Vaksin nusantara diakui dunia

Keliru, WHO Mengakui Vaksin Nusantara Aman Digunakan Senin, 30 Agustus 2021 21:15 WIB Unggahan dengan klaim bahwa Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui vaksin Nusantara asal Indonesia, diunggah di beberapa situs dan beredar di Facebook dalam sepekan terakhir. Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Putranto itu disebut mendapat pengakuan WHO setelah merilis jurnal terkait vaksin tersebut di situs resminya, clinicaltrials.gov.

Dalam postingan yang beredar, memuat tangkapan layar dari situs Jaktimnews.com berjudul Masih Digantung Pemerintah, WHO Justru Telah Akui Vaksin Nusantara Aman Digunakan, Tinggal Tunggu Ijin BPOM. Artikel itu dipublikasikan pada 22 Agustus 2021. Selain tangkapan layar, akun yang mengunggah gambar itu menyertakan isi artikel yang tertulis: Organisasi kesehatan dunia atau WHO, telah mengakui keamanan Vaksin Nusantara yang digagas dr Terawan Agus Putranto.

Namun, Vaksin Nusantara ini masih menunggu ijin resmi Badan Pemeriksa Obat dan Makanan ( BPOM). Diakuinya Vaksin Nusantara oleh WHO, setelah merilis jurnal terkait Vaksin Nusantara di situs resminya, clinicaltrials.gov. Tangkapan layar unggahan klaim bahwa vaksin Nusantara telah diakui WHO PEMERIKSAAN FAKTA Hasil penelusuran Tempo, menunjukkan bahwa publikasi hasil penelitian di situs vaksin nusantara diakui dunia bukan berarti menunjukkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengakui vaksin Nusantara untuk Covid-19.

Sebab situs clinicaltrial.gov adalah website database yang memuat hasil penelitian. Mula-mula, Tempo mengecek keaslian tangkapan layar tersebut di situs Jaktimnews.com.

Namun thumbnail tautan Masih Digantung Pemerintah, WHO Justru Telah Akui Vaksin Nusantara Aman Digunakan, Tinggal Tunggu Ijin BPOM, telah berisi artikel dan judul yang berbeda.

Saat dibuka, artikel tersebut memuat judul Vaksin Nusantara Masih Digantung Pemerintah, Tinggal Tunggu Izin BPOM.

Pada bagian isi, juga terdapat perbedaan. Pada artikel yang dimuat, tidak ada tulisan terkait WHO telah mengakui keamanan vaksin Nusantara. Belum ada penjelasan apakah redaksi mengubah judul dan isi berita tersebut. Tempo sudah berupaya meminta konfirmasi dari redaksi Jaktimnews.com sejak Jumat 27 Agustus lalu melalui email.

Tapi hingga Senin sore, 30 Agustus, belum ada jawaban. Nomor telepon yang tertera dalam situs juga tidak bisa dihubungi. Tentang situs clinicaltrials.gov Hasil riset vaksin Nusantara yang termuat dalam situs clinicaltrials.gov itu berjudul Preventive Dendritic Cell Vaccine, AV-COVID-19, in Subjects Not Actively Infected With COVID-19 yang diunggah pada 16 Agustus 2021.

Riset ini dilakukan oleh PT AIVITA Biomedika Indonesia, Rumah Sakit Kariadi dan RSPAD Gatot Soebroto. Riset itu berisi tentang uji klinis fase 2 kandidat vaksin Covid-19 menggunakan sel dendritik autologus dan limfosit (DCL) yang sebelumnya diinkubasi dengan sejumlah protein lonjakan SARS-CoV-2.

ClinicalTrials.gov adalah website yang menyediakan database informasi bagi publik tentang studi medis yang dilakukan pada manusia atau studi intervensi terkait berbagai penyakit dan kondisi. Situs ini dikelola oleh National Library of Medicine (NLM) di National Institutes of Health (NIH), Amerika Serikat. Menurut Epidemiologi dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman, situs clinicaltrials.gov berisi database riset-riset yang telah dilakukan.

Tapi dengan dimuatnya hasil riset di situs tersebut, bukan berarti sebuah vaksin akan disetujui oleh WHO. “Itu (penelitian vaksin Nusantara) masih riset, belum tentu berhasil,” kata Dicky dihubungi Tempo, Jumat 27 Agustus 2021.

Terkait Klaim WHO mengakui vaksin Nusantara Dalam dokumen vaccine tracker and landscape pengembangan kandidat vaksin Covid-19 yang dibuat WHO, kandidat vaksin tipe Dendritic cell vaccine AV-COVID-19 yang dikembangkan Aivita Biomedical (sponsor vaksin Nusantara) berada di urutan 51.

Dokumen tersebut memuat 112 kandidat vaksin lain dari berbagai negara yang sedang dikembangkan atau diuji. Dalam keterangannya kepada Vaksin nusantara diakui dunia, Tim Komunikasi WHO menegaskan bahwa dokumen lanskap hanya bertujuan untuk memberikan informasi mengenai pandemi virus corona baru.

Pencantuman produk atau entitas tertentu dalam dokumen lanskap tidak menunjukkan persetujuan atau pengesahan dari WHO. “Pencantuman produk atau entitas tertentu dalam dokumen lanskap ini bukan merupakan, dan tidak boleh dianggap atau ditafsirkan sebagai, persetujuan atau pengesahan oleh WHO atas produk atau entitas tersebut,” tulis WHO kepada Tempo, Senin 30 Agustus 2021.

Selain itu WHO menyatakan, tidak membuat pernyataan dan jaminan mengenai keakuratan, kelengkapan, kesesuaian untuk tujuan tertentu, kualitas, keamanan, kemanjuran, dapat diperjualbelikan dan/atau tidak melanggar informasi apa pun yang disediakan dalam dokumen lanskap ini dan/atau produk apa pun yang dirujuk di dalamnya.

Tahapan pengembangan vaksin Pengembangan vaksin baru membutuhkan sejumlah tahapan kesepakatan internasional. Dikutip dari Pusat Pencegahan dan Penanganan Penyakit Amerika Serikat, CDC, tahapan pengembangan vaksin baru adalah tahap eksplorasi, tahap pra-klinis, perkembangan klinis, peninjauan dan persetujuan peraturan, manufaktur dan kontrol kualitas. Dalam tahapan klinis atau uji coba pada manusia memuat sejumlah fase.

Selama Fase I, sekelompok kecil orang menerima vaksin percobaan. Pada Fase II, studi klinis diperluas dan vaksin diberikan kepada orang-orang yang memiliki karakteristik (seperti usia dan kesehatan fisik) yang serupa dengan mereka yang menjadi sasaran vaksin baru tersebut. Pada Fase III, vaksin diberikan kepada ribuan orang dan diuji kemanjuran dan keamanannya.

Banyak vaksin menjalani studi formal Fase IV yang sedang berlangsung setelah vaksin disetujui dan dilisensikan. Vaksin Nusantara sendiri masih berada di Fase II dan masih harus menjalani vaksin nusantara diakui dunia III dengan uji pada lebih banyak orang. Padahal pada April lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan vaksin Nusantara belum bisa lanjut ke tahap uji klinis selanjutnya karena beberapa syarat belum terpenuhi di antaranya Cara Uji Klinik yang Baik (Good Clinical Practical), Proof of Concept, Good Laboratory Practice dan Cara Pembuatan Obat yang Baik (Good Manufacturing Practice).

Berdasarkan hal vaksin nusantara diakui dunia, BPOM belum mengeluarkan izin Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) uji klinis fase II untuk vaksin Nusantara. KESIMPULAN Dari pemeriksaan fakta vaksin nusantara diakui dunia atas, klaim bahwa Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah mengakui vaksin Nusantara asal Indonesia adalah keliru. Pencantuman nama kandidat vaksin tipe Dendritic cell vaccine AV-COVID-19 yang dikembangkan Aivita Biomedical (sponsor vaksin Nusantara) pada dokumen vaccine tracker and landscape yang dibuat WHO, tidak menunjukkan persetujuan atau pengesahan dari badan PBB tersebut.

Demikian juga dengan hasil riset yang dimuat di situs clinicaltrials.gov, tidak menunjukkan bahwa vaksin Nusantara disetujui WHO. Sebab clinicalTrials.gov merupakan website yang menyediakan database informasi bagi publik tentang studi medis yang dilakukan pada manusia atau studi intervensi terkait berbagai penyakit dan kondisi.

Tim Cek Fakta Tempo detikHealthSabtu, 24 Jul 2021 07:10 WIB Vaksin Nusantara dan Sederet Kontroversi yang Mengiringi Beredar narasi vaksin Nusantara diakui oleh dunia seiring dengan pernyataan eks Menkes Terawan terkait vaksin besutannya yang dimuat dalam jurnal internasional.

detikHealthJumat, 23 Jul 2021 18:59 WIB Klaim Terawan Vaksin Nusantara Diakui Dunia Dibantah Peneliti Vaksin Nusantara heboh diperbincangkan karena diakui dunia. Namun, hal ini dibantah oleh peneliti vaksin dan doktor dari Universitas Adelaide Australia.

detikHealthJumat, 23 Jul 2021 14:40 WIB Ramai Vaksin Nusantara Diakui Dunia, Terawan Ngotot Lanjut Uji Klinis Fase 3 Viral vaksin Nusantara diakui dunia. Vaksin Corona besutan eks Menkes Terawan ini disebut telah diakui dunia karena sudah dimuat dalam jurnal internasional.
Bisnis.com, JAKARTA — Eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengklaim dunia mengakui kehebatan' Vaksin Nusantara.

Dia mengatakan bahwa saat ini seluruh dunia tengah membicarakan vaksin ciptaanya. Teranyar sebuah penerbit jurnal ilmiah yang bermarkas di Amsterdam menermal Pubmed. Menurut Terawan, jurnal tersebut berisi Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy atau Vaksin Nusantara. Terawan mengklaim dunia telah sepakat memiliki hipotesis bahwa yang akan menyelesaikan Covid-19 adalah Dendritic Cell vaksin Immunotherapy atau Vaksin Nusantara.

Hal tersebut diungkap oleh Terawan saat menghadiri acara webinar RSPAD Gatot Soebroto. Webinar ini bertajuk Perang Biologis Pandemi Covid-19: Lessons Learned and Efforts to Reinforce Health Security to Accelerate Covid-19. Baca Juga : Kepala Eijkman: Kunci Melawan Semua Varian Covid-19 Sama, Taat Prokes! Pernyataan Terawan kemudian menjadi sebuah informasi bahwa Vaksin Nusantara telah disetujui oleh dunia. Melansir situs Covid-19.go.id, Jumat (23/7/2021), hasil periksa fakta Fathia Islamiyatul Syahida dari Universitas Pendidikan Indonesia, klaim tersebut salah.

Faktanya, tidak ada informasi resmi dan kredibel terkait klaim tersebut. Lebih lanjut, jurnal terkait Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy yang dijadikan acuan pembuatan vaksin nusantara hanya berupa hipotesa yang dianggap memiliki efektivitas melawan SARS-Cov-2, bukan jurnal yang melaporkan hasil penelitian.

Masih mengutip sumber yang sama, peneliti vaksin dan doktor di bidang Biokimia dan Biologi Molekuler di Universitas Adelaide Australia, Ines Atmosukarto menjelaskan bahwa jurnal yang sudah vaksin nusantara diakui dunia bukan berarti valid sepenuhnya dan tidak bisa dijadikan alasan suatu jurnal terpublikasi sebagai validasi mutlak.

Baca Juga : CEK FAKTA: Covid-19 Rekayasa dan Vaksin Mengandung Zat Berbahaya Dilansir dari Klikdokter.com,Astrid Wulan Kusumoastuti menjelaskan bahwa Dendrintic Cell Vaccine sendiri dimanfaatkan untuk memicu respons imun terhadap sel kanker.

Sel ini memiliki tugas terhadap respons imun adaptif dan berperan menjaga sistem kekebalan tubuh. Namun hal ini belum dapat dipastikan ampuh menangani Covid-19.

Publikasi yang beredar saat ini hanya sebatas hipotesa kemungkinan. Dengan demikian klaim Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy atau Vaksin Nusantara disetujui dunia merupakan hoaks, dengan kategori konten yang menyesatkan.

#ingatpesanibu #sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua Terpopuler • Segera Cair! Cara Cek Penerima BLT Gaji Rp1 Juta 2022 • Update Perang Rusia vs Ukraina: Rusia Luncurkan Serangan, 100 Tentara Tewas • Update Situasi Militer Perang Rusia vs Ukraina Hari ke-77: Pasukan Rusia Dipaksa Mundur • Rangkuman Perang Rusia vs Ukraina Hari Ke-77: Rusia Terus Serang Odesa, Zelensky Ungkap Ukraina Berhasil Ambil Alih Kharkiv • Pertempuran Pulau Ular: 5 Lusin Tentara Ukraina Tewas, 30 Drone Hancur!

Jakarta - Heboh vaksin Nusantara diakui dunia. Narasi tersebut viral bersama potongan video berisikan pernyataan eks Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto soal vaksin dendritik besutannya sudah dimuat dalam jurnal internasional Pubmed. Narasi vaksin Nusantara diakui dunia akhirnya dibantah dr Ines Atmosukarto, peneliti vaksin dan doktor di bidang Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Adelaide Australia.

Dirinya menegaskan bukan berarti suatu vaksin COVID-19 dimuat penelitiannya dalam jurnal internasional, vaksin nusantara diakui dunia tersebut otomatis diakui secara dunia. Lebih lanjut, Ines menilai jurnal vaksin Nusantara yang dimuat bukan laporan soal hasil penelitian vaksin. Maka dari itu, narasi vaksin Nusantara diakui dunia tentu tidak berdasar.

Baca juga: Taji BPOM di Era Pandemi, Tak Loloskan Vaksin Nusantara hingga Ivermectin Disimpulkan, narasi yang mengklaim vaksin Nusantara diakui dunia adalah hoax.

Hingga kini tidak ada sumber informasi yang valid menyatakan vaksin Nusantara sudah disetujui di Indonesia, maupun di dunia. Seperti diketahui, vaksin yang 'diakui dunia' atau masuk dalam daftar emergency use listing WHO meliputi vaksin Pfizer, vaksin Moderna, vaksin Sinopharm, vaksin Sinovac, vaksin AstraZeneca. Sementara, jurnal yang diklaim eks Menkes Terawan berupa bukti vaksin Nusantara diakui dunia hanyalah berisikan hipotesa soal kemungkinan efektivitas melawan Virus Corona.

Sekali lagi ditegaskan, bukan jurnal yang melaporkan hasil penelitian. Adapun narasi heboh vaksin Nusantara diakui dunia yang dimaksud adalah sebagai berikut. Narasi: "AKHIRNYA!! DUNIA SETUJUI VAKSIN NUSANTARA, DOKTER TERAWAN TERDEPAN BERHASIL SELAMATKAN DUNIA" "Kita sudah punya teknologinya kita tinggal ngembangkannya dan kita bisa menjadi negara pertama di dunia yang mengembangkan Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy yang dunia juga sudah menyetujui menjadi, atau menghipotesiskan untuk menjadi the beginning of the end, mulai untuk mengakhiri Covid-19.

SARS-Cov-2 artinya apa? Artinya kita bisa menyesuaikan kapan saja mau mutasi kayak apa bisa kita sesuaikan.

Dampaknya ketahanan kesehatan nasional menghadapi pandemi ini bisa kita atasi dengan membuat imunitas yang baik buat setiap warga negara. Sekarang di seluruh dunia sedang membicarakannya termasuk terakhir dari New York dan sebagainya karena vaksin nusantara diakui dunia Elsevier sudah terbit jurnal Pubmed, itu isinya adalah Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy atau vaksin Nusantara, the beginning of the end, cancer and Covid-19.

Dunia sepakat punya hipotesis bahwa yang akan menyelesaikan hal ini termasuk Covid-19 adalah Dendritic Cell vaksin Immunotherapy atau Vaksin Nusantara. Tadi kita bisa melihat apa yang sudah dipaparkan oleh narasumber, dokter Joni, begitu gamblang. Bagaimana perbedaan antara konvensional vaksin, dengan vaksin yang berbasis Dendritic Cell atau yang kita sebut intervensional dan sebagainya." Berita Terkait • Biang Kerok di Balik Hepatitis 'Misterius', Benarkah Terkait COVID-19?

• DKI Jakarta Paling Tinggi, Ini Sebaran 400 Kasus COVID-19 RI 11 Mei • Update Corona RI 11 Mei: Tambah 400 Kasus Baru, Kasus Aktif 5.331 • Adenovirus pada Hepatitis Misterius Tipe 41, Beda dengan Vaksin COVID-19 • Bakal Dapat Vaksin Nusantara, Begini Kondisi Terkini Tukul Arwana • Kemenkes RI Pastikan 15 Kasus Diduga Hepatitis Misterius Negatif COVID-19 • WHO Sentil Strategi Zero COVID-19 China, Minta Tak Dilanjutkan • Naik Jadi 348 Kasus!

WHO Singgung Peran COVID-19 pada Hepatitis Misterius MOST POPULAR • 1 Wajib Tahu! Ternyata Ini Ukuran Kedalaman Rata-rata Vagina • 2 Jelang PTM, Dokter Beri Tips Agar Anak Terhindar dari Hepatitis Misterius • 3 Bos WHO Kritik Kebijakan Zero COVID, China 'Berang' • 4 Mengenal Obat Sofosbuvir: Dosis, Efek Samping, dan Aturan Pakai • 5 21 Orang di DKI Dicurigai Hepatitis Misterius, Ini Kata Kemenkes • 6 DKI Jakarta Paling Tinggi, Ini Sebaran 400 Kasus COVID-19 RI 11 Mei • 7 Ternak Kena Virus PMK?

Ini 5 Bagian yang Tak Boleh Dikonsumsi • 8 WHO: Sejak Invasi Rusia, 3.000 Orang Tewas di Ukraina Akibat Penyakit Kronis • 9 Biang Kerok di Balik Hepatitis 'Misterius', Benarkah Terkait COVID-19?

• 10 Update Corona RI 11 Mei: Tambah 400 Kasus Baru, Kasus Aktif 5.331 • SELENGKAPNYA
Jakarta - Ada sejumlah vaksin yang diakui WHO untuk digunakan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diketahui memberikan izin penggunaan darurat atau emergency use listing (EUL) untuk sejumlah vaksin jika memenuhi standar internasional, seperti terkait keamanan, efikasi, serta manufaktur vaksin.

Vaksin-vaksin yang sudah diakui dan mendapatkan EUL dapat digunakan secara aman dan bisa didistribusikan ke sejumlah negara. detikcom merangkum daftar vaksin yang diakui WHO berikut ini: Baca juga: Anies Targetkan Seluruh Orang Dewasa di DKI Sudah Divaksinasi Akhir Agustus Vaksin yang Diakui WHO: Pfizer-BioNTech Salah satu vaksin yang diakui WHO adalah Pfizer-BioNTech. Vaksin jenis ini menjadi vaksin pertama yang mendapatkan EUL dan kini sudah didistribusikan ke sejumlah negara di seluruh dunia.

Vaksin Pfizer-BioNTech mendapatkan EUL sejak 31 Desember 2020. Vaksin yang dinamakan BNT162b2 dan berbasis teknologi messenger RNA (mRNA) menggunakan gen sintetis yang lebih mudah diciptakan, sehingga bisa diproduksi lebih cepat dibanding teknologi biasa. Vaksin yang Diakui WHO: AstraZeneca-Oxford Vaksin yang juga diakui WHO adalah AstraZeneca-Oxford buatan SKBio Korea Selatan dan The Serum Institute India.

Vaksin ini menjadi vaksin kedua di dunia yang mendapatkan EUL WHO pada 15 Februari 2021. Vaksin AstraZeneca-Oxford buatan SKBio Korea Selatan dan The Serum Institute India telah ditinjau Kelompok Penasihat Strategis Imunisasi (SAGE) pada 8 Februari 2021 dan bisa digunakan untuk usia 18 tahun ke atas.

Vaksin yang Diakui WHO: Johnson & Johnson Selanjutnya, vaksin yang diakui WHO adalah vaksin Johnson & Johnson. Vaksin ketiga yang diakui WHO ini mendapatkan EUL pada 12 Maret 2021. Berbeda dengan vaksin lain yang harus digunakan vaksin nusantara diakui dunia dua dosis, vaksin Johnson & Johnson menggunakan dosis tunggal alias sekali suntikan saja.

Vaksin ini diklaim memiliki efikasi sebesar 66,3 persen dan 100 persen ampuh mencegah kasus rawat inap dan kematian akibat COVID-19. Baca juga: Cara Mendapatkan Vaksin COVID Gratis di DKI Jakarta, Yuk Disimak!

Vaksin yang Diakui WHO: Moderna Moderna menjadi salah satu vaksin yang juga diakui WHO. Vaksin Moderna mendapatkan EUL pada 30 April 2021. Pada Januari lalu, SAGE WHO telah merekomendasikan vaksin ini untuk orang berusia 18 tahun ke atas. Vaksin yang Diakui WHO: Sinopharm Sinopharm masuk vaksin yang diakui WHO. Vaksin buatan China ini mendapatkan EUL pada 7 Mei 2021.

WHO merekomendasikan penggunaan vaksin Sinopharm untuk usia 18 tahun ke dengan selang waktu penyuntikan 3-4 minggu. Vaksin ini memiliki efikasi sebesar 78 persen dan bahkan digunakan dalam vaksinasi gotong royong.

Baca juga: Daftar Tempat Vaksin COVID di Jakarta Timur, Sebarkan! Vaksin yang Diakui WHO: Sinovac Sinovac masuk vaksin yang diakui WHO. Vaksin ini sudah mendapatkan EUL WHO pada Selasa (1/6/2021) kemarin. "WHO hari ini memvalidasi vaksin Sinovac-CoronaVac COVID-19 untuk penggunaan darurat," kata WHO dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Channel News Asia, Rabu (2/6/2021).

Vaksin Sinovac disebut manjur mencegah penyakit simtomatik sebesar 51 persen, bahkan mampu mencegah 100 persen pasien COVID-19 yang parah dan rawat inap. Lihat juga Video: Sejumlah Klaim Terbaru Terawan soal Vaksin Nusantara [Gambas:Video 20detik] (izt/imk)
Menteri Kesehatan Terawan saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX di Nusantara I, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (5/11/2019). Rapat kerja ini membahas sejumlah agenda, yakni penjelasan visi misi presiden di bidang kesehatan oleh Menteri Vaksin nusantara diakui dunia, visi misi presiden di bidang kependudukan oleh BKKBN, penjelasan BPOM di bidang pengawasan obat dan makanan, dan penjelasan Dirut BPJS tentang grand design program JKN 2020 sesuai visi pemerintah (AKURAT.CO/Sopian) AKURAT.CO, Terawan Agus Putranto mengklaim vaksin Nusantara telah diakui oleh dunia dan masuk dalam jurnal ilmiah yang bermarkas di Amsterdam.

Dalam acara webinar bertajuk Perang Biologis Pandemi Covid-19: Lessons Learned and Efforts to Reinforce Health Security to Accelerate Covid-19 beberapa waktu lalu, mantan Menteri Kesehatan RI itu menyebut, dunia telah mengakui Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy atau vaksin Nusantara mampu mengakhiri pandemi Covid-19.

"Sekarang di seluruh dunia sedang membicarakannya termasuk terakhir dari New York dan sebagainya karena di Elsevier sudah terbit jurnal Pubmed, itu isinya adalah Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy atau vaksin Nusantara, the beginning of the end, cancer and Covid-19," demikian klaim Terawan, seperti dikutip Akurat.co dari dari turnbackhoax pada Jumat, (23/7/2021).

"Dunia sepakat punya hipotesis bahwa yang akan menyelesaikan hal ini termasuk Covid-19 adalah Dendritic Cell vaksin Immunotherapy atau Vaksin Nusantara," lanjut Terawan. baca juga: • Dukung Uji Klinis Vaksin nusantara diakui dunia III Vaksin Nusantara, Dasco: Lepas Ego Sektoralnya!

Namun, klaim tersebut dibantah oleh peneliti vaksin dan doktor di bidang Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Adelaide Australia, dr Ines Atmosukarto. Ines menyebutkan bahwa jurnal terkait Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy yang dijadikan acuan pembuatan vaksin Nusantara hanya berupa hipotesa yang dianggap memiliki efektivitas melawan virus corona.

Klaim vaksin Nusantara TURNBACKHOAX.ID Ines juga menyatakan bahwa jurnal tersebut pun tidak bisa dijadikan acuan untuk pelaporan hasil penelitian. Jadi, klaim Terawan atas vaksin Nusantara tersebut tidak berdasar. "Jadi sifatnya spekulatif tidak didukung pembuktian," kata dr Ines. Klaim ini pun telah secara resmi dinyatakan hoax lewat covid19.go.id.

Menurut hasil periksa fakta oleh Fathia Vaksin nusantara diakui dunia Syahida dari Universitas Pendidikan Indonesia, tak ada informasi resmi dan kredibel bahwa dunia sudah menyetujui Vaksin Nusantara.

Artinya, klaim tentang vaksin Nusantara telah disetujui dunia merupakan hoaks. "Dengan demikian, klaim Dendritic Cell Vaccine Immunotherapy atau Vaksin Nusantara disetujui dunia merupakan hoaks, dengan kategori konten yang menyesatkan," tulis Tim Hoax Buster Satgas. Hingga saat ini, belum ada sumber informasi yang valid menyatakan vaksin Nusantara diakui dunia.

Adapun vaksin yang telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah Pfizer, vaksin Moderna, vaksin Sinopharm, vaksin Sinovac dan vaksin AstraZeneca.[]

Membanggakan! Vaksin Nusantara Dapat Akhiri W4b4h Dunia!




2022 charcuterie-iller.com