Jelaskan sekte yang muncul pertama kali

Jawaban: Dalam sosiologi agama, sekte umumnya adalah sebuah kelompok keagamaan atau politik yang memisahkan diri dari kelompok yang lebih besar, biasanya karena pertikaian tentang masalah-masalah doktriner.

Dalam sejarah, penggunaannya di lingkungan agama Kristen mengandung konotasi penghinaan dan biasanya merujuk kepada suatu gerakan yang menganut keyakinan atau ajaran yang sesat dan yang sering kali menyimpang dari ajaran dan praktik ortodoks.[1] Dalam konteks India, sekte merujuk kepada suatu tradisi yang Penjelasan: maap kalo salah unit 18.

Pada sore hari, Alif dan teman-temannya bermain sepak bola di lapangan. Saat sedar bermain, tanpa sengaja Alif jelaskan sekte yang muncul pertama kali tubuh Ahmad hingga … terjatuh. Awalnya Ahmad marah pada Ali. Namun Ali segera membantu Ahmad bangun sambil mengucapkan istig meminta maaf pada Ahmad. Akhirnya Ahmad tersenyum dan memaafkan Alif. Dari cerita di atas, hikmah yang dapat kita ambil dari kalimat istighfar adalah.​ • Aragonés • العربية • مصرى • Asturianu • Azərbaycanca • Български • বাংলা • Bosanski • Català • کوردی • Čeština • Dansk • Deutsch • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Français • עברית • हिन्दी • Hrvatski • Magyar • Italiano • 日本語 • ქართული • Қазақша • Кыргызча • Latina • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • മലയാളം • Bahasa Melayu • Nederlands • Norsk bokmål • Polski • پنجابی • Português • Română • Русский • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • Simple English • Slovenčina • Shqip • Српски / srpski • Svenska • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Türkçe • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • 吴语 • 中文 • l • b • s Khawārij ( Arab: خوارج baca Khowaarij, secara harfiah berarti "Mereka yang Keluar") ialah istilah umum yang mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya.

Disebut Khowarij disebabkan karena keluarnya mereka dari dinul Islam dan pemimpin kaum muslimin. [1] Awal keluarnya mereka dari pemimpin kaum muslimin yaitu pada zaman khalifah Ali bin Abi Thalib ketika terjadi (musyawarah) dua utusan. Mereka berkumpul disuatu tempat yang disebut Khoruro (satu tempat di daerah Kufah). Oleh sebab itulah mereka juga disebut Al Khoruriyyah. [2] Dalam mengajak umat mengikuti garis pemikiran mereka, kaum Khawarij sering menggunakan kekerasan dan pertumpahan darah.

[ butuh rujukan] Daftar isi • 1 Terminologi • 2 Perkembangan • 3 Ajaran • 4 Tokoh jelaskan sekte yang muncul pertama kali • 5 Sekte • 6 Referensi • 7 Rujukan Terminologi [ sunting - sunting sumber ] Kata Khawarij dalam terminologi ilmu kalam adalah suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang kemudian keluar dan meninggalkan barisan karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase (tahkim), dalam perang Shiffin pada tahun 37/648 Masehi dengan kelompok Muawiyah bin Abu Sufyan perihal persengketaan khalifah.

[ butuh rujukan] Sumber pemikiran, sifat dan karakter Khawarij awalnya dari seseorang yang bernama Dzul Khuwaishirah dari Bani Tamim. [3] [4] Awalnya dia telah menuduh Rasulullah Muhammad ﷺ tidak adil dalam pembagian harta rampasan perang, ucapannya membuat Umar bin Khattab atau Khalid bin Walid [5] [6] [7] hendak memenggal lehernya, akan tetapi dicegah oleh Rasulullah Muhammad ﷺ.

Ciri khas Khawarij lainnya adalah mengkafirkan pemerintah kaum muslimin dan orang-orang yang bersama pemerintah tersebut (karena melakukan dosa-dosa besar), memberontak kepada pemerintah kaum muslimin, menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Dalam riwayat lain disebutkan, "Sesungguhnya akan lahir dari orang ini suatu kaum yang membaca Al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati kerongkongannya, mereka membunuh orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala.

Mereka terlepas dari Islam sebagaimana anak jelaskan sekte yang muncul pertama kali yang terlepas dari busurnya. Kalau aku menjumpai mereka sungguh akan aku perangi mereka sebagaimana memerangi kaum ‘Ad.” [8] Perkembangan [ sunting - sunting sumber ] Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan.

Bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar. Kemudian perkembangan gerakan Khawarij membesar pertama kali muncul pada pertengahan abad ke-7, terpusat di daerah yang kini ada di Irak selatan, disuatu tempat yang disebut Khouro, Kuffah.

Khawarij merupakan bentuk yang berbeda dari Sunni dan Syi’ah. Gerakan ini berakar sejak zaman Khalifah Utsman bin Affan dibunuh, dan kaum Muslimin kemudian mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah.

Ketika itu, kaum Muslimin mengalami kekosongan kepemimpinan selama beberapa hari. Setelah Utsman bin Affan dibunuh oleh orang-orang yang membencinya, kaum muslimin mengangkat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, setelah beberapa hari kaum muslimin hidup tanpa seorang khalifah. Kabar kematian 'Ustman kemudian terdengar oleh Mu'awiyyah, yang mana dia masih memiliki hubungan kekerabatan dengan 'Ustman bin Affan.

Sesuai dengan syariat Islam, Mu'awiyyah berhak menuntut balas atas kematian 'Ustman. Mendengar berita ini, orang-orang Khawarij pun ketakutan, kemudian menyusup ke pasukan Ali bin Abi Thalib. Mu'awiyyah berpendapat bahwa semua orang yang terlibat dalam pembunuhan 'Ustman harus dibunuh, sedangkan Ali berpendapat yang dibunuh hanya yang membunuh 'Ustman saja karena tidak semua yang terlibat pembunuhan diketahui identitasnya.

Akhirnya terjadilah perang shiffin karena perbedaan dua pendapat tadi. Kemudian masing-masing pihak mengirim utusan untuk berunding, dan terjadilah perdamaian antara kedua belah pihak.

Melihat hal ini, orang-orang khawarijpun menunjukkan jati dirinya dengan keluar dari pasukan Ali bin abi Thalib. Mereka (Khawarij) merencanakan untuk membunuh Mu'awiyyah bin Abi Sufyan dan Ali bin Abi Thalib, tetapi yang berhasil mereka bunuh hanya Ali bin Abi Thalib.

Ajaran [ sunting - sunting sumber ] Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Bantu perbaiki artikel ini dengan jelaskan sekte yang muncul pertama kali referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar.

Secara umum, ajaran-ajaran pokok golongan ini adalah: • Khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam. • Khalifah tidak harus berasal dari keturunan suatu suku, bangsa atau keturunan Rasulullah Muhammad ﷺ (bangsa Arab) saja, bahkan dari kalangan mana saja.

Dengan demikian setiap orang muslim berhak menjadi khalifah apabila sudah memenuhi syarat. • Khalifah dipilih secara permanen selama yang bersangkutan bersikap adil dan menjalankan syari’at Islam.

Ia harus dijatuhkan bahkan dibunuh kalau melakukan kezaliman. • Khalifah sebelum Ali ( Abu Bakar, Umar, Utsman) adalah sah, tetapi setelah tahun ketujuh dari masa kekhalifahannya Utsman dianggap telah menyeleweng. • Khalifah Ali adalah sah tetapi setelah terjadi arbitrase ( tahkim), ia dianggap telah menyeleweng. • Mengharuskan seorang khalifah berbuat adil dan menetapi syariat Islam. • Khalifah yang dianggap telah menyimpang dari syariat Islam wajib diturunkan, bila perlu secara paksa dan dibunuh.

• Melakukan pemberontakan kepada Khalifah yang mereka anggap dzalim dan tidak adil. • Muawiyah dan Amru bin Ash serta Abu Musa Al-Asy'ari juga dianggap menyeleweng dan telah menjadi kafir.

• Pasukan perang Jamal yaitu Aisyah, Thalhah, dan Zubair yang melawan Ali adalah kafir. • Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim dan dia bisa disebut kafir, sehingga harus dibunuh. Yang sangat anarkis (kacau) lagi, mereka menganggap bahwa seorang muslim dapat menjadi kafir apabila ia tidak mau membunuh muslim lain yang telah dianggap kafir dengan risiko ia menanggung beban harus dilenyapkan pula.

• Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka. Bila tidak mau bergabung, ia wajib diperangi karena hidup dalam Dar al-Harb (negara musuh), sedang golongan mereka sendiri dianggap berada dalam Dar al-Islam (Negara Islam).

• Seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng. • Adanya wa’ad dan wa’id (orang yang baik harus masuk surga, sedangkan orang yang jahat harus masuk ke dalam neraka). • Memalingkan ayat-ayat Al-quran yang tampak mutasabihat (samar). • Quran adalah makhluk. • Membolehkan membunuh golongan di luar kelompoknya. Aliran Khawarij dalam perkembangan selanjutnya pecah lagi menjadi beberapa sekte dari yang paling keras adalah sekte Azariqah di bawah pimpinan Nafi Ibnu Azraq.

Golongan ini berpendapat bahwa orang-orang Islam yang tidak sefaham dengan mereka adalah kafir dan akan kekal selama-lamanya dalam neraka, walaupun ia meninggal ketika masih anak-anak. Termasuk dalam sekte ini adalah Abdurrahman bin Muljam yang membunuh Khalifah Ali ketika sedang sholat Subuh di Kufah. Ada juga sekte yang lebih lunak seperti kelompok Najdah Ibnu Amir Al-Hanafi dari Yamamah, kelompok Ziad Ibnu Asfar. Sedangkan yang paling lunak adalah sekte Ibadiah pimpinan Abdullah bin Ibad yang tidak sampai mengkafirkan dan masih menganggap Islam kelompok di luar mereka.

Tokoh utama [ sunting - sunting sumber ] Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi jelaskan sekte yang muncul pertama kali layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar.

Tokoh-tokoh utama Khawarij antara lain: • Urwah bin Hudair • Mustarid bin Sa'ad • Hausarah al-Asadi • Quraib bin Maruah • Nafi' bin al-Azraq • 'Abdullah bin Basyir • Nasyiruddin al-albani Sekte [ sunting - sunting sumber ] Bab atau bagian ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan.

Bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Bab atau bagian ini akan dihapus bila tidak tersedia referensi ke sumber tepercaya dalam bentuk catatan kaki atau pranala luar. Akibat perbedaan pendapat di antara tokoh-tokohnya, Khawarij terpecah menjadi beberapa sekte, antara lain: • Sekte Muhakkimah, yang merupakan sekte pertama, yakni golongan yang memisahkan diri dari 'Ali bin Abi Thalib. • Sekte Azariqah yang lebih radikal, sebab orang yang tidak sepaham dengan mereka dibunuh.

• Sekte Najdat yang merupakan pecahan dari sekte Azariqoh. • Sekte al-Ajaridah yang dipimpin 'Abd Karim bin Ajrad, yang dalam perkembangannya terpecah menjadi beberapa kelompok kecil seperti Syu'aibiyyah, Hamziyyah, Hazimiyyah, Maimuniyyah, dll.

Perpecahan itulah yang menghancurkan aliran Khawarij. Jelaskan sekte yang muncul pertama kali yang masih ada, Ibadi dari Oman, Zanzibar, dan Maghreb menganggap dirinya berbeda dari yang lain dan menolak disebut Khawarij.

Referensi [ sunting - sunting sumber ] jelaskan sekte yang muncul pertama kali ^ Fat, juz 12 hal. 283 • ^ Mu'jam Al-Buldan li Yaqut Al-Hamawi, juz 2 hal. 245 • ^ Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepada saya Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Sa’id Al Khudriy berkata; Ketika kami sedang bersama rasulullah ﷺ yang sedang membagi-bagikan pembagian (harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata, "Wahai rasulullah, tolong engkau berlaku adil." Maka dia berkata: "Celaka kamu!

Siapa yang bisa berbuat adil kalau saya saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika saya tidak berbuat adil." Kemudian ‘Umar bin Khattab berkata, "Wahai Rasulullah, izinkan saya untuk memenggal batang lehernya!" Dia berkata: "Biarkanlah dia.

Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh salatnya dibanding salat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target. (Karena sangat cepatnya anak panah yang dilesakkan), maka ketika ditelitilah ujung panahnya maka tidak ditemukan suatu bekas apapun, lalu ditelitilah batang panahnya namun tidak ditemukan suatu apapun lalu, ditelitilah bulu anak panahnya namun tidak ditemukan suatu apapun, rupanya anak panah itu sedemikian dini menembus kotoran dan darah.

Ciri-ciri mereka adalah laki-laki berkulit hitam yang salah satu dari dua lengan atasnya bagaikan payudara wanita atau bagaikan potongan daging yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul pada zaman timbulnya firqah/golongan." Abu Sa’id berkata, "Saya bersaksi bahwa saya mendengar hadits ini dari rasulullah ﷺ, dan saya bersaksi bahwa ‘Ali bin Abu Thalib telah memerangi mereka, dan saya bersamanya saat itu lalu dia memerintahkan untuk mencari seseorang yang bersembunyi lalu orang itu didapatkan dan dihadirkan hingga saya dapat melihatnya persis seperti yang dijelaskan ciri-cirinya oleh nabi ﷺ." (HR Bukhari 3341).

• ^ HR al-Ajurri, Lihat asy-Syari’ah, hal. 33, dengan kisah yang sedikit berbeda. • ^ Telah menceritakan kepada kami Hannad bin As Sari telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari Abdurrahman bin Abu Nu’m dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata, "Ketika Ali bin Abi Thalib berada di Yaman, dia pernah mengirimkan emas yang masih kotor kepada rasulullah ﷺ.

Lalu emas itu dibagi-bagikan oleh rasulullah ﷺ kepada empat kelompok. Yaitu kepada Aqra` bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badar Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al Amiri, termasuk Bani Kilab dan Zaid Al Khair Ath Thay dan salah satu Bani Nabhan." Abu Sa’id berkata, "Orang-orang Quraisy marah dengan adanya pembagian itu. kata mereka, Kenapa pemimpin-pemimpin Najed yang diberi pembagian oleh rasulullah, dan kita tidak dibaginya?" Maka rasulullah ﷺ pun menjawab, "Sesungguhnya saya lakukan yang demikian itu, untuk membujuk hati mereka." Sementara itu, datanglah laki-laki berjenggot tebal, pelipis menonjol, mata cekung, dahi menjorok dan kepalanya digundul.

Ia berkata, "Wahai Muhammad! Takutlah Anda kepada Allah!" Rasulullah ﷺ bersabda, "Siapa pulakah lagi yang akan mentaati Allah, jika saya sendiri telah mendurhakai-Nya? Allah memberikan ketenangan bagiku atas semua penduduk bumi, maka apakah kamu tidak mau memberikan ketenangan bagiku?" Abu Sa’id berkata, Setelah orang itu berlaku, maka seorang sahabat (Khalid bin Al Walid) meminta izin kepada rasulullah ﷺ untuk membunuh orang itu.

Maka rasulullah ﷺ pun bersabda, "Dari kelompok orang ini, akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya.

Seandainya saya masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad." (HR Muslim 1762). • ^ Al-Imam Al-Bukhari -Rahimahullah- meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa dia berkata, بَعَثَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْيَمَنِ بِذُهَيْبَةٍ فِي أَدِيمٍ مَقْرُوظٍ لَمْ تُحَصَّلْ مِنْ تُرَابِهَا قَالَ فَقَسَمَهَا بَيْنَ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ بَيْنَ عُيَيْنَةَ بْنِ بَدْرٍ وَأَقْرَعَ بْنِ حابِسٍ وَزَيْدِ الْخَيْلِ وَالرَّابِعُ إِمَّا عَلْقَمَةُ وَإِمَّا عَامِرُ بْنُ الطُّفَيْلِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ كُنَّا نَحْنُ أَحَقَّ بِهَذَا مِنْ هَؤُلَاءِ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً قَالَ فَقَامَ رَجُلٌ غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ نَاشِزُ الْجَبْهَةِ كَثُّ اللِّحْيَةِ مَحْلُوقُ الرَّأْسِ مُشَمَّرُ الْإِزَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اتَّقِ اللَّهَ قَالَ وَيْلَكَ أَوَلَسْتُ أَحَقَّ أَهْلِ الْأَرْضِ أَنْ يَتَّقِيَ اللَّهَ قَالَ ثُمَّ وَلَّى الرَّجُلُ قَالَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَضْرِبُ عُنُقَهُ قَالَ لَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ يُصَلِّي فَقَالَ خَالِدٌ وَكَمْ مِنْ مُصَلٍّ يَقُولُ بِلِسَانِهِ مَا لَيْسَ فِي قَلْبِهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلَا أَشُقَّ بُطُونَهُمْ قَالَ ثُمَّ نَظَرَ إِلَيْهِ وَهُوَ مُقَفٍّ فَقَالَ إِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ رَطْبًا لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ وَأَظُنُّهُ قَالَ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ ثَمُودَ “Ali pernah mengirim dari Yaman untuk Rasulullah ﷺ sepotong emas dalam kantong kulit yang telah disamak, namun emas itu belum dibersihkan dari kotorannya.

Maka Nabi ﷺ membaginya kepada empat orang; ‘Uyainah bin Badr, Aqra’ bin Habis, Zaid Al-Khail dan yang ke empat, ‘Alqamah atau ‘Amir bin Ath-Thufail. Maka seseorang dari para sahabatnya menyatakan,”Kami lebih berhak dengan (harta) ini dibanding mereka”.

Ucapan itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, maka Dia bersabda, “Apakah kalian tidak percaya kepada saya?

Padahal saya adalah kepercayaan Dzat yang ada dilangit (Allah), wahyu turun kepada saya dari langit diwaktu pagi dan sore”. Kemudian datanglah seorang laki-laki (Dzul Khuwaishirah) yang cekung kedua matanya, menonjol kedua atas pipinya, menonjol kedua dahinya, lebat jenggotnya, botak kepalanya, dan tergulung sarungnya.

Orang itu berkata,” Bertaqwalah kepada Allah, wahai Jelaskan sekte yang muncul pertama kali Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ”Celaka engkau!! Bukankah saya manusia yang paling bertakwa kepada Allah?!” Kemudian orang itu pergi. Maka Khalid bin Al-Walid radhiyallahu anhu berkata,”Wahai Rasulullah bolehkah saya penggal lehernya?” Nabi bersabda,”Jangan, barangkali dia masih salat (yakni, masih muslim).” Khalid berkata,”Berapa banyak orang yang salat dan berucap dengan lisannya (syahadat) ternyata bertentangan dengan isi hatinya.” Nabi bersabda, “Saya tidak diperintah untuk mengorek isi hati manusia, dan membela dada-dada mereka.” Kemudian nabi ﷺ melihat kepada orang itu, sambil berkata,“Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini sekelompok kaum yang membaca Jelaskan sekte yang muncul pertama kali (Al-Qur’an) dengan mudah, namun tidak melampaui tenggorokan mereka.

Mereka melesat dari (batas-batas) agama mereka seperti melesatnya anak panah dari sasarannya”. Saya (Abu Sa’id Al-Khudriy) yakin dia bersabda, لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ ثَمُوْدَ “Jika saya menjumpai mereka, niscaya saya akan bunuh mereka seperti dibunuhnya kaum Tsamud”. (HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghozi (4351), dan Muslim dalam Kitab Az-Zakah (2448). • ^ Lihat Al-Muntaqo An-Nafis (hal. 89). • ^ H.R. Jelaskan sekte yang muncul pertama kali (2/232) dan Muslim (2/741 dan 742) Rujukan [ sunting - sunting sumber ] • Hamid, Syamsul Rijal 2002.

Buku Pintar Agama Islam: Edisi Senior. Bogor: Penebar Salam.

Kategori tersembunyi: • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan • Artikel dengan pernyataan yang tidak disertai rujukan Februari 2022 • Artikel yang tidak memiliki referensi Februari 2022 • Semua artikel yang tidak memiliki referensi • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda BNF • Artikel Wikipedia dengan penanda LCCN • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Halaman ini terakhir diubah pada 23 Februari 2022, pukul 07.59.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan jelaskan sekte yang muncul pertama kali • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Ketika Nabi Muhammad SAW masih hidup, semua persoalan agama dapat ditanyakan kepada beliau secara langsung.

Dan jawaban dari persoalan tersebut dapat diperoleh secara langsung dari Rasulullah SAW. Para sahabat dan kaum muslimin percaya dengan sepenuh hati, bahwa apa yang diterima dan disampaikan oleh Nabi adalah berdasarkan wahyu Allah. Dengan demikian, tak ada keraguan sedikitpun terutama kebenarannya.

Dalam masalah akidah atau teologi, umat islam pada masa Nabi SAW tidak terjadi perpecahan atau pengelompokan. Mereka semua bersatu dalam masalah akidah sampai pada saat dua kepemimpinan Khulafaur Rasyidin, yakni pada masa pemerintahan kholifah Abu Bakar As-Sidiq dan khalifah Umar bin Khatab.

Karena pada masa setelahnya umat islam telah terusik nafsunya untuk mengambil pemahaman secara sepihak menurut versi kelompoknya dalam masalah agama termasuk persoalan akidah atau teologi yang dalam agama islam merupakan ajaran yang pokok. Persoalan teologi dalam umat islam memang bukan merupakan persoalan yang muncul sebagai persoalan teologis. Namun persoalan-persoalan teologi dalam umat islam muncul dikarenakan isu persoalan politik yang melahirkan peristiwa pembunuhan Usman bin Affan sebagai khalifah umat islam yang sah pada waktu itu.

Dan dalam peristiwa pembunuhan tersebut yang terlibat langsung adalah umat islam. Ternyata, persoalan pertama yang muncul dalam islam justru persoalan politik yang kemudian disusul persoalan teologi.

Ketika Nabi SAW wafat, yang jelaskan sekte yang muncul pertama kali di dalam kalangan (para sahabat) adalah siapa pengganti Rasulullah SAW? Dan berlanjut sampai khalifah Usman yang terbunuh merupakan titik awal lahirnya permasalahan teologi yang dipertentangkan. Dari peristiwa pembunuhan Usman yang menjadi permasalahan adalah dosa apa yang telah diperbuat olehnya, dan bagaimana dosanya bagi orang-orang yang membunuh beliau?

Peristiwa pembunuhan itu sebenarnya merupakan peristiwa politik karena mempunyai latar belakang yang bermuatan politik, yakni sebagai tanggapan terhadap kebijaksanaan pemerintahan yang dijalankan pada waktu itu. Pembicaraan masalah dosa tersebut semakin meningkat ketika terjadi perebutan kekuasaan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah dengan keputusan akhir adanya arbitrase (takhim). Kelompok yang tidak setuju adanya arbitrase, menganggap bahwa orang yang terlibat dalam persoalan arbitrase, seperti Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, Amr bin Ash, Abu Musa al Asy’ari dan lain-lain dianggap kafir, karena telah mengambil hukum yang tidak berdasarkan Al-Qur’an.

Karena Allah berfirman di dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 44 yang artinya: Mereka (kaum khawarij) berpendapat bahwa hal serupa itu tidak dapat diputuskan oleh arbitrase manusia. Putusan hanya datang dari Allah dengan kembali kepada hukum-hukum yang ada dalam Al-Qur’an. Kemudian pengertian kafir semakin berkembang tidak hanya pada orang yang tidak menentukan hukum berdasarkan Al-Qur’an, tetapi juga orang yang berbuat dosa besar.

Persoalan dosa besar mempunyai pengaruh besar dalam pertumbuhan teologi selanjutnya. Persoalan ini menimbulkan tiga aliran teologi dalam islam. Dalam masalah teologis juga muncul persoalan mengenai perbuatan manusia dalam kaitannya dengan perbuatan Tuhan. Pertanyaan di sekitar persoalan tersebut diantaranya apakah manusia melakukan perbuatannya sendiri atau tidak? Apakah perbuatan yang dilakukan oleh manusia terdapat campur tangan (intervensi) dari Tuhan yang mengatur alam raya ini beserta seluruh isinya?

Kalau tuhan ikut campur tangan dalam perbuatan manusia, sampai sejauh mana intervensi Tuhan tersebut? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengusik para ulama kalam (Mutakallimin) untuk membahasnya. Dari pembahasan yang dilakukan para Mutakallim ini kemudian terbentuk aliran-aliran/paham dalam persoalan teologi.

Aliran-aliran telogi yang munculpun berangkat dari latar belakang persoalan-persoalan tersebut. Pertama, aliran Khawarij berpendapat bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir. Artinya keluar dari islam (murtad), karena itu ia wajib dibunuh. Kedua, aliran Murji’ah menegaskan bahwa orang yang berdosa besar tetap mukmin, bukan kafir.

Adapun dosa jelaskan sekte yang muncul pertama kali dilakukannya terserah kepada Allah untuk diampuni atau tidak. Ketiga, aliran Mu’tazilah, kaum ini tidak setuju dengan pendapat-pendapat di atas. Bagi orang yang berdosa besar bukan kafir tetapi juga bukan mukmin. Orang yang melakukan dosa besar mengambil posisi antara mukmin dan kafir.

Hal ini dikenal dengan paham/istilah Manzilah baina al Manzilataini. Keempat, aliran Asy’ariyah tidak mengafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar selama ia masih sujud ke Baitullah. Akan tetapi, jika dosa besar itu dilakukan dengan anggapan bahwa hal ini di bolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, maka ia dipandang kafir.

Adapun balasan di akhirat kelak bagi pelaku dosa besar hal itu bergantung pada kebijakan Tuhanyang maha berkehendak. Kelima, aliran Maturidiyah menyatakan bahwa pelaku dosa besar masih tetap mukmin karena adanya keimanan dalam dirinya. Adapun balasan yang diperoleh di akhirat bergantung pada apa yang dilakukannya di dunia.

Dalam paham Jabariyah, perbuatan manusia dalam hubungannya dengan tuhan sering digambarkan bagai bulu ayam yang diikat dengan tali yang digantungkan di udara.

Kemana angin bertiup kesanalah bulu ayam itu terbang. Ia tidak mampu menentukan dirinya sendiri, tetapi terserah angin. Apabila perbuatan manusia diumpamakan sebagai bulu ayam, maka angin itu adalah Tuhan yang menentukan ke arah mana dan bagaimana perbuatan manusia itu dilakukan.

Kadang-kadang manusia diumpamakan pula seperti wayang yang tidak berdaya. Bagaimana dan ke mana ia bergerak terserah dalang yang memainkan wayang itu. Dalang bagi manusia adalah Tuhan. Kedua, aliran Qadariyah sering juga diidentikkan dengan aliran Mu’tazilah. Aliran Qadariyah memahami bahwa manusia itu bebas memilih atas perbuatannya (kholiqul af-al). Mereka berpendapat bahwa kemauan manusia itu bebas, dan itu berarti bahwa manusia itu bebas untuk berbuat atau tidak berbuat, sehingga manusia bertanggung jawab sepenuhnya terhadap perbuatannya, manusia berhak menerima pujian dan pahala atas perbuatannya yang baik dan menerima celaan dan hukuman atas perbuatannya yang salah atau dosa.

Dari uraian singkat di atas, maka terlihat bahwa menurut paham Qadariyah, Tuhan tidak ikut campur tangan dalam perbuatan manusia.

Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan itu. Jika perbuatan manusia diciptakan Tuhan seluruhnya, maka taklif tidak ada artinya. Pahala dan siksa tidak berguna karena perbuatan itu dikerjakan bukan dengan kehendak dan kemauan sendiri. Pertama, aliran Mu’tazilah yang memahami dan membahas persoalan ini dengan berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat.

Mereka berargumen jika Tuhan mempunyai sifat, sifat itu mesti kekal seperti halnya dengan zat Tuhan. Namun jika demikian maka yang bersifat kekal bukanlah satu lagi, tetapi banyak. Jika Tuhan itu mempunyai sifat-sifat maka akan menyebabkan paham banyak yang kekal (Ta’aduddul qudama) yang selanjutnya melahirkan paham syirik atau polytheisme sebagai sesuatu yang tidak mendapat tempat di dalam teologi islam. Kedua, aliran Asy’ariyah yang membahas persoalan sifat-sifat Tuhan dengan mengambil sikap yang berlawanan dengan pendapat golongan Mu’tazilah.

Aliran Asy’ariyah dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat. Mereka pula mengatakan bahwa Tuhan mengetahui, menghendaki, berkuasa, dan sebagainya di samping mempunyai pengetahuan, kemauan dan daya. Ketiga, aliran Maturidiyah yang dalam hal ini berpendapat bahwa Tuhan mempunyai sifat-sifat. Sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui sifat-sifat itu sendiri.

Maka selanjutnya mengatakan bahwa Tuhan bersama-sama sifat-Nya kekal, tetapi sifat-sifat itu sendiri tidaklah kekal. Muawiyah meminta Ali untuk menangkap dan menghukum pembunuh Usman. Sedangkan Ali berpendapat bahwa yang paling penting untuk dilakukan saat itu adalah menstabilkan kondisi yang sangat kacau, baru kemudian memproses para pelaku pembunuhan Usman.

Ketidaksepakatan tersebut kemudian memicu perang jelaskan sekte yang muncul pertama kali dikenal dengan Perang Siffin. Pasukan Ali bin Abi Thalib hampir memenangkan perang tersebut.

Melihat pasukannya terdesak mundur, Amr bi Al Ash sebagai panglima tertinggi pasukan Muawiyah memerintahkan pasukannya untuk mengangkat Al Quran di setiap ujung tombak mereka dan meminta kepada pihak Ali untuk melakukan tahkim sebagai jalan keluar.
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife jelaskan sekte yang muncul pertama kali Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Kata murji'ah berasal dari bahasa arab arja'ah yang artinya kembali.Sekte ini disebut Murji'ah karena memiliki pegangan persoalan atau konflik politik antara Ali bin Abi Tholib dan Muawiyah bin Abi Sofyan serta kaum khawarij.Oleh karena itu,mereka tidak ingin menyampaikan pendapat tentang siapa yang benar dan siapa yang kafir diantara 3 kelompok tersebut.

B.SEJARAH MURJI'AM Munculnya murji'ah dilatarbelakangi oleh persoalan politik,yaitu tentang ke kholifahan.Umat islam terbagi dalam 2 kelompok yaitu: Kelompok Ali bin Abi Tholib dan Muawiyah bin Abi Sofyan .aliran ini muncul di Damaskus pada akhir abad hijriah.kalimat ini disebut murji'ah yaitu menund a atau mengembalikan.murji'ah sendiri yakni kelompok atu aliran yang tetap berada dalam barisan ali bin Abi Thalib.berkembangnya murji'ah ini,antara lain gagasan irja' atau arja'a yang dikembangkan oleh sebagian sahabat sebagai penjamin persatuan dan kesatuan umat islam .gagasan irja' merupakan doktrin murji'ah,yang muncul pertama kali sebagai gerakan politik diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi Thalib,yaitu al-hasan bin Muhammad al-hanafiyah.

Sekte murji'ah muncul sebagai reaksi atas sikap yang tidak mau terlibat dalam upaya"kafir mengafirkan"terhadap orang yang melakukan dosa besar,sebagaimna yang dilakukan kaum khawarij.sekte ini menangguhkan penilaiannya terhadap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa tahkim di hadapan tuhan karena hanya tuhanlah yang mengetahui keadaan iman seseorang.begitupun orang mukmin yang melakukan dosa besar,tapi menurut mereka masih di sebut mukmin.sekte ini beranggapan bahwa berbuat atau melakukan dosa, tidak bermasalah apabila disertai dengan iman,seperti halnya melaksanakan solat tidak berguna apabila disertai dengan kekafiran.

Berkembangnya aliran ini kaum murji'ah berpendapat bahwa orang yang melakukan dosa besar tidak dapat dikatakan kafir selama ia mengakui Allah Swt.sebagai tuhannya dan Nabi Muhammad saw. sebagai rasulnya. C.Tokoh-tokoh Murji'ah 0rang yang pertama kali memperkenalkan sekte Murji'ah adalah Gailan ad-Dimasyqi. Dia adalah penduduk yang berasal dari kota Damaskus .Ayahnya pernah bekerja pada Khalifah Usman bin Affan.Dia datang ke Damaskus pada masa pemerintahan Khalifah Hasyim bin Abdul Malik (105-125 H).

D.Dokrin aliran murji'ah
• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel jelaskan sekte yang muncul pertama kali Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Syi'ah dilihat dari bahasa berarti pengikut, pendukung,partai, atau kelompok, sedangkan secara terminologis adalah sebagian kaum muslim yang dalam bidang spiritual dan keagamaannya selalu merujuk pada keturunan Nabi Muhammad SAW atau orang yang disebut sebagai ahl al-bait.

Poin penting dalam doktrin syi'ah adalah pernyataan bahwa segala petunjuk agama bersumber dari ahl al-bait.

Mereka menolak petunjuk-petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan ahl al-bait atau para pengikutnya. Menurut Thabathbai, istilah Syi'ah untuk pertama kalinya ditunjukkan pada para ahli pengikut Ali (Syi'ah Ali), pemimpin pertama ahl al-bait pada masa Nabi Muhammad SAW.

Para pengikut Ali disebut Syi'ah itu di antaranya adalah Abu Dzar Al-Ghiffari, Miqad bin Al-Aswad, dan Ammar bin Yasir.

Mengenai kemunculan Syi'ah dalam sejarah, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli. Menurut Abu Zahrah, Syi'ah mulai muncul pada masa akhir pemerintahan Usman bin Affan kemuadian tumbuh dan berkembang pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib.

 Adapun menurut Watt, Syi'ah baru benar-benar muncul ketika berlangsung peperangan antara Ali dan Mu'awiyah yang dikenal dengan Perang Siffin.

Dalam perang ini, sebagai respon atas penerimaan Ali terhadap arbitrase yang ditawarkan Muawiyah, pasukan Ali diceritakan terpecah menjadi dua, satu kelompok mendukung sikap Ali-kelak disebut Syi'ah dan kelompok lain menolak sikap Ali, kelak disebut Khawarij. Kalangan Syi'ah sendiri berpendapat bahwa kemunculan Syi'ah berkaitan dengan masalah pengganti (khilafah) Nabi SAW. Mereka menolak kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khathab, Usman bin Affan karena dalam pandangan mereka hanya Ali bin Abi Thalib lah yang berhak menggantikan Nabi.

Kepemimpinan Ali dalam pandangan Syi'ah tersebut sejalan dengan isyarat-isyarat yang diberikan oleh Nabi SAW pada masa hidupnya.

Bukti utama tentang sahnya Ali sebagai penerus Nabi adalah peristiwa Ghadir Khumm. Diceritakan bahwa ketika kembali dari haju terakhir dalam perjalanan dari Mekah ke Madinah, di suatu padang pasir yang bernama Ghadir Khumm, Nabi memilih Ali sebagai penggantinya di hadapan massa yang penuh sesak yang menyertai beliau.

Pada peristiwa itu, Nabi tidak hanya menetapkan ali sebagai pemimpin umum umat (waluat-i 'ammali), tetapi juga menjadikan Ali sebagaimana Nabi sendiri, sebagai pelindung (wali) mereka.

Namun, realitas ternyata berbicara lain. Syi'ah mendapatkan pengikut yang besar terutama pada masa dinasti Amawiyyah.

Hal ini menurut Abu Zahrah merupakan akibat dari perlakuan kasar dan kejam dinasti ini terhadap ahl al-bait. Di antara bentuk kekerasan itu adalah yang dilakukan penguasa Bani Umayah. Yazid bi Muawiyah, umpamanya, pernah memerintahkan pasukannya yang dipimpin oleh Ibn Ziyad untuk memenggal kepala Husein dibawa ke hadapan Yazid dan dengan tongkatnya Yazid memukul kepala cucu Nabi SAW yang pada waktu kecilnya sering dicium Nabi. Â Kekejaman seperti ini menyebabkan sebagian kaum muslimin tertarik dan mengikuti mazhab Syi'ah, atau paling tidak menaruh simpati mendalam terhadap tragedi yang menimpa ahl al-bait.

Dalam perkembangan, selain memperjuangkan gak kekhalifahan ahl al-bait di hadapan dinasti Ammawiyah dan Abbasiyah, Syi'ah juga mengembangkan doktrin-doktrinnya sendiri. Berkaitan dengan teologi, mereka mempunyai lima rukun iman, yakti tauhid (kepercayaan kepada keesaan Allah), mubuwwah (kepercayaan kepada kenabian), ma'ad (kepercayaan akan adanya hidup di akhirat), imamah (kepercayaan terhadap adanya imamah yang merupakan hak ahl al-bait), dan adl (keadilan ilahi).

Perbedaan antara Sunni dan Syi'ah terletak pada doktrin imamah. Meskipun mempunyai landasan keimanan yang sama, Syi'ah tidak dapat mempertahankan kesatuannya. Dalam perjalanan sejarah, kelompok ini akhirnya terpecah menjadi beberapaa sekte. Perpecahan ini terutama dipicu oleh masalah doktrin imamah.

Di antara sekte-sekte Syi'ah itu adalah Itsna Asy'ariyah, Sab'iyah, Zaidiyah, dan Ghullat B. Syi'ah Itsna Asyariyah (Syi'ah dua belas/syi'ah Imamah) Asal-usul Penyebutan Imamiyah dan Syi'ah Itsna Asyariyah Dinamakan Syi'ah Imamiyah karena yang menjadi dasar akidahnya adalah persoalan imam dalam arti pemimpin religio politik, yakni Ali berhak menjadi khalifah bukan hanya karena kecakapannya atau kemuliaan akhlaknya, tetapi juga  karena ia telah ditunjuk nas dan pantas menjadi khalifah pewaris kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Ide tentang hal Ali dan keturunannya untuk menduduki jabatan khalifah telah ada sejak Nabi jelaskan sekte yang muncul pertama kali, yaitu dalam perbincangan politik di Saqifah Bani Sa'idah. Syi'ah Itsna Asyariyah sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat Nabi Muhammad seperti ditunjukkan nas. Adapun Al-ausiya (penerima wasiat) setelah Ali bin Abi Thalib adalah keturunan dari garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali kemudian Husen bin Ali sebagaimana yang disepakati.

Setelah Husen adalah Ali Zaenal Abidin, kemudian secara berturut-turut: Muhammad Al-Baqir, Abdullah Ja'far Ash-Shadiq, Musa Al-Khazim, Ali Ar-Rida, Muhammad Al-Jawwad, Ali Al-Hadi, Hasan Al-Askari dan terakhir Muhammad Al-Mahdi sebagai imam kedua belas. 2) Â Doktrin-doktrin Syi'ah Itsna Asyariyah

Hadist Qudsi - Sesuatu yang Pertama Kali Diciptakan Allah




2022 charcuterie-iller.com