Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Mohammad Hatta adalah seorang tokoh pahlawan Indonesia. Jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sangatlah besar bersama Soekarno, ia membacakan teks proklamasi Indonesia yang menandakan bahwa Indonesia telah merdeka. Tidak hanya dikenal sebagai Bapak Proklamator (orang yang memproklamasikan suatu hal atau bisa disebut kemerdekaan), beliau juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Setelah lulus dari ELS, Hatta melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaan kolonial Belanda di Indonesia. Sejak bersekolah di MULO, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Ia masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.

Di Jong Sumatranen Bond, Hatta menjadi bendahara, ia menyadari bahwa pentingnya arti keuangan bagi hidupnya suatu perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun sumbangan dari luar, mungkin lancar jika para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin.

Menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond membuatnya menerapkan sifat yang menjunjung tinggi rasa tanggung jawab dan disiplin. Pada tahun 1921, Hatta tiba di Belanda dan bersekolah di Handels Hoge School Rotterdam. Selama bersekolah di Belanda, beliau aktif dalam kegiatan organisasi dan ia masuk di organisasi sosial Indische Vereninging yang kemudian menjadi organisasi politik dengan adanya pengaruh Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusomo, dan Douwes Deker.

Pada tahun 1923, Hatta menjadi bendahara, tahun 1924, organisasi Indische Vereninging berganti nama menjadi Indonesische Vereniging (Perhimpunan Indonesia; PI). Ia juga mengasuh majalah Hindia Putera, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Pada tahun 1923, Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan).

Ia bermaksud muhammad hatta juga disebut sebagai bapak ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 ia non-aktif dalam Perhimpunan Indonesia.

Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Ia pun memasuki jurusan tersebot karena terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik. Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis.

Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh muhammad hatta juga disebut sebagai bapak. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada tanggal 25 September 1927, Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Madjid Djojohadiningrat ditangkap oleh penguasa Belanda atas tuduhan mengikuti partai terlarang yang dikait-kaitkan dengan Semaun, terlibat pemberontakan di Indonesia yang dilakukan PKI dari tahun 1926-1927, dan menghasut (opruiing) supaya menentang Kerajaan Belanda.

Pada tanggal 22 Maret 1928, Mahkamah Pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Dalam sidang tersebut, Hatta mengemukaan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama Indonesia Vrij, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka.

Setelah menjadi pemimpin di organisasi PI dari tahun 1926, akhirnya tahun 1931, Hatta mundur dari kedudukannya sebagai ketua karena hendak fokus mengikuti ujian sarjana dan menargetkan lulus pada tahun 1932. Kemundurannya tersebut mengakibatkan PI jatuh ke tangan komunis sehingga Hatta dikeluarkan dari organisasi tersebut karena pihak komunis mengecam keras kebijakan Hatta.

Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda, kemudian kembali ke tanah air dan tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia.

Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya. Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul Soekarno Ditahan (10 Agustus 1933), Tragedi Soekarno (30 November 1933), dan Sikap Pemimpin (10 Desember 1933).

Pada bulan Februari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dan Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto.

Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul Krisis Ekonomi dan Kapitalisme. Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua).

Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain. Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara.

Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.” Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI dibubarkan karena dianggap telah dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik, yaitu menyusun rancangan Undang-Undang Dasar bagi negara Indonesia Merdeka, dan digantikan dengan dibentuknya PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dengan Soekarno sebagai ketuanya.

Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Laksamana Maeda. Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Achmad Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik tersebut merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.

Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi ditandatangi oleh dua orang saja, yaitu Soekarno dan Mohammad Hatta. Setelah penantian muhammad hatta juga disebut sebagai bapak cukup panjang dan dengan diiringi dengan perjuangan yang keras untuk meraih kemerdekaan akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta.

Mendengar berita mengenai kemerdekaan Republik Indonesia membuat Pemerintah Belanda berkeingan kembali untuk menjajah Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville, namun selalu berakhir dengan kegagal karena kecurangan yang dilakukan oleh pihak Belanda. Pada tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari koperasi di Indonesia. Karena besarnya aktivitasnya dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 ia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung.

Pikiran-pikirannya mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971). Pada akhir tahun 1956, Hatta tidak sejalan lagi dengan Soekarno karena ia tidak ingin memasukkan unsur komunis dalam kabinet pada waktu itu. Sebelum ia mundur, ia mendapatkan gelar doctor honouris causa dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Sebenarnya gelar doctor honouris causa ingin diberikan pada tahun 1951. Namun, gelar tersebut baru diberikan pada 27 November 1956. Demikian pula Universitas Indonesia pada tahun 1951 telah menyampaikan keinginan itu tetapi Bung Hatta belum bersedia muhammad hatta juga disebut sebagai bapak. Kata dia, “Nanti saja kalau saya telah berusia 60 tahun.” Kemudian, pada 1 Desember 1956, Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak memutuskan untuk berhenti sebagai Wakil Presiden RI.

Bandar udara internasional Jakarta, Bandar Udara Soekarno-Hatta, menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya. Selain diabadikan di Indonesia, nama Mohammad Hatta juga diabadikan di Belanda yaitu sebagai nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder, Haarlem dengan nama Mohammed Hattastraat. Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta.

Sesudah Hatta melepaskan jabatannya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi.

Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkannya sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Pada tanggal 14 Maret 1980, Hatta meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta setelah sebelas hari ia dirawat di sana.

Dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta dan disambut dengan upacara kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakit Presiden pada saat itu, Adam Malik. Ia ditetapkan sebagai pahlawan proklamator pada tahun 1986 oleh pemerintahan Soeharto.

Informasi Biografi di atas ini kami sadur dari berbagai sumber, namun kami tidak menjamin akan kebenarannya. Jika ada kesalahan atau kekurangan dalam penulisan atau informasi yang kami sampaikan di atas kami mohon maaf dan berharap agar Anda bisa membetulkannya melalui kotak komentar atau bisa menghubungi kami melalui email kami. Terima kasih. Mohammad Hatta adalah seorang tokoh pahlawan Indonesia. Jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sangat besar bersama Soekarno, ia membacakan teks proklamasi Indonesia yang menandakan bahwa Indonesia telah merdeka.

Tidak hanya dikenal sebagai Bapak Proklamator (orang yang memproklamasikan suatu hal atau bisa disebut kemerdekaan), beliau juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Biodata Mohammad Hatta Sumber: Kompas.com Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Indonesia. Beliau lahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha, ia lahir dengan nama Muhammad Athar. Beliau merupakan anak kedua dari dua bersaudara, kakaknya Rafiah yang lahir pada tahun 1900.

Ayahnya adalah seorang keturunan ulama tarekat di Batuhampar, sedangkan ibunya berasal dari Minangkabau. Sejak kecil, Hatta sudah dididik dengan baik oleh keluarganya yang khususnya dalam ajaran agama Islam.

Kakek dari ayahnya yang bernama Abdurajman dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar. Saat Hatta berusia 7 bulan, ayahnya meninggal dunia. Setelah kematian ayahnya, ibunya menikah dengan Agus Haji Ning, seorang pedagan dari Palembang.

Dari pernikahan Agus Haji Ning dengan Siti Saleha, mereka mempunya empat orang anak, yang semuanya berjenis kelamin perempuan. Hatta mulai mengenyam pendidikan formal di sekolah rakyat. Namun, ia berhenti di sekolah tersebut dan pindah ke ELS (Europeesche Lagere School) yang merupakan Sekolah Dasar ada zaman kolonial Belanda di Indonesia. Beliau bersekolah di ELS sampai tahun 1913.

Setelah lulus dari ELS, Hatta melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) adalah Sekolah Menengah Pertama pada zaan kolonial Belanda di Indonesia. Sejak bersekolah di MULO, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, dan Jong Ambon. Ia masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond. Di Jong Sumatranen Bond, Hatta menjadi bendahara, ia menyadari bahwa pentingnya arti keuangan bagi hidupnya suatu perkumpulan.

Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun sumbangan dari luar, mungkin lancar jika para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Menjadi bendahara di Jong Sumatranen Bond membuatnya menerapkan sifat yang menjunjung tinggi rasa tanggung jawab dan disiplin. Riwayat Studi di Belanda Pada tahun 1921, Hatta tiba di Belanda dan bersekolah di Handels Hoge School Rotterdam.

Selama bersekolah di Belanda, beliau aktif dalam kegiatan organisasi dan ia masuk di organisasi sosial Indische Vereninging yang kemudian menjadi organisasi politik dengan adanya pengaruh Ki Hajar Dewantara, Cipto Mangunkusomo, dan Douwes Deker. Pada tahun 1923, Hatta menjadi bendahara, tahun 1924, organisasi Indische Vereninging berganti nama menjadi Indonesische Vereniging (Perhimpunan Indonesia; PI). Ia juga mengasuh majalah Hindia Putera, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota.

Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Pada tahun 1923, Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan). Ia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 ia non-aktif dalam Perhimpunan Indonesia. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif. Ia pun memasuki jurusan tersebot karena terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik.

Pada tahun 1926, Hatta menjadi pimpinan Perhimpunan Indonesia. Saat dipimpin oleh-nya, organisasi ini berkembang sangat baik. Perhimpunan ini lebih banyak memperhatikan perkembangan pergerakan di Indonesia dengan memberikan banyak komentar, dan banyak ulasan di media massa di Indonesia.

Perhimpunan Indonesia melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres Intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi tersebut.

Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis. Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional. Pada Desember 1926, Semaun dari PKI datang kepada Hatta untuk menawarkan pimpinan pergerakan nasional secara umum kepada PI, selain itu ia dan Semaun membuat suatu perjanjian bernama “Konvensi Semaun-Hatta”.

Inilah yang dijadikan alasan Pemerintah Belanda ingin menangkap Hatta. Pada saat itu Hatta belum menyetujui paham komunis. Stalin membatalkan keinginan Semaun, sehingga hubungan Hatta dengan komunisme mulai memburuk. Sikap Hatta ini ditentang oleh anggota PI yang sudah dikuasai komunis. Pada tahun 1927, Hatta mengikuti sidang “Liga Menentang Imperialisme, Penindasan Kolonial dan untuk Kemerdekaan Nasional” di Frankfurt.

Dalam sidang ini, pihak komunis ingin menguasai sidang ini, sehingga Hatta tidak bisa percaya terhadap komunis. Pada tahun yang sama, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi “Liga wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan). Pada tanggal 25 September 1927, Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Madjid Djojohadiningrat ditangkap oleh penguasa Belanda atas tuduhan mengikuti partai terlarang yang dikait-kaitkan dengan Semaun, terlibat pemberontakan di Indonesia yang dilakukan PKI dari tahun 1926-1927, dan menghasut (opruiing) supaya menentang Kerajaan Belanda.

Pada tanggal 22 Maret 1928, Mahkamah Pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala tuduhan. Dalam sidang tersebut, Hatta mengemukaan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama Indonesia Vrij, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Merdeka. Setelah menjadi pemimpin di organisasi PI dari tahun 1926, akhirnya tahun 1931, Hatta mundur dari kedudukannya sebagai ketua karena hendak fokus mengikuti ujian sarjana dan menargetkan lulus pada tahun 1932.

Kemundurannya tersebut mengakibatkan PI jatuh ke tangan komunis sehingga Hatta dikeluarkan dari organisasi tersebut karena pihak komunis mengecam keras kebijakan Hatta.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Kembali ke Indonesia Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda, kemudian kembali ke tanah air dan tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat dan melakukan berbagai kegiatan politik. Terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia.

Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya. Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul Soekarno Ditahan (10 Agustus 1933), Tragedi Soekarno (30 November 1933), dan Sikap Pemimpin (10 Desember 1933).

Pada bulan Februari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Syahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak dan Cipinang, Jakarta.

Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul Krisis Ekonomi dan Kapitalisme. Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua). Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira. Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr.

Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain. Pada tanggal 3 Februari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta. Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat.

Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan.

Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali.

Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia lebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.” Proklamasi Indonesia Jepang telah berjanji akan membantu proses kemerdekaan Indonesia dengan membentuk sebuah badan yang bernama BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dibentuklah badan ini untuk membantu Indonesia dalam proses menuju kemerdekaan dengan Soekarno sebagai ketunya.

Pada tanggal 7 Agustus 1945, BPUPKI dibubarkan karena dianggap telah dapat menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tugas tersebut yaitu menyusun rancangan Undang-Undang Dasar bagi negara Indonesia Merdeka, dan digantikan dengan dibentuknya PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dengan Soekarno sebagai ketuanya.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengadakan rapat di rumah Laksamana Maeda. Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Achmad Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik tersebut merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.

Sehari sebelum hari kemerdekaan dikumandangkan tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945 muhammad hatta juga disebut sebagai bapak, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi muhammad hatta juga disebut sebagai bapak rapat di rumah Laksama Maeda, yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Soekarno, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan. Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas.

Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi ditandatangi oleh dua orang saja, yaitu Soekarno dan Mohammad Hatta.

Setelah penantian yang cukup panjang dan dengan diiringi dengan perjuangan yang keras untuk meraih kemerdekaan akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 WIB di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Hatta. Menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia Setelah memproklamasikan kemerdekaan bersama Soekarno, pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno diangkat menjadi Presiden Republik Indonesia sedangkan Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia.

Pada tanggal 18 November 1945, Hatta menikah dengan Rahmi Hatta di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat. Kemudia mereka bertempat tinggal di Yogyakarta. Mereka dikaruniai 3 orang anak perempuan yang bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta. Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Mendengar berita mengenai kemerdekaan Republik Indonesia membuat Pemerintah Belanda berkeingan kembali untuk menjajah Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Renville, namun selalu berakhir dengan kegagal karena kecurangan yang dilakukan oleh pihak Belanda. Pada bulan Juli 1947, Hatta pergi ke untuk mencari dukungan luar negeri, ia pergi ke India dan menemui Jawaharial Nehru dan Mahatma Gandhi.

Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum. Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konperensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana.

Menjadi Bapak Koperasi Indonesia Hatta aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Ia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi. Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Pada tanggal 12 Juli 1951, Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari koperasi di Indonesia. Karena besarnya aktivitasnya dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 ia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung.

Pikiran-pikirannya mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971). Pada akhir tahun 1956, Hatta tidak sejalan lagi dengan Soekarno karena ia tidak ingin memasukkan unsur komunis dalam kabinet pada waktu itu. Sebelum ia mundur, ia mendapatkan gelar doctor honouris causa dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Sebenarnya gelar doctor honouris causa ingin diberikan pada tahun 1951. Namun, gelar tersebut baru diberikan pada 27 November 1956. Demikian pula Universitas Indonesia pada tahun 1951 telah menyampaikan keinginan itu tetapi Bung Hatta belum bersedia menerimanya. Kata dia, “Nanti saja kalau saya telah berusia 60 tahun.” Kemudian, pada 1 Desember 1956, Hatta memutuskan untuk berhenti sebagai Wakil Presiden RI.

Penghargaan Bandar udara internasional Jakarta, Bandar Udara Soekarno-Hatta, menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya. Selain diabadikan di Indonesia, nama Mohammad Hatta juga diabadikan di Belanda yaitu sebagai nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder, Haarlem dengan nama Mohammed Hattastraat.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Sesudah Hatta melepaskan jabatannya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkannya sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi.

Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum. Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul Menuju Negara Hukum. Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara. Meninggal Dunia Pada tanggal 14 Maret 1980, Hatta meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta setelah sebelas hari ia dirawat di sana.

Dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta dan disambut dengan upacara kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakil Presiden pada saat itu, Adam Malik. Ia ditetapkan sebagai pahlawan proklamator pada tahun 1986 oleh pemerintahan Soeharto. Setelah wafat, Pemerintah memberikan gelar Pahlawan Proklamator kepada Hatta pada 23 Oktober 1986 bersama dengan mendiang Soekarno. Pada 7 November 2012, Hatta secara resmi bersama dengan Soekarno ditetapkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Pahlawan Nasional.
Siapa Bapak Koperasi Indonesia?

Berikut Sejarah, Landasan, Asas, dan Tujuannya Tahun ini, terjadilah sebuah perundingan penting, KMB yang diadakan di sesudah berunding selama 3 bulan, pada 27 Desember 1949 kedaulatan NKRI kita miliki untuk selamanya. Soekarno Presiden pertama Republik Indonesia ini bernama Soekarno, atau mungkin kita lebih akrab mendengar panggilan Bung Karno.

Diakses tanggal 14 Juni 2017. • Sehingga pada akhirnya negara Indonesia menjadi negara RISBung Hatta terpilih menjadi Perdana Menteri RIS juga merangkap sebagai Menteri Luar Negeri RIS dan berkedudukan di Jakarta dan Bung Karno menjadi Presiden RIS. Biografi Mohammad Hatta Bapak Koperasi Indonesia Meskipun dijuluki sebagai Bapak Koperasi, Bung Hatta bukanlah pelopor berdirinya koperasi di negeri ini. Ia menolak bekerja sama dengan penguasa setempat, misalnya memberantas malaria.

Next • Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Mengapa Bung Hatta Disebut Sebagai Bapak Koperasi? Panitia yang hanya terdiri dari Soekarno, Hatta, Achmad Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Melik tersebut merumuskan teks proklamasi yang akan dibacakan keesokan harinya dengan tanda tangan Soekarno dan Hatta atas usul Soekarni.

Next • Pada tahun 1924, organisasi ini berubah nama menjadi Indische Vereniging Perhimpunan Indonesia; PI. Biografi Mohammad Hatta Bapak Koperasi Indonesia Ini mendorong Hatta dan yang pada saat itu sedang bersekolah di Belanda untuk mengambil langkah konkret untuk mempersiapkan kepemimpinan di sana. Next • Saat Jepang menduduki Indonesia, Hatta dibebaskan dan dijadikan penasihat oleh pemerintahan Jepang.

Siapa Bapak Koperasi Indonesia? Berikut Sejarah, Landasan, Asas, dan Tujuannya Ia juga dijuluki sebagai "Bapak Republik Indonesia", karena ia adalah tokoh pertama yang mengemukakan konsep negara Indonesia dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia Menuju Republik Indonesia pada tahun 1924, mendahului konsep Hatta dan Soekarno. Waktu itu, sudah ada dan Iwa Kusumasumantri.

Hatta dan tokoh nasional lainnya menyusun naskah proklamasi yang akhirnya dibacakan pada 17 Agustus 1945. Next • Beberapa ideologi terkemuka lainnya yang masih dilestarikan adalah Marhaenisme dan Trisakti. Mohammad Hatta Namun, pemberitaan di Indonesia mengatakan bahwa Hatta menerima kedudukan tersebut, sehingga Soekarno menuduhnya tidak konsisten dalam menjalankan sistem non-kooperatif. Meskipun telah merdeka, namun tidak membuat Hatta berhenti berjuang.

Next • Hatta dan Sjahrir menghabiskan delapan tahun hidupnya di tempat pengasingan. Dr.(HC) Drs. H. Mohammad Hatta adalah tokoh pejuang, pahlawan nasional, negarawan, ekonom dan Wakil Presiden Indonesia yang pertama.

Dulu lahirnya dengan nama Mohammad Athar yang sekarang lebih populer dijuluki sebagai Bung Hatta. Beliau lahir pada tanggal 12 Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak 1902 di Fort de Kock yang sekarang lebih dikenal dengan nama Bukittinggi di Provinsi Sumatra Barat.

Beliau meninggal di Jakarta pada tanggal 14 Maret 1980 di usia 77 tahun. Bersama dengan Bung Karno, beliau memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari era penjajahan sekaligus memproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bung Hatta juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri mulai dari Kabinet Hatta I hingga RIS. Kemudian Bung Hatta mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956 karena ada perselisihan pendapat dengan Presiden Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak.

Selain peran yang sudah disebutkan di kalimat pertama, Hatta juga berjasa dalam memajukan koperasi di Indonesia. Sehingga Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Sebagai penghargaan untuk menghargai jasa Bung Hatta, namanya sangat sering diabadikan di berbagai tempat. Contohnya seperti bandara internasional Tangerang Banten yang bernama Bandar Udara Soekarno-Hatta.

Pada tanggal 14 Maret 1980, Hatta menghembuskan nafas terakhir dan dimakamkan di Tanah Kusir di Jakarta. Bung Hatta diangkat menjadi salah satu Pahlawan Proklamator Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986 yang pada waktu itu Indonesia di bawah pemerintahan Suharto.

Disebut pahlawan proklamator karena termasuk orang yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Termasuk membuat teks kemerdekaan yang mengandung makna proklamasi kemerdekaan Indonesia.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Sehingga beliau termasuk pahlawan nasional Indonesia dari Sumatera Barat. Selain Muhammad Hatta, anda perlu mengetahui biodata pahlawan kemerdekaan yang lain.

Kehidupan di Masa Muda Muhammad Hatta Mohammad Hatta lahir di Fort De Kock pada tanggal 12 Agustus 1902.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Ayahnya bernama Muhammad Djamil dan ibunya bernama Siti Saleha yang berasal dari Minangkabau. Ayahnya adalah keturunan dari ulama tarekat di Batuhampar yang masih termasuk Sumatra Barat.[5] Sedangkan latar muhammad hatta juga disebut sebagai bapak ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi.

Sebenarnya, Hatta lahir dengan nama Muhammad Athar.Athar adalah Bahasa Arab berarti harum. Sejak kecil Hatta sangat dekat dengan lingkungan yang taat menjalankan ajaran agama Islam. Ayah Hatta meninggal saat dia umur tujuh bulan. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah dengan seorang pedagang dari Palembang bernama Agus Haji Ning.

S ejarah Islam di Indonesia memiliki cerita yang panjang. Khususnya perkembangan Islam di Bukittinggi yang pesat membuat Hatta menjadi orang yang sangat religius. Mohammad Hatta pertama kali memasuki dunia pendidikan di sekolah muhammad hatta juga disebut sebagai bapak. Setelah enam bulan, Hatta pindah ke sekolah rakyat. Hatta lalu pindah ke ELS di Padang sampai tahun 1913. Lalu lanjut ke MULO hingga tahun 1917. Selain pengetahuan umum, ia telah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad dan banyak ulama lainnya.

Hatta juga tertarik terhadap perekonomian. Di Padang, ia juga aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara. Pada tanggal 18 November 1945, Hatta melangsungkan pernikahan dengan Rahmi Hatta.

Tiga hari setelah menikah mereka pindah dan bertempat tinggal di Yogyakarta. Dari pernikahan mereka dikarunai tiga anak perempuan yang diberi nama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi’ah Hatta dan Halida Nuriah Hatta. Pergerakan Muhammad Hatta di Belanda Hatta memulai Pergerakan politiknya ketika dia mulai bersekolah di Belanda dari 1921 hingga 1932.

Hatta bersekolah di Handels Hogeschool dan selama bersekolah di sana, ia masuk organisasi sosial Indische Vereeniging yang awalnya organisasi biasa dan kini berubah menjadi organisasi politik setelah adanya pengaruh dari Tiga Serangkai yaitu Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker. Pada tahun 1923, Hatta menjadi bendahara dan mengelola majalah Hindia Putera yang lalu berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.[16] Pada tahun 1924, organisasi ini berubah nama menjadi Indische Vereeniging yang berarti Perhimpunan Indonesia.

Pada tahun 1926, ia diangkat menjadi pimpinan Perhimpunan Indonesia. Di bawah kepemimpinannya, PI mulai berubah. Perhimpunan ini lebih fokus mengamati perkembangan pergerakan di Indonesia dengan memberikan banyak ulasan dan banyak komentar di media massa di Indonesia. Pada tahun 1927, Hatta mengikuti sidang bertema “Liga Menentang Imperialisme, Penindasan Kolonial dan untuk Kemerdekaan Nasional” di Frankfurt, Jerman.

Dalam sidang ini, ada gelagat dari pihak komunis dan utusan dari Uni Soviet yang ingin menguasai sidang ini. Sehingga penilaian Hatta pada komunis menjadi negatif dan tidak bisa percaya terhadap komunis. Pada 25 September 1927, Hatta bersama Ali Sastroamijoyo ditangkap oleh penguasa Hindia Belanda atas tuduhan mengikuti partai terlarang yang berhubungan dengan Semaun. Dengan kata lain terlibat pemberontakan di Indonesia yang dilakukan PKI dari tahun 1926-1927 dan melakukan penghasutan supaya menentang Kerajaan Belanda.

Moh. Hatta sendiri mendapat muhammad hatta juga disebut sebagai bapak tiga tahun penjara. Tiga tokoh penting ini dipenjara di Rotterdam. Hingga akhirnya mereka bebas karena semua tuduhan tidak bisa dibuktikan. Sampai pada tahun 1931, Mohammad Hatta mundur dari kedudukannya ia berhenti dari PI karena ingin fokus skripsi. Tapi tetap akan membantu PI. Akibatnya, PI jatuh ke tangan komunis dan dikontrol langsung oleh partai komunis Belanda ditambah juga campur tangan dari Moskow.

Setelah tahun 1931, PI mengecam keras kebijakan Hatta dan Hatta ditendang keluar dari organisasi. Biografi Mohammad Hatta Diasingkan Belanda Sekembalinya Hatta dari Belanda, ia ditawari untuk masuk kalangan Sosialis Merdeka (Onafhankelijke Socialistische Partij, OSP). Sebenarnya dia menolak masuk, dengan alasan ia harus berada dan berjuang hanya untuk Indonesia. Namun, pemberitaan media di Indonesia waktu itu mengatakan bahwa Hatta bersedia menerima kedudukan tersebut.

sehingga Soekarno menuduhnya kurang konsisten. Kemudian, Hatta ditangkap Belanda dan dibuang ke Digul lalu dipindah ke Neira. Di pengasingannya, Hatta terus menulis tentang analisis dan mendidik pembaca. Selain menulis, dia juga aktif membaca. Sering kali juga Hatta diajak bekerja sama dengan penguasa setempat. Kalau mau dia diberi gaji tinggi dan kalau tidak mau, dia diberi gaji kurang. Gajinya tidak dia habiskan sendiri, tapi juga dibagi ke teman yang kekurangan. Hatta juga aktif bercocok tanam di tahanan.

Era Penjajahan Jepang Pada tanggal 8 Desember 1941, angkatan perang Jepang menghancurkan Pearl Harbor dan Ini memicu Perang Pasifik. Tentu saja serangan ini memicu perang pasifik dan perang meluas hingga ke Indonesia. Dalam keadaan seperti ini Pemerintah Belanda memerintahkan untuk memindahkan orang-orang buangan yang ada di Digul. Hatta dan Syahrir dipindahkan pada Februari 1942, ke Sukabumi setelah menginap sehari di Surabaya dan naik kereta api ke Jakarta.

Setelah itu Ia bertemu Mayor Jenderal Harada dan Harada menawarkan kerjasama dengan Hatta. Kalau mau, ia akan diberi jabatan penting. Jepang mengharapkan agar Hatta memberikan nasihat yang menguntungkan. Tapi Hatta memanfaatkan hal ini untuk membela kepentingan rakyat Indonesia. Biografi Mohammad Hatta: Kemerdekaan dan Wakil Presiden Bung Hatta dan para tokoh lain diundang ke Dalat (Vietnam) untuk dilakukan pelantikan sebagai Ketua dan Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Badan ini bertujuan untuk melanjutkan hasil kerja BPUPKI dan menyiapkan pemindahan kekuasaan dari pihak Jepang kepada Indonesia. Sejarah berdirinya BPUPKI sebenarnya juga merupakan cara Jepang untuk menarik simpati. Pelantikan dilakukan secara langsung oleh Panglima Jepang yang menguasai yaitu Asia Tenggara Jenderal Terauchi. Puncaknya pada 16 Agustus 1945, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok hari dimana Bung Hatta dan Bung Karno diculik kemudian dibawa ke sebuah rumah milik salah seorang pimpinan PETA yang berada di kota kecil Rengasdengklok.

Penculikan ini bertujuan untuk mempercepat tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Hingga akhirnya Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah peristiwa Rengasdengklok cukup rumit karena perbedaan pendapat.

Di masa mempertahankan kemerdekaan, sebagai Wakil Presiden, Bung Hatta amat gigih menyelamatkan Republik dengan cara mempertahankan naskah Linggarjati di Sidang Pleno KNIP di Malang yang diselenggarakan pada tanggal 25 Februari – 6 Maret 1947. Sejarah perjanjian Linggarjati mempunyai cerita yang kompleks.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Hasilnya, Persetujuan Linggajati diterima oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ketika saat terjadinya Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Hatta dapat meloloskan diri dari kepungan Belanda bersama dengan Gubernur Sumatra Mr. T. Hassan. Kemudian, Bung Hatta berhasil memperjuangkan Perjanjian Renville yang akhirnya jatuh jatuhnya Kabinet Amir dan digantikan oleh Kabinet Hatta.

Latar belakang Perjanjian Renville ini perlu diketahui. Pada era Kabinet Hatta yang dibentuk pada 29 Januari 1948, Bung Hatta menjadi Perdana Menteri dan juga merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan. Di akhir tahun 1956, Hatta sudah tidak sejalan lagi dengan Bung Karno karena dia tidak suka dengan politik memasukkan unsur komunis dalam kabinet pada waktu itu.

Sebelum mundur, dia mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada. Biografi Mohammad Hatta: Pensiun dan Wafat Hatta menghembuskan nafas terakhir tanggal 14 Maret 1980 pukul 18.56 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta muhammad hatta juga disebut sebagai bapak hampir dua minggu dia dirawat di sana.

Selama hidupnya, Bung Hatta telah dirawat di rumah sakit sebanyak enam kali hingga dia meninggal. Tepat keesokan harinya, Hatta disemayamkan di kediamannya Jalan Diponegoro 57, Jakarta lalu dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta.

Upacara pemakaman ini disambut dengan upacara kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakil Presiden pada era itu yaitu Adam Malik. Hatta ditetapkan sebagai pahlawan proklamator pada tahun 1986 oleh ketika Soeharto berkuasa. Pada 7 November 2012, Bung Karno dan Bung Hatta secara resmi diangkat sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Selain pahlawan nasional, Hatta juga termasuk tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia. Demikian informasi tentang Biografi Mohammad Hatta sang pahlawan proklamator sekaligus pahlawan nasional kita.

Biografi Mohammad Hatta perlu anda ketahui agar memahami kisah perjuangan Muhammad Hatta sejak dia lahir hingga, masa-masa perjuangan dan pergerakannya hingga beliau meninggal dan dimakamkan. Tidak hanya Sumatera Barat yang menghasilkan penyakit hebat. Pahlawan nasional Sumatera Utara juga cukup banyak.
( 61) Biografiku.com – Biografi Mohammad Hatta. Beliau terkenal sebagai salah satu pahlawan nasional dan tokoh Proklamator yang membawa Indonesia merdeka bersama Presiden Soekarno.

Mohammad Hatta merupakan tokoh yang sangat bersahaja dan sederhana hingga akhir hayatnya.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Peran Mohammad Hatta dalam merintis dan membawa Indonesia merdeka sangat besar. Tak heran banyak yang mengidolakannya. Daftar Isi • Biodata Mohammad Hatta • Biografi Mohammad Hatta Singkat • Masa Kecil • Belajar ke Belanda • Bergabung Dengan Perhimpunan Indonesia • Nama ‘Indonesia’ Oleh Mohammad Hatta • Mohammad Hatta Di Penjara • Kembali ke Indonesia • Di Penjara oleh Belanda • Di Buang Ke Boven Digoel, Papua • Kembali Ke Jakarta • Proklamasi Kemerdekaan Indonesia • Wakil Presiden Indonesia Pertama • Biografi Mohammad Hatta : Menjadi Perdana Menteri • Periode Tahun 1950-1956 • Mohammad Hatta Wafat Biodata Mohammad Hatta Nama : Dr.

Drs. H. Mohammad Hatta Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902 Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980 Agama : Islam Orang Tua : Muhammad Djamil (ayah), Siti Saleha (ibu) Istri : Rahmi Rachim Anak : Meutia Hatta, Halida Hatta, Des Alwi, Gemala Hatta Pendidikan : Universitas Erasmus Rotterdam Belanda Biografi Mohammad Hatta Singkat Banyak buku yang mengulas megenai Biografi dan Profil Mohammad Hatta. Disebutkan bahwa Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Di kota kecil yang indah inilah Bung Hatta dibesarkan di lingkungan keluarga ibunya yang bernama Siti Saleha.

Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Masa Kecil Mohammad Hatta Kecil (kanan) Mohammad Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Ia memulai pendidikan dasarnya di ELS (Europeesche Lagere School). Sejak duduk di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa.

dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond. Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta. Belajar ke Belanda Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam.

Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging.

Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI). Hatta juga mengusahakan agar majalah perkumpulan, Hindia Poetra, terbit secara teratur sebagai dasar pengikat antaranggota. Pada tahun 1924 majalah ini berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Mohammad Hatta Muda Hatta lulus dalam ujian handels economie (ekonomi perdagangan) pada tahun 1923. Semula dia bermaksud menempuh ujian doctoral di bidang ilmu ekonomi pada akhir tahun 1925. Karena itu pada tahun 1924 dia non-aktif dalam PI. Tetapi waktu itu dibuka jurusan baru, yaitu hukum negara dan hukum administratif.

Hatta pun memasuki jurusan itu terdorong oleh minatnya yang besar di bidang politik. Perpanjangan rencana studinya itu memungkinkan Hatta terpilih menjadi Ketua PI pada tanggal 17 Januari 1926. Pada kesempatan itu, ia mengucapkan pidato inaugurasi yang berjudul “ Economische Wereldbouw en Machtstegenstellingen” atau Struktur Ekonomi Dunia dan Pertentangan kekuasaan. Bergabung Dengan Perhimpunan Indonesia Dia mencoba menganalisis struktur ekonomi dunia dan berdasarkan itu, menunjuk landasan kebijaksanaan non-kooperatif.

Sejak tahun 1926 sampai 1930, berturut-turut Hatta dipilih menjadi Ketua PI. Di bawah kepemimpinannya, PI berkembang dari perkumpulan mahasiswa biasa menjadi muhammad hatta juga disebut sebagai bapak politik yang mempengaruhi jalannya politik rakyat di Indonesia. Sehingga akhirnya diakui oleh Pemufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPI) PI sebagai pos depan dari pergerakan nasional yang berada di Eropa.

PI melakukan propaganda aktif di luar negeri Belanda. Hampir setiap kongres intemasional di Eropa dimasukinya, dan menerima perkumpulan ini. Selama itu, hampir selalu Hatta sendiri yang memimpin delegasi. Nama ‘Indonesia’ Oleh Mohammad Hatta Pada tahun 1926, dengan tujuan memperkenalkan nama “Indonesia”, Hatta memimpin delegasi ke Kongres Demokrasi Intemasional untuk Perdamaian di Bierville, Prancis.

Tanpa banyak oposisi, “Indonesia” secara resmi diakui oleh kongres. Nama “Indonesia” untuk menyebutkan wilayah Hindia Belanda ketika itu telah benar-benar dikenal kalangan organisasi-organisasi internasional. BACA JUGA : Biografi Muammar Khadafi - Diktator Libya Hatta dan pergerakan nasional Indonesia mendapat pengalaman penting di Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial, suatu kongres internasional yang diadakan di Brussels tanggal 10-15 Pebruari 1927.

Di kongres ini Hatta berkenalan dengan pemimpin-pemimpin pergerakan buruh seperti G. Ledebour dan Edo Fimmen, serta tokoh-tokoh yang kemudian menjadi negarawan-negarawan di Asia dan Afrika seperti Jawaharlal Nehru (India), Hafiz Ramadhan Bey (Mesir), dan Senghor (Afrika).

Persahabatan pribadinya dengan Nehru mulai dirintis sejak saat itu. Pada tahun 1927 itu pula, Hatta dan Nehru diundang untuk memberikan ceramah bagi “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” di Gland, Swiss. Judul ceramah Hatta L ‘Indonesie et son Probleme de I’ Independence (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan). Mohammad Hatta Di Penjara Bersama dengan Nazir St.

Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojoadiningrat, Hatta dipenjara selama lima setengah bulan. Pada tanggal 22 Maret 1928, mahkamah pengadilan di Den Haag membebaskan keempatnya dari segala muhammad hatta juga disebut sebagai bapak.

Dalam sidang yang bersejarah itu, Hatta mengemukakan pidato pembelaan yang mengagumkan, yang kemudian diterbitkan sebagai brosur dengan nama “Indonesia Vrij”, dan kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai buku dengan judul Indonesia Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak. Antara tahun 1930-1931, Hatta memusatkan diri kepada studinya serta penulisan karangan untuk majalah Daulat Ra‘jat dan kadang-kadang De Socialist.

Ia merencanakan untuk mengakhiri studinya pada pertengahan tahun 1932. Kembali ke Indonesia Pada bulan Juli 1932, Hatta berhasil menyelesaikan studinya di Negeri Belanda dan sebulan kemudian ia tiba di Jakarta. Antara akhir tahun 1932 dan 1933, kesibukan utama Hatta adalah menulis berbagai artikel politik dan ekonomi untuk Daulat Ra’jat. Selain itu ia juga aktif melakukan berbagai kegiatan politik, terutama pendidikan kader-kader politik pada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Prinsip non-kooperasi selalu ditekankan kepada kader-kadernya.

Reaksi Hatta yang keras terhadap sikap Soekarno sehubungan dengan penahannya oleh Pemerintah Kolonial Belanda, yang berakhir dengan pembuangan Soekarno ke Ende, Flores, terlihat pada tulisan-tulisannya di Daulat Ra’jat, yang berjudul “Soekarno Ditahan” (10 Agustus 1933), “Tragedi Soekarno” (30 Nopember 1933), dan “Sikap Pemimpin” (10 Desember 1933).

Di Penjara oleh Belanda Pada bulan Pebruari 1934, setelah Soekarno dibuang ke Ende, Pemerintah Kolonial Belanda mengalihkan perhatiannya kepada Partai Pendidikan Nasional Indonesia. Para pimpinan Partai Pendidikan Nasional Indonesia ditahan dan kemudian dibuang ke Boven Digoel.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Seluruhnya berjumlah tujuh orang. Dari kantor Jakarta adalah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Bondan. Dari kantor Bandung: Maskun Sumadiredja, Burhanuddin, Soeka, dan Murwoto. Sebelum ke Digoel, mereka dipenjara selama hampir setahun di penjara Glodok dan Cipinang, Jakarta. Di penjara Glodok, Hatta menulis buku berjudul “Krisis Ekonomi dan Kapitalisme”. Di Buang Ke Boven Digoel, Papua Pada bulan Januari 1935, Hatta dan kawan-kawannya tiba di Tanah Merah, Boven Digoel (Papua).

Kepala pemerintahan di sana, Kapten van Langen, menawarkan dua pilihan: bekerja untuk pemerintahan kolonial dengan upah 40 sen sehari dengan harapan nanti akan dikirim pulang ke daerah asal, atau menjadi buangan dengan menerima bahan makanan in natura, dengan tiada harapan akan dipulangkan ke daerah asal.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Hatta menjawab, bila dia mau bekerja untuk pemerintah kolonial waktu dia masih di Jakarta, pasti telah menjadi orang besar dengan gaji besar pula. Maka tak perlulah dia ke Tanah Merah untuk menjadi kuli dengan gaji 40 sen sehari. Dalam pembuangan, Hatta secara teratur menulis artikel-artikel untuk surat kabar Pemandangan. Honorariumnya cukup untuk biaya hidup di Tanah Merah dan dia dapat pula membantu kawan-kawannya.

Rumahnya di Digoel dipenuhi oleh buku-bukunya yang khusus dibawa dari Jakarta sebanyak 16 peti. Dengan demikian, Hatta mempunyai cukup banyak bahan untuk memberikan pelajaran kepada kawan-kawannya di pembuangan mengenai ilmu ekonomi, sejarah, dan filsafat. Kumpulan bahan-bahan pelajaran itu di kemudian hari dibukukan dengan judul-judul antara lain, “Pengantar ke Jalan llmu dan Pengetahuan” dan “Alam Pikiran Yunani.” (empat jilid). BACA JUGA : Biografi Teuku Umar, Kisah Heroik Perjuangan Pahlawan Nasional Dari Aceh Pada bulan Desember 1935, Kapten Wiarda, pengganti van Langen, memberitahukan bahwa tempat pembuangan Hatta dan Sjahrir dipindah ke Bandaneira.

Pada Januari 1936 keduanya berangkat ke Bandaneira. Mereka bertemu Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Di Bandaneira, Hatta dan Sjahrir dapat bergaul bebas dengan penduduk setempat dan memberi pelajaran kepada anak-anak setempat dalam bidang sejarah, tatabuku, politik, dan lain-Iain.

Kembali Ke Jakarta Pada tanggal 3 Pebruari 1942, Hatta dan Sjahrir dibawa ke Sukabumi. Pada tanggal 9 Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang, dan pada tanggal 22 Maret 1942 Hatta dan Sjahrir dibawa ke Jakarta.

Pada masa pendudukan Jepang, Hatta diminta untuk bekerja sama sebagai penasehat. Hatta mengatakan tentang cita-cita bangsa Indonesia untuk merdeka, dan dia bertanya, apakah Jepang akan menjajah Indonesia? Kepala pemerintahan harian sementara, Mayor Jenderal Harada. menjawab bahwa Jepang tidak akan menjajah. Namun Hatta mengetahui, bahwa Kemerdekaan Indonesia dalam pemahaman Jepang berbeda dengan pengertiannya sendiri. Pengakuan Indonesia Merdeka oleh Jepang perlu bagi Hatta sebagai senjata terhadap Sekutu kelak.

Bila Jepang yang fasis itu mau mengakui, apakah sekutu yang demokratis tidak akan mau? Karena itulah maka Jepang selalu didesaknya untuk memberi pengakuan tersebut, yang baru diperoleh pada bulan September 1944. Selama masa pendudukan Jepang, Hatta tidak banyak bicara.

Namun pidato yang diucapkan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Merdeka) pada tanggaI 8 Desember 1942 menggemparkan banyak kalangan. Ia mengatakan, “Indonesia terlepas dari penjajahan imperialisme Belanda. Dan oleh karena itu ia tak ingin menjadi jajahan kembali. Tua dan muda merasakan ini setajam-tajamnya. Bagi pemuda Indonesia, ia Iebih suka melihat Indonesia tenggelam ke dalam lautan daripada mempunyainya sebagai jajahan orang kembali.” Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Pada awal Agustus 1945, Panitia Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia diganti dengan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, dengan Soekamo sebagai Ketua dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Ketua.

Anggotanya terdiri dari wakil-wakil daerah di seluruh Indonesia, sembilan dari Pulau Jawa dan dua belas orang dari luar Pulau Jawa. Pada tanggal 16 Agustus 1945 malam, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempersiapkan proklamasi dalam rapat di rumah Admiral Maeda (JI Imam Bonjol, sekarang), yang berakhir pada pukul 03.00 pagi keesokan harinya. Panitia kecil yang terdiri dari 5 orang, yaitu Soekamo, Hatta, Soebardjo, Soekarni, dan Sayuti Malik memisahkan diri ke suatu ruangan untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan.

Soekarno meminta Hatta menyusun teks proklamasi yang ringkas. Hatta menyarankan agar Soekarno yang menuliskan kata-kata yang didiktekannya. Setelah pekerjaan itu selesai. mereka membawanya ke ruang tengah, tempat para anggota lainnya menanti. Soekarni mengusulkan agar naskah proklamasi tersebut ditandatangi oleh dua orang saja, Soekarno dan Mohammad Hatta.

Semua muhammad hatta juga disebut sebagai bapak hadir menyambut dengan bertepuk tangan riuh. Tangal 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta atas nama bangsa Indonesia, tepat pada jam 10.00 pagi di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta.

Wakil Presiden Indonesia Pertama Tanggal 18 Agustus 1945, Ir Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Mohammad Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia. Soekardjo Wijopranoto mengemukakan bahwa Presiden dan Wakil Presiden harus merupakan satu dwitunggal.

Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda.

Untuk mencari dukungan luar negeri, pada Juli I947, Bung Hatta pergi ke India menemui Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi. dengan menyamar sebagai kopilot bernama Abdullah (Pilot pesawat adalah Biju Patnaik yang kemudian menjadi Menteri Baja India di masa Pemerintah Perdana Menteri Morarji Desai). BACA JUGA : Biografi Eka Tjipta Widjaja - Pengusaha Sukses Pemilik Sinar Mas Group Nehru berjanji, India dapat membantu Indonesia dengan protes dan resolusi kepada PBB agar Belanda dihukum.

Kesukaran dan ancaman yang dihadapi silih berganti. September 1948 PKI melakukan pemberontakan. Biografi Mohammad Hatta : Menjadi Perdana Menteri 19 Desember 1948, Belanda kembali melancarkan agresi kedua. Presiden dan Wapres ditawan dan diasingkan ke Bangka. Namun perjuangan Rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan terus berkobar di mana-mana.

Panglima Besar Sudirman melanjutkan memimpin perjuangan bersenjata. Pada tanggal 27 Desember 1949 di Den Haag, Bung Hatta yang mengetuai Delegasi Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar untuk menerima pengakuan kedaulatan Indonesia dari Ratu Juliana. Bung Hatta juga menjadi Perdana Menteri waktu Negara Republik Indonesia Serikat berdiri. Selanjutnya setelah RIS menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bung Hatta kembali menjadi Wakil Presiden.

Periode Tahun 1950-1956 Dalam Biografi Mohammad Hatta, Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta tetap aktif memberikan ceramah-ceramah di berbagai lembaga pendidikan tinggi. Dia juga tetap menulis berbagai karangan dan buku-buku ilmiah di bidang ekonomi dan koperasi.

Dia juga aktif membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato muhammad hatta juga disebut sebagai bapak untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia.

Karena besamya aktivitas Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak Hatta dalam gerakan koperasi, maka pada tanggal 17 Juli 1953 dia diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam bukunya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971). Pada tahun 1955, Bung Hatta mengumumkan bahwa apabila parlemen dan konsituante pilihan rakyat sudah terbentuk, ia akan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden.

Niatnya untuk mengundurkan diri itu diberitahukannya melalui sepucuk surat kepada ketua Perlemen, Mr. Sartono. Tembusan surat dikirimkan kepada Presiden Soekarno. Setelah Konstituante dibuka secara resmi oleh Presiden, Wakil Presiden Hatta mengemukakan kepada Ketua Parlemen bahwa pada tanggal l Desember 1956 ia akan meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI. Presiden Soekarno berusaha mencegahnya, muhammad hatta juga disebut sebagai bapak Bung Hatta tetap pada pendiriannya.

Pada tangal 27 Nopember 1956, ia memperoleh gelar kehormatan akademis yaitu Doctor Honoris Causa dalam ilmu hukum dari Universitas Gajah Mada di Yoyakarta. Pada kesempatan itu, Bung Hatta mengucapkan pidato pengukuhan yang berjudul “Lampau dan Datang”. Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi.

Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian. Universitas Hasanuddin di Ujung Pandang memberikan gelar Doctor Honoris Causa dalam bidang Ekonomi. Universitas Indonesia memberikan gelar Doctor Honoris Causa di bidang ilmu hukum.

Pidato pengukuhan Bung Hatta berjudul “Menuju Negara Hukum”. Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis “Demokrasi Kita” dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu.

Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus. Hatta menikah dengan Rahmi Rachim pada tanggal l8 Nopember 1945 di desa Megamendung, Bogor, Jawa Barat.

Mereka mempunyai tiga orang putri, yaitu Meutia Farida, Gemala Rabi’ah, dan Halida Nuriah. Dua orang putrinya yang tertua telah menikah. Yang pertama dengan Dr. Sri-Edi Swasono dan yang kedua dengan Drs. Mohammad Chalil Baridjambek. Hatta sempat menyaksikan kelahiran dua cucunya, yaitu Sri Juwita Hanum Swasono dan Mohamad Athar Baridjambek. Pada tanggal 15 Agustus 1972, Presiden Soeharto menyampaikan kepada Bung Hatta anugerah negara berupa Tanda Kehormatan tertinggi “Bintang Republik Indonesia Kelas I” pada suatu upacara kenegaraan di Istana Negara.

Mohammad Hatta Wafat Bung Hatta, Proklamator Kemerdekaan dan Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 di Rumah Sakit Dr Tjipto Mangunkusumo, Jakarta, pada usia 77 tahun dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir pada tanggal 15 Maret 1980.
Dr.(HC) Drs.

H. Mohammad Hatta (lahir dengan nama Mohammad Athar, populer sebagai Bung Hatta; lahir di Fort de Kock (sekarang Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 12 Agustus 1902 – meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun) adalah pejuang, negarawan, ekonom, dan juga Wakil Presiden Indonesia yang pertama.

Ia bersama Soekarno memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus memproklamirkannya pada 17 Agustus 1945. Ia juga pernah menjabat sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta I, Hatta II, dan RIS. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia. Bandar udara internasional Jakarta, Bandar Udara Soekarno-Hatta, menggunakan namanya sebagai penghormatan terhadap jasa-jasanya.

Selain diabadikan di Indonesia, nama Mohammad Hatta juga diabadikan di Belanda yaitu sebagai nama jalan di kawasan perumahan Zuiderpolder, Haarlem dengan nama Mohammed Hattastraat. Pada tahun 1980, ia meninggal dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta. Bung Hatta ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 23 Oktober 1986 melalui Keppres nomor 081/TK/1986/.

Mohammad Hatta lahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha yang berasal dari Minangkabau. Ayahnya merupakan seorang keturunan ulama tarekat di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat.

Sedangkan ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Ia lahir dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus 1902. Namanya, Athar berasal dari bahasa Arab, yang berarti "harum". Ia merupakan anak kedua, setelah Rafiah yang lahir pada tahun 1900. Sejak kecil, ia telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam. Kakeknya dari pihak ayah, Abdurahman Batuhampar dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau yang bertahan pasca-Perang Padri. Sementara itu, ibunya berasal dari keturunan pedagang.

Beberapa orang mamaknya adalah pengusaha besar di Jakarta. Ayahnya meninggal pada saat ia masih berumur tujuh bulan. Setelah kematian ayahnya, ibunya menikah dengan Agus Haji Ning, seorang pedagang dari Palembang, Haji Ning sering berhubungan dagang dengan Ilyas Bagindo Marah, kakeknya dari pihak ibu. Dari perkawinan Siti Saleha dengan Haji Ning, mereka dikaruniai empat orang anak, yang kesemuanya adalah perempuan. Mohammad Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta.

Setelah enam bulan, ia pindah ke sekolah rakyat dan sekelas dengan Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga. Ia lalu pindah ke ELS di Padang (kini SMA Negeri 1 Padang) sampai tahun 1913, kemudian melanjutkan ke MULO sampai tahun 1917.

Selain pengetahuan umum, ia telah ditempa ilmu-ilmu agama sejak kecil. Ia pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya.

Selain keluarga, perdagangan memengaruhi perhatian Hatta terhadap perekonomian. Di Padang, ia mengenal pedagang-pedagang yang masuk anggota Serikat Usaha dan juga aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara. Kegiatannya ini tetap dilanjutkannya ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School. Mohammad Hatta tetap menjadi bendahara di Jakarta. Kakeknya bermaksud akan ke Mekkah, dan pada kesempatan tersebut, ia dapat membawa Mohammad Hatta melanjutkan pelajaran di bidang agama, yakni ke Mesir (Al-Azhar).

Ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas surau di Batu Hampar yang memang sudah menurun semenjak ditinggalkan Syaikh Abdurrahman. Tapi, hal ini diprotes dan mengusulkan pamannya, Idris untuk menggantikannya. Menurut catatan Amrin Imran, Pak Gaeknya kecewa dan Syekh Arsyad pada akhirnya menyerahkan kepada Tuhan.

Pergerakan politik ia mulai sewaktu bersekolah di Belanda dari 1921-1932. Ia bersekolah di Handels Hogeschool (kelak sekolah ini disebut Economische Hogeschool, sekarang menjadi Universitas Erasmus Rotterdam), selama bersekolah di sana, ia masuk organisasi sosial Indische Vereniging yang kemudian menjadi organisasi politik dengan adanya pengaruh Ki Hadjar Dewantara, Cipto Mangunkusumo, dan DouwesDekker.

Pada tahun 1923, Hatta menjadi bendahara dan mengasuh majalah Hindia Putera yang berganti nama menjadi Indonesia Merdeka. Pada tahun 1924, organisasi ini berubah nama menjadi Indische Vereniging ( Perhimpunan Indonesia; PI). Pada tahun 1926, ia menjadi pimpinan Perhimpunan Indonesia. Sebagai akibatnya, ia terlambat menyelesaikan studi.

Di bawah kepemimpinannya, PI mendapatkan perubahan. Perhimpunan ini lebih banyak memperhatikan perkembangan pergerakan di Indonesia dengan memberikan banyak komentar, dan banyak ulasan di media massa di Indonesia. Setahun kemudian, ia seharusnya sudah berhenti dari jabatan ketua, namun ia dipilih kembali hingga tahun 1930. Pada Desember 1926, Semaun dari PKI datang kepada Hatta untuk menawarkan pimpinan pergerakan nasional secara umum kepada PI, selain itu dia dan Semaun membuat suatu perjanjian bernama "Konvensi Semaun-Hatta".

Inilah yang dijadikan alasan Pemerintah Belanda ingin menangkap Hatta. Waktu itu, Hatta belum meyetujui paham komunis. Stalin membatalkan keinginan Semaun, sehingga hubungan Hatta dengan komunisme mulai memburuk. Sikap Hatta ini ditentang oleh anggota PI yang sudah dikuasai komunis. Pada tahun 1927, ia mengikuti sidang "Liga Menentang Imperialisme, Penindasan Kolonial dan untuk Kemerdekaan Nasional" di Frankfurt.Dalam sidang ini, pihak komunis dan utusan dari Rusia nampak ingin menguasai sidang ini, sehingga Hatta tidak bisa percaya terhadap komunis.

Pada waktu itu, majalah PI, Indonesia Merdeka masuk dengan mudah ke Indonesia lewat penyelundupan, karena banyak penggeledahan oleh pihak kepolisian terhadap kaum pergerakan yang dicurigai. Pada 25 September 1927, Hatta bersama Ali Sastroamidjojo, Nazir Datuk Pamuntjak, dan Madjid Djojohadiningrat ditangkap oleh penguasa Belanda atas tuduhan mengikuti partai terlarang yang dikait-kaitkan dengan Semaun, terlibat pemberontakan di Indonesia yang dilakukan PKI dari tahun 1926-1927, dan menghasut ( opruiing) supaya menentang Kerajaan Belanda.

Moh. Hatta sendiri dihukum tiga tahun penjara. Mereka semua dipenjara di Rotterdam. Dia juga dituduh akan melarikan diri, sehingga dia yang sedang memperkenalkan Indonesia ke kota-kota di Eropa sengaja pulang lebih cepat begitu berita ini tersebar. Semua tuduhan tersebut, ia tolak dalam pidatonya "Indonesia Merdeka" ( Indonesie Vrij) pada sidang kedua tanggal 22 Maret 1928. Pidato ini sampai ke Indonesia dengan cara penyelundupan.

Ia juga dibela 3 orang pengacara Belanda yang salah satunya berasal dari parlemen. Yang dari parlemen, bernama J.E.W. Duys. Tokoh ini memang muhammad hatta juga disebut sebagai bapak padanya.

Setelah ditahan beberapa bulan, mereka berempat dibebaskan dari tuduhan, karena tuduhan tidak bisa dibuktikan. Sampai pada tahun 1931, Mohammad Hatta mundur dari kedudukannya sebagai ketua karena hendak mengikuti ujian sarjana, sehingga ia berhenti dari PI; namun demikian ia akan tetap membantu PI.

Akibatnya, PI jatuh ke tangan komunis, dan mendapat arahan dari partai komunis Belanda dan juga dari Moskow. Setelah tahun 1931, PI mengecam keras kebijakan Hatta dan mengeluarkannya dari organisasi ini. PI di Belanda mengecam sikap Hatta sebab ia bersama Soedjadi mengkritik secara terbuka terhadap PI.

Perhimpunan menahan sikap terhadap kedua orang ini. Pada Desember 1931, para pengikut Hatta segera membuat gerakan tandingan yang disebut Gerakan Merdeka yang kemudian bernama Pendidikan Nasional Indonesia yang kelak disebut PNI Baru.

Ini mendorong Hatta dan Syahrir yang pada saat itu sedang bersekolah di Belanda untuk mengambil langkah kongkret untuk mempersiapkan kepemimpinan di sana. Hatta sendiri merasa perlu untuk menyelesaikan studinya terlebih dahulu. Oleh karenanya, Syahrir terpaksa pulang dan untuk memimpin PNI. Kalau Hatta kembali pada 1932, diharapkan Syahrir dapat melanjutkan studinya.

Sekembalinya ia dari Belanda, ia ditawarkan masuk kalangan Sosialis Merdeka ( Onafhankelijke Socialistische Partij, OSP) untuk menjadi anggota parlemen Belanda, dan menjadi perdebatan hangat di Indonesia pada saat itu.

Pihak OSP mengiriminya telegram pada 6 Desember 1932, yang berisi kesediaannya menerima pencalonan anggota Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak. Ini dikarenakan ia berpendapat bahwa ia tidak setuju orang Indonesia menjadi anggota dalam parlemen Belanda. Sebenarnya dia menolak masuk, dengan alasan ia perlu berada dan berjuang di Indonesia.

Namun, pemberitaan di Indonesia mengatakan bahwa Hatta menerima kedudukan tersebut, sehingga Soekarno menuduhnya tidak konsisten dalam menjalankan sistem non-kooperatif. Setelah Hatta kembali dari Belanda, Syahrir tidak bisa ke Belanda karena keduanya keburu ditangkap Belanda pada 25 Februari 1934 dan dibuang ke Digul, dan selanjutnya ke Banda Neira.

Baik di Digul maupun Banda Neira, ia banyak menulis di koran-koran Jakarta, dan ada juga untuk majalah-majalah di Medan. Artikelnya tidak muhammad hatta juga disebut sebagai bapak politis, namun bersifat lebih menganalisis dan mendidik pembaca.

muhammad hatta juga disebut sebagai bapak

Ia juga banyak membahas pertarungan kekuasaan di Pasifik. Semasa diasingkan ke Digul, ia membawa semua buku-bukunya ke tempat pengasingannya. Di sana, ia mengatur waktunya sehari-hari. Pada saat hendak membaca, ia tak mau diganggu.

Sehingga, beberapa kawannya menganggap dia sombong. Ia juga merupakan sosok yang peduli terhadap tahanan. Ia menolak bekerja sama dengan penguasa setempat, misalnya memberantas malaria. Apabila ia mau bekerja sama, ia diberi gaji f 7.50 sebulan. Namun, kalau tidak, ia hanya diberi gaji f 2.50 saja. Gajinya itu tidak ia habiskan sendiri. Ia juga peduli terhadap kawannya yang kekurangan.

Di Digul, selain bercocok tanam, ia juga membuat kursus kepada para tahanan. Di antara tahanan tersebut, ada beberapa orang yang ibadah shalat dan puasanya teratur; baik dari Minangkabau maupun Banten. Tapi, mereka ditangkap karena -pada umumnya- terlibat pemberontakan komunis. Pada masa itu, ia menulis surat untuk iparnya untuk dikirimi alat-alat pertukangan seperti paku dan gergaji.

Selain itu, dia juga menceritakan nasib orang-orang buangan dalam surat itu. Kemudian, ipar Hatta mengirim surat itu ke koran Pemandangan di Jakarta dan segera surat itu dimuat. Surat itu dibaca menteri jajahan pada saat itu, Colijn.

Colijn mengecam pemerintah dan segera mengirim residen Ambon untuk menemui Hatta di Digul. Maka uang diberikan untuknya, Hatta menolak dan ia juga meminta supaya kalau mau ditambah, diberikan juga kepada pemimpin lain yang hidup dalam pembuangan. Pada 1937, ia menerima telegram yang mengatakan dia dipindah dari Digul ke Banda Neira.

Hatta pindah bersama Syahrir pada bulan Februari pada tahun itu, dan mereka menyewa sebuah rumah yang cukup besar. Di situ, ada beberapa kamar dan ruangan yang cukup besar. Adapun ruangan besar itu digunakannya untuk menyimpan bukunya dan tempat bekerjanya. Sewaktu di Banda Neira, ia bercocok tanam dan menulis di koran "Sin Tit Po" (dipimpin Lim Koen Hian; bulanan ini berhenti pada 1938) dengan honorarium f 75 dalam Bahasa Belanda.

Kemudian, ia menulis di Nationale Commantaren (Komentar Nasional; dipimpin Sam Ratulangi) dan juga, ia menulis di koran Pemandangan dengan honorarium f 50 sebulan per satu/dua tulisan. Hatta juga pernah menerima tawaran Kiai Haji Mas Mansur untuk ke Makassar, dia menolak dengan alasan kalaupun dirinya ke Makassara dia masih berstatus tahanan juga.

Waktu itu, sudah ada Cipto Mangunkusumo dan Iwa Kusumasumantri. Mereka semua sudah saling muhammad hatta juga disebut sebagai bapak. Selain itu, di Banda Neira, Hatta juga mengajar kepada beberapa orang pemuda. Anak dr. Cipto belajar tata-buku dan sejarah. Ada juga anak asli daerah Banda Neira yang belajar kepada Hatta. Ada seorang kenalan Hatta dari Sumatera Barat yang mengirimkan dua orang kemenakannya untuk belajar ekonomi dan juga sejarah.

Selain itu, dari Bukittinggi dikirim Anwar Sutan Saidi sebanyak empat orang pemuda yang belajar kepada Hatta. Pada tahun 1941, Mohammad Hatta menulis artikel di koran Pemandangan yang isinya supaya rakyat Indonesia jangan memihak kepada baik ke pihak Barat ataupun fasisme Jepang. Kelak, pada zaman Jepang tulisan Hatta dijadikan bahan oleh penguasa Jepang untuk tidak percaya Hatta selama Perang Pasifik.

Yang mana, kelak tulisan Hatta dibaca Murase, seorang Wakil Kepala Kenpeitei (dinas intelijen) dan menyarankan Hatta agar mengikuti Nippon Sheisin di Tokyo pada November 1943. Pada tanggal 8 Desember 1941, angkatan perang Jepang menyerang Pearl Harbor, Hawaii. Ini memicu Perang Pasifik, dan setelah Pearl Harbor, Jepang segera menguasai sejumlah daerah, termasuk Indonesia.

Dalam keadaan genting tersebut, Pemerintah Belanda memerintahkan untuk memindahkan orang-orang buangan dari Digul ke Australia, karena khawatir kerjasama dengan Jepang. Hatta dan Syahrir dipindahkan pada Februari 1942, ke Sukabumi setelah menginap sehari di Surabaya dan naik kereta api ke Jakarta.

Bersama kedua orang ini, turut pula 3 orang anak-anak dari Banda yang dijadikan anak angkat oleh Syahrir. Setelah itu, ia dibawa kembali ke Jakarta. Ia bertemu Mayor Jenderal Harada. Hatta menanyakan keinginan Jepang datang ke Indonesia. Harada menawarkan kerjasama dengan Hatta. Kalau mau, ia akan diberi jabatan penting. Hatta menolak, dan memilih menjadi penasihat. Ia dijadikan penasihat dan diberi kantor di Pegangsaan Timur dan rumah di Oranje Boulevard (Jalan Diponegoro).

Orang terkenal pada masa sebelum perang, baik orang pergerakan, atau mereka yang bekerjasama dengan Belanda, diikut sertakan seperti Abdul Karim Pringgodigdo, Surachman, Sujitno Mangunkususmo, Sunarjo Kolopaking, Supomo, dan Sumargo Djojohadikusumo. Pada masa ini, ia banyak mendapat tenaga-tenaga baru.

Pekerjaan di sini, merupakan tempat saran oleh pihak Jepang. Jepang mengharapkan agar Hatta memberikan nasehat yang menguntungkan mereka, malah Hatta memanfaatkan itu untuk membela kepentingan rakyat.

Saat-saat mendekati Proklamasi pada 22 Juni 1945, Badan Penyelidik Usaha Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) membentuk panitia kecil yang disebut Panitia Sembilan dengan tugas mengolah usul dan konsep para anggota mengenai dasar negara Indonesia.

Panitia kecil itu beranggotakan 9 orang dan diketuai oleh Ir. Soekarno. Anggota lainnya Bung Hatta, Mohammad Yamin, Ahmad Soebardjo, A.A. Maramis, Abdulkahar Muzakir, Wahid Hasyim, H.

Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso. Kemudian pada 9 Agustus 1945, Bung Hatta bersama Bung Karno dan Radjiman Wedyodiningrat diundang ke Dalat (Vietnam) untuk dilantik sebagai Ketua dan Wakil Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Badan ini bertugas melanjutkan hasil kerja BPUPKI dan menyiapkan pemindahan kekuasaan dari pihak Jepang kepada Indonesia.

Pelantikan dilakukan secara langsung oleh Panglima Asia Tenggara Jenderal Terauchi. Puncaknya pada 16 Agustus 1945, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok hari dimana Bung Karno bersama Bung Hatta diculik ke kota kecil Rengasdengklok (dekat Karawang, Jawa Barat). Penculikan itu dilakukan oleh kalangan pemuda, dalam rangka mempercepat tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Malam hari, mereka mengadakan rapat muhammad hatta juga disebut sebagai bapak persiapan proklamasi Kemerdekaan Indonesia di kediaman Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol 1 Jakarta. Sebelum rapat, mereka menemui somabuco (kepala pemerintahan umum) Mayjen Nishimura untuk mengetahui sikapnya mengenai pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Pertemuan tersebut tidak menghasilkan kesepahaman sehingga tidak adanya kesepahaman itu meyakinkan mereka berdua untuk melaksanakan proklamasi kemerdekaan itu tanpa kaitan lagi dengan Jepang. Pada 17 Agustus 1945, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia dia bersama Soekarno resmi memproklamasikan kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pk10.00 WIB.

Dan keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945, dia resmi dipilih sebagai Wakil Presiden RI yang pertama mendampingi Presiden Soekarno. Selama menjadi Wakil Presiden, Bung Hatta amat gigih bahkan dengan nada sangat marah, menyelamatkan Republik dengan mempertahankan naskah Linggajati di Sidang Pleno KNIP di Malang yang diselenggarakan pada 25 Februari – 6 Maret 1947 dan hasilnya Persetujuan Linggajati diterima oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) sehingga anggota KNIP menjadi agak lunak pada 6 Maret 1947.

Pada saat terjadinya Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Hatta dapat meloloskan diri dari kepungan Belanda dan pada saat itu dia masih berada di Pematang Siantar. Dia dengan selamat bersama dengan Gubernur Sumatera Mr. T. Hassan tiba di Bukittinggi. Sebelumnya pada 12 Juli 1947 Bung Hatta mengadakan Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya. Pada hari itu juga, Hari Koperasi Indonesia ditetapkan dan Bung Hatta ditetapkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Kemudian, Bung Hatta dengan kewibawaannya sebagai Wakil Presiden hendak menggoalkan persetujuan Renville dengan berakibat jatuhnya Kabinet Amir dan digantikan oleh Kabinet Hatta.

Pada era Kabinet Hatta yang dibentuk pada 29 Januari 1948, Bung Hatta menjadi Perdana Menteri dan merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan. Suasana panas waktu timbul pemberontakan PKI Madiun dalam bulan September 1948, memuncak pada penyerbuan tentara Belanda ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Bung Hatta bersama Bung Karno diangkut oleh tentara Belanda pada hari itu juga. Pada tahun yang sama, Bung Hatta bersama Bung Karno diasingkan ke Menumbing, Bangka.

Beberapa waktu setelah pengasingan karena mengalami adanya sebuah perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) di Kaliurang, di mana Critchley datang mewakili Australia dan Cochran mewakili Amerika. Pada Juli 1949, terjadi kemenangan Cochran dalam menyelesaikan perundingan Indonesia. Tahun ini, terjadilah sebuah perundingan penting, Konferensi Meja Bundar (KMB) yang diadakan di Den Haag sesudah berunding selama 3 bulan, pada 27 Desember 1949 kedaulatan NKRI kita miliki untuk selamanya.

Ratu Juliana memberi tanda pengakuan Belanda atas kedaulatan negara Indonesia tanpa syarat kecuali Irian Barat yang akan dirundingkan lagi dalam waktu setahun setelah Pengakuan Kedaulatan kepada Bung Hatta yang bertindak sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia di Amsterdam dan di Jakarta.

Di Amsterdam dari Ratu Juliana kepada Drs. Mohammad Hatta dan di Jakarta dari Dr. Lovink yang mewakili Belanda kepada Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Sehingga pada akhirnya negara Indonesia menjadi negara Republik Indonesia Serikat (RIS), Bung Hatta terpilih menjadi Perdana Menteri RIS juga merangkap sebagai Menteri Luar Negeri RIS dan berkedudukan di Jakarta dan Bung Karno menjadi Presiden RIS. Ternyata RIS tidak berlangsung lama, dan pada 17 Agustus 1950, Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan ibu kota Jakarta dengan Perdana Menteri Moh.

Natsir. Bung Hatta menjadi Wakil Presiden RI lagi dan berdinas kembali ke rumah yang berada di Jalan Medan Merdeka Selatan 13 Jakarta. Pada tanggal 20 Juli 1956, Mohammad Hatta menulis sepucuk surat kepada Ketua DPR pada saat itu, Sartono yang isinya antara lain, "Merdeka, Bersama ini saya beritahukan dengan hormat, bahwa sekarang, setelah Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat mulai bekerja, dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden.

Segera, setelah Konstituante dilantik, saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi." DPR menolak secara halus permintaan Mohammad Hatta tersebut, dengan cara mendiamkan surat tersebut. Kemudian, pada tanggal 23 November 1956, Bung Hatta menulis surat susulan yang isinya sama, bahwa tanggal 1 Desember 1956, dia akan berhenti sebagai Wakil Presiden RI.

Akhirnya, pada sidang DPR pada 30 November 1956, DPR akhirnya menyetujui permintaan Mohammad Hatta untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Wakil Presiden, jabatan yang telah dipegangnya selama 11 tahun. Di akhir tahun 1956 juga, Hatta tidak sejalan lagi dengan Bung Karno karena dia tidak ingin memasukkan unsur komunis dalam kabinet pada waktu itu. Sebelum ia mundur, dia mendapatkan gelar doctor honouris causa dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Muhammad hatta juga disebut sebagai bapak gelar doctor honouris causa ingin diberikan pada tahun 1951. Namun, gelar tersebut baru diberikan pada 27 November 1956. Demikian pula Universitas Indonesia pada tahun 1951 telah menyampaikan keinginan itu tetapi Bung Hatta belum bersedia menerimanya. Kata dia, “Nanti saja kalau saya telah berusia 60 tahun.”. Setelah mundur dari jabatannya sebagai Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956, dia dan keluarga berpindah rumah dari Jalan Medan Merdeka Selatan 13 ke Jalan Diponegoro 57.

Bung Hatta tak pernah menyesal atas keputusan yang telah ia buat. Kegiatan sehari-hari Bung Hatta setelah pensiun adalah menambah dari penghasilan menulis buku dan mengajar. Meskipun sudah tak menjabat lagi sebagai Wakil Presiden, pada tahun 1957 dia berangkat ke Cina karena mendapat undangan dari Pemerintah RRC. Rakyat sana masih menganggap dia sebagai “a great son of his country”, terbukti dari penyambutan yang seharusnya diberikan kepada seorang kepala negara di mana PM Zhou Enlai sendiri menyambut dia yang bukan lagi sebagai wakil presiden.

Pada 31 Januari 1970, melalui Keppres No. 12/1970 telah dibentuk Komisi Empat yang bertugas mengusut masalah korupsi. Untuk keperluan itu Dr. Moh. Hatta (mantan Wakil Presiden RI) telah diangkat menjadi Penasehat Presiden dalam masalah pemberantasan Korupsi. Komisi Empat ini diketuai oleh Wilopo, SH, dengan anggota-anggota: IJ Kasimo, Prof. Dr. Yohanes, H. Anwar Tjokroaminoto, dengan sekretaris Kepala Bakin/Sekretaris Kopkamtib, Mayjen.

Sutopo Juwono. Dr. Moh. Hatta juga ditunjuk sebagai Penasehat Komisi Empat tersebut. Hatta dipercaya oleh Presiden Soeharto untuk menjadi Anggota Dewan Penasehat Presiden. Pada 15 Agustus 1972, Bung Hatta mendapat anugerah Bintang Republik Indonesia Kelas I dari Pemerintah Republik Indonesia.

Kemudian, pada tahun yang sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengangkat dia sebagai warga utama Ibukota Jakarta dengan segala fasilitasnya, seperti perbaikan besarnya pensiun dan penetapan rumah dia menjadi salah satu gedung yang bersejarah di Jakarta. Kemudian, pada tahun 1975, Bung Hatta menjadi anggota Panitia Lima bersama Prof Mr. Soebardjo, Prof Mr. Sunario, A.A.

Maramis, dan Prof Mr. Pringgodigdo untuk memberi pengertian mengenai Pancasila sesuai dengan alam pikiran dan semangat lahir dan batin para penyusun UUD 1945 dengan Pancasilanya.

Ternyata, Bung Hatta resmi menjadi Ketua Panitia Lima. Tak hanya itu, Bung Hatta kembali mendapatkan gelar doctor honouris causa sebagai tokoh proklamator dari Universitas Indonesia yang seharusnya diberikan pada tahun 1951. Pemberian gelar tersebut dilakukan di Jakarta pada 30 Juli 1975 dan diberikan secara langsung oleh Rektor Mahar Mardjono. Dan pada tahun 1979, dimana tahun tersebut merupakan tahun ke-5 Bung Hatta masuk ke rumah sakit.

Kesehatan Bung Hatta semakin menurun. Walaupun begitu, semangatnya tetap saja tinggi. Ia masih mengikuti perkembangan politik dunia. Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 pk18.56 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta setelah sebelas hari ia dirawat di sana. Selama hidupnya, Bung Hatta telah dirawat di rumah sakit sebanyak 6 kali pada tahun 1963, 1967, 1971, 1976, 1979, dan terakhir pada 3 Maret 1980. Keesokan harinya, dia disemayamkan di kediamannya Jalan Diponegoro 57, Jakarta dan dikebumikan di TPU Tanah Kusir, Jakarta disambut dengan upacara kenegaraan yang dipimpin secara langsung oleh Wakil Presiden pada saat itu, Adam Malik.

Ia ditetapkan sebagai pahlawan proklamator pada tahun 1986 oleh pemerintahan Soeharto.

Mohammad Hatta, Bapak Proklamator Indonesia




2022 charcuterie-iller.com