Pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga, yaitu ….

Yahoo forma parte de la familia de marcas de Yahoo. Al hacer clic en « Aceptar todo» aceptas que Yahoo y nuestros socios guardarán y accederán a la información de tu dispositivo a través del uso de cookies y tecnologías similares y procesarán tus datos personales para que muestren contenido y anuncios personalizados, métricas de anuncios y contenidos, información sobre audiencias y desarrollo de productos.

Datos personales que podemos utilizar • Información sobre tu dispositivo y conexión a Internet, incluida tu dirección IP • Actividad de navegación y búsqueda al utilizar sitios web y aplicaciones de Yahoo • Ubicación precisa Puedes seleccionar ' Gestionar ajustes' para conocer más información sobre cómo gestionar tus opciones. Puedes cambiar tus opciones en todo momento visitando Tus controles de privacidad. Para obtener más información sobre cómo utilizamos tus datos, consulta nuestra Política de privacidad y la Política de cookies.

Haz clic aquí para obtener más información sobre nuestros socios. Contoh Soal Ulangan dan Jawaban Al Qur'an Hadis Kelas X Aliyah Materi Macam-Macam Sunnah Nabi (Objektif dan Essay) A. Berilah tanda silang (x) pada huruf A, B, C, D, atau E di depan jawaban yang paling benar! 1. Pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga, yaitu ….

A. qauliyah, fi’liyah dan taqririyah B. muakkad, qauliyah dan gairu qauliyah C. fi’liyah, hammiyah dan taqririyah D. taqririyah, qauliyah dan gairu qauliyah E.

qauliyah, fi’liyah dan sam’iyah 2. Yang dimaksud dengan sunnah qauliyah adalah …. A. komentar dan tanggapan yang diberikan Nabi Muhammad Saw. B. pengawasan syariat Islam yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. C. petunjuk Nabi Muhammad Saw, yang berkaitan dengan syariat Islam D.

ucapan Nabi Muhammad Saw, yang berhubungan dengan syariat Islam E. isyarat yang diberikan kepada Nabi Saw, berkaitan dengan syariat Islam 3. Nabi Muhammad Saw, mencontohkan tata cara shalat, haji dan puasa. Hal itu dikategorikan sebagai sunnah …. A. qauliyah B. fi’liyah C. sifatiyah D. khuluqiyah E. taqririyah 4. Penggunaan kata-kata atau dalam hadis Nabi Saw merupakan karakteristik sunnah …. A. qauliyah B. fi’liyah C. sifatiyah D.

hammiyah E. taqririyah 5. Dari bermacam-macam sunnah tersebut, yang menempati urutan pertama, yang kualitasnya paling tinggi adalah sunnah ….

A. hammiyah B. sifatiyah C. taqririyah D. fi’liyah E. qauliyah 6. Suatu perbuatan yang dikehendaki Nabi Saw tetapi belum sempat dikerjakan disebut sunnah …. A. qauliyah B. fi’liyah C. hammiyah D. taqririyah E. sifatiyah 7. Terjemahan dari hadis berikut adalah …. A. berdo’alah kalian sebagaimana melihat aku berdo’a B. ambillah manasik dariku C. shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat D.

shalatlah kalian karena shalat tiang agama E. shalatlah kalian sebelum kalian dishalati 8. Rawi hadis di atas (no. 7) adalah …. A. Bukhari B. Muslim C. Bukhari dan Muslim D. Tirmizi E. Nasa’i 9. Perintah untuk melaksanakan puasa sunnah pada tanggal 9 Muharram merupakan isyarat dari sunnah …. A. qauliyah B. fi’liyah C. taqririyah D. hammiyah E. sifatiyah 10. Sahabat Nabi Muhammad Saw, yang mewakili sahabat menanyakan memakan daging biawak (dab) adalah … A. Khalid ibn Mughirah B. Abdullah ibn mas’ud C.

Abdullah ibn Umar D. Abdullah ibn Abbas E. Khalid ibn Walid B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan benar ! 1. Apa yang dimaksud Sunnah Qauliyah menurut istilah?

2. Apa pengertian Sunnah fi’liyah secara istilah ! 3. Jelasakan pengertian sunah hammiyah! 4. Pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga contoh hadis yang termasuk kategori sunnah fi’liyah? 5. Bedakan antara sunnah fi’liyah dan sunnah taqririyah! Kunci Jawaban Pilihan ganda 1. A 2. D 3. B 4. B 5. E 6. C 7. C 8. A 9. D 10. E Uraian 1. Sunnah qauliyah adalah Sunnah Qauliyah adalah bentuk perkataan atau ucapan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang berisi berbagai tuntunan dan petunjuk syarak, peristiwa-peristiwa atau kisahkisah, pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga yang berkenaan dengan aspek akidah, syariah maupun akhlak.

2. Sunnah fi’liyah adalah segala perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, Sunnah fi’liyah juga dapat maknakan sunnah Nabi yang berupa perbuatan Nabi yang diberitakan oleh para sahabat mengenai soal soal ibadah dan lain-lain seperti melaksanakan shalat manasik haji dan lain-lain. 3.

Sunnah Hammiyah ialah: suatu yang dikehendaki Nabi Saw, tetapi belum dikerjakan. 4. Contoh sunnah fi’liyah : “Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari) “Ambillah manasik (tata cara melaksanakan haji) kamu dariku.” (HR. Muslim) 5. Sunnah fi’liyah adalah segala perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, sedangkan sunnah Taqririyah adalah sunnah yang berupa ketetapan Nabi Muhammad Saw, terhadap apa yang datang atau dilakukan para sahabatnya.

Dengan kata lain sunnah taqririyah, yaitu sunnah Nabi yang berupa penetapan Nabi terhadap perbuatan para sahabat yang diketahui Nabi tidak menegurnya atau melarangnya bahkan Nabi cenderung mendiamkannya. Terima Kasih Atas Kunjungannya. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.
Selain Al-Qur’an dan As-Sunnah, terdapat pula Ijtihad.

Para ulama bersepakat tentang pengertian ijtihad secara bahasa berbeda pandangan, mengenai pengertiannya secara istilah muncul belakangan, yaitu pada massa tasyri dan massa sahabat. Ijtihad mempunyai definisi dan mempunyai landasan serta dasar-dasar dan mempunyai hukum dan mempunyai unsur-unsur.

Melalui makalah yang kecil lagi tipis ini, kami akan membahas mengenai As-Sunnah dan Ijtihad sebagai sumber ajaran Islam. Kami juga berusaha menjelaskan kepada pembaca sekelumit tentang kedua perkara di atas, dan juga menjelaskan pentingnya pembahasan mengenai kedua sumber hukum Islam tersebut.

Secara bahasa, hadits dapat berarti baru, dekat dan khabar (cerita). Sedangkan dalam tradisi hukum Islam, hadits berarti segala perkataan, perbuatan dan keizinan Nabi Muhammad SAW (aqwal, af’al wa taqrir).

Akan tetapi para ulama Ushul Fiqh, membatasi pengertian hadits hanya pada ”ucapan-ucapan Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan hukum”, sedangkan bila mencakup, pula perbuatan dan taqrir yang berkaitan dengan hukum, maka ketiga hal ini mereka namai dengan ”Sunnah”.

Sunnah menurut para ahli hadist identik dengan hadist, yaitu: seluruh yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan ataupun yang sejenisnya (sifat keadaan atau himmah). Sunnah menurut ahli ushul fiqh adalah “ segala yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, berupa perbuatan, perkataandan ketetapan yang berkaitan dengan hukum”. Sedangkan sunnah menurut para ahli fiqhdi samping pengertian yang dikemukakan para ulama’ ushul fiqh di atas, juga dimaksudkan sebagai salah satu hokum taqlifih, yang mengandung pengertian”perbuataan yang apabila dikerjakan mendapat pahaladan apabila ditinggalkan tidak medapat siksa (tidak berdosa)” [2] Atau terkadang dengan perbuatan, beliau menerangkan maksudnya, seperti pelajaran shalat yang beliau ajarkan kepada mereka (para sahabat) secara praktek dan juga cara-cara ibadah haji.

Dan kadang para sahabatnya brbuat sesuatu di hadiratnya atau sampai berita-berita berupa ucapan atau tindakan mereka kepada beliau, tetapi hal ini tidak di ingkarinya, bahkan didiamkannya saja, padahal beliau sanggup untuk menolaknya(kalau tidak dibenarkan) atau nampak padanya setuju dan senang, sebagai mana diriwayatkan bahwa beliau tidak mengingkari orang yang makan daging biawak di tempat makan beliau.

[3] Pembagian hadist atau sunnah pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga didasarkan dari pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga pendekatan.

Ada beberapa pendekatan yang biasa digunakan untuk menentukan pembagian tersebut. Pembagian yang didasarkan pada pada pendekatan sumbernya. Maksudnya darimana seumber ide dari perkataan, perbuatan, dan persetujuan Raul Allah tersebut. Berdasarkan pendekatan ini, maka Hadist dibagi menjadi: Hadist Qudsi dan Hadist Nabawi. [4] 2) Sunnah Fi’liyah (Perbuatan), yaitu hadist yang bersumber dari perbuatan Nabi SAW. Hadist Fi’liyah ini merupakan informasi visual (gerak lakon yang dapat dilihat) dari perbuatan ytang dalam melakukan perintah Allah, misalnya bewudu’, sholat, puasa, zakat, haji, dan lain-lainnya.

Contoh hadits fi’liyah حدثنا عبد الله بن مسلمة عن مالك عن ابن شهاب عن أبي أمامة بن سهل عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما عن خالد بن الوليد : أنه دخل مع رسول الله صلى الله عليه و سلم بيت ميمونة فأتي بضب محنوذ فأهوى إليه رسول الله صلى الله عليه و سلم بيده فقال بعض النسوة أخبروا رسول الله صلى الله عليه و سلم بما يريد أن يأكل فقالوا هو ضب يا رسول الله فرفع يده فقلت أحرام هو يا رسول الله ؟ فقال ( لا ولكن لم يكن بأرض قومي فأجدني أعافه ).

قال خالد فاجتررته فأكلته ورسول الله صلى الله عليه و سلم ينظر [6] 3) Sunnah Taqririyah (persetujuan), yaitu hadist yang bersumber dari sikap Nabi SAW. Terhadap kasis tertentu, bila Nabi SAW. Mendengar sahabat mengatakan suatu perkataa, lalu beliau membiarkan (tidak merespon) dengan cara tidak menyuruh atau melarang. Sikap seperti itu mengisyaratkan persetujuan dari beliau, pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga apa yang dilakukan itu boleh-boleh saja dan tidak melanggar hukum.

Hadist masyhur dipahami sebagai suatu hadist yang telah dikenal dikalangan para ahli ilmu tertentu atau dikalangan masyarakat umum tanpa memperhatikan ketentuan syarat di atas, yakni banyaknya perawi yang meriwayatkannya, sehingga kemungkinannya hanya mempunyai satu jalur sanad saja atau bahkan tidak berasal (bersanad) sekalipun. Secara bahasa, hasan berarti al-jamâl, yaitu: “indah”. Hasan juga dapat juga berarti sesuatu sesuatu yang disenangi dan dicondongi oleh nafsu. Sedangkan para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan hadis hasan karena melihat bahwa ia meupakan pertengahan antara hadis shahih dan hadis dha’if, dan yaitu ….

karena sebagian ulama mendefinisikan sebagai salah satu bagiannya. Sebagian dari definisinya yaitu: Dari segi bahasa, maudhu’ berarti bentuk ism maf’ul dari kata kerja wadha’a yang berarti mengada-ada atau membuat-buat. Bila dikaitkan dengan Hadis maka berarti mengada-adakan Hadis atau memalsukan Hadis. Menurut ilmu Hadis, Hadis maudhu’ berarti Hadis yang disandarkan kepada Rasulullah saw. yang Rasulullah saw.

sendiri tidak pernah mengerjakan, berbuat dan memutuskannya. Dalam sumber lain dikatakan bahwa Hadis maudhu’ berarti kebohongan yang dibuat dan diciptakan serta disandarkan kepada Rasulullah saw.

[12] Secara terminologis, para ulama berbeda pendapat dalam merumuskanya. Namun demikian, secara substansial kesemuanya memiliki persamaan arti. Imam Al-Nawawi, misalnya mendefinisikan Hadits Dha`if dengan hadits yang di dalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shahih dan syarat-syarat hadits hasan.

Sedangkan menurut Muhammad ‘Ajjaj Al-Khathib, Hadits Dha`if didefinisikan sebagai segala hadits yang di dalamnya tidak terkumpul sifat-sifat maqbul. Nur Al-Din itr merumuskan Hadits Dha`if dengan hadits yang hilang salah satu syaratnya dari syarat-syarat hadits maqbul ”hadits yang shahih atau hadits yang hasan”.

Berdasarkan definisi rumusan di atas, dapat dipahami bahwa hadits yang kehilangan salah satu syarat dari syarat-syarat Hadits Shahih atau Hadits Hasan, maka hadis tersebut dapat dikategorikan sebagai Hadits Dhaif. Artinya jika salah satu syarat saja hilang, disebut Hadits Dha`if.

Lalu bagaimana jika yang hilang itu dua atau tiga syarat? Seperti perawinya tidak adil, tidak dhabit, atau dapat kejanggalan dalam matannya. Maka hadits yang demikian, tentu dapat dinyatakan sebagai Hadits Dha`if yang sangat lemah sekal i. [14] Hadits mursal menurut bahasa, berarti hadits yang terlepas. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits mursal adalah hadits yang gugur rawinya di akhir sanad.

Yang dimaksud dengan rawi di akhir sanad ialah rawi pada tingkatan sahabat yang merupakan orang pertama yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. (penentuan awal dan akhir sanad adalah dengan melihat dari rawi yang terdekat dengan imam yang membukukan hadits, seperti Bukhari, sampai kepada rawi yang terdekat dengan Rasulullah).

Jadi, hadits mursal adalah hadits yang dalam sanadnya tidak menyebutkan sahabat Nabi, sebagai rawi yang seharusnya menerima langsung dari Rasulullah. Hadits munqathi’ menurut etimologi ialah hadits yang terputus. Para ulama memberi batasan bahwa hadits munqathi’ adalah hadits yang gugur satu atau dua orang rawi tanpa beriringan menjelang akhir sanadnya.

Bila rawi di akhir sanad adalah sahabat Nabi, maka rawi menjelang akhir sanad adalah tabi’in. Jadi, pada hadits munqathi’ bukanlah rawi di tingkat sahabat yang gugur, tetapi minimal gugur seorang tabi’in.

Bila dua rawi yang gugur, maka kedua rawi tersebut tidak beriringan, dan salah satu dari dua rawi yang gugur itu adalah tabi’in. Banyak macam cacat yang dapat menimpa rawi ataupun matan. Seperti pendusta, fasiq, tidak dikenal, dan berbuat bid’ah yang masing-masing dapat menghilangkan sifat adil pada rawi.

Sering keliru, banyak waham, hafalan yang buruk, atau lalai dalam mengusahakan hafalannya, dan menyalahi rawi-rawi yang dipercaya.

Ini dapat menghilangkan sifat dhabith pada perawi. Adapun cacat pada matan, misalkan terdapat sisipan di tengah-tengah lafadz hadits atau diputarbalikkan sehingga memberi pengertian yang berbeda dari maksud lafadz yang sebenarnya. Hadits ini, menurut bahasa berarti hadits yang ditinggalkan / dibuang. Para ulama memberikan batasan bahwa hadits matruk adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang-orang yang pernah dituduh berdusta ( baik berkenaan dengan hadits ataupun mengenai urusan lain), atau pernah melakukan maksiat, lalai, atau banyak wahamnya.

Contoh hadits matruk : “ Rasulullah Saw bersabda, sekiranya tidak ada wanita, tentu Allah dita’ati dengan sungguh-sungguh”. Secara bahasa, hadits ini berarti hadits ayng ganjil. Batasan yang diberikan para ulama, hadits syadz adalah hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang dipercaya, tapi hadits itu berlainan dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang juga dipercaya.

Haditsnya mengandung keganjilan dibandingkan dengan hadits-hadits lain yang kuat. Keganjilan itu bisa pada sanad, pada matan, ataupun keduanya. Contoh : Hal ini karena, hadis merupakan mubayyin bagi Al-Qur`an, yang karenanya siapapun yang tidak bisa memahami Al-Qur`an tanpa dengan memahami dan menguasai hadis.

Begitu pula halnya menggunakan Hadist tanpa Al-Qur`an. Karena Al-qur`an merupakan dasar hukum pertama, yang di dalamnya berisi garis besar syari`at. Dengan demikian, antara Hadits dengan Al-Qur`an memiliki kaitan erat, yang untuk mengimami dan mengamalkannya tidak bisa terpisahkan atau berjalan dengan sendiri.

[15] Al-Qur’an dan Hadits merupakan sumber pokok ajaran Islam dan merupakan rujukan umat Islam dalam memahami syariat. Pada tahun 1958 salah seorang sarjana barat yang telah mengadakan penelitian dan penyelidikan secara ilmiah tentang Al-Qur’an mengatan bahwa : “Pokok-pokok ajaran Al-Qur’an begitu dinamis serta langgeng abadi, sehingga tidak ada di dunia ini suatu kitab suci yang pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga dari 12 abad lamanya, tetapi murni dalam teksnya”.

[17] Keberlakuan hadits sebagai sumber hukum diperkuat pula dengan kenyataan bahwa Al-Qur`an hanya memberikan garis-garis besar dan petunjuk umum yang memerlukan penjelasan dan rincian lebih lanjut untuk dapat dilaksanakan dalam kehidupan manusia. Karena itu, keabsahan hadits sebagai sumber kedua secara logika dapat diterima.Di antara ayat-ayat yang menjadi bukti bahwa Hadits merupakan sumber hukum dalam Islam adalah firman Allah dalam Al-Qur’an surah An- Nisa’: 80 $ p k š ‰ r ' ¯ » t ƒ t û ï Ï % © !

$ # ( # þ q ã Y yaitu …. B # u ä ( # q ã è ‹ Ï Û r & © ! $ # ( # q ã è ‹ Ï Û r & u r t A q ß ™ §  9 $ # ’ Í < ' r é & u r Í  ö D F { $ # ó O ä 3 Z Ï B ( b Î yaitu ….

s ù ÷ L ä ê ô ã t “ » u Z s ? ’ Î û & ä ó Ó x « ç n r – Š 㠍 s ù ’ n < Î ) « ! $ # É A q ß ™ §  9 $ # u r b Î ) ÷ L ä ê Y ä. t b q ã Z Ï B ÷ s è ? « ! $ $ Î / Ï Q ö q u ‹ ø 9 $ # u r Ì  Å z F y $ # 4 y 7 Ï 9 º s Œ × Ž ö  y z ß ` - ¡ ô m r & u r ¸ x ƒ Í r ù ' s ? Ç Î Ò È Artinya: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.

yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.(Q.S. Annisa: 59 Ijtihad berasal dari kata جهد - يجهد yang berarti "berusaha dengan sungguh-sungguh". Dari pengertian bahasa ini selanjutnya para Ulama' merumuskan pengertian istilah. mereka berbeda pendapat dalam merumuskan pengertian tersebut.

Ada juga Ijtihad yang diberikan arti sebagai berikut "Segala upaya yang dicurahkan Mujtahid dalam berbagai bidang ilmu, seperti bidang fiqih, teologi, filsafat dan tasawuf".

Sunnah menurut para ahli hadist identik dengan hadist, yaitu: seluruh yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik perkataan, perbuatan, maupun ketetapan ataupun yang sejenisnya (sifat keadaan atau himmah). Sunnah menurut ahli ushul fiqh adalah “ segala yang diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, berupa perbuatan, perkataandan ketetapan yang berkaitan dengan hukum”.

Penyusun mengakui bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kelemahan dan kekurangan yang semestinya perlu ditambah dan diperbaiki. Uraian dan contoh yang diambil masih sangat kurang. Oleh sebab itu, segala masukan yang bersifat positif sangat penyusun harapkan demi kesempurnaan makalah ini dimasa yang akan datang. Harapan penyusun semoga inti dari permasalahan yang kita bahas ini dapat dipraktikkan di kehidupan sosial.

ADMINISTRASI PENDIDIKAN (3) BAHASA INDONESIA (2) BIMBINGAN KONSELING (9) BIMBINGAN KONSELING ISLAM (8) DASAR-DASAR KEPENDIDIKAN (3) DESAIN DAN SISTEM PEMBELAJARAN PAI (6) DESAIN PEMBELAJARAN (6) EVALUASI PEMBELAJAN (2) EVALUASI PEMBELAJARAN (1) Pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga ILMU (3) FILSAFAT ISLAM (9) FILSAFAT PENDIDIKAN (5) FILSAFAT UMUM (5) FIQIH (4) HADIST (8) ILMU ALAMIAH DASAR (1) ILMU BAHASA ARAB (2) ILMU HADITS (3) ILMU KALAM (11) ILMU PENDIDIKAN ISLAM (1) INOVASI PENDIDIKAN (5) IPI (1) KAJIAN ISLAM (1) KAPITA SELEKTA PENDIS (3) KARYA ILMIYAH (1) KURIKULUM (1) KWN (2) MANAJEMEN PENDIDIKAN (2) MASA'ILUL FIQH (3) MEDIA PEMBELAJARAN (4) METODOLOGI PENELITIAN (9) METODOLOGI STUDI ISLAM I (2) METODOLOGI STUDI ISLAM II (4) MICRO TEACHING (4) MUSTHALAH AL HADITS (3) PEMBELAJARAN AA (1) PEMBELAJARAN QH (1) PEMBELAJARAN SKI (2) PEMIKIRAN ISLAM (15) PENDIDIKAN ISLAM KLASIK DAN MODERN (2) PENELITIAN (6) PENELITIAN PENDIDIKAN (3) PSIKOLOGI AGAMA (5) PSIKOLOGI PENDIDIKAN (5) PSIKOLOGI PERKEMBANGAN (7) PSIKOLOGI UMUM (3) RESEARCH DESIGN (5) SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM (4) STRATEGI PEMBELAJARAN (4) SUPERVISI PENDIDIKAN (2) TAFSIR (3) TASAWUF (12) The Qur'an (1) ULUMUL QUR'AN (2) USHUL FIQH (1) • ► 2019 (55) • ► Feb (55) • ► 2016 (4) • ► Aug (4) • ▼ 2015 (38) • ► Dec (2) • ▼ Sep (17) • CARA DAN DO’A BAGI ORANG YANG MENGHAFAL AL-QUR’AN • TAFSIR: FITRAH BERAGAMA MANUSIA • PERLUNYA SUPERVISI PENDIDIKAN • CARA MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR • PSIKOLOGI AGAMA SEBAGAI DISIPLIN ILMU • POLA PENDIDIKAN MASA RASULULLAH • MOTIVASI SUPERVISOR • JUMLAH DALAM BAHASA ARAB • DESAIN TUJUAN PEMBELAJARAN PAI • AAM, KHASS, dan TAKHSISH • SYIRKAH DALAM JUAL BELI • SUNNAH DAN MACAM-MACAMNYA • PANCASILA SEBAGAI DASAR FILSAFAT PENDIKNAS • METODOLOGI PENELITIAN STUDI ISLAM • SAHABAT NABI DAN KEADILANNYA • METODE-METODE STUDI TARBIYAH • PENDEKATAN MEMAHAMI AGAMA • ► May (19) • ► 2014 (30) • ► Oct (5) • ► May (20) • ► Apr (5) • ► 2013 (3) • ► Oct (2) • ► Feb (1) Contoh Soal Ujian Kenaikan Kelas (UKK) Mata Pelajaran Al-Qur'an Hadis Kelas 10 MA (Objektif dan Essay) A.

Berilah tanda silang (x) pada huruf A, B, C, D, atau E di depan jawaban yang paling benar! 1.

Secara etimologi, kata hadis mempunyai beberapa arti, di antaranya adalah. A. Perintah B. Aturan C. Dekat D. Acara E. Lama 2. Segala sesuatu yang ditetapkan oleh Nabi Saw, yang tidak terkait dengan masalah-masalah fardu dan wajib adalah pengertian hadis menurut .

A. Ahli Usul Fikih B. Ahli Kalam C. Ulama Tabiin D. Ahli Fikih E. Ahli Hadis 3. Sunnah secara etimologi memiliki beberapa arti. Yang bukan merupakan arti sunnah secara etimologi adalah.

A. Cara B. Tradisi C. Jalan yang ditempuh D. Baru E. Ketetapan 4. Menurut ahli hadis bahwa perbedaan hadis dengan sunnah adalah…. A. Sunnah lebih luas pengertiannya dari hadis. B. Hadis dan sunnah sama saja. C. Sunnah hanya khusus pada Nabi Muhammad Saw. D. Hadis lebih kuat dari sunnah. E. Hadis bisa disandarkan pada selain Nabi Muhammad Saw.

5. Kata pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga secara etimologi mempunyai arti …. A. Do’a B. Barang bekas C. Sesuatu yang baru D. Debu E. Sisa dari sesuatu 6. Ahli hadis mendefinisikan khabar adalah …. A. Suatu berita yang berasal dari ulama hadis B. Suatu berita yang khusus dari sahabat Nabi C. Suatu berita yang hanya mengandung hukum D.

Suatu berita yang diterima dari sahabat dan tabiin E. Suatu berita yang diterima dari Nabi Muhammad Saw, sahabat dan tabiin 7. Sunnah adalah segala sesuatu yang diriwayatkan dari Nabi Saw, baik perkataan maupun perbuatan beliau, sedangkan hadis hanya khusus mengenai perbuatan beliau adalah menurut pendapat.

A. Ibnul Humam B. Dr. Taufiq C. Ahli Hadis D. Ahli Fikih E. Ahli Ushul 8. Secara garis besar persamaan antara sunnah dan hadis adalah …. A. Keduanya merupakan perbuatan Nabi Saw. B. Keduanya merupakan perkataan Nabi Saw.

C. Keduanya merupakan taqrir Nabi Saw. D. Keduanya bersumber kepada Nabi Saw. E. Keduanya terkadang bersumber dari selain Nabi Saw. 9. Berikut ini pernyataan yang tidak benar terkait dengan hadis, sunnah, khabar dan asar adalah …. A. Sunnah lebih luas dari pada hadis B. Hadis lebih luas daripada sunnah C. Khabar selain dinisbahkan ke Nabi Saw, dapat juga dinisbahkan kepada Sahabat dan tabi'in D.

Khabar lebih umum daripada hadis E. Atsar lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat 10. Pernyataan berikut ini yang bukan merupakan perbedaan al-Qur’an dengan hadis nabi adalah. A. Al-Qur’an diturunkan bahasa dan maknanya dari Allah Swt sedang hadis dari Nabi. B. Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan maknanya saja, hadis boleh. C. Al-Qur’an baik lafaz dan maknanya merupakan mu’jizat, hadis bukan mu’jizat D. Al-Qur’an diturunkan melalui perantara Jibril, hadis melalui mimpi Nabi.

E. Membaca al-Qur’an bernialai ibadah dan berpahala, membaca hadis tidak. 11. Dari segi bahasa sanad dapat diartikan. A. B. C. D. E. 12. Terjemahan ungkapan di atas yang paling tepat adalah ….

A. Cara hadis sampai yaitu …. B. Jalan mencari hadis C. Jalan mencari isi hadis D. Jalan yang menyampaikan kepada matan hadis E. Isi pokok hadis 13. Yang disebut matan adalah …. A. B. C. D. E. 14. orang yang memindahkan hadis dari seorang guru kepada orang lain atau membukukannya ke dalam suatu kitab hadis disebut.

A. Matan B. Hadis C. Sanad D. Sunnah E. Rawi 15. Pengertian dabit adalah …. A. Setiap hari mengingat hadis yang dihafalkan B. Mempunyai daya ingat yang kuat C. Mempunyai perhatian terhadap hafalan hadis D. Mempunyai daya konsentrasi yang tinggi E. Tidak mudah percaya pada orang lain 16.

Ulama’ yang pertama menyusun kitab perawi hadis secara singkat, adalah. A. Imam Muslim Pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga. Imam Tirmidzi C. Imam Bukhari D. Imam Ahmad E. Imam Maliki 17. Orang yang menerangkan sanad suatu hadis disebut. A. Isnad B. Musnid C. Musnad D. Masnud E. Atsary 18. Mata rantai para rawi saling menyandarkan berita kepada gurunya dan menghubungkannya sampai ke matan hadis disebut .

A. Sanad B. Perawi C. Muhaddis D. Matan E. Mukharrij 19. Sanad memiliki banyak fungsi, di antaranya adalah . A. Memberikan kesempatan perawian hadis B. Memberikan kemudahan para rawian hadis dalam meriwayatkannya C.

Mempertanggungjawabkan kebenaran atau kesahihan hadis D. Mempersulit rawian hadis E. Memperketat para rawi hadis 20. Ilmu yang membahas para perawi hadis disebut . A. Ilmu Hadis B. Ilmu Matan Hadis C. Ilmu Rawi Hadis D. Ilmu Atsar Hadis E. Ilmu Rijalul Hadis 21. Pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga, yaitu …. A. qauliyah, fi’liyah dan taqririyah B.

muakkad, qauliyah dan gairu qauliyah C. fi’liyah, hammiyah dan pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga D. taqririyah, qauliyah dan gairu qauliyah E. qauliyah, fi’liyah dan sam’iyah 22. Yang dimaksud dengan sunnah qauliyah adalah …. A. komentar dan tanggapan yang diberikan Nabi Muhammad Saw.

B. pengawasan syariat Islam yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. C. petunjuk Nabi Muhammad Saw, yang berkaitan dengan syariat Islam D. ucapan Nabi Muhammad Saw, yang berhubungan dengan syariat Islam E. isyarat yang diberikan kepada Nabi Saw, berkaitan dengan syariat Islam 23.

Nabi Muhammad Saw, mencontohkan tata cara shalat, haji dan puasa. Hal itu dikategorikan sebagai sunnah …. A. qauliyah B. fi’liyah C. sifatiyah D.

khuluqiyah E. taqririyah 24. Penggunaan kata-kata atau dalam hadis Nabi Saw merupakan karakteristik sunnah …. A. qauliyah B. fi’liyah C. sifatiyah D. hammiyah E. taqririyah 25. Dari bermacam-macam sunnah tersebut, yang menempati urutan pertama, yang kualitasnya paling tinggi adalah sunnah …. A. hammiyah B. sifatiyah C. taqririyah D. fi’liyah E. qauliyah 26. Suatu perbuatan yang dikehendaki Nabi Saw tetapi belum sempat dikerjakan disebut sunnah ….

A. qauliyah B. fi’liyah C. hammiyah D. taqririyah E. sifatiyah 27. Terjemahan dari hadis berikut adalah …. A. berdo’alah kalian sebagaimana melihat aku berdo’a B. ambillah manasik dariku C. shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat D. shalatlah kalian karena shalat tiang agama E.

shalatlah kalian sebelum kalian dishalati 28. Rawi hadis di atas (no. 7) adalah …. A. Bukhari B. Muslim C. Bukhari dan Muslim D. Tirmizi E. Nasa’i 29. Perintah untuk melaksanakan puasa sunnah pada tanggal 9 Muharram merupakan isyarat dari sunnah ….

A. qauliyah Pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga. fi’liyah C. taqririyah D. hammiyah E. sifatiyah 30. Sahabat Nabi Muhammad Saw, yang mewakili sahabat menanyakan memakan daging biawak (dab) adalah … A.

Khalid ibn Mughirah B. Abdullah ibn mas’ud C. Abdullah ibn Umar D. Abdullah ibn Abbas E. Khalid ibn Walid 31. Ulama’ hadis sulit sekali membedakan antara hadis Shahih dan Hasan dan di kalangan ahli hadis pada umumnya hanya membedakan pada sisi. A. Ke dabitan para rawinya B. Keadilan rawinya C. Ketegasan rawinya D. Status sosial rawinya E.

Istiqomah rawinya 32. Hadis dari satu segi dapat ditinjau dari dua sisi yaitu sisi kuantitasnya dan kualitasnya. Adapun yang dimaksud dengan tinjauan pada sisi kuantitasnya adalah . A. Melihat dari sisi kandungan hadis B. Mengkaji dari sisi sejarahnya C. Mengkaji suatu hadis dari sisi banyaknya rawi D. Melihat dari sisi apakah hadis tersebut dapat diterima atau ditolak E. Melihat pada sisi sanat dan matan hadis 33. Hadis dari satu segi dapat ditinjau dari dua sisi yaitu sisi kuantitasnya dan kualitasnya.

Adapun yang dimaksud dengan tinjauan pada sisi kualitasnya adalah . A. Mengkaji suatu hadis dari sisi banyaknya rawi B. Melihat dari sisi kandungan hadis C. Mengkaji dari sisi sejarahnya D. Melihat dari sisi apakah hadis tersebut dapat diterima atau ditolak E. Melihat pada sisi sanat dan matan hadis 34.

Di bawah ini adalah salah satu pokok pikiran yang terdapat pada definisi Hadis mutawatir …. A. Rawinya dari para sahabat yang terpilih dan terjaga hafalannya B. Jumlah rawinya banyak dan mereka mustahil sepakat untuk berdusta C. Rawi dari generasi tabi’in bertemu dengan sahabat minimal sudah baligh D. Rawi yang meriwayatkan hadis semua harus laki-laki E. Jumlah Tingkatan pada sahabat minimal dua orang 35. Imam Syafi’i berpendapat bahwa sebuah hadis dapat dikatagorikan sebagai hadis mutawatir apabila jumlah rawi pada tiap tingkatan minimal….

A. 4 orang B. 5 orang C. 20 orang D. 40 orang E. 100 orang 36. Jumhur Ulama bersepakat bahwa hukum menggunakan dan mempercayai hadis mutawatir adalah.

A. mubah B. jaiz C. wajib D. sunnah E. mustahabbah 37. Yang disebut Hadis mutawatir adalah apabila suatu hadis diriwayatkan oleh . A. Banyak rawi B. Satu rawi C. Dua rawi D. Minimal dua rawi E. Imam Bukhari, Imam Muslim dan abu Daud 38. Salah satu jenis hadis ahad adalah hadis masyhur. adapun hadis masyhur adalah yang diriwayatkan oleh rawi. A. Satu B. Dua C. Tiga D. Empat E. Lima 39. Hadis yang menjadi shahih karena ada riwayat lain atau keterangan lain yang menguatkan disebut hadis.

A. Shahih lizatihi B. Hasan C. Hasan li ghairihi D. Shahih E. Shahih li ghairihi 40. Apabila anda menjumpai sebuah hadis dan setelah anda teliti ternyata hanya diriwayatakan oleh hanya satu orang rawi saja maka hadis tersebut dikatagorikan sebagai hadis . A. Masyhur B. Aziz C. Shahih D. Dha’if E.

Garib 41. Kata Ù†ُسُÙƒِÙ‰ pada QS. al-An’am [6] ayat 162 artinya. A. Shalatku B. Hidupku C. Matiku D. Ibadahku E. Amalanku 42. Kata shalat disebut lagi setelah kata nusuk (ibadah), padahal shalat juga termasuk ibadah hal demikian menurut ahli tafsir bermakna.

A. Shalat sebagai kewajiban B. Pentingnya shalat dalam kehidupan manusia C. Shalat adalah tujuan hidup D. Shalat merupakan ibadah wajib E. Shalat dilakukan secara rutin 43. Memberi makna ikhlas yang paling tepat adalah …. A. Melakukan aktivitas tanpa minta imbalan apapun B. Melakukan kegiatan yang yaitu …. untuk orang lain C. Menolong sesama manusia yang paling memerlukan D. Menyelamatkan manusia dari dari kesesatan E.

Usaha memurnikan dan menyucikan hati supaya benar-benar terarah kepada Allah 44. Arti dari kata Ù…ُØ®ْÙ„ِصِينَ yang tepat dari sisi bahasa adalah …. A. Orang-orang yang ikhlas B. Orang-orang yang hatinya hanya munajat kepada Allah C.

Orang-orang yang hanya berserah diri kepada Allah D. Orang yang masih dihinggapi pamrih E. Orang yang mencoba membersihkan perbuatannya dari pamrih 45. Merupakan salah satu syarat diterimanya suatu ibadah, di antaranya …. A.

Ikhlas B. Adanya semangat C. Konsentrasi D. Terjaga dari pengaruh sikap jelek E. Memiliki niat yang kuat 46. Dalam Surah al-An’am [6]: 162, Allah memerintahkan kepada manusia agar seluruh amalannya bernilai ibadah, Hal ini bisa dilakukan dengan niat …. A. Harus jelas tujuan ibadah yang dikerjakan B. Harus sesuai dengan kondisinya dan situasi C. Hanya untuk mencari ridha Allah D. Untuk mendapat petunjuk yang lurus dari Allah E.

Untuk mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat 47. Arti kata ÙˆَبِØ°َٰÙ„ِÙƒَ Ø£ُÙ…ِرْتُ pada QS, al-An’am [6]: 163 adalah…. A. Demikianlah kita diperintahkan al-Qur’an B. Demikianlah perintah Allah menjadi jelas C. Demikianlah Allah memerintahkan D. Demikianlah yang diperintahkan kepadaku E. Demikianlah ketentuan yang diberikan Allah 48. Kandungan yang terdapat QS. al-Bayyinah [98] Ayat 5, bahwa ibadah seseorang dapat diterima jika disertai….

A. Kesungguhan dan tidak putus asa B. Pengulangan yang aktif dan tekun C. Ikhlas D. Sabar dan tawakkal E. Khusyuk dan tawaddhu’ 49. Arti kata دِينُ ٱلْÙ‚َÙŠِّÙ…َØ©ِ pada QS. al-Bayyinah [98] Ayat 5 adalah…. A. Agama yang benar B. Agama yang baik C. Agama yang jelas D. Agama yang murni E. Agama yang lurus 50. Arti kata yang bergaris bawah pada potongan hadis berikut adalah. A. Mengerjakannya B. Membiarkannya C.

Menyenanginya Yaitu …. Membiasakannya E. Menekuninya B. Jawablah pertanyaan-pertanyaan dibawah ini dengan benar ! 1. Apa yang dimaksud sunnah menurut istilah? 2. Uraikan perbedaan hadis, sunnah, khabar dan atsar! 3. Jelasakan perbedaan antara al-Qur’an dan hadis! 4 Apa yang dimaksud dengan sanad ? 5 Apa yang dimaksud dengan 6 Sebutkan syarat-syarat yang harus dimiliki oleh seorang rawi hadis!

7. Apa yang dimaksud Sunnah Qauliyah, Sunnah fi’liyah dan sunah hammiyah menurut istilah? 8.

Tuliskan contoh hadis yang termasuk kategori sunnah fi’liyah? 9. Bedakan antara sunnah fi’liyah dan sunnah taqririyah! 10. Apa yang dimaksud dengan hadis mutawatir. Jelaskan dari segi bahasa dan istilah! 11. Sebutkan syarat-syarat yang harus dipenuhi supaya hadis suatu hadis dapat dikatagorikan sahih ! 12. Jelaskan kedudukan hadis mutawatir menurut jumhur ulama! 13. Jelaskan pengertian ikhlas dalam beribadah!

14. Jelaskan pengertian ibadah! 15. Jelaskan kandungan QS. Al-Bayyinah ayat 5! Kunci Jawaban Pilihan ganda 1. C 2. D 3. D 4. A 5. E 6. E 7. A 8. D 9. B 10. D 11. A 12. D 13. B 14. E 15. B 16. C 17. B 18. A 19. C 20. E 21. A 22. D 23. B 24.

B 25. E 26. C 27. C 28. A 29. D 30. E 31. A 32. C 33. D 34. B 35. B 36. C 37. A 38. C 39. E 40. E 41. D 42. B 43.

E 44. E 45. A 46. C 47. A 48. C 49. E 50. D Uraian 1. Sunnah secara terminologi adalah Segala yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw, baik berupa perkataan, perbuatan, taqrir, tabiat, budi pekerti, maupun perjalanan hidupnya, baik sebelum beliau diangkat menjadi rasul maupun sesudahnya.

2. Menurut sebagian ulama, sunnah lebih luas dari hadis. Khabar selain dinisbahkan kepada Nabi Muhammad Saw, dapat juga dinisbahkan kepada sahabat dan tabiin.

Khabar lebih umum dari hadis, karena masuk didalamnya semua riwayat yang bukan dari Nabi Muhammad Saw, Atsar lebih sering digunakan untuk sebutan bagi perkataan sahabat Nabi Muhammad Saw, meskipun kadang-kadang dinisbahkan kepada beliau. 3. Perbedaan dari segi bahasa dan makna.

- Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa dan maknanya langsung dari Allah Swt. - Hadis adalah bahasadan maknanya dari Nabi Saw. Perbedaan dari segi periwayatan - Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan dengan maknanya saja sebab dapat mengurangi kemukjizatannya - Hadis boleh diriwayatkan dengan maknanya saja. Yang terpenting dalam hadis adalah penyampaian maksudnya. Perbedaan dari segi kemukjizatan. - Al-Qur’an baik lafal maupun maknanya merupakan mukjizat. - Hadis bukan merupakan mukjizat.

Perbedaan dari segi nilai membacanya. - Al-Qur’an diperintah untuk dibaca, baik pada waktu shalat (wajib membaca Surah al-Fatihah) maupun di luar shalat sebagai ibadah, baik orang yang membacanya itu mengerti maksudnya maupun tidak - hadis dilarang dibaca ketika shalat dan membacanya tidak dinilai ibadah. Yang terpenting dalam hadis adalah untuk dipahami, dihayati dan diamalkan.

4. Sanad dari segi bahasa, berarti artinya yang menjadi sandaran, tempat bersandar, arti yang lain sesuatu yang dapat dipegangi atau dipercaya. Dalam istilah ilmu hadis, sanad ialah rangkaian urutan orang orang yang menjadi sandaran atau jalan yang menghubungkan satu hadis atau sunnah sampai pada Nabi Saw. 5. Secara etimologi, matan berarti Punggung jalan, Yaitu …. gersang atau tandus, membelah, mengeluarkan, mengikat. Matan menurut istilah ilmu hadis adalah perkataan yang disebut pada akhir sanad, yakni sabda Nabi Saw, yang disebut sesudah habis disebutkan sanadnya.

6. Syarat-syarat rawi hadis: - Adil - Muslim - Baligh - Berakal - Tidak pernah melakukan perbuatan dosa besar dan - Tidak sering melakukan dosa kecil. - Dhobit 7. Sunnah qauliyah adalah Sunnah Qauliyah adalah bentuk perkataan atau ucapan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, yang berisi berbagai tuntunan dan petunjuk syarak, peristiwa-peristiwa atau kisahkisah, baik yang berkenaan dengan aspek akidah, syariah maupun akhlak.

Sunnah fi’liyah adalah segala perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, Sunnah fi’liyah juga dapat maknakan sunnah Nabi yang berupa perbuatan Nabi yang diberitakan oleh para sahabat mengenai soal soal ibadah dan lain-lain seperti melaksanakan shalat manasik haji dan lain-lain.

Sunnah Hammiyah ialah: suatu yang dikehendaki Nabi Saw, tetapi belum dikerjakan. 8. Contoh sunnah fi’liyah : “Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat.” (HR. Al-Bukhari) “Ambillah manasik (tata cara melaksanakan haji) yaitu ….

dariku.” (HR. Muslim) 9. Sunnah fi’liyah adalah segala perbuatan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, sedangkan sunnah Taqririyah adalah sunnah yang berupa ketetapan Nabi Muhammad Saw, terhadap apa yang datang atau dilakukan para sahabatnya. Dengan kata lain sunnah taqririyah, yaitu sunnah Nabi yang berupa penetapan Nabi terhadap perbuatan para sahabat yang diketahui Nabi tidak menegurnya atau melarangnya bahkan Nabi cenderung mendiamkannya. 10. Kata Mutawatir secara etimologi berarti Muttabi’ yang artinya yang datang beturut-turut dan tidak ada jarak.

Sedangkan secara terminologi hadis mutawatir adalah hadis yang merupakan tanggapan pancaindera, yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk dusta.

11. Syarat-syarat hadis sahih sebagai berikut: yaitu …. Hadisnya musnad. Maksudnya yaitu hadis tersebut disandarkan kepada Nabi Saw, dengan disertai sanad. - Sanadnya bersambung. Artinya, antara rawi dari sanad hadis tersebut pernah bertemu langsung dengan gurunya. - Seluruh rawinya adil dan dabith. Maksud rawi yang adil yaitu rawi yang bertakwa dan menjaga kehormatan dirinya, serta dapat menjauhi perbuatan buruk dan pada umumnya para ulama mengklasifikasikan bentuk sunnah menjadi tiga besar seperti syirik, fasik, dan bid’ah.

Adapun yang dimaksud dengan dabith adalah kemampuan seorang rawi dalam menghafal hadis. - Tidak ada syak. Artinya, hadis tersebut tidak bertentangan dengan hadis dari rawi lain yang lebih kuat darinya. - Tidak ada ‘illah. Artinya, dalam hadis tersebut tidak ditemukan cacat yang merusak kesahihan hadis.

12. Menurut pendapat para ulama’ ahli hadis, bahwa tidak boleh ada keraguan sedikit pun dalam memakai hadis mutawatir. Hadis mutawatir harus diyakini dan dipercayai dengan sepenuh hati. Hal ini sama halnya dengan pengetahuan kita tentang adanya udara, angin, panas, dingin, air, api dan jiwa, yang tanpa membutuhkan penelitian ulang kita sudah percaya akan keberadaannya.

Jadi, dengan kata lain nahwa hukum hadis mutawatir adalah bersifat qath’i (pasti). 13. Ikhlas berarti melaksanakan perbuatan semata mata untuk mendapatkan ridha Allah Swt., tidak bercampur dengan hal-hal lain. Dalam menjalankan ibadah, seseorang tersebut tidak memasukkan unsur unsur yang dapat mengurangi nilai ibadah, misalnya riya’, karena riya’ walaupun sedikit akan mengurangi nilai ibadah tersebut dan tidak dapat dikatakan ikhlas.

14. Dari segi bentuknya, ibadah dibedakan menjadi 5, yaitu: Ibadah qauliyah (ucapan), Ibadah jismiyah (fisik), Ibadah maliyah(melibatkan harta), Ibadah qauliyah wa jismiyah (ucapan dan perbuatan), ibadah qauliyah, jismiyah, dan maliyah. Ditinjau dari cakupannya, ibadah dibedakan menjadi dua, yaitu: - Ibadah ‘ammah (umum) atau ghairu mahiah, yaitu segala perbuatan yang dilakukan semata-mata karena Allah Swt., untuk mendapatkan rida-Nya. - Ibadah khassah (khusus) atau ibadah ibadah mahiah., yaitu ibadah yang telah ditetapkan oleh nash tentang kaifiyah (tata cara) pelaksanaanya.

15. Kandungan surat al-Bayyinah [98] ayat 5 adalah sebagai berikut: - Perintah untuk beribadah kepada Allah Swt., dan menaati ajaran Allah Swt dengan lurus - Sebagai seorang muslim, wajib hukumnya untuk mendirikan shalat lima waktu dalam sehari semalam.

- Perintah untuk menunaikan zakat. Oleh karena itu, dalam setiap harta ada hak Allah Swt yang harus dikeluarkan untuk orang yang berhak menerimanya.

Terima Kasih Atas Kunjungannya. Kunjungilah selalu www.bacaanmadani.com semoga bermanfaat. Aamiin.
unit 18. Pada sore hari, Alif dan teman-temannya bermain sepak bola di lapangan. Saat sedar bermain, tanpa sengaja Alif menyenggol tubuh Ahmad hingga … terjatuh. Awalnya Ahmad marah pada Ali. Namun Ali segera membantu Ahmad bangun sambil mengucapkan istig meminta maaf pada Ahmad.

Akhirnya Ahmad tersenyum dan memaafkan Alif. Dari cerita di atas, hikmah yang dapat kita ambil dari kalimat istighfar adalah.​
As-Sunnah secara bahasa (etimologi) adalah jalan, peraturan, cara yang dibiasakan atau cara yang terpuji.

Sunnah lebih umum disebut dengan hadits yang mempunyai beberapa arti secara etimologis, yaitu : Qorib artinya dekat, Jadid artinya baru, dan Khobar yang artinya berita atau warta. Seperti dalam surah At-Tur : 34. Ayat ini diperkuat dengan hadits riwayat Abu Musa yang maknanya hampir sama.

Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala akan menangguhkan siksaannya bagi orang yang berbuat zhalim, apabila Allah telah menghukumnya maka dia tidak akan pernah melepaskannya. Kemudian Rasulullah Saw membaca ayat surat Huud : 102 (H.R Muslim) c.

Menetapkan hukum-hukum yang tidak didapati dalam Al-Qur’an. Contoh tentang larangan memadu istri dengan saudaranya. Firman Allah SWT dalam surah al-An Nisa’ ayat 23, dalam ayat tersebut hanya dijelaskan larangan terhadap suami untuk memadu istrinya dengan saudara perempuan si istri. Sedangkan dalam hadits Nabi juga dijelaskan yaitu larangan seorang seorang suami memadu istrinya dengan bibinya, baik dari pihak ibu maupun dari pihak ayah.

Sebagaimana dalam sabda Rosulullah : Umat islam telah sepakat bahwa apa yang keluar dari Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, atau taqriri, dan hal itu dimaksudkan sebagai pembentukan hukum-hukum islam dan sebagai tuntunan, serta diriwayatkan kepada kita dengan sanad yang shahih yang menunjukkan kepastian tentang kebenarannya maka ia menjadi hujjah atas kaum muslimin.

PENDAPAT ULAMA KONTEMPORER TERHADAP W4H4B1 SALAFI




2022 charcuterie-iller.com