Tingkat selera akan berpengaruh pada

Proses makan (feeding) adalah aktivitas yang komplek, yang meliputi mencari makanan, mengamati, pergerakan, aktifitas sensorik, memakan dan mencerna. Dalam saluran pencernaan makanan dan zat-zat makanan diserap dan dimetabolismekan. Semua proses ini dapat mempengaruhi konsumsi makanan dalam jangka pendek (short term basis). Namun demikian perlu diperhatikan bahwa, pada ternak dewasa kebutuhan pokoknya (berat tubuhnya) relatif konstan, walaupun makanan tersedia ad libitum. Dengan demikian konsep jangka pendek-jangka panjang dalam mengontrol konsumsi harus diperhatikan.

Walaupun sistem kontrol ini sama pada setiap jenis ternak, namun adae perbedaan antar spesies yang tergantung pada pada struktur dan fungsi saluran pencernaannya. Aktivitas makan pada hewan mamalia dan unggas dikontrol oleh pusat di hipothalamus yang terletak di bagian cerebrum otak. Pada awalnya teori ini bermula dari dua aktivitas organ phaiiusat. Pertama adalah pusat makan (lateral hipothalamus) tingkat selera akan berpengaruh pada menyebabkan ternak memulai aktivitas makan sampai dibatasi oleh pusat yang kedua yaitu pusat kenyang (vetro medial hipothalamus) yang menerima signal dari tubuh sebagai hasil dari konsumsi makanan.

Dengan demikian ternak akan terus makan sampai mendapat signal untuk berhenti dari pusat kenyang. Namun demikian yang berperan dalam pengaturan makan tidak hanya hipothalamus saja, melainkan ada bagian lain dari C NS yang berperan.

Pengaturan selera makan pada ternak para ahli mengemukakan 4 teori yakni; : Teori I : Dikemukakan oleh Brobeck, dkk, yakni teori Termostatik. Menurut Brobeck : hewan akan makan (lapar) untuk mencegah agar suhu tubuhnya tidak turun (hypothermia) dan berhenti makan (kenyang) untuk mencegah agar suhu tubuh tidak naik terus (hyperthermia).

Panas yang timbul dari oksidasi makanan berperan sebagai pembawa berita kepusat syaraf (hypothalamus) untuk menyesuaikan konsumsi makanan. Faktor-faktor yang mendukung teori ini adalah : Menurut Anderson dan Lersson (1961) yang disitasi oleh Toha Sutardi bahwa pemanasan daerah hipotalamus dekat pusat juga pada hewan percobaan (kambing) yang sengaja dilaporkan, bila daerah hypotalamus di dinginkan selera makan kambing akan bertambah.

Demikian juga pada sapi yang makanannya terletak dalam sebuah tempat yang suhu lingkungannya sengaja di dinginkan, ternyata dapat merangsang nafsu (selera) makan dari sapi tersebut. Rendahnya selera makan dalam suhu lingkungan tinggi dapat berpengaruh buruk terhadap penampilan produksi ternak. Setiap hewan mempunyai suhu keritis rendah, di daerah tropis, penampilan produksinya tidak akan setinggi di daerah dingin yang dimaksud dengan suhu kritis adalah batas suhu terendah dari kisaran suhu termonetral.

Pada ternak sapi suhu termonetral adalah 18 – 22 oC. pada domba yang dicukur bulunya 21 – 31 oC pada kambing 20 – 28 oC dan domba (secara umum) 21 – 25 oC. Teori II : Teori Chemostatic (Glukastatik) dikemukakan oleh Mayer (1952, 1955). Menyatakan bahwa metabolit dalam darah berperan sebagai pembawa rangsangan kepusat syaraf untuk mengatur selera makan (konsumsi makanan). Pada hipothalamus terdapat reseptor glukosa yang peka terhadap kadarglukosa darah, sehingga nafsu makan erat hubungannya dengan kadar glukosa darah.

Beberapa alasan Mayer untuk mengemukakan teori glukostatik : (1). Sebagian besar sumber energi dari bahan makanan adalah berasal dari karbohidrat, dan karbohidrat ini akhirnya dirombakmenjadi glukosa dalam tubuh ternak (dimetabolisasikan) (2). Cadangan glukosa dalam tubuh (dalam bentuk glikogen) yang pertama-tama dimanfaatkan bila tubuh kekurangan energi.

Teori III : yakni teori Lipostatik yang dikemukakan oleh Batas Etamal (1955) Menyatakan bahwa selera makan dipengaruhi oleh lemak tubuh (pool lemak tubuh mempunyai korelasi negatif dengan selera makan). Bila lemak tubuh terkurang (berkurang) maka selera makan akan naik.

Dalam banyak kejadian teori lipostatik ini nampaknya dapat diterapkan pada ternak ruminansia. Misalnya : konsumsi makanan pada domba laktasi umumnya lebih tinggi dari pada domba kering (tidak menghasilkan susu). Teori keempat : yakni Teori Aminostatik, teori ini dikemukakan oleh Mellinkoff Menyatakan bahwa selera maka ditentukan oleh konsentrasi asam amino dalam plasma darah.

Menurut teori ini konsumsi protein tinggi cepat menimbulkan sensasi kenyang karena konsumsi protein tinggi akan meningkatkan kadar asam amino dalam plasma darah (PAA), sehingga kenaikkan kadar PAA akan menurunkan selera makan. Teori ini kemudian diperbaiki oleh Happer (1964), yang menyatakan bahwa proses penurunan selera makan karena kenaikan kadar PAA tingkat selera akan berpengaruh pada suatu proses adaptasi saja, karena kalau darah sudah jenuh dengan zat-zat makanan, maka bukan hanya PAA melainkan zat makanan lain ini juga dapat menurunkan selera makan.

skema pengaturan selera makan pada ternak: Dengan adanya makanan dalam alat pencernaan, akan merangsang sekresi dari cairan pencernaan (gastro intetinal Juice).

Bila tekanan osmotik tinggi maka kadar air dari digesta akan meningkat, sehingga dinding lambung (alat pencernaan) akan mengembang (distention). Zat-zat makanan berbentuk molekul kecil (asam amino, gula dan garam) cenderung untuk meningkatkan (meninggikan) tekanan osmotik, atau melekul kecil ini dapat meningkatkan Distensi darialat pencernaan (terutama lambung) oleh cairan atau gas, sehingga cepat menimbulkan sensasi kenyang. Zat makanan murni (campuran asam amino atau gula) lebih cepat menimbulkan sensasi kenyang, dibandingkan dengan protein atau karbohidrat alami.

Bagian-bagian otak yang ikut serta dalam pengaturan selera makan adalah: 2. Limbic System : Berperan sebagai pusat diskriminasi atau seleksi terhadap bahan makanan (pakan), jika pusat ini dirusak, maka selera makan ternak akan meningkat, akan tetapi peningatannya itu abnormal, yaitu ternak akan kehilangan kemampuan untuk membedakan jenis makanan yang dimakannya (apa itu bahan makanan atau tidak).

7. Reflek makan (Feeding Reflexes) : Berperan untuk membantu konsumsi makanan melalui kerja panca indra. Melihat tipe perangsangnya reflek makanan ini terdiri dari : Visual, olfaktoris (penciuman), gustatoris (citra rasa), Auditoris (pendengaran), tactile (sentuhan), dan En Tero Ceptive (melalui Receptor dalam alat pencernaan).

Konsumsi makanan mungkin sekali disaring oleh ternak melalui tiga tingkatan, yakni: Bahan-bahan makanan yang berbahaya bagi kesehatan atau bernilai gizi rendah mungkin sekali akan ditolak (tidak dimakan oleh ternak), juga bila bau dan rasa makanan yang tidak disukai tidak akan dimakan oleh ternak.

Kontrol konsumsi pada ternak ruminasia pada umumnya dilakukan secara Distention (distensi) dan chemostatik. Distention ; kontrol distention ini bekerja karena adanya desakan atau tekanan yang diterima oleh dinding rumen, karena adanya makanan (ingesta) dalam rumen atau karena penuhnya rumen (bulk) akibatnya ternak akan berhenti makanan. Kontrol ini bekerja bila ternak banyak mendapat makanan yang berkualitas rendah yaitu makanan hijauan dan jerami.

Akibat banyak memakan makanan yang berkualitas rendah ini maka saliva (air ludah) akan banyak diproduksi dan juga ternak akan banya membutuhkan air minum, sehingga makanan yang dimakan akan sedikit, disamping itu produksi gas (CO2 + CH4) tinggi ditambah dengan adanya bahan kering (bolus) dan cairan dalam rumen maka volume rumen akan cepat jadi penuh, sehingga terjadilah desakan pada dinding rumen (rumen jadi mengembang), akibatnya hewan akan berhenti makan, tapi kebutuhan energi bagi ternak tersebut belum terpenuhi (belum mencukupi).

Kontrol ini ditentukan oleh jumlah produk fermentatif (VFA) dalam rumen dan jumlah glukosa dalam darah. Umumnya kontrol ini bekerja bila ternak banyak mendapat makanan yang berkualitas tingkat selera akan berpengaruh pada yakni makanan konsentrat. Dengan memakan makanan yang berkualitas tinggi (konsentrat) maka kebutuhan ternak akan cepat terpenuhi energi dan bahan kering, akibatnya ternak akan berhenti makan.

Faktor lain yang mempengaruhi kebiasaan makan adalah : Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya.

Maka, setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula. Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia.

Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan.

Konsumsi Pakan Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula.

Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri). Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak.

Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis ternak, umur, tingkat tingkat selera akan berpengaruh pada, bobot badan, keadaan penutup tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat pengaruh lingkungan. Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi tingkat selera akan berpengaruh pada ternak biasanya menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan.

Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan karena ternak membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh dan pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengan cara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.

Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.

Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dengan keadaan “lapar”. Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) yang menstimulasi keadaan lapar.

Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang-kadang terjadi kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri. Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan.

Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah. Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya.

Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih tingkat selera akan berpengaruh pada dikonsumsi dan dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm. Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan.

Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan ternak yang sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut.

Berat badan ternak dapat diketahui dengan alat timbang. Dalam praktek di lapangan, berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang badan dan lingkar dadanya.

Kemudian berat badan diukur dengan menggunakan formula: Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661. Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara meningkatkan berat badan dengan nilai 0,75. Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75 Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol.

Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal.

Korelasi antara ketiga komponen tersebut yaitu bahan pakan, proses pengolahan bahan pakan serta pengaturan selera makan yang diantaranya kualitas bahan pakan, frekuensi pemberian pakan dan penambahan bahan konsentrat seperti molases atau sejenisnya akan sangat mempengaruhi pola dan selera ternak untuk memakan makananya. Pada umumnya petani memberikan, mengatur dan mengelola bahan pakan jadi untuk ternak adalah untuk menghasilkan produksi yang baik (pratomo,1986).

• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Berpengalaman di dunia perbankan sejak tahun 1990.

Mendalami change management dan cultural transformation. Menjadi konsultan di beberapa perusahaan. Siap membantu dan mendampingi penyusunan Rancang Bangun Master Program Transformasi Corporate Culture dan mendampingi pelaksanaan internalisasi shared values dan implementasi culture.

Selanjutnya Tutup Selera risiko dapat didefinisikan sebagai 'jumlah dan jenis risiko yang bersedia diambil oleh organisasi untuk memenuhi tujuan strategis mereka'. Organisasi akan memiliki selera risiko yang berbeda tergantung pada sektor, budaya, dan tujuan mereka. Berbagai selera ada untuk risiko yang berbeda dan ini dapat berubah seiring waktu.

Sebuah perusahaan perlu menentukan tingkat selera risiko yang tepat, yang akan membantu memastikan ketahanan dan kinerja jangka panjang. Selera risiko yang terlalu santai atau terlalu membatasi dapat memiliki konsekuensi yang parah pada keuangan perusahaan, seperti yang ditunjukkan oleh dua contoh berikut: • Terlalu santai. Sebuah perusahaan energi nuklir menetapkan standarnya untuk peralatan baja pada 1980-an dan tidak meninjaunya bahkan ketika peraturan berubah.

Ketika standar baru yang lebih tinggi diterapkan pada pembuatan peralatan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, perusahaan gagal memenuhinya. Adaptasi lebih awal dari selera risiko dan tingkat toleransinya akan jauh lebih murah. • Terlalu membatasi. Sebuah perusahaan farmasi menetapkan toleransi kualitas untuk memproduksi obat ke tingkat yang jauh lebih ketat daripada yang disyaratkan oleh peraturan.

Pada awal produksi, interval toleransi dapat dipenuhi, tetapi seiring waktu, kualitas tidak lagi dapat dijamin pada tingkat awal. Perusahaan tidak dapat menurunkan standar, karena telah dikomunikasikan kepada regulator.

Pada akhirnya, proses produksi harus ditingkatkan dengan biaya yang signifikan untuk mempertahankan toleransi asli. Selera dan toleransi risiko harus tinggi pada agenda dewan direksi (BOD) mana pun dan merupakan pertimbangan inti dari pendekatan manajemen risiko perusahaan. Sementara itu, selera risiko akan selalu berarti hal yang berbeda bagi orang yang berbeda, pernyataan selera risiko yang dikomunikasikan dengan baik dan tepat dapat secara aktif membantu organisasi mencapai tujuan dan mendukung keberlanjutan.

Definisi yang jelas dari selera risiko sebuah perusahaan akan menerjemahkan pertukaran risiko, yaitu pengembalian yang menjadi ambang dan batasan eksplisit untuk risiko keuangan dan strategis, seperti modal ekonomi, arus kas yang berisiko, atau metrik yang ditekankan. Dalam kasus risiko nonkeuangan seperti risiko operasional dan kepatuhan, selera risiko akan didasarkan pada batas kerugian keseluruhan, dikategorikan ke dalam risiko bawaan dan risiko residual.

Selera risiko BOD sebagai eksekutif perusahaan harus mengacu kepada taksonomi risiko perusahaan. Eksekutif perusahaan harus secara jelas dan komprehensif mendefinisikan risiko dan taksonomi harus benar-benar dihormati dalam definisi selera risiko, dalam pengembangan kebijakan dan strategi risiko, dan dalam pelaporan risiko. Taksonomi biasanya spesifik industri, mencakup risiko strategis, peraturan, dan produk yang relevan dengan industri.

Mereka juga ditentukan oleh karakteristik perusahaan, termasuk model bisnis dan jejak geografis (untuk memasukkan risiko hukum dan negara tertentu).

Alat penilaian risiko yang telah terbukti perlu diadopsi dan ditingkatkan secara terus-menerus dengan teknik baru, sehingga risiko yang lebih baru (seperti risiko siber) dapat diatasi serta risiko yang lebih familiar. Selera risiko akan menentukan profil risiko sebuah perusahaan. Dalam struktur tata kelola yang baik, Â komite manajemen risiko ikut menentukan selera risiko, termasuk parameter untuk melakukan bisnis. Komite tersebut juga membuat keputusan spesifik tentang risiko teratas dan meninjau lingkungan pengendalian untuk penyempurnaan seiring tingkat selera akan berpengaruh pada perubahan profil risiko perusahaan.

Tata kelola yang baik dalam hal ini berarti bahwa keputusan risiko dipertimbangkan dalam struktur tata kelola divisi, regional, dan manajemen senior perusahaan yang ada, didukung oleh komite risiko, kepatuhan, dan audit. Penyiapan tata kelola risiko dan kepatuhan harus pula terintegrasi.

Organisasi risiko dan kepatuhan yang kuat dan memiliki staf yang memadai mendukung semua proses risiko. Organisasi risiko dan kepatuhan terintegrasi menyediakan kepemilikan tunggal atas kerangka kerja dan standar ERM ( Enterprise Risk Management) seluruh unit kerja, pengelompokan fungsi lini kedua yang sesuai, matriks yang jelas antara divisi dan fungsi kontrol, dan kontrol terpusat atau lokal sesuai kebutuhan.

Tren yang jelas dapat diamati di mana lapisan ERM yang bertanggung jawab untuk standar seluruh grup, proses risiko, dan pelaporan menjadi terkonsolidasi, sedangkan tim ahli menetapkan dan memantau standar kontrol khusus untuk bisnis (termasuk standar untuk komersial, kepatuhan teknis, TI atau risiko siber) menjadi tim khusus yang mencakup kepatuhan terhadap peraturan dan juga aspek risiko.

Sumber daya yang tepat merupakan faktor penting dalam tata kelola risiko yang sukses. Ukuran fungsi kepatuhan, risiko, audit, dan hukum perusahaan nonkeuangan (rata-rata 0,5 untuk setiap 100 insan perusahaan), biasanya jauh lebih kecil daripada bank (6,9 untuk setiap 100 insan perusahaan). Disparitas sebagian merupakan hasil alami dari regulasi keuangan, tetapi sebagian mencerminkan kesenjangan kemampuan di perusahaan non-keuangan.
FAKTOR-FAKTOR YG MEMPENGARUHI PERMINTAAN DAN PENAWARAN Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi permintaan terhadap barang dan jasa, antara lain : – Tingkat pendapatan seseorang/masyarakat – Jumlah penduduk – Selera penduduk – Fluktuasi ekonomi – Harga barang yang di tuju – Harga barang subsitusi – Faktor lain (harapan, hubungan sosial, dan politik) Besar kecilnya permintaan di tentukan oleh tinggi rendahnya harga, tentu saja hal ini akan berlaku bila faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tidak ada perubahan (tetap) atau disebut ada dalam keadaan ceteris paribus.

Dalam keadaan seperti itu, berlaku perbandingan terbalik antar harga terhadap permintaan dan perbandingan lurus antara harga dengan penawaran seperti apa yang dikatakan Alfred Marshall. Yang menyebutkan bahwa perbandingan terbalik antara harga terhadap permintaan disebut sebagai hukum permintaan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penawaran terhadap barang dan jasa, antara lain : – Harga barang yang dituju – Biaya produksi dan ongkos – Tujuan produksi – Teknologi yang digunakan – Harga barang subsitusi – Lain hal (factor sosial/politik) Apabila terdapat perubahan harga barang yang dituju, sedangkan factor-faktor yang mempengaruhi penawaran seperti : biaya produksi dan ongkos, tujuan produksiteknologi yang digunakan, harga barang subsitusi dan lain-lain hal tidak berubah.

Maka penawaran akan ditentukan oleh harga, jadi besar kecilnya jumlah barang/jasa yang ditawarkan tergantung pada tinggi rendahnya harga. Menurut Alfred Marshall perbandingan lurus antara harga terhadap penawaran disebut sebagai hukum penawaran. PERGESERAN PERMINTAAN DAN PENAWARAN Di dalam ini, terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi permintaan dan penawaran, antara lain : 1. Perubahan tingkat pendapatan penduduk Perubahan pendapatan penduduk (masyarakat) dapat mengubah pola dan jumlah permintaan yang sekaligus mendorong perubahan pada penawaran oleh para produsen penjual.

Bila pendapat penduduk bertambah dan harga baranng masih tetap, ada kemungkinan permintaan terhadap barang/jasa meningkat. Kemudian, pertambahan permintaan itu juga akan mengakibatkan berubahnya penawaran, jika barang/jasa yang ditawarkan persediannya menjadi kurang, maka harga barang/jasa akan naik.

Pada saat harga akan naik, permintaan kembali menurun dan begitu seterusnya. 2. Perubahan jumlah penduduk Pertambahan penduduk merupakan factor yang sangat dominan terhadap perubahan permintaan dan penawaran.

Bertambahnya penduduk akan menimbulkan bertambahnya kebutuhan berbagai macam barang/jasa, sehingga permintaan akan bertamba. Naiknya permintaan berpengaruh langsung terhadap penawaran barang/jasa. Banyaknya permintaan itu akan menaikkan harga barang/jasa yang ditawarkan, sehingga pada suatu saat permintaan akan menurun kembali, ketika permintaan turun produsen/penjual yang masih memiliki banyak barang/jasa akan menaikkan penjualan dengan menurunkan harga.

3. Selera penduduk Selera masyarakat sering kali berubah-ubah pada saat tertentu, mereka suka akan mode A dan pada waktu lain menyukai mode B. Begitu juga terhadap makanan, pada musim panas menyukai makanan X dan pada musim lainnya cenderung mengkonsumsi barang Y.

Pergeseran permintaan dari satu barang ke barang lain akan berpengaruh juga terhadap pergeseran penawaran keadaan ini akan mengakibatkan naik dan turunnya permintaan, serta naik turunnya harga barng/jasa yang ditawarkan. 4. Faktor lain (harapan, hubungan sosial, dan politik) Harapan massa, pengaruh hubungan sosial dan keadaan politik, pada saat stabil mengarah pada kemakmuran sehingga masyarakat mampu meningkatkan pendapatan yang pada akhirnya mendorong pada peningkatan permintaan barang/jasa.

5. Harga subsitusi Adanya barang pengganti (subsitusi) dari suatu barang/jasa dapat mengubah jumlah permintaan, kemudian berpengaruh pada harga dan penawaran. Munculnya barang pengganti yang lebih tingkat selera akan berpengaruh pada, kemungkinan besar akan mendorong sebagian besar konsumen untuk memilih barang subsitusi tersebut.

Terjadinya pergeseran (kurva) permintaan dan penawaran, disamping karena perubahan-perubahan dari berbagai factor diatas juga mungkin terjadi karena adanya berbagai hal sbb : – Perubahan teknologi produksi Tingkat kemajuan teknologi perusahaan menentukan kemampuan cara-cara baru untuk memproduksi dan kemungkinan melakukan efesiensi biaya produksi. Dan teknologi baru produksi barang dapat di tingkatka, sehingga menyebabkan penawaran barang menjadi bertambah.

– Munculnya produsen/penjual baru Setiap saat akan muncul perusahaan (produsen/penjual baru) akan bertambah. – Perubahan harga sumber-sumber produksi Fluktusi harga sumber-sumber produksi kemungkinan akan mangakibatkan naik dan turunnya biaya produksi.

Hal ini akan mempengaruhi tingkat harga barang yang di tawarkan. Berdasarkan kurva diatas. Dapat kita simpulkan bahwa pergaseran kurva permintaan dan penawaran di suatu pasar terjadi karena berbagai factor di luar harga.

Pergeseran Permintaan Pergeseran permintaan adalah perubahan jumlah barang/jasa yang dibeli lebih banyak/lebih sedikit yang terjadi sebagai akibat pengaruh berbagai factor lain selain harga. Kenaikan permintaan adalah maningkatnya jumlah barang/jasa yang dibeli sebagai akibat turunnya harga, sedangkan penurunan permintaan adalah penurunan pembelian akibat kenaikan harga. Pergeseran Penawaran Pergeseran penawaran adalah perubahan kuantitas barang/jasa yang ditawarkan / dijual, ber (+) / ber (-)sebagai akibat pengaruh faktor-faktor lain selain harga.

Kenaikan penawaran adalah bertambahnya jumlah barang/jasa yang dijual sebagai akibat penurunan Search for: • Recent Posts • .Indah’nya Ramadhan “Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan “ • Jenis-Jenis Profesi di Bidang IT dan Perbandingannya dengan Negara Lain • jenis-jenis profesi di bidang IT • Dampak positif & Negatif Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik • CYBER CRIME (Kejahatan Internet) • Recent Comments Mr WordPress on Hello world!

• Archives • July 2013 • May 2013 • April 2013 • March 2013 • November 2012 • June 2012 • May 2012 • March 2012 • November 2011 • October 2011 • September 2011 • June 2011 • April 2011 • Tingkat selera akan berpengaruh pada 2011 • February 2011 • January 2011 • November 2010 • October 2010 • September 2010 • Categories • Uncategorized • Meta • Register • Log in • Entries feed • Comments feed • WordPress.com Estetika - Pengantar Filsafat Keindahan, Rasa dan Selera - serupa.id Tutup • Donasi Pencarian untuk: Cari • Beranda • Seni • Fundamental Seni • Teori Seni • Praktik Seni • Desain • Sejarah • Aliran Seni Rupa • Sejarah Seni • Pendidikan • Filsafat • Informatika • Semua Kategori • Semua Artikel • Tentang • Kebijakan Privasi • Kontak Tutup Memang benar bahwa keindahan berada di mata pemandangnya dan keindahan tingkat selera akan berpengaruh pada hal yang subjektif, tidak usah diperdebatkan lagi.

Namun, sebetulnya keindahan yang merupakan topik utama estetika adalah salah satu faktor pertama yang akan diperhatikan dalam berbagai interaksi kehidupan sosial. Pada umumnya estetika adalah penilaian utama yang selalu dijatuhkan pada setiap karya seni. Meskipun demikian, dalam perkembangannya, keindahan tidak selalu menjadi hal utama dalam seni.

Seni tidak melulu harus menjadi objek yang indah dan para ahli memilah bidang studi alternatif dari estetika untuk membahasnya, yakni dalam filsafat seni.

Keduanya, baik estetika maupun filsafat seni menjadi salah salah satu pencarian yang tak pernah usai digali, baik di dalam filsafat maupun bidang seni secara umum. Oleh karena itu, penting bagi pegiat seni untuk mempelajari estetika secara komprehensif untuk memperluas khazanah pemahaman seni.

Tujuan Estetika Estetika adalah ilmu yang membahas tentang keindahan ataupun selera dan rasa, termasuk seni. Walaupun hari ini menilai seseorang dari penampilan dianggap kurang pantas dan tidak adil, tetapi mau tidak mau hal tersebut akan selalu bersemayam dipikiran semua orang dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah sebabnya, mengapa kita selalu memperhatikan penampilan diri sendiri, sekecil apapun tingkat selera akan berpengaruh pada. Hal tersebut karena nyatanya, penampilan tetap berpengaruh pada karir, kehidupan asmara, bahkan lingkungan pertemanan dan masyarakat secara umum. Semakin baik pemahaman suatu masyarakat terhadap estetika, maka semakin dalam juga apresiasinya terhadap keragaman paras wajah, penampilan, budaya, hingga pengaruh visual lain pada umumnya.

Apresiasi yang lebih baik terhadap estetika juga akan memicu sikap toleransi positif pada keanekaragamannya; tidak berpatok pada satu pandangan ras, warna, dll tentang keindahan/kecantikan.

Cantik tidak selalu harus putih atau berhidung mancung. Keindahan tidak hanya terletak pada mata yang melihatnya, tetapi beradasarkan konteks tertentu (misalnya: aspek sosial) dari pemandang dan subjek yang dipandangnya itu sendiri. Hal seperti itulah yang terus digali oleh estetika. Pengertian Estetika Secara etimologis estetika berasal dari kata Yunani: Aistetika yang berarti hal-hal yang dapat dicerap dengan panca indra, Aisthesis yang berarti pencerapan panca indra/ sense perception, (The Liang Gie, 1976, hlm.15).

Namun pengertian estetika umumnya sendiri adalah cabang ilmu filsafat yang membahas mengenai keindahan/hal yang indah, yang terdapat di alam dan seni. Estetika sebagai ilmu tentang seni dan keindahan pertama kali diperkenalkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten (1714-1762), seorang filsuf Jerman.

Walaupun pembahasan estetika sebagai ilmu baru dimulai pada abad ke 17 namun pemikiran tentang keindahan dan seni sudah ada dari sejak zaman Yunani Kuno. Dalam proses perkembangannya filsuf dan para ahli terus mengemukakan pendapat yang berbeda mengenai cabang filsafat ini. Mulai dari pengertian estetika, hingga jangkauan ilmunya sendiri. Secara singkat sejarah estetika barat dapat dibagi menjadi beberapa masa seperti yang diutarakan pada tabel dibawah ini.

Periode Estetika Tokoh Penting Estetika klasik Graeco-Roman Plato (428-348 SM), Aristoteles (384-322 SM), Horatius (65-8 SM), Plotinus (204-269 M) Estetika abad pertengahan St. Agustinus (353-430), Thomas Aquinas (1225-1275) Estetika renaisans Ficino (1433-1499), Alberti (1409-1472) Estetika pencerahan Earl of Shaftesbury (1671-1713), Hutcheson (1694-1746), David Hume (1711-1776), Alexander Gottlieb Baumgarten, Immanuel Kant (1724-1804) Estetika romantik Friedrich Schiller, Friedrich Schleiermacher, Wolfgang von Goethe Estetika positivism dan naturalism Herbert Spencer, Grant Allen (Kaum Fisiologis), Hyppolyte Taine, Gustaf Theodor Fechner, Ernst Grosse Estetika abad ke-20 Edward Bullough, Jerome Stolnitz, Virgil Aldrich, Benedetto Croce, George Santayana, John Dewey Estetika kontemporer Clive Bell, Susanne K.

Langler, Collingwood, Morris Weitz Estetika Menurut Plato Filsafat Keindahan Menurut Plato, sumber rasa keindahan adalah cinta kasih, karena ada kecintaan maka kita manusia selalu ingin kembali menikmati apa yang telah dicintainya itu. Rasa cinta pada manusia bukan hanya tertuju pada keindahan, tetapi juga kebaikan (moral) dan kebenaran (ilmu pengetahuan). Rasa cinta pada keindahan timbul karena manusia sendiri telah belajar hal yang dicintainya itu.

Pendidikan menjadi proses tertanamnya tingkat selera akan berpengaruh pada cinta pada keindahan dan dapat diuraikan sebagai berikut: • Manusia dididik untuk mencintai keindahan nyata yang tunggal, seperti tubuhnya sendiri, tubuh seorang manusia. • Kemudian di didik untuk mencintai keindahan tubuh yang lain, sehingga tertanam hakikat keindahan tubuh manusia.

• Keindahan tubuh yang bersifat rohaniah lebih luhur daripada keindahan tubuh yang bersifat jasmani. • Keindahan rohaniah dapat menuntun manusia mencintai segala sesuatu lainnya yang bersifat rohani, misalnya ilmu pengetahuan.

• Pada akhirnya manusia harus dapat menangkap ide keindahan itu sendiri tanpa kaitan dengan sifat jasmaninya itu sendiri. Dapat disimpulkan bahwa terdapat keindahan yang melekat pada benda dan ada juga keindahan yang berada di luar benda itu sendiri. Keindahan pada benda/objek merupakan ilusi dari keindahan yang sebenarnya. Ada bentuk indah yang tingkat selera akan berpengaruh pada, sedangkan keindahan benda di dunia fisik hanyalah tiruan dari ide keindahan yang abadi itu sendiri, keindahan bersifat transendental/ transcendental.

Ada keindahan yang sederhana dan nada keindaan yang kompleks. Keindahan sederhana menunjukkan adanya kesatuan yan sederhana. Jika di jelajahi asal muasalnya, bisa jadi pemikiran Plato yang satu ini adalah sumber salah satu prinsip prinsip seni yang umum digunakan, yaitu: kesatuan. Sedangkan keindaan kompleks menunjukkan adanya ukuran, proporsi, dan unsur-unsur yang membentuk kesatuan besar. Prinsip kesatuan tersebut nyatanya banyak dianut oleh para filsuf lain. Plato tidak hanya melihat bahwa kesatuan hanyalah satu-satunya ciri keindahan.

Kesatuan hanya merupakan salah satu karakteristik keindahan. Baca juga: Prinsip Prinsip Seni Rupa dan Desain Filsafat Seni Plato memiliki pemikiran yang dilematis teradap karya seni. Walaupun Plato tidak menyukai seni karena ditakutkan dapat memberikan dampak buruk bagi pemikiran ‘dunia Idealnya’, dia tetap membahas berbagai kelebihan dan manfaat yang dapat dihasilkan oleh karya seni. Plato berpendapat bahwa benda seni yang diciptakan para seniman merupakan tiruan benda indah yang merupakan ilusi dari ide keindahan yang telah dijabarkan diatas.

Karya seni itu sendiri hanya sebuah ilusi/bersifat maya. Karenanya, karya seni itu inferior (bertaraf rendah). Karya seni juga dapat merusak akal sehat akibat kandungan emosi dan akibat tiruan ide keindahan (hegemonisasi kecantikan: harus putih, berhidung mancung dan berambut lurus).

Baca juga: Filsafat Seni Karya seni tidak dapat dijadikan sumber menimba pengetahuan, tidak seperti matematika atau ilmu eksak lain. Sementara itu, emosi pada karya seni bersumber dari keirasionalan yang di ilhami dari para dewa (konteks zaman yunani kuno).

Emosi dalam karya seni juga dapat membutakan akal sehatnya. Karenanya ia berpendapat bahwa karya seni dapat membahayakan kehidupan sosial dalam suatu negara. Karya seni juga dianggap bukan sumber yang baik untuk pengetahuan dan pendidikan karena dinilai pengetahuan disitu rendah. Pandangan Plato tersebut terjadi karena pendekatannya yang terlalu rasional (seperti pemikir zaman tersebut pada umumnya. Pendekatannya terlalu intelektual dan terlalu mengangkat nilai-nilai ilmu pengetahuan berdasarkan akal dan pikiran yang masih terbatas pada masanya.

Karya seni dinilai dari sudut ilmu pengetahuan rasional yang masih kurang mumpuni untuk menjamah seni. Estetika Menurut Aristoteles Berbeda dengan Plato, Aristoteles berpendapat bahwa seni justru memberikan dampak yang baik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang dapat diaplikasikan dan tidak kalah dengan ilmu eksak.

Walaupun begitu menariknya Aristoteles justru banyak mendapatkan pengaruh dari pemikiran Plato yang kritis terhadap seni. Mimesis Seperti Plato, Aristoteles juga berpendapat bahwa seni itu suatu imitasi atau tiruan; mimesis.

Manusia meniru untuk mendapatkan kegembiraan, keindahan dan hal lainnya. Tetapi imitasi yang dimaksudkan oleh Aristoteles disini bukan sekedar reproduksi realitas. Seniman memang meniru realitas, tapi menyimpang dari dunia pengalaman atau empiris. Seniman memilih sejumlah realitas untuk membangun sebuah gambaran yang memiliki makna. Hal yang ditiru oleh seniman termasuk tingkah laku manusia.

Gambaran tingkah laku manusia itu mengandung hukum kemungkinan terjadi atau keharusan terjadi pada manusia. Karya seni bersifat universal karena digambarkan dapat terjadi tingkat selera akan berpengaruh pada dimanapun bagi manusia. Berbeda dengan Plato yang menganggap karya seni hanyalah ilusi, Aristoteles justru beranggapan bahwa karya seni adalah karya nyata yang dapat diresapi secara sensoris (inderawi). Pendekatan Aristoteles jauh lebih ilmiah dibandingkan dengan pendekatan Plato yang lebih bersifat rasional / intelektual idealis.

Sastra Filsafat seni Aristoteles lebih tingkat selera akan berpengaruh pada pada sastra melalui kajian terhadap drama dan epos pada zamannya. Telaah utamanya adalah pada drama, yaitu ‘komedi’ dan ‘tragedi’. Dia juga banyak menguraikan bentuk epos dan puisi. Aristoteles merinci unsur-unsur drama yang terdiri atas: • Objek imitasi, adalah tingkah laku dan kelakuan manusia (drama, perbuatan).

• Medium imitasi, dapat erupa bahasa, irama dan nada. • Karakteristik imitasi, berupa dialog, narasi, deklamasi dan acting. Dalam drama tragedy, manusia digambarkan lebih baik dari kenyataan sebenarnya, sementara dalam komedi manusia digambarkan lebih buruk dari kenyataan sebenarnya.

Tragedi menggambarkan kesuperioran manusia melebihi kekuatan aslinya. Sedangkan komedi menggambarkan keburukan dan kelemahan manusia. Tragedi memiliki sejumlah unsur utama berupa: • Plot (alur cerita) • Karakter • Pikiran • Bahasa • Musik • Spektakel Aristoteles juga membahas perbedaan sejarah dan sastra.

Sejarah menggambarkan apa yang telah terjadi apa adanya, sedangkan sastra menggambarkan yang mungkin terjadi sehingga sastra lebih bersifat universal/umum, dan lebih mengandung filsafat dibandingkan dengan sejarah yang bersifat fakta dan partikular.

Sehingga dia melihat seni dapat menjadi simbol atau lambing yang maknanya harus ditemukan oleh apresiatornya sendiri: penonton, pembaca atau pemain. Ciri Keindahan Dalam memberikan karakteristik mengenai apa itu yang disebut indah, Aristoteles masih terpengaruhi oleh pemikiran Plato. Keduanya menekankan adanya kesatuan dan harmoni. Terjaringnya keserasian antara berbagai unsur yang disusun/disatukan menjadi fokal utama pada keindahan.

Berikut adalah beberapa ciri keindahan menurut Aristoteles: • Kesatuan atau keutuhan yang dapat menggambarkan kesempurnaan bentuk, tidak ada yang lebih atau kurang. Sesuatu yang pas dan khas. • Harmoni atau keseimbangan antara unsur dan proporsi, sesuai dengan ukuran yang khas. • Kejernihan, segalanya memberikan suatu kesan yang jelas, terang, jernih, murni tanpa ada keraguan. Berbeda dengan Plato, Aristoteles berpendapat bahwa semua keindahan tersebut dapat diapresiai melalui nalar dan pikiran biasa.

Tidak bersifat transendental seperti yang dikatakan Plato. Estetika Menurut St. Agustinus Pemikiran seni Agustinus sering juga disebut neo-platonisme, atau pemikiran platonisme yang baru. Pokok pikiran klasik dari Plato mengenai harmoni, keteraturan dan keutuhan/kesatuan, dan keseimbangan dalam karya seni digunakan oleh Agustinus. Sesuatu yang indah adalah kesatuan objek atau unsur seni yang sesuai dengan pengaturan/prinsip seni sesuai dengan perbandingan/proporsi masing-masing bagiannya.

Ide keindahan Plato dikenakan pada Tuhan/Dewa, sehingga keindahan seni dan alam berhubungan erat dengan agama. Karya seni yang indah adalah karya yan sesuai dengan keteraturan yang ideal dan hanya tingkat selera akan berpengaruh pada diperoleh melalui sinar Ilahi. Karena itulah filsafat Agustinus sering disebut juga iluminasi, yang segala sesuatunya indah karena cahya Ilahi, cahaya terang dari Tuhan.

Dalam karya seni yang baik selalu terdapat kecemerlangan keteraturan dan dengan pemikiran itu Agustinus menolak seni sebagai mimesis. Seni itu transendental, peran cahaya ilahi sangatlah besar.

Agustinus juga tertarik menilai jenis karya fiksi dalam sastra. Menurutnya ada dua jenis cerita fiksi dalam sastra.

Keduanya sebetulnya adalah kebohongan/fiksional, hanya saja ada kebohongan yang tidak bermaksud menipu da nada yang tidak bermaksud menipu. Yang lebih dihargai keindahannya adalah karya fiksi yang meskipun menyampaikan kebohongan tetapi bermaksud baik secara moral dan agama. Estetika Menurut Earl of Shaftesbury Shaftesbury menilai gejala seni sebagai sesuatu yang bersifat transendental.

Keindahan alamiah hanyalah bayang-bayang dari keindahan asal. Terdapat pengaruh pemikiran Plato dalam filsafatnya. pemikiran Plato, yang menilai tinggi adanya ide murni yang abadi dan ditambah dengan berkembangnya aliran agama Puritanisme di Inggris mengakibatkan Shaftesbury berpendapat bahwa interest atau kepentingan pribadi (selera) dalam seni akan menjadi unsur perusak keindahan murni.

Dalam ajaran agama Puritan, hal inderawi manusia menggerakkan berbagai nafsu manusia yang tidak terkendali, dan tingkat selera akan berpengaruh pada.

Ajaran tingkat selera akan berpengaruh pada menyatakan bahwa keinginan pribadi untuk memiliki keindahan secara tetap adalah unsur yang dapat merusak apresiasi seni. Pertimbangan kepentingan pribadi atau berbagai keinginan individu dalam hal praktis ( practical) tidak sejalan dengan apresiasi seni. Bagi para filsuf seni yang yangikuti pemikiran Shaftesbury ini, terdapat tiga tingkat keindahan dalam hidup, yaitu: keindahan tingkat jasmani, tingkat rohani (spiritual) dan tingkat ilahi ( transcendent).

Segala yang indah itu bersifat baik dan teratur. Inilah sebanya ukuran faktor moral menjadi penting dalam nilai seni. Apresiasi seni atau sering disebut faculty of taste bagi mereka mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai hukum moral dan rasa keindahan. Fungsi moral seni tersebut bersifat intelektual karena menyangkut hal-hal yang baik dan buruk. Sementara itu selera keindahan bersifat transendental, karena asalnya turun dari langit (dari atas), ciri khas pemikiran agama samawi.

Keindahan adalah sesuatu yang agung dan hanya dapat ditangkap setelah adanya tindak renungan atau kontemplasi.

Apresiasi atau faculty of taste tersebut harus dilakukan secara ikhlas tanpa pamrih kepentingan pribadi manusia. Estetika Menurut Hutcheson Hutcheson menolak pemikiran Shaftesbury tentang faculty of taste. Selera seni atau keindahan bersifat tunggal, yaitu murni keindahan yang bersifat imanen dan bukan transenden seperti pemikiran Hutcheson atau Plato.

Hutcheson berpendapat bahwa pada diri manusia terdapat kemampuan dasar tingkat selera akan berpengaruh pada bersifat internal dan eksternal.

Kemampuan dasar internal manusia meliputi kemampuan moral, kemampuan kemuliaan, kemampuan solidaritas, kemampuan patriotic dan kemampuan keindahan.

Kemampuan internal manusia bersifat mental yang akan memberikan tanggapan atau reaksi terhadap berbagai objek di luar diri manusia. Hal-hal di luar diri manusia akan mampu menggerakkan kemampuan mental manusia yang internal tersebut, termasuk kemampuan keindahannya. Sementara kemampuan eksternal tingkat selera akan berpengaruh pada diwakili oleh lima indera manusia dalam berhubungan dengan hal-hal di luar dirinya. Kegiatan indera manusia akan memberikan persepsi.

Apabila seseorang menghadapi objek seni di luar dirinya, maka sense of beauty sebagai kodrat internal manusia akan menanggapinya dengan perasaan tenang, damai, harmonis, seimbang, utuh dan bahagia. Dalam menanggapi objek tersebut, kodrat internal maupun eksternal bekerjasama secara simultan sebelum adanya campur tangan peran rasio dan akal intelektual. Karena itu seni selalu bersifat disinterestedness atau tidak memiliki motif tertentu untuk kepentingan individu secara praktis.

Estetika Menurut Alexander Gottlieb Baumgarten Filsuf asal Jerman yang underrated (minor) ini adalah penggagas istilah ‘estetika. Peranannya terhadap bidang filsafat sebetulnya sangat besar, tetapi sering terhitung diabaikan dalam bidang filsafatnya sendiri. Baumgarten berpendapat bahwa objek seni bersifat tingkat selera akan berpengaruh pada.

Seni dimasukkan sebagai bagian dari ilmu keinderawian sehingga sifatnya intelektual. Keberadaan objektif harus sesuai dengan kebenaran estetik. Meskipun demikian, kebenaran estetik terletak pada hal-hal yang tampaknya ‘tidak benar’ dan ‘benar’, yaitu suatu kebenaran yang ‘mungkin’.

Ada kebenaran yang bersifat intelektual da nada kebenaran yang bersifat inderawi. Terdapat kebenaran yang secara inderawi benar, Pengertian Estetika Menurut Immanuel Kant Immanuel Kant adalah filsuf Jerman yang hidup di abad ke-18 dan memulai perubahan drastis di bidang estetika dan teleologi, karena itulah, Kant adalah salah satu figur terpenting untuk bidang estetika. Seperti pemikir ‘Era Pencerahan’ ( Enlightment Age) yang lain, dia memegang teguh kepercayaan bahwa pemikiran manusialah yang memenuhi dunia yang kita alami ini dengan struktur-struktur tertentu.

Dia berpendapat bahwa kemampuan penilaian kitalah yang memungkinkan kita mengalami atau merasakan keindahan dan memahami pengalaman itu sebagai bagian dari dunia yang terstruktur dan teratur dengan tujuan tertentu. Menurut Kant, estetika memiliki pengertian yang luas, tidak saja mengenaikeindahan dan keagungan tetapi juga kesenangan secara umum.

Estetika berfokus pada kesenangan dalam konteks karakteristik subjek yang mengalami kesenangan itu daripada karakter objeknya. Penilaian keindahan menurut Kant bersifat stabil karena esensial dan universal, berbeda dengan kesenangan lain yang bukan keindahan. Immanuel Kant membagi teori estetika menjadi empat bagian, yaitu: teori disinterestedness atau teori tanpa pamrih dalam seni, teori universalitas, teori esensialitas, dan terakhir teori bentuk dan tujuan.

Berikut ini adalah uraian dari masing-masing pembagian teori tersebut. Teori Disinterestedness Karya seni identik dengan keindahan murni tanpa dikotori oleh kepentingan dan keinginan praktis manusia. Menikmati keindahan suatu objek harus dihilangkan dari kepentingan hidup sehari-hari seperti keinginan/hasrat untuk memiliki, menguasai, memantafaatkan apalagi jika kepentingan tersebut memiliki issue yang sensitif seperti: politik, dikte moral, kepercayaan dan kegunaan praktis lainnya.

Penilaian keindahan harus dipisahkan dari keberadaan atau eksistensi objeknya. Keindahan ada pada subjek tertentu, misalnya keindahan pada bunga mawar. Warna merah pada mawar dan bentuk mawar itu sendiri harus dipisahkan dari mawar itu sendiri yang mungkin ingin kita miliki dan manfaatkan. Keindahan warna bunga mawar dan keindahan bentuknya harus dinilai secara terpisah dari keberadaan bunganya sendiri. Teori Universalitas Masih berhubungan dengan teori disinterestedness.

Jika dalam teori tanpa pamrih tadi manusia merisaukan antara kenyataan dan keindahan murni dengan keberadaan objek nyata, maka objek keindahan dan objek benda nyata juga dapat dibedakan. Pada objek keindahan tidak ada lagi kaitan kepentingan personal yang spesifik. Kepentingan spesifik subjektif yang berhubungan dengan karakteristik objeknya tentunya bersifat khusus dan bukan universal karena keindahan itu harus tanpa pamrih, sehingga bersifat universal, lepas dari kepentingan subjek atas karakteristik objek yang bersifat ruang dan waktu.

Kesenangan atas keindahan yang ada pada objek itu berada di luar ruang dan waktu dengan segala kepentingannya.

Dengan demikian kesenangan tersebut bersifat universal, abadi dan berlaku untuk kapan saja dimana saja. Sementara itu, eksistensi objek keindahan itu sendiri dapat dimanfaatkan menurut kepentingan ruang dan waktu manusia. Teori Esensialitas Prinsip ini menegaskan bahwa jika seseorang menilai sesuatu indah, maka dia sedang membicarakan sesuatu yang memberikan kesenangan yang muncul dari kemampuan manusia umumnya.

Mendatangkan kesenangan pada seseorang dapat juga mendatangkan kesenangan bagi orang lain, karena setiap manusia pada suatu titik memiliki kemampuan dasar kesenangan yang sama. Namun kenyataannya tidak begitu, karena kemampuan dasar tersebut meskipun ada pada setiap manusia, perkembangannya tidaklah sama. Setiap penilaian keindahan selalu bersifat tunggal, sehingga tidak pernah ada aturan umum yang dapat diformulasikan dari kumpulan penilaian tunggal yang ada.

Pada dasarnya, pemikiran ini menunjukkan bahwa setiap orang dapat setuju tentang apa yang indah, tetapi kita tidak memperoleh petunjuk bagaimana dapat mendapatkan persetujuan bersama itu ( agreeable). Teori Bentuk Tujuan Jika ketiga teori sebelumnya berkaitan dengan subjek yang mengalami keindahan dan teori keempat mengenai objek keindahan itu sendiri, maka dalam teori ini Kant berpendapat bahwa keindahan yang mendatangkan rasa senang itu muncul dari adanya hubungan bentuk sebagai stimulus keindahan.

Karya seni selalu berupa wujud, suatu bentuk. Setiap bentuk karya seni adalah hasil dari aktivitas manusia yang memiliki tujuan.

Manusia menciptakan karya seni dengan tujuan tertentu. Maka manusia harus dapat membedakan antara tujuan dan penciptaan dan bentuk itu sendiri. Seperti misalnya alam, dianggap bentuk. Alam diciptakan oleh Tuhan dengan suatu tujuan, suatu maksud. Keindahan hanya berurusan dengan bentuk tingkat selera akan berpengaruh pada saja. Hanya bentuk yang mendatangkan keindahan, baik bentuk alam maupun bentuk buatan manusia. Kant berpendapat bahwa kualitas warna atau bunyi bukan bagian dari keindahan, tapi merupakan bagian yang memberikan kesenangan pada manusia.

Manusia harus dapat membedakan antara keindahan bentuk dan elemen visual atu audio yang memberikan rasa senang bagi manusia. Penilaian Estetik Lebih jauh tentang pemisahan objek dan subjek Kant, salah satu pemikiran Immanuel Kant tentang estetika yang paling terkenal adalah ‘Penilaian Estetik’ (Aesthetic Judgment).

Menurut Kant, penilaian estetik adalah sebuah keputusan yang didasarkan pada perasaan, dan khususnya pada perasaan senang (pleasure) atau tidak senang (displeasure). Menurut pandangan Kant ada tiga macam penilaian estetik: • Penilaian sesuatu yang menyenangkan, mudah di tingkat selera akan berpengaruh pada oleh banyak orang/populer (judgments of the agreeable) • Penilaian keindahan (atau penilaian rasa).

• Penilaian keagungan (judgments of the sublime), keindahan yang tidak hanya berfokus pada indah itu sendiri, tetapi memancarkan nilai lain yang menarik. Kant juga sering menggunakan ungkapan ‘Penilaian Estetik’ dalam pengertian yang lebih mengerucut dengan tidak memasukkan ‘Penilaian yang Menyenangkan’. Pertimbangan estetis dalam pengertian mengerucut itulah yang menjadi fokus utama ‘Kritik Penilaian Estetik”. Penilaian tersebut bisa jadi tetap ‘murni’ atau tidak (murni atau ditunggangi kepentingan lain/manfaat praktis); Sementara Kant kebanyakan memusatkan perhatian pemikirannya pada hal-hal yang murni, ada kemungkinan bahwa sebagian penilaian tentang seni yang berlawanan dengan keindahan alam tidak dihitung sebagai sesuatu yang murni.

Catatan itu penting untuk digarisbawahi agar dapat memahami pemikiran Kant mengenai penilaian subjek yang harus dipisahkan dari objeknya. ‘Kritik terhadap Penilaian Estetik’ tidak hanya menyangkut penilalian keindahan dan keagungan, tetapi bersingungan juga dengan cara produksi objek-objek yang membuat keputusan seperti itu dibuat dengan tepat. Pengertian Estetika Menurut Friedrich Schiller Friedrich Schiller berpendapat bahwa filsuf seni seharusnya tidak menempatkan perasaan sebagai subordinasi pikiran.

Perasaan dan pemikiran dapat saling berkoordinasi secara timbal balik. Unsur pemikiran menuntut keutuhan, sedangkan alam memberikan keragaman. Hubungan perasaan dan pikiran dalam seni: Keindahan merupakan objek bagi kita, karena renungan terhadapnya adalah kondisi yan dapat kita rasakan. Tapi, keindahan juga merupakan subjek, karena perasaan adalah kondisi yang memungkinkan kita untuk memperoleh persepsi darinya.

Salah satu pemikiran yang paling menarik dari Schiller adalah pendapatnya mengenai seni berhubungan dengan naluri bermain. Naluri bermain lebih dulu ada pada manusia, bahkan pada binatang.

Naluri bermain bersifat mimesis (meniru) dalam arti menirum alam. Bermain dapat menjadi suasana kebebasan tanpa tujuan praktis, yaitu bermain demi permainan itu sendiri.

Bermain mengarah pada kesenangan dan relaksasi dari berbagai kemampuan dasar manusia.

Ketika bermain, diri dan alam menjadi satu, sehingga alam tidak ada bagi manusia. Manusia menjadi bagian dari alam. Naluri tersebut menjadi dasar estetika, tetapi naluri bermain baru berubah menjadi estetika ketika manusia memisahkan dirinya dengan alam dan merenungkan apa itu alam bagi dirinya. Dalam naluri bermain kekebasan itu kosong tanpa tujuan, sedangkan dalam estetika kekosongan tersebut diisi dengan ekspresi individual yang imajinatif.

Ekspresi individual tersebut didasari oleh unsur intelektual dan moralitas. Melalui kerja intelektual, individu tersebut membangun bentuk. Bentuk terikat pada isi, yang berupa material dan kegunaan praktis, tetapi dalam seni kegunaan praktis itu bersifat memecah kemampuan dasar manusia namun justru perasaan itu juga yang menyatukannya (komplementer / saling mengisi kekurangan masing-masing).

Dari persoalan isi dan bentuk itu Schiller menekankan pentingnya bentuk. Isi bisa saja nihil / kosong, tetapi bentuk adaah segalanya. Dalam bentuk itulah asas permainan ini berlaku. Isi intelektual hanya tingkat selera akan berpengaruh pada menghalangi tercapainya kebebasan dan kesenangan bermain dalam seni.

Keindahan tingkat selera akan berpengaruh pada kehidupan, yaitu bentuk yang hidup. Seniman harus menaklukan alam dalam bentuk, melalui kemampuan intelektual dan moralitasnya tapi bukan demi intelektual atau moralitas itu sendiri. Semuanya demi bentuk yang hidup, bentuk yang estetis / indah. Estetika Menurut Friedrich Schleiermachera Ajaran estetika Schleiermacher menyetujui pendapat Hegel yang meletakkan estetika sebagai bagian kerja filsafat dan filsafat itu sendiri sejajar dengan agama.

Seni dan estetika diletakannya dalam disiplin filsafat etik, sedangkan di lain pihak ada disiplin filsafat dialektik (ontology) dan fisik. Ia membagi aktivitas manusia menjadi dua kategori, yaitu aktivitas identitas atau aktivitas logic yang bersifat umum serta aktivitas individual yang amat beragam.

Schleiermacher juga membagi aktivitas internal dan aktivitas eksternal, yaitu aktivitas imanen dan aktivitas praktis. Seni termasuk dalam aktivitas individual. Seni juga termasuk dalam aktivitas internal. Seni sejati merupakan imaji internal.

Seni adalah kegiatan imanen yang ersifat internal, bukan kegiatan praktis; kegiatan individual, bukan kegiatan logik. Dia memberikan contoh perbedaan antara manusia yang marah dan actor yang memainkan peran orang sedang marah. Marah actor adalah seni karena emosi marah itu telah dibentuk dan dikontrol oleh actor. Kemarahan telah dibentuk oleh individu secara internal dan kemarahan actor bukan kemarahan praktis lagi. Salah satu pendapatnya yang paling menarik adalah mengenai hubungan antara seni dan mimpi.

Dalam mimipi, aneka fakta muncul dan mengalir secara tidak teratur, merupakan suatu kekacauan/ chaos. Dalam seni fakta pun muncul seperti dalam mimpi, hanya aktivitas internal manusia yang dapat mengubah fakta mimpi menjadi seni dengan memberinya susunan, struktur dan bentuk.

Dari bentuk itulah baru muncul berbagai makna. Kebenaran seni pada awalnya muncul dari kesadaran individual. Kesadaran individual, baik dalam perasaan maupun gagasan dan pengelihatan tidak akan menjadi seni jika tidak didasari oleh kesadaran kemanusiaan yang universal. Seni merupakan kesadaran universal, terasa secara universal sebagai kebenaran dan logis secara universal sebagai kebenaran. Nilai moralitasnya juga bersifat universal. Tugas seni menuju ke dua arah dalam hubungannya dengan realitas empiris, yaitu menyajikan kebenaran realitas dan sekaligus menyempurnakan realitas itu.

Realitas empiris lingkungan disempurnakan dalam aspek dan bidangnya masing-masing, seperti moralitas, norma sosial, religi dan lain-lain. Sudah menjadi tugas seniman untuk menyajikan sesuatu yang ideal dalam yang nyata, yang subjektif dalam yang objektif. Estetika Menurut Theodor Fechner Fechner terkenal dengan bukunya yang berjudul Introduction to Aesthetic (1876). Dia dikenal sebagai pakar estetika eksperimental. Disebut demikian karena ia menolak konsep deterministic terhadap objek esensi seni dan keindahan, estetika seperti itu sebagai estetika dari atas.

Ia sendiri menciptakan estetika dari bawah yang lebih mencari kejelasan, bukan sublimitas (keagungan) seni. Ia bekerja secara induktif dengan melakukan berbagai eskperimen estetik. Mengumpulkan data tentang warna yang paling banyak disukai responden, serta alasan mereka menyukai/menyenangi warna tersebut. Ia juga meminta responden memilih dua bentuk atau dua warna dan mengapa mereka memilih bentuk dan warna tersebut.

Hasil yang diperoleh itu kemudian di analisis. Temuannya ini masih diperdebatkan dalam kajian estetika. Temuan eksperimentalnya meliputi masalah hukum dan prinsip estetika seperti kesatuan dalam keberagaman, kejelasan, asosiasi, kontras, konsekuensi, konsiliasi, makna yang benar, prinsip ekonomi, perubahan, pengukuran, dan masih banyak lagi yang lain.

Menurut Gustaf Theodor Fechner makna keindahan berdasarkan eksperimennya, ia tetap kembali pada jawaban spekulatif. Menurutnya ada tiga arti keindahan. • Dalam arti luas bahwa seni adalah segala sesuatu yang menyenangkan secara umum. • Keindahan memberikan kesenangan yang lebih tinggi, tetapi masih bersifat inderawi. • Keindahan sejati tidak hanya menyenangkan, tetapi juga kesenangan yang sesungguhnya, yaitu memiliki nilai-nilai dalam kesenangan tersebut yang didalamnya terkait konsep keindahan dan konsep moral, kebaikan.

Fechner juga mengajukan beberapa prinsip prinsip seni seperti yang dipaparkan dibawah ini. • Seni selalu memilih ide berharga dan menarik utnuk direpresentasikan. • Seni harus mengekspresikan gagasannya dalam bentuk material yang begitu rupa sehingga bentuk setara dengan isi.

• Dari berbagai kemungkinan bentuk ekspresinya, harus dipilih bentuk seni yang paling memberikan kesenangan tertinggi. • Semua unsur bentuknya secara rinci harus diperlakukan begitu rupa sehingga memberikan efek kesenangan yang maksimal. • Tujuan seni adalah memberikan pencapaian kesenangan tertinggi yang mengandung nilai-nilai tertinggi.

Estetika Menurut Virgil Aldrich Apakah sebuah karya seni disikapi oleh penanggap seni seperti orang lain menanggapi karya tersebut? Bagaimana seharusnya hubungan antara karya seni dan penanggap seni? Apakah karya seni menentukan sikap penanggap seni atau sebaliknya? Pertanyaan semacam itulah yang ingin dijawab oleh Aldrich. Apa yang harus dilakukan oleh subjek seni terhadap objek seni sehingga objek seni tersebut menjadi objek estetik?

Disini dari subjek seni dituntut suatu sikap estetik tertentu atau persepsi estetik tertentu, sebelum adanya keyakinan terhadap nilai estetik tertentu dalam objek seni, sehingga sikapnya itu akan membuktikan keyakinannya.

Menurut Aldrich salah jika orang beranggapan hanya ada satu cara dalam menghadapi karya seni. Ada dua cara persepsi, yaitu persepsi estetik ( prehensi) dan persepsi non-estetik ( observasi).

Objek observasi merupakan objek fisik dan objek prehensi disebut sebagai objek estetik. Sementara itu cara menghadirkan, menyusun atau membentuk gambar itu disebut sebagai objek material. Karya seni secara objektif hanyalah objek material. Saat kita mengikapi objek material tersebut estetiklah maka objek material tersebut akan menjadi objek estetik. Sikap seperti itu disebut prehensi oleh Aldrich, sikap estetik yang sesungguhnya. Contoh yang diajukan Aldrich adalah sebuah gambar ambigu yang memiliki dua arti, yaitu gambar sederhana yang sekilas tampak seperti tingkat selera akan berpengaruh pada, tetapi dalam persepsi tertentu juga merupakan gambar itik.

Jadi, gambar tersebut dapat dilihat atau disikapi sebagai gambar itik atau gambar kelinci. Yang mana yang benar? Tergantung pada cara pemandang menyikapinya, tidak ada yang salah. Contoh yang diajukan Aldrich: Sebuah gambar ambigu yang memiliki dua arti; bebek atau kelinci Jika sikap estetik kita mengara kepada objek seni sebagai gambar kelinci (objek estetik), maka gambar bebek menjadi objek fisik.

Sebaliknya jika persepsi estetik kita pada objek material itu sebagai gambar bebek, maka gambar kelinci menjadi objek fisik. Estetika Menurut Collingwood Collingwood terkemuka melalui bukunya yang berjudul The Principles of Art, Isinya adalah telaah Collingwood mengenai hubungan antara seni dan craft (kerajinan), yang secara prinsip berbeda.

Collingwood menyangkal bahwa seni dan kerajinan sebagai dua spesies yang berasal dari genus tunggal. Tidak ada karakteristik esensial yang mendasari keduanya. Menurutnya kerajinan adalah aktivitas yang mengubah material mentah dengan keterampilan yang dapat dipelajari sehingga menjadi produk yang telah ditetapkan sebelumnya.

Karakterisik kerajinan adalah adanya hubungan antara alat dan tujuan ini. Keterampilan membuat sepatu kulit adalah alat untuk menghasilkan suatu tujuan, yaitu sepatu yang telah dirancang sebelumnya dan dapat dibuat cetak biru/spesifikasinya. Kerajinan dan tingkat selera akan berpengaruh pada bisa bersifat komplementer, sehingga substansi benda yang sama dapat menjadi sebuah karya kerajinan dan seni di pihak yang lain. Seniman harus memiliki keterampilan yang menghasilkan kerajinan terlebih dahulu, barulah dia mulai berkembang, bisa sekedar menjadi tukang (artisan) atau menjadi seniman.

Collingwood membedakan antara seni sejati ( proper art) dan seni gadungan yang dinamakannya sebagai seni hiburan. ‘Jika sebuah artefak didesain untuk mencetuskan emosi tertentu dan jika emosi ini dimaksudkan bukan untuk penuangan ke dalam okupasi kehidupan biasa melainkan untuk kegembiraan sebagai sesuatu yang bernilai, maka fungsi artefak tersebut adalah menyenangkan dan menghibur’ katanya.

Ke dalam seni hiburan ini dia juga memasukan beberapa jenis seni yang lain yaitu: seni magis dan seni religius. Seni hiburan maupun seni magis dimaksudkan untuk mencetuskan emosi yang dicetuskannya. Emobis membangkitkan rasa cinta tanah air dalam sebuah patung atau lukisan adalah sejenis dengan emosi yang dicetuskan dalam seni hiburan yang tidak nyata. Seni hiburan dan seni magis keduanya hanya kerajinan karena didesain untuk mencetuskan emosi spesifik yang telah ditetapkan sebelumnya oleh seniman; menghibur.

Ekspresi Seni Salah satu pemikiran Collingwood mengenai seni adalah teori ekspresi seni. Ekspresi emosi dapat diwujudkan dalam beberapa cara. Ekspresi yang umum dalam kehidupan sehari-hari terjadi secara alami dan tidak terkontrol. Untuk mengekspresikan marah, wajah bisa memerah atau ekspresi ketakuan dapat menyebabkan wajah pucat. Namun semua itu di luar kenali subjeknya.

Ekspresi dalam seni adalah adanya kendali dan kesadaran mengendalikan emosi. Ekspresi emosi yang dikendalikan secara sadar adalah bahasa dan seni adalah semacam bahasa. Pengekspresian emosi yang merupakan seni sesungguhnya semuanya mengarah pada hal yang sama, yaitu ekspresi, seni dan bahasa. Penilaian Seni Mengenai penilaian seni yang baik dan jelek ia menyatakan, ‘Definisi substansi tertentu apapun adalah merupakan definisi substansi yang baik semacam itu…’.

Karya seni yang jelek, menurutnya adalah sebuah aktivitas yang membuat seniman mencoba mengekspresikan emosi tertentu, namun gagal.

Tetapi sebuah lukisan yang jelek pertama-tama harus berupa lukisan. Lukisan yang jelek tidak berarti bukan lukisan sama sekali. Lukisan yang jelek telah memenuhi persyaratan seni, tetapi gagal dalam beberapa aspeknya. Estetika Menurut George Dickie Karya seni dalam pengertian klasifikasi adalah sebuah karya dalam pengertian evaluasi.

Jadi, sesuatu disebut mengandung atau tidak mengandung nilai seni tergantung pada adanya suatu evaluasi nilai. Sebuah karya seni dalam pengertian kualifikasi adalah sebuah artefak. Beberapa orang yang bertindak atas nama institusi sosial tertentu memberikan kandidat status untuk apresiasi.

Evaluasi suatu institusi dalam masyarakatlah yang memberikan status pada sesuatu sebagai berstatus seni atau tidak. Pandangan pemberian status ini memang cukup kabur, karena institusi seni juga tidak jelas. Institusi seni idak didukurng oleh persyaratan legal. Institusi seni adalah semua orang yang memandang dirinya sebagai anggota dunia seni dan karenanya memiliki kapasitas untuk memberikan status.

Teori institusi seni menyadari bahwa dirinya harus selalu mempertimbangkan praktek dunia seni. Institusi tingkat selera akan berpengaruh pada harus selalu diperhatikan bahwa syarat menjadi sebuah karya seni dalam pengertian klasifikasi tidak berarti karya tersebut memiliki nilai aktual. Keputusan bahwa sebuah karya menjadi karya seni secara institusional juga mempertimbangkan latar belakang institusinya. Suatu karya mungkin diakui bernilai seni dalam satu lingkungan institusi, namun ditolak oleh institusi yang lain.

Sebuah intitusi seni bisa mengatakan sebuah karya seni adalah sebuah objek yang membuat seseorang mengatakan bahwa ini adalah karya seni. Skeptikal karena tampaknya sembarangan, tetapi insitusi semacam ini mempertaruhkan semua martabat dirinya untuk menyatakannya demikian. Jika suatu institusi secara sembarangan mengatakan sebuah artefak sebuah karya seni, institusi tersebut akan mendapatkan kehilangan kepercayaan.

Simpulan Pemikiran estetika berawal dari kecintaan manusia terhadap keindahan yang melekat pada bendanya sendiri hingga menuju sisi diluar benda itu sendiri; rohaniah. Perkembangannya juga cenderung selalu membedakan antara seni murni dan seni terapan, walaupun filsuf kontemporer juga menemukan irisan tengahnya dan kita tidak dapat dengan serta merta membuat dikotomi yang membedakan seni rendah dan seni tinggi.

Keindahan juga akhirnya ditemukan tidak memiliki patokan tertentu seperti seorang wanita yang cantik tidak selalu harus putih dan berhidung mancung, walaupun pandangan tersebut adalah pandangan yang agreeable untuk kebanyakan orang. Sisi ekstrinsik estetika sendirilah yang menyebabkan stereotype tersebut hingga kehidupan sosial manusia sempat terusik oleh berbagai issue sosial seperti rasisme dan pandangan sebelah mata terhadap bentuk tertentu.

Pencarian estetika di era kontemporer ini bisa dibilang masih berujung pada issue sosial, seperti pemikiran George Dickie mengenai institusi sosial. Seni seolah beralih dari objek intrinsiknya sendiri menjadi sebuah konsep yang terikat pada medannya sendiri, artefak hanyalah jasad yang mewakilinya.

Walaupun begitu bukan berarti pemikiran seperti itu menjadi yang paling benar, tetapi hanya menambah catatan baru untuk kita kembangkan atau mungkin kita bantah melalui pemikiran maupun karya yang baru.

Referensi • Sumardjo, Jakob. 2000. Tingkat selera akan berpengaruh pada Seni. Bandung: Penerbit ITB. • Gie, Liang. 1976. Garis Besar Estetik, Filsafat Keindahan. Yogyakarta: Penerbit Kaya. • Burnham, Douglas. 1997. Immanuel Kant: Aesthetics. Internet Encyclopedia of Philosophy, Diakses tanggal 2018-02-28, https://www.iep.utm.edu/kantaest/#H2 Artikel Terkait Batalkan balasan Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ruas yang wajib ditandai * Komentar * Nama * Email * Simpan nama, email, dan situs web saya pada peramban ini untuk komentar saya berikutnya. Beritahu saya akan tindak lanjut komentar melalui surel. Beritahu saya akan tulisan baru melalui surel. • Forecasting/Peramalan : Pengertian, Faktor, Metode, Langkah, dsb • Pengambilan Keputusan : Pengertian, Jenis, Teori, Proses, dsb • Fungsi Komunikasi dalam Manajemen • Motivasi/Motivation dalam Manajemen (Teori-Praktik) • Directing (Pengarahan) – Pengertian, Prinsip-Prinsip & Jenis • Controlling, Pengendalian, atau Pengawasan & Evaluasi Trending • Model Pembelajaran Discovery Learning: Pembahasan Lengkap Semua Kategori • Aliran Seni Rupa (13) • Bahasa Indonesia (75) • Biografi (8) • Budaya (4) • Desain (20) • Filsafat (8) • Fundamental Seni (15) • Ilmu Pengetahuan Alam (33) • Ilmu Pengetahuan Sosial (37) • Informatika (29) • Inspirasi (21) • Linguistik (10) • Manajemen (13) • Metode Penelitian (11) • Pendidikan (73) • Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (37) • Prakarya dan Kewirausahaan (19) • Praktik Seni (10) • Sastra (33) • Sejarah (16) • Sejarah Seni (25) • Seniman Indonesia (5) • Seniman Mancanegara (3) • Teori Seni (86) Langganan
Konsumsi adalah istilah dari bahasa Inggris yaitu ”Consumption”.

Arti dari kata ini adalah pemenuhan akan makanan dan minuman. Sedangkan arti luas Konsumsi adalah seluruh pembelian barang dan jasa akhir yang dikonsumsi oleh rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan. Selain itu, menurut para ahli dalam hal ini dari T Gilarso (2003:89) yang menyampaikan bahwa konsumsi ialah titik pangkal dan tujuan akhir seluruh kegiatan ekonomi masyarakat.

Sedangkan apabila merujuk dari Kamus Besar Ekonomi, yang dimaksud dengan konsumsi adalah tindakan manusia baik secara langsung/tak langsung untuk menghabiskan/mengurangi kegunaan (utility) suatu benda pada pemuasan terakhir dari kebutuhannya. Bisa juga konsumsi didefinisikan sebagai pembelanjaan barang dan jasa oleh rumah tangga. Ini bisa saja berupa barang yang tahan lama, kendaraan dan perlengkapan dan barang tidak tahan lama contohnya makanan dan pakaian. Jasa yang mencakup barang yang tidak berwujud konkrit, khususnya adalah pendidikan.

Melalui hal itu, maka bisa disimpulkan bahwa konsumsi adalah sebagai kegiatan pembelian barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan akan makanan dan minuman rumah tangga konsumen. Banyaknya konsumsi yang dibutuhkan oleh suatu daerah bergantung dari banyaknya warga yang menaungi daerah tersebut, apalagi suatu negara seperti halnya Indonesia yang daerah terbentang dari sabang sampai merauke.

Walaupun masyarakat Indonesia yang banyak, tidak menjadikan otomatis bahwa tingkat konsumsi rakyat Indonesia besar. Sebab terdapat indikator kesejahteran daerah di Indonesia salah satunya adalah rendahnya angka kemiskinan. Melihat Indonesia, apabila angka kemiskinan rendah maka akan membuat pola konsumsi masyarakat semakin tinggi, namun apabila tidak maka pola konsumsi pun rendah.

Menganalisis Indonesia yang masih dikategorikan sebagai negara berkembang, maka masih terdapat beberapa rakyat Indonesia yang memiliki pola konsumsi kurang baik. Selain itu masih banyak lagi instrument atau metode yang bisa dipakai dalam memahami pola konsumsi yang begitu penting ini. Pentingnya mengetahui pola konsumsi seseorang atau masyarakat membuat pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang sesuai agar masyarakat tidak dirugikan dan dapat menekan angka kemiskinan.

Pada teorinya kemiskinan berhubungan negatif dengan pola konsumsi, artinya semakin tinggi angka kemiskinan akan berpengaruh negatif pada kemampuan konsumen atau rumah tangga untuk mengkonsumsi komoditas.

Maka dari itu, yang menjadi utama pemerintah tiada lain dan tiada bukan untuk menekan secara masif angka kemiskinan dengan beragam kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masyarakat luas. Pentingnya pola konsumsi juga banyak dijelaskan oleh Al-Qur’an, salah satunya yang tercantum dalam surat Al-A’raf ayat 31, yang artinya Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Daftar Isi • 1 Faktor Yang Mempengaruhi Pola Konsumsi • 1.1 1. Tingkat Pendapatan Masyarakat • 1.2 2. Selera Konsumen • 1.3 3. Harga Barang • 1.4 4. Tingkat Pendidikan Masyarakat • 1.5 5. Jumlah Keluarga • 1.6 6. Lingkungan Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat selera akan berpengaruh pada Konsumsi Banyak faktor-faktor yang mempengaruh pola konsumsi rumah tangga atau masyarakat. Diantaranya adalah variabel Pendapatan, Pendidikan dan Lingkungan tempat tinggal.

Pendapatan memegang peranan penting dalam menentukan pola konsumsi individu, rumah tangga, masyarakat dan pemerintah. Lebih terperinci soal faktor-faktor yang mempengaruhi pola konsumsi hal itu diungkapkan oleh Hattas (2011). Menurut para ahli ini yang memaparkan terdapat 6 faktor pola konsumsi yaitu 6 Faktor Yang Mempengaruhi Pola Konsumsi 1. Tingkat Pendapatan Masyarakat Hal ini bisa menjadi faktor utama yang mempengaruhi pola konsumsi seseorang, sebab tingkat pendapatan dipakai 2 tujuan yaitu tabungan dan konsumsi.

Dengan besarnya pendapat yang diterima oleh seseorang, maka tidak menutup kemungkinan juga mempengaruh pola konsumsi masyarakat. Sehingga dalam artian ketika semakin besar tingkat pendapatan seseorang, maka hal itu akan diikuti juga dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Sebaliknya ketika pendapatan rendah, maka hasil yang didapatkan kecil. 2. Selera Konsumen Setiap orang mempunyai keinginan yang berbeda dan ini bisa memengaruhi pola konsumsi.

Sebab setiap konsumen pasti akan memilih satu jenis barang yang dipakai dibandingkan dengan jenis barang yang lainnya. 3. Harga Barang Apa bila haga barang mengalami kenaikan, maka konsumsi barang itu akan mengalami penurunan.

Sebaliknya ketika harga, barang itu ternyata mengalami penurunan, maka konsumsi barang yang terjadi adalah barang akan mengalami kenaikan. 4. Tingkat Pendidikan Masyarakat Dengan tingginya rendahnya pendidikan masyarakat bisa saja ikut dalam mempengaruhi terhadap perilaku, sikap dan kebutuhan pada konsumsinya. 5. Jumlah Keluarga Besar kecilnya jumlah keluarga akan bisa memengaruhi pola konsumsinya.

6. Lingkungan Keadaan sekeliling dan kebiasaan lingkungan akan memengaruhi perilaku konsumsi pangan masyarakat setempat. Apabila lingkungan tersebut baik, maka tingkat selera akan berpengaruh pada kesuburan disekitarnya semakin baik, yang bisa mempengaruhi tingkat konsumsi pangan yang tinggi, begitupula sebaliknya.

Demikianlah informasi mengenai 6 Faktor Yang Mempengaruhi Pola Konsumsi. Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Sekian dan terima kasih.

Salam berbagi teman-teman. Recent Posts • Pengertian Kewirausahaan Menurut Agama islam Adalah? Ini Jawabannya • Pengertian Slogan, Ciri, Fungsi, Macam-Macam, Contoh, Metode Menulis Slogan tingkat selera akan berpengaruh pada Arti Slogan Menurut Ahli • Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Institusi Pemerintahan • Pengertian Sepak Bola, Teknik, Tujuan, Sejarah & Aturan Permainan Sepak Bola • Karakteristik & 4 Contoh Teks Monolog Singkat Tentang Ibu dan Ayah
Keadaan ekonomi yang sedang tidak stabil menjadi salah satu aspek paling utama yang berdampak kepada konsumsi yang juga belakang ini tidak stabil, karena kebutuhan yang banyak ditambah lagi adanya pandemi COVID-19.

Tingkat selera akan berpengaruh pada kita mengetahui bahwa konsumsi sendiri adalah salah satu kegiatan manusia untuk mengurangi atau menghabiskan nilai guna sebuah barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan. Hal tersebut biasanya dilakukan oleh setiap orang dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya secara langsung. Setiap barang atau jasa yang dikonsumsi setiap orang juga berbeda-beda.

Perbedaannya juga dapat terletak pada jumlah, jenis serta kualitasnya. Karena itu untuk mengetahui lebih jelasnya, kita akan membahas apa saja faktor yang mempengaruhi konsumsi, besar kecilnya konsumsi yang dilakukan seseorang.

Faktor yang Tingkat selera akan berpengaruh pada Konsumsi • Pendapatan Berbicara mengenai faktor yang mempengaruhi konsumsi, pendapatan adalah hal yang paling mempengaruhi. Karena semakin besar pendapatan yang diterima oleh seseorang, maka akan semakin besar pula daya belinya. Namun, sebaliknya jika pendapatan seseorang semakin kecil, maka akan semakin kecil juga kemampuan membeli atau menggunakan jasanya.

Selain itu pendapatan yang mungkin diterima di masa mendatang, pendapatan tertinggi yang pernah dicapai pada masa lampau hingga tingkat bunga juga termasuk di dalamnya.

Untuk tingkat bunga ini khususnya mereka yang mempercayai bahwa naiknya suku bunga dapat mendorong tabungan dan mengurangi konsumsi. Padahal kenyataannya sebaliknya, naiknya tingkat bunga tentu juga akan meningkatkan konsumsinya.

• Harga Barang dan Jasa Harga barang akan memiliki pengaruh terhadap besar kecilnya konsumsi seseorang. Ya, apabila harga barang meningkat, biasanya mereka akan memperkecil konsumsinya. Namun, apabila harga sedang turun sudah pastinya mereka akan mengoptimalkannya dengan memperbesar konsumsinya. Tetapi perubahan harga barang ini tidak berlaku untuk barang serta kebutuhan pokok pada umumnya yang selalu dapat dibeli dalam jumlah yang relatif tetap, walaupun harga mengalami perubahan.

• Adat Istiadat dan Kebiasaan Konsumen Di Indonesia adat istiadat dijunjung setinggi mungkin demi menghormati para pendahulunya. Karena itu juga adat istiadat maupun kebiasaan ini sangat berpengaruh terhadap seseorang. Seperti contohnya, salah satu adat istiadat yang biasa dilakukan seperti untuk upacara ritual yang menggunakan bahan-bahan makanan tentu akan sangat berpengaruh terhadap konsumsi.

Lalu, kebiasaan masyarakat yang sering melakukan pesta dan berkumpul bersama-sama tentu tingkat konsumsinya akan meningkat dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut. • Barang Pengganti Barang pengganti atau yang juga dikenal barang subtitusi ini juga akan mempengaruhi tingkat konsumsi masyarakat. Apabila terdapat barang yang dapat menggantikan fungsi suatu barang yang tingkat selera akan berpengaruh pada seseorang dengan harga yang lebih murah, maka barang tersebut dapat mempengaruhi tingkat konsumsi seseorang.

Contoh, makanan yang sudah memiliki franchise tentu memiliki harga yang mahal sedangkan banyak makanan yang tidak jauh berbeda namun tidak memiliki franchise harganya lebih murah, maka dari itu orang membeli makanan yang lebih murah dengan rasa yang tidak jauh berbeda. • Jumlah Penduduk Besar atau banyaknya jumlah penduduk, akan berpengaruh kepada pengeluaran konsumsi dari suatu masyarakat. Suatu perekonomian yang memiliki penduduknya lebih banyak, pengeluaran dari konsumsinya pun akan lebih tingkat selera akan berpengaruh pada dibandingkan dengan yang perekonomian yang jumlahnya sedikit, meskipun pendapatan nasional dari kedua masyarakat tersebut sama besarnya.

• Banyaknya Barang yang Dikonsumsi Pada umumnya pengeluaran dari masyarakat untuk konsumsi ini dipengaruhi oleh banyak sedikitnya “Consumer Durable” dimana barang konsumsi terpakai lama seperti halnya rumah, kendaraan, lemari es dan sebagainya. Karena itu pengaruhnya kamu dapat mengurangi pengeluaran konsumsi tersebut seperti dengan memiliki sebuah televisi, maka acara seperti menonton bioskop dapat berkurang.

Lalu, menambah pengeluaran konsumsi misalnya dengan membeli sebuah kendaraan dengan hal itu acara pergi keluar kota akan semakin sering. Akibatnya pengeluaran bertambah besar untuk membeli bensin, oli, reparasi dan sebagainya. Baca juga: Ini 3 Penyebab Mengapa Daya Beli Menurun • Dugaan Masyarakat Terhadap Perubahan Harga Pada kenyataannya harga barang dan jasa tidaklah cukup stabil.

Kalau memang diperkirakan harga akan meningkat, maka masyarakat ada tendensi untuk sesegera mungkin menggunakan uangnya untuk membeli barang serta jasa sekalipun pendapatan masyarakat tersebut tidaklah berubah. Dengan demikian fungsi dari konsumsi akan bergeser ke atas dan sebaliknya apabila harga barang dan jasa diperkirakan akan turun. • Selera Diantara orang-orang yang memiliki usia yang tidak jauh berbeda, namun dengan pengeluaran konsumsinya berbeda, karena perbedaan dari sikap penggunaan dari keuangannya dan selera masyarakat dalam berkonsumsi.

Apabila masyarakat memiliki selera yang menurun dalam konsumsi, maka sudah pasti tingkat konsumsi juga akan menurun.

Sebaliknya apabila selera konsumsi masyarakat meningkat, maka akan meningkat pula juga konsumsinya. Jadi, sekarang sudah mengerti kan apa saja faktor yang mempengaruhi konsumsi? Yuk mulai sekarang pastikan mengkonsumsi segalanya dengan lebih bijak sesuai dengan kebutuhan sehingga tidak menyebabkan kehabisan stok barang dan jasa. Kembangkan Dana Sekaligus Berikan Kontribusi Untuk Ekonomi Nasional dengan Melakukan Pendanaan Untuk UKM Bersama Akseleran!

Bagi kamu yang ingin membantu mengembangkan usaha kecil dan menengah di Indonesia, P2P Lending dari Akseleran adalah tempatnya. Akseleran menawarkan kesempatan pengembangan dana yang optimal dengan bunga rata-rata 12% per tahun dan menggunakan proteksi asuransi 99% dari pokok pinjaman. Tentunya, semua itu dapat kamu mulai hanya dengan Rp100 ribu saja.

Yuk! Gunakan kode promo BLOG100 saat mendaftar untuk memulai pengembangan dana tingkat selera akan berpengaruh pada bersama Akseleran.

Untuk syarat dan ketentuan dapat menghubungi (021) 5091-6006 atau email ke [email protected] Categories • Belajar Investasi 902 • Berita Bisnis 829 • Featured 741 • Infografis 34 • Kabar Akseleran 178 • Kisah Inspiratif 194 • Lifestyle 331 • Tips Bisnis (1,208) Archives • May 2022 (7) • April 2022 (65) • March 2022 (80) • February 2022 (58) • January 2022 (79) • December 2021 (32) • November 2021 (37) • Tingkat selera akan berpengaruh pada 2021 (69) • September 2021 (72) • August 2021 (46) • July 2021 (52) • June 2021 (71) • May 2021 (53) • April 2021 (65) • March 2021 (74) • February 2021 (65) • January 2021 (53) • December 2020 (57) • November 2020 (68) • October 2020 (84) • September 2020 (70) • August 2020 (85) • July 2020 (81) • June 2020 (80) • May 2020 (58) • April 2020 (50) • March 2020 (58) • February 2020 (50) • January 2020 (31) • December 2019 (20) • November 2019 (16) • October 2019 (18) • September 2019 (24) • August 2019 (27) • July 2019 (32) • June 2019 (14) • May 2019 (14) • April 2019 (12) • March 2019 (15) • February 2019 (15) • January 2019 (11) • December 2018 (4) • November 2018 (8) • October 2018 (12) • September 2018 (14) • August 2018 (10) • June 2018 (2) • May 2018 (1) • April 2018 (4) • March 2018 (5) • February 2018 (2) • January 2018 (4) • December 2017 (10) • November 2017 (8) • September 2017 (7) • August 2017 (7) • July 2017 (2) • June 2017 (3) • May 2017 (1) • April 2017 (1) • March 2017 (1) • December 2016 (1)

HUKUM PERMINTAAN DAN PENAWARAN




2022 charcuterie-iller.com