Negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara

• Acèh • العربية • Asturianu • تۆرکجه • Беларуская • Català • Mìng-dĕ̤ng-ngṳ̄ • Čeština • Dansk • Deutsch • English • Esperanto • Español • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Galego • 客家語/Hak-kâ-ngî • עברית • हिन्दी • Italiano • 日本語 • ភាសាខ្មែរ • 한국어 • ລາວ • Lietuvių • Minangkabau • മലയാളം • Bahasa Melayu • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk bokmål • Occitan • Polski • Português • Русский • संस्कृतम् • Srpskohrvatski / српскохрватски • Slovenčina • Shqip • Српски / srpski • Svenska • தமிழ் • ไทย • Tagalog • Türkçe • Українська • Tiếng Việt • 吴语 • 中文 • 文言 • Bân-lâm-gú • 粵語 Digantikan oleh Dinasti Nguyen Kerajaan Champa ( bahasa Cham: Nagarcam; bahasa Vietnam: Chiêm Thành) adalah kerajaan yang pernah menguasai daerah yang sekarang termasuk Vietnam tengah dan selatan, diperkirakan antara abad ke-7 sampai dengan 1832.

Sebelum Champa, terdapat kerajaan yang dinamakan Lin-yi (Lam Ap), yang didirikan sejak 192, tetapi hubungan antara Lin-yi dan Campa masih belum jelas. Komunitas masyarakat Champa, saat ini masih terdapat di Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Pulau Hainan ( Tiongkok). Bahasa Champa termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia.

Negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara isi • 1 Sejarah pendirian • 2 Wilayah kekuasaan • 3 Budaya dan agama • 4 Konfederasi kota • 5 Penaklukan Vietnam • 6 Legenda Minangkabau • 7 Referensi • 7.1 Sumber • 8 Pranala luar • 9 Referensi Sejarah pendirian [ sunting - sunting sumber ] Sebelum terbentuknya Kerajaan Champa, di daerah tersebut terdapat Kerajaan Lin-yi (Lam Ap), akan tetapi saat ini belum diketahui dengan jelas hubungan antara Lin-yi dan Champa.

Lin-yi diperkirakan didirikan oleh seorang pejabat lokal bernama Ku-lien yang memberontak terhadap Kekaisaran Han pada tahun 192 masehi, yaitu di daerah kota Huế sekarang. Penguasa Champa pertama yang namanya diketahui secara pasti dan tertulis dalam prasasti adalah Bhadravarman I, yang memerintah antara tahun 380-413 M.

[1] Wilayah kekuasaan [ sunting - sunting sumber ] Daerah Champa meliputi area pegunungan di sebelah barat daerah pantai Indochina, yang dari waktu ke waktu meluas meliputi wilayah Laos sekarang. Akan tetapi, bangsa Champa lebih berfokus pada laut dan memiliki beberapa kota berbagai ukuran di sepanjang pantai. Setelah abad ke-7, Champa melingkupi wilayah provinsi-provinsi modern Quảng Nam, Quảng Ngãi, Bình Định, Phú Yên, Khánh Hòa, Ninh Thuận, dan Bình Thuận di Vietnam. Budaya dan agama [ sunting - sunting sumber ] Pada awalnya Champa memiliki hubungan budaya dan agama yang erat dengan Tiongkok, tetapi peperangan dan penaklukan terhadap wilayah tetangganya yaitu Kerajaan Funan pada abad ke-4, telah menyebabkan masuknya budaya India.

Setelah abad ke-10 dan seterusnya, perdagangan laut dari Arab ke wilayah ini akhirnya membawa pula pengaruh budaya dan agama Islam ke dalam masyarakat Champa. Sebelum penaklukan Champa oleh by Lê Thánh Tông, agama dominan di Champa adalah Syiwaisme dan budaya Champa sangat dipengaruhi India.

Islam mulai memasuki Champa setelah abad ke-10, tetapi hanya setelah invasi 1471 pengaruh agama ini menjadi semakin cepat. Pada abad ke-17 keluarga bangsawan para tuanku Champa juga mulai memeluk agama Islam, dan ini pada akhirnya memicu orientasi keagamaan orang-orang Cham. Pada saat aneksasi mereka oleh Vietnam mayoritas orang Cham telah memeluk agama Islam. Makam Putri Campa di Trowulan (foto diambil pada tahun 1870-1900) Kebanyakan orang Cham saat ini beragama Islam, tetapi seperti orang Jawa di Indonesia, mereka mendapat pengaruh besar Hindu.

Catatan-catatan di Indonesia menunjukkan pengaruh Putri Darawati, seorang putri Champa yang beragama Islam, terhadap suaminya, Kertawijaya, raja Majapahit ketujuh sehingga keluarga kerajaan Majapahit akhirnya memeluk agama Islam. Makam Putri Campa dapat ditemukan di Trowulan, situs ibu kota Kerajaan Majapahit. [2] Bangunan menara Po Sa Nu (Pho Hai), dekat Phan Thiết, Vietnam Champa merupakan jalur penghubung penting dalam Jalur Rempah-rempah ( Spice Road) yang dimulai dari Teluk Persia sampai dengan selatan Tiongkok; dan kemudian ia juga termasuk dalam jalur perdagangan bangsa Arab ke Indochina, yang merupakan pemasok aloe.

Champa memiliki hubungan perdagangan dan budaya yang erat dengan kerajaan maritim Sriwijaya, serta kemudian dengan Majapahit di kepulauan Melayu. Dalam Babad Tanah Jawi, dikatakan bahwa raja Brawijaya V memiliki istri bernama Anarawati (atau Dwarawati), seorang putri dari Kerajaan Champa. Demikian pula, terdapat hubungan yang erat antara Kerajaan Champa dan Kerajaan Kamboja. Meskipun sering terjadi peperangan, kedua kerajaan juga mengadakan pertukaran kebudayaan dan perdagangan; dimana sering terjadi pernikahan keluarga kerajaan di antara keduanya.

Konfederasi kota [ sunting - sunting sumber ] Sebelum tahun 1471, Champa merupakan konfederasi dari 4 atau 5 kepangeranan, yang dinamakan menyerupai nama wilayah-wilayah kuno di India: • Indrapura - Kota Indrapura saat ini disebut Dong Duong, tidak jauh dari Da Nang dan Huế sekarang.

Da Nang dahulu dikenal sebagai kota Singhapura, dan terletak dekat lembah My Son dimana terdapat banyak reruntuhan candi dan menara. Wilayah yang dikuasai oleh kepangeranan ini termasuk provinsi-provinsi Quảng Bình, Quảng Trị, dan Thừa Thiên–Huế sekarang ini di Vietnam. • Amaravati - Kota Amaravati menguasai daerah yang merupakan provinsi Quảng Nam sekarang ini di Vietnam. • Vijaya - Kota Vijaya saat ini disebut Cha Ban, yang terdapat beberapa mil di sebelah utara kota Qui Nhon di provinsi Bình Định di Vietnam.

Selama beberapa waktu, kepangeranan Vijaya pernah menguasai sebagian besar wilayah provinsi-provinsi Quang-Nam, Quang-Ngai, Binh Dinh, dan Phu Yen. • Kauthara - Kota Kauthara saat ini disebut Nha Trang, yang terdapat di provinsi Khánh Hòa sekarang ini di Vietnam. • Panduranga - Kota Panduranga saat ini disebut Phan Rang, yang terdapat di provinsi Ninh Thuận sekarang ini di Vietnam. Panduranga adalah daerah Champa terakhir yang ditaklukkan oleh bangsa Vietnam.

Di antara kepangeranan-kepangeranan tersebut terdapat dua kelompok atau suku: yaitu Dua dan Cau. Suku Dua terdapat di Amaravati dan Vijaya, sementara suku Cau terdapat di Kauthara dan Panduranga. Kedua suku tersebut memiliki perbedaan tata-cara, kebiasaan, dan kepentingan, yang sering menyebabkan perselisihan dan perang.

Akan tetapi biasanya mereka berhasil menyelesaikan perselisihan yang ada melalui perkawinan antar suku. [3] Penaklukan Vietnam [ sunting - sunting sumber ] Tahun 1451 Kerajaan Islam Champa diserang kerajaan Buddha dari pedalaman.

[4] Para penguasa Champa di Panduranga ( Nagar Champa) yang terbentuk pada pertengahan abad ke-15, melakukan perlawanan terhadap Vietnam dan pada tahun 1695 melalui perundingan memperoleh status kepangeranan otonom ( Tran Thuan Thanh) di bawah Dinasti Nguyen dari Cochinchina. Kerajaan Champa kemudian menjadi negara bawahan yang setia dari Kaisar Gia Long dari dinasti Nguyen, tetapi pada akhirnya kedaulatannya dibubarkan pada tahun 1832 oleh anak Kaisar Gia Long, yaitu Kaisar Minh Mạng.

Pada masa peperangan dengan Vietnam, banyak penduduk Champa termasuk para aristokratnya yang mencari perlindungan di Kamboja, dan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Legenda Minangkabau [ sunting - sunting sumber ] Di dalam legenda atau tambo dari Minangkabau (Sumatra Barat), terdapat seorang tokoh pendekar yang bergelar Harimau Campo atau "Harimau Champa", selain nama-nama lainnya.

Harimau Campo ini bersama dengan Datuak Suri Dirajo, Kambiang Hutan dan Anjiang Mualim merumuskan konsep dari bela diri Minangkabau yang negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara silek atau ( silat). Kambiang Hutan dan Anjiang Mualim sama statusnya dengan Harimau Campo, mereka adalah pendatang dari negeri asing ke daerah Minangkabau pada masa dahulunya.

Sampai saat sekarang, nama Harimau Campo tetap disebut-sebut dalam sasaran silek (padepokan silat) di Minangkabau sebagai salah satu basis dari gerakan silat mereka. Referensi [ sunting - sunting sumber ] Sumber [ sunting - sunting sumber ] • Insight Guide - Vietnam (ed.) Scott Rutherford, 2006. ISBN 981-234-984-7. • Vietnam, Trials and Tribulations of a Nation D. R. SarDesai, ppg 33-34, 1988. ISBN 0-941910-04-0 • Emmanuel Guillon. Cham Art. Thames & Hudson Ltd, London, 2001.

ISBN 0-500-97593-0 • art.com Hindu-influenced art above the entrance of one of the Po Nagar Cham towers, Photographic Print by Steve Raymer, 12x16 ASIN B000EUCYYQ • Jean-Francois Hubert. The Art of Champa. Parkstone Press, 2005. ISBN 1-85995-975-X • A.A. Navis, Alam Terkembang, Curaian Adat Minangkabau, 1979 Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Inggris) Proceedings of the Seminar on Champa Diarsipkan 2005-05-12 di Wayback Machine.

• (Inggris) Champa Revised Diarsipkan 2014-10-14 di Wayback Machine. • (Inggris) Vietnam-Champa Relations and the Malay-Islam Regional Network in the 17th—19th Centuries Diarsipkan 2004-06-17 di Wayback Machine. • (Inggris) The Survivors of a Lost Civilisation Diarsipkan 2012-02-13 di Wayback Machine. • (Inggris) Cham Muslims: A look at Cambodia's Muslim minority • (Inggris) The Cham Muslims of Indochina Diarsipkan 2020-09-07 di Wayback Machine.

• (Inggris) Photos of Cham art at the Fine Arts Museum in Saigon Diarsipkan 2007-05-03 di Wayback Machine. • (Indonesia) Negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara - Forum Silaturahmi dan Komunikasi Masyarakat Minangkabau Diarsipkan 2008-07-04 di Wayback Machine.

Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ Guy, John (2014). Lost Kingdoms: Hindu-Buddhist Sculpture of Early Southeast Asia (edisi ke-berilustrasi). Metropolitan Museum of Art. hlm. 12. ISBN 1-58839-524-3, 9781588395245. • ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara.

PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 68. ISBN 9798451163. ISBN 978-979-8451-16-4 • ^ Insight Guide - Vietnam (ed.) Scott Rutherford, 2006, pg. 256, ISBN 981-234-984-7) • ^ (Indonesia) Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara.

hlm. 65. ISBN 9798451163. ISBN 978-979-8451-16-4 • Halaman ini terakhir diubah pada 4 April 2022, pukul 23.06. • Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Di sebabkan kesibukkan tugas, pada ketika ini, saya muatkan disini untuk pandangan para sahabat bloggers, satu bahagian dari penyelidikkan yang sedang saya persiapkan tentang Negara Champa.

Sebuah negara yang kerapkali dikelirukan dengan Negara Kemboja. Champa negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara pertalian yang erat dengan sejarah orang-orang Melayu dan perkembangan Islam di Nusantara.

Malah, Wali Songo yang dimasyhurkan di tanah Indonesia, adalah para mubaligh dari Champa, yang ada perkaitan kekeluargaan dengan Raja-raja Patani dan dengan ulamak-ulamak Patani yang masyhur seperti Sheikh Daud al Patani. Demikian seterusnya: Kerajaan Baru Champa di Panduranga. Adakah ini kerajaan Islam Champa?

Akhirnya pada 1471, Kerajaan Ðai Viět di zaman Dinasti Le, sewaktu pemerintahan Le Thanh Ton (1460 – 1479), berjaya merampas Vijaya, ibu negeri Champa ketika itu. Le Thanh Ton telah mengambil sebagai tahanan seramai 30,000 orang Cham dan membunuh sekitar 60,000 orang tahanan-tahanan perang termasuklah Raja Champa dan ahli-ahli keluarganya. Dengan kejatuhan Vijaya pada 1471 maka keluasan Negara Champa semakin mengecut dan ibu negara Champa berpindah untuk kesekian kalinya.

Kali ini jauh ke selatan ke Panduranga. Mengikut sejarah, semenjak perlantikan Po Tri Tri sebagai raja untuk keseluruh Champa dan dengan perpindahan beliau ke Panduranga untuk menubuhkan kerajaan yang baru, maka bermulalah perkembangan Islam secara besar-besaran di Champa.

Bahasa Sanskrit yang selama ini menjadi bahasa rasmi Champa juga tidak digunakan lagi. Semenjak era inilah Champa bertukar corak. Tidak pasti sama ada Champa terus menerus diperintah oleh raja Islam sehingga kejatuhannya ke Vietnam, akan tetapi berdasarkan kepada keunikan sistem pentadbiran yang di amalkan di Champa di mana terdapat pelbagai kerajaan dalam satu wilayah pada masa yang sama, maka berkemungkinan bahawa ada raja-raja Islam yang memerintah Champa pada zaman tiga abad selepas kejatuhan Vijaya.

Keunikan sistem pemerintahan Champa adalah kerana Champa terdiri daripada perseketuan pelbagai kaum yang dikenali majmuknya sebagai ‘Urang Champa’. Selain daripada kaum Cham sendiri, penduduknya juga terdiri daripada pelbagai kaum etnik daripada rumpun lain yang juga daripada rumpun bahasa Austronesia iaitu puak bukit (hill tribes) yang terdiri daripada kaum-kaum Chru, Edê, Hroy, Jörai, Rhade (Koho), dan Raglai dan termasuk juga mereka daripada rumpun bahasa Austroasiatic seperti kaum Dera atau montanagards [1]yang terdiri daripada kaum-kaum Ma, Sré dan Stieng.

Meskipun terdapat raja, yang memerintah Champa secara keseluruhannya, terdapat juga raja-raja negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara misalnya Raja Bao Dai, yang menjadi raja untuk kaum etnik yang tertentu. Ini mempunyai persamaan dengan kaum Batak dan Mandiling di Indonesia, misalnya, yang mempunyai raja-raja mereka sendiri, tetapi semata-mata sebagai raja adat. Dalam mengkaji sejarah Champa mungkin pengkaji sejarah tidak memahami kedudukan raja pada kaum masing-masing dan hal ini telah menimbulkan kekeliruan di sebabkan dalam satu zaman yang sama akan terdapat rujukan kepada dua atau tiga raja yang berlainan nama.

Dalam tradisi pemerintahan Champa, hanya raja yang mempunyai kekuatan tentera dan kekuasaan politik negara diiktiraf sebagai ‘Raja kepada Raja-raja ( ‘Rajatiraja’) Champa’ (“King of Kings of Champa”). Berdasarkan kepada manuskrip-manuskrip yang terdapat berkemungkinan besar selepas kejatuhan Vijaya, kuasa ini pernah untuk beberapa ketika dipegang oleh raja yang beragama Islam.

Mengikut rekod sejarah Negeri Johor, pada 1594 kerajaan Champa telah menghantar bala tenteranya untuk membantu Sultan Ali Jalla Abdul Jalil Shah II Sultan Johor (memerintah: 1571 – 1597) dalam peperangannya dengan Portugis [2]. Daripada rekod-rekod Belanda pula terdapat catatan bahawa perhubungan baik antara Kerajaan Melayu Johor dan Champa wujud pada 1607, iaitu sewaktu Champa di bawah pemerintahan Po Nit dan Johor pula di bawah Sultan Alauddin Riayat Shah II (memerintah: 1597 – 1614).

Ini tak mungkin berlaku sekiranya tidak ada persamaan atau ikatan yang kuat antara kedua negara tersebut. Apakah asas setiakawan antara mereka? Adakah kerana mereka menganuti agama yang sama atau disebabkan oleh persamaan rumpun bangsa? Daripada rekod-rekod yang terdapat di Belanda pula, terdapat maklumat yang meperkukuhkan pendapat bahawa pada tiga abad tersebut, Raja Champa adalah terdiri daripada raja yang beragama Islam dan Bahasa Melayu pula digunakan dengan meluas di Champa.

Terdapat sepucuk surat yang dikirimkan oleh Raja Champa pada 1680 kepada Penguasa Syarikat Dutch East Indies (“VOC”) di Betawi [3], dalam bahasa Melayu. Raja Champa sewaktu itu, Po Saut, di dalam surat tersebut telah menggelarkan dirinya sebagai “Paduka Seri Sultan”. Dengan gelaran ini, sebagaimana yang diterangkan, besar kemungkinan bahawa kedudukannya adalah sebagai Rajatiraja atau ‘Raja kepada Raja-raja di Champa’!

Pada zaman itu pengaruh Bahasa Melayu di negara-negara pesisiran pantai di Asia Tenggara sungguh meluas sehinggakan Raja Kemboja juga menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa diplomatik dalam perhubungan surat menyuratnya dengan pihak-pihak Portugis dan Belanda [4].

Nota Kaki: [1]. Rumpun kaum yang sama dengan kaum Kadazan di Sabah dan Alisan di Taiwan. [2]. Lafont, P. B., “Aperçu sur les relations entre le Campa et l’Asie du Sud-Est,” Actes du Séminaire sur le Campa organisé à l’Université de Copenhague, le 23 mai 1978 (Paris: 1988b) pp. 71-82. Lihat William Collins: ibid. m.s. 18. [3]. Batavia sebelumnya dipanggil Jayakerta. Sekarang ini letaknya di Jakarta. [4]. Manguin, Pierre Yves, “Etudes cam II; l’introduction de l’Islam au Campa,” Bulletin de l’Ecole Française d’Extrême-Orient, Vol.

LXVI (1979) pp. 255-287. Lihat William Collins: ibid. m.s. 18. Kerajaan Champa memang ada negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara dalam sukatan pelajaran pelajaran sekolah menengah Malaysia.

Tapi tidak dijelaskan.Entahlah… mungkin juga kerana pembikin sukatan dan teks itu tidak ada maklumat yang tepat dan lengkap.Atau juga mungkin mereka sedar budak-budak ni tak ramai yang suka sejarah.Entah kenapa.

Adakah kerna mata pelajaran itu sendiri, atau cara guru mengajar, atau kerna murid itu sendiri.Yang pasti, info begini sangat berguna pada aku masa kini.

Boleh aku selitkan dalam perbualan dan teater.Terima kasih pak!Psss…. aku heran, kalau aku komen blog Keng mesti panjang berjela. Blackpurple:Insha Allah akan saya lengkapkan rencana ini dan sebarkan, buat pengetahuan umum.edyan7:Thanks for finding my blog to be of interest. Would appreciate your comments in future as well. And thanks for placing mine on your link.

I have visited your blog.Anak Sedara: Kopi tak minat. Ya, terlampau sibuk dengan dunia sehinga melupakan anak sedara sendiri.Simah:Champa atau Chepa banyak mempengaruhi sastera Melayu.Sayuti:Alhamdulillah kerana sekarang dah tahu; terang dan nyata.Tuan Pegawai:Kalu maukan artikel yang lengkap bolih saya hantarkan.

File terlalu besar untuk dimelkan. Kalau baca Sejarah Melayu, banyak terdapat cerita-cerita tentang hubungan Champa dan Melaka.Alhamdulillah Tuan, komen yang sentiasa panjang itu tak mengapa. Kerana isinya menarik. You have an outstanding good and well structured site. I enjoyed browsing through it Nadwaga leczenie meridia Kenia river cruises Beef 2b jerky 2b humidifier 2b 2006 meredes benz Fist peeing Remove spyware remove spyware a font color how to get rid of spyware on computers lop com adware toolbar Acyclovir development Plotters gx24 I am champa and stay at Malaysia.

Currently at Multimedia University Malacca Campus. Thank You because made this article. If you want to know about Champa visit my website. It is hard to take back our land that was conquered by the Vietnamese. We are struggling to preserve our identities as a cham people that is being erased slowly by the Vietnamese. May Allah S.W.T help our nation.
Kerajaan Campa dari zaman ke zaman Campa, menurut literatur Cina bernama Lin Yi, yang muncul pada tahun 192 Masehi, terletak di bagian tengah negeri Vietnam sekarang, antara Gate of Annam (Hoanh Son) di utara dan Sungai Donnai di selatan.

Penduduk Lin Yi berbicara dalam bahasa Cam dari rumpun Austronesia. Sejak awal Lin Yi adalah negeri yang takluk pada Cina dan membayar upeti kepadanya. Nama “Campa” disebut (dan dipakai) pertama kali dalam dua buah prasasti bahasa Sanskerta, satunya kencan 658 yang ditemukan di bagian tengah Vietnam dan satu lagi ditemukan pada tahun 668 di Kampuchea.

Pada abad kedelapan, merupakan puncak kerajaan Campa, yang ditandai dengan luas kawasan dan kemajuan peradabannya. Saat ini Campa merupakan sebuah negara federal yang terdiri dari lima negara: Indrapura, Amarawati, Vijaya, Kauthara dan Panduranga, yang masing-masing negara itu memiliki administrasi masing-masing yang otonom, dengan ibukota Indrapura (Quang Nam sekarang). Kerajaan Campa memiliki hubungan diplomatik dengan negara tetangga dan tetangganya.Dengan Cina dan Vietnam di utara, Kampuchea di barat dan Nusantara di selatan.

Campa negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara teratur mengirim utusan-utusan, dan delegasi serta mengadakan hubungan ekonomi dan keagamaan dengan Cina. Ajaran agama yang dianut masyarakat Campa pada abad kedelapan dan sembilan adalah Budha Mahayana yang sampai ke Campa melalui biksu yang datang dari Cina. Hubungan dengan Nusantara dimulai ketika terjadi perampokan besar-besaran oleh orang Jawa pada akhir abad kedelapan.

Dan hubungan itu menjadi lebih baik dalam bentuk hubungan perdagangan dan persahabatan Pada abad ke sembilan terjadi pergeseran orientasi Campa dari Cina ke India. Mulai zaman ini peradaban Campa termasuk sistem sosial, keagamaan dan lain sebagainya, dipengaruhi oleh Budaya India yang beragama Hindu dan Budha. Pada 939 muncul kekuatan baru di wilayah ini yakni Dai Viet (kemudian menjadi Vietnam), dan mulai sejak itu terjadi peperangan yang berkepanjangan antara Vietnam dan Campa, dan pada 982 Vietnam berhasil menghancurkan ibu kerajaan Indrapura, dan raja Campa memindahkannya jauh ke selatan yakni ke Vijaya (Binh Dinh sekarang), bahkan pada 1044 Dai Viet (Vietnam) berhasil menduduki kota Vijaya dan membunuh rajanya.

Berbagai usaha pernah dilakukan raja-raja Campa untuk membalas dendam dan menyerang Vietnam, tapi kenyataannya pada setiap penyerangan, justru Vietnam semakin dapat memperbesar kawasan dan mencaplok Campa. Pernah kerajaan Campa kembali pada kejayaannya dalam waktu singkat, ketika diperintah oleh Che Bong Nga (1360-1390), karena dia berusaha mengembalikan wilayah yang dirampas Vietnam, dan dia memerintah dengan cukup adil dan berhasil memerangi perompak.

Pada 1471 raja Vietnam Le Thanh Tong menyerang Campa secara besar-besaran, dan menghancurkan Vijaya, membunuh lebih 40.000 penduduk, mengusir lebih dari 30.000 lainnya dari bumi Campa, dan bahkan menghancurkan apa saja sisa-sisa negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara Campa yang dipengaruhi Hindu / Budha, dan kemudian menggantikannya dengan kebudayaan China / Vietnam.

Dengan kemenangan Le Thanh Tong pada 1471 itu, maka tamatlah riwayat Kerajaan Campa belahan utara, khususnya Indrapura, Amarawati dan Vijaya.

Selanjutnya yang bertahan adalah sisa-sisa kerajaan Campa belahan selatan Kauthara dan Panduranga yang diperintahi oleh Bo Tri Tri dan pengganti-penggantinya. Kerajaan Campa mulai menerima kebudayaan Melayu dan Islam yang masuk melalui pelabuhan Panduranga dan Kauthara, dan meningkatkan hubungan dengan tanah Melayu dan Nusantara, dikabarkan raja Campa bernama Po Klau Halu (1579-1603) sudah memeluk Islam, bahkan telah mengirim tentaranya untuk membantu Sultan Johor di Semnenanjung Tanah Melayu untuk melawan Portugis di Malaka tahun 1511.

Namun sayang sekali lagi raja Nguyen dari Vietnam menaklukan Kauthara (1659) dan Panduranga (1697). Raja Panduranga terakhir Po Cei Brei terpaksa mengungsi meninggalkan negerinya bersama ribuan pengikutnya menuju Rong Damrei di Kampuchea.Pada 1832, Penguasa Vietnam Minh menh melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap sisa terakhir penduduk Campa Panduranga, merampas seluruh sawah ladang mereka, dan memasukkan wilayah Panduranga menjadi bagian Vietnam.

Dan hal itu menandai lenyapnya Sisa Kerajaan Campa terakhir dari peta bumi untuk selamanya, meskipun kebudayaan dan etnis Campa tetap berlanjut tapi sudah berada di pengungsian yakni Kampuchea. Kehadiran Orang Campa dan Melayu di Kampuchea Seperti telah diuraikan sebelumnya, banyak orang Campa yang meninggalkan tanah airnya karena desakan Nam tien atau gerakan orang-orang Vietnam ke selatan. Untuk menyelamatkan diri mereka hijrah ke Kampuchea.

Di Kampuchea mereka bertemu dengan kelompok Melayu yang datang dari Nusantara. Terjadilah akulturasi budaya karena persamaan agama, dan rumpun bahasa Austronesia, ke dalam masyarakat baru yang disebut Melayu-Campa atau JVA-Cam. Kehadiran masyarakat Melayu di Kampuchea dimulai sejak beberapa abad sebelumnya.Sumber-sumber Khmer menyebutkan bahwa dalam abad ke 7, kaum JVA telah menghuni beberapa wilayah Khmer yang datang sebagai pedagang, pelaut dan tentara laut.

Selama abad ke 15 hubungan dunia Melayu dan Kampuchea meningkat dari segi ekonomi dan agama. Banyak pedagang dan penyebar agama tiba di Kampuchea. Menurut sumber-sumber Melayu di Kampuchea, kebanyakan orang Melayu berasal dari Kalimantan, Jawa, Sumatera, Singapura, Trenggano dan Patani. Bahkan untuk waktu-waktu tertentu kepala Melayu telah menjalin kerjasama dan saling membantu dengan Raja-raja Khmer.

Gelombang migrasi masyarakat Campa di Kampuchea adalah setelah 1471 ketika Vietnam menduduki Vijaya, gelombang berikutnya setelah 1697 ketika Vietnam menduduki Panduranga, dan terakhir karena mengalami siksaan luar biasa pada 1832.

Migrasi Campa terjadi karena melarikan diri dari penghancuran Vietnanm, sedang migrasi Melayu dari Nusantara terjadi karena perdagangan dan penyebaran agama Islam. Dan kedua etnis berbeda asal usul ini bersatu dalam satu agama yakni Islam di negeri asing bernama Kampuchea.

Kedua suku ini karena persamaan nasib, dan persamaan agama, akhirnya bekerja dan bercampur sehingga melahirkan etnis baru yang disebut Melayu-Campa. Oleh penguasa Khmer masyarakat Melayu-Campa ini dipersilahkan untuk berdiam di wilayah Oudong (ibu nregara Khmer waktu itu), wilayah Thbaung Khmum, Stung Trang dan daerah-daerah Kompot, Battambang dan Kampung Luong sekarang ini.

Masyarakat Melayu-Campa membentuk komunitas khusus yang dikenal sebagai “Cam-JVA”.Kata “JVA” berasal dari kata “Jawa” yang ditafsirkan masyarakat Kampuchea sebagai semua masyarakat Melayu dari manapun asalnya. Mungkin mereka berasal dari Pulau Jawa, Sumatera atau mana-mana negeri di Semenanjung Tanah Melayu dan Patani.

Istilah “cam” merujuk kepada penduduk yang berasal dari kerajaan Campa yang pada zaman dahulu terletak di tengah Vietnam sekarang. Karena kedua masyarakat Melayu dan Cam menganut agama Islam dan termasuk di dalam kelompok linguistik Austronesia, maka masyarakat Khmer menggolongkan mereka kepada kelompok “Cam-JVA” atau “Melayu-Campa”. Pada tahun 1874 penduduk Melayu-Cam berjumlah 25.599 orang.

Sepuluh persen penduduk Phnom Penh adalah Melayu-Cam. Di daerah-daerah pemukiman Melayu-Campa ini banyak kita temui Masjid dan surau, serta tempat pendidikan agama. Kebanyakan Melayu-Campa bekerja sebagai petani, nelayan, peternak sapi dan pedagang yang handal, sebagian lainnya berfungsi selaku kaki tangan pemerintah, mulai dari pegawai peringakat kampung chumtup, mekhum, mesrok dan chaway Srok, bahkan juga ada yang bertugas sebagai tentara dan memegang jabatan politik.

Keseluruhan membuktikan bahwa masyarakat Melayu-Cam telah benar-benar merasa Kampuchea sebagai negara bangsanya sendiri tanpa terkecuali, dan telah memberikan kesetiaannya kepada Kampuchea, termasuk ketika penjajahan Perancis.

Sebaliknya pemerintah Khmer tidak menganggap Melayu-Cam sebagai pendatang dan orang asing, tapi warga negara bukan pribumi, sebagaimana banyak orang semacam itu lainnya. Kampuchea merdeka dari jajahan Prancis tanggal 9 Nopember 1953, di bawah kepala Negara Norodom Sihanouk. Namun sayangnya masyarakat Melayu-Cam tidak disebutkan dari sudut etniknya, yakni etnis Melayu-Cam, tapi disebut Khmer Islam, sebutan yang dipopulerkan hingga ke hari ini.

Belakangan kelompok-kelompok minoritas yang dilindungi di daerah Pays Montagards du Sud (PMS) yang mencakup Kontum, Pleiku, Ban Methuot, Djing dan Dalat yang ada di Vietnam Selatan, dihapus dan seluruhnya dianggap masyarakat Vietnam. Hal yang sama juga dialami oleh sisa-sisa minoritas Cam di Vietnam dan Khmer Krom (masyarakat Khmer yang berdiam di Vietnam Selatan).

Oleh sebab itu, masyarakat Melayu-Cam di Kampuchea berusaha berjuang bersama masyarakat PMS di Vietnam dan orang-orang Khmer Krom, membentuk aliansi yang disebut FULRO (Front Unifie de Lutte des Races Oprimees atau Front Pembebasan Ras-ras Tertindas). FULRO mencakup kombinasi Front de Liberation du Champa (Front Pembebasan Campa), Front de Liberation du Kampuchea Krom (Front Pembebasan Kampuchea Krom) dan Front de Liberation du Kampuchea Nord (Front Pembebasan Kampuchea Utara).

Anggota departemen kekuasaan FULRO terdiri dari Presiden Chau Dara dan dua orang wakil presiden: Y. Bham Enoul (seorang Rade dari Ban Methuot) dan Po Nagar (seorang tentara Kapuchea yang berasal dari Kompong Cam, yang di kalangan Islam dikenal dengan Les Kosem).

Les Kosem seorang tentara terjun payung Kapuchea, yang pada tahun 1970 diangkat menjadi general, dia merupakan pimpinan mulayu-Cam yang berpengaruh dalam angkatan tentara dan politik Khmer. Pada masa pemerintahan Lon Nol, nasib Melayu-Cam agak lebih baik, karena kepercayaan dan berbagai posisi diberikan pada Melayu-Cam dan FULRO. Les Kosem ditunjuk menjadi mediator dalam menyelesaiukan berbagai konflik intern Muslim dan perwakilan Kapuchea ke berbagai negara Muslim.

Tapi setelah jatuhnya Kampuchea ketangan Khmer Rouge, Les Kosem melarikan diri ke Malaysia dan meninggal di Jakarta tahun 1976. Saat rezim Pol Pot dari Khmer Rouge (1975-1979), ribuan orang Kampuchea telah disiksa dan dibunuh karena diyakini bekerjasama dengan rezim Lon Nol dan karena alasan agama yang dianutnya. Seperti diketahui bahwa Khmer Rouge adalah penganut ajaran Komunisme radikal, dan menghambat kebebasan beragama.

Melayu-Cam yang beragama Islam merasakan penderitaan yang amat sangat berat. Masyarakat Melayu-Cam dan Khmer Islam dipaksa meninggalkan tradisi keagamaan mereka, nama yang memiliki konotasi Islam, dihapus, Masjid dan madrasah tidak difungsikan atau dikurangi jumlahnya, kebiasaan-kebiasaan agama lainnya dihapus. Al-Qur’an dan bacaan-bacaan keagamaan lainnya dimusnahkan. Budaya dalam bentuk aktifitas-aktifitas, pakaian, makanan dan asesoris Islam lainnya dilenyapkan, termasuk nama dan gelar keagamaan.

Pada tanggal 17 April 1975, pasukan khusus Khmer Rouge yang disebut angkar, telah melakukan pencarian dan penyisiran diikuti penyiksaan terhadap siapa saja yang mereka curigai berdasarkan Lon Nol. Pada 20 Mei 1975, Pol Pot telah melakukan diskriminasi sosial berdasarkan pilihan politik dan agamanya, sehingga yang ada hanya dua pilihan: “ikut Pol Pot atau menolak Pol Pot”. Mereka yang dianggap menolak Pol Pot mengalami nasib yang tidak pernah terjadi dalam sejarah umat manusia, yakni pembantaian besar-besaran.

Diperkirakan antara satu sampai tiga juta orang telah dibunuh atau mati karena kekurangan makanan, satu juta diantaranya adalah Melayu-Campa. Dan sekitar enam juta lainnya mengalami trauma berat karena ketakutan yang sangat berat. Umat ​​Islam karena alasan ideologi dan keagamaan serta merupakan “kaum pendatang” adalah umat paling menderita, mereka dipaksa berpisah dengan kaum sesama umat Islam, atau diusir ke hutan dan gunung atau bagi yang mampu ada yang melarikan diri ke Luar Negeri, yang paling banyak lari ke Kelantan (Malaysia), Vietnam dan Thailand serta negara-negara barat.

Meskipun Kher Rouge hanya memerintah selama empat tahun, tapi akibatnya dari aspek budaya, banyak rakyat Khmer Islam dan Melayu-Camp yang sudah tidak kenal agamanya, tidak pandai tulis baca Arab dan Campa. Pol Pot berhasil mengikis habis identitas keislaman dan Ke-Campa orang-orang Melayu Campa. Barulah setelah jatuhnya rezim Pol Pot dan diperintah oleh Hun Sen dan Raja Sihanouk, masyarakat Melayu-Cam/Khmer Islam kembali merasakan sedikit kemerdekaan beragama.Masjid sudah mulai difungsikan kembali demikian juga madrasah-madrasah.

Masyarakat Islam ditempatkan di bawah negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara yang terdiri dari enam orang yang ditunjuk oleh raja.Dewan Agama Islam Kampuchea (MAIK) dipimpin oleh seorang Changvang (mufti), sekarang dijabat oleh Uztadz Kamaruddin Yusof, dibantu oleh dua orang Asisten Mufti (sekarang Uztadz Yusof Kadir dan Uztadz Arsyad), dilengkapi dengan tiga orang Penasehat (sekarang YB Math Ly, YB pulsa Loh dan YB Ismail Osman).

Di setiap desa ada seorang pemimpin spritual bergelar Hakim. Di daerah Trea (Kompong Cham) didirikan sekolah madrasa Hafiz al-Qur’an, kemudian diikuti Sekolah Dubai di KM 9 Pnomh Penh, Darul aitam di Pochentong, Serkolah Ummul Kura di Chrouy Metrei.

Madrasa Hajjah Rohimah Tambichik di Nohor Ban dan Ma’had al-Muhammady di Beng Pruol. Sebenarnya sebelum rezim Kher Rouge memerintah Kampuchea, banyak siswa Kampuchea melanjutkan studinya ke Malaysia, Thailand Selatan, Egypt, Arab Saudi dan Kuwait.

Saat ini solidaritas dari badan-badan Islam Internasional, dan umat Islam antara bangsa telah muncul, karena nasib umat Islam di Kampuchea yang begitu menyedihkan. Rabithah Alam Islami di Mekkah, Konferensi Negara-Negara Islam (OKI) dan lain sebagainya telah menya lurkan berbagai bantuan, mulai dari pengiriman mushaf Al-Qur’an sampai bantuan rehabilitasi Masjid dan melakukan advokasi (pembelaan) nasib umat Islam tersebut.Lembaga-lembaga keagamaan, seperti Jema’ah Tabligh dan Darul Arqam serta Regional Islamic Da’wah Council of South East Asia And Pacific (RISEAP) dari Malaysia mendatangkan guru dan pengkhotbah / ulama serta melakukan berbagai kunjungan silaturrahmi.

Saat ini sudah dikukuhkan 320 desa orang Islam, 110 diantaranya terdapat di propinsi Kompong Cham, juga sudah dikembalikan fungsinya dan direhabilitasi bangunannya sebanyak 270 masjid dan surau, dan dikikuhkan 600 orang Tuan dan Hakim.Propinsi lainnya yang juga kuat umat Islamnya adalah Propinsi Battambang dan Kampot.

Di Kampuchea terdapat empat asosiasi Umat Islam: negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara Samakum Islam Kampuchea (Persatuan Islam Kampuchea) di bawah kepemimpinan YB Math Ly. Samakum Khmer Islam Kampuchea (Asosiasi Khmer Islam Kampuchea) dipimpin oleh YB Wan Math.

Samakun Islam Preah Reach Anachakr Kampuchea (Persatuan Islam Kerajaan Kampouchea) di bawah pimpinan YB Ahmad Yahya, Dan Samakum Cham Islam Kampuchea (Asosiasi Cam Islam Kampuchea) dipimpin guru bernama Guru Zain yang tinggal di Prek Pra.

Kedua istilah: Khmer Islam dan Cam sama-sama diterima dan dipakai secara resmi. Selanjutnya juga ada Yayasan seperti Cambodian Muslim Development Foundation dan Combodian Islamic Development Community. Dan tentu saja tidak bisa dilupakan adalah organisasi intelektual Muslim Kampuchea Cambodian Muslim Intelectual Alliance (CMIA) yang menyelenggarakan acara kita saat ini.

Adapun tokoh-tokoh Islam Kampuchea yang terkenal karena posisinya yang dekat dengan pantadbiran antara lain: YB Math Ly (anggota parlemen, wakil Perdana Menteri dan mantan Menteri Pendidikan). Onkha Othman Hassan (anggota parlemen, penasehat Perdana Menteri), YB Ahmad Yahya (Anggota parlemen), HE Ismail Yusoff (anggota parlemen), YB Ismail Osman (Anggota parlemen dan wakil di kementrian Urusan Kepercayaan dan Agama).

YB Zakariyya Adam Osman (wakil menteri di Kementrian Urusan Kepercayaan dan Agama). Hubungan Budaya Melayu Campa dan Asia Tenggara Seperti sudah disebutkan, ada dua etnis yang menyatu di Kampuchea, yakni Melayu-Cam. Orang Kampuchea menyebut mereka dengan “Cam-JVA”.

Istilah “JVA”, yang berasal dari kata Jawa. Meskipun di Kampuchea istilah “JVA” tidak di maksudkan hanya untuk orang Jawa, tapi seluruh orang Melayu atau Nusantara, termasuk Semenanjung Tanah Melayu dan Patani. Sedang “Cam”, atau Cham berasal dari etnis atau (pemerintah lama) Campa. Kalau orang Melayu merantau dari Tanah Melayu atau Nusantara, maka orang Cam mengungsi secara besar-besaran dari tanah asal mereka di bagian tengah Vietnam sekarang, dan keduanya yang kebetulan berasal dari rumpun bahasa yang sama yakni Austronesia, dan belakangan memiliki agama yang sama, yakni Islam, maka kedua etnis tersebut dengan cepat menyatu dan melahirkan etnis JVA-cam atau Melayu-Campa.

Meskipun orang Kampuchea tidak dapat membedakan orang Melayu, tapi dari kalangan Melayu sendiri negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara, membagi Melayu menjadi tiga kategori: (1) Orang JVA Krabi (dalam bentuk tulisan Chhvea Krabei) menunjukkan orang Melayu yang berasal dari Pulau Sumatera, khususnya Minangkabau.

Krapi dalam bahasa Kampuchea berarti “Kerbau”, diperkirakan menggunakan istilah JVA Krabi, karena konon kabarnya dahulu kala kerbau orang Minangkabau menang melawan kerbau yang dibawa dari Jawa. (2) Orang JVA Ijava (Chhvea iava), maksudnya orang Melayu yang berasal dari Pulau Jawa.

(3) Orang JVA Malayu (chhvea Malayou), menunjukkan orang Melayu yang datang dari negeri-negeri Semenanjung Tanah Melayu dan Patani. Hijrahnya orang Melayu dari Nusantara, dalam rangka berdagang atau karena mereka anak maritim yang senang mngembara dilautan lepas, diperkirakan setelah masuknya Islam di Nusantara, sehingga mereka ikut membawa Islam ke Kampuchea. Proses imigrasi itu diperkirakan berlangsungabad ke 13 dan 14.

Orang Melayu telah memainkan perannya yang besar dalam mengajarkan Islam di Kampuchea. Raja Khmer sering memberi gelar kepada tokoh-tokoh Islam, seperti “Onkha To Koley”, berasal dari Ukana To ‘Kali. Koley berasal dari kata Kalih (bahasa Melayu) atau Kadi (bahasa Arab yang berarti Hakim). Julukan “Onkha Reachea Mu Sti”, berasal dari Ukana Raja Mufti. Mufti (bahasa Arab berarti pemberi fatwa), sedang “Onkha Reachea Peanich”, berasal dari Ukana Raja Sampatti, senopati (bahasa Jawa yang berarti perwira) yang bertanggug jawab dalam bidang bisnis dan ekonomi.

Pada akhir abad ke 16, sumber-sumber Khmer menyebutkan ada dua tokoh Melayu-Cam, bernama Po Rat atau Cancona (berasal dari Cam) dan Laksmana (dari Melayu), yang berbakti pada Raja Ram I (Ram dari Joen Brai (1594-1596), kedua mereka ini dikenal sebagai pemimpin tentara yang sangat kuat dan handal, dan dipercaya memadamkan berbagai pemberontakan dan diantar memimpin ekspedisi ke berbagai wilayah.

Sebagai balas jasa, Raja Khmer menghadiahkan wilayah Thbaung Khum untuk mereka jadikan sebagai tempat tinggal keturunan dan masyarakat Islam lainnya. Cari Tulisan Terakhir • Sejarah Melayu-Campa • Ternyata Amerika Memiliki Hutang 57ribu Ton Emas Kepada bangsa Indonesia. • Sekilas Tragedi Sejarah Bangsa Champa • Menerka Tarikh Sejarah dari Harimau Champa • Mitologi Nagari Sungai Pua Komentar Terbaru Arsip • Oktober 2013 • September 2013 Kategori • Tak Berkategori Meta • Daftar • Masuk • Feed entri • Feed Komentar • WordPress.com Linkwithin Breaking News • Direktori Silsilah Keluarga Raja-Raja Pagaruyung • Peta Wilayah Pengaruh Adat dan Bahasa Minangkabau • Wilayah Kebudayaan Pulau Sumatera • Luhak Nan Tigo – Rantau Nan Duo, 5 Daerah Asal Orang Minangkabau Dalam Carano • Pakiah Mudo Murid Syaich Surau Baru; Poolman; Arung Palaka dan Jonker pada 1665 – Lyb-Arya-n Pusthaka • Peta (Kaart) Van Een Gedelte Der Westkust Van Sumatra 1819-1845 – Lyb-Arya-n Pusthaka • Kaba dan Tambo, Karya Spektakuler Pembentuk Adat dan Budaya Minangkabau • Kingdom Of Litai; Chinese Sources (re-write) Bharatara 1960 – Lyb-Arya-n Pusthaka • Tuanku Lareh Kurai Banuhampu Bapulang • Adaptasi Seni Budaya Cina di Minangkabau Champa adalah nama negeri yang akrab dalam literatur tambo dan kaba klasik Minangkabau.

Nama negeri ini identik dengan nama tokoh Harimau Campa yang merupakan anggota rombongan nenek moyang orang Minangkabau, Sultan Maharajo Dirajo. Nama Harimau Campa kemudian diabadikan dalam nama lembaga negara Harimau Campo Koto Piliang, yaitu lembaga negara yang berfungsi sebagai angkatan perang dan menteri pertahanan yang dijabat oleh Tuan Gadang di Batipuah. Keberanian orang-orang Champa yang sangat legendaris ini disebabkan keberhasilan mereka dalam menghancurkan pasukan Mongol dalam invasi yang dilakukan oleh Kubilai Khan.

Dalam kaba klasik, Champa muncul sebagai nama negeri perantauan Anggun Nan Tongga dan Malin Kundang, bahkan Malin Kundang dalam legenda masyarakat Air Manis, Padang di kemudian hari berhasil mempersunting salah satu Puteri Champa. Champa juga dipercaya sebagai daerah asal dari pendiri Kerajaan Inderapura, terlihat dari nama ibukota pertama Inderapura yang disebut Muara Campa.

Selain itu Suku Jambak di Minangkabau juga merupakan suku yang pada awal mulanya datang dari negeri Champa ini. Nama Suku Campa lama kelamaan berubah jadi Suku Jambak dalam lidah Minangkabau. Sekilas Kerajaan Champa Kerajaan Champa ( bahasa Vietnam: Negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara Thành) adalah kerajaan yang pernah menguasai daerah yang sekarang termasuk Vietnam tengah dan selatan, diperkirakan antara abad ke-7 sampai dengan 1832. Sebelum Champa, terdapat kerajaan yang dinamakan Lin-yi (Lam Ap), yang didirikan sejak 192, namun hubungan antara Lin-yi dan Campa masih belum jelas.

Komunitas masyarakat Champa, saat ini masih terdapat di Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia dan Pulau Hainan (Tiongkok). Bahasa Champa termasuk dalam rumpun bahasa Austronesia. Sebelum terbentuknya Kerajaan Champa, di daerah tersebut terdapat Kerajaan Negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara (Lam Ap), akan tetapi saat ini belum diketahui dengan jelas hubungan antara Lin-yi dan Champa.

Lin-yi diperkirakan didirikan oleh seorang pejabat lokal bernama Ku-lien yang memberontak terhadap Kekaisaran Han pada tahun 192 masehi, yaitu di daerah kota Huế sekarang. Wilayah Kekuasaan Daerah Champa meliputi area pegunungan di negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara barat daerah pantai Indochina, yang dari waktu ke waktu meluas meliputi wilayah Laos sekarang.

Akan tetapi, bangsa Champa lebih berfokus pada laut dan memiliki beberapa kota berbagai ukuran di sepanjang pantai. Setelah abad ke-7, Champa melingkupi wilayah provinsi-provinsi modern Quảng Nam, Quảng Ngãi, Bình Định, Phú Yên, Khánh Hòa, Ninh Thuận, dan Bình Thuận di Vietnam.

Budaya dan Agama Pada awalnya Champa memiliki hubungan budaya dan agama yang erat dengan Tiongkok, namun peperangan dan penaklukan terhadap wilayah tetangganya yaitu Kerajaan Funan pada abad ke-4, telah menyebabkan masuknya budaya India. Setelah abad ke-10 dan seterusnya, perdagangan laut dari Arab ke wilayah ini akhirnya membawa pula pengaruh budaya dan agama Islam ke dalam masyarakat Champa. Sebelum penaklukan Champa oleh by Lê Thánh Tông, agama dominan di Champa adalah Syiwaisme dan budaya Champa sangat dipengaruhi India.

Islam mulai memasuki Champa setelah abad ke-10, namun hanya setelah invasi 1471 pengaruh agama ini menjadi semakin cepat. Pada abad ke-17 keluarga bangsawan para tuanku Champa juga mulai memeluk agama Islam, dan ini pada akhirnya memicu orientasi keagamaan orang-orang Cham. Pada saat aneksasi mereka oleh Vietnam mayoritas orang Cham telah memeluk agama Islam. Kebanyakan orang Cham saat ini beragama Islam, namun seperti orang Jawa di Indonesia, mereka mendapat pengaruh besar Hindu.

Catatan-catatan di Indonesia menunjukkan pengaruh Putri Darawati, seorang putri Champa yang beragama Islam, terhadap suaminya, Kertawijaya, raja Majapahit ketujuh sehingga keluarga kerajaan Majapahit akhirnya memeluk agama Islam.

Makam Putri Campa dapat ditemukan di Trowulan, situs ibukota Kerajaan Majapahit. Perdagangan Champa merupakan jalur penghubung penting dalam Jalur Rempah-rempah ( Spice Road) yang dimulai dari Teluk Persia sampai dengan selatan Tiongkok; dan kemudian ia juga termasuk dalam jalur perdagangan bangsa Arab ke Indochina, yang merupakan pemasok aloe. Champa memiliki hubungan perdagangan dan budaya yang erat dengan kerajaan maritim Sriwijaya, serta kemudian dengan Majapahit di kepulauan Melayu.

Dalam Babad Tanah Jawi, dikatakan bahwa raja Brawijaya V memiliki istri bernama Anarawati (atau Dwarawati), seorang puteri dari Kerajaan Champa yang beragama Islam. Beberapa Walisongo juga dikatakan pernah bermukim di Kerajaan Champa sebelum menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Demikian pula, terdapat hubungan yang erat antara Kerajaan Champa dan Kerajaan Kamboja.

Meskipun sering terjadi peperangan, kedua kerajaan juga mengadakan pertukaran kebudayaan dan perdagangan; dimana sering terjadi pernikahan keluarga kerajaan diantara keduanya. Konfederasi Kota di Kerajaan Champa Sebelum tahun 1471, Champa merupakan konfederasi dari 4 atau 5 kepangeranan, yang dinamakan menyerupai nama wilayah-wilayah kuno di India: • Indrapura – Kota Indrapura saat ini disebut Dong Duong, tidak jauh dari Da Nang dan Huế sekarang. Da Nang dahulu dikenal sebagai kota Singhapura, dan terletak dekat lembah My Son dimana terdapat banyak reruntuhan candi dan menara.

Wilayah yang dikuasai oleh kepangeranan ini termasuk propinsi-propinsi Quảng Bình, Quảng Trị, dan Thừa Thiên–Huế sekarang ini di Vietnam. • Amaravati – Kota Amaravati menguasai daerah yang merupakan propinsi Quảng Nam sekarang ini di Vietnam.

• Vijaya – Kota Vijaya saat ini disebut Cha Ban, yang terdapat beberapa mil di sebelah utara kota Qui Nhon di propinsi Bình Định di Vietnam. Selama beberapa waktu, kepangeranan Vijaya pernah menguasai sebagian besar wilayah propinsi-propinsi Quang-Nam, Quang-Ngai, Binh Dinh, dan Phu Yen. • Kauthara – Kota Kauthara saat ini disebut Nha Trang, yang terdapat di propinsi Khánh Hòa sekarang ini di Vietnam. • Panduranga – Kota Panduranga saat ini disebut Phan Rang, yang terdapat di propinsi Ninh Thuận sekarang ini di Vietnam.

Panduranga adalah daerah Champa terakhir yang ditaklukkan oleh bangsa Vietnam. Diantara kepangeranan-kepangeranan tersebut terdapat dua kelompok atau suku: yaitu Dua dan Cau. Suku Dua terdapat di Amaravati dan Vijaya, sementara suku Cau terdapat di Kauthara dan Panduranga. Kedua suku tersebut memiliki perbedaan tata-cara, kebiasaan, dan kepentingan, yang sering menyebabkan perselisihan dan perang.

Akan tetapi biasanya mereka berhasil menyelesaikan perselisihan yang ada melalui perkawinan antar suku. Penaklukan oleh Bangsa Vietnam Para penguasa Champa di Panduranga ( Nagar Champa) yang terbentuk pada pertengahan abad ke-15, melakukan perlawanan terhadap Vietnam dan pada tahun 1695 melalui perundingan memperoleh status kepangeranan otonom (Tran Thuan Thanh) di bawah dinasti Nguyen dari Cochin Tiongkok.

Kerajaan Champa kemudian menjadi negara bawahan yang setia dari Kaisar Gia Long dari dinasti Nguyen, namun pada akhirnya kedaulatannya dibubarkan pada tahun 1832 oleh anak Kaisar Gia Long, yaitu Kaisar Minh Mạng. Pada masa peperangan dengan Vietnam, banyak penduduk Champa termasuk para aristokratnya yang mencari perlindungan di Kamboja, dan mendapatkan kedudukan yang tinggi. Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Champa • Insight Guide – Vietnam (ed.) Scott Rutherford, 2006.

ISBN 981-234-984-7. • Vietnam, Trials and Tribulations of a Nation D. R. SarDesai, ppg 33-34, 1988. ISBN 0-941910-04-0 • Emmanuel Guillon. Cham Art. Thames & Hudson Ltd, London, 2001.

ISBN 0-500-97593-0 • art.com Hindu-influenced art above the entrance of one of the Po Nagar Cham towers, Photographic Print by Steve Raymer, 12×16 ASIN B000EUCYYQ • Jean-Francois Hubert. The Art of Champa. Parkstone Press, 2005. ISBN 1-85995-975-X • AA. Navis, Alam Terkembang, Curaian Adat Minangkabau, 1979 Pranala luar • (en) Proceedings of the Seminar on Champa • (en) Champa Revised • (en) Vietnam-Champa Relations and the Malay-Islam Regional Network in the 17th—19th Centuries • (en) The Survivors of a Lost Civilisation • (en) Cham Muslims: A look at Cambodia’s Muslim minority • (en) The Cham Muslims of Indochina • (en) Photos of Cham art at the Fine Arts Museum in Saigon Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau.

Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya. Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected] Aceh (2) Adityawarman (1) Alas (1) Barus (2) Basa Ampek Balai (1) Batak (1) Bodi (1) Bodi Caniago (1) Bunga Setangkai (1) Dhammasraya (3) Gandhara (1) Harau (1) Hellenisme (1) Indus (1) Kandis (1) Karo (1) Katumanggungan (1) Konfederasi (1) Koto Gadang (1) Koto Piliang (2) Kuantan (1) Langgam Nan Tujuah (1) Lubuk Jambi (1) Mahat (1) Mandailing (1) Maninjau (1) Marapalam (1) Marapi (1) Menhir (1) Padang (4) Paderi (2) Pakpak (1) Pariangan (4) Payakumbuh (1) Perpatih Nan Sabatang (2) Sawahlunto (2) Silek (1) Singkil (1) Sriwijaya (2) Sungai Tarab (1) Sungayang (1) Tamil (1) Tenun (1) Toba (1) Yunani Kuno (1) Minangkabau Heritage adalah sebuah gerakan konservasi Warisan Budaya Minangkabau yang berangkat dari kesadaran akan perlunya portal open data dengan sumber terbuka yang bertemakan Kebudayaan Minangkabau.

Proyek ini diselenggarakan secara gotong royong baik dari sisi teknis, penyuntingan naskah dan pelbagai kegiatan lainnya.

Saat ini ada 3 Sub Tema besar yang sedang dikerjakan yaitu : Sejarah Minangkabau, Budaya Minangkabau, Warisan Minangkabau. Ingin berpartisipasi ? Silahkan kirim file, naskah, dokumen anda melalui menu yang tersedia atau kiri email beserta lampiranya ke [email protected]
Kerajaan Champa (Bahasa Vietnam: Chiêm Thành) merupakan kerajaan Indocina yang sekarang menjadi Vietnam Selatan.

Kerajaan ini telah berdiri dari abad ke 2 Masehi hingga abad ke 17 Masehi. Kerajaan Champa yang berjaya di masa lampau, kini telah musnah dan hampir tidak ada jejak sejarahnya dan reruntuhan bangunan ataupun peninggalan dari kerajaan ini hampir tidak berbekas lagi di sana. Meskipun begitu, komunitas masyarakat Champa ini masih ada di Vietnam dengan nama Cham Village dan masih berbicara dengan Bahasa Cham yang merupakan Bahasa Austronesia. Tetapi pada akhirnya, masyarakat Vietnam juga menyerap budaya Champa yang merupakan campuran dari masyarakat Melayu Polynesia dan India.

Kerajaan Champa juga merupakan kerajaan Islam yang memiliki pengaruh besar pada Indonesia seperti peninggalan kerajaan Islam di Indonesia. Kerajaan ini dahulu sering melakukan interaksi dengan negara tanah air semenjak munculnya Kerajaan Kutai, yang merupakan kerajaan pertama di Indonesia, di Kalimantan Timur. Selain itu, Kerajaan Champa juga memiliki interaksi dengan salah satu Wali Songo di tanah Jawa, Sunan Gunung Jati di Cirebon. Simak juga sejarah Wali Songo.

Berdasarkan sejarah, Kerajaan Champa memiliki pengaruh yang negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara besar terhadap perkembangan agama Islam di Indonesia. Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk mengetahui sedikit mengenai sejarah Kerajaan Champa. Awal Pendirian dan Masa Kejayaan Sejarah Kerajaan Champa bermula dari adanya Kerajaan Lin Yi pada tahun 192 Masehi. Kerajaan Lin Yi adalah sebuah kerajaan Hindu yang memiliki pengaruh besar dari India meskipun memiliki kepercayaan setempat yang sangat kental.

Selain itu, Champa sejatinya adalah kerajaan dengan bentuk konfederasi kota yang terdiri dari: • Inderapura (Ibukota Champa dari 875 Masehi – 1000 Masehi) • Amaravati • Vijaya (ibukota Champa dari 1000 Masehi – 1471 Masehi) • Kauthara • Panduraga Sebelum tahun 1471 Masehi, Menurut Sejarah Kerajaan Champa menganut agama Hindu Shiwa sebagai agama resmi negara dan Sansekerta adalah tulisan resmi yang digunakan dalam prasasti-prasasti dan maklumat negara. Namun, Bahasa Sansekerta bukanlah bahasa satu-satunya yang digunakan oleh masyarakat Champa, tetapi mereka juga menggunakan bahasa mereka sendiri yaitu Bahasa Champa.

Pada tahun 875, Kerajaan Champa juga pernah menjadikan agama Buddha Mahayana sebagai agama resminya. Saat itu, Kerajaan Champa berada dibawah kekuasaan Rasa Indrawarman II dengan ibukota di Inderapura.

Pada abad ke 7 hingga abad ke 10, Kerjaan Champa mengalami masa kejayaannya dengan meninggalkan bangunan-bangunan bersejarah di Vietnam seperti kompleks percandian My Son dan Po Klong Garai. Simak juga 15 candi terbesar di dunia. Pada abad 10 dan 11 Masehi ini, Kerajaan Champa mulai terpengaruh dengan masuknya agama Islam di Vietnam yang berasal dari jamaah India, Persia, dan pedagang Arab.

Penyebaran jamaah tersebut akhirnya mempengaruhi Kerajaan Champa pada saat Raja Che Bo Nga diislamkan oleh Sayyid Husein dan memicu orientasi agama masyarakat Cham. Pada akhinrya, mayoritas orang Cham telah memeluk agama Islam. Runtuhnya Kerajaan Champa Bangsa Khmer, yang sekarang adalah Kamboja, adalah musuh tradisional dari bangsa Champa. Mereka telah saling menyerang satu sama lain selama seribu tahun lamanya seperti sejarah perang Arab Israel.

Invasi pada tahun 982 Masehi menyebabkan kota Inderapura ditinggalkan dan ibukota kerajaan dipindahkan ke Vijaya.

Perang masih terus berlanjut hingga pada tahun 1145 Masehi, ibukota Vijaya pun hancur dan berpindah lagi ke Panduraga. Pada tahun 1471, inilah awal dari kehancuran Kerajaan Champa yang berujung pada terhapusnya Champa dari peta dunia. Kota Vijaya dihancurkan hingga tak bersisa dengan 60,000 rakyat tewas dan sisanya dijadikan budak. Maka dari itu, banyak rakyat Champa yang imigrasi ke Kamboja, Malaka, Aceh, dan wilayah lain di Sumatera.

Kehidupan orang Champa di Kamboja (Khmer) juga sangatlah tragis. Mereka yang beragama Islam menerima penindasan dari penguasa Khmer yang tidak menginginkan adanya perbedaan. Masyarakat Champa juga tidak ingin menikah dengan orang-orang non-Muslim dan hal ini mengakibatkan kemarahan raja Khmer. Hal ini berujung hingga penguasa Khmer Merah membunuh lebih dari 500,000 orang Champa.

Masyarakat Champa sudah hampir musnah pada awal tahun 1960an, namun mereka masih menyisakan peradaban mereka berupa candi-candi, arca, dan patung-patung perunggu. Namun hal ini tidak bertahan lama. Pada saat perang Vietnam, Amerika Serikat menyerang dan mengebom kompleks percandian My Son selama seminggu hingga tersisa hanya 20 bangunan dari 70 bangunan.

Simak juga sejarah perang Vietnam dengan Amerika. Dan sekarang, penduduk Champa yang tersisa hanya berada di Desa Champa yang terletak di delta Sungai Mekong. Sejarah Kerajaan Champa dengan Indonesia Seperti yang telah disebutkan, Kerajaan Champa memiliki pengaruh yang cukup negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara dengan Indonesia, dimana kejayaan kerajaan Champa memberikan jasa pengenalan dan penyebaran Islam di Indonesia. Pernikahan politik juga sudah terjadi antara putri-putri bangsawan keraton kerajaan Champa dengan raja-raja Jawa sejak era Singosari, Majapahit, hingga ke keraton Cirebon.

Peninggalan Champa di Indonesia dimulai dari Sejarah Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Didirikan pada 4 Masehi, Kerajaan Kutai merupakan kerajaan pertama di Indonesia dan didirikan oleh Mulawarman, cucu dari Kudungga.

Dan Kudungga adalah seorang pembesar dari Kerajaan Champa pada saat era Hindu dengan menghasilkan banyak Peninggalan Kerajaan Kutai. Selain itu, Kerajaan Champa juga memiliki hubungan dengan Sriwijaya pada abad ke 7. Sejarah Kerajaan Sriwijaya mengatakan bahwa Sriwijaya berulang kali negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara serangkaian serangan ke berbagai daerah di Indocina hingga ke kota Indrapura di tepian Sungai Mekong.

Area tersebut menjadi wilayah Sriwijaya, yang berpusat di Palembang pada abad ke 8, dan bertahan hingga berdirinya kerajaan Khmer dibawah raja Jayavarman. Kerajaan Champa juga muncul dalam sejarah Singosari di abad ke 13 Masehi. Pada saat itu, raja Kertanegara yang berkuasa di Singosari pada tahun 1275 Masehi, memberi gagasan untuk mengirim ekspedisi militer ke tanah melayu.

Hal ini dilakukan untuk menaklukan Sriwijaya dan menjalin persekutuan degan Champa. Ekspedisi Pamalayu tersebut berhasil menghancurkan Sriwijaya dan melakukan ekspansi ke daerah Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku).

Dan pada akhirnya, Kertanegara berhasil juga mempengaruhi Champa melalui pernikahan adik perempuannya dengan raja Champa. Penduduk Champa juga sempat bermigrasi ke Aceh dalam masa peperangan dan diterima baik oleh Sejarah Kerajaan Samudera Pasai yang saat itu menduduki Aceh.

Para masyarakat Champa juga diperkenankan untuk mendirikan kerajaannya sendiri berupa Kerajaan Jeumpa dengan ibukota di Blang Seupeung, Kecamatan Jeumpa, Bireun, NAD. Jejak Kerajaan Jeumpa masih dapat ditemukan di daerah tersebut hingga sekarang. Selain itu, budaya Champa juga ternyata memiliki pengaruh pada budaya Aceh dan begitu pula sebaliknya. Berdasarkan studi linguistik, ada ditemukannya indikasi penggunaan Bahasa Champa Aceh sebagai Bahasa utama di daerah pantai Aceh Besar, Pidie, Bireun, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, dan Aceh Jaya.
Chau Doc - Perkampungan Muslim Cham Village bisa ditemukan di Vietnam.

Kampung ini dihuni keturunan Kerajaan Champa. Kerajaan yang berkaitan dengan Wali Songo ini berjaya di masa lampau, namun kini telah hilang hampir tak berbekas. Kerajaan Islam Champa pernah menguasai wilayah Vietnam dan sekitarnya. Sayangnya, kerajaan ini telah hancur.

Suku Cham yang menjadi keturunan kerajaan tersebut kini ada yang tinggal di delta Sungai Mekong, termasuk di Cham Village, Vietnam, tapi reruntuhan bangunan atau peninggalan lainnya hampir tak berbekas lagi di sana.

"Itu (sisa-sisa Kerajaan Champa-red) saya enggak lihat. Kalau di Vietnam saya enggak nemu. Enggak ada informasi juga bahwa ini Kerajaan Champa. Kalau di Kamboja bekas kerajaan banyak, tapi ya belum tentu Champa itu," ujar Bram Marantika, seorang traveler yang pernah berkunjung ke Cham Village, dalam perbincangan dengan detikTravel, Selasa (7/7/2015).

Bram sempat berkeliling di Cham Village, menyaksikan bagaimana budaya Islam dan Melayu yang melekat pada Suku Cham di sana. Namun ia tak melihat adanya sisa-sisa dari Kerajaan Champa. Informasi untuk turis mengenai kerajaan yang dulu berkuasa itu pun tidak ditemukan. Berdasarkan dari penelitian doktoral Ahti R Westphal, dari Universitas Minnesota, AS, warga Kerajaan Cham merupakan pelaut yang tangguh dan pandai berdagang.

Sekitar abad ke-5 hingga awal abad ke-19, Kerajaan Champa sempat menguasai wilayah Vietnam tengah dan selatan hingga mencapai Laos. Mereka berdagang dengan Tiongkok sampai bangsa Arab. Sumber sejarah lainnya menuliskan bahwa Kerajaan Champa merupakan saingan berat dari Kerajaan Khmer di Kamboja dan Dai Viet, sebuah kerajaan yang ada di sebelah utara Vietnam. Sekitar abad ke-12, peperangan antara Champa dan Khmer mulai terjadi.

Di zaman peperangan antara kerajaan itu, terselip pula sejarah Wali Songo. Namun memang di lokasi bekas Kerajaan Champa di Cham Village misalnya, tak tersedia informasi lengkap. Bram yang pernah berkunjung ke sana pun mengaku tak tahu menahu mengenai kaitan Wali Songo dengan Kerajaan Champa. "Enggak pernah dengar, di sana saya juga enggak fokus wisata religi.

Tapi saya memang pernah dengar orang Cham punya keterkaitan dengan Indonesia," kata Bram. Champa berubah menjadi kerajaan Islam negeri champa di masa sekarang termasuk wilayah negara Raja Che Bo Nga diislamkan oleh Sayyid Hussein Jumadil Kubro. Namanya menjadi Sultan Zainal Abidin. Sultan Zainal Abidin berkuasa tahun 1360 dan kemudian meninggal dalam perang dengan bangsa Viet tahun 1390.

Christopers Buyer melalui website The Royal Ark menyusun silsilah Kesultanan Kelantan dengan merangkum 14 buku sejarah. Lewat hubungan perkawinan, Kerajaan Champa bersaudara dengan Kerajaan Chermin di Kelantan, Malaysia. Ini menyebabkan keturunan Champa dan Chermin berhak atas tahta satu sama lain.

Ketika Jiddah, ibukota Chermin habis digempur Siam tahun 1467, keluarga Kerajaan Chermin pindah semua ke Champa. Dalam rombongan itu ada Sayyid Ali Nurul Alam, anak Jumadil Kubro yang menjabat semacam patih di bawah kordinasi dengan Mahapatih Gajah Mada, karena Chermin adalah negara bagian Majapahit waktu itu.

Anaknya kemudian meneruskan jabatan Raja Champa tahun 1471-1478, namanya adalah Sultan Maulana Sharif Abdullah Mahmud Umdatuddin alias Wan Bo Tri Tri. Dia melahirkan anak bernama Syarif Hidayatullah yang kelak menjadi Sunan Gunung Jati. Sebelum itu, anak Jumadil Kubro yang lain yaitu Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarqandiy alias Ibrahim Asmoro menikah dengan puteri Raja Champa yang bernama Candra Wulan.

Lahirlah Sunan Ampel di Champa, dia dalam garis silsilah adalah paman terhadap Sunan Gunung Jati. Sementara, kondisi peperangan dengan Khmer dan Viet terus memburuk. Mereka membakar kampung-kampung yang dihuni warga Cham, sawah dan berbagai bangunan. Banyak warga Champa yang mengungsi ke Kelantan dan Aceh. Sampai sekarang bahasa Cham dan Aceh masih serumpun.

Sedangkan semua orang Malaysia dengan nama Che, Nik dan Wan dipastikan keturunan Champa. Penjajahan Prancis, Jepang, pembagian negara Kamboja dan Vietnam serta Perang Vietnam akhirnya membuat warisan budaya Champa hancur tak bersisa, tinggal desa-desa muslim Cham saja yang bertahan di delta Sungai Mekong. Nah, jika ingin merasakan sisa-sisa wilayah Kerajaan Champa serta Wali Songo ini, Anda bisa berwisata religi dengan datang langsung ke Cham Village Vietnam atau perkampungan Suku Cham lainnya seperti di Provinsi Kampong Cham, Kamboja.

Dari Ho Chi Minh, wisatawan bisa naik perahu selama 6 jam dari muara Sungai Mekong sampai ke Chau Doc untuk melihat Cham Village. (shf/fay)

4 Negeri Melayu yang Tertindas




2022 charcuterie-iller.com