Asal usul menteri agama sekarang

asal usul menteri agama sekarang

Yuk simak biodata dan juga profil Yaqut Cholil Qoumas, lengkap umur dan pendidikan, Menteri Agama bandingkan toa Masjid dengan gonggongan anjing. Yaqut Cholil Qoumas adalah Menteri Agama Republik Indonesia saat ini. Yaqut Cholil Qoumas lahir di Rembang, 4 Januari 1975. Umur Yaqut Cholil Qoumas adalah 47 tahun.

Yaqut Cholil Qoumas kini sedang ramai dibicarakan karena membandingkan suara toa Masjid dengan suara gonggongan anjing. Baca Juga: Biografi dan Profil Agung Suprio, Ketua KPI yang Diminta Mundur Karena Kasus Perundungan Buat kamu yang penasaran dengan sosoknya, yuk simak biodata dan juga profil Yaqut Cholil Qoumas, lengkap umur dan pendidikan, Menteri Agama bandingkan toa Masjid dengan gonggongan anjing.

1. Profil Yaqut Cholil Qoumas Yaqut Cholil Qoumas merupakan Menteri Agama Republik Indonesia di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin. Yaqut Cholil Qoumas kini berusia 47 tahun dan menganut agama Islam. Yaqut Cholil Qoumas menjadi Menteri Agama menggantikan Fachrul Razi yang terkena reshuffle kabinet oleh Presiden Jokowi.

2. Pendidikan Yaqut Cholil Qoumas Yaqut Cholil Qoumas diketahui lulus dari SDN Kutoharjo (1981–1987). Lalu ia melanjutkan pendidikannya ke SMPN II Rembang (1987–1990) dan melanjutkan ke SMAN II Rembang (1990–1993). Yaqut Cholil Qoumas sempat berkuliah di Universitas Indonesia jurusan Sosiologi, namun ia kuliahnya tersebut tidak selesai.

3. Karier Yaqut Cholil Qoumas Pria yang akrab disapa Gus Yaqut ini lahir dari keluarga pendiri dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU).

Yaqut sudah aktif berorganisasi sejak muda. Dan inilah daftar jabatan yang pernah dijabat oleh Yaqut Cholil Qoumas, diantaranya adalah: - Pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia cabang Depok (1996-1999) - Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kabupaten Rembang (2001–2014) - Anggota DPRD Kabupaten Rembang (2004–2005) - Wakil Bupati Rembang (2005–2010) - Ketua Umum PP GP Ansor (2015-sekarang) - Anggota DPR RI (2014-2020) - Menteri Agama RI (2020-sekarang) 4.

Bandingkan Suara Toa Masjid dengan Gonggongan Anjing Baru-baru ini, Yaqut Cholil Qoumas menjadi bahan perbincangan setelah pernyataannya yang membandingkan suara toa Masjid dengan gonggongan anjing. Yaqut Cholil Qoumas sendiri menyebut penggunaan pengeras suara atau toa di Masjid harus diatur, agar tidak mengganggu warga yang non muslim.

Lebih lanjut, Gus Yaqut membandingkan suara toa Masjid dengan gonggongan anjing. Ia mengatakan suara toa Masjid yang agak keras sering menjadi keluhan warga non muslim.

lalu ia membandingkannya dengan ketika seorang muslim yang tinggal bertetanggan dengan non muslim yang memelihara anjing, ia menyebut pasti seorang muslim tersebut akan terganggu dengan adanya suara gonggongan anjing. "Kita bayangkan, saya Muslim saya hidup di lingkungan nonmuslim, kemudian rumah ibadah mereka membunyikan toa sehari lima kali dengan keras secara bersamaan, itu rasanya bagaimana?" kata Yaqut.

"Contohnya lagi, misalkan tetangga kita kiri kanan depan belakang pelihara anjing semua, misalnya menggonggong di waktu yang bersamaan, kita terganggu tidak? Artinya semua suara-suara harus kita atur agar tidak menjadi gangguan," tambahnya. Pernyataan tersebut pun viral, banyak netizen yang memberikan kritik kepada Menteri Agama tersebut atas pernyataan viral ini. 5. Biodata Yaqut Cholil Qoumas Nama lengkap: Yaqut Cholil Qoumas Nama panggilan: Yaqut / Gus Yaqut Kota asal: Rembang, Jawa Tengah Tanggal lahir: 4 Januari 1975 Umur: 47 tahun Agama: Islam Orangtua: K.H.

Cholil Bisri (ayah) Pasangan: - Pendidikan: Universitas Indonesia Jurusan Sosiologi (Tidak lulus) Pekerjaan: Menteri Agama, Politikus, Ketua PP GP Ansor Akun Instagram: @gusyaqut Baca Juga: Biodata dan Profil Arnold Putra: Umur, Agama dan Karier, Desainer Viral Diduga Gunakan Organ Manusia Untuk Fashion Nah, itulah biodata dan profil lengkap dari Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Agama bandingkan toa Masjid dengan gonggongan anjing.

Menteri Agama Menteri Agama toa masjid Yaqut Cholil Qoumas Biodata Yaqut Cholil Qoumas Profil Yaqut Cholil Qoumas Umur Yaqut Cholil Qoumas Agama Yaqut Cholil Qoumas Karier Yaqut Cholil Qoumas Pendidikan Yaqut Cholil Qoumas Yaqut Cholil Qoumas toa masjid Share to: Hal ini ia sampaikan dalam sebuah acara webinar internasional bertajuk "Santri Membangun Negeri dalam Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknologi".

Webinar yang digelar Rabithah Ma'ahid Islamiyah dan Pengurus Besar NU dalam rangka memperingati Hari Santri ini bisa dilihat di kanal YouTube Televisi Nahdlatul Ulama, TVNU, Rabu (20/10/2021). Lantas, benarkah Menteri Agama dicopot lantaran ucapannya yang menuai kontroversi tersebut?

Penelusuran Fakta Kami menelusuri video dimana Menteri Agama (Menag) Yaqut menyampaikan pernyataan terkait NU tersebut di akun YouTube TVNU. Video tersebut dapat disaksikan melalui tautan. Diketahui, Menag Yaqut mulai berbicara pada menit 22:18 hingga menit 45:41. Awalnya Menag menyampaikan terkait adanya perdebatan di Kementerian Agama soal usulan perubahan tagline Kemenag, di asal usul menteri agama sekarang ke 41:35.

"Saya berkeinginan untuk mengubah tagline atau logo Kementerian Agama, tagline Kementerian Agama itu kan 'Ikhlas Asal usul menteri agama sekarang. Saya bilang, nggak ada ikhlas kok ditulis gitu, namanya ikhlas asal usul menteri agama sekarang dalam hati, ikhlas kok ditulis, ya ini menunjukkan nggak ikhlas saya bilang," jelas Yaqut. Ia pun menegaskan bahwa bagian ikhlas beramal itu tidak bagus dan kurang pas.

Ia pun melanjutkan bahwa diskusi itu menjadi perdebatan terkait sejarah asal usul Kementerian Agama (Kemenag). Yaqut saat itu merespon dengan menyatakan bahwa Kemenag merupakan hadiah negara untuk NU, bukan untuk umat Islam. "Ada yang tidak setuju, 'Kementerian ini harus Kementerian Agama Islam' karena Kementerian Agama itu adalah hadiah negara untuk umat Islam.

Saya bantah, bukan, 'Kementerian Agama itu hadiah negara untuk NU', bukan untuk umat Islam secara umum, tapi spesifik untuk NU.

Nah, jadi wajar kalau sekarang NU itu memanfaatkan banyak peluang yang ada di Kementerian Agama, kan dia itu NU," kata Yaqut. Ucapan Yaqut ini mengundang kritik dari banyak pihak, salah satunya Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini. Ia menilai bahwa pernyataan Menag Yaqut kurang bijaksana. "Saya pribadi dapat menyatakan bahwa komentar tersebut tidak pas dan kurang bijaksana dalam perspektif membangun spirit kenegarawanan," kata Helmy melalui akun Instagram-nya yang telah dikonfirmasi, Senin (25/10/2021).

Helmy melanjutkan lagi bahwa Kemenag merupakan hadiah negara untuk semua agama. "Bukan hanya untuk NU atau hanya umat Islam," tegas dia. Sementara itu, video yang tersebar di media sosial dan mengklaim bahwa Menag Yaqut telah dicopot oleh Presiden Jokowi, hal itu tidak ditemukan oleh Tirto.

Sepanjang durasi video, video tersebut hanya menjelaskan duduk perkara masalah ini dan potongan video pendapat dari berbagai pihak. Video tersebut dibuka dengan narasi “Orang PDIP rongrong Jokowi copot Menag Yaqut, ia selalu bikin kontroversi dan konflik” yang dilanjutkan dengan pernyataan Yaqut pada webinar internal NU. Beberapa orang lainnya yang tampak pada video itu seperti Prof. Dr. Azyumardi Azra yang merupakan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, politisi Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P) Kapitra Ampera, ahli hukum tata negara Refly Harun, dan politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany Alatas.

Namun, potongan video komentar yang secara langsung disampaikan terkait Menag Yaqut hanya dari Prof. Dr. Azyumardi Azra. Potongan video dari akun Facebook “Persaudaraan” ini mengunggah komentar Azyumardi Azra yang mengatakan bahwa pernyataan Yaqut menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu.

Sementara komentar lainnya dari Kapitra Ampera, Refly Harun, dan Tsamara Amany Alatas hanya berupa potongan gambar dengan narasi suara yang disampaikan moderator video.

Terlebih, potongan video yang menyebut Refly Harun sama sekali tidak berhubungan dengan kasus Menag Yaqut. Narasi video malah menyebutkan komentar Refly Harun soal penggantian juru bicara Presiden Fadjroel Rachman. Video juga sama sekali tidak membahas komentar Presiden, meski narasi yang disampaikan oleh pengunggah menyebutkan “Jokowi Resmi Copot Menag”. Di luar urusan video, Menag Yaqut sendiri telah memberi klarifikasi bahwa pernyataannya itu disampaikannya dalam forum internal NU.

Konteks dari pernyataannya itu pun adalah motivasi untuk kalangan NU dan santri, jelasnya. “Itu saya sampaikan di forum internal. Intinya, sebatas memberi semangat kepada para santri dan pondok pesantren. Ibarat obrolan pasangan suami-istri, dunia ini milik kita berdua, yang lain cuma ngekos, karena itu disampaikan secara internal,” kata Yaqut di Solo, Senin (25/10/2021). Ketua Gerakan Pemuda Ansor itu menjelaskan, memberi semangat kepada NU di forum internal itu wajar. "Dan memang saya juga tidak tahu sampai keluar lalu digoreng ke publik.

Itu forum internal, konteksnya untuk menyemangati,” klaimnya. Terlepas dari huru-hara kasus ini, jika dilihat dari sejarah, posisi Menag memang sering dijabat oleh tokoh-tokoh dari NU. Namun, tentu saja tidak ada ketentuan resmi bahwa tokoh NU dapat dikhususkan untuk mengisi jabatan Menag. Pada November 1945 misalnya, pemerintah Asal usul menteri agama sekarang mulai menerapkan sistem parlementer.

Seperti dikutip Tirto dari mal Bakti Departemen Agama RI: 3 Januari 1946-3 Januari 1996 (1996, hlm. 11), pergantian sistem ini menyebabkan Kiai Haji Abdul Wahid Hasyim, yang berasal dari NU dan sebelumnya ditunjuk sebagai menteri negara dengan tugas “mengurus urusan politik, terutama yang berhubungan dengan Islam dan Umat Islam” pun lengser dan digantikan oleh Haji Mohammad Rasjidi yang berlatar Muhammadiyah sekaligus Masyumi.

Sementara itu, Kementerian Agama secara definitif baru dibentuk setelah pemerintah Indonesia menerbitkan Penetapan Pemerintah Nomor I/S.D. pada 3 Januari 1946. Barulah kemudian Haji Mohammad Rasjidi diangkat menjadi Menag yang pertama. Rasjidi mengakhiri masa jabatannya pada 2 Oktober 1946. Lalu, naiklah Fathurrahman Kafrawi yang berasal dari NU sebagai Menag yang baru. Seperti halnya Rasjidi, Fathurrahman Kafrawi tidak bertahan lama karena dinamika politik dalam pemerintahan dan revolusi.

Pada 26 Juni 1947 dia pun lengser. Lalu, pada Juli 1947, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer pertamanya ke Indonesia, Kementerian Agama mengalami ketidakpastian karena berhadapan dengan perang.

asal usul menteri agama sekarang

Pengganti Fathurrahman semula adalah Achmad Asj'ari dari Muhammadiyah. Belum lama menjabat, Achmad Asj'ari digantikan Anwaruddin dari Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) pada Oktober 1947. Achmad Asj’ari dan Anwaruddin agaknya tidak diangkat secara resmi sebagai Menag mengingat yang diakui sebagai Menag definitif ketiga dalam sejarah pemerintahan Indonesia adalah Kiai Haji Masjkur dari NU. Dia diangkat menjadi Menag dalam Kabinet Amir Sjarifuddin II pada 11 November 1947.

Posisi Menag juga sempat diisi tokoh intelektual atau tentara pada masa Orde Baru Soeharto. Dari kalangan intelektual ada Mukti Ali (Kabinet Pembangunan II), Munawir Sjadzali (Kabinet Pembangunan IV dan V), dan Muhammad Quraish Shihab (Kabinet Pembangunan VII).

Sementara itu dari kalangan tentara ada Letnan Jenderal Alamsjah Ratu Prawiranegara (Kabinet Pembangunan III) dan Laksamana Muda Dokter Tarmizi Taher (Kabinet Pembangunan VI). Pada era Jokowi sendiri, jabatan Menag sempat diisi oleh Fachrul Razi yang merupakan Jenderal Purnawirawan TNI.

Fachrul Razi mengisi jabatan Menag sejak 23 Oktober 2019 hingga di- reshuffle pada 23 September 2020 dan digantikan oleh Yaqut Cholil Qoumas. Kesimpulan Berdasarkan penelusuran fakta, tidak benar bahwa Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas akan dicopot sebab pernyataannya tentang jabatan Menteri Agama sebagai hadiah terhadap NU. Deskripsi video di Facebook dari akun “Persaudaraan” bersifat salah dan menyesatkan ( false & misleading).

Di luar semua itu, posisi Menteri Agama tidak selalu diisi oleh tokoh dari Nahdlatul Ulama. Misalnya, pada masa Orde Baru, jabatan ini diisi oleh tokoh intelektual dan juga tentara.
Liputan6.com, Jakarta Menteri Agama atau Menag Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, berdasarkan sejarahnya, Kementerian Agama (Kemenag) merupakan hadiah untuk Nahdlatul Ulama ( NU), bukan umat Islam secara umum.

Hal itu diungkapkannya saat mengisi webinar internasional peringatan Hari Santri yang dihelat oleh Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) dan PBNU, Rabu, 20 Oktober 2021. Awalnya, Yaqut menceritakan soal perdebatan di stafnya yang tengah membahas sejarah asal-usul Kemenag.

Kemudian salah satu stafnya mengatakan, Kementerian Agama adalah hadiah negara untuk umat Islam. "Waktu itu perdebatannya bergeser bahwa Kementerian Agama ini harus menjadi kementerian semua agama, melindungi semua umat beragama. Ada yang tidak setuju, kementerian ini harus (jadi) Kementerian Agama Islam karena Kementerian Agama itu adalah hadiah negara untuk umat Islam," kata Yaqut seperti dikutip dari video terkait, Minggu (24/10/2021). Mendengar argumen stafnya, Yaqut lalu membantah.

Menurut dia, pernyataan stafnya salah, sebab Kementerian Agama adalah hadiah negara bagi kelompok muslim NU. "Saya bantah, Bukan! Kementerian Agama itu hadiah negara untuk NU, bukan untuk umat Islam secara umum tapi spesifik untuk NU," jelas Yaqut. Keyakinan Yaqut membuatnya merasa ada kewajaran, ketika NU memanfaatkan peluang di kementerian yang tengah dipimpinnya.

"Wajar kalau sekarang NU memanfaatkan banyak peluang yang ada di Kementerian Agama, memang hadiahnya untuk NU, kenapa begitu? Kementerian Agama itu muncul karena pencoretan 7 kata dalam piagam Jakarta dan yang mengusulkan itu juru damai atas pencoretan itu oasisnya NU, kemudian lahir Kementerian Agama," ungkap Yaqut. "Jadi wajar sekarang kalau sekarang kita minta Dirjen Pesantren dan banyak mengafirmasi pesantren dan santri NU, saya kira wajar saja tidak ada yang salah," Yaqut menandasi. Meski hadiah untuk NU, lanjut Yaqut, Kementerian Agama tetap merangkul semua agama dan golongan.

Sebab, dia meyakini, NU bakal melindungi sesama. "Yang besar itu selalu cenderung melindungi uang lemah dan kecil, NU di mana pengin melindungi yang kecil. Jadi kalau sekarang Kementerian Agama menjadi kementerian yang menjadi kementerian semua agama, itu bukan menghilangkan NU tapi justru menegaskan NU yang terkenal paling toleran dan moderat," beber Yaqut. Yaqut berharap, keyakinannya dapat membuat kementeriannya semakin maju dan memberi jalan bagi pesantren dan santri untuk mendapat masa depan yang lebih baik.

"Saya kira tidak ada yang salah, ini asal usul menteri agama sekarang pikiran kami yang hampir seragam. Jadi mari manfaatkan untuk kebaikan dan mampu persiapkan masa depan santri kita memenangkan pertempuran di masa depan," Yaqut menandasi. " Ini ada perdebatan yang berkembang menjadi sejarah asal usul Kementerian Agama, ada yang bilang salah satu staf, lho Kementerian Agama itu hadiah negara untuk umat Islam, karena waktu itu perdebatannya bergeser bahwa Kementerian Agama ini harus menjadi kementerian semua agama, melindungi semua umat beragama.

Ada yang tidak setuju, kementerian ini harus kementerian agama Islam karena Kementerian Agama itu adalah hadiah negara untuk umat Islam. Saya bantah, Bukan! Kementerian Agama itu hadiah negara untuk NU, bukan untuk umat Islam secara umum tapi spesifik untuk NU, jadi wajar kalau sekarang NU memanfaatkan banyak peluang yang ada di Kementerian Agama, memang hadiahnya untuk NU, kenapa begitu?

Kementerian Agama itu muncul karena pencoretan 7 kata dalam piagam Jakartadan yang mengusulkan itu juru damai atas pencoretan itu oasisnya NU, kemudian lahir Kementerian Agama. Jadi wajar sekarang kalau sekarang kita minta Dirjen Pesantren dan banyak mengafirmasi pesantren dan santri NU, saya kira wajar saja tidak ada yang salah.

Yang besar itu selalu cenderung melindungi uang lemah dan kecil, NU dimana-mana ingin melindungi yang kecil. Jadi kalau sekarang Kementerian Agama menjadi kementerian yang menjadi kementerian semua agama, itu bukan menghilangkan NU tapi justru menegaskan NU yang terkenal paling toleran dan moderat. Saya kira tidak ada yang salah, ini background pikiran kami yang hampir seragam. Jadi mari manfaatkan untuk kebaikan dan mampu persiapkan masa depan santri kita memenangkan pertempuran di masa depan." Dalam acara Webinar Santri Membangun Negeri, yang diadakan Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan PBNU, dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, berpendapat, “Kementerian Agama itu hadiah Negara untuk NU, bukan untuk Umat Islam”.

Komentar singkat itu, menjawab ketidaksetujuan stafnya kepada idenya mengganti moto “Ikhlas Beramal”. Menag Yaqut juga menekankan peran juru damai dari NU ketika terjadi pro kontra pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Dikarenakan ada peran juru damai NU disitu, maka Kementerian Agama berdiri. Komentar ini pun ditanggapi berbagai pihak, termasuk pimpinan Muhammadiyah, di kalangan pimpinan PBNU sendiri, dan berbagai elemen masyarakat. Kebetulan saya meneliti dan menulis entry ensiklopedia tentang Kementerian Agama, dan saya produk kementerian ini juga. Nimbrung sedikit saja, karena sejarah dan perkembangan Kemenag memang kompleks dan dinamis.

Sejarah Terbentuknya Kementerian Agama Latar belakang historisnya, sebuah lembaga yang mengurus urusan agama secara khusus dimulai dari zaman kerajaan-kerajaan Islam pra-kolonial: Di Aceh ada Syaikh al-Islam, di Sulawesi ada, Parewa Sara, sejalan dengan Parewa Adat. Pemerintah Belanda mendirikan Het Kantoor voor Inlandsche Zaken (Kantor Urusan Pribumi). Pemerintah kolonial Jepang menggantinya menjadi Shumubu. Para pegawai Kementerian Agama yang didirikan setelah kemerdekaan, sebagiannya dari pejabat di masa kolonial Belanda dan Jepang itu.

Singkatnya, Kementerian Agama juga sebagian tugas utamanya adalah warisan kolonial (dan dalam beberapa aspek juga pra-kolonial kerajaan-kerajaan Islam). Singkatnya, Kementerian Agama juga warisan kolonial dan pra-kolonial. Founding fathers Indonesia, mereka berdebat sengit perlu tidaknya mendirikan suatu Kementerian Agama. Soekarno setuju pandangan sebagian tokoh Muslim ketika itu yang menginginkan Kementerian Agama. Mohammad Hatta, setuju penghapusan tujuh kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dan menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Baca Juga Staf Khusus Menkeu RI Sampaikan Strategi Pemulihan Ekonomi di UMM Suara-suara ingin mendirikan Kementerian Agama datang dari berbagai unsur: Muhammadiyah, NU, Jong Islamiten Bond, nasionalis, dan lain-lain. Dalam sidang BPUPKI, Asal usul menteri agama sekarang Yamin mengusulkan “Kementerian Islamiyah”, tapi tidak mendapat dukungan luas.

*** Dalam sidang PPKI, usulan Kementerian Agama tidak disepakati, terutama oleh kalangan nasionalis dan dari sebagian kalangan Islam sendiri. Usulan Kemenag disetujui oleh Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) yang datang dari Kerisidenan Banyumas.

Tepatnya pada masa Kabinet presidensial, tokoh NU Wahid Hasyim menjabat urusan agama selama 4 bulan (19 Agustus 1945-14 November 1045). Namun, Kementerian Agama waktu itu belum resmi didirikan.

Pada sidang pleno 25-28 November 1945 di UI Salemba, wakil-wakil KNIP Karesidenan Banyumas mengusulkan, “Supaya dalam negara Indonesia yang sudah merdeka ini janganlah hendaknya urusan agama hanya disambilalukan dalam tugas Kementerian Pendidikan, Pengajaran & Kebudayaan atau departemen-departemen lainnya, tetapi hendaknya diurus oleh suatu Kementerian Agama tersendiri”.

(Departemen Penerangan, 1965). Menag: Dari Muhammadiyah, NU hingga Partai Presiden Soekarno dan Wapres Mohamad Hatta baru mengeluarkan ketetapan pada 3 Januari 1946, dan menjadi hari lahir Kemenag setelah itu. Soekarno dan Hatta mengangkat Mohammad Rasjidi sebagai “Menteri Agama” seiring dengan surat ketetapan itu. Rasjidi ketika itu lulusan Kairo dan Sorbonne, dari Masyumi-Muhammadiyah. Rasjidi menganggap dirinya lahir dari “Islam Abangan”, bukan santri.

Ia menulis, “aku seorang Muslim moderen. Walaupun aku tidak pernah mengunjungi sekolah Belanda, tetapi paham membaca buku-buku dalam bahasa Belanda. Di samping itu aku lancar berbahasa Inggris dan Prancis” (1968). Rasjidi belajar di sekolah Muhammadiyah, Al-Irsyad dan lalu ke Kairo, juga menjadi diplomat.

Setelah diminta pulang dan diangkat Soekarno-Hatta, Menag Rasjidi harus menanggapi berbagai kritik terhadap didirikannya Kementerian Agama. Menurut Rasjidi, Kemenag didirikan untuk mewujudkan pasal Ketuhanan Yang Maha Esa dan negara menjamin kebebasan beragama seperti dalam UUD 1945.

Baca Juga Cetak Sawah di Lahan Gambut, Sebuah Langkah Mundur Teratur *** Menteri Agama selanjutnya, Raden Fathurrahman Kafrawi lulusan Mekah, Kairo, dan Leiden, dari Masyumi-NU, ia memfokuskan kebijakannya pada pendidikan agama di sekolah umum, madrasah dan pesantren. Menteri-menteri agama selanjutnya berasal dari NU, termasuk Wahid Hasyim (yang sebelumnya Menteri Negara, menjadi Menteri Agama 20 Desember 1949-6 September 1950, lalu 1950-1952) mewakili Masyumi-NU, dan kemudian beberapa Menag dari Muhammadiyah (termasuk Fakih Usman 1952-1953), serta beberapa juga dari partai, bukan dari kalangan NU atau Muhammadiyah, dan perguruan tinggi.

A. Mukti Ali, lulusan McGill Kanada, dianggap mewakili unsur akademis dan politik Golkar, berperan dalam pengajaran perbandingan agama. Begitu juga Munawir Sjadzali, lulusan Exeter dan Georgetown University.

Tarmizi Taher, seorang dokter, tidak terkait langsung NU atau Muhammadiyah, tapi dianggap cukup berhasil membangun triologi kerukunan: intra-umat, antar-umat, dan antara umat dan negara. A. Malik Fadjar, dari kalangan perguruan tinggi dan Muhammadiyah.

Setelah Malik Fadjar, menag berasal dari kalangan partai seperti PPP dan PKB dan ormas NU. Dalam perjalanannya, melalui Depag/Kemenag, negara makin terlibat dalam berbagai urusan agama. Urusan-urusan yang sebelumnya berada di bawah Kementerian Dalam Negeri, Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kehakiman. Dirjen agama-agama lain pun dibentuk, termasuk Katolik, Kristen, Hindu, Buddha.

Sejak awal pendirian dan sepak terjang kementerian dan birokrat agama tetap menimbulkan pro dan kontra, termasuk kasus-kasus korupsi, meskipun secara institusional, terbukti “survive” dan “berkembang” hingga sekarang. Di tahun 1960-an, Clifford Geertz berpendapat, “tujuan dan maksud pendirian Kementerian Agama merupakan urusan santri dari atas sampai bawah”, Sarjana B.J.

Boland berpendapat, “Kemenag merupakan kompromi politik antara kalangan yang ingin mendirikan Negara Islam dan kalangan yang ingin mendirikan negara sekuler.” Kajian-kajian akademis menyebut Kementerian Agama sebagai contoh negara Indonesia semi-sekuler, semi-agama. Baca Juga Menyambut Keberagaman Melalui Pendidikan Almarhum Gus Dur pernah berniat membubarkan Departemen Agama karena “Depag sudah menjadi seperti pasar”, tapi dia asal usul menteri agama sekarang niatnya itu untuk menimbang manfaat lebih banyak daripada mudharatnya.

Kementerian Agama untuk Semua Agama Perdebatan Kementerian Agama ini, apakah milik ormas tertentu, atau untuk umat Islam saja, atau untuk semua agama. Menag Yaqut pernah mengungkapkan, “Kemenag untuk semua agama” ; ia mengucapkan selamat hari raya Naw-Ruz umat Baha’i di Indonesia.

Menag Yaqut juga mengangkat staf, dan Dirjen urusan Haji dan Umrah dari kalangan Muhammadiyah. Beberapa terobosan yang didukung dan dikritik banyak kalangan di Indonesia. Belajar dari sejarah, akan terus ada ketegangan dan perbedaan pandangan tentang asal usul menteri agama sekarang negara dan agama di Indonesia.

Termasuk peran dan sepak terjang Kementerian Agama dan para pejabat, serta seluruh jajarannya yang tersebar di seluruh Indonesia. Perdebatan juga akan terus ada di kalangan ormas-ormas Islam, sejauh mana peran mereka dalam sejarah, dan sejauh mana mereka bekerja sama dengan aparatur negara.

Sumbangan kementerian ini, sangatlah banyak dan dirasakan berbagai level masyarakat, tentu dengan berbagai masalah, tantangan, dan kelemahan-kelemahan birokratisasi. Selain peluang-peluang perbaikan dan pengembangan bagi kehidupan beragama dan bermasyarakat yang lebih baik di Indonesia, termasuk riset-riset seputar semua agama dan kepercayaan yang ada di negeri yang makin majemuk dan tidak kalah dinamisnya dari negara-negara lain.

Editor: Saleh • In-Depth • News • Report • Dialogue • Insight • Perspektif • Feature • Review • Parenting • Inspiring • Risalah • Akidah • Ibadah • Akhlak • Doa • Khutbah • Fatwa • Kajian • Filsafat • Tafsir • Kalam • Tasawuf • Tarikh • Fikih • Moderasi • Riset • Tajdida • Humaniora • Semesta • Video • Kirim Tulisan • Useful Link
none
Peta persebaran agama di Indonesia berdasarkan hasil sensus 2010. Agama di Indonesia terdiri atas berbagai macam agama. Dalam sensus resmi yang dirilis pada tahun 2020, oleh Badan Pusat Statistik Indonesia pada tahun 2018, 86,7% penduduk Indonesia beragama Islam, 10,72% Kristen, 1,74% Hindu, 0,77% Buddha, 0,03% Konghucu, dan 0,04% aliran kepercayaan atau agama lainnya.

[1] Dalam perkiraan Kementerian Dalam Negeri tahun 2021, penduduk Asal usul menteri agama sekarang berjumlah 272,32 juta jiwa dengan 86,88% beragama Islam, 10,58% Kristen (7,49% Kristen Protestan, 3,09% Kristen Katolik), 1,71% Hindu, 0,75% Buddha, 0,03% Konghucu, dan 0,05% agama lainnya.

[1] Ideologi Indonesia adalah Pancasila, pada sila pertama berbunyi, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Ideologi ini adalah kompromi antara gagasan negara Islam dan negara sekuler. [2] Awalnya diusulkan "kewajiban sya'riat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" di dalam undang-undang, tetapi akhirnya hal itu dihapus dengan tujuan untuk mengayomi semua masyarakat Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan bahwa "negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu".

[3] Dalam Penetapan Presiden Nomor 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, negara secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. [4] Belakangan, aliran kepercayaan ( agama asli Nusantara) juga telah diakui melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia tanggal 7 November 2017. [5] [6] [7] Dalam sejarahnya, konflik antaragama juga telah terjadi di Indonesia. Program transmigrasi secara tidak langsung telah menyebabkan sejumlah konflik di wilayah timur Indonesia.

[8] Daftar isi • 1 Sejarah • 2 Enam agama utama • 2.1 Islam • 2.2 Kekristenan • 2.2.1 Kristen Protestan • 2.2.2 Kristen Katolik • 2.2.3 Kristen Ortodoks • 2.3 Hindu • 2.4 Buddha • 2.5 Konghucu • 3 Agama-agama asli • 4 Agama dan kepercayaan lainnya • 4.1 Yahudi • 4.2 Baha'i • 4.3 Sikh • 4.4 Jainisme • 4.5 Gerakan agama baru • 5 Hubungan antar agama • 6 Lihat pula • 7 Catatan kaki • 8 Kepustakaan • 9 Pranala luar Sejarah Kiri: Prosesi kremasi mapui dalam upacara ijam'me' Maanyan.

Kanan: Sedekah laut di Situbondo. Sampai awal era Masehi, orang-orang Nusantara ( suku bangsa Austronesia serta bangsa Papua) menganut agama dan kepercayaan serta budaya sendiri. [9] Kelompok pendatang—dari subbenua India, Tiongkok, Portugal, Arab, dan Belanda—menjadi faktor utama persebaran agama lain di Indonesia. [10] Meskipun demikian, agama beserta juga budaya yang dibawa ini diubah akibat beberapa modifikasi untuk menyesuaikan dengan karakteristik Indonesia.

[ butuh rujukan] Agama Hindu dan Buddha telah dibawa ke Indonesia sekitar abad ke-2 dan abad ke-4 Masehi ketika pedagang dari India datang ke Sumatra, Jawa, dan Sulawesi dengan membawa agama mereka.

Hindu mulai berkembang di pulau Jawa pada abad kelima Masehi asal usul menteri agama sekarang kasta Brahmana yang memuja Siva. Pedagang juga mengembangkan ajaran Buddha pada abad berikut lebih lanjut dan sejumlah ajaran Buddha dan Hindu telah memengaruhi kerajaan-kerajaan kaya, seperti Kutai, Sriwijaya, Majapahit, dan Sailendra.

Sebuah candi Buddha terbesar di dunia, Borobudur, dibangun oleh Kerajaan Sailendra pada waktu yang sama, begitu pula dengan candi Hindu, Prambanan juga dibangun.

Puncak kejayaan Hindu-Jawa, Kerajaan Majapahit, terjadi pada abad ke-14 M, yang juga menjadi zaman keemasan dalam sejarah Indonesia. [11] Hinduisme memiliki pengaruh yang menentukan pada ideologi pemerintahan satu orang raja.

[12] Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 melalui pedagang di Gujarat, India, [10] sementara ilmuwan juga mempertahankan teori dari Arab dan Persia. [13] Islam menyebar sampai pantai barat Sumatra dan kemudian berkembang ke timur pulau Jawa. Pada periode ini terdapat beberapa kerajaan Islam, yaitu kerajaan Demak, Pajang, Mataram, dan Banten. Pada akhir abad ke-15 M, 20 kerajaan Islam telah dibentuk, yang mencerminkan dominasi Islam di Indonesia.

[14] Kekristenan, yakni Gereja Asiria Timur beraliran Nestorianisme telah hadir di Nusantara di Sumatra Utara pada abad ke-7. [15] Fakta ini ditegaskan kembali oleh Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Fakta ini dapat dimengerti dengan penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas.

Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku "Daftar berita-berita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya", yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India, dan Indonesia.

Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatra Utara adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik di Indonesia, seri 1, diterbitkan oleh KWI). [ rujukan?] Candi Prambanan — kecandian Asal usul menteri agama sekarang agung di Jawa Tengah, abad ke-9.

Kristen Katolik dibawa masuk ke Indonesia oleh bangsa Portugis, khususnya di Pulau Flores dan Timor. [16] Kristen Protestan pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 M dengan pengaruh ajaran Calvinis dan Lutheran.

Wilayah penganut animisme di wilayah Indonesia bagian Timur, dan bagian lain, merupakan tujuan utama orang-orang Belanda, termasuk Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan.

Kemudian, Kristen menyebar melalui pelabuhan pantai Borneo, kaum misionaris pun tiba di Toraja, Sulawesi. Wilayah Sumatra juga menjadi target para misionaris ketika itu, khususnya adalah orang-orang Batak sehingga saat ini banyak di antara mereka yang menjadi pemeluk Protestan. [17] Periode Orde Lama Sukarno (dari tahun 1945 hingga 1965) adalah gangguan antara agama dan negara.

[18] [ perlu dijelaskan] Perubahan penting terhadap agama-agama juga terjadi sepanjang era Orde Baru. Antara tahun 1964 dan 1965, ketegangan antara PKI dan pemerintah Indonesia, bersama dengan beberapa organisasi mengakibatkan terjadinya konflik dan pembunuhan terburuk pada abad ke-20.

Atas dasar peristiwa itu, pemerintahan Orde Baru mencoba untuk menindak para pendukung PKI, dengan menerapkan suatu kebijakan yang mengharuskan semua untuk memilih suatu agama, karena kebanyakan pendukung PKI adalah ateis. [19] Sebagai hasilnya, tiap-tiap warga negara Indonesia diharuskan untuk membawa kartu identitas pribadi yang menandakan agama mereka.

Kebijakan ini mengakibatkan suatu perpindahan agama secara massal, dengan sebagian besar berpindah agama ke Kristen Protestan dan Kristen Katolik. Karena Konghucu bukanlah salah satu dari status pengenal agama, banyak orang Tionghoa juga berpindah ke Kristen atau Buddha. [20] Enam agama utama Berdasarkan Penjelasan Atas Penetapan Presiden No 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama pasal 1, "Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen (Protestan), Katolik, Hindu, Budha dan Khong Hu Cu (Konfusius)".

[4] Islam Masjid Istiqlal di Jakarta Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, [21] [22] dengan 86,7% dari jumlah penduduk adalah penganut ajaran Islam. [23] Mayoritas muslim dapat dijumpai di wilayah barat Indonesia (seperti di Jawa dan Sumatra) hingga wilayah pesisir Pulau Kalimantan.

Sedangkan di wilayah timur Indonesia, persentase penganutnya tidak sebesar di kawasan barat. [24] [25] Sejarah Islam di Indonesia sangatlah kompleks dan mencerminkan keanekaragaman dan kesempurnaan tersebut ke dalam kultur. Pada abad ke-13, sebagian besar pedagang orang Islam dari Gujarat, India tiba di pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan (misalnya, sekitar tahun 1297 telah ada jemaah di Peureulak, Aceh Timur).

Hindu yang dominan beserta kerajaan Buddha, seperti Majapahit dan Sriwijaya, mengalami kemunduran, dimana banyak pengikutnya berpindah agama ke Islam. [14] Dalam jumlah yang lebih kecil, banyak penganut Hindu yang berpindah ke Bali, sebagian Jawa dan Sumatra. Dalam beberapa kasus, ajaran Islam di Indonesia dipraktikkan dalam bentuk yang berbeda jika dibandingkan dengan Islam daerah Timur Tengah. [26] Pada abad ke 15 dan 16, penyebaran Islam dipercepat oleh pekerjaan misionaris Maulana Malik Ibrahim di Sumatra dan di Jawa oleh laksamana Cheng Ho, serta kampanye yang dipimpin oleh sultan yang menargetkan kerajaan Hindu-Budha dengan masing-masing mencoba mengukir wilayah atau pulau untuk dikendalikan.

Empat kesultanan yang beraneka ragam dan berkesinambungan muncul di Sumatera bagian utara dan selatan, Jawa barat dan tengah, serta Kalimantan bagian selatan. Para sultan menyatakan Islam sebagai agama negara dan berperang melawan satu sama lain, dan juga berperang melawan orang Hindu dan Non Muslim lainnya.

[27] Selanjutnya, komunitas Hindu, Budha dan Konghucu dan animisme membawa perdamaian dengan setuju untuk membayar jizyah kepada penguasa Muslim, sementara yang lain mulai mengadopsi Islam untuk menghindari pajak tersebut. [28] Sunni Adat Perlon Unggahan kepada leluhur oleh orang Muslim Jawa di Pekuncen, Banyumas, pada hari Jumat terakhir menjelang bulan Ramadan. Sekitar 98% umat Muslim di Indonesia adalah penganut aliran Sunni dari mazhab Syafi'i dan sebagian mazhab-mazhab Sunni lainnya [29] serta gerakan Salafiyah.

[30] Dua jurusan Sunni yang utama ialah Islam Tradisionalis (misalnya ormas Nahdlatul 'Ulama) dan Modernisme Islam ( Muhammadiyah dan lain-lain). [31] Terdapat sejumlah tarekat dari Sufisme (Tasawuf).

[32] Di beberapa daerah, orang melanjutkan kepercayaan lama mereka dan mengadopsi versi sinkretik Islam, misalnya kaum Abangan di Jawa. [33] [34] Syiah Artikel utama: Islam Syiah di Indonesia Aliran Syiah memainkan peran penting dalam periode awal penyebaran Islam di Sumatra Utara ( Aceh). [35] Kini, sisanya di atas 1% pengikut, yakni 1–3 juta orang, adalah penganut Syiah mazhab Dua Belas Imam, yang berada di Sumatra, Jawa, Madura, dan Sulawesi, dan juga mazhab Ismailiyah di Bali.

[36] Semisal di antara subsuku Hadhrami Arab-Indonesia. [37] Perkumpulan utamanya adalah Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI). [38] Ahmadiyyah Artikel utama: Ahmadiyyah di Indonesia Terdapat sekitar 400 ribu (0,2%) pemeluk aliran Ahmadiyyah (“Jamaah Muslim Ahmadiyah Indonesia”, JMAI) yang kehadirannya belakangan ini sering dipertanyakan.

Ahmadiyyah di Indonesia telah hadir sejak tahun 1925. [39] Pada tanggal 9 Juni 2008, pemerintah Indonesia mengeluarkan sebuah surat keputusan yang praktis melarang Ahmadiyah melakukan aktivitasnya ke asal usul menteri agama sekarang. Dalam surat keputusan itu dinyatakan bahwa Ahmadiyah dilarang menyebarkan ajarannya.

[40] Dari Ahmadiyyah utama memisahkan diri “ Gerakan Ahmadiyah-Lahore Indonesia” (GAI) lebih kecil yang di Jawa sejak tahun 1924.

[39] Kekristenan Peta persebaran umat Kristen Protestan di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010. Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda ( VOC) pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mereformasi Katolik asal usul menteri agama sekarang sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia.

Agama ini berkembang dengan sangat pesat pada abad ke-20 yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eropa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di Kepulauan Sunda.

Pada 1965, ketika terjadi perebutan kekuasaan, orang-orang tidak beragama dianggap sebagai orang-orang yang tidak ber-Tuhan, dan karenanya tidak mendapatkan hak-haknya yang penuh sebagai warga negara.

Sebagai hasilnya, gereja Protestan mengalami suatu pertumbuhan anggota. [41] [42] Gereja Protestan di Bukit Doa Getsemane Sanggam, Ambarita, Simanindo, Samosir, Sumatra Utara. Protestan membentuk suatu perkumpulan minoritas penting di beberapa wilayah. Sebagai contoh, di pulau Sulawesi, 17% penduduknya adalah Protestan, terutama di Tana Toraja, Toraja Utara, Mamasa, Poso dan Sulawesi Utara (Kecuali Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Selatan, Bolaang Mongondow Timur, Bolaang Mongondow Utara dan Kota Kotamobagu).

Sekitar 80% penduduk di Tana Toraja adalah Protestan. Di beberapa wilayah, keseluruhan desa atau kampung memiliki sebutan berbeda terhadap aliran Protestan ini, tergantung pada keberhasilan aktivitas para misionaris.

[43] Di Indonesia, terdapat tiga provinsi yang mayoritas penduduknya adalah Protestan, yaitu Papua, Sulawesi Utara, dan Papua Barat, dengan persentase berurutan 70,48%, 63,60%, dan 53,77% dari jumlah penduduk.

[23] Di Papua, ajaran Protestan telah dipraktikkan secara baik oleh penduduk asli. Di Ambon, ajaran Protestan mengalami perkembangan yang sangat besar asal usul menteri agama sekarang dengan agama Islam.

Di Sulawesi Utara, kaum Minahasa, berpindah agama ke Protestan pada sekitar abad ke-18. Saat ini, kebanyakan dari penduduk Suku Batak ( Toba, Karo, Simalungun, Pakpak dan sebagian Angkola) dan Nias di Sumatra Utara menjalankan beberapa aliran Protestan. Selain itu, para transmigran dari pulau Jawa dan Madura yang beragama Islam juga mulai berdatangan. [44] [43] Saat ini, 7,6% dari jumlah penduduk Indonesia adalah penganut Protestan.

[1] Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) merupakan wadah tunggal payung bagi kebanyakan gereja Protestan Nusantara. [45] Kristen Katolik Gereja Katedral Jakarta. Pada abad ke-14 dan ke-15 entah sebagai kelanjutan umat di Barus atau bukan ternyata ada kesaksian bahwa abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Kristen Katolik Roma di Sumatra Selatan.

Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis, yang kemudian diikuti bangsa Spanyol yang berdagang rempah-rempah. [46] Banyak orang Portugis yang memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari kepulauan Maluku pada tahun 1534.

Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris Kristen, Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat.

[47] Pada abad ke-16, Portugis dan Spanyol mulai memperluas pengaruhnya di Manado dan kawasan Minahasa, serta mencapai Flores dan Timor. Portugis dan Spanyol berperan menyebarkan agama Kristen Katolik, namun hal tersebut tidak bertahan lama sejak VOC berhasil mengusir Spanyol dan Portugis dari Sulawesi Utara dan Maluku.

VOC pun mulai menguasai Sulawesi Utara, untuk melindungi kedudukannya di Maluku. Selama masa VOC, banyak penyebar dan penganut agama Katolik Roma yang ditangkap. Belanda adalah negara basis Protestan, dan penganut Katolik dianggap sebagai kaki-tangan Spanyol dan Portugis, musuh politik dan ekonomi VOC. Karena alasan itulah VOC mulai menerapkan kebijakan yang membatasi dan melarang penyebaran agama Katolik.

Yang paling terdampak adalah umat Katolik di Sulawesi Utara, Flores dan Timor. Di Sulawesi Utara kini mayoritas adalah penganut Protestan.

asal usul menteri agama sekarang

Meskipun demikian umat Katolik masih bertahan menjadi mayoritas di Flores, hingga kini Katolik adalah agama mayoritas di Nusa Tenggara Timur. Diskriminasi terhadap umat Katolik berakhir ketika Belanda dikalahkan oleh Prancis dalam era perang Napoleon. Pada tahun 1806, Louis Bonaparte, adik Napoleon I yang penganut Katolik diangkat menjadi Raja Belanda, atas perintahnya agama Katolik bebas berkembang di Hindia Belanda.

[48] [42] Agama Katolik mulai berkembang di Jawa Tengah ketika Frans van Lith menetap di Muntilan pada 1896 dan menyebarkan iman Katolik kepada rakyat setempat. Mulanya usahanya tidak membawa hasil yang memuaskan, hingga tahun 1904 ketika empat kepala desa dari daerah Kalibawang memintanya menjelaskan mengenai Katolik. Pada 15 Desember 1904, sebanyak 178 orang Jawa dibaptis di Semagung, Muntilan, Magelang.

[49] Pada tahun 2018, 3,12% dari penduduk Indonesia adalah Katolik, lebih kecil dibandingkan para penganut Protestan. Mereka kebanyakan tinggal di Papua dan Flores. Selain di Flores, kantung Katolik yang cukup signifikan adalah di Jawa Tengah, yakni kawasan sekitar Muntilan, Magelang, Klaten, serta Yogyakarta. Selain masyarakat Jawa, iman Katolik juga menyebar di kalangan warga Tionghoa-Indonesia. [50] Di Indonesia, terdapat satu provinsi yang mayoritas penduduknya adalah penganut Katolik, yaitu Nusa Tenggara Timur dengan persentase 54,14% dari populasi penduduk provinsi tersebut.

[23] Kristen Ortodoks Lihat pula: Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Ortodoks Oriental Pada abad ke-20 Gereja Ortodoks Timur hadir secara resmi dengan nama Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), dimana para imam Ortodoks di Indonesia berasal dari dua kewilayahan, yaitu awalnya Gereja Ortodoks Yunani Kepatriarkan Konstantinopel dan kemudian Gereja Ortodoks Rusia di Luar Rusia Kepatriarkan Moskow.

Ketua umum Gereja Ortodoks Indonesia adalah Arkimandrit Romo Daniel Bambang Dwi Byantoro, Ph.D. yang adalah imam Indonesia pertama Gereja Ortodoks di Indonesia. Selain itu di Indonesia ada Gereja Ortodoks Oriental, yakni kelompok Gereja Ortodoks Suryani dan Gereja Ortodoks Koptik.

[51] Hindu Para pedanda Hindu Bali. Kebudayaan dan agama Hindu tiba di Indonesia pada abad pertama Masehi, bersamaan waktunya dengan kedatangan agama Buddha, yang kemudian menghasilkan sejumlah kerajaan Hindu-Buddha seperti Kutai, Mataram, dan Majapahit. Candi Prambanan adalah kuil Hindu yang dibangun semasa kerajaan Majapahit, semasa dinasti Sanjaya.

Kerajaan ini hidup hingga abad ke 16 M, ketika kerajaan Islam mulai berkembang. Periode ini, dikenal sebagai zaman Hindu-Buddha Nusantara, bertahan selama 16 abad penuh. [52] Seorang perempuan Hindu Bali sedang menempatkan sesajian di tempat suci keluarganya.

Agama Hindu di Indonesia berbeda dengan Hindu lainnya di dunia. [53] [54] Sebagai contoh, Hindu di Indonesia, secara formal ditunjuk sebagai agama Hindu Dharma, tidak pernah menerapkan sistem kasta.

Contoh lain asal usul menteri agama sekarang, bahwa epos keagamaan Hindu Mahabharata (Pertempuran Besar Keturunan Bharata) dan Ramayana (Perjalanan Rama), menjadi tradisi penting para pengikut Hindu di Indonesia, yang dinyatakan dalam bentuk wayang dan pertunjukan tari. Semua praktisi agama Hindu Dharma berbagi kepercayaan dengan banyak orang umum, kebanyakan adalah Lima Keyakinan Panca Srada. Ini meliputi kepercayaan satu Yang Maha Kuasa Tuhan, kepercayaan di dalam jiwa dan semangat, serta karma atau kepercayaan akan hukuman tindakan timbal balik.

Dibanding kepercayaan atas siklus kelahiran kembali dan reinkarnasi, Hindu di Indonesia lebih terkait dengan banyak sekali yang berasal dari nenek moyang roh. Sebagai tambahan, agama Hindu di sini lebih memusatkan pada seni dan upacara agama dibanding kitab, hukum dan kepercayaan.

[53] [55] Menurut catatan, jumlah penganut Hindu di Indonesia pada asal usul menteri agama sekarang 2018 adalah 4,6 juta orang, 1,74% dari jumlah penduduk Indonesiamerupakan nomor empat terbesar didunia.

[56] Namun jumlah ini diperdebatkan oleh perwakilan Hindu Indonesia yang memberi suatu perkiraan bahwa ada 10 juta orang Hindu. [57] Kebanyakan mutlak penganut Hindu berada di Bali dan bersatu dalam Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Selain Bali juga terdapat di Sumatra, Jawa (teristimewa kawasan Jabodetabek), Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi. yang juga memiliki populasi pendatang suku Bali cukup besar. Orang Hindu Tamil dari suku India-Indonesia di Medan mewakili konsentrasi Hindu penting lain. [57] Di Kalimantan Tengah berada umat Hindu Kaharingan, agama asli suku Dayak yang digabungkan ke dalam agama Hindu (tidak semua penganutnya setuju), [58], pula ada Agama Hindu Jawa suku Tengger, [59] Hindu Tolotang suku Bugis, [60], dan Aluk Todolo suku Toraja [61].

Agama Hindu Jawa telah terbentuk dengan cara yang berbeda sehingga lebih dipengaruhi oleh versi Islam mereka sendiri, yang dikenal sebagai Islam Abangan atau Islam Kejawen. [62] Telah pula disajikan beberapa gerakan Neo-Vedanta/Neohindu antarabangsa, seperti misalnya, Masyarakat Internasional Kesadaran Kresna dan organisasi dari Sathya Sai Baba, [57] Chinmaya Mission, Brahma Kumaris, Ananda Marga, Sahaja Yoga, dan Haidakhandi Samaj.

[63] Buddha Bhikku Buddha melaksanakan puja bakti di Borobudur Buddha merupakan agama tertua kedua di Indonesia, tiba telah pada sekitar abad ke-5 masehi atau sebelumnya asal usul menteri agama sekarang aktivitas perdagangan yang mulai pada awal abad pertama melalui Jalur Sutra asal usul menteri agama sekarang India dan Nusantara.

Sejarah Buddha di Indonesia berhubungan erat dengan sejarah Hindu, sejumlah kerajaan Buddha telah dibangun sekitar periode yang sama: kerajaan Sailendra, Sriwijaya dan Mataram. Sejumlah warisan dapat ditemukan di Indonesia, mencakup candi Borobudur dan patung atau prasasti dari sejarah Kerajaan Buddha yang lebih awal. [52] Pada pertengahan tahun 1960-an, dalam Pancasila ditekankan lagi pengakuan akan satu Tuhan ( monoteisme). Sebagai hasilnya, pendiri Perbuddhi asal usul menteri agama sekarang Buddha Indonesia), Bhikku Ashin Jinarakkhita, mengusulkan bahwa ada satu dewata tertinggi, Sanghyang Adi Buddha dan satu aliran bersatu Buddhayana.

Hal ini didukung dengan sejarah di belakang versi Buddha Indonesia pada masa lampau menurut naskah Jawa kuno dan bentuk candi Borobudur. [64] [65] Di antara umat Buddhis Indonesia berada semua aliran Buddha utama: Mahayana, Wajrayana, dan Therawada.

Kebanyakan orang Tionghoa-Indonesia mengikuti aliran yang sinkretis dengan kepercayaan Tiongkok, yaini Tridharma dan juga Ikuanisme (Maytreya).

[66] Menurut sensus nasional tahun 2000, kurang lebih dari 2% dari total penduduk Indonesia beragama Buddha, sekitar 4 juta orang. Kebanyakan penganut agama Buddha berada di Jakarta, walaupun ada juga di lain provinsi seperti Riau, Sumatra Utara dan Kalimantan Barat. Namun, jumlah ini mungkin terlalu tinggi, mengingat agama Konghucu (hingga tahun 1998) dan Taoisme tidak dianggap sebagai agama resmi di Indonesia, sehingga dalam sensus diri mereka dianggap sebagai penganut agama Buddha.

[67] Konghucu Peta persebaran umat Khonghucu di Indonesia berdasarkan sensus tahun 2010. Agama Konghucu berasal dari Tiongkok daratan dan yang dibawa oleh para pedagang Tionghoa dan imigran, diperkirakan sedari abad ke-3 Masehi.

Berbeda dengan agama yang lain, Konghucu lebih menitikberatkan pada kepercayaan dan praktik yang individual, lepas daripada kode etik melakukannya, bukannya suatu agama masyarakat yang terorganisir dengan baik, atau jalan hidup atau pergerakan sosial. [68] Pada tahun 1883 di Surabaya didirikan tempat ibadah Khonghucu — Boen Tjhiang Soe, dan kemudian menjadi Boen Bio (Wen Miao).

Pada tahun 1900 pemeluk Konghucu membentuk lembaga Konghucu Khong Kauw Hwee. Dan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (MATAKIN) menjadi pada tahun 1955 di Surakarta. [69] [70] Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, umat Konghucu di Indonesia terikut oleh beberapa huru-hara politis dan telah digunakan untuk beberapa kepentingan politis.

Pada 1965, Soekarno mengeluarkan sebuah keputusan presiden No. 1/Pn.Ps/1965 1/Pn.Ps/1965, di mana agama resmi di Indonesia menjadi enam, termasuklah Konghucu.

Pada awal tahun 1961, Asosiasi Khung Chiao Hui Indonesia (PKTHI), suatu organisasi Konghucu, mengumumkan bahwa aliran Konghucu merupakan suatu agama dan Konfusius adalah nabi mereka. [71] [72] [70] Tahun 1967, Soekarno digantikan oleh Soeharto, menandai era Orde Baru. Di bawah pemerintahan Soeharto, perundang-undangan anti Tiongkok telah diberlakukan demi keuntungan dukungan politik dari orang-orang, terutama setelah kejatuhan PKI, yang diklaim telah didukung oleh Tiongkok. Soeharto mengeluarkan instruksi presiden No.

14/1967, mengenai kultur Tionghoa, peribadatan, perayaan Tionghoa, serta mengimbau orang Tionghoa untuk mengubah nama asli mereka. Bagaimanapun, Soeharto mengetahui bagaimana cara mengendalikan Tionghoa-Indonesia, masyarakat yang hanya 3% dari populasi penduduk Indonesia, tetapi memiliki pengaruh dominan di sektor perekonomian Indonesia. Pada tahun yang sama, Soeharto menyatakan bahwa “Konghucu berhak mendapatkan suatu tempat pantas di dalam negeri” di depan konferensi PKTHI.

[72] [70] Pada tahun 1969, UU No. 5/1969 dikeluarkan—menggantikan keputusan presiden tahun 1967—mengenai enam agama resmi. Namun, hal ini berbeda dalam praktiknya. Pada 1978, Menteri Dalam Negeri mengeluarkan keputusan bahwa hanya ada lima agama resmi, tidak termasuk Konghucu.

[72] [70] Pada tanggal 27 Januari 1979, dalam suatu pertemuan kabinet, dengan kuat memutuskan bahwa Konghucu bukanlah suatu agama. Keputusan Menteri Dalam Negeri telah dikeluarkan pada tahun 1990 yang menegaskan bahwa hanya ada lima agama resmi di Indonesia. [71] Karenanya, status Konghucu di Indonesia pada era Orde Baru tidak pernah jelas. De jure, berlawanan hukum, di lain pihak hukum yang lebih tinggi mengizinkan Konghucu, tetapi hukum yang lebih rendah tidak mengakuinya. De facto, Konghucu tidak diakui oleh pemerintah dan pengikutnya wajib menjadi agama lain (biasanya Kristen atau Buddha) untuk menjaga kewarganegaraan mereka.

Praktik ini telah diterapkan di banyak sektor, termasuk dalam kartu tanda penduduk, pendaftaran perkawinan, dan bahkan dalam pendidikan kewarga negaraan di Indonesia yang hanya mengenalkan lima agama resmi. [72] [70] Setelah reformasi Indonesia tahun 1998, ketika kejatuhan Soeharto, Abdurrahman Wahid dipilih menjadi presiden yang keempat. Wahid mencabut instruksi presiden No. 14/1967 dan keputusan Menteri Dalam Negeri tahun 1978. Agama Konghucu kini secara resmi dianggap sebagai agama di Indonesia.

Kultur Tionghoa dan semua yang terkait dengan aktivitas Tionghoa kini diizinkan untuk dipraktikkan. Warga Tionghoa Indonesia dan pemeluk Konghucu kini dibebaskan untuk melaksanakan ajaran dan tradisi mereka. Seperti agama lainnya di Indonesia yang secara resmi diakui oleh negara, maka Tahun Baru Imlek telah menjadi hari libur keagamaan resmi. [73] Agama-agama asli Lihat pula: Daftar organisasi penghayat kepercayaan Indonesia dan Mitologi Indonesia Artikel ini adalah bagian dari seri Agama asli Nusantara Sumatra Parmalim • Pemena • Arat Sabulungan • Fanömba adu • Melayu Jawa Sunda Wiwitan ( Madrais} • Kapitayan • Kejawen • Hindu Jawa • Saminisme Asal usul menteri agama sekarang Tenggara Hindu Bali • Wetu Telu • Marapu • Jingi Tiu Kalimantan Kaharingan • Momolianisme Sulawesi Aluk Todolo • Tolotang • Tonaas Walian • Adat Musi • Masade Maluku dan Papua Naurus • Wor • Asmat Organisasi Portal «Agama» Sembahyang, Sumatra Utara.

Sejumlah agama nenek moyang suku bangsa Austronesia dan Papua yang berdominasi di seluruh Nusantara sebelum masuk agama-agama asing. Beberapa dari mereka masih hidup sebagai kepercayaan adat yang murni atau telah sinkretis, yaitu agama: • Adat Musi ( suku Talaud); • Adat Papua ( suku Asmat, dll); • Aluk Todolo ( suku Toraja); • Arat Sabulungan asal usul menteri agama sekarang suku Mentawai, teristimewa subsuku Sakuddei); • Jingi Tiu ( suku Sabu); • Kaharingan ( suku Dayak); • Kejawen ( suku Jawa); • Marapu ( suku Sumba); • Masade ( suku Sangir); • Naurus ( suku Manusela); • Parmalim ( suku Batak); • Pelebegu ( suku Nias); • Pemena ( suku Karo); • Sunda Wiwitan ( suku Sunda, teristimewa subsuku Sunda Badui); • Tolotang ( suku Bugis); • Tonaas Walian ( suku Minahasa); • Wetu Telu ( suku Sasak); • Wor ( suku Biak).

[74] [75] [76] Jumlah tak resmi penghayat kepercayaan di Indonesia adalah hingga 20 juta orang. [7] Dukun Dayak. Agama nenek moyang berisi animisme, kepercayaan terhadap benda mati yang mana, suatu kepercayaan terhadap objek tertentu, seperti pohon, padi, batu atau orang-orang. Kepercayaan ini telah ada dalam sejarah Indonesia yang paling awal, di sekitar pada abad pertama, tepat sebelum Hindu tiba Indonesia.

Lagipula, dua ribu tahun kemudian, dengan keberadaan Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan agama lainnya, penyembah benda mati masih tersisa di beberapa wilayah di Indonesia.

Penyembah benda mati, pada sisi lain tidak percaya akan dewa tertentu. [10] Aliran-aliran kepercayaan (agama asli Nusantara) telah diakui sesuai dengan Putusan Mahkamah Konstitusi RI tertanggal 7 November 2017 dengan No. 97/PUU-XIV/2016, ditegaskan bahwa putusan perintah tentang Administrasi Kependudukan untuk mengosongkan kolom KTP dan dokumen kependudukan lain bagi penduduk yang “agamanya belum diakui sebagai agama” maupun kelompok "Kepercayaan", bertentangan dengan Konstitusi, yakni kelompok-kelompok penghayat kepercayaan kini dapat mencantumkan nama “penghayat kepercayaan” dalam dokumen kependudukan mereka.

[5] [6] [7] Majelis Luhur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa Asal usul menteri agama sekarang (MLKI) ialah wadah tunggal sebagai payung bagi kumpulan-kumpulan kepercayaan. [77] Agama dan kepercayaan lainnya Beberapa agama dan kepercayaan lainnya yang ada di Indonesia, yaitu: Sikh; Jainisme; Yahudi; Baha'i; Taoisme serta kepercayaan tradisional Tionghoa; dan yang gerakan agama baru, seumpama Teosofi.

[78] Yahudi Artikel utama: Yahudi di Indonesia Pendirian Yahudi awal di Nusantara berasal dari Portugal dan Spanyol (subsuku Sefardim) pada abad ke-17.

Di abad ke-19 orang Yahudi dari Belanda, German dan India datang untuk berdagang rempah dan tinggal di Jakarta, Semarang (subsuku Yahudi Ashkenazi), dan Surabaya (Sefardim dan Mizrakhi Baghdadi).

Pada tahun 1945, terdapat sekitar 2 ribu Yahudi Belanda di Indonesia. Pada tahun 1957, dilaporkan masih ada sekitar 450 orang Yahudi, terutama Ashkenazi di Jakarta dan Sefardim di Surabaya. Komunitas ini berkurang menjadi 50 pada tahun 1963.

Pada tahun 1997, hanya terdapat 20 orang Yahudi, beberapa berada di Jakarta dan sedikit keluarga Baghdadi di Surabaya.

[79] [80] Sinagoge di Surabaya pada 2007. Yahudi di Surabaya pernah memiliki sinagoge (tempat ibadat). Mereka hanya melakukan sedikit hubungan dengan Yahudi di luar Indonesia. Tidak ada pelayanan yang diberikan pada sinagoge. Sinagoge ini telah ditutup oleh umat Muslim yang menentang Perang Gaza 2008–2009. [81] Satu-satunya sinagoge yang masih tersisa terletak di kota Tondano, Sulawesi Utara, yang dihadiri oleh sekitar 10 orang beraliran Yahudi Ortodoks (kelompok Yudaisme Hasidut dari Chabad-Labavitch).

[81] [80] Di Indonesia saat ini telah dibentuk " The United Indonesian Jewish Community–Gabungan Masyarakat Yahudi dan Turunan Ibrani Indonesia" (UIJC) oleh komunitas keturunan Yahudi Indonesia semua aliran.

Organisasi ini sudah dibentuk sejak tahun 2009, tetapi baru diresmikan pada Oktober 2010. UIJC ini dipimpin oleh keluarga Verbrugge. Menurut sumber dari UIJC saat ini keturunan Yahudi di Indonesia yang sudah diketahui hampir mendekati 2 ribuan orang. Yang sudah terdeteksi 500-an, tersebar hampir merata di seluruh Indonesia. [80]. Dan pada 2015, pusat resmi Yahudi pertama oleh rabi Tovia Singer, " Beit Torat Chaim" di Jakarta, diresmikan oleh Kementerian Agama.

[82] Baha'i Artikel utama: Baha'i di Indonesia Di Indonesia hadir 22 ribu 115 orang pemeluk agama baru Baha'i pada tahun 2005. [83] Berapa jumlah mereka sebenarnya tidak diketahui dengan pasti karena sering kali mereka mengalami tekanan dan penolakan dari masyarakat sekitarnya.

[84] Sejak 2014, keadaannya telah membaik dalam rencana Pemerintah untuk kemungkinan pengakuan agama ini (ada pendapat yang salah tentang sudah diadakan pengakuan resmi Baha'i pada tahun 2014). [85] [86] [87] Sikh Polisi Sikh di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara pada zaman Belanda.

Migrasi kaum Sikh ke Indonesia mulai sejak th 1870-an (kaum menjaga serta pedagang). Ada beberapa asal usul menteri agama sekarang (tempat ibadah) dan sekolahnya di Sumatra dan Jawa, semisal gurdwara di Medan yang dibangun pada tahun 1911. Pada tahun 2005 didirikan “Majelis Tinggi Agama Sikh Indonesia” (Matasi). [88] Berjumlah sekira 7 ribu orang (atau 10–15 ribu [57]), Sikh tidak termasuk dalam enam agama yang diakui di Indonesia, para penganut Sikh mengisi kolom agama pada KTP mereka dengan kata “Hindu”.

[89] Terlepas dari Sikh ortodoks di Indonesia mewakili juga gerakan reformis Sikh Radha Soami Satsang Beas (RSSB). [88] Jainisme Jainisme adalah satu-satunya agama India kuno yang tidak diketahui hadir pada zaman lalu di Nusantara. Masa sekarang di Jakarta sudah ada kelompok kecil Jain — “Jain Social Group Indonesia (JSG Indonesia)” di antara kaum India-Indonesia.

[90] Gerakan agama baru Lihat pula: Daftar gerakan agama baru Tidak serupa gerakan dan sekte Islam atau Hindu baru, gerakan agama baru tidak dapat dikaitkan dengan agama tradisional mana pun. Gerakan-gerakan keagamaan baru yang paling terkenal di Indonesia adalah: Perhimpunan Teosofi, [91] Meditasi Transcendental, [92] Falun Gong, [57] dan berasal dari Indonesia Sedulur Sikep (Saminisme), [93] Subud [94] serta Komunitas Eden [57] [95]. Hubungan antar agama Walaupun Pemerintah Indonesia mengenali sejumlah agama berbeda, konflik antar agama kadang-kadang tidak terelakkan.

Pada masa Orde Baru, Soeharto mengeluarkan perundang-undangan yang oleh beberapa kalangan dirasa sebagai anti Tionghoa. Presiden Soeharto mencoba membatasi apapun yang berhubungan dengan budaya Tionghoa, mencakup nama dan agama. [71] [96] Antara 1966 dan 1998, Soeharto berikhtiar untuk de-Islamisasi pemerintahan, dengan memberikan proporsi lebih besar terhadap orang-orang Kristen di dalam kabinet.

Namun pada awal 1990-an, isu Islamisasi yang muncul, dan militer terbelah menjadi dua kelompok, nasionalis dan Islam. [97] Semasa era Soeharto, program transmigrasi di Asal usul menteri agama sekarang dilanjutkan, setelah diaktifkan oleh pemerintahan Hindia Belanda pada awal abad ke-19. Maksud program ini adalah untuk memindahkan penduduk dari daerah padat seperti pulau Jawa, Bali dan Madura ke daerah yang lebih sedikit penduduknya, seperti Ambon, kepulauan Sunda dan Papua.

Kebijakan ini mendapatkan banyak kritik, dianggap sebagai kolonisasi oleh orang-orang Jawa dan Asal usul menteri agama sekarang, yang membawa agama Islam ke daerah non-Muslim. Penduduk di wilayah barat Indonesia kebanyakan adalah orang Islam dengan Kristen merupakan minoritas kecil, sedangkan daerah timur, populasi Kristen adalah sama atau bahkan lebih besar dibanding populasi orang Islam, terjadinya konflik antar agama dan ras di wilayah timur Indonesia, seperti kasus kerusuhan Kepulauan Maluku dan kerusuhan Poso.

[98] Pada tahun 2007—2012 ada serangan dari kaum Sunni terhadap masjid dan rumah-rumah Syiah dan Ahmadiyyah. [99] Untuk mencegah hal ini terjadi di masa depan, pada tahun 2011, khususnya, didirikan Mejlis Sunni dan Syiah (MUHSIN). [100] Pemerintah telah berniat untuk mengurangi konflik atau ketegangan tersebut dengan pengusulan kerjasama antar agama.

Kementerian Luar Negeri, bersama dengan organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama, yang dipegang oleh Sarjana Islam Internasional, memperkenalkan ajaran Islam moderat, yang mana dipercaya akan mengurangi ketegangan tersebut.

[101] Pada 6 Desember 2004, dibuka konferensi antar agama yang bertema “Dialog Kooperasi Antar Agama: Masyarakat Yang Membangun dan Keselarasan”.

Negara-negara yang hadir di dalam konferensi itu ialah negara-negara anggota ASEAN, Australia, Timor Timur, Selandia Baru dan Asal usul menteri agama sekarang Nugini, yang dimaksudkan untuk mendiskusikan kemungkinan kerjasama antar kelompok agama berbeda di dalam meminimalkan konflik antar agama di Indonesia.

[101] Lihat pula • Indonesia • Kebudayaan Indonesia • Islam di Indonesia • Kekristenan di Indonesia • Agama Hindu di Indonesia • Agama Buddha di Indonesia • Konfusianisme di Indonesia • Agama asli Nusantara Catatan kaki • ^ a b c d "Statistik Umat Menurut Agama di Indonesia". Ministry of Religious Affairs. 15 May 2018. Diarsipkan dari versi asli tanggal 3 September 2020.

Diakses tanggal 24 September 2020. Kesalahan pengutipan: Tanda tidak sah; nama "RELIGION" didefinisikan berulang dengan isi berbeda • ^ Intan 2006, hlm. 40; Lindsey & Pausacker 1995; Hosen 2005, hlm. 419–40; Seo 2013, hlm. 44; Ropi 2017, hlm. 61 dll. • ^ "Undang-Undang Dasar 1945". JDIH DPR RI. Diakses tanggal 11 Januari 2021. • ^ a b Hosen 2005, hlm. 419–440; Shah 2017; Marshall 2018, hlm.

85–96. • ^ a b Sutanto, Trisno S. (26 April 2018). "Dekolonisasi Masyarakat Adat: Catatan dari Seminar PGI". Program study agama dan lintas budaya Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-03-01. Diakses tanggal 28-02-2019. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ a b Siregar, Rospita Adelina (2018). "Kebijakan Publik bila Mencantumkan Aliran Kepercayaan dalam Admininistrasi Kependudukan sebagai Bentuk Revitalisasi Pancasila" (PDF).

Dalam Dr. Lamhot Naibaho, S.Pd, M.Hum; Dr. Demsy Jura, M.Th. Seminar Nasional "Revitalisasi Indonesia melalui Identitas Kemajemukan Berdasarkan Pancasila", diselenggarakan oleh Pusat Sudi Lintas Agama dan Budaya — Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Kristen Indonesia. Jakarta, 22 November 2018. Jakarta: UKI Press. hlm. 173–77. ISBN 978-979-8148-96-5.

Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list ( link) • ^ a b c Marshall 2018, hlm. 85–96. • ^ "Transmigration". Prevent Conflict. April 2002. Diakses tanggal 13-10-2006. Asal usul menteri agama sekarang nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Subagya 1969; Schefold 1980; Popov 2017, hlm. 96. • ^ a b c Shaw, Elliott, ed. (28 November 2016). "Indonesian Religions". PHILTAR. Diakses tanggal 02-03-2019. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • ^ Mantra 1958; Kinney, Klokke & Kieven 2003; Levenda 2011; Acri & Griffiths 2011; Domenig 2014; Sukamto 2018.

• ^ Heine-Geldern, Robert (1956). Conceptions of State and Kingship in Southeast Asia. Ithaca, NY: Southeast Asia Program Publications of Cornell University. • ^ Azra 2006, hlm. 10–25. • ^ a b Amrullah 1982; Atjeh 1971; Hasymi 1981; Husain 2017; Laffan 2015; Ricklefs 2006; Ricklefs 2007; Ricklefs 2013; Saifullah 2010. • ^ Aritonang 1995, hlm. 11. • ^ Boelaars 2005; Aritonang & Steenbrink 2008. • ^ Goh 2005; Aritonang & Steenbrink 2008.

• ^ Intan 2006, hlm. 44–50. • ^ Geertz 1972, hlm. 62–84; Bertrand 2004, hlm. 34–104. • ^ Bertrand 2004, hlm. 34–104. • ^ Frederick, William H.; Worden, Robert L., eds.

(1993). Indonesia: A Country Study. Washington, DC. Chapter Islam. • ^ Gross 2016, hlm. 1. • ^ a b c Badan Pusat Statistik (Oktober 2011), Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia: Hasil Sensus Penduduk 2010 (PDF), Jakarta: Badan Pusat Statistik, diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 12 Juli 2017 • ^ Azra 2006, hlm.

31–42. • ^ Husain 2017. • ^ Geerts 1982; Mufid 2006. • ^ Azra 2006; Husain 2017; Laffan 2011; Pringle 2010; Ricklefs 2006; Ricklefs 2007; Ricklefs 2012. • ^ Morgan, David; Reid, Anthony. The New Cambridge History of Islam. Vol. 3: The Eastern Islamic World.

Cambridge University Press, ISBN 978-1107456976, pp 587–89. • ^ Mehden 1995; Husain 2017; Burhanudin & Dijk 2013. • ^ Hasan 2007; Solahudin 2011; Hauser-Schäublin & Harnish 2014, hlm.

144–61; Krismono 2017; Baskara 2017. • ^ Mehden 1995. • ^ Bruinessen 1992; Kraus 1997, hlm. 169–89; Howell 2001, hlm. 701–29; Mufid 2006; Sidel 2006; Mulyati 2010; Laffan 2015. • ^ Geertz 1982; Headley 2004; Hefner 1989; Hurmain 1991; Mufid 2006; Muhaimin 2006; Picard & Madinier 2011, hlm. 71–93; Rasjidi 1967; Ricklefs 2006; Romdon 1993. • ^ Simuh 1995; Woodward 1989; Woodward 2011.

• ^ Atjeh 1971, hlm. 32. • ^ Ali 1994–95, hlm. 67–93; Atjeh 1977; Hasymi 1983; Ida 2016, hlm. 194–215; Zulkifli 2011. • ^ Jacobsen, Frode (2009). Hadrami Arabs in Present-day Indonesia. Taylor & Francis. hlm. 19–. ISBN 978-0-415-48092-5. • ^ Zulkifli 2011, hlm. 197. • ^ a b Burhani 2014, hlm. 143–44. • ^ Rahman 2014, hlm. 418–20. • ^ Aritonang 1995; Aritonang & Steenbrink 2008; Cooley 1968; Goh 2005, hlm.

80; Schröter 2010. • ^ a b Frederick; Worden. (1993). Chapter Christianity. • ^ asal usul menteri agama sekarang b "Indonesia — (Asia)".

Reformed Online. Diakses tanggal 07-10-2006. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Cooley 1968; Aritonang & Steenbrink 2008; Rodgers 1981. • ^ Popov 2017, hlm. 23. • ^ Boelaars 2005; Aritonang & Steenbrink 2008; Steenbrink 2003. • ^ Vermander, Benoit.

"Francis Xavier and Asia: the road to cultural inventiveness". Academic director of Taipei Ricci Institute. International Study Commission. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2010-06-04. Diakses tanggal 07-10-2006. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Steenbrink 2003. • ^ Steenbrink 2007. • ^ Steenbrink 2015. • ^ Popov 2017, hlm. 42–45. • ^ a b Mantra 1958; Kinney, Klokke & Kieven 2003, hlm. 17–20; Levenda 2011; Domenig 2014; Sukamto 2018. • ^ a b Frederick; Worden.

(1993). Chapter Hinduism. • ^ Lansing 1987, hlm. 45–49. • ^ Belo 1960; Geertz 1973; [[#CITEREF Goris1974- Goris 1974]]; Hooykaas 1974; Howe 2001; Lansing 1987, hlm. 45–49; Ramstedt 2004; Stuart-Fox 2010; Swellengrebel 1960; Swellengrebel 1969.

• ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut". Jakarta: Badan Pusat Statistik. 15 Mei 2018. Diakses tanggal 20-10-2011. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) [ pranala nonaktif permanen] • ^ a b c d e f "International Religious Freedom Report 2008.

Indonesia". US Department of State. Diakses tanggal 31-03-2014. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Asal usul menteri agama sekarang 1987; Rousseau 1998; Schärer 1963; Winzeler 1993. • ^ Hefner 1989. • ^ Matthes 1872; Pelras 1987, hlm. 560–61. • ^ Budiman 2013; Nooy-Palm 1979; Nooy-Palm 1986; Nooy-Palm 1987, hlm. 565–67.

• ^ Geertz 1982; Headley 2004; Hefner 1989; Mufid 2006; Muhaimin 2006; Picard & Madinier 2011, hlm. 71–93; Rasjidi 1967; Ricklefs 2006. • ^ Popov 2017, hlm. 78–82. • ^ Kimura 2003, hlm.

53–72. • ^ Frederick; Worden. (1993). Chapter Buddhism. • ^ Brown 1987, hlm. 108–17; Brown 1990; Cheu 1999; Hauser-Schäublin & Harnish 2014, hlm. 84–112; Kimura 2003, hlm.

53–72; Syryadinata 2005, hlm. 77–94; Syukur 2010, hlm. 105–38. • ^ Syukur asal usul menteri agama sekarang, hlm. 105–38; Syryadinata 2005, hlm. 77–94. • ^ Cheu 1999. • ^ Syryadinata 2005, hlm. 77–94. • ^ a b c d e Chambert-Loir 2015, hlm. 67–107. • ^ a b c Syukur 2010, hlm. 105–38. • ^ a b c d Yang 2005. • ^ Syryadinata 2005, hlm. 77–94; Syukur 2010, hlm. 105–38; Sai & Hoon 2013; Sandkühler 2014, hlm. 157–84. • ^ Budiman 2013; Endraswana 2011; Ensiklopedi Kepercayaan 2010; Geertz 1960; Ilyas & Imam 1988; Imam 2005; Kartapradja 1985; Koentjaraningrat 1987, hlm.

559–63; Maria & Limbeng 2007; Matthes 1872. • ^ Metcalf 1987, hlm. 290–92; Mulder 1980; Nooy-Palm 1979; Nooy-Palm 1986; Nooy-Palm 1987, hlm. 565–67; Pelras 1987, hlm.

560–61; Popov 2017, hlm. 96–104; Rodgers 1981; Rodgers 1987, hlm. 81–83; Rousseau 1998. • ^ Schärer 1963; Schefold 1988, hlm. 5–22; Stange 2009; Subagya 1969; Sucipto & Limbeng 2007; Volkman 1985; Weinstock 1983; Winzeler 1993. • ^ "Pembukaan Sarasehan Nasional Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa".

Direktorat Jendral Kebudayaan. 13-10-2014. Diakses tanggal 14-03-2020. Periksa nilai tanggal di: -access-date=, -date= ( bantuan) • ^ Popov 2017, hlm. 105–13. • ^ Klemperer-Markman, Ayala. "The Jewish Community of Indonesia".

Museum of the Jewish People at Beit Hatfutsot. Diakses tanggal 15-12-2006. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) [ pranala nonaktif permanen] • ^ a b c Popov 2017, hlm. 109. • ^ a b Onishi, Norimitsu (22 November 2010).

"In Sliver of Indonesia, Public Embrace of Judaism". The New York Times. Diakses tanggal 23-11-2010. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Serebryanski, Yossi (28 August 2015). "Jews of Indonesia and Papua New Guinea". The Jewish Press. Diakses tanggal 19-06-2016. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( asal usul menteri agama sekarang • ^ "Most Baha'i Nations (2005)".

The ARDA Association of Religion Data Archives. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-12-09. Diakses tanggal 12-02-2019. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ "Agama Baha'i Bukan Sekte Dalam Islam". ANTARA News. 6 November 2007. Diakses tanggal 28-02-2019. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Muhammad Hafil (2014-08-08). "Setelah Diakui Agama, Baha'i Ucapkan Terima Kasih ke Menteri Agama".

Republika Online. • ^ Nurish, Amanah (8 August 2014). "Welcoming Baha'i: New official religion in Indonesia". The Jakarta Post. Diakses tanggal 21-02-2014. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Pedersen, Lene (2016). "Religious Pluralism in Indonesia". The Asia Pacific Journal of Anthropology.

17 (5: Special Issue: Communal Peace and Conflict in Indonesia: Navigating Inter-religious Boundaries): 387–98. • ^ a b Popov 2017, hlm. 110–11. • ^ Kahlon 2016. • ^ Popov 2017, hlm. 108. • ^ Ensiklopedi Kepercayaan 2010, hlm.

325–27; Popov 2017, hlm. 112–13. • ^ Popov 2017, hlm. 81. • ^ Benda & Castles 1969, hlm. 207-40; Sastroatmodjo 1952; Shiraishi 1990, hlm. 95-122. • ^ Clarke, Peter B., ed. (2006). Encyclopedia of New Religious Movements.

London; New York: Routledge. hlm. 607–608. ISBN 9-78-0-415-26707-6. • ^ Popov 2017, hlm. 103–104. • ^ Effendi, Wahyu (28 Juni 2004). "Pembaruan Hukum Catatan Sipil dan Penghapusan Diskriminasi di Indonesia". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-09-28. Diakses tanggal 13-10-2006. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ Lindsey & Pausacker 1995; Lidde 1996, hlm.

613–34; Bertrand 2004, hlm. 34–104. • ^ Lindsey & Pausacker 1995; Bertrand 2004, hlm. 34–104; Pringle 2010, hlm. 143–57; Crouch 2013; Duncan 2013. • ^ Zulkifli 2011; Rahman 2014, hlm. 418–20; Ida 2016, hlm. 194–215. • ^ "RI Sunni-Shia Council established". The Jakarta Post. 21 May 2011. Diakses tanggal 31-03-2019. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • ^ a b Embassy of Republic of Indonesia at Canberra, Australia (6 Desember 2004). Transcript of Joint Press Conference Indonesian Foreign Minister, Hassan Wirajuda, with Australian Foreign Minister, Alexander Downer.

Siaran pers. Diarsipkan 2006-08-24 di Wayback Machine. Kepustakaan dalam bahasa Indonesia • Ali, Wan Zailan Kamaruddin Wan (1994–95). "Aliran Syi'ah di Nusantara: perkembangan. Pengaruh dan Kesan". Sejarah: Jurnal Jabatan Sejarah Universiti Malaya. 3 (3): 67–93. doi: 10.22452/sejarah.vol3no3.4. ISSN 1985-0611. • Amrullah, Abdul Malik Karim (1982) [1963]. Dari Perbendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam di Indonesia.

Jakarta: Pustaka Panjimas. • Anwar, Rosihan (1971). Jatuh Bangun Pergerakan Islam di Indonesia. Jakarta: Kartika Tama. • Aritonang, Jan S. (Pdt. Dr. Jan S. Aritonang) (1995). Berbagai aliran di dalam dan di sekitar gereja. Singapore: BPK Gunung Mulia. ISBN 978-979-415-796-1. • Atjeh, Aboebakar (Prof. Dr. KH. Aboebakar Atjeh) (1971). Sekitar Masuknya Islam di Indonesia. Semarang: Ramadhani. • Atjeh, Aboebakar (Prof.

Dr. KH. Aboebakar Atjeh) (1977). Aliran Syiah di Nusantara. Jakarta: Islamic Research Institute. • Ayatrohaedi; Saadah, Sri (1995). Jatiniskala: Kehidupan Asal usul menteri agama sekarang Masyarakat Sunda Sebelum Islam.

Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. • Boelaars, Asal usul menteri agama sekarang J. W. M. (Dr. Huub J. W. M. Boelaars, OFM Cap.) (2005) [1991]. Indonesianisasi, dari Gereja Katolik di Indonesia menjadi Gereja Katolik Indonesia [ Indonesianisasi, Het omvormingsproces van de katholieke kerk in Indonesiё tot de Indonesische katholieke kerk]. Yogyakarta: Kanisius. ISBN 979-21-0844-0. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-03-06. Diakses tanggal 2019-03-02.

• Bruinessen, Martin van (1992). Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia: survei historis, geografis, dan sosiologis. Bandung: Mizan. • Endraswana, Suwardi (2011). Kebatinan Jawa dan jagad mistik Kejawen.

Yogyakarta: Lembu Jawa. ISBN 978-9791650250. • Ensiklopedi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Cet. ke-4, PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film; Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 2010 [2003]. ISBN 978-979-16071-1-7.

• Geertz, Clifford (1982) [1960]. Abangan, santri, priyayi: dalam masyarakat Jawa [ Religion of Java]. Jakarta: Pustaka Jaya. OCLC 23574765. • Goris, Roelof (1974). Sekte-sekte di Bali. Jakarta: Bhratara. • Hafidy, H.M. As'ad El (1977). Aliran-aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia.

Jakarta: Ghalia Indonesia. • Hasymi, Ali (1981). Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia. Bandung: Al Ma’arif’. • Hasymi, Ali (1983). Syi’ah dan Ahlussunnah: Saling Rebut Pengaruh dan Kekuasaan Sejak Awal Sejarah Islam di Kepulauan Nusantara.

Surabaya: Bina Ilmu. • Heuken, Adolf (Adolf Heuken, S.J.) (2004–2006). Ensiklopedi gereja. 9 jld. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka. ISBN 9799722950. • Hurmain (1991). Aliran kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan mistikisme dalam Islam. Bumi Pustaka. • Husain, Sarkawi B. (Dr. Sarkawi B. Husain, M.Hum) (2017). Sejarah Masyarakat Islam Indonesia. Surabaya: Airlangga University press. ISBN 978-602-6606-47-1.

• Ilyas, Abd. Mutholib (Drs.); Imam, Abd. Ghofur (Drs.) (1988). Aliran kepercayaan & kebatinan di Indonesia. Jakarta: Amin. • Imam, Suwarno S. (2005). Konsep Tuhan, manusia, mistik dalam berbagai Kebatinan Jawa. Jakarta: RajaGrafindo Persada. ISBN 9789797690106. • Kartapradja, Kamil (1985). Aliran kebatinan dan kepercayaan di Indonesia.

Jakarta: Yayasan Masagung. • Krismono (2017). "Salafisme di Indonesia: Ideologi, Politik Negara, dan Fragmentasi" (PDF). Millah: Jurnal Studi Agama. Universitas Islam Indonesia. 16 (2): 173–202. doi: 10.20885/millah.vol16.iss2.art2. • Laffan, Michael (Prof.) (2015) [2011]. Sejarah Islam di Indonesia [ The Makins of Indonesian Islam: orientalism and the narration of a Sufi past].

Yogyakarta: Bentang. ISBN 978-602-291-058-9. • Mantra, Ida Bagus (1958). Pengertian Siva–Buddha Dalam Sejarah Indonesia. Malang: t.p. • Maria, Siti (Dra.); Limbeng, Julianus (S.Sn., M.Si.) (2007). Marapu di Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur (PDF).

Seri pengungkapan nilai-nilai kepercayaan komunitas adat. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata; Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film; Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. • Mufid, Ahmad Syafi'i (2006). Tangklukan, abangan, dan tarekat: kebangkitan agama di Jawa. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBN 979-461-593-5. • Mulder, Niels (1980) [1978]. Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa: Kelangsungan dan Perubahan Kulturil [ Mysticism and Everyday Life in Contemporery Java: cultural persistence and change].

Jakarta: Gramedia. • Mulyati, Sri (Dr. Hj. Sri Mulyati, MA) (2010). Peran Edukasi Tarekat Qadariyyah Naqsabandiyyah Dengan Referensi Utama Suryalaya.

Jakarta: Kencana. ISBN 978-979-1486-73-6. • Popov, Igor (Dr. Igor Popov, LLM) (2017). Buku rujukan semua aliran dan perkumpulan agama di Indonesia. Singaraja: Toko Buku Indra Jaya. • Rasjidi, Mohammad (Prof. Dr. H. Mohammad Rasjidi) (1967).

Islam dan Kebatinan. Jakarta: Bulan Bintang. • Ricklefs, Merle Calvin (2013) [2012]. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan penentangnya dari 1930 sampai sekarang [ Islamisation and its opponents in Java: A political, social, cultural and religious history, c. 1930 to the present]. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.

ISBN 978-9790244085. • Romdon (1993). Tashawwuf dan aliran kebatinan: perbandingan antara aspek-aspek mistikisme Islam dengan aspek-aspek mistikisme Jawa. Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam. ISBN 9789795670018. • Saifullah (Dr. H. Saifullah, SA, MA) (2010). Sejarah & Kebudayaan Islam di Asia Tenggara. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. ISBN 978-602-8764-68-1. • Saksono, Ign. Gatut (2007). Paranormal. Peran dan Tanggung Jawab Moralnya.

Yogyakarta: Yayasan Pustaka Nusantara. • Sastroatmodjo, Suryanto (1952). Masyarakat Samin Blora. Jakarta: Penerbit Central Jawa. • Simuh (Dr.) (1995). Sufisme Jawa: transformasi tasawuf Islam ke mistik Jawa. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. • Solahudin (2011).

NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia. Depok: Komunitas Bambu. ISBN 979-373-195-8. • Stange, Paul (Dr.) (2009). Kejawen Modern: Hakikat dalam Penghayatan Sumaroh (PDF). Diterjemahkan oleh Chandra Utama. Yogyakarta: LKiS. ISBN 978-979-978-53-8-1.

• Stange, Paul (Dr.) (2007) [1998]. Politik Perhatian: Rasa dalam Kebudayaan Jawa (PDF) (edisi ke-2). Yogyakarta: LKiS. ISBN 978-979-1283-08-3. • Asal usul menteri agama sekarang, David J. asal usul menteri agama sekarang [2002]. Pura Besakih: Pura, agama, dan masyarakat Bali [ Pura Besakih: Temple, religion and society in Bali]. Denpasar; Jakarta: Pustaka Larasan; Udayana University Press; KITLV-Jakarta. ISBN 978-979-3790-36-7. • Subagiasta, I Ketut (2009).

Reformasi Agama Hindu Dalam Perubahan Sisial Di Bali 1950-1959. Surabaya: Pāramita. ISBN 978-979-722-805-7. • Subagya, Rakhmat (1969).

Agama asli Indonesia: penelahan dan penilaian theologis. Seri Puskat, jld. 95. Medan: Pro Manuscripto. • Subagya, Rahmat (1973). Kepercayaan: Kebatinan–Kerohanian–Kejiwaan dan agama. Yogyakarta: Kanisius. • Sucipto, Toto (Drs.); Limbeng, Julianus, S.Sn., M.Si. (2007). Dra. Siti Maria, ed. Studi Tentang Religi Masyarakat Baduy di Desa Kanekes Provinsi Banten. Seri pengungkapan nilai-nilai kepercayaan komunitas adat. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata; Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film; Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

• Sukamto (2018). Perjumpaan Antarpemeluk Agama di Nusantara: Masa Hindu-Buddha Sampai Sebelum Masuknya Portugis. Yogyakarta: Deepublish. ISBN 978-602-475-476-1. • Suparyanto, Petrus (2019). Bhīma's Mistical Quest: As a Model of Javanese Spiritual Growth. Wien: Lit. ISBN 978-3-643-90883-4.

• Syukur, Abdul (2010). "Keterlibatan etnis Tionghoa dan agama Buddha: Sebelub dan Sesudah Reformasi 1998". Dalam Wibowi, I.; Lan, Thung Ju. Setelah air mata kering: masyarakat Tionghoa pasca-peristiwa Mei 1998. Jakarta: Kompas. hlm. 105–38. ISBN 978-979-709-472-0. dalam bahasa Inggris • Abuza, Zachary (2007).

Political Islam and Violence in Indonesia. London; New York: Routledge. ISBN 978-0-415-39401-7. • Acri, Andrea; Creese, Helen; Griffiths, Arlo, ed. (2011). From Lanka Eastwards: The Ramayaṇa in the Literature and Visual Arts of Indonesia.

Leiden: KITLV Press. • Aritonang, Jan Sihar; Steenbrink, Karel, ed. (2008). A History of Christianity in Indonesia. Leiden; Boston: Brill. ISBN 978-90-04-17026-1. • Azra, Azyumardi (2006). Islam in the Indonesian World: An Account of Institutional Formation. Bandung: Mizan Pustaka. ISBN 979-433-430-8. • Bakker, Frederik Lambertus (1993).

The Struggle of the Hindu Balinese Intellectuals: Developments in Modern Hindu Thinking in Independent Indonesia. Amsterdam: VU University Press. ISBN 978-9053832219. • Beatty, Andrew (1999). Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account.

Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-62444-4. • Belo, Jane (1960). Trance in Bali. New York: Columbia University Press. • Benda, Harry J.; Castles, Lance (1969). "The Samin Movement".

Bijdragen tot de Taal- Land- en Volkenkunde / Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia. 125 (2): 207–40. ISSN 2213-4379.

• Bertrand, Jaques (2004). Nationalism and Ethnic Conflict in Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-52441-5. OCLC 237830260. • Brown, Iem (1987). "Contemporary Indonesian Buddhism and Monotheism". Journal of Southeast Asian Studies. 18 (1): 108–17. • Brown, Iem (1990). "Agama Buddha Maitreya: A Modern Buddhist Sect in Indonesia".

Southeast Asian Anthropology (9). • Budiman, Michaela (2013). Contemporary Funeral Rituals of Sa'dan Toraja: From Aluk Todolo to "New" Religions. Prague: Charles University in Prague. ISBN 978-80-246-2228-6.

• Buehler, Michael (2016). The Politics of Shari’a Law: Islamist Activist and the State in Democratizing Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press.

ISBN 978-1-107-13022-7. • Burhani, Ahmad Najib (2014). "The Ahmadiyya and the Study of Comparative Religion in Indonesia: Controversies and Influences" (PDF). Islam and Christian–Muslim Relations. 25 (2): 141–58. doi: 10.1080/09596410.2013.864191. • Burhanudin, Jajat; Dijk, Kees van, ed. (2013). Islam in Indonesia. Contrasting Images and Interpretations.

Amsterdam: Amsterdam University Press. • Chambert-Loir, Henri (April 2015). "Confucius Crosses the South Seas". Indonesia. Southeast Asia Program Publications at Cornell University. 99: 67–107. doi: 10.5728/indonesia.99.0067. ISSN 2164-8654. • Cheu, Hock Tong (1999). Chinese Beliefs and Practices in Southeast Asia: Studies on the Chinese Religion in Malaysia, Singapore and Indonesia.

Singapore: Pelanduk Publications. ISBN 978-9679784527. • Cooley, Frank L. (1968). Indonesia: Church and Society.

New York: Friendship Press. ISBN 978-0377180215. • Crouch, Melissa (2013). Law and Religion in Indonesia: Conflict and the Courts in West Java. London: Routledge. ISBN 978-0415835947. • Domenig, Gaudenz (2014).

Religion and Architecture in Premodern Indonesia: Studies in Spatial Anthropology. Leiden; Boston: Brill. ISBN 978-90-04-27400-6. • Duncan, Christopher R.

(2013). Violence and Vengeance: Religious Conflict and Its Aftermath in Eastern Indonesia. Ithaca, NY; London: Cornell University Press.

ISBN 978-0-8014-7913-7. • Epton, Nina Consuelo (1974). Magic and Mysticism in Java (edisi ke-revised). London: Octagon Press. ISBN 978-0900860393. • Federspiel, H.

(1970). Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth century Indonesia. Ithaca, NY: Cornell University Modern Indonesia Project. • Fox, James J. (1996). Auger, Timothy, ed. Indonesian Heritage: Religion and ritual. Indonesian Heritage Series. Vol. 9. Singapore: Archipelago Press. ISBN 978-9813018587.

asal usul menteri agama sekarang

• Fox, Richard (2011). Critical Reflections on Religion and Media in Contemporary Bali. Leiden; Boston: Brill. ISBN 978-90-04-17649-2. • Geels, Antoon (1997). Subud and the Javanese mystical tradition.

Richmond, Surrey: Curzon Press. ISBN 0-7007-0623-2. • Geertz, Clifford (1960). Religion of Java. Glencoe, IL: Free Press. • Geertz, Clifford (1968). Islam Observed, Religious Development in Morocco and Indonesia. Chicago; London: University of Chicago Press. ISBN 0-226-28511-1. • Geertz, Clifford (1972). "Religious Change and Social Order in Soeharto's Indonesia". Asia. 27: 62–84. • Geertz, Clifford (1973). The Interpretation of Cultures: Selected Essays. New York: Basic Books. ISBN 9780465097197.

• Goh, Robbie B. H. (2005). Christianity in Southeast Asia. Singapore: ISEAS: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 9812302972. • Goris, Roelof (1931). The Island of Bali; Its Religion and Ceremonies. Amsterdam: Royal Packet Navigation Company.

• Gross, L. Max (2016). A Muslim archipelago: Islam and Politics in Southeast Asia. Washington, D.C.: National Defense Intelligence College. ISBN 978-1-932946-19-2. • Hadiwijono, Harun (1967). Man in the present Javanese Mysticism.

Baarn: Bosch & Keuning. • Hasan, Noorhaidi (2007). "The Salafi Movement in Indonesia: Transnational Dynamics and Local Development". Comparative Studies of South Asia, Africa and the Middle East. Duke University Press. 27 (1): 83–94. doi: 10.1215/1089201x-2006-045. ISSN 1089-201X.

asal usul menteri agama sekarang

• Hauser-Schäublin, Brigitta; Harnish, David D., ed. (2014). Between Harmony and Discrimination. Negotiating Religious Identities within Majority-minority Relationships in Bali and Lombok.

Leiden; Boston: Brill. ISBN 978-90-04-27125-8. • Headley, Stephen C. (2004). Durga's Mosque: Cosmology, Conversion And Community in Central Javanese Islam. Singapure: ISEAS: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 981-230-242-5. • Hefner, Robert W. (1989). Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Princeton, NJ: Princeton University Press.

ISBN 0-691-09413-6.

asal usul menteri agama sekarang

• Hooykaas, Christiaan (1974). Cosmogony and Creation in Balinese Tradition. The Hague: Martinus Nijhoff. ISSN 0067-8023. • Hosen, Nadirsyah (2005). "Religion and the Indonesian Constitution: A Recent Debate". Journal of Southeast Asian Studies.

36 (3): 419–40. • Howe, Leo (2001). Hinduism & Hierarchy in Bali. Oxford: James Currey. ISBN 978-0852559147. • Howell, Julia Day (2001). "Sufism and the Indonesian Islamic Revival".

The Journal of Asian Studies. 60 (3): 701–29. doi: 10.2307/2700107. • Ida, Achmah (2016). "Cyberspace and Sectarianism in Indonesia: The Rise of Shia Media and Anti-Shia Online Movements" (PDF). Jurnal Komunikasi Islam. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. 6 (2): 194–215. ISSN 2088-6314. [ pranala nonaktif permanen] • Intan, Benyamin Fleming (2006). "Public religion" and the Pancasila-based state of Indonesia: an ethical and sociological analysis.

New York: Peter Asal usul menteri agama sekarang. ISBN 978-0-8204-7603-2. • Kahlon, Swarn Singh (2016). "Chapter 5. Sikhs in Indonesia". Sikhs in Asia Pacific: Travels among the Sikh Diaspora from Yangon to Kobe. New Delhi: Manohar Publisher. ISBN 978-9350981207. • Kimura, Bunki (2003). "Present Situation of Indonesian Buddhism: In Memory of Bhikkhu Ashin Jinarakkhita Mahasthavira" (PDF). Nagoya Studies in Indian Culture and Buddhism: Sambhasa (23): 53–72.

• Kinney, Ann R.; Klokke, Marijke J.; Kieven, Lydia (2003). Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. Honolulu: University of Hawaii Press. ISBN 978-0824827793. • Kipp, Rita Smith (1993). Dissociated Identities: Ethnicity, Religion, and Class in an Indonesian Society. Ann Arbor, Mich.: University of Michigan Press. ISBN 978-0472104123. • Koentjaraningrat, R. M. (1987). "Javanese Religion". Dalam Eliade, Mircea. The Encyclopedia of Religion.

7. New York: MacMillan. hlm.

asal usul menteri agama sekarang

559–63. ISBN 0029094801. • Kraus, Werner (1997). "Transformations of a Religious Community: The Shattariyya Sufi Brotherhood in Aceh". Dalam Kuhnt-Saptodewo, Sri; Grabowsky, Volker; Großheim, Martin. Nationalism and Cultural Revival in Southeast Asia: Perspectives from the Centre and Region. Wiesbaden: Harrassowitz Verlag. hlm. 169–89. ISBN 3-447-03958-2. • Kroef, Justus M. van der (1961). "New Religious Sects in Java". Far Eastern Survey. 30 (2): 18–25. doi: 10.2307/3024260.

• Lansing, J. Stephen (1987). "Balinese Religion". Dalam Eliade, Mircea. The Encyclopedia of Religion. 2. New York: MacMillan. hlm. 45–49. ISBN 0029094801. • Levenda, Peter (2011). Tantric Temples: Eros and Magic in Java. Newburyport, MA: Ibis Press/Nicolas-Hays, Inc. ISBN 978-089254-169-0. • Lidde, R. William (1996). "The Islamic Turn in Indonesia: A Political Explanation". Journal of Asian Studies.

55 (3): 613–34. doi: 10.2307/2646448. • Lindsey, Tim; Pausacker, Helen, ed. (1995). Religion, Law and Intolerance in Asal usul menteri agama sekarang. London; New York: Routledge. ISBN 978-0-7914-2025-6. • Marshall, Paul (2018). "The Ambiguities of Religious Freedom in Indonesia".

The Review of Faith & International Affairs. 16 (1): 85–96. doi: 10.1080/15570274.2018.1433588. • McDaniel, June (2010). "Agama Hindu Dharma Indonesia as a New Religious Movement: Hinduism Recreated in the Image of Islam". Nova Religio: The Journal of Alternative and Emergent Religions. 14 (1): 93–111. • Mehden, Fred R. von der (1995). "Indonesia". Dalam Esposito, John L. The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World: 4-volume Set.

2. New York; Oxford: Oxford University Press. ISBN 0-19-506613-8. • Melton, J. Gordon; Baumann, Martin, ed. (2010). "Indonesia". Religions of the world: a comprehensive encyclopedia of beliefs and practices. 4 (edisi ke-2).

asal usul menteri agama sekarang

Santa Barbara; Denver; Oxford: ABC-Clio. ISBN 978-1-59884-203-6. • Metcalf, Peter (1987). "Bornean Religion". Dalam Eliade, Mircea. The Encyclopedia of Religion. 2. New York: MacMillan. hlm. 290–92. ISBN 0029094801. • Muhaimin, Abdul Ghoffir (2006). The Islamic Traditions of Cirebon: Ibadat and Adat Among Javanese Muslims. Canberra: ANU E Press. ISBN 1-920942-30-0.

• Mulder, Niels (2005) [1998]. Mysticism in Java: Ideology in Indonesia (edisi ke-2). Yogyakarta: Kanisius. ISBN 979-21-1167-0. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-05-06. Diakses tanggal 2019-03-14. • Nooy-Palm, Hetty (1979). The Sa’dan-Toraja: A study of their social life and religion. I: Organization, symbols and beliefs (PDF). The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 90-247-2274-8. • Nooy-Palm, Hetty (1986). The Sa’dan-Toraja: A study of their social life and religion. II: Rituals of the East and West.

Leiden; Boston: Brill. ISBN 978-90-67-65207-0. • Nooy-Palm, Hetty (1987). "Toraja Religion". Dalam Eliade, Mircea. The Encyclopedia of Religion. 14. New York: MacMillan. hlm. 565–67. ISBN 0029094801.

• Pedersen, Lene (2006). Ritual and World Change in a Balinese Princedom. Durham: Carolina Academic Press. ISBN 978-1594600227. • Pelras, Christian (1987).

"Bugis Religion". Dalam Eliade, Mircea. The Encyclopedia of Religion. 2. New York: MacMillan. hlm. 560–61. ISBN 0029094801. • Picard, Michel; Asal usul menteri agama sekarang, Rémy, ed.

(2011). The Politics of Religion in Indonesia: Syncretism, Orthodoxy, and Religious Contention in Java and Bali. London; New York: Routledge. ISBN 978-979-709-472-0. • Putten, Jan van der; Cody, Mary Kilcline, ed. (2009). Lost Times and Untold Tales from the Malay World.

Singapore: NUS Press.

asal usul menteri agama sekarang

ISBN 978-9971-69-454-8. • Pringle, Robert (2010). Understanding Islam in Indonesia: Politics and Diversity. Singapore: Editions Didier Millet. ISBN 978-981-4260-09-1. • Rahman, Fatima Zainab (2014). "State restrictions on the Ahmadiyya sect in Indonesia and Pakistan: Islam or political survival?". Australian Journal of Political Science. 49 (3): 408–22. doi: 10.1080/10361146.2014.934656.

• Ramstedt, Martin, ed. (2004). Hinduism in Modern Indonesia: A minority religion between local, national, and global interest.

London; New York: RoutledgeCurzon. ISBN 0-7007-1533-9. • Ricklefs, Merle Calvin (2006). Mystic synthesis in Java: A history of Islamisation from the fourteenth to the early nineteenth centuries.

White Plains, NY: EastBridge. ISBN 978-1891936616. • Ricklefs, Merle Calvin (2007). Polarising Javanese society: Islamic and other visions c.

1830–1930. Singapore; Leiden; Honolulu: NUS Press; KITLV Press; University of Hawai’i Press. ISBN 978-9971-69-346-6. • Rodgers, Susan (1981). Adat, Islam, and Christianity in a Batak Homeland. Athens, Ohio: Ohio University. ISBN 978-0896801103. • Rodgers, Susan (1987). "Batak Religion".

Dalam Eliade, Mircea. The Encyclopedia of Religion. 2. New York: MacMillan. hlm. 81–83. ISBN 0029094801. • Ropi, Ismatu (2017). Religion and Regulation in Indonesia. Singapore: Palgrave Macmillan. ISBN 978-981-10-2826-7. • Rousseau, Jérôme (1998). Kayan Religion: Ritual Life and Religious Reform in Central Borneo. Leiden: KITLV Press. ISBN 978-9067181327. • Sai, Siew-Min; Hoon, Chang-Yau, ed.

(2013). Chinese Indonesians Peassessed. History, Religion and Belonging. London; New York: Routledge. • Sandkühler, Evamaria (2014). "Popularisation of Religious Traditions in Indonesia — Historical Communication of a Chinese Indonesian Place of Worship".

Dalam Schlehe, Judith; Sandkühler, Asal usul menteri agama sekarang. Religion, Tradition and the Popular. Transcultural Views from Asia and Europe. Bielefeld: transcript. hlm. 157–84. ISBN 978-3-8376-2613-1. • Saran, Syam, ed. (2018). Cultural and Civilisational Links between India and Southeast Asia: Historical and Contemporary Dimensions.

Singapore: Palgrave McMillan.

asal usul menteri agama sekarang

ISBN 978-981-10-7316-8. • Schärer, Hans (1963) [1946]. Ngaju Religion: The Conception of God among a South Borneo People. The Hague: Martinus Nijhoff.

ISBN 978-90-04-24799-4. • Schiller, Anne (1996). Schieman, Scott, ed. "An "Old" Religion in "New Order" Indonesia: Notes on Ethnicity and Religious Affiliation" (PDF). Sociology of Religion. Oxford University Press. 57 (4): 409–17. doi: 10.2307/3711895. ISSN 1759-8818. OCLC 728290653. • Schlehe, Judith (2014). "Translating Traditions and Transcendence: Popularised Religiosity and the Paranormal Practitioners' Position in Indonesia".

Dalam Schlehe, Judith; Sandkühler, Evamaria. Religion, Tradition and the Popular. Transcultural Views from Asia and Europe. Bielefeld: transcript. hlm. 185–201.

ISBN 978-3-8376-2613-1. • Schlehe, Judith (2019). "Cosmopolitanism, Pluralism and Self-Orientalisation in the Modern Mystical World of Java". Asian Journal of Social Science. 47 (3): 185–201. • Schröter, Susanne, ed. (2010). Christianity in Indonesia. Perspectives of power. Southeast Asian Modernities, 12. Berlin: Lit. ISBN 9783643107985. • Seo, Myengkyo (2013). State Management of Religion in Indonesia. London; New York: Routledge.

ISBN 978-0-415-51716-4. • Shah, Dian A. H. (2017). Constitutions, Religion and Politics in Asia: Indonesia, Malaysia and Sri Lanka. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-18334-6.

• Shiraishi, Takashi (1990). "Dangir's Testimony: Saminism Reconstructed". Indonesia. 50: 95–122. • Sidel, John T. (2006).

Riots, Pogroms, Jihad: Religious Violence in Indonesia. Ithaca, NY: Cornell University Press. ISBN 978-0801473272. • Sievers, A. (1974). The Mystical World of Indonesia. Baltimore; London: Johns Hopkins University Press.

ASIN B000Q1LA8E. • Smith, Rita Kipp; Rodgers, Susan, ed. (1987). Indonesian Religions in Transition. Tucson: University of Arizona Press. • Steenbrink, Karel (2003). Catholics in Indonesia: A documented history 1808–1942. Vol. 1: A modest recovery 1808–1903. Leiden: KITLV Press. ISBN 90-6718-141-2. • Steenbrink, Karel (2007). Catholics in Indonesia: A documented history 1808–1942. Vol. 2: The Spectacular Growth of a Self Confident Minority, 1903–1942. Leiden: KITLV Press.

ISBN 90-6718-260-5. • Steenbrink, Karel (2015). Catholics in Independent Indonesia: 1945–2010. Leiden; Boston: Brill. ISBN 978-90-04-28513-2. • Swellengrebel, J. L., ed. (1960). Bali: Studies in Life, Thought, and Ritual. The Hague: W. van Hoeve. ASIN B00ET0VF56Selected studies on Bali by Dutch scholars • Swellengrebel, J. L., ed. (1969). Bali: Further Studies in Life, Thought, and Ritual. The Hague: W. van Hoeve. ASIN B0010P1VU2Selected studies on Bali by Dutch scholars • Syryadinata, Leo (2005).

"Buddism and Confucianism in Contemporary Indonesia: Recent Developments". Dalam Lindsey, Tim; Pausacker, Helen. Chinese Indonesians: Remembering, Distorting, Forgetting. Singapore: ISEAS: Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 77–94. ISBN 981-230-303-0. • Volkman, Toby Asal usul menteri agama sekarang (1985). Feasts of Honor: Ritual and Change in the Toraja Highlands. Urbana: University of Illinois Press. • Weinstock, Joseph (1983). Kaharingan and the Luangan Dayaks: Religion and Identity in Central East Borneo.

Thesis (Ph.D.) Cornell University. • Winzeler, Robert L., ed. (1993). The Seen and the Unseen: Shamanism, Mediumship and Possession in Borneo. Williamsburg, Va.: Borneo Research Council. ISBN 978-0962956812. • Woodward, Mark (1989). Islam in Java: Normative Piety and Misticism in the Sultanate of Yogyakarta.

Tucson: University of Arizona Press. • Woodward, Mark (2011). Java, Indonesia and Islam. Dordrecht: Springer. • Yang, Heriyanto (2005). "The History and Legal Position of Confucianism in Post Independence Indonesia" (PDF).

Marburg Journal of Religion. 10 (1). • Zulkifli (2011). The struggle of Shi’is in Indonesia. Canberra: ANU E Press. ISBN 978-1925021295. dalam bahasa lain • Bratakesawa, Raden (1954). Falsafah Sitidjenar: ngrewat pangrembag paham wahdatul-wudjud (pantheisme) ing tanah Djawi, ingkang ménggok dados paham ngaken Allah tuwin ngorakaken wontenipun ingkang nitahaken (atheisme) (dalam bahasa Jawa). Surabaya: Kulawarga Bratakesawa. • Matthes, Benjamin F. (1872). Over de bissoe’s of heidensche priesters en priesteessen der Boeginezen [ Tentang bissu atau pendeta pagan Bugis] (dalam bahasa Belanda).

Amsterdam. • Schefold, Reimar (1980). Spielzeug für die Seelen — Kunst und Kultur der Mentawai-Inseln (Indonesien) [ Mainan untuk Jiwa: seni dan budaya Mentawai (Indonesia)] (dalam bahasa Jerman). Zürich: Museum Rietberg. • Schefold, Reimar (1988). "De wildernis als cultuur van gene ziijde: tribale concepten van "natuur" in Indonesiο" [Hutan belantara sebagai budaya masa lalu: konsep suku "alam" di Indonesia].

Antropologische verkenningen (dalam bahasa Belanda). 7 (4): 5–22. • Schlehe, Judith (1998). Die Meereskönigin des Südens, Asal usul menteri agama sekarang Kidul. Geisterpolitik im javanischen Alltag [ Ratu Laut Selatan, Ratu Kidul.

Politik Roh dalam Kehidupan Harian Jawa] (dalam bahasa Jerman). Berlin: Dietrich Reimer. ISBN 3-496-02657-X. Pranala luar Wikimedia Commons memiliki media mengenai Religion in Indonesia. • asal usul menteri agama sekarang Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut". Jakarta: Badan Pusat Statistik. 15 Mei 2010. Diakses tanggal 20-10-2011. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • "International Religious Freedom Report 2008. Indonesia" (dalam bahasa Inggris).

US Department of State. Diakses tanggal 31-03-2014. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) • Shaw, Elliott, ed. (28 November 2016). "Indonesian Religions" (dalam bahasa Inggris). PHILTAR, Division of Religion and Philosophy, University of Cumbria.

Diakses tanggal 02-03-2019. Periksa nilai tanggal di: -access-date= ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list ( link) • Adat Lawas • Adat Musi • Agama Buhun • Agama Helu • Aji Dipa • Aliran Kebatinan Tak Bernama • Aluk Todolo • Ameok • Anak Cucu Bandha Yudha • Angesthi Sampurnaning Kautaman • Anggayuh Panglereming Nafsu • Arat Sabulungan • Babolin • Babukung • Baha'i • Basorah • Buddha • Buddhayana • Maitreya • Tridharma • Budi Daya • Budi Rahayu • Budi Sejati • Bumi Hantoro • Cakramanggilingan • Dharma Murti • Empung Loken Esa • Era Wulan Watu Tana • Galih Puji Rahayu • Gautami • Golongan Si Raja Batak • Guna Lera Wulan Dewa Tanah Ekan • Gunung Jati • Hajatan • Habonaron Do Bona • Hak Sejati • Hangudi Bawono Tata Lahir Satin • Hangudi Lakuning Urip • Hardo Pusoro • Hidup Betul • Hindu • Bali • Jawa • Kaharingan • Asal usul menteri agama sekarang Tolotang • Siwa-Buddha • Ilmu Goib • Ilmu Goib Kodrat Alam • Imbal Wacono • Islam • Abangan • modern • Ahmadiyyah • Islam Nusantara • LDII • Modernis • Al-Qiyadah Al-Islamiyah • Syiah • Tradisionalis • Wahidiyah • Wetu Telu • IWKU • Jainisme • Jawa Domas • Jingi Tiu • Kapitayan • Kejawen • Khonghucu • Koda Kirin • Kristen • Katolik • Mormonisme • Ortodoks • Protestan • Saksi-Saksi Yehuwa • Lera Wulan Dewa Tanah Ekan • Malesung • Marapu • Masade • Naurus • Parmalim • Pelebegu • Pemena • Pepandyo • Perjalanan • Purwoduksino • Rila • Salamullah • Sedulur Sikep • Sikh • Sirnagalih • Subud • Sumarah • Sunda Wiwitan • Djawa Sunda • Taoisme • Tonaas Walian • Wor • Yahudi Ireligiusitas • Seni • Film • Tari • Sastra • Musik • Lagu • Masakan • Mitologi • Pendidikan • Olahraga • Permainan tradisional • Busana daerah • Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia • Arsitektur • Bandar udara • Pelabuhan • Stasiun kereta api • Terminal • Pembangkit listrik • Warisan budaya • Wayang • Batik • Keris • Angklung • Tari Saman • Noken Simbol Kategori tersembunyi: • Halaman dengan kesalahan referensi • Galat CS1: tanggal • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: editors list • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list • Pemeliharaan CS1: Teks tambahan: authors list • Artikel dengan pranala luar nonaktif • Artikel dengan pranala luar nonaktif permanen • Templat webarchive tautan wayback • Halaman dengan argumen ganda di pemanggilan templat • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Artikel yang memiliki kalimat yang harus diperbaiki • Halaman dengan berkas rusak • CS1 sumber berbahasa Jawa (jv) • CS1 sumber berbahasa Belanda (nl) • CS1 sumber berbahasa Jerman (de) • Pranala kategori Commons ada di Wikidata • CS1 sumber berbahasa Inggris (en) • Halaman ini terakhir diubah pada 4 Mei 2022, pukul 14.58.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •

Ditunjuk Jadi Menteri Agama,! Begini Koleksi Mobil Mewah dan Sumber Kekayaan Yaqut Cholil Qoumas




2022 charcuterie-iller.com