Kerajaan mataram islam didirikan oleh

Sebagai salah satu kerajaan islam yang cukup berpengaruh di Indonesia, Kerajaan Mataram Islam meninnggalkan beberapa jejak sejarah yang masih terlihat hingga kini. Salah satunya kampung mantaraman di Jakarta, sistem persawahan di Jawa Barat, dan batas administrasi wilayah yang masih diberlakukan hingga kini. ^1 (1513 J/1586 M) Panembahan Senapati jumeneng ratu ing nagari Mataram [2] Kesultanan Mataram ( bahasa Jawa: نَاڬَارِي كَسُلْطَانَن مَاتَارَام, ꦤꦴ ( nā ) ꦒ ( ga ) ꦫꦷ ( rī ) ꦏ ( ka ) ꦱꦸ ( su ) ꦭ꧀ ( l ) ꦠ ( ta ) ꦤ ( na ) ꦤ꧀ ( n ) ꦩ ( ma ) ꦠ ( ta ) ꦫꦴ ( rā ) ꦩ꧀ ( m ), translit.

Nagari Kasultanan Mataram; bahasa Indonesia: Negara Kesultanan Mataram; bahasa Arab: دولة نوبل ماتارام‎ Daulat Nuubil Mataram, har. 'Negeri Mataram yang Luhur') adalah negara berbentuk kesultanan di Jawa pada abad ke-16. Kesultanan ini didirikan sejak pertengahan abad ke-16, namun baru menjadi negara berdaulat di akhir abad ke-16 yang dipimpin oleh dinasti yang bernama wangsa Mataram. [3] [4] Sepanjang abad ke-16, tepatnya pada puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Anyakrakusuma, Mataram adalah salah satu negara terkuat di Jawa, kesultanan yang menyatukan sebagian besar pulau Jawa, yakni sebagian besar wilayah Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah kecuali Kerajaan mataram islam didirikan oleh, selain itu juga menguasai daerah Madura, dan Sukadana ( Kalimantan Barat) serta Pulau Sumatera (Palembang dan Jambi).

Kesultanan ini terdiri dari beberapa wilayah inti mulai dari: kutagara, nagaragung, mancanagara, pasisiran dan sejumlah kerajaan vasal, beberapa di antaranya dianeksasi ke dalam teritori kesultanan, sedangkan sisanya diberikan beragam tingkat otonomi.

[ butuh rujukan] Kesultanan ini secara de facto merupakan negara merdeka yang menjalin hubungan perdagangan dengan Kerajaan Belanda ditandai dengan kedua pihak saling mengirim duta besar. Anyakrakusuma di bawah kepemimpinannya tidak mengizinkan Serikat Dagang Hindia Timur (VOC) untuk mendirikan loji-loji dagang di pantai utara.

Hal ini ditolak karena bila diizinkan maka ekonomi di pantai utara akan dikuasai dan melemah. Penolakan ini membuat hubungan keduanya sejak saat itu merenggang. [ butuh rujukan] Menjelang keruntuhannya, Kesultanan Mataram menjadi negara protektorat Kerajaan Belanda, dengan status pzelfbestuurende landschappen. [ butuh rujukan] Perjanjian Giyanti membuahkan kesepakatan bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua kekuasaan, yaitu Nagari Kasunanan Surakarta dan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta.

Perjanjian yang ditandatangani dan diratifikasi pada tanggal 13 Februari 1755 di Giyanti ini secara de jure menandai berakhirnya Mataram. [5] [6] Daftar isi • kerajaan mataram islam didirikan oleh Etimologi • 2 Sejarah • 2.1 Pembentukan dan perkembangan • 2.1.1 Adeging nagari • 2.1.2 Kebangkitan Mataram • 2.2 Masa kejayaan • 2.3 Masa kemunduran • 3 Struktur pemerintahan • 3.1 Aparat birokrasi • 3.2 Pembagian administratif • 4 Budaya • 5 Daftar penguasa Mataram • 6 Warisan • 7 Catur Sagotra • 8 Galeri • 9 Lihat pula • 10 Referensi • 10.1 Daftar pustaka • 11 Bacaan lanjut • 11.1 Buku • 11.1.1 Sejarah Mataram • 11.1.2 Kisah Trunajaya • 11.1.3 Kemaritiman Kesultanan Mataram • 11.1.4 Budaya Kesultanan Mataram • 11.2 Laporan Penelitian • 11.3 Majalah • 11.4 Presentasi Etimologi [ sunting - sunting sumber ] Nama Mataram secara historis adalah nama kerajaan pra-Islam yang mengacu pada Kerajaan Mataram abad ke-8.

Praktik umum di Jawa adalah menyebut kerajaan mereka dengan metonimia dan bervariasi dalam berbagai bahasa.

Ada keragaman bahkan dalam bahasa. Dalam bahasa Sanskerta, Mataram berarti ibu, sedangkan istilah "Matawis" digunakan sebagai bentuk demonim dan kata sifat. Berdasarkan sejarahnya, ada dua kerajaan yang pernah ada di periode yang berbeda dan keduanya disebut Mataram. Kerajaan selanjutnya, sering disebut sebagai Mataram Islam atau Matawis untuk membedakannya dari Kerajaan Mataram abad ke-8. [7] Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Pembentukan dan perkembangan [ sunting - sunting sumber ] Adeging nagari [ sunting - sunting sumber ] Kutagede, bekas ibu kota Kesultanan Mataram, didirikan pada tahun 1582 oleh Panembahan Senapati.

Kesultanan Mataram didirikan oleh Panembahan Senapati pada tahun 1586. Pada mulanya kesultanan ini adalah wilayah teritorial Kerajaan Pajang, kemudian menundukan dan menyatukan beberapa wilayah kerajaan sekitarnya.

Selanjutnya pada tahun 1586 wilayah Pajang sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Mataram diikuti penyerahan tahkta Pajang oleh Pangeran Benawa kepada Panembahan Senapati. Perkembangan Mataram begitu besar dan kuat sehingga sebagian besar sejarawan setuju bahwa itu telah didirikan selama beberapa generasi perintis Mataram. Menurut catatan Jawa, raja-raja Mataram adalah keturunan dari Ki Ageng Sela (Sela adalah sebuah desa dekat Demak sekarang).

Pada tahun 1570-an, salah satu keturunan Ki Ageng Sela, Kyai Gede Pamanahan dianugerahi kekuasaan atas tanah Mataram oleh raja Pajang, Sultan Adiwijaya, sebagai imbalan atas jasanya mengalahkan Arya Panangsang, musuh Adiwijaya.

[8] Pajang terletak di kota Surakarta saat ini, dan Mataram awalnya adalah vasal dari Pajang. [4] Pamanahan sering disebut sebagai Kyai Gede Mataram. Seorang kyai adalah seorang ulama muslim yang berpendidikan tinggi dan cenderung disegani. Sedangkan di Pajang, terjadi perebutan kekuasaan besar-besaran yang terjadi setelah Sultan Adiwijaya wafat pada tahun 1582. Pewaris Adiwijaya adalah Pangeran Benawa, digulingkan takhtanya oleh Arya Pangiri dari Demak, dan disingkirkan ke Jipang.

Putra Pamanahan, Sutawijaya atau Panembahan Senapati, menggantikan ayahnya sekitar tahun 1584, dan dia mulai melepaskan Mataram dari kekuasaan Pajang. Di bawah Sutawijaya, Mataram tumbuh secara substansial melalui kampanye militer melawan penguasaan Mataram atas Pajang oleh Arya Pangiri, dan Pangeran Benawa dengan cepat menggalang dukungan untuk merebut kembali takhtanya dan merekrut dukungan Panembahan Senapati melawan Pajang.

Selanjutnya, Pajang diserang dari dua arah: oleh Pangeran Benawa dan oleh Panembahan Senapati. Perang antara Pajang melawan Mataram berakhir dengan kekalahan Arya Pangiri.

Pangeran Benawa kemudian naik takhta di Pajang. [8] Selama periode itu tidak ada putra mahkota Pajang yang menggantikan Pangeran Benawa sehingga takhta Pajang diserahkan ke Panembahan Senapati. Kemudian yang menjadi bupati di sana ialah Pangeran Gagak Baning atau adik Panembahan Senapati.

Peristiwa pada tahun 1586 ini menandai berakhirnya kerajaan Pajang dan berdirinya Nagari Kasultanan Mataram. Kebangkitan Mataram [ sunting - sunting sumber ] Pasarean Mataram, makam dari Panembahan Senapati dan Panembahan Seda ing Krapyak. Sutawijaya menjadi pemimpin monarki dengan menyandang gelar " Panembahan" (secara harfiah berarti "orang yang dijunjung").

Dia mengungkapkan sifat pemerintahannya yang ekspansif dan kerajaan mataram islam didirikan oleh memproyeksasi manuver politiknya sesuai ketentuan, layanan, dan fungsi administrasi ke timur di sepanjang Bengawan Solo. [8] Pada 1590 kerajaan mataram islam didirikan oleh Madiun, dan berbelok ke timur dari Madiun untuk menaklukkan Kediri pada tahun 1591 dan Ponorogo.

[9] Pada saat yang sama ia juga menaklukkan Jipang dan Jagaraga (utara Magetan sekarang). Dia berhasil mencapai timur sejauh Pasuruan. Setelah berhasil menyatukan Jawa, Panembahan Senapati mengalihkan perhatiannya ke Jawa bagian barat, dengan menaklukkan Cirebon dan Galuh, menjadi vasal Mataram pada tahun 1595.

[9] Usahanya untuk menaklukkan Banten pada tahun 1597 gagal, dikarenakan kurangnya transportasi air. [9] Panembahan Senapati wafat pada tahun 1601 dan dimakamkan di Kota Gede, sebagai raja Jawa ia berhasil membangun fondasi negara baru yang kokoh. Penggantinya, Raden Mas Jolang atau yang kemudian bergelar sebagai Susuhunan Anyakrawati. [9] Kontak pertama antara Mataram dan Belanda terjadi pada era Susuhunan Anyakrawati. Kegiatan Belanda pada saat itu hanya sebatas perdagangan dari pemukiman pesisir Jawa, sehingga interaksi mereka dengan wilayah pedalaman Jawa dibatasi, meskipun dibelakang mereka membentuk siasat untuk melawan Mataram.

Panembahan Anyakrawati wafat karena kecelakaan sewaktu berburu rusa di hutan Krapyak. Dari peristiwa itu ia dikenal dengan gelar anumerta Panembahan Seda ing Krapyak (Panembahan yang Meninggal di Krapyak).

Masa kejayaan [ sunting - sunting sumber ] Anyakrawati digantikan oleh putranya, Pangeran Martapura. Namun Martapura, kesehatannya buruk dan dengan cepat digantikan oleh saudaranya, Raden Mas Rangsang pada tahun 1613, yang menyandang gelar Susuhunan Anyakrakusuma, dan kemudian pada tahun 1641 mengambil gelar Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma ( Sultan Agung).

[9] Kesultanan Mataram di bawah pemerintahan Anyakrakusuma dikenang sebagai puncak kekuasaan Mataram, dan masa keemasan kekuasaan asli Jawa sebelum imperialisme Eropa pada abad berikutnya. Pada 1641, utusan Jawa yang dikirim Anyakrakusuma ke Arab telah tiba setelah mendapat izin menyandang gelar " Sultan" dari Mekah. Nama dan gelar Islam yang diperolehnya dari Mekah adalah "Sultan Abdul Muhammad Maulana Matarami". [10] Pada 1645 Sultan Agung mulai membangun Imogiri, sebagai tempat pemakaman, sekitar lima belas kilometer selatan Yogyakarta.

Imogiri tetap menjadi tempat peristirahatan sebagian besar keluarga Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta hingga sekarang. Sultan Agung wafat pada musim semi tahun 1646, meninggalkan sebuah negara yang ia bangun, membentang cakrawala sebagian besar Jawa, Madura, dan pulau-pulau sekitarnya. Masa kemunduran [ sunting - sunting sumber ] Bagian ini memerlukan pengembangan. Anda dapat membantu dengan mengembangkannya.

Struktur pemerintahan [ sunting - sunting sumber ] Mataram memiliki struktur pemerintahan yang dipimpin oleh seorang susuhunan/sultan. Dalam konsep kenegaraan Jawa raja-raja Mataram disebutkan dengan konsep Keagungbinatharaan atau diungkapkan sebagai "gung binathara, bahu dhendha nyakrawati" (kekuasaan yang agung, memelihara hukum di muka bumi). Raja dikatakan "wenang wisesa ing sanagari" (memegang kuasa di negara). Dia harus "wicaksana" (bijaksana), bersifat "budi bawa leksana, ambeg adil para marta" (meluap budi luhur-mulia dan bersifat adil terhadap sesama), tugasnya "anjaga tata titi tentreming praja" (menjaga kerajaan mataram islam didirikan oleh dan ketenteraman negeri), agar tercipta suasana "karta tuwin raharja" (aman dan sejahtera).

[11] Amiril muminina sayyidina panatagami kyatira ning rat wus sineksen saking Ngarab, winenang among dirja ning rat Pemimpin para mukmin tuan penata agama kemasyhurannya di jagad sudah disaksikan dari negeri Arab, diberi wewenang memomong keselamatan dunia Serat Sastra Gending karya Sultan Agung Kemasyhuran sultan Mataram telah dikenal sampai tanah Arab sebagai seorang pemimpin para mukmin di tanah Jawa.

Sehingga penguasa Mekah waktu itu memberi gelar Sultan kepada raja Mataram. Inilah awal mula raja Mataram menggunakan gelar Sultan. Pemakaian gelar raja pada Mataram selain Sultan yaitu: Panembahan, Susuhunan atau Sunan.

Anyakrakusuma mendapat gelar Sultan. Gelar tersebut dianugerahkan Sultan Murad IV yang diwakilkan syarif Mekah, Zaid ibnu Muhsin Al Hasyimi. Anyakrakusuma ditahbiskan sebagai Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami, disertai kuluk untuk mahkotanya, bendera, pataka, dan sebuah guci yang berisi air zamzam.

Guci yang dulunya berisi air zamzam itu kini ada di makam Astana Kasultan Agungan di Imogiri dengan nama Enceh Kyai Mendung. Aparat birokrasi [ sunting - sunting sumber ] Ilustrasi ageman (busana) bupati dan wedana Mataram Struktur birokrasi kesultanan Mataram berdasarkan pada jabatan-jabatan yang disusun secara hierarki mengikuti sistem pembagian wilayah, meliputi: Susuhunan atau Sultan, gelar yang digunakan untuk merujuk pada kepala negara yang sedang bertakhta (jumeneng).

Dalam menjalankan pemerintahannya, Sultan membentuk dan menempatkan pejabat dari tingkat pusat sampai daerah berdasarkan wilayah yang sudah dibagi. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menciptakan kegiatan pemerintahan yang terkendali. Dalam kerajaan mataram islam didirikan oleh rumah tangga karaton tugas diserahkan kepada seorang Wedana Lebet yang terdiri dari Wedana Gedong Kiwa, Wedana Gedong Tengen, Wedana Keparak Kiwa, dan Wedana Keparak Tengen.

Para wedana tersebut dikepalai oleh Patih Lebet, dan setiap wedana dibantu oleh kliwon (asisten di bawah wedana), kabayan (asisten di bawah kliwon), dan 40 mantri jajar (salah satu sebutan untuk priyai di lingkungan karaton).

[12] Adapun untuk mengurusi pemerintahan di Nagaragung, sultan menyerahkannya kepada Wedana Jawi yang dikepalai oleh seorang Patih Jawi. Masing-masing wedana juga dibantu oleh kliwon, kabayan, dan 40 mantri jajar. Semua wedana tersebut bertempat di Kutagara, sedangkan daerahnya di Nagaragung diserahkan kepada demang atau kyai lurah.

[13] Untuk mengurusi wilayah di luar Kutagara dan Nagaragung (pusat pemerintahan), di Mancagara Wétan maupun Mancagara Kilèn, sultan menempatkan para bupati yang dipimpin oleh Wedana Bupati baik di wilayah Mancagara maupun Pasisiran. Para bupati di wilayah Mancagara berpangkat Tumenggung atau Raden Arya, sedangkan di wilayah Pasisiran dikenal dengan Syahbandar yang memiliki pangkat Tumenggung, Kyai Kerajaan mataram islam didirikan oleh, atau Raden Ngabehi.

Para bupati Mancagara maupun Pasisiran berada dalam kordinasi dan bimbingan langsung dari Wedana Bupati. [11] Selain menempatkan bupati di wilayah Mancagara dan Pasisiran, sultan juga menempatkan bupati penting di wilayah pusat. Para bupati tersebut dijadikan staff ahli yang sewaktu-waktu diperlukan pertimbangannya. Sebagai pengontrol gerak-gerik para lembaga negara maupun para bupati di daerah, maka sultan mengangkat dinas rahasia yang disebut telik sandi atau Abdi Kajineman.

[14] Selain para pejabat tinggi pusat tersebut, di bawahnya masih terdapat sekitar 150 macam jabatan dibawahnya. Mereka dikhususkan ke dalam berbagai macam jabatan, mulai dari prajurit, panglima, pengadilan, keuangan, perlengkapan, kesenian, keagamaan, dan lainnya.

Semua jabatan tersebut merupakan bentuk birokrasi sebagai pelaksana roda pemerintahan. [11] Pembagian administratif [ sunting - sunting sumber ] Struktur administratif Mataram menganut pola konsentris.

Berdasarkan sudut pandang konsentris yang diterapkan dalam sistem ketatanegaraan di Mataram, wilayah dibedakan dalam beberapa pembagian sebagai berikut: [13] [15] [16] • Kutagara (Kuta Nagara) meliputi: • Siti Narawita (ibu kota), sebagai pusat pemerintahan. • Karaton (istana), sebagai pusat kegiatan pemerintahan. • Nagaragung (Nagara Agung) merupakan wilayah yang mengitari Kutagara, wilayah ini dibagi menjadi empat bagian, meliputi: • Daerah Siti Ageng atau Bumi Gede, suatu wilayah di antara Pajang dengan Demak, kemudian dibagi menjadi daerah Siti Ageng Kiwa dan Siti Ageng Tengen.

Terletak di sebelah barat daya Semarang, ± daerah Ungaran dan Kedungjati • Daerah Siti Bumi atau Bumija yang terletak di sekitar daerah Kedu • Daerah Siti Numbak Anyar yang terletak di sekitar daerah Bagelen • Daerah Pajang, dibagi menjadi Panumping yang meliputi daerah Sukowati dan daerah Panekar yaitu daerah Pajang bagian timur.

• Mancagara (Manca Nagara) merupakan wilayah di luar Nagaragung yang meliputi: • Mancagara Wétan (Mancanegara Timur), dimulai dari Panaraga ke timur, yang meliputi Magetan, Madiun, Grobogan, Kaduwung, Jagaraga, Panaraga, Pacitan, Kediri, Jipang, Wirasaba, Blitar, Srengat, Lodaya, Pace, Nganjuk, Berbek, Cakuwu, Wirasari • Mancagara Kilèn (Mancanegara Barat), dimulai dari Banyumas ke barat, yang meliputi Banyumas, Cilacap, Sumedang, Galuh, Priangan • Pasisiran (Pesisir) merupakan wilayah yang sebagian besar berada di pantai utara Jawa dan sebagian diantaranya diberikan otonomi tersendiri.

Wilayah ini dibagi menjadi dua: kerajaan mataram islam didirikan oleh Pasisiran Wétan (Pesisir Timur), dimulai dari Demak ke timur, yang meliputi Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Lasem, Tuban, Sedayu, Lamongan, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Blambangan • Pasisiran Kilèn (Pesisir Barat), dimulai dari Demak ke barat, yang meliputi Semarang, Kendal, Pekalongan, Pemalang, Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu, Karawang Kedua wilayah, Mancagara Wétan dan Pasisiran Wétan, biasanya disebut sebagai Brang Wétan.

Demikian pula untuk Mancagara Kilèn dan Pasisiran Kilèn disebut sebagai Brang Kilèn atau Brang Kulon. Struktur wilayah Kerajaan mataram islam didirikan oleh memiliki susunan yang teratur dengan wilayah kabupaten dan jumlah cacahnya disebutkan di dalam Pustaka Rajapuwara. Di samping beberapa wilayah di atas, terdapat tanah seberang (tanah sabrang: tanah yang berada di seberang laut), seperti Jambi dan Sukadana.

Budaya [ sunting - sunting sumber ] Meskipun kerajaan Islam, Mataram tidak pernah mengadopsi budaya, sistem, dan institusi Islam secara menyeluruh.

Sistem politiknya berakar dari peradaban Jawa asli yang digabungkan dengan unsur-unsur Islam. Kesultanan Mataram merupakan simbol berdirinya kekuatan sosial-politik Islam di Jawa yang kerajaan mataram islam didirikan oleh titik peralihan sekaligus masa transisi dari masa Hindu-Buddha ke masa Kajawen ( Ka-jawi-an). Mataram diakui mampu menyiarkan Islam secara kultural yang ditandai dengan perubahan besar pada masa Sultan Agung dalam mengadaptasikan agama dengan budaya lokal.

Islam dihadirkan di Jawa secara adaptif dengan budaya asli Jawa.

Adaptasi kultural tersebut dapat diterima masyarakat Jawa, maka pribumisasi Islam dianggap berhasil karena Islam berkembang pesat di Jawa secara alamiah dan melalui proses kultural dari masyarakat Jawa itu sendiri. Sejak saat itulah budaya Islam di Jawa lebih dikenal dengan istilah Kajawen (Ka-jawi-an) yang sarat dengan muatan sufistik dan mulai berkembang pesat.

Kitab-kitab tasawuf dalam bahasa Arab-Nya dari timur tengah mulai digubah dalam bahasa Jawa dengan diadakan adaptasi seperlunya terhadap alam pikiran Jawa tanpa kehilangan substansinya. Perpaduan dari berbagai sentral budaya ini telah menimbulkan karya-karya kreatif baru yang memperkaya khazanah sekaligus pengembang budaya Kajawen. Daftar penguasa Mataram [ sunting - sunting sumber ] Anyakrakusuma (Sultan Agung), salah satu sultan terbesar dari Mataram yang dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.

Para penguasa Mataram adalah keturunan dari Ki Ageng Sela, Ki Ageng Enis dan Ki Ageng Pamanahan, perintis dan pendiri wangsa Mataram bersama tokoh dari Sela lainnya yaitu Ki Juru Martani dan Ki Panjawi. Pada dasarnya penguasa Mataram mulanya bergelar panembahan kemudian susuhunan, gelar sultan baru resmi digunakan pada tahun 1641 pada masa kekuasaan Anyakrakusuma. Berikut adalah daftar penguasa Mataram: Nama Jangka hidup Awal memerintah Akhir memerintah Keluarga Danang Sutawijaya Panembahan Senapati ?

– 1601 1586 1601 Wangsa Mataram Raden Mas Jolang Anyakrawati (Sunan Nyakrawati) ? – 1613 1601 1613 Wangsa Mataram Raden Mas Jatmika Anyakrakusuma (Sultan Agung) 1593 – 1645 1613 1645 Wangsa Mataram Raden Mas Sayyidin Amangkurat I (Sunan Tegalarum) 1618 – 13 Juli 1677 1646 1677 Wangsa Mataram Raden Mas Rahmat Amangkurat II (Sunan Amral) ? – 1703 1677 1703 Wangsa Mataram Raden Mas Sutikna Amangkurat III (Sunan Mas) ? – 1734 1703 1705 Wangsa Mataram Raden Mas Darajat Pakubuwana I (Sunan Ngalaga) ?

– 1719 1704 1719 Wangsa Mataram Raden Mas Suryaputra Amangkurat IV (Sunan Jawi) ? – 20 April 1726 1719 1726 Wangsa Mataram Raden Mas Prabasuyasa Pakubuwana II (Sunan Kumbul) 8 Desember 1711 – 20 Desember 1749 1726 1742 Wangsa Mataram Raden Mas Garendi Amangkurat V (Sunan Kuning) 1726 – ? 1742 1743 Wangsa Mataram Raden Mas Prabasuyasa Pakubuwana II (Sunan Kumbul) 8 Desember 1711 – 20 Desember 1749 1745 1749 Wangsa Mataram Warisan [ sunting - sunting sumber ] Tari Bedaya, merupakan tarian klasik Jawa warisan Sultan Agung.

Mataram adalah kerajaan Islam terbesar terakhir di Jawa sebelum terbagi menjadi Surakarta, Yogyakarta, Mangkunagaran dan Pakualaman. Setelah keruntuhan Mataram pada abad berikutnya pulau Jawa dalam kolonialisme Belanda. Bagi sebagian orang Jawa, Kesultanan Mataram, khususnya era Sultan Agung, dikenang sebagai kebanggaan masa lalu yang gemilang, karena Mataram menjadi kerajaan terakhir Islam terbesar di Jawa.

[17] Dalam seni dan budaya, Kesultanan Mataram telah meninggalkan jejak yang kekal dalam budaya Jawa, karena banyak unsur budaya Jawa, seperti gamelan, batik, keris, wayang kulit dan tari tradisional Jawa diciptakan, dikembangkan dalam bentuknya yang sekarang, dan diwariskan oleh karaton penerusnya. Pada masa puncak Kesultanan Mataram pada paruh pertama abad ke-17, kebudayaan Jawa berkembang, sebagian besar di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Mataram banyak mempengaruhi kebudayaan di Jawa termasuk di bagian barat.

Pada periode ini masyarakat Sunda berasimilasi lebih jauh dengan budaya Kejawen Jawa. Seperti Wayang Golek yang diadopsi dari Jawa, kemudian budaya serupa seperti gamelan dan batik juga di kenalkan di sana dan berkembang. Pada masa itu pula bahasa Sunda mulai menggunakan tingkatan bahasa yang didasarkan kepada aturan serta nilai-nilai sosial kemasyarakatan, untuk saling menghargai dan menghormati orang lain, sebagaimana tercermin dalam bahasa Jawa.

Selain itu aksara jawa juga digunakan untuk menulis bahasa sunda sebagai cacarakan. Catur Sagotra [ sunting - sunting sumber ] Catur Sagotra merupakan penyatuan empat entitas yang masih memiliki akar tunggal tali kekerabatan. Hal ini merujuk pada keluarga kerajaan-kerajaan penerus dinasti Mataram Islam. Kerajaan-kerajaan tersebut ialah Kesunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, Kadipaten Mangkunagaran, dan Kadipaten Pakualaman. • Kadipaten Pakualaman Terbentuknya Catur Sagotra berawal pada tahun 2004 oleh Sri Susuhunan Pakubuwana XII, sebelum wafat pernah memberi amanah kepada Nani Soedarsono untuk melanjutkan cita-cita luhur Catur Sagotra.

Catur Sagotra merupakan sebuah gagasan bersama kerajaan mataram islam didirikan oleh empat raja Jawa pada waktu itu yaitu Sri Susuhunan Pakubuwana XII, Sri Sultan Hamengkubuwana IX, KGPAA. Mangkunagara VIII dan KGPAA. Paku Alam VIII. Tujuan Catur Sagotra adalah untuk mempersatukan keempat trah dalam ikatan kesamaan falsafah budaya dan keterkaitan sejarah leluhur Mataram. [18] Galeri [ sunting - sunting sumber ] • • ^ "Koin Java Kerajaan mataram islam didirikan oleh Dengan Seijin Susuhunan Mataram".

kintamoney.com. 2011. Diakses tanggal 19 Agustus 2020. • ^ Graaf, Hermanus Johannes de kerajaan mataram islam didirikan oleh. Awal kebangkitan Mataram : masa pemerintahan Senapati (edisi ke-Cet. 3). Jakarta: Grafiti. ISBN 9789794440117. OCLC 603911675. • ^ "The Mataram Kingdom & Royal Palaces". joglosemar.co.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-03-03. Diakses tanggal 20 Agustus 2020. • ^ a b "Mataram, Historical kingdom, Indonesia". Encyclopædia Britannica.

Diakses tanggal 20 Agustus 2020. • ^ Brown 2003, p. 63: "On February 13, 1755, the Treaty of Giyanti was signed, dividing what was left of the kingdom of Mataram into two parts. One part, with its capital in the city of Solo, was headed by Pakubuwana II's son, Pakubuwana III. The other part, with its capital 60 kilometres to the west of Yogyakarta, was ruled by Pakubuwana II's half-brother Mangkubumi, who took the title Sultan Hamengkubuwono I.

The treaty was not immediately accepted by all parties to the dispute: fighting went on for another two years. In 1757, though, an uneasy peace settled on Java when Pakubuwana III's territory was divided, with a portion going to his cousin Mas Said, who took the title Mangkunegara I." • ^ "Gianti Agreement - Indonesia [1755]".

Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-08. • ^ Adji, Krisna Bayu; Achmad, Sri Wintala (2014). Sejarah raja-raja Jawa : dari Mataram Kuno hingga Mataram Islam.

Yogyakarta: Araska Publisher. • ^ a b c Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Kanisius. hlm. 55. • ^ a b c d e Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Kanisius. hlm. 56. • ^ Soekmono. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. Kanisius. hlm. 63.

• ^ a b c Moedjanto, G (1987). Konsep Kekuasaan Jawa; Penerapannya Oleh Raja-raja Mataram. Yogyakarta: Kanisius. • ^ Widada, dkk. (2001). Kamus Basa Jawa (Bausastra Jawa). Yogyakarta: Kanisius. Wurianto, Arif Budi. (2001). Gung Binatara: Kekuasaan dan Moralitas Jawa. Jurnal Ilmiah Bestari • ^ a b Suwarno, P. J. (1989). Sejarah Birokrasi Pemerintahan Indonesia Dahulu dan Sekarang. Yogyakarta: Universitas Atma Jaya. • ^ Kartodirdjo, A. Sartono, dkk. (1995). Negara dan Nasionalisme Indonesia; Integrasi, Disintegrasi, dan Suksesi.

Jakarta: Grasindo. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • ^ Serat Pustaka Rajapuwara, Koleksi Reksapustaka Mangkunegaran, Surakarta, No. MS 113. • ^ Moertono, S. (1985). Negara dan Usaha Bina Negara di Jawa Masa Lampau, Studi Tentang Masa Mataram II, Abad Kerajaan mataram islam didirikan oleh Sampai XIX. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

• ^ Ricklefs, M. C. (2008). A History of Modern Indonesia Since C. 1200. • ^ Media, Kompas Cyber. "Catur Sagotra Nusantara, untuk Melestarikan Empat Keraton".

KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-02-01. Daftar pustaka [ sunting - sunting sumber ] • Soekmono, Drs. R. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3. 2nd edition. Penerbit Kanisius 1973. 5th reprint edition in 2003. Yogyakarta. ISBN 979-413-291-8. (in Indonesian) • Anderson, BRO’G. The Idea of Power in Javanese Culture dalam Anderson, BRO’G. Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia. Cornell University Press. 1990. • Carey, Peter.

1997. Civilization on loan: the making of an upstart polity: Mataram and its successors, 1600–1830. Modern Asian Studies 31(3):711–734. • de Graaf, H.J. dan T.H. Pigeaud. 2003. Kerajaan Islam Pertama Di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Pustaka Utama Graffiti.

• De Graaf, H.J. Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Pustaka Utama Graffiti 2002. • Mangunwijaya Y.B. 1983. Rara Mendut. Jakarta : Gramedia. • Miksic, John (general ed.), et al. (2006) Karaton Surakarta. A look into the court of Surakarta Hadiningrat, central Java (First published: 'By the will of His Serene Highness Paku Buwono XII'. Surakarta: Yayasan Pawiyatan Kabudayan Karaton Surakarta, 2004) Marshall Cavendish Editions Singapore ISBN 981-261-226-2 • Ricklefs, M.C.

2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749–1792: Sejarah Pembagian Jawa. Yogyakarta: Penerbit Matabangsa. • Ricklefs, M.C. 2001. A history of modern Indonesia since c.1200. Stanford: Stanford University Press. ISBN 0-8047-4480-7. Bacaan lanjut [ sunting - sunting sumber ] Buku [ sunting - sunting sumber ] Sejarah Mataram [ sunting - sunting sumber ] • Abimanyu, Soedjipto (2015).

Kitab Terlengkap Sejarah Mataram. Yogyakarta: Saufa. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Kisah Trunajaya [ sunting - sunting sumber ] • Andaya, Leonard Y. (2004). Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17. Makassar: Ininnawa. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Kemaritiman Kesultanan Mataram [ sunting - sunting sumber ] • Reid, Anthony (2014).

Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid I: Tanah di Bawah Angin (PDF). Jakarta: Obor. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Reid, Anthony (2015).

Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid II: Jaringan Perdagangan Global (PDF). Jakarta: Obor. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Budaya Kesultanan Mataram [ sunting - sunting sumber ] • Tim Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI (2018).

Ensiklopedi Islam Nusantara: Edisi Budaya (PDF). Jakarta: Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Laporan Penelitian [ sunting - sunting sumber ] • Harianti, V. Indah Sri Pinasti, dan Sudrajat. (2007). "Perang Tanding Adipati Jayakusuma Melawan Panembahan Senopati dalam Babad Pati" ( PDF). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Majalah [ sunting - sunting sumber ] • Suandika, Tedi, dan Arafah Pramasto (2017, 21 Desember).

"Perang 1659 dan Pengaruh Mataram Islam dalam Kemiliteran Palembang" (PDF). Pagaralam Post. hlm. Opini. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) Presentasi [ sunting - sunting sumber ] • R. Rahmat Romadon, Nurazizah, dan Rachmi Yamini (2016). "Nyimas Utari Sandijayaningsih dan Misi Pembunuhan JP Coen" ( PDF). Depok: Universitas Indonesia. Kategori tersembunyi: • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list • Artikel mengandung aksara Jawa • Artikel mengandung bahasa Jawa • Artikel mengandung aksara Arab • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Semua artikel perlu dikembangkan • Artikel yang menggunakan kotak pesan kecil • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Galat CS1: tanggal • Halaman ini terakhir diubah pada 11 Mei 2022, pukul 08.08.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Assalammualaikum, Selamat datang di Kelas IPS.

Disini Ibu Guru kerajaan mataram islam didirikan oleh membahas tentang pelajaran Sejarah yaitu Tentang “ Kerajaan Mataram Islam“. Berikut dibawah ini penjelasannya: Sejarah Kerajaan Mataram Islam Setelah kerajaan Demak kerajaan mataram islam didirikan oleh nama, kerajaan Pajang merupakan satu-satunya kerajaan di Jawa Tengah.

Namun demikian raja Pajang masih mempunyai musuh yang kuat yang berusaha menghancurkan kerajaannya, yaitu seorang yang masih keturunan keluarga kerajaan Demak yang bernama Arya Penangsang. Raja kemudian membuat sebuah sayembara bahwa barang siapa mengalahkan Arya Penangsang atau dapat membunuhnya, akan diberi hadiah tanah di Pati dan Mataram.

Ki Pemanahan dan Ki Penjawi kerajaan mataram islam didirikan oleh merupakan abdi prajurit Pajang berniat untuk mengikuti sayembara tersebut. Di dalam peperangan akhirnya Danang Sutawijaya berhasil mengalahkan dan membunuh Arya Penangsang. Sutawijaya adalah anak dari Ki Pemanahan, dan anak angkat dari raja Pajang sendiri.

Namun karena Sutawijaya adalah anak angkat Sultan sendiri maka tidak mungkin apabila Ki Pemanahan memberitahukannya kepada Sultan Hadiwijaya.Sehingga Kyai Juru Martani mengusulkan agar Ki Pemanahan dan Ki Penjawi memberitahukan kepada Sultan bahwa merekalah yang membunuh Arya Penangsang.

Ki Ageng Pemanahan memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.Pemanahan berhasil membangun hutan Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak kepada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582). Sutawijaya mengangkat diri sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati.

Pajang kemudian dijadikan salah satu wilayah bagian dari Mataram yang beribukota di Kotagede. Panembahan Senopati dalam babad dipuji sebagai pembangun Mataram. Letak Kerajaan Mataram Islam Kerajaan mataram berdiri pada tahun 1582. Pusat kerajaan ini terletak di sebelah tenggara kota Yogyakarta, yakni di Kotagede. Menurut berita-berita kuno tentang Mataram, wilayahnya Di daerah aliran Sungai Opak dan Progo yang bermuara di Laut Selatan.

Membentang antara Tugu sebagai batas utara dan Panggung Krapyak di batas selatan, antara Sungai Code di timur dan Sungai Winongo sebelah barat. Antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, Kraton dalam pikiran masyarakat Jawa, diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai pusat jagad.

Di daerah aliran Sungai Opak dan Progo yang bermuara di Laut Selatan. Membentang antara Tugu sebagai batas utara dan Panggung Krapyak di batas selatan, antara Sungai Code di timur dan Sungai Winongo sebelah barat. Antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, Kraton dalam pikiran masyarakat Jawa, diartikan sebagai pusat dunia yang digambarkan sebagai pusat jagad. Silsilah Raja Kerajaan Mataram Kerajaan mataram islam didirikan oleh Berikut ini terdapat beberapa silsilah raja kerajaan mataram islam, sebagai berikut: • Sutawijaya Setelah menjadi Raja Mataram, gelarnya adalah Panembahan Senopati ing Alaga (Sang Panglima Yang DiJunjung atau Sang Panglima Di Medan Laga).

Danang Sutawijaya adalah putra sulung pasangan Ki Ageng Pemanahan (keturunan brawijaya V) dan Nyai Sabinah (keturunan Sunan Giri). Hampir sepanjang Masa pemerintahan digunakan untuk melakukan penaklukan. Senopati Banyak Melakukan penaklukan ke timur, hinga akhirnya wilayah-wilayah penting seperti Jepara, Madiun, Kediri, Bojonegoro, dan sebagian Surabaya berada dibawah kekuasan Mataram.

Senopati telah menjadikan Mataram Yang Semula hanya pemukiman kecil dipedalaman menjadi kerajaan yang memiliki wilayah kekuasaan yang luas di Jawa Tengah dan Jawa Timur. • Sri Susuhunan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati ing Ngalaga Mataram Nama aslinya adalah Raden Mas Jolang.

Ayahnya Panembahan senopati, Ibunya Ratu Mas Waskitajawi (putri dari Ki Ageng Penjawi). Punya istri 2, Ratu Tulungayu putri dari Ponorogo anaknya bernama Raden Mas Wuryah alias Adipati Martapura. Istri kedua Dyah Banowati putri Pangeran Benawa (raja Pajang) melahirkan anak bernama Raden Mas Rangsangdan Ratu Pandansari (kelak menjadi istri Pangeran Pekik).

Sejak awal pemerintahannya, ia harus menghadapi pemberontakan dari daerah-daerah yang telah ditundukkan oleh ayahnya. Daerah-daerah tersebut berusaha melepaskan diri dari kekuasaan Mataram dan berusaha menjadi daerah merdeka.

Hal ini disebabkan kekuasaan Mataram atas Jawa sejak pemerintahan Panembahan Senapati bukan merupakan kekuasaan yang bulat dan utuh bahkan kekuasaan di tiap-tiap daerah harus ditundukkan dengan kekuatan senjata. Saat raja baru bertahta, daerah-daerah tersebut berusaha meraih kemerdekaannya kembali.

Pada tahun 1602 M Raden Mas Kejuron yang telah diangkat menjadi adipati Demak melakukan pemberontakan (adik tiri yang lahir dari selir bernama Nyai Adisara). Alasan memberontak karena Raden Mas tidak puas dengan daerah kekuasaannya di Demak sehingga ia mulai menyerang daerah di sebelah utara Pegunungan Kendeng. Mas Jolang malah bersedia menyerahkan wilayah bagian utara kerajaan tersebut kepada kakaknya.

Hal ini dianggap sebagai kelemahan dan ketakutan raja sehingga ia meneruskan penyerangan hingga ke Tambak Uwos. Mas Jolang meninggal saat berada di taman perburuan (krapyak) sehingga kemungkinan besar penyebab kematiannya karena kecelakaan sewaktu berburu. Setelah meninggal, beliau terkenal dengan sebutan Panembahan Seda Ing Krapyak.

Beliau kemudian dimakamkan di dekat masjid Kotagede di sebelah bawah makam ayahnya. • Raden Mas Rangsang (Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma) Putra dari pasangan Mas Jolang kerajaan mataram islam didirikan oleh Ratu Dyah Banowati. Nama gelarnya adalah Sultan Agung. Dia merupakan Sultan ke 3 pengganti ayahnya di Mataram. Pada masa dia, kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan.

Sultan Agung memiliki dua orang permaisuri utama. Yang menjadi Ratu Kulon adalah putri sultan Cirebon, melahirkan Raden Mas Syahwawrat atau “Pangeran Alit”. Sedangkan yang menjadi Ratu Wetanadalah putri Adipati Batang (cucu Ki Juru Martani) yang melahirkan Raden Mas Sayidin (kelak menjadi Amangkurat I). Pada awal pemerintahannya, Raden Mas Rangsang bergelar “Panembahan Hanyakrakusuma“, Kemudian kerajaan mataram islam didirikan oleh menaklukkan Madura tahun 1624, ia mengganti gelarnya menjadi “Susuhunan Agung Hanyakrakusuma”.

Pada tahun 1614 VOC (yang saat itu masih bermarkas di Ambon) mengirim duta untuk mengajak Sultan Agung bekerja sama namun ditolak. Pada tahun 1618 Mataram dilanda gagal panen akibat perang yang berlarut-larut melawan Surabaya. Meskipun demikian, Sultan Agung tetap menolak bekerja sama dengan VOC.Menyadari kekuatan bangsa Belanda tersebut, Sultan Agung mulai berpikir untuk memanfaatkan VOC dalam persaingan menghadapi Surabaya dan Banten.

Maka pada tahun 1621 Mataram mulai menjalin hubungan dengan VOC. Kedua pihak saling mengirim duta besar. Akan tetapi, VOC ternyata menolak membantu saat Mataram menyerang Surabaya.Dia mencoba menjalin hubungan dengan Portugis untuk bersama-sama menghancurkan VOC-Belanda.

Namun hubungan kemudian diputus tahun 1635 karena menyadari posisi Portugis saat itu sudah lemah. Seluruh Pulau Jawa akhirnya berada dalam kekuasaan Kesultanan Mataram, kecuali Batavia yang masih diduduki militer VOC-Belanda. Sultan Agung berhasil menjadikan Mataram sebagai kerajaan besar tidak hanya dibangun di atas pertumpahan darah dan kekerasan, namun melalui kebudayaan rakyat yang adiluhung dan mengenalkan sistem-sistem pertanian.

Negeri-negeri pelabuhan dan perdagangan seperti Surabaya dan Tuban dimatikan, sehingga kehidupan rakyat hanya bergantung pada sektor pertanian. Sultan Agung juga menaruh perhatian pada kebudayaan. Dia memadukan Kalender Hijriyah yang dipakai di pesisir utara dengan Kalender Saka yang masih dipakai di pedalaman. Hasilnya adalah terciptanya Kalender Jawa Islam sebagai upaya pemersatuan rakyat Mataram.

Selain itu Sultan Agung juga dikenal sebagai penulis naskah yaitu Sastra Gending ( berisi tetang budi pekerti luhur dan keselarasan lahir batin). Di luar peranan politik dan militer, Sultan Agung dikenal sebagai penguasa yang besar perhatiannya terhadap perkembangan islam di tanah jawa. Ia adalah pemimpin yang taat beragama, sehingga banyak memperoleh simpati dari kalangan ulama. • Amangkurat I (Sri Susuhunan Amangkurat Agung) Nama aslinya adalah Raden Mas Sayidin. Anak dari Sultan Agung, Ibunya bergelar Ratu Wetan, yaitu putri Tumenggung Upasanta bupati Batang.

Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi pemberontakan. Amangkurat I memiliki dua orang permaisuri. Putri Pangeran Pekik dari Surabaya menjadi Ratu Kulon yang melahirkan Raden Mas Rahmat, kelak menjadi Amangkurat II.

Sedangkan putri keluarga Kajoran menjadi Ratu Wetan yang melahirkan Raden Mas Drajat atau nama lainnya Pangeran Puger, kelak menjadi Pakubuwana I. Amangkurat I mendapatkan warisan Sultan Agung berupa wilayah Mataram yang sangat luas.

Dalam hal ini ia menerapkan sentralisasi atau sistem pemerintahan terpusat. Amangkurat I juga menyingkirkan tokoh-tokoh senior yang tidak sejalan dengan pandangan politiknya.

Misalnya, Tumenggung Wiraguna dan Tumenggung Danupaya tahun 1647 dikirim untuk merebut Blambangan yang telah dikuasai Bali, namun keduanya dibunuh di tengah jalan.

Pada tahun 1647 ibu kota Mataram dipindah ke Plered.Perpindahan istana tersebut diwarnai pemberontakan Raden Mas Alit atau Pangeran Danupoyo, adik Amangkurat I yang menentang penumpasan tokoh-tokoh senior.

Pemberontakan ini mendapat dukungan para ulama namun berakhir dengan kematian Mas Alit. Amangkurat I menjalin hubungan dengan VOC yang pernah diperangi ayahnya. Pada tahun 1646 ia mengadakan perjanjian, antara lain pihak VOC diizinkan membuka pos-pos dagang di wilayah Mataram, sedangkan pihak Mataram diizinkan berdagang ke pulau-pulau lain yang dikuasai VOC.

Amangkurat I juga berselisih dengan putra mahkotanya, yaitu Raden Mas Rahmat yang menjadi Adipati Anom (Raja Muda). Perselisihan ini dilatarbelakangi oleh berita bahwa jabatan Adipati Anom akan dipindahkan kepada Pangeran Singasari (putra Amangkurat I lainnya).

Pada tahun 1661 Mas Rahmat melancarkan aksi kudeta tetapi gagal.Amangkurat I menumpas seluruh pendukung putranya itu. Sebaliknya, Amangkurat I juga gagal dalam usaha meracuni Mas Rahmat. Perselisihan memuncak tahun 1668 saat Mas Rahmat merebut calon selir ayahnya yang bernama Rara Oyi (seorang putri cina). Amangkurat I menghukum mati Pangeran Pekik mertuanya sendiri, yang dituduh telah menculik Rara Oyi untuk Mas Rahmat. Mas Rahmat sendiri diampuni setelah dipaksa membunuh Rara Oyi dengan tangannya sendiri.

Mas Rahmat yang sudah dipecat dari jabatan Adipati Anom bertemu dengan Raden Trunajaya menantu Panembahan Rama alias Raden Kajoran tahun 1670. Panembahan Rama mengusulkan agar ia membiayai Trunajaya untuk melakukan pemberontakan. Kemudian Trunajaya dibiayai untuk melakukan pemberontakan terhadap Amangkurat I. Maka dimulailah pemberontakan Trunajaya (pangeran Madura).Di bawah pimpinan Trunajaya, pasukan gabungan orang-orang Madura, Makassar, dan Surabaya berhasil mendesak pasukan Amangkurat I.

Kemenangan demi kemenangan atas pasukan Amangkurat I menimbulkan perselisihan antara Trunajaya dan Adipati Anom. Trunajaya diperkirakan tidak bersedia menyerahkan kepemimpinannya kepada Adipati Anom. Pasukan Trunajaya bahkan berhasil mengalahkan pasukan Mataram di bawah pimpinan Adipati Anom, dan adipati anom berbalik memihak ayahnya. Tanpa diduga, Trunajaya berhasil menyerbu ibukota Mataram, Plered. Setelah mengambil rampasan perang dari istana, Trunajaya kemudian meninggalkan keraton Mataram dan kembali ke pusat kekuasaannya di Kediri, Jawa Timur.

Kesempatan tersebut diambil oleh Pangeran Puger untuk menguasai kembali keraton yang sudah lemah, dan mengangkat dirinya menjadi raja di Plered dengan gelar Susuhunan ing Alaga.Dengan demikian sejak saat itu terpecahlah kerajaan Mataram. Karena Plered sudah dikuasai, akhirnya Amangkurat I dan Mas Rahmat melarikan diri ke barat. Pelarian Amangkurat I membuatnya jatuh sakit.Menurut Babad Tanah Jawi, kematiannya dipercepat oleh air kelapa beracun pemberian Mas Rahmat.Meskipun demikian, ia tetap menunjuk Mas Rahmat sebagai raja selanjutnya, tapi disertai kutukan bahwa keturunannya kelak tidak ada yang menjadi raja, kecuali satu orang dan itu pun hanya sebentar.

Amangkurat I meninggal pada 13 Juli 1677 di desa Wanayasa, Banyumas dan berwasiat agar dimakamkan dekat gurunya di Tegal. (Masjid Jami Pekuncen yang terletak di daerah Tegal Arum Kecamatan Adiwerna merupakan salah satu masjid tertua di Kabupaten Tegal. Masjid ini yang merupakan peninggalan Syekh Samsudin, yang merupakan guru Spiritual Sunan Amangkurat I yang merupakan raja Mataram ).

Adapun makam KH Samsudin atau syekh Samsudin terletak di belakang masjid Pekuncen. Sementara masjid berada di kawasan situs purbakala makam keturunan raja Mataram dan makam para bupati Tegal pada zaman kerajaan Mataram.

Sunan Amangkurat I juga dikebumikan di areal wisata religi di dekat masjid tetapi sedikit jauh dari makam gurunya.“Sunan Amangkurat juga merupakan penyebar ajaran agama Islam di wilayah Tegal Arum”. • Sri Susuhunan Amangkurat II Nama asli dia adalah Raden Mas Rahmat.

Dia adalah putra Amangkurat I dengan Ratu Kulon putri (Pangeran Pekik dari Surabaya). Dia adalah pendiri sekaligus raja pertama Kasunanan Kartasura sebagai kelanjutan Kesultanan Mataram. Dengan bantuan VOC, ia berhasil mengakhiri pemberontakan Trunajaya tanggal 26 Desember 1679.Amangkurat II bahkan menghukum mati Trunajaya dengan tangannya sendiri pada 2 Januari 1680.

Artikel Terkait: Undang-Undang Agraria 1870 Pada bulan September 1680 Amangkurat II membangun istana baru di hutan Wanakerta karena istana Plered diduduki adiknya, yaitu Pangeran Puger. Istana baru tersebut bernama Kartasura.Pangeran puger (anak ke 2 amangkurat 1, sekaligus adik tiri mas rahmat) tidak mau bergabung dengan amangkurat II, akhirnya terjadi peperangan diantara keduanya.

Akhirnya pangeran puger mengaku menyerah, sehingga Mataram runtuh dan Kartasura berdiri sebagai pengganti Mataram. Amangkurat II dikisahkan sebagai raja berhati lemah yang mudah dipengaruhi. Ia naik takhta atas bantuan VOC dengan hutang atas biaya perang sebesar 2,5 juta gulden.Tokoh anti VOC bernama Patih Nerangkusuma berhasil menghasutnya agar lepas dari jeratan hutang tersebut. Kerajaan mataram islam didirikan oleh tahun 1683 terjadi pemberontakan Wanakusuma, seorang keturunan Kajoran, tetapi akhirnya pemberontakan ini berhasil dipadamkan.

Pada tahun 1685 Amangkurat II menampung buronan VOC bernama Untung Suropati yang tinggal di rumah Patih Nerangkusuma. Untung Suropati diberinya tempat tinggal di desa Babirong untuk menyusun kekuatan. Bulan Februari 1686 Kapten Francois Tack tiba di Kartasura untuk menangkap Untung Suropati.

Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Pertempuran terjadi. Pasukan Untung Suropati menumpas habis pasukan Kapten Tack.

Sang kapten sendiri mati dibunuh oleh pasukan Untung Suropati. Sikap Amangkurat II yang “berselingkuh” akhirnya terbongkar. Pihak VOC menemukan surat-surat Amangkurat II kepada Cirebon, Johor, Palembang, dan bangsa Inggris yang isinya ajakan untuk memerangi Belanda, membunuh kapten, dsb. Amangkurat II akhirnya meninggal dunia tahun 1703.

Sepeninggalnya, terjadi perebutan takhta Kartasura antara putranya, yaitu Amangkurat III melawan adiknya, yaitu Pangeran Puger. • Amangkurat II Nama aslinya adalah Raden Mas Sutikna. Ia adalah putra Amangkurat II satu-satunya karena kerajaan mataram islam didirikan oleh telah mengguna-guna istri ayahnya yang lain sehingga mandul. Mas Sutikna juga dijuluki Pangeran Kencet, karena menderita cacat di bagian tumit.Dikisahkan pula bahwa Mas Sutikna berwatak buruk, mudah marah dan cemburu bila ada pria lain yang lebih tampan.

Ketika menjabat sebagai Adipati Anom, ia menikah dengan sepupunya, bernama Raden Ayu Lembah putri Pangeran Puger. Namun istrinya itu kemudian dicerai karena berselingkuh dengan Raden Sukra putra Patih Sindureja.Raden Sukra kemudian dibunuh utusan Mas Sutikna, sedangkan Pangeran Puger dipaksa menghukum mati Ayu Lembah, putrinya sendiri.

Mas Sutikna kemudian menikahi Ayu Himpun (adik Ayu Lembah). Amangkurat III naik takhta di Kartasura menggantikan Amangkurat II yang meninggal tahun 1702. Konon, menurut Babad Tanah Jawi, sebenarnya wahyu jatuh kepada Pangeran Puger. Dukungan terhadap Pangeran Puger pun mengalir dari para pejabat yang tidak menyukai pemerintahan raja baru tersebut.

Hal ini membuat Amangkurat III resah. Kerajaan mataram islam didirikan oleh menceraikan Raden Ayu Himpun dan mengangkat permaisuri baru, seorang gadis dari desa Onje.Dukungan terhadap Pangeran Puger untuk merebut takhta kembali mengalir.

Akhirnya, pada tahun 1704, Amangkurat III mengirim utusan untuk membunuh Pangeran Puger sekeluarga, namun sasarannya itu lebih dulu melarikan diri ke Semarang.Pangeran Puger di Semarang mendapat dukungan VOC, tentu saja dengan syarat-syarat yang menguntungkan Belanda. Ia pun mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Pakubuwana I. Amangkurat III membangun pertahanan di Ungaran dipimpin Pangeran Arya Mataram, pamannya, yang diam-diam ternyata mendukung Pakubuwana I. Arya Mataram berhasil membujuk Amangkurat III supaya meninggalkan Kartasura.

Ia sendiri kemudian bergabung dengan Pakubuwana I, yang tidak lain adalah kakaknya sendiri. Pangeran Blitar putra Pakubuwana I datang ke Surabaya meminta Amangkurat III supaya menyerahkan pusaka-pusaka keraton, namun ditolak.

Amangkurat III hanya sudi menyerahkannya langsung kepada Pakubuwana I. VOC kemudian memindahkan Amangkurat III ke tahanan Batavia. Dari sana ia diangkut untuk diasingkan ke Srilangka. Amangkurat III akhirnya meninggal di negeri itu pada tahun 1734. • Amangkurat IV Nama aslinya adalah Raden Mas Suryaputra. Putra dari Pakubuwana I yang lahir dari permaisuri Ratu Mas Blitar. Amangkurat IV memiliki beberapa orang putra yang menjadi tokoh-tokoh penting, dari permaisuri lahir Pakubuwana II pendiri keraton Surakarta, dari selir Mas Ayu Tejawati lahir Hamengkubuwana I raja pertama Yogyakarta, dan dari selir Mas Ayu Karoh lahir Arya Mangkunegara, ayah dari Mangkunegara I.

Pangeran Arya Dipanegara adalah putra Pakubuwana I yang lahir dari selir. Pada tahun 1719 ia ditugasi menangkap Arya Jayapuspita, pemberontak dari Surabaya. Mendengar berita kematian ayahnya yang dilanjutkan dengan pengangkatan Amangkurat IV sebagai raja baru membuat Dipanegara enggan pulang ke Kartasura.

Amangkurat IV kemudian berselisih dengan Cakraningrat IV bupati Madura (barat). Cakraningrat IV ini ikut berjasa memerangi pemberontakan Jayapuspita di Surabaya tahun 1718 silam.

Ia memiliki keyakinan bahwa Madura akan lebih makmur jika berada di bawah kekuasaan VOC daripada Kartasura yang dianggapnya bobrok. Amangkurat IV sendiri jatuh sakit bulan Maret 1726 karena diracun. Sebelum sempat menemukan pelakunya, ia lebih dulu meninggal dunia pada tanggal 20 April 1726.Amangkurat IV digantikan putranya yang baru berusia 15 tahun bergelar Pakubuwana II sebagai raja Kartasura selanjutnya.

• Pakubuwana II Nama aslinya adalah Raden Mas Prabasuyasa. Putra Amangkurat IV dari permaisuri keturunan Sunan Kudus. Pakubuwono II yang peragu ini digulingkan dari kursi kasunanan oleh pemberontakan yang didukung oleh orang Cina dan Jawa yang dikenal sebagai geger pacina. Pemberontakan yang berhasil ini kemudian mengangkat cucu Sunan Mas kerajaan mataram islam didirikan oleh raja Mataram dengan gelar Sunan Amangkurat V. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Islam Letak kerajaan Mataram di pedalaman, maka Mataram berkembang sebagai kerajaan agraris yang menekankan dan mengandalkan bidang pertanian.

Sekalipun demikian kegiatan perdagangan tetap diusahakan dan dipertahankan, karena Mataram juga menguasai daerah-daerah pesisir. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah persawahan. Dalam bidang pertanian, Mataram mengembangkan daerah persawahan yang luas terutama di Jawa Tengah, yang daerahnya juga subur dengan hasil utamanya adalah beras, di samping kayu, gula, kapas, kelapa dan palawija.

Sedangkan dalam bidang perdagangan, beras merupakan komoditi utama, bahkan menjadi barang ekspor karena pada abad ke-17 Mataram menjadi pengekspor beras paling besar pada saat itu. Dengan demikian kehidupan ekonomi Mataram berkembang pesat karena didukung oleh hasil bumi Mataram yang besar. Kehidupan Politik Kerajaan Islam Pendiri kerajaan Mataram adalahSutawijaya. Ia bergelar Panembahan Senopati, memerintah tahun (1586 – 1601). Pada awal pemerintahannya ia berusaha menundukkan daerah-daerah seperti Ponorogo, Madiun, Pasuruan, dan Cirebon serta Galuh.

Sebelum usahanya untuk memperluas dan memperkuat kerajaan Mataram terwujud, Sutawijaya digantikan oleh putranya yaitu Mas Jolang yang bergelarSultan Anyakrawati tahun 1601 – 1613. Sebagai raja Mataram ia juga berusaha meneruskan apa yang telah dilakukan oleh Panembahan Senopati untuk memperoleh kekuasaan Mataram dengan menundukkan daerah-daerah yang melepaskan diri dari Mataram.

Akan tetapi sebelum usahanya selesai, Mas Jolang meninggal tahun 1613 dan dikenal dengan sebutan Panembahan Sedo Krapyak. Untuk selanjutnya yang menjadi raja Mataram adalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati ing alogo Ngabdurrahman, yang memerintah tahun 1613-1645. Sultan Agung merupakan raja terbesar dari kerajaan ini.

Pada masa pemerintahannya Mataram mencapai puncaknya, karena ia seorang raja yang gagah berani, cakap dan bijaksana. Pada tahun 1625 hampir seluruh pulau Jawa dikuasainya kecuali Batavia dan Banten. daerah-daerah tersebut dipersatukan oleh Mataram antara lain melalui ikatan perkawinan antara adipati-adipati dengan putri-putri Mataram, bahkan Sultan Agung sendiri menikah dengan putri Cirebon sehingga daerah Cirebon kerajaan mataram islam didirikan oleh mengakui kekuasaan Mataram. Di samping mempersatukan berbagai daerah di pulau Jawa, Sultan Agung juga berusaha mengusir VOC Belanda dari Batavia.

Untuk itu Sultan Agung melakukan penyerangan terhadap VOC ke Batavia pada tahun 1628 dan 1629 akan tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan.

Penyebab kegagalan serangan terhadap VOC antara lain karena jarak tempuh dari pusat Mataram ke Batavia terlalu jauh kira-kira membutuhkan waktu 1 bulan untuk berjalan kaki, sehingga bantuan tentara sulit diharapkan dalam waktu singkat. Dan daerah-daerah yang dipersiapkan untuk mendukung pasukan sebagai lumbung padi yaitu Kerawang dan Bekasi dibakar oleh VOC, sebagai akibatnya pasukan Mataram kekurangan bahan makanan. Dampak pembakaran lumbung padi maka tersebar wabah penyakit yang menjangkiti pasukan Mataram, sedangkan pengobatan belum sempurna.

Hal inilah yang banyak menimbulkan korban dari pasukan Mataram. Di samping itu juga sistem persenjataan Belanda lebih unggul dibanding pasukan Mataram. Kehidupan Sosial dan Budaya Kerajaan Islam Sebagai kerajaan yang bersifat agraris, masyarakat Mataram disusun berdasarkan sistem feodal. Dengan sistem tersebut maka raja adalah pemilik tanah kerajaan beserta isinya.

Untuk melaksanakan pemerintahan, raja dibantu oleh seperangkat pegawai dan keluarga istana, yang mendapatkan upah atau gaji berupa tanah lungguh atau tanah garapan. Tanah lungguh tersebut dikelola oleh kepala desa (bekel) dan yang menggarapnya atau mengerjakannya adalah rakyat atau petani penggarap dengan membayar pajak/sewa tanah. Dengan adanya sistem feodalisme tersebut, menyebabkan lahirnya tuan-tuan tanah di Jawa yang sangat berkuasa terhadap tanah-tanah yang dikuasainya.

Sultan memiliki kedudukan yang tinggi juga dikenal sebagai panatagama yaitu pengatur kehidupan keagamaan. Sedangkan dalam bidang kebudayaan, seni ukir, lukis, hias dan patung serta seni sastra berkembang pesat. Hal ini terlihat dari kreasi para seniman dalam pembuatan gapura, ukiran-ukiran di istana maupun tempat ibadah. Contohnya gapura Candi Bentar di makam Sunan Tembayat (Klaten) diperkirakan dibuat pada masa Sultan Agung.Contoh lain hasil perpaduan budaya Hindu-Budha-Islam adalah penggunaan kalender Jawa, adanya kitab filsafat sastra gending dan kitab undang-undang yang disebut Surya Alam.

Contoh-contoh tersebut merupakan hasil karya dari Sultan Agung sendiri. Di samping itu juga adanya upacara Grebeg pada hari-hari besar Islam yang ditandai berupa kenduri Gunungan yang dibuat dari berbagai makanan maupun hasil bumi. Upacara Grebeg tersebut merupakan tradisi sejak zaman Majapahit sebagai tanda terhadap pemujaan nenek moyang.

Masa Kejayaan Kerajaan Mataram Islam Setelah masa Panembahan Senopati (1584- 1601 M) dan Seda Ing Krapyak (1601-1603 M). Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma yang menjadi raja ketiga dari kerajaan Mataram. Sesungguhnya pengganti Panembahan Krapyak yang dahulu dijanjikan adalah Raden Martapura (adik dari Den Mas Rangsang). Saat ia keluar untuk melakukan upacara pengangkatan, ia mendengar bisikan Ki Adipati Mandraka sehingga Raden Martapura yang pada saat itu baru berumur sekitar 7 hingga 8 tahun meletakkan jabatannya dan menyerahkannya kepada Den Mas Rangsang yang sudah berusia sekitar 20 tahun sebagai raja dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Sultan Agung memerintah dari tahun 1613-1646 M. Berbagai penaklukan dan pertempuran pertama Sultan Agung setelah pengangkatannya terjadi antara 1613-1619 M, diawali dengan serangan militer atas sebuah kerajaan mataram islam didirikan oleh perampokan ke ujung timur jawa pada tahun 1614 M. Kemudian pertempuran di sungai Andaka (1614 M) yang merupakan serangan Pangeran Surabaya bersama dengan rakyat Pasuruan dan Kerajaan mataram islam didirikan oleh terhadap pasukan Mataram.

Selanjutnya penaklukan Wirasaba pada tahun 1615 M karena posisinya yang strategis di pinggir Sungai Brantas sebagai pintu masuk Delta Brantas ke Ujung Timur Jawa. Setelah jatuhnya Wirasaba, pertempuran terjadi di Siwalan (1616 M) yang direncanakan oleh bupati- bupati daerah Timur terhadap Mataram. Mataram melanjutkan lagi dengan penaklukan beberapa daerah meliputi; Lasem (akhir 1616 M), Pasuruan (1617), Tuban (1619).

Rangkaian kemenangan Mataram ini sempat diputus oleh pemberontakan Pajang (1617). Adipati Pajang merasa diperlakukan tidak adil oleh raja Mataram. Permasalahan muncul ketika bawahan Adipati Pajang, Ngabei Tambakbaya menolak perintah raja Mataram untuk menyerahkan kudanya yang bagus, yang bernama Domba. Akhirnya kedua penguasa Pajang tersebut harus menghadapi kemarahan raja Mataram. Pada awalnya Mataram mengharapkan hubungan yang baik dengan VOC, antara lain karena Sultan Agung membutuhkan sekutu untuk melawan musuh-musuh Mataram, seperti Surabaya yang juga telah menimbulkan kesulitan bagi Kompeni untuk pelayaran bebas di pulau- pulau rempah atau untuk melawan Banten tempat dimana Kompeni tidak mempunyai kedudukan apapun.

Artikel Terkait: Kerajaan Tarumanegara Begitu harapan agar Mataram tidak dipandang asing di mata dunia. Berbagai kesepakatan dibuat, seperti pembangunan loji di Jepara untuk Belanda dan pemberian 2 buah meriam Belanda untuk Kerajaan mataram islam didirikan oleh. Namun pada akhirnya kedua belah pihak merasa kecewa satu sama lain.

Sultan Agung melakukan beberapa kali serangan terhadap lawannya yaitu Surabaya. Serangan tersebut dilakukan hingga lima kali berturut- turut, serangan pertama pada tahun 1620 dan serangan kedua pada tahun 1621.

Pada tahun 1622 Mataram berhasil menduduki Sukadana yang merupakan daerah kekuasaan Surabaya, stategi penyerangan dilakukan pada malam hari dengan senjata sumpit panah beracun.

Serangan ketiga dilanjutkan pada tahun yang sama. Serangan keempat pada 1623. Penyerangan Mataram dialihkan ke Madura yang diduga sebagai tempat penyuplai makanan untuk Surabaya.

Penaklukan atas Madura berhasil pada tahun 1624 M. Nasib raja- raja Madura berakhir tragis dalam pelarian, ada yang berhasil namun lebih banyak mereka tertangkap dan dibunuh. Mataram kembali pada Surabaya dengan serangannya yang kelima pada 1624. Stategi penyerangan dilakukan oleh Sultan Agung dengan menutup saluran air yang menjadi masalah bagi Surabaya sampai abad ke-19, akhirnya mematahkan pertahanan Surabaya, hingga Surabaya menyerah pada tahun 1625 M.

Sampai disini, Sultan Agung telah berhasil menaklukan dua kerajaan besar yang menjadi musuhnya, yaitu kerajaan Surabaya dan Madura. Sultan Agung memiliki wajah yang kejam, kulit yang lebih hitam dibanding orang- orang jawa pada umumnya, berbadan bagus, memiliki hidung kecil dan tidak pesek, mulut datar dan agak lebar, kasar dalam bahasa, agak lamban dalam berbicara, berwajah tenang dan bulat, dan terlihat cerdas. Ia memerintah dengan sangat keras, memandang sekelilingnya seperti singa.

Ia memiliki sifat ingin tahu, bertindak sangat tegas, dan haus akan ilmu pengetahuan, pemarah, selalu waspada, tidak mempercayai siapapun termasuk keluarganya sendiri, seorang yang arif namun keras hati. Sultan Agung patuh terhadap agama Islam, ia memberlakukan tarikh Islam, secara teratur mengikuti sembahyang Jumat di Mekah.

Ia secara teratur pergi ke Mesjid dan para pembesar diharuskan mengikutinya. Pada grebek Puasa 9 Agustus 1622 Sultan Agung pergi ke Mesjid meskipun itu bukan tahun Dal.

Setiap tahun raja menghadiri perayaan tersebut. Sebelum 1633, setiap tawanan perang harus dikhitan juga dengan ancaman mati. Prajurit- prajurit Mataram dapat mudah dikenali karena mereka berambut pendek dan memakai kuluk putih.

Tidak lama sebelum Sultan Agung wafat ia menyuruh pangkas rambutnya. Hal inilah yang menandai bahwa ia kuat dalam menjalankan Islam. Dari semua kegemilangan yang diraih oleh Sultan Agung, terdapat juga masalah pada masa pemerintahannya seperti wabah pada 1625- 1627. Setelah Surabaya menyerah, militer Mataram mengalami kemunduran. Banyaknya kematian, peperangan, kelesuan, kerajaan mataram islam didirikan oleh makanan yang mahal, pajak yang berat di seluruh tanah Jawa.

Di Banten, sepertiga penduduk meninggal. Di Cirebon, 2000 orang meninggal dunia dalam musim panas. Begitu pula di Kendal, Tegal, Jepara, dan semua tempat pantai sampai Surabaya, juga dipedalaman.

Orang meninggal dunia tidak dapat dihitung, kebanyakan disebabkan oleh penyakit paru- paru yang menyebabkan sesak nafas sehingga dalam satu jam saja orang dapat meninggal. Penyakit ini terus mewabah hingga tiga tahun. Mataram mengalami kemunduran dan kemiskinan karena banyak lahan pertanian menjadi gersang. Pada tahun 1627 terjadi pemberontakan Pati. Sultan Agung mendapat hasutan Tumenggung Endranata (seorang dari enam penasehat raja Mataram) yang kemudian setelah Pati berhasil dikuasai seluruhnya oleh Mataram, Tumenggung Endranata harus membayarnya dengan nyawanya.

Setelah berakhirnya pemberontakan Pati, Sultan Agung memfokuskan dirinya untuk merebut kedudukan Kompeni Belanda. Hal ini sudah lama diinginkan Sultan Agung, mengingat Belanda selalu turut campur pada banyak peperangan Mataram melawan musuhnya saat itu, seperti saat melawan Surabaya.

Sultan Agung melakukan pengepungan yang pertama ke Batavia pada tahun 1628 M. Kemudian pengepungan yang kedua terjadi pada tahun 1629 M.

Namun sayang, kedua penyerangan ini gagal. Sultan Agung membunuh panglima yang kembali pada penyerangan pertama dalam keadaan hidup. Pilihannya adalah membawa pulang kemenangan atau mati. Namun pada penyerangan yang kedua Sultan Agung bersikap lebih lunak karena ada tindakan perlawanan dari panglima yang menolak hukuman mati tersebut.

Saat itu Sultan Agung adalah penguasa daerah pertama yang berani melakukan penyerangan terhadap VOC.

Setelah kegagalan pengepungan terhadap Batavia, Sultan Agung mengharapkan bantuan Portugis yang pada saat itu sedang mengalami masa kegemilangan setelah berhasil mengusir armada Aceh di Malaka. Susuhunan mengirimkan surat dua kali pada tahun 1628 dan 1630 M kepada Portugis untuk membantu Mataram. Permintaan ini disambut baik oleh Portugis, apalagi saat itu Portugis menentang VOC. Baginya setiap sekutu harus diterima dengan baik dan kesempatan yang menguntungkan ini pasti akan dimanfaatkan.

Untuk bantuan itu didatangkanlah perutusan portugis yang pertama pada tahun 1631 dan yang kedua pada tahun 1632-1633 M. Setelah dua kali mengalami kegagalan, Sultan Agung tidak lagi sungguh- sungguh kerajaan mataram islam didirikan oleh peruntungannya yang penting adalah mendapatkan penghormatan yang jelas dan tegas dari Kompeni. Untuk itulah dibuka perundingan pada tahun 1630 M lewat utusan yang dikirim, namun VOC tidak langsung menyetujui perdamaian karena mencurigai pembawa pesan.

Maka VOC mengutus Pieter Franssen ke Mataram, namun misi mencari tahu perdamaian ini gagal, begitu pula dengan perundingan 1632- 1634 M.

Kemudian terjadilah Perang Laut (1633- kerajaan mataram islam didirikan oleh M), dimana saat itu mataram mengejar armada VOC. Pada saat itu setiap kapal asing yang berlayar antara Banten dan Batavia akan diserang oleh kapal milik Mataram atau VOC. Namun kemudian pada kerajaan mataram islam didirikan oleh tahun 1635 Mataram mulai merubah politiknya dengan menarik sekitar 40 hingga 50-an kapak Jawa yang kecil-kecil.

Sesungguhnya kegagalan Mataram hingga dua kali di depan VOC menimbulkan ketegangan dalam kerajaan, berupa pemberontakan Sumedang dan Ukur (1628- 1635 M) dan ketegangan di Pedalaman (1630 M) yaitu wilayah Mataram yang mengancam pusat kerajaan hingga Sultan Agung berziarah ke Tembayat (1633) menghadap makam yang keramat atas masa-masa sulit yang dihadapi kerajaannya.

Hal ini merupakan sebuah pengorbanan diri yang amat besar bagi Sultan Agung karena makam tembayat itu lebih banyak mendapat perhatian orang- orang kecil, pedagang, dan pengrajin. Pada tahun yang sama, Sultan Agung menjadikan awal tarikh Islam Hindu jawa yang baru yaitu pada hari Jumat 8 Juli 1633 M. Dua tahun setelah kunjungannya ke Tembayat dan penggunaan penanggalan yang baru, Mataram mengangkat senjata terhadap raja ulama Giri.

Giri takluk pada 1636 M. Sementara disela itu Mataram berdamai dengan Surabaya (1628-1633 M) tanpa perlawanan karena sikap Pangeran Pekik yang memilih berdamai hingga Sultan Agung menikahkannya dengan adiknya, Ratu Pandan Sari. Perundingan antara Mataram kerajaan mataram islam didirikan oleh Belanda terus berlangsung 1636- 1642 M, hubungan tetap saja memburuk Sultan Agung memanfaatkan usaha perundingan ini untuk meminta berbagai hadiah kepada Pemerintah Tinggi Belanda dengan memanfaatkan tawanan Belanda di Kerajaan Mataram.

Perundingan ini terus berlanjut selama 6 tahun namun tanpa hasil hingga kematian Sultan Agung. Pada tahun sebelumnya (1635 M) Mataram melakukan serangan yang pertama ke Blambangan. Kemudian serangan berikutnya terjadi selama 4 tahun dari tahun1636 M hingga Blambangan berhasil ditaklukan pada 1640 M. Kerajaan Mataram memiliki pengaruh yang besar bahkan menjangkau jauh hingga luar Jawa terutama setelah Surabaya jatuh pada tahun 1625 M.

Hal ini terbukti dari kerajaan di luar Jawa seperti pada musim hujan tahun 1625- 1626 M dimana raja Palembang mengirimkan duta kepada sang penguasa besar dengan tujuh ekor gajah dan hadiah- hadiah lain dengan harapan Mataram akan membantu Palembang untuk melawan Banten. Begitu pula dengan Jambi yang berdekatan dengan Palembang. Atas prakarsa Palembang, Jambi mengupayakan penyerahan pos- pos diplomatik Belanda kepada Mataram.

Sementara dengan Banjarmasin pada bulan Oktober 1641 tibalah seorang utusan raja Banjarmasin di Jepara dengan 500 orang pengiring yang membawa hadiah- hadiah terdiri dari merica, rotan, barang- barang anyaman, dan lilin. Hal ini dilakukan raja Jambi dengan maksud perdamaian setelah sebelumnya terdengar desas- desus penyerangan yang mengakibatkan hubungan kedua kerajaan ini tegang. Pengaruh kerajaan Mataram bahkan meluas hingga Sulawesi. Pada bulan Juni 1680 utusan Makasar tiba di Mataram dengan membawa dua ekor kuda dan sebuah tempat tidur dari emas untuk Sultan Agung.

Sementara dengan Cirebon, Panembahan Ratu yang dianggap sebagai guru raja Mataram, menghadiri Sidang Raya Kerajaan (1636 M) untuk memperbesar kewibawaan susuhunan. Pada tahun- tahun terakhir sebelum wafatnya Sultan Agung kerajaan mataram islam didirikan oleh di laut maupun di darat keadaan medan perang tenang sekali meskipun baik Mataram maupun Kompeni masing- masing tidak melepaskan tawanan kedua belah pihak.

Usaha perdagangan terus berkembang dan dari segala sudut tanah Jawa segala macam barang diangkut ke Batavia berlimpah- limpah. Dalam surat- menyurat yang sering terjadi antara Sultan Agung dan Pemerintah Tinggi Belanda, Pemerintah Tinggi berulang kali menggunakan gelar ”Yang Mulia” yang sangat mengesankan.

Bahkan sesudah wafatnya Sultan Agung, karisma ketegasan beliau masih terasa ketika Wiraguna yang mempunyai kekuasaan di pemerintahan kekuasaan, menjatuhkan hukuman kepada beberapa tawanan Belanda yang minta dibebaskan. Tokoh yang kuat ini tidak mudah dilupakan bahkan setelah puluhan tahun wafatnya ketika usia lanjut pada tahun 1648 M. Sehubungan dengan kematian Sultan Agung yang menarik perhatian bahwa menurut cerita tutur dalam Serat Khanda (hal.

992-926), dewi kematian Lara Kidul meramalkan kematian Sultan Agung dua tahun sebelumnya, yaitu ketika raja mengunjungi Nyi Lara Kidul di istananya di bawah laut. Jadi, awal 1644 raja telah mengetahui atau merasa bahwa ia akan meninggal. Maka, Sultan Agung mempersiapkan diri untuk menghadapi kematiannya, antara lain dengan pembangunan makam di bukit pada tahun 1629- 1630 M di Imogiri.

Pembangunan makam di atas bukit ini harus dihubungkan dengan pengangkatannya sebagai Susuhunan pada tahun 1624 M. Dimana dahulu gelar ini hanya diberikan untuk para wali dan diberikan hanya setelah mereka wafat. Pemakaman di atas bukit ini merupakan usaha melestarikan pengaruh dalam bidang spiritual.

Sultan Agung meninggal di pendapa keratonnya. Mungkin ia meninggal karena wabah yang menyerang Mataram pada masa itu. Selama penyakitnya terakhir, raja mengadakan peraturan untuk mencegah perebutan tahta antara putra mahkota dan saudaranya pangeran Alit. Oleh karena itu ia memanggil Tumenggung Wiraguna dan pembesar lainnya yang tidak disebut namannya, mungkin Pangeran Surabaya, agar pilihan penggantinya disetujui dan diperkuat oleh mereka.

Untuk mencegah segala kemungkinan, ia menahan mereka di istana dan semua gerbang tol dijaga oleh para prajurit. Tidak lama kemudian raja wafat, mungkin sekitar tengahan pertama bulan Februari 1646 M. Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam Sultan Agung tidak mempunyai pengganti yang mumpuni sepeninggalnya.

Putra mahkota sangat bertolak belakang sifat dan kepribadiannya dengan sang ayah. Kegemarannya pada kehidupan keduniawian telah mendorongnya ke jurang kehancuran kerajaan. Maka dimulailah pemerintahannya sebagai raja Mataram bergelar Sunan Amangkurat I (1646-1677). Raja ini mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan para pendahulunya. Gaya pemerintahannya cenderung lalim, tidak suka bergaul (terasing) dan terlalu curiga dengan semua orang. Para pejabat di zaman pemerintahan ayahnya dihabisi dengan bengis, entah dengan hukuman cekik sampai mati untuk perkara-perkara yang sudah diatur (jebakan) atau dengan cara dikorbankan menjadi memimpin armada perang ke luar Mataram.

Hubungan antar kerabat pun tidak berjalan kerajaan mataram islam didirikan oleh. Bahkan dengan putra mahkotanya, Sunan Amangkurat I terlibat bersaing dalam urusan wanita pilihan sebagai istri. Kejadian ini memunculkan tragedi berupa tewasnya mertua dan saudara-saudara raja. Karena putra mahkota didukung oleh kakeknya, P. Pekik (mertua Amangkurat I) untuk menikahi seorang gadis cantik bernama Rara Oyi, putri Ngabehi Mangunjaya dari tepi Kali Mas Surabaya.

P. Pekik berasal dari Surabaya terlibat membantu putra mahkota yang merupakan saingan sang raja dalam perebutan putri tersebut. Artikel Terkait: Kerajaan Mataram Kuno Kebengisan sunan dapat dilacak dari catatan pejabat Belanda maupun dalam babad Jawa.Banyak kejadian tidak masuk akal pada pemerintahannya. Pernah sang raja mengatur pembunuhan untuk adiknya, P. Alit. Karena sang adik dihasut para pangeran di kerajaan untuk menuntut tahta.

Bahkan raja pernah melakukan genocide terhadap lima ribu ulama. Sifat bengis sunan ini telah menimbulkan sikap anti pati dan ketakutan rakyatnya.

Oleh sebab itu ketika terjadi serbuan dari kelompok P. Trunajaya dari Madura, raja tidak mampu menangkisnya. Karena rakyat bersatu padu menyerang istana. Sunan Amangkurat I menyingkir hingga meninggal karena sakit dalam pelariannya di Wanayasa, Banyumas utara. Konon pula, untuk mempercepat kematiannya, putra mahkota yang kelak menjadi Amangkurat II memberi sebutir pil racun pada sang ayah. Amangkurat I dimakamkan di Tegalwangi, dekat dengan gurunya yaitu Tumenggung Danupaya.

Bagaimanapun buruknya Amangkurat I, beliau tetap mempunyai karya besar. Dalam bidang arsitektur, sunan membuat istana baru di Plered (selatan Kuta Gede) dengan konsep pulau ditengah laut. Pembangunan istana Mataram tersebut dilandasi oleh sifatnya yang tidak mau kalah dengan keberhasilan sang ayah. Untuk pekerjaan ini, sunan mengerahkan para penduduk hingga luar ibu kota agar membuat batu bata sebagai tembok kraton dan membendung sungai Opak menjadi danau besar.

Utusan VOC, Rijklof van Goens mencatat bahwa ia sangat takjub dengan kraton Plered yang seolah-olah mengapung di lautan.

Untuk mencapai alun-alun sebelum ke istana, orang harus melewati jembatan batang yang dibangun permanen. Wafatnya Amangkurat I, membuat Putra mahkota mempunyai modal besar menggantikan tahta Mataram. Dengan bekal pusaka-pusaka kerajaan, beliau berusaha mengusir gerakan Trunajaya dengan meminta dukungan VOC. Putra mahkota naik tahta bergelar Sunan Amangkurat II (1677-1703). Ibu kota Mataram dipindah, bergerak ke timur di Kartasura. Karena P. Puger (adik Amangkurat II) tetap berdiam di istana Plered, setelah Amangkurat I wafat.

Beliau berpendapat bahwa dirinya kerajaan mataram islam didirikan oleh berhak atas tahta Mataram. Karena dirinya yang mendapat wahyu dari sang ayah (Amangkurat I) bukan putra mahkota (Amangkurat II). Kejadian tersebut ketika P. Puger menunggui ajal sang ayah. Namun akhirnya P. Puger mengakui kekuasaan Amangkurat II di Kartasura tahun 1680. setelah terjadi pertikaian alot. Meskipun pada masa-masa sesudahnya, P.

Puger tetap membara semangatnya untuk mencapai tahta Mataram. Kelak akhirnya sang pangeran bertahta sebagai Sunan Paku Buwana I. Pemerintahan Amangkurat II (1677-1703) di Kartasura dibangun dengan dukungan penuh VOC.

Oleh karena itu, dirinya terikat dengan segala macam permintaan VOC. Di sisi lain, sang raja sangat melindungi para pejuang dalam melakukan perlawanan terhadap VOC, diantaranya adalah Untung Suropati. Ia merupakan mantan perwira VOC yang akhirnya memusuhi resimennya kerajaan mataram islam didirikan oleh tindakannya yang sewenang-wenang. Ketika VOC meminta sang raja untuk menyambut Kapten Tack di Kartasura, muncullah ambivalensinya.

Meskipun Kapten Tack ini sangat berjasa dengan berhasil membunuh P. Trunajaya di Kediri, namun karena sifatnya yang arogan di mata sang raja, maka Amangkurat II sangat membenci Kapten Tack. Apalagi kedatangannya ke kraton Mataram adalah untuk mengusir gerakan Untung Suropati. Untuk menutupi sikap ambivalensinya, Amangkurat II menyambut baik kedatangan Kapten Tack di depan istana Kartasura. Namun, beliau telah mengatur siasat dengan pasukan Suropati untuk menyamar sebagai prajurit Mataram.

Tiba-tiba terjadi huru hara di saat Kapten Tack datang di istana yang menyebabkan dirinya terbunuh (Feb 1686). Sayang, tindakan sunan tersebut diketahui oleh sang adik, P.

Puger. Kelak beliau menunjukkan bukti-bukti kuat kepada VOC soal keterlibatan sang raja dalam peristiwa itu. Inilah senjata ampuh P. Puger dalam mendongkel tahta keturunan Sunan Amangkurat II. Dalam kehidupan seni budaya, dukungan kuat VOC telah mempengaruhi Amangkurat II untuk menerapkan etiket Eropa di dalam istana. Tata cara adat sembah untuk menghormat raja mulai diubah tidak dengan cara duduk bersila, melainkan dengan berdiri tegak lurus tangan dan kaki, topi diletakkan di lengan.

Ini berlaku bagi orang-orang Eropa. Bahkan mereka diperkenankan duduk di bangku, bukan duduk bersila di lantai seperti layaknya pada pejabat Mataram. Inilah revolusi sosial yang mulai berlaku di istana Mataram. Ketika Amangkurat II wafat, tahta Mataram masih diteruskan oleh putra mahkota bergelar Amangkurat III (1703-1708). Raja ini juga menggalang persahabatan dengan Untung Suropati, seperti ayahnya.

Sementara itu, di istana terjadi konflik lama. Sang paman, P. Puger tetap ngotot menginginkan tahta. Dengan bukti-bukti kuat keterlibatan Amangkurat II dan III soal wafatnya Kapten Tack, maka P. Puger dinaikkan tahta sebagai raja Mataram oleh VOC, bergelar Sunan Paku Buwana I (1704-1719). Beliau bertahta di Semarang. Amangkurat III diserang oleh VOC dan Sunan PB I.

Beliau melarikan diri ke Jawa Timur, akhirnya dapat ditawan VOC (1708) kemudian diasingkan ke Sri Lanka. Sunan PB I kemudian bertahta di Kartasura. Masa-masa pemerintahannya dibayar mahal dengan menyerahkan daerah-daerah pesisir kepada VOC. Suatu kesalahan besar. Karena sumber pendapatan Mataram berkurang drastis. Ianilah yang memancing konflik intern berkepanjangan. Kondisi kerajaan tidak pernah stabil.

Para pangeran merasa bahwa pengaruh dan kebijakan VOC sangat menancap di Mataram. Terjadi beberapa pemberontakan yang dilakukan para pembesar kerajaan yang tidak puas dengan kondisi pemerintahan. Keadaan ini berlangsung terus bahkan hingga wafatnya Sunan PB I dan digantikan sang putra dengan gelar Sunan Amangkurat IV (1719-1726).

Catatan Belanda menunjukkan bahwa Amangkurat IV seperti seorang raja yang telah ditinggalkan rakyatnya. Kerajaan sangat rapuh, potensi perpecahan dan konflik intern merebak. Bahkan hingga wafatnya, sang raja pengganti (Sunan PB II) mewarisi kerapuhan tersebut. Sunan PB II (1726-1749) memegang tampuk pemerintahan dalam usia muda belia, 16 tahun. Hal itulah yang membuat sang bunda, Ratu Amangkurat IV yang mendukung VOC melakukan intervensi pada pemerintahannya.

Sementara itu patihnya, Danurejo sangat anti VOC. Sebagaimana sang ayah yang mewarisi kondisi kerajaan tidak solid, Sunan PB II pun dirongrong oleh hutang-hutang yang harus dibayarkan kepada VOC. Bahkan kerajaan mengalami perang besar, yaitu pemberontakan orang-orang Cina yang semula terjadi di Batavia (1740) kemudian merembet hingga Kartasura. Perang yang dikenal sebagai Geger Pacina ini telah membuat sunan bersama gubernur pesisir van Hohendorff harus melarikan diri ke Jawa Timur karena istana Mataram diduduki kaum pemberontak.

Beruntung, VOC dapat menyusun kekuatan dan berhasil menduduki kembali Kartasura tahun 1742. Namun kondisi istana yang sudah poranda tidak layak sebagai ibukota kerajaan dan paham Jawa mengatakan bahwa istana yang sudah diduduki musuh, tidak lagi suci sebagai ibukota.

Dengan dukungan VOC, Sunan PB II membangun istana baru. Desa Sala atau kemudian dikenal dengan Surakarta Hadiningrat terpilih dari 3 alternatif yang diajukan dan sunan mulai mendiaminya pada 1745(1746). Arsitek pembangunan kraton adalah adik sunan, P.

Mangkubumi (kelak bergelar Sultan HB I). Harga mahal yang harus dibayar raja kepada VOC karena berhasil memadamkan perang pacina adalah kesepakatan bahwa VOC memperoleh daerah pesisir, yaitu Kerajaan mataram islam didirikan oleh, Sumenep dan Pamekasan. Selain itu, VOC lah yang menentukan pejabat patih Mataram serta penguasa pesisir. Akibat jatuhnya pesisir ke tangan VOC, para pejabat Mataram geram. Bermunculan para pemberontak yang merongrong istana Surakarta Hadiningrat. Diantaranya yang terkenal adalah pasukan Raden Mas Said (1746), keponakan raja.

Untuk memadamkan pemberontakan itu, sunan mengadakan sayembara berupa pemberian tanah Sokawati bagi yang berhasil memadamkannya. Kerajaan mataram islam didirikan oleh tampillah adik raja, P. Mangkubumi. Dengan kemampuannya mengatur strategi perang dan penguasaan medan yang jitu, akhirnya gerakan Kerajaan mataram islam didirikan oleh Said dapat ditumpas.

Namun sunan mengampuni keponakannya itu. Masalah timbul, ketika dalam pertemuan agung kerajaan, langkah sunan hendak menyerahkan hadiah tanah Sokawati kepada P. Mangkubumi dihalangi oleh patihnya, Pringgalaya dan gubernur van Imhoff. Menurut gubernur VOC tersebut, Mangkubumi tidak layak mendapat hadiah 4000 cacah. Seakan-akan hendak menandingi kekuasaan raja.

Mangkubumi kecewa, dipermalukan dihadapan umum oleh van Imhoff. Maka 19 Mei 1746, beliau berontak pada VOCkeluar dari Surakarta, lalu mendiami Sokawati dengan kekuatan 2500 kavaleri (pasukan berkuda) serta 13000 anak buah dan punggawa yang mendukungnya. Beliau melancarkan serangan kepada VOC di Grobogan, Juana, Demak, Jipang (Bojonegoro).

Pasukannya bertambah kuat dengan bergabungnya RM. Said, sang keponakan yang sempat ditundukkannya. Persatuan paman dan keponakan ini bahkan hampir menguasai istana Surakarta (1748). Kondisi kerajaan yang tidak stabil membuat Sunan PB II jatuh sakit. Seakan sudah pasrah dengan kerajaannya yang tidak solid, beliau menyerahkan Mataram kepada gubernur Baron von Hohendorff (11 Desember 1749). Inilah kesalahan terbesar yang dilakukan raja. Keputusan tersebut menyulut P.

Mangkubumi untuk bergerak, agar dapat menarik kembali kerajaan tetap dalam pangkuan dinasti Mataram. Beliau mengangkat dirinya sebagai Sunan Pakubuwana di desa Bering, Yogyakarta (12 des 1749).

Tindakan ini sebagai langkah mendahului keponakannya (putra mahkota PB II yang baru 16 tahun), yang akan dinaikkan tahta oleh VOC sebagai Sunan PB III. Inilah babak baru periode kerajaan Mataram terbagi dua. P. Mangkubumi sebagai raja didampingi RM.

Said sebagai kerajaan mataram islam didirikan oleh. Kedua tokoh ini merupakan dwi tunggal kekuatan yang sulit ditembus VOC maupun Surakarta Hadiningrat dibawah PB III. Sayang persekutuan sultan dan patihnya yang juga merupakan menantu, akhirnya pecah di tahun 1753 akibat benturan konflik pribadi soal tahta Mataram yang masih dipegang Sunan PB III.

VOC yang sudah lelah dengan panjangnya peperangan, mulai menempuh jalur perundingan. Bahkan RM. Said pernah menulis surat ke VOC bersedia berunding dengan syarat diangkat sebagai sunan. Rupanya VOC tidak mengindahkannya, namun melirik pada P. Mangkubumi. VOC mendekatinya bahkan mengganti pejabatnya yang tidak disukai P. Mangkubumi dalam upaya perundingan, yaitu van Hohendorff. VOC menggantikannya dengan Nicolaas Hartingh. Seorang Belanda yang sangat mengerti tata krama Jawa, pribadi yang lebih disukai P.

Mangkubumi. Dalam hal ini Hohendorff sadar diri, ia tidak akan bisa kontak dengan Mangkubumi dan hal tersebut sangat merugikan VOC. Selain itu, citranya sudah buruk di Surakarta. Oleh karena itu pengunduran diri Hohendorff merupakan langkah maju bagi VOC guna membuka perundingan dengan P.

Mangkubumi. Kesepakatan tercapai melalui Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755). Menyatakan Mataram dibagi dua. Sunan PB III tetap bertahta di Surakarta Hadiningrat dengan kekuasaan meliputi : Ponorogo, Kediri, Banyumas.

P. Mangkubumi bertahta di desa Bering yang lebih dikenal dengan Ngayogyakarta Hadiningrat, dengan wilayah meliputi Grobogan, Kertasana, Jipang, Japan, Madiun. Sementara Pacitan dibagi untuk keduanya, termasuk Kotagede dan makam Kerajaan Imogiri. Sunan PB III yang tidak diikutkan dalam perundingan tersebut tidak dapat berbuat banyak, hanya bisa menerimanya.

Sementara itu, RM. Said semakin kecewa karena tidak mendapatkan kekuasaan. Oleh karena itu dirinya semakin gencar melakukan perlawanan baik kepada Sultan HB I, Sunan PB III, dan VOC. Merasa tidak mampu menanganinya, VOC pun menawarkan jalan damai, melalui perundingan Salatiga (1757).

Dalam perundingan tersebut Mas Said menyatakan kesetiaannya pada raja Surakarta Hadiningrat dan VOC. Sunan PB III memberikan tanah 4000 cacah dengan wilayah meliputi Nglaroh, Karanganyar, Wonogiri. Sementara, Sultan HB I tidak memberikan apa-apa. Kemudian RM. Said dinobatkan sebagai adipati Mangkunegara I.

Kerajaannya bernama Mangkunegaran. Demikian Penjelasan Pelajaran IPS- Sejarah Tentang Silsilah Kerajaan Mataram Islam: Sejarah, Masa Kejayaan, Runtuhnya Semoga Materi Pada Hari ini Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi, Terima Kasih !!! Baca Artikel Lainnya: • Kerajaan Banten • Pengertian Benua, Proses, Jumlah Serta Macam-Macamnya • Asal Usul dan Persebaran Nenek Moyang Bangsa Indonesia • Pengertian Ekonomi Kerakyatan, Ciri, Tujuan, Manfaat, Kelebihan dan Kekurangan Posting terkait: • Kerajaan Gowa Tallo • Materi Perang Korea (1950-1953) • Prasasti Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Posting pada Sejarah Ditag abad kerajaan mataram, akhir kerajaan mataram, amangkurat 1 membunuh ulama, apa sumber sejarah kerajaan singasari, bagaimana proses berdirinya kerajaan demak, bukti kejayaan kerajaan mataram kuno, candi budha di daerah magelang dan yogyakarta, ciri ciri kerajaan mataram islam, dengan pindahnya demak ke pajang berarti, faktor keberhasilan kerajaan kerajaan mataram islam didirikan oleh kuno, faktor kejayaan dan keruntuhan kerajaan mataram islam, kerajaan mataram islam didirikan oleh kemajuan kerajaan medang kamulan, gapura kerajaan mataram islam, hasil budaya kerajaan mataram kuno, hasil kebudayaan kerajaan mataram kuno, hasil kebudayaan kerajaan medang, ilmu mataram kuno, jelaskan perkembangan kerajaan pajang, kasunanan surakarta, kebijakan sultan agung, kehidupan budaya mataram kuno, kehidupan politik kerajaan mataram islam, kehidupan politik kerajaan mataram kuno, kerajaan banten, kerajaan islam cirebon, kerajaan islam pertama di jawa didirikan oleh, kerajaan makassar, kerajaan mataram berhasil menguasai pesisir utara pulau jawa pada masa pemerintahan, kerajaan mataram hindu, kerajaan mataram kuno, kerajaan medang, keruntuhan kerajaan medang kamulan, kesaktian amangkurat 1, kesultanan banten, kesultanan demak, kesultanan pajang, kesultanan ternate dan tidore, keturunan kerajaan mataram, keturunan sultan agung, ki ageng pemanahan, komoditas perdagangan kerajaan mataram kuno, letak kerajaan mataram islam, letak kerajaan mataram islam brainly, letak kerajaan medang, lokasi dan sumber sejarah kerajaan mataram islam, makalah kerajaan mataram islam, makalah kerajaan mataram kuno, masa kejayaan dan keruntuhan kerajaan kediri, masa kejayaan kerajaan mataram budha, masa kejayaan kerajaan mataram islam brainly, masa kejayaan kerajaan mataram kuno, masa kejayaan kerajaan mataram kuno brainly, masa kejayaan kerajaan medang, masa kejayaan kerajaan medang brainly, masa kejayaan kesultanan ternate dan tidore, masa kemunduran kerajaan mataram, masa keruntuhan kerajaan mataram islam, nama lain sultan agung, nama raja raja kerajaan mataram, naskah mataram kuno, pangeran puger, panglima mataram, pemerintahan kerajaan mataram islam, pemimpin uli lima, pendiri kerajaan medang, peninggalan kerajaan mataram, peninggalan kerajaan mataram islam, peninggalan kerajaan mataram islam brainly, peninggalan kerajaan mataram kuno, peninggalan kerajaan mataram kuno brainly, peninggalan kesultanan banjar, penyebab keruntuhan kerajaan mataram kuno, perang hingga tetes darah penghabisan disebut, perang kerajaan mataram, perkembangan kerajaan mataram islam, perkembangan kerajaan mataram kuno, perpecahan kerajaan mataram, peta konsep kerajaan mataram kuno, ppt kerajaan mataram islam, proses masuknya islam di kerajaan mataram, puncak kejayaan dinasti isyana dan runtuhnya, puncak kejayaan kerajaan medang, pusaka amangkurat 1, raden mas jolang, radhenmas mataram, raja balitung, raja kerajaan mataram kuno, raja terakhir kerajaan banjar, raja terkenal kerajaan mataram kuno, raja yang terkenal di kerajaan mataram kuno, sebab runtuh kerajaan mataram kuno, sebutkan sumber sejarah kerajaan mataram kuno, sejarah kerajaan mataram kuno pdf, silsilah kerajaan mataram islam, silsilah kerajaan mataram kuno, sistem pemerintahan kerajaan mataram kuno, sultan agung, sumber kerajaan banten, sumber sejarah kerajaan mataram, sumber sejarah kerajaan mataram brainly, sumber sejarah kerajaan mataram hindu budha, sumber sejarah kerajaan mataram islam brainly, sumber sejarah kerajaan kerajaan mataram islam didirikan oleh kuno, sumber sejarah kerajaan mataram kuno brainly, sumber sejarah kerajaan mataram kuno dari luar negeri, sumber sejarah kerajaan mataram kuno secara singkat, sumber sejarah kerajaan medang, sumber sejarah kesultanan ternate dan tidore, tumenggung endranata, wilayah kerajaan mataram yang termasuk daerah sekitar pusat keraton adalah, zaman keemasan mataram dipimpin oleh Pos-pos Terbaru • Pengertian Permintaan • Download App Cloner Mod Apk 2.12.5 Premium Full Unlocked • Project QT Mod Apk 14.3 Terbaru 2021 Unlimited Gems • Perbedaan Bijih Logam dan Bijih Besi • Klasifikasi Endapan Bijih • Kristalisasi Magma • Nama Provinsi Di Indonesia • Materi Stratifikasi Sosial • Hujan Meteor Quadrantid • Hujan Meteor Leonid • Monster Hunter Stories Mod Apk 1.0.3 Full Unlimited Item • Download Kail Pancing Mod Apk 2.4.3 Unlimited Money • Hujan Meteor Taurid • Hujan Meteor Draconid • GTA V Mod Apk 2.00 Unlimited Money Download 2021 Kerajaan Mataram Islam atau Kesultanan Mataram merupakan salah satu kerajaan islam yang pernah berjaya di Indonesia khususnya Pulau Jawa.

Kerajaan yang berdiri sejak abad ke-16 ini berperan penting dalam penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Banyak tokoh Islam berpengaruh yang berasal dari kerajaan tersebut, salah satunya adalah Panembahan Senapati, raja kedua kerajaan Islam berpengaruh pada masa itu. Masa kejayaan kerajaan terjadi saat berhasil menyatukan Pulau Jawa (kecuali Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon) dan Madura. Uniknya, kerajaan tersebut berbasis agraris atau pertanian, tidak seperti kerajaan besar lainnya yang berbasis maritim.

Sehingga kerajaan tersebut termasuk kerajaan yang subur dengan hasil pertanian yang melimpah. Dari itulah kerajaan Islam ini pantas memiliki tempat sebagai kerajaan berpengaruh yang pernah berkuasa di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Sejarah Kerajaan Mataram Islam Sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam berawal dari pemberian sebuah hutan bernama Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pamanahan oleh Sultan Hadiwijaya, raja pertama Kerajaan Pajang.

Pemberian hutan tersebut dalam rangka jasa Ki Ageng Pamanahan dalam menaklukkan Arya Panangsang asal Jipang Panolan. Pada 1584, Ki Ageng Pamanahan yang merupakan bupati Mataram wafat dan digantikan oleh anaknya, Danang Sutawijaya.

Baca juga: Sejarah Kerajaan Tertua Nusantara, Kerajaan Samudra Pasai Sejarah Kerajaan Mataram Islam berlanjut ketika Danang Sutawijaya berhasil merebut wilayah Pajang sehingga naik tahta dan mendapat gelar Panembahan Senapati.

Dalam merebut wilayah Pajang tersebut terdapat banyak halangan dan rintangan yang harus dilewati Sutawijaya. Keinginan Sutawijaya untuk memperkuat sistem pertahanan wilayah Mataram mendapat respon negatif dari Sultan Hadiwijaya. Sehingga Sultan Hadiwijaya mengirim pasukan kerajaannya untuk menyerang Mataram. Sebagai bupati Mataram saat itu, Sutawijaya berusaha mempertahankan wilayah sekaligus keinginannya demi pemerintahannya.

Kedua kerajaan berperang dengan sengit, hingga akhirnya pasukan Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang mengakui kekalahan diakibatkan badai letusan Gunung Merapi dan wafatnya Sultan Hadiwijaya dikarenakan penyakit yang dideritanya. Namun terdapat perselisihan di antara bangsawan Pajang untuk merebut kekuasaan Kerajaan Mataram. Sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam pun berlanjut. Menantu Sultan Hadiwijaya yang sekaligus Bupati Demak pada saat itu bernama Pangeran Pangiri berniat merebut tahta kerajaan.

Tetapi tindakan Pangeran Pangiri mendapat pertentangan dari para bangsawan Pajang karena mereka beranggapan bahwa Kerajaan Mataram sudah seharusnya berada di bawah kekuasaan Sutawijaya. Mendapat respon negatif dari para bangsawan, Pangeran Pangiri harus rela dipukul mundur dalam perebutan kekuasaan di Pajang.

Sehingga para bangsawan bisa memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Pajang ke Mataram pada 1588 dan Kerajaan Mataram resmi berdiri yang dipimpin oleh Panembahan Senapati sebagai raja pertamanya.

Baca juga: Sejarah Kerajaan Sriwijaya, Masa Jaya hingga Peninggalannya Keraton dan pusat pemerintahannya saat itu berada di Kotagede, yang sebelumnya berada di wilayah Banguntapan. Seiring berjalannya waktu, Panembahan Senopati wafat dan dimakamkan di Kotagede. Tahta kerajaan diturunkan kepada putranya yang bernama Raden Mas Jolang bergelar Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati.

Hanya saja sejarah berdirinya Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Hanyakrawati tidak berlangsung lama. Diakibatkan wafatnya Hanyakrawati karena kecelakaan saat berburu di sekitar Hutan Krapyak. Tahta kerajaan dilanjutkan oleh putra keempat Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati yang bernama Raden Mas Wuryah bergelar Adipati Martapura. Baca Juga: Tugu Pahlawan Surabaya, Yuk Kenali Kisah Sejarahnya Namun diketahui Adipati Martapura menderita penyakit saraf yang mengharuskannya untuk lengser.

Tahta dilanjutkan oleh putra sulung Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati bernama Raden Mas Rangsang bergelar Sri Sultan Agung Hadi Prabu Hanyakrakusuma. Pada masa pemerintahan Raden Mas Rangsang itulah kerajaan mengalami masa kejayaannya dan menjadi cerita sejarah Kerajaan Mataram Islam yang berkesan di persejarahan kerajaan Indonesia.

Raja-raja Kerajaan Mataram Islam Kerajaan Islam ini pernah dipimpin oleh raja-raja terkenal dengan masing-masing pencapaian yang berperan penting untuk kerajaan.

Berikut nama raja-raja Kerajaan Mataram Islam yang ditampilkan dalam silsilah yang penting untuk Anak Nusantara ketahui. Berikut adalah nama-nama raja Kerajaan Mataram Islam: 1. Raja Kerajaan Mataram Islam: Ki Ageng Pamanahan Ki Ageng Pamanahan belum bisa dibilang sebagai pendiri Kerajaan Mataram Islam. Lebih tepatnya beliau berperan dalam berdirinya kerajaan Islam kerajaan mataram islam didirikan oleh saat itu.

Ki Ageng Pamanahan merupakan pendiri Desa Mataram pada 1556. Berkat hadiah berupa hutan dari Sultan Hadiwijaya, beliau dapat mendirikan pemukiman penduduk sekaligus pemerintahan di bawah kekuasaannya.

Ki Ageng Pamanahan harus menghembuskan nafas terakhirnya pada 1584 dan dimakamkan di Kotagede. Sehingga tahta kekuasaannya diturunkan kepada anaknya yang bernama Raden Mas Danang Sutawijaya, dimana ia merupakan raja sekaligus pendiri kerajaan Islam paling berpengaruh. 2. Raja Kerajaan Mataram Islam:Raden Mas Danang Sutawijaya (Panembahan Senapati) Pemerintahan Mataram dilanjutkan oleh putra Ki Ageng Pamanahan, Sutawijaya.

Lahir pada 1530, Sutawijaya mempunyai peran besar dalam berdirinya Kerajaan Mataram. Hal ini dikarenakan kerajaan tersebut didirikan oleh beliau. Sejak wafatnya Ki Ageng Pamanahan, Sutawijaya naik tahta menjadi bupati Mataram pada 1584. Peran serta beliau sangat diagungkan karena beliau merupakan raja sekaligus pendiri kerajaan dengan gelar Panembahan Senapati.

Beliau memerintah kerajaan selama 14 tahun dari 1587 sampai 1601. 3. Raja Kerajaan Mataram Islam: Raden Mas Jolang (Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati) Sepeninggal Sutawijaya, kerajaan dipimpin oleh Raden Mas Jolang yang bergelar Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati.

Beliau menjadi raja kedua selama 12 tahun dari 1601 sampai 1613. Tidak seperti pendahulunya, kerajaan di bawah kekuasaannya sering mengalami peperangan yang disebabkan adanya penaklukan wilayah sekaligus mempertahankan wilayah kerajaan. Raden Mas Jolang wafat pada 1613 diakibatkan kecelakaan yang menimpanya saat berburu di sekitar Hutan Krapyak dan dimakamkan di makam agung Kotagede.

4. Raja Kerajaan Mataram Islam: Raden Mas Wuryah (Adipati Martapura) Sejarah Kerajaan Mataram Islam juga menyimpan cerita menarik. Ada salah satu raja yang hanya menjabat selama 1 hari, yaitu Adipati Martapura. Beliau merupakan putra keempat dari Raden Mas Jolang. Alasan jabatan rajanya hanya sehari dikarenakan diketahui beliau menderita penyakit saraf yang mengharuskannya untuk lengser.

Sehingga pada 1613 adalah hari pertama dan terakhir beliau naik tahta sebagai raja Kerajaan Mataram. 5. Raja Kerajaan Mataram Islam: Raden Mas Rangsang (Sri Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrakusuma) Dikarenakan masalah kesehatan yang mengharuskan Adipati Martapura lengser dari tahtanya dalam sehari, kerajaan harus berpindah tangan ke putra sulung Raden Mas Jolang bernama Raden Mas Rangsang dengan gelar Sri Susuhunan Hadi Hanyakrakusuma.

Baca Juga: Kerajaan Majapahit: Sejarah, Raja, dan Peninggalan Beliau bertahta sebagai raja selama 32 tahun dari 1613 sampai 1645. Masa kejayaan kerajaan Islam tersebut dapat diraih pada pemerintahannya hingga bisa menguasai hampir seluruh wilayah Pulau Jawa.

Berkat perannya yang begitu besar untuk kejayaan kerajaan, beliau memiliki gelar besar bernama Sri Sultan Agung Hadi Prabu Hanyakrakusuma atau akrab dipanggil Sultan Agung. Beliau tak hanya gentar dalam penaklukan wilayah, melainkan juga gigih dalam melawan VOC yang saat itu ingin menguasai Nusantara.

Berkat perannya pula Kerajaan Mataram memiliki kekuatan di bidang agraris atau pertanian. Sultan Ageng wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri. 6. Raja Kerajaan Mataram Islam: Amangkurat I (Sri Susuhunan Hadi Prabu Hamangkurat I) Tahta kerajaan dilanjutkan oleh putra Sultan Agung yang bernama Hamangkurat atau Sultan Amangkurat.

Beliau menjadi raja Kerajaan Mataram Islam selama 31 tahun dari 1646 sampai 1677. Setahun jabatannya sebagai raja, beliau memindahkan pusat kerajinan budaya kerajaan yang awalnya di Kotagede ke Keraton Plered. Tidak seperti nenek moyangnya, Sultan Amangkurat malah bersekutu dengan VOC sehingga memicu keruntuhan Kerajaan Mataram Islam. Beliau wafat pada 10 Juli 1677 dan dimakamkan di Telagawangi, Kota Tegal. 7. Raja Kerajaan Mataram Islam: Amangkurat II (Raden Mas Rahmat) Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Sultan Amangkurat meninggalkan pesan untuk kerajaan bahwa sepeninggal dirinya kerajaan akan dipimpin oleh Raden Mas Rahmat atau Amangkurat II atau Sultan Mataram.

Diketahui bahwa Sultan Mataram merupakan raja sekaligus pendiri Kasunanan Kartasura yang merupakan kelanjutan Kerajaan Mataram yang runtuh akibat ayahnya sendiri, Sultan Amangkurat. Beliau menjadi raja selama 26 tahun dari 1677 sampai 1703. Tercatat dalam sejarah Kerajaan Mataram Islam, Amangkurat II adalah raja pertama yang menggunakan pakaian dinas bernuansa Eropa. Letak Kerajaan Mataram Islam Peta Wilayah Kekuasaan Kerajaan Mataram Islam, ilustrasi oleh MuseumNusantara Kerajaan Islam ini dipercaya berada di pusat kawasan Kotagede, yang kini menjadi Kota Yogyakarta.

Wilayah kekuasaannya mencakup wilayah Kerajaan Pajang yang saat ini menjadi Provinsi Jawa Tengah. Berkat pemerintahan Sultan Agung periode 1613 – 1645, wilayah kekuasaan kerajaan diperluas hingga ke Jawa Barat dan sebagian Jawa Timur seperti Surabaya, Lasem, Pasuruan, Tuban, dan Madura. Masa Kejayaan Kerajaan Puncak kejayaan kerajaan terjadi setelah Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung naik tahta menjadi raja terkenal Kerajaan Mataram Islam selama tahun 1612 – 1645.

Selama pemerintahannya beliau berekspansi ke hampir seluruh wilayah di Pulau Jawa yang juga dilatarbelakangi untuk kepentingan kerajaan. Usaha tidak mengkhianati hasil, dalam sejarah tertulis bahwa pada masa kepemimpinannya lah puncak kejayaan kerajaan dapat diraih dengan sukses. Beliau mampu memperluas kekuasaan mulai dari sebagian besar wilayah Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, serta Madura.

Selain itu Sultan Agung berani melawan VOC saat VOC menyerang wilayah kekuasaannya yang diakibatkan permasalahan perdagangan. Dengan bantuan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon, Kerajaan Mataram dapat berperang melawan balik VOC.

Baca Juga: Hayam Wuruk: Silsilah, Kepemimpinan Hingga Wafatnya Keruntuhan Kerajaan Cerita runtuhnya Kerajaan Mataram Islam dimulai pada saat kerajaan berada di bawah kekuasaan Sri Susuhunan Hadi Prabu Hamangkurat I atau Amangkurat I.

Diketahui bahwa kerajaan di bawah kekuasaannya berada di posisi yang kurang stabil karena banyaknya respon ketidakpuasan masyarakat dengan pemerintahannya sehingga banyak terjadi pemberontakan. Pemberontakan terjadi karena adanya desakan dari pasukan Trunajaya agar Amangkurat I bersekutu dengan VOC. Keruntuhan Kerajaan Mataram Islam terasa semakin dekat semenjak tahta kerajaan yang diteruskan kepada Raden Mas Rahmat atau Amangkurat II yang merupakan putra dari Amangkurat I.

Amangkurat II ternyata malah lebih patuh terhadap VOC yang membuat bangsawan kerajaan semakin geram. Keluhan dan pemberontakan terhadap pemerintahan kerajaan tidak terelakkan. Kekacauan pemerintahan kerajaan baru bisa teratasi saat Pakubuwana III naik tahta menjadi raja Kerajaan Mataram Islam. Beliau membagi kerajaan menjadi dua wilayah yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta pada 13 Februari 1755 yang tercantum dalam Perjanjian Giyanti.

Dengan disepakatinya perjanjian tersebut, berakhirlah kerajaan Islam paling berpengaruh pada masanya. Peninggalan Kerajaan Seiring dengan megahnya kerajaan Islam yang paling berpengaruh pada masa itu, peninggalan Kerajaan Mataram Islam juga banyak tersebar di penjuru Pulau Jawa.

Berbagai jenis peninggalan ditemukan sebagai bukti kejayaan kerajaan yang masih bisa Anak Nusantara lihat sampai sekarang. Berikut Munus bagikan informasi beberapa peninggalan Kerajaan Mataram Islam.

Peninggalan Kerajaan Pasar Kotagede Pasar yang sudah berdiri sejak pemerintahan Panembahan Senopati ini masih bisa anda kunjungi. Disana menyimpan cerita sejarah kerajaan dengan filosofi menyerupai tata kota kerajaan di Jawa dimana keraton, pasar, dan alun-alun diposisikan menurut poros utara-selatan. Peninggalan Kompleks Makam Kerajaan Imogiri Kompleks pemakaman yang dikhususkan untuk para pendiri Kerajaan. Makam tersebut hingga kini masih terus dijaga oleh para abdi dalem selama 24 jam.

• Puing-puing candi di sekitar aliran Sungai Opak dan Sungai Progo. • Batu Datar, berlokasi di barat daya Kota Yogyakarta. • Masjid Agung Negara, masjid yang dibangun oleh Pakubuwana III pada tahun 1763. • Masjid Jami Pakuncen, masjid yang dibangun oleh Amangkurat I. • Gapura Makam Kotagede Terletak di Kompleks Makam Kerajaan Imogiri yang memiliki arsitektur campuran budaya Hindu dan Islam. • Masjid Makam Kotagede • Makam raja-raja Kerajaan Mataram Islam • Gerbang Makam Kotagede • Pertapaan Kembang Lampir Merupakan tempat Ki Ageng Pamanahan bertapa.

• Kampung Matraman di Jakarta • Sastra Gendhing karya Sultan Agung • Kerajinan perak • Kalang Obong Sebuah tradisi untuk kematian seseorang dengan membakar beberapa barang peninggalan orang yang telah meninggal. Peninggalan Kue Kipo Makanan tradisional yang dipercaya telah ada sejak kerajaan pertama kali didirikan. P eninggalan Segara Wana dan Syuh Brata Meriam-meriam dari Belanda sebagai hadiah perjanjian kerajaan dengan Belanda pada masa kepemimpinan Sultan Agung.

• Pakaian Kiai Gundil atau Kiai Antakusuma • Bangsal Duda • Rumah Kalang • Tahun Saka • Tulisan Carakan dalam literatur Bahasa Sunda Nah bagaimana, sekarang Anak Nusantara kembali ingat kan sejarah kerajaan-kerajaan Islam Nusantara, yang peninggalannya pun sebagian masih eksis hingga sekarang. Yuk, baca juga sejarah kerajaan Banten, lengkap dengan nama-nama raja, peninggalan, masa jaya, hingga keruntuhannya.
tirto.id - Kesultanan Mataram Islam merupakan kerajaan yang berpusat di Yogyakarta.

Didirikan tahun 1584 Masehi oleh Panembahan Senapati yang menjadi raja pertama, sejarah keruntuhan Kesultanan Mataram Islam mulai terjadi pada masa pemerintahan Amangkurat I (1646-1677). Soekmono dalam Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 3 (1981) menjelaskan, Panembahan Senapati (1590-1595) memimpin Kesultanan Mataram Islam dan menguasai beberapa wilayah di Jawa, yakni Yogyakarta, Jawa Tengah, termasuk daerah sepanjang Bengawan Solo hingga Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.

Tahun 1601, Panembahan Senapati wafat dan digantikan anaknya yang bernama Raden Mas Jolang bergelar Prabu Hanyakrawati (1601-1613). Penguas selanjutnya adalah Raden Mas Wuryah atau Adipati Martapura, namun hanya menjabat satu hari pada 1613. Pengganti Adipati Martapura adalah Raden Mas Jatmika atau Sultan Agung (1613-1645).

Di masa inilah Kesultanan Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya, sekaligus mulai menuai keruntuhan. Sultan Agung bertakhta Kesultanan Mataram Islam hingga wafatnya pada 1645. Ia amat menentang Belanda atau VOC dan dua kali menyerang Batavia pada 1628 dan 1629 meskipun belum sepenuhnya berhasil.

Baca juga: • Warisan Sejarah Toleransi Sultan Agung di Kotagede • Sejarah Awal Kesultanan Mataram Islam, Letak, dan Pendiri Kerajaan • Sejarah Kesultanan Demak: Kerajaan Islam Pertama di Jawa Gejolak di Era Amangkurat I Sejak 1646, Raden Mas Sayidin menggantikan posisi ayahnya, Sultan Agung, yang wafat tahun 1646. Raden Mas Sayidin dinobatkan sebagai Sultan Mataram Islam ke-5 dengan gelar Susuhunan Amangkurat I.

Berbeda dengan Sultan Agung yang gigih melawan Belanda, Amangkurat I justru bersikap lebih lunak terhadap kaum penjajah. Tahun 1646, misalnya, Amangkurat I menjalin perjanjian dengan VOC.

Isi perjanjian tersebut antara lain pihak VOC diizinkan membuka pos-pos dagang di wilayah Mataram, sedangkan pihak Mataram diperbolehkan berdagang ke pulau-pulau lain yang dikuasai VOC. Dalam Mengenal Budaya Nasional: Trah Raja-raja Mataram di Tanah Jawa (2017), Joko Darmawan menerangkan, cara memerintah Amangkurat I tidak disetujui oleh beberapa kalangan, termasuk adiknya yang bernama Raden Mas Alit. Raden Mas Alit, adik Amangkurat I, tidak setuju dengan caranya memerintah dan meluncurkan aksi perlawanan.

Tahun 1647, ibu kota Kesultanan Mataram Islam dipindahkan dari Kotagede ke Plered, masih termasuk wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sekarang. Pemberontakan Raden Mas Alit berpuncak pada 1678 yang berakhir dengan tewasnya adik Amangkurat I itu dan menelan ribuan korban jiwa. Baca juga: • Sejarah Perang Diponegoro: Sebab, Tokoh, Akhir, & Dampak • Sejarah Pemberontakan Ra Kuti di Majapahit Ditumpas Gajah Mada • Sejarah Kotagede: Sinergi Muhammadiyah di Kerajaan mataram islam didirikan oleh Mataram Trunojoyo Mengancam Takhta Mataram Berikutnya, giliran salah satu anak Amangkurat I, Raden Mas Rahmat atau Pangeran Adipati Anom, yang bergolak.

Adipati Anom sejatinya berstatus sebagai putra mahkota, namun ada kabar yang menyebutkan bahwa gelar tersebut akan dialihkan kepada anak Amangkurat I lainnya yakni Pangeran Singasari. Pangeran Adipati Anom pun merencanakan pemberontakan terhadap takhta ayahnya. Ia kemudian mengajak Trunojoyo, putra penguasa Madura, untuk melaksanakan misi tersebut pada 1670.

Mien A. Rifai dalam Manusia Madura (2007), menjelaskan, Trunojoyo menyanggupi karena ia ingin Madura merdeka dari penguasaan Kesultanan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Amangkurat I.

Baca juga: • Sejarah Awal Kerajaan Gowa-Tallo Pra Islam & Daftar Raja-Raja • Kesultanan Gowa Masa Islam: Sejarah, Peninggalan, Daftar Raja • Aksi Trunojoyo Melawan Mataram dan Dihukum Mati Pada 1674, Trunojoyo mendeklarasikan kemerdekaan Madura. Ia menjadi raja di Madura bahkan berniat mengambil-alih kekuasaan Mataram. Pasukan Trunojoyo mendapat bantuan dari orang-orang Bugis/Makassar yang lari ke Jawa setelah Perjanjian Bungaya yang melemahkan Kesultanan Gowa era Sultan Hasanuddin.

Buku Catatan Masa Lalu Banten (1999) karya Halwany Michrob dan Mudjahid Chudari menjelaskan, Kesultanan Banten juga ikut mendukung Trunojoyo. Dalam Sejarah Peradaban Islam di Indonesia (2006), Mundzirin Yusuf menambahkan, Panembahan Giri dari Surabaya ikut memberi dukungan karena peristiwa pembantaian ulama dilakukan Amangkurat I pada 1649.

Baca juga: • Sejarah Perjanjian Bongaya: Cara Belanda Lemahkan Gowa • Apa itu Pengertian VOC, Sejarah Kapan Didirikan, dan Tujuannya? • Siapa Pendiri Kerajaan mataram islam didirikan oleh Ini Sejarah Raden Wijaya Raja Pertama Runtuhnya Kesultanan Mataram Islam Pasukan Trunojoyo menjelma menjadi kekuatan besar yang menakutkan.

Satu demi satu, wilayah-wilayah Mataram ditundukkan, termasuk Surabaya, Tuban, Lasem, Rembang, Demak, Semarang, Pekalongan, Tegal, hingga Cirebon. Puncaknya, Trunojoyo pun bersiap menyerang pusat kekuasaan Mataram di Yogyakarta. Situasi ini justru membuat Pangeran Adipati Anom cemas karena khawatir ambisi Trunojoyo tidak bisa dibendung. Maka, pada Oktober 1676, Pangeran Adipati Anom berbalik mendukung ayahnya, Amangkurat I. Trunojoyo terlalu kuat.

Amangkurat I melarikan diri ketika Trunojoyo menyerang Plered. Dalam Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta (1997), Sutrisno Kutoyo mengungkapkan, dalam pelarian, Amangkurat I sakit dan meninggal dunia di sekitar Tegal, Jawa Tengah.

Tahun 1677, Trunojoyo menguasai pusat pemerintahan Mataram, bahkan menikahi salah satu putri Amangkurat I yang saat itu ditawan.

Baca juga: • Peninggalan Sejarah Kerajaan Majapahit: Situs Prasasti dan Candi • Tahun Berapa Sejarah Kerajaan Majapahit Berdiri & Terletak di Mana? • Sejarah Pemberontakan Ranggalawe di Kerajaan Majapahit Pangeran Adipati Anom terpaksa menjalin kerja sama dengan VOC untuk menumpas Trunojoyo sekaligus merebut kembali takhta Mataram Islam.

Kompeni bersedia membantu tapi dengan syarat. Berkat bantuan VOC, Trunojoyo berhasil dilumpuhkan pada 1679. Penguasa Madura itu lalu dijatuhi hukuman mati. Sesuai kesepakatan, takhta Kesultanan Mataram Islam diberikan kepada Pangeran Adipati Anom dengan gelar Susuhan Amangkurat II, namun VOC menjadi lebih leluasa mencampuri urusan internal kerajaan. Amangkurat II tidak melanjutkan Kesultanan Mataram Islam.

Ia mendirikan kerajaan baru bernama Kasunanan Kartasura dengan pusatnya di dekat Solo, Jawa Tengah, pada 1680. Daftar Raja Mataram Islam • Danang Sutawijaya atau Panembahan Senapati (1587-1601) • Raden Mas Jolang atau Prabu Hanyakrawati (1601-1613) • Raden Mas Wuryah atau Adipati Martapura (1613) • Raden Mas Jatmika atau Sultan Agung (1613-1645) • Raden Mas Sayidin atau Amangkurat I (1646-1677)
Daftar Isi • Sejarah Berdirinya • Raja-Raja Mataram Islam • Wilayah Pusat: • Wilayah Mancanegara • Perpecahan dan Kemunduran Mataram Islam Sejarah Berdirinya Menurut Abdullah, dkk (2012) Mataram merupakan daerah daerah yang subur, terletak diantara kali opak dan kali progo yang mengalir ke Samudera Hindia.

Pada awalnya Mataram merupakan salah satu daerah kekuasaan Kerajaan Pajang yang kemudian daerah tersebut dihadiahkan kepada Ki Ageng Pamanahan atas jasanya karena membantu Sultan Adiwijaya mengalahkan Ario Panangsang. Ditempat inilah Ki Ageng Pamanahan mendirikan Keraton pada tahun 1578.

Raja-Raja Mataram Islam Setelah Ki Gede Pamanahan wafat digantikan kerajaan mataram islam didirikan oleh putranya yaitu Sutawijaya. Dibawah pemerintahanya kerajaan Pajang jatuh ke tangannya sehingga ia segera memindahkan pusat Kerajaan Pajang ke Mataram.

Sutawijaya sebagai raja pertama dengan gelar: Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Pusat kerajaan berada di Kota Gede, sebelah tenggara Kota Yogyakarta sekarang.

Menurut Asnawi (2020) Penggunaan gelar Sayyidin panatagama oleh Senopati menunjukkan bahwa sejak awal berdirinya Mataram telah dinyatakan sebagai kerajaan Islam. Raja berkedudukan sebagai Pemimpin dan pengatur agama, kerajaan Mataram menerima agama dan peradaban Islam dari kerajaan-kerajaan Islam pesisir yang lebih tua.

Pada masa pemerintahan Sutawijaya Mataram memperluas kekuasaannya ke daerah sekitarnya termasuk daerah pesisir utara kemudian juga ke daerah-daerah di Jawa bagian timur dan barat.

Bahkan Kerajaan Pajang juga berada dibawah kekuasaan Mataram dan menjadi Kadipaten yang diperintah oleh Pangeran Benowo yang merupakan putra Sultan Adiwijaya. Setelah Panembahan Senopati wafat pada tahun 1601 M, ia digantikan oleh Mas Jolang, putra dari selir yang berasal dari Pati.

Yang memerintah dari tahun 1601-1613, ia menyempurnakan pembangunan kotagede, termasuk pembangunan Taman Danalaya, kolam (Segaran) dan kompleks pemakaman kotagede.

Pangeran Jolang meninggal di tempat perguruan atau Krapyak pada tahun 1613 sehingga ia dikenal dengan gelar Panembahan Seda ing Krapyak. Kemudian ia digantikan kerajaan mataram islam didirikan oleh pangeran Jatmiko yang merupakan cucu dari Panembahan Senopati.

Baca juga: Mengapa Mataram pecah menjadi 4? Pangeran Jatmiko juga dikenal dengan nama Kerajaan mataram islam didirikan oleh Mas Rangsang dan setelah menjadi Sultan Mataram. Ia dikenal dengan nama Sultan Agung Senopati ing alogo yang memerintah Mataram sekitar tahun 1613-1645. Pada masa pemerintahan Sultan Agung inilah Mataram Islam mencapai kejayaan. Sultan Agung Raja Mataram Islam Menurut Abdullah, dkk (2012), dalam bidang politik, Sultan Agung melakukan penaklukan terhadap daerah Surabaya pada tahun 1625 kemudian daerah Pati, Giri, dan Blambangan.

Selain itu Mataram juga mengadakan hubungan dengan VOC di Batavia yang sudah dirintis pada masa pemerintahan Mas jolang.

Tetapi hubungan tersebut mulai memburuk pada tahun 1624, Sultan Agung menganggap VOC berusaha meluaskan kolonialismenya yang dapat mengancam kekuasaan politik Kesultanan Mataram. Kemudian Mataram mengirimkan pasukan di bawah pimpinan para panglimanya yaitu Tumenggung Bahurekso dan Tumenggung Suro Agul-Agul untuk mengepung dan mengusir VOC di Batavia pada tahun 1628 tetapi serangan tersebut mengalami kegagalan, kemudian penyerangan diulangi lagi pada tahun 1629 tetapi mengalami kegagalan yang serupa.

Menurut Asnawi (2020) dalam bidang ekonomi, Sultan Agung membuat kebijakan yang terdiri dari 3 macam diantaranya: • Meningkatkan pertanian dengan mendistribusikan tanah, membangun Bendungan beserta saluran airnya dan intensifikasi tanaman padi disertai pemberian modal untuk memperbanyak produksi beras dalam pertanian. • Membentuk petugas pajak dan menentukan besaran pajak yang harus diserahkan kepada kerajaan.

• Membentuk lembaga keuangan yang mengurusi segala pemasukan kerajaan mataram islam didirikan oleh kas kerajaan. Pemasukan kekayaan kerajaan didapat melalui aktivitas perekonomian yang ditarik dari pajak yaitu pajak penduduk, pajak tanah, pajak upeti, dan pajak Bea Cukai barang dan jasa dari kegiatan perdagangan. Selain itu, Kerajaan Mataram Islam berkembang menjadi kerajaan yang bersifat agraris.

Di bawah pemerintahan Sultan Agung, Mataram mengembangkan perdagangan ekspor dan impor melalui pelabuhan di pesisir utara Jawa seperti Jepara, Kendal, dan Tegal. Sultan Agung juga melakukan Pembangunan seperti mempersiapkan pendirian pusat kota di barat dan membangun Kompleks pemakaman di Girilaya dan Bukit Merak yang mulai dibangun pada tahun 1632 yang kemudian dinamakan Imogiri.

Dalam bidang keagamaan Sultan Agung melakukan perimbangan antara Islam dan juga Hindu. Ia memperbarui perhitungan kalender Jawa dengan menyelaraskan perhitungan tahun Hijriah dengan tahun Saka.

Sistem penanggalan ini yang hingga sekarang oleh masyarakat Jawa dikenal dengan Penanggalan Jawi yang diresmikan pada tahun 1555 Saka atau 1633 Masehi. Dalam Bidang kebudayaan juga maju pesat. Seni bangunan, ukir, lukis, dan patung mengalami perkembangan. Kreasi-kreasi para seniman, misalnya terlihat pada pembuatan gapura-gapura, serta ukir-ukiran di istana dan tempat ibadah. Seni tari yang terkenal adalah Tari Bedoyo Ketawang.

Sultan Agung memadukan unsur-unsur budaya Islam dengan budaya Hindu-Jawa. Sebagai contoh, di Mataram diselenggarakan perayaan sekaten untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw, dengan membunyikan gamelan Kyai Nagawilaga dan Kyai Guntur Madu. Kemudian juga diadakan upacara Grebeg. Menurut Adhim (2012) Upacara Grebeg pada awalnya adalah upacara pemujaan terhadap roh nenek moyang tradisi tersebut dilaksanakan dengan melakukan kenduri gunungan tetapi pada perkembangannya kemudian disesuaikan dengan agama Islam tujuannya agar masyarakat dapat menerima ajaran Islam tanpa meninggalkan kebudayaan mereka.

Upacara Grebeg diadakan tiga kali dalam satu tahun, yaitu setiap tanggal 10 Dzulliijah (Idul Adha), 1 Syawal (Idul Fitri), dan tanggal 12 Rabiulawal (Maulid Nabi).

Bentuk dan kegiatan upacara grebeg adalah mengarak gunungan dari keraton ke depan masjid agung. Gunungan biasanya dibuat dari berbagai makanan, kue, kerajaan mataram islam didirikan oleh hasil bumi yang dibentuk menyerupai gunung.

Upacara grebeg merupakan sedekah sebagai rasa syukur dari raja kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga sebagai pembuktian kesetiaan para bupati dan punggawa kerajaan kepada rajanya.

Menurut Amarseto (2017) Pada masa pemerintahan Sultan Agung wilayah kerajaan Mataram hampir meliputi seluruh pulau Jawa wilayah Kerajaan dibagi menjadi dua yaitu wilayah pusat dan mancanegara.

Wilayah Pusat: A. Kuta negara (kutagara) sebagai pusat pemerintahan dengan pusatnya adalah istana atau keraton yang berkedudukan di ibukota kerajaan. B. Negara Agung, merupakan wilayah yang mengitari kutanegara menurut serat pustaka raja Purwa wilayah negara Agung dibagi menjadi empat daerah dan masing-masing daerah dibagi menjadi dua bagian, yaitu: • Daerah kedu dibagi menjadi Siti bumi dan Bumijo yang terletak di sebelah barat dan timur sungai Progo.

• Daerah Siti Ageng atau Bumi gede dibagi menjadi Siti Ageng Kiwa dan Siti Ageng Tengen. • Daerah Bagelen dibagi menjadi Sewu yang terletak antara sungai Bogowonto dan sungai Donan di Cilacap dan Numbak Anyar yang terletak antara sungai Bogowonto kerajaan mataram islam didirikan oleh sungai Progo. • Daerah pajang dibagi menjadi Panumpin yang menjadi daerah Sukowati dan Panekar.

Wilayah Mancanegara Merupakan daerah yang berada diluar wilayah negara Agung tapi tidak termasuk daerah pantai. Mancanegara meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga dibagi menjadi mancanegara Timur dan mancanegara Barat. Sedangkan wilayah kerajaan yang terletak di tepi pantai disebut Pasiran yang kemudian dibagi lagi menjadi pesisir Timur dan Pesisir Barat sebagai batas kedua daerah pesisiran adalah sungai Tedunan atau Sungai Serang yang mengalir di antara Demak dan Jepara.

Perpecahan dan Kemunduran Mataram Islam Sultan Agung wafat di Keraton Kotagede pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri yang merupakan Kompleks makam yang dibangun oleh Sultan Agung sendiri.Kemudian ia digantikan oleh putranya yang bernama Amangkurat dengan gelar Sultan Amangkurat Senopati ing alogo ngabdurrahman sayidin panatagama atau disebut dengan Amangkurat I. Menurut Babad Sangkala Amangkurat I memindahkan Keraton dari Kotagede ke Plered tahun 1647 M.

Amangkurat I lebih dekat dengan VOC daripada dengan masyarakat Mataram sendiri. Ia melakukan perjanjian dengan VOC sehingga Mataram harus mengakui kekuasaan politik VOC di Batavia. Kedekatan Mataram dengan VOC menyebabkan VOC semakin banyak ikut campur urusan politik Kesultanan Mataram. Pada pemerintahan Amangkurat I timbul upaya pemberontakan yang dilakukan Pangeran Trunojoyo yang dibantu oleh pangeran Kajoran, para pejabat, serta masyarakat Mataram.

Amangkurat I melarikan diri untuk meminta bantuan kepada VOC. Baca juga: Perlawanan Trunojoyo terhadap VOC Namun ketika sampai di Wanayasa ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia pada 10 Juli 1677 dan dimakamkan di daerah Tegal.

Sebelum meninggal ia mengangkat Pangeran Adipati Anom sebagai penggantinya dengan gelar Sunan Amangkurat II. (abdullah, dkk. 2012) Amangkurat II memerintah mulai tahun 1677- 1703 M.

Pada masa pemerintahannya VOC akhirnya berhasil menguasai sebagian besar wilayah Kerajaan Mataram Islam sehingga menyebabkan Rakyat mengalami penderitaan. Kemudian Amangkurat II melarikan diri ke daerah pedesaan lalu mendirikan ibu kota Kerajaan Mataram Islam baru yang diberi nama Kartasura.

Amangkurat II meninggal sekitar tahun 1703 M. Pada tahun 1755 muncul kesepakatan yang dikenal dengan nama perjanjian Giyanti. Berdasarkan perjanjian tersebut maka Kerajaan Mataram Islam dibagi menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pecahan Kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh raja yang berbeda.

Kesultanan Ngayogyakarta diperintah oleh raja Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengkubuwono I sedangkan kasunanan Surakarta diperintah oleh susuhunan Pakubuwono III. Pemerintahannya pun masih berlanjut hingga saat ini. (Adhim, 2012). DAFTAR PUSTAKA • Abdullah, dkk. 2012. Indonesia dalam arus sejarah: jilid 3 kedatangan dan peradaban Islam.Jakarta: PT.

Ichtiar Baroe van Hoeve. kerajaan mataram islam didirikan oleh Asnawi, Ahmad. 2020. Kerajaan Islam Nusantara. Jawa Tengah: Desa Pustaka Indonesia. • Adhim, Alik Al. 2012. Kerajaan Islam di Jawa. Surabaya: JP Books. • Amarseto, Binuko. 2017. Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia. Yogyakarta: Relasi Inti Media. Biodata Penulis Nama Marisatul Khoiriyah TTL Banyuwangi-25-09-2000 Alamat Kecamatan Siliragung, Kabupaten Banyuwangi. Email putrimarisa149@gmail.com Status Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah, Universitas Jember.

BUMI MATARAM PART 3, Prabu Sutawijaya Menjadi Penguasa Baru Kerajaan Mataram Islam




2022 charcuterie-iller.com