Kawin kontrak di puncak

KAWASAN Puncak Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat menjadi destinasi wisata favorit bagi warga sekitar Jabodetabek menghabiskan liburan akhir pekan kawin kontrak di puncak hari libur nasional. Punya pemandangan alam pegunungan dengan udara sejuk serta banyaknya tempat rekreasi jadi alasan banyak orang berkunjung ke sana.

Namun, kondisi ini tercoreng dengan maraknya fenomena kawin kontrak yang kebanyakan dilakukan oleh wisatawan dari Timur Tengah dengan wanita lokal.

Sebelum pandemi COVID-19 melanda, bulan Mei biasanya jadi musim paling banyak terjadi kawin kontrak. Pada bulan itu, vila-vila full booking karena dipakai oleh pelaku. Rental mobil juga kebagian rezeki. Sebuah bisnis yang menggiurkan bagi penyedia jasa. Bisnis prostitusi dengan kedok kawin kontrak ditentang berbagai pihak, termasuk pemuka agama. Polisi bahkan sudah beberapa kali membongkar kasus ini.

Tapi, fenomenanya bisnis lendir tetap saja terjadi. Praktek kawin kontrak melibatkan sejumlah pihak seperti penghulu liar, wali nikah, saksi-saksi dan lainnya. Faktor ekonomi jadi alasan mereka terlibat. Gerah dengan kondisi ini, Bupati Cianjur Herman Suherman baru-baru ini menerbitkan peraturan larangan kawin kontrak, karena praktik ini dianggap melecehkan harga diri wanita.

"Perbup yang sudah saya tanda tangani belum diberi nomor dan ditetapkan karena masih menunggu evaluasi dari Gubernur Jabar, setelah disetujui pemerintah provinsi, selanjutnya akan dilakukan sosialisasi terkait larangan kawin kontrak di Cianjur dan dibuat peraturan daerah," kata Herman, akhir pekan lalu seperti dikutip dari Antara.

Hukuman bagi yang melanggar peraturan itu adalah sanksi sosial. Tapi, jika dalam kawin kontrak tersebut ditemukan unsur-unsur perdagangan manusia maka akan dijerat dengan sanksi pidana sesuai Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Baca juga: Dispar Siapkan Program Pemulihan Dongkrak Kunjungan Wisatawan ke Cianjur Begitu pula apabila jika melibatkan anak, maka akan diproses dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Menurut Kabag Hukum Setda Cianjur, Sidiq El-Fatah, dalam peraturan bupati di Pasal I ayat 6 dijelaskan jika kawin kontrak adalah pernikahan dalam tempo masa tertentu yang telah ditetapkan dan setelah itu ikatan perkawinan tersebut sudah tidak berlaku. Di ayat 7 disebutkan larangan kawin kontrak adalah upaya-upaya yang berupa kebijakan, program, kegiatan, aksi sosial, serta upaya-upaya lainnya yang dilakukan pemerintahan daerah, masyarakat dan lembaga terkait untuk mencegah terjadinya kawin kontrak di Cianjur.

Jauh sebelum terbitnya perbun Cianjur tentang larangan kawin kontrak, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa haram hukumnya kawin kontrak atau nikah mut’ah. Dalam Fatwa MUI yang ditetapkan di Jakarta pada 25 Oktober 1997 dan ditandatangai Ketua Umum MUI KH Hasan Basri, Sekretaris Umum MUI Drs HA Nazriadlani dan Ketua Komisi Fatwa Prof.

KH Ibrahim Hosen, LML tersebut tegas kawin kontrak di puncak bahwa nikah mut’ah hukumnya haram, dan pelaku nikah mut’ah harus dihadapkan ke pengadilan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. MUI menjelaskan bahwa praktik nikah mut’ah telah menimbulkan keprihatinan, kekhawatiran,dan keresahan bagi para orang tua, ulama, pendidik, tokoh masyarakat, dan umat Islam Indonesia pada umumnya, serta dipandang sebagai alat propaganda paham Syi`ah di Indonesia. Mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut paham Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama`ah) yang tidak mengakui dan menolak paham Syi`ah secara umum dan ajarannya tentang nikah mut’ah secara khusus.

Dalam penelusuran Tempo, seorang perempuan pelaku kawin kontrak mengaku terpaksa melakukan hal itu karena desakan ekonomi. Diana, si perempuan, mengaku telah empat kali menjadi istri kontrak. Bagi perempuan yang kini berusia pada 39 tahun itu, kawin kontrak lebih baik ketimbang menjual diri. Menurut dia, hubungannya dengan si laki-laki sah secara agama karena dinikahkan secara siri. Selain itu, Diana mengaku diberi uang belanja Rp 500 ribu per hari selama menjadi istri kontrak.

Dengan uang itulah dia menghidupi anak yang dititipkan pada orang tuanya di Jalan Salemba, Jakarta. Tapi, gara-gara itu juga, Diana bersama lima temannya pernah digelandang polisi pada 2007. Menjadi istri kontrak, kata dia, biasanya cuma satu bulan. "Kalau lagi mujur, bisa dua bulan," ujarnya. Lebih mujur lagi jika seperti teman Diana, yang dibawa ke Arab Saudi oleh suami kontraknya. "Jadi penjaga toko," Diana menuturkan. Apa pun alasan Diana, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, Mukri Aji, menegaskan bahwa praktik kawin kontrak haram dalam agama Islam.

Bahkan, menurut dia, pemerintah telah melarang praktik tersebut sejak 5 dekade yang lalu. Kawin kontrak ini haram hukumnya, bahkan pemerintah sejak tahun 1964 sudah mengelurkan fatwa dilarangnya praktik ini," kata Mukri.

Camat Cisarua, Kabupaten Bogor, Deni Humaidi, mengatakan bahwa perempuan pelaku kawin kontrak sebenarnya bukan berasal dari kawasan Puncak. Menurut dia, mereka didatangkan para muncikari dari daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor seperti Sukabumi, Cianjur dan Karawang. DEFFAN PURNAMA- DIKI SUDRAJAT- MA MURTADHO
BOGOR - Fenomena kawin kontrak antara wisatawan Timur Tengah (Timteng) dengan warga lokal di kawasan Puncak Bogor memang santer pada pertengahan 2009 dan 2015.

Hasil riset Balitbang Kementerian Agama (Kemang) secara garis besar menyatakan ada dua jenis kawin kontrak. Salah satunya sudah menyimpang. Pertama, kawin kontrak yang benar-benar resmi.

Kawin kontrak jenis ini, si laki-laki benar-benar bertemu keluarga perempuan untuk meminang.Kemudian oleh tokoh agama setempat dilakukan proses pernikahan resmi. Saksi dan wali nikah juga bisa dipertanggungjawabkan. Sementara jenis kawin kontrak yang berikutnya adalah sudah menjurus pada prostitusi terselubung mulai dari pencatat nikah, saksi, dan wali nikahnya abal-abal.

Semuanya sudah dalam satu jaringan termasuk yang menyediakan vila. Kemudian perempuan yang disiapkan untuk kawin kontrak jenis ini sudah tersedia di sejumlah kosan. Perempuan biasanya dari Cianjur dan Subang. Hal yang membuat resah adalah kawin kontrak mendekati prostitusi terselubung.

KORAN SINDO sempat berbincang-bincang dengan wanita pelaku kawin berinisial NL, 35, perempuan asal Cianjur yang kini menetap di kawasan Gadog, Megamendung, Bogor.

Dia mengaku pernah melakukan kawin kontrak pada 2007-2013. “Memang sangat menguntungkan karena saya dikontrak hanya tiga bulan dengan bayaran Rp30-50 juta,” katanya. Namun, kata dia, ada dampak negatif yang dialami selama menjadi pelaku kawin kontrak. “Saya beberapa kali mengalami kekerasan seksual. Kemudian mereka sewenang-wenang dalam memperlakukan kita, selayaknya budak,” ujarnya. NL mengatakan, hampir setiap malam melayani turis Arab. “Tapi, memang dalam memberikan uang atau nafkah mereka baik.

Dalam sebulan bisa memberikan Rp15 juta,” ujarnya. Bagi masyarakat setempat, fenomena kawin kontrak sangat sensitif karena dampaknya negatif. Sebab banyak hal dilakukan warga untuk mengais rezeki selain dari kawin kontrak.

“Kawin kontrak perlahan mulai tergerus seiring perkembangan ekonomi warga yang semakin menggeliat,” ujar SH, 35, salah seorang tukang ojek. Kawin kontrak di puncak Warung Kaleng atau dikenal Kampung Arab memang jauh berbeda dari yang dulu terutama pertumbuhan ekonominya. Padahal 10 tahun lalu, warga Cisarua tepatnya Desa Tugu Utara dan Tugu Selatan itu dikenal dengan desa tertinggal.

Sekarang ekonomi masyarakat semakin bergairah. Hampir 90% warga yang tinggal di kawasan Puncak mengandalkan jasa wisatawan khususnya dari Timur Tengah (Timteng). Bangunan kios atau warung milik warga setempat ataupun warga asal Timteng nyaris sulit dibedakan.

Mereka melebur jadi satu karena sebagian besar tokok bangunan bertulis huruf Arab. Tahun 1991 kawasan ini mulai banyak didatangi pelancong Arab. Seiring berjalannya waktu akhirnya kampung ini menggeliat menjadi Kampung Arab. Para turis melakukan promosi kepada rekan atau saudaranya saat mereka kembali ke kampungnya. Dampaknya muncullah pengusaha baru dengan membeli sebagian lahan masyarakat dan langsung dibangun usaha yang menguntungkan, seperti restoran, salon, supermarket, biro travel perjalanan wisata, travel mobil, kafe, maupun hiburan dan vila untuk memberikan layanan prima bagi para turis.

Jasa penukaran uang pun ketiban rezeki, dolar atau riyal pun ditukar dengan uang rupiah. Turis Timur tengah menganggap uang rupiah lebih murah dibandingkan uang mereka, kontan saja mereka mesti merasakan perbedaan luar biasa. Walaupun menurut kacamata turis domestik mahal, bagi turis Timur Tengah masih murah dan sangat terjangkau.

(Haryudi) Praktik kawin kontrak di Puncak, Kawin kontrak di puncak Bogor diungkap Polres Bogor, polisi menangkap empat orang yang berperan sebagai mucikari. TRIBUNWOW.COM - Praktik Prostitusi berkedok Kawin Kontrak di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor dibongkar Polres Bogor.

Empat mucikari di mana dua diantaranya wanita ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus Kawin Kontrak tersebut. Dalam praktiknya, para mucikari menawarkan para wanita kepada turis Arab untuk dijadikan istri kontrak. Lama waktu Kawin Kontrak disepakati antara si pelanggan dengan wanita yang jadi istri kontrak.

Bagaimana proses Kawin Kontrak di kawasan Puncak bisa terjadi? Beriku fakta-fakta yang berhasil dirangkum TribunnewsBogor.com : 1. Pelanggan Turis Timur Tengah Praktik Kawin Kontrak di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor bermula dari banyaknya turis Arab atau Timur Tengah datang untuk berlibur ke kawasan berhawa dingin di kaki Gunung Gede dan Pangrango itu.

Lama waktu liburan para turis Timur Tengah itu tidak sebentar. Tidak sedikit dari mereka berlibur di kawasan Puncak hingga 3 bulan lamanya. Berawal dari banyaknya turis Arab itulah kemudian muncul praktik menyediakan wanita sebagai teman tidur. 2. Tarifnya Bervariasi Tarif Kawin Kontrak disepakati antara pelanggan (turis Arab) dengan si wanita yang akan dikawinkan.

Berdasarkan penelusuran TribunnewsBogor.com, besarnya tarif antara Rp 2 juta hingga Rp 5 juta per hari. Tarif akan semakin tinggi, jika wanita yang disodorkan para mucikari cantik dan usianya masih muda. Lamanya waktu Kawin Kontrak tergantung waktu turis Timur Tengah itu berlibur.

3. Lama Waktu Kawin Kontrak Waktu Kawin Kontrak yang dilakukan turis Timur Tengah dengan wanita lokal ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Pihak yang menentukan lamanya waktu Kawin Kontrak adalah si pelanggan. Bisa seminggu, sebulan bahkan sampai tiga bulan. Setelah proses Kawin Kontrak selesai, tidak ada kata cerai. Si turis Timur Tengah pulang begitu saja ke negara asalnya. "Sesuai permintaan, minta 5 hari, karena dia stay di Puncak 5 hari, jadi selama stay di Puncak dia bayar sewanya (kawin kontrak) 5 hari," kata Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Benny Cahyadi di Mapolres Bogor, Senin (23/12/2019) malam.

4. Ijab Kabul Singkat Praktik Kawin Kontrak di Kawin kontrak di puncak sebenarnya modus Prostitusi terselubung dilakukan sekelompok orang yang selama ini meraup rupiah dari banyaknya turis Timur Tengah di kawasan Puncak. Praktik seperti itu sudah terjadi sejak belasan tahun lalu.

Modusnya, sopir taksi yang juga merangkap sebagai mucikari menawarkan wanita kepada turis Arab itu untuk dijadikan kawin kontrak di puncak kontrak.

Jika si turis telah memilih seorang wanita untuk dijadikan istri kontrak, proses ijab kabul akan segera digelar. Di tempat yang sudah ditentukan seperti vila atau hotel di Puncak, si wanita datang dengan seorang pria yang diaku sebagai walinya. Kemudian si wali menikahkan wanita dengan turis Arab. Proses ijab kabul hanya memakan waktu sekitar 5 menit.

barang bukti dari empat mucikari Kawin Kontrak yang ditangkap polisi (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy) Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni menjelaskan, para mucikari yang diamankankan ini di kawasan Cisarua Puncak, Kabupaten Bogor bermodus sebagai sopir turis wisatawan Timur Tengah. Saat bertemu dengan turis Timur Tengah, mereka akan menawarkan wanita-wanita untuk dijadikan istri kontrak. Lama Kawin Kontrak bervariari, antara 5 hari hingga 1 bulan tergantung lama waktu turis tersebut berlibur di Indonesia.

"Modus mereka sebagai sopirnya turis termasuk menawarkan Kawin Kontrak dan bersangkutan juga jadi walinya, jadi tanpa ada penghulu," kata AKBP Muhammad Joni dalam jumpa pers, Senin (23/12/2019) malam. Pada saat transaksi juga disepakati oleh kedua belah pihak terkait tarif hingga lama waktu Kawin Kontrak yang dipilih turis Timur Tengah tersebut.

"Tanpa ada penghulu, saat pernikahan, turis Timur Tengah tersebut tinggal kawin kontrak di puncak kata-kata pelaku dan tinggal bilang na'am (iya) sehingga terjadi proses ijab kabul," ujar Muhammad Joni. 5. Tak Ada Penghulu Tarif Kawin Kontrak tergantung kepada wanita yang sudah dipilih oleh turis Timur Tengah tersebut.

Misalnya disepakati misalnya Rp 7 juta selama 5 hari. AKBP Muhammad Joni menjelaskan, untuk tarif semuanya akan diserahkan kepada wanita atau korban.

"Dia bawa misalkan 6, 7, bahkan 8 orang (wanita), mana yang diminati turis tersebut, maka di situlah transaksi Kawin Kontrak tersebut. Setelah itu yang bersangkutan misalnya menggunakannya 5 hari, ya 5 hari tidak ada kata-kata talak, langsung tinggal pulang ke negaranya masing-masing," kata Muhammad Joni. Dia menjelaskan bahwa dalam Kawin Kontrak ini, dipastikan tidak ada keterlibatan amil dari KUA Kementerian Agama Kabupaten Bogor.

Selain itu, para pelaku maupun para wanita yang terlibat Kawin Kontrak ini semuanya berasal dari luar Bogor. "Sejauh ini tidak ada (keterlibatan KUA). Bisa kita pastikan bahwa amilnya bodong, penghulunya tak jelas," kata Joni.

Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Benny Cahyadi menambahkan bahwa wanita yang dijadikan Kawin Kontrak ini akan kawin kontrak di puncak turis Timur Tengah selama berlibur di Puncak Bogor dengan menyewa vila. Lama waktu Kawin Kontrak ini sesuai dengan keinginan tamu Timur Tengah tersebut mulai dari beberapa hari hingga sampai satu bulan lamanya.

Hingga kini status wanita dalam Kawin Kontrak ini masih diselidiki. praktik Kawin Kontrak di Puncak (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzy) "Korban (wanita) masih kita pelajari, yang pasti mereka sudah melakukan itu sudah beberapa kali termasuk mantan TKI. Mereka tahu juga mau dinikahin kontrak," kata AKP Benny Cahyadi. Diberitakan sebelumnya, sedikitnya 4 orang pelaku penyedia wanita untuk Kawin Kontrak khusus tamu asal Timur Tengah di kawasan Puncak Bogor berhasil ditangkap polisi.

Mereka terdiri dari pelaku wanita berinisial ON dan IM serta pelaku laki-laki BS dan K. Mereka ditangkap di dua lokasi berbeda di wilayah Desa Cibeureum, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Dalam satu lokasi, pelaku ini beroperasi berpasangan meskipun mereka bukanlah suami istri.

"Dari hasil lidik kita, kita tindak lanjuti dengan pengungkapan di dua TKP, yang satu tersangkanya perempuan dan laki-laki, yang satu lagi juga laki-laki dan perempuan," kata Kapolres Bogor AKBP Muhammad Joni. Para pelaku ini, kata Joni, merupakan mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Timur Tengah sehingga fasih berbahasa Arab dan mengenal aksen bahasa Arab para turis Timur Tengah.

Selain itu, sebanyak enam orang wanita asal Sukabumi juga turut diamankan karena jadi korban dalam bisnis haram Kawin Kontrak tersebut. "Hasil keterangan tersangka, 2 orang berasal dari Sukabumi, 2 orang dari Cianjur. Sedangkan korbannya (6 orang wanita) semua dari Sukabumi," kata Joni.

Polisi juga berhasil menyita barang bukti dua unit mobil, 11 unit ponsel serta uang transaski senilai Rp 7 juta. Joni menjelaskan bahwa uang Rp 7 juta itu merupakan tarif Kawin Kontrak yang berhasil diungkap antara pelaku dengan seorang turis Timur Tengah berinisial H.

"Orang Timur Tengah kita amankan juga dengan inisial H. Ini barang bukti negosiasinya Rp 10 juta. Dilakukan negosiasi, mintanya Rp 7 juta harga deal kawin kontrak di puncak sekitar 5 hari. Jadi kita kenakan UU tindak pidana perdagangan orang di UU nomor 21 tahun 2007 pasal 2 dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun," ungkap Joni. (TribunnewsBogor.com/Naufal Fauzi). Artikel Asli
Mobil angkutan kota Suzuki Carry itu berhenti di depan halaman sebuah villa di kawasan Bukit Cipendawa, Cianjur, Jawa Barat, Selasa, 15 Juni 2021, sore.

Dari dalam angkot itu muncul tiga penumpang: dua perempuan muda berumur 20-an tahun serta seorang lelaki yang mengantarkan keduanya. Mereka langsung masuk ke dalam villa. Dandanan kedua perempuan itu cukup mencolok. Baju atasan crop top dipadu dengan celana jeans dan flat shoes kompak membalut tubuh Jasmine dan Mira, sebut saja nama keduanya begitu. Riasan make up-nya cukup tebal. Tak lupa perona bibir berwarna merah dan maskara bulu mata. Keduanya tersipu malu ketika diperkenalkan si pengantar kepada tim detik.com yang lebih dulu tiba di lokasi untuk mewawancara.

Jasmine dan Mira adalah dua dari puluhan perempuan Cianjur yang pernah terperangkap ke dalam praktik kawin kontrak di Puncak.

Kepada detik.com, keduanya tak ragu membuka pengalaman kelamnya menjalin kawin kontrak. Perkawinan terlarang ini biasanya dilakukan dengan laki-laki asal Timur Tengah yang tengah berlibur ke Puncak yang berhawa dingin itu.

Biasanya, puncak liburan itu terjadi di masa Hari Raya Idul Adha. Jasmine mengaku menjalani kawin kontrak selama satu bulan pada tahun 2020 yang lalu.

Ia terbuai janji-janji materi yang akan didapatkannya dari kawin kontrak. “Pertama kawin kontrak di puncak ditawari kerja di karaoke. Terus sampai kenal, kenal, kenal, berbaur sama teman-teman lainnya. Terus ada yang ngajakin ‘mending kawin kontrak’.

Katanya diiming-imingi dapat rumah atau pun mobil. Kayak gitu,” ucap Jasmine mengawali kisahnya. Walau dinikahi orang Timur Tengah, Jasmine mengaku tak tahu negara asal-usul suaminya. Ia dikenalkan dengan laki-laki yang tengah melancong ke Puncak itu oleh seorang kawin kontrak di puncak.

Saat menjalani kawin kontrak, Jasmine yang sudah memiliki seorang anak menitipkan buah hatinya itu kepada orangtuanya di kampung halamannya, Cianjur. Cuma diiming-imingi motor. Sudah dibeli. Tapi pas sudah pisah diambil lagi." Setelah dipertemukan, Jasmine dan calon suami kontraknya membuat perjanjian secara lisan.

Di antaranya, Jasmine akan diberikan sejumlah uang sebagai mahar, diberikan rumah, dan sepeda motor.

“Katanya mau dikasih rumah. Emang sih, ya, dikasih rumah selama buat tinggal bersama, pernah. Cuma pas sudah pisah, saya pulang ke rumah orangtua, dia juga mungkin pulang ke (negara) asalnya,” jelas Jasmine.

Lalu dilangsungkanlah akad nikah di sebuah villa di kawasan Taman Bunga, Cipanas. Prosesi akad nikah dalam kawin kontrak tidak jauh berbeda dengan pernikahan pada umumnya. Ada kedua mempelai, saksi, dan penghulu. Namun, bedanya saksi kawin kontrak merupakan orang bayaran yang umumnya diperankan para calo kawin kontrak. Sedangkan penghulunya juga penghulu tidak resmi alias bayaran pula.

Tak ada resepsi pernikahan yang dihadiri handai taulan, saudara maupun tetangga mempelai sebagaimana pesta pernikahan. Tapi, dalam kawin kontrak, mempelai perempuan pun tetap dirias dan mengenakan kebaya serta kerudung pada saat akad nikah. “Pakai kebaya, pakai jubah. Cincin nikah ada, dikasih. Maharnya cincin dan uang Rp 600 ribu,” ujar Jasmine, perempuan berkulit sawo matang itu. Satu bulan mengarungi biduk rumah tangga, Jasmine mengaku secara ekonomi kebutuhan hidupnya terpenuhi, termasuk untuk anak semata wayangnya yang dirawat orang tuanya di kampung halaman.

Bahkan, Jasmine sempat dibelikan sepeda motor Honda Beat. Tapi, entah mengapa, setelah kontrak pernikahannya selesai, sepeda motor matic itu diambil lagi. “Cuma diiming-imingi motor. Sudah dibeli. Tapi pas sudah pisah diambil lagi. Tapi diambilnya nggak sama si itu (suami kontrak). Dari orang suruhannya,” terang Jasmine dengan nada kecewa. Ketika ditanya apa saja barang yang masih disimpan dari pernikahan dengan lelaki Timur Tengah itu?

“Ini jaket. Kawin kontrak di puncak apa, ya. Ada, sih, barang-barang di rumah. Cuma kan kalau dibawa… Kayak lemari gitu, kasur,” jawab Jasmine sambil memegang jaket jeans yang dikenakannya sore itu. Jasmine mengaku selama satu bulan hidup bersama pasangan asal Timur Tengah yang dipanggilnya “Babah” itu menjumpai kesulitan dalam berkomunikasi.

Penyebabnya adalah Babah yang tak bisa berbahasa Indonesia. Sebaliknya pula, ia awam dengan bahasa Arab. Jasmine kadang mengerti keinginan Babah dari bahasa gerak tubuh. Jasmine tahu suaminya itu kawin kontrak di puncak kalau keinginannya tak dituruti.

Suatu hari, Babah murka ketika Jasmine menolak diajak berhubungan badan karena tengah datang bulan. Babah langsung pergi begitu saja keluar rumah. Eh, tak lama kemudian Babah kembali lagi sambil membawa perempuan lain ke dalam kamarnya.

Jasmine pun hanya pasrah. “Si Babah minta terus. Saya kan otomatis nggak bisa.

Pernah sampai dia marah-marah sampai pergi sambil nyerocos nggak tahu pakai Bahasa Arab. Sampai dia naik mobil nggak tahu ke mana. Pulang-pulang sudah bawa cewek lain,” kata Jasmine. Berbeda dengan pengalaman Mira, yang menikah dengan warga Timur Tengah ketika masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Mira terbujuk rayuan temannya untuk mau menikah dengan orang Arab.

Selama satu pekan ia menimbang-nimbang untung-rugi nikah kontrak. Masalah ekonomi yang akhirnya membuat hatinya luluh dan mau mengikuti ajakan temannya itu. “Ekonomi. Terus ada pengin kemauan kan juga banyak. Makanya kata saya, 'ya udah, mau berapa? Mau kapan? Jam berapa berangkatnya? ‘Hari ini, hari ini, iya,’” kata perempuan berkulit putih tersebut.

Tapi kawin kontrak beda-beda nasib. Ada yang nasibnya bagus, ada yang nasibnya jelek" Mira tak tahu dengan siapa dirinya akan dinikahkan. Temannya hanya memberitahu kalau ia akan dinikahkan dengan orang Arab yang tengah pelesiran di Kota Kawin kontrak di puncak. Ia lalu dipertemukan dengan orang Arab berusia 54 tahun, yang akan menjadi suaminya selama satu minggu.

Mira dijanjikan akan menerima uang mahar sebesar Rp 5 juta, uang nafkah sehari Rp 500 ribu, dan uang talak (cerai) Rp 8 juta. Uang mahar dan uang nafkah sehari-hari Mira terima di muka, sedangkan uang talak dibayarkan setelah waktu kontrak selesai.

Mira juga sempat ditawari mau dibelikan handphone, sepeda motor, mobil atau rumah. Namun, semua barang itu ditolaknya.

“Dari situ saya berpikir, takut di belakangnya nanti ada tuntutan. Saya nggak mau keluarga sampai tahu. Makanya 'uang tunai saja gimana? Ya, sudah uang tunai saja,'” kenangnya. Sama seperti Jasmine, prosesi akad nikah kontrak Mira dilakukan malam hari. Saksi, wali, dan penghulunya pun palsu. "'Bahwa saya mengantarkan anak saya’. Nggak disebutkan namanya, kan. ‘Saya mengantarkan anak saya untuk diatasnamakan kawin kontrak selama satu minggu,’” begitu kata Mira menyebutkan bunyi akad pernikahan malam itu.

Mira sempat merasa bahagia dijadikan istri orang Timur Tengah. Hingga saat ini, ia tak bisa melupakan kemesraan kawin kontrak di puncak dengan ‘Habib’, begitu dirinya memanggil suaminya kawin kontrak di puncak juga ia lupa lagi dengan nama aslinya itu.

Bagi Mira, nikah kontrak adalah pernikahan pertama kali dalam hidupnya. Mira selalu melayani suami kontraknya itu dengan baik.

Bahkan ia kerap membuatkan masakan ketika satu minggu hidup satu atap di sebuah rumah di kawasan Grand Apple, Sindanglaya, Cipanas, Cianjur. “Jadi kalau diibaratkan si cowoknya pengin ada yang nyiapin makanan gitu, diibaratkan kayak gitu, pendamping hidup sementara,” kata Mira yang berkomunikasi dengan suami kontraknya menggunakan aplikasi penerjemah bahasa asing di handphone-nya.

Mira menjelaskan, ia sering diajak jalan-jalan ke kawasan Puncak oleh Habib. Ia juga pernah dibelikan perhiasan emas berupa kalung seberat 4 gram. Mira memang tak pernah cerita kepada teman dan keluarganya kalau sudah menikah di bawah tangan dengan orang Timur Tengah. Mira pun dilarang keluar rumah sendirian selama menjadi istri kontrak.

“Kalau menelepon nggak apa-apa, cuma dilarang untuk keluar. Kalau mau keluar nyuruh ke sopir. Pengin beli apa-apa nggak boleh keluar sendirian. 'Harus sama saya' gitu,” kata Mira menirukan ucapan Habib. Mira belum pernah berkabar lagi dengan suami kaleng-kaleng itu setelah kontraknya selesai. Tapi, jika ada tawaran menikah kontrak lagi, Mira bakal emoh menerimanya. Sebab, ia sering mendengar beberapa kasus penyiksaan kepada perempuan yang dinikahi warga Timur Tengah.

Belum lagi, ia harus menghadapi fantasi seksual suami kontrak yang liar selama tinggal bersama. “Jadi nge-down,” lanjutnya. Jasmine setuju saja dengan rencana larangan praktik nikah kontrak dari Pemerintah Kabupaten Cianjur. Sebab, dirinya mengalami tidak enaknya nikah kontrak. ”Ya, kalau saya mah gimana, ya.

Kalau dilarang ada bagusnya juga, karena saya kan pernah ngerasain kawin kontrak kaya gimana.

Tapi kawin kontrak beda-beda nasib. Ada yang nasibnya bagus, ada yang nasibnya jelek," pungkas Jasmine yang kini bekerja di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Bogor.
Praktik kawin kontrak di Cianjur perlahan menggeser kota Cianjur dari julukan kota santri. Ratusan bahkan ribuan pondok pesantren di Cianjur citranya luntur dirusak dengan munculnya fenomena kawin kontrak. Fenomena praktik kawin kontrak ini juga telah terdeteksi sejak 2015 oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cianjur.

Kawin kontrak sudah menjadi buah bibir masyarakat di Kawasan Puncak atau Cianjur, Jawa Barat. Meski keberadaannya tidak terang-terangan namun kota dengan sapaan Kota Santri ini menjadi noda yang tak kasat mata. Pemerintah Cianjur melalui Bupati Herman Suhendra mengeluarkan aturan larangan terkait kawin kontrak di wilayahnya. Kawasan Puncak yang terbagi antara Kab Bogor dan Cianjur itu juga terkenal dengan suasana yang asri nan dingin, belum diketahui secara pasti kapan para turis Timur Tengah tersebut mulai berdatangan.

Namun kawasan itu menjadi lokasi favorit selain alam dan makanannya juga dikenal dengan "destinasi wisata seks". Pergaulan muda mudi yang tidak terkontrol juga menjadi sebab kawin kontrak di puncak bagaimana anak-anak muda justru terjerumus kedalam lingkaran kawin kontrak.

Kesaksian Merah memperkuat praktik ini telah masuk ke ranah anak-anak dibawah umur, ia juga mengatakan bahwa anak-anak sekolah dasar telah ikut meramaikan praktik kawin kontrak.

Keinginan pemerintah setempat untuk membersihkan kegiatan kawin kontrak nampak tidak mudah, sebab praktik tersebut dilakukan secara diam-diam. Peran mucikari atau calo menjadi kunci dari terjadinya proses kawin kontrak. Para calo ini juga mendapat keuntungan hingga 50 persen dari kesepakatan mahar kawin kontrak, keuntungan yang besar membuat praktik ini terus subur.

Kaum perempuan di sana secara sadar atau tidak sadar telah menjadi pelaku sekaligus korban yang sesungguhnya. Mereka dimanfaatkan oleh pria hidung belang yang datang dari Timur Tengah untuk dijadikan istri-istrian. Karena tergiur oleh iming-iming uang, harta, benda yang didapat dari proses prostitusi terselubung ini, Adanya akad nikah dan ijab kobul dalam proses kawin kontrak hanya sebagai selubung agar tak dicap berzina.

Mereka biasa datang ke Cianjur pada saat musim Haji, karena pada saat bersamaan sekolah dan perkantoran di Timur Tengah sedang masa liburan. Mereka biasanya dengan mengelola jasa "travel dadakan" yang menawarkan jasa kawin kontrak.

Bermodalkan komunikasi dari mulut ke mulut untuk menyediakan jasa kawin kontrak di Cianjur, Puncak, dan Bogor, jaringan mereka yang ada di Timur Kawin kontrak di puncak itu juga menawarkan jasa kawin tamasya ini.

NGECAPRAK BARENG JANDA KAWIN KONTRAK. #NGECAPRAK#JANDA#KAWINKONTRAK




2022 charcuterie-iller.com