Pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat

Advertisement Proses Pembuatan Perahu Pinisi (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Hai Teman Traveler, yuk simak 10 fakta menarik kapal yang sangat legendaris yaitu Kapal Pinisi merupakan kapal tradisional dengan bertenaga angin yang mampu menjelajah cukup jauh hingga Tanah Afrika.

Kemasyuran kapal telah menjadi ikon kejayaan nusantara di bidang maritim. Kapal Pinisi pula yang membuat diaspora orang-orang bugis hingga tersebar di berbagai belahan dunia. Awal mulanya kapan ini berasal dari suatu desa yang bernama Tana Beru.

1. Tanah Beru, Tempat KelahiranPerahu Pinisi Pengrajin Kapal sedang Membuat Perahu Pinisi (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Tana Beru terletak di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Berada di selatan kota Makassar. Perkampungan pesisir pembuat perahu Pinisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke pantai selatan Makassar. Menurut literatur kuno, tradisi pembuatan perahu ini sudah ada sejak abad ke 14.

2. Perahu Kebanggaan Masyarakat Bugis Aeiral View Perkampungan Tana Beru (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Perahu Pinisi adalah perahu tradisional masyarakat Bugis Makassar. Sejak jaman dahulu, perahu ini telah menjadi bagian dari hidup masyarakat yang mengandalkan hasil laut untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kondisi cuaca yang bagis mengiringi kapal berlayar jauh untuk menangkap ikan. Itulah sebabnya kemudian orang-orang Bugis mengeksplorasi wilayah hingga jauh. 3. Bagian dari Perahu Pinisi Kapal Pinisi yang Setengah Jadi (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Perahu Pinisi memiliki tiga bagian, yaitu bagian depan, belakang dan utama.

Memiliki 7 layar dimana 2 layar terpasang di bagian paling atas kemudian 3 layar terpasang di depan serta 2 layar terpasang di bagian belakang. Satu perahu tersebut dikerjakan oleh lebih dari sepuluh orang dan pengerjaannya bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan.

4. Penghargaan dari Unesco Penampakan atas Perahu Pinisi yang Dalam Proses Pembuatan (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk UNESCO telah menetapkan seni pembuatan Perahu Pinisi sebagai Karya Agung Warisan Manusia yang Lisan dan Tak Benda pada Sesi ke-12 Komite Warisan Budaya Unik pada tanggal 7 Desember 2017 lalu.

5. Dibuat dengan Mengandalkan Pengetahuan Turun-temurun Pantai Bulukumba (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Tahukah Teman Traveler, pembuat perahu legendaris di Tana Beru, tidak memperoleh ketrampilan dan pengetahuannya secara formal. Keahlian orang Tana Beru diwariskan dari generasi ke generasi. Teknik pembuatan kapal Pinisi tidak dibuat dengan model perhitungan modern sejak dahulu kala.

Blue print atau rancangan tertulis diatas kertas kertas untuk membuat kapal Pinisi tidak berlaku dalam pembuatan kapal Pinisi di Tana Beru. Semua detail gambar dan rancangan Pinisi dikerjakan sesuai apa yang ada dalam feeling mereka.

Meski begitu, selesai pengerjaannya tercipta perahu Pinisi yang sempurna. 6. Asal Muasal Nama Pinisi Moncong Perahu Pinisi (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Awal mula nama Pinisi atau Phinisi atau Pinisi’ diketahui berasal dari kampung Ara, suatu wilayah di Tanah Baru.

Nama Pinisi sendiri mengacu pada jenis sistem layar atau rig, tiang-tiang layar dan konfigurasi tali. Secara etimologi Pinisi berasal dari kata panisi dari bahasa Bugis yang berarti “sisip” atau mappanisi yaitu menyisipkan.

Jadi nama Pinisi juga mengacu pada proses pembuatannya yaitu dengan disisipkan/didempul. 7. Pembuatan Masih Diiringi Ritual Adat. Lunas, Kerangka Dalam Perahu Pinisi (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Dalam pembuatan perahu Pinisi, masih dilakukan secara tradisional. Ada beberapa macam ritual adat yang dilakukan selama proses pengerjaannya.

Ritual awal saat pembuatan sebuah perahu Pinisi ditandai ketika seorang pawang perahu memotong bagian dasar pembuatan perahu yang disebut dengan “lunas”. Saat pemotongan kayu disediakan sesajen berupa makanan yang manis-manis dan memotong seekor ayam putih. pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat. Makna dibalik Ritual Adat Pinisi Buritan Bawah Perahu Pinisi (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Makanan yang manis adalah simbolisasi atas asa atau harapan supaya perahu yang dibuat mendatangkan hoki bagi pemiliknya, sementara darah yang ditempelkan pada “lunas” ialah simbol agar tidak terjadi kecelakaan saat membuat perahu.

9. Setiap Galangan Kapal Memiliki Ciri Khas Galangan Kapal Pembuat Perahu Pinisi (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Di Tanah Beru ada banyak galangan kapal dan pengrajin perahu Pinisi. Uniknya, setiap galangan kapal dalam pengerjaannya tidak pernah sama antara satu dengan yang lainnya. Dimata awam mungkin saja tidak nampak perbedaan itu, namun kalangan pengrajin dapat mengidentifikasi perahu Pinisi tertentu berasal dari galangan kapal yang mana.

10. Modernisasi Perahu Pinisi Perahu Pinisi Berlayar (c) Rachmad Ari Fattah/Travelingyuk Namun, saat ini seiring makin maju peradaban, perahu Pinisi sudah ada yang menggunakan mesin motor diesel sebagai tenaga pendorongnya.

Berbeda dengan ukuran asli, Perahu Pinisi yang sudah menggunakan mesin motor memiliki ukuran lebih besar, dengan ukuran panjang sekitar 20-25 meter dan kapasitas beban yang bisa ditanggungnya hingga 30 ton.

Itulah kesepuluh info menarik dari perahu tradisional kebanggaan Indonesia. Kekayaan alam dan budaya semestinya tetap terus dilestarikan, termasuk juga warisan leluhur yang berupa perahu Pinisi ini. Yuk tetap lestarikan budaya Perahu Petisi miliki Indonesia. Pinisi Lamba bermesin. Istilah pinisi, pinisiq, pinisi' atau phinisi mengacu pada jenis sistem layar ( rig), tiang-tiang, layar dan konfigurasi tali dari suatu jenis kapal layar Indonesia.

Ia terutama dibangun oleh orang Konjo, sebuah kelompok sub-etnis Makassar yang sebagian besar penduduk di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tetapi masih digunakan secara luas oleh orang [[Suku Makassar, sebagian besar untuk transportasi antar-pulau, kargo dan tujuan memancing di kepulauan Indonesia. UNESCO menetapkan seni pembuatan kapal Pinisi sebagai Karya Agung Warisan Manusia yang Lisan dan Takbenda pada Sesi ke-12 Komite Warisan Budaya Unik pada tanggal 7 Desember 2017.

[1] Daftar isi • 1 Etimologi dan asal mula • 2 Deskripsi umum pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat 3 Jenis lambung kapal pinisi • 4 Sejarah • 4.1 Menurut legenda • 4.2 Menurut penelitian • 5 Pembangunan Pinisi • 6 Pinisi masa kini • 7 Kesalahpahaman umum mengenai pinisi • 8 Galeri • 9 Lihat pula • 10 Referensi Etimologi dan asal mula [ sunting - sunting sumber ] Penyebutan paling awal, baik dalam sumber asing maupun dalam negeri, istilah 'pinisi' yang jelas-jelas mengacu pada jenis kapal layar dari Sulawesi ditemukan dalam artikel tahun 1917 di majalah Belanda Coloniale Studiën: ".

kapal dengan sistem layar sekunar cara Eropa." [2] Memang, catatan penggunaan sistem layar depan-belakang tipe Eropa pada kapal-kapal pribumi Nusantara baru dimulai pada paruh pertama abad ke-19, dan baru pada awal abad ke-20 sejumlah besar kapal dari Sulawesi dilengkapi dengan layar seperti itu. [3] Hingga pertengahan abad ke-20, para pelaut Sulawesi sendiri menyebut kapal mereka dengan istilah palari, jenis lambung yang paling cocok untuk tenaga penggerak layar pinisi.

[4] Ada berbagai tradisi lokal yang mengklaim asal mula kata 'pinisi' dan jenis kapal yang lebih awal, namun banyak di antaranya hanya dapat ditelusuri kembali ke dua hingga tiga dekade terakhir. Pembuat kapal Ara dan Lemo-Lemo, pusat pembuatan kapal kedua di wilayah tersebut, menghubungkan kemahiran mereka dalam arsitektur kapal laut (dan, tergantung pada sumbernya, pembuatan pinisi pertama) [5] pada Sawerigading, salah satu protagonis utama dalam epos Bugis Sureq Galigo: Untuk menghindari hubungan inses yang akan terjadi ketika dia jatuh cinta dengan saudara kembarnya, Sawerigading diberikan sebuah kapal yang dibangun secara ajaib untuk berlayar ke tempat di mana seorang gadis yang mirip dengannya dikatakan tinggal; ketika dia melanggar janjinya untuk tidak pernah kembali, kapal itu tenggelam; lunas, rangka, papan, dan tiangnya, yang terdampar di pantai ketiga desa, dipasang kembali oleh penduduk setempat, yang dengan demikian belajar cara membuat dan berlayar kapal.

[6] Perlu dicatat bahwa dalam epos itu Sawerigading kembali ke tanah airnya, dengan bersama dengan istrinya yang baru ditemukan dan menjadi penguasa dunia bawah, dan bahwa istilah pinisi tidak muncul dalam manuskrip mana pun yang dapat diakses dari cerita. [7] Dapat dipahami, mitos itu mendukung masyarakat Bontobahari dalam ketergantungan mereka pada pembuatan kapal sebagai cara hidup, membenarkan monopoli mereka pada pembangunan kapal semacam itu.

[8] Menurut sebuah tradisi setempat, nama pinisi diberikan oleh seorang raja Tallo, I Manyingarang Dg Makkilo, kepada perahunya. Namanya berasal dari dua kata, yaitu " picuru" (artinya "contoh yang baik"), dan " binisi" (sejenis ikan kecil, lincah dan tangguh di permukaan air dan tidak terpengaruh oleh arus dan ombak).

[9] Sumber lain menyatakan bahwa nama pinisi berasal dari kata panisi (kata Bugis, berarti "sisip"), atau mappanisi (menyisipkan), yang mengacu pada proses mendempul. Karena lopi dipanisi berarti perahu yang disisip/didempul, telah disarankan bahwa kata panisi mengalami perubahan fonemis menjadi pinisi. [10] Nama itu juga mungkin berasal dari pinasse, kata Jerman dan Perancis yang menandai kapal layar ukuran sedang (bukan kata Inggris pinnace yang pada waktu itu menandai sejenis sekoci dayung dan bukan sebuah perahu layar).

{INSERTKEYS} [11] :35 Kata ini diserap menjadi pinas atau penis oleh orang Melayu setelah tahun 1846. [12] Sebuah cerita yang mungkin tentang asal usul nama dan jenis kapal didasarkan pada laporan R. S. Ross, saat itu pemilik kapal uap EIC Phlegeton, yang pada kesempatan berkunjung ke Kuala Terengganu, Malaysia, pada tahun 1846 menyaksikan sekunar yang dibangun secara lokal oleh "beberapa penduduk asli yang telah belajar seni pembuatan kapal di Singapura, dan [dibantu] oleh tukang kayu Cina", [13] yang diduga telah menjadi pola dasar untuk pinas atau pinis Terengganu.

[14] Tradisi Melayu menyatakan bahwa sekunar ini dibangun atas nama Baginda Omar, Sultan Terengganu (memerintah 1839-1876), mungkin di bawah arahan atau dengan banyak bantuan oleh seorang penjelajah pantai Jerman atau Prancis yang telah "mencapai Terengganu, melalui Malaka dan Singapura, mencari opium cum dignitate", [15] menjadi pola dasar 'sekunar Melayu': pinas/pinis Terengganu, yang pada masa ini memakai layar jung Cina, sampai pergantian abad ke-20 umumnya dipasang dengan layar gap-keci.

[16] Namun, sekitar waktu yang sama, sumber-sumber Belanda mulai mencatat jenis baru kapal layar yang digunakan secara lokal yang didaftarkan oleh syahbandar di bagian barat Kepulauan Melayu sebagai 'penisch', 'pinisch', atau 'phinis'(!); [17] pada akhir abad ke-19 penggunaan kapal semacam itu rupanya telah menyebar ke Bali, Kalimantan dan Sulawesi.

Kata itu sendiri mungkin diambil dari pinasse atau peniche bahasa Belanda, Jerman atau Prancis, pada saat itu merupakan nama untuk kapal layar berukuran kecil hingga sedang yang agak tidak ditentukan. [18] Kata 'pinnace' dalam bahasa Inggris sedari abad ke-18 merujuk pada salah satu kapal yang dibawa kapal perang atau kapal dagang yang lebih besar.

Deskripsi umum [ sunting - sunting sumber ] Sebuah kapal bersistem layar pinisi memiliki tujuh hingga delapan layar pada dua tiang, diatur dengan cara yang mirip dengan sekunar-keci: disebut 'sekunar' karena semua layarnya adalah layar 'depan-belakang', berbaris di sepanjang garis tengah dari lambung pada dua tiang; dan disebut 'keci', karena tiang di buritan kapal agak lebih pendek daripada yang ada di haluan.

[19] Layar agung besar bentuknya berbeda dari sistem layar gap gaya barat, karena mereka sering tidak memiliki bom dan layarnya tidak diturunkan dengan gap. Sebaliknya layar itu digulung menuju menuju tiang, seperti tirai, sehingga memungkinkan gapnya untuk digunakan sebagai derek geladak di pelabuhan.

Bagian bawah tiang itu sendiri mungkin menyerupai tripod atau terbuat dari dua tiang ( bipod). Kapal bersistem layar pinisi ( palari) memiliki panjang sekitar 50–70 kaki (15,24–21,34 m), dengan garis air saat muatan ringan 34–43 kaki (10,36–13,1 m). [20] :112–113 Palari yang kecil hanya sepanjang sekitar 10 meter. [21] Pada 2011 sebuah PLM (perahu layar motor) bersistem layar pinisi besar telah diselesaikan di Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Ia memiliki panjang 50 m dan lebarnya 9 m, dengan tonase kotor sekitar 500 ton. [22] Jenis lambung kapal pinisi [ sunting - sunting sumber ] Pinisi berlambung tipe palari, Sulawesi Barat. 1923-1925. Ada beberapa jenis kapal bersistem layar pinisi, tetapi pada umumnya ada 2 jenis: • Palari adalah bentuk awal lambung pinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamba.

Biasanya dikemudikan dengan 2 kemudi ( rudder) samping di buritan. Jenis yang sudah bermesin juga dilengkapi kemudi di belakang baling-baling, tetapi kebanyakan kapal pinisi bermesin menggunakan lambung jenis lambo. • Lamba atau lambo. Pinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan dilengkapi dengan motor diesel (PLM-Perahu Layar Motor) menggunakan lambung ini.

Lambung ini menggunakan 1 kemudi tengah, tetapi beberapa ada yang memiliki 2 kemudi samping sebagai hiasan/tambahan saja. Sejarah [ sunting - sunting sumber ] Menurut legenda [ sunting - sunting sumber ] Ada beberapa sumber dari internet yang mengatakan bahwa kapal jenis pinisi sudah ada dari abad ke-14, dan mengaitkannya dengan naskah Sureq Lagaligo yang bercerita tentang kisah Sawerigading.

[23] [24] Namun klaim itu terbukti mengada-ngada karena sudah dibantah oleh penelitian terhadap naskah itu sendiri. Nama perahu dan kapal yang terdapat pada naskah itu adalah waka(q), wakka(q), wakang, wangkang, padewakang, joncongeng, banawa, pelapangkuru, binannong, pangati, dan lopi. [21] Perahu yang membawa Sawerigading ke negeri Cina (bukan Tiongkok tetapi nama suatu daerah di Nusantara) sendiri disebut perahu Welenrengnge, ia terbuat dari satu batang pohon saja ( dugout canoe atau perahu lesung), dilengkapi dengan cadik dan katir.

[25] Menurut penelitian [ sunting - sunting sumber ] Pinisi berlambung palari di Sulawesi Selatan. 1923-1925. Pada abad ke-19, para pelaut Sulawesi mulai menggabungkan layar-layar persegi panjang besar dari layar tanjaq dengan jenis-jenis layar depan dan belakang yang mereka lihat di kapal-kapal Eropa yang berkeliaran ke Nusantara.

Sejak awal abad ke-18, VOC mulai membangun kapal-kapal bergaya Eropa untuk perdagangan inter Asia di galangan-galangan Jawa, sehingga terus memperkenalkan metode konstruksi dan rig baru, termasuk versi Belanda dari layar depan dan belakang yang baru. Selama abad ke-19, angkatan laut kolonial dan perusahaan perdagangan Eropa, India, dan Cina mengoperasikan sekunar Barat yang jumlahnya terus meningkat; tetapi, meskipun laporan sejak awal tahun 1830 menyebutkan perahu, “sekunar dengan layar kain”, digunakan oleh 'bajak laut' yang beroperasi di Selat Malaka.

Pinisi berevolusi dari lambung dasar padewakang dengan layar depan dan belakang ke model lambungnya sendiri dengan "layar pinisi" pribumi. Selama dekade-dekade evolusi ini, para pelaut Indonesia dan pembangun kapal mengubah beberapa fitur dari sekunar barat yang asli. Pinisi asli Sulawesi pertama diperkirakan dibangun pada tahun 1906 oleh pengrajin perahu Desa Ara dan Lemo-Lemo, mereka membangun perahu penisiq [salah sebut] pertama untuk seorang nakhoda Bira.

[26] Pada mulanya, layar sekunar dipasang di atas lambung padewakang, tetapi setelah beberapa lama pedagang Sulawesi memutuskan untuk menggunakan palari berhaluan tajam yang lebih cepat. Seluruh lambung adalah ruang kargo, dan hanya ada kabin kecil untuk kapten ditempatkan di dek buritan, sementara kru tidur di dek atau di ruang kargo.

Dua kemudi panjang yang dipasang di sisi buritan seperti yang digunakan pada padewakang, dipertahankan sebagai perangkat kemudi. Sejak tahun 1930-an, kapal layar ini mengadopsi jenis layar baru, yaitu layar nade, yang berasal dari cutter dan sloop yang digunakan oleh pencari mutiara Barat dan pedagang kecil di Indonesia Timur.

Sebuah orembai dengan layar pinisi, di Seram, kepulauan Maluku. Selama tahun 1970-an semakin banyak palari-pinisi yang dilengkapi dengan mesin, lambung dan layar kapal tradisional Indonesia dengan cepat berubah: Karena desain lambung pribumi tidak cocok untuk dipasangkan mesin, lambung tipe lambo menjadi alternatif. Pada tahun-tahun berikutnya, kapasitas muatan terus ditingkatkan, hingga hari ini rata-rata Perahu Layar Motor ( PLM) dapat memuat hingga 300 ton.

Karena layar mereka hanya digunakan untuk mendukung mesin, layar belakang dari hampir semua PLM dihilangkan. Pada kapal yang lebih besar dipasang sebuah rig pinisi, sementara kapal berukuran sedang dipasang dengan layar nade. Namun, karena tiang mereka terlalu pendek dan area layarnya terlalu kecil, kapal ini tidak dapat bergerak hanya dengan layar, sehingga mereka menggunakannya hanya pada angin yang menguntungkan.

[27] Pembangunan Pinisi [ sunting - sunting sumber ] Upacara kurban untuk pembuatan perahu pinisi adalah salah satu dimana kemegahan pinisi dilahirkan. Para pembuat perahu tradisional ini, yakni: orang-orang Ara, Tana Lemo dan Bira, yang secara turun temurun mewarisi tradisi kelautan nenek moyangnya.

Upacara ritual juga masih mewarnai proses pembuatan perahu ini, hari baik untuk mencari kayu biasanya jatuh pada hari ke lima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 ( naparilimai dalle’na) yang artinya rezeki sudah ditangan.

Sedangkan angka 7 ( natujuangngi dalle’na) berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik, kepala tukang yang disebut "punggawa" memimpin pencarian. Sebelum pohon ditebang, dilakukan upacara untuk mengusir roh penghuni kayu tersebut.

Seekor ayam dijadikan sebagai korban untuk dipersembahkan kepada roh. Jenis pohon yang ditebang itu disesuaikan dengan fungsi kayu tersebut. Pemotongan kayu untuk papan selalu disesuaikan dengan arah urat kayu agar kekuatannya terjamin. Setelah semua bahan kayu mencukupi, barulah dikumpulkan untuk dikeringkan. Peletakan lunas juga memakai upacara khusus. Waktu pemotongan, lunas diletakkan menghadap Timur Laut. Balok lunas bagian depan merupakan simbol lelaki.

Sedang balok lunas bagian belakang diartikan sebagai simbol wanita. Setelah dimantrai, bagian yang akan dipotong ditandai dengan pahat. Pemotongan yang dilakukan dengan gergaji harus dilakukan sekaligus tanpa boleh berhenti. Karena itu, pemotongan harus dilakukan oleh orang yang bertenaga kuat. Ujung lunas yang sudah terpotong tidak boleh menyentuh tanah. Bila balok bagian depan sudah putus, potongan itu harus dilarikan untuk dibuang ke laut. Potongan itu menjadi benda penolak bala dan dijadikan kiasan sebagai suami yang siap melaut untuk mencari nafkah.

Sedangkan potongan balok lunas bagian belakang disimpan di rumah, dikiaskan sebagai istri pelaut yang dengan setia menunggu suami pulang dan membawa rezeki. Pemasangan papan pengapit lunas, disertai dengan upacara Kalebiseang. Upacara Anjarreki yaitu untuk penguatan lunas, disusul dengan penyusunan papan dari bawah dengan ukuran lebar yang terkecil sampai keatas dengan ukuran yang terlebar.

Jumlah seluruh papan dasar untuk perahu pinisi adalah 126 lembar. Setelah papan teras tersusun, diteruskan dengan pemasangan buritan tempat meletakkan kemudi bagian bawah.

Dua pinisi yang sedang dibangun, satu sudah hampir selesai. Apabila badan perahu sudah selesai dikerjakan, dilanjutkan dengan pekerjaan a’panisi, yaitu memasukkan majun pada sela papan.

Untuk merekat sambungan papan supaya kuat, digunakan sejenis kulit pohon barruk. Selanjutnya, dilakukan allepa, yaitu mendempul. Bahan dempul terbuat dari campuran kapur dan minyak kelapa. Campuran tersebut diaduk selama 12 jam, dikerjakan sedikitnya 6 orang. Untuk kapal seberat 100 ton, diperlukan 20 kg dempul badan kapal. Sentuhan terakhir adalah menggosok dempul dengan kulit pepaya. Proses terakhir kelahiran pinisi adalan peluncurannya.

Upacara selamatan diadakan lagi. Peluncuran kapal diawali dengan upacara adat Appasili, yaitu ritual yang bertujuan untuk menolak bala. Kelengkapan upacara berupa seikat dedaunan yang terdiri dari daun sidinging, sinrolo, taha tinappasa, taha siri, dan panno-panno yang diikat bersama pimping. Dedaunan dimasukkan ke dalam air dan kemudian dipercikkan dengan cara dikibas-kibaskan ke sekeliling perahu.

Untuk perahu dengan bobot kurang dari 100 ton, biasanya dipotong seekor kambing. Sedangkan untuk kapal 100 ton keatas, dipotong seekor sapi. Setelah dipotong kaki depan kambing atau sapi dipotong bagian lutut kebawah digantung di anjungan sedangkan kaki belakang digantung di buritan pinisi, [28] maknanya adalah memudahkan saat peluncurannya seperti jalannya binatang secara normal. Selanjutnya ada upacara Ammossi, yaitu upacara pemberian pusat pada pertengahan lunas perahu dan setelah itu perahu ditarik ke laut.

Pemberian pusat ini merupakan istilah yang didasarkan pada kepercayaan bahwa perahu ialah 'anak' punggawa atau Panrita Lopi sehingga dengan demikian berdasarkan kepercayaan maka upacara Ammossi merupakan simbol pemotongan tali pusar bayi yang baru lahir.

Ketika pinisi sudah mengapung di laut, barulah dipasang layar dan dua tiang. Layarnya berjumlah tujuh. Kapal yang diluncurkan biasanya sudah siap dengan awaknya. Peluncuran kapal dilaksanakan pada waktu air pasang dan matahari sedang naik.

Punggawa alias kepala tukang, sebagai pelaksana utama upacara tersebut, duduk di sebelah kiri lunas. Doa, atau lebih tepatnya mantra, pun diucapkan.

Pinisi masa kini [ sunting - sunting sumber ] Di era globalisasi phinisi sebagai kapal barang berubah fungsi menjadi kapal pesiar mewah komersial maupun ekspedisi yang dibiayai oleh investor lokal dan luar negeri, dengan interior mewah dan dilengkapi dengan peralatan menyelam, permainan air untuk wisata bahari dan awak yang terlatih dan diperkuat dengan teknik modern. Salah satu contoh kapal pesiar mewah terbaru adalah Silolona berlayar di bawah bendara.

Seperti banyak jenis kapal tradisional lainnya, pinisi telah dilengkapi dengan motor, sebagian besar sejak tahun 1970. Ini telah mengubah penampilan kapal itu. Sebanding dengan dhow modern, tiang-tiangnya telah diperpendek, atau dihilangkan ketika crane geladak lenyap sepenuhnya, sementara struktur di geladak, biasanya belakang, telah diperbesar untuk awak dan penumpang. Pada awal 1970-an, ribuan kapal pinisi-palari berukuran hingga 200 ton kargo, armada kapal berlayar komersial terbesar di dunia pada saat itu, telah menghubungi semua penjuru Samudra Hindia dan menjadi tulang punggung perdagangan rakyat.

Pinisi dimodifikasi menjadi kapal pembawa penyelam oleh investor asing untuk tujuan pariwisata. Salah satu contohnya adalah bahwa perahu tersebut digunakan sebagai pitstop untuk The Amazing Race. Kapal pinisi juga menjadi lambang untuk gerakan WWF yaitu #SOSharks, program pelestarian ikan hiu dari WWF, dan pernah digunakan oleh perusahaan terkenal di Indonesia yaitu Bank BNI. Kesalahpahaman umum mengenai pinisi [ sunting - sunting sumber ] Berikut adalah kesalahpahaman umum tentang pinisi, yang banyak dicantumkan pada media-media terutama di internet.

• Bahwa pinisi adalah nama kapal. Yang benar adalah nama sistem layar ( rigging). Kapal yang biasa disebut pinisi adalah kapal yang dipasangkan sistem layar itu, misalnya lambo dan palari. [21] • Pinisi sudah ada sejak ratusan tahun lalu, sekitar abad ke-14. Sebenarnya kapal bersistem layar pinisi baru ada setelah tahun 1900. [21] • Pada zaman dahulu ada kapal pinisi yang mengunjungi pelabuhan Venesia, Italia. Penelitian tentang catatan historis dari Hindia Belanda dan Italia tidak pernah mencatat kapal pinisi yang sampai disana pada masa lalu.

[21] • Pinisi adalah asli ciptaan pribumi. Sebenarnya, sistem layar pinisi meniru sistem layar schooner- ketch (sekunar-keci) Eropa. [11] :37 Yang membedakan adalah cara menggulung layarnya, layar schooner Eropa digulung ke atas, sedangkan layar pinisi digulung memanjang ke arah depan. [21] • Pinisi dibangun oleh orang Makassar dan Bugis. Yang benar adalah pinisi dibuat oleh orang Bira, Ara, Lemo-Lemo, dan Tana Beru yang merupakan suku Konjo. [11] :36 Galeri [ sunting - sunting sumber ] Wikimedia Commons memiliki media mengenai Pinisi.

• • ^ "UNESCO Acknowledges Pinisi as Intangible Cultural Heritage". Tempo . Diakses tanggal 10 December 2017. • ^ Vuuren, L. Van 1917. 'De Prauwvaart van Celebes'. Koloniale Studien, 1,107-116; 2, 329-339, pg. 108. • ^ Liebner, Horst H. (2018). ‘'Pinisi': Terciptanya Sebuah Ikon’; Memorial Lecture Dr. Edward Poelinggomang. Makassar: Universitas Hasanuddin; https://www.academia.edu/35875533/Pinisi_Terciptanya_Suatu_Ikon • ^ Gibson-Hill, C.

A. (2009 [1950a]). 'The Indonesian Trading Boats Reaching Singapore.' Dalam H.S. Barlow (ed.) Boats, Boatbuilding and Fishing in Malaysia [ Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 23 (1)]. Kuala Lumpur: Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society: 43-69 [108-138], pgs. 52f [121]. • ^ Lihat, contohnya, Borahima, Ridwan et al. (1977). Jenis-Jenis Perahu Bugis Makassar.

Jakarta: Proyek Pengembangan Media Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, pp. 26f vs. Horridge, A. (1979). The Konjo Boatbuilders and the Bugis Perahu of South Sulawesi. Greenwich: National Maritime Museum, p. 10 • ^ E.g., Pelly, U. (2013 [1975]). Ara dengan Perahu Bugisnya. Medan [Ujung Pandang]: Casa Mesra Publisher [Pusat Latihan Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Hasanuddin], pp. 21ff; Saenong, M. A. (2013). Pinisi: Paduan Teknologi dan Budaya. Yogyakarta: Penerbit Ombak, pp.

11ff. • ^ Liebner, Horst H. (2003). 'Berlayar ke Tompoq Tikkaq: Sebuah Episode La Galigo'. In Nurhayati Rahman and et al. (eds.), La Galigo, Makassar: Pusat Studi La Galigo, pp. 373-414. • ^ Horridge, A. (1979), p. 10 • ^ Koro, Nasaruddin (2006). Ayam Jantan Tanah Daeng: Siri' dan Pesse dari Konflik Lokal ke Pertarungan Lintas Batas. Ajuara. ISBN 9791532907. • ^ Saenong, Muhammad Arief (2013). Pinisi: Panduan Teknologi dan Budaya. Penerbit Ombak. • ^ a b c Liebner, Horst H. (2016). Beberapa Catatan Akan Sejarah Pembuatan Perahu Dan Pelayaran Nusantara.

Jakarta: Indonesian Ministry of Education and Culture. • ^ Liebner, Horst H. (2002). Perahu-Perahu Tradisional Nusantara. Jakarta. • ^ Anon. (1854). 'Journal Kept on Board a Cruiser in the Indian Archipelago.' Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia 8(7): 175-199, pg. 176. • ^ Gibson-Hill, C. A. (2009 [1953]). 'The Origin of the Trengganu Perahu Pinas'. In H.S. Barlow (ed.) Boats, Boatbuilding and Fishing in Malaysia [Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society, 26 (1)].

H. S. Barlow. Kuala Lumpur, Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society: 172-174 [206-110] dan Longuet, R. (2009). 'Update on Boats and Boat-Building in the Estuary of the Trengganu River, 1972-2005'.

In H.S. Barlow op.cit.: 338-365. • ^ Gibson-Hill (2009 [1953]): 172 • ^ Warrington-Smyth, H. (1902). 'Boats and Boat Building in the Malay Peninsula'. Journal of the Society of the Arts 50(2582): 570-586. • ^ Menariknya, yang pertama dilaporkan menggunakan layar mirip sekunar pada lambung buatan lokal adalah berbagai kelompok "bajak laut" lokal: dengan demikian, misalnya, tiga kapal milik skuadron penyerang suku Melayu dan orang Lanun yang berkeliaran di perairan Singapura pada tahun 1836 adalah "sekunar dilengkapi dengan layar kain" (Logan, J.

R. e. (1849-1851). 'The Piracy and Slave Trade of the Indian Archipelago.' Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia 3; 4; 5: 581-588, 629-536; 545-552, 144-562, 400-510, 617-528, 734-546; 374-582; 4, pg. 402. • ^ Sumber arsip yang menjadi rujukan dapat dilihat di Liebner (2018). • ^ Liebner, Horst H. (2018). Pinisi: The Art of West-Austronesian Shipbuilding. Seoul: National Research Institute of Maritime Cultural Heritage & ICHCAP.

• ^ Gibson-Hill, C.A. (February 1950). "The Indonesian Trading Boats reaching Singapore". {/INSERTKEYS}

Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society. 23: 108–138 – via JSTOR. • ^ a b c d e f Liebner, Horst H. (November 2016). "Perahu Nusantara - sebuah presentase bagi Menko Maritim".

Academia. Diakses tanggal 13 Agustus 2019. • ^ Sastrawat, Indra (22 November 2011). "Largest Pinisi Launched". Kompasiana. Diakses tanggal 15 July 2018. • ^ [1] The Indonesian Phinisi • ^ [2] Diarsipkan 2011-06-03 di Wayback Machine.

Pusat Kerajinan Perahu Pinisi • ^ Enre, F. A. (1999). Ritumpana Welenrennge. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Parameter -url-status= yang tidak diketahui akan diabaikan ( bantuan) • ^ Liebner, Horst H. and Rahman, Ahmad (1998): 'Pola Pengonsepan Pengetahuan Tradisional: Suatu Lontaraq Orang Bugis tentang Pelayaran ', Kesasteraan Bugis dalam Dunia Kontemporer (Makassar).

• ^ 2004 Horst H. LiebnerMalayologist, Expert Staff of the Agency for Marine and Fisheries Research, Department of Marine Affairs and Fisheries of the Republic of Indonesia • ^ [3] Diarsipkan 2020-07-08 di Wayback Machine.

Phinisi tradisional asli Indonesia • Halaman ini terakhir diubah pada 10 April 2022, pukul 22.02.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Potensi laut sebagai sumber mata pencaharian hidup masyarakat, membutuhkan kearifan tangan manusia. Laut yang luas mengandung keunikan, nuansa keindahan, serta kekayaan sumber ekonomi. Jika budaya laut semakin rapuh dan tidak memiliki kearifan kultural yang dalam terhadap riak gelombang dan samudera, maka laut ini pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat berarti apa-apa.

Kearifan kultural yang dimaksud disini adalah seni dan teknologi ( art and technology ) yang mampu meningkatkan kesejahteraan hidup, baik masa kini maupun masa yang akan datang. Demikian luas dan kayanya laut Indonesia, sehingga banyak orang menduga bahwa di masa depan, laut menjadi salah satu alternatif yang potensial sabagai daya dukung terhadap kehidupan dan penghidupan manusia, setelah semakin sempitnya daratan dan terjadinya degrasi sumberdaya alam di darat yang tidak seimbang dengan laju pertumbuhan penduduk.

Kondisi geografis yang sebagian besar terdiri dari laut, memungkinkan tumbuh dan berkembangnya sektor-sektor perikanan, pariwisata, perhubungan laut dan pertambangan minyak.

Tidak banyak suku bangsa di Indonesia yang sangat intim kehidupannya dengan perahu dan laut, seperti masyarakat Sulawesi Selatan yang lazim dikenal dengan orang Bugis Makassar. Perahu-perahu yang menjadi sarana angkutan laut mereka lebih dikenal dengan nama perahu Bugis. Sejak berabad-abad yang lalu telah mengarungi nusantara, menguasai pelayaran antara pulau.

Bahkan pada zaman keemasan kerajaan Gowa pada abad XVI dan XVII, perahu-perahu ini telah sampai ke Srilangka, Fhilipina, Kamboja sampai ke pantai Australia Utara ( Pelly, 1975 ). Sejarah perahu tradisional tidak terlepas kaitannya dengan perkembangan budaya Sulawesi Selatan khususnya dan tidak terlepas dari lingkup sejarah perjalanan kebaharian bangsa Indonesia pada umumnya. Sejarah kebaharian Suku Bugis, Makassar dan Mandar berkaitan dengan perkembangan perahu sejak adanya cikal bakal perahu sampai terciptanya perahu pinisi dalam konteks kebaharian di tanah air.

Industri perahu merupakan bagian dari industri pedesaan. Peranannya dalam memacu perkembangan desa pentai tidak bisa diabaikan, khususnya dalam penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi regional.

Salah satu bentuk industri pendesaan itu adalah industri pembuatan perahu. Orang-orang Bugis membuat perahu untuk keperluan angkutan antar pulau, sebagai alat transportasi untuk merantau dan keperluan menangkap ikan. Perahu tersebut sekaligus telah menjadi simbol budaya maritim mereka. Sungguh sangat menarik bahwa perahu tersebut, ternyata dibuat oleh ahli-ahli perahu yang berasal dari Tanah Lemo dan desa Ara di Sulawesi Selatan.

Kepandaian meraka dalam membuat perahu telah diwariskan secara turun temurun sampai saat sekarang ini. Potensi ekonomi rakyat yang masih sanagat sederhana terutama sistem peralatan dan teknik pembuatannya, memerlukan sesuatu penemuan baru dalam menunjang peningkatan produksi. Dari hal tersebut diharapkan menjadi pangkal terjadinya perubahan sosisal dan ekonomi rakyat. Pewarisan keterampilan dan pengetahuan membuat perahu melalui sistem pemagangan kepada anak keturunannya, sehingga keterampilan tersebut tetap bertahan sampai sekarang.

Para pengrajin khususnya punggawa ( ahli pembuat perahu ), harus memiliki dua keahlian magis. Keduanya dipadu menjadi satu, sehingga keberadaan teknologi ini sulit tertandingi. Pada masa sistem pembuatan perahu secara tradisional, punggawa memiliki multiperan yakni sebagai tukangyang ahli dalam membuat perahu dan meguasai tata ritual pembuatan perahu, pemilik modal serta patron bagi sawi yang dipimpinnya. Suatu bukti yang sangat mengagumkan adalah peristiwa kebaharian pada penghujung abad XX dengan pengembangan perahu pinisidalam kebaharian internasional.

Peristiwa-peristiwa tersebut adalah : (1) peristiwa pelayaran perahu pinisi Nusantara ke Vancouver Canada tahun 1986, dengan tujuan promosi budaya (2) pelayaran perahu paddewakang bernama Hati Maregge dari Makassar ke tanah Maregge Australia Utara tahun 1988 di bawah sponsor Universitas Hasanuddin bekerjasama denagn museum ilmu dan seni Darwin, (3) peristiwa pelayaran perahu pinisi Amanna Gappa ke Madagaskar tahin 1991, dengan tujuan selain untuk membuktikan bahwa perahu pinisi layak samudra juga sekaligus untuk membuktikan mobilitas warga suku Bugis Makassar ke Madagaskar beberapa tahun silam, (4) peristiwa pelayaran perahu pinisi Damar Sagara ke Jepang tahun 1992, yang bertujuan untuk membuktikan keunggulan perahu tradisional pinisi sekaligus juga untuk promosi budaya.

Keempat peristiwa pelayaran tersebut membuktikan bahwa karya yang diciptakan oleh pengrajin perahu di Tanah Lemo Bulukumba Sulawesi Selatan adalah sebuah karya yang luar biasa dan diakui oleh dunia internasional. Keberadaan perahu tradisional di Sulawesi Selatan merupakan warisan budaya yang sangat tinggi, namun dalam menelusuri sejarah (asal usul) bagaimana perahu itu muncul sebagai sebagai karya budaya masyarakat Sulawesi Selatan menimbulkan banyak versi; baik versi yang berkembang pada masyarakat pengrajin perahu, tokoh masyarakat, sejarawan, budayawan maupun dari ilmuwan asing (Eropa).

Di dalam legenda yang berbentuk karya sastra I Lagaligo telah dipaparkan bagaimana Sawerigading bersama dengan perahu layarnya yang besar melanglang buana, bukan saja seantero nusantara, tetapi samapai di mancanegara.

Hal ini membuktikan bahwa orang Sulawesi Selatan sejak zaman dahulu telah jaya di lautan. Di zaman jayanya kerajaan Gowa di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin, armada laut kerajaan Gowa terkenal keberaniannya dan keperkasaannya telah membuktikan dengan usaha perluasan kekuasaan ke beberapa wilayah termasuk Kalimantan bahagian Timur, bali, bahkan sampai ke bagian utara benua Australia.

Menurut Peter G. Spillet, seoran sejarawan Australia Utara, telah terukir di layar sejarah bahwa orang asing yang pertama mendarat di Benua Australia adalah orang Makassar (Pabittei, 1995:19).

Peter G. Spillet yang mendapatkan julukan daeng Makkule dari orang makassar, membantah catatan sejarah yang mengatakan bahwa orang pertama datang berkunjung ke benua Australia adalah Abel Tasman (Belanda) pada tahun 1642, James Cook yang berkebangsaan Inggris.

Daeng Makulle telah berhasil meneliti bukti-bukti sejarah berupa hubungan orang Makassar dengan orang Marege ( Pabittei,1995:19). Sejarah perahu di Indonesia dapat juga ditelusuri melalui sejarah fakta-fakta sejarah Sriwijaya yang menjelaskan sejarah perahu dan pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat awal di Asia Tenggara.

Perspektif sriwijaya ini berusaha memaparkan beberapa tempat arkeologi kapal. Bukti-bukti arkeologi dari sriwijaya memeperlihatkan adanya perahu berikat dan kayu gergaji, Ponsia tahum 293 Masehi dan perahu berikat Butuan “Baraggay” tahu 320 Masehi serta empat potongan kayu milik perahu berikat dan papan gergaji yang disimpan di museum Wat Khlong Tom pada pertengahan millineum pertama Masehi (Manguin,1985:24) penggalian tempat dalam millenium pertama dan di awali millenium kedua sesudah masehi dalam studi Sriwijaya memebrikan pembuktian tentang tehnik pembuatan perahu/kapal sekarang ini.

Selanjutnya Manguin juga mengungkapkan pada tahun 1930 ditemukan bukti proses pendangkalan dan sisa-sisa kapal tua di sungai berlumpur Takua Pa. Dari sumber lain mengenai sejarah perahu ini, dapat diubgkap bahwa ada perahu yang disebut dengan perahi Pinas Trengganu dibuat oleh anggota kelompok dari anak buah kapal layar Prancis yang pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat ambruk di pantai Trengganu pada waktu pemerintahan Baginda Omar (1839-1876).

Anak buah kapal tersebut menikahi gadis cina dari Kuala Marang dan menetap di Kuala Trengganu untuk mencari nafkah sebagai ahli pembuat perahu (Gibson,1953:2). Selanjutnya, setelah tampilnya catatan tentang perahu Trengganu, C.C Brown menjelaskan bahwa yang membentuk keluarga di Trengganu bukanlah pelaut yang ahli membuat perahu, tetapi orang Eropa yang sampai ke Trengganu.

Pada tahun 1846, Sultan Trengganu mempunyai sebuah skunyer dan beberapa penduduk asli belajar tentang seni pembuatan perahu di Singapura dan dibantu oleh tukang kayu Cina yang merupakan pekerja perahu yang dapat diandalkan. Sekarang Pinas dibuat dengan dua layar betten Cina dan sebuah layar yang besar, seperti yang dilukiskan dengan sketsa Warington Smith tahun 1890-1900.

Pada tahun 1900 perahu semacam inibegitu populerdi perairan Melayu. Seperti yang dilakukan oleh laskar india, Melayu, Bugis, Makassar, Mandar dan Buton telah banyak mempergunakan secara luas nama-nama pengangkutan kapal Eropa di perairan Asia. Kapal- kapal Eropa dan kapal-kapal asli Asia, dalam pembuatanya menerapan teknis-teknis Barat dan ini berlangsung sebelum memperkenalkan Pinisi. Pinisi Bira yang dikenal di Sulawesi Selatan pertama-tama dibuat oleh orang ara Sulawesi Selatan pada tahun 1900 ( Liebner, 1996: 1 ).

Di Indonesia, tidaklah masuk akal jika orang yang datang dan menetap tidak mengenal alat pelayaran karena Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan. Untuk melintasi laut-laut dan selat-selat dari pulau ke pulau pasti dengan perahu/kapal. Jejak-jejak zaman silam selalu menunjukkan tanda-tanda bahwa manusia hidup berpindah-pindah menyeberahi laut. Indonesia adalah “Kerajaan Pulau” yang memiliki lautsungai, danau dan rawa-rawa, sehingga tidaklah mengherankan bila bermacam-macam bentuk perahu diketemukan disini.

Bentuk yang pertama sebagai alat pelayaran sebagaimana yang dikemukakan oleh Nooteboom (1951:2) adalah perahu yang dibuat dari batang pohon yang dikorek (model lesung). Untuk membuat perahu semacam ini harus merupakan kayu pilihan.

Mengorek batang pohon semacam itu kelihatan sangat sederhana tetapi sebenarnya sulit sekali, perlu pengalaman dan pengetahuan yang luas. Orang Bugis Makassar menamai jenis perahu ini dengan nama Lepa-lepa (sampan).

Perahu jenis ini pada mulanya dibuat dari kayu gelondongan besar dengan cara pengerukan bagian muka dan belakang dibuat tipis dan lancip agar dapat bergerak maju. Sampan dari sebatang pohon ada gambar di Candi Borobudur serupa dengan perahu-perahu yang dipergunakan sekarang ini. Tetapi perahu-perahunya besar, berlainan dari yang kita kenal kini. Pengayuh-pengayuhnya lebih banyak. Semua perahu-perahu bwsar pada gambar Candi Borobudur memakai candik. Sekarang ini di Indonesia tidak lagi tedapat perahu-perahu besar yang memakai cadik.

hanya sampan-sampan kecil yang mempergunakan cadik. Catatan sejarah perjalanan Tome Pires (1512-1515) dapat digarisbawahi bahwa perahu Bugis sudah muncul diperairan nusantara sejak awal abad 16 dan pada saat itu perahu Bugis telah diidentifikasikan sebagai jenis tersendiri yang disebut dengan pengajava.

Di duga jenis ini adalah perahu yang dikenal dengan nama Pajala. Selain berdagang, pelaut-pelaut Makassar juga terkenal sebagai bajak laut ulung yang disegani ( Cartesao, 1944:89-90). Asal-usul perahu tradisional di Tanah Lemo dapat ditelusuri dalam legenda yang berkembang dikalangan tukang perahu dati Tanah Lemo. Tersebutlah seorang ahli agama islam (wali) yang bernama Amir Daeng Salatang. Suat malam wali tersebut kedatangan seorang wali lain secara gaib dalam mimpinya.

Dia meminta Daeng Sallatang membuat perahu untuk menjemput orang-orang Smbawa yang pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat hayut karena letusan gunung Tambora. Seetelah memberi petunjuk cara pembuatan perahu, bayangan gaib tersebut menghilang.

Konon, sang wali memang datang dari Sumbawa untuk menyebarkan agama islam di sana. Pada saat perahu yng dibuat oleh Daeng Sallatang sudah selasai, dipakailah perahu tersebut untuk menolong orang orang hanyut. Menurut orang-orang Lemo-lemo, karena kejadian ini maka di Lemo-lemo ditemukan keturunan orang Sumbawa. Mereka dulunya menjadi budak, bahkan ada yang diperjualbelikan. Dari legenda ini orang Lemo-lemo mengklaim bahwa perahu memeng diciptakan langsung oleh nenek moyang mereka (Salman, 1993:40-41).

Karena yang dipercayai sebagai pembuat perahu yang pertama adalah seorang ahli agama islam sehingga beberapa aspek pembuatan perahu menggunakan bahasa arab dalam do’a dan bacaan baik pada saat penebangan pohon kayu maupun pada saat pembuatan perahu yang selalu dihubungkan dengan ajaran islam.

Versi asal usul perahu di Tanah Lemo dan Ara Bulukumba Sulawesi Selatan, maka versi yang sangat terkenal adalah legenda terdampar perahu Sawerigading. Dalam legenda tersebut dikisahkan pada waktu sawerigading jath cinta kepada seorang gadis bernama We Tenri Abeng yang setelah ditelusuri ternyata gadis itu adalah adik kembarnya.

Sawerigading ini adalah putra mahkota kerajaan Luwu. Keinginannya untuk mengawini adik kembarnya menimbulkan amanah Dewan Adat Kerajaan Luwu.

Cinta Sawerigading ini rupanya tidak dapat pula diterima oleh We Tanri Abeng. Dewan Adat Kerajaan Luwu mengancam mereka apabila niat tersebut diteruskan. Agar tidak menimbulkan amarah dari Dewan Adat, maka We Tantri Abeng menyarankan agar Sawerigading menemui seorang gadis yang serupa dengan wajahnya. Gadis tersebut bernama We Cudai, seorang putri raja di negeri Cina (Mangemba,1956:48:59). Sawerigading dengan perasaan berat menerima nasehat adik kembarnya, namun dia tidak bisa berlayar ke negeri Cina karna tidak punya perahu.

We Tanri Abeng menunjukkan sebatang pohon kayu besar yang tumbuh di tengah hutan untuk dijadikan perahu. Ternyata pohon itu tidak dapat ditumbangkan, walau ditebang beberapa hari ditebang beramai-ramai. Dengan perasan iba, We Tanri Abeng mengadu kepada kakeknya La Toge Langi (Batara Guru). Sang kakek menyuruh Sawerigading menunggu di tepi pantai. Dengan kekuatan magis Batara Guru, pohon kayu tersebut kemudian ditelan bumi dan muncul menjadi sebuah perahu di pantai tempat Sawerigading menunggu.

Dalam mitologi Bigis, perahu ini dinamakan I Lawarlenreng (Mukhlis,1989:4). Selanjutnya kisah tersebut menceritakan tentang keberangkatan Sawerigading ke negeri Cina menemui We Cudai dengan menggunakan perahu. Sebelum berangkat Sawerigading bersumpah dihadapan kakeknya, bahwa ia akan kembali lagi ke Luwu.

Akhirnya Sawerigading berhasil menemui We Cudai, gadis yang diceritakan adiknya, namun Raja Cina menolak lamarannya, sehingga terjadilah pertempuran. Sawerigading dapat memenangkan pertempurantersebut dan akhirnya menangawini We Cudai.

Demikianlah dia hidup berkeluarga di negeri Cina beberapa lama, sampai dia rindu untuk kembali ke Luwu, Dengan menggunakan perahu yang dibuat oleh kakeknya dahulu, Sawerigading bersama keluarganya meninggallkan negeri Cina menuju Luwu. Ternyata dia lupa terhadap sumpahnya untuk tidak kembali lagi ke Luwu. Di tengah perjalanan perahu Sawerigading dihantam gelombang dan badai sehingga perahu tersebut hancur bekeping-keping. Perahu Sawerigading yang berkeping-keping terdampar di beberapa pantai.

Lunas perahu dan papan dek (katabang) terdmpar di pantai Lemo-lemo. Tiang layarnya terdampar di pantai Bira. Hal ini yang menyebabkan orang Bira sangat terkenal sebagai pelaut dan pelayar ulung, sedangkan badan perahu terdampar di pantai Ara. Orang-orang Ara mengumpulkan keping-kepingan papan, dimana sebelumnya mereka hanya mampu membuat perahu-perahu kecil dari sebatang pohon yang dikorek (model lesung) dan lepa-lepa (sampan) yang diperlukan nelayan untuk menangkap ikan.

Berdasarkan dari kisah ini, orang Ara dan orang Lemo-lemo percaya behwa seluruh susunan (konstruksi) perahu Sawerigading itu oleh nenek moyang mereka, kemudian dibakukan dan dijadikan pola dasar dari perahu yang sekarang dikenal dengan nama Pinisi (Pelly,1975:11). Antara orang-orang Ara dan orang Lemo-lemo ingin mengaktualisasikan diri sebagai orang yang pertama kali menciptakan perahu, begitu pula sebaliknya orang Ara.

Versi orang-orang Lemo-lemo dan orang Ara berdasar ada legenda yang sama dan kedua desa tersebut bertetangga dengan wilayah kecamatan Bontobahari kabupaten Bulukumba, sehingga unsur budaya tidak perlu dipermasalahkan. Begitu pula jenis perahu yang diproduksi adalah sama, namun dari segi kualitas ditentukan tingkat keahlian masing-masing.

Ada ungkapan bahwa orang Lemo-lemo yang pertama menciptakan perahu, sedang dari luar dikenal bahwa orang Ara adalah ahli pembuat perahu Pinisi dari Bugis. Hal ini dapat diterima, karena orang Ara keluar dari desanya mencari nafkah dan profesi sebagai pengrajin perahu. Ini disebabkan kondisi alam desanya tidak mungkin digarap untuk pertanian.

Dalam beberapa tulisan dari abad terakhir, Ara belum disebut sebagai pusat pembuatan perahu, namun sekelompok orang dari Ujung Tenggara Sulawasi yang disebut Limo-limo telah diperkejakan dalam pembuatan perahu atas penawaran di semua wilayah nusantara.

Dewasa ini pembuat perahu dari konjo yang membuat perahu besar di Kalimantan, Jawa, Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah masih berada di bawah orang Ara (Liebner, 1996:1). Orang Ara dan orang Lemo-lemo adalah serumpun dalam suatu wilayah geografis yang tidak bisa dipisahkan. Kalau orang Ara menerobos ke daerah ke daerah lain untuk mengembangkan karir,sehingga dikenal dengan umum behwa mereka ahli pembuat perahu, merupakan konsekuensi logis dari suatu pengembangan budaya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa baik orang Lemo-lemo maupun orang Ara adalah sama-sama pencipta perahu tradisional yang berasal dari wilayah Kecamatan Bontubahari kabupaten Bulukumba. Masyarakat Tanah Lemo, yang berdiam di wilayah kecamatan Bontohari adalah ahli membuat perahu yang diwarisi pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat dulu kala turun temurun dari nenek moyang mereka.

Keahlian mereka adalah potensi sumber daya manusia yang dijadikan sebagai profesi, sehingga dapat memberikan pendapatan yang layak, guna memenuhi kebutuhan keluarganya. Tokoh utama dalam keahlian membuat perahu tradisional adalah punggawa. Dalam konteks ini, punggawa berfungsi sebagai kepala tukang atau tukang ahli, menujukkan fungsinya secara vertikal mengkoordinir para sawi dan pabo.

Mereka bekerja dengan penuh imajinasi yang tinggi dan sangat dipengaruhi dengan budaya sakral. Keahlian teknis yang dimiliki punggawa san sawi adalah merupkan modal besar baginya untuk menghasilkan produksi yang bagus sekaligus memperoleh penghasilan yang tinggi. Keahlian teknis tersebut meliputi: -Keterampilan teknis: penggunaan alat-alat produksi pertukangan, memasang dan menyambung bagian-bagian/kompoen perahu, penguasaan keseluruhan konstruksi perahu.-Pengukurang danpembuatan pola perahu: pengenalan bentuk setiap bagian/ komponen perahu, kecakapan mengukur dan membuat perahu.

– Meramu perkayuan di hutan: pengenalan hutan, penegenalan jenis dan daya guna kayu untuk setiap bagian perahu dan perhitungan kebutuhan seluruh pekayuan. –Kepemimpinan dalam ramu perkayuan, perencanaan, pengorganisasian, pengawasan dan penilaian (evaluasi). Sedangkan keahlianmagis yang dimiliki oleh punggawa dalam pwmbuatan perahu meliputi: Harus berniat menurut aturannya, mengikuti syarat-syarat agar tidak mengganggu tata tertib alam, berpantang (pamali), pengertian simbol-simbol, pelaksanaan tata ritual, dan pembacaan do’a dan mantra yang diperlukan (Pelly, 1975:48).

Dalam pembuatan perahu pinisi diperlukan seperangkat peralatan pertukangan. Pada masa lampau peralatan yang dipakai dalam pembuatan perahu masih sangat sederhana dan setiap jenis alat mempunyai fungsi dan kegunaan masing-masing.

Alat-alat pertukangan dalam pembuatan perahu adalah sebagai berikut:a) kapak digunakan untuk menebang, memotong dan membentuk bahan perahu sesuai dengan yang diinginkan, b) gergaji digunakan untuk membelah balok kayu yang akan dipakai pada dinding perahu dan lantai perahu, c) pahat digunakan dalam pembuatan perahu adalah membuat lambung serta meratakan pinggir papan atau balok, d) bor digunakan untuk memasang pasok/pen (pasok kayu) juga untuk memperkuat pemasangan papan atau kmponen lain, e) Bingkul (cangkul) digunakan untuk meratakan permukaan perahu atau papan, balok atau persambungan kayu, f) Singkolo digunakan untuk merapatkan antara sisi atau ujung papan, g) Parang digunakan untuk memproduksi paku dan kayu serta beberapa bahan yang dibutuhkan, h) Catok digunakan untuk merapatkan papan pecah atau menarik kayu yang keras mengikuti lengkungan yang dikehendaki, i) Palu digunakan untuk memukul kayu yang sementara dipasang, j) Bassi/Bacci digunakan untuk membuat tanda pada bagian kayu yang akan diluruskan/dibelah, k) Ketam.

Dalam pembuatan perahu di Tanah Lemo bahan-bahan yang digunakan meliputi kayu dan baruk. Untuk digunakan kain, plastik (karoro), tali plastik dan tali ijuk. Bahan lainnya yaitu paku, jarum besar, lem, pasak kayu dan lain-lain. Jumlah bahan-bahan yang digunakan disesuaikan dengan besarnya perahu yang akan dibuat. Bahan baku utama dalam pembuatan perahu adalah kayu.

Kayu yang tidak mudah pecah, kedap air dan daya susutnya relatif kecil. Kayu yang memenuhi persyaratan yaitu kayu suryan (vitec cofussus reinw: Latin, naknasa: Konjo, bitti: Bugis), kayu jati (tecona, grandis :Latin). Bahan-bahan kayu tersebut digunakan untuk bagian perahu yang terbenam dalam air, seperti lunas, sotting dan papan terasa papan keras. Pelaksanaan upacara yang bersifat ritual dalam pembuatan perahu di Tanah Lemo, dilakukan sendiri oleh punggawa.

Itulah sebabnya punggawa sering disebut “panrita lopi” (orang pandai dalam pembuatan perahu). Bila pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat yang baik tersebut sudah ditentukan, pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat seluruh tukang yang akan mengambil bagian pada pembuatan perahu dengan segala perlengkapan sampai di tempat tujuan.

Sambil beristirahat kepala tukang meneliti atau mencari pohon yang akan dijadikan kalebiseang (lunas perahu), sebab kalabiseang inilah yang pertama kali dicari dan ditebang yang dilakukan oleh punggawa. Setelah keseluruhan kayu terkumpul pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat bantilang, maka punggawa mencari hari yang baik dan waktu yang baik untuk memulai pekerjaan pembuatan perahu. Berdasarkan pekerjaan pokok, seluruh pekerjaan pembuatan perahu dapat dibedakan: (a) annattra’ kelebiseang (memotong lunas) ; (b) pemasangan badan perahu, (c) pemasangan rangka (buku/tulang) dan bankengsalara (fondasi tiang layar), (d) pemasangan badan ketabang (dek), ambeng (geladak), kamar,dan (e) pemasangan tiang layar, anjong, guling (kemudi), layar, memasang jangkar, mendempul dan mencet.

Annattara’ Kalebiseang (pemotongan lunas) adalah salah satu kegiatan awal dalam pembuatan perahu yang mengandung unsur ritual. Annattra’ mengandung pengertian memotong ujung lunas untuk disambung dengan kedua penyambung. Lunas dalam perahu tradisional adalah merupakan potongan utama yang diterjemahkan sebagai jiwa perahu (Liebner, 1996:2). Dalam pekerjaan ini, memasang lunas perahu dengan dua peny`ambung merupakan aktifitas ritual yang penting.

Potongan lunas yang berbeda di hilir langsung dilarikan oleh seorang sawi yang dibuang ke laut sebagai tolak bala, sedangkan potongan lunas yang berbeda dihulu dibawa dan disimpan di rumah pemilik perahu. Potongan tersebut dianggap sebagai istri di rumah selama suami (perahu yang berlayar) menuntut rezeki atau mencari nafkah (Caro, 1988:12). Upacara peluncuran perahu ke laut merupakan puncak dalam pembuatan perahu. Dalam upacara ini banyak banyak membutuhkan tenaga dan biaya.

Secara tiknis, untuk mendorong ke laut, perahu pinisi yang bertonase 200 ton, membutuhkan sekitar 200 orang, agar perahu dapat keluar dari bantilang. Banyaknya orang yang datang pada datang pada hari peluncuran dirasakan oleh pemilik perahu sebagai ukuran penghargaan dalam status sosial masyarakatnya.

Ternyata orang-orang desa yang datang ke upacara peluncuran, tidak hanya tidak hanya didorong oleh kekuatan sosial yang ada, tetapi juga karena tertarik kenduri tedong (kerbau) yang dewasa ini merupakan tradisi dalam peluncuran perahu di Tanah Lemo. Upacara peluncuran dipimpin oleh seseorang yang memberikan aba- aba komando dimulai dengan aba-aba persiapan.

laaar lambaaatee. Aba-aba tersebut disambut dengan gemuruh oleh hadirin pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat ucapan . Taratajooo (kami siap). Komando terakhir menggema dengan suara tinggi oooorilailahaaa, kemudian serentak mereka mendorong atau menarik sambil berteriak bersama-sama: hela-hela dan seterusnya, sehingga perahu bergerak sedikit demi sedikit. Apabila perahu bergerak meluncur, istri pemilik perahu dengan beberapa wanita lainnya menaburkan beras ke atas perahu.

Menjelang lunas perahu mencium air, mereka harus mempersiapkan takal (alat peluncur perahu), agar perahu yang yang didorong dapat terus mengapung di laut. Acara ini ditutup dengan kenduri kenduri (makan bersama) di pantai. Keterampilan dan keahlian yang dimiliki oleh punggawa dan para sawi merupakan keahlian yang dipunya oleh masyarakat pedesaan, dalam hal ini masyarakat penggrajin di Tanah Lemo Bulukumba. Keterampilan dan keahlian ini diperoleh melalui pendidikan seumur hidup yang diwarisi dari generasi ke generasi sesuai dengan kebutuhan dalam kehidupannya (Mubyarto, 1985:388).

• ▼ 2013 (13) • ▼ Februari (13) • asal usul perahu pinisi dalam berbagai versi • asal usul perahu pinisi dalam berbagai versi • asal usul perahu pinisi dalam berbagai versi • asal usul perahu pinisi dalam berbagai versi • PROGRAM KERJA prodi Pendidikan Sejarah STKIP Hamza. • PROGRAM KERJA PROGRAM STUDI • Renstra Pendidikan Sejarah STKIP Hamzanwadi Selong • Renstra Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Hamzanwadi .

• Teknik Penyusunan Proposal Penelitian • Silabus Mata Kuliah Sejarah Intelektual • Instrumen Penilaian Pengembangan Kepemimpinan • Perahu Pinisi • Perahu Pinisi Masa praaksara atau nirleka ( nir; tidak ada, leka; tulisan) adalah sebutan terhadap suatu masa ketika manusia belum mengenal aksara atau tulisan.

Di sebut juga masa prasejarah. Meski belum mengenal tulisan, masyarakatnya telah memiliki kemampuan berbahasa dan berkomunikasi lisan serta mampu merekam pengalaman masa lalunya sedemikian rupa sehingga kita sekarang dapat memperoleh gambaran tentang kehidupan masyarakat di masa lalu. Kurun waktu masa praaksara di awali sejak manusia ada pada kala Pleistosen yaitu sekitar 3.000.000 sampai 10.000 tahun yang lalu, dan berakhir ketika manusia mengenal tulisan (masa sejarah).

Dengan demikian, batas antara masa praaksara/prasejarah dan masa pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat adalah mulai di kenalnya tulisan. Berakhir masa prasejarah atau di mulainya masa sejarah untuk setiap bangsa tidak sama, tergantung tingkat peradabannya. Bangsa Mesir, isalnya sudah mengenal tulisan sekitar tahun 4.000 SM itu berarti bangsa mesir pada waktu itu sudah memasuki masa sejarah. Bangsa Cina mengenal tulisan sejak tahun 2.000 SM, dan masa sejarah Cina di mulai sejak saat itu.

Masa praaksara indonesia di perkirakan mulai dari kala Pleistosen sampai sekitar abad ke-5 M. sebagian ahli berpendapat periodenya tidak sepanjang itu, tetapi mulai dari 1,7 juta tahun yang lalu sampai abad ke-5. Mulai abad ke-5 indonesia memasuki masa sejarahhal ini di tunjukan dengan penemuan prasasti berbentuk Yupa di tepi sungai Mahakam, Kuati, Kalimantan Timur. Prasasti tersebut tidak berangka tahun, namun bahasa dan bentuk huruf yang di pakai memberi petunjuk bahwa prasasti itu di buat sekitar tahun 400-an.

Meski demikian, tidak semua wilayah nusantara sudah mengenal tulisan pada sekitar abad tersebut. Pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat masa prasejarah dan di mulainya masa sejarah untuk tiap wilayah di indonesia berbeda-beda.

Hasil Kebudayaan Masyarakat Pra aksara sebagai berikut: • Kebudayaan Pacitan: alat yang ditemukan berupa kapak genggam, serta alat serpih yang masih kasar, yang diperkirakan hasil kebudayaan manusia jenis Meganthropus. • Kebudayaan Ngandong: alat yang ditemukan berupa peralatan yang terbuat dari tulang dan tanduk rusa, yang diperkirakan sebagai alat penusuk, belati, atau mata tombak.

• Kebudayaan Mesolithikum: ditemukannya kebudayaan Kjokkenmoddinger dan kebudayaan abris sous roche. Kjokkenmoddinger merupakan sampah dapur yang berupa tumpukan kulit kerang, yang di dalamnya ditemukan kapak genggam/pebble dan kapak pendek.

Abris sous roche, merupakan hasil kebudayaan yang ditemukan di gua-gua, ditemukan peralatan dari batu yang sudah diasah, serta peralatan dati tulang dan tanduk. Banyak ditemukan di daerah Bojonegoro, Sulawesi Selatan, serta Besuki. • Kebudayaan Neolithikum: Alat yang terkenal dari masa ini adalah kapak persegi dan belinug persegi.

Kapak persegi mirip dengan cangkul, digunakan untuk kegiatan persawahan dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kapak lonjong adalah alat dari batu yang diasah dan berbentuk lonjong seperti bulat telur. Daerah penemuannya di Indonesia timur, seperti Minahasa dan Papua. • Kebudayaan Logam: disebut juga hasil kebudayaan dari masa perundagian, peralatan dari besi,yang berupa beliung, cangkul, mata pisau, mata tombak dan sabit, Gerabah, yakni peralatan yang terbuat dari tanah liat, Pakaian, merupakan pakaian yang terbuat dari kulit kayu, Perhiasan, berupa gelang dan kalung, baik yang terbuat dari batu dan kerang, maupun yang terbuat dari perunggu, Nekara, merupakan tambur yang berbentuk seperti dandang terbalik, digunakan dalam upacara pemujaan, sehingga alat ini di anggap suci.

Banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Sumbawa, Pulau Selayar, Pulau Roti. • Kebudayaan Megalithikum: Menhir, Dolmen, Sarkofagus dan Kubur batu, Punden berundak. proses penting yg pertama dalam evolusi manusia adalah sikap tubuh dan cara bergerak. Sikap tegak merupakan fase yang sangat penting dan memberikan pengaruh besar pada proses evolusi selanjutnya. Sikap tegak dimulai dengan kemampuan duduk tegak, berjalan tegak, dan berakhir dengan berdiri tegak untuk waktu yang lama.

Kemampuan berdiri tegak mempengaruhi pembebasan tangan dari tugas menunjang badan. Akibatnya, tangan dapat digunakan untuk melakukan berbagai pekerjaan yang sebagian besar pekerjaannya berhubungan dengan membuat dan mempergunakan alat, menyelidiki lingkungan, mencari, membawa, mempersiapkan dan menyuap makanan, memelihara kebersihan badan, mempertahankan diri, dan mengasuh anak-anak.

Dari sini kita mulai melihat perbedaan antara manusia dengan hewan primata lainnya; mereka menggunakan mulut untuk melakukan pekerjaan seperti itu, tetapi manusia melakukannya dengan tangan. •
Pinisi, seni pembuatan perahu di Sulawesi Selatan, telah resmi tercatat di badan dunia UNESCO. Pinisi diinskripsi sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity atau Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

Penetapan warisan budaya takbenda berlangsung di Pulau Jeju Korea Selatan dalam sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO, Kamis, 7 Desember 2017. Demikian siaran pers dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang dikirim oleh staf bidang media, Indri Ariefiandi, melalui surat elektronik, Kamis pukul 12.00. Terinskripsinya pinisi di UNESCO ini tentulah menggembirakan setelah perjalanan panjang pergumulan, mulai pengusulan, Â sidang-sidang di tingkat lokal dan nasional, Â penyusunan naskah, Â studi pustaka, Â seminar, Â diskusi, Â konferensi pers, Â dan diseminasi-diseminasi lain.

 Tidak mudah untuk sampai pada tahap ini, mengingat makin ketatnya UNESCO menyeleksi semua usulan yang masuk,  plus pembatasan bagi negara yang warisan budayanya telah banyak diinskripsi. Kebanggaan ini tentu tidak hanya dirasakan tim yang berada di Korsel tapi juga warga Indonesia dan khususnya masyarakat Sulsel.  Inskripsi pinisi ini meningkatkan kesadaran mengenai nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia.

Selain itu juga meningkatkan upaya pelestarian pinisi pada tingkat lokal, nasional, Â maupun internasional. Bersama dengan pinisi, diinskripsi juga antara lain organ craftsmanship and music dari Jerman.

 Selain itu Kumbh Mela, festival keagamaan terbesar dari India yang dilaksanakan 12 tahun sekali. Lalu art of Neapolitan Pizzaiuolo dari Italy,  dan traditional system of Corongo’s water judges dari Peru. Sistem tali-temali Secara harafiah, pinisi atau orang Bugis-Makassar menyebutnya pinisiq, merupakan penamaan untuk tali-temali, tiang, dan layar perahu sekunar Sulawesi.

Akan tetapi bagi masyarakat Indonesia dan bahkan secara internasional, pinisi telah menjadi sebutan popular bagi kebanyakan tipe perahu Nusantara (merujuk dossier Pinisi dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud) Pinisi tidak hanya dikenal sebagai perahu tradisional masyarakat yang tangguh untuk wilayah kepulauan seperti Indonesia, tetapi juga tangguh pada pelayaran internasional. Pinisi menjadi lambang dari teknik perkapalan tradisional negara kepulauan. Pinisi adalah bagian dari sejarah dan adat istiadat masyarakat Sulawesi Selatan dan juga Nusantara.

Baca juga: Karena Rasulullah Hadir? Pengetahuan tentang teknologi pembuatan perahu dengan rumus dan pola penyusunan lambung ini sudah dikenal setidaknya 1500 tahun. Polanya didasarkan atas teknologi yang berkembang sejak 3000 tahun, berdasarkan teknologi membangun perahu lesung menjadi perahu bercadik. Saat ini pusat pembuatan perahu ini ada di wilayah Tana Beru, Bira, dan Batu Licin di Kabupaten Bulukumba. Serangkaian tahapan dari proses pembuatan perahu mengandung nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari, seperti kerja tim, kerja keras, ketelitian/presisi, keindahan, dan penghargaan terhadap alam dan lingkungan.

Konstruksi kapal barang yang terbuat dari kayu masih menggunakan teknik pembuatan perahu tradsional, yang selama berabad-abad telah dikembangkan mulai dari kapal-kapal kecil dengan tiang sampai kapal besar yang dibawa oleh orang-orang Eropa yang masuk ke kepulauan Malaya. Seperti teknik pembuatan perahu tradisional yang lain, teknik yang digunakan dalam pinisi mencakup konsep-konsep canggih dan cetak biru yang menggambarkan bentuk tiga dimensi pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat sebuah perahu beserta berbagai macam komponennya.

Dalam pembuatan perahu di Sulawesi Selatan, teknik ini dikonsepkan dalam penyusunan papan ( tatta), contohnya rangkaian dan susunan kulit perahu dan pasak yang menjadi penyambung papan kulit perahu. Kearifan lokal dalam membangun perahu dengan teknik semacam ini dimiliki oleh panrita lopi, ahli pembuat perahu yang berasal dari etnis Konjo.

Ditransmisikan Pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan pinisi ditransmisikan oleh orang tua kepada anak-anaknya melalui pembiasaan, pemberian contoh, dan pengulangan. Dimulai dari masa kecil, anak-anak dibiasakan bermain di sekitar bantilang (galangan kapal ), menyaksikan para sawi (awak kapal) mengerjakan pembuatan perahu, dan sekali-sekali terlibat membantu sawi melakukan hal-hal sederhana seperti mengambil benda-benda atau peralatan terkait pembuatan perahu.

Saat beranjak remaja, anak masih terlibat dalam proses pembuatan perahu dengan pekerjaan yang lebih besar tanggung jawabnya seperti menjaga api (yang digunakan untuk membengkokkan kayu) atau mengambil air. Kegiatan ini dilakukan setelah mereka pulang sekolah. Dengan cara ini diharapkan dalam diri anak tersebut tumbuh kecintaan dan keingintahuan tentang tata cara pembuatan perahu.

Baca juga: “Malam Sekaten”-nya Hamka Dalam pengetahuan yang diturunkan ini, juga terdapat sistem pembagian kerja dan jenjang karir.

Seseorang yang baru mulai bekerja menjadi pengrajin perahu akan memulai karirnya sebagai tukang masak. Setelah itu dia akan naik menjadi tukang bor dan akan naik lagi menjadi pemasang baut dan pasak.

Semakin meningkat kemampuan pengrajin, dia akan mulai bekerja menjadi tukang potong kayu. Setelah itu, dia akan menjadi perakit papan. Jika semua sudah dijalani, dengan kemampuannya itu, tidak tertutup kemungkinan menjadi panrita lopi.

Seorang panrita lopi akan mengajarkan kepada keturunannya dan pekerja yang potensial tentang pengetahuan dan keahliannya. Pengetahuan dan keahliannya ini baik yang terkait dengan hal teknis pembuatan perahu maupun mantra-mantra dan ritual. Pinisi juga mempunyai fungsi budaya untuk masyarakat yaitu sebagai penjaga keberlangsungan adat istiadat. Setiap tahap pembuatan perahu selalu terkait dengan kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat setempat.

Hal ini terlihat dari upacara-upacara yang dilakukan dalam proses pembuatan perahu, seperti pada saat pemilihan kayu, pemasangan lunas, dan pada saat penentuan pusat perahu sebagai pengharapan atas keselamatan perahu dan manusia di dalamnya.

Ritual-ritual ini juga memperlihatkan adanya keharmonisan antara manusia dengan manusia. Proses pembuatan perahu merupakan representasi proses kelahiran seorang anak. Diawali dengan pemasangan lunas yang melambangkan bersatunya laki-laki dan perempuan dan diakhiri dengan ritual peluncuran perahu yang melambangkan proses kelahiran anak.

Persiapan untuk melakukan pelayaran dan mengarungi samudera bagi perahu ini diibaratkan sebagai orang tua yang mempersiapkan anaknya untuk mengarungi kehidupan. Oleh karena itu, penetapan pinisi menjadi  Warisan Budaya Takbenda UNESCO tidak hanya merupakan bentuk pengakuan dunia internasional terhadap arti penting pengetahuan tradisional, teknik perkapalan tradisional yang dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia. Pengakuan itu juga melibatkan elemen tradisi berupa adat-istiadat, kearifan lokal, memori kolektif sejarah asal-usul, yang kesemuanya itu membangun kebudayaan masyarakat Sulsel.

Delapan elemen Dengan penetapan Pinisi ini, maka Indonesia telah memiliki delapan elemen budaya dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Tujuh elemen yang telah terdaftar sebelumnya adalah wayang (2008), keris (2008), batik (2009), angklung (2010), tari Saman (2011), Â noken Papua (2012), dan tiga genre pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat Tradisional Bali (2015).

Baca juga: Diusulkan Indonesia dan Malaysia Sejak 2016, Pantun Akhirnya Masuk Daftar Warisan Budaya UNESCO Satu lagi pencatatan yang masuk dalam kategori lain adalah program pendidikan dan pelatihan tentang batik di Museum Batik Pekalongan (2009). Program ini ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda bersamaan dengan penetapan batik. Sidang di Jeju berlangsung sejak 4 Desember–9 Desember 2017.

Sidang dihadiri oleh Duta Besar LBBP Prancis, Monaco, dan Andora/Wakil Tetap RI di UNESCO, Hotmangaradja Pandjaitan.

Hadir pula Duta Besar/Deputy Wakil Tetap RI untuk UNESCO, T.A Fauzi Soelaiman. Kasi Pengusulan Warisan Budaya Takbenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hartanti Maya Krishna, Â juga hadir. Maya ini merupakan satu dari anggota tim yang lintang-pukang mengurusi hal-hal teknis administrasi hingga urusan akdemis. Â Wakil Bupati Kabupaten Bulukumba, Tomy Satria Yulianto, juga hadir beserta tim delegasi Indonesia.

Dalam sidang tersebut, 24 negara anggota komite membahas enam nominasi untuk kategori List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding. Dibahas pula 35 nominasi untuk kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity dari 175 negara yang sudah meratifikasi konvensi 2003 UNESCO. Sekretariat ICH UNESCO menggarisbawahi tentang perlunya Indonesia membuat program untuk tetap menjaga ketersediaan bahan baku bagi keberlanjutan teknologi tradisional, dalam bentuk perahu berbahan baku utama kayu.

Sidang juga menilai perlunya program-program melalui pendidikan formal, informal dan nonformal terkait dengan transmisi nilai tentang teknik dan seni pembuatan perahu tradisional, khususnya untuk generasi muda. Hotmangaradja Pandjaitan dalam siaran pers mengatakan, komunitas dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengusulan Pinisi ke dalam daftar ICH UNESCO.

Hal ini menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah serta komunitas.

Semua pihak dapat memberikan perhatian lebih dalam pengelolaan warisan budaya takbenda yang ada di wilayahnya masing-masing, terutama bagi pengembangan pengetahuan. (***)
KOMPAS.com - Pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat moyangku seorang pelaut. Gemar mengarung luas samudra.

Menerjang ombak tiada takut. Menempuh badai sudah biasa.

Kamu pasti pernah mendengar penggalan lagu tersebut? Dikenal sebagai negara maritim, Indonesia punya sejarah panjang tentang budaya dan transportasi laut yang digunakan leluhur bangsa. Tahukah kamu, salah satu suku yang terkenal dan akrab dengan lautan adalah suku Bugis.

Bugis merupakan suku yang terletak di wilayah selatan Pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Bagi para siswa, yuk belajar mengenai suku Bugis dan perahu pinisi yang legendaris. Merangkum dari laman Direktorat SMP Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ( Kemendikbud Ristek), Jumat (4/2/2022), suku Bugis dikenal sebagai suku yang andal dan juga piawai mengarungi lautan hingga samudra di Nusantara maupun dunia. Baca juga: Calon Mahasiswa, Simak Syarat, Cara Daftar dan Keunggulan KIP Kuliah Ciri perahu pinisi Masyarakat Bugis menaklukan lautan dengan modal sebuah perahu legendaris, yakni perahu pinisi.

Perahu pinisi adalah perahu layar tradisional khas masyarakat Bugis. Ciri khas dari perahu pinisi ialah memiliki dua tiang utama serta tujuh buah layar. Tiga layar berada di bagian depan, dua di bagian tengah, dan dua di bagian belakang. Dalam naskah Lontarak I Babad La Lagaligo, perahu pinisi sudah ada sejak abad ke-14 M.

Pada naskah tersebut, diceritakan perahu ini pertama kali dibuat oleh putra mahkota Kerajaan Luwu yang bernama Sawerigading. Sawerigading membuat perahu pinisi dari pohon welengreng (pohon dewata) yang dikenal cukup kuat dan kokoh.

Perahu ini dibuat oleh Sawerigading untuk melakukan perjalanan menuju Tiongkok. Baca juga: Aturan Kemendikbud Terkini, Ortu Boleh Pilih Anak Ikut PTM atau PJJ Sejarah perahu pinisi Pinisi adalah hasil kebudayaan berupa perahu dari masyarakat berminat mempersunting seorang putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Setelah sekian lama ia menikahi We Cudai dan menetap di Tiongkok, Sawerigading ingin pulang ke kampung halamannya.

Singkat cerita ia pun menaiki perahu buatannya untuk kembali ke Luwu. Namun, ketika berada di dekat Pantai Luwu perahu Sawerigading menghantam ombak hingga terpecah. Pecahan-pecahan perahu Sawerigading terdampar ke tiga tempat di wilayah Kabupaten Bulukumba, yaitu di Kelurahan Ara, Tana Beru, dan Lemo-lemo.

Berita Terkait Prof Nizam: Isu Masuk PTN lewat Jalur Belakang Itu Bohong Aturan Kemendikbud Terkini, Ortu Boleh Pilih Anak Ikut PTM atau PJJ Pakar UM Surabaya: Guru Lakukan Kekerasan Bisa Ganggu Psikologi Siswa Beasiswa S1 Bakti Tani 2022, Dapat Uang Pendidikan Rp 6 Juta Calon Mahasiswa, Simak Syarat, Cara Daftar dan Keunggulan KIP Kuliah Berita Terkait Prof Nizam: Isu Masuk PTN lewat Jalur Belakang Itu Bohong Aturan Kemendikbud Terkini, Ortu Boleh Pilih Anak Ikut PTM atau PJJ Pakar UM Surabaya: Guru Lakukan Kekerasan Bisa Ganggu Psikologi Siswa Beasiswa S1 Bakti Tani 2022, Dapat Uang Pendidikan Rp 6 Juta Calon Mahasiswa, Simak Syarat, Cara Daftar dan Keunggulan KIP Kuliah

Inside Indonesia-Hikayat Lelaki Pinisi




2022 charcuterie-iller.com