Sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas

Pekerjaan terkait model telanjang, pornografi, escorting, prostitusi pria Sampai tahun 1970-an, penari telanjang dalam budaya barat hampir selalu seorang perempuan yang tampil dihadapan penonton laki-laki. Sejak saat itu, penari telanjang laki-laki juga tampil dihadapana penonton perempuan juga menjadi hal yang biasa. Penari telanjang laki-laki dan perempuan juga menampilkannya untuk penonton gay dan lesbian, serta untuk kedua jenis kelamin dalam konteks panseksual.

Sebelum tahun 1970-an penari dari kedua jenis kelamin muncul sebagian besar di klub bawah tanah atau sebagai bagian dari suatu pengalaman teater, tetapi praktik ini akhirnya menjadi cukup umum untuk ditampilkan sendiri.

Penari telanjang laki-laki telah menjadi pilihan populer untuk ditampilkan dalam sebuah pesta lajang. Pada acara yang modern penari telanjang laki-laki biasanya melibatkan ketelanjangan penuh, meskipun kadang-kadang mereka dapat mempergunakan pakaian yang lengkap pada saat acara berlangsung, atau hanya menanggalkan semua pakaian untuk waktu yang singkat. Pertunjukan yang biasanya penuh koreografi, melibatkan rutinitas tarian dan kostum atau semacamnya. [1] [2] Seorang penari telanjang laki-laki kemungkinan besar akan tampil di klub, bar, tempat kerja atau rumah pribadi dengan pemesanan khusus pribadi atau wanita malam yang lazim di klub tari telanjang yang merupakan norma untuk penari telanjang perempuan.

[3] Hal ini berbeda dari adegan Chippendales yang muncul untuk menonjol pada tahun 1980-an dengan norma saat ini menjadi salah satu pemain tunggal, atau serangkaian pemain individu daripada kelompok penari telanjang. [4] Pemegang rekor Guinness World Records untuk penari telanjang laki-laki tertua adalah Bernie Barker, yang berusia 63 tahun pada saat pelantikannya. [5] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ "What Does A Male Stripper Do?". Brandon Carrier.

31-07-2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2014-02-02. Diakses tanggal 04-09-2011. Periksa nilai tanggal di: -accessdate=, -date= ( bantuan) • ^ "The Naked Truth about Male Stripping". The Tyee. 06-01-2006. Diakses tanggal 04-09-2011. Periksa nilai tanggal di: -accessdate=, -date= ( bantuan) sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas ^ "Hiring A Male Stripper - Advice From The Experts".

Batchelorette.com. Diakses tanggal 04-09-2011. Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) • ^ "Male Strippers!". Strip Magazine. 28-03-2011. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2011-11-07. Diakses tanggal 04-09-2011. Periksa nilai tanggal di: -accessdate=, -date= ( bantuan) • ^ Guinness World Records. Oldest male stripper. Accessed August 19, 2007.

• Halaman ini terakhir diubah pada 18 Mei 2021, pukul 06.36. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • KOMPAS.com - Tari adalah aktivias gerak olah tubuh yang diiringi dengan musik tertentu.

Setiap negara dan setiap wilayah pasti memiliki kesenian tarinya masing-masing. Kesenian tari bisa dibagi berdasarkan jumlah penarinya. Apa sajakah itu? Menurut Sigit Astono, Margono, Sumardi dan Sri Murtono dalam Buku Apresiasi Seni: Seni Tari dan Seni Musik (2007), kesenian tari dibagi menjadi tiga, yaitu tari tunggal atau solo, tari duet atau pas de deux, serta tari kelompok atau group choreography.

Tari tunggal atau solo Jenis tarian ini dilakukan oleh satu orang penari saja. Semua koreografi dilakukan oleh satu orang saja di atas pagelaran. Masih ada orang yang menganggap jika tarian tunggal sama dengan tarian duet.

Padahal sebenarnya dua jenis tarian ini berbeda. Orang yang menganggap kedua jenis tarian ini sama karena ada beberapa koreografi dalam tari duet, dimana kedua penari melakukan koreografi masing-masing di atas panggung yang sama. Contoh tari tunggal adalah Tari Gambir Anom dari Jawa Tengah serta Tari Panji Semirang dari Bali. Baca juga: Jenis Tari Modern Tari duet atau pas de deux Mengutip dari Encyclopaedia Britannica, pas sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas deux berasal dari Bahasa Perancis yang berarti step for two.

Jenis tarian ini dilakukan oleh dua orang di atas panggung. Biasanya dilakukan oleh seorang pria dan perempuan. Kisah atau tema ceritanya beragam, mulai dari kisah percintaan hingga kisah perkelahian. Biasanya dalam pertunjukan balet pas de deux, ada koreografi masing-masing untuk pria dan perempuan. Sehingga hal ini hampir terlihat sama dengan tari tunggal.
Baju tari tradisional adalah perlengkapan wajib di mana setiap penampilan tarian tradisional. Baju memegang peranan penting dalam setiap pagelaran karena penonton akan langsung melihat baju apa yang dipakai oleh penari atau pemain musik.

Baju yang indah dan nyaman tentunya akan menambah kesan bagus dan memperlihatkan persiapan yang mantap. Terdapat dua aspek dalam menentukan kualitas baju atau pakaian tarian tradisional. Pertama adalah keindahan dan yang kedua adalah kenyamanan. Baju tari yang indah, dijahit dengan baik dan awet membuat penonton terpukau dan terkesan karena penonton akan percaya bahwa sanggar tari/penari berkualitas. Aspek kenyamanan membuat penari dapat bergerak leluasa, sehingga menjadikan tarian lebih hidup dan gemulai.

Kami menyediakan baju tradisional yang mengedepankan kedua aspek tersebut. Indah dan nyaman. Kami bekerjasama dengan penjahit-penjahit ahli yang telah berpengalaman dalam menciptakan pakaian-pakaian tari tradisional dan adat daerah. Beberapa hal yang harus diingat dalam pemesanan baju tradisional dan adat kami, di antaranya: • Kami menerima segala baju tari tradisional yang pelanggan inginkan; • Pembuatan membutuhkan waktu rata-rata 3 – 4 minggu tergantung tingkat kesulitan; • Harga bervariatif tergantung spesifikasi yang diinginkan.

Kami telah merangkum baju-baju tari tradisional yang telah terkenal di masyarakat, mari disimak! Flyer Baju Tari Tradisional Rachna Sandika Busana Tari Pendet Tari Pendet adalah tari khas Bali. Tari Pendet adalah tari yang telah berkembang di Bali sejak 1960an. Tarian ini biasa ditarikan pada saat penyambutan tamu-tamu terhormat dan upacara keagamaan di pura. Tarian ini sangat terkenal dan menjadikan sebuah ikon bagi Pulau Bali. Pada 2009 tarian ini menjadi perbincaangan hangat karena negara Malaysia pernah mencantumkan tarian pendet di salah satu iklan pariwisata mereka.

Busana tari Pendet sendiri memiliki beberapa unsur, di antaranya: • Kemben Kemben adalah kain yang digunakan sebagai penutup badan mulai dari dada hingga pinggang. Biasanya warna kemben terlihat sangat mencolok dan kontras, seperti berwarna merah dan gold atau warna lain yang serasi dengan keseluruhan properti tari pendet. • Tapih Tapih adalah kain jarik yang dikenakan sebagai bawahan para penari, biasanya tapih tersebut dihiasi dengan motif batik crapcrap lalu dikencangkan dengan sabuk stagen.

• Selendang Selendang adalah kain yang dililitkan dan bagian dari kostum yang digunakan dengan cara melilitkan pada tubuh penari. Selendang ini biasa disebut dengan nama Kacrik Prade dengan warna dominan merah ataupun kuning.

Baju Tari Tradisional Remo Tari Remo asal Jombang yang mendunia. sumber: kisahasalusul.blogspot.com Tari Remo adalah tarian kebangaan masyarakat Jawa Timur. Tari Remo tercipta dari sekelompok masyarakat yang berprofesi sebagai penari keliling atau tledhek di Desa Ceweng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.

Tari ini pada awalnya hanya sebagai pembuka kesenian Ludruk. Namun, perkembangan zaman membuat tari Remo menjadi tarian penyambut tamu-tamu istimewa dalam acara-acara resmi. Baju tari tradisional Remo mempunyai ciri khas tersendiri di lingkungan Jawa Timur, beberapa yang dapat kami rangkum di antaranya: Baju Tari Tradisional Remo/Baju tari Remong yang berasal dari Surabayaan dan Gaya Sawunggaling.

sumber: slideshare.net/@lucious Maji Ciri gaya sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas Surabayan tari tradisional Remo/Remong, dapat dilihat dari gambar di atas. Penjabarannya sebagai berikut: • Baju tanpa kancing yang berwarna hitam dengan hiasan berwarna emas; • Celana sepanjang lutut/hingga setengah betis dengan dilapisi sarung batik pesisiran; • Mengenakan stagen yang dihiasi keris dengan diselipi di punggung penari; • Mengenakan slendang yang yang disematkan di pinggang dan di bahu penari; • Mengenakan ikat kepala merah dan gelang kaki berbantul; Ciri gaya busana Sawunggaling hanya berbeda pada baju yang berwarna putih.

Hal tersebut karena mengikuti ciri khas kerajaan. Sawunggaling sendiri berasal dari seorang tokoh Raden Mas Tumenggung Sawunggaling yang berjuang melawan penjajah Belanda pada masanya. Baju tari tradisional Remo yang khas Malangan dan Jombangan. sumber slideshare.net/@Lucyous Maji Ciri khas baju tari tradisional Remo khas Malangan menggunakan celana sepanjang mata kaki. Sedangkan, ciri khas baju tari tradisional Remo khas Jombangan menggunakan rompi yang seperti dimiliki tentara-tentara kerajaan Jawa zaman dahulu.

Baju tari tradisional Remo untuk penari putri. sumber: slideshare.net/@lucyous maji. Baju tari tradisional Remo untuk penari putri memiliki dua jenis: Pertama, baju yang menggunakan mekak hitam (penutup dada) dan rapak (untuk menutupi pingang hingga lutut). Hiasan kepala penari dapat memakai sanggul. Sedangkan, untuk gaya yang lain dengan menggunakan rompi dapat mengenakan penutup kepala khas seperti busana tari laki-laki. Baju Tari Tradisional Cikeruhan Tari Cikeruhan adalah tarian kebangaan masyarakat Jawa Barat.

sumber: tribunnews.com Tari Cikeruhan adalah tari pergaulan di lingkungan masyarakat pendukungnya. Ada dua cerita mengenai asal usul tari Cikeruhan. Pertama adalah cerita tentang orang-orang yang berjalan kaki mengangkat padi ke lumbung sambil menari sebagai wujud rasa syukur ke Dewi Sri Pohaci.

Asal usul iniberasal dari wawancara Bapak Supriatna, Ketua Sanggar Motekar. Kedua adalah tari tradisional yang dibawakah oleh pangeran Sumedang. Nama awalnyna juga diambil dari nama lagu yang mengiringi ketuk tilu gaya Bandung. Cikeruhan adalah salah satu bentuk lain dari ketuk tilu (Munajar, 1995:37) Karena ini tari pergaulan, ada dua jenis busana yang berbeda. Busana untuk penari perempuan dan penari laki-laki. Untuk penari perempuan, di antaranya: • Baju kurung yang berkonsep kebaya; • Kain batik yang menutupi pinggung hingga lutut; • Ikat pinggang; • Hiasana kepala disanggul; • Selendang yang disampirkan di bahu.

Untuk penari laki-laki, di antaranya: • Kaus dalaman berwarna hitam; • Kaus luaran yang berlengan panjang, yang warnanya senada dengan celana; • Celana panjang semata kaki; • Sebuah ikat pinggang berupa kain yang dililit, atau kain sarung yang dililit dari pinggang hingga di atas lutut; • Ikat kepala, khas sunda; Busana Tari Tradisional Gambyong Contoh baju Tari Gambyong yang kami sediakan Tari Gambyong adalah tarian yang berasal dari Jawa Tengah.

Konon, tarian ini berasal dari nama penarinya, Gambyong. Gambyong terkenal sebagai penari yang sangat cantik, gerakannya lemah gemulai dan menghibur setiap penontonnya. Namanya terkenal sehingga diundang oleh Sultan Paku Buwono VI untuk menari di Keraton Surakarta. Tarian ini sekarang banyak ditarikan sebagai tari penyambutan di acara-acara resmi. Juga menjadi tarian promosi dari Provinsi Jawa Tengah. Busana tari Gambyong terdiri dari: • Mekak, yang dipakai untuk menutupi dada hingga pinggang penari.

Biasanya menggunakan warna hijau atau cerah lainnya; • Kain batik yang dililitkan di pinggang hingga ke mata kaki; • Selendang yang dikalungkan pada leher penari atau digunakan seperti pada gambar. Biasanya menggunakan warna kuning; • Sabuk untuk mengencangkan kain batik yang dililitkan di pinggang penari; • Perhiasan seperti gelang dan kalung; • Rambut disanggul.

Busana Tari Gandrung Tari Gandrung berasal dari Banyuwangi. Sumber: Kemenpar.go.id Tari Gandrung adalah tarian tradisional dari Banyuwangi. Tari ini sejenis dengan tari Ketuk Tilu dari Jawa Barat, tari Tayub dari Jawa Tengah dan tariLlengger dari Banyumas yang ditarikan dengan berpasang-pasangan. Tarian ini pada awalnya ditarikan sebagai rasa syukur terhadap hasil panen. Namun, sekarang tarian ini dapat ditemui pada pesta perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi.

Busana tari Gandrung terdiri dari: • Di bagian tubuh memakai baju yang berbahan beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada; • Sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas bagian leher dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada; • Di bagian lengan, keduanya dihias dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya; • Di bagian bahu mengenakan selendang; • Di bagian kepala dihiasi oleh omprok, sejenis makhota yang terbuat dari kulit kerbau berbentuk beragam.

Omprok juga dihiasi dengan bunga yang disebut cundhuk mentul di atasnya dan dipasang hio; • Bagian pinggang kebawah menggunakan kain batik dengan corak beragam. Corak-corak yang sering dipakai adalah corak gajah oling, yang bergambar corak tumbuhan dengan belalai gajah di atas kain berwarna dasar putih; • Properti lainnya adalah kipas. Busana Tari Burung Enggang Tari Burung Enggang adalah tarian tradisional Suku Dayak Kenyah.

Tari Burung Enggang adalah tarian tradisional yang berasal dari Kalimantan Timur. Tarian ini dinamakan tari Burung Enggang karena gerakan dari tarian ini menyimbolkan kehidupan sehari-hari burung enggang. Menurut kepercayaan orang Dayak kenyah, nenek moyang mereka berasal dari lungit dan turun ke bumi menyerupai burung enggang.

Tarian ini tidak hanya sekadar hiburan tapi memiliki makna sebagai penghormatan suku Dayak Kenyah terhadap leluhur-leluhur mereka. Busana tari Burung Enggang cukup simple, di antaranya: • Kostum yang digunakan berupa busana adat Dayak dan ikat kepala yang di hiasi dengan bulu burung Enggang; • Properti yang digunakan adalah bulu burung Enggang yang di ikatkan di jari tangan seperti cincin.

Busana Tari Payung Contoh Baju Tari Payung Perempuan. Contoh Baju Tari Payung Laki-laki. Tari Payung melambangkan kasih sayang antara laki-laki dan perempuan.

Gerakan tariannya pun menghibur dan mengkisahkan perjalanan cinta kasih. Payung adalah simbol perlindungan yang diberikan oleh seorang laki-laki, sedangkan penari perempuan menggunakan selendang sebagai simbol penerimaan dan kesetiaan. Tari ini biasanya ditarikan oleh 3 – 4 pasang penari. Hingga saat ini, banyak diselenggarakan pada upacara pernikahan. Baju tari Payung di antaranya: • Penari Wanita menggunakan pakaian adat Minang yang terdiri dari baju kurung, kain songket dan hiasan kepala; • Penari pria menggunakan baju lengan panjang, celana panjang dan dilengkapi sarung songket dan kopiah khas melayu.

Busana Tari Radap Rahayu Contoh Baju Tari Radap Rahayu yang kami sediakan. Tari Radap Rahayu berasal dari dua kata radap yang berarti bersama-sama atau berkelompok dan rahayu berarti kebahagiaan atau kemakmuran. Tarian ini pada awalnya bersifat ritual penolak bala bagi masyarakat Banjarmasin. Seiring dengan perkembangan zaman, tarian ini ditampilkan pada acara-acara pernikahan dan pembukaan acara resmi. Tata busana tarian Radap Rahayu di antaranya: • Mengenakan baju layang dan selendang; • Dilengkapi dengan tempat beras kuning dan bungai rampai; • Mengenakan hiasan kepala berupa bunga yang dirangkai.

Busana Tari Topeng Betawi Tari Topeng banyak dimiliki oleh suku-suku di Indonesia. Pada foto di atas adalah tari topeng yang berasal dari suku Betawi. Tari Topeng Betawi atau sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas dikenal juga Ronggeng Topeng adalah kesenian yang dahulu sering dimainkan di daerah Jakarta.

Biasanya, tarian ini menjadi bagian dari pertunjukan Topeng Betawi. Pertunjukan Topeng Betawi dimainkan oleh seniman yang memiliki cerita tentang kritik namun dikemas bersama banyolan. Pertunjukan Topeng Betawi dahulu tidak menggunakan panggung tetapi hanya tanah biasa dengan properti lampu minyak bercabang tiga dan gerobak kostum yang diletakkan ditengah arena. Baru padaTahun 1970-an dimainkan di atas panggung dengan properti sebuah meja dan dua buah kursi.

Dahulu, tari topeng baru keluar sebagai penutup pertunjukan, namun sekarang sebagai pembukaan pertunjukan. Perlengkapan baju tari Topeng, di antaranya: • Baju lengan panjang yang berwarna cerah dan dihias dengan penutup dada; • Kain yang senada dengan warna baju; • Penutup kepala; • Topeng. ( Mohon maaf kami belum dapat menyiadakan kostum tari betawi ini.) Baju Tari Piring Contoh Baju Tari Piring untuk Pria Contoh Baju Tari Piring untuk Perempuan Busana pada tari piring terbagi menjadi dua jenis, yaitu busana untuk penari pria dan busana untuk penari wanita.

Penjelasannya sebagai berikut: Busana Penari Pria • Busana rang mudo (baju gunting Cina). Ciri busana ini dengan lengan baju yang cukup lebar serta hiasan missia (rende emas) yang ditempelkan pada bagian lengan. • Sisamping adalah sebuah kain yang dililitkan pada pinggang sampai sebatas lutut penari.

• Cawek Pinggang adalah ikat pinggang yang diujungnya berumbai. • Saran gelembong, adalah celana baju tari piring. Biasanya memiliki warna yang sama dengan pakaian rang mudo.

Celana ini juga umumnya agak besar. • Destar atau kain penutup kepala. Biasanya destar khas Sumatera Barat berbentuk segitiga. Busana Penari Wanita • Pakaian tari piring untuk penari perempuan berbentuk baju kurung berbahan kain satin atau beludru.

• Kain songket dipakai sebagai bawahan. • Untuk mempercantik, penari juga dapat mengenakan selendang songket yang dipakai di tubuh sebelah kiri. • Kepala penari perempuan menggunakan tikulak tanduk balapak, yaitu sebuah penutup kepala wanita Minangkabau yang bentuknya menyerupai tanduk kerbau. • Hiasan lainnya adalah kalung gadang yang berbentuk bongkahan-bongkahan besar membentuk sebuah kalung.

Baju Tari Bajidor Kahot Contoh Kostum Tari Bajidor Kahot yang kami sediakan. Tari Bajidor Kahot adalah sebuah tari kreasi baru dari Jawa Barat sekitar tahun 2000-an.

Tari ini memadukan gerakan Tari Tekuk Tilu dan Tari Jaipongan. Tari ini adalah tari pergaulan di daerah Jawa Barat. Busana yang diguankaan untuk tari ini berupa: • Baju kebaya khas pasundan yang berwarna cerah dan pas dipakai oleh tubuh; • Kipas untuk tari; • Selendang; • Ikat kepala ; • Kain atau celana yang bernuansa sama dengan kebaya yang digunakan.

Tata rias dan tata busana merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan untuk penyajian suatu garapan sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas.

Tata rias dan tata busana harus diperhaikan dengan cermat dan teliti. Dengan tata rias dan tata busana yang tepat dapat memperjelas karakter dan sesuai dengan tema yang disajikan. Dalam memilih desain pakaian dan warna membutuhkan pemikiran dan pertimbangan yang matang karena kostum berfungsi untuk memperjelas pemeranan pada tema cerita.

Tata rias merupakan cara untuk mempercantik diri khususnya pada bagian muka atau wajah. Tata rias pada seni pertunjukan diperlukan untuk menggambarkan/menentukan watak tokoh di atas pentas. Tata rias adalah seni menggunakan bahan-bahan kosmetika untuk mewujudkan wajah peranan dengan memberikan dandanan atau perubahan pada para pemain. Sebagai penggambaran watak di atas pentas selain acting yang dilakukan oleh pemain diperlukan adanya tata rias sebagai usaha menyusun hiasan terhadap suatu objek yang akan dipertunjukan.

Tata rias merupakan aspek dekorasi, mempunyai berbagai macam kekhususan yang masing-masing memiliki keistimewaan dan ciri tersendiri. Dari fungsinya rias dibedakan menjadi delapan macam rias yaitu: • Rias aksen, memberikan tekanan pada pemain yang sudah mendekati peranan yang akan dimainkannya.

Misalnya pemain orang Jawa memerankan sebagai orang Jawa hanya dibutuhkan aksen atau memperjelas garis-garis pada wajah. • Rias jenis, merupakan riasan yang diperlukan untuk memberikan perubahan wajah pemain berjenis kelamin laki-laki memerankan menjadi perempuan, demikian sebaliknya. • Rias bangsa, merupakan riasan yang diperlukan untuk memberikan aksen dan riasan pada pemain yang memerankan bangsa lain. Misalnya pemain bangsa Indonesia memerankan peran bangsa Belanda. • Rias usia, merupakan riasan yang mengubah seorang muda (remaja/pemuda/pemudi) menjadi orang tua usia tujuh puluhan (kakek/nenek).

• Rias tokoh, diperlukan untuk memberikan penjelasan pada tokoh yang diperankan. Misalnya memerankan tokoh Rama, Rahwana, Shinta, Trijata, Srikandi, Sembadra, tokoh seorang anak sholeh, tokoh anak nakal. • Rias watak, merupakan rias yang difungsikan sebagai penjelas watak yang diperankan pemain.

Misalnya memerankan watak putri luruh (lembut), putri branyak (lincah), putra alus, putra gagah. • Rias temporal, riasan berdasarkan waktu ketika pemain melakukan peranannya.

Misalnya pemain sedang memainkan waktu bangun tidur, waktu dalam pesta, kedua contoh tersebut dibutuhkan riasan yang berbeda. • Rias lokal, merupakan rias yang dibutuhkna untuk memperjelas keberadaan tempat pemain. Misalnya rias seorang narapidana di penjara akan berbeda dengan rias sesudah lepas dari penjara.

Tata Busana Busana (pakaian) tari merupakan segala sandang dan perlengkapan (accessories) yang dikenakan penari di atas panggung. Tata pakaian terdiri dari beberapa bagian : • Pakaian dasar, sebagai dasar sebelum mengenakan pakaian pokoknya.

Misalnya, setagen, korset, rok dalam, straples • Pakaian kaki, pakaian yang dikenakan pada bagian kaki. Misalnya binggel, gongseng, kaos kaki, sepatu. • Pakaian tubuh, pakaian pokok yang dikenakan pemain pada bagian tubuh mulai dari dada sampai pinggul.

Misalnya kain, rok, kemeja, mekak, rompi, kace, rapek, ampok-ampok, simbar dada, selendang, dan seterusnya. • Pakaian kepala, pakaian yang dikenakan pada bagian kepala. Misalnya berbagai macam jenis tata rambut (hairdo) dan riasan bentuk rambut (gelung tekuk, gelung konde, gelung keong, gelung bokor, dan sejenisnya).

• Perlengkapan/accessories, adalah perlengkapan yang melengkapi ke empat pakaian tersebut di atas untuk memberikan efek dekoratif, pada karakter yang dibawakan.

Misalnya perhiasan gelang, kalung, ikat pinggang, kamus timang/slepe ceplok, deker (gelang tangan), kaos tangan, bara samir, dan sejenisnya. Tata rias dan busana ini berkaitan erat dengan warna, karena warna di alam seni pertunjukan berkaitan dengan karakter seorang tokoh yang dipersonifikasikan kedalam warna busana yang dikenakan beserta riasan warna make up oleh tokoh bersangkutan oleh karenanya warna dikatakan sebagai simbol.

Dalam pembuatan busana penari, warna dapat juga digunakan hanya untuk mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan keindahannya saja dalam memadukan antara yang satu dengan lainnya.

Dalam pembuatan kostum, warna menjadi syarat utama karena begitu dilihat warnalah yang membawa kenikmatan utama. Di dalam buku Dwimatra (2004: 28 – 29) warna dibedakan menjadi lima yaitu, warna primer, sekunder, intermediet, tersier, dan kuarter. • Warna primer yaitu disebut juga warna pokok/warna utama, yang terdiri dari warna merah, kuning, dan biru. Warna merah adalah simbol keberanian, agresif/aktif. Pada dramatari tradisional warna tersebut biasanya dipakai oleh raja yang sombong, agresif/aktif.

Misalnya: Duryanada, Rahwana, Srikandi. Warna biru mempunyai kesan ketentraman dan memiliki arti simbolis kesetiaan. Pada drama tradisional warna tresebut dipakai oleh seorang satria atau putri yang setia kepada Negara dan penuh pengabdian. Misalnya; Dewi Sinta, Drupadi. Warna kuning mempunyai kesan kegembiraan. • Warna sekunder adalah warna campuran yaitu hijau, ungu, dan orange. • Warna intermediet adalah warna campuran antara warna primer dengan warna dihadapannya. Misalnya warna merah dicampur dengan hijau, biru dengan orange, kuning dengan violet.

• Warna tersier adalah campuran antara warna primer dengan warna sekunder yaitu warna merah dicampu orange, kuning dengan orange, kuning dengan hijau, hijau dengan biru, biru dengan violet, violet dengan merah.

• Warna kuarter yaitu percampuran antara warna primer dengan warna tersier, dan warna sekunder dengan tersier yang melahirkan 12 warna campuran baru. • Warna netral yaitu hitam dan putih.

Warna hitam memberikan sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas kematangan dan kebijaksanaan. Pada drama tradisional biasa dipakai oleh satria, raja, dan putri yang yang bijaksana. Misalnya Kresna, Puntadewa, Kunti. Sedangkan warna putih memberikan kesan muda, memiliki arti simbolis kesucian.

Di dalam drama tradisional warna tersebut dipakai oleh pendeta yang dianggap suci. Warna-warna tersebut di atas dapat digolongkan menjadi dua bagian sesuai dengan demensi, intensitas, terutama bila dikaitkan dengan emosi seseorang yang disebut dengan warna panas dan warna dingin. Warna panas yaitu merah, kuning, dan orange. Warna dingin terdiri atas hijau, biru, ungu, dan violet.

Dalam pembuatan pakaian tari warna dan motif kain menjadi perhatian dan bahan pertimbangan, karena berhubungan erat dengan peran, watak, dan karakter para tokohnya. Warna sebagai lambang dan pengaruhnya terhadap karakter dari tokoh (pemain). Penggunaan warna dalam sebuah garapan tari dihubungkan dengan fungsinya sebagi simbol, di samping warna mempunyai efek emosional yang kuat terhadap setiap orang. Warna biru memberi kesan perasaan tak berdaya (tidak merangsang), terkesan dingin.

Warna hijau memberi kesan dingin. Warna kuning dan orange memberi kesan perasaan riang, menarik perhatian. Warna merah memberi kesan merangsang, memberi dorongan untuk berpikir (dinamis). Warna merah Jambu mengandung kekkutan cinta. Warna Ungu memberi kesan ketenangan. Demikian juga busana yang digunakan secara visual menunjukkan tokoh tersebut jahat. Tokoh raksasa pada epos Ramayana misalnya, digambarkan dengan riasan wajah yang merah menyala dengan bagian mulut penuh taring.

Tata busana yang digunakan panjang dan menyeramkan. Karakter tokoh baik pada epos Ramayana biasanya menggunakan riasan cantik seperti riasan pada Pregiwa sebagai istri Gatot Kaca. Tata rias dan tata busana tampak cantik dan bersahaja. Tata rias dan busana juga dapat menunjukkan tokoh lucu. Epos Ramayana ditunjukkan pada tata rias dan busana Punakawan yaitu Semar, Petruk, Bagong, dan Gareng. Tata rias dan busana pada tari tradisional tidak hanya bersumber pada epos Ramayana tetapi juga tarian lepas yaitu tarian yang tidak berhubungan dengan cerita Ramayana.

Tokoh dan karakter dapat dijumpai juga pada tari tentang fauna seperti Tari Merak. Tata rias pada tari Merak yang digunakan memperlihatkan seekor burung Merak yang indah.

Tata busana yang digunakan merupakan perwujudan dengan sayap dan tutup kepala sebagai ciri khas yang menunjukkan perwujudan burung Merak. Ada juga tata rias dan tata busana tari Kijang dari Jawa Tengah, tari Burung Enggang dari Kalimantan, tari Cendrawasih dari Bali, tari Kukilo dari Jawa Tengah.
Kesenian gandrung Banyuwangi muncul bersamaan dengan dibukanya hutan “Tirtagondo” (Tirta arum) untuk membangun ibu kota Balambangan pengganti Pangpang (Ulu Pangpang) atas prakarsa Mas Alit yang dilantik sebagai bupati pada tanggal 2 Februari 1774 di Ulupangpang Demikian antara lain yang diceritakan oleh para sesepuh Banyuwangi tempo dulu.

Mengenai asalnya kesenian gandrung Joh Scholte dalam makalahnya antara lain menulis sebagai berikut: Asalnya lelaki jejaka itu keliling ke desa-desa bersama pemain musik yang memainkan kendang dan terbang dan sebagai penghargaan mereka diberi hadiah berupa beras yang mereka membawanya di dalam sebuah kantong. (Gandroeng Van Banyuwangi 1926, Bab “Gandrung Lelaki”).

Mereka setiap hari berkeliling mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat Balambangan sebelah timur (dewasa ini meliputi Kab. Banyuwangi) yang jumlahnya konon tinggal sekitar lima ribu jiwa, akibat peperangan yaitu penyerbuan Kompeni yang dibantu oleh Mataram dan Madura pada tahun 1767 untuk merebut Balambangan dari kekuasaan Mangwi, hingga berakirnya perang Bayu yang sadis, keji dan brutal dimenangkan oleh Kompeni pada tanggal 11 Oktober 1772.

Berkat munculnya gandrung yang dimanfaatkan sebagai alat perjuang dan yang setiap saat acap kali mengadakan pagelaran dengan mendatangi tempat-tempat yang dihuni oleh sisa-sisa rakyat yang hidup bercerai-berai di pedesaan, di pedalaman dan bahkan sampai yang masih menetap di hutan-hutan dengan keadaannya yang memprihatinkan, kemudian mereka mau kembali kekampung halamannya semula untuk memulai membentuk kehidupan baru atau sebagaian dari mereka ikut membabat hutan Tirta Arum yang kemudian tinggal di ibukota yang baru di bangun atas prakarsa Mas Alit.

Setelah selesai ibu kota yang baru dibangun dikenal dengan nama Banyuwangi sesuai dengan konotasi dari nama hutan yang dibabad (Tirta-arum). Sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas keterangan tersebut terlihat jelas bahwa tujuan kelahiran kesenian ini ialah menyelamatkan sisa-sisa rakyat yang telah dibantai habis-habisan oleh Kompeni dan membangun kembali bumi Belambangan sebelah timur yang telah hancur porak-poranda akibat serbuan Kompeni (yaitu yang dewasa ini meliputi Daerah Kabupaten Banyuwangi).

Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895.

Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi).

Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita. Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan, menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang.

Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan. Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya.

Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.

Busana untuk tubuh terdiri dari baju yang terbuat dari beludru berwarna hitam, dihias dengan ornamen kuning emas, serta manik-manik yang mengkilat dan berbentuk leher botol yang melilit leher hingga dada, sedang bagian pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Di bagian leher tersebut dipasang ilat-ilatan yang menutup tengah dada dan sebagai penghias bagian atas. Pada bagian lengan dihias masing-masing dengan satu buah kelat bahu dan bagian pinggang dihias dengan ikat pinggang dan sembong serta diberi hiasan kain berwarna-warni sebagai pemanisnya.

Selendang selalu dikenakan di bahu. Kepala dipasangi hiasan serupa mahkota yang disebut omprok yang terbuat dari kulit kerbau yang disamak dan diberi ornamen berwarna emas dan merah serta diberi ornamen tokoh Antasena, putra Bima] yang berkepala manusia raksasa namun berbadan ular serta menutupi seluruh rambut penari gandrung.

Pada masa lampau ornamen Antasena ini tidak melekat pada mahkota melainkan setengah terlepas seperti sayap burung.

Sejak setelah tahun 1960-an, ornamen ekor Antasena ini kemudian dilekatkan pada omprok hingga menjadi yang sekarang ini. Penari gandrung menggunakan kain batik dengan corak bermacam-macam. Namun corak batik yang paling banyak dipakai serta menjadi ciri khusus adalah batik dengan corak gajah oling, corak tumbuh-tumbuhan dengan belalai gajah pada dasar kain putih yang menjadi ciri khas Banyuwangi.

Sebelum tahun 1930-an, penari gandrung tidak memakai kaus kaki, namun semenjak dekade tersebut penari gandrung selalu memakai kaus kaki putih dalam setiap pertunjukannya. Dibalik gemerlap pagelaran tari Gandrung yang dibawakan wanita-wanita bertubuh sintal dan langsing, ada prosesi magis yang harus dilakukan oleh setiap penari sebelum memulai pertunjukan. Ritual khusus bernuansa magis itu sebagai persiapan penari agar dapat tampil menarik dan simpatik.

Sebab, penari gandrung bukan sekedar ingin dapat memuaskan penonton, di samping itu juga berharap dapat uang tip dari orang-orang yang simpati padanya. Ada beberapa persyaratan khusus bagi seorang penari gandrung sebelum naik ke pentas. Pertama, adalah dalam soal merias, sang penari harus melakukannya sendiri tanpa bantuan petugas rias. Karena itu sebagai syarat utama seorang penari Gandrung yang sudah profesional, dia harus bisa menata diri sendiri, terutama memoles wajah agar dapat tampil sedemikian menarik Alat make-up yang sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas tidak sembarangan, sebelum digunakan harus diberi mantera agar dapat membuat penari lebih percaya diri saat berada di atas panggung, dan penonton yang melihatnya akan terpesona setelah melihat wajah si penari.

Prosesi ini memang cukup memakan waktu, di samping persiapan khusus yang harus dilakukan para penari. Kadang dari persiapan ini saja, rombongan penari sebelum tampil harus merogoh kocek hingga ratusan ribu hanya untuk bisa tampil memukau penonton.

Sebab selain itu masih ada persyaratan lainnya, yakni disediakannya sesaji yang terdiri dari kelapa, pisang, beras, gula, ayam dan alat kinang lengkap. Semua perlengkapan tersebut kemudian diletakkan di kamar penari rias dan tempat yang tidak jauh dari penabuh gong. “Jangan heran kalau orang nanggap pagelaran Gandrung itu mahal, lha wong untuk persiapan tampil saja biayanya sudah besar,” ujar Marsudi, salah seorang anggota kelompok Gandrung di Banyuwangi. Tata cara persiapan lainnya, penari saat akan mengenakan kuluk (mahkota) maka terlebih dahulu membaca sebuah mantera sesuai dengan keinginannya.

Itu dengan pantangan kuluk yang sudah dipakai tidak boleh dilepaskan hingga pementasan berakhir. Mitos cara mengenakan kuluk tersebut sangat disakralkan lantaran berkaitan langsung dengan kejadian yang akan menimpa penari. Karena itu kuluk harus dirawat dengan benar dan diletakkan di tempat yang aman. Sebab, jika ada kejadian seperti kuluk terjatuh atau terlepas sebelum pagelaran berakhir akan berakibat pada penari yang mengalami musibah Paling tidak selama menjadi penari dalam satu pagelaran penari gandrung harus siap selama 24 jam penuh.

Pasalnya, rangkaian dari ritual mulai dari prosesi persiapan hingga akhir pagelaran mereka tidak boleh melepas pakaian khasnya sebelum dibacakan mantera dari “guru” atau orang yang dianggapnya lebih pintar. Karena itu untuk menjaga agar selama pagelaran penari tidak terganggu oleh urusan lain, semisalkan ingin buang hajat atau dirasuki rasa kantuk, mereka biasanya sudah memiliki amalan masing-masing yang diberikan oleh gurunya. Amalan tersebut akan dibaca sebelum penari naik ke pentas dan sesudah pertunjukan.

Tarian Gandrung Banyuwangi dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat setiap habis panen. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di BaIi, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).

Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan "paju". Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung.

Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi. Musik pengiring untuk gandrung Banyuwangi terdiri dari satu buah kempul atau gong, satu buah kluncing (triangle), satu atau duabuah biola, dua buah kendhang, dan sepasang kethuk. Di samping itu, pertunjukan tidak lengkap jika tidak diiringi panjakatau kadang-kadang disebut pengudang (pemberi semangat) yang bertugas memberi semangat dan memberi efek kocak dalam setiap pertunjukan gandrung.

Peran panjak dapat diambil oleh pemain kluncing. Selain itu kadang-kadang diselingi dengan saron Bali, angklung, atau rebana sebagai bentuk kreasi dan diiringi electone. Saron atau yang biasanya disebut juga ricik ,adalah salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan.Dalam satu set gamelan biasanya mempunyai 4 saron, dan semuanya memiliki versi pelog dan slendro.

Saron menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi daripada demung, dengan ukuran fisik yang lebih kecil. Tabuh saron biasanya terbuat dari kayu, dengan bentuk seperti palu. Cara menabuhnya ada yang biasa sesuai nada, nada yang imbal, atau menabuh bergantian antara saron 1 dan saron 2. Cepat lambatnya dan keras lemahnya penabuhan tergantung pada komando dari kendang dan jenis gendhingnya.

Pada gendhing Gangsaran yang menggambarkan kondisi peperangan misalnya, ricik ditabuh dengan keras dan cepat. Pada gendhing Gati yang bernuansa militer, ricik ditabuh lambat namun keras. Ketika mengiringi lagu ditabuh pelan. Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat.

Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil Gong yang telah ditempa belum dapat ditentukan nadanya.

Nada gong baru terbentuk setelah dibilas dan dibersihkan. Apabila nadanya sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas belum sesuai, gong dikerok sehingga lapisan perunggunya menjadi lebih tipis.

Di Korea Selatan disebut juga Kkwaenggwari. Tetapi kkwaenggwari yang terbuat dari logam berwarna kuningan ini dimainkan dengan cara ditopang oleh kelima jari dan dimainkan dengan cara dipukul sebuah stik pendek.

Cara memegang kkwaenggwari menggunakan lima jari ini ternyata memiliki kegunaan khusus, karena satu jari (telunjuk) bisa digunakan untuk meredam getaran gong dan mengurangi volume suara denting yang dihasilkan.

Rebana adalah gendang berbentuk bundar dan pipih. Bingkai berbentuk lingkaran dari kayu yang dibubut, dengan salah satu sisi untuk ditepuk berlapis kulit kambing. Kesenian di Malaysia, Brunei, Indonesia dan Singapura yang sering memakai rebana adalah musik irama padang pasir, misalnya, gambus, kasidah dan hadroh. Bagi masyarakat Melayu di negeri Pahang, permainan rebana sangat populer, terutamanya di kalangan penduduk di sekitar Sungai Pahang.

Tepukan rebana mengiringi lagu-lagu tradisional seperti indong-indong, burung kenek-kenek, dan pelanduk-pelanduk. Di Malaysia, selain rebana berukuran biasa, terdapat juga rebana besar yang diberi nama Rebana Ubi, dimainkannya pada hari-hari raya untuk mempertandingkan bunyi dan irama.

Kendang, kendhang, atau gendang adalah instrumen dalam gamelan Jawa Tengah yang salah satu fungsi utamanya mengatur irama. Instrument ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu.Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih.

Kendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk wayangan ada satu lagi kendhang yang khas yaitu kendhang kosek. Dengan peralatan musik atau gamelan seperti yang terbuat di atas, sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas dihasilkan beberapa gending gandrung.

Perbendaharaan gending-gending gandrung merupakan gending-gending klasik yang sulit diketemukan penciptanya. Gending-gending itu dapat dipilih menjadi 7 bagian yang jumlahnya cukup banyak.Yakni, (yang terdiri dari Gending Padha Nonton,Gending Sekar Jenang Ayun-Ayun, Maenang, Ladrang, Celeng Mogok,Ugo-Ugo, Lia-Liu, Lebak-Lebak, Lindoondo Krenoan, Gagak Serta, Limar-Limir, Gandraiya, Emek-Emek, Duduk Maling, Kembang Jambe, Kelam Okan, Jaran Dawuk, Sawunggaling, Gerang Kalong, Guritan, Erang-Arang, Blabakan, Embat-Embat, Keyok-Keyok, Kosir-Kosir, Tarik Jangkar, Krimping Sawi, Condrodewi, Opak Apem).

Sebagian gending yang terdapat berasal dari Sangyang dan Bali, seperti Gebyar-gebyur, Gulung-gulung Agung, sekar potel, Sandel sate, Surung dayung, dan Pecari putih. Sedang yang berpengaruh jawa cukup banyak, antara lain Sampak, Puspawarna, Pacung, kinanti, Angleng, Sinom, Ladrang Manis, Wida Sari, Sukmailing, Titipati, Damarkeli, ing-ing, Semarang dan masih banyak lagi.

Kesenian gandrung banyuwangi biasanya dilaksanakan diatas pentas ketika pesta perkawinan atau khitanan, dan berlangsung sepanjang malam.

Panari gandrung biasanya menari bersama-sama, diikuti para pemaju. Penampilannya selalu didahului atau dibuka oleh tari pembuka yang biasa disebut tari jejer. Pada tari pembuka ini penari menari dan menyanyi tanpa pemaju, sebagai tanda ucapan selamat datang kepada para penonton, dan secara tradisional diiringi gending Podho Nonton.

Acara inti dimulai beberapa menit setelah acara tari pembuka atau jejer diakhiri. Penari gandrung menari dan menyanyi di atas pentas melayani para pemaju yang telah agak lama menanti. Pemaju yang berasal dari kata maju ‘maju, bergerak’, biasanya tampil atau beringsut ke arah muka dari kalangan penonton yang ingin ber¬sama-sama menari dengan penari gandrung di atas pentas, atau kadang-kadang karena mereka mendapat lemparan selendang atau sampur dari gandrung itu sendiri, kemudian bangkit dan naik ke pentas untuk menari memenuhi ajakan gandrung.

Apabila ada pemaju yang berhasrat menari bersama gandrung, ia mendekati pentas, menyerahkan atau memberikan sejumlah uang kepada salah seorang pemukul gamelan pemegang keluncing, dan menyebutkan gending yang dimintanya.

Penari gandrung melayani hasrat itu dan mulai menari bersama di atas pentas. Begitulah proses terjadinya pemaju Banyuwangi yang berlangsung bergembira menari bersama gandrung sepanjang malam. Namun dalam perkembangannya dewasa ini, mengingat nilai seni dan sifat harga diri penari gandrung itu sendiri, proses pemaju seperti itu sudah tidak terlihat lagi. Biasanya setiap jenis gending atau tarian ditarikan oleh empat orang pemaju sekaligus agar dapat dijelmakan kaidah tari pemaju gandrung dalam etika dan estetika tari, sebab adalah tidak terpuji dan melanggar kesopan¬an jika teijadi singgungan di atas pentas antara penari gandrung dan pemajunya.

Pelanggaran semacam itu akan mendapat um¬patan langsung dari penonton, dan mungkin dapat terjadi per¬kelahian antara penabuh gamelan dan pemaju.

Setelah acara menari dan menyanyi sepanjang malam, kira- kira menjelang fajar, acara ditutup dengan sebuah tari penutup yang biasa dikenal dengan nama tari seblangan.

Pada tari penutup ini, gandrung menari sambil melagukan gending khas Ba¬nyuwangi seorang diri. Dia membawakan gending-gending yang bersifat romantis, erotik, religius, atau menyedihkan dan me¬ngandung nasihat, seakan-akan mengingatkan penonton akan keagungan Tuhan setelah bergembira ria sepanjang malam. Se-akan-akan mengingatkan kita agar kembali kepada keluarga, tugas, dan kewajiban sehari-hari.

Sering penonton menghayati¬nya begitu dalam sehingga tanpa disadari air mata mengalir membasahi pipi. Pagelaran Pacu Sewu Gandrungg dibawakan oleh 1.000 penari dari berbagai kalangan pelajar SD, SMP, SMA, SMK, Universitas dan sanggar seni di Banyuwangi.

Acara ini terselenggara sebagai wujud kecintaan masyarakat akan budaya tari gandrung banyuwangi. Pacu Sewu gandrung telah menjadi even tetap pemerintah banyuwangi yang di agendakan setiap pertengahan bulan November.
Padang - Tari piring adalah tarian khas sebutkan busana yang digunakan pada penari laki-laki pada gambar di atas Minangkabau di Sumatera Barat.

Tarian ini mengayunkan piring dengan gerakan cepat. Tarian ini awalnya merupakan tarian persembahan kepada dewa. Hal ini dilakukan sebagai wujud syukur atas hasil panen yang berlimpah dan masyarakat terlindung dari bahaya. Tari piring kemudian berubah fungsi setelah Islam masuk ke Sumatera Barat. Tarian itu digunakan sebagai hiburan dalam acara-acara kerajaan dan berkembang untuk acara pernikahan. Baca juga: Mengenal Tari Piring, Warisan Budaya Kebanggaan Sumatera Barat Di dalam tari piring terdapat beberapa hal yang harus diketahui yaitu properti tari piring, ciri khas, sertanya maknanya.

Berikut adalah penjelasannya: A. Properti Tari Piring Properti tari piring seperti yang dikutip dalam Laporan Penelitian yang berjudul 'Tari sebagai Media Budaya: Suatu Penilaian Perkembangan di Minangkabau' Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) oleh Edi Sedyawati dkk, yaitu: 1. Piring Piring diletakkan di atas tangan. Setiap penari memegang dua piring pada tangan kanan dan kiri.

Piring yang digunakan biasanya terbuat dari keramik atau porselen. 2. Alat Musik Alat musik pada tari piring adalah gendang yang dilengkapi dengan pupuik atau puput batang padi yang merupakan alat musik tiup dan talempong yaitu alat musik yang terbuat dari logam.

Baca juga: 8 Keunikan Rumah Adat Tongkonan dari Toraja 3. Damar Damar dibutuhkan sebagai aksesori properti tari piring. Cara penggunaannya yaitu damar diberi lubang sehingga ujung jari tengah tangan kanan dan tangan kiri dapat dimasukkan ke dalam lubang tersebut. Pada saat menari damar diketuk-ketukkan ke piring sesuai dengan lantunan musik.

Hal tersebut digunakan agar tarian semakin meriah. 4. Kostum Kostum yang dikenakan penari tari piring dulunya seperti kostum pencak sulit dengan celana panjang berwarna hitam.

Namun saat ini kostumnya beraneka warna. Penari menggunakan kostum khusus yang bernama baju kurung. Baju ini terbuat dari beludru atau satin dengan motif bunga. Selain itu juga menggunakan kain kodek yang mirip dengan sarung. B. Ciri Khas Tari Piring Dilansir dari situs Kemdikbud, tari Piring memiliki ciri khas sebagai berikut: 1. Selalu dibawakan dalam jumlah ganjil yaitu sekitar 3-7 orang. Bisa dibawakan oleh laki-laki maupun perempuan.

2. Terdapat 20 gerakan tari piring. Tari piring adalah tarian mengenai kehidupan petani. Gerakan tersebut dimulai dari gerak pasambahan, gerak singajuo lalai, gerak mencangkul, gerak menyiang, gerak membuang sampah, gerak menyemai, gerak memagar, mencabut benih, bertanam, melepas lelah, mengantar juadah, menyabit padi, mengambil padi, manggampo padi, menganginkan padi, mengirik padi, menumbuk padi, gotong royong, menampih padi, dan menginjak pecahan kaca. 3. Diiringi musik tradisional Minangkabau.

Musik ini bertujuan untuk memandu penari untuk melakukan gerak tari. Pada awal tarian irama musik lembut dan teratur kemudian lama-lama menjadi cepat.

C. Makna Tari Piring Tari piring berisikan pelajaran-pelajaran tentang: 1. Agar kita selalu berhati-hati dalam melangkah dan bersikap dalam kehidupan. 2. Pengaturan keseimbangan. 3. Ketekunan dan ketenangan. Itu tadi adalah penjelasan mengenai properti tari piring, ciri khas, serta maknanya. Kalau detikers lagi jalan-jalan ke Sumatera Barat, jangan lupa untuk mencoba menari tari piring ya.

16 Bentuk Desain Atas pada Gerak Tari




2022 charcuterie-iller.com