestasi kasih sayang Allah kepada manusia dan makhluk hidup lainnya.

Merusak hutan akan mengganggu keseluruhan sistem ekologi yang dapat membawa bencana. Banjir yang melanda beberapa wilayah di Malaysia pada penghujung 2014 dan awal 2015 diduga tidak terlepas daripada tindakan merusak hutan. Menurut berita yang disiarkan oleh Mongabay, NASA (National Aeronautics and Space Administration) telah mengenal pasti bahawa perusakan hutan di Malaysia pada perempat tahun pertama 2014 meningkat mencapai 150% (“Nasa detects surge”, 2014).

Perusakan hutan itu menunjukkan bahawa ada individu yang tidak memegang amanah untuk menjaga hutan dengan penuh kasih, tidak lagi memegang adat dan tunjuk ajar Melayu, tidak berbudi pekerti, tidak berfikiran panjang, sehingga kerusakan alam terjadi. Akibatnya, bencana yang membawa mangsa manusia mahupun kehidupan lainnya pun terjadi dan menyengsarakan banyak pihak. Bahkan anak cucu pun menjadi mangsa kerana masa depannya telah dihadapkan dengan kerusakan alam.

Oleh sebab itu, tunjuk ajar Melayu pun menyedarkan kita semua, sebagai bangsa Melayu Islam, kita harus berlaku sebagai khalifah tidaklah menyalahkan alam, namun haruslah menyalahkan diri sendiri kerana telah melanggar amanah nenek moyang agar tidak merusak hutan mahupun merusak alam seperti yang dapat kita hayati dalam tunjuk ajar berupa pantun di bawah ini.

siapa sadar dirinya khalifah, terhadap alam takkan menyalah beramu tidak merusak kayu berotan tidak merusak hutan bergetah tidak merusak rimba berumah tidak merusak tanah MAHAWANGSA 3 (1): 95 - 107 (2016) 105 Yuhastina Sinaro dan Che Ibrahim Salleh berkebun tidak merusak merusak dusun berkampung tidak merusak gunung berladang tidak merusak padang (Tenas Effendy, 2006, ms.666) Sesungguhnya tunjuk ajar Melayu yang merujuk pada surat Ar-Rahman mengajarkan kita untuk menikmati pemberian Allah dengan menghargai alam semesta dan dengan tidak mendustakan nikmat yang diberikan Allah kepada umat manusia.

Ketika meramu kayu, kita pun tidak diperbolehkan merusak kayu, ini bererti kita diharuskan untuk mengambil kayu yang telah jatuh dan kering, bukan merusak kayu yang masih hidup. Ketika mengambil rotan, kita pun tidak boleh merusak hutan. Ketika kita mengambil getah tidak boleh kita merusak rimba. Ketika kita membina rumah kita pun tidak boleh merusak tanah. Gunung dan padang pun harus dijaga, meskipun kita berladang dan berkampung di atas gunung. Apa yang terjadi sekarang ini, banyak gunung yang diratakan untuk perumahan moden.

Hutan pun kita habisi ketika manusia memerlukan tempat untuk mereka hidup. Manusia Melayu moden banyak yang melupakan tunjuk ajar Melayu, sehingga bencana pun kita peroleh kerana terlupa dan lalai untuk menghargai alam semesta secara baik.

KESIMPULAN Tunjuk ajar berupa pantun telah mewarnai kehidupan masyarakat Melayu dini. Pantun juga memiliki pengetahuan yang luar biasa kerana menjelaskan kepada bangsa Melayu bahawa sebagai seorang manusia, ia tidaklah berdiri sendiri, namun terkait dengan manusia lainnya, alam semesta dan Allah. Dengan demikian, tunjuk ajar Melayu menjelaskan bahawa manusia itu hidup bermasyarakat serta berhubungan dengan makhluk hidup lain, termasuklah benda yang tidak bernyawa seperti hutan, gunung, sungai dan laut.

Ini menunjukkan bahawa masyarakat dini belajar daripada alam, yang kemudiannya dijelmakan melalui pemikiran yang tinggi dan mendalam. Isinya padat dan kemas serta menggambarkan kehalusan dan keprihatinan masyarakat Melayu terhadap alam dan budaya, bukan setakat alam rasa, tetapi menjangkau nilai budi dan pandangan sarwa.

Keadaan ini menjadikan pantun bukan sahaja menyatakan keindahan penyusunan kata, malahan pantun menyatakan manifestasi minda masyarakat. Selain itu, perhubungan dengan Allah sebagai sang pencipta alam semesta beserta isinya merupakan rahmat bagi seluruh makhluk hidup dan alam semesta. Oleh sebab semua bentuk hubungan tersebut merupakan rahmatan lil alamin, maka perilaku manusia haruslah memuliakan sesama manusia dan ciptaan Allah lainnya yang bertujuan bukan semata-mata untuk kepentingan manusia tetapi juga untuk kepentingan seluruh isi alam semesta.

BIBLIOGRAFI Afrizal Malna. (22 Disember 2014). Sitor Situmorang: Ilmu alam di bawah kata. Harian Indoprogress 2014. Dicapai melalui wwwindoprogress.com Al-Faruqi, Ismail Raji, (1983). Al-Tawheed; Its implications for thought and life. Kuala Lumpur: International Islamic Federation of Student Organization. Asmah Haji Omar. (2005). Budaya dan bahasa kiasan.

Jurnal Peradaban Melayu. 3/2005, 1-3. 106 MAHAWANGSA 3 (1): 95 - 107 (2016) Tunjuk Ajar Melayu sebagai Pandangan Dunia Ding Choo Ming. (2012). Kajian baru pengarangan manuskrip & kreativiti pantun Melayu. Bangi: Institut Tamadun Melayu, Universiti Kebangsaan Malaysia. Hashim Haji Musa. (2008). Hati budi Melayu: Pengukuhan menghadapi cabaran abad ke-21. Serdang: Universiti Putra Malaysia.

Koentjaraningrat. (1979). Pengantar ilmu antropologi. Jakarta: Aksara Baru. Muhammad Ariff Ahmad. (2007). NILAM: Nilai Melayu Menurut Adat. Singapura: Majlis Pusat Pertubuhan Budaya Melayu Singapura. Muhammad Haji Salleh. (2014). Ghairah dunia dalam empat baris: Sihir pantun estetikanya. Kuala Lumpur: PTS Akademia. Nasa detects surge in deforestation in Malaysia, Bolivia during first quarter of 2014 (21 April 2014). Dicapai melalui news.mongabay.com/2014/0421-glofdas-2014q1.

html. Noriah Taslim. (2010). Lisan dan tulisan teks dan budaya. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. Rozita Che Rodi & Hashim Musa. (2014). Bahasa Melayu bahasa negara bangsa Malaysia”, Mahawangsa: Jurnal Bahasa, Budaya dan Warisan Melayu.

1(2), 257-272. Tenas Effendy. (2006). Tunjuk ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu. Vygotsky, L. (1986). Thought and language. Massachussets: The MIT Press. Wan Ab Kadir Wan Yusoff (Peny.). (1996). Pantun manifestasi minda masyarakat. Kuala Lumpur: Universiti Malaya. Winstedt, Sir Richard.

(1977). A History of classical Malay literature. Kuala Lumpur: Oxford University Press. MAHAWANGSA 3 (1): 95 - 107 (2016) 107 MAHAWANGSA 3 (1): 109 - 112 (2016) MAHAWANGSA Laman sesawang: http://www.mahawangsa.upm.edu.my/ • HATI BUDI MELAYU DALAM SKRIP DRAMA MEGAT TERAWIS Hidup berteraskan agama Islam • SOROTAN LITERATUR • DAPATAN KAJIAN • EJAAN YANG BERUBAH • DAPATAN KAJIAN Demografi Responden • IMPLIKASI DAN CADANGAN KAJIAN • PERNYATAAN MASALAH • KAEDAH KAJIAN • ELEMEN RETORIK • SOSIOBUDAYA MELAYU • AJARAN PENTING TUNJUK AJAR MELAYU (Kamu di sini) • Ulasan Buku
Smog disaster in Sumatera and Kalimantan Island that came from forest and land burnings showed many interconnected factors.

Governmental ideologies factor in development era (e.g. modernization, industrialization, and capitalization in order to increase economics development), lands problems as an impact of development ideologies, corruption, and prestige culture in society (e.g. consumerism, wealthy, succedness, and honor greediness) had participation in this disaster.

From the perspective of ecofeminism, this ecological crisis came from an ideology named anthroposentrism, which also an androsentrism. Human interests that became priority in industrial society, especially men who held economics and politics power, was the cause of these ecological damages.

The nature of patriarchal system is domination and exploitation who derived from hierarchal dualistic ideology become sources of ecological damage. In this context, economic development factor and life progress became main concern. Finally nature being grinded and became tools to achieve human interests (anthroposentrism). However, in this context women felt chaos very deeply. Women worked to produce family needs with nature. The damage of nature made women work harder.

By seeing these conditions, we were invited by ecofeminism to do radical awareness transformation. This transformation was based on the understanding of our local wisdom.

. Persoalan kebakaran hutan di Indonesia telah mengakibatkan persoalan asap bagi negara tetangga khususnya di wilayah Asia Tenggara (Heil, Langmann, & Aldrian, 2007). Bencana kabut asap yang melanda Indonesia tahun 2015 merupakan bencana kabut asap yang sangat parah (Pinem, 2016). Akibatnya akan berlanjut pada terganggunya transportasi, diantaranya kecelakaan lalu lintas yang meningkat.

. ABSTRAK Kebakaran sebagian besar lahan gambut yang terjadi pada tahun 2015 telah membuat pemerintah memberi perhatian khusus terhadap kebijakan pengelolaan gambut. Salah satu kebijakan tersebut adalah larangan penyiapan lahan pertanian dengan cara membakar.

Kebijakan ini memaksa masyarakat untuk mengubah tradisi pembukaan lahan dengan cara bakar menjadi tanpa bakar. Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana pengaruh kebijakan pembukaan lahan tanpa bakar terhadap pengurangan laju kebakaran hutan di lahan gambut.

Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi lapang dan diskusi. Penelitian dilakukan di Kampung Jawa dan Rengas Merah, Desa Riding, Sumatera Selatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan pembukaan lahan dari menggunakan api menjadi tanpa bakar telah memberi dampak positif bagi pengurangan laju kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Kebijakan pembukaan lahan tanpa bakar masih memiliki banyak kelemahan yang perlu segera diperbaiki.

Kebijakan larangan menggunakan api untuk pembukaan lahan tanpa bakar perlu diikuti dengan program yang berperan sebagai solusi perubahan pola pembukaan lahan Kata Kunci: kebakaran hutan dan lahan, pengelolaan lahan gambut, pembukaan lahan The conversion of peat swamp forest and peatlands is generally caused by the use of fire in land preparation, which is at risk of triggering uncontrolled forest and land fires.

Even though the Indonesian government has explicitly banned the use of fire in clearing peatland for agriculture since 2014, which was stated on government regulation number 71 of 2014 concerning the protection and management of peat ecosystems, people still use fire in land preparation because it is cheap.

This research investigated how do the community of Rengas Merah-Riding and Senasih Mulya-Kayu Labu, Ogan Komering Ilir Regency, adapt to the “zero burnings” policy?

In-depth interviews and Focus Group Discussion (FGD) were used to collect data. Data were analyzed using tabulation and a qualitative descriptive approach.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

The results of the study indicated that by the prohibition on the use of fire in land clearing, the community has tried to adapt it even though it cannot be fully implemented. The local communities of research site have alternative livelihoods without using fire, which is “bekarang” (fishing) (both site), developing edible bird nest (both site), and making “purun” mat crafts (only in Senasi Mulya-Kayu Labu).

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

The results of the study are expected to be a valid promotion for local livelihoods without burning, as an element of community livelihoods revitalization within the framework of peat restoration programs. . Also, the data from the Ministry of Environment and Forestry shows that Central Kalimantan becomes the largest burned area which is about 134 thousand hectares in the year 2019 [5]. Furthermore, the burned area gives many negative impacts includes health and social activities disruption, greenhouse gas emissions, and loss of fl ora and fauna diversity [6], [7].

With many negative impacts, the government and related institutions need to immediately take actions. (2), model pembangunan Indonesia yang masih fokus pada pertumbuhan ekonomi dan mengabaikan kearifan lokal masyarakat; (3), kebijakan pertanahan yang ditujukan untuk mendukung tingkat pertumbuhan ekonomi; (4), perilaku hedonisme dan materialisme masyarakat dimana mengganti lahan pertanian keperkebunan sawit (Pinem, 2016 .

Local wisdom of the Dayak Tomun Lamandau community regarding opening agricultural land by burning is local knowledge that has been passed down from ancestors. In the activity of opening agricultural land there are rituals and customary rules that must be carried out. The rise of forest and land fires in recent years has caused negative impacts. Based on that, the government issued a policy prohibiting clearing forests and land by burning. The ban was felt by indigenous peoples in the village of Lopus where rice production to meet their daily lives fell sharply.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

This study aims to determine and analyze the social changes of indigenous peoples after the ban on land burning in Lopus Village, Lamandau Regency. While the research approach used is descriptive qualitative. Based on the findings in the field of social changes that occurred in Lopus Village not only because of policies that have been issued by the government but there are also other factors such as land conversion and increasing population.

The inclusion of tourism is considered a form of local community survival strategy because it has an economic impact.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

The conclusion obtained is that until now the people of Lopus still burn land for farming but groups and land area have been restricted, so that the fields cannot meet household needs. To survive amid the prohibition of burning land, the indigenous people of Lopus Village have developed their cultural and natural tourism.

Every year foreign and local tourists visiting the village of Lopus have increased, thus affecting the economy of indigenous peoples . Forest fires were initially thought to occur naturally, but humans likely play a role in starting fires in the last millennium (Desri,2016:277).

Wetlands International states that based on the facts, almost all forest fires in Indonesia caused by human activities, whether intentional or unintentional, and there has been no evidence of natural fires (Pinem, 2016). . Introduction to The Problem: Indonesia is one of the participants of the United Nations Convention On Biological Diversity Or better known as UNCBD. Indonesia has also ratified this UNCBD into Act No.

5 of 1994 on the Ratification of the UNCBD. By this ratification, Indonesia has obligations and responsibilities that must be carried out under the provisions of the Convention. One is about the protection of the environment; in this case, is deforestation relating to biodiversity. Based on UNCBD, Indonesia also should make the implementing Law for the ratification. The problem is that Indonesia has no implementing regulation yet for the ratification.Purpose/Objective Study: The purpose of this paper is to find out the concept of environmental protection; in this case, deforestation based on the UNCBD and positive law in Indonesia.

It also suggests what forms of Indonesia’s responsibility and what implementation steps to overcome the deforestation occurring in Indonesia.Design/Methodology/Approach: The research employs the qualitative method based on a normative juridical study. Additionally, the authors used two approaches, which are conceptual and the statute approach.Findings: Indonesia has not explicitly made an implementing law for Act No.

5 of 1994 as a ratification law of UNCBD. For that reason, it is the government responsible for making the implementing regulation. The Indonesian government should pay attention to the previous legal-made experience regarding the other ratification before UNCBD.

The simple steps, but the main base reasons are using consideration phrase of the inexistence of implementing regulation for the ratified-UNCBD and also the government responsibility to oblige the ratification. . Kebakaran yang terjadi disini, khususnya di Provinsi Kalimantan Barat adalah adalah kebakaran lahan gambut dimana lahan gambut di kalimantan masih berupa hutan dan kebakaran di lahan gambut tidak sama dengan kebakaran hutan lainnya di karenakan hutan dengan lahan gambut memiliki ekosistem yang berbeda dengan hutan yang lainnya karena jenis lahan gambut sangat kering saat musim kemarau oleh karena itu jenis hutan yang seperti ini menjadi mudah terbakar khususnya saat musim kemarau tiba.

(Pinem, 2016) Provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi yang mengalami kebakaran hutan yang cukup parah pada tahun 2017 yaitu dimana hampir semua wilayah mengalami kebakaran lahan Kalimantan Barat adalah di Kabupaten Sintang 40 titik, Kapuas Hulu 36 titik, Sanggau 26 titik, Landak 10 titi, Malinau 3 titik, Sekadau 3 titik, Bengkayang 2 titik, dan Melawi 2 titik.

(Ferry, 2017) . Forest and land fires are Indonesia's biggest problem which has continued from 2014 to the present. The number of activities to find the best solution in fire is something that has been done until now. Various methods, both preventive and repressive, have been implemented to prevent forest and land fires from occurring.

This research aims to be a sureextinguishing gel, namely hydrogel, which can be used in efforts to extinguish forest and land fires. Extinguishing forest and land fires using hydrogel is a new method that is expected to prevent forest and land fire zones from spreading. This research shows that the tendency of decreasing the average water content of peat due to the drying process based on different intervals of oven time, namely the lowest yield ranged from 61.25% to the highest with a water content of 109.57%.

The September 11 terrorist attacks have altered the geopolitical dynamics in Central Asia. The United States has emerged as the preeminent power in the region, causing other countries with interests in Central Asia to adjust to radically changed circumstances. The war on terrorism and increasing instability in South and Southwest Asia call for a long-term US military presence in Central Asia Such .

[Show full abstract] a tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah could also complement ongoing US diplomatic rela tionships in the region. In the long run, US influence in the region will have to contend with the residual advantages that Russia, China, and Iran have by virtue of their geographic proximity, cultural ties, and trading patterns.

The American ability to promote the security and stability of Central Asia will depend on the cooperation of and perhaps partnership with one or more of these states. Central Asia will have to contend with poor governance, widespread corruption, and authoritarian regimes, with all the ensuing consequences for US efforts to promote economic and political modernization.

Balancing short-term stability against considerations of long-term political and economic reform will further complicate these efforts. The roles of partner, security manager, and advocate of reform are not easily reconciled in Central Asia. Still, the events of September 11 have left the United States with no alternative but to address these issues. Read more The aim of this study was to identify Jakarta residents’ perceptions on the trustworthiness of political elites.

The study used qualitative content analysis method involving as many as 461 persons as subjects. These political elites referred to the members of the House of Representatives, members of the People’s Consultative Council, the president and the members of his governmental cabinet.

. [Show full abstract] political parties, people or groups involved in politics and those participating in managing the state. The top ten factors able to tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah people’s trust in political elites were identical with the subjects’ perception about lie (29.28%), corruption (14.75%), selfishness (8.24%), incompetence (6.07%), scandals (5.64%), irresponsibility (1.95%), abuse of power (1.52%), laziness (1.52%), lack of transparency (1,30%), and lack of firmness (0.22%).

The description about political elites worth trusting concerned about their honesty (39.70%), accountability (12.80%), integrity (1280%), caring (8.89%), morality (6.29%), firmness (4.34%), competence (3.69%), transparency (1.74%), and wisdom (1.74%).

The study concluded that the trustworthiness of political elites refers to their dispositions that are considered to have good motives and go with any prevailing norms. View full-text Yemen is among the poorest countries in the region and it has become apparent during the current political crisis, where the majority of population is classified as poor and the poverty line’s group has been widened.

As far as Zakah is concerned, it is a duty on wealthy people to pay their alms to the poor and hence a redistribution of the wealth among the society would be achieved. Zakah rests . [Show full abstract] under the responsibility of the government to supervise, govern, and apply the rules prescribed in the legislation (Shari’ah rules) to ensure that its role in the society is attained.

For the last three decades since the formation of the new country “republic of Yemen” that emerged from two previously separated countries, Zakah institution has been governed and managed by the government, and their administration is formed under the responsibility of the Zakah agency, and later on under the local counsel of each locality. Such management and administration has been criticized of being less transparent on Zakah resources on both collections or distributions sides.

Therefore, Zakah efficient collections have suffered due to the low level of confidence in the governmental agencies assigned to collect Zakah funds and this encourages Zakah payers to always seek an alternative way to channel Zakah funds, which has been found in many voluntary organizations to carry same role of the government in collections of Zakah funds.

This paper is a theoretical in nature and it aims and focuses on the discussion of administration and legislation of Zakah and its importance to the society in Yemen.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

It also highlights the current status of Zakah in Yemen. More than that, the discussion elaborates that Zakah in Yemen lacks it role in the society in reducing poverty, which has become more apparent recently. Analyzing the way Zakah is carried out revealed that Zakah administration needs a rethink on how to organize and restructure it in a way to serve its underlying purposes.

Government may not be the proper Zakah administer at this point of time due to the rise of corruption in the government agencies, and since the Zakah funds is commingled with the other public budget resources, it is more likely to be misused as other resources and no possible differentiation to be expected. Expected transformation of Zakah is needed and the role can be carried out by the non-government bodies supervised by scholars and experts who can be held accountable under certain governance system.

This paper originally is of importance to all stakeholders as it serves as the building block for initiating a proper system or framework of Zakah administration, a system that provides its contemporary guidelines on Zakah, taken into the consideration the original wisdom and objective of Shari’ah on Zakah enforcement by the Almighty.

View full-text The paper looks at the reasons and the process of reforming the system of higher education in the Republic of China under conditions of globalization and implementing market economy. It highlights the astonishing success of this country in the modernization of education for a short period of time. The study focuses on the importance of the government social support for the development of science .

[Show full abstract] and the prestigiousness of a lecturer’s and a scientist’s jobs. The paper specifies the main aspects of decentralization in Chinese higher education resulting in the formation of two levels of educational policies – governmental and regional. The governmental level deals with developing general principles and rules of regulating higher education; creating and implementing projects oriented towards achieving the world level of education.

The regional level deals with solving the problem of training qualified workers aimed at enhancing the innovative economic development of the territories. The study stresses upon the measures taken by China’s government to improve scientific activities at the universities.

tanda ingat kepada tuhan menjaga alam ia utamakan makna tunjuk ajar di atas adalah

Great importance has been assigned to the development of students’ analytical, critical, creative thinking, intellectual independence and the ability to gain, extract and transform information. The paper analyzes the policy of the eastern country regarding the reforms of managing personnel in the educational institutions. The closed appointment procedure has been eliminated – now it is public, announcing a vacancy and sharing the information about new vacant positions and applicants for them – for both academic and administrative staff.

The programs promoting the creation of a competitive environment for the teaching staff have facilitated its continuous improvement. Now it is impossible to advance to higher positions only owing to one’s experience and academic qualification.The conclusion can be drawn that if the government sets itself the task to take leading positions in the area of education, this task will not be solved without transformations in the economy and the system of government.

View full-text

BERTEMUNYA NABI ISA A.S DAN DAJJAL HINGGA MUNCULNYA HEWAN MELATA YANG BISA BICARA #kisah #dajjal




2022 charcuterie-iller.com