Bunga dan buah kepel terdapat pada bagian

Vegetasi dalam tata ruang sebuah kota memiliki banyak fungsi, antara lain sebagai perindang, penyerap polusi udara, pemelihara air tanah, dan penahan angin. Dalam tata ruang Yogyakarta yang dirancang oleh Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I), vegetasi yang ada juga memiliki fungsi sebagai simbol ajaran Jawa. Beberapa pohon yang ditanam pada ruas-ruas jalan utama dan lingkungan keraton mengandung filosofi tersendiri, baik dari jenis tanaman maupun dalam kaitannya dengan lokasi di mana tumbuhan itu ditanam.

Beberapa jenis tanaman itu ialah, Beringin Ada dua macam beringin yang ditanam di Keraton Yogyakarta, yaitu beringin yang kita kenal pada umumnya ( Ficus benjamina) dan beringin preh ( Ficus ribes). Keduanya memiliki makna yang sama.

Saat ini pohon beringin terdapat di Alun-Alun Utara, Plataran Kamandungan Lor, Plataran Kemagangan, dan Alun-Alun Selatan. Di Alun-Alun Utara, pohon beringin ditanam keliling. Persis di tengah alun-alun, baik Alun-Alun Utara maupun Alun-Alun Selatan, ditanam sepasang pohon beringin yang diberi pagar. Di Jawa, pohon beringin dianggap sebagai pohon hayat atau pohon kehidupan. Pohon ini dapat tumbuh sangat besar, efektif dalam menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen.

Tajuk daunnya lebar, membuat pohon beringin sangat baik dalam memberi keteduhan. Pohon beringin memiliki makna keteduhan dan pengayoman, bahwa Sultan sebagai raja akan senantiasa mengayomi rakyatnya.

Gayam Pohon gayam ( Inocarpus edulis) ditanam di sepanjang Jalan Margatama, Malioboro, hingga Margamulya. Jalan-jalan tersebut membentang dari Tugu Golong Gilig hingga ke titik nol Yogyakarta. Selain itu, pohon gayam juga ditanam di sebelah selatan Bangsal Pagelaran pada jalan menuju Siti Hinggil dan di Alun-Alun Selatan. Pohon gayam memiliki sistem perakaran yang dalam dan padat, tajuk daun yang lebar, dan bunga yang wangi.

Akarnya memiliki kemampuan menyimpan dan menjernihkan air. Bentuk buahnya yang berbentuk bulat sedikit meruncing menjadi nama bagi bentuk warangka keris yang disebut gayaman. Pohon gayam memiliki makna ayem, rasa damai dan ketenangan hati. Asam Jawa Bersama pohon gayam, asam jawa ( Tamarindus indica) juga terdapat di sepanjang Jalan Margatama, Malioboro, hingga Margamulya.

Selain itu, pohon asam juga ditanam bersama pohon tanjung di sepanjang Jalan D.I. Panjaitan. Pohon asam jawa tumbuh tinggi dan besar, daunnya kecil-kecil, dan tajuknya berbentuk bulat.

Pohon asam jawa, atau disebut juga pohon asem, memiliki makna kasengsem yang berarti tertarik. Daun mudanya yang bernama sinom, sama seperti nama rambut halus pada dahi perempuan.

Memiliki makna anom yang berarti muda, karena itu pohon asam jawa juga bisa diibaratkan sebagai kemudaan atau gadis muda. Tanjung Pohon tanjung ( Mimusops elengi) ditanam bersama pohon asam jawa di sepanjang Jalan D.I. Panjaitan, jalan yang membentang dari Panggung Krapyak hingga Alun-Alun Selatan.

Kini juga banyak ditemui di jalan-jalan yang mengelilingi tembok benteng keraton. Pohon tanjung memiliki tajuk daun berbentuk bulat. Selain memiliki kemampuan menyerap bau-bau yang tidak sedap, pohon tanjung juga memiliki bunga berwarna putih kekuningan yang harum baunya. Bau dari bunga tanjung ini tidak disukai oleh ular sehingga pohon ini juga dimanfaatkan sebagai pengusir ular.

Pohon ini dianggap pohon suci bagi umat Hindu di India, keberadaannya sering muncul dalam berbagai cerita religi dan literatur Sanskerta kuno.Bahkan pada prasasti Siwagrha (856 M), pohon tanjung dianggap sebagai tangga bagi dewa yang turun ke bumi.

Pohon tanjung dapat dimaknai sebagai tansah disanjung, atau selalu disanjung. Sawo Kecik Pohon sawo kecik (Manilkara kauki) banyakditanam di Plataran Kedhaton dan rumah para bangsawan. Buah sawo kecik berukuran kecil dan berwarna merah. Walau bentuknya berbeda dengan buah sawo pada umumnya, namun rasa buah sawo kecik tidak banyak berbeda. Kayu sawo kecik termasuk dalam kayu yang berkualitas baik dan sangat disukai oleh pengukir Bali. Sawo kecik dimaknai sebagai sarwa becik, atau serba baik.

Kemuning Pohon kemuning (Murraya paniculata) ditanam di Siti Hinggil Lor, tepatnya di belakang Bangsal Witana. Pohon kemuning memiliki daun-daun yang kecil dan berbunga sepanjang tahun. Bunganya berwarna putih dan kecil, sedang buahnya yang telah masak berwarna merah. Saat pohon kemuning sedang berbunga akan menyebarkan bau harum yang semerbak. Pohon ini dipercayai mampu menolak tenung atau pun ilmu-ilmu hitam yang lain. Kemuning dimaknai sebagai ning yang berarti hening, atau weninging pikir yang berarti kejernihan pikiran.

Pohon ini melambangkan kesucian dan pikiran yang jernih. Keben Selain dapat ditemui di halaman Masjid Gedhe, pohon keben ( Barringtonia asiatica) juga ditanam di Plataran Kamandungan Lor. Bahkan, masyarakat kebanyakan lebih mengenal pelataran ini sebagai Bunga dan buah kepel terdapat pada bagian Keben dibanding nama aslinya.

Pohon keben berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Bentuk buahnya yang unik digunakan dalam desain ornamen Jawa, kebenan. Buah keben juga dapat digunakan sebagai obat sakit kulit.

Di Jawa, pohon keben disamakan dengan pohon bodhi ( Ficus religiosa), pohon di mana Sang Buddha mendapatkan pencerahan. Ada beberapa pemaknaan akan pohon keben. Ada yang memaknainya sebagai pohon perdamaian.

Ada yang memaknainya sebagai tangkeb-en, atau menutup, yang dimaksud adalah menutup segala pengaruh hawa nafsu. Ada pula yang memaknainya sebagai hangrukebi, atau melindungi. Konon, dalam sebuah pertempuran melawan VOC, Pangeran Mangkubumi beserta keluarganya pernah berlindung di bawah pohon ini. Selama berhari-hari, tidak ada satu pun buah keben yang jatuh menimpa anak-anak maupun pengikutnya. Untuk mengenang jasanya, Pangeran Mangkubumi menanam pohon ini saat membangun Keraton Yogyakarta.

Mangga Pohon mangga ( Mangifera indica) banyak ditanam di keraton, antara lain di Alun-Alun Selatan dan Plataran Srimanganti. Dalam bahasa Jawa, mangga disebut sebagai pelem. Pelem dimaknai sebagai pada gelem, sama-sama berkehendak, melambangkan kebersamaan. Jambu Dersana Jambu dersana ( Syzgium malaccense/Eugenia malaccensis) dapat ditemui di Plataran Kamandungan Kidul, Plataran Kemagangan, Plataran Srimanganti, dan Plataran Kamandungan Lor.

Jambu dersana lebih dikenal sebagai jambu bol. Buahnya mirip dengan jambu air dan berwarna merah. Jambu dersana sebagai darsana yang berarti teladan, bisa juga sebagai kaderesan sih ing sesama yang berarti kasih sayang pada sesama.

Jambu Klampok Arum Jambu klampok arum ( Syzygium jambos) dapat ditemui di Plataran Srimanganti dan Plataran Kamandungan Lor. Jambu klampok arum, kadang ditulis tlampok arum, juga dikenal sebagai jambu keraton atau jambu mawar. Jambu yang sangat harum ini menyiratkan makna bahwa seyogianya manusia bersikap arum atau harum, selalu baik dalam berucap maupun bertindak.

Jambu ini juga melambangkan harapan agar Sultan dan keraton dapat terus harum namanya. Kepel Terdapat dua macam pohon kepel yang dikenal di Keraton Yogyakarta, yaitu pohon kepel ( Stelechocarpus burahol) dan pohon kecindul ( Cynometra cauliflora).

Pohon kepel dapat ditemui di Plataran Kemagangan, Plataran Srimanganti, dan Plataran Kamandungan Lor. Pohon kepel memiliki batang yang lurus, daunnya rimbun, buahnya bulat berwarna cokelat menggantung pada pokok batangnya. Selain dapat dimakan, buahnya juga dapat menghilangkan bau badan, bahkan mengurangi bau air seni.

Daerah Istimewa Yogyakarta memilih tanaman ini sebagai flora identitas kota. Keberadaannya telah disahkan dalam SK Menteri Dalam Negeri No.

522.5/1458/SJ/1990. Pohon kecindul dikenal di Keraton Yogyakarta sebagai pohon kepel watu. Pohon ini dapat ditemui di Plataran Siti Hinggil Lor.

Seperti pohon kepel, pohon kecindul juga memiliki bunga dan buah yang tumbuh di batang pokok. Pohon ini dipercaya dapat meredam amarah dan rasa benci, juga sebagai penawar ilmu kesaktian. Kepel dimaknai dengan namanya yang berarti tangan yang mengepal, melambangkan tekad dan kemauan untuk bekerja.

Kepel juga dimaknai sebagai kempel atau kumpul, melambangkan persatuan. Mengenal jenis dan memahami makna yang dikandung tanaman di lingkungan Keraton Yogyakarta tidak hanya mendorong pelestarian keanekaragaman hayati khas Yogyakarta. Mengenal tanaman-tanaman tersebut adalah bagian dari mengenal dan memahami cara pandang, nilai-nilai budi pekerti, dan kearifan lokal masyarakat Bunga dan buah kepel terdapat pada bagian.

Daftar Pustaka: Anonim. 1999. 500 Popular Tropical Plants. Hongkong: Periplus Editions. Dahlan, Endes Nurfilmarasa. 2004. Membangun Kota Kebun Bernuansa Hutan Kota. Bogor: IPB Press. Pantja Sunjata, I.W. 1995. Makna Simbolik Tumbuh-Tumbuhan dan Bangunan Kraton: Suatu Kajian Terhadap Serat Salokapatra.

Jakarta: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Pusat, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Partomiharjo, Tukirin. 2014. Jenis-Jenis Pohon Penting di Nusakambangan. Jakarta: LIPI Press. Sischa H.H, Angine.

2017. Tata Letak Pohon di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Menurut Filosofi, Fungsi dan Arsitektur Pohon. Skripsi, Program Studi S1 Budidaya Hutan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Soenarto, D. 2013. Kesetiaan Abdi Dalem. Yogyakarta: Kepel Press.

Tim Puspar UGM. 2004. Wawasan Budaya untuk Pembangunan: Menoleh Kearifan Lokal. Yogyakarta: Pilar Politika. Whitten, Tony., dkk.1996. The Ecology of Java and Bali. Hongkong: Periplus. Wawancara dengan KRT Widya Aninditya pada Danapratapa Episode: Tata Ruang Kota Yogyakarta, produksi Tepas Tandha Bunga dan buah kepel terdapat pada bagian Keraton Yogyakarta 2016. Search Recent Posts • Chapter 8, Oleh: Dian Fatimah • Chapter 7, Oleh: Dian Fatimah • Chapter 6, Oleh: Dian Fatimah • Hari Kartini, Oleh: Dian Fatimah • Chapter 5, Oleh: Dian Fatimah Recent Comments Archives • February 2015 • April 2014 • February 2014 • January 2014 • December 2013 Categories • Uncategorized Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com Tidak seperti lazimnya buah yang menempel pada dahan dan ranting, buah kepel justru meruyak di sekeliling batang utama pohon yang mencapai diameter 40 cm.

Batang tempat buah menempel berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan ( tubercles) yang besar-besar. Karena ukuran buahnya yang segede kepalan tangan orang dewasa ( kepel, dengan “e” pepet), orang Jawa menamakannya buah kepel. Melambangkan unsur kesatuan dan keutuhan mental dan fisik seperti tangan yang terkepal.

Di Jawa Barat disebut burahol, sampai dua orang taksonomis mancanegara yang mengidentifikasi tanaman itu memberi nama Latin Stelechocarpus burahol. Deodoran sekaligus Alat KB Kepel termasuk tanaman langka di Indonesia. Secara geografis pohon kepel ditemui di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaysia. Pohon ini mempunyai arti filosofis tersendiri bagi keraton di samping buahnya berguna untuk memelihara kecantikan puteri keraton Mataram.

Hanya dengan memakan buah itu yang sudah masak, para putri ini sudah bisa berbau bunga violces. Keringatnya wangi, dan napasnya harum. Daging buah kepel dapat berfungsi sebagai peluruh kencing, mencegah radang ginjal dan menyebabkan kemandulan (sementara) pada wanita. Jadi, buah ini oleh para wanita bangsawan digunakan sebagai parfum dan alat KB. Baginda menyuruh menanam pohon itu di halaman istana, untuk diambil buahnya bagi para putri keraton. Di DIY, Jawa tengah dan Jawa Timur pohon ini memiliki reputasi sebagai tanaman keraton membuat rakyat jelata jaman dulu enggan menanamnya.

Pada jaman penjajahan orang percaya bahwa hanya orang yang kuat lahir batin yang mampu meniru gaya hidup keluarga keraton.

Orang yang tidak kuat akan kualat. Kepercayaan waktu itu adalah hanya pejabat setingkat adipati yang pantas dan kuat lahir batin meniru perilaku keluarga kerajaan. Di Bumisegoro, pohon ini sekarang masih ada meskipun tidak banyak karena sebagian tergusur oleh pembangunan rumah hunian dan atau tergantikan oleh pohon rambutan yang lebih memiliki nilai ekonomis. Kalau di Jawa Tengah kepel menjadi langka karena rakyat membabatnya habis lantaran takut kualat, di Jawa Barat burahol ditebangi karena dianggap tidak ada harganya.

Tak pernah ada usaha menanamnya kembali di kebun pekarangan setiap kali ada pembukaan hutan untuk permukiman baru. Pohon hias potensial Pohon itu lumayan indahnya, dengan batang yang tegak lurus, dan tajuk berbentuk kerucut. Cabang-cabangnya tumbuh hampir mendatar. Di daerah atasan lebih kecil daripada di daerah bawahan, sehingga membentuk kerucut alami yang indah.

Kalau usai berbuah kemudian menumbuhkan tunas daun muda yang baru, pohon itu lebih semarak lagi, karena hijaunya daun tua dihias dengan warna merah daun muda seperti daun kayu manis. Daun itu akan lebih mengkilat kalau tertimpa sinar matahari. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol. Tak mengherankan, kalau ia disukai sebagai tanaman hias oleh para putri keraton. dikutip dari: Kepel bin buraholposted by bumisegoro under eksotis, sosial budaya
Tidak banyak orang mengenal pohon kepel atau burahol.

Buah kepel menjadi terkenal karena baunya yang begitu khas dan harum. Tak heran, jika buah kepel memiliki khasiat sebagai deodoran alamiah pada tubuh. Mengingat buah kepel merupakan buah langka, maka harga bibit dan buah kepel terbilang cukup mahal di pasaran. Pohon Buah Kepel (credit: intisari.grid.id) Tanaman yang memiliki nama Latin Stelechocarpus burahol ini konon hanya ditanam di kalangan keraton dan terkenal langka tidak seperti jenis buah umumnya. Pohon burahol diangkat sebagai maskot Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tujuan untuk melestarikannya.

Warna buah kepel tampak seperti sawo. Nama kepel sendiri berkaitan dengan ukuran buah sebesar genggaman tangan atau kepal. Pohon kepel mempunyai tinggi hingga 25 m dengan diameter batang mencapai 40 cm. Tangkai buahnya lekat pada batang dengan buahnya yang manis dan wangi. Wangi pada buah kepel lantaran kandungan minyak di dalamnya. Menurut studi, bau buah kepel di dalam perut tidak terurai sehingga jika keluar bersamaan air seni dan keringat, akan tercium harum.

Jelas saja jika sebagian besar orang menilai bau buah kepel dapat menghilangkan bau keringat dan bau air seni yang menyengat. Baca juga Info Terbaru Harga Batok Kelapa Per Kg (Utuh & Cacah) Habitat buah kepel di daerah perbukitan dengan ketinggian mencapai 150 – 300 meter di atas permukaan laut. Cara penanaman buah kepel dilakukan dengan bijinya dan berbuah setelah umur 5-6 tahun.

Pada kulit batangnya terdapat benjolan-benjolan yang merupakan bekas tempat bunga dan buah karena bunga dan buah kepel memang muncul di batang pohon bukannya di pucuk ranting atau dahan.

Buah kepel dikenal dengan mitos sebagai buah keraton. Konon, putri keraton menyantap buah kepel sehingga air urine dan keringatnya jadi wangi. Buah kepel telah dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah sebagai deodoran alami.

Selain itu, buah kepel juga memiliki manfaat sebagai berikut. Khasiat Buah Kepel • Melancarkan air seni • Mengurangi peradangan ginjal • Mencegah kehamilan [1] Konsumsi buah kepal yang matang dalam keadaan segar dapat memberikan aroma bunga mawar pada tubuh, mengurangi bau urine yang menyengat dan bau mulut.

Selain khasiatnya sebagai deodoran, kepel berkhasiat sebagai peluruh urinasi (diuretikum), menyebabkan kemandulan sementara pada wanita. Kandungan fitoestrogen yang tinggi pada daun kepel memiliki efek antiimplantasi. Baca juga Info Harga Pohon Anting Putri di Pasaran Khasiat Buah Kepel – artikel.rumah123.com Daun kepel mengandung senyawa antioksidan dan memiliki efek hipouremia sebagai penurun asam urat.

Terbukti pada pemberian serbuk buah kepel pada mencit selama 7 hari dapat menurunkan kadar amonia dalam feses sebesar 75,5%, kadar fenol sebesar 42,4%, dan kadar trimetilamin sebesar 75%, jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Namun, penurunan kadar trimetilamin tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Penelitian lainnya menunjukkan bahwa buah kepel juga berpotensi sebagai anti jerawat. [2] Bagi Anda yang penasaran ingin membeli kepel, berikut rincian harga buah dan bibit tanaman kepel pada 2021 di pasaran.

Harga Buah Kepel Varian Buah Kepel Harga (Rp) Buah Kepel 500 gr 55.000 1 kg Buah Kepel 100.000 Pada 2020 lalu, harga buah kepel matang ditawarkan mulai Rp80 ribu per kg. Harga Bibit Kepel Varian Buah Kepel Harga (Rp) Bibit buah kepel unggul ecer 44.000 Bibit pohon buah kepel burahol tinggi 30 cm 56.000 – 67.000 Bibit pohon buah kepel umur 2 tahun 112.000 Bibit pohon buah kepel 70 cm (okulasi) 139.000 Jika dibandingkan 2020 lalu, harga bibit kepel mengalami perubahan pada 2021. Misalnya, bibit buah kepel unggul ecer yang awalnya dijual mulai harga Rp37 ribu, kini naik menjadi Rp44 ribu.

Begitu pula dengan bibit pohon buah kepel 70 cm yang terpantau naik dari harga Rp85 ribu menjadi Rp139 ribu. Baca juga Info Terbaru Harga Lapis Talas Bogor (Sangkuriang, AraSari, Botani) Harga di atas kami rangkum dari berbagai sumber di internet.

Harga buah kepel dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu tergantung kebijakan pihak penjual. Anda dapat membeli bibit buah kepel di sejumlah toko pertanian, sedangkan buah kepel sendiri di pasaran terbilang langka. Selain di toko pertanian, sejumlah marketplace juga menawarkan tanaman bibit buah kepel dengan harga bersaing. Cara makan buah kepel terbilang mudah. Anda tinggal mengupas kulit buah cukup dalam dengan pisau. Perlu diketahui, kulit buah kepal memiliki rasa yang cenderung pahit.

Di dalam satu buah kepel terdapat kurang lebih 8 sampai 10 biji, sehingga bagian bunga dan buah kepel terdapat pada bagian bisa dimakan hanyalah sekitar 40%. Bagian yang bisa dimakan adalah daging buahnya yang berwarna kuning dan lapisan yang menyelimuti bijinya yang berwarna kuning transparan.

[Ditta] [1] Yani, Ahmad. 2007. Geografi: Menyingkap Fenomena Geosfer. Jakarta: Grafindo. Hlm 25. [2] Ulung, Gagas. 2014. Sehat Alami dengan Herbal: 250 Tanaman Berkhasiat Obat.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Hlm 207. Pos terkait • Biaya Kuliah Program Ekstensi (D3 ke S1) di BINUS University TA 2022/2023 • Info Terbaru Harga Kacamata RayBan B&L USA Original (Semua Tipe) • Info Terbaru Harga BonCabe Level 30 Berbagai Kemasan • Info Harga Guppy Tuxedo Koi di Pasaran • Merek dan Harga Tepung Roti di Pasaran Terbaru • Harga Ikan Kembung per Kilo di Pasaran Kategori • Agribisnis • Aksesoris Mobil • Bank • Barang Second • Elektronik • Fashion • Gadget Mobile • HandPhone • Hobi • Jasa • Kerajinan • Kesehatan • Komputer • Kuliner • Kurir • Lain-lain • Mobil • Mobil Bekas • Pendidikan • Properti • Sepeda • Sepeda Motor • Sepeda Motor Second • Susu • Tablet • Tas • Telekomunikasi • Transportasi Table of Contents • Arti dalam botani • Arti dalam hortikultura atau pangan • Buah padi (caryopsis) • Buah kurung (achenium) • Buah geluk atau buah keras (nut) • Buah kering yang memecah (dehiscens) • Buah berbelah (schizocarpium) • Buah kendaga • Buah mentimun • Buah delima • Bunga dan buah kepel terdapat pada bagian oleh binatang (zookori) • Pemencaran oleh angin (anemokori) • Pemencaran oleh air (hidrokori) • Pemencaran sendiri • Video yang berhubungan December bunga dan buah kepel terdapat pada bagian 0 96 Report 1.Bakal biji dan bakal buah terdapat pada.

A.akar B.daun C.bunga D.biji 2.Buah semu yang dibentuk dari bakal buah dan bagian bagian lain dari bunga adalah. A.alpukat B.mangga C.semangka D.nangka Bakal biji (bahasa Latin: ovulum, berarti "telur kecil") adalah struktur pada tumbuhan berbiji yang melindungi dan menjadi tempat bersemayamnya sel telur (ovum).

Bakal biji akan berkembang menjadi biji setelah dibuahi. Bakal biji (panah) pada bunga Helleborus. Bakal biji terlihat langsung ("telanjang") pada kelompok tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae/Pinophyta) atau terbungkus oleh bakal buah (ovarium) pada kelompok tumbuhan berbunga (Anthophyta). Skema bagian-bagian bakal biji. Terdapat tiga bagian pokok yang dimiliki bakal biji yang telah selesai berkembang (dewasa/masak), yaitu selubung (integumentum), nuselus' (nucellus) atau megasporangium, dan megagametofit.

Megagametofit adalah perkembangan lanjutan dari megaspora. Pada tumbuhan berbunga (tumbuhan berbiji tertutup), megagametofit membentuk struktur yang dikenal sebagai kantung embrio (Ing.

embryo sac). Artikel bertopik botani ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. • l • b • s Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bakal_biji&oldid=19084709" Buah adalah hasil reproduksi antara putik dan serbuk sari pada tumbuhan.[1] Buah termasuk organ pada tumbuhan berbunga yang merupakan perkembangan lanjutan dari bakal buah (ovarium). Buah biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan bentuk buah tidak terlepas kaitannya dengan fungsi utama buah, yakni sebagai pemencar biji tumbuhan.

Bunga dan buah kepel terdapat pada bagian buah di Barcelona, Spanyol. Penjaga buah di pasar Rwanda Buah dalam lingkup pertanian (hortikultura) atau pangan biasanya disebut sebagai buah-buahan. Buah dalam pengertian ini tidak terbatas yang terbentuk dari bakal buah, melainkan dapat pula berasal dari perkembangan organ yang lain.

Oleh karena itu, untuk membedakannya, buah menurut pengertian botani biasa disebut buah sejati. Buah sering kali memiliki nilai ekonomi sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri karena di dalamnya disimpan berbagai macam produk metabolisme tumbuhan, mulai dari karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, alkaloid, hingga terpena dan terpenoid. Ilmu yang mempelajari segala hal tentang buah dinamakan pomologi. Kesenjangan pengertian "buah" secara botani dan pangan (buah-buahan) dapat dilihat dari tabel berikut ini: Buah sejati Bukan buah sejati Buah-buahan Perkembangan dari bakal buah dan dikonsumsi sebagai buah-buahan.

Contoh: kelapa, jeruk, mangga Bukan perkembangan dari bakal buah tetapi dikonsumsi sebagai buah-buahan. Contoh: apel,cempedak, tin (ara), jambu monyet Bukan buah-buahan (sayuran atau bumbu) Perkembangan dari bakal buah tetapi dianggap bukan buah-buahan.

Contoh: tomat, padi, kacang mede Bukan perkembangan dari bakal buah dan dianggap bukan buah-buahan. Contoh: buah nangka muda, bongkol bunga matahari Arti dalam botani Buah semu dari tin, Ficus carica. Dinding luar buah semu adalah dasar bunga majemuk yang menangkup, menutupi 'biji-biji' yang sebetulnya masing-masing adalah sebutir buah. Dalam pandangan botani, buah adalah sebagaimana tercantum pada paragraf pertama di atas.

Pada banyak spesies tumbuhan, yang disebut buah mencakup bakal buah yang telah berkembang lanjut beserta dengan jaringan yang mengelilinginya. Bagi tumbuhan berbunga, buah adalah alat untuk bunga dan buah kepel terdapat pada bagian biji-bijinya; adanya biji di dalam dapat mengindikasikan bahwa organ tersebut adalah buah, meski ada pula biji yang tidak berasal dari buah.[2] Dalam batasan tersebut, variasi buah bisa sangat besar, mencakup buah mangga, buah apel, buah tomat, cabai, dan lain-lain.

Namun juga bulir (kariopsis) padi, biji (bulir) jagung, atau polong kacang tanah. Sementara, dengan batasan ini, buah jambu monyet atau buah nangka tidak termasuk sebagai buah sejati.

Arti dalam hortikultura atau pangan Buah dalam pengertian hortikultura atau pangan merupakan pengertian yang dipakai oleh masyarakat luas. Dalam pengertian ini, batasan buah menjadi longgar. Istilah "buah-buahan" dapat digunakan untuk pengertian demikian. Buah-buahan adalah setiap bagian tumbuhan di permukaan tanah yang tumbuh membesar dan (biasanya) berdaging atau banyak mengandung air.

Buah sejati dalam pengertian botani dapat digolongkan sebagai sayur-sayuran dalam pengertian hortikultura, seperti buah tomat, buah cabai, polong kacang panjang, dan buah ketimun. Namun, dapat dijumpai pula, buah tidak sejati (buah semu) yang digolongkan sebagai buah-buahan, seperti buah jambu monyet (yang sebetulnya merupakan pembesaran dasar bunga; buah yang sejati adalah bagian ujung yang berbentuk seperti monyet membungkuk), buah nangka (yakni pembesaran tongkol bunga; buah yang sejati adalah isi buah nangka yang berwarna putih (Jw.

beton), bergetah, sedangkan bagian 'daging buah' yang dimakan orang adalah tenda bunga), atau buah nanas. Urutan perkembangan sejenis buah persik, Prunus persica, mulai dari kuncup bunga di awal musim dingin hingga masaknya buah di pertengahan musim panas, lebih bunga dan buah kepel terdapat pada bagian 7½ bulan kemudian. Buah adalah pertumbuhan sempurna dari bakal buah (ovarium).

Setiap bakal buah berisi satu atau lebih bakal biji (ovulum), yang masing-masing mengandung sel telur. Bakal biji itu dibuahi melalui suatu proses yang diawali oleh peristiwa penyerbukan, yakni berpindahnya serbuk sari dari kepala sari ke kepala putik.

Setelah serbuk sari melekat di kepala putik, serbuk sari berkecambah dan isinya tumbuh menjadi buluh serbuk sari yang berisi sperma. Buluh ini terus tumbuh menembus tangkai putik menuju bakal biji, di mana terjadi persatuan antara sperma yang berasal dari serbuk sari dengan sel telur yang berdiam dalam bakal biji, membentuk zigot yang bersifat diploid. Pembuahan pada tumbuhan berbunga ini melibatkan baik plasmogami, yakni persatuan protoplasma sel telur dan sperma, dan kariogami, yakni persatuan inti sel keduanya.[3] Artikel utama: Anatomi buah Buah adalah pertumbuhan sempurna dari bakal buah (ovarium).

Setiap bakal buah berisi satu atau lebih bakal biji (ovulum), yang masing-masing mengandung sel telur.

Bakal biji itu dibuahi melalui suatu proses yang diawali oleh peristiwa penyerbukan, yakni berpindahnya serbuk sari dari kepala sari ke kepala putik. Setelah serbuk sari melekat di kepala putik, serbuk sari berkecambah dan isinya tumbuh menjadi buluh serbuk sari yang berisi sperma. Buluh ini terus tumbuh menembus tangkai putik menuju bakal biji, di mana terjadi persatuan antara sperma yang berasal dari serbuk sari dengan sel bunga dan buah kepel terdapat pada bagian yang berdiam dalam bakal biji, membentuk zigot yang bersifat diploid.

Pembuahan pada tumbuhan berbunga ini melibatkan baik plasmogami, yakni persatuan protoplasma sel telur dan sperma, dan kariogami, yakni persatuan inti sel keduanya.[3] Setelah itu, zigot yang terbentuk mulai bertumbuh menjadi embrio (lembaga), bakal biji tumbuh menjadi biji, dan dinding bakal buah, yang disebut perikarp, tumbuh menjadi berdaging (pada buah batu atau drupa) atau membentuk lapisan pelindung yang kering dan keras (pada buah geluk atau nux).

Sementara itu, kelopak bunga (sepal), mahkota (petal), benang sari (stamen) dan putik (pistil) akan gugur atau bisa jadi bertahan sebagian hingga buah terbentuk. Pembentukan buah ini terus berlangsung hingga biji menjadi matang. Pada sebagian buah berbiji banyak, pertumbuhan daging buahnya umumnya sebanding dengan jumlah bakal biji yang terbuahi.[4] Dinding buah, yang berasal dari bunga dan buah kepel terdapat pada bagian dinding bakal buah pada bunga, dikenal sebagai perikarp (pericarpium).

Perikarp ini sering berkembang lebih jauh, sehingga dapat dibedakan atas dua lapisan atau lebih. Bagian luar disebut dinding luar, eksokarp (exocarpium), atau epikarp (epicarpium); bagian dalam disebut dinding dalam atau endokarp (endocarpium); serta lapisan tengah (bisa beberapa lapis) yang disebut dinding tengah atau mesokarp (mesocarpium).[5] Pada sebagian buah, khususnya buah tunggal yang berasal dari bakal buah tenggelam, kadang-kadang bagian-bagian bunga yang lain (umpamanya tabung perhiasan bunga, kelopak, mahkota, atau benangsari) bersatu dengan bakal buah dan turut berkembang membentuk buah.

Jika bagian-bagian itu merupakan bagian utama dari buah, maka buah itu disebut buah semu. Itulah sebabnya penting untuk mempelajari struktur bunga, dalam kaitannya untuk memahami bagaimana bermacam-macam buah terbentuk.[5][6] Buah-buahan sangat beragam, sehingga sulit untuk menyusun suatu skema pengelompokan yang dapat mencakup semua buah yang telah dikenal orang. Belum lagi adanya kekeliruan-kekeliruan yang mempertukarkan pengertian biji dan buah (misal: 'biji' jagung, yang sesungguhnya adalah buah secara botani).

Baik buah sejati (yang merupakan perkembangan dari bakal buah) maupun buah semu, dapat dibedakan atas tiga tipe dasar buah, yakni:[5] • buah tunggal, yakni buah yang terbentuk dari satu bunga dengan satu bakal buah, yang berisi satu biji atau lebih. • buah ganda, yakni jika buah terbentuk dari satu bunga yang memiliki banyak bakal buah. Masing-masing bakal buah tumbuh menjadi buah tersendiri tetapi akhirnya menjadi kumpulan buah yang tampak seperti satu buah.

Contohnya adalah sirsak (Annona). • buah majemuk, yakni jika buah terbentuk dari bunga majemuk. Dengan demikian buah ini berasal dari banyak bunga (dan banyak bakal buah), yang pada akhirnya seakan-akan menjadi satu buah saja. Contohnya adalah nanas (Ananas) dan bunga matahari (Helianthus). Buah tunggal, atau tepatnya buah sejati tunggal, lebih jauh lagi dapat dibedakan atas bentuk-bentuk buah kering (siccus), yakni yang bagian luarnya keras dan mengayu atau seperti kulit yang kering; dan buah berdaging (carnosus), yang dinding buahnya tebal berdaging.

Buah kering selanjutnya dibedakan atas buah yang tidak memecah (indehiscens) dan yang memecah (dehiscens). Buah indehiscens berisi satu biji, sehingga untuk memencarkan bijinya buah ini tidak perlu memecah. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah buah tipe padi, tipe kurung, dan tipe keras.[5] Buah padi (caryopsis) Bulir gandum Buah padi (caryopsis, atau bulir) memiliki dinding buah yang tipis, dan berlekatan menyatu dengan kulit biji.

Kulit biji ini kadang-kadang berlekatan pula dengan biji. Buah terbungkus oleh sekam. Buah suku padi-padian (Poaceae) dan teki-tekian (Cyperaceae) termasuk ke dalam kelompok ini.

Bulir atau buah padi adalah buah sekaligus biji. Bagian buah terletak di sebelah luar, terdiri dari lemma, palea, dan skutelum (scutellum). Bagian biji terdiri dari lapisan aleuron (hanya setebal satu lapis sel), endospermia (tempat penyimpanan cadangan makanan), dan embrio.

Buah kurung (achenium) Buah kurung bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) Buah kurung (achenium) memiliki dinding buah yang tipis, berdempetan namun tidak berlekatan dengan kulit biji. Contohnya adalah buah ('biji') bunga pukul empat (Mirabilis). Buah kurung majemuk contohnya adalah (buah) bunga matahari. Buah geluk atau buah keras (nut) Artikel utama: Buah geluk Buah geluk sejenis berangan (Castanea sativa), dinding luarnya seperti kayu Buah keras atau geluk (nut) terbentuk dari dua helai daun buah (carpel) atau lebih; bakal biji lebih dari satu, namun biasanya hanya satu yang menjadi biji sempurna.

Dinding buah keras, kadang kala mengayu, tidak berlekatan dengan kulit biji. Contohnya adalah buah sarangan (Castanopsis). Pada beberapa jenis buah keras, kulitnya mengalami pelebaran sehingga membentuk semacam sayap yang berguna untuk menerbangkan buah ini—jika masak—menjauh dari pohon induknya.

Buah bersayap (samara) semacam ini contohnya adalah buah meranti (Shorea) dan kerabatnya dari suku Dipterocarpaceae. Buah kering yang memecah (dehiscens) Umumnya berisi lebih dari satu biji, sehingga memecahnya buah tampaknya terkait dengan upaya untuk memencarkan biji, agar tidak terkumpul di suatu tempat.

Buah berbelah (schizocarpium) Buah berbelah (schizocarpium) memiliki dua ruang atau lebih, masing-masing dengan sebutir biji di dalamnya. Jika memecah, ruang-ruang itu terpisah namun bijinya masih terbawa di dalam ruang. Sehingga masing-masing ruang seolah buah kurung yang tersendiri. Contohnya adalah kemangi (Ocimum), beberapa jenis anggota Malvaceae, dan lain-lain.

Buah kendaga Buah kendaga (rhegma) seperti buah belah, namun ruang-ruang itu masing-masing memecah, sehingga bijinya terlempar keluar. Masing-masing ruang terbentuk dari satu daun buah. Contoh: para (Hevea), jarak (Ricinus). Buah kotak Buah kotak durian lai (Durio kutejensis) beruang lima Terdiri atas satu atau beberapa daun buah, berbiji banyak.

Buah ini memecah jika masak, tetapi kulit buah yang pecah sampai lama tidak terlepas dari tangkai buah. Ada banyak macam buah kotak. Buah kotak sejati (capsula) terdiri atas dua daun buah atau lebih; jumlah ruangannya sesuai dengan jumlah daun buah asalnya.

Buah ini membuka dengan bermacam-macam cara. Contohnya adalah durian (Durio), anggrek (Orchidaceae). 'Daging buah' durian yang dimakan sebetulnya adalah arilus (salut biji), perbesaran dari selaput penutup biji.

Selain itu, masih ada lagi beberapa jenis buah kotak seperti berikut ini: Buah bumbung Buah bumbung Sterculia balanghas, sejenis kepuh; bunga dan buah kepel terdapat pada bagian dari bawah Buah bumbung (folliculus) berasal dari bakal buah yang terdiri atas satu daun buah dengan banyak biji.

Jika masak, kotak terbelah menurut salah satu kampuhnya, biasanya kampuh perut. Contohnya adalah widuri (Calotropis), kepuh (Sterculia). Buah polong Buah polong johar (Senna siamea) Buah polong (legumen) terdiri atas satu daun buah dengan satu ruangan dan banyak biji; sering pula ruangan ini terpisah-pisah oleh sekat semu. Jika masak, ruangan akan terbuka menurut kedua kampuhnya yang memanjang.

Contohnya adalah aneka jenis polong-polongan (Fabaceae, atau dulu disebut Leguminosae). Buah lobak Buah Brassica napus, tipe buah lobak. Perhatikan arah pembukaannya.

Buah lobak (siliqua) tersusun dari dua daun buah dengan satu ruangan yang tersekat oleh sekat semu. Buah terpecah menurut kedua kampuhnya ketika masak, tetapi ujungnya masih berlekatan. Biji sebentar masih melekat pada sekat semu, yang sebetulnya adalah tembuni, sebelum pada akhirnya terlepas. Contohnya adalah jenis-jenis suku sawi-sawian (Brassicaceae, atau dulu dikenal sebagai Cruciferae). Buah pala (Myristica fragrans) yang memecah Buah-buah tunggal berdaging pada umumnya tidak memecah (membuka) ketika masak.

Salah satu perkecualiannya adalah pala (Myristica). Beberapa bentuk buah berdaging, di antaranya: Buah buni Buah buni sebangsa ceplukan (Physalis peruviana), terlindung oleh kelopak bunga yang turut berkembang bersama buah Buah buni (bacca) mempunyai dinding buah terdiri dari dua lapisan, yakni lapisan luar (eksokarp atau epikarp) yang tipis dan lapisan dalam (endokarp) yang tebal, lunak dan bunga dan buah kepel terdapat pada bagian.

Biji-biji lepas dalam lapisan dalam tersebut. Contohnya adalah buni bunga dan buah kepel terdapat pada bagian Antidesma), belimbing (Averrhoa), jambu biji (Psidium), serta tomat dan terung (Solanum). Buah mentimun Buah mentimun (pepo) serupa dengan buah buni, namun dengan dinding luar yang lebih tebal dan kuat. Pada buah yang masak, di tengahnya sering terdapat ruangan dan daging buahnya bersatu dengan banyak biji di dalam ruangan tersebut.

Contohnya adalah mentimun (Cucurbita) dan kerabatnya. Buah jeruk Buah jeruk (hesperidium) adalah variasi dari buah buni dengan tiga lapisan dinding buah. Lapisan luar yang liat dan berisi kelenjar minyak; lapisan tengah yang serupa jaringan bunga karang dan umumnya keputih-putihan; serta lapisan dalam yang bersekat-sekat, dengan gelembung-gelembung berisi cairan di dalamnya. Biji-biji tersebar di antara gelembung-gelembung itu.

Contoh: buah jeruk (Citrus). Buah batu Buah batu embacang (Mangifera foetida), memperlihatkan endokarpnya yang liat keras, di antara daging yang berserabut Buah batu (drupa) memiliki tiga lapisan dinding buah.

Eksokarp umumnya tipis menjangat (seperti kulit); mesokarp yang berdaging atau berserabut; dan endokarp yang liat, tebal dan keras, bahkan dapat amat keras seperti batu.

Contohnya adalah mangga (Mangifera), dengan mesokarp berdaging; atau kelapa (Cocos), yang mesokarpnya berserabut Buah delima Dinding luarnya liat, keras atau kaku, hampir seperti kayu; dinding dalam tipis, liat, bersekat-sekat. Masing-masing ruang dengan banyak biji. Selaput biji tebal berair dan dapat dimakan. Contohnya adalah delima (Punica). Buah berganda adalah buah yang terbentuk dari satu kuntum bunga yang memiliki banyak bakal buah. Tiap-tiap bakal buah itu tumbuh menjadi buah yang tersendiri, lepas-lepas, tetapi akhirnya menjadi kumpulan buah yang tampak seperti satu buah.

Sesuai dengan bentuk-bentuk buah penyusunnya, maka dikenal beberapa macam buah berganda. Misalnya: • buah kurung berganda, misalnya pada buah mawar (Rosa). • buah bumbung berganda, misalnya pada cempaka (Michelia). • buah buni berganda, misalnya pada sirsak (Annona).

• buah batu berganda, misalnya pada murbei (Morus). Pada beberapa jenis tumbuhan, seperti pace, bunga muncul secara teratur dan terus menerus sepanjang tahun, sehingga kita dapat melihat adanya bunga, pentil (buah muda) dan buah masak pada waktu yang bersamaan di satu pohon Buah majemuk adalah buah hasil perkembangan bunga majemuk.

Dengan demikian buah ini berasal dari banyak bunga (dan banyak bakal buah), yang tumbuh sedemikian sehingga pada akhirnya seakan-akan menjadi satu buah saja. Dikenal pula beberapa macam buah majemuk, di antaranya: • buah padi majemuk, misalnya jagung (Zea). Tongkol jagung sebetulnya berisi deretan buah-buah jagung, bukan biji jagung.

• buah kurung majemuk, misalnya buah bunga matahari (Helianthus). • buah buni majemuk, misalnya buah nanas (Ananas). • buah batu majemuk, misalnya buah pandan (Pandanus), pace (Morinda). Terlihat pada foto di kanan, tahap-tahap perkembangan buah majemuk pada pace. Bunga-bunga pace berkumpul dalam satu perbungaan (bunga majemuk) yang disebut bongkol. Setelah diserbuki dan dibuahi, setiap kuntum bunga mulai tumbuh menjadi buah batu (drupa).

Dalam perkembangannya, buah-buah batu ini pada akhirnya saling luluh menjadi sebutir buah batu majemuk.[7] Sesuai dengan definisi, buah ganda dan buah majemuk sukar disebut buah sejati. Karena pada buah-buah tersebut terdapat bagian-bagian lain dari bunga –selain bakal buah– yang turut bertumbuh dan berkembang menjadi buah, baik bagian-bagian itu menjadi bagian utama buah ataupun bukan.[5] Keadaan tak berbiji merupakan salah satu ciri penting buah-buahan komersial.

Kultivar-kultivar pisang dan nanas adalah contohnya. Demikian pula, buah-buah jeruk, anggur, dan semangka dari kultivar tak berbiji umumnya dihargai lebih mahal.

Keadaan tak berbiji demikian biasa pula disebut sukun.[8] Pada sejumlah spesies, keadaan tak berbiji merupakan hasil dari partenokarpi, yakni proses pembentukan buah tanpa terjadinya pembuahan sebelumnya.

Buah partenokarpi bisa terbentuk dengan atau tanpa peristiwa penyerbukan. Kebanyakan kultivar jeruk sukun memerlukan penyerbukan untuk proses pembentukannya; namun pisang dan nanas tidak memerlukannya. Sementara itu, keadaan tak berbiji pada anggur sebetulnya terjadi karena matinya atau tidak tumbuhnya embrio (dan biji) yang dihasilkan oleh pembuahan, keadaan yang dikenal sebagai stenospermokarpi, yang memerlukan proses penyerbukan dan pembuahan secara normal.[9] Variasi dalam bentuk dan struktur buah terkait dengan upaya-upaya pemencaran biji.

Pemencaran ini bisa terjadi dengan bantuan hewan, angin, aliran air, atau proses pecahnya buah yang sedemikian rupa sehingga melontarkan biji-bijinya sampai jauh.[10] Pemencaran oleh binatang (zookori) Pemencaran oleh binatang biasa terjadi pada buah-buah yang memiliki bagian-bagian yang banyak mengandung gula atau bahan makanan lainnya.

Musang, misalnya, menyukai buah-buah yang manis atau mengandung tepung dan minyak yang menghasilkan energi. Aneka macam buah, termasuk pepaya, kopi dan aren, dimakannya namun biji-bijinya tidak tercerna dalam perutnya. Biji-biji itu, setelah terbawa ke mana-mana dalam tubuh musang, akhirnya dikeluarkan bersama tinja, di tempat yang bisa jadi cukup jauh dari pohon asalnya.

Demikian pula yang terjadi pada beberapa macam biji-biji rumput dan semak yang dimakan oleh ruminansia. Pemencaran seperti itu disebut endozoik.[5] Dari golongan burung, telah diketahui sejak lama bahwa burung cabe (Dicaeidae) memiliki keterkaitan yang erat dengan penyebaran beberapa jenis pasilan atau benalu (Loranthaceae); yang buah-buahnya menjadi makanan burung tersebut dan bijinya yang amat bunga dan buah kepel terdapat pada bagian terbawa pindah ke pohon-pohon lain.[11][12] Cara lain adalah apa yang disebut epizoik, yakni pemencaran dengan cara menempel di bagian luar tubuh binatang.

Buah atau biji yang epizoik biasanya memiliki kait atau duri, agar mudah melekat dan terbawa pada rambut, kulit atau bagian badan binatang lainnya. Misalnya pada buah-buah rumput jarum (Andropogon), sangketan (Achyranthes), pulutan (Urena) dan lain-lain.[5] Pemencaran oleh angin (anemokori) Di kawasan hutan hujan tropika, pemencaran oleh angin merupakan cara yang efektif untuk menyebarkan buah dan biji, nomor dua setelah pemencaran oleh binatang.[13] Tidak mengherankan jika Dipterocarpaceae, kebanyakan memiliki bentuk buah samara, menjadi salah satu suku pohon yang mendominasi tegakan hutan di Kalimantan dan Sumatra.

Tumbuhan lain yang memanfaatkan angin, yang juga melimpah keberadaannya di hutan hujan ini, adalah jenis-jenis anggrek (Orchidaceae). Buah anggrek merupakan buah kotak yang memecah dengan celah-celah, untuk melepaskan biji-bijinya yang halus dan mudah diterbangkan angin.[5] Alih-alih buahnya, pada jenis-jenis tumbuhan tertentu adalah bijinya yang memiliki sayap atau alat melayang yang lain.

Biji-biji bersayap ini misalnya adalah biji bayur (Pterospermum), mahoni (Swietenia), atau tusam (Pinus). Biji kapas (Gossypium) dan kapok (Ceiba) memiliki serat-serat yang membantunya melayang bersama angin.

Pemencaran oleh air (hidrokori) Buah-buah yang dipencarkan oleh air pada umumnya memiliki jaringan pengapung (seperti gabus) yang terisi udara atau jaringan yang tak basah oleh air. Misalnya adalah jaringan sabut pada buah-buah kelapa (Cocos), ketapang (Terminalia) atau putat (Barringtonia).[5] Buah bakau (Rhizophora) telah berkecambah semasa masih melekat di batangnya (vivipar). Akar lembaga dan hipokotilnya tumbuh memanjang keluar dari buah dan menggantung di ujung ranting, hingga pada saatnya kecambah terlepas dan jatuh ke lumpur atau air di bawahnya.[5] Kecambah yang jatuh ke lumpur mungkin langsung menancap dan seterusnya tumbuh di situ; namun yang jatuh ke air akan terapung dan bisa jadi terbawa arus air sungai atau laut hingga ke tempat yang baru, di mana kecambah itu bunga dan buah kepel terdapat pada bagian dan tumbuh menjadi pohon.

Buah kotak sejenis pacar air (Impatiens walleriana) Pemencaran sendiri Beberapa banyak macam buah, melemparkan sendiri biji-bijinya melalui berbagai mekanisme pecahnya dinding buah, yang sebagian besar berdasarkan pada peristiwa higroskopi atau turgesensi.[5] Buah-buah kering yang memecah sendiri (dehiscens), di saat masak kehilangan kadar airnya, hingga pada lengas tertentu bagian-bagian yang terkait melenting secara tiba-tiba, memecah kampuh, dan melontarkan biji-biji di dalamnya ke kejauhan.

Contohnya adalah buah para (Hevea), yang sering terdengar 'meletus' di kala hari panas. Demikian pula berbagai macam polong-polongan (Fabaceae), yang dapat melontarkan biji hingga beberapa puluh meter jauhnya.

Buah pacar air (Impatiens), karena sifat lentingnya, bahkan sering digunakan anak-anak untuk bermain. • Daftar buah • Bunga • Sayur • ^ Susilawati dan Bachtiar, N. (2018). Biologi Dasar Terintegrasi (PDF).

Pekanbaru: Kreasi Edukasi. hlm. 131. ISBN 978-602-6879-99-8. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan (bantuan) • ^ Lewis, Robert A. (January 1, 2002). CRC Dictionary of Agricultural Sciences.

CRC Press. hlm. 375–376. ISBN 0-8493-2327-4. • ^ a b Mauseth, James D. (2003). Botany: an introduction to plant biology. Boston: Jones and Bartlett Publishers. hlm. 258. ISBN 978-0-7637-2134-3. • ^ Mauseth. Botany. Chapter 9: Flowers and Reproduction.

• ^ a b c d e f g h i j k Tjitrosoepomo, Gembong (1989). Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Gadjah Mada Univ. Press.

hlm. 69–75. ISBN 979-420-084-0. • ^ Mauseth, James D. (April 1, 2003). Botany: An Introduction to Plant Biology. Jones and Bartlett. hlm. 271–272. ISBN 0-7637-2134-4. • ^ Parker, Philip M. (December 1, 2004). Morinda Citrifolia - A Medical Dictionary, Bibliography, and Annotated Research Guide to Internet References. ICON Group. ISBN 0-497-00758-4. • ^ Pusat Bahasa (2001). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka - Jakarta. hlm.

hal.1099. ISBN 979-407-182-X. • ^ Spiegel-Roy, P. (August 28, 1996). The Biology of Citrus. Cambridge University Press. hlm. 87–88. ISBN 0-521-33321-0. Parameter -coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (-author= yang disarankan) (bantuan) • ^ Capon, Brian (February 25, 2005).

Botany for Gardeners. Timber Press. hlm. 198–199. ISBN 0-88192-655-8. • ^ Docters van Leeuwen, W.M. (1933). Biology of plants and animals occuring in the higher parts of Mount Pangrango-Gedeh in West Java. Verhand. Konink. Akad. van Wetensch. Amsterdam afd. Natuurk. hlm. 134–135. bunga dan buah kepel terdapat pada bagian ^ MacKinnon, J.

(1993). Panduan Lapangan Pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Gadjah Mada University Press. hlm. 363–364. ISBN 979-420-150-2. • ^ Whitmore, T.C. (1984). Tropical Rain Forest of the Far East. Clarendon Press]]. hlm. 75. ISBN 0-19-854136-8. Lihat informasi mengenai buah di Wiktionary. Wikimedia Commons memiliki media mengenai Fruits.

• Foto-foto perkembangan bunga menjadi buah Diarsipkan 2007-02-18 di Wayback Machine. pada bioimages.vanderbilt.edu • Foto-foto pemencaran buah dan biji Diarsipkan 2017-04-25 di Wayback Machine. pada bioimages.vanderbilt.edu • Fakta mengenai buah Diarsipkan 2020-07-12 di Wayback Machine.

dari California Rare Fruit Growers, Inc. • Buah dalam Encyclopedia Britannica 1911 Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Buah&oldid=20857055"
Tidak seperti lazimnya buah yang menempel pada dahan dan ranting, buah kepel justru meruyak di sekeliling batang utama pohon yang mencapai diameter 40 cm.

Batang tempat buah menempel berwarna coklat-kelabu tua sampai hitam, yang secara khas tertutup oleh banyak benjolan ( tubercles) yang besar-besar.

Karena ukuran buahnya yang segede kepalan tangan orang dewasa ( kepel, dengan “e” pepet), orang Jawa menamakannya buah kepel.

Melambangkan unsur kesatuan dan keutuhan mental dan fisik seperti tangan yang terkepal. Di Jawa Barat disebut burahol, sampai dua orang taksonomis mancanegara yang mengidentifikasi tanaman itu memberi nama Latin Stelechocarpus burahol.

Deodoran sekaligus Alat KB Kepel termasuk tanaman langka di Indonesia. Secara geografis pohon kepel ditemui di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaysia. Pohon ini mempunyai arti filosofis tersendiri bagi keraton di samping buahnya berguna untuk memelihara kecantikan puteri keraton Mataram. Hanya dengan memakan buah itu yang sudah masak, para putri ini sudah bisa berbau bunga violces. Keringatnya wangi, dan napasnya harum. Daging buah kepel dapat berfungsi sebagai peluruh kencing, mencegah radang ginjal dan menyebabkan kemandulan (sementara) pada wanita.

Jadi, buah ini oleh para wanita bangsawan digunakan sebagai parfum dan alat KB. Baginda menyuruh menanam pohon itu di halaman istana, untuk diambil buahnya bagi para putri keraton.

Di DIY, Jawa tengah dan Jawa Timur pohon ini memiliki reputasi sebagai tanaman keraton membuat rakyat jelata jaman dulu enggan menanamnya. Pada jaman penjajahan orang percaya bahwa hanya orang yang kuat lahir batin yang mampu meniru gaya hidup keluarga keraton. Orang yang tidak kuat akan kualat. Kepercayaan waktu itu adalah hanya pejabat setingkat adipati yang pantas dan kuat lahir batin meniru perilaku keluarga kerajaan.

Di Bumisegoro, pohon ini sekarang masih ada meskipun tidak banyak karena sebagian tergusur oleh pembangunan rumah hunian dan atau tergantikan oleh pohon rambutan yang lebih memiliki nilai ekonomis. Kalau di Jawa Tengah kepel menjadi langka karena rakyat membabatnya habis lantaran takut kualat, di Jawa Barat burahol ditebangi karena dianggap tidak ada harganya. Tak pernah ada usaha menanamnya kembali di kebun pekarangan setiap kali ada pembukaan hutan untuk permukiman baru.

Pohon hias potensial Pohon itu lumayan indahnya, dengan batang yang tegak lurus, dan tajuk berbentuk kerucut. Bunga dan buah kepel terdapat pada bagian tumbuh hampir mendatar. Di bunga dan buah kepel terdapat pada bagian atasan lebih kecil daripada di daerah bawahan, sehingga membentuk kerucut alami yang indah.

Kalau usai berbuah kemudian menumbuhkan tunas daun muda yang baru, pohon itu lebih semarak lagi, karena hijaunya daun tua dihias dengan warna merah daun muda seperti daun kayu manis. Daun itu akan lebih mengkilat kalau tertimpa sinar matahari. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol. Tak mengherankan, kalau ia disukai sebagai tanaman hias oleh para putri keraton.

dikutip dari: Kepel bin buraholposted by bumisegoro under eksotis, sosial budaya
Kepel adalah nama pohon dan buah yang mempunyai nama ilmiah Stelechocarpus burahol. Tumbuhan penghasil buah yang menjadi kegemaran para putri keraton Jawa sejak jaman dulu ini kini termasuk salah satu tanaman langka di Indonesia. Pohon Kepel yang dipercaya mempunyai nilai filosofi adhiluhung ini merupakan flora identitas provinsi Daerah Istimewa Jogyakarta.

Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) di beberapa daerah di Indonesia dikenal juga sebagai buah dan pohon kecindul, cindul, simpol, burahol, dan turalak. Dalam bahasa Inggris tumbuhan langka ini dikela sebagai Kepel Aple. Sedangkan dalam bahasa latin (ilmiah) disebut Stelechocarpus burahol. Pohon Kepel menjadi kegemaran para putri keraton di Jawa selain lantaran memiliki nilai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik, buah kepel juga dipercaya mempunyai berbagai khasiat dibidang kecantikan.

Buah Kepel telah menjadi deodoran (penghilang bau badan) bagi para putri keraton. Sayang justru karena itu masyarakat jelata tidak berani menanam pohon ini sehingga menjadi langka. Ciri-ciri Kepel.

Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) mempunyai tinggi hingga 25 m dengan diameter batang mencapai 40 cm. Pada kulit batangnya terdapat benjolan-benjolan. Benjolan-benjolan ini merupakan bekas tempat bunga dan buah karena bunga dan buah kepel memang muncul di batang pohon bukannya di pucuk ranting atau dahan.

Daun Kepel tunggal, lonjong meruncing dengan panjang antara 12 – 27 cm dan lebar 5 – 9 cm. Warna daun Kepel hijau gelap. Bunga berkelamin tunggal, harum. Bunga jantan terdapat pada batang bagian atas atau cabang yang tua bergerombol antara 8 sampai 16. Sedangkan bunga betina hanya terdapat pada batang bagian bawah.

Buah Kepel tumbuh memenuhi batang pohonnya. Bentuk bunga dan buah kepel terdapat pada bagian Kepel bulat lonjong dengan bagian pangkal agak meruncing. Warna buah Kepel (Stelechocarpus burahol) coklat agak keabu-abuan, dan ketika sudah tua akan berubah menjadi coklat tua. Daging buah berwarna agak kekuningan sampai kecoklatan membungkus biji yang berukuran cukup besar. Rasa buah Kepel manis. Habitat dan Persebaran. Pohon Kepel atau Burahol tersebar di kawasan Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Indonesia hingga Kepulauan Solomon bahkan Australia.

Di Indonesia, terutama di Jawa, Pohon Kepel mulai jarang dan langka. Pohon Kepel dapat tumbuh di habitat yang berupa hutan sekunder yang terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl.

Konservasi Pohon Kepel. Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) menjadi salah satu pohon yang langka. Kelangkaan tanaman ini lebih disebabkan oleh adanya anggapan pohon ini sebagai pohon keraton yang hanya pantas di tanam di istana. Rakyat jelata, khususnya masyarakat Jawa akan merasa takut mendapatkan tuah (kuwalat) jika menanam pohon ini. Selain itu, sebagian masyarakat juga merasa buah ini malas untuk membudidayakannya.

Meskipun memiliki rasa yang manis tetapi sebagian besar isi buah dipenuhi biji sehingga mengurangi minat orang untuk membudidayakannya. Kini, pohon langka ini masih dapat ditemui di kawasan keraton Yogyakarta, TMII, Taman Kiai Langgeng Magelang, dan Kebun Raya Bogor.

Filosofi dan Manfaat Kepel. Buah Kepel (Stelechocarpus burahol) yang buahnya seukuran kepalan tangan orang dewasa mempunyai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik karena seperti tangan yang terkepal.

Buah Kepel sejak zaman dahulu telah dipergunakan oleh para putri keraton sebagai penghilang bau badan dan pewangi badan. Selain itu juga dipercaya sebagai salah satu sarana kontrasepsi sebagai sterilitas wanita (KB). Daging buah kepel dipercaya mempunyai khasiat memperlancar air kencing, mencegah inflamasi ginjal.

Kayu pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) dapat digunakan sebagai bahan industri atau bahan perabot rumah tangga dan bahan bangunan yang tahan lebih dari 50 tahun. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol.

Sebuah ironi, pohon Kepel yang sarat filosofi dan manfaat lagi digemari oleh para putri keraton justru pohon tersebut menjadi langka dan terancam punah lantaran rakyat jelata takut kuwalat jika ikut menanamnya.

Adakah ini menyiratkan kepada kita bahwa kita tidak boleh terlalu menggantungkan asa pada para penguasa. Kitalah, segenap rakyat yang bisa menentukan lestari tidaknya alam ini termasuk pohon Kepel, pohon Burahol. Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae. Filum: Magnoliophyta. Kelas: Magnoliopsida. Ordo: Fabales. Famili: Annonaceae. Genus: Stelechocarpus.

Spesies: Stelechocarpus burahol#di kutip dari berbagai sumber • ► 2014 (4) • ► Februari (1) • ► Januari (3) • ▼ 2013 (59) • ► November (1) • ► Oktober (1) • ▼ September (11) • Manfaat buah kesemek • manfaat buah kersen • Manfaat buah kepel • Manfaat buah kemang • Manfaat ketela • Manfaat Buah Kelubi • Manfaat Buah Kelengkeng • Manfaat Buah Kelapa • Manfaat buah kedondong • Manfaat buah Kecapi • Manfaat Buah Kawista • ► Agustus (46)

Nyoba Makan Buah Kepel, Buah Kaya Manfaat Favorit Putri Keraton yang Kini Mulai Langka




2022 charcuterie-iller.com