Seperti menggenggam bara api

seperti menggenggam bara api

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูŽู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู…ู Rasulullah ๏ทบ bersabda, ูŠูŽุฃู’ุชูู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฒูŽู…ูŽุงู†ูŒ ุงู„ุตู‘ูŽุงุจูุฑู ูููŠู‡ูู…ู’ seperti menggenggam bara api ุฏููŠู†ูู‡ู ูƒูŽุงู„ู’ู‚ูŽุงุจูุถู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู…ู’ุฑู โ€œAkan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh dengan agama di tengah-tengah mereka bagaikan orang yang menggenggam bara api.โ€ [HR.

At-Tirmidzi dari Anas bin Malik radhiyallahuโ€™anhu, Ash-Shahihah: 957] Asy-Syaikh AbdurRahman bin Nashir As-Siโ€™di rahimahullah berkata, ูุฅู†ู‡ ุฅุฑุดุงุฏ ู„ุฃู…ุชู‡ุŒ ุฃู† ูŠูˆุทู†ูˆุง ุฃู†ูุณู‡ู… ุนู„ู‰ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุญุงู„ุฉุŒ ูˆุฃู† ูŠุนุฑููˆุง ุฃู†ู‡ ู„ุง ุจุฏ ู…ู†ู‡ุงุŒ ูˆุฃู† ู…ู† ุงู‚ุชุญู… ู‡ุฐู‡ ุงู„ุนู‚ุจุงุชุŒ ูˆุตุจุฑ ุนู„ู‰ ุฏูŠู†ู‡ ูˆุฅูŠู…ุงู†ู‡ โ€“ ู…ุน ู‡ุฐู‡ ุงู„ู…ุนุงุฑุถุงุช โ€“ ูุฅู† ู„ู‡ ุนู†ุฏ ุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู‰ ุงู„ุฏุฑุฌุงุชุŒ ูˆุณูŠุนูŠู†ู‡ ู…ูˆู„ุงู‡ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠุญุจู‡ ูˆูŠุฑุถุงู‡ุŒ ูุฅู† ุงู„ู…ุนูˆู†ุฉ ุนู„ู‰ ู‚ุฏุฑ ุงู„ู…ุคูˆู†ุฉ.

โ€œRasulullah ๏ทบ membimbing umat beliau untuk mempersiapkan diri menghadapi keadaan ini, dan hendaklah mereka mengetahui bahwa itu pasti terjadi, maka siapa yang berjuang seperti menggenggam bara api kesulitan-kesulitan ini dan bersabar demi menjaga amalan agamanya dan imannya walau diterpa berbagai macam tantangan dan ujian, baginya derajat tertinggi di sisi Allah, dan Allah akan menolongnya untuk melakukan amalan yang Dia cintai dan ridhoi, sesungguhnya pertolongan Allah sesuai dengan usaha kita.โ€ [Bahjatu Qulubil Abror, hal.

200] ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู… โ•โ•โ• โโœฟโ โ•โ•โ• Gabung Group WA KAJIAN ISLAM Ketik: Daftar Kirim ke Salah Satu Admin: wa.me/628111833375 wa.me/628119193411 wa.me/628111377787 TELEGRAM t.me/taawundakwah t.me/sofyanruray t.me/kajian_assunnah t.me/kitab_tauhid t.me/videokitabtauhid t.me/kaidahtauhid t.me/akhlak_muslim Medsos dan Website: โ€“ youtube.com/c/kajiansofyanruray โ€“ instagram.com/sofyanruray.info โ€“ facebook.com/sofyanruray.info โ€“ instagram.com/taawundakwah โ€“ facebook.com/taawundakwah โ€“ twitter.com/sofyanruray โ€“ taawundakwah.com โ€“ sofyanruray.info #Yuk_share agar menjadi amalan yang terus mengalir insya Allah.

Rasulullah shallallaahuโ€™alaihi wa sallam bersabda, ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽู„ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑู ููŽุงุนูู„ูู‡ู โ€œBarangsiapa menunjukkan satu kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengamalkannya.โ€ [HR. Muslim dari Abu Masโ€™ud Al-Anshori radhiyallaahuโ€™anhu] 31 ยฐ Recent Comments โ€ข SESUNGGUHNYA NATAL ADALAH PELUANG BAGUS on Jika Natal Tiba, Ada Peluang Besar untuk Mendakwahi Umat Kristen โ€ข TRINITAS ADALAH AJARAN YAHUDI UNTUK MERUSAK AGAMA on TRINITAS ADALAH AJARAN YAHUDI UNTUK MERUSAK AGAMA KRISTEN โ€ข Memahami Islam Dengan Benar โ€“ ruslihinbkc on Saudara yang Hakiki dan Teman Bergaul yang Terbaik โ€ข MEMILIH GURU DENGAN MELIHAT SIAPA TEMAN BERGAULNYA - fitra.dev % on MEMILIH GURU DENGAN MELIHAT SIAPA TEMAN BERGAULNYA โ€ข Th Nursiti on Amalan yang Pertama Diadili di Hari Kiamat Dalam satu hadits, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, ูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฒูŽู…ูŽุงู†ูŒ ุงู„ู‚ูŽุงุจูุถู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฏููŠู’ู†ูู‡ู ูƒูŽุงู„ู’ู‚ูŽุงุจูุถู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู…ู’ุฑ โ€œAkan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.โ€ [1] Beratnya menggenggam bara api Mengapa โ€œbara apiโ€?

Karena bara api jika digenggam tentu akan menyakitkan ketika digenggam. Sebagaimana penjelasan syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, ูƒุฃู†ู‡ ู‚ุงุจุถ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู…ุฑ ู…ู† ุดุฏุฉ ู…ุง ูŠุตูŠุจู‡ ู…ู† ุงู„ุขู„ุงู… ูˆุงู„ุดุฏุงุฆุฏ ููŠ ุฐู„ูƒุŒ ูˆู‚ุช ุงู„ูุชู† ูˆู‚ุช ุงู„ุฃุฐู‰ ู…ู† ุงู„ุฃุนุฏุงุก โ€œSebagaimana penggenggam bara api, akan menimpanya sakit yang sangat, ketika terjadi fitnah (ujian) dari musuh-musuhโ€ [2] Seperti menggenggam bara api ini tentu membutuhkan kesabaran yang sangat. Syaikh Al-Mubarakfuri menukil perkataan Al-Qari, ู„ุง ูŠู…ูƒู† ุงู„ู‚ุจุถ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู…ุฑุฉ ุฅู„ุง ุจุตุจุฑ ุดุฏูŠุฏ ูˆุชุญู…ู„ ุบู„ุจุฉ ุงู„ู…ุดู‚ุฉ ูƒุฐู„ูƒ ููŠ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฒู…ุงู† ู„ุง ูŠุชุตูˆุฑ ุญูุธ ุฏูŠู†ู‡ ูˆู†ูˆุฑ ุฅูŠู…ุงู†ู‡ ุฅู„ุง ุจุตุจุฑ ุนุธูŠู… โ€œTidak mungkin menggenggam bara api kecuali dengan kesabaran yang sangat dan menanggung kesusahan yang sangat.

Ini bisa terjadi pada zaman yang tidak bisa terbayangkan lagi bagaimana bisa menjaga agama kecuali dengan kesabararan yang besar.โ€ [3] Jangan setengah-setengah dalam beragam Yang namanya โ€œbara apiโ€ baru bisa digenggam jika digenggam dengan erat dan langsung, maka bara api akan padam dan ia bisa menggenggam bara api tersebut. Jika disentuh pelan-pelan, maka api tidak akan padam dan bara tidak akan tergenggam. Begitu juga dengan agama. Kalau kita setengah-setengah dalam beragama, maka agama tidak akan bisa kita genggam dengan erat.

Dan jika kita mendekat dan menyentuhnya maka akan terasa panas dan kitapun enggan untuk mendekat. Misalnya: -ada wanita yang berjilbab modis โ€œatas mekkah bawa amerikahโ€. Dia akan susah diperintahkan berjilbab besar yang menutup aurat, karena dia akan berpikir mungkin nanti tidak modis lagi,tidak laku, tidak cantik dan tampak kampungan. Maka ketika ia akan mendekat ke agama, akan terasa โ€œpanasโ€ karena ia menyentuh bara api setengah-setengah.

seperti menggenggam bara api

Berbeda dengan wanita yang langsung berjilbab besar dan memperbaiki agama dan hapalannya. Ternyata belum beberapa lama ia berjilbab besar, sudah banyak yang โ€œngantriโ€ ingin melamar karena tertarik dengan akhlak dan agamanya. -laki-laki yang hobi bermain dan manik musik, ia akan berat jika diperintahkan meninggalkan musik untuk beralih ke Al-Quran. Bagaimana bisa ia tinggalkan, itu hobi dan seni dan sudah menyatu dengan jiwanya.

Akan tetapi ada yang berusaha total meninggalkannya, maka ia dapat โ€œmengenggamโ€ dan menggantikan dengan Al-Quran yang ternyata juga banyak macam qiraah, jenis bacaan dan berbagai jenis โ€œmurattalโ€ dari para imam yang sangat merdu didengar dan menyejukkan hati. Oleh karena kita diperintahkan agar jangan setengah-setengah beragama akan tetapi masuk ke dalam agama Islam secara sempurna. Allah Taโ€™ala berfirman, ูŠูŽุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู’ู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆู’ุง ุงุฏู’ุฎูู„ููˆู’ุง ูููŠ ุงู„ู’ุณูู‘ู„ู’ู…ู โ€œWahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan .โ€ (Al-Baqarah: 208) Beratnya ujian beragama di zaman yang sulit Para ulama juga menjelaskan hadits ini, kelak akan datang zaman banyak kerusakan dan sudah merajalela.

Kemaksiatan dianggap biasa. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Saโ€™di menjelaskan hadits, ุฃู†ู‡ seperti menggenggam bara api ุขุฎุฑ ุงู„ุฒู…ุงู† ูŠู‚ู„ ุงู„ุฎูŠุฑ ูˆุฃุณุจุงุจู‡ุŒ ูˆูŠูƒุซุฑ ุงู„ุดุฑ ูˆุฃุณุจุงุจู‡ุŒ ูˆุฃู†ู‡ ุนู†ุฏ ุฐู„ูƒ ูŠูƒูˆู† ุงู„ู…ุชู…ุณูƒ ุจุงู„ุฏูŠู† ู…ู† ุงู„ู†ุงุณ ุฃู‚ู„ ุงู„ู‚ู„ูŠู„. ูˆู‡ุฐุง ุงู„ู‚ู„ูŠู„ ููŠ ุญุงู„ุฉ ุดุฏุฉ ูˆู…ุดู‚ุฉ ุนุธูŠู…ุฉุŒ ูƒุญุงู„ุฉ ุงู„ู‚ุงุจุถ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู…ุฑุŒ ู…ู† ู‚ูˆุฉ ุงู„ู…ุนุงุฑุถูŠู†ุŒ ูˆูƒุซุฑุฉ ุงู„ูุชู† ุงู„ู…ุถู„ุฉุŒ ูุชู† ุงู„ุดุจู‡ุงุช ูˆุงู„ุดูƒูˆูƒ ูˆุงู„ุฅู„ุญุงุฏุŒ ูˆูุชู† ุงู„ุดู‡ูˆุงุช ูˆุงู†ุตุฑุงู ุงู„ุฎู„ู‚ ุฅู„ู‰ ุงู„ุฏู†ูŠุง ูˆุงู†ู‡ู…ุงูƒู‡ู… ููŠู‡ุงุŒ ุธุงู‡ุฑุงู‹ ูˆุจุงุทู†ุงู‹ุŒ โ€œPada akhir zaman akan sedikit kebaikan dan sebab-sebabnya, merajalela keburukan dan sebab-sebabnya dan pada saat itu orang yang berpegang teguh dengan agama sangat sedikit jumlahnya.

Yang sedikit ini berada dalam keadaan kesusahan ( karena banyaknya fitnah ) sebagaimana orang yang mengenggam bara api karena banyak yang menentang dan banyak fitnah yang menyesatkan, fitnah syubhat, keraguan, berpaling dari kebenaran, fitnah syahwat dan condongnya makhluk kepada dunia dan tenggelam dengan kemilau dunia baik dzahir dan batin.โ€ [4] Demikian semoga bermanfaat @Gedung Radiopoetro, FK UGM, Yogyakarta Tercinta Penyusun: Raehanul Bahraen Artikel www.muslimafiyah.com silahkan like fanspage FBsubscribe facebook dan follow twitter
none gaulislam edisi 688/tahun ke-14 (13 Jumadil Awwal 1442 H/ 28 Desember 2020) Jangankan menggenggam bara api, kena percikan api saat bakar sate aja bilang โ€œaduhโ€.

Pernah kamu seperti menggenggam bara api bara api? Kalo saya belum pernah. Udah kebayang sih gimana panasnya. Udah kebayang juga gimana kulit telapak tangan bakal melepuh. Luka. Perih. Kalo udah tahu risikonya begitu, kayaknya nggak ada yang sepenuhnya berani berbuat begitu.

seperti menggenggam bara api

Betul? Namun, judul ini tentu bukan hendak ngajarin supaya mencoba menggenggam bara api yang sesungguhnya. Bukan debus, ini. Lalu apa? Ya, sekadar ingin menyampaikan perumpamaan. Ini sudah ada sih di hadits Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, โ€œAkan datang kepada manusia suatu masa yang ketika itu orang yang sabar di atas agamanya seperti menggenggam bara api.โ€ (HR Tirmidzi, no.

2186) Hadits lainnya, โ€œTelah menceritakan kepada kami Hisyam bin โ€˜Ammar telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid telah seperti menggenggam bara api kepadaku โ€˜Utbah bin Abu Hakim telah menceritakan kepadaku dari pamannya โ€˜Amru bin Jariyah dari Abu Umayyah as-Syaโ€™bani dia berkata: Saya pernah mendatangi Abu Tsaโ€™labah al-Khusyani dan bertanya: โ€œApa yang kamu perbuat dengan ayat ini?โ€ Abu Tsaโ€™labah ganti bertanya: โ€œAyat yang mana?โ€ aku lalu membaca: {Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu: tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudlarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk} (Al Maidah: 105).

Abu Tsaโ€™labah lalu berkata: โ€œKamu bertanya kepada orang yang tahu, aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam tentang itu, dan beliau menjawab: โ€œYaitu mereka saling memerintahkan kepada kebaikan dan saling melarang pada yang mungkar, sehingga jika kamu melihat bakhil ditaati, hawa nafsu diikuti, dunia yang diprioritaskan, setiap orang bangga dengan pendapatnya, dan kamu melihat perkara tidak sesuai denganmu, maka kamu harus kembalikan kepada mata hatimu.

Karena sesungguhnya di belakang kalian adalah hari-hari kesabaran, kesabaran saat itu seperti seseorang menggenggam bara api, bagi orang yang beramal pada saat itu seperti pahala lima puluh orang yang mengamalkan seperti amalannya.โ€ (HR Ibnu Majah, no.

4004) Catet ya, orang bersabar di atas agamanya. Maksudnya, ia seperti menggenggam bara api dalam kebenaran. Siap membela Islam, siap memperjuangkannya. Sebab, saat ini banyak orang yang malah berlepas diri dari Islam, bahkan ada yang ngaku muslim tetapi benci kepada Islam, nggak suka kepada kaum muslimin. Kasihan sih, hanya demi meraih nikmat dunia yang sereceh itu, mereka rela membenci Islam.

seperti menggenggam bara api

Maka, ketika ada yang tetap teguh berpegang kepada ajaran agamanya, seringkali diancam, dihina, dicaci maki dsb. Nah, yang memegang teguh kebenaran Islam itulah mereka disebutkan sebagai orang yang sedang menggenggam bara api. Luar biasa! Sobat gaulislam, silakan tengok di media sosial. Banyak tuh orang yang berkoar-koar mencampur-adukkan agama Islam dengan agama lain.

Contoh paling mutakhir adalah soal ucapan selamat kepada penganut agama lain. Tiap tahun kayak nggak bosen selalu dibahas. Anehnya pula, meski selalu dibahas, yang awam tetap ada dan provokator tetap eksis untuk mengompori supaya antara yang pro dan kontra terus bertarung. Kok, nggak pernah belajar dari kejadian sebelumnya, ya?

Atau memang sengaja ada yang manas-manasin biar sekalian menutupi kasus penting lainnya? Padahal, sudah jelas ya. Kita nggak boleh mencampur-adukan antara yang haq dengan yang bathil. Bagi kaum muslimin perkara akidah nggak bisa ditawar lagi. Beneran. Islam meyakini dan mengakui bahwa Allah Taโ€™ala Maha Esa. Artinya, kalo ada pemeluk agama lain yang mengajarkan tuhannya ada 3 atau lebih dari itu, ya jelas bertentangan dengan Islam.

Namun demikian, dalam hal mengerjakan ibadah, ya masing-masing aja. Jangan lompat pagar. Lalu dicampur-ampur. Ngaji di gereja, natalan di masjid. Itu namanya penistaan, bukan toleransi. Toleransi itu membiarkan satu sama lain menjalankan ibadahnya. Bukan memaksa salah satu pihak untuk mengikuti ibadah agama lain.

Surah al-Kafirun dalam seperti menggenggam bara api menjadi dalil dalam hal ini. Lagian dalam Islam sudah diatur, bahwa mengucapkan selamat itu kudu jelas dan pas.

Sebab, ucapan selamat adalah salah satu bentuk pengakuan atau minimal suka dengan apa yang dilakukan orang yang kita kasih ucapan selamat tersebut. Nah, kita bicara pantes or nggak pantes aja dulu, deh. Jangan hukumnya dulu. Nih, emang boleh kalo kita ngasih ucapan selamat kepada maling? Emang pantes kita ngasih ucapan selamat kepada seseorang yang berhasil dalam permainan judi? Emang pantes kita ngasih ucapan selamat kepada orang yang lagi mabuk-mabukan pesta miras? Aneh aja kalo bilang pantes.

Kalo secara ukuran pantes atau nggak pantes aja kita udah bisa menilai, maka udah banyak ulama ngasih penjelasan panjang lebar soal hukumnya. Tinggal ikuti aja. Bener. Nah sekarang kita tanya pada diri sendiri, emang pantes kita ngucapin selamat kepada orang yang berbeda agamanya dengan kita dan konsepnya tentang tuhan jauh berbeda dengan agama kita? Nggak pantes.

Kenapa? Kepada yang maksiat seperti mencuri, korupsi, judi, dan minum miras aja nggak pantes, apalagi ngucapin selamat kepada kekufuran? Kok, orang kufur dikasih ucapan selamat? Aneh. Apalagi secara hukum haram.

Nah, kalo kita bilang gini pasti banyak dari orang-orang kafir dan munafik yang nggak suka. Mereka akan bilang kita nggak toleran. Hadeuuh, capek deh kalo melawan orang yang seperti menggenggam bara api ngandelin hawa nafsunya.

Susah diajak mikir.

seperti menggenggam bara api

Itu sebabnya, dalam posisi seperti ini, kita harus bersabar dan tetap berpegang teguh pada tali agama Allah. Sebab, ini masa ujian dan tak mudah. Ibarat memegang atau menggenggam bara api.

Bersabarlah! Mendukung lalu tertipu Sobat gaulislam, mungkin kita pernah memberikan sumbangan atau sedekah kepada seseorang, tetapi ternyata nggak digunakan semestinya. Pendek kata, kita merasa seperti ditipu.

Kecewa? Sudah pasti.

seperti menggenggam bara api

Namun, apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur.

seperti menggenggam bara api

Meski demikian, keikhlasan kita dalam memberikan sumbangan atau sedekah pada saat itu, insya Allah akan dicatat oleh Allah Taโ€™ala sebagai amal shalih. Dan, tentu kita jangan berburuk sangka sehingga setiap kali ada orang yang meminta sumbangan, kita malah jadi paranoid. Kecuali memang sudah terbukti penipuan. Intinya, jadi pelajaran aja, deh. Selain itu, tetap beramal shalih, salah satunya tetap bersedekah. Sama halnya seperti menggenggam bara api kita mendukung seseorang di pilpres tahun kemarin.

Maklum akhir-akhir ini lagi jadi obrolan hangat bahkan memanas. Selorohannya ada yang begini: โ€œPilih Jokowi-Maโ€™ruf, bonus Prabowo-Sandiโ€. Iya, awalnya mereka saling berlawanan dalam sebuah kontestasi. Pendukungnya pun sangat militan. Tungku perseteruan terus dinyalakan agar perdebatan yang dibumbui caci maki dan sumpah serapah tetap tersaji (ini sih sepertinya ada andil dari si tukang kompor biar berantem para pendukungnya).

Bahkan salah satu pasangan kontestan didukung banyak ulama. Klimaksnya soal drama kemenangan dan kecurangan di atas ratusan nyawa petugas penghitung jumlah suara. Termasuk pendukungnya yang digebuk dan hilang nyawa saat protes soal kecurangan. Namun pengumuman di pagi buta melenyapkan semua harapan mereka yang kalah, terutama para pendukungnya. Awalnya berharap idolanya bisa memperbaiki dari dalam untuk negeri yang karut marut ini. Dia yang menggebrak meja sambil orasi berapi-api dan katanya akan timbul tenggelam bersama rakyat malah lebih dulu bertekuk lutut lalu mau saja diangkat jadi menteri.

Berikutnya, dia yang berkoar tak mau bergabung dan menyatakan akan menjadi oposisi, akhirnya melempem juga dan bersedia jadi bagian dari mereka. Entahlah, itu urusan mereka masing-masing soal alasannya. Namun, untuk apa biaya besar seperti menggenggam bara api itu jika pada akhirnya jadi bersama? Mereka ke istana, ulama yang mendukungnya ke penjara. Rakyat yang bersedia memberikan suaranya, hanya dibalas harapan palsu. Memang, berharap kepada manusia seutuhnya itu merugikan. Apalagi dalam sistem yang sudah jelas akan mengecewakan.

Lebih menyakitkan lagi, karena yang dikira rajawali gagah, ternyata sekadar jadi hiasan di istana. Pelajaran berharga bagi umat Islam. Bisa jadi revolusi itu memang akan lahir dari jalanan. Tidak bergabung dalam sistem. Ikhlas dan fokus saja berjuang untuk menegakkan Islam, satukan kekuatan, dan jelas arah perjuangan: yakni, menjadikan Islam sebagai ideologi negara untuk menggantikan sistem laknat yang ada saat ini. Risikonya lebih masuk akal: hidup mulia, mati syahid.

Oya, soal niat insya Allah akan dicatat masing-masing sesuai niatnya saat mendukung capres/cawapres tersebut. Walau belakangan, mereka malah berkhianat kepada para pendukungnya. Padahal, sebagai pendukung, sepertinya sudah paham urusan menang atau kalah.

Udah biasa dalam sebuah pertandingan atau pertarungan. Nah, yang nggak biasa dan aneh itu, kalah tetapi ikut bergabung dengan mereka yang katanya tidak pro rakyat. Dikatakan zalim dan sebagainya.

Janji mau jadi oposisi, tetapi ditawari posisi jabatan menteri diambil juga. Gimana nggak nyesek tuh para pendukungnya? Namun, ya sudahlah. Kita nggak usah ikut-ikutan jadi rusak. Begitulah politik yang tidak dilandasi semangat Islam. Jadikan pelajaran saja, bahwa percaya sepenuhnya kepada manusia itu memang ada risikonya.

seperti menggenggam bara api

Waspada saja. Ini beda. Kalo mendukung perjuangan nabi jelas konsekuensinya. Hebat pula karakternya. Menjadi pendukung perjuangan para nabi jelas konsekuensi hukumnya. Para nabi tak akan pernah mengecewakan dengan melakukan pengkhianatan kepada para pendukungnya. Nah, masalahnya yang didukung ini manusia biasa, bukan nabi. Jadi, ya memang berbeda kelas. Jadikan pelajaran saja.

Keledai pun tak mau jatuh kedua kalinya di dalam lubang yang sama. Waspada dan jangan asal pilih dan dukung, ya. Sabar menggenggam bara api Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Mengutip laman rumaysho.com, dijelaskan tentang hal ini secara gamblang. Saya ringkas dam modifikasi saja ya sesuai kebutuhan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu โ€˜anhu, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, โ€œAkan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang seperti menggenggam bara api menggenggam bara api.โ€ (HR Tirmidzi no.

seperti menggenggam bara api

2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa di zaman tersebut, orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat.

Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api. Ath-Thibiy berkata bahwa maknanya adalah sebagaimana seseorang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah. Sedangkan al-Qari mengatakan bahwa sebagaimana seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa.

Begitu pula dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra. Itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul โ€“shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- begitu sulitnya dan begitu beratnya.

Kadang cacian yang mesti diterima. Kadang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Kadang jadi bahan omongan yang tidak enak. Sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam.

Demikianlah risikonya. Namun nantikan balasannya di seperti menggenggam bara api Allah yang luar biasa andai mau bersabar. Ingatlah janji Allah, โ€œSesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan seperti menggenggam bara api mereka tanpa batas.โ€ (QS az-Zumar [39]: 10) Sebagaimana disebut dalam Tafsir al-Quran al-โ€˜Azhim karya Ibnu Katsir rahimahullah, al-Auzaโ€™i menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa ditimbang dan tak bisa ditakar.

Itulah karena saking banyaknya. Ibnu Juraij menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa terhitung (tak terhingga), juga ditambah setelah itu. Semoga kita diberikan kesabaran dalam menggenggam bara api kebenaran Islam ini. Semoga tetap istiqomah dalam membela dan memperjuangkan Islam walau orang-orang kafir dan munafik membenci kita.

seperti menggenggam bara api

Semangat! [O. Solihin - IG @osolihin] Categories Categories Archives Archives Recent Comments โ€ข Sergio on Jangan Umbar Aibmu โ€ข Ina Listiani on Nggak Asal Jadi Youtuber โ€ข ABDUL WAHID on Pacaran vs Nikah Dini โ€ข dmazaji86 on Bergaul Jangan Ngawur โ€ข Acim on Berhala Cinta โ€ข selvia on Mana Kepribadian Islammu? โ€ข anastasyapratiwi on Halloween? Sudah Lupa, Tuh! โ€ข enter ajah on Dakwah dan Jihad โ€ข afif on Akhwat Fallinโ€™ in Love โ€ข willyaaziza on Bahaya di PPAP!

Follow us on Twitter My Tweets Follow us on Facebook
Artikel Terbaru โ€ข Bolehkah Puasa Syawal, Tetapi Masih Memiliki Utang Puasa Ramadhan Karena Haidh?

โ€ข Buku Gratis: Fikih Bulan Syawal โ€ข Cara Puasa Syawal Menurut Ulama Syafiโ€™iyah โ€ข Benarkah Banyak Bergaul dan Bermedsos, Makin Banyak Dosa? โ€ข Naskah Khutbah Idul Fitri 2022 Terfavorit: Realisasi Syukur Bakda Ramadhan โ€ข Faedah Sirah Nabi: Pensyariatan Jihad dan Pelajaran di Dalamnya โ€ข Khutbah Jumat: Kiat Istiqamah Bakda Ramadhan โ€ข Tingkatan Menghidupkan Lailatul Qadar โ€ข Faedah Surat An-Nuur #48: Adab Terhadap Seperti menggenggam bara api, Tidak Boleh Menyelisihi Perintahnya โ€ข Faedah Sirah Nabi: Sejarah Pensyariatan Zakat dan Pelajaran di Dalamnya Berpegang teguh dengan ajaran Nabi shallallahu โ€˜alaihi wa sallam saat ini memang amat berat, bagai mereka yang memegang bara api.

Dari Anas seperti menggenggam bara api Malik radhiyallahu โ€˜anhu, Rasulullah shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda, ูŠูŽุฃู’ุชูู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุงุณู ุฒูŽู…ูŽุงู†ูŒ ุงู„ุตู‘ูŽุงุจูุฑู ูููŠู‡ูู…ู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฏููŠู†ูู‡ู ูƒูŽุงู„ู’ู‚ูŽุงุจูุถู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู…ู’ุฑู โ€œ Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.โ€ (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa di zaman tersebut, orang yang berpegang teguh dengan agama hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang memegang bara (nyala) api.

Ath Thibiy berkata bahwa maknanya adalah sebagaimana seseorang tidak mampu menggenggam bara api karena tangannya bisa terbakar sama halnya dengan orang yang ingin berpegang teguh dengan ajaran Islam saat ini, ia sampai tak kuat ketika ingin berpegang teguh dengan agamanya. Hal itu lantaran banyaknya maksiat di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak, kefasikan pun semakin tersebar luas, juga iman pun semakin lemah.

Sedangkan Al Qari mengatakan bahwa sebagaimana seseorang tidaklah mungkin menggenggam bara api melainkan dengan memiliki kesabaran yang ekstra dan kesulitan yang luar biasa.

Begitu pula dengan orang yang ingin seperti menggenggam bara api teguh dengan ajaran Nabi Muhammad shallallahu โ€˜alaihi wa sallam di zaman ini butuh kesabaran yang ekstra.

Itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul โ€“ shallallahu โ€˜alaihi wa sallam- begitu sulitnya dan begitu beratnya. Kadang cacian yang mesti diterima.

Kadang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Kadang jadi bahan omongan yang tidak enak. Sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam.

Demikianlah resikonya. Namun nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar. Ingatlah janji Allah, ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ูŠููˆูŽูู‘ูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽุงุจูุฑููˆู†ูŽ ุฃูŽุฌู’ุฑูŽู‡ูู…ู’ ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุญูุณูŽุงุจู โ€œ Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.โ€ (QS. Az Zumar: 10). Sebagaimana disebut dalam Tafsir Al Qurโ€™an Al โ€˜Azhim karya Ibnu Katsir, Al Auzaโ€™i menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa ditimbang dan tak bisa ditakar.

Itulah karena saking banyaknya. Ibnu Juraij menyatakan bahwa pahala mereka tak bisa terhitung (tak terhingga), juga ditambah setelah itu. Sedangkan As Sudi menyatakan bahwa balasan orang yang bersabar adalah surga. Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. Referensi: Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jamiโ€™ At Tirmidzi, Abul โ€˜Ala Muhammad โ€˜Abdurrahman bin โ€˜Abdurrahim Al Mubarakfuri, terbitan Darus Salam, cetakan pertama, tahun 1432 H.

Tafsir Al Qurโ€™an Al โ€˜Azhim, Ibnu Katsir, tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H. โ€” Selesai disusun di Le Seperti menggenggam bara api dekat Masjid Al Fatah, 16 Jumadal Ula 1436 di pagi yang cerah di kota Ambon Oleh yang menyayangimu karena Allah: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel Rumaysho.Com Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom, Instagram RumayshoCom
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud no 4333 dalam kitab al-Fitan wal Malahim, Rasulullah SAW bersabda ketika menafsirkan ayat โ€œalaikum anfusakumโ€ (QS al-Maidah: 105): ูˆูŽุฑูŽูˆูŽู‰ ุฃูŽุจููˆ ุฏูŽุงูˆูุฏูŽ ูˆูŽุงู„ุชูู‘ุฑู’ู…ูุฐููŠูู‘ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ูŽุง ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุฃูู…ูŽูŠูŽู‘ุฉูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุนู’ุจูŽุงู†ููŠูู‘ ู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽุชูŽูŠู’ุชู ุฃูŽุจูŽุง ุซูŽุนู’ู„ูŽุจูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฎูุดูŽู†ููŠูŽู‘ ููŽู‚ูู„ู’ุชู ู„ูŽู‡ู: ูƒูŽูŠู’ููŽ ุชูŽุตู’ู†ูŽุนู ุจูู‡ูŽุฐูู‡ู ุงู„ู’ุขูŠูŽุฉูุŸ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุฃูŽูŠูŽู‘ุฉู ุขูŠูŽุฉูุŸ ู‚ูู„ู’ุชู: ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ู ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰: ๏ดฟูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุถูุฑูู‘ูƒูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ุถูŽู„ูŽู‘ ุฅูุฐูŽุง ุงู‡ู’ุชูŽุฏูŽูŠู’ุชูู…ู’๏ดพ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽู…ูŽุง ูˆูŽุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽู‚ูŽุฏู’ ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุฎูŽุจููŠุฑู‹ุงุŒ ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชู ุนูŽู†ู’ู‡ูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ๏ทบ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ: ุจูŽู„ู ุงุฆู’ุชูŽู…ูุฑููˆุง ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽุชูŽู†ูŽุงู‡ูŽูˆู’ุง ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฃูŽูŠู’ุชูŽ ุดูุญู‹ู‘ุง ู…ูุทูŽุงุนู‹ุง ูˆูŽู‡ูŽูˆู‹ู‰ ู…ูุชูŽู‘ุจูŽุนู‹ุง ูˆูŽุฏูู†ู’ูŠูŽุง ู…ูุคู’ุซูŽุฑูŽุฉู‹ ูˆูŽุฅูุนู’ุฌูŽุงุจูŽ ูƒูู„ูู‘ ุฐููŠ ุฑูŽุฃู’ูŠู ุจูุฑูŽุฃู’ูŠูู‡ู ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽ ุจูุฎูŽุงุตูŽู‘ุฉู ู†ูŽูู’ุณููƒูŽ ูˆูŽุฏูŽุนู’ ุนูŽู†ู’ูƒูŽ ุฃูŽู…ู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุนูŽุงู…ูŽู‘ุฉู ููŽุฅูู†ูŽู‘ ู…ูู†ู’ ูˆูŽุฑูŽุงุฆููƒูู…ู’ ุฃูŽูŠูŽู‘ุงู…ู‹ุง ุงู„ุตูŽู‘ุจู’ุฑู ูููŠู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูุซู’ู„ู ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุถู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู…ู’ุฑู ู„ูู„ู’ุนูŽุงู…ูู„ู ูููŠู‡ูู†ูŽู‘ ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑู ุฎูŽู…ู’ุณููŠู†ูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ููˆู†ูŽ ู…ูุซู’ู„ูŽ ุนูŽู…ูŽู„ููƒูู…ู’ [.

ูˆูŽูููŠ ุฑููˆูŽุงูŠูŽุฉู ู‚ููŠู„ูŽ: ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑู ุฎูŽู…ู’ุณููŠู†ูŽ ู…ูู†ูŽู‘ุง ุฃูŽูˆู’ ู…ูู†ู’ู‡ูู…ู’ุŸ ู‚ูŽุงู„ูŽ:] ุจูŽู„ู’ ุฃูŽุฌู’ุฑู ุฎูŽู…ู’ุณููŠู†ูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ [. ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฃูŽุจููˆ ุนููŠุณูŽู‰: ู‡ูŽุฐูŽุง ุญูŽุฏููŠุซูŒ ุญูŽุณูŽู†ูŒ ุบูŽุฑููŠุจูŒ.

seperti menggenggam bara api

โ€œBahkan perintahkanlah oleh kamu sekalian untuk berbuat amar maโ€™ruf nahi mungkar, sehingga jika engkau telah seperti menggenggam bara api manusia mentaati sifat kikir, hawa nafsu telah liar diumbar, dunia diutamakan, dan setiap orang yang mempunyai pendapat (pemikiran) telah bangga dengan pendapatnya sendiri/ Maka hendaklah kalian menjaga diri kalian sendiri dan meninggalkan orang-orang awwam, karena sungguh setelah itu akan ada hari-hari (yang sulit dan berat)(sehingga karena sulit dan beratnya) orang yang sabar (di dalam memegang kesepakatan atas kebenaran) bak menggenggam bara api.

Orang yang beramal (pada zaman itu, mendapatkan pahala) seperti pahala lima puluh kalinya orang yang beramal diantara kamu sekalian.โ€ Dalam riwayt lain ada tambahan, Para sahabat ketika itu bertanya kepada Rasulullah, โ€œlima puluh kalinya kami atau mereka?โ€ Rasulullah menegaskan, โ€œBahkan lima puluh kalinya kamu sekalian (yakni para sahabat).โ€ Abu Isa menyatakan: Hadis ini Hasan Gharib Rasulullah Shallallahu Alaihiwasallam mengisyaratkan bahwa ada keadaan dimana amar maโ€™ruf nahi mungkar tidak lagi berarti.

seperti menggenggam bara api

Keadaan dimana manusia tidak lagi mempan terhadap seruan peringatan, nasihat dan pelurusan, mereka telah menjadikan hawa nafsu sebagai Tuhan-nya yang baru. Dunia begitu diutamakan dan meyedot seluruh perhatian mereka, hasilnya pun mereka nikmati di dunia tanpa ada yang mereka simpan dan sisakan untuk akhirat sehingga membuat mati sistem musyawarah yang sangat ditekankan oleh Allah Subhanahu Wataโ€™ala, padahal musyawarah adalah perkara yang sangat penting untuk memperkecil dan menghindari jalan-jalan syaithan yang selalu menghalangi, maka hendaknya seorang pemimpin tidak memutuskan suatu perkara sendiri saja sepanjang masih bisa mengajak musyawarah para bawahannya.

Jika musyawarah sudah tidak bisa dijadikan tradisi lagi dan orang-orang lebih suka dengan pendapat dan pemikirannya sendiri, maka Nabi Shallallahu Alaihiwasallam menganggap hal itu sebagai aafat mujtamaโ€™ (bencana suatu masyarakat), sehingga menjaga diri sendiri itu lebih baik dari pada berada pada masyarakat yang berkarasteristik seperti itu. Baca juga: Riba Memiliki 73 Pintu Amar maโ€™ruf nahi mungkar termasuk perkara yang agung dan hendaknya maslahat yang didapat lebih baik dari pada madharatnya.

Allah memuji orang-orang yang selalu berbuat kebaikan dan mencela orang-orang yang selalu berbuat rusak bukan pada tempatnya sehingga mafsadah dari Amar maโ€™ruf nahi mungkar lebih besar dari pada maslahatnya. Dalam hal ini ada dua golongan manusia yang berlebihโ€“lebihan: Pertama Segolongan orang yang meninggalkan kewajiban amar seperti menggenggam bara api nahi mungkar karena salah menafsirkan ayat di atas.

Abu Bakar berkata dalam khutbahnya; sesungguhnya kalian membaca ayat ini: โ€œWahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang sesat itu akan memberi madharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjukโ€ฆโ€ (QS al-Maidah: 105), tetapi seperti menggenggam bara api tidak meletakkannya pada tempatnya, sunggh aku telah mendengar Nabi Shallallahu Alaihiwasallam bersabda: โ€œSesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran dan tidak merubahnya atau ragu akan kemungkaran tersebut, niscaya Allah akan mengumumkan balasan bagi mereka .โ€(HR Ibnu Majah) Ayat ini ๏ดฟูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ููุณูŽูƒูู…ู’ ู„ูŽุง ูŠูŽุถูุฑูู‘ูƒูู…ู’ ู…ูŽู†ู’ ุถูŽู„ูŽู‘ ุฅูุฐูŽุง ุงู‡ู’ุชูŽุฏูŽูŠู’ุชูู…ู’ Sebagian orang menafsirkannya dengan meninggalkan amar maโ€™ruf kepada orang lain, namun menurut penjelasan Abu Bakar dan sahabat lainnya seperti Ibnu Umar, Abi Tsaโ€™labah dan lainnya bahwa maksud ayat ini berkebalikan dengan pemahaman yang salah itu, maksudnya seperti menggenggam bara api tidak akan membahayakn keimananmu jika kamu mendapatkan hidayah dengan menegakkan perintah-perintah Allah Subhanahu Wataโ€™ala.

Kedua Orang yang ingin beramar maโ€™ruf nahi mungkar tanpa dasar ilmu, hilm dan kesabaran, seperti yang dilakukan oleh para Ahli Bidโ€™ah dan Hawa Nafsu dari kalangan Khawarij, Muโ€™tazilah dan Rafidhah sehingga kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada maslahatnya.

Selanjutnya pada hadits di atas Rasulullah SAW memberikan motivasi untuk tetap beramal dan bersabar jika mendapatkan manusia yang berakhlak seperti dalam hadits di atas. Maksud Ibarat Menggenggam Bara Pengibaratan dengan menggenggam bara api adalah ibarat yang sangat seperti menggenggam bara api menggambarkan orang-orang yang berkomitmen kepada agamanya di akhir zaman. Kalau dibiarkan maka imannya akan hilang, namun jika pertahankan, nyawa menjadi taruhannya.

At-Thibi mengatakan: โ€œMaknanya sebagaimana seseorang yang memegang bara tidak bisa sabar karena tangannya akan terbakar, begitu juga Ahlu Dien pada hari itu tidak mampu untuk berpegang teguh terhadap agamanya karena merebaknya maksiat dan tersebarnya kefasikan dan lemahnya iman.โ€ Al Qaari mengatakan: โ€œMaknanya adalah tidak mungkin seseorang mampu memegang bara kecuali dengan kesabaran prima dan ia akan merasa sangat sakit (ketika memegangnya) begitu juga orang-orang pada masa itu tidak tergambar keteguhan mereka pada ad-Dien dan sinar cahaya iman mereka kecuali dengan kesabaran yang besar.โ€ Baca juga: Gelar-Gelar Ahlu Hadits Ibnul Jauzy yang wafat pada tahun 597 H mengatakan dalam kitabnya โ€˜Talbis Iblisโ€™.

ุฅุฐุง ุฑูŽุฃูŽุชู ุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉู ู…ูุคู…ูู†ู‹ุง ู‚ุฏ ู…ุงุชูŽ ุนู„ูŽู‰ ุงู„ุฅูŠู…ุงู†ู ุชูŽุนูŽุฌูŽู‘ุจูŽุช ู…ูู† ุณูŽู„ุงู…ูŽุชูู‡ โ€œJika para Malaikat melihat orang-orang beriman wafat dia atas keimanannya, mereka akan takjub atas selamatnya mereka dari kekufuranโ€ Syaikh Badruddin Al-Hasani, ahli hadis dari Syam yang wafat pada tahun 1267 H mengatakan redaksi yang sama dengan Ibnul Jauzy di atas. ุฅู†ู‘ ุงู„ู…ู„ุงุฆูƒุฉูŽ ู„ุชูŽุชูŽุนูŽุฌูŽู‘ุจู ู…ูู…ู‘ู† ูŠู…ูˆุชู ุนู„ูŽู‰ ุงู„ุฅูŠู…ุงู† ููŠ ู‡ุฐุง ุงู„ุฒูŽู…ุงู†โ€.

โ€œSungguh, para Malaikat akan takjub dengan siapa yang wafat dalam keadaan beriman di zaman iniโ€. Ibnul Jauzy telah memberina nasehat lebih dulu dengan apa yang dikatakan Syaikh Al-Hasani, lebih dari 700 tahun sebelumnya. Itulah gambaran orang yang konsekuen dengan ajaran Islam saat ini, yang ingin terus menjalankan ibadah sesuai sunnah Rasul Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam, begitu sulitnya dan begitu beratnya.

Kadang cacian yang mesti diterima. Kadang dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Kadang jadi bahan omongan yang tidak enak. Sampai-sampai ada yang nyawanya dan keluarganya terancam. Demikianlah resikonya. Namun nantikan balasannya di sisi Allah yang luar biasa andai mau bersabar. Maksud mendapat pahala 50 Sahabat Para ulama menjelaskan mengapa orang-orang yang hidup dan beramal pada zaman itu mendapatkan pahala hingga 50 kali pahala para Sahabat, karena sulitnya untuk beramal dan bersabar terhadap ujian di dalam mengamalkan dien ketika itu, sebagaimana sabda Nabi SAW: โ€œKamu sekalian (wahai para Sahabat-ku) mendapatkan penolong-penolong untuk berbuat kebaikan, (sedang mereka) tidak mendapatkan penolong dalam meaksnakan kebaikan.โ€ Para Sahabat beramal ketika Rasulullah SAW ada di tengah-tengah mereka, ayat turun memberi penilaian, sanjungan dan teguran kepada mereka, suasana untuk berbuat kebaikan marak di setiap sudut, sedang generasi belakangan yang mendapatkan 50 kali pahala mereka beramal di saat Nabi hanya didapatkan dalam sirah dan sunnah.

Al Quran sudah tidak turun lagi, itu pun penafsiran manusia terhadapnya bermaca-macam, dan suasana tidak mendukung untuk berbuat kebaikan, bahkan kemaksiatan merata menggerogoti ketahanan iman dan akhlaq mereka.

Mereka mendapat pahala yang begitu agung, disebabkan ketegarannya di atas kebenaran saat berbagai fitnah bermunculan dan rintangan begitu banyak. Rasรปlullรขh Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menggambarkan mereka sebagai kaum terasing (ghurabรขโ€™). Beliau Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam bersabda: ุทููˆุจูŽู‰ ู„ูู„ู’ุบูุฑูŽุจูŽุงุกู ู‚ููŠู„ูŽ seperti menggenggam bara api ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุงู„ู’ุบูุฑูŽุจูŽุงุกู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ูŠูุตู’ู„ูุญููˆู†ูŽ ุฅูุฐูŽุง ููŽุณูŽุฏูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู Baca juga: Alasan Dijadikannya Hadis Ahad Sebagai Hujjah Beruntunglah orang-orang yang dianggap asing (ghurabรขโ€™).โ€ Rasรปlullรขh ditanya, โ€œWahai Rasรปlullรขh, siapakah orang-orang terasing itu?โ€ Beliau Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab: โ€œ(Yaitu) orang-orang yang melakukan perbaikan tatkala orang-orang rusak.โ€[HR.

Ahmad] Dalam riwayat lain: ูŠูุตู’ู„ูุญููˆู†ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽูู’ุณูŽุฏูŽ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู Yaitu yang memperbaiki apa yang telah dirusak orang-orang[HR.

At-Tirmidzi] Mengomentari pahala 50 sahabat ini dalam kitab Fathul Wadud dikatakan bahwa yang dimaksud seperti pahala 50 sahabat adalah untuk amal-amal yang berat untuk menunaikannya ketika itu dan tidak secara mutlaq karena dalam suatu hadits disebutkan โ€œSekiranya kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan sampai (pahalanya) seseorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.โ€ Karena para Sahabat mempunyai keutamaan dari yang lainnya secara mutlaq. Penjelasan ini juga dikuatkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari-nya.

ุนู„ู‰ ุฃู† ุญุฏูŠุซ ( ู„ู„ุนุงู…ู„ ู…ู†ู‡ู… ุฃุฌุฑ ุฎู…ุณูŠู† ู…ู†ูƒู… ) ู„ุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃูุถู„ูŠุฉ ุบูŠุฑ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุ› ู„ุฃู† ู…ุฌุฑุฏ ุฒูŠุงุฏุฉ ุงู„ุฃุฌุฑ ู„ุง ูŠุณุชู„ุฒู… ุซุจูˆุช ุงู„ุฃูุถู„ูŠุฉ ุงู„ู…ุทู„ู‚ุฉ ุŒ ูˆุฃูŠุถุง ูุงู„ุฃุฌุฑ ุฅู†ู…ุง ูŠู‚ุน ุชูุงุถู„ู‡ ุจุงู„ู†ุณุจุฉ ุฅู„ู‰ ู…ุง ูŠู…ุงุซู„ู‡ ููŠ ุฐู„ูƒ ุงู„ุนู…ู„ ุŒ ูุฃู…ุง seperti menggenggam bara api ูุงุฒ ุจู‡ ู…ู† ุดุงู‡ุฏ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ุฒูŠุงุฏุฉ ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ู…ุดุงู‡ุฏุฉ ูู„ุง ูŠุนุฏู„ู‡ ููŠู‡ุง ุฃุญุฏ Keterangan dari Dr.

Abdul Karim bin Abdullah Al-Khudhain ู‚ุงู„ โ€“ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…-: ยซู„ูˆ ุฃู†ูŽู‘ ุฃุญุฏูŽูƒู… ุฃู†ููŽู‚ูŽ ู…ุซู„ูŽ ุฃูุญูุฏู ุฐูŽู‡ุจู‹ุง ู…ุง ุจู„ูŽุบูŽ ู…ูุฏูŽู‘ ุฃุญุฏูู‡ู… ูˆู„ุง ู†ุตูŠููŽู‡ยป [ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ:3673]ุŒ ู‡ุฐุง ุงู„ุฌุจู„ู ุงู„ุนุธูŠู…ู ู„ูˆ ุฃูู†ููู‚ูŽ ู…ุซู„ูู‡ ุฐู‡ุจู‹ุง ู…ุง ุจู„ูŽุบูŽ ู…ูุฏูŽู‘ ุฃุญุฏูู‡ู… ูˆู„ุง ู†ุตูŠููŽู‡ุŒ ูˆุงู„ุฐูŽู‘ู‡ุจู ูŠูˆุฒู†ุŒ ูˆุงู„ู…ุฏ ูƒูŠู„ุŒ ูู‚ูŽุฑูŽู†ูŽ ู…ุง ูŠููƒุงู„ู ุจู…ุง ูŠููˆุฒูŽู†ู ู„ูŠูู†ุงุณูุจูŽ ุญุงู„ูŽ ุงู„ุตุญุงุจุฉูุ› ู„ุฃู†ูŽู‘ ุฃูƒุซุฑูŽ ุฅู†ูุงู‚ูู‡ู… ููŠ ุงู„ุฃุทุนู…ุฉู ูˆู‡ูŠ ู…ู…ูŽู‘ุง ูŠููƒุงู„ูุŒ ูุงู„ู…ุนุงุฏู„ ู‡ู†ุง ู‡ูˆ ุงู„ุฌุจู„ุŒ ูˆุงู„ู…ูุนุงุฏูŽู„ู ุจู‡ ุงู„ุฐูŽู‘ู‡ุจู ูˆู‡ูˆ ุฃุนู„ูŽู‰ ู…ุง ูŠุถุฑุจู ุจู‡ ุงู„ู…ุซู„ู ู…ูู† ู…ุชุงุนู ุงู„ุฏูู‘ู†ูŠุง.

ูˆุงู„ู…ูุฏูู‘ ู…ูู„ุกู ูƒููŽู‘ูŠ ุงู„ุฑูŽู‘ุฌู„ู ุงู„ู…ูุนุชุฏูู„ู ูˆู‡ูˆ ุฑุจุนู ุงู„ุตุงุนู. (ูˆู„ุง ู†ุตูŠูู‡) ูŠุนู†ูŠ ุงู„ู†ุตููŽุŒ ูู…ุซู„ู ุฃูุญูุฏู ู…ู† ุบูŠุฑ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ู„ุง ูŠุนุฏูู„ู ุซู…ูู†ูŽ ุตุงุนู ุจุงู„ู†ุณุจุฉู ู„ู‡ู…. ู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซู ุงู„ุตุญูŠุญู ู„ุง ูŠูŽุชุนุงุฑูŽุถู ู…ุนูŽ ู‚ูˆู„ู ุงู„ู†ุจูŠูู‘ -๏ทบ-: ยซูุฅู† ู…ู† ูˆุฑุงุฆูƒู… ุฃูŠุงู… ุงู„ุตุจุฑุŒ ุงู„ุตุจุฑ ููŠู‡ ู…ุซู„ ู‚ุจุถ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌู…ุฑุŒ ู„ู„ุนุงู…ู„ ููŠู‡ู… ู…ุซู„ ุฃุฌุฑ ุฎู…ุณูŠู† ุฑุฌู„ุง ูŠุนู…ู„ูˆู† ู…ุซู„ ุนู…ู„ู‡ยป ู‚ูŠู„: ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฃุฌุฑ ุฎู…ุณูŠู† ู…ู†ู‡ู…ุŸ ู‚ุงู„: ยซุฃุฌุฑ ุฎู…ุณูŠู† ู…ู†ูƒู…ยป[ุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ:4341]ุŒ ูู‡ุฐุง ุงู„ุญุฏูŠุซู ูŠุฏู„ูู‘ ุนู„ูŽู‰ ุฃู†ูŽู‘ ุงู„ุฅู†ูุงู‚ูŽ ูˆุงู„ุนู…ู„ูŽ ุงู„ุตุงู„ุญูŽ ููŠ ุขุฎุฑู ุงู„ุฒู…ุงู†ู ุฃูุถู„ู ู…ูู† ุงู„ุนู…ู„ู ุงู„ุตุงู„ุญู ุจุงู„ู†ุณุจุฉู ู„ู„ุตุญุงุจูŽุฉูุŒ ูˆู„ูƒู† ู†ู‚ูˆู„ู: ูƒูˆู†ู ู‡ุฐุง ุงู„ุฃุฌุฑู ุฎู…ุณูŠู†ูŽ ุถูŽุนูู‹ุง ุจุงู„ู†ุณุจุฉู ู„ุฃุฌุฑู ุงู„ุตุญุงุจูŠูู‘ ู„ุง ูŠุนู†ูŠ ุฃู†ูŽู‘ ุตุงุญุจู‡ ุฃูุถู„ู ู…ู† ุงู„ุตูŽู‘ุญุงุจุฉูุŒ ูุดูŽุฑูŽูู ุงู„ุตุญุจุฉ ู„ุง ูŠุนุฏู„ูู‡ ุดูŠุกูŒ.

ูุถู„ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ูˆุฃุฌุฑ ุงู„ุนู…ู„ ุขุฎุฑ ุงู„ุฒู…ุงู† - ุงู„ู…ูˆู‚ุน ุงู„ุฑุณู…ูŠ ู„ู…ุนุงู„ูŠ ุงู„ุดูŠุฎ ุนุจุฏ ุงู„ูƒุฑูŠู… ุจู† ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฎุถูŠุฑ โ€“ ุญูุธู‡ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ โ€“ (shkhudheir.com) Wallahu โ€˜Alam Bisshawab Artikel Terbaru โ€ข 3 Kesalahan Memaknai Idulfitri โ€ข Teman di Alam Kubur โ€ข Tunaikan Zakat untuk para Muallaf di Pedalaman Mentawai โ€ข 8 Golongan Penerima Zakat dalam Surat At-Taubah Ayat 60 โ€ข Bagaimana Memaafkan Orang Lain?

โ€ข Kenapa Nabi Daud Alaihissalam Beristighfar? โ€ข Donasi Pakaian Layak Pakai Dll untuk Pedalaman Mentawai (Periode sampai 17 April 2022) โ€ข Sistem Ramadan Setelah menukilkan perumpamaan Hari Raya dan Hari Kiamat dari kitab Shaidul Khathir karya Ibnul Jauzi, saya akhiri dengan nasehat beliau agar mencari teman menuju surga yang kelak menjadi syafa'at.

https://ahmadbinhanbal.com/hari-raya-dan-hari-kiamat/ Ya Allah mudahkan kami mendapatkan teman salih/salihah

menegakkan sunnah seperti menggenggam bara api - Ust ustadz yazid bin abdul qadir jawas




2022 charcuterie-iller.com