Perahu pinisi merupakan kebanggaan masyarakat indonesia pada masa lampau

Jawaban: Perahu Pinisi merupakan kebanggan masyarakat Indonesia pada masa lampau. Perahu ini dibuat oleh masyarakat dari daerah Sulawesi Selatan, yaitu suku Bugis.

Perahu Pinisi merupakan perahu tradisional suku Bugis yang telah di gunakan sejak abad ke 14. Penjelasan: Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki perairan yang sangat luas. Hal tersebut menyebabkan bangsa Indonesia telah akrab dengan transportasi laut. Berbagai jenis kapal nusantara telah ada sejak zaman dahulu.

Salah satu jenis perahu yang menjadi ciri khas adalah Perahu Pinisi yang berasal dari Sulawesi Selatan. Pelajari lebih lanjut tentang materi penelitian mengenai sejarah perahu - perahu tradisional Indonesia, pada brainly.co.id/tugas/22887390 #BelajarBersamaBrainly Bobo.id - Indonesia sebagai negara maritim memiliki wilayah laut yang luas, teman-teman. Itulah sebabnya banyak penduduk Indonesia yang memiliki mata pencaharian atau pekerjaan sebagai nelayan.

Selain itu, Indonesia juga punya kapal layar kebanggan yang dibuat oleh suku Bugis di Sulawesi, lo. Kapal ini bernama kapal pinisi. Ukurannya besar dan merupakan kapal legendaris Indonesia yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Baca Juga : Ujung Perahu dan Kapal Selalu Lancip, Mengapa Begitu, ya?

Kapal pinisi adalah kapal layar khas buatan suku Bugis dan suku Makassar yang pembuatannya diwariskan secara turun temurun sejak ribuan tahun lalu. Suku Bugis dan suku Makassar sendiri dikenal sebagai pelaut asli Indonesia yang sangat hebat, teman-teman. Menurut catatan sejarah yang tertulis di naskah lontar La Galigo, diceritakan kalau kapal pinisi pertama kali dibuat pada abad ke-14, yaitu sekitar tahun 1500-an.

Ternyata, ada sejarah di balik pembuatan kapal pinisi yang saat ini menjadi kebanggan Nusantara, lo.

ARTIKEL TERKAIT • Kapal dengan Harta Karun 240 Triliun Rupiah Ditemukan, Bagaimana Kisahnya? • Masuk ke Monumen Kapal Selam Surabaya, Kita Berpetualang di Dalam Kapal Bersejarah • Rahasia Cara Miniatur Kapal Masuk ke Dalam Botol Kaca, Pernah Tahu? • Rahasia Kapal yang Besar dan Berat Bisa Mengapung di Atas Air
JAKARTA - Bangsa ini pantas berbangga. Seni pembuatan perahu pinisi akhirnya diakui UNESCO menjadi warisan budaya tak benda (WBTB).

Setelah pinisi, pemerintah juga akan memperjuangkan sejumlah warisan budaya lain agar mendapat pengakuan lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut, dalam hal ini pantun dan pencak silat.

Dengan penetapan pinisi ini, Indonesia telah memiliki delapan elemen budaya dalam daftar WBTB UNESCO. Tujuh elemen yang telah terdaftar sebelumnya adalah wayang (2008), keris (2008), batik (2009), angklung (2010), tari saman (2011), noken Papua (2012), tiga genre tari tradisional Bali (2015), serta satu program pendidikan dan pelatihan tentang batik di Museum Batik Pekalongan (2009).

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud Nadjamuddin Ramly mengatakan, seni pembuatan perahu pinisi resmi disahkan menjadi WBTB UNESCO pada 7 Desember 2017 lalu di Kepulauan Jeju, Korsel. Pada Selasa (27/3) Kemendikbud secara resmi menyerahkan sertifikat pinisi kepada Pemprov Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Kabupaten Bulukumba, Sulsel. “Perahu pinisi adalah mahakarya bangsa kita. Kebudayaan yang merupakan DNA bangsa Indonesia.

Potensi yang dimiliki Indonesia harus dapat dioptimalkan agar dapat bersaing dengan negara lain,” ujar Nadjamuddin di Kantor Kemendikbud kemarin.

Sebagaimana dilansir Gocelebes. com, kapal pinisi merupakan satu-satunya kapal kayu besar karya masa lampau yang masih diproduksi hingga saat ini. Kapal tradisional ini merupakan kapal kebanggaan masyarakat Sulsel yang sudah terkenal di jagat maritim sejak abad ke-14 karena kapal tersebut sudah menjelajah samudra di seluruh dunia.

Pusat produksi kapal ini berada di Bulukumba yang di kenal sebagai bumi para ahli pembuat perahu. Keahlian membuat pinisi dimiliki suku-suku yang tinggal di daerah pesisir, dalam hal ini suku Bugis Makaasar.

Mereka mendapatkan keahlian secara turun-temurun.

Kapal ini dinilai istimewa karena dibuat oleh tangan manusia tanpa bantuan peralatan modern. Seluruh bagian kapal terbuat dari kayu dan di rangkai tanpa menggunakan kayu.

Kendati demikian, kapal ini mampu menghadapi terjangan ombak dan badai di laut lepas. Adapun sebagai penggeraknya adalah angin yang menggerakkan layar. Kapal pinisi punya dua tiang setinggi 35 meter di bagian tengah kapal, dengan 7 buah layar jenis sekunar yang terpisah-pisah dari depan sampai belakang. Nadjamuddin menuturkan, usulan perahu perahu pinisi merupakan kebanggaan masyarakat indonesia pada masa lampau sebagai WBTB ini dimulai sejak 2013.

Saat itu Ditjen Kebudayaan menyusun tim ahli yang terdiri atas para pakar seperti Muklis Paeni, Prudentia, Damar Jati, dan pakar kapal dari Jerman Horst Liebner.

• Tebar Hikmah Ramadan • Life Hack • Ekonomi • Ekonomi • Bisnis • Finansial • Fiksiana • Fiksiana • Cerpen • Novel • Puisi • Gaya Hidup • Gaya Hidup • Fesyen • Hobi • Karir • Kesehatan • Hiburan • Hiburan • Film • Humor • Media • Musik • Humaniora • Humaniora • Bahasa • Edukasi • Filsafat • Sosbud • Kotak Suara • Analisis • Kandidat • Lyfe • Lyfe • Diary • Entrepreneur • Foodie • Love • Viral • Worklife • Olahraga • Olahraga • Atletik • Balap • Bola • Bulutangkis • E-Sport • Politik • Politik • Birokrasi • Hukum • Keamanan • Pemerintahan • Ruang Kelas • Ruang Kelas • Ilmu Alam & Teknologi • Ilmu Sosbud & Agama • Teknologi • Teknologi • Digital • Lingkungan • Otomotif • Transportasi • Video • Wisata • Wisata • Kuliner • Travel • Pulih Bersama • Pulih Bersama • Indonesia Hi-Tech • Indonesia Lestari • Indonesia Sehat • New World • New World • Cryptocurrency • Metaverse • NFT • Halo Lokal • Halo Lokal • Bandung • Joglosemar • Makassar • Medan • Palembang • Surabaya • SEMUA RUBRIK • TERPOPULER • TERBARU • PILIHAN EDITOR • TOPIK PILIHAN • K-REWARDS • KLASMITING NEW • EVENT Sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO di Jeju Island, Korea Selatan, Kamis, 7 Desember 2017, telah menetapkan usulan Indonesia, yaitu PINISI: Seni Pembuatan Perahu di Sulawesi Selatan (PINISI: Art of Boatbuilding in South Sulawesi) ke dalam UNESCO Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pinisi mengacu pada sistem tali temali dan layar sekuner Sulawesi.

"Pinisi" tidak hanya dikenal sebagai perahu tradisional masyarakat yang tangguh untuk wilayah kepulauan seperti Indonesia tetapi juga tangguh pada pelayaran Internasional. Pinisi menjadi lambang dari teknik perkapalan tradisional negara Kepulauan. Pinisi adalah bagian dari sejarah dan adat istiadat masyarakat Sulawesi Selatan khususnya dan wilayah Nusantara pada umumnya. Pengetahuan tentang teknologi pembuatan perahu dengan rumus dan pola penyusunan lambung ini sudah dikenal setidaknya 1500 tahun.

Polanya didasarkan atas teknologi yang berkembang sejak 3000 tahun, berdasarkan teknologi membangun perahu lesung menjadi perahu bercadik.

Saat ini pusat pembuatan perahu ini ada di wilayah Tana Beru, Bira dan Batu Licin di Kabupaten Bulukumba. Serangkaian tahapan dari proses pembuatan perahu mengandung nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari, seperti kerja tim, kerja keras, ketelitian/presisi, keindahan, dan penghargaan terhadap alam dan lingkungan.

Panorama Bira dengan perahu Pinisi yang sedang dibangun. Sumber foto: destinasian.co.id.Penetapan Pinisi: Art of boatbuilding in South Sulawe si, ke dalam Warisan Budaya Takbenda UNESCO merupakan bentuk pengakuan dunia internasional terhadap arti penting pengetahuan akan teknik perkapalan tradisional yang dimiliki nenek moyang bangsa Indonesia yang diturunkan dari generasi ke generasi dan yang masih berkembang sampai hari ini.

Dengan penetapan Pinisi ini, maka Indonesia telah memiliki 8 elemen budaya dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Tujuh elemen yang telah terdaftar sebelumnya adalah Wayang (2008), Keris (2008), Batik (2009), Angklung (2010), Tari Saman (2011), dan Noken Papua (2012), dan Tiga Genre Perahu pinisi merupakan kebanggaan masyarakat indonesia pada masa lampau Tradisional Bali (2015). Serta satu program Pendidikan dan Pelatihan tentang Batik di Museum Batik Pekalongan (2009).

Sebelumnya, Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO telah mengadakan sidang sejak 4 Desember 2017 dan akan berakhir pada 9 Desember 2017 di Jeju Island, Korea Selatan. Sidang ini dihadiri oleh Duta Besar LBBP Prancis, Monaco dan Andora/Wakil Tetap RI di UNESCO, Hotmangaradja Pandjaitan; Duta Besar/Deputy Wakil Tetap RI untuk UNESCO, T.A Fauzi Soelaiman; Kasi Pengusulan Warisan Budaya Takbenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hartanti Maya Krishna; Wakil Bupati Kabupaten Bulukumba, Tomy Satria Yulianto, beserta tim delegasi Indonesia lainnya. Dalam sidang tersebut, duapuluh empat negara anggota Komite membahas 6 (enam) nominasi untuk kategori List of Intangible Cultural Heritage in Need of Urgent Safeguarding, serta 35 (tiga puluh lima) nominasi untuk kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity dari 175 negara yang sudah meratifikasi konvensi 2003 UNESCO.

Sekretariat ICH UNESCO menggarisbawahi tentang perlunya Indonesia membuat program untuk tetap menjaga ketersediaan bahan baku bagi keberlanjutan teknologi tradisional ini yang diwujudkan dalam bentuk perahu yang berbahan baku utama kayu.

Selain itu sidang juga menilai perlunya program-program baik melalui pendidikan formal, informal maupun nonformal  terkait dengan transmisi nilai tentang teknik dan seni pembuatan perahu tradisional ini kepada generasi muda.

Proses pembuatan badan kapal Pinisi. Sumber foto: indonesiakaya.com.Bersama dengan Pinisi, yang masuk dalam kategori Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, diinskripsi juga antara lain Organ Craftsmanship and Music dari Jerman; Kumbh Mela, festival keagamaan terbesar dari India yang dilaksanakan 12 tahun sekali; Ritual journeys in La Paz during Alasita dari Bolovia; Traditional Assyk games dari Kazakhstan.

Hotmangaradja Pandjaitan mengatakan bahwa komunitas dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pengusulan Pinisi ke dalam daftar ICH UNESCO, hal ini menjadi momentum yang dapat dimanfaatkan secara bersama-sama oleh pemerintah pusat dan daerah serta komunitas untuk memberikan perhatian lebih dalam pengelolaan Warisan Budaya Takbenda yang ada di wilayahnya masing-masing terutama bagi pengembangan pengetahuan, teknik dan seni warisan budaya tak benda yang perlu dilestarikan di tanah air pada umumnya, seperti pembuatan perahu tradisional Pinisi ini.

Sebelumnya pada Pameran Kingdoms of the Sea Archipel di Liege, Belgia dalam rangka Festival Europalia Indonesia ditampilkan sebuah kapal yang dirakit langsung di Museum La Boverie. Adalah Kapal Padewakang, yang dibangun oleh para pembuat kapal tradisional yang didatangkan langsung dari Sulawesi. Kapal Padewakang ini dipilih sebagai ikon budaya maritim di pameran ini karena merupakan cikal bakal dari kapal Pinisi yang telah dikenal luas.Â
Perahu pinisi merupakan kebanggaan masyarakat indonesia pada masa lampau.perahu ini dibuat oleh masyarakat dari daerah Sulawesi Selatan.

Pembahasan Perahu Phinisi merupakan salah satu perahu kebanggaan masyarakat indonesia pada masa lampau, yang dibuat oleh masyarakat dari daerah Sulawesi Selatan. Perahu ini sudah ada sudah digunakan oleh salah satu suku di Sulawesi Selatan, yakni Suku Bugis pada abad ke 14 di Kesultanan Makasar. Kerajaan atau kesultanan Makassar memang merupakan kerajaan yang terkenal dengan pusat perniagaan, dan kegiatan maritim di dalam pelabuhan Sombaopu. Di dalam perniagaan mereka, ada sebuah perahu layar yang menjadi kebanggan kesultanan Makasar bernama Perahu Phinisi.

Phinisi adalah sebuah perahu layar yang memiliki 2 tiang utama dan 7 helaian layar. 3 helai layar di ujung depan, 2 di depan dan 2 helai layar dibelakang.

7 helayain layar ini bermakna bahwa bahwa para Indonesia mampu mengarungi 7 samudra. Phinisi pertama kali dibuat oleh Sawerigadiang, Pelajari lebih lanjut • Materi tentang Perahu Pinisi merupakan kebanggaan masyarakat Indonesia pada masa lampau. Perahu ini dibuat oleh masyarakat dari daerah. brainly.co.id/tugas/26248413 • Materi tentang Jenis perahu layar yg nenjadi kebanggaan kesultanan makassar dan yg menjadikannya sebagai kerajaan maritim yg kuat adalah brainly.co.id/tugas/17876077 • Materi tentang Kapal pinishi peninggalan kerajaan?

brainly.co.id/tugas/1179276 ======================== Detil Jawaban Kode : 11.3.2 Kelas : 11 SMA Mapel : Sejarah Bab : Kerajaan islam di Indonesia
Siapa tidak kenal dengan perahu Pinisi.

Ya, kapal kebanggaan suku Bugis, Sulawesi Selatan itu namanya tenar seantero jagat lantaran sejak dulu telah menjelajahi dunia hingga ke Afrika. Adalah Bulukumba yang menjadi tempat lahirnya kapal layar legendaris yang telah ada sejak abad ke-14 itu. Kapal Pinisi sebagian besar dibuat di daerah yang disebut Tanah Beru, letaknya 176 kilometer dari Kota Makassar.

Di Tanah Beru inilah warga setempat bahu membahu membangun kapal layar Pinisi dengan berbagai tahapan konstruksi. Dengan nama besarnya itu Pinisi lantas menjadi salah satu ikon kebanggaan dunia maritim Indonesia.

Berbicara mengenai Pinisi, banyak keunikan filosofis di balik pembangunan kapal layar kebanggaan orang Bugis ini. Ya, membangun kapal Pinisi konon terlebih dahulu harus melalui rangkaian ritual tertentu. Berikut fakta unik di balik pembangunan kapal Pinisi yang mungkin belum Anda ketahui sebagaimana dirangkum Okezone dari berbagai sumber. Pinisi Hanya Dikerjakan Lima Orang Meski terdengar tak rasional, namun tahukah Anda jika kapal sebesar Pinisi dikerjakan oleh hanya lima orang saja.

Penduduk setempat meyakini, jika Pinisi dikerjakan beramai-ramai melibatkan banyak orang, maka akan mengurangi nilai seni tinggi yang ada di dalamnya.

Dengan keterbatasan jumlah pekerja itu tak heran jika pembuatan kapal Pinisi memakan waktu cukup lama. (foto: okezone) Dibangun Tanpa Sketsa Kapal layar Pinisi memiliki keunikan sendiri lantaran ia dibangun tanpa dibuatkan sketsa terlebiamun, biarpun tanpa sketsa, ketangguhan kapal ini dalam mengarungi lautan tak perlu diragukan. Kayu yang menjadi bahan dasar Pinisi konon akan semakin kuat dan kokoh jika sudah terkena air laut. Kapal ini juga tangguh dalam menghadapi badai dan tahan dengan terjangan ombak.

Ritual Khusus Sebelum kapal Pinisi dibangun, berbagai rangkaian upacara khusus dilakukan. Bahkan, dalam hal pencarian kayu harus ditentukan berdasarkan hari baik. Masyarakat setempat percaya jika pencarian kayu untuk Pinisi baiknya dilakukan pada hari ke-5 atau ke-7 di bulan tersebut.

Penentuan hari itu bukan tanpa makna. Angka 5 diyakini melambangkan rezeki telah diraih, sedangkan angka 7 bermakna hoki yaitu mendapat rezeki. (foto: destinasian.co.id) Makna Dua Kalimat Syahadat Keunikan lain dari kapal Pinisi ialah dua tiang layar kapal ini yang bermakna dua kalimat syahadat.

Adapun tujuh buah layar perahu tradisional asal Tanah Daeng ini sama dengan jumlah ayat surah Al- Fatihah dalam Alquran. Tak hanya itu kapal ini juga dilengkapi layar sekunar dengan dua tiang utama plus tujuh layar. Tujuh layar tersebut melambangkan jumlah samudera besar di dunia yang pernah diarungi oleh nenek moyang bangsa Indonesia pada masa lampau.

Pembuatan kapal Pinisi memang tak pernah dilepaskan dari kepercayaan-kepercayaan masyarakat yang sudah diwarisi sejak abad ke-14 masehi. Hal inilah yang coba mereka lestarikan demi menjaga identitas kapal yang sudah sering mengharumkan nama bangsa Indonesia di kancah internasional ini.

PINISI KAPAL KEBANGGAAN INDONESIA YANG SUKSES DIAKUI DAN DAPAT PENGHARGAAN DUNIA! - RAGAM INDONESIA




2022 charcuterie-iller.com