Pemimpin g30spki

pemimpin g30spki

Jakarta - G30S PKI atau gerakan 30 September yang dilancarkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi salah satu sejarah pahit bagi pemerintah Indonesia pada waktu itu. Peristiwa ini terjadi tepat hari ini (30/9), 56 pemimpin g30spki silam. PKI merupakan salah satu partai tertua dan terbesar di Indonesia. Partai ini mengakomodir kalangan intelektual, buruh, hingga petani. Pada pemilu tahun 1955, PKI berhasil meraih 16,4 persen suara dan menempati posisi keempat di bawah PNI, Masyumi, dan NU.

Sejarah berdirinya PKI tak lepas dari Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV), partai kecil berhaluan kiri yang didirikan oleh tokoh Sosialis Belanda, Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau dikenal dengan Henk Sneevliet. Baca juga: Sejarah PKI: Tujuan, Tokoh, Pemberontakan Madiun, dan Gerakan 30 September Dikutip dari buku Sejarah untuk Kelas XII oleh Nana Supriatna, ISDV menyusup ke partai-partai lokal baik besar maupun kecil, seperti Sarekat Islam (SI).

Beberapa tokoh SI yang melejit pada saat itu antara lain Semaoen dan Darsono, yang tak lain berperan penting dalam pendirian PKI. Pada tahun 1920-an, ISDV kemudian mengilhami lahirnya PKI dengan Semaoen sebagai ketua dan Darsono menjadi wakilnya. Dalam buku Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925 yang ditulis oleh Harry A.

Poeze, Tan Malaka sempat mengusulkan PKI sebagai Partai Nasional Revolusioner Indonesia. Namun, nama yang diusulkannya ditolak oleh Semaoen. Sejarah G30S PKI Peristiwa G30S PKI terjadi pada tahun 1965 dan dimotori oleh Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit, pemimpin terakhir PKI. Di bawah kendali DN Aidit, perkembangan PKI semakin nyata walaupun diperoleh melalui sistem parlementer.

Dikutip dari buku Api Sejarah 2 oleh Ahmad Mansur Suryanegara, menurut Arnold C. Brackman, DN Aidit mendukung konsep Khrushchev, yakni "If everything depends on the communist, we would follow the pemimpin g30spki way (bila segalanya bergantung pada komunis, kita harus mengikuti dengan cara perdamaian)." Pandangan itu disebut bertentangan dengan konsep Mao Ze Dong dan Stalin yang secara terbuka menyatakan bahwa komunisme dikembangkan hanya dengan melalui perang. G30S PKI terjadi pada malam hingga dini hari, tepat pada akhir tanggal 30 September dan masuk 1 Oktober 1965.

Gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh PKI mengincar perwira tinggi TNI AD Indonesia. Tiga dari enam orang yang menjadi target langsung dibunuh di pemimpin g30spki. Sedangkan lainnya diculik dan dibawa menuju Lubang Buaya. Keenam perwira tinggi yang menjadi korban G30S PKI antara lain Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.

Tujuan G30S PKI Tujuan utama G30S PKI adalah menggulingkan pemerintahan era Soekarno dan mengganti negara Indonesia menjadi negara komunis.

pemimpin g30spki

Seperti diketahui, PKI disebut memiliki lebih dari 3 juta anggota dan membuatnya menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia, setelah RRC dan Uni Soviet.

Selain itu, dikutip dari buku Sejarah untuk SMK Kelas IX oleh Prawoto, beberapa tujuan G30S PKI adalah sebagai berikut: 1.

Menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menjadikannya sebagai negara komunis. 2.

pemimpin g30spki

Menyingkirkan TNI Angkatan Darat dan merebut kekuasaan pemerintahan. 3. Mewujudkan cita-cita PKI, yakni menjadikan ideologi komunis dalam membentuk sistem pemerintahan yang digunakan sebagai alat untuk mewujudkan masyarakat komunis.

4. Mengganti ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis. 5. Kudeta yang dilakukan kepada Presiden Soekarno tak lepas dari rangkaian kegiatan komunisme internasional. Kronologi G30S PKI Tindakan dan penyebarluasan ideologi komunis yang dilakukan oleh PKI menimbulkan kecurigaan dari kelompok anti-komunis. Tindakan tersebut juga mempertinggi persaingan antara elit politik nasional.

Kecurigaan semakin mencuat dan memunculkan desas-desus di masyarakat, terlebih menyangkut kesehatan Presiden Soekarno dan Dewan Jenderal Angkatan Darat. Di tengah kecurigaan tersebut, Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalyon I Kawal Resimen Cakrabirawa, yakni pasukan khusus pengawal Presiden, memimpin sekelompok pasukan dalam melakukan aksi bersenjata di Jakarta.

Pasukan tersebut bergerak meninggalkan daerah Lubang Buaya. Peristiwa ini terjadi pada tengah malam, pergantian hari Kamis, 30 September 1956 menuju hari Jumat, 1 Oktober 1965. Baca juga: Kenapa Disebut Lubang Buaya? Ini Sejarah Saksi Bisu Tragedi G30S/PKI Kudeta yang sebelumnya dinamakan Operasi Takari diubah menjadi gerakan 30 September. Mereka menculik dan membunuh para perwira tinggi Angkatan Darat. Aksi tentara tersebut pada tanggal 30 September berhasil menculik enam orang perwira tinggi Angkatan Darat.

Enam Jenderal yang gugur dalam peristiwa G30S PKI antara lain Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo.

Di samping itu, gugur pula ajudan Menhankam/Kasab Jenderal Nasution, Letnan Satu Pierre Andreas Tendean dan pengawal Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena, Brigadir Polisi Satsuit Tubun. Salah satu Jenderal yang berhasil selamat dari serangan PKI adalah AH Nasution. Namun, putrinya yang bernama Ade Irma Suryani Nasution tidak bisa diselamatkan. Sementara itu, G30S PKI di Yogyakarta yang dipimpin oleh Mayor Mulyono menyebabkan gugurnya TNI Angkatan Darat, Kolonel Katamso dan Letnan Kolonel Sugiyono.

Kolonel Katamso merupakan Komandan Korem 072/Yogyakarta. Sedangkan Letnan Kolonel Sugiyono merupakan Kepala Staf Korem. Keduanya diculik dan gugur di Desa Kentungan, sebelah utara Yogyakarta. Latar Belakang G30S PKI Secara umum, G30S PKI dilatarbelakangi oleh dominasi ideologi Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (NASAKOM) yang berlangsung sejak era Demokrasi Terpimpin diterapkan, yakni tahun 1959-1965 di bawah kekuasaan Presiden Soekarno.

Beberapa hal lain yang menyebabkan mencuatkan gerakan yang pemimpin g30spki para Jenderal ini adalah ketidakharmonisan hubungan anggota TNI dan juga PKI. Pertentangan pun muncul di antara keduanya.

Selain itu, desas desus kesehatan Presiden Soekarno juga turut melatarbelakangi pemberontakan G30S PKI. Itulah sejarah G30S PKI. Setelah gerakan tersebut berhasil ditumpas, muncul berbagai aksi dari kalangan masyarakat untuk membubarkan PKI. Simak Video " Megawati Ingin Perbaiki Tendensi Bung Karno Komunis" [Gambas:Video 20detik] (kri/erd) Asal muasal PKI dalam sejarah partai politik Indonesia dimulai pada tahun 1914 ketika Hendricus Josephus Fransiscus Marie Snevliet atau Henk Snevliet, seorang tokoh komunis Belanda membentuk Indische Social Democratic Association (ISDV), sebuah serikat tenaga kerja yang bertempat di pelabuhan sebagai awal sejarah PKI.

Pembentukan ISDV bertujuan untuk menyebarkan paham marxis kepada masyarakat Indonesia dan mengedukasi untuk menentang kekuasaan kolonial. Pada awalnya mayoritas anggota ISDV adalah orang Belanda, namun pada tahun 1919 pemimpin g30spki tersisa 25 orang anggota berkebangsaan Belanda dari total 400 orang anggota. Hal itu disebabkan karena kelompok reformis ISDV memisahkan diri dan membentuk Partai Demokrat Sosial Hindia. Di tahun 1920 ISDV berubah nama menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH) dengan diketuai oleh Semau dan Darsono sebagai wakilnya, dan menjadi partai komunis Asia pertama yang tergabung dalam Komunis Internasional.

Nama pemimpin g30spki sekali lagi berubah menjadi Partai Komunis Indonesia pada kongres Komunis Internasional ke-6 dengan tujuan organisasi PKI untuk menyebarkan paham komunis di Indonesia. Tokoh G30S PKI PKI bertindak terlalu jauh untuk mendapatkan kekuasaan dengan berusaha memfitnah para Jendral Angkatan Darat dengan isu Dewan Jendral yang konon akan menggulingkan Soekarno hingga menculik dan membunuh mereka.

Peristiwa itu dikenal sebagai peristiwa G30S PKI hingga sekarang menjadi bagian dari sejarah kelam bangsa Indonesia. Beberapa tokoh dibalik peristiwa G30S PKI yang merupakan para petinggi PKI adalah: • D.N. Aidit Tokoh G30S PKI yang bernama lengkap Dipa Nusantara Aidit adalah Ketua Umum Komite Sentral PKI, yang berhasil membawa PKI menjadi partai komunis terbesar ketiga dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok hanya dalam waktu setahun setelah mengambil alih kepemimpinan partai dari Alimin dan Tang Ling Djie pada 1954.

Ia lahir di Belitung dan datang ke Jakarta pada 1940. Teori politik Marxis dipelajarinya di PKI. Ia juga mengembangkan berbagai organisasi dibawah PKI seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Lekra, Barisan Tani Indonesia (BTI) dan yang lainnya. Ketika terjadi peristiwa G30S PKIia melarikan diri ke Yogyakarta dan Semarang hingga ke Solo sampai ditangkap di tempat persembunyiannya di Solo yaitu rumah Kasim/Harjomartono.

Komandan Brigif IV Kolonel Jasir Hadibroto dan pasukannya mengeksekusi Aidit di sumur tua yang terletak di belakang markas TNI di Boyolali.

• Muso Munawar Muso atau Musso adalah tokoh G30S PKI yang memproklamirkan pendirian Republik Soviet Indonesia pada 18 September 1948 di Madiun.

Tujuannya untuk mengganti dasar negara Indonesia dari Pancasila menjadi komunis. Ia lahir di Kediri, Jawa Timur pada 1897 dan pernah menjadi pimpinan PKI pada tahun 1920an. Ayahnya adalah Rono Wijoyo, seorang pelarian dari pasukan Diponegoro dan pernah satu rumah dengan Semaun, Alimin, Kartosuwiryo dan Soekarno ketika sedang menjadi murid HOS Tjokroaminoto.

Ia juga sempat menjadi pengurus Sarekat Islam yang dipimpin HOS Tjokroaminoto dan aktif di ISDV (Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Musso melarikan diri setelah pemberontakan PKI Madiun hingga pada tanggal 31 Oktober 1948 ditemukan oleh pasukan TNI pimpinan Kapten Sumadi di Purworejo. Ia tewas dalam baku tembak. • Amir Syarifuddin Ia adalah seorang tokoh penting dalam pemerintahan Indonesia pada saat itu, pernah menjadi Menteri Penerangan, Menteri Pertahanan dan Perdana Menteri RI.

Tokoh latar belakang G30S PKI ini pernah menjadi negosiator pada perjanjian Renville yang tidak membawa keuntungan bagi RI sehingga ia dikecam oleh berbagai kalangan dan berakibat jatuhnya kabinet yang ia pimpin.

Untuk mengembalikan posisinya ia membuat Front Demokrasi Rakyat pada 28 Juni 1948 dengan mengumpulkan kaum petani dan buruh. Ia berhasil menghasut para buruh yang pada akhirnya melakukan pemogokan di pabrik karung di Delanggu, Jawa Tengah pada 5 Juli 1959. Ia juga turut memproklamirkan Republik Soviet Indonesia bersama Muso.

Ia ditangkap di hutan Purwodadi oleh TNI dan dieksekusi mati bersama dengan pemberontak Madiun. • Pemimpin g30spki Tokoh G30S PKI ini bernama lengkap Lukman Nyoto, ia adalah Wakil Ketua II CC (Comite Central) PKI. Ia juga menjadi orang ketiga ketika PKI sedang berada di masa jaya pada 1955 – 1965.

Ia juga pernah menjadi menteri di kabinet Dwikora mewakili PKI, bahkan dipercaya oleh Presiden Soekarno untuk menulis pidato kenegaraannya dan menjadi kesayangan Soekarno. Dalam sejarah G30S PKI lengkaptidak diketahui bagaimana persisnya keterlibatannya karena informasi yang simpang siur.

Pada tanggal 16 Desember 1965 ketika pulang dari sidang kabinet di Istana Negara, mobilnya dicegat di sekitar daerah Menteng. Ia dibawa pergi oleh tentara dan langsung ditembak mati. Informasi lain menyebutkan bahwa ia ditangkap pada tahun 1966 dan hilang sejak saat itu.

• Lukman Ia adalah tokoh G30S PKI yang penting bersama dengan Nyoto dan Aidit, bahkan dikenal sebagai tiga pemimpin PKI atau Triumvirat. Mereka mengambil alih kepemimpinan PKI setelah pemberontakan di Madiun pada 1948. Ia pernah menjabat sebagai wakil ketua DPR-GR. Nasibnya tidak jauh berbeda seperti Aidit dan Nyoto, ia juga diculik dan ditembak mati oleh tentara.

Ketiganya juga tidak diketahui keberadaan mayat dan kuburannya. Tokoh Penumpas G30S Pemimpin g30spki Setelah kronologi G30S PKI tersebut, kekuatan dikerahkan pemimpin g30spki menumpas PKI hingga ke akar – akarnya. Beberapa tokoh G30S PKI yang berperan dalam pemberantasan pemberontakan PKI adalah: • Sarwo Edhie Tokoh dibalik G30S PKI ini adalah Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang ditunjuk untuk memimpin pemberantasan pemberontakan PKI.

Salah satu korban dalam peristiwa itu adalah Jendral Ahmad Yani, yang menjadi teman dan pelindungnya di Angkatan Darat. Tugasnya pemimpin g30spki melenyapkan anggota PKI di lahan subur komunis yang berada di Jawa Tengah. Menurut pengakuannya pada tahun 1989 kepada DPR, ada 3 juta orang tewas dalam peristiwa penumpasan pemimpin g30spki.

• Soeharto Salah satu tokoh dibalik G30S PKI ini adalah Panglima Kostrad atau Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat yang menjadi penting dalam peristiwa pemberantasan PKI.

Ada empat tahap yang digunakannya untuk membasmi PKI yaitu: • Menetralisir pasukan – pasukan yang masih berada di sekitar Medan Merdeka. • Memerintahkan pendudukan kembali Gedung Pusat Telekomunikasi dan RRI. • Memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi kepada seluruh rakyat Indonesia melalui siaran radio dan tindakan apa saja yang sudah diambil. • Memberikan pukulan kepada PKI dengan merebut Pangkalan Pemimpin g30spki Halim Perdanakusuma dengan bantuan RPKAD dibantu Yon 328 Para Kudjang/Siliwangi.

• M. Jasin Ia adalah salah satu orang yang berperan penting dalam menumpas PKI yang menggelar operasi militer untuk pemimpin g30spki pemberontakan PKI pada 1965 sebagai Panglima Kodam Brawijaya. Pada Juni 1968 digelar operasi Trisula dengan Kolonel Wintarmin sebagai komandannya.

Hutan di wilayah Blitar Selatan disisir tentara untuk mencari para pemberontak dan banyak menangkap anggota PKI, 33 tokoh ditembak mati dan 850 orang ditangkap selama tiga bulan.

Ketahui juga mengenai pemimpin g30spki lubang buaya dan sejarah hari kesaktian pancasila. • Nasution Tokoh pemimpin g30spki G30S PKI ini memegang kendali pemimpin g30spki pemberantasan PKI.

Ketika itu jabatannya adalah Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI dan memaparkan rencananya untuk melakukan operasi pembasmian PKI. Operasi untuk menumpaskan pemberontakan di Madiun tersebut hanya diberi waktu selama dua minggu.

Ia selamat dari penculikan pada malam 30 September, tetapi putrinya yaitu Ade Irma Suryani meninggal dunia tertembak peluru nyasar dan begitu juga ajudannya, Lettu Pierre Andreas Tendean.
Latar Belakang G30S/PKI – Setelah kemerdekaan, terjadi banyak pemimpin g30spki di wilayah Indonesia. Salah satunya adalah Gerakan 30 September/PKI atau disingkat G30S/PKI. Apa latar belakang G30S/PKI? Pengertian G30S/PKI Gerakan 30 September (dalam dokumen pemerintah tertulis Gerakan 30 September/PKI, disingkat G30S/PKI), Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang pemimpin g30spki selewat malam tanggal 30 September hingga awal 1 Oktober 1965 ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha kudeta.

Peristiwa 30S/PKI ini pemimpin g30spki korban tujuh perwira tinggi dari militer Indonesia dan beberapa orang lainnya karena pemimpin g30spki kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno. Dalang dibalik peristiwa gerakan 30S/PKI adalah Partai Komunis Indonesia yang sudah menjadi bagian dari sejarah partai politik Indonesia sejak tahun 1914.

Baca Juga : Provinsi di Indonesia Sebenarnya, pemberontakan sebagai latar belakang G30S PKI telah dimulai jauh sebelum ini yaitu pada peristiwa pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948 dengan memproklamasikan Soviet Republik Indonesia. Kejadian tersebut berhasil ditumpas oleh TNI pada 30 September 1948.

Selain itu, masih ada banyak kekacauan yang diakibatkan oleh pemogokan organisasi yang berada di bawah PKI, aksi kekerasan dari ormas PKI di berbagai wilayah dengan berbagai jargon politik bernada kekerasan seperti “Ganyang Nekolim”, “Ganyang Kabir”, “Ganyang Tujuh Setan Kota” dan lain sebagainya hingga mencapai puncaknya pada peristiwa G30S PKI. Sejarah G30S/PKI Sebelum peristiwa 30S/PKI terjadi, Partai Komunis Indonesia (PKI) sempat tercatat sebagai partai komunis terbesar di dunia.

Hal tersebut didukung dengan adanya sejumlah partai komunis yang telah tersebar di Uni Soviet dan Tiongkok. Sejak dilakukan audit pada tahun 1965, setidaknya ada 3,5 juta pengguna aktif yang bernaung menjalankan program dalam PKI ini.

Jumlah tersebut belum termasuk 3 juta jiwa yang menjadi kader dalam anggota pergerakan pemuda komunis. Selain itu, PKI juga memiliki hak kontrol secara penuh terhadap pergerakan buruh, kurang lebih ada 3,5 juta orang sudah ada di bawah pengaruhnya.

Tidak hanya itu, masih ada 9 juta anggota lagi yang terdiri dari gerakan petani dan beberapa gerakan lain. Misalnya pergerakan wanita, pergerakan sarjana dan beberapa organisasi penulis yang jika dijumlahkan bisa mencapai angka 20 juta anggota pemimpin g30spki para pendukungnya.

Masyarakat curiga dengan adanya pernyataan isu bahwa PKI adalah dalang dibalik terjadinya peristiwa 30 September yang bermula dari kejadian di bulan Juli 1959, yang mana pada saat itu parlemen telah dibubarkan. Sedangkan Presiden Soekarno justru menetapkan bahwa konstitusi harus berada di bawah naungan dekrit presiden. PKI berdiri dibelakang dukungan pemimpin g30spki dekrit presiden Soekarno.

Sistem Demokrasi Terpimpin pemimpin g30spki diusung oleh Soekarno disambut dengan antusias oleh PKI. Karena dengan adanya sistem tersebut, PKI meyakini bahwa mereka mampu menciptakan suatu persekutuan konsepsi yang Nasionalis, Agamis dan Komunis (NASAKOM). Latar Belakang G30S/PKI 30 September 1965 bukan kali pertama bagi PKI melakukan pemberontakan karena sebelumnya pada tahun 1948 PKI juga pernah melayangkan pemberontakan di daerah Madiun, Jawa Timur.

Amir Syarifuddin dan Muso adalah pelopor pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tujuan pemberontakan PKI di Madiun adalah mendirikan negara komunis dengan melenyapkan Negara Republik Indonesia.

pemimpin g30spki

Dengan adanya ajaran mengenai Nasakom (Nasional, Agama, Komunis) dari Presiden Soekarno memberikan keuntungan besar bagi PKI karena membuat PKI menjadi bagian resmi dalam susunan politik Indonesia yang sebenarnya hanya akan membuka jalan bagi PKI untuk menjalankan segala rencana mereka. Salah satu bukti nyata tindakan PKI adalah pemberontakan G30S/PKI yang dikomando oleh DN. Aidit. Tujuan pemberontakan tersebut adalah untuk melenyapkan TNI-AD dan mengambilalih pemerintahan Indonesia.

Selain ingin menguasai pemerintahan, ada juga faktor lain yang menyebabkan PKI melakukan pemberontakan adalah: • TNI AD keberatan jika Angkatan kelima dibentuk • TNI AD menolak pemimpin g30spki Nasakomisasi karena meraka menganggap bahwa dengan adanya ajaran ini hanya kedudukan PKI yang diuntungkan. • TNI AD memprotes diadakannya Poros Jakarta Peking dan konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut mereka dengan adanya Poros Jakarta-Peking dan konfrontasi dengan Malaysia hanya akan memberi kesempatan bagi Cina untuk menyebarkan semangat revolusi komunis di Asia Tenggara damembuat hubungan baik dengan negara tetangga menjadi rusak. Lebih lengkapnya, latar belakang terjadinya gerakan 30 September atau dikenal dengan G30S/PKI diantaranya yaitu: Baca Juga : Pemberontakan DI/TII Pembentukan Angkatan Kelima PKI yang merasa kekuatan militernya masih sangat lemah saat menghadapi Angkatan Darat sangat berkepentingan untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan para petani yang dipersenjatai.

Pembentukan Angkatan Kelima ini merupakan gagasan Menlu Cina Chou En-Lai saat mengunjungi Jakarta pada tahun 1965, dan menjanjikan akan memasok 100 ribu pucuk senjata untuk Angkatan Kelima.

Gagasan tersebut menjadi alasan bagi pemimpin PKI dalam memperkuat pertahanan dan terus mendesak pembentukan Angkatan Kelima tersebut yang ditolak oleh Angkatan Darat. Begitu juga dengan Laksamana Muda Martadinata yang menolak atas nama Angkatan Laut.

Angkatan Kelima hanya akan diterima apabila berada dibawah komando ABRI. Nasakom Ideologi Pemimpin g30spki (Nasional, Agama, Komunis) adalah salah satu faktor dalam latar pemimpin g30spki G30S/PKI dan menjadi bagian dari sejarah G30S PKI lengkap.

Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai komunis terbesar di dunia selain Tiongkok dan Uni Soviet. Pada tahun 1965, jumlah anggota PKI yaitu sekitar 3,5 juta orang dan 3 juta orang lagi dari organisasi pergerakan pemudanya. Selain itu, masih ada beberapa organisasi yang diawasi dan dikontrol oleh PKI seperti pergerakan Serikat Buruh yang memiliki 3,5 juta anggota juga Barisan Tani Indonesia dengan 9 juta anggota, begitu juga dengan organisasi pergerakan wanita bernama Gerwani, organisasi penulis, artis, dan juga pergerakan para sarjana yang membuat PKI memiliki lebih dari 20 juta anggota serta pendukung.

Pada Juli 1959, parlemen dibubarkan dan Soekarno mengeluarkan ketetapan konstitusi berupa dekrit Presiden, ia mendapat dukungan penuh dari PKI. Angkatan bersenjata diperkuat dengan mengangkat jendral militer ke posisi yang penting dengan sistem Demokrasi Terpimpin. Sambutan PKI untuk Demokrasi Terpimpin sangat baik dan menganggap bahwa Soekarno memiliki mandat untuk persekutuan konsepsi antara pendukung Nasionalis, Agama dan Komunis (NASAKOM).

pemimpin g30spki

Angkatan Darat menolak ideologi NASAKOM tersebut sebagaimana diungkapkan oleh Jenderal Ahmad Yani. Konfrontasi Malaysia Malaysia sebagai negara federasi yang baru terbentuk pada 16 September 1963 merupakan salah satu faktor penting dalam latar belakang G30S/PKI. Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia mendekatkan Soekarno dengan PKI sehingga bisa menjelaskan mengapa para tentara menggabungkan diri dalam gerakan 30 S atau Gestok dan juga menjadi penyebab PKI menculik para tentara petinggi Angkatan Darat.

Terjadinya demonstrasi anti Indonesia di Kuala Lumpur yang menyebabkan PM. Malaysia Tunku Abdul Rahman menginjak-injak lambang Garuda karena dipaksa para demonstran menyebabkan kemurkaan Soekarno. Kemudian Ia menyerukan pembalasan dendam dengan slogan “Ganyang Malaysia” dan memerintahkan Angkatan Darat untuk melakukannya. Letjen Ahmad Yani tidak ingin melawan Malaysia yang masih mendapat bantuan Inggris karena menganggap tentara tidak memadai untuk berperang dalam skala itu.

Sedangkan Kepala Staf TNI AD A.H. Nasution menyetujuinya karena khawatir isu Malaysia akan dimanfaatkan PKI untuk memperkuat pemimpin g30spki di bidang politik Indonesia. Pada saat itu, Angkatan Darat berada dalam posisi yang serba salah karena tidak yakin akan menang pemimpin g30spki Inggris, tapi di sisi lain mereka akan menghadapi kemurkaan Soekarno jika tidak berperang. Keragu-raguan tersebut menghasilkan peperangan yang setengah hati di Kalimantan dan mengalami kegagalan, padahal ini merupakan operasi gerilya dimana tentara Indonesia sangat mahir melakukannya.

Kekecewaan Soekarno karena tidak didukung tentara membuatnya mencari dukungan pada PKI yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk keuntungannya sendiri. Selain itu, Angkatan Darat juga menolak adanya poros Jakarta-Phnom Penh-Peking-Pyongyang yang hanya akan membantu Cina memperluas semangat revolusi komunis di kawasan Asia Tenggara sehingga bisa merusak hubungan baik dengan negara tetangga.

Penolakan tersebut diwujudkan dalam bentuk seminar di Gedung Seskoad Bandung yang dihadiri oleh delapan Jenderal yaitu Rachmat Kartakusumah, J. Mokoginta, Suwarto, Jamin Ginting, Suprapto, Sutoyo, M.T. Haryono dan S. Parman pada 1-5 April 1965 yang menghasilkan doktrin strategis politis Angkatan Darat yang dinamakan Tri Ubaya Cakti.

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara Pembantaian Para Perwira TNI Pembunuhan para perwira Angkatan Darat merupakan puncak latar belakang G30S PKI. Situasi politik Indonesia yang genting pada sekitar bulan September 1965 memunculkan isu adanya Dewan Jenderal yang mengindikasikan ada beberapa petinggi Angkatan Darat yang tidak puas pada Soekarno dan berniat untuk menggulingkan pemerintahannya.

Hal tersebutlah yang memicu peristiwa G30S PKI. Soekarno disebut-sebut menanggapi isu dengan memerintahkan pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa para jenderal tersebut untuk diadili, nama dalam prosesnya konon beberapa oknum pasukan yang terbawa emosi justru melepaskan tembakan sehingga membunuh keenam petinggi TNI AD. TNI AD tersebut diantaranya Letjen Pemimpin g30spki Yani (Kastaf Komando AD), Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri), Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri), Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri), Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Pemimpin g30spki, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman), juga membunuh Ade Irma Suryani putri dari Jendral Abdul Harris Nasution yang selamat dari serangan tersebut dan menewaskan ajudannya, Lettu CZI Pierre Andreas Tendean.

Para korban yang dibuang ke Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta ditemukan pada tanggal 3 Oktober. Selain itu ada beberapa orang lain yang juga menjadi korban yaitu Bripka Karel Sasuit Tubun (pengawal di kediaman resmi Wakil PM II dr.

J. Leimena), Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta) dan Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kastaf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta). Kronologi Peristiwa G30S/PKI Pasukan G30S/PKI memulai aksinya dari Lubang Buaya pada 1 Oktober 1965 dini hari dan mulai menyebar ke segala sudut Jakarta. PKI berhasil menguasai beberapa instansi vital yang ada di Ibukota seperti Studio RRI, pusat Telkom dan sebagainya.

Pemimpin g30spki Pasopati PKI berhasil menculik dan membunuh para perwira TNI AD yang menjadi sasaran operasi. Berikut ini 6 Jenderal yang menjadi korban kebiadapan G30S/PKI diantaranya: • Letnan Jenderal Ahmad Yani (Menteri/Panglima AD/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi) • Mayjen Haryono Mas Tirtodarmo (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan) • Mayjen R.Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi) • Mayjen Siswono Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen) • Brigjen Donald Izacus Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik) • Brigjen Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat) Sedangkan, target lain yaitu Jenderal Abdul Haris Nasution berhasil melarikan diri tapi putrinya yang bernama Ade Irma Suryani tertembak dan meninggal di rumah pemimpin g30spki.

pemimpin g30spki

Ajudannya bernama Letnan Satu Pierre Andreas Tendean juga ikut menjadi sasaran penculikan karena kemiripan wajahnya dengan Jenderal Nasution.

Selain itu, Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun, yang merupakan pengawal rumah Waperdam II Dr.J. Leimena yang bertetangga dengan Nasution juga ikut tertembak.

Dengan kaburnya Jenderal Nasution, membuat cemas Aidit dan rekannya karena akan menyebabkan masalah besar. Kemudian, Suparjo memberikan saran untuk melakukan operasi kembali. Saat di istana, Suparjo melihat bahwa militer di kota sedang bingung. Akan tetapisaat itu para pemimpin gerakan tersebut tidak berbuat apa-apa.

Hal tersebut menjadi salah satu pemimpin g30spki kegagalan operasi yang mereka. Setelah berhasil membunuh para petinggi TNI AD, selanjutnya pimpinan G30S/PKI mendeklarasikan sebuah dektrit melalui RRI yang telah mereka kuasai.

Dekrit tersebut diberinya nama kode Dekrit No 1 yang menyampaikan hal mengenai pembentukan Dewan Revolusi Indonesia di bawah pimpinan Letnan Kolonel Untung. Bersumber pada revolusi, kekuasaan tertinggi yaitu dekrit tersebut, maka Dewan Revolusi merupakan kekuasaan tertinggi, Dekrit no 2 G30S/PKI tentang penurunan dan kenaikan pangkat dimana semua pangkat diatas Letkol diturunkan, sedang prajurit yang mendukung gerakan PKI diberi kenaikan pangkat 1 hingga 2 tingkat.

Baca Juga : Prasasti Peninggalan Kerajaan Sriwijaya Tokoh G30S/PKI Berikut tokoh-tokoh PKI, diantaranya pemimpin g30spki D.N. Aidit D.N. Aidit yang bernama lengkap Dipa Nusantara Aidit yang lahir di Belitung dan masuk ke Jakarta tahun 1940 merupakan Ketua Umum Comite Central PKI. Tokoh partai komunis Indonesia ini berhasil membawa PKI menjadi partai komunis terbesar di dunia.

Partai Komunis Indonesia menjadi tempat beliau belajar teori politik Marxis.

pemimpin g30spki

Aidit menjadi pengembang berbagai program dari PKI, diantaranya Pemuda Rakyat, Gerwani, Lekra, dan lain sebagainya. Usaha Aidit berakhir pada tahun 1965 saat G30SPKI. Beliau langsung melarikan diri ke Yogyakarta lalu berkeliling ke Semarang hingga Solo.

Kemudian D.N. Aidit ditangkap aparat di tempat persembunyiannya di Solo tepatnya di rumah Kasim alias Harjomartono. Musso Munawar Muso atau Musso merupakan tokoh partai komunis Indonesia yang memproklamirkan Pemerintahan Republik Soviet Indonesia pada 18 September 1948 di Madiun. Tujuan hal tersebut adalah untuk pemimpin g30spki Dasar Negara Indonesia yang semula Pancasila menjadi Komunis. Amir Syarifuddin Amir Syarifudin pernah menjadi negosiator Pemimpin g30spki pada perjanjian Renville yang tidak menguntungkan RI sehingga Amir Syarifudin dikecam berbagai kalangan yang membuat Kabinet Amir Syarifudin jatuh.

Dalam mengembalikan kedudukannya, Amir Syarifudin tentunya membuat Front Demokrasi Rakyat yang mengumpulkan kaum tani dan buruh. Bersama FDR, Amir Syarifudin berhasil menghasut buruh yang akhirnya pada 5 Juli 1959 terjadi pemogokan di pabrik karung Delanggu.

Amir Syarifudin juga menjadi tokoh yang juga memproklamirkan Republik Soviet Indonesia bersama Muso. Nyoto Lukman Njoto merupakan Wakil Ketua II CC PKI. Beliau juga menjadi orang yang ketiga pada saat PKI sedang di masa jayanya. Tokoh Pemimpin g30spki Komunis Indonesia ini juga menjadi menteri kabinet Dwikora yang mewakili PKI. Bahkan, Nyoto dipercaya oleh Ir. Soekarno untuk menulis pidato kenegaraan yang akan dibacakan oleh Ir. Soekarno.

Sekitar tanggal 16 Desember 1965, Nyoto pulang dari sidang kabinet di Istana Negara. Tidak lama kemudian, mobilnya dicegat di sekitaran Menteng kemudian Nyoto dipukul serta dibawa pergi tentara dan langsung ditembak mati.

pemimpin g30spki

MH. Lukman Muhammad Hatta Lukman juga merupakan tokoh partai Komunis Indonesia yang juga bersama dengan Aidit dan Nyoto bahkan ketiganya dikenal sebagai tiga pemimpin PKI atau triumvirat. Beliau mengikuti ayahnya yang dibuang ke Papua dan biasa hidup di tengah pergerakan. Setelah pemberontakan Madiun tahun 1948, kepemimpinan PKI diambil alih oleh tiga orang ini.

Nasib MH. Lukman juga sama seperti Aidit dan Nyoto, diculik dan ditembak mati tentara. Mayat dan kuburan ketiga tokoh Partai Komunis Indonesia ini juga tidak diketahui keberadaannya. Tujuan G30S/PKI Tujuan Gerakan 30 September yang dilakukan PKI Diantaranya yaitu: • Ini merupakan aksi PKI sebagai usaha untuk mengambil alih kekuasaan di Indonesia dengan menggunakan oknum ABRI sebagai kekuatan fisik.

• Tujuan utama komunis di Negara Non Komunis adalah mengambilalih pemimpin g30spki negara dan mengkomuniskannya. • Upaya yang pemimpin g30spki dalam jangka panjang berlanjut dari generasi ke generasi. • Aksi yang dilakukan tidak terlepas dari kegiatan komunisme internasional. Pengaruh G30S/PKI Bagi Bangsa Indonesia Berakhirnya G30S/PKI tidak membuat kondisi politik Indonesia langsung kembali normal. Kondisi nasional masih sangat menyedihkan dan kehidupan ideologi nasional juga belum mapan.

Selain itu, banyaknya konflik antar partai politik membuta situasi politik juga belum normal kembali. Demokrasi terpimpin yang dianut Indonesia saat itu justru membuat sistem pemerintahan di Indonesia menjadi otoriter dan menindas rakyat atau diktator. Perekonomian juga memburuk sehingga diberbagai tempat banyak terjadi kemiskinan dan kelaparan.

Presiden Soekarno menyalahkan pihak yang terlibat dalam gerakan pemberontakan ini yang mengakibatkan banyak korban tewas termasuk para petinggi TNI AD dan korban lainnya yang tidak bersalah. Presiden Soekarno menyatakan bahwa bisa saja dalam revolusi terjadi gerakan seperti G30S/PKI.

Sikap tersebut diartikan lain oleh rakyat dan beranggapan bahwa Soekarno membela PKI. Hal tersebut membuat popularitas dan kewibawaan Presiden menurun di mata Rakyat Indonesia. Sehingga pada 10 Januari 1966, terjadi demonstrasi dimana para demonstran memberitahukan tiga tuntutan mereka yang dikenal pemimpin g30spki TRITURA (Tri Tuntutan Rakyat) yang isinya antara lain: • Pembubaran Parkai Komunis Indonesia pemimpin g30spki • Pembersihan unsur PKI dalam Kabinet Dwikora.

• Penurunan harga (perbaikan ekonomi). Pemerintah melakukan mengadakan reshuffle pada Kabinet Dwikora. perombakan ini dilakukan pada 21 Februari 1966 lalu kabinet tersebut dinamai Kabinet Dwikora Yang Disempurnakan. Kabinet Dwikora sering disebut kabinet seratus menteri karena jumlah anggotanya hampir seratus orang. Disaat mendekati pelantikan kabinet pada tanggal 24 Februari 1966, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) melakukan demonstasi dan dalam aksi tersebut seorang mahasiswa Universitas Indonesia bernama Arief Rahman Hakim tewas.

Kejadian tersebut memberikan pengaruh pada banyaknya aksi demonstrasi yang terjadi. Tiga perwira TNI AD bertemu dengan presiden yang didampingi oleh Dr. Subandrio, Dr. J. Leimena dan Dr. Chaerul Saleh. Kesimpulannya, ketiga perwira tersebut bersama denganKomandan Resimen Cakrabirawa yaitu Brigjen Sabur diperintahkan membuat konsep surat perintah pada Letjen Soeharto.

Surat Perintah tersebut dikenal dengan nama Surat Perintah 11 Maret (SUPERSEMAR). Isi pokok surat perintah tersebut adalah perintah untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu dilakukan atas nama Presiden kepada Letjen Soeharto untuk menjamin keamanan dan ketertiban serta kestabilan jalannya pemerintahan dan revolusi serta menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan presiden.

Baca Juga : Pengertian Ekonomi Penumpasan G30S/PKI Tindakan yang dilakukan untuk menumpas pemberontakan G30S/PKI diantaranya yaitu: • Menetralkan pasukan di sekitar Medan Merdeka yang dimanfaatkan oleh G30S/PKI.

• Operasi militer penumpasan G30S/PKI dilakukan sore hari. • Pasukan RPKAD berhasil merebut gedung RRI pusat, gedung telekomunikasi dan mengamankan seluruh wilayah Medan Merdeka yang dikuasai PKI tanpa adanya gencatan senjata. • Pasukan Batalyon 238 Kujang/Siliwangi berhasil menguasai lapangan banteng dan mengamankan markas Kodam V/Jaya dan sekitarnya.

• Presiden Soekarno meninggalkan Halim Perdana Kusuma dan bertolak ke Istana Pemimpin g30spki. • Pasukan RPKAD bergerak menuju target dipimpin oleh Kolonel Subiantoro. • Dalam gerakan pembersihan ke kampung di sekitar lubang buaya, Ajun Brigadir Polisi Sukitman yang sempat ditawan penculik berhasil kabur. • Pada 3 Oktober 1965 jenazah para perwira tinggi AD yang dikuburkan dalam sumur tua berhasil ditemukan.

• Pada 5 Oktober 1965 yang bertepatan dengan hari ABRI, jenazah para petinggi TNI AD dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan mereka dianugerahi gelar pahlawan Revolusi. Penumpasan G30S/PKI Di Jawa Tengah dan Yogyakarta Beberapa penumpasan G30S/PKI di Jawa Tengah dan Yogyakarta, diantaranya yaitu: • Brigjen Surjosumpeno mengubungi para perwira untuk mendapatkan pengarahan atau taklimat.

• Panglima Kodam memberi perintak ke para pejabat agar tetap tenang dan berusaha menenangkan rakyat karena situasi sebenarnya belum diketahui. • Bertolak ke Magelang untuk menata kekuatan. • Pada 2 Oktober kota Semarang berhasil dibebaskan dengan kekuatan 2 pleton BTR.

• Kota yang pernah dikuasai G30S/PKI berhasil direbut kembali. • Komando Operasi Merapi dibentuk dan dipimpin oleh Kolonel Sarwo Edi Wibowo. • Kolonel Sahirman, Kolonel Maryono, dan Kapten Sukarno berhasil ditembak mati. • Operasi yang dilancarkan Blitar disebut Operasi Trisula. • Diluar Jakarta dan Jawa Tengah hanya dilakukan Gerakan Operasi Territorial.

Demikian pembahasan latar belakang dan sejarah G30S/PKI. Semoga bermanfaat. Posted in Sejarah Tagged aksi gerakan g30s pki, kronologi g30s pki, latar belakang g 30 s pki, latar belakang g pemimpin g30spki s pki 1965 secara singkat, latar belakang g 30 s secara singkat, latar belakang g30s pki brainly, peristiwa g 30 s pki secara singkat, rangkuman g30s pki lengkap, rangkuman peristiwa g30s pki, sejarah g30s pki lengkap, sejarah g30s pki lengkap dan singkat, sejarah g30s pki lengkap pdf, tokoh pemberontakan g30s pki brainly, tujuan g30s pki Post navigation Recent Posts • √ 15 Pakaian Adat Aceh Modern, Gayo, Laki-Laki, Perempuan dan Anak-Anak • √ 10 Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai dan Gambarnya • √ Sejarah Kerajaan Gowa Tallo, Raja, Kehidupan, Masa Kejayaan, Runtuhnya dan Peninggalannya • √ Sejarah Kerajaan Ternate, Masa Kejayaan, Runtuhnya dan Peninggalan [LENGKAP] • √ Pluralitas Masyarakat Indonesia : Pengertian dan Faktor Penyebab [LENGKAP] • √ Sejarah Perang Banjar : Latar Belakang, Penyebab, Jalan, Akhir dan Tokoh • √ 11 Negara Asia Tenggara (ASEAN), Letak Geografis, Posisi dan Batas Wilayahnya • √ 16 Prasasti Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya [LENGKAP] • √ Peninggalan Kerajaan Majapahit dan Gambarnya [LENGKAP] • √ Sejarah Masa Pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945) [Lengkap] • √ 12 Macam Organisasi Bentukan Jepang Di Indonesia [LENGKAP] • √ Latar Belakang Perang Dunia 1 : Penyebab, Jalan, Negara Yang Terlibat, Akhir dan Dampak • √ Sejarah Kerajaan Malaka : Raja, Kehidupan, Masa Kejayaan, Kemunduran dan Peninggalan [LENGKAP] • √ 15 Peninggalan Kerajaan Kutai Beserta Gambarnya [LENGKAP] • √ Pengertian Ekspor dan Impor : Tujuan, Manfaat, Dampak dan Contoh Komoditas Ekspor dan Impor • √ Pemimpin g30spki Kerajaan Sriwijaya : Letak, Raja, Masa Kejayaan, Keruntuhan dan Peninggalannya • √ 26 Peninggalan Kerajaan Kediri Beserta Gambarnya [LENGKAP] • √ Sarekat Islam : Sejarah, Latar Belakang, Tokoh dan Kemuduran Organisasi Sarekat Islam (SI) • √ 10 Nama Sungai Terbesar Di Indonesia Beserta Daerahnya • √ Kerjasama Ekonomi Internasional : Tujuan, Manfaat dan Bentuk Kerjasama Ekonomi Internasional • √ Latar Belakang Pemberontakan Andi Azis : Pemimpin g30spki, Upaya Penumpasan dan Akhir Pemberontakan Andi Azis • √ Sejarah Masuknya Islam Di Indonesia : Saluran, Teori dan Bukti Masuknya Islam Ke Indonesia • √ Isi Dekrit Presiden 5 Juli 1959 : Latar Belakang, Alasan dan Dampaknya • √ Kedatangan Bangsa Barat ke Indonesia : Sejarah, Tujuan dan Latar Belakang Bangsa Barat ke Indonesia • √ Sejarah Kerajaan Samudera Pasai : Pemimpin g30spki Raja, Kejayaan, Runtuhnya, Kehidupan dan Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai • √ Sejarah Perang Aceh Melawan Belanda (1873-1904), Penyebab, Kronologi dan Perlawanan Pemimpin g30spki Aceh • √ Peninggalan Kerajaan Kalingga : Sejarah, Sumber, Raja, Masa Kejayaan dan Runtuhnya Kerajaan Kalingga (Holing) • √ Sejarah G30S/PKI: Latar Belakang, Peristiwa, Tokoh, Tujuan dan Penumpasan G30S/PKI • √ 34 Nama Provinsi di Indonesia dan Ibukotanya Lengkap • √ Pemberontakan DI/TII : Latar Belakang, Tujuan, Kronologi, Penyebab dan Akhir Pemberontakan DI/TII Kebahagiaan dari kemerdekaan yang kita rasakan hari ini tak terlepas dari sejarah pahit yang pernah kita alami dahulu.

Dan salah satu sejarah paling pahit yang pernah dialamk bangsa Indonesia itu adalah Gerakan 30 September atau yang memiliki berbagai nama seperti Pemimpin g30spki, Gestapu(Gerakan September Tiga Puluh) ataupun Gestok(Gerakan Satu Oktober) yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia(PKI). Sejarah pahit itu seperti mimpi buruk, karena ratusan, ribuan bahkan jutaan nyawa melayang dalam tragedi itu.

Pahitnya sejarah membuat kita perlu mempelajarinya agar hal yang sama tak terulang lagi di masa depan. Hal-hal seperti tujuan dan pemimpin G30S/PKI merupakan beberapa faktor penting yang perlu kita pelajari.

Asal-Usul PKI Sebelum kita mempelajari tujuan dan pemimpin G30S/PKI, kita sendiri perlu mengetahui apa itu PKI terlebih dahulu. PKI adalah partai komunis terbesar ke-3 di dunia setelah partai komunis di Tiongkok dan Moskow. Tercatat, PKI memiliki 20 juta anggota dari berbagai macam kalangan baik dari kalangan buruh(dengan anggota sekitar 3,5 juta jiwa), kalangan Barisan Tani Indonesia(9 juta anggota), organisasi pergerakan wanita, penulis, artis, sarjana dan lainnya.

Asal-usul PKI sendiri di Indonesia dimulai dari tahun 1914, dimana seorang tokoh komunis dari Belanda bernama Hendricus Josephus Fransiscus Marie Snevliet atau biasa dikenal Henk Snevliet membentuk Indische Social Democratic Association(ISDV) yang merupakan sebuah serikat tenaga kerja di pelabuhan.

ISDV dibentuk demi mengajarkan masyarakat Indonesia tentang paham-paham marxis dan mengedukasi masyarakat Indonesia menentang pemimpin g30spki kolonial. Meski awalnya ISDV mayoritas beranggotakan orang Belanda, tapi dengan berjalannya waktu lebih tepatnya tahun 1919 ISDV hanya memiliki 25 irang anggota orang Belanda dengan anggota yang berjumlah total kurang dari 400.

Salah satu hal yang menyebabkan hal itu terjadi adalah memisahnya kelompok reformis dari ISDV pada tahun 1917 dengan motif membentuk partai sendiri yang bernama Partai Demokrat Sosial Hindia. Pada tahun 1920 ISDV mengubah namanya menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH) yang diketuai oleh Semau dan diwakili oleh Darsono. Dengan ini, PKH menjadi partai komunis di Asia yang pertama kali tergabung dalam Komunis Internasional.

Dan pada kongres Komunis Internasional ke-6, sekali lagi partai ini mengubah namanya menjadi Partai Komunis Indonesia. Setelah paham akan hal tersebut diatas maka tujuan dan pemimpin G30S/PKI yang akan kita bahas pastinya akan lebih anda pahami. Tujuan PKI Tujuan didirikannya PKI sendiri tak jauh berbeda dengan tujuan awal didirikannya ISDV yaitu sebagai salah satu sarana dalam penyebarluasan paham dan mewujudkan pemerintahan yang berlandaskan ideologi komunisme.

Dan demi mencapai tujuannya itu, PKI tidak segan-segan dalam menggunakan cara-cara kekerasan. Salah satu contohnya adalah G30S/PKI dengan tujuan mengkudeta kekuasaan dan mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi Komunisme.

pemimpin g30spki

Dengan tujuan tersebut, beberapa hal yang mungkin terjadi jika PKI berhasil menguasai pemerintahan adalah: 1. Membuat Indonesia sebagai pusat penyebaran komunisme di Asia di Asia Dengan berkuasanya PKI di Indonesia, maka keikutsertaan Indonesia menjadi negara Komunis dapat membuatnya sebagai paham terbesar di dunia.

Berkembangnya paham Komunisme pun dapat mencegah paham Kapitalisme pemimpin g30spki datang dari Amerika. Hal ini membuat paham Komunisme dapat terus untuk bangkit. 2. Berdirinya Angkatan Kelima Angkatan Kelima merupakan angkatan bersenjata setelah Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Angkatan Kepolisian yang anggotanya terdiri dari para buruh pemimpin g30spki petani yang dipersenjatai. Hal ini didukung dengan niat Perdana Menteri China yang berniat mempersenjatakan Angkatan Kelima dengan 100 ribu buah senapan secara gratis.

Uni Soviet yang merupakan negara dengan paham serupa pun bukan tak mungkin melakukan hal yang sama. 3. Diangkatnya D.N. Aidit sebagai menteri Mengingat Soekarno dihormati oleh kalangan PKI, maka kemungkinan bagi Soekarno dilengserkan dari jabatan presiden termasuklah kecil. Hal ini didorong oleh pemimpin g30spki Soekarno yang sama dengan PKI yang benci terhadap barat. Pemimpin-pemimpin PKI yang ada di Indonesia seperti berikut: 1.

D.N. Aidit Dipa Nusantara Aidit atau biasa dipanggil Amat, merupakan salah satu tokoh terpenting yang menjabat sebagai ketua di PKI. Lahir pada tanggal pemimpin g30spki Juli 1923 di Tanjung Pandan, Belitung, Aidit kecil lahir dengan nama asli Ahmad Aidit.

Sebagai pelajar, Aidit mendapatkan pendidikannya di Sekolah Dagang/Handelsschool. Lalu lewat Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda(yang kemudian berganti nama menjadi PKI), dia mempelajari paham komunisme. Program-program yang dibuatnya untuk rakyat kecil di Indonesia, membuat Aidit dan PKI mendapatkan banyak dukungan suara dalam pemilu 1955.

PKI semakin terlihat menonjol dengan kekuatan extra-parlementer mereka yang membuatnya unggul setelah sistem parlementer dibubarkan.

Ditambah, banyaknya koneksi yang Aidit miliki termasuk dengan Presiden Soekarno, membuat PKI menjadi partai yang sangat berpengaruh saat itu. Setelah terjadinya peristiwa G30S/PKI, dengan dikeluarkannya tuduhan resmi pemerintah orde baru oleh Jendral Soeharto, PKI dituduh sebagai pelaku utama dan Aidit sebagai ketuanyalah yang bertanggung jawab atas peristiwa itu.

Sayang, Aidit meninggal dalam pengejaran oleh militer dalam pelariannya ke Yogyakarta sebelum dia sempat terbukti. Selain cara kematiannya yang masih kontroversi, tempat pemakaman jenazahnya sendiri masih belum diketahui.

2. M.H.Lukman Muhammad Hatta Lukman pemimpin g30spki wakil ketua I CC PKI(Central Comittee Partai Komunis Indonesia), lahir di Tegal pada tahun 1920. Saat kecil, Lukman dan keluarganya pernah dibuang ke kamp tahanan Boven Digul, Papua Barat karena ayahnya yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Kolonial Belanda. Baru pada tahun 1938 dia dapat kembali pulang ke kota asalnya, Tegal.

Lalu pada tahun 1943 Lukman yang bertemu D.N.Aidit pun masuk dan menjadi salah satu petinggi di dalam PKI. Pada akhir tahun 1965, Lukman dieksekusi mati secara diam-diam karena dianggap terlibat dalam G30S/PKI. 3. Njoto Lukman Njoto adalah wakil ketua II CC PKI yang juga menjabar sebagai Menteri Negara saat masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Pria yang memiliki hubungan dekat dengan D.N. Aidit ini memiliki seorang istri bernama Sutarni dan juga tujuh orang anak. Pada tanggal 11 Maret 1965, dalam perjalan pulang ke rumahnya di Jalan Tirtayasa, Njoto yang sepulang dari sidang kabinet telah diculik oleh beberapa orang tak dikenal.

Walau beberapa orang mengaku sempat melihatnya dalam Rutan Salemba, setelah itu pemimpin g30spki bahwa Njoto pemimpin g30spki dieksekusi salah satu pulau kepulauan Seribu, Teluk Jakarta. Sementara itu istri dan ketujuh anaknya dimasukkan ke dalam tahanan di Kodim Jalan Setiabudi, Jakarta.

4. Letkol Untung bin Syamsuri Letnan Kolonel Untung Syamsuri adalah tokoh militer PKI terpenting yang menjadi kunci dalam penculikan para jendral angkatan darat yang dituduh akan membentuk Dewan Jendral dalam peristiwa G30S/PKI. Untung berperan sebagai Komando Operasional dalam G30S/PKI. Setelah gagal dalam operasi G30S/PKI yang dilakukannya, untung berhasil menyelamatkan diri dan sempat menghilang beberapa bulan.

Sampai secara tidak sengaja dirinya tertangkap oleh dua orang anggota Armed di Brebes, Jawa Tengah. Pada mulanya, Untung tidak mengakui namanya, bahkan tidak ada yang menyangka bahwa ia adalah tokoh kunci dalam G30S/PKI. Setelah pemeriksaan mendalam di markas CPM Tegal, akhirnya identitasnya pun terungkap. Setelah melalui sidang, Untung pun dieksekusi di Cimahi, Jawa Barat 5. Lettu Doel Arief Letnan Satu Doel Arief adalah salah satu tokoh militer PKI yang ikut serta dalam peristiwa G30S/PKI.

Penangkapan para jendral yang pada awalnya tidak ada perintah pembunuhan, berubah menjadi kacau saat dirinya yang memimpin Pasukan Pasopati mengintrusikan untuk menangkap mereka hidup atau mati. Kekacauan juga terjadi saat Lettu Doel Arief bergabung dengan Pelda Djahurub dalam operasi penculikan A.H.Nasution. Operasi tersebut gagal karena keributan yang terjadi dari awal sehingga menyebabkan A.H.Nasution berhasil kabur.

Meski begitu, Pierre Tendean dan Karel Satsuit Tubut yang merupakan pengawal di rumah Jendral Leimana telah menjadi korban. 6. Ibnu Parna Ibnu Parna merupakan pemimpin Partai Acoma(Angkatan Communis Muda) sekaligus politisi fraksi PKI, selain itu dia juga menjadi pemimpin serikat pekerja.

Ibnu Parna memiliki peran besar sebagai pemimpin pemuda dalam perjuangan anti-kolonial di Semarang pada masal awal kemerdekaan. Dalam pemimpin g30spki legislatif 1955, Ibnu Parna menjadi satu-satunya kandidat Partai Acoma yang mendapatkan kursi.

Lalu dia pun juga menjabat sebagai sekretaris SOBRI(Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia). Setelah terjadinya G30S/PKI, Ibnu Parna kemudian tewas dalam Pembantaian Indonesia 1965-1966.

7. Sjam Kamaruzzaman Sjam Kamaruzzaman adalah kepala Biro Khusus PKI yang bertugas mendapatkan simpatisan dari kalangan TNI dan PNS. Setelah diangkatnya Sjam sebagai kepala Biro Khusus PKI pada tahun 1964, Sjam bersama keempat asistennya sebagai agen rahasia bertemu sebulan sekali untuk bertukar informasi dan yang kemudian informasi itu akan disampaikannya pada Aidit.

Dalam melakukan pendekatan kepada tentara, Sjam melakukan pendekatan yang ramah. Lalu setelah berhasil dia akan mendoktrinkan marxisme.

Sjam juga memberikan informasi pemberontakan yang terjadi di beberapa daerah, mengingat para pemberontak juga merupakan orang-orang yang anti-komunis. Sjam telah berhasil menyusup dengan sukses ke dalam militer dan melakukan kotak yang teratur dengan ratusan petugas. Meski begitu, G30S/PKI gagal, Sjam yang menjadi saksi dalam berbagai masalah terkait pjn melalui sidang yang panjang hingga akhirnya dieksekusi pada bulan September tahun 1986.

Demikian tujuan dan pemimpin G30S/PKI. Dengan ini dapat diketahui dari tujuan dan pemimpin G30S/PKI berakhir dengan dieksekusi. Sejarah pahit tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi negara-negara yang pernah menganut paham komunisme memang telah merenggut puluhan juta nyawa seperti yang terjadi di Uni Soviet, Kamboja dan RRC. Penumpasan para tokoh-tokoh PKI berguna agar sejarah yang pahit tidak akan terulang kembali.

Sekecil apapun bibit itu, kita perlu memusnahkannya sebelum menjadi semakin berbahaya dan terlambat.
Gerakan 30 September Proses pengangkatan 7 jenazah korban G30S/PKI dari sebuah sumur lama di kawasan Lubang Buaya pada tanggal 3 Oktober 1965 Tanggal 30 September malam - 1 Oktober menjelang pagi Lokasi Kelurahan Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur Korban 1.

Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani (43 tahun) 2. Mayor Jenderal TNI Raden Suprapto (45 tahun) 3. Mayor Jenderal TNI Mas Tirtodarmo Haryono (41 tahun) 4. Mayor Jenderal TNI Siswondo Parman (47 tahun) 5. Brigadir Jenderal TNI Donald Isaac Panjaitan (40 tahun) 6. Brigadir Jenderal TNI Sutoyo Siswomiharjo (43 tahun) 7. Letnan Satu Pierre Andreas Tendean (26 tahun) dan korban-korban lainnya.

Gerakan 30 September (G30S) adalah sebuah pemimpin g30spki berlatarbelakang kudeta yang terjadi selama satu malam pada tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965 yang mengakibatkan gugurnya enam jenderal serta satu orang perwira pertama militer Indonesia dan jenazahnya dimasukkan ke dalam suatu lubang sumur lama di area Lubang Pemimpin g30spkiJakarta Timur.

[1] Pemimpin g30spki persitiwa ini memiliki ragam jenis, Presiden Soekarno menyebut peristiwa ini dengan istilah GESTOK (Gerakan Satu Oktober), sementara Presiden Soeharto menyebutnya dengan istilah GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh), dan pada Orde Baru, Presiden Soeharto mengubah sebutannya menjadi G30S/PKI (Gerakan 30 September PKI).

Daftar pemimpin g30spki • 1 Latar belakang • 1.1 Angkatan kelima • 1.2 Isu sakitnya Bung Karno • 1.3 Isu masalah tanah dan bagi hasil • 1.4 Faktor Malaysia • 1.5 Faktor Amerika Serikat • 1.6 Faktor ekonomi • 2 Peristiwa • 2.1 Isu Dewan Jenderal • 2.2 Isu Dokumen Gilchrist • 2.3 Isu Keterlibatan Soeharto • 3 Korban • 4 Pascakejadian • 4.1 Penangkapan dan pembantaian • 4.2 Supersemar • 4.3 Pertemuan Jenewa, Swiss • 5 Peringatan • 6 Lihat pula • 7 Referensi • 8 Bacaan lebih lanjut • 9 Pranala luar Latar belakang Perayaan Milad PKI yang ke 45 di Jakarta pada awal tahun 1965 Partai Komunis Indonesia (PKI) merupakan partai komunis [2] terbesar di seluruh dunia di luar Tiongkok dan Uni Soviet.

Sampai pada tahun 1965 anggotanya berjumlah sekitar 3,5 juta, ditambah 3 juta dari pergerakan pemudanya. PKI juga mengontrol pergerakan serikat buruh yang mempunyai 3,5 juta anggota dan pergerakan para petani anggota Barisan Tani Indonesia yang berjumlah 9 juta anggota. Termasuk pergerakan wanita ( Gerwani), organisasi penulis dan artis serta pergerakan sarjananya, PKI mempunyai lebih dari 20 juta anggota dan pendukung.

Pada bulan Juli 1959 parlemen dibubarkan. Kemudian, Sukarno menetapkan konstitusi di bawah dekret presiden – sekali lagi dengan dukungan penuh dari PKI. Ia memperkuat tangan angkatan bersenjata dengan mengangkat para jenderal militer ke pemimpin g30spki yang penting.

Sukarno menjalankan sistem " Demokrasi Terpimpin". PKI menyambut "Demokrasi Terpimpin" Sukarno dengan hangat dan anggapan bahwa dia mempunyai mandat untuk persekutuan Konsepsi yaitu antara Nasionalis, Agama dan Komunis yang dinamakan NASAKOM. Pada era "Demokrasi Terpimpin", kolaborasi antara kepemimpinan PKI dan kaum burjuis nasional dalam menekan pergerakan-pergerakan independen kaum buruh dan petani, gagal mengatasi masalah-masalah politis dan ekonomi yang mendesak.

Pendapatan ekspor menurun, foreign reserves menurun, inflasi terus menaik, serta pemimpin g30spki birokrat dan militer menjadi wabah. Angkatan kelima Artikel utama: Angkatan Kelima Pada kunjungan Menlu Subandrio ke Tiongkok, Perdana Menteri Zhou Enlai menjanjikan pemimpin g30spki pucuk senjata jenis chung, penawaran ini gratis tanpa syarat dan kemudian dilaporkan ke Bung Karno tetapi belum juga menetapkan waktunya sampai meletusnya G30S.

Pada awal tahun 1965, Bung Karno atas saran dari PKI akibat dari tawaran perdana menteri RRC, mempunyai ide tentang Angkatan Kelima yang berdiri sendiri terlepas dari ABRI. Akan tetapi, petinggi Angkatan Darat tidak setuju dan hal ini lebih menimbulkan nuansa curiga-mencurigai antara militer dan PKI. Dari tahun 1963, kepemimpinan PKI makin lama makin berusaha memprovokasi bentrokan-bentrokan antara aktivis massanya dengan polisi dan militer. Pemimpin-pemimpin PKI juga menginfiltrasi polisi dan tentara dengan slogan "kepentingan bersama" polisi dan "rakyat".

Pemimpin PKI DN Aidit mengilhami slogan "Untuk Ketentraman Umum Bantu Polisi". Di bulan Agustus 1964, Aidit menganjurkan semua anggota PKI membersihkan diri dari "sikap-sikap sektarian" kepada angkatan bersenjata, mengimbau semua pengarang dan seniman sayap-kiri untuk membuat "massa tentara" subjek karya-karya mereka. Di akhir 1964 dan permulaan 1965 ribuan petani anggota Barisan Tani Indonesia (BTI) bergerak merampas tanah dengan dasar Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.

Bentrokan-bentrokan besar terjadi antara mereka dengan polisi dan para pemilik tanah. Bentrokan-bentrokan tersebut dipicu oleh propaganda PKI yang menyatakan bahwa petani berhak atas setiap tanah, tidak peduli tanah siapapun (milik negara = milik bersama).

Kemungkinan besar PKI meniru revolusi Bolsevik di Rusia, di mana di sana rakyat dan partai komunis menyita milik Tsar dan membagi-bagikannya kepada rakyat.

Pada permulaan 1965, para buruh mulai menyita perusahaan-perusahaan karet dan minyak milik Amerika Serikat. Kepemimpinan PKI menjawab ini dengan memasuki pemerintahan dengan resmi. Pada waktu yang sama, jenderal-jenderal militer tingkat tinggi juga menjadi anggota kabinet. Jenderal-jenderal tersebut masuk kabinet karena jabatannya di militer oleh Sukarno disamakan dengan setingkat menteri.

Hal ini dapat dibuktikan dengan nama jabatannya (Menpangab, Menpangad, dan lain-lain). Menteri-menteri PKI tidak hanya duduk di sebelah para petinggi militer di dalam kabinet Sukarno ini, tetapi mereka terus mendorong ilusi yang sangat berbahaya bahwa angkatan bersenjata adalah merupakan bagian dari revolusi demokratis "rakyat". [3] Pemimpin g30spki memberikan ceramah kepada siswa-siswa sekolah angkatan bersenjata di mana ia berbicara tentang "perasaan kebersamaan dan persatuan yang bertambah kuat setiap hari antara tentara Republik Indonesia dan unsur-unsur masyarakat Indonesia, termasuk para komunis".

Rezim Sukarno mengambil langkah terhadap para pekerja dengan melarang aksi-aksi mogok di industri. Kepemimpinan PKI tidak berkeberatan karena industri menurut mereka adalah milik pemerintahan NASAKOM. Tidak lama PKI mengetahui dengan jelas persiapan-persiapan untuk pembentukan rezim militer, menyatakan keperluan untuk pendirian "angkatan kelima" di dalam angkatan bersenjata, yang terdiri dari pekerja dan petani yang bersenjata.

Bukannya memperjuangkan mobilisasi massa yang berdiri sendiri untuk melawan ancaman militer yang sedang berkembang itu, kepemimpinan PKI malah berusaha untuk membatasi pergerakan massa yang makin mendalam ini dalam batas-batas hukum kapitalis negara. Mereka, depan jenderal-jenderal militer, berusaha menenangkan bahwa usul PKI akan memperkuat negara. Aidit menyatakan dalam laporan ke Komite Sentral PKI bahwa "NASAKOMisasi" angkatan bersenjata dapat pemimpin g30spki dan mereka akan bekerja pemimpin g30spki untuk menciptakan "angkatan kelima".

Kepemimpinan PKI tetap berusaha menekan aspirasi revolusioner kaum buruh di Indonesia. Di bulan Mei 1965, Politbiro PKI masih mendorong ilusi bahwa aparatus militer dan negara sedang diubah untuk mengecilkan aspek anti-rakyat dalam alat-alat negara.

Isu sakitnya Bung Karno Sejak tahun 1964 sampai menjelang meletusnya G30S telah beredar isu sakit parahnya Bung Karno. Hal ini meningkatkan kasak-kusuk dan isu perebutan kekuasaan apabila Bung Karno meninggal dunia. Namun menurut Subandrio, Aidit tahu persis bahwa Bung Karno hanya sakit ringan saja, jadi hal ini bukan merupakan alasan PKI melakukan tindakan tersebut. Isu masalah tanah dan bagi hasil Pada tahun 1960 keluarlah Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari Panitia Agraria yang dibentuk pada tahun 1948.

Panitia Agraria yang menghasilkan UUPA terdiri dari wakil pemerintah dan wakil berbagai ormas tani yang mencerminkan 10 kekuatan partai politik pada masa itu. Walaupun undang-undangnya sudah ada namun pelaksanaan di daerah tidak jalan sehingga menimbulkan gesekan antara para petani penggarap dengan pihak pemilik tanah yang takut terkena UUPA, melibatkan sebagian massa pengikutnya dengan melibatkan backing aparat keamanan.

Peristiwa yang menonjol dalam rangka ini antara lain peristiwa Bandar Betsi di Sumatra Utara dan peristiwa di Klaten yang disebut sebagai ‘aksi sepihak’ dan kemudian digunakan sebagai dalih oleh militer untuk membersihkannya.

Keributan antara PKI dan Islam (tidak hanya NU, tetapi juga dengan Persis dan Muhammadiyah) itu pada dasarnya terjadi di hampir semua tempat di Indonesia, di Jawa Barat, Jawa Timur, dan di provinsi-provinsi lain juga terjadi hal demikian. Faktor Malaysia Negara Federasi Malaysia yang baru terbentuk pada tanggal 16 September 1963 adalah salah satu faktor penting dalam insiden ini. [4] Konfrontasi Indonesia-Malaysia merupakan salah satu penyebab kedekatan Presiden Soekarno dengan PKI, menjelaskan motivasi para tentara yang menggabungkan diri dalam gerakan G30S/Gestok (Gerakan Satu Oktober), dan juga pada akhirnya menyebabkan PKI melakukan penculikan petinggi Angkatan Darat.

“ Sejak demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur, di mana para demonstran menyerbu gedung Pemimpin g30spki, merobek-robek foto Soekarno, pemimpin g30spki lambang negara Garuda Pancasila ke pemimpin g30spki Tunku Abdul Rahman— Perdana Menteri Malaysia saat itu—dan memaksanya untuk menginjak Garuda, amarah Soekarno terhadap Malaysia pun meledak. ” Soekarno yang murka karena hal itu mengutuk tindakan Tunku yang menginjak-injak lambang negara Indonesia [5] dan ingin melakukan balas dendam dengan melancarkan gerakan yang terkenal dengan sebutan " Ganyang Malaysia" kepada negara Federasi Malaysia yang telah sangat menghina Indonesia dan presiden Indonesia.

Perintah Soekarno kepada Angkatan Darat untuk meng"ganyang Malaysia" ditanggapi dengan dingin oleh para jenderal pada saat itu. Di satu pihak Letjen Ahmad Yani tidak ingin melawan Malaysia yang dibantu oleh Inggris dengan anggapan bahwa tentara Indonesia pada saat itu tidak memadai untuk peperangan dengan skala tersebut, sedangkan di pihak lain Kepala Staf TNI Angkatan Darat A.H.

Nasution setuju dengan usulan Soekarno karena ia mengkhawatirkan isu Malaysia ini akan ditunggangi oleh PKI untuk memperkuat posisinya di percaturan politik di Indonesia. Posisi Angkatan Darat pada saat itu serba salah karena di satu pihak mereka tidak yakin mereka dapat mengalahkan Inggris, dan di lain pihak mereka akan menghadapi Soekarno yang mengamuk jika mereka tidak berperang. Akhirnya para pemimpin Angkatan Darat memilih untuk berperang setengah hati di Kalimantan.

Tak heran, Brigadir Jenderal Suparjo, komandan pasukan di Kalimantan Barat, mengeluh, konfrontasi tak dilakukan sepenuh hati dan ia merasa operasinya disabotase dari belakang. [6] Hal ini juga dapat dilihat dari kegagalan operasi gerilya di Pemimpin g30spki, padahal tentara Indonesia sebenarnya sangat mahir dalam peperangan gerilya. Mengetahui bahwa tentara Indonesia tidak mendukungnya, Soekarno merasa kecewa dan berbalik mencari dukungan PKI untuk melampiaskan amarahnya kepada Malaysia.

Soekarno, seperti yang ditulis di otobiografinya, mengakui bahwa ia adalah seorang yang memiliki harga diri yang sangat tinggi, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubah keinginannya meng"ganyang Malaysia". “ Soekarno adalah seorang individualis. Manusia jang tjongkak dengan suara-batin yang menjala-njala, manusia jang mengakui bahwa ia mentjintai dirinja sendiri tidak mungkin mendjadi satelit jang melekat pada bangsa lain.

Soekarno tidak mungkin menghambakan diri pada dominasi kekuasaan manapun djuga. Dia tidak mungkin menjadi boneka. ” Di pihak PKI, mereka menjadi pendukung terbesar gerakan "ganyang Malaysia" yang mereka anggap sebagai antek Inggris, antek nekolim. PKI juga memanfaatkan kesempatan itu pemimpin g30spki keuntungan mereka sendiri, jadi motif PKI untuk mendukung kebijakan Soekarno tidak sepenuhnya idealis.

Pada saat PKI memperoleh angin segar, justru pemimpin g30spki penentangnyalah pemimpin g30spki menghadapi keadaan yang buruk; mereka melihat posisi PKI yang semakin menguat sebagai suatu ancaman, ditambah hubungan internasional PKI dengan Partai Komunis sedunia, khususnya dengan adanya poros Jakarta- Beijing- Moskow- Pyongyang- Phnom Penh. Soekarno juga mengetahui hal ini, namun ia memutuskan untuk mendiamkannya karena ia masih ingin meminjam kekuatan PKI untuk konfrontasi yang sedang berlangsung, karena posisi Indonesia yang melemah di lingkungan internasional sejak keluarnya Indonesia dari PBB ( 7 Januari 1965).

Dari sebuah dokumen rahasia badan intelejen Amerika Serikat ( CIA) yang baru dibuka yang bertanggalkan 13 Januari 1965 menyebutkan sebuah percakapan santai Soekarno dengan para pemimpin sayap kanan bahwa ia masih pemimpin g30spki dukungan PKI untuk menghadapi Malaysia dan oleh karena itu ia tidak bisa menindak tegas mereka.

Namun ia juga menegaskan bahwa suatu waktu "giliran PKI akan tiba. "Soekarno berkata, "Kamu bisa menjadi teman atau musuh saya. Itu terserah kamu. … Untukku, Malaysia itu musuh nomor satu. Suatu pemimpin g30spki saya akan membereskan PKI, tetapi tidak sekarang." [5] Dari pihak Angkatan Darat, perpecahan internal yang terjadi mulai mencuat ketika banyak tentara yang kebanyakan dari Divisi Diponegoro yang kesal serta kecewa kepada sikap petinggi Angkatan Darat yang takut kepada Malaysia, berperang hanya dengan setengah hati, dan berkhianat terhadap misi yang diberikan Soekarno.

Mereka memutuskan untuk berhubungan dengan orang-orang dari PKI untuk membersihkan tubuh Angkatan Darat dari para jenderal ini. Faktor Amerika Serikat Artikel utama: Aktivitas CIA di Indonesia Amerika Serikat pemimpin g30spki waktu itu sedang terlibat dalam perang Vietnam dan berusaha sekuat tenaga agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunisme.

Peranan badan intelejen Amerika Serikat ( CIA) pada peristiwa ini sebatas memberikan 50 juta rupiah (uang saat itu) kepada Adam Malik dan walkie-talkie serta obat-obatan kepada tentara Indonesia.

Politisi Amerika pada bulan-bulan yang menentukan ini dihadapkan pada masalah yang membingungkan karena mereka merasa ditarik oleh Sukarno ke dalam konfrontasi Indonesia-Malaysia ini. Salah satu pandangan mengatakan bahwa peranan Amerika Serikat dalam hal ini tidak besar, hal ini dapat dilihat dari telegram Duta Besar Green ke Washington pada tanggal 8 Agustus 1965 yang mengeluhkan bahwa usahanya untuk melawan propaganda anti-Amerika di Indonesia tidak memberikan hasil bahkan tidak berguna sama sekali.

Dalam telegram kepada Presiden Johnson tanggal 6 Oktober, agen CIA menyatakan ketidakpercayaan kepada tindakan PKI yang dirasa tidak masuk akal karena situasi politis Indonesia yang sangat menguntungkan mereka, dan hingga akhir Oktober masih terjadi kebingungan atas pembantaian di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali dilakukan oleh PKI atau NU/ PNI.

Pandangan lain, terutama dari kalangan korban dari insiden ini, menyebutkan bahwa Amerika menjadi aktor di balik layar dan setelah dekret Supersemar Amerika memberikan daftar nama-nama anggota PKI kepada militer untuk dibunuh.

Namun hingga saat ini kedua pandangan tersebut tidak memiliki banyak bukti-bukti fisik. Faktor ekonomi Ekonomi masyarakat Indonesia pada waktu itu yang sangat rendah mengakibatkan dukungan rakyat kepada Soekarno (dan PKI) meluntur. Mereka tidak sepenuhnya menyetujui kebijakan "ganyang Malaysia" yang dianggap akan semakin memperparah keadaan Indonesia. Inflasi yang mencapai 650% membuat harga makanan melambung tinggi, rakyat kelaparan dan terpaksa harus antre beras, minyak, gula, dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya.

Beberapa faktor yang berperan kenaikan harga ini adalah keputusan Suharto-Nasution untuk menaikkan gaji para tentara 500% dan penganiayaan terhadap kaum pedagang Tionghoa yang menyebabkan mereka kabur. Sebagai akibat dari inflasi tersebut, banyak rakyat Indonesia yang sehari-hari hanya makan bonggol pisang, umbi-umbian, gaplek, serta bahan makanan yang tidak layak dikonsumsi lainnya; pun mereka menggunakan kain dari karung sebagai pakaian mereka.

Faktor ekonomi ini menjadi salah satu sebab kemarahan rakyat atas pembunuhan keenam jenderal tersebut, yang berakibat adanya backlash terhadap PKI dan pembantaian orang-orang yang dituduh anggota PKI di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali serta pemimpin g30spki lainnya.

Peristiwa Sumur Lubang Buaya Pada 1 Oktober 1965 dini hari, enam jenderal senior dan beberapa orang lainnya dibunuh dalam upaya kudeta yang disalahkan kepada para pengawal istana ( Cakrabirawa) yang dianggap loyal kepada PKI dan pada saat itu dipimpin oleh Letkol. Untung. Panglima Komando Strategi Angkatan Darat saat itu, Mayjen Soeharto kemudian mengadakan penumpasan terhadap gerakan tersebut.

Isu Dewan Jenderal Pada saat-saat yang genting sekitar bulan September 1965 muncul isu adanya Dewan Jenderal yang mengungkapkan adanya beberapa petinggi Angkatan Darat yang tidak puas terhadap Soekarno dan berniat untuk menggulingkannya. Menanggapi isu ini, Soekarno disebut-sebut memerintahkan pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa mereka untuk diadili oleh Soekarno. Namun yang tidak diduga-duga, dalam operasi penangkapan jenderal-jenderal tersebut, terjadi tindakan beberapa oknum yang termakan emosi dan membunuh Letjen Ahmad Yani, Panjaitan, dan Harjono.

Isu Dokumen Gilchrist Artikel utama: Dokumen Gilchrist Dokumen Gilchrist yang diambil dari nama duta besar Inggris untuk Indonesia Andrew Gilchrist beredar hampir bersamaan waktunya dengan isu Dewan Jenderal.

Dokumen ini, yang oleh beberapa pihak disebut sebagai pemalsuan oleh intelejen Ceko di bawah pengawasan Jenderal Agayant dari KGB Rusia, menyebutkan adanya " Our local army friends" (Teman tentara lokal kita) yang mengesankan bahwa perwira-perwira Angkatan Darat telah dibeli oleh pihak Barat.

[7] Kedutaan Amerika Serikat juga dituduh memberikan daftar nama-nama anggota PKI kepada tentara untuk "ditindaklanjuti". Dinas intelejen Amerika Serikat mendapat data-data tersebut dari berbagai sumber, salah satunya seperti yang ditulis John Hughes, wartawan The Nation yang menulis buku " Indonesian Upheaval", yang dijadikan basis skenario film " The Year of Living Dangerously", ia sering menukar data-data apa yang ia kumpulkan untuk mendapatkan fasilitas teleks untuk mengirimkan berita.

Isu Keterlibatan Soeharto Hingga saat ini tidak ada bukti keterlibatan/peran aktif Soeharto dalam aksi penculikan tersebut. Satu-satunya bukti yang bisa dielaborasi adalah pertemuan Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad (pada zaman itu jabatan Panglima Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat tidak membawahi pasukan, berbeda dengan sekarang) dengan Kolonel Abdul Latief di Rumah Pemimpin g30spki Angkatan Darat.

Meski demikian, Suharto merupakan pihak yang paling diuntungkan dari peristiwa ini. Banyak penelitian ilmiah yang sudah dipublikasikan di jurnal internasional mengungkap keterlibatan Suharto dan CIA. Beberapa diantaranya adalah, Cornell Paper, karya Benedict R.O'G. Anderson and Ruth T. McVey (Cornell University), Ralph McGehee (The Indonesian Massacres and the CIA), Government Printing Office of the US (Department of State, INR/IL Historical Files, Indonesia, 1963–1965.

Secret; Priority; Roger Channel; Special Handling), John Roosa (Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup d'État in Indonesia), Prof. Dr. W.F. Wertheim (Serpihan Sejarah Thn 1965 yang Terlupakan). Korban Tujuh korban peristiwa G30S/PKI tersebut adalah: • Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi) • Mayor Jenderal TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi) • Mayor Jenderal TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan) • Mayor Jenderal TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen) • Brigadir Jenderal TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik) • Brigadir Jenderal TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat) • Letnan Satu Pierre Andreas Tendean (ajudan Jenderal Abdul Harris Nasution yang tewas karena pasukan PKI mengira ia adalah Jenderal Nasution) Para korban tersebut kemudian dibuang dan dikubur ke suatu sumur lama di area Pondok Gede, Jakarta yang dikenal pemimpin g30spki Lubang Buaya dan jenazah mereka ditemukan pada 3 Oktober 1965.

Pascakejadian Literatur propaganda pemimpin g30spki yang pasca kejadian G30S banyak beredar di masyarakat dan menuding PKI sebagai dalang peristiwa percobaan "kudeta" tersebut. Pascapembunuhan beberapa perwira TNI AD, PKI mampu menguasai dua sarana komunikasi vital, yaitu studio RRI pemimpin g30spki Jalan Merdeka Barat dan Kantor Telekomunikasi yang terletak di Jalan Merdeka Selatan.

[ butuh rujukan] Melalui RRI, PKI menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditujukan kepada para perwira tinggi anggota “Dewan Jenderal” yang akan mengadakan kudeta terhadap pemerintah. Diumumkan pula terbentuknya “Dewan Revolusi” yang diketuai oleh Letkol Untung Sutopo.

Di Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta, PKI membunuh Kolonel Katamso (Komandan Korem 072/Yogyakarta) dan Letnan Kolonel Sugiyono (Kepala Staf Korem 072/Yogyakarta). [ butuh rujukan] Mereka diculik PKI pada sore hari 1 Oktober 1965. Kedua perwira ini dibunuh karena secara tegas menolak berhubungan dengan Dewan Revolusi. Pada tanggal 1 Oktober 1965 Sukarno dan sekretaris jenderal PKI Aidit menanggapi pembentukan Dewan Revolusioner oleh para "pemberontak" dengan berpindah ke Pangkalan Angkatan Udara Halim di Jakarta untuk mencari perlindungan.

Pada tanggal 6 Oktober Sukarno mengimbau rakyat untuk menciptakan "persatuan nasional", yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan penghentian kekerasan. Biro Politik dari Komite Sentral PKI segera menganjurkan semua anggota dan organisasi-organisasi massa untuk mendukung "pemimpin revolusi Indonesia" dan tidak melawan angkatan bersenjata.

Pernyataan ini dicetak ulang di koran CPA bernama "Tribune". Pada tanggal 12 Oktober 1965, pemimpin-pemimpin Uni-Soviet Brezhnev, Mikoyan dan Kosygin mengirim pesan khusus untuk Sukarno: "Kita dan rekan-rekan kita bergembira untuk mendengar bahwa kesehatan anda telah membaik.Kita mendengar dengan penuh minat tentang pidato anda di radio kepada pemimpin g30spki rakyat Indonesia untuk tetap tenang dan menghindari kekacauan.Imbauan ini akan dimengerti secara mendalam." Pada tanggal 16 Oktober 1965, Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara.

Berikut kutipan amanat presiden Sukarno kepada Suharto pada saat Suharto disumpah: [8] “ Saya perintahkan kepada Jenderal Mayor Soeharto, sekarang Angkatan Darat pimpinannya saya berikan kepadamu, buatlah Angkatan Darat ini satu Angkatan daripada Republik Indonesia, Angkatan Bersenjata daripada Republik Indonesia yang sama sekali menjalankan Panca Azimat Revolusi, yang sama sekali berdiri di atas Trisakti, yang sama sekali berdiri di atas Nasakom, yang sama sekali berdiri di atas prinsip Berdikari, yang sama sekali berdiri atas prinsip Manipol-USDEK.

Manipol-USDEK telah ditentukan oleh lembaga pemimpin g30spki yang tertinggi sebagai haluan negara Republik Indonesia. Dan oleh karena Manipol-USDEK ini adalah haluan daripada negara Republik Indonesia, maka dia harus dijunjung tinggi, dijalankan, dipupuk oleh semua kita.

Oleh Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Kepolisian Negara. Hanya jikalau kita berdiri benar-benar di atas Panca Azimat ini, kita semuanya, maka barulah revousi kita bisa jaya. Soeharto, sebagai panglima Angkatan Darat, dan sebagai Menteri dalam kabinetku, saya perintahkan engkau, kerjakan apa yang kuperintahkan kepadamu dengan sebaik-baiknya.

Saya doakan Tuhan selalu beserta kita dan beserta engkau! ” Dalam sebuah Konferensi Tiga Benua di Havana pada bulan Februari 1966, perwakilan Uni-Sovyet berusaha untuk menghindari pengutukan atas pembantaian orang-orang yang dituduh sebagai PKI, yang sedang terjadi terhadap rakyat Indonesia. Pendirian mereka mendapatkan pujian dari rezim Suharto.

Parlemen Indonesia mengesahkan resolusi pada tanggal 11 Februari, menyatakan "penghargaan penuh" atas usaha-usaha perwakilan-perwakilan dari Nepal, Mongolia, Uni-Soviet dan negara-negara lain di Konperensi Solidaritas Negara-Negara Afrika, Asia dan Amerika Latin, yang berhasil menetralisir usaha-usaha para kontra-revolusioner apa yang dinamakan pemimpin g30spki 30 September, dan para pemimpin dan pelindung mereka, untuk bercampur-tangan di dalam urusan dalam negeri Indonesia." Penangkapan dan pembantaian Artikel utama: Pembantaian di Indonesia 1965–1966 Beberapa bulan setelah peristiwa ini, seluruh anggota dan pendukung PKI, orang orang yang diduga anggota dan simpatisan PKI, seluruh partai kelas buruh yang diketahui dan ratusan ribu pekerja serta petani Indonesia yang lain dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi.

Pembunuhan-pembunuhan ini terjadi di Jawa Tengah (bulan Oktober), Jawa Timur (bulan November) dan Bali (bulan Desember).

Jumlah pemimpin g30spki yang dibantai belum diketahui secara pasti – perkiraan yang konservatif menyebutkan 500.000 orang, sementara perkiraan lain menyebut dua sampai tiga juta orang.

pemimpin g30spki

Namun diduga setidak-tidaknya satu juta orang menjadi korban dalam bencana enam bulan yang mengikuti kudeta itu. Dihasut dan dibantu oleh tentara, kelompok-kelompok pemuda dari organisasi-organisasi muslim sayap-kanan seperti pemimpin g30spki Ansor NU dan Tameng Marhaenis PNI melakukan pembunuhan-pembunuhan massal, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ada laporan-laporan bahwa Sungai Brantas di dekat Surabaya menjadi penuh mayat-mayat sampai di tempat-tempat tertentu sungai itu "terbendung mayat".

Pada akhir 1965, antara lima ratus ribu sampai dengan satu juta anggota dan pendukung-pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan dan ratusan ribu lainnya dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa adanya perlawanan sama sekali.

Sewaktu regu-regu militer yang didukung dana CIA [1] menangkapi semua anggota dan pendukung PKI yang terketahui dan melakukan pembantaian keji terhadap mereka, majalah "Time" memberitakan: " Pembunuhan-pembunuhan itu dilakukan dalam skala yang sedemikian sehingga pembuangan mayat menyebabkan persoalan sanitasi yang serius di Sumatra Utara, di mana udara yang lembap membawa bau mayat membusuk. Orang-orang dari daerah-daerah ini bercerita kepada kita tentang sungai-sungai kecil yang benar-benar terbendung oleh mayat-mayat.

Transportasi sungai menjadi terhambat secara serius." Di pulau Bali, yang sebelum itu dianggap sebagai kubu PKI, paling sedikit 35.000 orang menjadi korban pemimpin g30spki permulaan 1966. Di sana para Tamin, pasukan komando elite Partai Nasional Indonesia, adalah pelaku pembunuhan-pembunuhan ini. Koresponden khusus dari Frankfurter Allgemeine Pemimpin g30spki bercerita tentang mayat-mayat di pinggir jalan atau dibuang ke dalam galian-galian dan tentang desa-desa yang separuh dibakar di mana para petani tidak berani meninggalkan kerangka-kerangka rumah mereka yang sudah hangus.

pemimpin g30spki

Di daerah-daerah lain, pemimpin g30spki terdakwa dipaksa untuk membunuh teman-teman mereka untuk membuktikan kesetiaan mereka.

Pemimpin g30spki kota-kota besar pemburuan-pemburuan rasialis "anti-Tionghoa" terjadi. Pekerja-pekerja dan pegawai-pegawai pemerintah yang mengadakan aksi mogok sebagai protes atas kejadian-kejadian kontra-revolusioner ini dipecat. Paling sedikit 250,000 orang pekerja dan petani dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi. Diperkirakan sekitar pemimpin g30spki orang masih dipenjarakan sebagai tahanan politik pada akhir 1969.

Eksekusi-eksekusi masih dilakukan sampai sekarang, termasuk belasan orang sejak tahun 1980-an. Empat tapol, Johannes Surono Hadiwiyino, Safar Suryanto, Simon Petrus Sulaeman dan Nobertus Rohayan, dihukum mati hampir 25 tahun sejak kudeta itu. Supersemar Wikisource memiliki naskah asli yang berkaitan dengan artikel ini: Pemimpin g30spki utama: Supersemar Lima bulan setelah itu, pada tanggal 11 Maret 1966, Sukarno memberi Suharto kekuasaan tak terbatas melalui Surat Perintah Sebelas Maret.

Ia memerintah Suharto untuk mengambil "langkah-langkah yang sesuai" untuk mengembalikan ketenangan dan untuk melindungi keamanan pribadi dan wibawanya. Kekuatan tak terbatas ini pertama kali digunakan oleh Suharto untuk melarang PKI. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Sukarno dipertahankan sebagai presiden tituler diktatur militer itu sampai Maret 1967. Kepemimpinan PKI terus mengimbau massa agar menuruti kewenangan rejim Sukarno-Suharto. Aidit, yang telah melarikan diri, ditangkap dan dibunuh oleh TNI pada tanggal 24 November, tetapi pekerjaannya diteruskan oleh Sekretaris Kedua PKI Nyoto.

Pertemuan Jenewa, Swiss Menyusul peralihan tampuk kekuasaan ke tangan Suharto, diselenggarakan pertemuan antara para ekonom orde baru dengan para CEO korporasi multinasional di Swiss, pada bulan November 1967. Korporasi multinasional diantaranya diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Pemimpin g30spki Brothers, Asian Development Bank, dan Chase Manhattan.

Tim Ekonomi Indonesia menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar. Hal ini didokumentasikan oleh Jhon Pilger dalam film The New Rulers of World (tersedia di situs video google) yang menggambarkan bagaimana kekayaan alam Indonesia dibagi-bagi bagaikan rampasan perang oleh perusahaan asing pasca jatuhnya Soekarno.

Freeport mendapat emas di Papua Barat, Caltex mendapatkan ladang minyak di Riau, Mobil Oil mendapatkan ladang gas di Natuna, perusahaan lain mendapat hutan tropis. Kebijakan ekonomi pro liberal sejak saat itu diterapkan. Peringatan Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya Sejak 1967, setelah Soeharto diangkat menjadi Pejabat Presiden menggantikan Soekarno, tanggal 1 Oktober ditetapkan oleh Soeharto (dengan Keputusan Presiden Nomor 153 Tahun 1967) sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Pada masa pemerintahan Soeharto, biasanya sebuah film mengenai kejadian tersebut juga ditayangkan di seluruh stasiun televisi di Indonesia setiap tahun pada tanggal 30 September. Selain itu pada masa Soeharto biasanya dilakukan upacara bendera di Pemimpin g30spki Pancasila Sakti di Lubang Buaya pemimpin g30spki dilanjutkan dengan tabur bunga di makam para pahlawan revolusi di TMP Kalibata.

Namun sejak era Reformasi bergulir, film itu sudah tidak ditayangkan lagi dan hanya tradisi upacara dan tabur bunga yang dilanjutkan. Pada 29 September – 4 Oktober 2006, para pemimpin g30spki pendukung PKI mengadakan rangkaian acara peringatan untuk mengenang peristiwa pembunuhan terhadap ratusan ribu hingga jutaan jiwa di berbagai pelosok Indonesia.

Acara yang bertajuk "Pekan Seni Budaya dalam rangka memperingati 40 tahun tragedi kemanusiaan 1965" ini berlangsung di Fakultas Ilmu Pemimpin g30spki Universitas Indonesia, Depok. Selain civitas academica Universitas Pemimpin g30spki, acara itu juga dihadiri para korban tragedi kemanusiaan 1965, antara lain Setiadi, Murad Aidit, Haryo Sasongko, dan Putmainah. Lihat pula • Lim Joey Thay.

• Nawaksara 22 Juni 1966, Sidang Umum ke-IV (4) MPRS. • Gerakan Wanita Indonesia. • Monumen Pancasila Sakti. • Letnan Kolonel Untung. • Dipa Nusantara Aidit (DN Aidit). • Resimen Tjakrabirawa (Cakrabirawa).

• Lembaga Kebudayaan Rakyat. • Daftar tokoh yang meninggal dalam pembersihan komunis Indonesia. • Museum Jenderal Besar Doktor Abdul Haris Nasution. • Museum Sasmita Loka Jenderal Tentara Nasional Anumerta (Museum SL-Ahmad Yani). Referensi • ^ Crouch 1978, hlm. 101 • ^ Harper, Douglas (November 2001). "Online Etymology Dictionary:Communism" (HTML).

Online Etymology Dictionary (dalam bahasa English). Douglas Harper. Diakses tanggal 2008-08-27. Pemimpin g30spki a theory of society; as name of a political system, 1850, a translation of Ger.

Kommunismus, in Marx and Engels' "Manifesto of the German Communist Party." Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • ^ Salim, Hanz Jimenez; Flora, Maria; Qodar, Nafiysul; Yulika, Nila Chrisna (02 Oktober 2019). "Top 3 News: Cerita Sukitman, Saksi Hidup yang Selamat dari Lubang Buaya G30S PKI". liputan6.com. Diakses tanggal 25 Februari 2022. Periksa nilai tanggal di: -date= ( bantuan) • ^ Artikel Kompas bertajuk "Sukarno, Pemimpin g30spki, dan PKI" tanggal Sabtu, 29 September 2007 • ^ a b Soekarno, PKI & Malaysia di DetikForum • ^ (JAC Mackie, 1971, hal 214) • ^ Alex Dinuth "Dokumen Terpilih Sekitar G30S/PKI" Intermasa, Jakarta 1997 ISBN 979-8960-34-3 • ^ Setiyono, Budi; "REVOLUSI BELUM SELESAI: Kumpulan Pidato Presiden Soekarno 30 September 1965"; Nawaksara, Pemimpin g30spki 2003 Bacaan lebih lanjut • "Selected Documents Relating to the 30 September Movement and Its Epilogue", Indonesia, Ithaca, NY: Cornell Modern Indonesia Project, 1 (1): 131–205, April 1966, doi: 10.2307/3350789, JSTOR 3350789diakses tanggal 20 September 2009 • The appendices of Roosa (2006) contain translations of two primary sources: a 1966 document by Supardjo and the 1967 court testimony of Kamaruzaman Sjam.

Roosa also lists interviews he conducted which are archived at the Institute of Indonesian Social History in Jakarta. • Easter, David, '"Keep the Indonesian pot boiling": Western intervention in Indonesia, October 1965-March 1966', Cold War History, Volume 5, Number 1, February 2005. • Waskito, Joko. (ed) Bilven. Siswoyo dalam Pusaran Arus Sejarah Kiri: Memoar Anggota Sekretariat CC KI.

Cetakan 1, Ultimus, Juli 2015. Pemimpin g30spki 978-602-8331-60-9 • Latief, Busjarie. Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI [1920-1965]. Lembaga Sejarah PKI. Ultimus, Oktober 2014. ISBN 978-602-8331-50-0. • Sulistyo, Hermawan. Palu arit di ladang tebu – Sejarah pembantaian massal yang terlupakan [1965-1966]. Kepustakaan Populer Gramedia. Juni, 2000. ISBN 979-9023-42-4. • Herlambang, Wijaya. Kekerasan Budaya Pasca 1965 – Bagaimana Orde Baru melegitimasi anti-komunisme melaui sastra dan film.

Marjin Kiri. ISBN 978-979-1260-26-8 • Pour, Julius. Gerakan 30 September: pelaku, pahlawan & petualang/catatan Julius Pour, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, ISBN 978-979-709-524-6, 2010.

• Heru Atmodjo, Garda Sembiring, Harsutedjo. Gerakan 30 September: Kesaksian Letkol (Pnb) Heru Atmodjo. Seri pelurusan sejarah '65. Testimony of Heru Atmodjo, an Indonesian Air Force pilot, on the coup d'etat of Gerakan 30 September 1965. The University of Michigan, ISBN 979-97816-7-1, ISBN 978-979-97816-7-3, Tride, 2004. • Alham, Asahan, ed. (2002), Di Negeri Orang: Puisi Penyair Indonesia Eksil (dalam bahasa Indonesian), Jakarta: Lontar Foundation, ISBN pemimpin g30spki Parameter -trans_title= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui ( link) • Anderson, Benedict R.

& McVey, Ruth T. (1971), A Preliminary Analysis of the 1 October 1965, Coup in Indonesia, Interim Reports Series, Ithaca, NY: Cornell Modern Indonesia Project, OCLC 210798 • Anderson, Benedict (May 2000), "Petrus Dadi Ratu", New Left Review, London, 3: 7–15, diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-02-05diakses tanggal 18 September 2009 Parameter -trans_title= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • Crouch, Harold (April 1973), "Another Look at the Indonesian "Coup "", Indonesia, Ithaca, NY: Cornell Modern Indonesia Project, 15 (15): 1–20, doi: 10.2307/3350791, JSTOR 3350791diakses tanggal 18 September 2009 • Crouch, Harold (1978), The Army and Politics in Indonesia, Politics and International Pemimpin g30spki of Southeast Asia, Ithaca, NY: Cornell University Press, ISBN 0-8014-1155-6 • Curtis, Mark (2003), Web of Deceit: Britain's Real Role in the World, London: Vintage, ISBN 978-0-09-944839-6 • Fic, Victor M.

(2005). Anatomy of the Jakarta Coup: 1 October 1965: The Collusion with China which destroyed the Army Command, President Sukarno and the Communist Party of Indonesia.

Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-554-6 • Heryanto, Ariel (2006), State Terrorism and Political Identity in Indonesia: Fatally Belonging, New York: Routledge, ISBN 978-0-415-37152-0 • Hill, David (2008), Knowing Indonesia from Afar: Indonesian Exiles and Australian Academics (PDF) (Paper delivered at the 17th Biennial Conference on the Asian Studies Association of Australia), diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2012-03-16diakses tanggal 16 March 2012 • Hughes, John (2002), The End of Sukarno – A Coup that Misfired: A Purge that Ran Wild, Archipelago Press, ISBN 981-4068-65-9 • Lashmar, Paul and Oliver, James.

"MI6 Spread Lies To Put Killer In Power" The Independent. (16 April 2000) • Lashmar, Paul and Oliver, James. "How we destroyed Sukarno" The Independent. (6 December 2000) • Lashmar, Paul; Oliver, James (1999), Britain's Secret Propaganda War, Sutton Pub Ltd, ISBN 0-7509-1668-0 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list ( link) • Nugroho Notosusanto & Ismail Saleh (1968) The Coup Attempt of the "30 September Movement" in Indonesia, P.T.

Pembimbing Masa-Djakarta. pemimpin g30spki Rafadi, Dedi & Latuconsina, Hudaya (1997) Pelajaran Sejarah untuk SMU Kelas 3 (History for 3rd Grade High School), Erlangga Jakarta. ISBN 979-411-252-6 • Ricklefs, M.C. (1982) A History of Modern Indonesia", MacMillan. ISBN 0-333-24380-3 • Roosa, John (2006). Pretext for Mass Murder: The September 30th Movement and Suharto's Coup d'État in Indonesia. Madison, Wisconsin: The University of Wisconsin Press. ISBN 978-0-299-22034-1.

• Schaefer, Bernd; Wardaya, Baskara T., ed. (2013), 1965: Indonesia and the World, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, ISBN 978-9-792-29872-7 • Scott, Peter (1985), "The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965–1967" (PDF), Pacific Affairs, 58: 239–264, doi: 10.2307/2758262diakses tanggal 18 December 2013 • Sekretariat Negara Republik Indonesia (1975) 30 Tahun Indonesia Merdeka: Jilid 3 (1965–1973) (30 Years of Indonesian Independence: Volume 3 (1965–1973) • Sekretariat Negara Republik Indonesia (1994) Gerakan 30 September Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi dan Penumpasannya (The 30 September Movement/Communist Party of Indonesia: Bankgrounds, Actions and its Annihilation) ISBN 979-083-002-5 • Sen, Krishna; Hill, David T.

(2006). Media, Culture and Politics in Indonesia. Jakarta: Equinox Publishing. ISBN 978-979-3780-42-9. • Simpson, Bradley (2008). Economists with Guns: Authoritarian Development and U.S.-Indonesian Relations, 1960–1968. Stanford, California: Stanford University Press. • Sundhaussen, Ulf (1982) The Road to Power: Indonesian Military Politics 1945–1967, Oxford University Press. ISBN 0-19-582521-7 • Wertheim, W.F. (1970) Suharto and the Untung Coup – the Missing Link", Journal of Contemporary Asia I No.

1 pp 50–57 • "Setengah abad genosida '65" (PDF). Majalah Bhinneka. Surabaya: Yayasan Bhinneka Nusantara. Oktober 2015: 100 halaman.

Diakses tanggal 29 September 1015.

pemimpin g30spki

Periksa nilai tanggal di: -accessdate= ( bantuan) Pranala luar • (Indonesia) Soebandrio: Kesaksianku Tentang G30S (BAB I) • (Indonesia) Tulisan tentang keterlibatan CIA dalam G 30S/PKI disertai cuplikan isi laporan CIA untuk Presiden Lyndon Johnson • (Inggris) Kolektif Info Coup d'état 65 • (Indonesia) People's Empowerment Consortium • (Indonesia) Pelajaran-Pelajaran Dari Kudeta 1965 Indonesia • (Indonesia) Indonesian Institute for the study of the 1965/1966 Massacre • (Indonesia) Menyingkap Kabut Halim • (Indonesia) Dalih Pemimpin g30spki Massal, karya John Roosa yang dilarang Jaksa Agung • Seni • Film • Tari • Sastra • Musik • Lagu • Masakan • Mitologi • Pendidikan • Olahraga • Permainan tradisional • Busana daerah • Daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia • Arsitektur • Bandar udara • Pelabuhan • Stasiun kereta api • Terminal • Pembangkit listrik • Warisan budaya • Wayang • Batik • Keris • Angklung • Tari Saman • Noken Simbol • Revolusi Sosial Sumatra Timur • Perang Cumbok • Peristiwa Madiun • Kudeta APRA • Pemberontakan DI/TII • Peristiwa Andi Azis • Sinterklas Hitam • Gerakan 30 September • Pembantaian 1965-1966 • Pemberontakan di Aceh • Konflik Papua • Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia • Permesta • Peristiwa 27 Juli • Kerusuhan Mei 1998 • Pendudukan Gedung DPR/MPR • Peristiwa Cimanggis • Peristiwa Gejayan Konflik sosial • Revolusi Sosial Sumatera Timur 1946 • Peristiwa Mangkuk Merah 1967 • Peristiwa Malari 1974 • Kerusuhan Solo 1980 • Peristiwa Talangsari 1989 • Kerusuhan Situbondo 1996 • Kerusuhan Banjarmasin 1997 • Kerusuhan Mei 1998 • Kerusuhan Poso • Konflik sektarian Maluku • Konflik Sampit 2001 • Kerusuhan Koja April 2010 • Kerusuhan Tarakan September 2010 • Unjuk rasa dan kerusuhan Jakarta 2019 • Pembatasan penggunaan internet di Indonesia 2019 • Bentrok Jayanti • Kerusuhan Haruku 2022 Konflik sumber daya alam • Pembantaian Rawagede • Pembantaian Pemimpin g30spki • Tragedi Mergosono • Pembantaian simpatisan komunis 1965/1966 • Penembakan misterius • Peristiwa Tanjung Priok • Pembantaian Santa Cruz • Peristiwa 27 Juli • Penculikan aktivis 1997/1998 • Tragedi Trisakti • Tragedi Semanggi • Tragedi Simpang KKA • Tragedi Beutong Ateuh • Penembakan Cebongan • Unjuk rasa dan kerusuhan Jakarta 2019 • Pembatasan penggunaan internet di Indonesia 2019 Lihat pula: Pelanggaran hak asasi manusia oleh Tentara Nasional Indonesia Terorisme Kategori tersembunyi: • Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui • Galat CS1: tanggal • Halaman yang menggunakan pranala magis ISBN • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan April 2022 • Halaman dengan rujukan yang menggunakan parameter yang tidak didukung • Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list • Halaman ini terakhir diubah pada 26 April 2022, pukul 04.12.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Pemimpin g30spki untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Merdeka.com - Gerakan 30 September masih dipenuhi teka-teki. Siapa yang menjadi dalang sesungguhnya peristiwa pemimpin g30spki menelan enam korban jenderal dan satu perwira pertama TNI AD masih abu-abu.

Versi Orde Baru, PKI merupakan pelaku satu-satunya. Ada juga yang menyebut G30S adalah rekayasa CIA. Sebagian pihak berpendapat Soekarno sengaja melakukan hal ini.

Ada juga yang menyebut Soeharto merupakan dalang sesungguhnya. Sjam Kamaruzaman Sjam adalah Kepala Biro Chusus, lembaga rahasia di tubuh Partai Komunis Indonesia (PKI). Sjam bertugas merekrut tentara yang mendukung PKI. Tak ada yang tahu sepak terjang Biro Chusus selain Ketua Comite Central PKI DN Aidit. Aidit banyak berkoordinasi dengan Sjam saat persiapan G30S.

Sjam pula yang memanas-manasi Aidit agar cepat bergerak.

pemimpin g30spki

Dia memberi jaminan pasukan pendukung telah siap. Sjam seolah-olah memimpin gerakan ini. Para perwira militer G30S PKI seperti Letkol Untung, Brigjen Soepardjo dan Kolonel Latief berada di bawah komandonya.

Nyatanya apa yang digembar-gemborkan Sjam soal dukungan militer G30S tak ada. Dalam waku singkat G30S habis dihancurkan Pemimpin g30spki. Sjam ditahan di penjara Cipinang dan dieksekusi mati tahun 1986. Dipa Nusantara (DN) Aidit Saat DN Aidit merencanakan G30S, tak banyak petinggi PKI yang tahu.

Aidit memang tak pernah mengajak jajaran Politbiro dalam rapat-rapat persiapan G30S. Tapi tak ada orang PKI yang berani menentang DN Aidit. Sebagai Ketua Comite Central PKI dia adalah orang nomor satu dan sangat berkuasa.

Aidit dianggap berjasa besar bagi PKI. Aidit sukses membawa PKI menempati urutan keempat pada Pemilu 1955. Saat menjelang 1965, kader dan simpatisan PKI mencapai tiga juta orang. PKI menjadi partai komunis terbesar setelah di Rusia dan China. Saat G30S berantakan, Aidit lari ke Yogyakarta. Dia kemudian ditangkap tentara saat berada di Solo. Tentara membawanya ke sebuah sumur tua di markas militer di Boyolali.

Di sana Aidit diberondong AK-47 hingga tewas. Aksi Aidit menyeret PKI pada kehancuran dan derita. Diperkirakan, sekitar sejuta kader dan anggota PKI dihabisi karena dianggap ikut aksi G30S. Letkol Untung Letkol Untung Sjamsuri adalah komandan militer gerakan 30 September. Atas koordinasi Sjam, Untung memerintahkan pasukannya menculik tujuh jenderal dan membawanya ke Lubang Buaya, Jakarta Timur. Rencana berantakan saat para jenderal sudah ada yang ditembak di rumah.

Beberapa yang masih hidup kemudian dieksekusi di Lubang Buaya. Gerakan 30 September gagal total saat Soekarno memerintahkan Untung menghentikan aksinya. Komandan Batalyon I Cakrabirawa ini bingung dan lari ke Jawa Tengah. Untung ditangkap saat menumpang bus malam ke Jawa Tengah. Dia divonis mati dan akhirnya dieksekusi akhir Maret 1966.

Brigjen Soepardjo Brigjen Soepardjo saat itu pemimpin g30spki jabatan strategis, Komandan Komando Tempur di Kalimantan. Dia membawahi ribuan prajurit dalam rangka persiapan perang terhadap Malaysia. Tapi menjelang G30S, Soepardjo malah pulang ke Jakarta. Diduga memang perwira ini telah dibina oleh Sjam Kamaruzaman dari Biro Chusus PKI.

Dalam G30S, Soepardjo yang punya pangkat lebih tinggi justru menjadi wakil komandan Letkol Untung. Karena itu walau menerima, beberapa kali Soepardjo mempertanyakan keputusan Untung.

Soepardjo juga punya peran penting sebagai juru bicara G30S untuk menemui Soekarno dan menjelaskan aksi ini. Tapi Soekarno ternyata tidak mendukung aksi G30S, walau juga tidak mengutuknya. Soekarno hanya memerintahkan Soepardjo dkk berhenti bergerak. Soepardjo ditangkap Satgas Kalong tanggal 12 Januari 1967. Pada bulan Maret tahun yang sama, Soepardjo dseret ke Mahmilub dan akhirnya ditembak mati.

Kolonel Abdul Latief Bersama Letkol Untung dan Brigjen Soepardjo, Kolonel Abdul Latief merupakan salah satu perwira utama pelaku G30S.

Saat itu Latief menjabat Komandan Brigade Infanteri I/Djaja Sakti. Jabatannya strategis karena dia membawahi pasukan pengamanan ibu kota. Setelah G30S gagal, Latief ditangkap tentara Pemimpin g30spki di sebuah rumah di Benhil, Jakarta. Kaki Latief ditembak dan ditusuk bayonet. Selama puluhan tahun dia berada di pemimpin g30spki isolasi dan disiksa. Kakinya yang luka tak pernah diobati benar, hingga berbelatung.

Apa sebab Latief diperlakukan sedemikian rupa? Latief sendiri mengaku dia memegang rahasia Soeharto. Sebelum G30S, Latief telah memberi tahu Soeharto soal rencana penculikan para dewan jenderal itu. Latief memang cukup dekat dengan Soeharto. Latief memang tak sempat dieksekusi, dia menghabiskan siksaan puluhan tahun di penjara. Saat reformasi dia dibebaskan dan meninggal tahun 2005 lalu.

1 Ingin Menurunkan Berat Badan di Atas Usia 40 Tahun? Ini Hal yang Bisa Anda Coba 2 Potret Nagita Slavina Ajak Najwa Shihab Makan Bareng, Tampil Berhijab Cantik Banget 3 Potret Ussy Sulistiawaty dan Andhika Pratama Pulang Kampung ke Malang, Seru Banget 4 Potret Sophia Latjuba Masak di Dapur, Penampilannya Bikin Mata Ogah Kedip 5 5 Potret Lesti dan Rizky Billar Perdana Ajak Baby L Naik Motor di Kampung Halaman Selengkapnya

FILM PENGKHIANATAN G30S/PKI (HD Version)




2022 charcuterie-iller.com