Pathway persalinan normal

pathway persalinan normal

WOC Persalinan Kala I : Penurunan kadar progresteron, peningkatan kadar oxytocin, keregangan otot – otot rahim, pengaruh janin, prostaglandin yang diberikan secara intravena, plasenta tua Kontraksi uterus Dilatasi, penipisan serviks, iskemik rahim Saraf Spinal T XI dan T XII Penurunan O2 2 ke dalam plasenta Risiko Gangguan Pertukaran Gas Janin Korteks serebri Kurang informasi mengenai berapa lama nyeri, cara pathway persalinan normal nyeri dan cemas ibu Kurang Pengetahuan Nyeri perut bagian bawah, menyebar ke daerah punggung dan paha Peningkatan Metabolisme Risiko Kelelahan Nyeri WOC Persalinan Kala 2 : Kala II Kontraksi uterus Dorongan fetus ke uterus dan serviks Dorong kuat pada janin ke arah serviks dan perinium regangan pada uterus dan serviks ↑ Terjadi peregangan yang sangat besar di daerah serviks&perinium Perangansangan reseptor nyeri pada uterus dan serviks Nyeri Resiko Kerusakan Integritas Kulit (Ibu) Kelelahan Pada ibu pada kala I Upaya meneran lemah dan terputus putus Tahanan serviks terhadap janin Janin terjepit di jalan lahir Risiko Cidera Janin WOC Persalinan Kala III : Kala III (Pelepasan dan Pengeluaran Uri) Terlepasnya plasenta dari endometrium Kurang informasi tentang proses fisiologis Kurang Pengetahuan Trauma Jaringan Terputusnya klien kontinuitas jaringan Kesulitan dengan pelepasan plasenta Teknik pelepasan dan pengeluaran uri yang tidak tepat Pelepasan neurotransmitter nyeri di korteks serebral Janin plasenta lahir Diikuti oleh pengeluaran sisa plasenta Keluarnya darah (normal 150-300 cc) Perubahan peran dan tanggung jawab pada keluarga Risiko Kekurangan Volume Cairan Risiko Cedera Maternal Nyeri Plasenta yang tidak lengkap & sisa plasenta yang masih tertahan di uterus Risiko Perubahan Proses Keluarga Risiko Infeksi WOC Persalinan Kala IV : Partus Kala IV Episiotomi Robekan jalan lahir Atonia uteri Terjadi luka Kontraksi uterus menurun Iritasi mekanik pada saraf dan jaringan Rest plasenta Pelepasan neurotransmitter nyeri Perdarahan ( > 500 cc ) Substansi P, serotonin, prostaglandin keluar Masuk ke serabut saraf afferen Diterima di kornu dorsalis medulla spinalis Korteks serebri Risiko Kekurangan Volume Cairan Persepsi nyeri Nyeri Akut Related Documents • WEEKLY EDITION • DAILY EDITION • ALL TOPICS • WEEKLY TOPIC • PREGNANCY • Trimester 1 • Trimester 2 • Trimester 3 • Nutrition • BABY • TODDLER • PARENTING • HEALTH TIPS • GROWTH & DEVELOPMENT • FEEDING • Breastfeeding • MPASI • REVIEWS • BRANDS • MOM STYLE • OTHERS • RECOMMENDED • VIDEOS • MY STORY • PILLAR POST 1 • PILLAR POST 2 Sebagian besar ibu menginginkan persalinan normal.

Dan karena itu, penting untuk para ibu mengetahui sedikitnya tentang pathway persalinan normal. Meskipun tidak mengetahuinya secara mendalam, namun mengetahui garis-garis besarnya bisa membantu ibu untuk lebih siap dalam menghadapi persalinan.

Ada pathway persalinan normal sebagian ibu yang menginginkan persalinan caesar karena merasa takut akan rasa sakit yang harus dirasakan ketika proses melahirkan. Namun tentunya itu sah-sah saja tergantung kesiapan Moms sendiri. Untuk ibu yang sudah beberapa kali pathway persalinan normal mungkin tidak akan lagi merasa tegang seperti saat pertama kali mengalaminya.

Namun lain halnya bagi ibu yang baru pertama kali mengandung maka mendengar persalinan mungkin akan terasa sedikit menegangkan. Oleh karena itu, mengetahui seputar detik-detik pathway persalinan normal persalinan bisa membantu ibu untuk merasa lebih siap dalam menghadapi persalinan nantinya. Berikut tahapan dalam proses melahirkan: • Pembukaan Pada tahap ini disebut inpartu dimana keluar lendir yang bercampur darah.

Ini disebabkan karena serviks yang mulai terbuka. Pada fase ini, serviks mulanya membuka secara lambat hingga pembukaan 3 cm.

pathway persalinan normal

Ini bisa berlangsung hingga 8 jam lamanya. Selanjutnya pada 2 jam berikutnya pembukaan bertambah menjadi 4 cm, dan 2 jam selanjutnya 9 cm. Tibalah pada masa deselerasi dimana pembukaan menjadi 10 cm dalam 2 jam berikutnya. Ini berarti, pembukaan sudah sepenuhnya siap. • Pengeluaran janin Pada proses ini, pathway persalinan normal janin perlahan akan mulai turun terlebih dahulu melewati panggul dan menyebabkan ibu berkeinginan untuk mengedan secara otomatis. Kepala janin kemudian mulai keluar melewati vulva dan diikuti dengan keluarnya seluruh badan bayi.

• Pasca melahirkan Proses pathway persalinan normal selanjutnya ialah dimana setelah bayi keluar maka kontraksi rahim sesaat berhenti. Namun kemudian akan disusul dengan terlepasnya plasenta dalam waktu 5 hingga 10 menit. Kemudian plasenta akan keluar dalam rentang wakti 15 hingga 30 menit. Pada proses selanjutnya maka dokter atau bidan akan melakukan pengawasan pada ibu untuk memperhatikan kondisi ibu untuk berjaga-jaga jika terjadi perdarahan post partum.

Secara garis besar, pathway pada proses persalinan dimulai pada usia kehamilan 37 -42 minggu. Kemudian akan muncul tanda-tanda partus dan dimulainya proses persalinan. Selanjutnya ibu akan melewati fase melahirkan seperti yang telah disebutkan diatas. Dimulai dengan kontraksi, pecahnya ketuban, pembukaan, proses pengeluaran bayi, pelepasan plasenta, pengawasan post partum, dan perawatan lanjutan.

Persalinan normal memiliki banyak manfaat. Salah satunya ialah proses penyembuhan luka yang lebih cepat. Namun pada kondisi tertentu memang ibu hamil dianjurkan untuk menghindari proses persalinan pathway persalinan normal. Jadi, untuk memastikan aman tidaknya ibu untuk melahirkan dengan normal, tentunya harus berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Itulah informasi seputar pathway persalinan normal.

Semoga bermanfaat. By: Babyologist Editor Yuk download aplikasi Babyo di Android & iOS dan bergabung dengan ribuan Moms lainnya untuk saling berbagi cerita dan mendapatkan rewards! You really don't want to miss out!
Asuhan persalinan normal adalah tindakan mengeluarkan janin yang sudah cukup usia kehamilan, dan berlangsung spontan tanpa intervensi alat.

Persalinan dikatakan normal jika janin cukup bulan (37–42 minggu), terjadi spontan, presentasi belakang kepala janin, dan tidak terdapat komplikasi pada ibu maupun janin. Asuhan persalinan normal bertujuan agar persalinan dapat berjalan bersih dan aman, sehingga angka kematian maupun kecacatan ibu dan bayi berkurang.[1-3] Asuhan persalinan normal diindikasikan bagi semua wanita hamil karena merupakan proses fisiologis.

Setelah tanda persalinan muncul, proses persalinan dapat berlangsung sesuai dengan kala persalinan.

pathway persalinan normal

Asuhan persalinan normal memiliki 4 kala yang berlangsung tidak lebih dari 18 jam, yaitu kala I hingga kala IV. Kala I adalah mulai terjadinya kontraksi uterus sampai dilatasi serviks lengkap 10 cm.

Kala II pathway persalinan normal fase dari dilatasi serviks lengkap hingga bayi lahir. Kala III adalah fase mengeluarkan plasenta setelah janin lahir. Sedangkan kala IV merupakan fase setelah plasenta lahir hingga 2 jam postpartum.[1-3] Kontraindikasi dari persalinan normal dibagi dari kontraindikasi ibu dan kontraindikasi janin. Keadaan yang menjadi kontraindikasi ibu adalah c ephalopelvic disproportionplasenta abnormal, prolaps tali pusat, vaginal birth after cesarean sectionpenyakit infeksi menular seksual, HIV, dan miopia tinggi.

Keadaan janin yang dapat menjadi kontraindikasi persalinan normal adalah malpresentasi, makrosomia, dan kadang pada janin kembar.[1,2,4] Komplikasi asuhan persalinan normal pada ibu dapat berbeda pada setiap kala I-IV, di antaranya partus lama, distosia, retensio plasenta, atau perdarahan postpartum.

Sedangkan komplikasi pada bayi baru lahir dapat terjadi asfiksia atau sepsis neonatorum.[1-3] Edukasi yang perlu diberikan kepada ibu dan keluarga bahwa persalinan normal adalah proses fisiologis dan lebih baik daripada sectio caesarea, karena pada persalinan normal penyembuhan lebih cepat, komplikasi lebih minimal, dan hubungan ibu bayi akan lebih kuat. Berikan penjelasan juga mengenai tanda pasti persalinan, kapan ibu harus ke fasilitas kesehatan, serta komplikasi yang mungkin terjadi kepada ibu dan bayi selama proses persalinan normal pathway persalinan normal 1.

Thornton, J. M., Browne, B., & Ramphul, M. (2020). Mechanisms and management of normal labour. Obstetrics, Gynaecology & Reproductive Medicine. doi:10.1016/j.ogrm.2019.12.002 2.

Kementerian Kesehatan Indonesia. Buku saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan. 2015. 3.

pathway persalinan normal

Milton S.H. Normal Labor and Delivery. Medscape. 2019. Available pathway persalinan normal https://emedicine.medscape.com/article/260036-overview#showall 4. Grabowska M.S., Ciszewska J., Godowska J.B., et all. Delivery in Myopic Women: A Comparison of Mode of Delivery in Years 1990, 2000, and 2010. 2019: 25: 7715–7719. doi: 10.12659/MSM.916479. 16. Zakerihamidi M., Roudsari R.L., and Khoei E.M.

Vaginal Delivery vs. Cesarean Section: A Focused Ethnographic Study of Women’s Perceptions in The North of Iran. International Journal Community Based. 2015 Jan; 3(1): 39–50. • Home • Keperawatan • Anatomi Fisiologi • Askep • Blogger • Coretan Perawat • Farmakologi • Kumpulan Materi • Kumpulan SAP • Maternitas • Rumus • Serba Serbi • Umum • Diagnosa • NANDA 2012 • NANDA 2014 • NANDA 2015 • NANDA 2017 • NANDA 2018 • NANDA 2018-2020 • UKOM • Hasil UKOM • Strategi UKOM • UKOM D3 • UKOM Ners • Kami • Disclamier • Kontak Kami • Peta Situs • Privacy Policy • Tentang Kami • DEFINISI Persalinan adalah suatu proses yang dialami, peristiwa normal, namun apabila tidak dikelola dengan tepat dapat berubah menjadi abnormal (Mufdillah & Hidayat, 2008).

Persalinan adalah suatu proses terjadinya pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput pathway persalinan normal dari tubuh ibu (Mitayani, 2009). Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Prawirohardjo, 2006).

• SEBAB-SEBAB PERSALINAN Penyebab persalinan belum pasti diketahui,namun beberapa teori menghubungkan dengan faktor hormonal,struktur rahim,sirkulasi rahim,pengaruh tekanan pada saraf dan nutrisi (Hafifah, 2011) • Teori penurunan hormone 1-2 minggu sebelum partus mulai, terjadi penurunan hormone progesterone dan estrogen.

Fungsi progesterone pathway persalinan normal penenang otot –otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila progesterone turun.

• Teori placenta menjadi tua Turunnya kadar hormone estrogen dan progesterone menyebabkan kekejangan pembuluh darah yang menimbulkan kontraksi rahim. • Teori distensi rahim Rahim yang menjadi besar dan merenggang menyebabkan iskemik otot-otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenta.

• Teori iritasi mekanik Di belakang servik terlihat ganglion servikale(fleksus franterrhauss). Bila ganglion ini digeser dan di tekan misalnya oleh kepala janin akan timbul kontraksi uterus.

• Induksi partus Dapat pula ditimbulkan dengan jalan gagang laminaria yang dimasukan dalam kanalis servikalis dengan tujuan merangsang pleksus frankenhauser, amniotomi pemecahan ketuban), oksitosin drip yaitu pemberian oksitosin menurut tetesan perinfus. • PATOFISIOLOGI Proses terjadinya persalinan karena adanya kontraksi uterus yang dapat menyebabkan nyeri. Ini dipengaruhi oleh adanya keregangan otot rahim, penurunan progesteron, peningkatan oxytoksin, peningkatan prostaglandin, dan tekanan kepala bayi.

Dengan adanya kontraksi maka terjadi pemendekan SAR dan penipisan SBR. Penipisan SBR menyebabkan pembukaan servik.

pathway persalinan normal

Penurunan kepala bayi yang terdiri dari beberapa tahap antara lain enggament, descent, fleksi, fleksi maksimal, rotasi internal, ekstensi, ekspulsi kepala janin, rotasi eksterna.

Semakin menurunnya kepala bayi menimbulkan rasa mengejan sehingga terjadi ekspulsi. Ekspulsi dapat menyebabkan terjadinya robekan jalan lahir akibatnya akan terasa nyeri. Setelah bayi lahir kontraksi rahim akan berhenti 5-10 menit, kemudian akan berkontraksi lagi. Kontraksi akan mengurangi area plasenta, rahim bertambah kecil, dinding menebal yang menyebabkan plasenta terlepas secara bertahap.

Dari berbagai implantasi plasenta antara lain mengeluarkan lochea, lochea dan robekan jalan lahir sebagai tempat invasi bakteri secara asending yang dapat menyebabkan terjadi risiko tinggi infeksi. Dengan pelepasan plasenta maka produksi estrogen dan progesteron akan mengalami penurunan, sehingga hormon prolaktin aktif dan produksi laktasi dimulai. Pathway Persalinan Normal • TANDA-TANDA MULAINYA PERSALINAN Tanda-tanda permulaan persalinan adalah Lightening atau settling atau dropping yang merupakan kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida.

Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun. Perasaan sering-sering atau susah buang air kecil karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin. Perasaan sakit diperut dan dipinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah diuterus (fase labor pains).

Servik menjadi lembek, mulai mendatar dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show) (Haffieva, 2011). Tanda-Tanda In Partu : • Rasa sakit oleh adanya his yang dating lebih kuat, sering dan teratur. • Keluar lendir dan bercampur darah yang lebih banyak, robekan kecil pada bagian servik.

• Kadang-kadang ketuban pecah • Pada pemeriksaan daam, servik mendatar • FAKTOR PERSALINAN • PASSAGE (JALAN LAHIR) Merupakan jalan lahir yang harus dilewati oleh janin terdiri dari rongga panggul, dasar panggul, serviks dan vagina. Syarat agar janin dan plasenta dapat melalui jalan lahir tanpa ada rintangan, maka jalan lahir tersebut harus normal.

Passage terdiri dari : • Bagian keras tulang-tulang panggul (rangka panggul): • Os. Coxae: • Os illium • Os. Ischium • Os.

Pubis • Os. Sacrum = promotorium • Os. Coccygis • Bagian lunak : otot-otot, jaringan dan ligamen-ligamen Pintu Panggul • Pintu atas panggul (PAP) = Disebut Inlet dibatasi oleh promontorium, linea inominata dan pinggir atas symphisis. pathway persalinan normal Ruang tengah panggul (RTP) kira-kira pada spina ischiadica, disebut midlet • Pintu Bawah Panggul (PBP) dibatasi simfisis dan arkus pubis, disebut outlet • Ruang panggul yang sebenarnya (pelvis cavity) berada antara inlet dan outlet.

Bidang-bidang : • Bidang Hodge I : dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas symphisis dan promontorium • Bidang Hodge II : sejajar dengan Hodge I setinggi pinggir bawah symphisis. • Bidang Hodge III : sejajar Hodge I dan II setinggi spina ischiadika kanan dan kiri. • Bidang Hodge IV : sejajar Hodge I, II dan III setinggi os coccygis • POWER Power adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang terdiri dari his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran dari ibu. Power merupakan tenaga primer atau kekuatan utama yang dihasilkan oleh adanya kontraksi dan retraksi otot-otot rahim.

Kekuatan yang mendorong janin keluar (power) terdiri dari : • His (kontraksi otot uterus) Adalah kontraksi uterus karena otot – otot polos rahim bekerja dengan baik dan sempurna. Pada waktu kontraksi otot – otot rahim menguncup sehingga menjadi tebal dan lebih pendek. Kavum uteri menjadi lebih kecil serta mendorong janin dan kantung amneon ke arah segmen bawah rahim dan serviks.

• kontraksi otot-otot dinding perut • kontraksi diafragma pelvis atau kekuatan mengejan • ketegangan dan ligmentous action terutama ligamentum rotundum Kontraksi uterus/His yang normal karena otot-otot polos rahim bekerja dengan baik dan sempurna mempunyai sifat-sifat : • kontraksi simetris • fundus dominan • relaksasi • involuntir : terjadi di luar kehendak • intermitten : terjadi secara berkala (berselang-seling) • terasa sakit • terkoordinasi • kadang dapat dipengaruhi dari luar secara fisik, kimia dan psikis Perubahan-perubahan akibat his : • Pada uterus dan servik, Uterus teraba pathway persalinan normal karena kontraksi.

Tekanan hidrostatis air ketuban dan tekanan intrauterin naik serta menyebabkan serviks menjadi mendatar (effacement) dan terbuka (dilatasi). • Pada ibu Rasa nyeri karena iskemia rahim dan kontraksi rahim. Juga ada kenaikan nadi dan tekanan darah. • Pada janin Pertukaran oksigen pada sirkulasi utero-plasenter kurang, maka timbul hipoksia janin.

Denyut jantung janin melambat (bradikardi) dan kurang jelas didengar karena adanya iskemia fisiologis. Dalam melakukan observasi pada ibu – ibu bersalin hal – hal yang harus diperhatikan dari his: • Frekuensi his Jumlah his dalam waktu tertentu biasanya permenit atau persepuluh menit. • Intensitas his Kekuatan his diukurr dalam mmHg. intensitas dan frekuensi kontraksi uterus bervariasi selama persalinan, semakin meningkat waktu persalinan semakin maju.

Telah diketahui bahwa aktifitas uterus bertambah besar jika wanita tersebut berjalan – jalan sewaktu persalinan masih dini. • Durasi atau lama his Lamanya setiap his berlangsung diukur dengan detik, misalnya selama 40 detik. • Datangnya his Apakah datangnya sering, teratur atau tidak. • Interval Jarak antara his satu dengan his berikutnya, misalnya his datang tiap 2 sampe 3 menit • Aktivitas his Frekuensi x amplitudo diukur dengan unit Montevideo.

His Palsu His palsu adalah kontraksi uterus yang tidak efisien atau spasme usus, kandung kencing dan otot-otot dinding perut yang terasa nyeri. His palsu timbul beberapa hari sampai satu bulan sebelum kehamilan cukup bulan. His palsu dapat merugikan yaitu dengan membuat lelah pasien sehingga pada waktu persalinan sungguhan mulai pasien berada dalam kondisi yang pathway persalinan normal, baik fisik maupun mental.

Kelainan kontraksi otot rahim: • Inertia Uteri • His yang sifatnya lemah, pendek dan jarang dari his yang normal yang terbagi pathway persalinan normal : Inertia uteri primer : apabila sejak semula kekuatannya sudah lemah • Inertia uteri sekunder : His pernah cukup kuat tapi kemudian melema Dapat ditegakkan dengan melakukan evaluasi pada pembukaan, bagian terendah terdapat kaput dan mungkin ketuban telah pecah.

His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau ke dokter spesialis. • Tetania uteri His yang terlalu kuat dan terlalu sering, sehingga tidak terdapat kesempatan reaksi otot rahim. Akibat dari tetania uteri dapat terjadi : • Persalinan Presipitatus • Persalinan yang berlangsung dalam waktu tiga jam.

Akibat mungkin fatal • Terjadi persalinan tidak pada tempatnya • Terjadi trauma janin, karena tidak terdapat persiapan dalam persalinanT • Trauma jalan lahir ibu yang luas dan menimbulkan perdarahan inversion uteri • Tetania uteri menyebabkan asfiksia intra uterin sampai kematian janin dalam rahim • Inkoordinasi otot rahim Keadaan Inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengeluaran janin dari dalam rahim.

Penyebab inkoordinasi kontraksi otot rahim adalah : • Faktor usia penderita elative tua • Pimpinan persalinan • Karena induksi persalinan dengan oksitosin • Rasa takut dan cemas • PASSANGER Passanger terdiri dari janin dan plasentaa. Janin merupakan passangge utama dan bagian janin yang paling penting adalah kepala karena bagian yang paling besar dan keras dari janin adalah kepala janin.

pathway persalinan normal

Posisi dan besar kepala dapat mempengaruhi jalan persalinan. Kelainan – kelainan yang sering menghambat dari pihak passangger adalah kelainan ukuran dan bentuk kepala anak seperti hydrocephalus ataupun anencephalus, kelainan letak seperti letak muka atau pun letak dahi, kelainan kedudukan anak seperti kedudukan lintang atau letak sungsang. • PSIKIS (PSIKOLOGIS) Perasaan positif berupa kelegaan hati, seolah-olah pada saat itulah benar-benar terjadi realitas “kewanitaan sejati” yaitu munculnya rasa bangga bias melahirkan atau memproduksi anaknya.

Mereka seolah-olah mendapatkan kepastian bahwa kehamilan yang semula dianggap sebagai suatu “ keadaan yang belum pasti “ sekarang menjadi hal yang nyata. Psikologis meliputi : • Melibatkan psikologis ibu, emosi dan persiapan intelektual • Pengalaman bayi sebelumnya • Kebiasaan adat • Dukungan dari orang terdekat pada kehidupan ibu Sikap negatif terhadap peralinan pathway persalinan normal oleh: • Persalinan sebagai ancaman terhadap keamanan • Persalinan sebagai ancaman pada self-image • Medikasi persalinan • Nyeri persalinan dan kelahiran • PENOLONG Peran dari penolong persalinan dalam hal ini Bidan adalah mengantisipasi dan menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin.

Proses tergantung dari kemampuan skill dan kesiapan penolong dalam menghadapi proses persalinan. • Pathway persalinan normal PERSALINAN Persalinan dibagi dalam empat kala menurut Prawirohardjo (2006) yaitu: • Kala I (kala pembukaan) In partu (partu mulai) ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah, servik mulai membuka dan mendatar, darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler, kanalis servikalis.

Kala pembukaan dibagi menjadi 2 fase : pathway persalinan normal Fase laten Pembukaan servik berlangsung lambat, sampai pembukaan berlangsung 2 jam, cepat menjadi 9 cm. • Fase aktif Berlangsung selama 6 jam dibagi atas 3 sub fase : • periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan menjadi 4 cm. • periode dilatasi maksimal (steady) selama 2 jam, pembukaan berlangsung 2 jam, cepat menjadi 9 cm. • periode deselerasi berlangsung lambat dalam waktu 2 jam pembukaan menjadi 10 cm.

Akhir kala I servik mengalami dilatasi penuh, uterus servik dan vagina menjadi saluran yang continue, selaput amnio ruptur, kontraksi uterus kuat tiap 2-3 menit selama 50-60 detik untuk setiap kontraksi, kepala janin turun ke pelvis.

• Kala II (pengeluaran janin) His terkoordinir cepat dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali, kepala janin telah turun dan masuk ruang panggul, sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflek menimbulkan rasa ngedan karena tekanan pada rectum sehingga merasa seperti BAB dengan tanda anus membuka. Pada waktu his kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum meregang.

Dengan his mengedan yang terpimpin akan lahir dan diikuti oleh seluruh badan janin. Kala II pada primi 1.5-2 jam, pada multi 0.5 jam. Mekanisme persalinan: Janin dengan presentasi belakang kepala, ditemukan hampir sekitar 95 % dari semua kehamilan.Presentasi janin paling umum dipastikan dengan palpasi abdomen dan kadangkala diperkuat sebelum atau pada saat awal persalinan dengan pemeriksaan vagina (toucher). Pada kebanyakan kasus, presentasi belakang kepala masuk dalampintu atas panggul dengan sutura sagitalis melintang.

Oleh karena itu kita uraikan dulu mekanisme persalinan dalam presentasi belakang kepala dengan posisi ubun-ubun kecil melintang dan anterior. Karena panggul mempunyai bentuk yang tertentusedangkan ukuran-ukuran kepala bayi hampir sama besarnya dengan dengan ukuran dalam panggul, maka jelas bahwa kepala harus menyesuaikan diri dengan pathway persalinan normal panggul mulai dari pintu atas panggul, ke bidang tengah panggul dan pada pintu bawah panggul, supaya anak dapat lahir.

Misalnya saja jika sutura sagitalis dalam arah muka belakang pada pintu atas panggul, maka hal ini akan mempersulit persalinan, karena diameter antero posterior adalah ukuran yang terkecil dari pintu atas panggul. Sebaliknya pada pintu bawah panggul, sutura sagitalis dalam jurusan muka belakang yang menguntungkan karena ukuran terpanjang pada pintu bawah panggul ialah diameter antero posterior. Gerakan-gerakan utama dari mekanisme persalinan adalah : • Penurunan kepala.

• Fleksi. • Rotasi dalam ( putaran paksi dalam) • Ekstensi. • Ekspulsi. • Rotasi luar ( putaran paksi luar) Dalam kenyataannya beberapa gerakan terjadi bersamaan, akan tetapi untuk lebih jelasnya akan dibicarakan gerakan itu satu persatu. • Penurunan Kepala. Pada primigravida, masuknya kepala ke dalam pintu atas panggul biasanya sudah terjadi pada bulan terakhir dari kehamilan, tetapi pada multigravida biasanya baru terjadi pada permulaan persalinan.

Masuknya kepala ke dalam PAP, biasanya dengan sutura sagitalis melintang dan dengan fleksi yang ringan. Masuknya kepala melewati pintu atas panggul (PAP), dapat dalam keadaan asinklitismus yaitu bila sutura sagitalis terdapat pathway persalinan normal tengah-tengah jalan lahir tepat di antara simpisis dan promontorium.

Pada sinklitismus os parietal depan dan belakang sama tingginya. Jika sutura sagitalis agak ke depan mendekati simpisis atau agak ke belakang mendekati promontorium, maka dikatakan kepala dalam keadaan asinklitismus, ada 2 jenis asinklitismus yaitu : • Asinklitismus posterior : Bila sutura sagitalis mendekati simpisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os parietal depan.

• Asinklitismus anterior : Bila sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang. Derajat pathway persalinan normal asinklitismus pasti terjadi pada persalinan normal, tetapi kalau berat gerakan ini dapat menimbulkan disproporsi sepalopelvik dengan panggul yang berukuran normal sekalipun.

Penurunan kepala lebih lanjut terjadi pada kala I dan kala II persalinan. Hal ini disebabkan karena adanya kontraksi dan retraksi dari segmen atas rahim, yang menyebabkan tekanan langsung fundus pada bokong janin.

Dalam waktu yang bersamaan terjadi relaksasi dari segmen bawah rahim, sehingga terjadi penipisan dan dilatasi servik. Keadaan ini menyebabkan bayi terdorong ke dalam jalan lahir.

Penurunan kepala ini juga disebabkan karena tekanan cairan intra uterine, kekuatan mengejan atau adanya kontraksi otot-otot abdomen dan melurusnya badan anak. • Sutura sagitalis terdapat di tengah-tengah jalan lahir tepat di antara simpisis dan promontorium. • Sutura sagitalis mendekati simpisis dan os parietal belakang lebih rendah dari os parietal depan • Sutura sagitalis mendekati promontorium sehingga os parietal depan lebih rendah dari os parietal belakang • Fleksi Pada awal persalinan, kepala pathway persalinan normal dalam keadaan fleksi yang ringan.

Pathway persalinan normal majunya kepala biasanya fleksi juga bertambah. Pada pergerakan ini dagu dibawa lebih dekat ke arah dada janin sehingga ubun-ubun kecil lebih rendah dari ubun-ubun besar hal ini disebabkan karena adanya tahanan dari dinding seviks, dinding pelvis dan lantai pelvis. Dengan adanya fleksi, diameter suboccipito bregmatika (9,5 cm) menggantikan diameter suboccipito frontalis (11 cm). sampai di dasar panggul, biasanya kepala janin berada dalam keadaan fleksi maksimal.

• Rotasi Dalam (Putaran Paksi Dalam) Putaran paksi dalam adalah pemutaran dari bagian depan sedemikian rupa sehingga bagian terendah dari bagian depan janin memutar ke depan ke bawah simpisis. Pada presentasi belakang kepala bagian yang terendah ialah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah yang akan memutar ke depan kearah simpisis. Rotasi dalam penting untuk menyelesaikan persalinan, karena rotasi dalam merupakan suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir khususnya bidang tengah dan pintu bawah panggul.

• Ekstensi Sesudah kepala janin sampai di dasar panggul dan ubun-ubun kecil berada di bawah simpisis, maka terjadilah ekstensi dari kepala janin.

Hal ini di sebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan ke atas sehingga kepala harus mengadakan fleksi untuk melewatinya.

Kalau kepala yang fleksi penuh pada waktu mencapai dasar panggul tidak melakukan ekstensi maka kepala akan tertekan pada perineum dan dapat menembusnya. Subocciput yang tertahan pada pinggir bawah simpisis akan menjadi pusat pemutaran (hypomochlion), maka lahirlah berturut-turut pada pinggir atas perineum: ubun-ubun besar, dahi, hidung, mulut dan dagu bayi dengan gerakan ekstensi.

• Rotasi Luar (Putaran Paksi Luar) Kepala yang sudah lahir selanjutnya mengalami restitusi yaitu kepala bayi memutar kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam.

Bahu melintasi pintu dalam keadaan miring. Di dalam rongga panggul bahu akan menyesuaikan diri dengan bentuk panggul yang dilaluinya, sehingga di dasar panggul setelah kepala bayi lahir, bahu mengalami putaran dalam dimana ukuran bahu (diameter bisa kromial) menempatkan diri dalam diameter anteroposterior dari pintu bawah panggul.

pathway persalinan normal

Bersamaan dengan itu kepala bayi juga melanjutkan putaran hingga belakang kepala berhadapan dengan tuber ischiadikum sepihak. • Ekspulsi Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai di bawah simpisis dan menjadi hipomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Setelah kedua bahu bayi lahirselanjutnya seluruh badan bayi dilahirkan searah dengan sumbu jalan lahir.

Dengan kontraksi yang pathway persalinan normal, fleksi kepala yang adekuat, dan janin dengan ukuran yang rata-rata, sebagian besar oksiput yang posisinya posterior berputar cepat segera setelah mencapai dasar panggul, dan persalinan tidak begitu bertambah panjang.

pathway persalinan normal

Tetapi pada kira-kira 5-10 % kasus, keadaan yang menguntungkan ini tidak terjadi. Sebagai contoh kontraksi yang buruk atau fleksi kepala yang salah atau keduanya, rotasi mungkin tidak sempurna atau mungkin tidak terjadi sama sekali, khususnya kalau janin besar.

• Kala III (pengeluaran plasenta) Setelah bayi lahir, kontraksi, rahim istirahat sebentar, uterus teraba keras dengan fundus uteri sehingga pucat, plasenta menjadi tebal 2x sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul his, dalam waktu 5-10 menit, seluruh plasenta terlepas, terdorong kedalam vagina dan akan lahir secara spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simpisis/fundus uteri, seluruh proses berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir.

Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc. • Kala Pathway persalinan normal Pengawasan, selama 2 jam setelah bayi dan plasenta lahir, mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post partum. Dengan menjaga kondisi kontraksi dan retraksi uterus yang kuat dan terus-menerus. Tugas uterus ini dapat dibantu dengan obat-obat oksitosin. • PEMERIKSAAN PENUNJANG • Pemeriksaan Laboratorium • Pemeriksaan urine protein (Albumin) Untuk mengetahui adanya pathway persalinan normal pada keadaan preeklamsi maupun adanya gangguan pada ginjal dilakukan pada trimester II dan III.

• Pemeriksaan urin gula Menggunakan reagen benedict dan menggunakan diastic. • Pemeriksaan darah • Ultrasonografi (USG) Alat yang menggunakan gelombang ultrasound untuk mendapatkan gambaran dari janin, plasenta dan uterus.

pathway persalinan normal

• Stetoskop Monokuler Mendengar denyut jantung janin, daerah yang paling jelas terdengar DJJ, daerah tersebut disebut fungtum maksimum. • Memakai alat Kardiotokografi (KTG) Kardiotokografi adalah pathway persalinan normal ultrasound untuk mendeteksi frekuensi jantung janin dan tokodynomometer untuk mendeteksi kontraksi uterus kemudian keduanya direkam pada kertas yang sama sehingga terlihat pathway persalinan normal keadaan jantung janin dan kontraksi uterus pada saat yang sama • PENATALAKSANAAN Menurut Wiknjosastro (2005), penatalaksanaan yang diberikan untuk penanganan plasenta previa tergantung dari jenis plasenta previanya yaitu: • Kaji kondisi fisik klien • Menganjurkan klien untuk tidak coitus • Menganjurkan klien istirahat • Mengobservasi perdarahan • Memeriksa tanda vital • Memeriksa kadar Hb • Berikan cairan pengganti intravena RL • Berikan betametason untuk pematangan paru bila perlu dan bila fetus masih premature PERSIAPAN PERSALINAN • Ibu : • Gurita, 3 buah • Baju tidur, 3 buah • Underware secukupnya • Handuk, sabun, shampoo, sikat gigi dan pasta gigi • Pembalut khusus, 1 bungkus • Under pad (dapat dibeli di apotik), 3 lembar • Bayi : • Popok dan gurita bayi, 1-2 buah • Baju bayi, 1-2 buah • Diaper (popok sekali pakai) khusus new baby born, 1-2 buah • Selimut,topi dan kaos kaki bayi • Perlengkapan Resusitasi bayi baru lahir • Penolong : • Memakai APD, terdiri dari : Sarung Tangan steril, Masker, Alas kaki, celemek • Menyiapkan tempat persalinan, perlengkapan dan bahan Penolong persalinan harus menilai ruangan dimana proses persalinan akan berlangsung.

Ruangan tersebut harus memiliki pencahayaan atau penerangan yang cukup. Tempat tidur dengan kasur yang dilapisi kain penutup yang bersih, kain tebal, dan pelapis anti bocor.

Ruangan harus hangat (tetapi jangan pamas), harus rersedia meja atau permukaan yang bersih dan mudah dijangkau untuk meletakkan peralatan yang diperlukan. • Menyiapkan tempat dan lingkungan kelahiran bayi. Memastikan bahwa rungan tersebut bersih, hangat (minimal 25oC, pencahayaan cukup dan bebas dari tiupan angin.

• Alat : Partus Set (didalam wadah stenis yang berpenutup) : • 2 klem Kelly atau 2 klem kocher • Gunting tali pusat • Benang tali pusat • Kateter nelaton • Pathway persalinan normal episiotomy • Alat pemecah selaput ketuban • 2 psang sarung tangan dtt • Kasa atau kain kecil • Gulungan kapas basah • Tabung suntik 3 ml dengan jarum i.m sekali pakai • Kateter penghisap de lee (penghisap lender) • 4 kain bersih • 3 handuk atau kain untuk mengeringkan bayi • Bahan : • Partograf • Termometer • Pita pengukur • Feteskop / dopler • Jam tangan detik • Stetoskop • Tensi meter • Sarung tangan bersih • Obat-Obatan : • Ibu: • 8 Ampul Oksitosin 1 ml 10 U (atau 4 oksitosin 2ml U/ml • 20 ml Lidokain 1% tanpa Epinefrin atau 10ml Lidokain 2% tanpa Epinefrin • 3 botol RL • 2 Ampul metal ergometrin maleat ( disimpan dalam suhu 2-80C • Bayi: • Salep mata tetrasiklin • Vit K 1 mg A.

KALA I (fase laten) • Pengakajian : • Integritas ego Klien tampak tenang pathway persalinan normal cemas • Nyeri atau ketidaknyamanan Kontraksi regular, terjadi peningkatan frekuensi durasi atau keparahan • Seksualitas Servik dilatasi 0-4 cm mungkin ada lender merah muda kecoklatan atau terdiri dari flek lendir.

• Diagnosa Keperawatan : • Ansietas b/d krisis situasi kebutuhan tidak terpenuhi. • Kurang pengetahuan tentang kemajuan persalinan b/d kurang mengingat informasi yang diberikan, kesalahan interpretasi informasi.

pathway persalinan normal

• Risiko tinggi terhadap infeksi maternal b/d pemeriksaan vagina berulang dan kontaminasi fekal. • Risiko tinggi terhadap kekurangan cairan b/d masukan dan peningkatan kehilangan cairan melalui pernafasan mulut.

• Risiko tinggi terhadap koping individu tidak efektif b/d ketidakadekuatan system pendukung. • Intervensi · Bantu relaksasi B. KALA I (fase aktif) • Pengkajian • Aktivitas istirahat Klien tampak kelelahan. • Integritas ego Klien tampak serius dan tampak hanyut dalam persalinan ketakutan tentang kemampuan mengendalikan pernafasan.

• Nyeri atau ketidaknyamanan Kontraksi sedang, terjadi pathway persalinan normal, 5-5 menit dan berakhir 30-40 detik. • Keamanan Irama jantung janin terdeteksi agak di bawah pusat, pada posisi vertexs. • Seksualitas Dilatasi servik dan 4-8 cm (1, 5 cm/jam pada multipara dan 1,2/ jam pada primipara) • Diagnosa Keperawatan: • Nyeri akut berhubungan dengan tekanan mekanik dari bagian presentasi. • Perubahan eliminasi urin b/d perubahan masukan dan kompresi mekanik kandung kemih.

• Risiko tinggi terhadap koping individu tidak efektif b/d krisis situasi. • Risiko tinggi terhadap cedera maternal b/d efek obat-obatan pertambahan mobilitas gastrik. • Risiko tinggi terhadap kerusakan gas janin b/d perubahan suplay oksigen dan aliran darah • Intervensi · Kaji perubahan DJJ selama kontraksi C. KALA II • Pengkajian • Aktivitas/ istirahat: • Melaporkan kelelahan • Melaporkan ketidakmampuan melakukan dorongan sendiri / teknik relaksasi • Lingkaran hitam di bawah mata • Sirkulasi Tekanan darah meningkat 5-10 mmHg • Integritas ego Dapat merasakan kehilangan kontrol / sebaliknya • Eliminasi Keinginan untuk defekasi, kemungkinan terjadi distensi kandung kemih • Nyeri / ketidaknyamanan • Dapat merintih / menangis selama kontraksi • Melaporkan rasa terbakar / meregang pada perineum • Kaki dapat gemetar selama upaya mendorong • Kontraksi uterus kuat terjadi 1,5 – 2 menit • Pathway persalinan normal : Peningkatan frekwensi pernafasan • Seksualitas: • Servik dilatasi penuh (10 cm) • Peningkatan perdarahan pervagina • Membrane mungkin rupture, bila masih utuh • Peningkatan pengeluaran cairan amnion selama kontraksi • Diagnosa Keperawatan • Nyeri akut b/d tekanan mekanis pada bagian presentasi • Perubahan curah jantung b/d fluktasi aliran balik vena • Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit b/d pada interaksi hipertonik • Intervensi · Kolaborasi terhadap pemantauan kandung kemih dan kateterisasi D.

KALA III • Pengkajian • Aktivitas / istirahat Klien tampak senang dan keletihan • Sirkulasi • Tekanan darah meningkat saat curah jantung meningkat dan kembali normal dengan cepat • Hipotensi akibat analgetik dan anastesi • Nadi melambat • Makan dan cairan Kehilangan darah normal 250 – 300 ml • Nyeri / ketidaknyamanan Dapat mengeluh tremor kaki dan menggigil • Seksualitas • Darah berwarna hitam dari vagina terjadi saat plasenta lepas • Tali pusat memanjang pada muara vagina • Diagnosa Keperawatan • Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan b/d kurang masukan oral, muntah.

pathway persalinan normal

• Nyeri akut b/d trauma jaringan setelah melahirkan • Risiko tinggi terhadap cedera maternal b/d posisi selama persalinan • Intervensi · Kolaborasi pemberian cairan parenteral E. KALA IV • Pengkajian • Aktivitas Dapat tampak berenergi atau kelelahan • Sirkulasi Nadi biasanya lambat sampai (50-70x/menit) TD bervariasi, mungkin lebih rendah pada respon terhadap analgesia/anastesia, atau meningkat pada respon pemberian oksitisin atau HKK,edema, kehilangan darah selama persalinan 400-500 ml untuk kelahiran pervagina 600-800 ml pathway persalinan normal kelahiran saesaria • Integritas Ego Kecewa, rasa takut mengenai kondisi bayi, bahagia • Eliminasi Haemoroid, kandung kemih teraba di atas simfisis pubis • Makanan/cairan Mengeluh haus, lapar atau mual • Neurosensori Sensasi dan gerakan ekstremitas bawah menurun pada adanya anastesi spinal • Nyeri/ketidaknyamanan Melaporkan nyeri, missal oleh karena trauma jaringan atau perbaikan episiotomy, kandung kemih penuh, perasaan dingin atau otot tremor • Keamanan Peningkatan suhu tubuh • Seksualitas Fundus keras terkontraksi pada garis tengah terletak setinggi umbilicus, perineum bebas dan kemerahan, edema, ekimosis, striae mungkin pada abdomen, paha dan payudara.

• Diagnosa Keperawatan • Nyeri akut b/d efek hormone, trauma,edema jaringan, kelelahan fisik dan psikologis, ansietas • Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d kelelahan/ketegangan miometri • Perubahan ikatan proses keluarga b/d transisi/peningkatan anggota leluarga • Intervensi DAFTAR PUSTAKA • Depkes.(2008).

pathway persalinan normal

Pelatihan Klinik Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: USAID • FKUI. (2000). Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius. • Gary dkk. (2006). Obstetri Williams, Edisi 21.

Jakarta, EGC. • Hafifah. (2011). Laporan Pendahuluan pada Pasien dengan Persalinan Normal. Dimuat dalam http:///D:/MATERNITY%20NURSING/LP%20PERSALINAN/laporan-pendahuluan-pada-pasien-dengan.html (Diakses tanggal 8 Maret 2019) • Mc Closky & Bulechek. (2000). Nursing Intervention Classification (NIC). United States of America: Mosby. • Meidian, JM. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC). United States of America: Mosby. • Mitayani.

(2009). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: EGC • Wiknjosostro. (2002). Ilmu Kebidanan Edisi III. Jakarta: Yayasan Bima pustaka Sarwana Prawirohardjo. Sumber : Perawat Kita Satu Demikianlah artikel singkat ari kami ini yang berjudul Laporan Pendahuluan Askep Persalinan Normal pdf doc. Semoga apa yang telah kami sajikan dan berikan tersebut diatas dapat bermanfaat dan sampai jumpa lagi dipertemuan kita selanjutnya. Oke Sekianlah artikel kami yang membahas mengenai Laporan Pendahuluan Askep Persalinan Normal pdf doc, semoga artikel ini bermanfaat bagi teman-teman semua, dan jangan lupa share artikel kami ini jika bermanfaat dan tetap mencantumkan link blog kami.

Jangan bosan untuk membaca artikel lainnya disini, Sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
PENYIMPANGAN KDM Kehamilan (37-42 minggu) Tanda-tanda inpartu Proses persalinan Kala I Kala II Kontraksi uterus Proses kala I lama Bagian bawah janin Khawatir pada kondisi dan bayi Peregangan otot jalan lahir Dilatasi servik Kala III Pathway persalinan normal Pengeluaran bayi Ruptur perineum Proses persalinan kala I,II,III Sampai IV (pengeluaran plasenta) Pelepasan plasenta Terputusnya kontinuitas jaringan Ansietas Kala IV Luka bekas implantasi Pelepasan zat bradikinin,histamin, prostaglandin Penggunaan energi Aktivitas otot Cadangan energi berkurang Pendarahan Nutrisi ke jaringan berkurang Perangsangan saraf sensoris Proses transmisi, transdukasi,modulasi, persepsi Nyeri Resepnicoceptori Port de entre Mikroorganisme ke hipotalamus Cortex cerebri Resiko infeksi Kurang mampu melakukan aktivitas Nyeri Resiko defisit volume cairan Sumber : Jurnal Universitas Sumatera Utara, 2011 Kelemahan fisik Intoleransi aktivitas Related Documents
Pathway Persalinan Normal.

Here are a number of highest rated Pathway Persalinan Normal pictures on internet. We identified it from honorable source. Its submitted by presidency in the best field. We agree to this kind of Pathway Persalinan Normal graphic could possibly be the most trending subject in the manner of we ration it in google benefit or facebook.

We try to pathway persalinan normal in this posting since this may be one of astonishing reference for any Pathway Persalinan Normal options. Dont you come here to know some extra unique pot de fleurs pas cher idea? We in reality wish you can easily say yes it as one of your hint and many thanks for your times for surfing our webpage.

occupy allocation this image for your beloved friends, families, organization via your social media such as facebook, google pathway persalinan normal, twitter, pinterest, or any new bookmarking sites. Asuhan Keperawatan Post Vacum Ekstraksi Kala Ii Tak Maju, Manipulating Sirtuin 3 Pathway Ameliorates Renal Damage In, Pathway Preeklamsi, Media.nbcmontana.com is an open platform for users to share their favorite wallpapers, By downloading this wallpaper, you agree to our Terms Of Use and Privacy Policy.

This image is for personal desktop wallpaper use only, if you are the author and find this image is shared without your permission, DMCA report please Contact Us

Bagaimana Persalinan Normal Berjalan Dan Yang Sebaiknya Dilakukan




2022 charcuterie-iller.com