Mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen

Indonesia memiliki 10 persen hutan tropis dunia yang masih tersisa. Hutan Indonesia memiliki 12 persen dari jumlah spesies binatang menyusui/ mamalia, pemilik 16 persen spesies binatang reptil dan ampibi.

1.519 spesies burung dan 25 persen dari spesies ikan dunia. Sebagian diantaranya adalah endemik (hanya dapat ditemui di daerah tersebut). Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen [World Resource Institute, 1997]. Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran.

Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia.

Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003]. Dengan semakin berkurangnya tutupan hutan Indonesia, maka sebagian besar kawasan Indonesia telah menjadi kawasan yang rentan terhadap bencana, baik bencana kekeringan, banjir maupun tanah longsor.

Sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2003, tercatat telah terjadi 647 kejadian bencana di Indonesia dengan 2022 korban jiwa dan kerugian milyaran rupiah, dimana 85 persen dari bencana tersebut merupakan bencana banjir dan longsor yang diakibatkan kerusakan hutan [Bakornas Penanggulangan Bencana, 2003].

Dengan kerusakan hutan Indonesia, kita akan kehilangan beragam hewan dan tumbuhan yang selama ini menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Sementara itu, hutan Indonesia selama ini merupakan sumber kehidupan bagi sebagian rakyat Indonesia.

Hutan merupakan tempat penyedia makanan, penyedia obat-obatan serta menjadi tempat hidup bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Dengan hilangnya hutan di Indonesia, menyebabkan mereka kehilangan sumber makanan dan obat-obatan. Seiring dengan meningkatnya kerusakan hutan Indonesia, menunjukkan semakin tingginya tingkat kemiskinan rakyat Indonesia dan sebagian masyarakat miskin di Indonesia hidup berdampingan dengan hutan Ekosistem hutan pada pulau-pulau kecil (small islands) memiliki tingkat sensitivitas ekosistem yang sangat rapuh, jika dibandingkan dengan ekosistem hutan pada pulau-pulau besar (continental islands).

Hutan pada pulau kecil memiliki kondisi pertumbuhan yang khusus, misalnya vegetasi hutan didominasi oleh pohon-pohon yang tumbuh lambat, diameter batang pohon umumnya tidak terlalu besar dan daun tumbuhan umumnya sempit. Kondisi fisik hutan seperti ini disebabkan oleh beberapa hal pokok, yaitu : (a). Hutan pada pulau kecil terlalu sering mendapat banyak pengaruh intrusi air laut yang masuk ke daratan terutama pada hutan di wilayah-wilayah pesisir.

Hal ini menyebabkan air tanah yang diabsorbsi akar vegetasi mengandung cukup tinggi konsentrasi ion natrium, karbonat dan klorida. Sebagai akibat kelebihan ion-ion ini maka terjadi keracunan bagi sel-sel tumbuhan yang mengakibatkan vegetasi tumbuh dan berkembang tidak normal, (b).

Hutan pada pulau kecil hampir setiap saat mendapat hembusan angin laut yang membawa banyak uap air laut yang mengandung cukup tinggi kadar garam. Uap air yang mengandung garam tersebut, kemudian diabsorbsi oleh daun tumbuhan yang akibatnya terjadi keracunan oleh adanya kelebihan konsentrasi natrium, (c).

Hutan pada pulau kecil secara umum juga memiliki transpirasi tinggi sebagai akibat frekuensi terpaan angin laut yang berlangsung hampir secara terus menerus sehingga mekanisme pembukaan dan penutupan stomata menjadi terganggu, dan proses fotosintesis berlangsung tidak normal karena konsentrasi CO2 menjadi menurun disekitar atmosfer daun karena dipindahkan oleh angin ke tempat lain, (e).

Hutan pada pulau kecil cendrung memiliki daerah tangkapan air (water catchment area) yang sempit sehingga jumlah air hujan yang jatuh dan tertampung pada suatu daerah tangkapan air selalu tidak seimbang terhadap laju kehilangan air tanah yang harus mengalir keluar melalui sungai dan evapotranspirasi, (f).

Hutan pada pulau kecil secara umum tumbuh diatas kondisi tanah dengan solum tanah dangkal terutama bagi pulau-pulau coral dan atol. Akibat volume tanah yang rendah seperti ini, maka kondisi pertumbuhan hutan disini cendrung didominasi oleh jenis-jenis yang perkembangan tinggi pohon dan diameter batang sangat lambat.

Berdasarkan karakteristik-karakteristik yang dikemukakan diatas menunjukan bahwa pertumbuhan hutan pada pulau-pulau kecil seperti Haruku, Saparua, Nusalaut, Ambon dan Seram sebenarnya memiliki hutan yang secara alami sulit untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Hal ini karena banyak sekali faktor pembatas pertumbuhan yang harus dapat diadaptasi dengan baik oleh sel-sel tumbuhan dari pohon-pohon yang ada pada wilayah tersebut.

Walaupun demikian secara alami pengaruh ini masih dapat diimbangi dengan kondisi musim, dimana pada saat musim hujan hampir semua pengaruh buruk dari laut terhadap tumbuhan yang ada di daratan pulau-pulau tersebut dapat teratasi melalui pencucian. Selanjutnya jika hutan yang sudah sangat sulit berkembang tersebut, kemudian diganggu lagi dengan aktivitas penebangan maupun pemusnahan oleh manusia maka hancurlah ekosistem tersebut, Secara umum kerusakan ekosistem pulau kecil disebabkan oleh alam (natural disasters) dan manusia (human destructions).

Gangguan faktor alam bagi pulau kecil khususnya di Maluku lebih disebabkan oleh letusan gunung api, naiknya permukaan air laut dan kebakaran. Namun demikian kerusakan hutan akibat gangguan alam tidak signifikan jika dibandingkan dengan kerusakan oleh aktivitas manusia. Kerusakan hutan pada pulau kecil sebagai akibat aktivitas manusia lebih disebabkan oleh kemiskinan sebagai faktor kunci. Secara umum pulau-pulau kecil di Maluku dihuni oleh masyarakat yang miskin. Hal ini karena faktor kualitas sumberdaya manusia dan keterisolasian wilayah untuk akses teknologi dan pasar.

Beberapa hasil penelitian (Matinahoru dan Hitipeuw, 2005; Van Ersnt, 2007 dan Watilei, 2008) menunjukan bahwa kerusakan ekosistem hutan pada pulau kecil lebih disebabkan 3 hal utama, yaitu : Secara umum kondisi fisiografi petuanan desa Haruku adalah datar sampai bergunung.

Kondisi wilayah yang datar berada pada tepi pantai dan digunakan sebagai tempat pemukiman dan usaha tanaman umur panjang dari masyarakat dan hutan sagu. Sedangkan wilayah perbukitan sampai pegunungan di dominasi oleh vegetasi hutan dataran tinggi yaitu campuran berbagai spesies mulai dari kayu besi, lenggua, kayu merah, pulaka, pule, nyatoh, bintanggor, pala hutan dan lain-lain. Terdapat pula hasil hutan ikutan berupa sagu dan bambu.

Wilayah ini secara umum digunakan sebagai tempat berladang dengan menanam sayuran, singkong, patatas, pisang dan beberapa usaha tanaman umur panjang seperti cengkih, pala, coklat dan kelapa dalam pola tanam polikultur. Jenis tanah dominan pada petuanan desa Haruku adalah regosol pada dataran rendah dan kambisol serta podsolik pada dataran tinggi.

Tanah regosol didominasi oleh fraksi pasir dengan tingkat kesuburan tanah adalah sedang, sementara kambisol dan podsolik didominasi oleh fraksi liat dengan tingkat kesuburan tanah adalah rendah. Secara umum kondisi iklim mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen Haruku sama seperti iklim pulau Ambon, yaitu musim panas pada bulan September sampai April dan musim hujan dari bulan Mei sampai Mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen.

Suhu rata-rata bulanan selama musim panas adalah 26 – 29 oC dengan kelembaban relatif 80 – 85 % dan pada musim hujan 24 – 27 oC dengan kelembaban relatif 85 – 90 %. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kerapatan vegetasi di petuanan Desa Haruku termasuk dalam kategori rendah karena ; (1). Dalam petak 20 X 20 m jarang ditemukan pohon dengan ukuran diameter diatas 50 cm, dan (2). Jarang ditemukan semai atau anakan pohon-pohonan dalam jumlah yang lebih dari 20 anakan. Hal ini menunjukan bahwa ekosistem hutan di petuanan Desa Haruku telah mengalami kerusakan serius.

Kondisi ini terbukti disaat musim hujan sungai Meme dan Iri mempunyai debit air meningkat tajam dan kualitas air menjadi sangat keruh. Beberapa alasan kunci mengapa debit air dimusim hujan meningkat, yaitu: (1) Jumlah pohon sangat terbatas (jarang) sehingga produksi humus dan perakaran oleh pohon juga terbatas dan akibatnya jumlah air yang diserap kedalam tanah berkurang, (2).

Jenis tanah kambisol dan podsolik memiliki sifat fisik tanah dimana ukuran pori tanah kecil sehingga kecepatan penyerapan air oleh tanah sangat lambat. Akibat dari kedua hal ini maka air hujan yang jatuh kepermukaan tanah akan lebih banyak mengalir ke sungai dari pada terserap ke dalam tanah, dan dengan demikian debit air sungai menjadi meningkat.

Dampak kenaikan debit air dari kedua sungai (Wae Meme dan Wae Iri) jika tidak diantisipasi lebih awal maka suatu ketika akan membawa musibah bagi penduduk disekitar muara kedua sungai tersebut. Hal ini disebabkan oleh faktor kerusakan hutan akibat pola tata guna lahan yang keliru.

Secara umum trend laju kerusakan hutan di hampir semua tempat adalah selalu mengikuti laju pertambahan penduduk dan laju peningkatan kebutuhan manusia. Sementara itu, upaya-upaya penanaman kembali lahan kosong atau lahan kritis oleh masyarakat jarang dilakukan secara mandiri (selalu berharap pada pemerintah), di sisi lain kebutuhan akan kayu untuk bahan bangunan dan lahan untuk berladang terus meningkat.

Di pulau Haruku terdapat banyak satwa burung maleo sebagai spesies endemik. Burung maleo dijumpai bukan saja di Desa kailolo, tetapi juga di Desa Haruku.

Dari observasi lapangan menunjukan bahwa terdapat banyak ancaman terhadap kelestarian spesies ini, terutama pada beberapa mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen ekosistem yang terkait dengan tempat makan, bermain, tidur dan bertelur. Beberapa faktor yang mengancam adalah ; (1).

Pencurian telur oleh masyarakat, (2). Predator seperti babi, soa-soa dan burung elang, (3). Pemburuan oleh masyarakat, (4). Rendahnya kerapatan vegetasi untuk tempat makan dan bermain, serta (4). Abrasi laut dan sungai. Kewang dan Sasi sebagai kearifan lokal orang Maluku masih terpelihara baik di Haruku, walaupun sudah mulai mengalami benturan-benturan dengan masuknya budaya yang kontra budaya lokal.

Lembaga kewang berdasarkan pada fungsi dan perannya memang harus memiliki aksi nyata di lapangan untuk dapat mempertahankan kelestarian ekosistem hutan khususnya di petuanan Desa Haruku sehingga minimal dapat mengurangi dampak-dampak terhadap ekosistem hutan maupun habitat bagi satwa dan ikan.

Berdasarkan pengalaman dibeberapa tempat menunjukan bahwa regulasi atau peraturan pada tingkat desa yang harus banyak dibuat untuk melestarikan sumberdaya alam di suatu wilayah. Melalui kewang harus dapat dipromosikan peraturan-peraturan desa yang dapat mendorong dan menjamin kelestarian sumberdaya alam seperti hutan, satwa dan ikan di laut Peringatan hari lingkungan hidup se-dunia dengan tema ?

Green Cities ? pada 5 mei 2005 perlu diapresiasi dengan sikap aktif pro-aktif. Seyogyanya pemerintah pusat hingga pemerintah daerah melakukan aksi nyata dan tidak hanya ?panas dan meluap ? luap?

pada konsep dan acara seremonial belaka. Apa yang dilakukan oleh pemerintah Kota Pekanbaru dalam memperingati hari lingkungan hidup se-dunia dengan tema ??Gerakan Kota Bersih dan Hijau??

perlu dicontoh oleh kabupaten/ kota lain. Penghijauan kota dan lahan gundul serta penjagaan terhadap lingkungan laut menjadi prioritas mekanisme pembangunan bersih. Hal ini diyakini bahwa hutan merupakan paru-paru dunia yang dapat menyerap karbon dan menyediakan oksigen bagi kehidupan di muka bumi. Fungsi hutan sebagai penyimpan air tanah juga akan terganggu akibat terjadinya pengrusakan hutan yang terus-menerus.

Hal ini akan berdampak pada semakin seringnya terjadi kekeringan di musim kemarau dan banjir serta tanah longsor di musim penghujan. Pada akhirnya, hal ini akan berdampak serius terhadap kondisi perekonomian masyarakat. Sedangkan laut diyakini menyimpan banyak potensi flora dan fauna yang menarik untuk dijadikan aset daerah dengan pendekatan ekowisata.

Tentu pengelolaan yang rapi, sistemik dan berwawasan lingkungan menjadi ruh utama pembangunan Mengingat pentingnya lingkungan hidup untuk kelangsungan hidup manusia, maka untuk meninjau Masalah-masalah Lingkungan Hidup Serta Upaya-upaya mengatasinya akan dipaparkan dalam karya tulis ini.

Meskipun kemajuan teknologi kita perlukan untuk mengatasi banyak masalah, termasuk masalah lingkungan, namun pengalaman menunjukan kemajuan teknologi dapat dan telah membawa dampak buruk bagi lingkungan hidup kita. Teknologi juga mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen diidentikan dengan pencemaran, tidak ada penemuan yang betul-betul sempurna tanpa membawa dampak negatife kepada manusia maupun lingkungan.

Dengan adanya dampak negatife tersebut, haruslah kita waspada. Pembangunan pada dasarnya adalah gangguan terhadap keseimbangan lingkungan, yaitu usaha sadar manusia untuk mengubah Keseimbangan lingkungan dari tingkat kualitas yang dianggap kurang baik kepada keseimbangan baru yang diangga lebih baik. Dalam usaha ini harus dijaga agar lingkungan tetap mampu untuk mendukung Tingkat hidup pada kualitas yang lebih baik tersebut ,yaitu dengan tetap menjaga mutu pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan 9.

Mempengaruhi Kualitas Hidup Masyarakat Sekitar Hutan Pernahkan sahabat berpikir mengapa Indonesia sering mengalami bencana banjir, tanah longsor dan puting beliung? Kenapa kondisi musim penghujan dan kemarau tidak stabil lagi? Apa yang menyebabkan perubahan iklim? Salah satu jawaban yang sering diutarakan yaitu semua fenomena di atas termasuk dampak kerusakan hutan yang terus terjadi.

Hutan merupakan ekosistem kompleks yang berpengaruh pada hampir setiap spesies yang hidup di muka bumi. Bukan hanya hewan dan tumbuhan saja yang bergantung pada hutan, ratusan juta orang di seluruh dunia mengandalkan sumberdaya hutan untuk bertahan hidup.

350 juta penduduk dunia bergantung pada keberadaan hutan untuk menjalani kehidupan mereka, berdasarkan data FAO dan UNEP yang tercantum di The State of the World’s Forests 2020. Forests, biodiversity and people. Pada saat hutan tergradasi, maka akan menyebabkan berbagai macam bencana dalam ranah lokal, nasional maupun global. Kerusakan hutan terjadi di seluruh penjuru dunia.

Penyebab utama dari berbagai kerusakan hutan timbul akibat aktivitas manusia. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), hampir 7,3 juta hektar hutan di seluruh dunia hilang setiap tahunnya.

Data dari Global Forest Watch dengan pencitraan satelit pada tahun 2020 lalu menunjukkan hutan tropis global kehilangan 12,2 juta hektar tutupan pohon. Dampak kerusakan hutan bagi lingkungan hidup dan kehidupan di muka bumi sangat beragam dan merugikan populasi yang tinggal di kawasan hutan dan sekitarnya.

Baca juga: Polusi Adalah: Pengertian, Jenis-jenis dan Dampak Polusi yang Wajib Kamu Ketahui Penyebab-penyebab Utama Kerusakan Hutan Penyebab terbesar kerusakan hutan adalah deforestasi atau penebangan hutan. Alasan utama kegiatan deforestasi hutan adalah pembukaan lahan untuk area industri, terutama industri kayu. Faktor lainnya adalah alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan, pertanian atau pemukiman bagi warga akibat jumlah populasi penduduk yang terus meningkat dan pergeseran pemukiman ke area pedesaan.

Metode yang umum digunakan dalam kegiatan deforestasi yaitu dengan membakar hutan atau menebang pohon-pohonnya secara liar dan tanpa pandang bulu. Praktek tersebut mengakibatkan tanah menjadi tandus dan sulit menahan cadangan air, lalu menimbulkan berbagai macam bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Aspek lain yang mempengaruhi kerusakan hutan antara lain yaitu: • Illegal logging, yaitu penebangan pohon pada suatu kawasan hutan yang dilakukan secara liar tanpa mempertimbangkan dampak kerusakan hutan bagi lingkungan. Penebangan pohon ilegal dapat menurunkan atau mengubah fungsi hutan tersebut. Meskipun telah ada larangan keras dari Pemerintah untuk melakukan kegiatan tidak berizin ini, tetapi mayoritas kalangan masyarakat dan pelaku industri masih melakukan aktivitas tersebut.

• Kebakaran hutan, kebanyakan dari peristiwa kebakaran hutan terjadi karena kesengajaan manusia. Beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab sengaja membakar hutan untuk dijadikan lahan perkebunan, pemukiman, peternakan dan lainnya. • Perambaan hutan, para petani yang bercocok tanam tahunan dapat menjadi sebuah ancaman bagi kelestarian hutan. Mereka merambah kawasan hutan guna dijadikan lahan baru untuk bercocok tanam.

Selain itu, pertumbuhan penduduk yang semakin pesat juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya perambaan hutan. Hal ini disebabkan kebutuhan lahan untuk kelangsungan hidup mereka juga semakin meningkat. Lalu hutan menjadi salah satu objek sasaran yang bisa mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan tinggal ataupun bertahan hidup. • Serangan hama dan penyakit, jumlah populasi hama yang meledak juga bisa menjadi salah satu penyebab kerusakan hutan.

Hama-hama tersebut menyerang dan menimbulkan kerusakan pada populasi pohon yang hidup di suatu area hutan. Baca juga: Pengertian Penginderaan Jauh dan Manfaat Inderaja di Berbagai Bidang Dampak Kerusakan Hutan bagi Kehidupan di Muka Bumi Setelah kita menilik secara ringkas tentang faktor-faktor kerusakan hutan, pembahasan lanjutan artikel ini berkaitan dengan efek negatif dari kerusakan hutan dan ancaman bagi kehidupan di planet ini.

1. Perubahan Mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen dan Pemanasan Global Dampak kerusakan hutan yang pertama adalah perubahan iklim dan pemanasan global.

Pemanasan global adalah kondisi peningkatan panas rata-rata di seluruh permukaan bumi akibat gas rumah kaca yang meningkat di atmosfer. Gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (N2O), metana (CH4), dan freon (SF6, HFC dan PFC) mempunyai peran untuk menjaga suhu planet ini tetap hangat agar cocok untuk hidup. Kondisi suhu yang naik akibat gas rumah kaca bertambah seiring penggunaan bahan bakar fosil dan penebangan hutan mengakibatkan ketidakstabilan iklim dan menimbulkan fenomena perubahan iklim.

Oksigen (O2) merupakan gas yang berperan penting untuk menyokong seluruh kehidupan di muka bumi. Hutan adalah produsen terbesar yang menghasilkan gas tersebut. Selain itu, hutan membantu menyerap gas rumah kaca yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global.

Itulah sebabnya mengapa ada istilah yang mengatakan bahwa hutan adalah paru-paru bumi. Pada saat suatu hutan mengalami kerusakan, maka hal tersebut bisa berakibat terjadinya peningkatan suhu bumi serta perubahan iklim yang ekstrem. Dengan adanya deforestasi, jumlah karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan ke udara akan semakin besar.

Kita tahu bahwa karbondioksida merupakan gas rumah kaca yang paling umum. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) menyatakan bahwa CO2 menyumbang sekitar 82% gas rumah kaca di negara tersebut. Profesor ilmu lingkungan di Lasell Collage Newton Massachusets menyatakan bahwa deforestasi tidak hanya mempengaruhi jumlah karbon dioksida yang merupakan salah satu komponen gas rumah kaca terbesar. Tapi deforestasi juga berdampak pada pertukaran uap air dan karbon dioksida yang terjadi antara atmosfer dan mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen tanah yang berkaitan dengan terjadinya perubahan iklim.

Perubahan konsentrasi udara di lapisan atmosfer akan memiliki efek langsung terhadap iklim dunia. 2. Kepunahan Masif Berbagai Spesies Hewan dan Tumbuhan Dampak kerusakan hutan selanjutnya adalah kehilangan berbagai jenis spesies flora dan fauna. Deforestasi menyebabkan habitat bermacam spesies hewan dan tumbuhan yang tinggal di dalam hutan rusak dan lenyap.

Menurut National Geographic, sekitar 70% jenis flora dan fauna hidup di kawasan hutan. Kerusakan hutan mengakibatkan mereka tidak lagi ammpu bertahan hidup di habitat aslinya. Akibat kehilangan habitat-habitat mereka, maka hewan, tumbuhan, serangga dan burung-burung yang bergantung pada ekosistem hutan akan perlahan mati dan menyebabkan kepunahan massal.

Kondisi tersebut juga berdampak di berbagai bidang, seperti di bidang pendidikan dan penelitian yang kehilangan objek kajian karena spesies yang diteliti tidak dapat lagi ditemukan. Selain itu, di bidang kesehatan, deforestasi dan kerusakan dapat berakibat hilangnya berbagai jenis obat yang bersumber dari flora, fauna, serangga atau burung-burung yang tinggal hutan. Baca juga: Pengertian Reboisasi, Fungsi, Manfaat dan Pohon yang Cocok untuk Reboisasi 3.

Siklus Air akan Terganggu Dampak kerusakan hutan yang lain adalah terganggunya sikklus air. Kita tahu bahwa pohon memiliki peranan yang penting dalam siklus air, yaitu menyerap curah hujan serta menghasilkan uap air yang nantinya akan dilepaskan ke atmosfer. Dengan kata lain, semakin sedikit jumlah pohon yang ada di bumi, maka kandungan air di udara yang nantinya akan dikembalikan ke tanah dalam bentuk hujan juga sedikit.

Selain itu, pohon juga berperan dalam mengurangi tingkat polusi air, yaitu dengan mengurangi polutan dan menghentikan pencemaran.

Jumlah pohon-pohon yang berkurang di hutan akibat kegiatan deforestasi dapat mengurangi efektivitas hutan guna menjalankan fungsinya dalam menjaga tata letak air. 4. Menyebabkan Banjir, Erosi Tanah dan Longsor Banjir dan erosi tanah adalah dampak kerusahan hutan yang sangat sering terjadi. Bahkan setiap tahun banjir dan longsor sudah menjadi langganan di berbagai daerah.

World Wildlife Fund (WWF) mengungkapkan bahwa sejak tahun mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen, lebih dari sepertiga (33%) bagian lahan subur di bumi telah musnah akibat kegiatan deforestasi. Kita tahu bahwa pohon memegang peranan penting untuk menghalau berbagai bencana seperti terjadinya banjir dan tanah longsor. Pohon yang berkurang akibat kerusakan hutan, maka pada saat musim hujan tanah tidak bisa menyerap dengan baik tumpahan air hujan dan mengakibatkan besarnya laju aliran air di permukaan.

Akhirnya akan terjadi banjir bandang. Selain itu, air hujan dapat mengangkut partikel-partikel tanah sehingga menimbulkan erosi tanah atau tanah longsor. 5. Mengakibatkan Kekeringan Apabila banjir dan tanah longsor termasuk efek negatif kerusakan hutan di musim penghujan, kekeringan adalah dampak kerusakan hutan yang perlu kita waspadai pada musim kemarau. Karena luasan hutan yang terus berkurang menyebabkan daya serap tanah menipis.

Situasi semacam ini berimbas buruk pada musim kemarau. Kekeringan yang timbul berawal dari cadangan air yang tidak cukup di musim penghujan. Kondisi kekeringan yang sering kita dengan di berita atau bahkan kita rasakan disebabkan karena pohon yang bertindak sebagai tempat penyimpan cadangan air tanah berkurang signifikan. Baca juga: Hutan Hujan Tropis: Pengertian, Ciri-ciri dan Manfaat Hutan Hujan Tropis 6.

Rusaknya Ekosistem Darat dan Air Hutan menjadi habitat bagi berbagai jenis spesies hewan dan tumbuh-tumbuhan. Ini berarti hutan merupakan salah satu sumber daya alam hayati yang terdapat di bumi. Kegiatan deforestasi dan pembukaan hutan secara semena-mena dapat mengakibatkan kerusakan dan kepunahan bagi kekayaan alam tersebut. Dampak kerusakan hutan yang terjadi akan menyebabkan banjir dan erosi tanah yang dapat mengangkut partikel-partikel tanah menuju ke laut.

Pada akhirnya akan mengalami proses sedimentasi atau pengendapan di sana. Pengendapan tanah yang berlebihan tentu saja dapat merusak ekosistem di lautan, seperti terumbu karang. 7. Mengakibatkan Abrasi di Pesisir Selain merusak ekosistem lautan, dampak kerusakan hutan lain di area pesisir adalah abrasi atau pengikisan pasir pantai dan tanah akibat pasang-surut serta gelombang air laut. Eksploitasi hutan secara liar yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab tidak hanya terjadi di kawasan hutan yang pegunungan saja.

Kegiatan tersebut juga bisa dilakukan terhadap hutan-hutan mangrove yang berfungsi untuk melindungi pantai dari terjangan gelombang dan badai yang berada di pesisir pantai. Jika kondisi tersebut terus dibiarkan akan berakibat terjadinya abrasi pantai dan mengancam kehidupan masyarakat pesisir seperti yang terjadi di pantai utara dan pesisir selatan pulau Jawa. 8. Dampak Kerusakan Hutan akan Mempengaruhi Kegiatan Perekonomian Masyarakat Hutan merupakan salah satu sumber kekayaan alam dan dimanfaatkan oleh 350 juta penduduk dunia menggantungkan hidup mereka dari hasil hutan.

Jika hutan rusak, maka sumber penghasilan, pangan, dan obat-obatan mereka pun akan terganggu. Kerusakan hutan bisa menyebabkan tanah menjadi tandus, sehingga akan sulit dipergunakan untuk bercocok tanam.

Selain itu, kerusakan hutan bisa memicu terjadinya berbagai macam bencana yang pada akhirnya akan menimbulkan kerugian, baik itu kerugian material maupun non material. Banyak orang yang kehilangan lahan, tempat tinggal, maupun anggota keluarga akibat bencana seperti banjir dan tanah longsor.

9.

Mempengaruhi Kualitas Hidup Masyarakat Sekitar Hutan Terjadinya erosi tanah sebagai akibat kerusakan hutan dapat mengangkut partikel-partikel tanah yang mengandung zat-zat berbahaya seperti pupuk organik memasuki danau, sungai, maupun sumber air lainnya. Ini akan berakibat penurunan kualitas air yang berada di daerah tersebut.

Dengan kualitas air yang buruk akan berdampak pada tingkat kesehatan yang buruk pula. Dari uraian di atas, kita bisa tahu bahwa hutan memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi kehidupan makhluk-makhluk di sekitarnya, khususnya bagi manusia.

Untuk itu, sangatlah penting bagi kita untuk selalu berupaya menjaga hutan kita agar dampak kerusakan hutan yang mengerikan tidak terjadi. Baca juga: 10 Website Download Ebook Lengkap GRATIS Kita juga harus mengupayakan dampak kerusakan hutan bagi manusia dan lingkungan hidup berkurang.
none Apa tanggapanmu jika ditanya terkait deforestasi?

Dilansir Earth Observatory, deforestasi merupakan suatu kegiatan pembabatan hutan dalam skala besar untuk menciptakan kawasan non hutan, dengan cara penebangan hutan maupun pembakaran hutan. Faktanya, deforestasi yang terjadi di berbagai negara tidak hanya merusak dari segi kuantitas, tetapi juga kualitas. Seperti apakah dampak signifikannya bagi kehidupan di Bumi ini?

Yuk, disimak bersama pembahasannya, agar kamu semakin paham pentingnya melindungi hutan dari deforestasi. ilustrasi hutan gundul (pixabay.com/free-photos) Buat kaum dendrophile, pasti cukup akrab dengan jenis hutan ini, bukan? Hutan hujan tropis merupakan daerah yang memiliki tanah rendah nutrisi mineral, namun sarat akan manfaat. Daerah ini menjadi rumah bagi 80 persen flora dan fauna, sumber penghidupan bagi 1,2 miliar penduduk, pemasok 20 persen oksigen, 70 persen obat-obatan penyakit kanker, dan 25 persen mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen modern, serta dapat menyimpan empat kali lipat karbon lebih besar dari hutan tropis lainnya.

Faktanya, kerusakan satu lapisan saja dari hutan ini dapat merangsang gangguan bagi tiga lapisan lainnya. Buktinya, tahun 2020 lalu, deforestasi di hutan hujan Amazon yang mengakibatkan adanya kerusakan lapisan bawah kanopi. Hal ini telah menghambat siklus distribusi unsur hara bagi seluruh lapisan lainnya. Kehilangan pelindung untuk daerah dengan intensitas cahaya yang cenderung sedikit, mengakibatkan kehidupan bibit muda cenderung terbakar di musim panas, dan berdampak pula pada menurunnya kualitas tanah.

Sehingga perkembangan jutaan pohon dan tumbuhan melamban. Lebih parah lagi, hutan hujan primernya lenyap kira-kira lebih dari 2 juta hektare. ilustrasi virus (pixabay.com/mohamed hassan) Tahukah kamu bahwa munculnya penyakit menular, berkaitan erat dengan dampak kerusakan lingkungan? Rusaknya sebuah lingkungan hidup, terutama karena deforestasi, menyebabkan berbagai gangguan yang berakibat pada ketidakstabilan rantai ekosistem kehidupan.

Faktanya, dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa kerusakan hutan akibat deforestasi merupakan pemicu utama timbulnya penyakit menular ke muka bumi. Hal ini berarti, selama deforestasi masih terus dilakukan, ada kemungkinan besar kita akan dihadapkan pada berbagai penyakit menular di masa depan nantinya. Penelitian juga menyebutkan bahwa penyakit seperti chingkungunya, demam berdarah, ebola, malaria, zika, hingga pandemik COVID-19 merupakan bukti nyata bahwa kemunculan penyakit menular tidak terlepas dari dampak pengalihfungsian lahan hutan.

Tanpa disadari, deforestasi untuk pembukaan lahan baru, justru membuat interaksi antara keanekaragaman hayati yang kompleks dalam ekosistem hutan sebagai rantai utama kemunculan dan penyebaran virus ke luar hutan. Bahayanya, jika virus itu sudah memasuki kawasan perkotaan yang padat penduduknya dengan kualitas lingkungan yang buruk, maka, hal ini akan mendorong perkembangbiakan virus sehingga manusia pun semakin rawan tertular.

ilustrasi hutan gundul (pixabay.com/free-photos) Ekosistem antik ini terbentang dari provinsi Aceh hingga provinsi Sumatra Utara, Indonesia dengan luas 6,5 juta hektare.

Berkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan keberadaan hutan hujan dataran rendah seluas 2,6 juta hektare, kawasan ini mendapat julukan 'jantung hutan hujan Asia' dan 'rumah orang utan dunia'. Lanjutkan membaca artikel di bawah Editor’s picks • 5 Fenomena Langit April 2022, Sering Melibatkan Planet! • 10 Cara Alami Bangun Sahur di Bulan Ramadan, Tanpa Alarm • 8 Fakta Sejarah Tradisi Membangunkan Sahur di Indonesia Tempat ini sangat eksotis dan bersejarah, sebab, merupakan ekosistem tertua dengan tiga lahan gambut istimewa yang menjadi habitat bagi spesies langka dunia yakni 17 spesies tumbuhan endemik, 21 spesies burung endemik, dan 15 spesies mamalia endemik, khususnya megafauna, seperti harimau, orang utan, gajah dan badak.

Wah, sungguh kaya, ya? Namun, faktanya, sejak tahun 2011 hutan hujan dataran rendah yang terletak di Sumatra, dikategorikan sebagai warisan dunia United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) yang terancam punah dengan luas tersisa 1,8 juta hektare pada tahun 2019.

Sedangkan empat megafauna di sana juga telah masuk redlist satwa langka International Union for Conservation of Nature (IUC N). Apabila pembukaan lahan kelapa sawit atau pertanian terus dilakukan di ekosistem ini, kita mungkin akan kehilangan aset pertiwi dan dunia yang sangat berharga.

Baca Juga: Konsesi Tambang Memicu Deforestasi Akut Kawasan Hutan di Gorontalo ilustrasi demo (unsplash.com/mika baumeister) Seperti yang kita ketahui bersama, 6 tahun lalu komitmen perjanjian iklim Paris menetapkan target penurunan suhu 1,5 derajat celsius atau di bawah 2,0 derajat celsius untuk mencegah akibat fatal pemanasan global beberapa tahun ke depan.

Perjanjian ini secara tersirat mengharuskan segala produktivitas manusia, terutama korporasi-korporasi besar industri dunia agar mengurangi emisi berlebihan ke atmosfer setiap tahunnya.

Namun, kenyataannya, totalitas implementasi dari kesepakatan yang telah dibuat belum maksimal terlaksana. Salah satu kegiatan yang menjadi kontributor terbesar kedua terhadap peningkatan pemanasan global, yakni deforestasi masih mengalami peningkatan di tahun 2020 terutama di beberapa daerah vital.

Seperti hutan tropis Amazon di Amerika Selatan, hutan tropis di Lembah Congo, dan beberapa di kawasan Asia Tenggara, meliputi Kamboja, Laos, dan Myanmar. Sementara itu, baru-baru ini laporan National Aeronautics and Space Administration ( NASA), menyebutkan bahwa pemanasan telah meningkat di atmosfer dan telah melampui 2 derajat fahrenheit. ilustrasi hutan banjir (unsplash.com/annie spratt) Rupanya, lahan gambut yang memiliki luas tidak lebih dari 3 persen di dunia ini berperan penting!

Lahan gambut termasuk golongan lahan basah yang terdistribusi lebih dari seratus negara dengan model lanskap dengan kedalaman yang berbeda-beda. Lahan gambut alami dapat menyimpan hampir 550 gigaton karbon, atau mencapai lebih dua kali lipat penyimpanan karbon hutan dunia, dan lima kali lipat karbon hutan tropis. Selain itu, lahan ini turut berperan aktif dalam mencegah bencana alam, menjaga kualitas air yang sehat, dan menjadi sumber penghasilan masyarakat sekitar.

Ketika deforestasi merusak areanya yang sensitif dan diikuti pengeringan gambut, akibatnya, terjadi kebakaran yang sukar padam, penipisan gambut sekitar 5 sentimeter per tahun, pelepasan 10 persen gas rumah kaca.

Hingga, menimbulkan kematian lebih dari 6,5 juta jiwa setiap tahunnya. Fatalnya, hingga saat ini, dunia cukup banyak kehilangan dari dua kali lipat, atau lima kali lipat penyimpanan yang ditawarkan oleh lahan gambut untuk mendukung upaya penghematan emisi karbon. Kedalaman lahan gambut yang krusial dihancurkan sekejap, padahal pembentukan lahan gambut membutuhkan waktu ribuan tahun, bahkan, ada yang mencapai 10.000 tahun lamanya. Nah, itu dia beberapa mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen terburuk deforestasi yang terjadi saat ini.

Kalau menurut kamu, apalagi dampak terburuk lainnya yang bisa berpengaruh bagi Bumi? Baca Juga: Menteri Lingkungan Brasil Resign, Diduga Dalang Deforestasi Amazon Berita Terpopuler • Raffi Datangi Polda Metro Terkait Dugaan Pencatutan Nama Medina Zein • Orgasme Klitoris dan Vaginal, Apa Perbedaan Keduanya?

• 9 Potret Diah Permatasari dan Putra Sulung Lulusan Militer Amerika • 10 Potret Gemas Chloe, Anak Asmirandah, waktu Liburan ke Bali • [LINIMASA-5] Perkembangan Terkini Vaksinasi COVID-19 Indonesia • 10 Potret Arfito Hutagalung yang Disebut Kekasih Baru Naysilla Mirdad • [LINIMASA-10] Perkembangan Terkini Pandemik COVID-19 di Indonesia • Daftar 5 Pejabat Sementara yang Bakal Isi Jabatan Gubernur • 9 Potret Terbaru Lenna Tan yang Semakin Memikat di Umur 41 Tahun
Hutan merupakan ekosistem kompleks yang berpengaruh pada hampir setiap spesies yang ada di bumi.

Pada saat hutan tergradasi, maka akan dapat menyebabkan berbagai macam bencana, baik itu lokal maupun di seluruh dunia. Kerusakan hutan atau deforestasi terjadi hampir diseluruh dunia, dimana kerusakan tersebut sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), hampir 7,3 juta hektar hutan diseluruh dunia hilang setiap tahunnya. Pemicu terbesar kegiatan deforestasi hutan adalah kegiatan industri, terutama industri kayu. Faktor lainnya adalah karena adanya alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan atau bisa juga dijadikan sebagai ahan pemukiman bagi warga.

Metode yang umum digunakan dalam kegiatan deforestasi antara lain adalah dengan membakar hutan atau dengan cara menebang pohon-pohonnya secara liar. Praktek tersebut akan dapat mengakibatkan tanah menjadi tandus, yang nantinya akan dapat menimbulkan berbagai macam bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Penyebab Kerusakan Hutan Beberapa bentuk terjadinya kerusakan hutan dipicu oleh berbagai kegiatan seperti : • Ilegal logging, yaitu penebangan yang terjadi di suatu kawasan hutan yang dilakukan secara liar sehingga menurunkan atau mengubah fungsi awal hutan.

Meskipun telah ada larangan keras dari Pemerintah untuk melakukannya, akan tetapi sebagian besar kalangan masyarakat masih melakukan kegiatan tersebut. • Kebakaran hutan, kebanyakan dari peristiwa kebakaran hutan terjadi karena faktor kesengajaan. Beberapa pihak yang tidak bertanggung jawab sengaja membakar hutan untuk dijadikan lahan perkebunan, pemukiman, peternakan, dan yang lainnya. • Perambaan hutan. Para petani yang bercocok tanam tahunan dapat menjadi sebuah ancaman bagi kelestarian hutan.

Mereka bisa dapat memanfaatkan hutan sebagai lahan baru untuk bercocok tanam. Selain itu, pertumbuhan penduduk yang semakin pesat juga dapat berkontribusi terhadap terjadinya perambaan hutan. Hal ini disebabkan kebutuhan lahan untuk kelangsungan hidup meraka juga semakin meningkat.

Dan hutan menjadi salah satu object yang bisa mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. • Serangan hama dan penyakit Jumlah populasi hama yang meledak juga bisa menjadi salah satu bentuk kerusakan hutan. Hama-hama tersebut dapat menyerang dan menimbulkan kerusakan pada populasi pohon yang hidup di suatu kawasan hutan. Deforestasi atau dampak akibat kerusakan hutan dapat menimbulkan berbagai bencana seperti di bawah ini : 1. Perubahan iklim Oksigen (O2) merupakan gas yang melimpah di atmosfer, dimana hutan merupakan produsen terbesar yang menghasilkan gas tersebut.

Selain itu, hutan juga membantu menyerap gas rumah kaca yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global. Itulah sebabnya mengapa ada istilah yang mengatakan bahwa hutan adalah paru-paru bumi. Pada saat suatu hutan mengalami kerusakan, maka hal tersebut bisa berakibat terjadinya peningkatan suhu bumi serta perubahan iklim yang ekstrem.

Dengan adanya deforestasi, jumlah karbondioksida (CO2) yang dilepaskan ke udara akan semakin besar. Kita tahu bahwa karbondioksida merupakan gas rumah kaca yang paling umum. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika serikat menyatakan bahwa CO2 menyumbang sekitar 82% gas rumah kaca di negara tersebut. Menurut seorang Profesor ilmu lingkungan di Lasell Collage Newton, Massachusets menyatakan bahwa deforestasi tidak hanya mempengaruhi jumlah karbondioksida yang merupakan gas rumah kaca, mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen tetapi deforestasi juga berdampak pada pertukaran uap air dan karbondioksida yang terjadi antara atmosfer dan permukaan tanah yang berkaitan dengan terjadinya perubahan iklim, dimana perubahan konsentrasi yang ada di lapisan atmosfer akan memiliki efek langsung terhadap iklim di Indonesia ataupun di dunia.

2. Kehilangan berbagai jenis spesies Deforestasi juga berdampak pada hilangnya habitat berbagai jenis spesies yang tinggal di dalam hutan. Menurut National Geographic, sekitar 70% tanaman dan hewan hidup di hutan.

Deforestasi mengakibatkan mereka tidak bisa bertahan hidup disana. Dengan hilangnya habitat-habitat tersebut, maka hal tersebut akan menyebabkan terjadinya kepunahan spesies.Hal ini bisa berdampak di berbagai bidang, seperti di bidang pendidikan dimana akan musnahnya berbagai spesies yang dapat menjadi object suatu penelitian.

Selain itu, dibidang kesehatan deforestasi bisa berakibat hilangnya berbagai jenis obat yang bisanya bersumber dari berbagai jenis spesies hutan. 3. Terganggunya siklus air Kita tahu bahwa pohon memiliki peranan yang penting dalam siklus air, yaitu menyerap curah hujan serta menghasilkan uap air yang nantinya akan dilepaskan ke atmosfer.

Dengan kata lain, semakin sedikit jumlah pohon yang ada di mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen, maka itu berarti kandungan air di udara yang nantinya akan dikembalikan ke tanah dalam bentuk hujan juga sedikit.

Nantinya, hal tersebut dapat menyebabkan tanah menjadi kering sehingga sulit bagi tanaman untuk hidup. Selain itu, pohon juga berperan dalam mengurangi tingkat polusi air, yaitu dengan menhentikan pencemaran.

Dengan semakin berkurangnya jumlah pohon-pohon yang ada di hutan akibat kegiatan deforestasi, maka hutan tidak bisa lagi menjalankan fungsinya dalam menjaga tata letak air. Baca tentang air lainnya : • Fungsi air hujan • Fungsi danau • Manfaat sungai 4. Mengakibatkan Banjir dan erosi tanah Word Wildlife Fund (WWF) mengungkapkan bahwa sejak tahun 1960, lebih dari sepertiga bagian lahan subur di bumi telah musnah akibat kegiatan deforestasi.

Kita tahu bahwa pohon memegang peranan penting untuk menghalau berbagai bencana seperti terjadinya banjir dan tanah longsor. Dengan tiadanya pohon, maka pada saat musim hujan tanah tidak bisa menyerap dengan baik tumpahan air hujan dan mengakibatkan besarnya laju aliran air di permukaan, yang pada akhirnya akan terjadi banjir bandang.

Selain itu, air hujan dapat mengangkut partikel-partikel tanah sehingga menimbulkan erosi tanah atau tanah longsor. 5. Mengakibatkan kekeringan Dengan hilangnya daya serap tanah, hal tersebut akan berimbas pada musim kemarau, dimana dalam tanah tidak ada lagi cadangan air yang seharusnya bisa digunakan pada saat musim kemarau.

Hal ini disebabkan karena pohon yang bertindak sebagai tempat penyimpan cadangan air tanah tidak ada lagi sehingga Ini akan berdampak pada terjadinya kekeringan yang berkepanjangan.

6. Rusaknya ekosistem darat dan laut Hutan menjadi habitat bagi berbagai jenis spesies hewan dan tumbuh-tumbuhan. Itu berarti bahwa hutan merupakan salah satu sumber daya alam hayati yang ada di bumi ini. Kegiatan deforestasi hutan dapat mengakibatkan kerusakan bahkan kepunahana bagi kekayaan alam tersebut itu sendiri maupun kekayaan alam lainnya yang ada di tempat lain seperti di laut. Kerusakan hutan yang terjadi akan membawa akibat terjadinya banjir maupun erosi yang dapat mengangkut partikel-partikel tanah menuju ke laut yang nantinya akan mengalami proses sedimentasi atau pengendapan di sana.

Hal tersebut tentu saja bisa merusak ekosistem yang ada di laut, seperti ikan serta terumbu karang. 7. Menyebabkan Abrasi pantai Eksploitasi hutan secara liar tidak hanya dilakukan oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab di kawasan hutan yang ada di darat saja. Kegiatan tersebut juga bisa dilakukan terhadap hutan-hutan mangrove yang berfungsi untuk melindungi pantai dari terjangan gelombang dan badai yang berada di pesisir pantai. Jika hal tersebut terus dibiarkan, akan berakibat terjadinya abrasi pantai.

8. Kerugian ekonomi Hutan merupakan salah satu sumber kekayaan alam, sebagian masyarakat menggantungkan hidup mereka dari hasil hutan.

Jika hutan rusak, maka sumber penghasilan mereka pun juga akan menghilang. Kerusakan hutan bisa menyebabkan tanah menjadi tandus, sehingga akan sulit dipergunakan untuk bercocok tanam. Selain itu, kerusakan hutan bisa memicu terjadinya berbagai macam bencana yang pada akhirnya akan menimbulkan kerugian, baik itu kerugian material maupun non material. Banyak orang yang kehilangan lahan, tempat tinggal, maupun anggota keluarga akibat bencana seperti banjir dan tanah longsor.

9. Mempengaruhi kualitas hidup Terjadinya erosi tanah sebagai akibat kerusakan hutan dapat mengangkut partikel-partikel tanah yang mengandung zat-zat berbahaya seperti pupuk organik memasuki danau, sungai, maupun sumber air lainnya. Ini akan berakibat penurunan kualitas air yang berada di daerah tersebut.

Dengan kualitas air yang buruk akan berdampak pada tingkat kesehatan yang buruk pula. Dari uraian di atas, kita bisa tahu bahwa hutan memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi kehidupan makhluk-makhluk di sekitarnya, khususnya bagi manusia. Untuk itu, sangatlah penting bagi kita untuk selalu berupaya menjaga hutan kita agar tetap lestari.

Upaya-upaya yang bisa dilakukan antara lain adalah dengan melakukan reboisasi atau penanaman kembali hutan-hutan yang gundul.

Dengan Meskipun reboisasi tidak akan benar-benar bisa memperbaiki kerusakan dan kepunahan ekosistem di hutan, akan tetapi kegiatan tersebut dapat memfasilitasi hal-hal berikut ini : • Mengembalikan fungsi dari ekosistem hutan seperti menyimpan karbon, sebagai sumber cadangan air tanah, serta sebagai tempat hidup bagi berbagai jenis satwa.

• Mengurangi jumlah karbondiaoksida yang ada di udara, sehingga udara menjadi lebih bersih dan sehat. • Membangun kembali habitat satwa liar Baca Mengenai Hutan Lainnya : • Fungsi Hutan Lindung • Fungsi Hutan Bakau
Menu• BERANDA • PROFIL • SEJARAH PUSAT KRISIS KESEHATAN • PROFIL PUSAT KRISIS KESEHATAN • VISI DAN MISI • STRUKTUR ORGANISASI • TUGAS DAN FUNGSI • PROGRAM UNGGULAN • KEGIATAN • KEGIATAN PUSAT KRISIS KESEHATAN • REGIONAL / SUB REGIONAL • ARTIKEL • ARTIKEL COVID-19 • INFO BENCANA / KRISIS KESEHATAN • INFO PENTING • TIPS SIAGA BENCANA • INTERMEZO • WHO CC • PROFIL WHO CC • WHO CC DOWNLOAD • ENGLISH CONTENT • PKK PROFILE • HEALTH CRISIS INFORMATION • PKK ACTIVITIES • IMPORTANT ISSUE • GALLERY • GALLERY FOTO • GALLERY VIDEO • DOWNLOAD • PERJANJIAN KERJASAMA • NOTA KESEPAHAMAN • LAPORAN • NEWSLETTER • BUKU PROFIL PKK • BUKU PROFIL 2016 • BUKU PROFIL 2017 • BUKU PROFIL 2018 • BUKU PROFIL 2019 • AKUNTABILITAS • PUBLIKASI • MATERI MEDSOS • SURAT EDARAN • INFOGRAFIS • INFOGRAFIS KRISIS KESEHATAN • PELATIHAN • DATA SARANA DAN FASILITAS • MATERI DAN KEBIJAKAN • KEBIJAKAN & UNDANG UNDANG • MATERI EVALUASI TANGGAP DARURAT • MATERI PELATIHAN • MATERI RAKOR EVALUASI TERINTEGRASI (SEMARANG, 10-12 NOV 2016) • MATERI KESIAPSIAGAAN BENCANA KARHUTLA • MATERI WORKSHOP • MATERI RAPAT KOORDINASI Mengapa kerusakan hutan akan berdampak pada penurunan kualitas oksigen DAN KABUPATEN/KOTA • MATERI RAKOR EVALUASI TERINTEGRASI PKK, 22 NOVEMBER 2016 • HASIL PERTEMUAN • MATERI RAKOR MANAJEMEN PKK • TAUTAN • KEMENTERIAN KESEHATAN • SEHAT NEGERIKU • INFEKSI EMERGING • DITJEN P2P • SISTEM KESEHATAN • MEDIA KIE • HUBUNGI KAMI Hutan memiliki manfaat yang baik bagi kehidupan makhluk hidup, hutan sebagai pemberi oksigen dan juga penyerap karbon dioksida sudah memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup manusia dan juga lingkungan.

Namun saat ini, sudah tidak dipungkiri lagi, kerusakan hutan menjadi suatu permasalahan yang sangat memprihatinkan, bagaimana tidak, hutan saat ini sudah banyak yang beralih fungsi sehingga akan mengancam kelangsungan manusia dan juga lingkungan. Banyak hutan yang kini menjadi gundul akibat ulah manusia egois dengan melakukan penebangan liar dan juga alih fungsi lahan, tanpa disadari hal ini akan menjadi sumber bencana bagi kehidupan.

Bukan hanya manusia yang terancam, namun juga ekosistem makhluk hidup lain akan terancam hal tersebut karena Hutan merupakan ekosistem kompleks yang berpengaruh pada hampir setiap spesies yang ada di bumi. Saat ini Kerusakan hutan atau deforestasi terjadi hampir diseluruh dunia, dimana kerusakan tersebut sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), hampir 7,3 juta hektar hutan diseluruh dunia hilang setiap tahunnya. Hal ini tentu akan semakin mengancam kehidupan manusia, Pemicu kegiatan deforestasi hutan adalah kegiatan industri, terutama industri kayu. Faktor lainnya adalah karena adanya alih fungsi hutan menjadi lahan perkebunan atau bisa juga dijadikan sebagai lahan pemukiman bagi warga.

Tentu hal ini harus bisa di atasi sebab setiap harinya semakin banyak hutan yang gundul dan ini tentu akan memberikan dampak buruk bagi kehidupan terutama akan menjadi sumber bencana alam yang besar. Dampak Akibat Kerusakan hutan Menurunkan Kualitas Oksigen Hutan merupakan produsen terbesar yang menghasilkan Oksigen (O2), hutan juga membantu menyerap gas rumah kaca yang menjadi penyebab terjadinya pemanasan global.

Itulah sebabnya mengapa ada istilah yang mengatakan bahwa hutan adalah paru-paru bumi. Namun banyaknya hutan yang rusak akan membuat penurunan kualitas oksigen. Sebab Semakin sedikit tumbuhan yang ada di hutan, semakin sedikit pula oksigen yang dihasilkan. Akibatnya adalah kualitas oksigen akan menurun. Penyebab Banjir Besar Semakin maraknya penebangan liar akan membuat hutan semakin gundul, hal ini tentu akan menjadi pemici terjadinya banjir besar dan juga banjir bandang. karena sedikitnya pohon yang terdapat dihutan tidak akan mampu menyerap air hujan.

Sehingga saat hujan datang, air akan meluap karena tidak bisa diserap oleh akar pohon. Bencana kekeringan Bencana kekeringan bisa terjadi karena kerusakan hutan. Saat pohon jumlahnya hanya sedikit, air yang diserap pun hanya sedikit.

Sehingga air tanah juga menjadi sedikit. Air tanah yang sedikit bisa menyebabkan alam terkena bencana kekeringan. Penyebab Tanah Longsor Tumbuhan dan Pohon di Area hutan akan menjadi penguat struktur tanah, jadi saat terjadi hujan deras, air tidak langsung mengenai tanah sebab akar pohon akan menjadi penyerap air hujan.

Namun kerusakan hutan dan penggundulan hutan akan menjadi pemicu terjadinya tanah longsor besar. sebab sudah tidak adalagi akar tanaman yang mampu menyerap air hujan. Terganggunya siklus air Kita tahu bahwa pohon memiliki peranan yang penting dalam siklus air, yaitu menyerap curah hujan serta menghasilkan uap air yang nantinya akan dilepaskan ke atmosfer.

Dengan kata lain, semakin sedikit jumlah pohon yang ada di bumi, maka itu berarti kandungan air di udara yang nantinya akan dikembalikan ke tanah dalam bentuk hujan juga sedikit. Sumber : http://bappeda.blorakab.go.id/forum/index.php?topic=227.0

9 Dampak Akibat Kerusakan Hutan Bagi Lingkungan Hidup




2022 charcuterie-iller.com