Kesusastraan bali

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, khususnya dari Dosen mata kuliah guna menjadi acuan dalam kesusastraan bali pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa yang akan datang. Dalam masyarakat Bali banyak tersebar cerita-cerita rakyat.

Cerita rakyat di Bali sering disebut dengan Satua Bali. Secara sempit yang disebut Satua Bali adalah satua-satua yang penyebarannya dari mulut ke mulut dan tidak diketahui siapa penciptanya. Tetapi dalam pandangan luas, satua Bali berasal dari karya-karya pengarang, baik yang berbahasa Bali maupun berbahasa Jawa Kuna.

Satua-satua Bali baik yang masih berbentuk lisan maupun yang sudah dicetak, banyak ditemukan di masyarakat. Dalam era modern, satua-satua masih berfungsi dan dipercaya dalam masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan cerita rakyat, misalnya : pada malam hari tidak boleh bersiul, tidak boleh keluar rumah pada sore hari (sandi kala), tidak boleh menduduki bantal, tidak boleh tidur menghadap selatan atau barat, dan masih banyak lagi contoh yang lain.

Dari kesusastraan bali macam satua di Bali, yang menarik untuk diteliti adalah satua yang berjudul “I Cicing Gudig”. Dari segi fungsi, satua ini sangat bermanfaat karena berfungsi sebagai cerita yang menghibur, merupakan alat pendidikan karena mengandung pesan yang sangat mendidik yaitu kecerdikan dan kepintaran dapat mengalahkan kejahatan, selain itu juga berfungsi sebagai pelipur lara.

Berdasarkan hal tersebut, pada saat ini akan dianalisis satua yang berjudul “Satua I Cicing Gudig”, dan hal yang akan dibicarakan mengenai inventarisasi, klasifikasi, analisis fungsi, dan analisis nilai. Tembang adalah karya sastra mengguakan Bahasa Bali, Tulisan Bali atau Latin. Dan dalam pembuatannya menuruti aturan-aturan tembang yang berupa bait.

Seperti aturan - aturan banyak baris, banyak suku kata pada baris dan aturan suara. Tembang adalah salah satu cabang kesenian daerah Bali yang termasuk seni vocal tradisional sebagai pencetusan estetika melalui rangkaian nada-nada yang berlaraskan pelog / peluselendra baik yang dibawakan dengan suara maupun instrumentalia (alat musik). Sekar Rare adalah nyanyian atau lagu-lagu yang juga disebut gegendingan. Biasa dinyanyikan oleh anak-anak, dipakai mengiringi gambelen menggunakan bahasa daerah, memakai sajak bebas, isinya sebuah cerita samapi selesai, setiap lagu punya nama tersendiri dan didalamnya selalu diselipkan ajaran- ajaran susila.

Sekar Alit adalah nyanyian atau lagu-lagu yang juga disebut geguritan berupa pupuh (macapat) yang susunannya terikat pada banyak baris pada setiap pupuh, banyak suku kata pada setiap baris, labuh suara (lingsa) kata terakhir setiap baris dan berisi ajaran-ajaran agama. Pupuh (tembang) itu dapat dibedakan antara lain : Sekar Madya adalah nyanyian atau lagu-lagu yang berisikan puji-pujian terhadap Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Yang termasuk Sekar Madya adalah kidung. Kidung adalah nyanyian suci yang dilagukan pada waktu upacara keagamaan.

Kidung biasanya dilagukan bersama-sama. Sayair kidung merupakan susunan kesusastraan bali dan kalimat yang indah. Syair itu dilantunkan dengan lagu yang merdu dan suara yang baik sehingga menampilkan karya seni yang bermutu. Nyanyian suci yang hikmat dapat menghantarkan fikiran kesusastraan bali hati kita sujud bhakti kehadapan Sang Hyang Widhi. Kidung biasaya dilantunkan pada upacara keagamaan yaitu Panca Yadnya.

Masing-masing upacara Yadnya memiliki jenis kidung yang berbeda-beda. Kidung juaga dapat kesusastraan bali menjadi 5 macam seperti berikut ini. Kesusastraan Bali Purwa, ialah kesusastraan yang telah diwarisi sejak jaman lampau dan lekat sekali kaitannya dengan Pustaka Suci Agama Hindu, misalnya : Buku-buku Weda, yang telah menjelma menjadi kesusastraan Nusantara Kuna diantaranya Kesusastraan Bali Purwa.

Selanjutnya Kesusastraan Bali Purwa itu kalau dilihat dari bentuk dapat dibagi menjadi tiga bagian sebagai tersebut dimuka, yaitu : tembang, gancaran dan palawakya. Sedek dina anu I Cicing Gudig mlispis di pekene. Ada kone anak madaar di dagang nasine, ento kone nengnenga menek tuunanga dogen.

Kene kenehne I Cicing Gudig, “Yan i dewek dadi manusa buka anake ento, kenken ya legan nyete ngamah, mebe soroh ane melah-melah. Ah kene baan, nyanan petenge lakar mabakti ke Pura Dalem, kesusastraan bali teken Batari Durga apang dadi manusa.

Kacrita suba peteng, mabakti kone lantas I Cicing Gudig di Pura Kesusastraan bali. Medal lantas Ida Betari Durga tur ngandika teken I Cicing Gudig, ”Ih iba Cicing Gudig, dadi iba ngacep nira, apa katunasang?” Masaut I Cicing Gudig, “Inggih paduka Betari, yan paduka Betari ledang, titiang mapinunas mangda dados manusa.”Kalugra kone pinunasne I Cicing Gudig, lantas ia dadi jlema. Dening I Cicing Gudig tusing bisa ngalih gae, tusing pati kone ngamah.

Mara-maraan ngamah ulihan maan mamaling. Pepes kone ia katara mamaling. Lantas buin kone ia mabakti di Pura Dalem. Medal lantas Ida Betari Durga tur ngandika teken I Cicing Gudig, “Ih iba cai I Cicing Gudig, ngenken dadi iba buin mai?” Matur I Cicing Gudig, “Inggih paduka Betari, titiang tan wenten demen dados manusa panjak. Yan paduka Betari ledang, titiang mapinunas mangda dados “Patih”. Ida Betari Durga lugra. Nujuang pesan kone dugase ento Ida Sang Prabu ngrereh buin adiri.

I Cicing Gudig lantas kandikaang dadi Patih, tur I Cicing Gudig ngiring.“Beh keweh pesan i dewek dadi Pepatih, tusing maan ngenken-ngenken, begbeg pesan kandikayang tangkil ka puri. Yan i dewek dadi Anak Agung, kenken ya legan nyete nunden-nunden dogen.” Keto kenehne I Cicing Gudig. Nyanan petengne buin kone ia mabakti di Pura Dalem, kesusastraan bali apang dadi Anak Agung.

Ida Betari Durga lugra, lantas patuh pesan kone goban I Cicing Gudige teken warna Ida Sang Prabu. Kacrita sedek dina anu Sang Prabu lunga maboros ka alase, macelig kone I Cicing Gudig ka puri. Dening patuh goban I Cicing Gudige teken Ida Sang Prabu, dadi kasengguh Ida Sang Prabu kone ia baan I Patih muah teken prayogiane ane len-lenan. Matur I Patih saha bakti, “Titiang mamitang lugra Ratu Sang Prabu, punapi awinan dados Cokor I Ratu paragayan tulak saking paburuan?” Masaut I Cicing Gudig, “Kene Patih, mawinan nira tulak, saking nira ngiringang sabdan Betara, tan kalugra nira malaksana mamati-mati.

Kandikayang lantas nira tulak. To juru borose ada pinunasa teken nira, tusing ngiring mantuk, krana kadunga suba makenaan. Nira nglugrahin, mawanan tan pairingan nira mulih.” Keto pamunyinne I Cicing Gudig, teka jag ngugu kone I Patih muah panjake ane len-lenan. Kacrita sai-sai kone I Cicing Gudig ngraosin anak mawikara. Reh Kesusastraan bali gudig tuara nawang lud, makejang wikaran anake pelih baana ngundukang, ane patut menang kalahanga, anak patut kalah menanganga.

Mawanan kaupet kone I Cicing Gudig dadi Agung, sawai-wai ngencanin anak mawikara dogen. Yan I Dewek okan Anak Agung, kenken ya demene, kema mai malali iringang parekan, di kenkene magandong, buina tusing pesan ngitungan apan-apan, sajawaning ngamah teken malali dogen. Nyanan petengne, mabakti kone buin I Cicing Gudig di Pura Dalem, mapinunas apang dadi okan Anak Agung. Ida Betari Durga lugra. Patuh lantas gobanne I Cicing Gudig buka warnanida Raden Mantri.

Buin mani semenganne, maorta ilang kone lantas Ida Raden Mantri. Ya sedeng ewana jerone ngibukang Raden Mantri, deleng-deleng kone lantas I Cicing Gudig ngapuriang. Reh Cicing Gudig kasengguh Raden Mantri, makesiar kone keneh wang jerone makejang. Kacrita jani I Cicing Gudig kapurukang malajah masastra. Dening asing ajahina muah takonina I Cicing Gudig tuara karoan baana apa, saapan kone lantas gurune ngemplangin I Cicing Gudig.

“Koang,” keto kone aduhanne I Cicing Gudig. Dening keto, buin kone pasangetina ngemplangin I Cicing Gudig. “Koang,” keto kone buin aduhanne. Buin kemplangina tur pasangetina, buin kone I Cicing Gudig makoangan. Brangti kone lantas gurunne, lantas ia nyemak penyalin anggona nigtig I Cicing Gudig, kanti enceh-enceh, mara kone suudanga Berdasarkan Satua Bali di atas.

Keterkaitannya dengan Agama Hindu yaitu Lobha. Lobha artinya kerakusan. Artinya suatu sifat yang selalu menginginkan lebih melebihi kapasitas yang dimilikinya. Untuk mendapatkan kenikmatan dunia dengan merasa selalu kekurangan, walaupun ia sudah mendapatnya secara cukup. Seperti misal lobha dalam mendapatkan harta seperti disebutkan dalam kesusastraan bali Adalah orang yang tabiatnya menginginkan atau menghendaki milik orang lain, menaruh dengki iri hati akan kebahagiannya; orang yang demikian tabiatnya, sekali-kali tidak akan mendapat kebahagiaan di dunia ini, ataupun di dunia yang lain; oleh karena itu patut ditinggalkan tabiat kesusastraan bali oleh orang yang ingin mengalami kebahagiaan abadi.

Orang yang irihati kepada sesanya manusia, jika melihat emasnya, wajahnya, kelahirannya yang utama, kesenangannya, keberuntungannya dan keadaannya yang terpuji; jika hal itu menyebabkan timbulnya iri hati pada dirinya; maka orang demikian keadaannya itulah sungguh-sungguh sengsara namanya, terlekati kedukaan hatinya yang tak terobati Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa karya – karya sastra yang ada di bali pada khususnya baik itu karya sastra tulis maupun lisan terutama yang memakai Bahasa Bali dalam penyajiannya sangatlah erat kaitannya dengan Agama Hindu di Bali.

Karya-karya sastra ini perlu dilestarikan agar tetap ajeg keberadaannya di era globalisasi saat ini. Kita sebagai umat Hindu Bali waji hukumnya untuk melestarikannya, kalau bukan kita yang melestarikannya siapa lagi. Sekarang yang dibutuhkan adalah kesadaran kita untuk melestarikannya agar tetap ajeg. Kita sebagai generasi penerus umat Hindu di bali harus mampu untuk mengaplikasikan karya sastra berbahasa bali ini dalam kehidupan sehari-hari, karena isi dari karya-karya sastra yang ada di bali erat dengan ajaran Agama Hin du.

• ► 2017 (7) • ► Mei (7) • ▼ 2015 (15) • ► Desember (1) • ► November (3) • ► Oktober (1) • ► Juli (1) • ▼ Juni (9) • Drama Mabasa Bali • Penjor Galungan • Rahinan Jagat Galungan lan Kuningan • Tari Wali • Kesusastraan Bali • Tradisi Magoak-goakan • Lingga Yoni • Susila ( Etika Menurut Hindu ) • Sada Siwa Tattwa BAB I PENDAHULUAN Kesusastraan bali secara etimologis berasal dari kata sastra.

Kata sastra berasal dari akar kata sas yan berarti mengajarkan dan memberitahuan dan tra artinya alat. Jadi sastra adalah alat untuk mengajarkan tentang kebaikan. Kesusastraan Bali adalah hasil karya atau cipta seorang pengarang atau pujangga yang menceritakan dinamika kehidupan masyarakat Bali serta mengandung nilai estetika yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Kesusastraan Bali dapat dibagi menjadi dua (2), yaitu : • Kesusastraan Bali Purwa atau Klasik atau Tradisional • Kesusastraan Bali Anyar atau Modern • Kesusastraan Bali Purwa atau Klasik atau Tradisiona Adalah hasil karya atau cipta seorang pengarang atau pujangga yang menceritakan tentang dinamika kehidupan masyarakat Bali pada saat atau belum dipengaruhi oleh kebudayaan asing atau luar.

Kesusastraan Bali Anyar atau Modern Adalah hasil karya atau cipta seorang pengarang atau pujangga yang menceritakan kehidupan masyarakat Bali yang sudah dipengaruhi oleh dunia luar.

Tujuan mempelajari kesusastraan yaitu kesusastraan bali memudahkan membaca atau mempelajari isi kesusastraan. Yang kedua untuk mengetahhui sejarah Bali tempo dulu dan yang terakhir yaitu untuk menghibur diri. BAB II PENDAHULUAN Contoh-contoh kasusatraan bali • Sekar Agung (Kekawin) Sebuah kakawin dalam metrum tertentu terdiri dari minimal satu bait. Setiap bait kakawin memiliki empat larik dengan jumlah suku kata yang sama.

Lalu susunan apa yang disebut guru laghu juga sama. Guru laghu adalah aturan kuantitas. sebuah suku kata. Suku kata bisa panjang atau pendek.

Sebuah suku kata panjang adalah suku kata yang memuat vokal panjang atau sebuah suku kata yang memuat sebuah vokal yang berada di depan dua buah konsonan. Jadi misalkan metrum kakawin yang bernama Śardūlawikrīḍita terdiri dari 19 suku kata. Lalu 19 suku kata ini guru laghu-nya adalah sebagai berikut −−−-UU−-U−U-UU−-−−U-−−U- U. Satu garis − artinya ialah suku kata panjang, sementara satu U artinya ialah suku kata pendek. Sedangkan - hanyalah pembatas saja setiap tiga suku kata dan tidak memiliki arti khusus.

Dalam metrum kakawin sebuah suku kata yang mengandung vokal panjang (ā, ī, ū, ö, e, o, ai, dan au) otomatis disebut sebagai suku kata panjang atau guru (= berat) sedangkan sebuah suku kata yang mengandung vokal pendek disebut sebagai suku kata pendek atau laghu (= ringan).

Namun sebuah vokal pendek apabila diikuti dengan dua konsonan, maka suku kata yang disandangnya akan menjadi panjang. Lalu suku kata terakhir merupakan anceps (sebuah istilah bahasa Latin) yang artinya ialah bahwa ia bisa sekaligus panjang maupun pendek.

Contoh Kekawin : Kekawin Wangsastha, metrum Swandewi • Guhā pětěng tang mada moha kaś mala, • Malādi yolānya magēng mahā wisa, • Wiśāta sang wruh rikanang jurang kali, • Kalīnganing śāstra suluh nikā prabhā.

Artos : • Waluya gua sane peteng dedet punika ampahe, bingune, miwah corahe • Letehe siyosan waluya lalipinyane sane ageng tur maupas • Degdeg kayun ida sang wruh, tatas ring pamargin seda. • Kecap-kecap sanghyang sastrane punika, nenten wenten tios wantah anggen suluh ida sane galang apadan. Analisis Kekawin : Kekawin diatas memiliki pesan yang tersirat yaitu tentang Kebingungan dan prilaku yang buruk.

Kebingungan itu mrupakan kegelapan yang sangat membelenggu yang dapat menghancurkan diri kita, namunkita hanya dapat menerangi langkah dan prilaku kita dengan bercermin serta mendalami sastra agama. • Sekar Alit (Pupuh) Kelompok Sekar Alit biasa disebut tembang macapat, gaguritan atau pupuh.

Sekar alit ini terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung.

Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang.

Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa. Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empat-empat suku kata (ketukan). Adapun jenis-jenis tembang macapat (pupuh) yang terdapat di Bali dan yang masih digemari oleh masyarakat, di antaranya adalah: NAMA PUPUH JENIS PUPUH Pupuh Sinom Pupuh Sinom Lumrah / Dasar Pupuh Sinom Wug Payangan Pupuh Sinom dingdong Pupuh Sinom Sasak Pupuh Sinom Lawe Pupuh Sinom Genjek Pupuh Sinom Silir Pupuh Ginada Pupuh Ginada Dasar Pupuh Ginada Linggar Petak Pupuh Ginada Jayapura Pupuh Ginada Basur Pupuh Ginada Bagus Umbara Pupuh Ginada Candrawati Pupuh Ginada Eman-eman/Bungkling Pupuh Durma Pupuh Durma Lumrah / Dasar Pupuh Durma Lawe Pupuh Dangdang Pupuh Dangdang Gula Pupuh Pangkur Pupuh Pangkur Lumrah / Dasar Pupuh Pangkur Jawa Pupug Ginanti Pupuh Ginanti Lumrah / Dasar Pupuh Ginanti Pangalang Pupuh Ginanti Perkutut Pupuh Ginanti Candrawati Pupuh Semarandana Pupuh Semarandana Lumrah / Dasar Pupuh Semarandana Mendut Pupuh Semarandana Cilinaya Pupuh Pucung Pupuh Pucung Lumrah Pupuh Maskumambang Pupuh Makumambang Lumrah Pupuh Mijil Pupuh Mijil Lumrah Berdasarkan hukum Padalingsanya tembang – kesusastraan bali macapat Bali ini dapat disusun seperti tabel berikut ini: Nama Pupuh Jumlah suku kata dan huruf hidup akhir pada setiap baris kalimat tembang (Pada Lingsa) beserta nomor barisnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Sinom 8a 8i 8a 8i 8i 8u 8a 8i 12a Ginada 8a 8i 8a 8u 8a 4i 8a Pucung 4u 8u 6a 8i 12a Maskumambang 4a 8i 6a 8i 8a Ginanti 8u 8i 8a 8i 8a 8i Durma 12a 8i 8a 8a 8i 5a 8i Pangkur 8a 12i 8u 8a 12u 8a 8i Semarandana 8i 8a 8o 8a 8a 8u 8a Mijil 10i 6o 4e 10e 8i 6i 8u Dangdang 14a 14e 8u 8i 8a 8u 12a 8i 8a Masing-masing pupuh yang tersebut di atas mengandung suasana kejiwaan yang berbeda-beda.

Suasana yang ditimbulkan oleh pupuh tersebut sangat berguna untuk mengungkapkan suatu suasana dramatik dari suatu cerita / lakon. Secara umum hubungan antara suasana dengan jenis pupuh dapat dilukiskan sebagai di bawah ini: Suasana Jenis Pupuh Aman, Tenang, Tentram Sinom Lawe, Pucung, Mijil, Ginada Candrawati Gembira, Riang Sinom Lumrah, Sinom Genjek, Sinom Lawe, Kesusastraan bali Basur, Pangkur dasar, Pangkur Jawa, Durma Dasar Sedih, Kecewa Sinom Lumrah, Sinom Wug Payangan, Semarandana, Ginada Eman-eman, Maskumambang, Marah Durma Dasar Memberi wejangan Ginanti Dasar, Ginada Dasar, Pucung, Ginada Eman-eman, Maskumambang Sekalipun demikian, pengaruh dari si penyanyi yang membawakan pupuh tersebut dapat mengubah suasana yang ditimbulkan oleh pupuh tersebut.

Kesusastraan bali pula diketahui bahwa kelompok tembang ini disebut pupuh adalah berdasarkan bagan atau kerangka lagu yang ada pada masing – masing pupuh ini. Berdasarkan isi atau cerita yang diungkapkan, jenis tembang ini juga di sebut Guritan menurut cerita yang dikandungnya.

Guritan Basur berarti tembang macapat yang mengungkapkan cerita Basur. Begitu pula halnya Guritan Jayaprana, Sampik, Linggarpetak dan lain sebagainya. Bahasa yang dipakai dalam kelompok tembang macapat ini adalah bahasa Kawi (jawa Kuno) dan bahasa Bali.

Contoh Pupuh Sekar Alit Pupuh Durma (Dasar) • Kesusastraan bali Agama tuwah nuntun Hyang Atma • Pinaka jembatan titi • Kala ngalintangin tukad • Linggah daleme mangonyang • Pekaryan Ida Hyang Widhi • Nika Resepang • Suka wirya nangun kerti Artos : • Inggih, sane mangkin uningayang tityang, indik sastra agama, sane pacang prasida, nuntun Sang Hyang Atma • Sastra agamane punika, sane pinaka jembatan, utawi titi • Ritatkala ngelintangin, sane kebaos tukade punika • Sane linggah, dalem tan dugi antuk • Punika, wantah pekaryan Ida, Sang Hyang Widhi Wasa • Patut, iraga mikayunin, indike, manados manusa • Kawebuhanne sane kapanggih, yening sampun, ngelarang yasa Analisis Pupuh Durma Contoh pupuh durma dasar diatas menceritakan atau menuturkan tentang kewajiban manusia semasa hidup yang akan dijadikan bekal pada saat kematian tiba.

Pada pupuh ini sudah jelas dapat kesusastraan bali lihat bahwa si pembaca ingin menyampaikan pesan – pesan kepada si pendengar kesusastraan bali kewajiban manusia untuk mempelajari ajaran – ajaran agama yang akan dijadikan jalan untuk mempermudah perjalanan Sang Atma untuk mencapai tujuan akhirnya yaitu moksa.

Dalam penggalan bait ke 2 dan ke 3 disampaikan bahwa sastra agama akan menjadi jembatan atau titi untuk menghantarkan Sang Atma melewati sungai yang sangat luas dan dalam. Dalam bait pupuh terbebut terdapat pesan yang tersirat bahwa sastra atau ajaran – ajaran agamalah yang akan mempermudah jalan Sang Atma untuk melewati kehidupan yang sangat berat dan penuh cobaan. Dalam bait terakhir juga terdapat sebuah pesan bahwa jika manusia sudah mempelajari sastra sastra dan ajaran sajaran agama maka ia kan memperoleh kebahagiaan selama hidupnya dan apabila sudah meninggal perjalanan Sang Atma akan mudah untuk sampai dan bersatu kepada Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Contoh pupuh di atas dapat dinyanyikan dengan nada yang halus dan gembira. Pupuh diatas juga bias dibawakan dengan Pupuh Durma Lawe sehingga nada atau nyanyian yang dihasilkan akan terkesan lebih seram dan magis.

• Sekar Rare Gegendingan adalah sekumpulan kalimat bebas yang dinyanyikan. Isinya pada umumnya pendek dan sederhana. Dikatakan bebas karena benar-benar tidak ada ikatannya.

Antara tiap kalimat tidak harus mempunyai arti yang membentuk pengertian. Ada tiga jenis gegendingan, yaitu: • Gending Rare atau Sekar Rare,mencakup berbagai jenis lagu anak-anak yang bernuansa permainan.

Jenis tembang ini umumnya memakai bahasa Bali sederhana, bersifat dinamis dan riang, sehingga dapat dilakukan dengan mudah dalam suasana bermain dan bergembira. Beberapa contoh tembang adalah Meong-meong, Juru Pencar, Ongkek-ongkek Ongke, Indang-indang Sidi, Galang Bulan, Ucung-ucung Semanggi, Pul Sinoge, dan lain-lain. • Gending Sanghyang dinyanyikan untuk menurunkan (nedunang) Sanghyang-sanghyang, misalnya pada prosesi budaya peninggalan zaman pra-Hindu dalam tarian sakral Sanghyang yang meliputi Sanghyang Dedari, Sanghyang Deling, Sanghyang Jaran, Sanghyang Bojong, Sanghyang Celeng, Sanghyang Sampat, dan sebagainya.

• Gending Jejanggeran ini sama dengan Gending Rare dan biasanya dinyanyikan secara bersama-sama dan saling sahut-menyahut satu sama lain. Contoh Gending Jejanggeran yaitu Putri Ayu, Siap Sangkur, Mejejangeran, dan lain-lain. Contoh gending rare : Putri Cening Ayu D D Putri cening ayu. E E Ngijeng cening jumah. AM D Meme luas malu F C Ke peken meblanja F G C Apang ade darang nasi D D Meme tiyang ngiring. E E Nongos ngijeng jumah. AM D Sambilang mengempu. F C Ajak tityang dadua. F G C Dimulihne dong gapgapin C C Kotak wadah gerih G F Jaja magenepan Ane luung luung Kesusastraan bali melah melah Ambunyane sarwa miik Analisis Lagu atau Gending Rare : Lagu Putri Cening ayu ini merupakan lagu masa kecil yang sering dinyanyikan orang tua untuk anaknya.

Lagu ini seringkali dijadikan lagu pengantar tidur untuk anak-anak karena lagu ini memiliki irama yang pelan sehingga menimbulkan rasa tenang dan damai. Lirik lagu ini menceritakan tentang seorang anak yang ditinggal oleh ibunya ke pasar dan si anak berdiam diri di rumah dan dibarengi kesusastraan bali menemani adiknya. Dalam lagu ini juga diceritakan sang anak mendapatkan oleh-oleh dari ibunya karena sudah mau menemani adiknya.

Lagu ini dapat dijadikan pelajaran bagi anak-anak untuk rukun kepada saudara dan menuruti perintah orang tua. • Satua Bali Kesusastraan bali sebuah cerita terdapat beberapa unsur yang mendukung cerita tersebut, unsur-unsur tersebut antara lain : • Tema Tema adalah Gagasan, ide, atau pikiran utama yang mendasari suatu cerita disebut tema. Atau gampangnya, tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, sesuatu yang menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita.

Tema merupakan jiwa dari seluruh bagian cerita. Karena itu, tema menjadi dasar pengembangan seluruh cerita.

Tema ada yang dinyatakan secara eksplisit (disebutkan) dan ada pula yang dinyatakan secara implisit (tanpa disebutkan tetapi dipahami).

• Amanat Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Sebagaimana tema, amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku atau peristiwa yang terjadi pada tokoh menjelang cerita berakhir, dan dapat pula disampaikan secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, atau larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.

• Tokoh Tokoh adalah orang yang mengalami peristiwa-peristiwa dalam berbagai peristiwa cerita. Pada umumnya tokoh berwujud manusia, namun dapat pula berwujud binatang atau benda yang diinsankan.

Ada dua macam tokoh dalam sebuah cerita, yaitu : • Tokoh protagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan positif atau menyampaikan nilai-nilai positif.

• Tokoh antagonis, yaitu tokoh yang membawakan perwatakan yang bertentangan dengan protagonis atau menyampaikan nilai-nilai negatif. • Watak Watak adalah sifat, perangai, kelakuan tokoh. • Alur (Plot) Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita.

Alur dapat disusun berdasarkan dua hal, yaitu: • Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.

Dimana cerita bergerak dari suatu titik dan kemudian berkembang sampai klimaks dan akhir atau penyelesaian cerita tersebut • Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur. Cerita dimulai dari suatu situasi yang merupakan akibat dari runtutan peristiwa sebelumnya.

Penceritaan bergerak mundur mengurai setiap peristiwa yang menjadi penyebab situasi akhir tersebut. • Latar (setting) Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana, dan situasi terjadinya peristiwa dalam cerita.

Latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok: • Latar tempat, mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. • Latar waktu, berhubungan dengan masalah ‘kapan’ terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita.

• Latar sosial, mengacu pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku sosial masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Latar sosial bisa mencakup kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, serta status sosial.

• Latar Suasana adalah penjelasan mengenai suasana pada saat peristiwa terjadi. Latar suasana dapat berupa suasana menegangkan, lucu, bahagia, sedih, haru ataupun duka. Contoh Satua bali: Siap Selem Ada tuturan satua siap selem ngelah panak pitung ukud, I Doglagan ane paling cenika. Ada kone Meng Kuuk maumah dadi anatah, masih ngelah panak enu cenik-cenik. Sai-sai I Kuuk ngae daya apang sida ia ngamah I Kesusastraan bali Selem, sabilang peteng ada nagih batisne, “Icang tendas Me, icang basangne Me, icang kibulne Me, icang kampidne Me, icang baongne Me.” Keto pada tetagihan panak-panakne I Kuuk, nagih ngamah I Siap Selem.

Dadi mawanan ningeh I Siap Selem teken bakal kaamah, dadiannya ia ngalih upaya mangdene nyidayang matilar uli ditu. Gelising crita panakne ane nemnem suba pada samah bulu kampidne, sakewala ane paling cenika dogen liglig reh tan pabulu.

Suba kone inganan tengah lemeng, I Siap Selem matuturan teken panakne, “Nah cai-cai jani ajak makejang makeber abete sakaukud, matinggal uli dini. Yen enu pade nongos dini sinah amaha teken I Kuuk.” Ditu lantas ane paling gedene nyumuin makeber, berber, burbur, kesusastraan bali.

Lantas matakon I Kuuk, “Ih Siap Badeng apa ento ulung?” “Inggih, daun tingkih ipan”. Buin makeber ane lenan, berber, burbur, suaak. “Siap Badeng apa ento ulung?” “Daun tiing ipan.” Makejang panakne suba makeber sakewala enu I Doglagan dogen. Dening ia tan pakampid dadi keweh pesan memenne, lantas kapituturin, “Cai dini kutang Meme, tan urungan cai lakar amaha teken I Kuuk. Nah ene pitutur Meme teken cai, yang di kadine cai bakal tagih amaha teken I Kuuk, kene abete masaut, “Inggih Jero Wayan ne mangkin kantun ben tiange belig, yang pungkuran sampun tiang gede makadi tumbuh kampid, irika ja becik ulam tiange daar jerone, keto abete masaut.” Suba kone keto I Siap Selem makeber ninggal I Doglagan.

Nu kone I Doglagan dogen pati sulsul kiak-kiak. Lantas kadingeh teken I Kuuk I Doglagan kiak-kiak padidiana. ”Kenken dadi I Olagan kauk-kauk padidiana, kija ya memenne? Beh ento jenenga ane ibi sanja orahanga don tiing, tingkih, timbul, ia jenenga makeber uli dini.” Lantas nyagjag panak kuuke makejang nagih ngamah I Doglagan, rencananne nagih pakpaka.

”Ih Jero Wayan mangkin da tadaha tiang, ben tiange kari belig malih pahit. Pungkuran yan sampun tiang ageng, tumbuh kampid, rah tiange akeh, ri kala irika rarisang sapakayunan!” Dadiannya kaidepang teken I Kuuk, kaingon kamelah-melahang. Critayang suba kone I Doglagan, bulunyane samah, janggarne janggar pulas, tlatahne lambih, lantas kema kone kuuke makejang nagih ngamah ia. “Inggih Jero Wayan, mangkin ja nyandang sampun tiang baksa, nanging wenten pisangken tiang ring jerone, keberang dumun tiang ping solas mangda sumbrah getih tiange becik ajengang jerone malih akeh keni.

Ri sampune puput ping solas tiang makeber, rarisang sampun baksa titiang!” Dadi tutut I Kuuk lantas kakebur-keburang I Doglagan. “Inggih Jero Wayan mangkin malih apisan batekang pisan ngeberang!” Lantas kasangetang ngeberang kanti tegeh, bur I Doglagan nambung ngalih meme nyamane di tengah bete.

Enggang bungutne I Kuuk, kauk-kauk ngaukin memenne, “Kenken ja baan Meme, cai, nyai demen ngugu munyinne, jani awake payu kado, nah endepang deweke! Analisis unsur-unsur dalam satwa bali “Siap Selem” kesusastraan bali Tema • Amanat Berbohong itu boleh, tetapi bertujuan untuk kebaikan.

• Tokoh Siap selem, I doglagan, panak-panak I siap selem,meng kuuk,lan panak-panak meng kuuk. • Watak Meng Kuuk : bodoh dan rakus Siap Selem : Pintar dan saying kepada anak-anaknya I doglagan : Pintar dan menuruti nasehat orang tua • Alur (Plot) Alur satwa ini adalah alur maju karena rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang kesusastraan bali ke depan terus.

Dimana cerita bergerak dari suatu titik dan kemudian berkembang sampai klimaks dan akhir atau penyelesaian cerita tersebut • Latar (setting) Satua diatas mengambil latar tempat di pekarangan rumah meng kuuk dan siap selem.

Latar waktu pada saat malam hari. Latar suasana satua diatas mengambil latar suasana yang menegangkan. • Puisi Bali Modern Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur-unsur puisiyaitu kata, larikbait, bunyi, dan makna.

Kelima unsur ini saling mempengaruhi keutuhan sebuah puisi. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut. Kata adalah unsur utama terbentuknya sebuah puisi. Pemilihan kata (diksi) yang tepat sangat menentukan kesatuan dan keutuhan unsur-unsur yang lain. Kata-kata yang dipilih diformulasi menjadi sebuah larik.

Larik (atau baris) mempunyai pengertian berbeda dengan kalimat dalam prosa. Larik bisa berupa satu kata saja, bisa frase, bisa pula seperti sebuah kalimat. Pada puisi lama, jumlah kata dalam sebuah larik biasanya empat buat, tapi pada puisi baru tak ada batasan. Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis. Pada bait inilah biasanya ada kesatuan makna.

Pada puisi lama, jumlah larik dalam sebuah bait biasanya empat buah, tetapi pada puisi baru tidak dibatasi. Bunyi dibentuk oleh rima dan irama. Rima (persajakan) adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait.

Irama (ritme) adalah pergantian tinggi rendah, panjang pendek, dan keras lembut ucapan bunyi. Timbulnya irama disebabkan oleh perulangan bunyi secara berturut-turut dan bervariasi (misalnya karena adanya rima, perulangan kata, perulangan bait), tekanan-tekanan kata yang bergantian keras lemahnya kesusastraan bali sifat-sifat konsonan dan vokal), atau panjang pendek kata.

Dari sini dapat dipahami bahwa rima adalah salah satu unsur pembentuk irama, namun irama tidak hanya dibentuk oleh rima. Baik rima maupun irama inilah yang menciptakan efek musikalisasi pada puisi, yang membuat puisi menjadi indah dan enak didengar meskipun tanpa dilagukan. Makna adalah unsur tujuan dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait.

Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut. Melalui makna inilah kesusastraan bali penulis puisi disampaikan. Adapun secara lebih detail, unsur-unsur puisi bisa dibedakan menjadi dua struktur, yaitu struktur batin dan struktur fisik. Struktur puisi, atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut.

• Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, kesusastraan bali, maupun makna keseluruhan. • Rasa (feeling) yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan.

Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya. • Nada (tone) yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa.

Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll. • Kesusastraan bali (itention) sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi.

Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya. Sedangkan struktur fisik puisi, atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut. • Perwajahan puisi (tipografi) yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik.

Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi. • Diksi yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin.

Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. • Imaji yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan.

Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji kesusastraan bali (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair.

• Kata kongkret yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.

• Bahasa figurative yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

• Versifikasi yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Contoh Puisi Bali Sang Surya Sang Surya Nyunarin Pratiwi masunar galang uling semengan ngantos sanja ngiterin gumi sampune masineb Sang Surya maganti bulan Ngantos semengan buin mara masunar Sang Surya sinarnyane akeh nyunarin sekancan isin gumi Sang Surya akeh kegunane dumogi gumine tetep lestari Analisis : Makna yang terkandung dalam puisi Sang Surya adalah bahwa matahari merupakan sebuah elemen penting dalam siklus kehidupan di dunia ini.

Dimana keberadaannya memang tak bisa tergantikan. Dengan adanya sinar matahari semua makhluk hidup dapat melangsungkan hidupnya dengan baik dan dapat melakukan banyak hal dari pancaran sinar matahari.

Maka dari itu keseimbangan alam dapat terjaga. • Cerpen Bahasa Bali Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah salah satu bentuk prosa naratif fiktif.

Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insightsecara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang.

Unsur Intrinsik Cerpen Unsur intrinsik Cerpen adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup: • Tema adalah kesusastraan bali pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.

• Latar(setting) adalah tempat, waktusuasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung. • Alur (plot) kesusastraan bali susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita. Alur Cerpen dibagi menjadi 3 yaitu: • Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.

• Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).

• Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur. Alur Cerpen meliputi beberapa tahap: • Pengantar: bagian cerita berupa lukisanwaktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.

• Penampilan masalah: bagian yang menceritakan maslah yang dihadapi pelaku cerita. • Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak. • Ketegangan menurun / antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.

• Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan. • Perwatakan : menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui: • Dialog tokoh • Penjelasan tokoh • Penggambaran fisik tokoh • Nilai (amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.

Unsur Ekstrinsik Cerpen Unsur ekstrinsik Cerpen adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, kesusastraan bali secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi: • Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi) • Latar belakang kehidupan pengarang • Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan Contoh Cerpen Bali Modern Cetik Timpal leket tiangé, I Buda, gelemné sampun ten dadi tulung.

Awakné berag, sasai ngutahang getih. Makudang-kudang dokter kadén sané sampun ngubadin, nanging ipun nénten mrasidayang seger. Diagnosisné magenepan. Wénten sané ngorahang diabetes akut, wénten sané ngorahang keni tumor, wénten sané ngorahang kesusastraan bali ginjal, sakit jantung, sakit ati.

Makejang ten wénten sané uning napi sujatinné penyakitné I Buda. Sasukatné ipun dadi pejabat, magenepan pesu penyakitné. Ngantos ka dura negara ngrereh ubad, nanging durung mrasidayang seger. Né sanget padalemin tiang wantah mémén ipuné. Mara Mémén ipuné lega ngelah pianak pejabat mangkin sampun ngreres ngantiang mati. Kanti telah arta brananné anggona ngubadang masi ten nyidayang seger. Bapanné I Buda sampun makelo ngalain. Tiang inget mara dugasé niki Buda malali ka umah tiangé.

“Madé, icang lakar sasai luas joh. Runguang mémén icangé, nah, ” kénten I Buda kapining tiang. “Nah, asal da engsap tekén timpal dogén lamun suba sugih,” tiang masaut asal. “Béh, icang sing kal ngengsapin cai,” kéto pasautné sambilanga kedék.

”Eda masih ngengsap tekén Widhi.” ”Nah.” I Buda sujatinné anak dueg, dharma lan ten taén ngelah daya corah. Nénten demen mapi-mapi. Napi ja sané kabaosang sakadi asapunika ring keneh ipuné. Nénten taén majanji-janji. Nénten taén mogbog. Mirib punika sané ngawinang ipun demenina teken anak-anaké ngantos ipun nyidayang dadi pamimpin yadiastun kesusastraan bali anak sané nénten madué.

Tiang percaya I Buda boya ja sakit médis. Sampun makelo I Buda nganggo ubad resép dokter, nanging ten wénten perubahan. Sakitné, pedas sakit niskala! Janten wénten ané nyakitin. Nanging tiang ten bani nyambatang I Ana utawi I Anu sané ngranayang. Adanné manusa, don sénté don plindo; ada kéné ada kéto. Ten makejang patuh keneh ipuné. Liu masi anaké ten demen tekén I Buda pamekas saingan ipuné.

Anaké ngorahang yan suba terjun ring politik mangdané dueg-dueg ngaba raga. Yadiastun tiang boya ja politisi, tiang masih nawang yan ring politik, sané mangkin timpal, buin mani bisa dadi saingan.

Ané mangkin ngajumang, buin mani bisa misuh-misuh dadi musuh. Sapunika taler tungkalikannyané. Samian menghalalkan segala cara. Wantah kepentingan sané kautamayang mangda kapolihang napi sané kabuatang. Sasukat I Buda sakit, liu anaké pada marebut lakar nyuang tongosné. Kéto kepir-kepiran ortinné sané piragi tiang di margané. “Béh, mirib liu anaké ané ngamadakang apang I Buda énggal ngalain.

Apang enggal maan kesusastraan bali “kursiné”, ngentosin tongosé ento,” kéto tiang mapineh-pineh. “Mirib liu masih ada anak ané iri tur dengki kapining I Buda.” Tiang nelokin I Buda di jumahné. Tingalin tiang I Karma, timpalné leket ané biasa ajaka gradag-grudug, mesuan uli di jelanan umahné. Mirib mara suud nelokin I Buda. Sasubanné tiang neked ditu, Mén Buda ngénggalang ngajakin tiang macelep ka kamar, ningalin I Buda. Awakné berag, lemet, paningalanné barak.

Sayan wai sayan nyangetang dogén sakitné I Buda. Jani ia sing nyidayang bangun. “Dé, nglaut I Buda kakéné. Kénkénang jani?” Mén Buda nakonin tiang. “Béh, tiang ten nawang ampun, Mé,” tiang masaut makitak-kituk. “Dé, mémé ba leleh gati kemu mai. Masih sing seger-seger pianak méméné totonan. Mirib né mula karman méméné,” kéto panyambat Mén Buda sambilanga sigsigan.

Tiang nginget-ngingetang, i pidan mémén tiangé taén ngorta, wénten jero mangku napi balian, tiang masih ten seken nawang, koné bisa ngubadin anak kena cetik. Nongos di bongkol gunungé, sasai masamadi nunas pica, nunas ica. Ajakin tiang Mén Buda mrika. Mabekel baas, daksina, tipat kélan, canang, lan bayuan tiang kesusastraan bali Mén Buda nakonang ring baliané nika. Matakén Mén Buda, “Jero, napi sané ngranayang pianak titiangé sakadi asapunika?” Jero balian nrawang.

“Ne, ada kesusastraan bali sing demen.” “Sira?” “Anak. Di tongosné magaé. Kéné parisolahné.” Baliané majalan nyrengseng. Mrika-mriki, sebengné gedé pesan. Ngingetang tiang ngajak…, ngajak…, sira nggih? Tiang engsap. Tiang ten bani nakonang adannyané tekén Jero Balian. “Tebus atmané di Pura Dalem. Anggon banten anu, anu, anu. Énggalang né nebus apang énggal ia seger. Yan sing kéto pedas ia lakar ngalain.” “Nggih Jero, matur suksma.” Titiang sareng Mén Buda ngénggalang mapamit.

Satekané saking umah baliané pramangkin Mén Buda kawantu olih kaluarganné répot ngaé banten. Tiang masih milu repot ngayahin. “Madé, beliang kéné jebos.” “Beliang kéto.” “Tandingané kondén misi kéné-kéto.” Jag magrebedan prajani di jumahné. Ada ané ngayahin I Buda, ada ané ngayahin tamiu ané madelokan, ada ané ngaé banten, magenepan. Aget pesan ring rahinané mangkin bantené sampun pragat.

Orahanga tekén Jero Baliané mangkin déwasa sané melah anggé nunas kasegeran. Makejang timpal-timpal di tongosné I Buda magaé ajakin tiang maturan ka pura dalem. Apang milu mabakti, nunasang ring Ida Betara mangdané I Buda énggal seger. Tiang nyangkol I Buda tuun uli kursi roda. Jero mangku ngantebang banten. Tiang ningalin makejang timpal-timpalné I Buda. Ten wénten sané ten teka mriki. Tlektekang tiang sakabesik. “Ratu Betara…, sapa sira ja sané nyakitin I Buda mangda ketara mangkin,” tunas tiang kesusastraan bali manah.

I pidan Buda sasai nulungin tiang yadiastun ia masi anak sing ngelah. Ajak tiang kesusastraan bali cenik, Buda mula anak polos. Nénten madaya I Buda lakar kakéné dadinné. Dugas ipun wau-wau ring politik, wénten masih keneh jejeh mémén ipuné. ”Buda, da ja milu-milu terjun ka politik. Anak politiké ento keras. Apa buin i raga tusing ngelah apa!” kéto mémén ipuné majarin. Nanging I Buda kekeh jungkeh tur masaut, ”Mé, jani suba gantinné i raga ngwantu masyarakat kecil, kadung i raga ka gugu dadi wakil rakyat.

Apang nyidayang nulungin anak lén. Apang nyidayang nglestariang gumi Baline.” Jero Mangku sampun usan ngantebang banten. Sané wénten ring pura ajak makejang ngaturang bakti. ”Inggih asepin tangané. Om….” Déréng suud pada mabakti saget wénten ané jerit-jerit, ”Kebus! Kebus!” Makejang matolihan tur ngénggalang bangun. Tiang ané ngisiang I Buda ten nyidayang ningalin sira sané jerit-jerit.

Anak-anaké pada biur. ”Aduh! Aduh!” buin ia jerit-jerit. ”Mé, ajak malu I Buda, tiang lakar ningalin sira ja nika.” Tiang majujuk lan nylebseb di selag-selagan anaké ané lénan makita ningalin. ”Mrikayang akidik, mrikayang akidik,” kéto abet tiangé sahasa ngamaluang.

Sasampunné di malu, tiang makasiab. Tiang ningalin awak ané gedé, barak biing, mabulu, ten cara manusa. Makejang ten masuara.

Ngob. Mara makipekan tiang buin makasiab. Analisis Cerpen “Cetik” Tema : Sakit karena kena Cetik Bali Latar : di tempat kerjanya buda, ketika buda terjun kedunai politik dan banyak orang kesusastraan bali mendoakan buda supaya cepat mati. Alur : cerita ini menceritakan dengan alur campuran yaitu maju dan mundur.

Penokohan : • Buda : pintar, baik, tidak pernah berbohong. • Ibuk buda: kasih sayang yang tulus kepada anaknya. • Karma : kadang baik dan kadang jahat suka menyakiti temannya sendiri. • Jero balian : baik suka memberikan solusi. • Jero mangku : baik suka memberikan jalan yang terbaik. Amanat : Ketika kita terjun kedunia politik, hati – hatilah kita membawa diri, kesusastraan bali ucap kata bisa jadi musuh, seperti orang bali bilang: buin mani bisa misuh –misuh lakar dadi musuh.

Ekstrinsik Nilai Politik: Seorang politik menghalalkan segala cara baik dianggap menguntungkan ataupun sebaliknya, dia tidak peduli dengan resiko.

Yang penting dia bisa menang. Latar belakang kehidupan pengarang : Pengarang tidak begitu menceritakan kehidupannya, namun pengarang menceritakan sedikit karakternya kedalam cerpen ini. • Lagu pop bali Lagu adalah curahan perasaannya melalui bunyi-bunyian yang indah dalam wujud lirik dan music. Dalam membuat sebuah lagu, seorang musisi atau pembuat lagu akan berusaha untuk mencurahkan perasaannya sepenuh-penuhnya dan seutuh-utuhnya melalui bunyi-bunyian dan mengatur atau menata agar bunyi-bunyian yang dibuatnya indah, bagus atau enak didengar.

Dalam proses pembuatan itu dan dengan terciptanya lagu, seorang musisi memperoleh kepuasan atau kesenangan. Orang lain, yang mendengar lagu tersebut juga dapat memperoleh kepuasan dan kesenangan. Tentunya rasa keindahan setiap orang adalah berbeda, tidak ada yang sama, maka lagu yang indah atau bagus buat seseorang, belum tentu indah dan bagus buat orang lain. Oleh karena itu pengertian kesusastraan bali yang indah kesusastraan bali bagus akan berbeda pula dari orang ke orang.

Dengan demikian tidak mudah membuat lagu yang akan dinilai kesusastraan bali atau bagus oleh banyak orang. Namun demikian ada beberapa unsur yang kira-kira perlu dimiliki sebuah lagu agar lagu itu terasa indah atau bagus, yaitu : • Harmonis Pengertian harmonis secara sederhana adalah kesesuaian/keseimbangan nada (atau nada-nada) suatu instrument dengan nada (atau nada-nada) instrument lainnya.

Contoh nada yang sesuai/seimbang adalah kord/triad (3 nada/lebih yang dibunyikan secara bersamaan). Tiap kord/triad mempunyai aturan/rumus tersendiri yang membuat nada-nada dalam kord/triad itu bersesuaian/seimbang atau harmonis sehingga enak didengar. Kemudian nada atau kord/triad yang dimainkan suatu instrument (seperti gitar) juga harus bersesuaian/seimbang dengan nada atau kord/triad yang dimainkan instrument kesusastraan bali.

Sehingga keseluruhan nada yang ada terdengar bersesuaian/seimbang dan enak didengar. • Melodis Pengertian melodis secara sederhana adalah pergerakan/perubahan tinggi rendahnya nada yang dimainkan dari waktu ke waktu.

Suatu lagu yang indah atau bagus umumnya memiliki melodi yang enak didengar. • Irama/Ritme Pengertian irama/ritme secara sederhana adalah perulangan bunyi-bunyian menurut pola tertentu dalam sebuah lagu. Perulangan bunyi-bunyian ini juga menimbulkan keindahan dan membuat sebuah lagu menjadi enak didengar.

• Suasana/Nuansa Nuansa kira-kiranya adalah suasana yang terasa dari sebuah lagu. Apakah suasana riang, gembira, sedih ataupun murung dsb. Macam-macam suasana ini dapat dibangun/dibuat melalui melodi, harmoni, irama dan juga efek suara instrument yang digunakan dalam sebuah lagu. Suasana suatu lagu menimbulkan sensasi perasaan tertentu pada pendengarnya akibatnya membuat suatu lagu terasa indah atau enak didengar.

• Alunan Emosi Yang dimaksud alunan emosi adalah tahapan/pergerakan pencurahan emosi dalam sebuah lagu. Dalam suatu saat dalam sebuah lagu ada emosi yang terkandung entah itu emosi kesusastraan bali, sedih, rindu dsb.

Emosi-emosi ini dicurahkan menurut tahapan-tahapan tertentu, misalkan dari mulai dikenalkan, dicurahkan perlahan, meningkat, sampai ke puncak emosi kemudian menurun kembali dsb. Adanya emosi yang dapat dirasakan ini dapat mempengaruhi apakah suatu lagu akan terasa indah/bagus atau tidak. Lagu yang kandungan emosi didalamnya sulit ditangkap/dirasakan kemungkinan menjadi tidak menarik, dan sebaliknya.

Perpaduan yang pas dari hal-hal diatas turut mempengaruhi indah/bagus atau tidaknya suatu lagu. Dan perpaduan yang demikian itulah yang tidak mudah dibuat.Tercapainya perpaduan yang paling pas membuat sebuah lagu menjadi indah/bagus. Lagu yang bagus selain enak didengar mempunyai dampak dapat dinikmati, dipahami dan dihayati oleh pendengarnya dan mendorong atau merangsang pendengarnya untuk turut bernyanyi, menari, atau terbawa dalam lagu tsb.

Dalam sebuah lagu juga terkandung unsur – unsure lagu antaralain tema, amanat, jenis lagu, ekspresi dan lain-lain. Berikut merupakan contoh lagu Pop Bali Puja Saraswati Cipt : Gus Bajra C Am Ne sandang kelidin dadi manusa F C Ento awidya C Am Ne sandang gelahang dadi manusa F G Sastrane utama C Am De engsap ken Kesusastraan bali, pinaka suluh F C Pati uripe C Am Kedasarin Dharma, sinah meguna F G Sastrane utama Am E Reff : Mesunar galang, galang prabawa Hyang Suci F C Nyunarin peteng di hati Am E Mesunar galang, Hyang Maha Dewi F C Puja oh puja, Hyang Saraswati Analisis lagu Pop Bali Lagu Pop Bali di atas berjudul Puja Saraswati.

Dari jululnya saja kita sudah bias mengetahui bahwa lagu tersebut tergolong lagu religi.

Dalam lagu Puja Saraswati terdapat amanat – amanat yang terkandung di dalamnya antara lain, lagu mengandung pesan bahwa seorang manusia harus mampu menguasai dan mempelajari sastra-sastra agama dan menghindari diri dari belenggu kebodohan atau awidya.

Dalam lagu ini juga terdapat lirik yang berisikan puja dan puji untuk Dewi Saraswati. Dewi Saraswati dalam lagu ini digambarkan sebagai Dewi yang memiliki sinar yang sangat terang hingga mampu menerangi manusia-manusia yang awidya atau terbelenggu dalam kegelapan. Lagu Puja Saraswati ini dinyanyikan dengan nada dan ekspresi yang gembira, sehingga para penikmat lagu dapat merasakan kegembiraan dan kehangatan Dewi Saraswati. BAB III PENUTUP Kesimpulan Kesusastraan Bali adalah hasil karya atau cipta seorang pengarang atau pujangga yang menceritakan dinamika kehidupan masyarakat Bali serta mengandung nilai estetika yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

Kesusastraan bali dibagi berdasarkan bentuk, berdasarkan waktu, berdasarkan cara penuturan dan berdasarkan bahasa. Contoh-contoh kesusastraan bali antara lain yaitu kekawin, pupuh, puisi, cerpen, satua, gending rare, lagu pop dan lain-lain.

Tujuan mempelajari kesusastraan yaitu untuk memudahkan membaca atau mempelajari isi kesusastraan. Yang kedua untuk mengetahhui sejarah Bali tempo dulu dan yang terakhir yaitu untuk menghibur diri. Daftar Pustaka Antara, I Gusti Putu. 2005. Sastra Bali Purwa. Sebuah buku pengajaran Sastra Bali Purwa D2 PGSD (Kelas Konsentrasi), FIP IKIP Negeri Singaraja. Antara, I Gusti Putu. 2008. Prosa Fiksi Bali Tradisional. Singaraja: Yayasan Gita Wandawa. Gautama, Wayan Budha.

2007. Kasusastraan Bali. Cakepan Panuntun Mlajahin Kasusastraan Bali. Surabaya: Paramita. www.google.com I Wayan Bogayana Nim: 11.1.1.1.1.198 Cok Gd Oprayuana Nim: 11.1.1.1.1.208 I Putu Eka Prayoga Nim: 11.1.1.1.1.212 I Made Subawa Nim: 11.1.1.1.1.213 I Wayan Warsa Nim : 11.1.1.1.1.214 Hobby membaca, main game, olahraga, nonton film, trecking sepada, dan kencan.!!!!

View all posts by Avatar IHDN DENPASAR Kesusastraan bali a comment
Title (Other local language) Photograph kesusastraan bali https://www.google.com/search?q=sastra+bali+modern&tbm=isch&ved=2ahUKEwiqtuXt6aTqAhX2wnMBHdOJCUgQ2-cCegQIABAA&oq=sastra+bali+modern&gs_lcp=CgNpbWcQAzIECAAQGDoECCMQJzoCCAA6BQgAELEDOgQIABBDOgYIABAFEB46BggAEAgQHjoECAAQHlCNhQFYtJ8BYOGhAWgAcAB4AYAB5AaIAZIhkgENNC43LjIuMS4wLjIuMZgBAKABAaoBC2d3cy13aXotaW1n&sclient=img&ei=e7f4XuqMI_aFz7sP05OmwAQ&bih=608&biw=1366&safe=strict#imgrc=bF7Ik0V3bsSOfM Reference for photograph Author(s) • Luh Yesi Candrika Subject(s) • Kesusastraan Bali Anyar Reference Related Places Bali Event Related scholarly work Reference I.Kawentenan Karya Sastra Bali Modern Ring sajeroning panglimbak kasusastraan Bali, nganutin aab jagat nyane kasusastraan Bali Anyar ngawetuang karya-karya sastra modern silih sinunggilnyane kawentenan roman miwah puisi Bali Anyar.

Kawentenan kasusastraan Bali Anyar utawi modern nganutin penampen Ngurah Bagus 1969ngawit saking kamedalang nyane roman Nemu Karma Ketemu Jodoh pakardin Wayan Gobiah olih Balai Pustaka Jakarta duk warsa 1931.

Indik kawentenan punika kabaosang olih para sastrawan minakadi Simpen AB 1971Wayan jendra 1976Made Sanggra 1978. Salantur nyane nganutin panampen saking Ida Bagus Gede Agastia, kawentenan roman Nemu Karma punika pinaka cihna pangawit kawentenan kesusastraan Bali Modern.

Tiosan punika, kesusastraan bali kesusastraan Bali Modern minakadi marupa roman, drama, cerpen, miwah puisi Bali modern. 1980: 14. Ida Bagus Gede Agastia ring penelitian nyane maosang, ri sajeroning kawentenan roman sane nganggen basa Bali minakadi nyane Nemu Karma miwah Melancaran ke Sasak.

Roman Melancaran Ke Sasak punika pakardin Gede Srawana sane madue pesengan tiosan utawi nama pena inggih punika Wayan Bhadra. Roman punika raris kaunggahang antuk cerita manyerita cerita bersambung duk warsa 1939 sane wenten ring majalah Jatayu.

Panglimbak nyane duk warsa 1978 kaunggahang macetak malih olih Yayasan Sabha Sastra Bali. Wangun sastra sane tiosan minakadi drama, cerpen, miwah puisi taler makeh panglimbaknyane. Kawentenan puniki makilitan saking kawentenan sayembara olih Lembaga Bahasa Nasional Cabang Kesusastraan bali Singaraja sane mangkin kabaos Balai Penelitian Bahasa.

Sayembara punika naanin kalaksanayang duk warsa 1968, 1969, 1970 sane kamargiang ping kalihmiwah 1975. Taler ring warsa 1972 sayembara punika naaning kamargiang olih Listibya Provinsi Bali.

Ring masyarakat taler sampun ngalimbak sane madaging pupulan cerpen miwh puisi Bali Modern, minakadi Ketemu Ring Tampak Siring 1975Togog 1975Ganda Sari 1973Galang Kangin 1976. Pinih untat raris kamedalang buku Kembang Rampe Kesusastraan Bali Anyar dua jilid sane muatang karya-karya sastra Bali Modern sane sampun kaunggahang kapublikasiang Agastia, 1980: 15. Maosang indik kesusastraan bali Bali Anyar, duk warsa 2005 Prof.

Dr. I Nyoman Dharma Putra ngamedalang buku sane mamurda Tonggak Baru Sastra Bali Modern. Salantur nyane duk warsa 2010 edisi baru malih kamedalang antuk murdan buku sane pateh. Ri sajeroning buku sane kamedalang punika, kawentenan Roman Nemu Karma nenten ja dados pangawit kawentenan kasusastraan Bali Modern. Panampen-penampen sane lintang maosang roman Nemu Karma manados cihna pangawit kasusastraan Bali Modern santukan; 1.

Mabasa Bali taler marupa roman, 2. Kamedalang olih Balai Pustaka Dharma Putra, 2010: 4. Nganutin sakadi panempen Dharma Putra ri sajeroning buku Tonggak Baru Sastra Bali Modern kawentenan politik ring Bali ngawit warsa kesusastraan bali prasida nyihnayang panampen anyar indik kawentenan sastra Bali modern.

Dados nyane sakadi panampen punika, panglibak kawentenan kesusastraan Bali Anyar nenten ja kakawitin antuk kawentenan Roman Nemu Karma. Sakemaon panglimbak nyane sampun wenten sadurung nyane, inggih punika duk pemerintahan kolonial Belanda ring warsa 1900-an.

Tiosan Roman panglimbak kawentenan puisi Bali Modern taler becik mangda kauratiang. Puisi Bali yening rerehang ring panglimbak kesusastraan Bali, ngeranjing ri sajeroning kasusastraan Kesusastraan bali Anyar sane polih pengaruh saking kesusastran modern sane embas saking kebudayaan kesusastraan bali Eropa.

Puisi Bali Anyar kesusastraan bali medal duk warsa 1959, sane kacihnayang antuk kamedalang pupulan puisi pakaryan Suntari PR sane mamurda Basa Bali sane munggah ring majalah Medan Bahasa Yogyakarta.

Huwus punika kalanturang antuk medal puisi sane mamurda Bali pakaryan Yudha Panik miwah Pura Agung Jagadnatha olih Wayan Rugeg Nataran. Panglimbak puisi Bali Anyar kantos mangkin sumingkin becik, puniki kacihnayang antu medal nyane pupulan puisi Bali Anyar sane ngamolihang penghargaan Sastra Rencage. Minakadi, Ang Ah lan Ah ANg pakardin I Made Suarsa, Coffe Shop warung kopi pakardin I Dewa Gede Windhu Sancaya, miwah sane tiosan Setiawan, 2014: 58-59. Babaosan indik panglimbak kawentenan sastra Bali Anyar salanturnyane, pacang nganutin panampen I Nyoman Dharma Putra ring buku Tonggak Awal Sastra Bali Modern 2010.

Santukan buku punika madaging informasi sane pinih anyar indik panglimbak kesusastraan Bali Modern. II.Cerpen-Cerpen Sastra Bali Modern Sadurung Nemoe Karma 1931. Nganutin kawentenan pulau Bali, panglimbak kawentenan sastra Bali Modern punika polih pengaruh imbas saking kawentenan pendidikan modern sane kamargiang olih pemerintah kolonial Belanda duk warsa 1900-an.

Sekolah Dasar sane kapertama sampun kawentenang olih kolonial duk warsa 1875 sane magenah ring Bali Utara. Pamargin nyane nyansan ngamecikan duk ngalintangin warsa 1908. Ritatkala pamargin pendidikan modern punika wenten pikobet pemerintah kolonial indik kakirangan nyane buku bacaan sane pacang kaanggen olih para sisia lokal Bali. Santukan punika raris pemerintah kolonial ngicenin pawarah-warah mangda para guru prasida nulis buku anggen buku pelajahan taler anggen buku bacaan sane nganggen basa Bali.

Kawentenan pawarah-warah saking pemerintah kolonial Belnda mangdane nulis buku utawi ngaripta cerita sane nganggen basa Bali sujatine madue tatujon. Tetujon punika minakadi, rasa sumengken nyane ritatkala ngamargiang politik etis, pemerintah kolonial sida antuk nyingakin ngontrol jenis buku miwah bahan bacaan sane manggen ring sekolah-sekolah, siaga ritatkala wenten buku-buku tiosan sane kamedalang olih penerbit swasta, miwah kaanggen ngalimbakang kawentenan kesusastraan bali Bali mangda nenten dados pialang ritatkala malajahin basa Melayu.

Lempas saking tetujon punika, pawarah-warah saking pemerintah Belanda punika prasida nangiang kahyun para intelektual Bali, minakadin nyane para guru mangda nyurat karya-karya sastra kesusastraan bali wangun nyane matiosan saking kesusastraan bali sastra tradisional minakadi kakawin, kidung, miwah geguritan. Wangun tulisan sane anyar punika sane marupa cerpen.

Kesusastraan bali punika nenten ja wantah transformasi saking tradisi lisan sane kauwah dados tradisi kesusastraan bali miwah sasuratan-sasuratan anyar nanging ritatkala struktur utawi wangun sasuratan nyane kantun nganggen ekspresi-ekspresi tradisi lisan satua. Minakadi lengkara sedek dina anu pada suatu harikacerita mangkin Diceritakan sekarangketo katuturan begitu kisah.

Tulisan-tulisan punika kaungghang katerbitang olih penerbit kolonial ring Batavia. Yening selehin indik wangun miwah daging nyane, makeh karyane punika sane kabaosang karya sastra sane nampek saking wangun modern sane prasida kakeniang dados cihna pamahbah pembuka embas nyane sastra Bali Modern. Cerpen-cerpen sane kamedalang duk warsa 1900-an kaungghang katerbitang olih kolonial Belanda sane kesusastraan bali buku pelajahan text book nganggen basa Bali sane kasurat antuk aksara Bali miwah latin.

Buku sane kapertama medal mamurda Peroempamaan, Jaitoe Beberapa Tjerita Dalam Bahasa Bali 1910sane kakardin olih I Wayan Dwija Juru bahasa di Praja. Buku punika kamedalang ring Batavia. Salantur nyane duk warsa 1913, I Made Pasek ngaryanin buku sane mamurda Tjatoer Perenidana, tjakepan kaping doea papladjahan sang mamanah maoeroek mmaos aksara Belanda Catur Perinadana, buku pelajaran kedua bagi peminat belajar bahasa aksara Belanda.

Guru I Made Pasek puniki produktif ritatkala nyurat buku-buku pelajahan, minakadi Aneka Roepa Buku Bacaan 1916Aneka Warna Tjakepan Kaping Kalih 1918miwah Aneka Warna Peratamaning Tjakepan papaosan Bali Kasoerat Antoek Aksara Belanda 1918.

Karya-karya Made Pasek sida ngawetuang daya tarik duaning nganggen tema-tema kontemporer modern ring rajeroning zaman punika. Cerita ane wenten ring buku Aneka Roepa Kitab Batjaan nyihnayang pisan wangun sastra cerpen. Minakadi cerpen sane mamurda Pemadat sane nyatuayang indik bogolan narapidana sane katangkep mamaling sapi kesusastraan bali numbas madat opium.

Irika kaceritayang pemadat punika malaksana corah tur nista, santukan mangda ngamolihang madate punika, ipun ngadol sawah warisan, mamaling sapi tur telas sami artan nyane. Irika raris ipun masuk bui kepenjaraang. Cerpen lainnya, yaitu Djelen Anake Demen Nginem Inoem-Inoeman Ane Makada Poendjah, loeire : djenewer, berandi, teken ane len-lenan Kejelekan orang yang suka meminum minuman yang memabukkan, seperti: jenewer, beradi, dan lain-lainnya.

Ceritan nyane indik jadma sane madue wit wang Cina mapesengan Tan Sing Swie sane geginane mamunyah tur satata ngutang kapining anak tiosan. Ritatkala ipun mabuk raris ulung ke tukade tur mati. Murda sane tiosan, inggih punika Ajam Mapaloe Ayam Mapalu sane nyatuayang indik Luh Sumerasih sane ningalin laksana siape ane noltol-noltol miwah maluang dewekne ring meka cermin.

Indike punika anggena sasuluh tekening Luh Sumerasih mangda seleg malajah tusing dadi jadma belog. Memen ipune raris maosang indik kawentenan anak luh ring Bali. Yadiapin bisa memaca miwah nulis sinah nenten pacang makarya ring kantor, tur dadi pejabat.

Ring ceritane punika kasatuayang indik anak istri sane nenten kasekolahang olih rereman ipune. Tiosan Made Pasek, wenten taler Niti Mas Sastro sane ngaripta cerpen mamurda Lobha Loba sane nyatuayang indik anak ane setata melaksana corah.

Tioasan punika, ring buku nyane sane mamurda Anak Ririh Orang Cerdik. Ceritane puniki nyatuayang indik Pan Karsa taler anak alit nyane sane sedek ngaryanin proyek ngaryanin semer. Ritatkala ngaryanin semer wenten ujan bales.

Irika Pan Karsa miwah anak alit nyane nancepang udud pacul nyane taler pangangge nyane sakadi anak murug tanah. Santukan ujan tanahe ngurug udud miwah panganggo punika. Anake sane nyingakin ngicen pitulungan tur sareng makeh nyongcong semer punika. Ri sampune dados semer ane kesusastraan bali, irika raris saereng kalih matur suksma ring kramane. Karya-karya punika sampun kabaos nganggen proses cerpenisasi.

Daging-daging cerita ri sajeroning buku-buku sane kakardi olih para guru ritatkala masa kolonial punika sampun kapastikayang marupa reproduksi saking tradisi lisan nanging rariptan nyane anyar santukan ngeninin indik kahuripan jadmane sarahina-rahina, nenta ja indik mitologi sane madaging cerita dewa-dewi taler cerita para beburon sakadi satua.

Punika taler saking wangun bentuk nyane nenten ja marupa geguritan, kidung, miwah geguritan. makakalih indike punika sida nyihnayang karya-karya sastra punika prasida kawastanin cerpen sane ngaranjing kesusastraan Bali Anyar. Nganutin kawentenan karya-karya sastra sane karipta olih Mede Pasek miwah Mas Niti Sastro punika sapatut nyane sane kesusastraan bali perintis utawi pangawit Sastra Bali Modern. Karya-karya naratif punika madue tetujon anggen pelajahan para sisia ri sajeroning uning ring kawentenan karya sastra modern.

III.Sastra Bali Modern Sane Ngeranjing Kesusastraan bali ke-21 Duk tanggal 28 Oktober 1969 wenten kamargiang Pesamuhan Pengawi Bali Temu Pengarang Bali sane makilitan saking kawentenan Sumpah pemuda. Ritatkala punika I Gusti Ngurah bagus ngicenin buku alit stensilan sane mamurda Situasi Sastra Bali Modern dan Masalah Pembinaannya. Ring daging buku punika Gusti Ngurah Bagus maosang kawentenan sastra Bali Modern nyantos warsa 1960-an nenten becik.

Santukan, ngalimbak saking kewentenan roman Nemu karma miwah Melancaran ke Sasak nenten malih kekeniang karya sastra Bali Modern. Kayun nyurat malih medal ritatkala kagelarang sayembara suk warsa 1968 Direktorat Bahasa dan Kesusastraan cabang Singaraja Balai bahasa sekarang. Indike punika raris kabilgbagang olih para pangawi, raris ngamedalang sakancan utsaha, minakadi; 1 Nincapang siaran mabasa Bali ring radio miwah surat kabar, 2 Ngamedalang majalah basa Bali kasarengin olih pemilet psamuan3 Dokumentasi sastra sayembara penulisan, 4 Mangdane Listibya ngawerdiang percetakan aksara Bali.

Sane wenten ring sajeroning tim punika, mikadi I Gusti Ngurah Bagus ketuaWayan Simpen AB, I Wayan Bawa, B.A., I Made Sukada, B.A., miwah Wayan Rugeg Nataran makasami dados anggota. Badan puniki kabaosang Sabha Sastra. Kawentenan Sabha Sastra puniki raris ngawangun kerjasama sareng kakalih surat kabar, inggih punika Suluh Marhaen Bali Post miwah Angkatan Bersendjata Nusa.

Irika Sabha Sastra nagingin rubric sane mamurda Sabha Sastra Bali sane ngawit warsa 1969. Rubrik puniki kamedalang nyabran minggu taler makeh sastrawan Bali nulis irika, minakadi Made Sanggra, made taro, Ida Bagus Mayun, I Nyoman Manda, Rugeg Nataran, muah sane lianan.

Kawentenan rubric puniki sida nangiang malih kawentenan sastra Bali Modern.

Rubrik-rubrik punika raris kapupulang tur katerbitang manados antologi sane mamurda Kembang Rampe Kesusastraan Bali Anyar 1978. Salantur nyane malih kamedalang pasamuhan pangawi II 1975. Ring pasamuhan punika taler mligbagang indik utsaha ngawerdiang miwah ngalimbakang Sastra Bali Modern.

Ring tanggal 2 Mei 1975 puniki taler Sabha Sastra dados Yayasan Sabha Sastra Bali, sane kamanggalaning olih Ida Bagus Mayun, B.A, Ida Bagus Gede Agastia SekretarisI NYoman Sukada BendaharaI Gede Sura, B.A., I Made Taro, B.A., Ida Wayan Oka Granoka, Ida Bagus Udara Narayana anggota. Gagelaran sane kamargiang olih Yayasan Sabha Sastra Bali minkadi Seminar Sastra Kesusastraan bali Modern warsa 1976 miwah kesusastraan balipementasan drama Bali Modern 1977 di Aula Kanwil Depdikbud Bali, miwah siaran-siaran mabasa Bali ring RRI Denpasar.

Kawentenan Sabha Sastra puniki madue tetojon; 1 Mangda kawentenan sastra Bali Modern ngalimbak ring sajeronig media cetak miwah elektronik, 2 Nincapang pengetahuan sastrawan taler peninat sastra indik sastra Bali Modern seminar, pasamuhan3 Dokumentasi karya sastra. Buku-buku sane sampun kamedalang olih Yayasan Sabha Sastra minkadi, Pupulan Puisi Galang Kangin 1976Puyung 1981Ngayah 1982Ai 1983Gending Pangapti 1984Crakian 1996.

Kumpulan naskah drama, minakadi Suluh 1990Antologi Cerpen Bahasa Bali 1996Satua Bawak 1999. Tioasan Yayasan Kesusastraan bali Sastra Bali taler wenten yayasan tiosan sane nerbitag karya-karya sastra Bali modern, minakadi yaysan Dharma Budhaya Gianyar nerbitang cerpen Togog pakardin Nyoman Manda 1975 miwah Ketemu Ring Tampak Siring pakardin Made Sanggra.

Salantur nyane wenten Yayasan Wahana Dharma Sastra Sukawati sane nerbitang pupulan puisi Kidung Republik pakardin Made Sanggra 1997. Yayasan Kawi Sastra Mandala sane nerbitang pupulan puisi Bali Modern sane mamurda Satria Kuladewa pakardin IGP Antara 1988.

Miwah Yayasan sane tiosan. Makeh nyane kawentenan lembaga-lembaga sane madue uratian sareng kawentenan kesusastraan Bali Modern sida ngajegang basa, sastra, miwah aksara Bali sane dados urip saking kebudayaan Bali. IV.Kawentenan hadiah Sastra Rencage 1998-2010 Nyabran warsa para sastrawan bali ngamoligah anugerah Hadiah Sastra rencage. Hadiah punika kakeniang majeng ring buku sastra Bali terbaik ring awarsa punika, miwah tokoh sane madue uratian dedikasi tur ngicenin pembinaan ri sajeroning ngalimbakang kawentenan basa miwah sastra Bali.

Hadiah punika kamedalang olih Yayasasan rencage bandung sane kamanggalain olih sastrawan Ajip Rosidi. Pangawit nyane hadiah puniki katujuang majeng sastrawan Sunda. Raris ngawit warsa 1989 katujuang majeng sastrawan jawa, tur duk warsa 1998 katujuang majeng sastrawan bali. Ritatkala nyukserahang hadiah punika kalaksanayang risajeroning kota-kota di Indonesia, minkadi Bandung, Bogor, Jakarta, miwah Jogja.

Bali taler naanin dados genah penyelenggara suk warsa 1999. Nyantos warsa 2010, hadiah sastra Rencage sampun mamargi sane ke-13.

Ajip Rosidi kawantu olih jur-juri sane wenten ring daerah soang-soang. Minakadi ring Bali sane kadadosang juri, inggih punika I Nyoman Tusty Edy 1998-2000 miwah I Nyoman Dharma Putra 2001-nyantos mangkin. Para sastrawan sane ngamolihang penghargaan puniki minakadi, I Wayan Sadha kumpulan cerpen Leak Pemoroanwarsa 2010I Nyoman Manda Roman Depang Tiang Bajang Kayang-Kayangwarsa 2008, I Made Suarsa Pupulan cerpen Gede Ombak Gede Anginwarsa 2007miwah sastrwan sane lianan.

Para sastrwan puniki taler kantun produktif nyantos mankin. Nanging, penulis-penulis muda taler mangda kaaptiang tur sida ngamolihang penghargaan hadiah Sastra rencage. In Indonesian materi niki titiang ambil saking RPP manut tugas kuliah titiang, titiang ngaturuningayang taler dados klik ling-ling (tulisan mawarna) sane wenten ring tulisan niki, inggih durusang ngwace!!!! suksma 🙂 KESUSASTRAAN BALI Sane kawastanin kasusastraan Bali rauh mangkin durung wenten watesannyane sane pastika ngenenin indik wewidangannyane.

Yening selehin daging artos parinama kasusastraan wantah mawit saking kruna sastra polih pangater su- raris polih konfiks ka-an dados kruna tiron kasusastraan. Kruna sastra sane mateges ‘ajah-ajah’, kawruhan polih pangater su- sane mateges ‘luih’, ‘becik’ miwah konfiks ka-an sane nyinahang artos ‘kawentenan’.

Panadosnyane, kruna kasusastraan meteges kawentenan ajah-ajahan utawi kawruhan sane luih utawi becik tur mabuat. Kasusastraan Bali manut parinama ring ajeng dadosnyane saluir kawruhan sane becik sane metu saking budi jenyana para wagmi ring Bali sane kasurat ngangge basa Bali miwah aksara Bali lan Latin.

Wenten taler sane maosang kasusastraan Bali punika nenten ja wantah sane madasar antuk ngangge basa Bali, sakewanten taler madasar antuk aksara Bali sane kaanggen nyurat. Manut ring pakayunan puniki wewatesan sastra Bali punika dadosne makasami tetamian pangweruh sane marupa ajah-ajah, tatwa, susila miwah sane tiosan sane kasurat ngangge aksara Bali sane katami rauh mangkin. Kasusastraan Bali wiaktiannyane marupa tetamian saking para leluhur sane mabuat pisan.

Kasusastraan puniki madaging pangweruh sane luihing utama tur sida ngwetuang wirasa lengleng ulangun pinaka kamahatmian budaya Baline. Tiosan ring punika sampun ketah kauningin susastra Bali puniki kaanggen sesuluh miwah panuntun nincapang kauripan sajeroning nyanggra aab jagate sane kabaos awor tan pawates.

Yening ambilang ring masa kawentenannyane wenten kesusastraan bali Sastra Bali purwa (tradisional) inggih punika kasusastraan sane durung keni pengaruh modern miwah sastra Bali anyar (modern) inggih punika kasusastraan sane sampun keni pengaruh modern. Yening nganutin tata cara nibakang utawi nyatuayang sane kabaos kasusastraan Bali tutur/ lisan (kasusastraan sane katuturang saking pamiarsa sane asiki ka pamiarsa sane tiosan) miwah kasusastraan Bali sasuratan (tulis).

Kasusastraan Bali manut wangunnyane kapalih dados kasusastraan Bali tembang/ puisi sane kantun kaiket olih uger-uger miwah kasusastraan Bali gancaran/ prosa sane bebas utawi nenten kaiket olih uger-uger sakadi guru lagu, padalingsa miwah sane lianan.

Wenten taler kasusastraan Bali sane kakepah manut kawigunannyane inggih punika kasusastraan Bali struktural inggih punika kasusastraan sane nganggen basa Bali kemanten miwah kasusastraan fungsional inggih punika karya-karya sastra sane nganggen basa Jawa Kuna, puniki kaawinang kasusastraan Jawa Kuna punika kantun kaanggen olih masyarakat ring Bali antuk upacara agama miwah sane lianan.

Sajeroning karya sastra pastika kawangun antuk kalih unsur inggih punika unsur intrinsik sane wenten ring jeroan karya sastra miwah unsur ekstrinsik sane wenten ring jabannyane. Unsur intrinsic ketahnyane marupa insiden, alur, tokoh miwah penokohan, latar, tema, miwah amanat.

Unsur ekstrinsik marupa nilai-nilai sane wenten ring karya sastra punika sakadi nilai agama, sosial budaya, miwah nilai-nilai sane lianan. Facebook FanPage Tulisan Terakhir • Puisi Basa Bali • Puisi Basa Bali • Puisi Basa Bali • Puisi Basa Bali • Puisi Basa Bali Kategori • ARTIKEL BUDAYA BALI kesusastraan bali • cerita rakyat Bali (13) • KOSA BASA BAHASA BALI (4) • PARIBASA BALI (9) • PUISI BALI PURWA (3) • Pupulan puisi Bali (13) • teks palawakia (4) • TUGAS KULIAH (4) NGIRING MABASA BALI
SlideShare uses cookies to improve functionality and performance, and to provide you with relevant advertising.

If you continue browsing the site, you agree to the use of cookies on this website. See our User Agreement and Privacy Policy. SlideShare uses cookies to improve functionality and performance, and to provide you with relevant advertising. If you continue browsing the site, you agree to the use of cookies on this website. See our Privacy Policy and User Agreement for details. Kasusastraan bali • 1.

Kesusastraan bali MEMAHAMI KARYA SASTRA BALI GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd • 2. PEMBELAJARAN KOOPERATIF I. Situasi Belajar Terdapat tiga situasi belajar yaitu : 1. Perseorangan (individualistic) Siswa berusaha dan bekerja sendiri mencapai tujuan (mendapat nilai). Tidak mempedulikan teman-temannya. Motivasi siswa didapat dari guru. “Kesuksesan saya tidak ada hubungan dengan kesuksesanmu” 2.

Bersaing (competitive) Siswa bersaing satu sama lain kesusastraan bali mencapai tujuan (mendapat nilai). Siswa bersaing untuk menjadi terbaik dan merasa berhasil jika temannya gagal. Siswa tidak saling membantu. “Saya bisa sukses kalau kamu tidak sukses” 3. Bekerjsama (cooperative) Siswa berusaha dan bekerja keras, saling memabntu dalam kelompoknya untuk mencapai tujuan (mendapat nilai) “Saya bisa sukses kalau kita semua sukses” • 3.

Kesepakatan 3 Pakaian… Ten dados Bebas! Nganutin Aturan Sekolah… Sopan n Rapi n Sesuai Hari • 4. 4 TEN DADOS NGROKO Tidak Merokok Kesepakatan • 5. kesusastraan bali KERJASAMA Kesepakatan • 6. 6 Tidak Ngerumpi (Selama sesi) Kesepakatan • 7. GURUWILANG Adalah banyaknya suku kata dalam satu baris GURUWILANG Adalah banyaknya suku kata dalam satu baris GURU DINGDONG Adalah huruf vocal atau huruf hidup pada akhir suku kata tiap- tiap baris dalam satu bait tembang GURU DINGDONG Adalah huruf vocal atau huruf hidup pada kesusastraan bali suku kata tiap- tiap baris dalam satu kesusastraan bali tembang KASUSASTRAAN BALIKASUSASTRAAN BALI TETUJON MALAJAHIN KASUSASTRAAN TEGES KASUSASTRAAN Periodisasi Kasusastraan Jimbar Kekuub Kasusastraan Bali • 8.

TETUJON MLAJAHIN KASUSASTRAAN BALI ANGGEN GAMBARAN INDIK BUDAYA BALI. NGAJININ SAJERONNG USAHA PARA PENGAWI. ANGGEN NYALIMURANG ATI. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 9. A.Teges Kasusastraan Kasusastraan makawit saking basa sansekerta inggih punika sastra.

Kesusastraan bali penganter “ka” miwah pengiring “an” dados kasusastraan. Sastra mateges Sas sane mearti kesusastraan bali nyikut wiadin ngukur (mengukur), tra artinne piranti (serana/alat). Sastra inggih punika aksara piranti ngajahin tatwa utawi kaweruhan (ilmu).

Susastra teges-ipun daging sesuratan sane becik /utama. Kasusastran dados artin ipun palaning reriptayan Sang Kawiswara malarapan antuk pawisik (ilham/wahyu) sane kaiket (dikarang) basa utawi aksara sane lengut. Kesusastraan Bali inggih punika saluiring karya sastra sane nyaritayang paindikan pasimakrama (masyarakat) ring Bali sane katuturang nganggen srana basa. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 10. B. Periodisasi Kasusastraan Ring sajeroning panglimbak seni sastra tradisional, sawus runtuhnyane Kerajaan Majapahit (abad 15 M) Bali pinaka genah sane nyegjegang tradisi jawa Kuno.

Puniki ketegepin antuk makudang-kudang karya sastra duk Kerajaan Gegel ring Klungkung,minekadi marupa kekawin,kidung,geguritan,tutur miwah sanetiosan sane wenten ngantos mangkin sane mabasa jawi Kuna. Basa Jawi Kuna inggih punika basa sané manggé sujeroring karya-karya sastra sakadi kakawin Adiparwa, Ramayana, Arjuna wiwaha, Bharatayuddha, miwah sané tiosan. Basa punika taler wénten manggé sajeroning prasasti –prasasti (piagam). Prasasti sané pinih riin nganggén basa Jawi Kuna kakeniang ring desa Sukabumi (Kediri, Jawi Wétan), madaging angka tahun 726 Saka, utawi 804 Masehi.

Karya sastra sané mawasta Candakarana rauh mangkin kabaos karya sastra Jawi Kuna sané pinih kuna. Karya sastra punika kasurat sajeroning panyenengan katurunan wangsa Sailendra sané ngwangun candi Kalasan, jumeneng ratu duk warsa 700 Saka utawi 778 Masehi.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 11. • Sadaweg wangsa Dharmawangsa Teguh nyeneng ring Jawi Wétan (warsa 991 Masehi) basa miwah sastra Jawi Kuna kadabdabin pisan. Duk punika wénten utsaha sané kawastanin Mangjawakén Byásamata sane tegesipun nyalin pitutur-pitutur miwah pakaryan bhagawan Byasa nganggén basa Jawi.

Sakadi sampun kauningin, bhagawan Byasa inggih punika mahakawi sané nyurat buku-buku suci Weda miwah Astadasaparwa miwah Mahabharata. Pakaryan bhagawan Byasa sané kasalin nganggé basa Jawi duk punika makadi Adiparwa, Wirataparwa, Udyogaparwa, Bhismaparwa, Praslhanikaparwa, Swargarohana-parwa, miwah wénten malih sané siosan. Sios ring pakaryan bagawan Byasa, pakaryan hagawan Walmiki sané mawasta Uttarakanda taler kabasajawiang.

Sasuratan-sasuratan punika rauh mangkin kantun katami. • Pungkuran akéh kakeniang karya-karya kasusastran Jawi sané kasurat olih para kesusastraan bali, makadi olih Mpu Sedali, Mpu Panuluh, Mpu Dharmaja, Mpu Tantular, Mpu Tanakung, Mpu Dusun, Mpu Prapanca, Mpu Nirartha, miwah sané tiosan. Para kawi punika nyeneng duk masa kaprabon Majapahit. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 12.

Duk pamadegan wangsa Dharmawangsa Teguh miwah utamanipun duk pamadegan para ratu ring Majapahit, akéh parajana Jawiné sané rauh ka Bali. Sang sané rauh ka Bali punika akéhan sang sané oneng lan kesusastraan bali makakawian. Kakawian-kakawian sané kasurat ring Jawi raris kabakta ka Bali. Ring Bali taler kasurat kakawian sané tiosan.

Utsaha punika nglimbak tur wredi pisan duk pamadegan prabu Waturenggong ring Gelgel. Punika mawinan dados kabaos kakawian Kesusastraan bali Kunané risaksat polih genah tumbuh kesusastraan bali urip wredi ring Bali. Napi malih basa miwah sastra Jawi Kunané, wénten pakilitanipun ring pamargin adat miwah agamané ring Bali. Rauh makin akéh parajana Baliné sané seneng ngwacén, nembangang, nelebin daging karya-karya sastra Jawi Kuna punika, sané ring Bali sering kabaos kasusastran Kawi.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 13. C. Jimbar Kekuub Kasusastraan Bali “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 14. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 15.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 16. Kasusastran Bali Purwa Kasusastran Bali Purwa piinika prasida kepah dados kalih paos manut panglimbakanyane, inggih punika kasusastran Tutur miwah kasusastran Sasuratan.

Kasusastran Tutur inggih punika kasusastran sané kabaosang saha nénten kauningin kawitipun, menawi sampun wénten sadurung aksarané kauningin. Pinaka conto: wenten saa, mantra, gegendingan, wewangsalan. cecimpedan miwah satua-satua. Satua puniki ngranjing paos kasusastran sané mawangun gancaran minakadi satua Siap Selem, Satua Pan Angklung Gadang. Satua I Tuung Kuning, miwah sane lianan. Kasusastran Sesuratan inggih punika kasusastran sané kawentenan-ipun minab sampun wénten duk aab Bali kunané, duk pamadegan Ida Dalem kesusastraan bali Warmadewa ring abad IX.

Ring prasasti-prasasti Baliné wénten kaunggahang indik wayang, bebanyolan, miwah reruntutanipun. Lelampahanipun janten kanggit saking satua-satua sané sampun wénten ring kasusastran Bali.

Selanturipun Kasusastran Baliné makuéh keni pengaruh kasusatran Kawi. Punika mawinan basa Kawiné makuéh ngranjing ring basa Bali, ngranjing ring kasusastran Bali. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 17.

Kasusastran Bali Purwa Manut wangunnyane kasusastraan Bali purwa kapah kesusastraan bali kalih : Kasusastraan gancaran (bebas)  satua, cacimpedan, msl. Kasusastraan tembang (terikat)  kidung, kakawin, msl. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 18.

1. GANCARAN Wenten makeh soroh gancaran ring kasusastraan Bali purwa sakadi ring sor puniki : a. Satua, conto : satua Pan Belog, Pan Balang Tamak, I Siap Selem.

b. Babad, conto : babad Dalem, Blahbatuh, msl. c. Mitos, conto : Dewi Sri, Dalem Belingkah, msl. d. Legenda, conto : Pura Pulaki, Tirta Empul, msl. e. Prasasti, conto : prasasti Bebetin, Belanjong, msl. f. Epos, conto : Mahabharata, msl. g. Tantri, conto : Ni Diah Tantri, msl. h. Pralambang (Basita Paribasa), kapalih dados 16. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 19. PARIBASA BALI (1) sesonggan, (2) sesenggakan, (3) sesawangan, (4) papindan, (5) sesemon, (6) sloka, (7) sesimbing, (8) wewangsalan, (9) peparikan, (10) cecangkitan, (11) raos ngémpélin, (12) cecimpedan, (13) cecangkriman, (14) bebladbadan, kesusastraan bali sesapan, lan (16) kesusastraan bali.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 20. SESONGGAN • Sesonggan, kesusastraan bali punika sering kanggén nyindir, sakéwanten wangun sesonggan wénten sané kamedalang jangkep, madaging katerangannyané.

Kesusastraan bali, wénten sané nénten jangkep, santukan katerangannyané sampun kauningin. Conto: • kudiang nekepin andus • abias pasih “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 21.

Sesenggakan,  Wangun lengkara sesenggakan setata kariinin antuk kruna buka, taler nganggén wangun sampiran tur kalanturang antuk wangun katerangannyané sané kaanggén paimbangan, ping untat wau suksmannyané. Ring asapunapiné, yéning gumanti suksmannyané sampun sinah pisan, nénten malih madaging suksmannyané.  conto : buka batun buluane nglintik tuah abesik, suksmanipun kaucapang sakadi anake sane nenten madue nyama wiadin timpal, wantah ipun padidiana.

21 “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 22. SESAWANGAN • Sesawangan, dagingnyané indik pangrumrum, mawinan wangunnyané masaih pisan ring papindan, taler akidiké mirip sakadi sesemon, sakéwanten yéning wangun sesawangan nganggén cihna buka, luir, kadi, alah, péndah kadi, waluya kadi. • Conto: • muané buka bulan nadarin • susuné luir nyuh gadingé kembar “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 23.

PAPINDAN• Wangun papindan masaih ring sesawangan, miwah sesemon, sakéwanten papindan nganggén anusuara. Papindan, tegesipun: gegambaran buka, yéning imbangang pateh sakadi: mirib tekén., upami: papindan kedis, tegesnyané: wangun gambaré mirib kedis. Mapinda sedih, tegesnyané mirip buka anaké sedih. Sané dados papindan kruna aran sané polih anusuara. • Conto: • lambéné barak ngatirah • gegaéné mamukal “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 24.

SESEMON • Sesemon pateh sakadi sesimbing, sakéwanten basa pangwedarnyané alus nudut kayun. Makéh kaanggén malelemesan utawi pangrumrum anak istri, tur sering kasurat nganggé pupuh. Conto: • Sané Lanang: “Béh, napi kadén melah pisan sekar cempakané punika, yéning titiang polih ngalap tur nyumpangang ambat ya legan manah titiangé.” • Sané Istri: “Napi gunané ngalap sekar kadi puniki, sané tan paguna, napi malih kasuén-suén pastika pacang layu.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 25. SLOKA • Wangun sloka, kesusastraan bali nganggén kruna frasa buka slokané utawi kadi kesusastraan bali. • Conto: • buka slokané ajum-ajum puuh, pamuput ipun pacang pocol • buka slokané genité bakat gasgas “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 26.

Wewangsalan •Wewangsalan kawangun antuk lengkara kalih kesusastraan bali, lengkara sané riinan dados bantang/sampiran, lengkara kesusastraan bali pungkuran teges sujatinnyané, miwah nganggén purwakanti. • conto : asep menyan majegau, nakep lengar aji kau. • bedég majemuh bangsing di banjar, jegég buin lemuh langsing lanjar 26 “KASUSASTRAAN BALI kesusastraan bali BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 27.

Peparikan •Peparikan masaih ring wewangsalan, sakéwanten kawangun antuk petang baris, • conto : be curik mabasa manis, bungkung pendok sedeng di tujuh, bajang cerik kenyungne manis, selat tembok makita nyujuh. 27 “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 28. SESIMBING • Sesimbing pinaka ucapan pralambang sané banget pedes ngawinang sang kasesimbingin jengah miwah sebet, santukan kesusastraan bali ring kasesimbingin.

• Conto: • Kadang tan tinolihan, tegesnyané anak sané ngutamayang padéwékan kémanten, nénten ngrunguang nyama utawi anak tiosan. • Bé di pangoréngané baang ngeléb, tegesnyané, sakadi anak ngambil anak istri bajang, sampun kakeniang sakéwanten ipun lénga, kantos anak bajang punika malaib. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 29. CECANGKITAN • Cecangkitan kanggén ri kala magegonjakan, ring asapunapiné taler wénten kanggén nguluk-uluk timpal. Mungguing wangun cecangkitan nganggén lengkara sané ngintar.

• Conto: • Tain cicing déngdéng goréng jaen pisan. • Tegesnyané: yéning déngdéngé goréng janten jaen, sakéwanten yéning tain cicingé goréng nénten dados. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 30. RAOS NGEMPELIN • Raos ngémpélin wangun krunannyané démpét, tegesnyané wénten krunannyané sané mateges kakalih utawi démpét.

• Conto: • Yan makohkohan apané sakit?; makohkohan, tegesnyané cekéhan, miwah taler mateges ngohkoh tanah. • Yan ngaé sekaa arja, tiang nyak ngaluhin; ngaluhin, tegesnya dadi galuh, taler mateges tusing nyak dadi apa-apa (ngoyong) utawi aluh. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI Kesusastraan bali • 31. CECIMPEDAN • Cecimpedan wangunnyané kacihnayang antuk nganggén kruna pitakén apa ké? • Conto: • apa ké anak cerik matapel?

• apa ké anak ulung masuryak? • apa ké cekuk kajengitin? “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 32. CECANGKRIMAN • Cecangkriman maka sujatinnyané pateh ring cecimpedan, sakéwanten mawangun pupuh, ketahnyané pupuh pucung.

Conto: • Berag landung, ngelah panak cerik liu, méméné slélégan, panakné jekjek enjekin, menék tuun, méméné gelut gisiang. • Dratdat drutdut, bingah-binguh liwat inguh, nyumbil sisin pagehan, kesusastraan bali sing dadi ngranjing, néné catur, nyamané suba di tengah.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 33. BLABADAN • Bebladbadan kesusastraan bali antuk lengkara tigang palet, inggih punika lengkara sané kapertama pinaka giing (bantang lengkara salanturnyané); lengkara sané kaping kalih pinaka teges sujatinnyané; miwah lengkara sané kaping tiga teges paribasannyané. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 34.

CONTO BLABADAN Sampun ko matali benang, gun-gun titiang sai-sai, kulkul sampi ko i déwa, nguda manéncong ngulining, guungan uyahé gusti, tulus nyopak titiang ratu, masih matukad anas, suluk pisan ring i gusti, telu pindo, masih titiang tong kesusastraan bali. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 35. SESAPAN • Sesapan, tegesnyané nyapatin, sané matetujon nglungsur karahajengan mangda nénten keni bencana.

Kawéntenan sesapan manut tetujonnyané, minakadi: • Sesapan ngebah taru – “Ratu Betara Sangkara, titiang nglungsur taru duéné, mangda titiang nénten tulah.” • Sesapan ngentasin genah tenget – “Jero sané nuénang kesusastraan bali, tiang nyelang genahé, icén tiang karahajengan!” “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 36.

TETIKESAN kesusastraan bali Tetingkesan punika kruna basa ngandap kasor, tegesnyané bebaos sané kanggén ri kala ngandapang raga. • Conto: • “Durusang malinggih Pak, kanggéang nénten wénten genah malinggih!” Kawéntenannyané, genah sané wénten becik, kursi empuk saha resik. • “Sameton sami, duaning sampun galah, ngiring ka perantenan, kanggéang ulamnyané tasik-tasik manten!” “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 37.

2. Tembang 1. SEKAR RARE 2. SEKAR ALIT 3. SEKAR MADIA 4. SEKAR AGUNG “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 38. A. Sekar Rare (Gegendingan) Gending Rare upami : juru pencar, jenggot uban, made cenik, mati delod pasih, miwah sane lianan.

Gending Jejangeran upami : putri ayu, siap sangkur, majejangeran, miwah sane lianan. Gending Sangiang upami : puspa panganjali, kukus arum, suaran kembang, miwah sane lianan. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 39. Video gending juruVideo gending juru penjarpenjar • 40. Sekar Alit (Tembang Macapat) Sekar Alit kawangun tur kaiket antuk uger – uger pada lingsa. Padalingsa inggih punika kecap wanda miwah wangun suara ring panguntat sajeroning acarik lan akeh carik sajeroning apada.

uger – uger punika minakadi – Guru Wilangan : uger – uger wanda sajeroning acarik – Guru Dingdong : Uger – uger wangun suara ring panguntat sajeroning acarik – Guru Gatra : Uger – Uger katah carik sajeroning apada “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 41.

Tembang macapat akehnyane wenten roras (12) soroh makadi kesusastraan bali “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 42. PADALINGSA No Tembang Guruwilang Lan Guru Dingdong 1 2 3 kesusastraan bali 5 6 7 8 9 10 1 Maskumambang 12i 6a 8i 8a 2 Mijil 10i 6a 10e 10i 6i 8u 3 Pucung 12u 6a 8i 12a 4 Ginanti 8u 8i 8a 8i 8a 8i 5 Ginada 8a 8i 8a 8u 8a 4i 8a 6 Sinom 8a 8i 8a 8i 8i 8u 8a 8i 4u 8a 7 Semara dana 8i 8a 8e 8a 7a 8u 8a 8 Durma 12a 7i 6a 8a 8i 6a 7i 9 Pangkur 8a 11i 8u 7a 12u 8a 8i 10 Dangdang 10i 10a 8e 8u 8i 8a 8u 8a 12i 8a “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI Kesusastraan bali MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 43.

JENIS – JENIS SEKAR RAREVideo pupuh ginantiVideo pupuh ginanti • 44. Tembang macapat • Tembang macapat punika sajeroning kasusastran prasida kaanggen ngwangun Geguritan inggih punika kakawian utawi karangan sane kawangun antuk tembang macapat. Upami : – Geguritan Sampik Ingtai, ngangen tembang macapat campuran, olih Ida Ketut Sari. – Geguritan Jaya Prana, ngangen tembang macapat ginada kewanten, olih I Ketut Putra. – Geguritan Basur, ngangen tembang ginada kemanten, olih Ki Dalang Tangsub.

– Geguritan Sucita miwah Subudi, ngangen tembang macapat campuran, olih Ida Bagus Ketut Jelantik. – Geguritan Tamtam, ngangen tembang macapat campuran, olih I Ketut Sangging.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 45. MAKUDANG-KUDANG TEMBANG MACAPAT GINANTI PUCUNG MASKUMAMBANGSEMARANDANA MIJIL Pangkur DANGDANG SINOM GINADA DURMA “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 46. Sekar Madya (Kidung utawi Tembang Tengahan) • Inggih punika marupa kakawian utawi karangan sane kwangun antuk sekar madia makadi kidung Tantri, kidung Sri Tanjung, miwah sane lianan. Kidung punika wenten sane marupa :  Kidung sane ngangge tembang macapat.

Basa sane kaanggen marupa basa tengahan sakewanten kawangun antuk tembang macapat makadi : • Kidung Ranggalawe. • Kesusastraan bali Sri Tanjung. • Kidung Pamancangah Dalem. • Kidung Amad Muhamad. • Kidung Kaki Tua, miwah sane lianan.  Kidung sane nganggen kidung sujati makadi : • Malat.

• Wargasari. • Alis-alis Ijo. • Kesusastraan bali, miwah sane lianan. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 47. Sekar Agung (Kekawin, Tembang Gede utawi Wirama) inggih punika kakawian utawi karangan sane kawangun antuk wirama makadi: – Kekawin Ramayana olih Empu Yogi Swara.

– Kekawin Bharata Yudha olih Empu Sedah miwah Empu Panuluh. – Kekawin Arjuna Wiwaha olih Empu Kanwa. – Kekawin Sutasoma olih Empu Tantular.

– Kekawin Siwaratri Kalpa olih Empu Tanakung. – Kekawin Semarandhana olih Empu Darmaja. – Kekawin Gatotkaca Sraya olih Empu Panuluh.

– Kekawin Writtasancaya olih Empu Tanakung. – Kekawin Negarakethagama olih Empu Prapanca. – Kekawin Kresnayana olih Empu Triguna, miwah sane lianan. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 48.

Sekar Agung kabanda antuk uger – uger 1. Guru mateges suara abot ,suara panjang ,ngilet utawi kecap wanda ane katembangang panjang wilet. – Guru Haswa ( G. Bawak) – Guru Dirgha ( G. Panjang ) – Guru Pluta ( G. Panjang tur ngileg ) 2. Laghu inggih punika suara ingansuara bawak utawi kecap wanda sane katembangang bawak 3.

Wretta inggih punika kecap wanda / gabogan wanda sajeroning acarik 4. Matra inggih punika kawangun guru lagu sajeroning acarik 5.

Gaoa inggih punika pasang jajar guru lagu sane kapasangang tiga – tiga “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 49. Kasusatran Bali Anyar • Kasusatran Bali Anyar kakawitin antuk novel "Nemoe Karma". Sane kasurat antuk I Wayan Gobiah, kamedalang antuk Kesusastraan bali Pustaka, warsa 1931. Pepalihan kasusastran Bali Anyar makadi pateh ring pepalihan Kasusastran Indonesiané, inggih punika marupa: • (1) Gancaran (Prosa), • (2) Puisi (Puisi), • (3) Lelampahan (Drama).

Salanturipun kakawian puniki makasami nganutin panglimbakan kasusastran Indonesia. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 50. Prosa Bali Anyar • Prosa Bali, wangunipun marupa novel: Nemoe Karma antuk I Wayan Gobiah. Mlancaran Ka Sasak antuk Gede Srawana. Tresnane Lebur Ajur Satonden Kcmbang antuk Jelantik Santa. • Sane marupa cerpen: Katemu ring Tampaksiring antuk Made Sangra, Iwang Tiang Newek olih A.A. Gede Jelantik, Tambeté Ngawinang Lacur antuk Raka Sukmadi, Mangun Karsa Mangun Karya Saluiring Urip olih Gusti Putu Antara, Pupulan cerpen Gede Ombak Gede Angin antuk Made Suarsa, miwah sane lianan.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 51. Puisi Bali Puisi Bali, sampun medal makudang-kudang kumpulan puisi: •Galang Kangin, Kidung I Lontar Rograg, kamedalang antuk Yayasan Saba Sastra Bali, • Majugjag antuk Ki Dusun, •Ang kesusastraan bali Ah Ang miwah Gunung Menyan Segara Madu antuk Made Suarsa.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 52. DRAMA BALI KAPUPULANG OLIH; I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd • 53. TEGES DRAMA • Drama inggih punika kasusastraan sane marupa sasolahan ngundukang pratingkah manusa saha nganggen srana basa. • Drama Bali inggih punika kasusastraan sane marupa sasolahan ngundukang pratingkah manusa saha nganggen srana basa Basa Bali.

• Drama taler mateges lelampahan,paigelan miwah sandiwara. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 54.

SOROH DRAMA 1. DRAMA BALI TRADISIONAL 2. DRAMA BALI MODERN. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd”“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 55. DRAMA BALI TRADISIONAL Drama puniki kaparinama Drama Bali Klasik marupa soroh drama sané nyatuayang indik satua puri (istana), aab guminé sané ilu, tur nganggen gonk,gegendingan, miwah busana Bali.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 56. CIHNA DRAMA BALI TRADISIONAL • Lelitihan satuané nénten nganggén sasuratan. • Nenten wénten sutradara. kesusastraan bali Nganggén gamelan. • Madasar antuk tanjek gong, • Madaging gegendingan (tembang), • Unteng satuanényatuang soroh puri, wayang,babad,parwa msl, • Nganggen srana topeng miwah busana Bali, • Sang pragina dados mareraosan majeng para pamiarsa (sang ngaksi).

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 57. Imba Drama Bali Tradisional 1. Arja; Arja Pakangraras,Cupak grantang,pajang Mataram,msl 2. Gambuh;Gambuh raja lasem, Gambuh dalem Bungkut,Gambuh Dalem Dimadé,msl. 3. Wayang Wong; Ghatot Kaca Sraya, Prabhu Salya, Sang Prabhu parikesit,msl. 4. Prémbon; Prembon Maya denawa, Utusan Patih Ularan,Puputan Badung,msl.

5. Sendratari; Ramayana,Kresna Dutha, Wiratha Parwa,msl. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 58. Ring Bali soroh arja,gambuh miwah prémbon akéhan masesolahan nganggén topéng,Soroh topeng ring Bali wénten 3 soroh, sakadi: I.Topeng Panca*Seka topéng sané madué pragina wantah lelima.

II.Topéng Pajegan*Topéng sané nyaritayang indik sejarah topéng ring Bali miwah indik Agama. Umpami:Topéng Sidhakarya miwah Topéng Wali. III.Topéng Prémbon (Arja)* Marupa Drama tari topéng. Arja embas warsa 1940 ring Badung karintis olih Wayan Gria sareng I Madé Kredek.

Praginané: Dalem,Galuh,Mantri,Desak,Penasar (Punta Kertala,msl. • 59. Drama Bali Modérn Drama bali modérn marupa soroh drama sané nyatuang indik idep sané mangkin. Idepé sakadi mangkin wénten sané masolahan indik sakancan ring jeroan kesusastraan bali banjar, masyarakat, mademenan,msl. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 60.

Cihna drama Bali Modérn • Lelintihan satuané nganggén naskah, • Nganggén sutradara, • Nenten nganggen gamelan, • Tetindakané madasar sakadi polahé sujati (kenyataan), • Nganggen tutur/dialog, • Nganggén dekor (realistis) utawi cacirén (absurd). • Nganggén lampu warna-warni, • Unteng satuané nyatuang soroh idepé sakadi mangkin (suka,duka miwah kapitresnan).

• Nganggén busana sakadi sekala, • Sang pragina kaparinama:peran tokoh, tur tan dados mangraos ring panonton. “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 61. •Ring Bali seka drama Bali modérn kaparnama teater/sanggar.

Soroh teater sané wénten, inggih ipun: Magenah ring Singaraja*Sanggar Bahtéra,Bukit Manis,Citra msl; Magenah ring Badung*Sanggar Putih, Kukuruyuk, Teater Mini Badung, msl; Magenah ring Gianyar*Sanggar Malini; Kesusastraan bali “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 62. Imba Drama Bali Modérn • Gedé darna: Kobaran Apiné;Aduh déwa Ratu lan Ki bayan Suling.

• Ketut Aryana: Nang Kepod. • Putu Arya Samadi: Phala Karma. Wénten malih soroh drama sané marupa drama bali Trdisional nanging pidaging miwah sranané modérn. Drama Gong punika kasub pesan ring Bali duk warsa 1960, awanan sering masolahan ring balé Banjaré, alun-alun, TVRI ,mgl. Minekadi:Drama Gong Sanga Langit; Banyuning (Buléléng), Bhara Kartika Budaya (Badung); Drama Gong Abianbasé;msl.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 63. SRANA NGWANGUN DRAMA • SUTRADARA, • PRAGINA • NASKAH/SATUA, • GENAH “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 64. Kesusastraan bali SAJERONING DRAMA • Nrawang (imajinasi), • Mandingang (asosiasi) • Masolah(ekting). • Magenah (bloking/penempatan ruangan), • Matindak (merespon). “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 65. TEHNIK LATIHAN DRAMA 1.

Ngwacén satua (naskah), 2. Kesusastraan bali nganutin watak solah sang masolah, 3. Ngraos lancar,becik miwah anut sahananing drama, 4. Ngraos sinambi mapratingkah nganutin solah wacénan, 5. Ngraos nénten nganggé naskah, nganggén gerak-gerik miwah ngatur genah kalangan, 6. Nganggén busana raris masolah ring tengah panggung.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 66. IMBA NASKAH DRAMA “AIB” • Kacritayang wenten anak bajang mayusa 21 tiban, pangawakanne landung, bokne dawa, selem tur samah, kulitne putih, rupane jegeg tur ring pipine misi sujenan.

Yadiastun mapanganggo sederane, kajegegan ipune tusing ada ane nandingin ring desan ipune, Desa Taman Anyar.

Wastan ipune Luh Sandat, sedek malali ka sisin pasihe ajak tunanganipune sane mawasta Gede Sura. • Gede Sura : Luh dong tolih ombake magulung-gulung! Kadirasa ia milu ngrasayang rasa liang sane rasayang beli jani.(Gede Sura ngisi liman Luh Sandate).Makelo iraga suba matunangan, nanging mara jani Luh nyak ajakin beli malali • Luh Sandat : Tusing ja keto Beli.

Elek atin tiange tepukina teken pisagane, rerad-rerod di margane paduanan. (Luh Sandat menahin bokipune ane kaampehang angin).

kesusastraan bali Gede Sura : Beh…nguda misi elek-elek keto, suba liu anak nawang iraga matunangan. Ngoyong malu dini nah Luh, beli kal meli jagung malu! Ditu asane ada dagang jagung. (majalan ngalahin ngojog dagang jagung).

• Luh Sandat : (Negak padidian diduur biase sambilanga bengong ngenehang daya lakar ngorahang unduk dewekne suba beling ). • Gede Sura : (Teka ngaba jagung,tur ngetagin Kesusastraan bali Sandat ane sedek bengong ) • Luh Sandat : peh beli ne….tengkejut tiang beli.

kaden tiang nak nyen! • Gede Sura : Dadi luh bengong? Ada ane sedeng pikir Luh ne? • Luh Sandat : Sing Beli….“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 67. • Gede Sura : Ne Luh.Daar malu jagunge, pang sing enggal dingin. • Ajak dadua :(Ngedaar jagung, tur saling macanda). • Luh Sandat :Beli jalan ja mulih, rasane gumine suba ngansan sanja!

• Gede Sura :Ngoyong ja biin kejep luh.!!! Tumben malali da nak e nagih mulih dogen! (Gede Sura ngalemesin luh Sandat). • Luh Sandat :Mai anake mulih Beli.padalem meme padidiana ngae canang, Tiang masi tonden meli bunga anggon nanding canang!

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 68. • Gede Sura : Nah…lamun keto jalan jani mulih.(ajak dadua madandan majalan mulih, di jalane Luh Sandat lantas meli bunga). • Luh Sandat :(Macelap mulihan tusing atehina baan Gede Sura, latas kacapatin baan memene). • Meme :Mara teka luh, Gede dija ya? • Luh Sandat :Beli Gede langsung mulih, Mara atehina neked diwangan dogen. • Meme :Me…dadi tusing orahin singgah?

Buin mani orahin nae ya singgah! Bin jep barengin meme nyait canang nah! • Luh Sandat :Nah me! antiang malu, tiang ngejang bunga malu me (Luh Sandat ngejang bunga, lantas maekin memene). “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 69. • Meme : Dini negak luh, disamping meme! Ada ane lakar takonan meme abedik. • Luh Kesusastraan bali : Ape me? (luh sandat negak disamping memene laut nyemak tatuesan canang.

Sakewala ipun bengong, tusing ada canang sane pragat kajait olih kesusastraan bali sandat, manah ipune nrawang) • Meme :Luh, kenken adi bengong buka keto? • Luh Sandat :Sing me, sing kenken. • Meme :Luh, meme suba nawang paundukan iluhe.

ne mara meme suba nigehan ortan iluhe ajak I Gede Sura… • Luh Sandat :(nengil, nguntul tur yeh panyingakanne ngembeng) • Kesusastraan bali :Orahin meme luh, Nyen anak muani totonan? Tusing, I Gede, Luh? Orahang dogen ajak meme Luh, jele melah iluh e meme mase ngelahang. Orahang luh… “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 70. • Luh Sandat : Sing me, tiang sing nyidang ngorahang. Sampunang tiang paksane me!

• Meme : Men, kenkenan yan suba liu anake nawang? tusing ngidang lakar ngengkeban basang iluhe sane ngancan ngedenan ento. Yen tawange ken Bapan iluhe, bisa cacak,e luh,luh! • Luh Sandat : Me, diolas (ngeling sigsigan, madiolas) sampunang paksane tiang me.

Tiang tusing nyak ada anak lenan nawang, nyen ja tur da paksaa tiang ngorahang ne melaksane kene ken tiang. • Meme : Ne penting luh! Nyen ane lakar ngakuin panak luhe? Nyen ane lakar bertangung jawab tur ngelindungin iluh lan panak iluh,e? • Luh Sandat : Pelindung? pelindung orang meme? Ane bertangung jawab teken kulawarga? meme engsap teken kesusastraan bali meme. Tingalin bapa me. Apa sane gaenange iraga teken bapa me?

metajen dogen teken ngusapin-ngusapin siap dogen geginane sebilang wai. Tiang tusing nyak cara meme, sewai-wai ngadep canang apang paon iragane tetep makudus, sing me, tiang sing nyak. Tiang ane lakar nyalanin niki padidian. • Meme : Kesusastraan bali, dewa ratu, iluh pianak meme.

Tawang luh ane orang luh to? • Luh Sandat : Me, ampurayang tiang me, da ja paksane tiang, diolas me, da paksane tiang buin!Tiang tusing ngidang ngorahang jani, elek tiang me. • Meme : Nah.yening Iluh Tusing nyak ngorahang jani, barengan meme malu nanding canang, bendan ja Iluh siap Meme nyen orin si malu.! • Buin manine I Gede Sura ka umah Luh Sandate lakar mastiang undukne Luh Sandat.

“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI Kesusastraan bali • 71. • Luh Sandat : ye…Beli Gede…suba antosange teken meme ajak bapa di bale daja. • Gede Sura : (Tusing mesaut langsung ka bale daja) • Bapa : Negak malu de, kenken ne De…Luh Sandat suba beling ne, sawireh cai tunangan ne.

Pasti suba cai ane ngelah belingane. • Gede Sura : Sepatutne tiang sane matakon pa. (mamunyi nengkik). Nyen jelema sane sujatine suba melingan luh sandat?

Tiang merasa lek, sebilang tiang mentas dirurunge kadirasa onyangan kramane masasimbing tur ngomongan tiang.Sakewala sujatine tiang sing nawang apa. • Bapa : Eda ja munafik keto de, akuin gen. Bapa sing kenken (Mataeg, cara anak suud matuakan, muane barak) Bapa lakar setuju gen, cai nganten ngajak luh sandat.

• Gede Sura : Suba orang tiang pa, anak tusing tiang, tusing pa. Sampunang bapa ngawag ngeraos ane tidong-tidong, ngraosang tiang ane boya-boya. Anak tusing tiang ane melingan luh kesusastraan bali. Cutetne tiang tusing nyak ngakuin beling ne luh sandat. Bapa kengken ne, punyah? “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 72.

• Bapa :(Mataeg) Bapa sing punyah, naar tuak gen busan abedik, suud matajen suud matajen busan (mataeg) kene de, kaden cai ajak dadua suba makelo matunangan? Nyen men buin ne melingin luh sandat, yen sing cai?

Jeg antenan ya de! cai sing tresna ajak pianak bapane? • Gede Sura :Tusing keto pa. Niki maosang prinsip miwah kapatutan. Salingke melingan, kadirasa niman gen tiang tusing taen. Jani Bapa ngorahin tiang ngakuin panak ane tusing gelah tiange. Tusing sangup tiang pa. Luh (nolih luh sandat) Dadi ati luh nyakitin atin Beline. Tusing sajan luh inget teken semayane ipidan?

Semayan iluhe ane ngorang lakar satia ajak beli, sujatine tuah dimunyi, tusing lakar taen mabukti. • Luh Sandat : (Sebet lan sakit) Beli sampunang ngraos buka keto! raos beline to nyakitin keneh tiange. tiang. • Gede Sura : Men. kaden iluh, luh tusing nyakitin Beli? luh suba nyakitin Beli. parilaksanan luh,e kadirasa nguwek tangkah beline!

luh sandat, luh sandat (makenyem sinis) luh, kaden beli iluh anak luh kalem lan polos, nanging ne jani iluh tan bina sakadi baluan, tusing ngidang buin beli percaya ngajak iluh.

jani orahang ken beli luh. Nyen muani ento? (luh sandat nengil sambilanga ngeling sigsigan) orahang luh, eda nengil dogen! (Gede sura bangras) • Meme : Eda ketyange panak Memene De…iya mula pelih, nanging cai tusing patut ngetiang panak Memene. Luh orahang luh, eda menep keto. Yen Iluh nengil gen. Kal sing mragatang apa! “KASUSASTRAAN BALI kesusastraan bali BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 73.

• Luh Sandat : Tiang tusing ngidang, Beli.tusing ngidang Me. • Gede Sura : Kenken sejatine keneh iluhe? ngudiang iluh ngengkeban anak muani totonan? apa iluh mula saja tresna ajak ia? • Meme : Da ketiange ya De…!

• Luh Sandat : Beli, boya ja tiang tresna nanging tiang durung sanggup nyritayang unduke puniki. diolas sampunang paksane tiang, Beli. Tiang tusing sangup ngorahang! • Gede Sura : Luh!

(nengkik) da matiange beli baan parilaksanan iluhe ane buka kene. Orahang luh. Orahang! • Luh Sandat : Sing beli, sampun orahang tiang.

Sing sangup tiang ngorahang beli. • Gede Sura : Cingak pa. Cingak me. Ia tusing nyak ngorahang nyen anak muani totonan! Bapa ajak meme suba nakonan? • Meme : Meme nak suba man matakon De, sakewala iya mendep dogen.

sangkale jani Gede sekenan Meme nakonan. • Gede Sura : Nah. Yen luh nu masi mendep Beli tusing ngidang ngorahang apa- apa buin. Ne jani suud ba raga matunangan. Beli boya ja wadah lulu, disubane anak len man nyicipin manis tebune, jani beli bang luh ampasne. Beli tusing nyak Luh.Me, pa alih suba anak muani ane enyak ngakuin beling luh sandate! utawi alih anak ane melingan luh sandat. Nanging eda tiang pa.

Tiang tusing sadia nganggon luh sandat kurenan. Beli mapamit luh, engsapan suba tresnan iragane ipidan (nolih luh sandat negak sambilange ngeling, lantas magedi kairing baan rasa pedih,sebet miwah gedeg).

• Luh Sandat : Beli… • Gede Sura : (Sing masaut tur nampokang liman Luh Sandate laut magedi) “KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 74. • Bapa : Aaah Pengeng!! Busan matajen kalah. Haaahh. Ngadenan pules gen ba. Ba, eda ngeling gen terus luh, ba peteng. Ngadenang nyai ngae canang gen ngajak memen nyaine. (sambilanga menehang sarungne, uab-uab lan srandang-sradeng macelep ka kamar sambilanga magending- gending) • Meme : (Maekin luh sandat tur ngelut pianak ipune, sane enu ngeling sigsigan) Meme nawang luh, masalah nenenang mula baat.

Sakewala luh arus kuat luh tusing dadi lemah, nu kesusastraan bali meme ane nyayangin iluh. (luh sandat ngeling sigsigan, laut masare ring pabinan memene). • Men Putu : (Buin mani, sanjane Men putu makaengan ulian daganganne udu, tusing ada nak meli) Aduuh. Dewa Ratu! Dadi kene sepi gumine? uli tuni tusing ada anak mablanja.

Kenken nenenan. • Luh Sandat : (Teka maekin warung men putu) mek. wenten rujak poh? Dot pesan tiang naar rujak poh. • Men Putu : Ada luh. Dong ditu pilihin! dadi tumben meli rujak luh, engkene ngidam? • Luh Sandat : (jeg makleteg bayune luh sandat, tur kesusastraan bali tusing ja mek, tumben gen ja makita! men aji kuda ne makejang mek?

• Men putu : Amonto gen luh? aji telung tali onyangan. (luh sandat mayah, lantas majalan ka tukade)“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 75. • Men putu : Apin kenken nekepin andus, makelo-kelo pasti ja kal makudus. sajan cerik-cerik cara janine! tusing dadi orahin.mimih… enggal gati sanja gumine jani, mase tusing ada nak meblanja. Metutup gen ba nih. • Luh Sandat : (neked di tukade Luh Sandat nagak di duur batune di sisin tukade sambilanga makeneh-keneh teken awak ne lara, suba beling tusing ada nak ngakuin, buin kaparikosa olih muani jele, muani bajingan) duh.Hyang Widhi karma napi sane jalanan tiang mangkin?

Nguda kene nasib tiange? Napi pelih tiange? Hyang Widhi tiang leteh.tiang kotor.panak nenenan,panak kesusastraan bali terkutuk.muani ane ngrampas kasucian tiange pianakne padidi.(Luh Sandat inget teken undukne kaparikosa olih bapan ipune tur makaik disisin tukade) tusing amonto dogen kalaran tiange,sesampun beling tiang kaparikosa olih muani-muani bejat!

Hyang Widhi tiang nista…mangkin tiang sampun tusing sanggup. Kesusastraan bali lakar puputin tiang. Ampurayang tiang Hyang Widhi, ampurayang tiang Me.

• Bapa : (Mara teka uli matuakan,punyah tur mamunyi ngacuh,tur langsung mageblung ulung di bataran balene) • Luh Sandat : (Sasampune peteng luh sandat ngintip-ngitip bapane sane sedek mesare di bataran balene, ipun ngaba tiuk lantas nusuk tangkah bapane, ngoban luh sandatne seming, kenyemne pait.

Lantas nyabut tiuk ane matancep di tangkah bapane laut adeng-adeng majujuk) Hyang Widhi ampurayang tiang, mangkin sampun puput, sampun puputin titiang .( Nusuk tangkahne padidi, ulung kesusastraan bali padem)“KASUSASTRAAN BALI *GURU BIDANG STUDY BASA BALI I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd” • 76. DRAMA BALI KAPUPULANG OLIH I MADE JULIADI SUPADI,S.Pd Editor's Notes
Dalam bahasa Indonesai kita mengenal ada sastra lisan dan ada pula sastra tulis.

Berdasarkan urutan waktu sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan yaitu Angkatan Pujangga Lama, Angkatan Sastra Melayu Lama, Angkatan Balai Pustaka (1920–1932), Angkatan Pujangga Baru (1933–1942), Angkatan 1945 (1942–1949), Angkatan 1950–1960-an, Angkatan 1966–1970-an, Angkatan 1980–1990-an, Angkatan Reformasi Angkatan 2000-an.

Sastra Bali dibedakan menjadi dua yaitu, Sastra Bali Purwa soroh tembang punika dados kabagi kadadosang 4 soroh, sekadi Kesusastraan Bali ring sor. ☑ Sekar Rare ☑ Sekar Alit ☑ Sekar Madya ☑ Sekar Ageng Sekar Rare inggih punika soroh gending anggen ngendingang anak alit, utawi soroh gending sane gendingana olih pra alit-alite. Sekar rare puniki dados malih kabagi antuh 3 soroh : • Gending Rare (Gending rare inggih ipun gending sane kegendingang olih alit-alit duk meplalian, mecanda, megeguyonan sareng timpalne, umpame : Made Cenik, Kesusastraan bali, Cakup-cakup Balang, Jenggot Uban, Mai Delod Pasih) • Gending Jejangeran (Gending Jejangera inggih ipun gending sane kegendingang olih alit-alite duk masekolah jejangeran sareng timpal-timpalne saling sahutin, umpame Siap Sangkur, Putri Ayu, Majejangeran) kesusastraan bali Gending Sanghyang (Gending Sanghyang inggih ipun gending sane mangge ring upacara adat miwah agama duk nedunang sanghyang, umpame Gending Sanghyang, Puspa Panganjali, Kukus Arum) • Tembang Mijil nggih ipun tembang anggen ngametuang manah, rasi, miwah karsa tur naturin antuk tutur-tutur sane patut.

Nganggen 7 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger suara sekadi 4u, 6i, 6o, 10a, 10i, 6i, 6u ring ungkur. • Tembang Pucung inggih ipun tembang anggen ngametuang manah, kesusastraan bali, tutur-tutur utama ring anak alit, magegonjakan, maliang-liang, macecimpedan.

Nganggen 6 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger suara sekadi 4u, 8u, 6a, 8i, 4u, 8a ring ungkur. • Tembang Maskumambang inggih ipun tembang anggen ngametuang manah sedih, sungsut, lara, nangis.

Nganggen 5 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger suara sekadi 4a, 8i, 6a, 8i, 8a ring ungkur. • Tembang Ginada inggih punika tembang sane ngametuang manah sedih, sungsut, duhkacita, lara miwah anak metetangisan. Nganggen 7 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger suara sekadi 8a, 8i, 8a, 8u, 8a, 4i, 8a ring ungkur. • Tembang Ginanti inggih punika tembang sane anggen ngunggahang manah maliang-liang, makasih-kasihan, nguncarang tutur-tutur sane becik.

Nganggen 6 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger suara sekadi 8u, 8i, 8a, 8i, 8a, 8i ring ungkur • Tembang Semarandana inggih punika tembang sane anggen nganetuang manah sedih, kungkung, sungsut, awinan antuk kasmaran. Nganggen 7 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger suara sekadi 8a, 8i, 8e, 8a, 8a, 8u, 8a ring ungkur • Tembang Sinom inggih punika tembang sane anggen ngunggahang keramahtamahan, liang, mituturin anak miwah mareraosan.

Nganggen 10 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger kesusastraan bali sekadi 8a, 8i, 8a, 8i, 8i, 8u, 8a, 8i, 4u, kesusastraan bali ring ungkur • Tembang Durma inggih punika tembang sane meanggen ritatkala ngametuang manah galak, bangras, gedeg, miwah yan ngunggahang jengah duk kasmaran. Nganggen 7 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger suara sekadi 12a, 7i, 6a, 7a, 8i, 5a, 7i ring ungkur • Tembang Pangkur inggih punika tembang anggen ngametuang manah, sane madaging indik asmara, nyatuain anak lian.

Nganggen 7 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger suara sekadi 8a, 8u, 8a, 12a, 8a, 8i ring ungkur. • Tembang Dandanggula inggih punika tembang anggen ngametuang manah maseneng-seneng, kasmaran, miwah pangajahan.

Nganggen 12 carik sane apada lingga tur nganutin uger-uger suara sekadi 10i, 4a, 6a, 8e, 8u, 8i, 8a, 8u, 4a, 8i, 8a sekadi mungguh ring ungkur sabilang carik, Sekar Madya inggih ipun tembang sane susunan ipune pateh sekadi Sekar Alit, masusun antuk makudang-kudang carik sane apada lingsa. Basa sane mangge basa Jawa Tengahan utawi Kawi-Jawa.

Gunan ipun anggena maliang-liang miwah mayadnya. Umpami Kidung Waseng, Wargasari, Alis-alis Ijo, Magatruh, Gambuh, Malat, Adri, Rerepen.

kesusastraan bali(satua)




2022 charcuterie-iller.com