Umat bahai

• Afrikaans • አማርኛ • Aragonés • العربية • مصرى • অসমীয়া • Asturianu • Azərbaycanca • تۆرکجه • Žemaitėška • Беларуская • Беларуская (тарашкевіца) • Български • বাংলা • Bosanski • Català • کوردی • Čeština • Cymraeg • Dansk • Deutsch • Zazaki • Ελληνικά • Emiliàn e rumagnòl • English • Esperanto • Español • Eesti • Euskara • فارسی • Fulfulde • Suomi • Võro • Føroyskt • Français • Gaeilge • Kriyòl gwiyannen • Galego • Hausa • עברית • हिन्दी • Fiji Hindi • Hrvatski • Magyar • Հայերեն • Interlingua • Ido • Íslenska • Italiano • 日本語 • Patois • ქართული • Kabɩyɛ • Kongo • Қазақша • ភាសាខ្មែរ • ಕನ್ನಡ • 한국어 • कॉशुर / کٲشُر • Kurdî • Kernowek • Latina • Ladino • Lëtzebuergesch • Lingua Franca Nova • Lombard • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • Minangkabau • Македонски • മലയാളം • Монгол • Bahasa Melayu • Mirandés • Plattdüütsch • नेपाल भाषा • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • ଓଡ଼ିଆ • ਪੰਜਾਬੀ • Pälzisch • Polski • پنجابی • پښتو • Português • Română • Русский • Sicilianu • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • සිංහල • Simple English • Slovenčina • Slovenščina • Soomaaliga • Shqip • Српски / srpski • Sunda • Svenska • Kiswahili • தமிழ் • తెలుగు • Тоҷикӣ • ไทย • Tagalog • Tok Pisin • Türkçe • Татарча/tatarça • ئۇيغۇرچە / Uyghurche • Українська • اردو • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt umat bahai Winaray • 吴语 • მარგალური • Yorùbá • 中文 • Bân-lâm-gú • 粵語 Bahá'í ( bahasa Arab: ﺑﻬﺎﺋﻴﺔ ; Baha'iyyah) adalah agama monoteistik yang menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia.

Agama Bahá'í lahir di Persia (sekarang Iran) pada tahun 1863. Pendirinya bernama Umat bahai Ḥusayn-`Alí Núrí yang bergelar Bahá'u'lláh (kemuliaan Tuhan, kemuliaan Alláh).

Bahá'í awalnya berkembang secara terbatas di Persia dan beberapa daerah lain umat bahai Timur Tengah yang pada saat itu merupakan wilayah kekuasaan Turki Usmani. Sejak awal kemunculannya, komunitas Bahá'í Timur Tengah khususnya di Persia menghadapi persekusi dan diskriminasi yang berkelanjutan. Pada awal abad kedua puluh satu, penganutnya mencapai lima hingga delapan juta jiwa yang berdiam di lebih dari dua ratus negara dan teritori di seluruh dunia.

Dalam ajaran Bahá'í, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan yang disebut para "Perwujudan Tuhan". Bahá'u'lláh dianggap sebagai Perwujudan Tuhan yang terbaru.

Dia mengaku sebagai pendidik Ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat dan yang dinubuatkan umat bahai agama Kristen, Islam, Buddha, dan agama-agama lainnya.

Dia menyatakan bahwa misinya adalah untuk meletakkan fondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai suatu zaman perdamaian dan keadilan, yang dipercayai umat Bahá'í pasti akan datang. Yang menjadi dasar ajaran Bahá'í adalah asas-asas keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan umat manusia. Pengaruh dari asas-asas hakiki ini dapat dilihat pada semua ajaran kerohanian dan sosial lainnya dalam agama Bahá'í.

Misalnya, orang-orang Bahá'í tidak menganggap "persatuan" sebagai suatu tujuan akhir yang umat bahai akan dicapai setelah banyak masalah lainnya diselesaikan lebih dahulu, tetapi sebaliknya mereka memandang persatuan sebagai langkah umat bahai untuk memecahkan masalah-masalah itu.

Hal ini tampak dalam ajaran sosial Bahá'í yang menganjurkan agar semua masalah masyarakat diselesaikan melalui proses musyawarah. Umat bahai dinyatakan Bahá'u'lláh: "Begitu kuatnya cahaya persatuan, sehingga dapat menerangi seluruh bumi." Iman Baha'i adalah agama Abrahamik. Daftar isi • 1 Ajaran • 1.1 Tuhan • 1.2 Agama • 1.3 Manusia • 2 Statistik • 3 Asas-asas sosial • 4 Sejarah • 4.1 Báb • 4.2 Bahá'u'lláh • 4.3 'Abdu'l-Bahá • 4.4 Shoghi Effendi dan Balai Keadilan Sedunia • 5 Kehidupan masyarakat • 5.1 Hukum Bahá'í • 5.2 Perkawinan • 5.3 Administrasi • 5.4 Rumah ibadah • 5.5 Kegiatan • 5.6 Perserikatan Bangsa-Bangsa • 6 Baha'i di Indonesia • 7 Referensi • 8 Bacaan lanjutan • 9 Pranala luar Ajaran [ sunting - sunting sumber ] Tuhan [ sunting - sunting sumber ] Para penganut agama Bahá'í beriman kepada Tuhan Yang Esa.

Bahá'u'lláh menegaskan bahwa semua percobaan untuk memahami atau mengisyaratkan Realitas Ilahi dalam pernyataan mana pun, tidak umat bahai hanyalah penipuan diri: "Bagi mereka yang berilmu dan hatinya diterangi, telah terbukti bahwa Tuhan, Hakikat yang tak dapat diketahui, Keberadaan Suci, sangatlah dimuliakan melebihi segala sifat manusia, seperti keberadaan jasmani, naik dan turun, maju dan mundur.

Jauhlah dari kemuliaan-Nya bahwa lidah manusia dapat mengatakan pujian yang cukup bagi-Nya, atau hati manusia memahami rahasia-Nya yang tak terkira." Menurut ajaran Bahá'í, alat yang dipakai oleh Pencipta segala makhluk untuk berinteraksi dengan ciptaan-Nya yang terus ber evolusi adalah munculnya Sosok-sosok kerasulan yang mewujudkan sifat-sifat dari Ketuhanan Yang tak dapat dijangkau itu: "Oleh karena pintu pengetahuan Sang Purba ditutup sedemikian rupa di depan wajah semua makhluk, maka Sumber kemuliaan yang tak terhingga telah menyebabkan para Permata Kesucian muncul dari alam rohani, dalam bentuk mulia badan manusia dan dijelmakan kepada seluruh umat manusia, agar mereka membagikan rahasia Tuhan kepada dunia, dan mengabarkan tentang kehalusan Hakikat-Nya yang umat bahai Menurut Bahá'u'lláh, apa yang dimaksud dengan "mengenal Tuhan", adalah mengenal para Perwujudan yang menyatakan kehendak-Nya dan sifat-sifat-Nya, dan justru di sinilah jiwa menjadi akrab dengan Pencipta Yang melebihi bahasa maupun pemahaman.

Agama Bahá'í umat bahai para "Perwujudan Tuhan" itu, yang telah menjadi pendiri agama-agama besar di dunia, sebagai wakil Tuhan di bumi dan pembimbing utama umat manusia. Menurut ajaran Bahá'u'lláh, semua perbedaan dan pembatasan yang berkaitan dengan wahyu mereka masing-masing telah ditentukan oleh Tuhan sesuai dengan kebutuhan misinya. Oleh karena itu, orang-orang Bahá'í tidak meninggikan salah satu Perwujudan di atas yang lainnya, tetapi menganggap, dalam kata-kata Bahá'u'lláh, bahwa mereka semua "berdiam dalam kemah yang sama, membubung di langit yang sama, duduk di atas takhta yang sama, mengucapkan sabda yang sama, serta mengumumkan Agama yang sama".

Agama [ sunting - sunting umat bahai ] Menurut Bahá'u'lláh: " Agama merupakan sarana terbesar untuk menciptakan tata tertib di dunia dan kebahagiaan yang sentosa bagi semua yang berdiam di dalamnya." Mengenai kemunduran atau penyelewengan agama, dia menulis: "Jika lampu agama meredup, maka keributan dan kekacauan umat bahai terjadi, cahaya-cahaya kejujuran, keadilan, ketenangan dan kedamaian, akan berhenti bersinar." Jadi, peran agama dinilai sangat penting.

Sebagaimana telah ditulis oleh Bahá'u'lláh: "Agama Tuhan adalah untuk kasih dan persatuan; janganlah membuatnya penyebab kebencian dan perselisihan." Dalam pandangan Bahá'í, agama memiliki dua aspek, yaitu aspek hakiki dan aspek sementara. Aspek hakiki adalah ajaran-ajaran kerohanian yang tidak berubah, sedangkan aspek sementara adalah peraturan-peraturan yang diberikan sesuai dengan keperluan zamannya. Tulisan Bahá'í mengumpamakan para Perwujudan Tuhan dengan seorang dokter, yang tugasnya adalah "menyembuhkan umat manusia yang terpecah-belah dari penyakitnya." Obat yang diberikan pada suatu zaman tidak akan sama dengan obat yang diberikan pada zaman berikutnya.

Oleh karena itu, agama-agama besar di dunia tampaknya berbeda-beda. Tapi sebenarnya, menurut ajaran Bahá'í, semua agama itu tunggal dan berasal dari Sumber yang sama. Menurut ajaran Bahá'í, agama Tuhan sesuai dengan ilmu pengetahuan. Kepercayaan yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan bukanlah iman tetapi ketakhayulan belaka. Manusia [ sunting - sunting sumber ] Ajaran sosial yang terpenting dari agama Bahá'í adalah kesatuan umat manusia dan persatuan dunia.

Dalam kata-kata Bahá'u'lláh: "Kemah kesatuan telah ditegakkan; janganlah engkau memandang satu sama lain sebagai orang asing. Engkau adalah buah-buah dari satu pohon dan daun-daun dari satu dahan." "Bumi hanyalah satu tanah air dan umat manusia warganya." Pada tingkat individu dan masyarakat, orang-orang Bahá'í dianjurkan untuk menghapus segala macam prasangka buruk yang berdasarkan ras, agama, atau kelas sosial.

Dan sebagai umat beragama, orang-orang Bahá'í didorong untuk berasosiasi dan bekerja bersama dengan semua agama lainnya. Kata Bahá'u'lláh: "Bergaullah dengan para pengikut semua agama dengan penuh keramah-tamahan dan persahabatan." Pada tingkat global, Bahá'u'lláh telah memberikan beberapa ajaran berkaitan dengan masalah perdamaian internasional. Dia menyeru kepada para pemimpin dunia agar mengadakan suatu pertemuan akbar yang akan melahirkan dasar dari hukum internasional yang dapat menyelesaikan masalah-masalah antarnegara.

Dia menganjurkan prinsip keamanan kolektif pada skala sedunia: "Saatnya pasti tiba, tatkala semua orang menyadari kebutuhan yang sangat penting untuk mengadakan pertemuan besar yang mencakup seluruh umat manusia. Para penguasa dan raja-raja di dunia harus menghadirinya, dan mereka—dengan berpartisipasi dalam musyawarahnya—harus mempertimbangkan cara-cara dan sarana-sarana untuk meletakkan dasar Perdamaian Agung sedunia di antara sesama manusia.

Perdamaian semacam itu menuntut agar negara-negara yang paling besar dan berkuasa bertekad untuk mewujudkan kerukunan sepenuhnya di antara mereka sendiri demi ketenteraman semua bangsa di dunia.

Seandainya ada seorang raja mengangkat senjata melawan raja yang lain, umat bahai semua harus bangkit dan mencegahnya bersama-sama.

Jika hal ini dilakukan, negara-negara di dunia tak akan lagi memerlukan persenjataan, kecuali untuk tujuan menjaga keamanan dan memelihara ketertiban dalam negeri di wilayah mereka masing-masing." Agama Bahá'í mengajarkan persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria.

Tulisan Bahá'í menyatakan: "Dunia kemanusiaan memiliki dua sayap—yang satu kaum wanita dan yang satu lagi kaum pria. Burung itu tidak dapat terbang sebelum kedua sayapnya itu berkembang ke tingkat yang sama." Kemajuan kaum wanita juga dianggap sebagai umat bahai bagi tercapainya perdamaian dunia. Salah satu ajaran yang diberi tekanan khusus dalam agama Bahá'í adalah pendidikan. Bahá'u'lláh berkata: "Anggaplah manusia sebagai tambang yang kaya dengan permata-permata yang tak ternilai harganya.

Hanya pendidikanlah yang dapat menampakkan kekayaannya itu dan memungkinkan umat manusia mendapatkan keuntungan darinya." Pendidikan universal adalah asas Bahá'í dan semua keluarga Bahá'í dianjurkan untuk mendidik anak-anaknya. Dan apabila dalam suatu keluarga dana tidak tersedia untuk mendidik semua anak, maka diusulkan agar prioritas diberikan kepada anak perempuan, karena anak perempuanlah yang kelak akan menjadi ibu, dan ibu adalah pendidik pertama dari generasi baru.

Statistik [ sunting - sunting sumber ] Sumber-sumber Bahá'í biasanya memperkirakan jumlah penganut Bahá'í di atas 5 juta. Kebanyakan sumber lain memperkirakan antara 5-6 juta. Menurut The World Almanac and Book of Facts 2004, Kebanyakan penganut Bahá'í hidup umat bahai Asia (3,6 juta), Afrika (1,8 juta), dan Amerika Latin (900.000). Menurut beberapa perkiraan, masyarakat Bahá'í yang terbesar di dunia adalah India, dengan 2,2 juta orang Bahá'í, kemudian Iran, dengan 350.000, dan Amerika Serikat, dengan 150.000.

Selain negara-negara itu, jumlah penganut sangat berbeda-beda. Pada saat ini, belum ada negara yang mayoritasnya beragama Bahá'í. Guyana adalah negara dengan persentase penduduk yang beragama Bahá'í yang paling besar (7,0%). Encyclopedia Britannica Book of the Year (1992-kini) memberikan informasi sebagai berikut: • Agama Bahá'í adalah agama paling tersebar di dunia setelah agama Nasrani menurut jumlah negeri di mana para penganut tinggal.

• Agama Bahá'í ada di 247 negeri di seluruh dunia. • Anggota-anggotanya berasal dari lebih dari 2.100 suku, ras, dan suku bangsa.

• Tulisan suci Bahá'í telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 800 bahasa. Asas-asas sosial [ umat bahai - sunting sumber ] Dari banyak ajaran Bahá'í, dua belas asas yang bersifat sosial berikut ini umat bahai sering dikutip: • Keesaan Tuhan • Kesatuan agama • Persatuan umat manusia • Persamaan hak antara kaum wanita dan kaum pria • Penghapusan segala macam prasangka buruk • Perdamaian dunia • Persesuaian antara agama dan ilmu pengetahuan • Mencari kebenaran secara bebas • Keperluan untuk pendidikan universal yang wajib • Keperluan untuk bahasa persatuan sedunia • Tidak boleh campur tangan dalam politik • Penghapusan kemiskinan dan kekayaan yang berlebih-lebihan Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Báb [ sunting - sunting sumber ] Makam Sang Báb di Haifa, Israel Pada tahun 1844 Sayyid 'Alí Umat bahai dari Shíráz, Iran, yang lebih dikenal dengan gelarnya Sang Báb (artinya "Pintu" dalam bahasa Arab), mengumumkan bahwa dia adalah pembawa amanat baru dari Tuhan.

Dia juga menyatakan bahwa dia datang untuk membuka jalan bagi wahyu yang lebih besar lagi, yang disebutnya "Dia yang akan Tuhan wujudkan". Antara lain, Sang Báb mengajarkan bahwa banyak tanda dan peristiwa yang ada dalam Kitab-kitab suci harus dimengerti dalam arti kias, bukan arti harfiah. Agama Báb tumbuh dengan pesat di semua kalangan di Iran, tetapi juga dilawan dengan keras, baik oleh pemerintah maupun para pemimpin agama.

Sang Báb dipenjarakan di benteng Máh-Kú di pegunungan Azerbaijan, di mana semua penduduk bersuku bangsa Kurdi, yang dikira membenci orang Syiah; tetapi tindakan itu tidak berhasil memadamkan api agamanya, dan mereka pun menjadi sangat ramah terhadap Sang Báb.

Kemudian dia dipenjarakan di Benteng Chihríq yang lebih terpencil lagi, tetapi itu juga tidak berhasil mengurangi pengaruhnya. Pada tahun 1850 Sang Báb dihukum mati dan dieksekusi di kota Tabríz. Jenazahnya diambil oleh para pengikutnya secara diam-diam, dan akhirnya dibawa dari Iran ke Bukit Karmel di Palestina dan dikuburkan di suatu tempat yang ditentukan oleh Bahá'u'lláh.

Makam Sang Báb kini menjadi tempat berziarah yang penting bagi umat Bahá'í. Bahá'u'lláh [ sunting - sunting sumber ] Antara tahun 1848 dan 1852, lebih dari 20.000 penganut agama Báb telah dibunuh, termasuk hampir semua pemimpinnya.

Mírzá Husayn 'Alí yang lebih dikenal dengan gelarnya Bahá'u'lláh (artinya "Kemuliaan Tuhan" dalam bahasa Arab) adalah seorang bangsawan Iran yang menjadi pendukung utama Sang Báb. Pada tahun 1852, ketika Bahá'u'lláh ditahan di penjara bawah tanah Síyáh-Chál ("lubang hitam") di kota Teheran, dia menerima permulaan dari misi Ilahinya sebagai "Dia yang akan Tuhan wujudkan" sebagaimana telah diramalkan oleh Sang Báb. Bahá'u'lláh menceritakannya sebagai berikut: "Suatu malam dalam mimpi, firman-firman yang luhur ini terdengar dari segenap penjuru: 'Sesungguhnya, Kami akan memenangkan-Mu melalui Diri-Mu serta pena-Mu.

Janganlah Engkau bersedih hati atas apa yang telah menimpa-Mu, dan janganlah takut pula, sebab Engkau ada umat bahai keadaan selamat. Tak lama lagi, Tuhan akan membangkitkan harta-harta bumi, orang-orang yang umat bahai membantu-Mu melalui Diri-Mu dan melalui Nama-Mu, dengan umat bahai Tuhan telah menghidupkan kembali hati mereka yang mengenal Dia.'" Bahá'u'lláh dibebaskan dari Síyáh-Chál, tetapi dia diasingkan dari Iran ke Baghdad, 'Iráq.

Pada awalnya, Bahá'u'lláh tidak mengumumkan misinya kepada para penganut agama Báb lainnya di 'Iráq, yang berada dalam keadaan sangat kacau dan hina. Dia mulai mendidik dan menghidupkan kembali umat itu melalui tulisannya dan teladannya, dan beberapa Kitab suci Bahá'í yang penting berasal dari masa Baghdad ini, seperti Kalimat Tersembunyi, Tujuh Lembah, dan Kitáb-i-Íqán ("Kitab Keyakinan").

Pada tahun 1863, di sebuah taman yang diberi nama Taman Ridwán, Bahá'u'lláh mengumumkan misinya kepada para pengikut Báb yang berada di Baghdad, dan sejak itu agama ini dikenal sebagai agama Bahá'í. Pada masa inilah ia menyatakan dirinya sebagai utusan Tuhan (rasul Allah). [1] Segera setelah pengumuman itu, Bahá'u'lláh diminta oleh pemerintahan Turki untuk pindah ke Konstantinopel ( Istanbul), dan dari sana ke kota Adrianopel ( Edirne). Di Adrianopel Bahá'u'lláh mulai mengirimkan "Loh-loh" kepada berbagai raja dan pemimpin dunia, yang mengumumkan kepada mereka kedatangan Hari Tuhan dan menyerukan agar mereka berdamai.

Misalnya, salah satu loh yang ditujukan kepada para raja secara kolektif, berbunyi: umat bahai raja-raja di bumi! Kami melihat engkau setiap tahun meningkatkan pengeluaranmu, dan membebankannya pada rakyatmu. Ini sesungguhnya, sama sekali dan jelas tidak adil.…Rakyatmu adalah hartamu…jangan sampai engkau menyerahkan rakyatmu ke tangan perampok.…Wahai para penguasa di bumi!

Berdamailah di antaramu sendiri, sehingga engkau tidak lagi memerlukan persenjataan, kecuali umat bahai yang dibutuhkan untuk menjaga wilayah-wilayah…dalam kekuasaanmu.…Wahai raja-raja di bumi!

Bersatulah, karena dengan demikianlah prahara perselisihan akan berakhir di antaramu, dan rakyatmu akan memperoleh ketenangan…" Pada tahun 1868, Bahá'u'lláh diasingkan ke kota 'Akká di Palestina (sekarang Israel), yang pada waktu itu dipakai sebagai penjara oleh kekaisaran Usmani. Pada awalnya, Bahá'u'lláh dipenjarakan di barak di 'Akká, tetapi dengan berlalunya waktu kondisi hidupnya semakin membaik, walaupun secara resmi dia masih seorang pesakitan.

Kitab suci yang mengandung kebanyakan hukum Bahá'í, Kitáb-i-Aqdas ("Kitab Tersuci"), diturunkan di 'Akká. Pada tahun 1892, Bahá'u'lláh wafat di Bahjí dekat 'Akká, tempat yang menjadi Qiblat agama Bahá'í. 'Abdu'l-Bahá [ sunting - sunting sumber ] Dalam Kitáb-i-'Ahd, surat wasiatnya, Bahá'u'lláh telah menunjuk putranya, 'Abdu'l-Bahá sebagai pemimpin agamanya dan Penafsir tulisannya.

Hal itu menjamin agar agama Bahá'í tidak mengalami perpecahan. 'Abdu'l-Bahá telah mengalami pembuangan dan pemenjaraan yang panjang bersama ayahnya.

Setelah dia dibebaskan sebagai akibat dari "Revolusi Pemuda Turki" (pada tahun 1908), dia mengadakan suatu perjalanan besar selama tahun 1910- umat bahai ke Mesir, Inggris, Skotlandia, Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Austria, dan Hungaria, di mana dia mengumumkan prinsip-prinsip ajaran Bahá'í. 'Abdu'l-Bahá juga mengirimkan ribuan surat ke masyarakat-masyarakat Bahá'í setempat di Iran, dengan akibat umat itu yang dahulu miskin dan hina menjadi berpendidikan dan mandiri.

'Abdu'l-Bahá wafat di Haifa pada tahun 1921, dan kini dikuburkan di salah satu ruang dari Makam Sang Báb. Shoghi Effendi dan Balai Keadilan Sedunia [ sunting - sunting sumber ] Dalam Surat Wasiat 'Abdu'l-Bahá, cucunya, Shoghi Effendi ditunjuk sebagai "Wali Agama Tuhan". Selama masa hidupnya, Shoghi Effendi menterjemahkan banyak tulisan suci Bahá'í, melaksanakan berbagai rencana global untuk pengembangan masyarakat Bahá'í, mengembangkan Pusat Bahá'í Sedunia, melakukan surat-menyurat dengan banyak masyarakat dan individu Bahá'í di seluruh dunia, dan membangun struktur administrasi Bahá'í yang mempersiapkan jalan untuk didirikannya Balai Keadilan Sedunia.

Shoghi Effendi meninggal pada tahun 1957. Menurut Kitáb-i-Aqdas, urusan masyarakat Bahá'í setempat umat bahai nasional harus ditangani oleh badan-badan musyawarah umat bahai sekarang dinamakan "Majelis Rohani", yang terdiri dari sembilan anggota yang dipilih secara demokratis.

Pada tingkat internasional, Kitáb-i-Aqdas menetapkan sebuah lembaga yang dinamakan "Balai Keadilan Sedunia", yang dipilih oleh para anggota Majelis-majelis Rohani Nasional di seluruh dunia. Balai Keadilan Sedunia telah dipilih untuk pertama kalinya pada tahun 1963, dan sejak itu dipilih tiap lima tahun sekali. Selain berlaku sebagai pemimpin agama Bahá'í, Balai Keadilan Sedunia diberi fungsi khusus oleh Bahá'u'lláh untuk membuat hukum-hukum yang tidak ditetapkan dalam Kitáb-i-Aqdas; aspek ini dianggap penting karena memberi agama Bahá'í fleksibilitas untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan persatuannya.

Kehidupan masyarakat [ sunting - sunting sumber ] Hukum Bahá'í umat bahai sunting - sunting sumber ] Kebanyakan hukum Bahá'í terdapat dalam Kitáb-i-Aqdas tetapi hukum-hukum itu akan diterapkan secara bertahap sesuai dengan keadaan masyarakat. Beberapa hukum Bahá'í yang sudah berlaku secara umum adalah yang berikut ini: • Sembahyang wajib Bahá'í. • Membaca tulisan suci tiap hari. • Dilarang bergunjing dan memfitnah.

• Menjalankan puasa Bahá'í tiap tahun. • Minuman beralkohol dan obat bius dilarang, kecuali untuk perawatan medis. • Hubungan seksual di luar pernikahan tidak diperbolehkan, begitu juga hubungan homoseksual. • Dilarang berjudi. Dalam ajaran Bahá'í, memisahkan diri dari dunia tidak diperbolehkan, tetapi sebaliknya manusia harus bekerja. Melakukan pekerjaan yang berguna dianggap beribadah.

Perkawinan [ sunting - sunting sumber ] Perkawinan Bahá'í adalah bersatunya seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Tujuannya terutama bersifat rohani dan adalah demi keselarasan, persahabatan, dan persatuan pasangan itu.

Ajaran Bahá'í menyebutkan perkawinan sebagai benteng kesejahteraan dan keselamatan dan menempatkan lembaga keluarga sebagai fondasi struktur masyarakat manusia. Bahá'u'lláh sangat memuji lembaga perkawinan dan menyatakannya sebagai perintah abadi Tuhan. Perceraian diperbolehkan, tetapi hanya setelah pasangan tinggal satu tahun terpisah, sambil mencoba menyelesaikan perselisihannya.

Dua orang Bahá'í yang ingin menikah harus saling mempelajari karakter mereka dan saling mengenal sebelum mengambil keputusan untuk menikah, dan ketika mereka menikah, maksud mereka harus untuk membuat suatu ikatan yang kekal. Orang tua tidak boleh memilih jodoh bagi anak-anak mereka, tetapi begitu dua orang memutuskan untuk menikah, pasangan itu wajib mendapatkan persetujuan dari semua orang tua, meskipun salah seorang dari pasangan itu umat bahai beragama Bahá'í.

Upacara Bahá'í sangat sederhana; satu-satunya kewajiban adalah pembacaan ayat dari Kitáb-i-Aqdas yang berikut ini, oleh mempelai pria dan mempelai wanita, di depan dua orang saksi: "Kita semua, sesungguhnya, tunduk akan Kehendak Tuhan." Administrasi [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Nawrúz Kalender Bahá'í berdasarkan kalender yang telah ditetapkan Sang Báb.

Satu tahun terdiri dari 19 bulan yang masing-masing terdiri dari 19 hari, ditambah 4 atau 5 hari sisipan yang membuatnya satu tahun matahari penuh. Tahun Baru Bahá'í, yang Nawrúz, sama dengan Tahun Baru tradisional Iran, yang jatuh pada ekuinoks tanggal 21 Maret, pada akhir bulan puasa Bahá'í. Urusan masyarakat setempat ditangani oleh Majelis Rohani Setempat, yang dipilih tiap tahun oleh para mukmin.

Pemilihan itu harus dilakukan tanpa nominasi, partai, atau kampanye pada kenyataannya, semua orang dewasa adalah calon—dan dalam suasana penuh doa dan meditasi.

Pada umat bahai tiap bulan Bahá'í, ada pertemuan seluruh masyarakat setempat yang namanya "selamatan sembilan belas hari". Di samping bertujuan berdoa bersama dan sosial, selamatan sembilan belas hari itu memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berinteraksi dengan Majelis Rohani Setempat, untuk mengajukan usulan dan bermusyawarah bersama. Majelis Rohani Nasional juga dipilih tiap tahun dengan cara yang sama, tetapi melalui dua tahap, yaitu para mukmin di seluruh negeri memilih wakil-wakil yang kemudian memilih para anggota Majelis Rohani Nasional.

Sebagaimana telah disebutkan, para anggota Majelis-majelis Rohani Nasional di seluruh dunia memilih Balai Keadilan Sedunia tiap lima tahun. Di samping badan-badan musyawarah itu, ada pula beberapa individu yang ditunjuk untuk waktu tertentu, yang mendidik dan membantu masyarakat Bahá'í, terutama dalam hal pengembangan dan umat bahai agama.

Namun, individu-individu ini bukannya berfungsi sebagai pendeta, yang tidak ada dalam agama Bahá'í. Rumah ibadah [ sunting - sunting sumber ] Artikel utama: Mashriqul-Adhkar Rumah ibadah Bahá'í dinamakan Mashriqul-Adhkar ("Tempat-terbit pujian kepada Tuhan"), yakni tempat untuk berdoa, meditasi dan melantunkan ayat-ayat suci Bahá'í dan agama-agama lain.

Rumah ibadah Bahá'í ini terbuka bagi orang-orang dari semua agama. Rumah ibadah Bahá'í bertemakan ketunggalan: harus mempunyai sembilan sisi dengan sebuah kubah di tengahnya, dan direncanakan untuk masa depan sebagai pusat dari berbagai lembaga sosial bagi masyarakat setempat, termasuk rumah sakit, universitas, rumah jompo, dan lain sebagainya.

Sampai sekarang di seluruh dunia ada tujuh Rumah ibadah Bahá'í—di New Delhi, India; Kampala, Uganda; Frankfort, Jerman; Wilmette, Illinois, Amerika Serikat; Panama City, Panama; Apia, Samoa Barat; dan Sydney, Australia. Kegiatan [ sunting - sunting sumber ] Di samping umat bahai wajib, yang dilakukan secara perseorangan, dan selamatan sembilan belas hari, ada pula kegiatan doa bersama, yang terbuka bagi orang dari semua agama, di mana doa-doa dibacakan dari tulisan suci berbagai agama.

Masyarakat Bahá'í setempat juga melakukan pendidikan kerohanian bagi anak-anak serta suatu program pendidikan bagi orang dewasa dan pemuda yang dipelajari melalui kelompok-kelompok belajar.

Program ini, yang umat bahai awalnya dikembangkan oleh Institut Ruhi di Kolombia, Amerika Selatan, membahas berbagai tema, seperti kehidupan roh, doa, pendidikan anak-anak, pendidikan remaja, riwayat hidup Sang Báb dan Bahá'u'lláh, dan pengabdian sebagai dasar dari kehidupan.

Kegiatan kelompok belajar dan kelas anak-anak juga terbuka bagi orang-orang dari agama apa saja yang ingin ikut serta. Ada sembilan hari besar yang dirayakan oleh masyarakat Bahá'í, yang memperingati peristiwa-peristiwa khusus dalam sejarah Bahá'í.

Apabila masyarakat Bahá'í sudah cukup besar di suatu tempat, mereka didorong untuk merencanakan dan melakukan proyek-proyek pengembangan sosial dan ekonomi untuk membantu menangani berbagai masalah yang dihadapi masyarakat umum.

Sampai sekarang kebanyakan proyek ini dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Perserikatan Bangsa-Bangsa [ sunting - sunting sumber ] Umat Bahá'í telah mendukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak permulaannya.

Bahá'í International Community ("Masyarakat Internasional Bahá'í"), suatu badan yang berada di bawah arahan Balai Keadilan Sedunia, memiliki status "hak berkonsultasi" dengan organisasi-organisasi PBB yang berikut ini: • United Nations Economic and Social Council (ECOSOC) • United Nations Children's Fund (UNICEF) • World Health Organization (WHO) • United Nations Development Fund for Women (UNIFEM) • United Nations Environment Program (UNEP) Bahá'í International Community memiliki kantor di Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York dan Jenewa, juga perwakilan di komisi-komisi PBB regional serta kantor-kantor lainnya di Addis Ababa, Bangkok, Nairobi, Roma, Santiago dan Wina.

Pada tahun-tahun terakhir ini suatu "Kantor Lingkungan Hidup" dan "Kantor untuk Kemajuan Kaum Perempuan" telah didirikan sebagai bagian dari Kantor PBB Bahá'í International Community itu. Agama Bahá'í juga telah bekerja bersama dalam mengembangkan program-program dengan berbagai instansi PBB lainnya.

Dalam Millennium Forum dari Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2000, seorang Bahá'í menjadi satu-satunya orang non-pemerintah yang diundang untuk memberikan pidato. Baha'i di Indonesia [ sunting - sunting sumber ] Baha'i masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878, dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Dalam situs resmi agama Baha'i di Indonesia, dijelaskan, agama Baha'i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain.

Namun, berapa jumlah pemeluk Baha'i umat bahai Indonesia hingga saat ini tidak diketahui dengan pasti. Agama Baha'i sempat dilarang di Indonesia pada tahun 1962. Larangan tersebut telah dicabut dalam Keputusan Presiden Nomor 69 Tahun 2000. [2] Pada tanggal 24 Juli 2014, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan melalui akun Twitternya bahwa ia tengah mengkaji Baha'i apakah bisa diterima sebagai agama baru di Indonesia atau tidak.

Kajian ini dilakukan setelah Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengirimkan surat yang mempertanyaan perihal Baha'i ini. [3] Sementara itu, hasil riset yang dilakukan Balitbang Kemenag pada tahun 2014 menyimpulkan bahwa Baha'i bukan aliran sesat.

Baha’i adalah suatu agama tersendiri dan bukan aliran dari agama lain. Bahai mempunyai doktrin, nabi, kitab, dan ajarannya tersendiri. [4] Referensi [ sunting - sunting sumber ] • ^ https://bahai.id/sejarah-bahaullah/#1579586405685-18bef438-d712 • ^ "Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2000 tentang Pencabutan Keputusan Presiden Nomor 264 Tahun 1962 tentang Larangan Adanya Organisasi Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmetselaren-Loge (Loge Agung Indonesia), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical Organization Of Rosi Crucians (Amorc), dan Organisasi Baha'i" (PDF).

• ^ Berita di Vivanews.com • ^ "Baha'i Bukan Aliran Sesat dalam Islam". www.balitbangdiklat.kemenag.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-08. Bacaan lanjutan [ sunting - sunting sumber ] • Bahá'u'lláh, Gleanings from the Writings of Bahá'u'lláh.

• 'Abdu'l-Bahá, Paris Talks. • Shoghi Effendi, God Passes By. • The Umat bahai of World Peace, a statement by the Universal House of Justice. • One Common Faith, a statement prepared under the direction of the Universal House of Justice. • Umat bahai Centre Publications, The Bahá'í World 2004-2005. • Bahá'u'lláh and the New Era by John Esslemont.

• The Dawnbreakers by Nabíl-i-A'zam. • The Revelation of Bahá'u'lláh by Adib Taherzadeh. Pranala luar [ sunting - sunting sumber ] • (Indonesia) Situs web resmi agama Baha'i di Indonesia • (Inggris) The Bahá'ís • Halaman ini terakhir diubah pada 2 Januari 2022, pukul 17.35.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • • Video pernyataan pria yang kerap disapa Gus Yaqut itu diunggah melalui kanal YouTube Baha'i Indonesia pada 26 Umat bahai 2021.

"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. Kepada saudarakau masyarakat Baha'i di mana pun berada, saya mengucapkan selamat merayakan hari raya Naw-Ruz 178 EB," kata Gus Yaqut seperti dikutip Suara.com, Rabu (28/7/2021). Baca Juga: Menag: Vaksinasi Sejalan dengan Spirit Agama untuk Menjaga Kehidupan "Suatu hari pembaharuan yang menandakan musim semi spiritual dan jasmani, setelah umat Baha'i menjadikan ibadah puasa selama 19 hari," imbuhnya. Menag Yaqut beri ucapan umat bahai hari raya Naw-Ruz ke masyarakat Baha'i (YouTube) Dalam sambutannya, Gus Yaqut mengajak komunitas Baha'i untuk memperkuat persatuan dan kesatuan.

Ia juga mengajak agar mereka menjunjung nilai moderasi beragama. "Semoga hari raya ini dapat menjadi kesempatan dan momentum bagi seluruh bangsa kita untuk saling bersilaturahim dan memperkokoh persatuan dan kesatuan, menjunjung tinggi nilai-nilai moderasi beragama bahwa agama perlu menjadi sarana yang memberikan stimulus rohani bagi bangsa Indonesia untuk senantiasa bekerja sama dan maju," ujarnya.

Ucapan selamat dari Gus Yaqut tersebut langsung menjadi sorotan publik.

Banyak pihak yang menyayangkan aksi Gus Yaqut tersebut.
Sebelumnya, Yaqut menyampaikan ucapan selamat ari raya Naw-Ruz 179 EB kepada komunitas Baha’i. Pernyataan Menag tersebut juga diunggah di akun YouTube Baha’i Indonesia. Berdasarkan Encyclopedia Britannica Book of the Year (1992-sekarang), Agama Baha’i ada di 247 negeri di seluruh dunia.

Pengikutnya berasal dari 21.00 suku, ras, dan suku bangsa. Tulisan suci Baha’i sudah diterjemahkan ke dalam umat bahai dari 800 bahasa.

Baha’i adalah agama monoteistik yang menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia. Agama ini lahir di Persia, sekarang Iran, pada 1863.

Pendirinya adalah Mirza Husayn-Ali Nuri yang bergelar Baha’ullah, yang berarti kemuliaan Tuhan. Pada 1844, Sayyid Ali Muhammad dari Shiraz, Iran atau yang lebih dikenal sebagai Sang Bab mengumumkan bahwa ia merupakan pembawa amanat baru dari Tuhan dan menyebarkan agama Bab di wilayah Iran.

Namun, pada 1850, Sang Bab dihukum mati di kota Tabriz. Jenazahnya diambil oleh pengikutnya ke Bukit Karmel di Palestina untuk dikuburkan.

Makam Sang Bab tersebut menjadi tempat berziarah yang penting bagi umat Baha’i. Dinamika Perkembangan Baha’i Awalnya, Baha’i berkembang secara terbatas di Persia dan beberapa daerah Timur Tengah yang pada saat itu merupakan wilayah kekuasaan Turki Usmani. Di awal kemunculannya, pengikut Baha’i di Timur Tengah kerap menghadapi persekusi dan diskriminasi yang berkelanjutan. Pada awal abad ke-21, penganut agama Baha’i telah mencapai lima hingga delapan juta jiwa yang tinggal di lebih dari 200 negara dan teritori di seluruh dunia.

Menurut The World Almanac and Book of Facts 2004, penganut agama Baha’i tersebar di Asia, Afrika, dan Amerika Latih. Ajaran Menurut ajaran Baha’i, sejarah keagamaan dipandang sebagai suatu proses pendidikan bagi umat manusia melalui para utusan Tuhan. Mereka menyebutnya sebagai para “Perwujudan Tuhan”.

Baha’ullah dianggap sebagai Perwujudan Tuhan yang terbaru. Baha’ullah dipercaya sebagai pendidik ilahi yang telah dijanjikan bagi semua umat manusia. Misi dari baha’ullah adalah untuk meletakkan fondasi bagi persatuan seluruh dunia, serta memulai zaman perdamaian dan keadilan, yang dipercayai umat Baha’i hari itu pasti akan datang. Melansir bahai.idBaha’ullah mengajarkan berbagai prinsip dan konsepsi rohani yang diperlukan umat manusia agar perdamaian dunia yang diidamkan dapat tercapai.

Ia meletakkan tiga pilar utama kesatuan, yakni keesaan Tuhan, kesatuan sumber surgawi dari semua agama, dan kesatuan umat manusia. Orang-orang Baha’i tidak menganggap “persatuan” sebagai tujuan akhir yang hanya akan dicapai setelah banyak masalah lain selesai.

Sebaliknya, mereka memandang persatuan sebagai langkah awal untuk memecahkan setiap masalah yang ada. Hal ini tampak dalam ajaran sosial Baha’i yang menganjurkan semua masalah diselesaikan melalui proses musyawarah. Agama Baha’i memiliki rumah ibadah yang terbuka bagi semua agama. Rumah agama ini bernama Mashriqul-Adhkar, yang berarti tempat terbit pujian kepada Tuhan.

Rumah ibadah ini merupakan tempat untuk berdoa, meditasi, dan melantunkan ayat-ayat suci. M. RIZQI AKBAR Baca juga: Politisi Iran: Baha'i Bekerja untuk CIA dan Mossad tirto.id - Agama Baha'i sempat menjadi perbincangan di lini masa Twitter pada Selasa (27/7/2021) hingga Rabu (28/7/2021). Viralnya agama Baha'i berawal dari video ucapan Menteri Agama Yaqut Kholil Qoumas. Apa itu agama Baha'i? Baha'i berasal dari Irak dan dikenalkan pada pertengahan abad ke-19 oleh Mírzá Ḥusayn-`Alí Núrí, yang dikenal sebagai Bahāʾ Allāh, dalam bahasa Arab berarti "Kemuliaan Tuhan".

Tentang Agama Bahai Dilansir Britannica, landasan kepercayaan Baha'i adalah keyakinan bahwa Bahaʾ Allah dan pendahulunya, yang dikenal sebagai Bab, dalam bahasa Persia berarti "Gerbang", adalah manifestasi Tuhan, yang esensinya tidak dapat diketahui.

Prinsip utama Baha'i adalah kesatuan esensial semua agama dan kesatuan umat manusia. Baha'i percaya bahwa semua pendiri agama-agama besar dunia telah menjadi manifestasi Tuhan dan agen dari rencana ilahi untuk umat umat bahai. Terlepas dari perbedaan nyata mereka, agama-agama besar dunia, menurut Bahāʾī, mengajarkan kebenaran yang identik.

Fungsi khusus Bahaʾ Allah (Baha'u'llah) adalah untuk mengatasi perpecahan agama dan membangun iman universal. Baha'i percaya pada kesatuan umat manusia dan mengabdikan diri pada penghapusan prasangka rasial, kelas, dan agama.

Sebagian besar ajaran Baha'i berkaitan dengan etika sosial. Iman tidak memiliki imamat dan tidak menjalankan bentuk-bentuk ritual dalam ibadahnya. Dalam video yang beredar, Menag mengucapkan Hari Raya Naw Ruz 178 EB kepada komunitas Baha'i di Indonesia. Video Menag juga diunggah di akun YouTube Baha'i Indonesia. Baca juga: Ajaran Agama Baha'i: Apa Itu Hari Raya Naw Ruz yang Diucapkan Menag Ajaran Agama Baha'i Ada tiga prinsip ajaran dan doktrin Baha’i, yaitu kesatuan Tuhan, kesatuan agama, dan kesatuan kemanusiaan.

Kitab Suci agama Baha'i berasal dari tulisan Baha' Allah pada Kitab i-Aqdas. Kitab itu mendefinisikan banyak hukum dan praktik bagi individu dan masyarakat, beriringan dengan Kitab i-Iqan yang secara harafiah adalah kitab kesepahaman sebagai dasar selanjutnya. Peter Smith, seorang peneliti terkemuka dalam kajian Baha’i pada bukunya berjudul A Concise Encyclopedia of the Baha'i Faith menyebut dalam Baha’i, Tuhan secara berkala mengungkapkan kehendaknya melalui utusan ilahi, yang tujuannya adalah untuk mentransformasikan karakter manusia.

Dengan demikian, agama dilihat secara tertib, terpadu dan progresif dari zaman ke zaman. Pandangan iman Baha’i terhadap Tuhan sendiri adalah Tuhan yang tunggal, mahatahu, mahakuasa, tidak dapat binasa, tanpa umat bahai dan akhir, merupakan pencipta segala sesuatu yang ada di alam semesta.

Tuhan tetap dipandang sadar akan ciptaannya, dengan kehendak dan tujuan yang diungkapkan melalui utusannya yang disebut Manifestasi Tuhan. Karena gagasan wahyu agama yang progresif, maka Baha’i menerima keabsahan agama-agama besar lainnya yang pendirinya dianggap bagian dari Manifestasi Tuhan.

Hingga saat ini, perkiraan angka jumlah pengikut Baha’i masih belum dapat diketahui secara pasti. Jika merujuk data Baha’i World Centre, awal tahun 1991 silam, jumlahnya mencapai lebih dari 5 juta orang.

Pada pertengahan 2004, ensiklopedia Britannica memperkirakan ada 7,5 juta pemeluk Baha’i tersebar di 218 negara berdasarkan data yang diambil dari World Christian Encyclopedia. The Economistdalam laporannya April 2017 kemarin menyebut saat ini ada sekitar 7 juta pemeluk Baha’i di seluruh dunia. Tentang Hari Raya Naw Ruz Agama Bahai Agama Baha'i memperingati Hari Raya Naw Ruz 178 EB pada Maret tahun ini. Menteri Agama Yaqut Kholil Qoumas memberikan ucapan bagi masyarakat Baha'i untuk perayaan ini.

Apa itu Hari Raya Naw Ruz? Menurut situs web Baha'i Center of Washtenaw County, dalam ajaran agama Baha'i, hari raya Naw Ruz diperingati pada 21 Maret setiap tahunnya. Naw Ruz berasal dari perayaan Zoroaster di Iran kuno dan, hingga hari ini, dirayakan sebagai festival budaya oleh orang Iran dari semua latar belakang agama. Peringatan Naw Ruz juga telah menyebar ke banyak bagian dunia lainnya, dan dirayakan sebagai hari libur budaya di India, Afghanistan, Tajikistan, Kurdistan Irak, Azerbaijan, Turkmenistan, Uzbekistan dan Kirgistan.

Naw-Ruz berarti "Hari Baru", dirayakan pada hari pertama musim semi. Ini adalah saat kegembiraan dan perayaan, karena kegelapan musim dingin berakhir dan cahaya muncul kembali, bersama kehangatan dan keindahan musim semi. Bagi agama Baha'i, Naw Ruz juga memiliki makna spiritual yang dalam. Naw Ruz menandai akhir dari 19 hari Puasa Baha'i, yang merupakan periode refleksi dan penyegaran rohani mendalam bagi Baha'i. Naw Ruz ditahbiskan oleh Baha'u'llah (Baha' Allah) sebagai perayaan "musim semi spiritual" umat manusia: dispensasi Baha'i.

Dispensasi Baha'i dimulai dengan Deklarasi Bab, yang seluruh misinya adalah untuk mempersiapkan dunia bagi seorang Guru Ilahi dengan Pesan yang dianggapnya lebih besar dari pesan-Nya sendiri: Baha'u'llah. Wahyu Baha'u'llah - saat manusia menerima Ajaran Ilahi melalui Utusan Tuhan - dalam ajaran Baha'i, disamakan umat bahai awal musim semi.
PEMBACA mungkin merasa asing atau tak tahu bahwa ada umat agama Baha’i di negeri yang dititahkan Tuhan memiliki ragam agama ini.

Agama Baha’i merupakan agama mandiri, tak menginduk pada satu agama, memiliki aturan tersendiri. Tahun 1863 M dideklarasikan oleh Baha’ullah di Persia (Iran), dilanjutkan oleh Abdul Baha’, diteruskan Shogi Effendi (sang wali), lalu dipimpin oleh lembaga tingkat daerah, negara, dan dunia. Umatnya berdiaspora (menyebar) ke semua benua dan berbagai negara termasuk Indonesia sejak 1878 M hingga kini. Lazimnya, publik familier nama enam agama, bahkan ada yang berpandangan salah (hanya enam yang berhak hidup di Indonesia).

Pasal 29 (2) Undang-Undang Dasar 1945 negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. Ini diperkuat Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 yang memberi rambu, apa pun agamanya berhak hidup di Indonesia asal ajarannya tak bertentangan dengan perundangan.

Naw Ruz (Tahun Baru) Jumat 20 Maret 2020 dalam Kalender Baha’i (Badi’, Baha’i Era) umat Baha’i di seantero jagad disyariatkan berpuasa sebulan (19 hari, 1-19 Maret) sebelum merayakan Tahun Baru (Hari Raya Naw-Ruz). Sebelum puasa, diawali Ayyami-Ha (Hari Sisipan) lima hari, yakni hari berderma pada keluarga dan tetangga. Makam Baha’ullah dan Abdul Baha’ di kota Haifa, Israel.

(Istimewa) Naw Ruz diisi pujian atau umat bahai pada Tuhan. Hakikat puasa adalah menahan diri dari semua hawa nafsu, masa bermeditasi, berdoa, pemulihan, perbaikan, pembaruan, dan memperkuat rohani dalam umat bahai umat Baha’i. Setelah berakhirnya masa puasa, memasuki Hari Raya Naw-Ruz untuk saling bersalaman dan meminta maaf dengan sesama.

Pembeda Baha’i dengan agama-agama antara lain (1) mengakui kebenaran ajaran semua agama, (2) tak memiliki sosok/figur tapi dipimpin lembaga di daerah, ibu kota, dan berpusat di Kota Haifa Israel, (3) lembaga hanya menerima donasi dari umat Baha’i saja, (4) perkawinan boleh dengan seagama atau beda agama (bila beda agama, perkawinannya dilaksanakan dengam dua cara agama ).

Sebagai umat beragama (apa pun) memahami ajaran agamanya sebuah konsekuensi, memahami ajaran agama lain sebagai pengetahuan agar tidak menjadi fanatis.

Perbedaan ras, suku, agama adalah kehendak Tuhan, mari berlomba untuk kemaslahatan kehidupan. Al-Quran surat al-Haj: 17 “ Sesungguhnya orang yang beriman, yang diberi umat bahai Gusti, umat agama Shobi’in, umat Nasrani dan Majusi, bahkan orang yang menduakan Umat bahai (musyrik), keputusan Allah pada umat tersebut besok pada hari kiamat“. Dengan demikian, tak bijaklah bila kita sebagai hamba menghakimi mereka (mengambil alih peran Tuhan?).

Selamat Hari Raya Naurus, sobat. Nuwun. (*) *) Penulis buku ‘Agama Baha’i dalam Lintasan Sejarah di Jawa Tengah’, dosen IAIN Kudus
• Komunitas Bahá’i • Sejarah Bahá’i Indonesia • Komunitas Baha’i Internasional • Rumah-rumah Ibadah Bahá’i • Publikasi • Artikel • Film • Meneguhkan Persatuan Menanggapi COVID-19 • Hubungi Kami • Beranda • Keyakinan Baha’i • Bahá’u’lláh dan Perjanjian-Nya • Sejarah Bahá’u’lláh • Kehidupan Sejati • Ajaran-ajaran Bahá’u’lláh • Membangun Masyarakat • Ibadah dan Pengabdian • Pertemuan Doa • Berjalan di Jalan Pengabdian • Melapaskan Kapasitas Generasi Muda • Komunitas Bahá’i • Sejarah Bahá’i Indonesia • Umat bahai Baha’i Internasional • Rumah-rumah Ibadah Bahá’i • Publikasi • Artikel • Film • Meneguhkan Persatuan Menanggapi COVID-19 • Hubungi Kami Bahá’u’lláh mengajarkan umat bahai prinsip dan konsepsi rohani yang diperlukan umat manusia agar perdamaian dunia yang diidamkan dapat tercapai.

Dia meletakkan tiga pilar utama kesatuan yakni, umat bahai Tuhan, kesatuan sumber surgawi dari semua agama, dan kesatuan umat manusia. Sebuah konsepsi “kesatuan dalam keanekaragaman”. KEESAAN TUHAN Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan Yang Maha Agung, yakni Tuhan Yang Maha Esa yang telah mengirim para Utusan Tuhan untuk membimbing manusia.

Oleh karena itu, semua agama yang bersumber dari satu Tuhan ini, haruslah menunjukkan rasa saling menghormati, mencintai, dan niat baik antara satu dengan yang lain. “Utusan-utusan Ilahi telah diturunkan, dan Kitab-kitab mereka diwahyukan, dengan maksud untuk meningkatkan pengetahuan tentang Tuhan, serta menegakkan persatuan dan persahabatan di antara manusia.” — Bahá’u’lláh KESATUAN SUMBER SURGAWI DARI SEMUA AGAMA Tuhan bersifat tidak terbatas, tak terhingga dan Maha Kuasa.

Hakikat Tuhan tidak dapat dipahami, dan manusia tidak bisa memahami realita Keilahian-Nya. Oleh karena itu, Tuhan telah memilih untuk membuat Diri-Nya dikenal manusia melalui para Utusan Tuhan, diantaranya Ibrahim, Musa, Krishna, Zoroaster, Budha, Isa, Muhammad, Sang Báb dan Bahá’u’lláh. Para Utusan Tuhan yang suci itu bagaikan cermin yang memantulkan sifat-sifat dan kesempurnaan Tuhan yang umat bahai. “Asas-asas dan hukum-hukkum semua agama, sistem-sistem-Nya yang teguh dan agung, berasal dari satu sumber dan merupakan sinar-sinar dari satu cahaya”— Bahá’u’lláh KESATUAN UMAT MANUSIA Bahá’u’lláh menyatakan bahwa semua manusia adalah satu dan setara dihadapan Umat bahai dan mereka harus diperlakukan dengan baik, harus saling menghargai dan menghormati.

Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa semua orang adalah anggota dari satu keluarga manusia yang tunggal, yang justru diperkaya karena kebhinekaannya. “Orang-orang yang dianugerahi dengan keikhlasan dan iman, seharusnya bergaul dengan semua kaum dan bangsa di dunia dengan perasaan gembira dan hati yang cemerlang, oleh karena bergaul dengan semua orang telah memajukan dan akan terus memajukan persatuan dan kerukunan, yang pada gilirannya akan membantu memelihara ketenteraman di dunia serta memperbarui bangsa-bangsa.” — Bahá’u’lláh Penghilangan segala bentuk prasangka: agama, ras, kebangsaan, dan kelas sosial Bahá’u’lláh mengajarkan untuk menghapuskan perselisihan dan pertengkaran.

Bahwa semua peperangan yang telah terjadi di masa lalu, segala pertumpahan darah, disebabkan karena prasangka baik prasangka kebangsaan, ras, politik maupun keagamaan. Selama orang-orang masih berpegang pada prasangka, kita tidak akan mendapatkan perdamaian di bumi ini. Oleh karena itu, segala bentuk prasangka harus dihapuskan.

Masyarakat Bahá‘i percaya bahwa semua jenis prasangka dapat dihilangkan melalui proses umat bahai yang memberikan keleluasan pencarian kebenaran secara mandiri, tanpa paksaan dan tekanan. “Berusahalah pagi dan malam agar permusuhan dan pertikaian bisa sirna dari kalbu-kalbu manusia, agar semua agama menjadi rukun kembali dan umat bahai bangsa mencintai satu sama lain sehingga prasangka agama, umat bahai dan politik tak tersisa lagi dan alam insani memandang Tuhan sebagai permulaan dan akhir segala keberadaan.

Tuhan telah menciptakan semua, dan semua kembali kepada-Nya. Oleh karena itu, cintailah umat manusia dengan sepenuh hati dan jiwamu” – `Abdu’l-Bahá Pencarian Kebenaran Secara Mandiri “WAHAI PUTRA ROH! Di dalam pandangan-Ku, keadilanlah yang teramat Kucintai; janganlah berpaling darinya jika engkau menginginkan Daku, dan janganlah mengabaikannya agar Aku percaya padamu. Dengan pertolongannya engkau akan melihat dengan matamu sendiri, bukan dengan mata orang lain, dan engkau akan mengetahui melalui pengetahuanmu sendiri, bukan melalui pengetahuan orang lain.

Per­timbangkanlah hal ini dalam hatimu, bagai­mana engkau seharusnya. Sesungguhnya, keadilan adalah pemberian-Ku dan tanda kasih sayang-Ku kepadamu. Maka letakkan­lah keadilan di depan matamu.” – Baha’u’llah Setiap manusia telah dibekali oleh Sang Pencipta dengan instrumen-instrumen yang diperlukan untuk dapat menentukan jalan kebenarannya secara independen.

Bahá’u’lláh mengajarkan bahwa kebenaran itu adalah tunggal. Melalui penyelidikan kebenaran secara mandiri, manusia dapat terselamatkan dari kegelapan ikut-ikutan dan akan mencapai pada kebenaran. Jika orang-orang di dunia mencari kebenaran untuk mereka sendiri, mereka semua akan mencapai kesimpulan yang sama dan bersatu.

Hanya bila keyakinan itu ia dapat melalui cara ini, ia dapat menikmati kemajuan jasmani dan rohaninya di dunia ini. “…Ketahuilah bahwa Tuhan telah menciptakan dalam diri manusia kekuatan pikiran agar dia mampu menyelidiki realita… Dia telah memberikan pikiran dan akal dengan mana ia menyelidiki dan menemukan kebenaran; dan apa yang dia temui sebagai benar dan nyata haruslah dia terima. Dia tidak boleh menjadi imitator dan pengikut buta dari siapapun.

Dia tidak boleh hanya bergantung pada pendapat dari siapapun tanpa penyelidikan; ….” – `Abdu’l-Bahá Pendidikan Diwajibkan bagi Setiap Manusia Bahá’u’lláh memberi kewajiban kepada orang tua untuk mendidik anak-anak mereka, baik umat bahai maupun laki-laki.

Jika orang tua tidak mampu memenuhi kewajiban ini karena keadaan ekonominya, masyarakat harus membantu mereka. “Barangsiapa yang mendidik anaknya atau anak orang, seakan-akan ia telah mendidik salah seorang anak-Ku” —Bahá’u’lláh Kesenian dan kesastraan, ketarampilan dan ilmu pengetahuan meninggikan dunia wujud, dan menyebabkan keluhurannya. Pengetahuan merupakan sayap-sayap bagi kehidupan manusia dan sebuah tangga bagi kenaikannya. Diwajibkan bagi setiap orang untuk memperolehnya, …tetapi yang harus diperoleh adalah pengetahuan tentang ilmu-ilmu yang dapat menguntungkan orang-orang di dunia.

Di samping pelajaran keterampilan, keahlian, seni dan ilmu pengetahuan, yang paling penting adalah pendidikan akhlak dan moral anak-anak.

Tanpa pendidikan seseorang tidak mungkin dapat mencapai potensinya atau memberikan kontribusi postif bagi masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan universal dan wajib bagi semua.

“Kami menetapkan bagi semua manusia, apa yang akan memuliakan Firman Tuhan di tengah hamba-hamba-Nya, dan juga akan memajukan dunia wujud dan meluhurkan jiwa-jiwa. Sarana terbaik untuk mencapai tujuan itu adalah pendidikan anak-anak. Semua orang harus berpegang teguh pada hal itu.” — Bahá’u’lláh Kesetaraan antara perempuan dan laki-laki Baha’u’llah menyerukan harus tersedianya kesempatan yang sama bagi perkembangan laki-laki dan perempuan, terutama kesempatan dalam memperoleh pendidikan.

Tuhan tidak membedakan martabat manusia pada jenis kelamin, melainkan pada kesucian dan kecemerlangan hatinya. Keterbelakang kaum umat bahai saat ini tidaklah disebabkan oleh sifat alaminya, tetapi oleh pendidikan. Bila perempuan mendapat kesempatan untuk dididik yang sama dengan laki-laki, maka hasilnya akan menunjukan kedua golongan ini mempunyai kesanggupan yang sama untuk maju dalam segala bidang.

“Umat manusia bagaikan seekor burung dengan kedua sayapnya: laki-laki dan umat bahai. Burung itu tidak dapat terbang ke langit kecuali kedua sayapnya kuat dan digerakan oleh kekuatan yang sama.” – Abdu’l’Baha Laki-laki dan perempuan adalah bagaikan dua belah saya dari burung kemanusiaan. Perkembangan seluruh kemampuan dan potensi masyarakat hanya dapat diwujudkan bila kedua sayapnya itu sama kuat.

Kaum perempuan mempunyai hak yang sama dengan kaum laki-laki di dunia, kaum perempuan merupakan unsur yang sangat penting. Selama kaum perempuan terhalang dari pencapaian potensi tertingginya, selama itu pula kaum laki-laki pun tidak akan bisa mencapai kebesaran yang seharusnya dapat menjadi miliknya.

Musyawarah dalam segala hal “Langit kebijaksanaan diterangi oleh dua bintang, musyawarah dan belas kasihan. Bersmuaywarahlah bersama-sama dalam segala hal, karena musyawarah adalah lampu bimbingan yang menunjukan jalan, dan memberi pengertian.” —Bahá’u’lláh Baha’u’llah menyerukan agar bersandar pada musyawarah sebagai sarana untuk membuat keputusan dalam segala aspek kehidupan, baik dalam masalah-masalah pribadi maupun persoalan umum.

Baha’u’llah dalam banyak tulisan-Nya mengembangkan prinsip-prinsip musyawarah, yang dilukiskan sebagai sarana untuk menemukan kebenaran dalam segala persoalan. Musyawarah mendorong pencarian kemungkinan-kemungkinan baru, membangung kesatuan dan kemufakatan, serta menjamin kesuksesan pelaksanaan keputusan.

Musyawarah menghasilkan kesadaran yang lebih dalam dan mengubah dugaan menjadi keyakinan. Musyawarah adalah laksana sebuah cahaya cemerlang, yang membimbing dan menunjukkan jalan di dalam dunia yang gelap. Dalam setiap hal, selalu dan selamanya memiliki suatu tingkat kesempurnaan dan kedewasaan. Tingkat kedewasaan dari berkah pengertian akan diwujudkan melalui musyawarah.” —Bahá’u’lláh Sifat Dasar Manusia dan Keluhurannya Baha’u’llah mengajarkan bahwa semua manusia diciptakan mulia dan dilengkapi dengan potensi-potensi rohani yang diperlukan untuk hidup dalam keluhuran dan kemuliaan jati dirinya.

Selaras umat bahai hal tersebut, Tuhan telah menciptakan umat manusia berdasarkan gambaran-Nya dan memberi masing-masing satu roh, sifat-sifat dan ciri-ciri seperti belas kasih, keadilan, pengampunan. Setiap manusia memiliki kapasitas untuk dapat mencerminkan sifat-sifat yang datang dari Tuhan tersebut. Tuhan tidaklah menciptakan ketidak sempuranaan dalam diri manusia. Sifat-sifat yang merugikan adalah indikasi dari tidak muncul dan berkembangnya potensi-potensi rohani itu.

Dengan memahami bahwa roh diciptakan dalam gambaran Tuhan, sebagai mahluk yang mulia, yang paling penting adalah untuk tidak memfokuskan diri pada ketidaksempuranaan yang dimiliki oleh seseorang.

“Wahai Putra Roh! Aku telah menciptakan engkau mulia, namun engkau telah merendahkan dirimu sendiri. Maka naiklah pada tingkat yang untuk mana engkau diciptakan.” —Bahá’u’lláh Setiap manusia akan dapat menggapai seluruh potensi-potensi Ilahiah yang dimilikinya melalui proses pendidikan rohani yang sistematis, tanpa prasangka, serta berbasis pada proses pencarian kebenaran secara mandiri.

“Semua manusia diciptakan untuk memajukan peradaban yang terus berkembang. Kebajikan-kebajikan yang sesuai dengan harkat manusia ialah kesabarab, belas kasihan, kemurahan hati, dan cinta kasih terhadap semua kaum dan umat di bumi.” —Bahá’u’lláh Keselarasan antara agama dan dan ilmu pengetahuan Ilmu pengetahuan dan agama harus saling menunjang untuk mencapai kemajuan sejati umat manusia.

Ilmu pengetahuan menyediakan alat-alat bagi kita, dan agama mengajarkan bagaimana kita menggunakannya. Sebuah kapak atau sabit adalah sebuah umat bahai yang berguna jika menggunakannya dengan baik. Tetapi jika seseorang menggunakannya untuk merugikan orang lain, kapak atau sabit tersebut menjadi senjata yang berbahaya. Ilmu pengetahuan tanpa bimbingan agama akan kehilangan tujuan moral dalam penggunaannya dan dapat membawa kehancuran, sedangkan agama tanpa ilmu pengetahuan akan menjadi takhayul dan kefanatikan.

Baha’u’llah mengajarkan bahwa agama yang sejati tidaklah bertentangan dengan ilmu pengetahuan yang sejati. Ia mengatakan umat bahai hati dan pikiran kita dapat menerima kebenaran yang sama.

Agama dan ilmu pengetahuan merupakan ukuran bagi pengertian umat manusia. “Agama dan ilmu pengetahuan merupakan dua sayap yang dengan dua sayap itu akal manusia dapat membumbung tinggi, dan dengan dua sayap itu manusia dapat maju” – `Abdu’l-Bahá Ketaatan Kepada Pemerintah Bahá’u’lláh mengajarkan untuk tidak terlibat dalam kegiatan apapun yang dapat merugikan dan membahayakan masyarakat, serta di negara manapun komunitas Bahá’í menetap, mereka harus bersikap setia, lurus dan jujur kepada pemerintah negara itu.

Kesetian pada pemerintah adalah bagian dari karakter yang harus dibangun. Perbuatan khianat apapun adalah dosa. Umat Bahá’í percaya, bahwa patriotisme yang sehat dan benar, yang berbasis pada prinsip kesatuan umat manusia, yang menghormati dan mencerminkan keanekaragaman nilai-nilai budaya, akan mengakibatkan persatuan dalam masyarakat dan bangsa.

umat bahai wahai orang-orang, janganlah engkau berlaku khianat terhadap siapa pun. Jadilah engkau orang yang dipercayai Tuhan di antara mahluk-mahluk-Nya,dan lambang kemurahan hati-Nya di tengah-tengah umat-Nya.” —Bahá’u’lláh Bahá’u’lláh mengajurkan agar patuh dan berteman baik dengan pemerintahan setempat.

Kesetiaan pada hukum-hukum dan prinsip-prinsip pemerintah diperlukan agar suatu tata tertib sosial dan kondisi ekonomi umat bahai lebih baik dapat didirikan.

Why I Decided to Become a Baha'i




2022 charcuterie-iller.com