Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Berakhirnya kekuasaan ali bin abi thalib menandakan lahirnya masa kepemimpinan baru dalam islam yang berpola dinasti atau kerajaan ataupun yang biasa kita sering dengar yaitu Daulah.

Dalam sistemnya, bentuk pemerintahan Daulah ataupun kerajaan cenderung bersifat feodal dan turun temurun. Berbeda dengan sebelumnya, yaitu pada masa pemerintahan Khulafaurrasyidin yang mana dalam pemilihan pemimpin nya menggunakan wasiat, yaitu pada saat terpilihnya Abu Bakar yang diwasiatkan oleh nabi dan dengan pembaiatan.

Setelah masa Khulafaurrasyidin benar-benar berakhir yang ditandai dengan terbunuhnya khalifah terakhir, Ali bin Abi Thalib. Muncul lah Daulah-daulah baru yang berdiri.

sejak tahu 661 M kekuasaan politik mulai di genggam oleh daulah-daulah tertentu, dimulai dari Daulah Umayyah di Damaskus, di ikuti dengan Daulah Abbasyiah di Baghdad, dan sampai ke daulah yang terakhir yaitu Daulah Turki Ustmaniah. Tentunya dalam setiap daulah memiliki sistem politik dan pemerintahan yang berbeda-beda, Lantas bagaimanakah sistem politik dan pemerintahan pada masa pemerintahan Daulah Umayyah, Daulah Abbasyiah dan daulah terkahir yaitu daulah Turki Ustmania?

Sistem politik dan pemerintahan Daulah Umayyah Dalam Artikel ini akan membahas bagaimana sistem politik dan pemerintahan Daulah Umayyah, Daulah Abbasyiah, dan daulah yang terakhir yaitu Daulah Ustmaniah. Dimulai dari daulah yang pertama yaitu Daulah Umayyah. Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. Umayyah merupakan Daulah atau dinasti islam pertama yang didirikan oleh Mu'awiyah Bin Abi Sufyan. Daulah ini berdiri tahun (661-750 M).

Perintisan dinasti ini dilakukan dengan cara menolak pembaiatan terhadap Ali bin Abi Thalib. kemudian ia memilih berperang dan melakukan perdamaian dengan pihak Ali bin Abi thalib, dengan strategi politik yang sangat menguntungkan di pihaknya. Jatuhnya Ali bin Abi Thalib dan naiknya Mu'awiyah juga disebabkan oleh keberhasilan pihak Khawarij (kelompok yang menentang dari Ali bin Abi Thalib) membunuh Ali bin Abi Thalib, meskipun kemudian tampak kekuasaan dipegang oleh putranya, Hasan, namun tanpa dukungan yang kuat dan kondisi politik yang kacau, akhirnya kepemimpinannya pun hanya bertahan sampai beberapa bulan.

Setelah Daulah Bani Umayyah berdiri, adapun langkah pertama yang dilakukan oleh Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. bin Abi Sufyan adalah memindahkan ibu kota pemerintahan islam dari Madinah ke kota Damaskus di wilayah Suriah. Selain itu, ia juga mengatur tentara dengan cara baru, yaitu dengan meniru aturan yang ditetapkan oleh tentara Byzantium, membangun administrasi pemerintahan, dan menetapkan aturan kiriman pos.

Baca juga: Daulah Abbasiyah: Puncak Perkembangan Kebudayaan dan Pemikiran Islam Gaya kepemimpinan yang digunakan oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan sangat bertolak belakang dengan sistem pemerintahan pada zaman Khulafaurrasyidin.

Pada masa ini, sistem pemerintahan yang digunakan adalah sistem Demokrasi, yaitu sistem pemerintahan berasaskan musyawarah dalam mengambil keputusan dan pemilihan pemimpin dilakukan oleh rakyat. Â Â Â Â Â Â Diantara kebijakan yang dilakukan oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan pada masa pemerintahanya ialah sebagai berikut: • Pembentukan diwanul hijabah, yaitu sebuah lembaga yang bertugas yang memberikan pengawalan terhadap pemimpinnya.

• Pembentukan diwanul khatam, yaitu lembaga yang bertugas mencatat semua peraturan yang dikeluarkan oleh pemimpinnya dalam berita acara pemerintah. • Pembentukan diwanul barid, yaitu departemen pos dan transportasi, yang bertugas menjaga pos-pos perjalanan dan menyediakan kuda sebagai alat transportasi.

• Pembentukan shahibul kharraj (pemungut pajak). Masa pemerintahan Bani Umayyah dikenal sebagai masa yang agresif, dimana perhatiannya bertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang sudah terhenti sejak zaman khulafaurrasyidin terakhir. Dalam jangka waktu 90 tahu, banyak bangsa di setiap arah penjuru mata angina beramai-ramai masuk kedalam kekuasaan islam, yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syria, Palestina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, Afganistan, India, dan negeri-negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kirgiztan, yang termasuk Soviet Rusia.

Dalam bidang politik, Bani Umayyah menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru, untuk memenuhi tuntutan perkembangan wilayah dan administrasi kenegaraan yang semakin kompleks.

Selain majelis penasihat sebagai pendamping, Bani Umayyah juga dibantu oleh beberapa sekertaris guna membantu pelaksanaan tugasnya, yaitu: • Kati bar-rasail, yaitu sekertaris yang bertugas menyelenggarakan administrasi dan surat menyurat dengan para pembesar setempat.

• Katib al-kharrar, yaitu sekertaris yang bertugas menyelenggarakan penerimaan dan pengeluaran negara. • Katib al-jundi, yaitu sekertaris yang bertugas menyelenggarakan berbagai hal yang berkaitan dengan ketentaraan. • Katibasy-syurtah, yaitu sekertaris yang bertugas menyelenggarakan pemelihraan keamanan dan ketertiban umum.

• Katib al-qudat, yaitu sekertaris yang bertugas menyelenggarakan tertib hukum melalui badan-badan peradilan dan hakim setempat.

Al Azhar Pada Masa Dinasti Ayyubiyah Dinasti Fatimiyah yang bermadzhab syiah berakhir, kekuasaannya digantikan oleh dinasti Ayyubiyah yang bermadzhab sunni. Pergantian tersebut berdampak pula pada perkembangan sejarah al Azhar. Salahuddin al Ayyubi juga mengeluarkan kebijakan untuk perkembangan al Azhar, antara lain: Al Azhar tidak boleh digunakan untuk darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

jumat dan kegiatan madrasah. Alasannya, pada masa Dinasti Fatimiyah Al Azhar dijadikan pusat pengembangan ajaran syiah. Di luar itu, Salahudin juga menunjuk seorang qadi, Sadrudin Abdul Malik bin Darabas menjadi Qadi tertinggi, yang berhak mengeluarkan fatwa fatwa hukum madzhab Syafi'i.

salah satu fatwanya adalah melarang umat islam saat itu shalat jumat di Masjid Al Azhar. Sahalat hanya boleh di masjid al Hakim. Alasannya, masjid al Hakim lebih luas, selain itu madzhab syafi'I melarang dua kutbah jumat dalam satu kota yang sama.

Masjid al Azhar tidak dipakai untuk Shalat Jumat dan kegiatan pendidikan sekitar 100 tahun. Dimulai semenjak Salahudin berkuasa (1121-1267 M) sampai dihidupkan kembali dihidupkan kembali oleh Sultan Malik al Zahir Baybars dari Dinasti Mamluk yang berkuasa atas Mesir.

Meskipun al Azhar ditutup untuk shalat juma'at dan madrasah masa dinasti Ayyubiyah, tidak berarti kegiatan keagamaan dan pendidikan tidak berkembang.

Salahudin memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan. Ia membangun madrasah di hamper setiap wilayah kekuasaannya. Ia bahkan mendirikan pendidikan tinggi (kulliyat) dan universitas. Sekitar 25 kulliyat didirikan pada masanya. Di antaraa kulliyat yang terkenal adalah : Manazil al Izza, Al Kulliyat al 'Adiliyyah, al Kulliyat al Arsufiyah, al Kulliyat al Fadiliyah, al Kuliyat al Azkasyiyah, dan al Kulliyat al "Asuriyah. Nama nama tersebut umumnya dinisbahkan kepada para pendirinya.

Meskipun ada larangan untuk tidak menggunakan Al Azhar sebagai pusat kegiatan madrasah, masjid tersebut tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh para murid dan gurunya, hanya sebagian saja dari mereka yang meninggalkan al Azhar. Pada masa pemerintahan Malik Al Aziz Imadudin Usman (putra Salahudin), tepatnya tahun 1193 M/ 589 H, datang seorang ulama bernama Abdul Latif al Baghdadi.

Ia mengajar di al Azhar selama Malik al Aziz berkuasa. Materi yang diajarkan al Baghdadi meliputi ilmu mantiq dan Bayan. Kedatangan al Baghdadi menambah semangat beberapa ulama yang masih menetap di al Azhar. Ulama itu antara lain : Ibu Al farid (ahli sufi terkenal), syekh Abu Al Qasim al manfaluti, syikh Jamal al Din al Asyuyuti, syeikh Shahab al din al Sahruri, dan Syams al Din bin khalikan (ahli sejarah yang mengarang kitab Wafiyat al 'ayan). Selain mengajar mantiq dan bayan, al baghdadi juga mengajar hadis dan fikih.

Materi tersebut diajarkannya di pagi hari, sementara pelajaran kedokteran dan ilmu lainnya diberikan saiang hingga sore hari. Ini merupakan upaya al Baghdadi untuk mengenalkan lebih jauh madzhab sunni.

Dinasti Ayyubiyah merupakan penguasa yang setia kepada kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Acuan kebijakan pemerintahannya berkiblat ke Baghdad yang bermadzhab Sunni. Al Azhar dijadikan acuan salah satu lembaga strategis dalam pembelajaran, penyebaran, dan pengembangan ajaran atau madzhab Sunni.
Puncak kejayaan Dinasti Ayyubiyah berlangsung di masa kekhalifahan Salahuddin al-Ayyubi.

Ia dikenal sebagai panglima perang yang gagah berani dan disegani, juga seorang yang sangat memperhatikan kemajuan pendidikan. Dinasti Ayyubiyah pun mencapai kemajuan dalam bidang perdagangan dan perindustrian. Lebih jelasnya kita simak berikut ini. Nuruddin berhasil merenovasi dinding-dinding pertahanan kota, menambahkan beberapa pintu gerbang dan menara, membangun gedung-gedung pemerintahan yang masih bias digunakan hingga kini, juga mendirikan madrasah pertama di Damaskus terutama untuk pengembangan Ilmu Hadis.

Madrasah ini terus berkembang dan menyebar ke seluruh pelosok Suriah. Madrasah yang didirikan Nuruddin di Aleppo (Halb), Emessa, Hamah, dan Ba’labak mengikuti mazhab Syafi’i. Madrsah tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masjid atau disebut sekolah masjid. Namun demikian, madrasah ini secara formal, yaitu menerima murid-murid dan mengikuti model madrasah yang dikembangkan masa Dinastu Nizamiyah. Pada bangunan monumen-monumen, Nuruddin menorehkan seni menulis indah (kaligrafi).

Prasasti-prasasti yang ditulisnya menjadi daya tarik para ahli paleografi (ilmu tulisan kuno) Arab. Sejak saat itu, diperkirakan seni kaligrafi Arab bergaya Kufi muncul dan berkembang. Kaligrafi gaya Kufi kemudian diperbaharui dan melahirkan gaya kaligrafi Naskhi. Salah satu Prasasti yang masih biasa dilihat dan dibaca sampai saat ini terdapat ddi menara Benteng Aleppo. Menurut catatan orang Suriah dan Hittiyah, benteng pertahanan tersebut merupakan mahakarya arsitektur Arab kuno.

Berkat jasa Nuruddin, keberadaannya terus dipertahankan, dipelihara, dan direnovasi hingga sekarang. Makam Nuruddin sendiri yang terletak di akademi Damaskus al-Nuriyah, hingga kini juga masih dihormati dan diziarahi. Pada masa Nuruddin, fungsi masjid dikembangkan sebagai lembaga pendidikan atau sekolah di Suriah. Bahkan pada pemerintahan selanjutnya, lahir suatu tradisi baru yaitu pemakaman para pendiri sekolah masjid di bawah kubah kuburan yang mereka dirikan, baik masa Dinasti Ayyubiah maupun masa Pemerintahan Dinasti Mamluk.

Salahuddin al-Ayyubi juga mencurahkan perhatian pada bidang pendidikan dan arsitektur. Ia memperkenalkan pendidikan madrasah ke berbagai wilayah yang dikuasainya, seperti ke Yerusalem, Mesir dan lain-lain. Ibnu Jubayr (1145-1217 M), seorang ahli geografi menyebutkan bahwa terdapat beberapa madrasah di kota Iskandariah. Madrasah terkemuka dan terbesar berada di Kairo yang memakai namanya sendiri, yaitu Madrasah al-Salahiyah. Di samping mendirikan sejumlah madrasah, Salahuddin Yusuf al-Ayyubi juga membangun dua rumah sakit di Kairo.

Rancangan bangunannya mengikuti model Rumah Sakit Nuriyah di Damaskus. Ciri khasnya adalah tempat pengobatan yang sekaligus dijadikan sekolah kedokteran. Salah seorang dokter terkenal yang menjadi dokter pribadi Salahuddin bernama Ibnu Maymun, meskipun ia beragama Yahudi. Dalam hal perekonomian, Dinasti Ayyubiah bekerja sama dengan penguasa Muslim di wilayah lain, membangun perdagangan dengan kota-kota di Laut Tengah dan Laut Hindia, juga menyempurnakan sistem perpajakan.

Saat itu, jalur perdagangan Islam dengan dunia internasional semakin ramai, baik melalui jalur darat maupun jalur laut. Hal itu juga membawa pengaruh bagi negara Eropa dan negara-negara yang dikuasainya. Selain itu, dunia perdagangan sudah menggunakan mata uang yang terbuat dari emas dan perak (dinar dan dirham), termasuk pengenalan mata uang dari tembaga yang disebut fulus. Percetakan fulus dimulai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad al-Kamil bin al-'Adil al-Ayyubi. Fulus disediakan sebagai alat tukar untuk barang yang nilainya kecil.

Ketika itu, setiap 1 dirham setara dengan 48 fulus. Pada masa pemerintahan Salahuddin, kekuatan militernya terkenal sangat tangguh. Pasukannya bahkan diperkuat oleh pasukan Barbar, Turki, dan Afrika. Mereka sudah menciptakan alat-alat perang, pasukan berkuda, pedang, dan panah. Dinasti ini juga memiliki burung elang sebagai mata-mata dalam peperangan.

Salahuddin telah membangun monumen berupa tembok kota di Kairo dan Muqattam, yaitu Benteng Qal'al Jabal atau lebih dikenal dengan Benteng Salahuddin al-Ayyubi, yang sampai hari ini masih berdiri dengan megahnya. Benteng ini terletak disekitar Bukit Muqattam, berdekatan dengan Medan Saiyyidah Aisyah. Ide pembangunan benteng merupakan hasil pemikirannya sendiri yang terwujud tahun 1183 M.

Bahkan untuk pondasi benteng diambilkan dari bebatuan pada Piramid di Giza. Benteng ini bahkan dikelilingi pagar yang tinggi dan kokoh. Benteng Qa'al Jabal memiliki beberapa pintu utama, diantaranya pintu Fath, pintu Nasr, pintu Khalk, dan pintu Luq. Di benteng ini terdapat pula saluran air yang berasal dari sungai Nil. Saluran air itu pernah menjadi tempat minum para tentara. Di bagian utara benteng terdapat Masjid Muhammad Ali Pasha yang terbuat dari marmar dan granit. Dalam kawasan benteng, terdapat juga Muzium Polis, Qasrul Jawhara (Muzium permata) yang menyimpan perhiasan raja-raja Mesir.

Sementara itu, Mathaf al-Fan al-Islami (Muzium Kesenian Islam) yang terletak di pintu Khalk, menyimpan ribuan barang yang melambangkan kesenian Islam semenjak zaman Nabi Muhammad Saw, termasuk surat Rasulullah Saw kepada penguasa Mesir bernama Maqauqis untuk memeluk Islam. • ► 2019 (45) • ► April (7) • ► March (22) • ► February (6) • ► January (10) • ► 2018 (29) • ► February (20) • ► January (9) • ► 2017 (23) • ► December (1) • ► November (10) • ► October (9) • ► January (3) • ▼ 2016 (174) • ► December (9) • ► November (1) • ► October (11) • ► September (22) • ► August (17) • ► July (34) • ▼ June (49) • Ragam Bahasa Indonesia, Fungsi dan Sifatnya.

• Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Politik Nasional. . • Asal Mula Bahasa Indonesia dan Proses Perkembangan. • Budaya Politik Partisipan dalam Bentuk Konvensiona. • Pengertian Ketahanan Nasional dalam Mewujudkan Cit. • Pengertian Geostrategi, dan Pendapat para Ahli ten. • Pengertian Sosialisasi Politik, Pendapat para Ahli.

• Budaya Politik yang Berkembang di Negara Indonesia. • Tipe Budaya Politik di Indonesia, Sikap Politik da. • Pengertian Budaya Politik, Menurut Para Ahli, Obje. • Respons Manusia Terhadap Penyakit, Stadium Penyaki. • Syarat-Syarat Penyembelihan yang Syar'i Menurut Tu.

• Haramnya Bangkai, Darah, Daging Babi, Binatang Dis. • Malaikat Izrail, Malaikat Maut/Malaikat Pencabut n. • Malaikat di Sekitar Kita, Malaikat Pencatat Amal B.

• Sanggama Terputus Cara Tradisional dan Efektif unt. • Pengertian Demokrasi, Pendapat Para Ahli, Model De. • Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia, Orde Lama, Ord. • Proses Demokrasi Menuju Masyarakat Madani, Pendapa. • Konsep Dasar HAM, Negara Hukum dan HAM, Hak-Hak As. • Pernyataan Hak Asasi Manusia Sedunia, HAM di Indon. • Sejarah Perkembangan Hak Asasi Manusia dan Macam-M.

• Pengertian dan Hakekat Hak Asasi Manusia • Sikap dan Penampilan Profesional, Kepribadian, Pen. • Pengertian Profesi dan Profesional, Menurut Bebera. • Pengertian Profesi, Pendapat Para Ahli, Ciri-ciri . • Al-Kisah Tiga Malam di Gua Tsur • Sistem Politik Islam, Prinsip Dasar Siasah, Prinsi.

• Konsep Kebudayaan Islam, Sejarah Intelektual Islam. • Konsep Masyarakat Madani, Dalam Mewujudkan Masyara. • Kerukunan Antar Umat Beragama, Islam Rahmat bagi S. • Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni Dalam Islam . • Pengertian Etika, Moral, dan Akhlak. Etika Islam. . • Definisi, Makna Komunikasi, Pendapat para Ahli, Ko. • Negara Kita adalah Negara Jadi-Jadian! • Negara-Negara Yang Menganut Sistem Pemerintahan Pr.

• Pengertian Sistem Pemerintahan, Presidensial dan P. • Pancasila sebagai Paradigma Pembangunan di Seluruh. • Pancasila sebagai Sumber Nilai, Ciri-Ciri Nilai, S. • Pengertian Ideologi Pancasila, Pendapat para Ahli. • Kedudukan Pancasila sebagai Dasar Negara, Kepribad. • Pengertian Pancasila, Pendapat Para Ahli, dan Pros.

• Pengertian Hukum,Sistem, Tujuan dan Fungsi, serta . • Hakikat dan Pengertian Norma Serta Macam-macam Nor. • Beberapa Ilmuwan/Ulama Sufi Pada Masa Ayyubiah dan.

• Kemajuan Dinasti Ayyubiyah dalam Bidang Pendidikan. • Penguasa Ayyubiyah Terkenal, Salahuddin Al-Ayyubi . • Tokoh-tokoh Terkenal di Bidang Filsafat Islam dan .

• Tokoh-tokoh Terkenal di Bidang Filsafat Islam dan . • ► May (24) • ► April (6) • ► March (1) • Alemannisch • العربية • مصرى • Asturianu • Azərbaycanca • تۆرکجه • Беларуская • Български • বাংলা • Bosanski • Català • Čeština • Dansk • Deutsch • Zazaki • Ελληνικά • English • Esperanto • Español • Euskara • فارسی • Suomi • Français • Galego • עברית • Magyar • Italiano • 日本語 • Jawa • ქართული • Қазақша • Kurdî • Latina • Ladino • Lietuvių • Latviešu • Malagasy • മലയാളം • Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

Melayu • مازِرونی • Nederlands • Norsk nynorsk • Norsk bokmål • Polski • Română • Русский • Scots • سنڌي • Srpskohrvatski / српскохрватски • Simple English • Slovenščina • Српски / srpski • Svenska • தமிழ் • Тоҷикӣ • Türkçe • Українська • Oʻzbekcha/ўзбекча • Tiếng Việt • 吴语 • 中文 • Bân-lâm-gú 1 Salah satu cabang dinasti Ayyubiyah memerintah Hasankeyf sampai awal abad ke-16.

2 Jumlah penduduk wilayah Ayyubiyah tidak diketahui. Angka ini hanya mencakup penduduk Mesir, Suriah, Irak utara, Palestina, dan Yordania. Wilayah Ayyubiyah lainnya, termasuk Yaman, Hijaz, Nubia, dan Libya timur, tidak termasuk dalam hitungan.

3 Bahasa Kurdi adalah bahasa ibu Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. Ayyubiyah, tetapi dari akhir abad ke-12 dan seterusnya, para penguasa Ayyubiyah menuturkan bahasa Arab secara fasih dan sudah meninggalkan bahasa Kurdi.

Dinasti Ayyubiyah atau Bani Ayyubiyah ( bahasa Arab: الأيوبيون‎ al-Ayyūbīyūn; bahasa Kurdi: خانەدانی ئەیووبیان Xanedana Eyûbiyan) adalah sebuah dinasti Muslim Sunni beretnis Kurdi [4] [5] [6] yang didirikan oleh Salahuddin Ayyubi dan berpusat di Mesir. Dinasti tersebut memerintah sebagian besar wilayah Timur Tengah pada abad ke-12 dan ke-13.

Salahuddin mulai menjabat sebagai wazir di Mesir, pusat kekuasaan Kekhalifahan Fatimiyah yang berhaluan Syiah pada tahun 1169. Ia kemudian melengserkan Dinasti Fatimiyah pada tahun 1171. Tiga tahun kemudian, setelah kematian atasannya dari Dinasti Zankiyah, Nuruddin Zanki, Salahuddin dinyatakan sebagai sultan. [7] Dalam kurun waktu satu dasawarsa kemudian, Ayyubiyah mengobarkan perang penaklukan di wilayah Timur Tengah.

Pada tahun 1183, mereka telah menguasai Mesir, Syam, Mesopotamia utara, Hijaz, Yaman, dan pesisir Afrika Utara hingga mencapai perbatasan Tunisia modern. Sebagian besar wilayah Tentara Salib, termasuk Kerajaan Yerusalem jatuh ke tangan Salahuddin setelah ia berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang dalam Pertempuran Hittin pada tahun 1187.

Namun, Tentara Salib berhasil merebut kembali wilayah pesisir Palestina pada dasawarsa 1190-an. Setelah Salahuddin menjemput ajalnya pada tahun 1193, putra-putranya saling memperebutkan kekuasaan. Pada akhirnya adik Salahuddin yang bernama al-Adil berhasil menjadi sultan pada tahun 1200.

Semua sultan Ayyubiyah di Mesir pada masa selanjutnya adalah keturunannya. Pada dasawarsa 1230-an, amir-amir (para penguasa kecil) di Syam mencoba memisahkan diri dari Mesir, dan Kesultanan Ayyubiyah pun terpecah hingga Sultan as-Salih Ayyub berhasil menyatukannya kembali dengan menaklukkan sebagian besar wilayah Syam (kecuali Aleppo) pada tahun 1247.

Pada masa yang sama, dinasti-dinasti Muslim setempat telah mengusir Ayyubiyah dari Yaman, Hijaz, dan sebagian wilayah Mesopotamia. Setelah as-Salih Ayyub tutup usia pada tahun 1249, al-Mu'azzam Turansyah menggantikannya di Mesir. Namun, al-Mu'azzam Turansyah dilengserkan tidak lama kemudian oleh para panglima Mamluk yang sebelumnya berhasil menghalau serangan Tentara Salib ke Delta Nil.

Maka kekuasaan Dinasti Ayyubiyah di Mesir pun berakhir. Upaya para amir Syam (yang dipimpin oleh an-Nasir Yusuf dari Aleppo) untuk merebut kembali Mesir juga tidak membuahkan hasil.

Pada tahun 1260, bangsa Mongol menjarah Aleppo dan kemudian menaklukkan wilayah-wilayah Ayyubiyah yang tersisa. Kesultanan Mamluk berhasil mengusir bangsa Mongol dan membiarkan seorang penguasa Ayyubiyah berkuasa di Hamat sampai penguasa terakhir wilayah tersebut dilengserkan oleh Mamluk pada tahun 1341. Walaupun tidak bertahan lama, Dinasti Ayyubiyah telah memajukan ekonomi wilayah yang mereka kuasai.

Mereka juga mendukung para cendekiawan dan mendirikan fasilitas-fasilitas pembelajaran yang diperlukan oleh mereka, sehingga mereka berhasil membangkitkan kembali kegiatan keilmuwan di dunia Islam. Selain itu, Dinasti Ayyubiyah berupaya memperkuat dominasi Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. di wilayah mereka dengan mendirikan sejumlah madrasah di kota-kota besar. Daftar isi • 1 Sejarah • 1.1 Asal muasal • 1.2 Pendirian di Mesir • 1.3 Perluasan wilayah • 1.3.1 Penaklukan Afrika Utara dan Nubia Utara • 1.3.2 Penaklukan Arabia Barat • 1.3.3 Penaklukan Syam dan Mesopotamia • 1.3.4 Penaklukan Palestina dan Transyordania • 1.3.5 Perang Salib Ketiga • 1.4 Perebutan kekuasaan • 1.5 Perpecahan • 1.5.1 Lepasnya berbagai wilayah dan penyerahan Yerusalem • 1.5.2 Perpecahan Syam-Mesir • 1.5.3 Kembalinya persatuan • 1.6 Kejatuhan • 1.6.1 Kebangkitan Mamluk dan lepasnya wilayah Mesir • 1.6.2 Kekuasaan Aleppo • 1.6.3 Kemerdekaan Karak • 1.6.4 Serangan bangsa Mongol dan kejatuhan Dinasti Ayyubiyah • 1.7 Sisa-sisa dinasti • 2 Pemerintahan • 2.1 Struktur • 2.2 Pusat pemerintahan • 3 Demografi • 3.1 Agama, etnis, dan bahasa • 3.2 Jumlah penduduk • 4 Ekonomi • 5 Pendidikan • 6 Ilmu pengetahuan • 7 Arsitektur • 8 Catatan kaki • 9 Daftar pustaka • 10 Pranala luar Sejarah Asal muasal Leluhur dinasti Ayyubiyah adalah Najmuddin Ayyub bin Syadi dari suku Rawadiyah yang beretnis Kurdi.

Suku tersebut merupakan salah satu cabang konfederasi Hadzabani. Keluarga Rawadiyah bermukim di kota Dvin, Armenia utara. [4] Mereka adalah kelompok Kurdi yang paling berkuasa di wilayah Dvin dan juga merupakan golongan elit politik dan militer di kota tersebut. [4] Hari-hari kejayaan mereka sirna ketika para panglima Turki merebut kota Dvin. Syadzi bin Marwan meninggalkan kota tersebut bersama dengan dua putranya, Najmuddin Ayyub dan Asaduddin Syirkuh.

[4] Temannya yang bernama Mujahiduddin Bihruz (gubernur militer Mesopotamia utara yang berada di bawah Dinasti Seljuk) menyambutnya dan mengangkatnya sebagai gubernur Tikrit. Setelah Syadi mangkat, Ayyub menggantikannya dengan bantuan dari saudaranya, Syirkuh.

Mereka memerintah kota tersebut bersama-sama, dan warga kota pun menyukai mereka. [8] Sementara itu, Imaduddin Zanki, penguasa Mosul, dikalahkan oleh Abbasiyah di bawah darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. Khalifah al-Mustarsyid dan Bihruz.

Saat ia sedang mencoba melarikan diri ke Mosul melalui Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …., Zanki bernaung di tempat Ayyub dan memohon bantuan kepadanya.

Ayyub bersedia membantunya dan ia menyediakan kapal-kapal kepada Zangi dan para pengikutnya agar mereka dapat menjangkau kota Mosul dengan mengarungi Sungai Tigris. [9] Abbasiyah kemudian mencoba menghukum Ayyub karena mereka telah membantu Zanki.

Pada saat yang sama, Syirkuh membunuh orang kepercayaan Bihruz akibat tuduhan bahwa orang tersebut telah melakukan penyerangan seksual terhadap seorang wanita di Tikrit. Istana Abbasiyah mengeluarkan perintah penangkapan Ayyub dan Syirkuh. Namun, sebelum kedua kakak beradik tersebut dapat ditangkap, mereka meninggalkan Tikrit dan pergi ke Mosul pada tahun 1138. [9] Setibanya di Mosul, Zangi mempekerjakan mereka dan menyediakan segala fasilitas yang mereka perlukan.

Ayyub diangkat menjadi komandan Baalbek dan Syirkuh mengabdi kepada anak laki-laki Zangi, Nuruddin. Menurut sejarawan Abdul Ali, keluarga Ayyubiyah bangkit menjadi keluarga yang berpengaruh berkat perlindungan dari Zanki. [9] Pendirian di Mesir Salahuddin Ayyubi, pendiri Dinasti Ayyubiyah Pada tahun 1164, Syirkuh ditugaskan oleh Nuruddin Zanki untuk memimpin pasukan ke Mesir agar Tentara Salib tidak dapat memperkuat pengaruhnya di wilayah yang sedang dilanda kekacauan tersebut.

Syirkuh mengangkat anak laki-laki Ayyub, Salahuddin, sebagai seorang perwira yang tunduk kepadanya. [10] Mereka berhasil mengusir Wazir Dirgham dan mengembalikan wazir Mesir yang sebelumnya, Syawar, ke tampuk kekuasaan. Syawar kemudian memerintahkan agar Syirkuh dan pasukannya mundur dari Mesir, tetapi Syirkuh menolak dan mengklaim bahwa Nuruddin ingin agar ia tetap berada di sana.

[11] Dalam kurun waktu beberapa tahun, Syirkuh dan Salahuddin berhasil mengalahkan pasukan gabungan Tentara Salib dan Syawar, mula-mula di Bilbais dan kemudian di sebuah tempat di dekat Giza. Salahuddin sendiri ditugaskan untuk mempertahankan kota Iskandariyah ketika Syirkuh sedang mengejar Tentara Salib di Mesir Hilir. [12] Syawar tutup usia pada tahun 1169 dan Syirkuh menggantikannya sebagai wazir, tetapi ia menjemput ajalnya pada tahun yang sama.

[13] Salahuddin kemudian diangkat sebagai wazir oleh khalifah Fatimiyah al-Adid karena "tidak ada yang lebih lemah ataupun lebih muda" daripada Salahuddin, dan "tidak ada satu pun amir yang menurutinya atau mengabdi kepadanya", seperti yang dicatat oleh penulis kronik Muslim dari Abad Pertengahan, Ibnu al-Atsir.

[14] Salahuddin kemudian menyadari bahwa kedudukannya menjadi lebih bebas daripada sebelum-sebelumnya, dan hal ini membuat khawatir Nuruddin yang ingin tetap menancapkan pengaruhnya di Mesir. Nuruddin mencoba memicu perpecahan di keluarga Ayyubiyah dengan mengizinkan kakak laki-laki Salahuddin, Turansyah, untuk mendatangi Mesir dan mengawasi Salahuddin.

Nuruddin juga memenuhi permintaan Salahuddin agar ayahnya, Ayyub, diperbolehkan pergi ke Mesir. Ayyub sebenarnya dikirim oleh Nuruddin agar Mesir tunduk kepada Kekhalifahan Abbasiyah, sementara Salahuddin enggan melakukan hal tersebut karena ia sedang mengabdi sebagai wazir Dinasti Fatimiyah.

Walaupun Nuruddin gagal memicu permusuhan di antara anggota keluarga Ayyubiyah, kerabat jauh keluarga tersebut (khususnya sejumlah gubernur di Syam) tidak mendukung Salahuddin.

[15] Salahuddin mengukuhkan kekuasaannya di Mesir setelah ia mengirim Turansyah untuk memadamkan sebuah pemberontakan di Kairo yang dikobarkan oleh pasukan Nubia yang berjumlah 50.000 orang dan merupakan bagian dari tentara Fatimiyah. Sesudah itu, Salahuddin mulai mengangkat anggota keluarganya sebagai pejabat tinggi, dan ia juga memperkuat pengaruh Sunni di kota Kairo yang didominasi oleh Syiah pada masa itu dengan memerintahkan pembangunan madrasah fikih bermazhab Maliki di kota tersebut dan satu madrasah lain yang bermazhab Syafi'i di Fusthath.

[16] Pada tahun 1171, al-Adid wafat dan Salahuddin memanfaatkan kesempatan ini dengan mengambil alih kekuasaan di Mesir.

Setelah itu, ia menyatakan kesetiaannya kepada Kekhalifahan Abbasiyah yang beraliran Sunni dan berpusat di Baghdad. [10] Perluasan wilayah Penaklukan Afrika Utara dan Nubia Utara Salahuddin mendatangi kota Iskandariyah pada tahun 1171–72. Walaupun ia memiliki banyak pendukung di kota tersebut, pada kala itu ia sedang menghadapi kesulitan keuangan. Pertemuan dewan keluarga kemudian diadakan di kota tersebut, dan mereka pun memutuskan bahwa mereka akan mengirim al-Muzhaffar Taqiuddin Umar (keponakan Salahuddin) sebagai darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

ekspedisi militer ke wilayah pesisir Barqa ( Kirenaika) di sebelah barat Mesir dengan pasukan yang hanya terdiri dari 500 pasukan berkuda. Untuk membenarkan penyerangan tersebut, mereka mengirim surat kepada suku-suku Badui di Barqa yang mengecam mereka karena mereka telah melakukan perampokan terhadap para musafir. Surat tersebut juga menuntut agar mereka membayar zakat hewan ternak.

[17] Pada akhir tahun 1172, kota Aswan dikepung oleh para mantan prajurit Fatimiyah dari Nubia. Gubernur Aswan yang bernama Kanz ad-Dawlah (mantan loyalis Fatimiyah) memohon bantuan kepada Salahuddin, dan Salahuddin pun mengabulkan permohonan tersebut.

Bala bantuan dari Salahuddin baru datang setelah pasukan Nubia sudah meninggalkan Aswan, tetapi pasukan Ayyubiyah yang dipimpin oleh Turansyah terus bergerak hingga mereka berhasil merebut kota Ibrim dan menaklukkan Nubia utara.

Turansyah dan prajurit-prajurit Kurdinya untuk sementara berdiam di tempat tersebut.

Dari Ibrim, mereka menjarah wilayah-wilayah sekitar, dan mereka baru menghentikan serangan mereka setelah menerima usulan gencatan senjata dari raja Nubia yang berkuasa dari Dongola.

Meskipun Turansyah awalnya menanggapinya dengan agresif, ia kemudian mengirim utusan ke Dongola. Utusan tersebut menjabarkan bagaimana Nubia merupakan wilayah yang miskin. Oleh sebab itu, Dinasti Ayyubiyah (seperti pendahulu mereka, Fatimiyah) tidak mencoba memperluas wilayahnya ke selatan, tetapi mereka menuntut Nubia untuk menjaga Aswan dan Mesir Hulu. [18] Garnisun Ayyubiyah di Ibrim kemudian ditarik pulang ke Mesir pada tahun 1175. [19] Pada tahun 1174, Syarifuddin Qaraqusy, seorang komandan yang mengabdi kepada al-Muzaffar Umar, berhasil menaklukan Tharabulus dari bangsa Norman dengan mengerahkan pasukan yang terdiri dari prajurit Turki dan Badui.

[17] [20] Kemudian, ketika pasukan Ayyubiyah sedang disibukkan oleh perang melawan Tentara Salib di wilayah Syam, pasukan Ayyubiyah yang dipimpin oleh Syarafuddin berhasil merebut kota Kairouan dari Muwahhidun pada tahun 1188. [17] Penaklukan Arabia Barat Pada tahun 1173, Salahuddin mengirim Turansyah untuk menaklukkan Yaman dan Hijaz.

Penulis Muslim Ibnu al-Atsir dan kemudian al-Maqrizi menyatakan bahwa Ayyubiyah mencoba menaklukkan Yaman karena mereka ingin menjadikan wilayah tersebut sebagai tempat pelarian apabila Mesir jatuh ke tangan Nuruddin. Pada Mei 1174, Turansyah merebut Zabid dari tangan sebuah dinasti Khawarij, dan ia juga menghukum mati pemimpinnya, Mahdi Abdulnabi. Pada tahun yang sama, ia juga merebut kota Aden dari Banu Karam yang beraliran Syiah.

[21] Aden kemudian menjadi pelabuhan utama Dinasti Ayyubiyah di pesisir Samudera Hindia sekaligus kota utama di Yaman, [22] meskipun ibu kota resmi Yaman di bawah kekuasaan Ayyubiyah darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

Ta'iz. [23] Semenjak kekuasaan Ayyubiyah, kota tersebut memasuki zaman kesejahteraan berkat pembangunan infrastruktur, pendirian lembaga-lembaga baru, dan pencetakan koin tersendiri. [22] Maka dari itu, Ayyubiyah memberlakukan pajak baru yang dikumpulkan oleh kapal-kapal galai.

[24] Turansyah menaklukkan Sana'a dan mengusir para penguasa Hamdaniyah dari kota pegunungan tersebut pada tahun 1175. [21] Setelah menguasai Yaman, Dinasti Ayyubiyah membentuk sebuah armada pesisir, al-asakir al-bahriyya, yang mereka manfaatkan untuk mempertahankan wilayah pesisir dari serangan perompak.

[25] Penaklukan yang dilancarkan oleh Ayyubiyah sangat berdampak terhadap Yaman, karena Ayyubiyah berhasil menyatukan tiga negara yang sebelumnya merdeka (Zabid, Aden, dan Sana'a).

Namun, saat gubernur Turansyah dipindahkan dari Yaman pada tahun 1176, pemberontakan meletus di wilayah tersebut, dan pemberontakan ini baru dapat dipadamkan pada tahun 1182 setelah Salahuddin mengangkat saudaranya yang lain, Tughtakin Saif al-Islam, sebagai gubernur Yaman. [21] Sementara itu, na'ib (wakil gubernur) Ayyubiyah di Yaman, Utsman Az-Zanjili, menaklukkan banyak wilayah di Hadramaut pada tahun 1180.

[26] Dari Yaman (dan juga dari Mesir), Ayyubiyah mencoba menguasai jalur dagang Laut Merah dan memperkuat kendali di wilayah Hijaz, yang merupakan tempat berdirinya sebuah pelabuhan dagang penting yang disebut Yanbu. [27] Untuk mendukung perdagangan di Laut Merah, Ayyubiyah membangun fasilitas-fasilitas untuk pada pedagang di sepanjang jalur dagang Laut Merah- Samudera Hindia.

[28] Dinasti Ayyubiyah juga mencoba memperkuat klaim mereka sebagai kekhalifahan dengan menegakkan kedaulatan atas kota-kota suci Islam di Mekkah dan Madinah.

[27] Secara keseluruhan, penaklukan dan kemajuan ekonomi yang diprakarsai oleh Salahuddin berhasil mengukuhkan hegemoni Mesir di wilayah Arabia barat. [28] Penaklukan Syam dan Mesopotamia Walaupun secara resmi masih menjadi vasal Nuruddin, Salahuddin memberlakukan kebijakan luar negeri yang semakin independen. Kemerdekaan ini semakin menjadi jadi setelah kematian Nuruddin pada tahun 1174. [10] Salahuddin lalu merebut wilayah Syam dari tangan Dinasti Zankiyah, dan pada 23 November, ia disambut di Damaskus oleh gubernur kota tersebut.

Pada tahun 1175, ia merebut Hamat dan Homs, namun tidak berhasil menguasai kota Aleppo setelah sempat melancarkan pengepungan. [29] Kendali atas kota Homs diserahkan kepada keturunan Syirkuh pada tahun 1179, sementara kota Hamat diberikan kepada keponakan Salahuddin, al-Muzaffar Umar.

[30] Keberhasilan Salahuddin membuat takut Amir Saifuddin dari Mosul yang merupakan kepala Dinasti Zankiyah pada masa itu. Ia menganggap Syam sebagai wilayah keluarganya, dan ia juga marah setelah mendengar kabar bahwa wilayah tersebut direbut oleh bekas bawahan Nuruddin. Ia mengerahkan pasukannya untuk melawan Salahuddin di dekat Hamat.

Meskipun kalah jumlah, Salahuddin dan para prajurit veterannya berhasil mengalahkan pasukan Zankiyah. [29] Setelah itu, ia menyatakan dirinya sebagai raja dan menggantikan penyebutan nama ash-Shalih Ismail al-Malik (putra Nuruddin yang masih remaja) dalam doa salat Jumat dan dalam uang-uang logam dengan namanya sendiri. Khalifah Abbasiyah al-Mustadi menyambut keberhasilan Salahuddin dan memberinya gelar "Sultan Mesir dan Syam".

[31] Pada musim semi tahun 1176, Dinasti Zankiyah dan Ayyubiyah kembali berseteru, kali ini di Tall Sultan yang berjarak 15 km dari Aleppo. Salahuddin berhasil memenangkan pertempuran tersebut, tetapi Saifuddin masih dapat melarikan diri. Pasukan Ayyubiyah kemudian menaklukkan kota-kota lainnya di Syam, yakni Ma'arat an-Numan, A'zaz, Buza'a, dan Manbij. Walaupun mereka gagal merebut kota Aleppo selama pengepungan kedua, Ayyubiyah menandatangani sebuah perjanjian yang menyatakan bahwa gubernur Aleppo Gumushtigin dan sekutu-sekutunya di Hisn Kayfa dan Mardin mengakui Salahuddin sebagai penguasa berdaulat di Syam, dan sebagai gantinya Gumushtigin dan as-Salih al-Malik diperbolehkan melanjutkan kekuasaan mereka di Aleppo.

[32] Saat Salahuddin sedang berada di Syam, Mesir diperintah oleh saudaranya, al-Adil. [33] Pada tahun 1174–75, Kanz ad-Dawlah dari Aswan memberontak melawan Ayyubiyah karena ia ingin membangkitkan lagi Dinasti Fatimiyah.

Ia mendapatkan dukungan dari suku-suku Badui setempat dan juga dari orang-orang Nubia, serta dari kelompok-kelompok lain seperti orang Armenia. Pada saat yang sama (entah kebetulan atau memang disengaja), para pemberontak yang dipimpin oleh Abbas bin Syadzi berhasil menguasai kota Qus di tepi Sungai Nil di Mesir tengah.

Kedua pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh al-Adil. [34] Pada akhir tahun 1175 dan awal tahun 1176, Qaraqusy terus melakukan penjarahan di Afrika Utara bagian barat, sehingga Dinasti Ayyubiyah mulai berkonflik dengan Muwahhidun yang berkuasa di wilayah Maghrib. [17] Pada tahun 1177, Salahuddin memimpin pasukan yang berjumlah sekitar 26.000 orang (menurut seorang penulis kronik dari pihak Tentara Salib, Willelmus Tyrensis) ke wilayah Palestina selatan setelah ia mendengar kabar bahwa sebagian besar prajurit Kerajaan Yerusalem sedang mengepung kota Harim di sebelah utara Aleppo.

Pasukannya tiba-tiba diserang oleh Kesatria Kenisah (yang dipimpin oleh Baudouin IV dari Yerusalem) di dekat Ramla. Akibatnya, pasukan Ayyubiyah mengalami kekalahan dalam Pertempuran Montgisard dan sebagian besar dari antara mereka gugur dalam pertempuran tersebut. Pada tahun berikutnya, Salahuddin dan pasukannya berkemah di Homs, dan lalu terjadi pertempuran-pertempuran kecil antara pasukannya (yang dipimpin oleh Farrukhsyah) melawan Tentara Salib.

[35] Salahuddin tetap tak gentar dan ia lalu menyerbu negara-negara Tentara Salib dari barat dan mengalahkan Baudouin dalam Pertempuran Marj Ayyun pada tahun 1179. Pada tahun berikutnya, ia darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. kastil Chastellet (yang baru saja dibangun oleh Tentara Salib) dalam Pertempuran Arungan Yakub.

Kemudian, selama perang yang berlangsung pada tahun 1182, Salahuddin kembali berhadapan dengan pasukan Baudouin dalam Pertempuran Kastil Belvoir di Kaukab al-Hawa. [36] Pada Mei 1182, Salahuddin akhirnya berhasil merebut kota Aleppo setelah melakukan pengepungan singkat; gubernur kota tersebut, yakni Imaduddin Zanki II, tidak disukai oleh bawahan-bawahannya, dan ia menyerahkan Aleppo kepada Salahuddin setelah Salahuddin menyatakan kesediaannya untuk mengembalikan kekuasaan Zanki II di Sinjar, Raqqa, dan Nusaibin.

Zanki II kemudian menjadi vasal Ayyubiyah. [37] Aleppo secara resmi jatuh ke tangan Ayyubiyah pada tanggal 12 Juni. Sehari setelahnya, Salahuddin dan pasukannya bergerak ke kota Harim (terletak di dekat Antiokhia yang dikuasai Tentara Salib) dan merebut kota tersebut setelah garnisunnya menjatuhkan pemimpinnya, Surhak. [38] Setelah jatuhnya Aleppo dan tunduknya Zanki II kepada Salahuddin, Izzuddin al-Mas'ud dari Mosul menjadi satu-satunya seteru Muslimnya yang tersisa di kawasan ini.

Mosul sempat dikepung pada musim gugur tahun 1182, tetapi Salahuddin kemudian menarik pasukannya setelah konflik tersebut ditengahi oleh khalifah Abbasiyah an-Nasir. Mas'ud mencoba mendekatkan dirinya dengan Dinasti Artuklu dari kota Mardin, tetapi dinasti tersebut malah bersekutu dengan Salahuddin. Pada tahun 1183, kota Irbil juga berbalik memihak Ayyubiyah. Mas'ud kemudian mencari dukungan dari Pahlawan bin Muhammad, gubernur Azerbaijan.

Walaupun Pahlawan bin Muhammad biasanya tidak ikut campur di wilayah Mesopotamia, kemungkinan bahwa ia dapat membantu Mas'ud di Mosul membuat Salahuddin menjadi lebih berhati-hati. [39] Kemudian dibuat sebuah kesepakatan darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. menyatakan bahwa al-Adil akan memerintah Aleppo atas nama putra Salahuddin, al-Afdhal, sementara Mesir akan diperintah oleh al-Muzaffar Umar darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

nama putra Salahuddin yang lain, Utsman. Setelah dua putra tersebut beranjak dewasa, mereka akan memegang kekuasaan di masing-masing wilayah mereka, tetapi jika salah satu dari mereka ada yang mangkat, maka salah satu dari dua bersaudara tersebut akan menguasai semuanya.

[40] Pada musim panas tahun 1183, setelah menyerang wilayah Galilea timur, penyerangan-penyerangan yang dilancarkan oleh Salahuddin mencapai puncaknya dalam Pertempuran al-Fulah di Lembah Jezreel. Pertempuran tersebut melibatkan pasukan Salahuddin melawan Tentara Salib yang dipimpin oleh Guy dari Lusignan.

Pertempuran tersebut tidak membuahkan hasil bagi kedua belah pihak dan kedua belah pihak pun mundur. Saat Tentara Salib sedang membahas urusan dalam negeri, pasukan Salahuddin merebut Dataran Tinggi Golan dan memutus jalur persediaan utama Tentara Salib. Pada Oktober 1183 dan kemudian pada 13 Agustus 1184, Salahuddin dan al-Adil mengepung Karak yang dikuasai oleh Tentara Salib, tetapi tak dapat menaklukkannya.

Setelah itu, pasukan Ayyubiyah menyerbu Samaria dan membakar kota Nablus. Salahuddin kembali ke Damaskus pada September 1184 dan hubungan antara Ayyubiyah dengan Tentara Salib relatif damai pada tahun 1184–1185. [41] Salahuddin melancarkan serangan terakhir ke Mosul pada akhir tahun 1185. Ia berharap agar dapat memenangkan pertempuran tersebut dengan mudah, tetapi serangan tersebut gagal akibat perlawanan yang sengit dari pihak Mosul.

Selain itu, Salahuddin juga jatuh sakit, sehingga ia harus mundur ke Harran. Atas desakan Abbasiyah, Salahuddin dan Mas'ud merundingkan sebuah perjanjian pada Maret 1186 yang membiarkan Dinasti Zankiyah menguasai kota Mosul, tetapi sebagai gantinya mereka diwajibkan memberikan bantuan militer kepada Ayyubiyah apabila diminta.

[39] Penaklukan Palestina dan Transyordania Seluruh wilayah Kerajaan Yerusalem jatuh ke tangan Ayyubiyah setelah mereka berhasil memenangkan Pertempuran Hittin pada tahun 1187. Salahuddin mengepung Tiberias di Galilea timur pada 3 Juli 1187, sementara Tentara Salib berupaya menyerang pasukan Ayyubiyah di Kafr Kanna.

Setelah mendengar kabar mengenai pergerakan Tentara Salib, Salahuddin dan gardanya kembali ke perkemahan utama mereka di Kafr Sabt. Mereka hanya menyisakan pasukan yang kecil jumlahnya di Tiberias. Mereka dapat melihat dengan jelas posisi Tentara Salib, dan Salahuddin kemudian memerintahkan kepada al-Muzaffar Umar untuk menempatkan pasukan di dekat Lubya agar Tentara Salib tidak dapat memasuki kota Hittin, sementara Gokbori dan pasukannya ditempatkan di sebuah bukit dekat asy-Syajarah.

Pada tanggal 4 Juli, Tentara Salib bergerak menuju Tanduk Hittin dan menyerang pasukan Muslim, tetapi mereka dikalahkan dalam sebuah pertempuran besar.

Empat hari seusai pertempuran, Salahuddin mengajak al-Adil untuk turut serta dalam upaya penaklukan kembali Palestina. Pada tanggal 8 Juli, benteng Tentara Salib di Akko direbut oleh Salahuddin. Pasukannya juga berhasil merebut Nazaret, Saffuriya, Haifa, Kaisarea, Sebastia, dan Nablus, sementara pasukan al-Adil menaklukkan Mirabel dan Jaffa. Pada tanggal 26 Juli, Salahuddin kembali ke wilayah pesisir, dan kota Sarepta, Sidon, Beirut, dan Jableh kemudian menyerah kepadanya.

[42] Pada bulan Agustus, Ayyubiyah menaklukkan Ramlah, Darum, Gaza, Bait Jibrin, dan Latrun. Ashkelon direbut pada tanggal 4 September. [43] Pada September–Oktober 1187, Ayyubiyah mengepung Yerusalem. Setelah sempat berunding dengan Balian d'Ibelin, kota tersebut diserahkan kepada Salahuddin pada tanggal 2 Oktober. [44] Karak dan Mont Real di Transyordania juga jatuh ke tangan Salahuddin, yang kemudian disusul oleh Safad di Galilea timur laut.

Pada akhir tahun 1187, Ayyubiyah telah menguasai semua wilayah Kerajaan Yerusalem di Syam kecuali kota Tirus yang dipertahankan oleh Conrad dari Montferrat. Pada Desember, kota Tirus dikepung oleh pasukan Ayyubiyah yang terdiri dari garnisun Salahuddin dan saudara-saudaranya dari Aleppo, Hamat, dan Mesir. Setengah dari armada angkatan laut Muslim direbut oleh pasukan Conrad pada 29 Desember, dan kemudian pasukan Ayyubiyah juga berhasil dihalau di daerah pesisir kota tersebut.

[45] Perang Salib Ketiga Paus Gregorius VIII menyerukan Perang Salib Ketiga melawan kaum Muslimin pada awal tahun 1189.

Friedrich Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci, Philippe Auguste dari Prancis, dan Richard I dari Inggris membentuk persekutuan dengan tujuan untuk menaklukkan kembali Yerusalem. Tentara Salib bertarung melawan pasukan Ayyubiyah di dekat Akko pada tahun yang sama, dan bala bantuan dari Eropa kemudian tiba. Dari tahun 1189 hingga 1191, Akko dikepung oleh Tentara Salib.

Meskipun pasukan Muslim pada awalnya cukup berhasil, kota tersebut pada akhirnya jatuh ke tangan pasukan Raja Richard. Kemudian terjadi pembantaian 2.700 warga Muslim, dan Tentara Salib lalu berencana merebut Ashkelon di selatan. [46] Tentara Salib yang darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. oleh Raja Richard berhasil mengalahkan Salahuddin dalam Pertempuran Arsuf, alhasil Tentara Salib dapat menaklukkan Jaffa dan sebagian besar wilayah pesisir Palestina, tetapi mereka tak dapat merebut kembali wilayah-wilayah pedalaman.

Raja Richard lalu menandatangani sebuah perjanjian dengan Salahuddin pada tahun 1192 yang mendirikan kembali Kerajaan Yerusalem di wilayah pesisir yang terletak di antara Jaffa dan Beirut. Perang ini merupakan perang besar terakhir pada masa hidup Salahuddin, dan ia menjemput ajalnya satu tahun kemudian pada tahun 1193. Perebutan kekuasaan Selama kiprahnya di Timur Tengah, Salahuddin tidak pernah mendirikan sebuah kerajaan yang terpusat. Sistem yang ia dirikan adalah kepemilikan turun temurun yang ia bagi-bagi kepada kerabat-kerabatnya, sehingga mereka mengendalikan wilayah-wilayah semiotonom.

[10] Meskipun para amir di Dinasti Ayyubiyah setia kepada sultan, mereka memiliki kebebasan tersendiri di wilayahnya. [47] Setelah kematian Salahuddin, az-Zhahir memperoleh kota Aleppo dari al-Adil sesuai dengan kesepakatan. al-Aziz Utsman menguasai Kairo, sementara putra sulung Salahuddin, al-Afdhal, tetap mengendalikan wilayah Damaskus, [48] yang juga mencakup Palestina dan sebagian besar daerah Gunung Lebanon.

[49] Al-Adil kemudian memperoleh wilayah al-Jazira (Mesopotamia Hulu), dan di situ ia berhasil menahan rongrongan Dinasti Zankiyah di Mosul. Pada tahun 1193, Mas'ud dari Mosul bekerja sama dengan Zanki II dari Sinjar dan pasukan mereka mencoba menaklukkan al-Jazira. Namun, sebelum pasukan mereka dapat mewujudkan misi mereka, Mas'ud jatuh sakit dan kembali ke Mosul.

al-Adil kemudian memaksa Zanki II untuk langsung berdamai sebelum Dinasti Zankiyah kehilangan semakin banyak wilayah kepada Ayyubiyah. [39] Sementara itu, putra Al-Adil yang bernama al-Mu'azzam berkuasa di Karak dan Transyordania. [48] Putra-putra Salahuddin kemudian saling memperebutkan wilayah Ayyubiyah. Salahuddin sebelumnya telah mengangkat al-Afdhal sebagai pemimpin wilayah Damaskus dengan tujuan agar putranya tetap menganggap kota tersebut sebagai tempat tinggal utamanya, sehingga ia dapat terus mengutamakan jihad melawan negara-negara Tentara Salib.

Namun, al-Afdhal mendapati bahwa posisinya di Damaskus justru malah merugikan dirinya. Beberapa amir yang sebelumnya tunduk kepada ayahnya meninggalkan kota tersebut dan mendatangi Kairo untuk meminta Utsman agar ia menjatuhkan al-Afdhal dengan alasan bahwa al-Afdhal adalah seorang pemimpin yang tidak berpengalaman.

Al-Adil kemudian meminta Utsman untuk mengambil tindakan agar ketidakcakapan al-Afdhal tidak membahayakan Dinasti Ayyubiyah. Maka dari itu, pada tahun 1194, Utsman secara terbuka menuntut jabatan sultan. Wilayah Damaskus lalu diserang beberapa kali pada tahun 1196, sehingga al-Afdhal terpaksa meninggalkan wilayah tersebut dan harus puas dengan jabatan yang lebih rendah di Salkhad.

Di Damaskus, Al-Adil menjadi letnan Utsman, dan ia menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di Dinasti Ayyubiyah. [49] Setelah Utsman meninggal akibat kecelakaan saat berburu di dekat Kairo, al-Afdhal kembali menjadi sultan (meskipun putra Utsman, al-Manshur, sempat menjadi pemegang gelar penguasa di Mesir) saat al-Adil sedang sibuk berperang di timur laut.

Sekembalinya dari sana, al-Adil berhasil menduduki Benteng Damaskus, tetapi kemudian menghadapi serangan dari pasukan gabungan al-Afdhal dengan saudaranya, az-Zahir dari Aleppo. Pasukan gabungan tersebut pada akhirnya bubar, dan pada tahun 1200, al-Adil kembali melancarkan serangan. [50] Pada saat yang sama, dua klan mamluk (prajurit budak) ikut terlibat dalam konflik.

Kedua klan tersebut adalah Asadiya dan Salahiya, dan anggota dari kedua klan tersebut sebelumnya dibeli oleh Syirkuh dan Salahuddin. Salahiya mendukung al-Adil dalam perang melawan al-Afdhal. Berkat dukungan dari mereka, al-Adil dapat menaklukkan Kairo pada tahun 1200 [51] dan mengasingkan al-Afdhal. [50] Ia lalu menyatakan dirinya sebagai Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

Mesir dan Syam dan memercayakan wilayah Damaskus kepada al-Mu'azzam serta wilayah al-Jazira kepada putranya yang lain, al-Kamil. [51] Selain itu, pada sekitaran tahun 1200, seorang syarif yang bernama Qatadah bin Idris merebut kekuasaan di Mekkah dan diangkat sebagai amir di kota tersebut oleh al-Adil.

[27] Al-Afdhal berupaya merebut kembali Damaskus untuk yang terakhir kalinya, tetapi upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Al-Adil memasuki kota tersebut pada tahun 1201.

[50] Semenjak itu, pemerintahan Ayyubiyah dikuasai oleh garis keturunan al-Adil dan bukan lagi oleh garis keturunan Salahuddin. [50] Namun, az-Zhahir masih menguasai kota Aleppo, sementara kota Samosata di Anatolia diberikan kepada al-Afdhal. [51] Al-Adil membagi-bagi wilayahnya kepada anak-anaknya: al-Kamil akan menggantikannya di Mesir, al-Asyraf akan memperoleh al-Jazira, dan al-Awhad dianugerahi kawasan Diyar Bakr, tetapi kawasan tersebut kemudian diberikan kepada al-Asyraf setelah kematian al-Awhad.

[51] Kapal-kapal Tentara Salib menyerang menara di Dimyath pada tahun 1218 Al-Adil dimusuhi oleh penganut mazhab Hanbali di Damaskus karena ia dianggap telah menghiraukan Tentara Salib dan hanya pernah mengobarkan satu kampanye militer melawan mereka.

Al-Adil meyakini bahwa Tentara Salib tidak dapat dikalahkan dalam pertempuran secara langsung. Upaya untuk menjaga kesatuan koalisi Muslim juga sulit untuk dilakukan selama kampanye-kampanye militer yang panjang. Pada masa kekuasaan al-Adil, wilayah Ayyubiyah bertambah secara perlahan, khususnya dengan memperluas kekuasaan Ayyubiyah di al-Jazira dan Armenia. Dinasti Abbasiyah pada akhirnya mengakui jabatan al-Adil sebagai sultan pada tahun 1207.

[50] Tentara Salib melancarkan kampanye militer pada tanggal 3 November 1217 yang dimulai dengan sebuah serangan terhadap kawasan Transyordania. Al-Mu'azzam mendesak al-Adil untuk melancarkan sebuah serangan balasan, tetapi ia menolak usulan putranya.

[52] Pada tahun 1218, benteng Dimyath di Delta Nil dikepung oleh Tentara Salib. Walaupun Dimyath memiliki perbentengan yang kuat, kota tersebut akhirnya menyerah pada tanggal 25 Agustus. Enam hari kemudian, al-Adil wafat karena ia sangat terguncang setelah mendengar kabar jatuhnya kota Dimyath.

[53] Al-Kamil menyatakan dirinya sebagai sultan di Kairo, sementara saudaranya al-Mu'azzam mengklaim takhta di Damaskus. Al-Kamil berupaya merebut kembali Dimyath, tetapi serangannya dipukul mundur oleh pasukan Jean dari Brienne. Setelah mendengar kabar mengenai upaya persekongkolan terhadapnya, ia melarikan diri, sehingga pasukan Mesir tidak memiliki pemimpin.

Hal ini menimbulkan kekacauan, tetapi al-Kamil berhasil menyatukan kembali pasukannya berkat bantuan dari al-Mu'azzam. Namun, pada saat itu, Tentara Salib sudah merebut perkemahannya. Pemerintah Ayyubiyah lalu membuat tawaran kepada Tentara Salib: wilayah Palestina akan dikembalikan kepada Kerajaan Yerusalem (kecuali benteng Mont Real dan Karak) asalkan mereka mau mundur dari Dimyath.

[54] Tawaran ini ditolak mentah-mentah oleh pemimpin Perang Salib Kelima, Pelagius dari Albano. Walaupun begitu, pada tahun 1221, Tentara Salib mundur dari wilayah Delta Nil setelah pasukan Ayyubiyah berhasil memenangkan pertempuran di Mansura. [10] Perpecahan Lepasnya berbagai wilayah dan penyerahan Yerusalem Al-Kamil (kanan) bertemu dengan Kaisar Friedrich II (kiri). Gambar berasal dari Nuova Cronica, pertengahan abad ke-14.

Di sebelah timur, Dinasti Khwarezmia di bawah kepemimpinan Jalauddin Mingburnu merebut kota Khilat dari tangan al-Asyraf. [55] Sementara itu, Dinasti Rasuliyah (yang sebelumnya merupakan bani yang setia) mulai mengambil alih wilayah Ayyubiyah di Arabia. Pada tahun 1222, Dinasti Ayyubiyah mengangkat pemimpin Rasuliyah Ali bin Rasul sebagai gubernur Mekkah. Pemerintahan Ayyubiyah di Yaman dan Hijaz sendiri terus melemah, dan gubernur Yaman Ayyubiyah, Mas'ud bin Kamil, terpaksa bertolak ke Mesir pada tahun 1223.

Untuk mengisi kekosongan, ia mengangkat Nuruddin Umar sebagai wakilnya. [56] Pada tahun 1224, sebuah dinasti al-Yamani berhasil menguasai wilayah Hadramaut.

Kendali Ayyubiyah di wilayah itu sendiri memang lemah akibat kesulitan dalam memerintah wilayah utama Yaman. [26] Kemudian, setelah wafatnya Mas'ud bin Kamil pada tahun 1229, Nuruddin Umar mengangkat dirinya sebagai penguasa Yaman yang merdeka dan tidak lagi membayarkan upeti tahunan kepada pemerintah Ayyubiyah di Mesir.

[56] Dinasti Ayyubiyah juga masih menghadapi ancaman dari Eropa. Kaisar Friedrich II mengobarkan Perang Salib Keenam yang berupaya memanfaatkan perselisihan antara al-Kamil dari Mesir dengan al-Mu'azzam dari Syam. [10] Al-Kamil kemudian menawarkan kota Yerusalem kepada Friedrich untuk menghindari serangan Syam ke Mesir, tetapi Friedrich menolak tawaran tersebut mentah-mentah.

Posisi Al-Kamil menguat setelah al-Mu'azzam tutup usia pada tahun 1227 dan digantikan oleh putranya, an-Nasir Dawud. Al-Kamil melanjutkan perundingan dengan Friedrich II di Akko pada tahun 1228, dan akhirnya mereka menandatangani perjanjian gencatan senjata pada Februari 1229.

Perjanjian tersebut menyerahkan kota Yerusalem yang tidak dibentengi kepada Tentara Salib selama lebih dari sepuluh tahun, tetapi pada saat yang sama juga menjamin kendali Muslim atas tempat-tempat suci Islam di kota tersebut.

[47] Meskipun perjanjian tersebut sama sekali tidak berarti dari sudut pandang militer, an-Nasir Dawud memanfaatkannya untuk membangkitkan amarah rakyat Syam, dan konon khotbah Jumat yang disampaikan oleh seorang khatib yang terkenal di Masjid Agung Umayyah di Damaskus telah membuat para penyimaknya "meraung-raung dan menangis". [57] Selain perjanjian dengan Tentara Salib, muncul juga usulan kesepakatan untuk memberikan wilayah Damaskus kepada al-Asyraf yang telah mengakui kedaulatan al-Kamil. An-Nasir Dawud menolak kesepakatan tersebut, terutama mengingat bahwa ia masih marah dengan gencatan senjata antara Dinasti Ayyubiyah dengan Tentara Salib.

[57] Pasukan Al-Kamil mengepung kota Damaskus untuk menegakkan usulan kesepakatan tersebut pada Mei 1229. Pengepungan tersebut sangat berdampak terhadap kehidupan kota, tetapi rakyat malah berpihak kepada an-Nasir Dawud dan mengecam perjanjian dengan Friedrich. Walaupun begitu, an-Nasir Dawud mengajak berdamai setelah satu bulan berlalu. Kota Damaskus kemudian diberikan kepada al-Asyraf, sementara an-Nasir Dawud mendapatkan wilayah baru yang berpusat di Karak.

[58] Sementara itu, pasukan Seljuk bergerak menuju wilayah al-Jazira, [59] sedangkan para keturunan Qatadah bin Idris berperang melawan pemimpin-pemimpin Ayyubiyah di Mekkah. Konflik di Mekkah dimanfaatkan oleh Dinasti Rasuliyah yang ingin melengserkan kekuasaan Ayyubiyah di Hijaz. Mereka pada akhirnya berhasil mengambil alih wilayah tersebut pada tahun 1238 setelah Nuruddin Umar merebut kota Mekkah. [27] [56] Perpecahan Syam-Mesir Pemerintahan Al-Asyraf di Damaskus berjalan stabil, tetapi Al-Asyraf dan amir-amir lainnya di Syam ingin memerdekakan diri dari Kairo.

Di tengah kericuhan tersebut, al-Asyraf meninggal dunia pada Agustus 1237 setelah mengidap penyakit selama empat bulan. Ia digantikan oleh saudaranya, as-Salih Ismail. Dua bulan kemudian, pasukan Mesir yang dipimpin oleh al-Kamil mengepung Damaskus, tetapi as-Salih Ismail sudah menghancurkan daerah pinggiran kota tersebut agar pasukan al-Kamil tidak dapat menemukan tempat bernaung.

[60] Pada tahun 1232, al-Kamil mengangkat putra sulungnya, as-Salih Ayyub, sebagai penguasa Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. Kayfa. Namun, setelah al-Kamil wafat pada tahun 1238, as-Salih Ayyub mempertentangkan pengangkatan adiknya al-Adil II sebagai sultan di Kairo. As-Salih Ayyub pada akhirnya berhasil menduduki kota Damaskus pada Desember 1238, tetapi kota tersebut lalu direbut kembali oleh pamannya as-Salih Ismail pada September 1239.

Sepupu Ismail, an-Nasir Dawud, kemudian memerintahkan penahanan Ismail di Karak agar Ismail tidak dapat ditangkap oleh al-Adil II.

Ismail bersekutu dengan Dawud, dan Dawud membebaskannya pada tahun berikutnya, sehingga ia dapat menyatakan dirinya sebagai sultan pengganti al-Adil II pada Mei 1240.

Pada awal dasawarsa 1240-an, as-Salih Ayyub melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang pernah mendukung al-Adil II, dan ia kemudian bertikai dengan an-Nasir Dawud. As-Salih Ayyub dan Ismail juga sama-sama mencoba mendapatkan dukungan dari Tentara Salib. [61] Pada tahun 1244, as-Salih Ismail bersekutu dengan Tentara Salib, dan pasukan mereka berhadapan dengan pasukan gabungan antara as-Salih Ayyub dan Khwarezmia di Hirbiya di dekat Gaza.

Maka meletuslah Pertempuran La Forbie. Pertempuran tersebut berhasil dimenangkan oleh as-Salih Ayyub, Tentara Salib terusir dari Yerusalem, dan kota itu pun mengalami kehancuran di tangan pasukan Khwarezmia. [62] Kembalinya persatuan Pada tahun 1244–1245, as-Salih Ayyub telah merebut wilayah Tepi Barat dari an-Nasir Dawud. Ia juga berhasil menguasai Yerusalem, dan kota Damaskus kemudian dapat diambil alih dengan mudah pada Oktober 1245.

[62] Tak lama setelah itu, Saifuddin Ali menyerahkan wilayah miliknya di Ajlun kepada as-Salih Ayyub. Persekutuan antara Khwarezmia dengan as-Salih Ayyub juga bubar, dan pasukan Khwarezmia kemudian dihancurkan oleh pasukan amir Ayyubiyah di Homs, al-Mansur Ibrahim, pada Oktober 1246. [62] Berkat kekalahan Khwarezmia, as-Salih Ayyub dapat menaklukkan seluruh wilayah Syam selatan.

[63] Panglimanya yang bernama Fakhruddin lalu menundukkan wilayah-wilayah an-Nasir Dawud. Ia menjarah kota Karak, dan kemudian mengepung bentengnya yang terletak di atas bukit. Kebuntuan kemudian terjadi karena pasukan an-Nasir Dawud dan Fakhruddin sama-sama tidak dapat mengungguli yang lainnya.

Mereka kemudian memuat kesepakatan yang menyatakan bahwa an-Nasir Dawud diperbolehkan mempertahankan bentengnya, tetapi ia harus menyerahkan wilayahnya yang lain kepada as-Salih Ayyub. Setelah menyelesaikan urusan di Palestina dan Transyordania, pasukan Fakhruddin bergerak ke arah Busra di utara, yang merupakan tempat terakhir yang masih dikuasai oleh as-Salih Ismail. Saat kota tersebut sedang dikepung, Fakhruddin jatuh sakit, tetapi para komandannya melanjutkan serangan mereka hingga kota tersebut jatuh pada Desember 1246.

[64] Pada Mei 1247, as-Salih Ayyub menjadi penguasa wilayah Syam yang terletak di sebelah selatan Danau Homs setelah berhasil menguasai Banyas dan Salkhad. Maka musuh-musuh as-Salih Ayyub dari pihak Ayyubiyah semuanya sudah ditundukkan (kecuali Aleppo yang masih dikuasai an-Nasir Yusuf), alhasil as-Salih Ayyub mulai melancarkan serangan terhadap Tentara Salib dan mengirim Fakhruddin untuk memimpin pasukan ke wilayah Tentara Salib di Galilea.

Tiberias berhasil direbut pada tanggal 16 Juni. Gunung Tabor dan Kaukab al-Hawa juga jatuh ke tangan Ayyubiyah tidak lama sesudahnya. Kota Safad dengan benteng Kesatria Kenisahnya tampaknya tidak dapat direbut, sehingga pasukan Ayyubiyah bergerak ke arah selatan menuju Ashkelon.

Walaupun Tentara Salib memberikan perlawanan yang sengit, armada Mesir dikirim oleh as-Salih Ayyub untuk membantu pasukan Ayyubiyah. Pada tanggal 24 Oktober, pasukan Fakhruddin berhasil menembus tembok kota dan membunuh atau menawan semua garnisun Tentara Salib.

Kota tersebut kemudian dihancurkan dan yang tersisa hanyalah puing-puing. [64] As-Salih Ayyub kembali ke Damaskus untuk melihat perkembangan situasi di Syam utara. Al-Asyraf Musa dari Homs menyerahkan benteng Salamiyah kepada as-Salih Ayyub pada musim dingin sebelumnya. Hal ini membuat khawatir an-Nasir Yusuf di Aleppo, karena ia menduga bahwa kota tersebut akan dijadikan pangkalan militer untuk merebut Aleppo.

Maka An-Nasir Yusuf memutuskan untuk mengambil alih kota Homs pada musim dingin tahun 1248. Kota tersebut menyerah pada bulan Agustus, dan an-Nasir Yusuf berhasil memaksa al-Asyraf Musa untuk menyerahkan kota Homs. Sebagai gantinya, al-Asyraf Musa masih diperbolehkan berkuasa di sekitaran Tadmur dan Tall Basyir di Gurun Suriah. As-Salih Ayyub mengirim Fakhruddin untuk menaklukkan kembali Homs, tetapi Aleppo mengambil tindakan balasan dengan mengirim pasukan ke Kafr Tab di sebelah selatan kota Aleppo.

[65] An-Nasir Dawud meninggalkan Karak untuk mendukung an-Nasir Yusuf di Aleppo, tetapi saat ia sedang tidak berada di Karak, saudara-saudaranya al-Amjad Hasan dan az-Zahir Shadhi menawan calon pewarisnya, al-Mu'azzam Isa, dan kemudian mendatangi perkemahan as-Salih Ayyub di al-Mansourah di Mesir untuk menawarkannya kekuasaan atas Karak asalkan mereka mendapatkan kepemilikan di Mesir. As-Salih Ayyub menyetujui tawaran tersebut dan mengutus kasim Badruddin Sawabi sebagai gubernur Karak.

[66] Kejatuhan Kebangkitan Mamluk dan lepasnya wilayah Mesir Pada tahun 1248, armada Tentara Salib yang terdiri dari 1.800 perahu dan kapal mendatangi pulau Siprus dengan maksud untuk menaklukkan Mesir sebagai bagian dari Perang Salib Ketujuh.

Komandan mereka, Louis IX, mencoba mengajak bangsa Mongol melancarkan serangan yang terkoordinasi ke Mesir, tetapi ajakan tersebut tidak membuahkan hasil. Maka Tentara Salib memutuskan untuk berlayar ke Dimyath dan penduduk setempat langsung melarikan diri setelah mereka mendarat. ash-Shalih Ayyub sendiri sedang berada di Syam pada saat itu.

Setelah mendengar kabar mengenai serangan tersebut, ia bergegas kembali ke Mesir, tetapi ia tidak mendatangi Dimyath.

Ia pergi ke Manshurah dan di situ ia mengumpulkan pasukan yang melancarkan serangan-serangan untuk mengganggu Tentara Salib. [67] Ash-Shalih Ayyub jatuh sakit dan kesehatannya makin menurun akibat tekanan dari Tentara Salib.

Istrinya yang bernama Syajaruddur menyerukan pertemuan para panglima dan kemudian ia menjadi panglima tertinggi pasukan Mesir. Syajaruddur memerintahkan agar Mansurah dibentengi, dan juga agar persediaan-persediaan ditimbun di tempat tersebut. Selain itu, ia menitahkan agar pasukan Mesir dipusatkan di Mansurah, dan ia juga mengatur armada Mesir dan menempatkannya di berbagai tempat strategis di sepanjang Sungai Nil.

Maka upaya Tentara Salib untuk merebut Mansurah berhasil dipatahkan, dan Raja Louis tiba-tiba menghadapi situasi yang genting. Ia memutuskan untuk menyeberangi Sungai Nil dan melancarkan serangan kejutan terhadap Mansurah. Sementara itu, ash-Shalih Ayyub tutup usia. Walaupun begitu, panglima-panglima Mamluk Bahri yang tunduk kepada Syajaruddur dan as-Salih Ayyub (termasuk Ruknuddin Baibars dan Aybak) melancarkan serangan balasan dan menimbulkan korban jiwa yang besar di pihak Tentara Salib.

Pada saat yang sama, pasukan Mesir memutus jalur persediaan Tentara Salib dari Dimyath, sehingga bala bantuan tidak dapat didatangkan. Anak laki-laki As-Salih Ayyub yang baru saja dinyatakan sebagai sultan Ayyubiyah yang baru, al-Mu'azzam Turansyah, juga berhasil mencapai Mansurah pada saat itu dan semakin memperhebat pertempuran melawan Tentara Salib.

Tentara Salib akhirnya menyerah dalam Pertempuran Fariskur, dan Raja Louis dan para pengikutnya ditangkap. [68] Setelah berhasil mengalahkan Tentara Salib, hubungan Al-Mu'azzam Turansyah dengan Mamluk semakin memburuk, dan Turansyah berulang kali mengancam mereka dan Syajaruddur.

Kelompok Mamluk darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. ingin kehilangan kekuasaan mereka, sehingga mereka memberontak melawan sultan dan menghabisi nyawanya pada April 1250. [47] Aybak menikahi Syajaruddur dan kemudian memerintah Mesir sebagai perantara Sultan al-Asyraf II.

Walaupun al-Asyraf II merupakan sultan Ayyubiyah secara resmi, statusnya hanya berupa gelar saja.

{INSERTKEYS} [69] Kekuasaan Aleppo An-Nasir Yusuf ingin mengembalikan kekuasaan para keturunan Salahuddin, [70] dan kemudian ia menggalang dukungan dari semua amir Ayyubiyah di Syam untuk merebut kembali Mesir dari cengkeraman Mamluk.

Pada tahun 1250, ia berhasil merebut Damaskus dengan mudah. Wilayah an-Nasir Yusuf pun terbentang dari Sungai Khabur di Mesopotamia utara hingga Semenanjung Sinai (kecuali Hamat dan Transyordania). Setelah mendengar kabar tentang kematian al-Mu'azzam Turansyah dan kenaikan takhta Syajaruddur, an-Nasir Yusuf menyerang Mesir pada Desember 1250.

Pasukan An-Nasir Yusuf jauh lebih besar dan memiliki persenjataan yang lebih baik daripada pasukan Mesir. Pasukan An-Nasir Yusuf terdiri dari pasukan Aleppo, Homs, Hama, dan pasukan anak-anak Salahuddin yang masih hidup, Nusrat al-Din dan Turansyah bin Salahuddin. [71] Namun, pasukan an-Nasir Yusuf berhasil dikalahkan oleh pasukan Aybak.

An-Nasir Yusuf kemudian kembali ke Syam, dan wilayah tersebut kemudian secara perlahan terlepas dari kendalinya.

[70] Mamluk bersekutu dengan Tentara Salib pada Maret 1252 dan mereka kemudian bersama-sama mengobarkan perang melawan an-Nasir Yusuf.

Raja Louis (yang telah dibebaskan setelah pembunuhan al-Mu'azzam Turansyah) memimpin pasukannya ke Jaffa, sementara Aybak memutuskan untuk mengirim pasukannya ke Gaza. Setelah mendengar kabar mengenai persekutuan tersebut, an-Nasir Yusuf memindahkan pasukannya ke Tall al-Ajjul di luar kota Gaza agar pasukan Mamluk tidak dapat bertemu dengan Tentara Salib. Pasukan Ayyubiyah yang lainnya ditempatkan di Lembah Yordania. Aybak dan an-Nasir Yusuf sadar bahwa perang di antara mereka akan sangat menguntungkan Tentara Salib, sehingga mereka menerima mediasi dari Abbasiyah yang dilaksanakan oleh Najmuddin al-Badhirai.

Pada April 1253, ditandatangani sebuah perjanjian yang menyatakan bahwa Mamluk akan tetap menguasai seluruh Mesir serta wilayah Palestina hingga mencapai (tetapi tidak termasuk) Nablus. Perjanjian tersebut juga memastikan kekuasaan an-Nasir Yusuf di Syam. Akibatnya, kekuasaan Ayyubiyah di Mesir secara resmi berakhir.

[72] Setelah konflik antara Mamluk dan Ayyubiyah kembali memanas, al-Badhirai mengatur perumusan perjanjian lainnya, kali ini memberikan wilayah kekuasaan Mamluk di Palestina dan al-Arish di Sinai kepada an-Nasir Yusuf. Namun, an-Nasir Yusuf malah mengangkat seorang Mamluk yang bernama Kutuk sebagai penguasa Yerusalem, sementara Nablus dan Jenin diberikan kepada Baibars.

[73] Masa pemerintahan an-Nasir Yusuf menjadi masa yang tenang selama lebih dari satu tahun setelah penetapan kesepakatan dengan Mamluk. Pada tanggal 11 Desember 1256, ia mengirim dua utusan ke ibu kota Abbasiyah di Baghdad agar ia dapat diangkat sebagai "sultan" secara resmi oleh khalifah al-Musta'sim. Akan tetapi, Mamluk sudah mengirim utusan ke Baghdad terlebih dahulu untuk memastikan agar an-Nasir Yusuf tidak dianugerahi gelar tersebut, sehingga al-Musta'sim sulit untuk memutuskan.

[73] Pada awal tahun 1257, Aybak dibunuh akibat persekongkolan, dan ia digantikan oleh putranya yang masih berumur 15 tahun, al-Mansur Ali, sementara Saifuddin Qutuz menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di pemerintahan. Tak lama sesudahnya, muncul desas-desus mengenai persekongkolan yang lain yang konon terkait dengan an-Nasir Yusuf.

Wazir Syarifuddin al-Fa'izi dituduh terlibat dalam persekongkolan tersebut dan ia tewas dicekik oleh aparat Mesir. Anggota kelompok Bahri Mamluk di Syam yang dipimpin oleh Baibars kemudian meminta an-Nasir Yusuf untuk melakukan campur tangan dengan menyerang Mesir, tetapi ia menolak mengambil tindakan, karena ia takut bahwa Dinasti Bahri akan menjatuhkannya jika mereka berhasil menguasai Mesir.

Kemerdekaan Karak Wilayah kekuasaan Ayyubiyah pada 1257. Wilayah berwarna merah muda berada di bawah kendali an-Nasir Yusuf, sementara wilayah berwarna merah tua adalah wilayah al-Mughith Umar dari Karak Hubungan antara an-Nasir Yusuf dan Bahri Mamluk semakin menegang setelah an-Nasir Yusuf menolak menyerang Mesir.

Pada Oktober 1257, Baibars dan orang-orang Mamluk lainnya meninggalkan Damaskus atau diusir dari kota tersebut. Mereka kemudian pindah ke Yerusalem. Saat gubernur Kutuk menolak membantu mereka melawan an-Nasir Yusuf, Baibars melengserkannya dan memerintahkan agar amir Karak yang bernama al-Mugith Umar dinyatakan sebagai gubernur yang baru dalam khotbah di Masjid Al-Aqsa. Sebelumnya, al-Mugith Umar dikenal karena telah menerima para pembangkang politik dari Kairo dan Damaskus yang sedang mencari suaka.

[74] Tak lama setelah menguasai Yerusalem, Baibars menaklukkan Gaza. An-Nasir Yusuf mengambil tindakan balasan dengan mengirim pasukannya ke Nablus. Maka meletuslah sebuah pertempuran dan kelompok Mamluk kemudian melarikan diri menyeberangi Sungai Yordan menuju kawasan Balqa. Mereka lalu pergi ke Zughar di ujung selatan Laut Mati, dan dari situ mereka menyatakan bahwa mereka tunduk kepada Karak.

Hubungan baru Al-Mughith Umar dengan Baibars semakin memperkuat kemerdekaannya Karak dari an-Nasir Yusuf. Untuk memastikan kemerdekaan tersebut, al-Mughith Umar mulai membagi-bagikan wilayah Palestina dan Transyordania kepada orang-orang Bahri Mamluk. [74] Mereka lalu membentuk pasukan kecil dan bergerak menuju Mesir.

Walaupun awalnya cukup berhasil di Palestina dan al-Arish, mereka menarik diri setelah menyadari bahwa pasukan mereka kalah jumlah bila dibandingkan dengan pasukan Mesir. Al-Mughith Umar dan Baibars sendiri tidak merasa gentar dan mengirim 1.500 kavaleri ke Sinai pada permulaan tahun 1258, tetapi pasukan tersebut dikalahkan oleh pasukan Mamluk Mesir. [75] Serangan bangsa Mongol dan kejatuhan Dinasti Ayyubiyah Penaklukan wilayah Ayyubiyah di Syam oleh bangsa Mongol Ayyubiyah telah berada di bawah kedaulatan bangsa Mongol semenjak pasukan Mongol menyerang wilayah-wilayah Ayyubiyah di Anatolia pada tahun 1244.

An-Nasir Yusuf mengirim duta besar ke ibu kota Mongol di Karakorum pada tahun 1250 tak lama setelah ia naik ke tampuk kekuasaan. Namun, perdamaian di antara mereka tidak berlangsung lama, karena Khan Agung Möngke memberikan arahan kepada saudaranya, Hulagu, untuk memperluas wilayah hingga mencapai Sungai Nil.

Hulagu pun menghimpun 120.000 tentara untuk melaksanakan tugas ini. Pada tahun 1258, ia berhasil merebut Baghdad dan membantai para penduduknya, termasuk Khalifah al-Musta'sim dan sebagian besar anggota keluarganya.

[76] Pada tahun yang sama, bangsa Mongol merebut Diyar Bakr dari Ayyubiyah. [77] An-Nasir Yusuf kemudian mengirim seorang utusan untuk menghadap Hulagu, dan utusan tersebut menegaskan bahwa an-Nasir Yusuf menolak tunduk kepada Mongol. Hulagu tidak dapat menerima hal tersebut, sehingga an-Nasir Yusuf memohon bantuan dari Kairo. Permohonan tersebut bertepatan dengan berlangsungnya sebuah kudeta yang dilancarkan oleh kelompok Mamluk terhadap sisa-sisa kepemimpinan Ayyubiyah di Mesir.

Qutuz kemudian menjadi sultan di Mesir. Sementara itu, pasukan Ayyubiyah dikumpulkan di Birzeh (tepat di sebelah utara Damaskus) untuk mempertahankan kota tersebut dari serangan bangsa Mongol yang sedang bergerak menuju Syam utara.

Aleppo kemudian dikepung selama seminggu, dan pada Januari 1260, kota tersebut jatuh ke tangan bangsa Mongol. Masjid Agung dan Benteng Aleppo dihancurkan dan sebagian besar penduduknya dibunuh atau dijual sebagai budak.

[78] Kehancuran kota Aleppo membuat panik kaum Muslim Syam. Amir Ayyubiyah di Homs, al-Asyraf Musa, menawarkan persekutuan dengan bangsa Mongol ketika pasukan Mongol sedang mendekati kota tersebut, dan Hulagu kemudian mengizinkan sang amir untuk tetap berkuasa di Homs.

Kota Hamat juga menyerah tanpa perlawanan, tetapi mereka tidak bersekutu dengan Mongol. [79] An-Nasir Yusuf sendiri memutuskan untuk melarikan diri dari Damaskus untuk mencari perlindungan di Gaza. [78] Hulagu bertolak ke Karakorum dan menugaskan Kitbuqa, seorang panglima Kristen Nestorian, untuk melanjutkan perang penaklukan. Damaskus menyerah setelah kedatangan pasukan Mongol, tetapi kota tersebut tidak dihancurkan seperti kota-kota Muslim lainnya yang telah ditaklukan oleh Mongol.

Sementara itu, dari Gaza, an-Nasir Yusuf berhasil menggerakkan garnisun di Benteng Damaskus untuk memberontak melawan penjajah Mongol. Mongol membalasnya dengan melancarkan serangan artileri besar-besaran ke benteng tersebut. Ketika garnisun tersebut sadar bahwa an-Nasir Yusuf tak dapat menyelamatkan mereka, mereka memutuskan untuk menyerah. [78] Tentara Mongol lalu menaklukkan Samaria, membantai sebagian besar garnisun Ayyubiyah di Nablus, dan kemudian bergerak ke arah selatan hingga ke Gaza tanpa menghadapi perlawanan yang berarti.

An-Nasir Yusuf kemudian ditangkap oleh pasukan Mongol dan dimanfaatkan untuk meyakinkan garnisun di Ajlun untuk menyerah. Sesudah itu, seorang gubernur Ayyubiyah yang bernama Banyas bersekutu dengan Mongol.

[79] Maka Mongol telah menguasai sebagian besar wilayah Syam dan al-Jazira, sehingga mengakhiri kekuasaan Ayyubiyah di wilayah tersebut. Pada tanggal 3 September 1260, pasukan Mamluk yang berpusat di Mesir pimpinan Qutuz dan Baibars berani menantang bangsa Mongol dan berhasil mengalahkan pasukan Mongol dalam Pertempuran Ain Jalut.

Lima hari kemudian, pasukan Mamluk merebut kota Damaskus. Dalam waktu sebulan, sebagian besar wilayah Syam berhasil dikuasai oleh Bahri Mamluk. [78] Sementara itu, an-Nasir Yusuf dibunuh saat masih ditawan oleh bangsa Mongol. [80] Sisa-sisa dinasti Banyak amir Ayyubiyah di Syam yang dicela oleh Qutuz karena telah bersekutu dengan bangsa Mongol.

Namun, al-Asyraf Musa yang membelot dari kubu Mongol dan membantu Mamluk di Ain Jalut diperbolehkan meneruskan kekuasaannya di Homs. Sementara itu, Al-Mansur dari Hamat sedari awal sudah bertempur bersama dengan Mamluk, [80] alhasil Hamat tetap diperintah oleh keturunan Ayyubiyah dari trah al-Muzaffar Umar. Setelah al-Asyraf Musa wafat pada tahun 1262, sultan Mamluk yang baru, Baibars, mengambil alih kota Homs.

Pada tahun berikutnya, al-Mughith Umar diperdaya oleh Mamluk, sehingga ia menyerahkan Karak kepada Baibars dan juga dihukum mati tak lama sesudahnya karena ia pernah membantu bangsa Mongol. [80] Penguasa Ayyubiyah yang terakhir di Hamat tutup usia pada tahun 1299, dan Hamat kemudian sempat dikuasai oleh Mamluk. Namun, pada tahun 1310, sultan Mamluk an-Nasir Muhammad memberikan Hamat kepada salah satu anggota Dinasti Ayyubiyah yang dikenal sebagai ahli geografi dan penulis, Abu al-Fida.

Abu al-Fida wafat pada tahun 1331 dan digantikan oleh putranya, al-Afdhal Muhammad. Hubungan al-Afdhal Muhammad dengan Mamluk pada akhirnya memburuk, sehingga ia dicabut dari jabatannya pada tahun 1341 dan kota Hamat secara resmi dikuasai oleh Mamluk.

[81] Di Anatolia tenggara, Ayyubiyah masih menguasai Hisn Kayfa yang masih dapat mempertahankan kemerdekaannya dari Ilkhanat Mongol yang memerintah Mesopotamia utara hingga dasawarsa 1330-an. Setelah Ilkhanat mengalami perpecahan, bekas vasal mereka di kawasan tersebut, Dinasti Artuklu, berperang melawan Ayyubiyah di Hisn Kayfa pada tahun 1334, tetapi mereka mengalami kekalahan dan Ayyubiyah bahkan berhasil merebut wilayah Artuklu di tepi kiri Sungai Tigris.

[82] Pada abad ke-14, Ayyubiyah membangun kembali kastil Hisn Kayfa yang berfungsi sebagai benteng mereka. Penguasa Ayyubiyah di Hisn Kayfa menjadi vasal Mamluk dan kemudian Beylik Dulkadir hingga mereka digantikan oleh Kesultanan Utsmaniyah pada awal abad ke-16. [83] Pemerintahan Struktur Sebuah koin Ayyubiyah yang dicetak di Aleppo dengan nama Amir al-Zahir Salahuddin membentuk struktur pemerintahan yang berasaskan kedaulatan kolektif: ia membentuk sebuah konfederasi yang terdiri dari berbagai wilayah yang disatukan oleh gagasan pemerintahan keluarga.

Berdasarkan sistem ini, terdapat sejumlah "sultan kecil", sementara salah satu anggota keluarga Ayyubiyah akan menjadi as-Sultan al-Mu'azzam, yaitu pemegang jabatan tertinggi. Setelah kematian Salahuddin, jabatan yang amat didambakan tersebut diperebutkan oleh anggota keluarga Ayyubiyah. Persaingan yang terjadi di antara anggota Bani Ayyubiyah di Mesir dan Syam menjadi begitu sengit sampai-sampai salah satu dari antara mereka kadang-kadang akan bekerja sama dengan Tentara Salib.

[84] Kedua wilayah itu sendiri memiliki gaya pemerintahan yang berbeda. Di Syam, setiap kota besar diperintah oleh seorang anggota keluarga Ayyubiyah yang relatif independen, sementara di Mesir, terdapat tradisi pemerintahan tersentralisasi yang memungkinkan kendali langsung atas provinsi-provinsi lain dari ibu kota di Kairo. [85] Namun, Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad masih memegang hegemoni di wilayah Ayyubiyah, terutama di Asia Barat Daya.

Contohnya, hakim kepala Damaskus masih diangkat oleh Abbasiyah pada masa kekuasaan Ayyubiyah. [84] Kekuasaan politik terpusat di rumah tangga Ayyubiyah yang tidak hanya terikat oleh hubungan darah; budak dan orang-orang terdekat dapat memperoleh kekuasaan yang besar atau bahkan yang tertinggi.

Seringkali ibu kandung seorang penguasa Ayyubiyah yang masih muda bertindak secara independen atau bahkan sebagai penguasa. Para kasim juga memiliki kekuasaan yang besar di Ayyubiyah. Mereka berperan sebagai pengiring dan atabeg di dalam rumah tangga atau sebagai amir dan panglima pasukan di luar rumah tangga. Salah satu pendukung Salahuddin yang paling penting adalah kasim Bahauddin bin Syaddad yang membantunya melengserkan Fatimiyah, merampas harta benda mereka, dan membangun tembok benteng Kairo.

Sepeninggalan al-Aziz Utsman, Bahauddin menjadi wali anak laki-laki Utsman, al-Mansur, sehingga ia sempat menguasai Mesir hingga al-Adil naik ke tampuk kekuasaan. Sultan-sultan berikutnya mengangkat kasim sebagai wali sultan dan bahkan menganugerahi mereka dengan kedaulatan atas kota-kota tertentu, seperti Syamsuddin Sawab yang dianugerahi kota Amid dan Diyar Bakr pada tahun 1239.

[86] Dalam sistem pemerintahan dinasti Ayyubiyah, terdapat tiga cara utama dalam merekrut elit-elit terdidik yang diperlukan untuk memerintah kota-kota. Cara pertama adalah dengan memberikan dukungan ekonomi dan politik kepada para syekh yang mengabdi kepada keluarga penguasa Ayyubiyah di tingkatan daerah.

Cara lainnya adalah dengan memberikan kepada para syekh pendapatan yang diperoleh diwan, yakni badan pemerintahan negara. Metode ketiga adalah dengan memberikan wakaf kepada para syekh. [87] Seperti negara-negara pendahulunya, Dinasti Ayyubiyah hanya memiliki segelintir lembaga negara.

Untuk membentuk ikatan dengan elit-elit terdidik di kota-kota Ayyubiyah, mereka menjalankan praktik patronase. Praktik pemberian wakaf kepada golongan elit mirip dengan pemberian fief ( iqta'at) kepada para panglima. Dengan ini, Dinasti Ayyubiyah dapat merekrut elit yang bergantung kepada mereka, tetapi tidak terhitung sebagai bawahan secara administratif. [88] Setelah berhasil menaklukkan Yerusalem pada tahun 1187, Dinasti Ayyubiyah di bawah pemerintahan Salahuddin mungkin merupakan negara pertama yang menciptakan jabatan amir al-hajj (panglima peziarahan) untuk melindungi karavan Haji tahunan yang bertolak dari Damaskus ke Mekkah, dan Salahuddin menganugerahkan jabatan tersebut kepada Tughtakin bin Ayyub.

[89] Pusat pemerintahan Pusat pemerintahan Ayyubiyah dari masa pemerintahan Salahuddin pada dasawarsa 1170-an hingga akhir masa pemerintahan al-Adil pada tahun 1218 terletak di kota Damaskus. Kota tersebut lebih strategis dalam upaya untuk mengalahkan Tentara Salib, dan juga memungkinkan sultan mengawasi bawahan-bawahannya yang cukup ambisius di Syam dan al-Jazira.

Kairo terlalu jauh untuk dijadikan pangkalan operasi, tetapi kota tersebut merupakan landasan ekonomi Dinasti Ayyubiyah. Maka dari itu, kota ini merupakan wilayah yang sangat penting. [84] Ketika Salahuddin dinyatakan sebagai sultan di Kairo pada tahun 1171, ia memilih Istana Barat Kecil yang dibangun oleh Fatimiyah (bagian dari kompleks istana yang lebih besar di Kairo yang terpisah dari perkotaan) sebagai pusat pemerintahan.

Salahuddin sendiri tinggal di bekas istana wazir Fatimiyah, Turansyah menetap di bekas tempat tinggal pangeran Fatimiyah, dan ayah mereka menduduki Anjungan Mutiara yang berada di luar Kairo dan menghadap ke terusan kota.

Sultan-sultan Ayyubiyah berikutnya di Mesir tinggal di Istana Barat Kecil. [90] Setelah al-Adil I memperoleh kekuasaan di Kairo, dimulailah persaingan antara kota Damaskus dan Kairo untuk menjadi ibu kota Dinasti Ayyubiyah. Pada masa kekuasaan al-Adil dan al-Kamil, Damaskus masih menjadi provinsi otonom dan penguasanya berhak memilih penerus mereka sendiri, tetapi pada masa kepemimpinan as-Salih Ayyub, kampanye-kampanye militer melawan Syam mengakibatkan penurunan status Damaskus menjadi vasal Kairo.

[91] Selain itu, Ayyub menetapkan aturan-aturan pemerintahan yang baru untuk melakukan sentralisasi terhadap rezimnya; ia memberikan jabatan-jabatan terpenting kepada orang-orang terdekatnya dan bukan kepada kerabat-kerabat Ayyubiyahnya. Sebagai contoh, istrinya yang bernama Syajaruddur mengurus pemerintahan di Mesir ketika Ayyub sedang berada di Syam. Ayyub mendelegasikan kekuasaannya kepada anaknya yang sudah meninggal, Khalil, dan Syajaruddur secara resmi bertindak atas nama Khalil.

[92] Demografi Agama, etnis, dan bahasa Menara Masjid Agung Benteng Aleppo yang dibangun oleh az-Zahir Ghazi pada tahun 1214 Pada abad ke-12, Islam merupakan agama utama di kawasan Timur Tengah. {/INSERTKEYS}

Tidak diketahui secara pasti apakah agama ini merupakan agama mayoritas di luar Semenanjung Arabia. Bahasa Arab merupakan bahasa kebudayaan dan juga bahasa yang dituturkan oleh warga kota, walaupun bahasa-bahasa lainnya yang sudah ada dari zaman pra-Islam juga masih digunakan untuk hal-hal tertentu. [93] Kebanyakan orang Mesir menuturkan bahasa Arab pada masa Dinasti Ayyubiyah. [94] Bahasa Kurdi merupakan bahasa ibu penguasa-penguasa pertama Ayyubiyah, khususnya pada masa mereka ketika mereka bertolak dari Dvin.

Sultan Salahuddin menuturkan bahasa Arab dan bahasa Kurdi, dan tampaknya juga bisa berbicara bahasa Turki. [95] [96] Menurut Yasser Tabbaa, seorang antropolog yang mengkhususkan diri dalam bidang kebudayaan Islam abad pertengahan, para penguasa Ayyubiyah yang memerintah pada abad ke-12 sudah jauh dari budaya Kurdi; tidak seperti para pendahulu mereka di Seljuk dan para penerus mereka di Mamluk, para penguasa Ayyubiyah telah "terarabisasi".

[97] Bahasa dan budaya Arab [98] menjadi unsur utama dalam jati diri mereka alih-alih bahasa dan budaya Kurdi. [99] Mereka sendiri sudah cukup terasimilasi ke dalam budaya Arab sebelum mereka mulai berkuasa, dan marga-marga Arab pun jauh lebih lazim daripada marga-marga non Arab di kalangan penguasa Bani Ayyubiyah. Beberapa pengecualiannya adalah marga non-Arab Turansyah. Sebagian besar penguasa Ayyubiyah dapat menuturkan bahasa Arab secara fasih, dan beberapa dari antara mereka (seperti az-Zahir Ghazi, al-Mu'azzam Isa, dan amir-amir kecil di Hamat) merangkai puisi dalam bahasa Arab.

[100] Arabisasi yang berlangsung di keluarga darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. Ayyubiyah sangat berbeda dengan pasukan mereka yang tidak memiliki kesatuan budaya. Orang-orang Turki dan Kurdi mendominasi pasukan berkuda, sementara kelompok nomaden Turkmen dan Arab mengisi satuan-satuan infanteri. Kelompok-kelompok nomaden tersebut biasanya menetap di padang rumput di luar kota, sehingga mereka terpisah dari kehidupan perkotaan yang kental dengan budaya Arab.

Berkat pemisahan ini, mereka masih dapat mempertahankan tradisi mereka. [97] Diduga Salahuddin berbicara dalam bahasa Turki kepada para panglima militernya.

{INSERTKEYS} [96] Seperti Bani Fatimiyah, para penguasa Ayyubiyah di Mesir tetap mempertahankan pasukan mamluk (budak militer) dalam jumlah besar. Pada paruh pertama abad ke-13, pasukan mamluk kebanyakan berasal dari golongan Turk Kipchak dan Adighe, dan terdapat bukti kuat yang menunjukkan bahwa pasukan tersebut masih menuturkan bahasa Kipchak.

[101] [102] Sebagian besar penduduk Syam pada abad ke-12 memeluk agama Islam Sunni, dan sebagian besar beretnis Arab atau Kurdi. Terdapat juga komunitas Muslim Syiah Dua Belas Imam, Druze, dan sekte Alawiyah. Penganut Islam Syiah beraliran Ismailiyah berjumlah kecil dan kebanyakan berdarah Persia, dan mereka datang dari wilayah Alamut. Kebanyakan dari mereka tinggal di wilayah pegunungan di dekat pesisir Syam utara.

[103] Terdapat pula komunitas Kristen dalam jumlah yang besar di Syam utara, Palestina, Transyordania, dan Mesopotamia Hulu.

Mereka menuturkan bahasa Aram dan merupakan penduduk asli wilayah tersebut. Kebanyakan dari mereka mengikuti Gereja Ortodoks Suryani.

Mereka tinggal di desa-desa Kristen atau desa-desa dengan campuran penduduk Muslim dan Kristen. Mereka juga menetap di biara-biara dan kota-kota kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka tampaknya hidup rukun dengan tetangga-tetangga Muslim mereka. Secara ideologis, mereka dipimpin oleh Patriark Antiokhia. [104] Di Yaman dan Hadramaut, sebagian besar penduduknya menganut agama Islam Syiah bermazhab Zaidiyah. Wilayah Mesopotamia Hulu dihuni oleh orang-orang Kurdi dan Turki yang beragama Islam Sunni, meskipun terdapat juga minoritas Yazidi dalam jumlah yang besar.

Orang Yahudi tersebar luas di wilayah-wilayah Islam, dan sebagian besar kota Ayyubiyah memiliki komunitas Yahudi, karena orang Yahudi berperan penting dalam bidang perdagangan, produksi, keuangan, dan pengobatan. Di Yaman dan beberapa wilayah di Syam, orang Yahudi juga tinggal di permukiman pedesaan. Amir Ayyubiyah di Yaman pada tahun 1197–1202, al-Malik Mu'izz Isma'il, pernah mencoba memaksa orang Yahudi Aden masuk Islam, tetapi upaya ini dihentikan setelah sang amir menjemput ajalnya pada tahun 1202.

Di kalangan Yahudi sendiri (terutama di Mesir dan Palestina) terdapat aliran minoritas yaitu Karait. [93] Di Mesir, terdapat komunitas Kristen Koptik, Melkit, Turki, Armenia, dan orang kulit hitam Afrika. Orang Armenia dan orang kulit hitam merupakan kelompok yang berjumlah yang besar di wilayah Mesir Hulu. Pada masa Bani Fatimiyah, kaum non-Muslim di Mesir pada umumnya hidup sejahtera kecuali pada masa pemerintahan Khalifah al-Hakim.

Namun, setelah Syirkuh menjadi wazir, dikeluarkan sejumlah titah yang merugikan penduduk non-Muslim. Setelah kedatangan pasukan ekspedisi Syam (yang terdiri dari orang Turk Oghuz dan Kurdi) ke Mesir, kelompok minoritas juga mengalami penindasan, baik yang beragama Islam maupun yang beragama lain.

[105] Insiden-insiden tersebut terjadi saat Syirkuh dan Salahuddin menjadi wazir di Fatimiyah. [105] Pada permulaan masa pemerintahan Salahuddin sebagai sultan di Mesir, berdasarkan masukan dari penasihatnya yang bernama Qadi al-Fadil, orang Kristen dilarang bekerja di bidang keuangan negara, tetapi berbagai amir Ayyubiyah masih mengizinkan orang Kristen bekerja di pemerintahan.

Sejumlah aturan lainnya juga diberlakukan, seperti pelarangan terhadap konsumsi alkohol, prosesi keagamaan, dan pembunyian lonceng gereja. Orang-orang Kristen yang sebelumnya berpangkat tinggi juga masuk Islam bersama dengan anggota keluarga mereka pada masa awal pemerintahan Ayyubiyah. [106] Menurut sejarawan Yaakov Lev, penindasan yang dialami oleh non-Muslim menimbulkan beberapa dampak permanen terhadap mereka, tetapi dampaknya terbatas di tingkatan daerah. [105] Sementara itu, untuk mengurus perdagangan di Laut Tengah, Bani Ayyubiyah mengizinkan orang-orang Eropa (khususnya orang Italia, tetapi termasuk juga orang Prancis dan Katalunya) bermukim di Iskandariyah dalam jumlah yang besar.

Namun, setelah meletusnya Perang Salib Kelima, 3.000 pedagang di kawasan tersebut ditangkap atau diusir. [87] Bani Ayyubiyah pada umumnya memberikan jabatan-jabatan tinggi di militer dan birokrasi kepada orang Kurdi, Turki, dan orang-orang dari Kaukasus. Tidak banyak hal yang diketahui mengenai para prajurit Ayyubiyah, tetapi jumlah pasukan berkuda Ayyubiyah biasanya berkisar pada angka 8.500 hingga 12.000.

Kavaleri Ayyubiyah kebanyakan terdiri dari orang-orang Kurdi dan Turki yang terlahir bebas dan kemudian dibeli oleh para amir dan sultan sebagai budak militer atau mamluk; pada awal masa kekuasaan Ayyubiyah, terdapat pula kontingen Turkmen dalam jumlah yang besar. Selain itu, terdapat pasukan pembantu Arab, bekas satuan-satuan Fatimiyah seperti pasukan yang terdiri dari orang Nubia, serta kontingen-kontingen Arab yang terpisah (khususnya dari suku Kinaniya, yang biasanya ditugaskan untuk mempertahankan Mesir).

Pasukan Kurdi dan Turki kadang-kadang saling bersaing memperebutkan jabatan militer, dan menjelang akhir kekuasaan Ayyubiyah, jumlah pasukan Turki jauh lebih besar daripada Kurdi. Walaupun para sultan Ayyubiyah memiliki latar belakang Kurdi, mereka tetap berlaku adil terhadap kedua kelompok tersebut. [107] Jumlah penduduk Belum ada angka yang dapat menunjukkan secara pasti jumlah penduduk di wilayah kekuasaan Ayyubiyah. Colin McEvedy dan Richard Jones menyatakan bahwa pada abad ke-12, Syam memiliki jumlah penduduk sebesar 2,7 juta, Palestina dan Transyordania dihuni oleh 500.000 orang, dan Mesir memiliki populasi di bawah 5 juta.

[108] Josiah C. Russel menyatakan bahwa pada periode yang sama, terdapat 2,4 juta orang yang tinggal di 8.300 desa di Syam, sehingga terdapat sekitar 230.000–300.000 orang yang menetap di sepuluh kota, delapan di antaranya adalah kota Muslim yang berada di bawah kekuasaan Ayyubiyah. Kota terbesar di wilayah Ayyubiyah adalah Edessa (pop. 24.000), Damaskus (pop. 15.000), Aleppo (pop. 14.000), dan Yerusalem (pop.

10.000). Kota-kota kecil lainnya meliputi Homs, Hamat, Gaza, dan Hebron. [109] Russel memperkirakan jumlah penduduk di wilayah pedesaan Mesir berjumlah 3,3 juta di 2.300 desa, sehingga pedesaan Mesir pada masa itu memiliki kepadatan yang tinggi. Menurutnya, hal ini dimungkinkan oleh produktivitas lahan yang tinggi, sehingga hasil panen pun meningkat.

Sementara itu, jumlah penduduk di wilayah perkotaan lebih rendah, yaitu 233.100 jiwa atau sekitar 5,7% jumlah penduduk di Mesir. Kota-kota terbesarnya adalah Kairo (pop. 60.000), Iskandariyah (pop. 30.000), Qus (pop. 25.000), Dimyath (pop. 18.000), Fayyum (pop. 13.000), dan Bilbais (pop. 10.000). Sejumlah kota kecil berada di pinggiran Sungai Nil. Kota-kota kecil tersebut adalah Damanhur, Asyut, dan Tanta.

Kota-kota di Mesir juga padat penduduk, khususnya akibat urbanisasi dan industrialisasi yang lebih besar daripada tempat lainnya. [109] Ekonomi Salah satu contoh kriya tembikar Ayyubiyah yang berasal dari Mesir Setelah berhasil mengusir Tentara Salib dari sebagian besar wilayah Syam, Dinasti Ayyubiyah memberlakukan kebijakan perdamaian dengan mereka. Perang melawan Tentara Salib juga sama sekali tidak menghentikan hubungan dagang dengan negara-negara Eropa.

Malahan hubungan ekonomi di antara mereka bermanfaat bagi kedua belah pihak, khususnya dalam bidang pertanian dan perdagangan. [110] Dinasti Ayyubiyah telah mengambil berbagai tindakan untuk meningkatkan produksi pertanian. Terusan-terusan digali untuk menyediakan irigasi di berbagai wilayah kekaisaran.

Pembudidayaan tebu secara resmi didukung untuk memenuhi permintaan yang besar dari penduduk setempat maupun dari bangsa Eropa. Sementara itu, akibat Perang Salib, berbagai jenis tanaman dari wilayah Ayyubiyah menyebar ke Eropa, seperti wijen, tanaman kharub, milet, beras, lemon, melon, aprikot, dan bawang merah. [110] Faktor utama yang memperkuat industri dan perdagangan di Dinasti Ayyubiyah adalah ketertarikan bangsa Eropa terhadap barang-barang baru yang mereka temui saat sedang berhubungan dengan kaum Muslim.

Komoditas-komoditas tersebut meliputi dupa, wewangian, dan tanaman aromatik dari Arabia dan India, serta jahe, tawas, dan lidah buaya.

Bangsa Eropa juga tertarik dengan gaya busana dan perabotan yang baru. Permadani, karpet, dan dewangga yang dibuat di Timur Tengah dan Asia Tengah mulai diperkenalkan di dunia Barat berkat hubungan antara Tentara Salib dengan Ayyubiyah. Para peziarah Kristen yang mengunjungi Yerusalem kembali dengan membawa tempat penyimpanan pusaka buatan Arab. Selain itu, karya-karya seni dari timur yang terbuat dari berbagai macam bahan (seperti kaca, tembikar, emas, atau perak) bernilai tinggi di Eropa.

[110] Permintaan dari Eropa terhadap produk-produk pertanian dan komoditas-komoditas industri telah menggairahkan perdagangan internasional. Dinasti Ayyubiyah berperan penting dalam hal ini, karena mereka menguasai jalur dagang di Laut Merah yang melewati pelabuhan-pelabuhan di Yaman dan Mesir. [110] Walaupun Dinasti Ayyubiyah bekerja sama dengan Republik Genova dan Venesia di Laut Tengah, kedua negara tersebut tidak dapat mengakses Laut Merah. Oleh sebab itu, Dinasti Ayyubiyah dapat memperoleh keuntungan dari perdagangan di Samudra Hindia tanpa persaingan kedua negeri pedagang tersebut.

Di Laut Tengah, Dinasti Ayyubiyah sangat diuntungkan dari pajak dan komisi yang mereka pungut dari para pedagang Italia. [111] Seiring dengan perkembangan perdagangan internasional, asas-asas dasar kredit dan perbankan mulai dikembangkan.

Para pedagang Yahudi dan Italia memiliki agen-agen perbankan di Syam yang melaksanakan transaksi bisnis. Wesel juga digunakan untuk bertransaksi, sementara uang disimpan di bank-bank di Syam. Kegiatan perdagangan dan industri telah memasok dana yang diperlukan oleh sultan-sultan Ayyubiyah untuk memenuhi kebutuhan perbelanjaan militer serta untuk pembangunan. Pada masa kekuasaan al-Adil dan al-Kamil, pemerintah sangat memperhatikan kondisi ekonomi negara.

Al-Kamil bahkan sangat ketat dalam mengatur pengeluaran negara; konon saat ia menjemput ajalnya, ia meninggalkan kas yang nilainya setara dengan anggaran setahun penuh. [111] Pendidikan Para penguasa Ayyubiyah merupakan orang-orang yang terdidik dan mereka mendukung kegiatan belajar mengajar.

Madrasah-madrasah dibangun di wilayah Ayyubiyah tidak hanya untuk mendidik siswa, tetapi juga untuk menyebarkan agama Islam Sunni. Menurut Ibnu Jubayr, kota Damaskus pada masa pemerintahan Salahuddin memiliki 20 madrasah, 100 tempat pemandian, serta biara-biara darwis Sufi dalam jumlah yang besar. Ia juga membangun madrasah-madrasah di Aleppo, Yerusalem, Kairo, Iskandariyah, dan berbagai kota di Hijaz. Banyak pula madrasah yang dibangun oleh para penerusnya.

Bahkan istri para penguasa Ayyubiyah, para panglima, dan para bangsawan juga ikut mendirikan dan mendanai sejumlah lembaga pendidikan. [111] Meskipun para penguasa Ayyubiyah mengikuti mazhab Syafi'i, mereka juga membangun madrasah-madrasah untuk keempat mazhab Sunni. Sebelum Bani Ayyubiyah berkuasa, tidak ada madrasah yang beraliran Hanbali dan Maliki di Syam, tetapi Bani Ayyubiyah kemudian mendirikan sekolah-sekolah khusus untuk mazhab-mazhab tersebut.

Pada pertengahan abad ke-13, Ibnu Syaddad mendirikan 40 madrasah Syafi'i, 34 madrasah Hanafi, 10 madrasah Hanbali, dan tiga madrasah Maliki di Damaskus. [112] Setelah Salahuddin menegakkan kembali agama Sunni di Mesir, 10 madrasah didirikan di Kairo pada masa kekuasaannya, ditambah dengan 25 madrasah lainnya pada masa penguasa-penguasa setelah Salahuddin. Madrasah-madrasah tersebut didirikan di tempat yang penting dari segi ekonomi, politik, dan agama, khususnya madrasah yang terletak di al-Fusthath.

Sebagian besar dari madrasah-madrasah tersebut merupakan madrasah bermazhab Syafi'i, tetapi ada pula yang mengikuti mazhab Maliki dan Hanafi. Madrasah yang dibangun di dekat makam Imam Asy-Syafi'i terletak bersebelahan dengan pusat peziarahan Sunni. [113] Selain dirintis oleh para penguasa, sejarah mencatat bahwa para pejabat tinggi di Dinasti Ayyubiyah membangun 26 madrasah di Mesir, Yerusalem, dan Damaskus.

Rakyat jelata juga mendirikan sekitar 18 madrasah di Mesir, termasuk dua lembaga medis, padahal pembangunan madrasah oleh rakyat jelata merupakan hal yang tidak lazim pada masa itu. Sebagian besar madrasah di Dinasti Ayyubiyah mewajibkan guru dan siswanya untuk tinggal di asrama.

Para guru di madrasah tersebut merupakan ahli fikih dan akidah, dan mereka mendapatkan gaji dari madrasah tempat mereka bekerja.

Sementara itu, para siswa di madrasah tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga memperoleh bimbingan dari guru untuk bidang yang ingin mereka kuasai serta uang saku untuk memenuhi segala kebutuhan.

Madrasah dianggap sebagai lembaga yang bergengsi di Dinasti Ayyubiyah. Pada masa itu, orang yang ingin menjadi pejabat di pemerintahan harus lulus dari madrasah terlebih dahulu.

[112] Ilmu pengetahuan Berkat dukungan yang diberikan oleh Dinasti Ayyubiyah, kegiatan intelektual kembali bangkit di wilayah yang dikuasai oleh Ayyubiyah. Para cendekiawan di Ayyubiyah sangat berminat pada bidang kedokteran, farmakologi (ilmu obat-obatan), dan botani (ilmu tanaman). Salahuddin membangun dua rumah sakit di Kairo yang mengikuti Rumah Sakit Nuri di Damaskus; rumah sakit tersebut tak hanya merawat pasien, tetapi juga menawarkan pendidikan medis.

Banyak ilmuwan dan dokter yang telah berkiprah di Mesir, Syam, dan Irak pada zaman Ayyubiyah. Beberapa dari antara mereka adalah Moshe ben Maimon ("Maimonides"), Ibnu Jami, Abdullatif al-Baghdadi, ad-Dakhwar, Rasyidun as-Suri, dan Ibnu al-Baithar. Beberapa cendekiawan mengabdi kepada keluarga penguasa Ayyubiyah secara langsung, dan bahkan ada juga yang menjadi dokter pribadi sultan.

[114] Arsitektur Tembok Ayyubiyah di Kairo yang ditemukan selama pembangunan Taman Al-Azhar, Januari 2006 Pencapaian arsitektur terbesar pada zaman Ayyubiyah adalah arsitektur militernya, ditambah dengan pembangunan madrasah-madrasah Sunni untuk memperkuat agama tersebut (khususnya di wilayah Mesir yang sebelumnya didominasi oleh Syiah). Perubahan terbesar yang diberlakukan oleh Salahuddin di Mesir adalah dengan menutup Kairo dan al-Fusthath di dalam tembok kota.

[115] Beberapa teknik perbentengan dipelajari dari Tentara Salib, seperti tembok luar yang mengikuti topografi alami. Banyak juga teknik yang diwarisi dari Fatimiyah, seperti makikolasi dan menara bundar, sementara teknik-teknik lainnya dikembangkan sendiri oleh Ayyubiyah, khususnya perencanaan konsentrik. [116] Wanita Muslim (terutama dari keluarga Ayyubiyah), keluarga gubernur setempat, dan keluarga ulama turut serta dalam mengembangkan arsitektur Ayyubiyah.

Di Damaskus, wanita menjadi pendukung proyek-proyek arsitektur keagamaan. Berkat dukungan dari mereka, telah dibangun lima belas madrasah, enam khanqah Sufi, dan dua puluh enam lembaga amal dan keagamaan di kota tersebut. Di Aleppo, Madrasah al-Firdaus, yang dikenal sebagai salah satu mahakarya Ayyubiyah di Syam, didukung pembangunannya oleh ratu Dhaifa Khatun.

[117] Pada September 1183, pembangunan Benteng Kairo dimulai atas perintah dari Salahuddin. Menurut al-Maqrizi, Salahuddin memilih Perbukitan Muqattam sebagai tempat pembangunan benteng tersebut karena udara di sana lebih segar daripada tempat lainnya di Kairo.

Namun, pembangunannya tidak semata-mata didasarkan pada udara yang menyegarkan, tetapi untuk keperluan pertahanan. Tembok dan menara di bagian utara benteng tersebut kebanyakan dibangun pada masa kekuasaan Salahuddin dan al-Kamil. [115] Pembangunan benteng tersebut diselesaikan pada masa kepemimpinan Al-Kamil. Ia memperkuat dan memperbesar beberapa menara yang sudah ada, seperti dua menara dari masa kekuasaan Salahuddin (Burg al-Haddad dan Burg al-Ramla) yang diperbesar dengan menutupinya dengan struktur berbentuk setengah lingkaran.

Al-Kamil juga menambahkan beberapa menara berbentuk persegi yang berfungsi sebagai menara benteng. Menurut Richard Yeomans, struktur paling menakjubkan yang dibangun oleh al-Kamil adalah sejumlah menara benteng raksasa berbentuk persegi panjang yang berada di tembok utara. [118] Perbentengan yang dibangun oleh al-Kamil memiliki ciri khas berupa batu-batuannya yang tampak menonjol, sementara menara-menara buatan Salahuddin memiliki bebatuan yang terlihat halus.

Gaya bebatuan yang menonjol merupakan ciri khas benteng-benteng Ayyubiyah lainnya, seperti yang dapat ditemui pada Benteng Damaskus dan Busra di Syam. [113] Hasil pindaian laser 3D terhadap Gerbang Bab al-Barqiyya di tembok Ayyubiyah dari abad ke-12 yang mengelilingi Taman Al-Azhar. Kota Aleppo mengalami perubaan besar pada zaman Ayyubiyah, khususnya pada masa pemerintahan az-Zahir Ghazi.

Tembok di kota tersebut mulai dirombak ulang setelah az-Zahir Ghazi merobohkan vallum dari zaman Nuruddin dan membangun ulang tembok utara dan barat laut (tempat yang paling rentan diserang) yang terbentang dari Gerbang Bab al-Jinan hingga Bab an-Nasr.

Ia membagi-bagikan tugas pembangunan menara di bagian tembok ini kepada para pangeran dan perwira militernya; nama pangeran yang terkait dengan pembangunan suatu menara ditorehkan di menara tersebut. Kemudian, az-Zahir Ghazi memperluas tembok timur sampai ke arah selatan dan timur, dan tindakan ini menunjukkan keinginannya untuk menggabungkan benteng Qala'at al-Syarif yang sudah lapuk di luar tembok kota Aleppo.

[119] Gerbang Bab Qinnasrin dibangun ulang oleh an-Nasir Yusuf pada tahun 1256. Gerbang tersebut masih berdiri saat ini dan merupakan salah satu mahakarya arsitektur militer Ayyubiyah. [120] Secara keseluruhan, pembangunan yang diprakarsai oleh Bani Ayyubiyah sangat mengubah wajah kota Aleppo. Bentengnya dibangun ulang, fasilitas penyediaan air diperluas, dan air mancur dan tempat pemandian juga dibangun di jalanan dan berbagai daerah kota. Selain itu, puluhan tempat suci, masjid, madrasah, dan makam dibangun di berbagai tempat di Aleppo.

[121] Setelah kota Yerusalem berhasil dikuasai oleh Salahuddin, pemerintah Ayyubiyah menggelontorkan dana yang besar untuk membangun rumah, pasar, tempat pemandian umum, dan penginapan untuk para peziarah.

Sejumlah pengerjaan juga dilakukan di Al Haram Asy Syarif. [122] Salahuddin memerintahkan agar seluruh tembok dalam dan tiang di Kubah Shakhrah dilapisi dengan pualam, dan ia juga memprakarsai renovasi mosaik di bagian penopang kubah. Mihrab masjid al-Aqsa diperbaiki, dan pada tahun 1217, al-Mu'azzam Isa membangun serambi utara masjid yang dilengkapi dengan tiga gerbang.

[123] Kubah Mi'raj juga dibangun, sementara pemugaran dilakukan terhadap kubah-kubah yang berdiri sendiri di Al Haram Asy Syarif. [124] • ^ Ahmed, Rumee (25 Oktober 2018). The Oxford Handbook of Islamic Law. Oxford University Press. hlm. 311. ISBN 9780191668265. • ^ Eliade, Mircea (1987). "Kalam". The Encyclopedia of Religion.

8: 238. ISBN 9780029097908. • ^ Turchin, Peter; Adams, Jonathan M.; Hall, Thomas D (December 2006). "East-West Orientation of Historical Empires" (PDF). Journal of world-systems research. 12 (2): 219–229. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 2007-02-22 . Diakses tanggal 9 January 2012.

• ^ a b c d Humphreys 1987 • ^ Özoğlu 2004, hlm. 46 • ^ Bosworth 1996, hlm. 73 • ^ Eiselen 1907, hlm. 89 • ^ Ali 1996, hlm. 27 • ^ a b c Ali 1996, hlm. 28 • ^ a b c d e f Shillington 2005, hlm. 438 • ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 8 • ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 14 • ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 25 • ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 28 • ^ Lev 1999, hlm. 96–97 • ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 41 • ^ a b c d Lev 1999, hlm.

101 • ^ Lev 1999, hlm. 100 • ^ Fage 1978, hlm. 583 • ^ Lane-Poole 1894, hlm. 75 • ^ a b c Houtsma & Wensinck 1993, hlm. 884 • ^ a b Margariti 2007, hlm. 29 • ^ McLaughlin 2008, hlm. 131 • ^ Lofgren 1997, hlm. {/INSERTKEYS}

181 • ^ Dumper & Stanley 2007, hlm. 10 • ^ a b Brice 1981, hlm. 338 • ^ a b c d Salibi 1998, hlm. 55 • ^ a b Daly & Petry 1998, hlm. 217–218 • ^ a b Lane-Poole 1906, hlm. 141 • ^ Lane-Poole 1894, hlm. 76 • ^ Lane-Poole 1906, hlm. 142–146 • ^ Lane-Poole 1906, hlm. 146–148 • ^ Lev 1999, hlm. 22 • ^ Lev 1999, hlm. 100–101 • ^ Lane-Poole 1906, hlm. 155–156 • ^ Smail 1995, hlm. 35–36 • ^ Lyons & Jackson 1982, hlm.

195 • ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 202–203 • ^ a b c Bosworth et al. 1989, hlm. 781 • ^ Lyons & Jackson 1982, hlm. 221 • ^ Lane-Poole 1906, hlm. 177–181 • ^ Lane-Poole 1906, hlm. 219 • ^ Lane-Poole 1906, hlm.

223 • ^ Lane-Poole 1906, hlm. 230 • ^ Lane-Poole 1906, hlm. 239–240 • ^ Lane-Poole 1906, hlm. 289–307 • ^ a b c Meri & Bacharach 2006, hlm. 84 • ^ a b Richard & Birrell 1999, hlm. 240 • ^ a b Burns 2005, hlm. 179 • ^ a b c d e Burns 2005, hlm. 180 • ^ a b c d Richard & Birrell 1999, hlm. 241 • ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 297 • ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 300 • ^ Richard & Birrell 1999, hlm.

301 • ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 315 • ^ a b c Ali 1996, hlm. 84 • ^ a b Burns 2005, hlm. 184 • ^ Burns 2005, hlm. 185 • ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 322 • ^ Burns 2005, hlm. 186 • ^ Richard & Birrell 1999, hlm. 328 • ^ a b c Richard & Birrell 1999, hlm. 330 • ^ Humphreys 1977, hlm. 288 • ^ a b Humphreys 1977, hlm.

290 • ^ Humphreys 1977, hlm. 293–295 • ^ Humphreys 1977, hlm. 297 • ^ Ali 1996, hlm. 35 • ^ Ali 1996, hlm. 36 • ^ Richard & Birrell 1999, hlm.

349 • ^ a b Tabbaa 1997, hlm. 29–30 • ^ Humphreys 1977, hlm. 316 • ^ Humphreys 1977, hlm. 322–323 • ^ a b Humphreys 1977, hlm. 328 • ^ a b Humphreys 1977, hlm. 330–331 • ^ Humphreys 1977, hlm. 332 • ^ Burns 2005, hlm. 195–196 • ^ Dumper & Stanley 2007, hlm. 128 • ^ a b c d Burns 2005, hlm. 197 • ^ a b Grousset 2002, hlm. 362 • ^ a b c Abulafia, McKitterick & Fouracre 2005, hlm. 616 • ^ Dumper & Stanley 2007, hlm. 163 • ^ Singh 2000, hlm.

203–204 • ^ Ayliffe et al. 2003, hlm. 913 • ^ a b c Jackson 1996, hlm. 36 • ^ Hourani & Ruthven 2002, hlm. 131 • ^ Daly & Petry 1998, hlm. 239–240 • ^ a b Daly & Petry 1998, hlm. darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

• ^ Daly & Petry 1998, hlm. 232 • ^ Sato 2014, hlm. 134 • ^ Lev 1999, hlm. 11 • ^ Jackson 1996, hlm. 37 • ^ Vermeulen, De Smet & Van Steenbergen 2001, hlm.

211–212 • ^ a b Hourani & Ruthven 2002, hlm. 96–97 • ^ Goldschmidt 2008, hlm. 48 • ^ Magill 1998, hlm. 809 • ^ a b France 1998, hlm. 84 • ^ a b Tabbaa 1997, hlm. 31 • ^ Angold 2006, hlm. 391 • ^ Fage & Oliver 1977, hlm. 37–38 • ^ Humphreys 1977, hlm. 189–190 • ^ Catlos 1997, hlm. 425 • ^ Flinterman 2012, hlm. 16–17 • ^ Willey 2005, hlm. 41 • ^ Baer 1989, hlm. 2–3 • ^ a b c Lev 1999, hlm. 192 • ^ Lev 1999, hlm. 187–189 • ^ Daly & Petry 1998, hlm. 226 • ^ Shatzmiller 1994, hlm.

57–58 • ^ a b Shatzmiller 1994, hlm. 59–60 • ^ a b c d Ali 1996, hlm. 37 • ^ a b c Ali 1996, hlm. 38 • ^ a b Ali 1996, hlm. 39 • ^ a b Yeomans 2006, hlm.

111 • ^ Ali 1996, hlm. 39–41 • ^ a b Yeomans 2006, hlm. 104–105 • ^ Petersen 1996, hlm. 26 • ^ Humphreys 1994, hlm. 35 • ^ Yeomans 2006, hlm. 109–110 • ^ Tabbaa 1997, hlm.

19 • ^ Tabbaa 1997, hlm. 21–22 • ^ Tabbaa 1997, hlm. 26 • ^ Dumper & Stanley 2007, hlm. 209 • ^ Ma'oz & Nusseibeh 2000, hlm. 137–138 • ^ le Strange 1890, hlm.

154–155 Daftar pustaka • Abulafia, David; McKitterick, Rosamond; Fouracre, Paul (2005), The New Cambridge Medieval History, Cambridge University Press, ISBN 0-521-36289-X • Angold, Michael, ed. (2006), The Cambridge History of Christianity: Volume 5, Eastern Christianity, Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-81113-2 • Ayliffe, Rosie; Dubin, Marc; Gawthrop, John; Richardson, Terry (2003), The Rough Guide to Turkey, Rough Guides, ISBN 1843530716 • Ali, Abdul (1996), Islamic Dynasties of the Arab East: State and Civilization During the Later Medieval Times, M.D.

Publications Pvt. Ltd, ISBN 81-7533-008-2 • Baer, Eva (1989), Ayyubid Metalwork with Christian Images, BRILL, ISBN 90-04-08962-4 • Brice, William Charles (1981), An Historical Atlas of Islam, BRILL, ISBN 90-04-06116-9 • Burns, Ross (2005), Damascus: A History, Routledge, ISBN 0-415-27105-3 • Bosworth, C.E. (1996), The New Islamic Dynasties, New York: Columbia University Press, ISBN 978-0-231-10714-3 • Bosworth, C.E.; Donzel, E. van; Heinrichs, W.P.; et al., ed. (1989), The Encyclopaedia of Islam: Fascicules 111–112: Masrah Mawlid, VI (edisi ke-New), BRILL, ISBN 90-04-09239-0 • Catlos, Brian (1997), "Mamluks", dalam Rodriguez, Junios P., The Historical Encyclopedia of World Slavery, 1,7, ABC-CLIO • Daly, M.

W.; Petry, Carl F. (1998), The Cambridge History of Egypt: Islamic Egypt, 640-1517, M.D. Publications Pvt. Ltd, ISBN 81-7533-008-2 • Dumper, Michael R.T.; Stanley, Bruce E., ed.

(2007), Cities of the Middle East and North Africa: A Historical Encyclopedia, ABC-CLIO, ISBN 978-1-57607-919-5 • Eiselen, Frederick Carl (1907), Sidon: A Study in Oriental History, New York: Columbia University Press • Fage, J. D., ed. (1978), The Cambridge History of Africa, Volume 2: c.

500 B.C.–A.D. 1050, Cambridge University Press, ISBN 978-0-52121-592-3 • Flinterman, Willem (April 2012), "Killing and Kinging" (PDF), Leidschrift, 27 (1) • Fage, J. D.; Oliver, Roland, ed. (1977), The Cambridge History of Africa, Volume 3: c. 1050–c. 1600, Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-20981-6 • France, John (1998), The Crusades and Their Sources: Essays Presented to Bernard Hamilton, Ashgate, ISBN 978-0-86078-624-5 • Goldschmidt, Arthur (2008), A Brief History of Egypt, Infobase Publishing, ISBN 1438108249 • Grousset, René (2002) [1970], The Empire of the Steppes: A History of Central Asia, Rutgers University Press, ISBN 0-8135-1304-9 • Hourani, Albert Habib; Ruthven, Malise (2002), A History of the Arab peoples, Harvard University Press, ISBN 0-674-01017-5 • Houtsma, Martijn Theodoor; Wensinck, A.J.

(1993), E.J. Brill's First Encyclopaedia of Islam, 1913–1936, BRILL, ISBN 90-04-09796-1 • Humphreys, Stephen (1977), From Saladin to the Mongols: The Ayyubids of Damascus, 1193–1260, SUNY Press, ISBN 0-87395-263-4 • Humphreys, Stephen (15 December 1987), Ayyubids, Encyclopedia Iranica • Humphreys, Stephen (1994), "Women as Patrons of Religious Architecture in Ayyubid Damascus", Muqarnas, 11: 35–54diakses tanggal 21 November 2018 • Jackson, Sherman A.

(1996), Islamic Law and the State, BRILL, ISBN 90-04-10458-5 • Lane-Poole, Stanley (1906), Saladin and the Fall of the Kingdom of Jerusalem, Heroes of the Nations, London: G. P. Putnam's Sons • Lane-Poole, Stanley (2004) [1894], The Mohammedan Dynasties: Chronological and Genealogical Tables with Historical Introductions, Kessinger Publishing, ISBN 978-1-4179-4570-2 • Lev, Yaacov (1999), Saladin in Egypt, BRILL, ISBN 978-90-04-11221-6 • Lofgren, O.

(1997), "Adan", dalam Gibb, H.A.R.; Kramers, J.H.; Levi-Provencal, E.; et al., The Encyclopedia of Islam, 1, E.J.Brill • Lyons, M. C.; Jackson, D.E.P. (1982), Saladin: the Politics of the Holy War, Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-31739-9 • Magill, Frank Northen (1998), Dictionary of World Biography: The Middle Ages, 2, Routledge, ISBN 1579580416 • Ma'oz, Moshe; Nusseibeh, Sari (2000), Jerusalem: Points of Friction - And Beyond, Brill, ISBN 978-90-41-18843-4 • Margariti, Roxani Eleni (2007), Aden & the Indian Ocean trade: 150 years in the life of a medieval Arabian port, UNC Press, ISBN 0-8078-3076-3 • McLaughlin, Daniel (2008), Yemen: The Bradt Travel Guide, Bradt Travel Guides, ISBN 1-84162-212-5 • Meri, Josef W.; Bacharach, Jeri L.

(2006), Medieval Islamic civilization: An Encyclopedia, Taylor and Francis, ISBN 0-415-96691-4 • Petersen, Andrew (1996), Dictionary of Islamic Architecture, Routledge, ISBN 0415060842 • Richard, Jean; Birrell, Jean (1999), The Crusades, c. 1071–c. 1291, Cambridge University Press, ISBN 0-521-62566-1 • Salibi, Kamal S. (1998), The Modern History of Jordan, I.B.Tauris, ISBN 1-86064-331-0 • Sato, Tsugitaka (2014), Sugar in the Social Life of Medieval Islam, BRILL, ISBN 9789004281561 • Shatzmiller, Maya (1994), Labour in the Medieval Islamic world, BRILL, ISBN 90-04-09896-8 • Shillington, Kevin (2005), Encyclopedia of African history, CRC Press, ISBN 1-57958-453-5 • Singh, Nagendra Kumar (2000), International Encyclopaedia of Islamic Dynasties, Anmol Publications PVT.

LTD., ISBN 81-261-0403-1 • Smail, R.C. (1995), Crusading Warfare 1097–1193, Barnes & Noble Books, ISBN 1-56619-769-4 • le Strange, Guy (1890), Palestine Under the Moslems: A Description of Syria and the Holy Land from A.D.

650 to 1500, Committee of the Palestine Exploration Fund • Tabbaa, Yasser (1997), Constructions of Power and Piety in Medieval Aleppo, Penn State Press, ISBN 0-271-01562-4 • Turchin, Peter; Adams, Jonathan M.; Hall, Thomas D. (December 2006), "East-West Orientation of Historical Empires", Journal of World-Systems Research, 12 (2): 219–229diakses tanggal 8 November 2016 • Vermeulen, Urbaine; De Smet, D.; Van Steenbergen, J.

(2001), Egypt and Syria in the Fatimid, Ayyubid, and Mamluk eras III, Peeters Publishers, ISBN 90-429-0970-6 • Willey, Peter (2005), Eagle's nest: Ismaili castles in Iran and Syria, Institute of Ismaili Studies and I.B. Tauris, ISBN 1-85043-464-6 • Yeomans, Richard (2006), The Art and Architecture of Islamic Cairo, Garnet & Ithaca Press, ISBN 1-85964-154-7 Pranala luar Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ayyubid dynasty. • Fatimid-era Ayyubid Wall of Cairo Digital Media Archive Akkadia · Mesir · Asiria · Babilonia · Aksum · Het · Persia ( Media · Akhemeniyah · Parthia · Sasaniyah) · Makedonia ( Ptolemaik · Seleukia) · Kartago · India ( Maurya · Sunga · Satavahana · Kushan · Gupta · Harsha) · Tiongkok ( Qin · Han · Jin) · Romawi ( Romawi Barat · Romawi Timur) · Nirun Imperium abad pertengahan Ayyubiyyah · Byzantium · Hun · Turk ( Turk · Timur · Barat) · Arab ( Rasyidin · Umayyah · Abbasiyah · Fatimiyah · Kordoba) · Maroko ( Idrisiyah · Murabithun · Muwahhidun · Mariniyah) · India ( Pala · Chola · Delhi · Wijayanagara) · Persia ( Tahiriyah · Samaniyah · Buwayhiyah · Saffariyah · Ziyariyah) · Ghaznawiyah · Benin · Seljuk · Oyo · Bornu · Khwarezmia · Timuriyah · Mongol ( Yuan · Jochi · Chagatai · Kekhanan Il) · Kanem · Serbia · Songhai · Khmer · Bulgaria · Karoling · Romawi Suci · Angevin · Mali · Tiongkok ( Sui · Tang · Song · Yuan) · Tibet · Uighur · Ghana · Aztek · Inka · Sriwijaya · Majapahit · Ethiopia ( Zagwe · Salomo) · Aceh · Brunei · Vietnam ( Dai Viet) · Tonga · Melaka · Demak · Mamluk Mesir · Venesia · Georgia Imperium modern Afghan · India ( Mughal · Maratha · Sikh · Mysore) · Tiongkok ( Ming · Qing · Tiongkok · Manchukuo) · Ternate darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

Vietnam ( Dai Nam · Vietnam) · Utsmaniyah · Persia ( Safawiyah · Afshariyah · Zand · Qajar · Pahlavi) · Cirebon · Oman · Johor · Ethiopia · Uzbek ( Uzbek · Bukhara) · Maroko ( Saadi · Alaouite) · Afrika Tengah · Portugis · Spanyol · Iberia · Belanda · Britania · Banten · Mataram · Prancis ( Napoleon Prancis · Kolonial Prancis) · Austria · Jerman ( Kolonial Jerman · Jerman Nazi) · Rusia · Swedia · Austria-Hongaria · Brasil · Meksiko ( Pertama · Kedua) · Haiti ( Pertama · Kedua) · Kolonial Italia · Kolonial Belgia · Kolonial Denmark · Kolonial Norwegia darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

Korea · Jepang Imperium Adidaya Kategori tersembunyi: • Artikel mengandung aksara Arab • Artikel mengandung aksara non-Indonesia • Artikel mengandung aksara Kurdi • Pages using infobox country or infobox former country with the flag caption or type parameters • Pranala kategori Commons ada di Wikidata • Artikel bagus • Artikel bagus biasa • Semua artikel bagus • Artikel Wikipedia dengan penanda GND • Artikel Wikipedia dengan penanda VIAF • Artikel Wikipedia dengan penanda NDL • Artikel Wikipedia dengan penanda NKC • Artikel Wikipedia dengan penanda WORLDCATID • Halaman ini terakhir diubah pada 1 Maret 2022, pukul 04.50.

• Teks tersedia di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi-BerbagiSerupa; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya. • Kebijakan privasi • Tentang Wikipedia • Penyangkalan • Tampilan seluler • Pengembang • Statistik • Pernyataan kuki • •
Loyalitas terhadap Ali bin Abi Thalib adalah isu terpenting bagi komunitas Syi’ah untuk mengembangkan konsep Islamnya, melebihi isu hukum dan mistisme.

Pada abad ke- VII dan ke- VIII M, isu tersebut mengarah kepada gerakan politis dalam bentuk perlawanan kepada Khalifah Umaiyah dan Khilafah Abbasiyah. Meski Khilafah Abbasiyah mampu berkuasa dalam tempo yang begitu lama, akan tetapi periode keemasannya hanya berlansung singkat. Puncak kemerosotan kekuasaan khalifah-khalifah Abbasiyah ditandai dengan berdirinya khilafah-khilafah kecil yang melepaskan diri dari kekuasaan politik Khalifah Abbasiyah.

Khilafah-khilafah yang memisahkan diri itu salah satu diantaranya adalah Fatimiyah yang berasal dari golongan Syi’ah sekte Ismailiyah, yakni sebuah aliran sekte di Syi’ah yang lahir akibat perselisihan tentang pengganti imam Ja’far al-Shadiq yang hidup antara tahun 700-756 M.

Fatimiyah hadir sebagai tandingan bagi penguasa Abbasiyah yang berpusat di Baghdad yang tidak mengakui kekhalifahan Fatimiyah sebagai keturunan Rasulullah dari Fatimah. Karena mereka menganggap bahwa merekalah ahlul bait sesungguhnya dari Bani Abbas. Dr. Aiman Fuad Rasyid dalam bukunya Daulah Fatimiyah fil Misr mengatakan, setelah meninggalnya Imam Ja’far As-Shadiq, anggota sekte Syiah Ismailiyah berselisih pendapat mengenai sosok pengganti sang imam.

Ismail, putra Ja’far yang ditunjuk secara nash sebagai penggantinya, telah meninggal terlebih dahulu pada saat bapaknya masih hidup. Pada saat yang sama, mayoritas pengikut Ismailiyah menolak penunjukan Muhammad yang merupakan putra Ismail.

Padahal, menurut mereka, terdapat sosok Musa Al-Kadzhim yang dinilai lebih pantas memegang tampuk kepemimpinan. Maka berdasarkan kesepakatan, diangkatlah Musa Al-Khazim sebagai imam mereka, manggantikan bapaknya sendiri. [1] Sekte Ismailiyah ini pada awalnya tetap tidak jelas keberadaannya, sehingga datanglah Abdullah ibn Maimun yang kemudian memberi bentuk terhadap sistem agama dan politik Ismailiyah ini.

Menurut Van Grunibaum, pada tahun 860 M kelompok ini pindah ke daerah Salamiya di Syiria dan disinilah mereka membuat suatu kekuatan dengan membuat pergerakan propagandis dengan tokohnya Said ibn Husein. Mereka secara rahasia menyusup utusan-utusan keberbagai daerah Muslim, terutama Afrika dan Mesir untuk menyebarkan Ismailiyat kepada rakyat.

Dengan cara inilah mereka membuat landasan pertama bagi munculnya Dinasti Fatimiyah di Afrika dan Mesir. [2] Pada tahun 874 M muncullah seorang pendukung kuat dari Yaman bernama Abu Abdullah al-Husein yang kemudian menyatakan dirinya sebagai pelopor al mahdi. Abdullah al-Husein kemudian pergi ke Afrika Utara, dan karena pidatonya yang sangat baik dan berapi-api ia berhasil mendapatkan dukungan dari suku Barbar Ketama.

Selain itu, ia mendapat dukungan dari seorang Gubernur Ifrikiyah yang bernama Zirid. Philip K Haiti menyebutkan bahwa setelah mendapatkan kekuatan yang diandalkan ia menulis surat kepada Imam Ismailiyat (Said ibn Husein) untuk datang ke Afrika Utara, kemudian Said diangkat menjadi pemimpin pergerakan [3]. Pada tahun 909 M, Said berhasil mengusir Ziadatullah seorang penguasa Aghlabid terakhir untuk keluar dari negrinya. Kemudian, Said diproklamasikan menjadi imam pertama dengan gelar Ubaidillah al-Mahdi.

Dengan demikian berdirilah pemerintahan Fatimiyah pertama di Afrika dan al Mahdi menjadi khalifah pertama dari dinasti Fatimiyah yang bertempat di Raqpodah daerah al-Qayrawan.

Pada tahun 914 M mereka bergerak kearah Timur dan berhasil menaklukkan Alexanderia, menguasai Syiria, Malta, Sardinia, Cosrica, pulau Betrix dan pulau lainnya. Selanjutnya pada tahun 920 M ia mendirikan kota baru di pantai Tusinia yang kemudian diberi nama al-Mahdi. Pada tahun 934 M, al-Mahdi wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Abu al-Qosim dengan gelar al-Qoim (934 M/ 323 H).

Pada tahun 934 M al-Qoim darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. menaklukkan Genoa dan wilayah sepanjang Calabria. Pada waktu yang sama ia mengirim pasukan ke Mesir tetapi tidak berhasil karena sering dijegal oleh Abu Yazid Makad, seorang khawarij di Mesir. Al-Qoim meninggal, kemudian digantikan oleh anaknya al-Mansur yang berhasil menumpas pemberontakan Abu Yazid Makad. [4] Pada tahun 945 M bani Fatimiyah sudah berhasil memantapkan diri di Tunisia dan menguasai beberapa daerah sekelilingnya dan Sisilia.

Kemajuan-kemajuan yang paling penting terjadi selama pemerintahan al-Muiz adalah ia mempunyai seorang Jendral yang cemerlang yaitu Jauhar. Dalam bagian awal pemerintahan, Jauhar memimpin suatu pasukan penakluk ke atlentik, dan keunggulan Fatimiyah ditegakkan atas seluruh Afrika Utara. Kemudian al-Muiz mengalihkan perhatiannya ke Timur.

Jelas tersirat dalam pendirian bani Fatimiyah bahwa mereka harus mencoba untuk menguasai pusat dunia Islam dan dua pendahulunya telah melakukan perjalanan penaklukan yang tidak berhasil terhadap Mesir. Sekarang, persiapan-persiapan cermat termasuk propaganda politis (yang dibantu oleh bencana kelaparan hebat di Mesir). Jauhar menerobos Kairo Lama (al-Fustat) tanpa mengalami kesulitan yang berarti dia bisa menguasai negara ini. Seorang pangeran Ikhshidiyah secara resmi masih berkuasa, tetapi rezim Ikhshidiyah sudah tidak berfungsi lagi dan tidak memberikan perlawanan pada Jauhar.

Nama khalifah Abbasiyah serta merta dihilangkan dari do’a ibadah Jum’at, walaupun cara-cara ibadah Ismailiyah hanya dimasukkan secara bertahap. Jauhar segera mulai membangun sebuah kota baru bagi tentaranya yang diberi nama al-Qahirah yang berarti kota kemenangan atau disebut juga dengan Kairo.

Pada tahun 973 M kota Kairo menjadi kediaman imam atau khalifah Fatimiyah dan pusat pemerintahan. [5] 1. Abu Muhammad Abdullah (Ubaydillah) al-Mahdi billah (909 M - 934 M). 2. Abul-Qasim Muhammad al-Qa'im bi-Amr Allah bin al-Mahdi Ubaidillah (934 M - 946 M). 3. Abu Zahir Isma'il al-Mansur billah (946 M – 953 M).

4. Abu Tamim Ma'ad al-Mu'izz li-Dinillah (953 M – 975 M). 5. Abu Mansur Nizar al-'Aziz billah (975 M – 996 M). 6. Abu 'Ali al-Mansur al-Hakim bi-Amrullah (996 M- 1021 M).

7. Abu'l-Hasan 'Ali al-Zahir li-I'zaz Dinillah (1021 M - 1036M). 8. Abu Tamim Ma'add al-Mustansir bi-llah (1036 M – 1094 M) 9. Al-Musta'li bi-llah (1094 M – 1101 M). 10. Al-Amir bi-Ahkamullah (1101 M -1130 M). 11. 'Abd al-Majid al-Hafiz (1130 M -1149 M). 12. al-Zafir (1149 M – 1154 M). 13. al-Fa'iz (1154 M - 1160 M). 14. al-'Adid (1160 M – 1171 M). Pekerjaan Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan umat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah putri Rasul dan istri dari Ali ibn Abi Thalib.

Tugas yang selanjutnya diperankan oleh Muiz yang mempunyai seorang Jendral bernama Jauhar Sicily yang dikirim untuk menguasai Mesir sebagai pusat dunia Islam zaman itu. Berkat perjuangan Jendral Jauhar, Mesir dapat direbut dalam masa yang pendek. Tugas utamanya adalah: Setelah itu baru khalifah Muiz datang ke Mesir tahun 362 H/973 M memasuki kota Iskandariyah, kemudian menuju Kairo dan memasuki kota yang baru.

Tiga tahun kemudian Muiz meninggal dunia dan digantikan oleh Aziz. Sesudah itu digantikan oleh al-Hakim yang melanjutkan pembangunan daulah Fatimiyah. Hakim memerintah selama 25 tahun, jasanya yang besar adalah mendirikan Darul Hikmah [7] yang berfungsi sebagai akademi yang sejajar dengan lembaga di Cordova dan Bagdad. Dilengkapi dengan perpustakaan yang bermana Dar al-Ulum yang diisi dengan bermacam-macam buku dengan berbagai ilmu.

Pada masa pemerintahan Fatimiyah, kepada Negara dipimpin oleh seorang imam atau khalifah, para imam bagi fatimi memang sesuatu yang diwajibkan, ini merupakan penerapan kekuasaan yang turun temurun, mulai dari Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib, kemudian selanjutnya di teruskan oleh para imam. Imamah ini diwariskan dari seorang bapak kepada anak laki-laki yang paling tua dari keturunan darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. Dan menjadi syarat penting yang harus dipenuhi dalam pengangkatan seorang imam adalah adanya nash atau wasiat khusus dari imam sebelumnya.

[8] Baik wasiat yang di kemukakan di hadapan umat islam secara umum, atau hanya diketahui oleh orang-orang tertentu sebagian dari mereka saja. Dalam menyebarkan tentang kesyi’ahannya Dinasti Fatimiyah banyak menggunakan filsafat Yunani yang mereka kembangkan dari pendapat-pendapat Plato, Aristoteles dan ahli-ahli filsafat lainnya.

[11] Kelompok ahli filsafat yang paling terkenal pada Dinasti Fatimiyah adalah ikhwanu shofa. Dalam filsafatnya kelompok ini lebih cendrung membela kelompok Syi’ah Islamiyah, dan kelompok inilah yang menyempurnakan pemikiran-pemikiran yang telah dikembangkan oleh golongan Mu’tazilah.

2. Abu Abdillah An-Nasafi, dia adalah seorang penulis kitab Almashul. Kitab ini lebih banyak membahas masalah al-Ushul al-Mazhab al-Ismaily. Selanjutnya ia menulis kitab Unwanuddin Ushulus syar’i, Adda’watu Manjiyyah. Kemudian ia menulis buku tentang falak dan sifat alam dengan judul Kaunul Alam dan al-Kaunul Mujrof. Seorang ilmuan yang paling terkenal pada masa Fatimiyah adalah Yakub Ibnu Killis.

Ia berhasil membangun akademi-akademi keilmuan yang mengahabiskan ribuan Dinar perbulannya. Pada masanya, ia berhasil membesarkan seorang ahli fisika yang bernama Muhammad Attamimi. Disamping Attamimi ada juga seorang ahli sejarah yang bernama Muhammad Ibnu Yusuf Al Kindi dan Ibnu Salamah Al Quda’i.

seorang ahli sastra yang muncul pada masa Fatimiyah adalah Al Aziz yang berhasil membangun masjid Al Azhar. [13] Pada masa pemerintahan Al Hakim didirikan Bait Al Hikmah, terinspirasi dari lembaga yang sama yang didirikan oleh Al Makmun di Bahgdad.

Pada masa Al Muntasir terdapat perpustakaan yang di dalamnya berisi 200.000 buku dan 2.400 Illuminated Al-Qur’an ini merupakan bukti kontribusi Dinasti Fatimiyah bagi perkembangan budaya Islam. Pada suatu festival, Khalifah kelihatan sangat cerah dan berpakaian indah. Istana Khalifah yang dihuni oleh 30.000 orang terdiri dari 1.200 pelayan dan pengawal juga terdapat masjid-masjid, perguruan tinggi, rumah sakit dan pemondokan Khalifah yang berukuran sangat besar menghiasi kota Kairo baru.

Pemandian umum yang dibangun dengan baik terlibat sangat banyak disetiap tempat di kota itu. Pasar yang mempunyai 20.000 toko luar biasa besarnya dan dipenuhi berbagai produk dari seluruh dunia. Keadaan ini menunjukkan bahwa kemakmuran yang begitu berlimpah dan kemajuan ekonomi yang begitu hebat pada masa Fatimiyah di Mesir.

Sungai Nil merupakan sebagian pendukung bagi kelansungan hidup orang-orang Mesir, kadang-kadang sungai nil ini menuai penyusutan air sehingga masyarakat merasa kesulitan untuk mengambil air untuk diminum, untuk binatang ternak, maupun untuk pengairan tanam-tanaman mereka, namun sebaliknya adakalanya sungai nil ini pasang naik, sehingga dataran-dataran Mesir kebanjiran, menyebabkan kerusakan lahan dan tanaman.

Untuk mengatasi hal tersebut mereka membikin gundukan-gundukan dari tanah dan batu sebatas tinggi air takkala banjir. [14] Pada waktu orang-orang Fatimiyah memasuki Mesir, penduduk setempat ada yang beragama Kristen Qibty, dan ahlu sunnah. Mereka hidup dalam kedamaian, saling menghormati antara satu dengan yang lain. Boleh dikatakan tidak terjadi pertengkaran antara suku, maupun agama.

Masyarakatnya mempunyai sosialitas yang tinggi sesama mereka. Sesuai dengan asal usul dinasti Fatimiyah ini adalah sebuah gerakan yang berasal dari sekte syi’ah Ismailiyah, maka secara tidak lansung dinasti ini sebenarnya ingin mengembangkan doktrin-doktrin syi’ah di tengah-tengah masyarakat, namun dengan berbagai pertimbangan mereka tidak terlalu memaksa pemahaman ini harus di ikuti oleh para penduduk, mereka bebas beragama sesuai dengan apa yang mereka yakini.

Hal ini dilakukan supaya mereka selalu mendapat dukungan dari rakyat demi berdirinya dinasti Fatimiyah di negeri para Nabi ini. Kemunduran Dinasti Fatimiyah berawal pada pemerintahan Khalifah al-Hakim. Ketika diangkat menjadi khalifah ia baru berumur 11 tahun. Al-Hakim memerintah dengan tangan besi, masanya dipenuhi dengan tindak kekerasan dan kekejaman. Ia membunuh beberapa orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja Kristen, termasuk sebuah gereja yang didalamnya terdapat kuburan suci umat Kristen.

Maklumat penghancuran kuburan suci ini ditandatangani oleh sekretarisnya yang beragama Kristen, Ibn Abdun. Peristiwa ini merupakan salah satu penyebab terjadinya perang salib. Ia memaksa umat Kristen dan Yahudi memakai jubah hitam, dan mereka hanya diperbolehkan menunggangi keledai.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani dibunuh dan aturan-aturan tidak ditegakkan dengan konsisten. Ia darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …. dengan mudah membunuh orang yang tidak disukainya, bahkan pernah membakar sebuah desa tanpa alasan yang jelas. Kemudian pada tahun 381 H/991 M ia menyerang Aleppo dan berhasil merebut Homz dan Syaizar dari tangan penguasa Arab. Peristiwa ini menimbulkan sikap oposan dari penduduk dan menyeret Dinasti Fatimiyah dalam konflik dengan Bizantium.

Walaupun pada akhirnya al-Hakim berhasil mengadakan perjanjian damai dengan Bizantium selama sepuluh tahun. Al-Hakim kemudian memilih mengikuti perkembangan ekstrem ajaran Ismailiyah, dan menyatakan dirinya sebagai penjelmaan Tuhan.

Ia meninggalkan istana dan berkelana hingga akhirnya terbunuh di Muqatam pada 13 Pebruari 1021. Kemungkinan ia dibunuh oleh persekongkolan yang dipimpin adik perempuannya, Siti al-Muluk, yang telah diperhentikan tidak hormat olehnya. Al-Hakim kemudian digantikan oleh az-Zahir, anaknya sendiri. Ketika darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

menjadi khalifah ia baru berusia 16 tahun. Pada mulanya Dinasti Fatimiyah didirikan oleh bangsa Arab dan orang Barbar, tapi ketika masa Az-Zahir situasi berubah, khalifah lebih mendekati keturunan Turki dan suku Barbar di dalam pemerintahan Fatimiyah. Az-Zahir mendapat izin dari Konsantin ke VII agar namanya disebutkan dimesjid-mesjid yang berada di bawah kekuasaan sang kaisar. Ia juga mendapat izin untuk memperbaiki mesjid yang berada di konstantinopel. Ini semua sebagai balasan terhadap restu sang khalifah untuk membangun kembali gereja yang di dalamnya terdapat kuburan suci, dimana dulu gereja ini dihancurkan oleh Al-Hakim.

Setelah sepeninggal Az-Zahir kemudian digantikan oleh anaknya sendiri yang baru berusia 11 tahun, yaitu al-Mustanshir. Mulai masa ini system pemerintahan Dinasti Fatimiyah berobah menjadi parlementer, artinya khalifah hanya berfungsi sebagai symbol saja, sementara pemegang kekuasaan pemerintahan adalah para mentri.

Oleh karena itulah masa ini disebut “ ahdu nufuzil wazara” (masa pengaruh mentri-mentri). Al-Mustanshir sebagaimana juga az-Zahir lebih mendekati keturunan Turki, hingga muncul dua kekuatan besar yaitu Turki dan Barbar.

Perang saudarapun tidak dapat dielakan. Setelah meminta bantuan Badrul Jamal dari Suriah, khalifah dan orang Turki dapat mengalahkan Barbar, dan berakhirlah kekuasaan orang Barbar di dalam Dinasti Fatimiyah. Pada masa al-Mustanshir ini kekuasaan Dinasti Fatimiyah di wilayah Suriah mulai terkoyak dengan cepat.

Sementara kekuatan besar yang datang dari darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga …., yaitu bani Saljuk dari Turki, juga membayang-bayangi. Pada waktu yang bersamaan propinsi-propinsi Fatimiyah di Afrika memutuskan hubungan dengan pusat kekuasaan, bermaksud memerdekakan diri dan kembali kepada sekutu lama mereka, Dinasti Abbasiyah. Pada tahun 1052, suku arab yang terdiri dari bani Hilal dan bani Sulaim yang mendiami dataran tinggi Mesir memberontak.

Mereka bergerak kebagian barat dan berhasil menduduki Tropoli dan Tunisia selama beberapa tahun. Az-Zahir kemudian digantikan oleh al-Mustansir. Di masa ini terjadi kekacauan dimana-mana. Kericuhan dan pertikaian terjadi antara orang-orang Turki, suku Barbar dan pasukan Sudan. Kekuasaan negara lumpuh dan kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun telah melumpuhkan perekonomian Negara. Di tengah kekacauan itu, pada tahun 1073 khalifah memanggil Badr al-Jamali, orang Armenia bekas budak dari kegurbernuran Akka dan memberinya wewenang untuk bertindak sebagai wazir dan panglima tertinggi.

Amir al Juyusi (komando perang) yang baru ini mengambil komando dengan seluruh kekuatan yang ia punya untuk memadamkan berbagai kekacauan dan memberikan nyawa baru pada pemerintahan Fatimiyah.

Tapi usaha ini, yang juga diteruskan oleh anak dan penerus al-Mustansir yaitu Al-Afdhal, tidak dapat menahan kemunduran Dinasti ini. Tahun-tahun terakhir dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah ditandai dengan munculnya perseteruan yang terus menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya masing-masing. Setelah al-Mustansir wafat, terjadi perpecahan serius dalam tubuh Ismailiyah. Perpecahan itu terjadi antara dua kelompok yang berada dibelakang kedua anak al-Mustansir yaitu Nizar dan al-Musta’li.

Pendukung Nizar lebih aktif, ekstrim dan menjadi gerakan pembunuh. Sedangkan pendukung al-Musta’li lebih moderat. Akhirnya yang terpilih menjadi khalifah adalah al-Musta’li dengan ia didukung oleh al-Afdhal. Al-Afdhal mendukung al-Musta’li dengan harapan ia akan memerintah dibawah pengaruhnya. Akan tetapi basis spiritual Ismailiyah menjadi runtuh. Setelah al-Musta’li wafat. Al-Amin anak al-musta’li yang baru berusia lima tahun diangkat menjadi khalifah. Al-Amin kemudian digantikan oleh al-Hafidz.

Karena ia meninggal kekuasaannya benar-benar hanya sebatas istana kekhalifahan saja. Anak dan penggantinya, az-Zafir diangkat menjadi khalifah dalam usia yang masih sangat muda, hingga merasa tidak mampu menghadapi tentara salib, khalifah az-Zafir melalui wazirnya Ibnu Salar, meminta bantuan kepada Nuruddin az-Zanki, penguasa Suriah di bawah kekuasaan Darul hikmah pada masa pemerintahan daulah al-ayyubiyah dijadikan lembaga ….

Nuruddin mengirim pasukan ke Mesir di bawah panglima Syirkuh dan Salahuddin Yusuf bin al-Ayubi yang kemudian berhasil membendung invasi tertara salib ke Mesir. Kemudian kekuasaan az-Zafir direbut oleh wazirnya, Ibnu Sallar. Tapi Ibnu Salar kemudian dibunuh, dan az-Zafir juga terbunuh secara misterius, kemudian naiklah al-Faiz, anak az-Zafir yang baru berusia empat tahun sebagai khalifah. Khalifah kecil ini meninggal dalam usia 11 tahun dan digantikan oleh sepupunya al-Adhid yang baru berumur sembilan tahun.

Maka pada tahun 1167 M pasukan Nuruddin az-Zanki untuk kedua kalinya kembali memasuki Mesir di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin. Kedatangan mereka kali ini tidak hanya membantu melawan kaum salib, tetapi juga untuk menguasai Mesir.

Dari pada Mesir dikuasai tentara salib, lebih baik mereka sendiri yang menguasainya. Apalagi perdana mentri Mesir waktu itu, telah melakukan penghianatan. Akhirnya pasukan Nuruddin berhasil mengalahkan tentara salib dan menguasai Mesir.

Semenjak itulah kedudukan Salahuddin di Mesir semakin mantap. Apalagi ia mendapat dukungan dari masyarakat yang mayoritas sunni. Peristiwa ini menyebabkan menguatnya pengaruh Nuruddin az-Zanki dan panglimanya Salahuddin al-Ayubi. Puncaknya terjadi pada masa al-Adid, pada masa pemerintahannya Salahuddin telah menduduki jabatan wazir.

Dengan kekuasaannya Salahuddin al-Ayubi mengadakan pertemuan dengan para pembesar untuk menyelenggarakan khutbah dengan menyebut nama khalifah Abasiyyah, al-Mustadi.

Ini adalah simbol dari runtuhnya dan berakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah untuk kemudian digantikan oleh Dinasti Ayubiyah. [16] Dari uraian diatas kita bisa mengambil beberapa intisari yang sangat menakjubkan, betapa keberadaan dinasty Fatimiyah ini mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kemajuan peradaban Islam, mulai dari bidang politik pemerintahan, pemikiran dan filsafat, pendidikan dan iptek, ekonomi dan perdagangan, sosial kemasyarakatan, pemahaman agama dan lain-lain.

• ▼ 2013 (12) • ▼ Mei (12) • PERADABAN ISLAM PADA MASA PEMERINTAHAN MAMLUK/MAMA. • PERADABAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN MUGHAL DI INDIA • DINASTI SALJUK DAN KEMUNDURAN SERTA KEHANCURAN DAU.

• KERAJAAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN TURKI USMANI PER. • TURKI USMANI I • PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA • Perang Salib • PERADABAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN SYAFAWI DI PE. • DINASTI FATIMIYAH DI MESIR (909-1172 M) • PERADABAN ISLAM PADA MASA PERIODE AWAL BANI ABBASI. • PRADABAN ISLAM PADA MASA DAULAH BANI UMAIYAH (661. • SYI’AH; Zaidiyyah, Imamiyyah, dan Ghulat
1.

Pada tahun 358 H/969 M, panglima tentara Daulah Fathimiyah bernama Jauhar As-Siqli mampu merebut Mesir dari kekuasaan Daulah Ikhsyidiyah. Setelah menguasai Mesir, panglima Jauhar As-Siqli membangun sebuah kota yang megah bernama Al-Qahirah (Kairo).

Sejak saat itu Daulah Fathimiyah memindahkan ibu kotanya ke Kairo. Daulah Fatimiyyah mencapai puncak kejayaan pada masa. 30. Peradaban dan kemajuan sebuah bangsa dapat terwujud jika perdamaian terwujud dalam sebuah wilayah Negara. Prinsip ini dipegang betul oleh Sultan Al-Kamil Muhammad dari daulah Ayyubiyah, cara tepat yang dilakukannya saat itu kepada pasukan salib yang ingin menguasi Jerussalem melakukan perjanjian damai dengan imbalan.

Profil Yayasan Daarul Hikmah Rajabasa Lampung




2022 charcuterie-iller.com