Rumah makan saung soreang

• Soreang • Wisata Soreang • Hotel di Soreang • B & B di Soreang • Penerbangan ke Soreang • Restoran di Soreang • Foto Soreang • Peta Soreang • • Semua Hotel di Rumah makan saung soreang • Penawaran Hotel di Soreang • Hotel yang Dapat Dipesan Mendadak di Soreang • Menurut Jenis Hotel • Resor Spa di Soreang • Hotel Keluarga di Soreang • Hotel Romantis di Soreang • Hotel Bisnis di Soreang • Menurut Kelas Hotel • 5-Hotel bintang di Soreang • 4-Hotel bintang di Soreang • Semua Restoran di Soreang • Hidangan yang Populer di Soreang • Restoran India di Soreang • Restoran Indonesia di Soreang • Restoran Kafe di Soreang • Hotel Terdekat • Restoran di dekat Grand Sunshine Resort & Convention • Restoran di dekat Sutanraja Hotel & Convention Centre Jalan-jalan di Bandung kurang afdal kalau nggak sambil menikmati sajian kuliner khas kota Kembang yang lezat dan bisa dengan mudah kita temukan di mana-mana.

Kulineran kali ini tanpa sengaja Mimin menemukan tempat makan yang menyajikan masakan khas sunda dengan pemandangan pesawahan yang indah, yaitu Rumah Makan Saung Soreang. Rumah Makan Saung Soreang adalah restoran khas sunda yang beralamat di Jl. Al-Fathu No.88, Pamekaran, Kec. Soreang, Bandung, Jawa Barat. Lokasinya sangat strategis karena dekat dengan pusat keramaian dan berada di jalur wisata.

Jadi, buat kalian yang mau rekreasi ke kawasan wisata Ciwidey bisa mampir dulu ke rumah makan yang dulunya bernama Laksana Soreang. Seperti restoran Sunda pada umumnya, di rumah makan Saung Soreang tersedia makanan seperti ayam, ikan, perkedel jagung, karedok, berbagai macam pais (pepes), sop ayam, sop buntut, nasi liwet, nasi merah, petai, jengkol, dan terakhir, yang membuat makanan khas Sunda tidak bisa dilupakan adalah sambal dan lalapan.

Rumah makan khas Sunda ini tempatnya cukup luas dan nyaman. Cocok banget buat makan bersama keluarga besar atau rekan kerja. Di Saung Soreang ada tiga pilihan tempat makan yaitu dalam ruangan, roof top dan ada juga tempat lesehan di saung yang berlokasi di pinggir sawah. Saung lesehan ini cocok banget untuk kalian yang ingin menikmati makanan khas sunda sambil bersantai.

Pic by @nchiehanie Botram di Saung Sawah Seperti diceritakan di awal tulisan, Mimin bareng rombongan nggak sengaja menemukan rumah makan Saung Soreang. Awalnya kita berkumpul di acara Festival Film Bandung yang diselenggarakan di Gedung Budaya Sabilulungan Soreang.

Ini adalah event pertama kali setelah satu tahun lebih tidak berkumpul karena pandemi Covid19 yang merajalela. Alhamdulliah setelah melalui masa-masa PPKM yang berjilid-jilid akhirnya Mimin dan teman-teman lainnya bisa berkumpul kembali dalam satu acara. Rasanya sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata akan rasa kangen dan rasa bahagia ini. Setelah berjam-jam kita bersama dalam ruangan tanpa makan dan minum hanya untuk menyaksikan para bintang sineas yang mendapat penganugerahan, akhirnya kita keluar ruangan dan mencari tempat kuliner untuk mengisi perut rumah makan saung soreang mulai terasa perih.

Keluar dari parkiran Gedung Budaya Sabilulungan kita melanjutkan perjalanan melewati perempatan sambil lirik kanan kiri mencari penjual makanan. Belum terlalu jauh mobil berjalan, kita melihat sebuah restoran Sunda bertuliskan Saung Soreang. Kemudian mobil belok kiri masuk ke tempat parkir yang lumayan luas.

Tanpa pikir panjang Mimin dan rombongan masuk ke restoran untuk memesan makanan. Ada yang beda dengan cara memesan makanan di Saung Soreang karena makanan disimpan dalam etalase.

Pengunjung yang mau memesan makanan tinggal menunjuk makanan yang diinginkan. Mirip seperti pesan makanan di Warteg (pakai tochscreen). Banyak pilihan menu makanan khas Sunda yang bisa dipilih sesuai selera, dari mulai ayam, prekedel jagung, karedok hingga semur jengkol semuanya ada.

Setelah selesai memesan makanan kita langsung menuju kasir untuk membayar semua yang dipesan kemudian memilih tempat untuk makan. Rumah makan saung soreang saung lesehan yang bisa ditempati oleh pengunjung. Menariknya lagi, saung tersebut berada di atas kolam ikan yang bisa bikin anak-anak betah dan bisa memberi makan ikan. Mimin dan rombongan memilih makan di saung lesehan biar bisa santai sambil menikmati pemandangan.

Rehat sejenak di akhir pekan dengan menikmati makanan dan minuman ditemani pemandangan sawah nan segar, tentu terasa menyenangkan. Apalagi belakangan makin banyak tempat makan ala pedesaan yang hadir di sekitaran Jakarta. Selain asyik buat cuci mata dan manjain perut, pemandangannya yang indah bisa bikin feed Instagram kalian makin cantik.

Tempat ini bisa menjadi tujuan masyarakat kota besar yang rindu akan pemandangan sawah. Lesehan saung sawah ini cocok banget buat menikmati sajian khas Sunda sambil menikmati pemandangan indah. Rumah makan Saung Soreang benar-benar memanjakan para pengunjung dengan pemandangan karena pecinta kuliner saat ini tidak hanya memikirkan soal cita rasa makanan semata saat datang ke restoran. Namun juga pemandangan dan pengalaman yang didapatkan, seperti halnya makan di tengah sawah.

Sensasi makan di tengah sawah dengan aneka sajian yang nikmat dan menggugah selera memang saat ini sedang digandrungi para pencinta kuliner. Itulah salah satu alasan Mimin lebih memilih makan di saung lesehan daripada makan di dalam ruangan dan roof top rumah makan.

Mimin sarankan buat kalian yang mau mampir ke rumah makan Saung Soreang jangan datang saat jam makan siang karena tempat ini rumah makan saung soreang tak pernah sepi dari pelanggan. Ini adalah cerita perjalanan yang paling berkesan di bulan Oktober 2021. Dari mulai janjian berkumpul di suatu tempat. Kemudian berangkat bersama ke Gedung Budaya Sabilulungan untuk menyaksikan Festival Film Bandung, hingga botram di lesehan Rumah makan Saung Soreang kita ditemani dengan jaringan internet Smartfren.

Oh, iya., Mimin juga punya kabar baik nih buat kalian yang mau mendapatkan hadiah menarik dari Smartfren. Nama programnya SmartPoin Mystery Box #OktoBERHADIAH yang bisa kalian cek di link https://mysf.onelink.me/nFIA/FashionShoppingIG. Caranya gampang banget, buat kalian pengguna Smartfren tinggal download aplikasi MySmartfren kemudian buka Mystery Box. Lalu tukarkan Smartpoin kalian untuk mendapatkan hadiahnya.
Rumah Makan Manjabal 2 terletak di Jalan Terusan Al-Fathu Soreang, Kabupaten Bandung.

Kami singgah di rumah makan ini saat dalam perjalanan menuju kawasan wisata Kawah Putih, Ciwidey, Bandung Selatan. Rumah makan ini bersih, luas, nyaman, dan menyediakan aneka menu khas Sunda. Tak hanya melepas lapar dan dahaga, di sini kami juga menumpang untuk salat dan istirahat. Perjalanan Jakarta-Bandung pada Minggu (3/5/2015) lalu kami tempuh selama 2 jam 15 menit melalui jalan tol Purbaleunyi. Saya agak kurang percaya saat keluar pintu gerbang tol Kopo waktu baru menunjukkan pukul 09.45 WIB.

Kok selancar ini? Ya, waktu masih terbilang pagi. Kalau sepagi ini sudah di Bandung, kami bisa tiba di Kawah Putih sebelum jam 12 siang. Itu berarti kami bisa menyudahi kunjungan ke Ciwidey sebelum sore dan dapat tiba di Ciumbuleuit sebelum malam tiba.

Nyatanya, ketika mobil mulai melaju ke arah Soreang, kemacetan di Kopo Hayati membuat perjalanan tersendat. Di tengah kemacetan itu Humayra minta mampir ke toilet untuk BAK. Kebetulan di sebelah kanan jalan ada pump bensin, kami langsung berbelok. Ada 2 ibu-ibu sedang antri. Setelah antri, pas mau masuk eh ternyata toiletnya kotor parah! Bau tidak sedap tercium, saya mendadak mual, anak saya langsung bilang “Tidak mau, mama.” Di perjalanan berikutnya kami mampir di minimarket Alfamart.

Alhamdulillah diijinkan untuk menumpang toiletnya yang bersih dan harum karbol. Acara BAK pun rumah makan saung soreang tanpa aksi tutup hidung dan merem. Menurut informasi, perjalanan dari Kopo menuju Kawah Putih dapat dicapai selama lebih kurang 2 jam tanpa macet.

Jam 10 kami masih di Kopo. Saya menerka mungkin kami rumah makan saung soreang lebih dari 2 jam untuk tiba ditujuan. Apalagi saat melewati Pasar Soreang yang padat, macet lagi. Jam 11 kami masih melaju di jalan terusan Soreang. Humayra masih tenang, belum menunjukkan tanda-tanda lapar. Tapi lagi-lagi dia minta ke toilet.

Saya mulai mengamati bangunan-bangunan di tepi jalan. Berharap ada tempat makan yang bisa disinggahi. Niatnya biar sekalian istirahat, makan dan salat Dzuhur. Setelah melewati beberapa rumah makan, baru di RM Manjabal2 inilah saya meminta bojoku untuk stop.

Kenapa memilih singgah di RM Manjabal2? Yang pertama saya lihat sih karena tempat parkirnya cukup luas.

Rumah makannya juga tampak besar. Di depan terlihat ada musola. Cocok untuk singgah dan istirahat sejenak. Sewaktu masuk, meja-meja di ruang terdepan tampak kosong. Kok sepi? Seorang gadis pelayan menyambut kami. Dengan sangat lembut dia menyapa, “Mau di meja atau lesehan, bu?” “Oh, ada lesehan.

Di mana?” “Di bawah dan di belakang. Kalau di bawah dekat taman dan kolam ikan.

Kalau di belakang, ada tempat bermain. Viewnya pematang sawah dan gunung.” Nah, mendengar kata tempat bermain, anak saya langsung meminta di belakang.

Hehe. “Kalau mau bermain, turun saja. Papa mau di sini, sambil nonton TV. Ada tinju. Live….” Bojoku nyamber sambil nunjuk TV yang tergantung di tembok resto. #Lha. Meja-meja di bagian belakang Lesehan Akhirnya kami memilih meja di ruang terdepan. Sebelum Humayra kabur ke kolam ikan, kami lekas memesan menu. Di sini menu andalannya nasi timbel dan nasi tutug oncom. Nah, karena yang spesial adalah kedua menu itu, kami pesan dua-duanya. Untuk anak, satu-satunya yang cocok adalah sup buntut.

Kebetulan dia memang suka.

Tapi siang itu dia menolak sup, katanya mau makan pakai tempe dan tahu goreng saja. Ok, mudahlah itu he he. Sambil menunggu pesanan, bojoku nonton tinju, dan saya menemani Humayra ke bawah untuk melihat ikan. Ternyata, di belakang ada pengunjung lain yang sedang makan.

Satu keluarga berserta anak-anaknya. Oh, saya kira tadi hanya kami yang ada di sini. Sempat mikir juga tadi, kok bikin rumah makan besar sekali, tapi pengunjungnya sepi. Selang beberapa belas menit kemudian, mulai berdatangan pengunjung lainnya.

Lama-lama rumah makan jadi ramai. Mungkin karena sudah jelang jam makan siang. Sewaktu saya melihat ke arah parkiran, plat mobilnya rata-rata B, berarti pengunjung dari Jakarta.

Menurut keterangan ibu kasir, biasanya yang mampir memang banyak dari luar kota, dan tujuan mereka rata-rata untuk berwisata di kawasan Ciwidey. Di bagian belakang rumah makan, ada kolam ikan yang nggak terlalu besar. Namun, ikan emas yang ada di dalamnya sangat banyak. Ukurannya besar-besar. Warnanya putih, kuning keemasan, merah keemasan. Anak saya bermain cukup lama di sekitar kolam ini. Ayunan dan jungkit-jungkit yang ada di bagian paling belakang, dekat rumah makan saung soreang lesehan, tak dipedulikannya.

Ikan-ikan lebih menarik perhatiannya. Taman yang berada di tengah-tengah rumah makan ini sebetulnya tidak terlalu besar. Tapi penataannya apik, jadi enak dilihat dan menimbulkan kesan asri.

Suasana jadi segar, apalagi diiringi suara gemericik air pancuran yang terus menerus berbunyi.

Kolam ikan yang benar-benar menghibur :D Minta digigit ikan :D Ditengah asyiknya melihat ikan-ikan di kolam, HP saya berdering. Ternyata panggilan untuk makan. Pesanan sudah di meja. Ok, waktunya makan. Nasi timbel dihidangkan bersama ayam kampung bakar, tempe dan tahu goreng, serta empal daging.

Lalapannya banyak. Ada daun kol (kol mini) rebus, timun, wortel rebus, labu siam kecil rebus, lencak, dan terong bulat hijau mentah. Ada kerupuknya juga. Semua pelengkap nasi timbel ini nggak ada bedanya dengan nasi tutug oncom yang saya pesan. Bedanya hanya pada nasinya saja dan tambahan bihun putih tumis. Saat mulai makan, waktu baru menunjukkan pukul 11.29 WIB.

Biasanya di jam tersebut saya belum merasa lapar. Namun kali ini pengecualian. Perjalanan jauh dan rasa penat yang ditimbulkan, membuat rasa lapar itu lebih cepat datangnya. Porsi nasi tutug oncom yang nggak terlalu besar, membuat saya bisa melahapnya sampai habis. Semua sedang sama-sama lapar. Alhamdulillah, jadi tidak ada yang mubazir. Rasa lapar kadang membuat saya mengabaikan cita rasa hehe. Tapi sebeneranya enak kok nasi tutugnya.

Walaupun bukan yang terlalu spesial ^_^ Jam 12 lewat pengunjung makin banyak. Seusai makan dan bersantai sejenak, kami menuju musola yang ada di depan. Tapi ibu kasir menyarankan kami untuk ke musola yang ada di dekat kolam. Katanya lebih dekat. Oh, ternyata di sini ada dua musola. Musola dekat kolam bersih, meski tidak terlalu luas, tapi cukup untuk digunakan oleh 10 orang sekaligus. Lantainya ditutup karpet. Ada sajadah, sarung, dan 2 helai mukena.

Karena rumah makan saung soreang tamu lain juga yang mau salat, saya tidak memakai mukena yang disediakan. Saya pakai mukena sendiri, biar yang lain bisa memakainya. Ternyata, ibu-ibu lain juga pada bawa mukena. Memang lebih enak kalau kemana-mana itu bawa mukena sendiri, jadi nggak mengandalkan. Soalnya, belum tentu juga setiap musola menyediakan.

Kalaupun sedia, jumlahnya kerap terbatas. Dari pada antri, kehilangan waktu, mending pakai mukena sendiri. Apalagi sekarang banyak model mukena praktis rumah makan saung soreang mudah dibawa-bawa dan digunakan untuk menemani selama perjalanan. Usai solat, Humayra masih mau lihat-lihat ikan. Kami beri dia waktu sekitar 5 menit.

Nggak bisa dibiarkan lama karena perjalanan masih harus dilanjut. 5 menit yang berarti, karena benar-benar digunakannya untuk ‘bercengkrama’ dengan ikan-ikan.

Setelah itu kami pun beranjak meninggalkan RM Manjabal2. Energi sudah terisi, siap untuk mencapai Kawah Putih yang harus dicapai sekitar 1 jam lagi. Buat yang hendak menuju ke Kawah Putih, sepanjang jalan terusan Soreang Rancabali hingga Ciwidey, selain RM Manjabal2 ada banyak sekali rumah makan lainnya yang bisa dijumpai, di antaranya: Resto Sukarasa Endah, CS Me Cafe & Resto, Sindang Reret, Saung Berkah, Resto Pasar Kelinci dll.

Penginapan pun bertebaran. Sebut saja Hotel Sindang Reret, MS Hotel, Villa Batu Alam Endah, Pondok Gembyang, dan Patuha Resort. Dari pengamatan saya, masih ada 2 pump bensin lagi yang bisa dijumpai setelah RM Manjabal 2.

Fasilitas lainnya seperti Indomart dan mesin ATM, masih mudah ditemui. Jadi, jangan khawatir jika sewaktu-waktu perlu mengambil uang tunai atau pun membeli snack dan minuman untuk bekal perjalanan. Selama perjalanan, kami tidak mampir ke ATM dan pump bensin, selain karena uang tunai sudah disiapkan sejak dari Jakarta, tanki bahan bakar Terios juga sudah diisi full tank sejak dari Jakarta. Kalau urusan perut, nggak mungkinlah cukup dari apa yang sudah dimakan sejak dari Jakarta hehe. (*) Semua foto dokumentasi pribadi Dian Radiata 20 Mei 2015 10.57 Waaaah.

kalo makan di rumah makan kayak gini, anakku bakal betah banget, mbak.

bisa-bisa gak mau beranjak diaa. Jadi pengen nasi tutug oncomnya. Iya bener, mbak bawa mukena sendiri juga lebih nyaman ya. Soalnya terkadang mukena yang ada di musola-musola itu kotor dan rumah makan saung soreang apek. Bisa gak konsen sholat entar. Balas Hapus Katerina 20 Mei 2015 11.44 Selalu suka ya mbak kalo ada rumah makan ramah anak seperti ini :) Nggak membosankan tuk didatangi dan bikin pingin mampir lagi kalau lewat sini lagi.

Hihihi.kadang ga cuma apek, tapi juga kadang nggak pas di aku. Terutama pada bagian lingkar wajah. Seringnya kalau rumah makan saung soreang ada di musola-musola umum itu kelebaran/kebesaran.

Kadang juga bawahan dan atasannya sudah ketuker-tuker (biasanya yg begini di mal). eh tapi kalo di mal Teras Kota BSD pengecualian. Mukenanya bersih2 dan wangi :D Hapus www.emakmbolang.com 20 Mei 2015 13.40 Bawa Mukena kemana mana memang bawaanya adem. Itu sambelnya bikin ngecesss.

Mbak kapan hari sampeyan pajang foto yang seledri itu di efbe kirain dirumah sampeyan, sempat mau tanya gimana bisa tetep seger.

Aku kepingin bikin terasiring tanaman gitu, baik diatas papan atau dibikin kayak gitu. Menghemat lahan dirumah. eh, ternyata itu milik rumah makan. Balas Hapus Katerina 20 Mei 2015 13.59 Memudahkan untuk solat kalau selalu bawa mukena ya mbak :) Sedap mbak sambalnya.

Bukan tanamanku, mbak. Dalam postinganku di FB, kan rumah makan saung soreang reply komentku untuk Hanifah Yuniarti, aku tulis begini: "Ini motret di taman sebuah restoran di daerah Soreang Bandung" Mbak Zulfa kelewat bacanya mungkin ya :) Aku rasa seledrinya selalu segar begitu karena cuaca di Soreangnya mendukung. Sejuk dan teduh. Aku sendiri belum pernah berhasil menanam seledri.

Selalu mati :D Hapus ira 20 Mei 2015 21.21 Aku nanem seledri di pot kutaruh dekat jendela. Alhamdulillah subur. Bisa bagi-bagi tanamannya ke beberapa teman lainnya. Seledri yang penting gak telat nyiram ajah. Aku mau dong ayam kampung bakarnya. Sama sambel, lalapan dan nasi anget, amboi. kebayang lezatnya. Kalau di sini, kadang bawa mukena, kadang enggak. Kalau pakai rok panjang, gak bawa mukena. Sembahyangnya langsung aja gitu, gak pake mukena lagi.

Balas Hapus Katerina 24 Mei 2015 08.52 Aku kayaknya malah kebanyakan nyiram mbak :( Busuk akarnya sampe batangnya. Salah prosedur kayaknya :D Ayo sini mbak aku traktir nasi timbelnya he he. Iya mbak betul, kalau sudah pakai rok panjang dan baju panjang bisa langsung salat. Kalau pakenya baju yang masih kelihatan bentuk tubuh mesti pake mukena. Kalo yang praktis skrg ada mukena abaya. Tapi aku belum punya. Pingin beli ah Ramadhan ini :) Hapus Katerina 28 Mei 2015 08.09 Mbak sudah menduga Manjabal ini pasti ada di tempat lain juga.

Soalnya namanya pakai angka 2. Manjabal 2. Pasti ada Manjabal 1 nya. Rupanya di tengah kota ya. Belum nyicip nasi liwetnya nih, Zahra. Traktir mbak ya kalo ke sana lagi hihihi Iya, mukena sendiri biar bersih dan siap digunakan kapan pun dan di mana pun :) Hapus • ► 2022 (38) • ► Mei (1) • ► April (14) • ► Maret (6) • ► Februari (9) • ► Januari (8) • ► 2021 (92) • ► Desember (7) • ► November (8) • ► Oktober (9) • ► September (10) • ► Agustus (9) • ► Juli (10) • ► Juni (5) • ► Mei (5) • ► April (7) • ► Maret (10) • ► Februari (7) • ► Januari (5) • ► 2020 (78) • ► Desember (7) • ► November (9) • ► Oktober (11) • ► September (7) • ► Agustus (5) • ► Juli (4) • ► Juni (6) • ► Mei (5) • ► April (8) • ► Maret (5) • ► Februari (6) • ► Januari (5) • ► 2019 (71) • ► Desember (6) • ► November (7) • ► Oktober (5) • ► September (6) • ► Agustus (6) • ► Juli (6) • ► Juni (2) • ► Mei (11) • ► April (7) • ► Maret (5) • ► Februari (4) • ► Januari (6) • ► 2018 (62) • ► Desember (6) • ► November (5) • ► Oktober (9) • ► September (8) • ► Agustus (2) • ► Juli (1) • ► Juni (1) • ► Mei (4) • ► April (2) • ► Maret (11) • ► Februari (7) • ► Januari (6) • ► 2017 (77) • ► Desember (2) • ► November (13) • ► Oktober (5) • ► September (5) • ► Agustus (5) • ► Juli (6) • ► Juni (6) • ► Mei (15) • ► Rumah makan saung soreang (8) • ► Maret (5) • ► Februari (3) • ► Januari (4) • ► 2016 (104) • ► Desember (5) • ► November (9) • ► Oktober (5) • ► September (12) • ► Agustus (12) • ► Juli (5) • ► Juni (8) • ► Mei (7) • ► April (7) • ► Maret (9) • ► Februari (12) • ► Januari (13) • ▼ 2015 (197) • ► Desember (17) • ► November (13) • ► Oktober (22) • ► September (18) • ► Agustus (14) • ► Juli (13) • ► Juni (22) • ▼ Mei (19) • Berkemah di Telaga Cebong • Dimuat di Majalah Anakku Edisi Mei 2015 • Bergaya Dengan Batu Mulia • Aku, Teman Baruku, dan Misteraladin • Selincah Cuaca di Tangkuban Parahu • Mengintip Koleksi Busana Lebaran • Berwisata ke Kawah Putih, Disambut Gerimis Dan Kab.

• Menikmati Kelezatan Bebek Kaleyo Tanpa Ragu • Makan Siang Kesorean di Bebek Goreng H.Slamet Bandung • Singgah Makan di RM Manjabal2 Soreang Bandung • Sensasi Dufan Untuk Liburan Yang Menakjubkan • Restoran Padma Bandung, Tempat Istimewa Untuk Bers. • Menang Lomba Blog Misteraladin • Inspirasi dari Majalah National Geographic Travele. • Dimuat di Majalah Annisa Edisi Mei 2015 : Surga di. • Suasana Berlibur Setiap Hari di Hotel Padma Bandung • Kenangan Dari Negeri Seribu Warung Kopi • Hotel Padma Bandung, Hotel Dengan View Menakjubkan • Berwisata ke Bandung "Everyday is Holiday" • ► April (19) • ► Maret (11) • ► Februari (15) • ► Januari (14) • ► 2014 (102) • ► Desember (21) • ► November (9) • ► Oktober (13) • ► September (7) • ► Agustus (1) • ► Juli (5) • rumah makan saung soreang Juni (6) • ► Mei (7) • ► April (10) • ► Maret (10) • ► Februari (5) • ► Januari (8) • ► 2013 (101) • ► Desember (3) • ► November (11) • ► Oktober (8) • ► September (9) • ► Agustus (4) • ► Juli (6) • ► Juni (6) • ► Mei (9) • ► April (8) • ► Maret (12) • ► Februari (14) • ► Januari (11) • ► 2012 (39) • ► Desember (3) • ► November (5) • ► Oktober (8) • ► September (11) • ► Agustus (1) • ► Juli (4) • ► Mei (3) • ► April (1) • ► Februari (3) • ► 2011 (14) • ► November (3) • ► Oktober (1) • ► September (7) • ► Juni (1) • ► Februari (2) • ► 2010 (13) • ► Desember (1) • ► Januari (12) • Soreang • Soreang Tourism • Soreang Hotels • Soreang Bed and Breakfast • Soreang Vacation Rentals • Soreang Vacation Packages • Flights to Soreang • Soreang Restaurants • Soreang Travel Forum • Soreang Photos • Soreang Map • Soreang Travel Guide • • All Soreang Hotels • Soreang Hotel Deals • Last Minute Hotels in Soreang • By Hotel Type • Soreang Spa Resorts • Soreang Family Hotels • Romantic Hotels in Soreang • Soreang Business Hotels • By Hotel Class • 5-stars Hotels in Soreang • 4-stars Hotels in Soreang • All Soreang Restaurants • Popular Types of Food • Cafés in Soreang • Indian Restaurants in Soreang • Indonesian Restaurants in Soreang • Near Hotels • Restaurants near Grand Sunshine Resort & Convention • Restaurants near Sutanraja Hotel & Convention Centre
Suasana rumah makan ini begitu menyatu dengan alam.

Pemandangan bukit dan kebun pisang di kaki bukit dapat kita nikmati di depan rumah makan ini. Jika kebetulan mendapatkan tempat makan di bagian belakang, tidak perlu khawatir. Karena di bagian belakang rumah makan ini kita dapat menikmati hamparan sawah yang menghijau. Rumah makan ini menampilkan khas parahyangan yang begitu kental.

Pengunjung dapat menikmati hidangan yang tersedia di sini dengan menggunakan tempat makan secara lesehan atau menggunakan meja makan. Saya sekeluarga lebih memilih makan di tempat lesehan. Lebih menyatu dengan alam.hayaah. apaan sih. :) Berbagai macam jus buah dapat menjadi penyegar lidah seusai makan. Untuk penyuka kopi, dapat memilih es capuccino. Paket ayam di Rumah Makan Saung Lalakon ini seharga 27.000 rupiah.

Sedangkan aneka jus dapat kita nikmati dengan harga 11.000 rupiah. Ayam bakar, ayam goreng dan ayam rica serta jus buah Rumah makan saung soreang 26 May 2015 at 16:19 Bisnis kuliner memang gak ada matinya, apalagi ditambah dengan strategi pemasaran yang baik.

Bisa dikatakan akan menjadi sebuah usaha yang always profitable. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan Greenpack yang memungkinkan Anda dapat membranding dus makanan dengan brand usaha kuliner Anda. Selengkapnya dapat Anda baca di sini http://www.greenpack.co.id/dus-makanan-murah/ Reply Delete

Rumah Makan Saung Soreang Ciri Khas Sunda Enak Mantap Maknyus Wisata Kuliner Indonesia Street Food




2022 charcuterie-iller.com